Anda di halaman 1dari 17

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Makanan sangat penting bagi makhluk hidup, karena tanpa makanan makhluk
hidup tidak dapat melakukan aktivitas. Makanan adalah bahan, biasanya berasal
dari hewan atau tumbuhan, yang dimakan oleh makhluk hidup untuk mendapatkan
tenaga dan nutrisi. Setiap makhluk hidup membutuhkan makanan bernutrisi dan
sehat.Hewan adalah salah satu jenis makhluk hidup yang juga membutuhkan
makanan.Di alam bebas, hewan mempunyai jenis makanan tersendiri. Sumber
makanan hewan dikelompokkan ke dalam dua macam, yaitu tumbuhan
dan hewan. Makanan yang berasaldari tumbuhan di antaranya dapat
berupa daun, batang, buah, biji-bijian, dan akar atau umbi-umbian.

Sedangkan makanan yang berasal dari hewan


dapat berupa daging, ikan, tulang, dan serangga. Selain makanan hewan juga
membutuhkan mekanisme pertahanan diri untuk melindungi diri dari musuhnya.
Perilaku mempertahankan diri pada hewan yaitu pola perilaku yang di lakukan
oleh hewan guna keberlangsungan hidupnya. Baik itu berkisar pada melarikan diri
dari pemangsa potensialnya maupun bertahan dari kondisi
lingkungannya.Preferensi terhadap makanan didefinisikan sebagai derajat
kesukaan atau ketidaksuakaan terhadap makanan dan preferensi
ini akan berpengaruh terhadap konsumsi pangan.

1.2. Rumusan Masalah

1) Apa pengertian makanan dan hubungan makanan hewan ?


2) Bagaimana mekanisme pertahanan diri hewan ?
3) Apa yang dimaksud dengan preferensi makanan ?

1
2

1.3 Tujuan Penulisan Makalah

1) Untuk mengetahui pengertian makanan dan hubungan makanan hewan.


2) Untuk mengetahui mekanisme pertahanan diri pada hewan.
3) Untuk mengetahui pengertian dari preferensi hewan
3

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Makanan dan Hubungan makanan Hewan

A.Makanan

Makanan adalah bahan, biasanya berasal dari hewan atau tumbuhan, yang
dimakan oleh makhluk hidup untuk mendapatkan tenaga dan nutrisi. Kecukupan
makanan dapat dinilai dengan status gizi secara antropometri. Untuk mendapatkan
dan memanfaatkan makanan dari lingkungannya, setiap hewan
dilengkapi beraneka adaptasi. Macam makanan ditentukan secara genetic
dan hasil belajar selama ontogeninya.

Macam makanan dapat ditinjau dari dua aspek yaitu aspek kuantitatif dan
aspek kualitatif.Aspek kuantitatif mencakup masalah kelimpahan di habitatnya
sertaberapa banyak yang diperlukan seharihari. Aspek kualitatif meliputi masalah
palatabilitas,nilai gizi, daya cerna serta ukurannya. Palatabilitas makanan
ditentukan oleh banyaksedikitnya senyawa kimia, diantaranya mungkin ada yang
bersifat toksik atau merangsang di luar kisaran toleransi hewan. Selain itu, ada
struktur yang mengganggu seperti bulu, duri, lapisan kulit keras yang mengurangi
palatabilitas makanan.Kebanyakan hewan herbivor, menunjukkan preferensi yang
tinggi terhadap bagian tumbuhan yang lunak, yang memiliki palatabilitas tinggi.

B.Makanan Hewan

Di alam bebas, hewan mempunyai jenis makanan


tersendiri. Sumber makanan hewan di kelompokkan ke dalam dua macam,yaitu
makanan yang berasal daritumbuhandan makanan berupa hewan.

1.Makanan yang berasal dari tumbuhan

Tumbuhan merupakan sumber makanan yang banyak dimanfaatkan


oleh makhluk hidup. Hampir semua bagian tumbuhan dapat di makan oleh hewan.
Dari daun, batang, buah, bunga, biji, sampai akarnya pun bisa dijadikan sumber
makanan.
3
4

1) Daun Bagian tumbuhan yang paling umum dijadikan makanan hewan


adalah daun,mislanya saja ulat. Ulat banyak terdapat di daun-daun
tumbuhan. Ulat memakan daun-daun tumbuhan tempat dia berada. Selain
ulat, masih banyak hewan lain yang makanan utamanya adalah daun.
Misalnya, kambing, jerapah, kijang, zebra, sapi, dan kelinci.
2) Batang Di desa, banyak petani yang memelihara sapi atau kerbau. Selain
bisa diambil tenaganya, hewan tersebut juga bisa dijadikan penghasilan
tambahan bagi para petani. Salah satu jenis makanan sapi adalah batangtu
mbuhan padidan jagung. Tumbuhan lain yang biasa dimakan batangnya
adalah pohon bambu. Pandasangat menyukai batang bambu muda.
3) Buah Ada beberapa jenis ulat yang makanan utamanya adalah buah. Jenis
ulat ini biasanya dianggap hama bagi para petani buah karena merugikan.
4) Biji Biji merupakan bagian tumbuhan yang disukai oleh berbagai jenis
hewan, terutama jenis burung. Biji padi dan jagung merupakan makanan
lezat bagi burung pipit. Selain itu biji kenari banyak diincar tupai.

2.Makanan berupa Hewan

Banyak bagian hewan yang bisa dimakan oleh hewan karnivora misalnya
dagingnya, tulangnya, juga telurnya. Hewan-hewan kecil banyak yang menjadi
mangsa bagi hewan yang lebih besar. Hewan yang bertubuh besar juga dapat
menjadi makanan hewan lain. Tikus menjadi mangsa kucing. Kelinci menjadi
makanan elang. Bahkan di hutan, hewan besar seperti jerapah, kijang, dan kerbau
dijadikan mangsa oleh harimau dan singa.

Berdasarkan macam makanan yang dimakan, dikenal empat kategori, yaitu:

1) Herbivor, makanan utamanya tumbuhan atau bagian-bagian tumbuhan.


2) Karnivor (predator, pemangsa), makanan utama berupa jenis hewan lain.
3) Omnivor, makanan berupa tumbuhan dan jenis hewan lain dalam
proporsiyang lebih kurang sebanding.
4) Saprovor (saprofag), makanan berupa tumbuhan mati dan bangkai
hewanatau feses yang mengalami pembusukan.
5

C. Makanan dan Hubungan Makanan Hewan

1.Hewan Organisme Heterotrof

Semua hewan adalah makhluk yang bersifat heterotrop (kebalikan


dariautotrof), artinya untuk memperoleh nutrien organik untuk keperluan
tubuhnya, hewan harus memakan organisme lain baik makhluk yang masih hidup
atau makhluk yang sudah mati. Sebagian besar umur hewan digunakan untuk
memperoleh makanan. Dengan demikian, ketersediaan sumber daya bagi hewan
tergantung pada ruang dan waktu. Satu hal yang sangat penting untuk
diperhatikan adalah sifat dari sumberdaya tersebut apakah mudah atau tidaknya
diperoleh atau dicerena.

Beberapa jenis hewan yang bersifat generalistis dalam memakan makanan

(euryphagous); hewan-hewan jenis ini memakan makanan berbagai jenis


hampir tidak terbatas. Anjing hutan, oposum (sejenis hewan berkantung), dan
manusia adalah contoh kelompok jenis ini. Sedangkan hewan jenis lainnya
memakan makanan hanya beberapa jenis hewan saja (stenophagous).

Ahli ekologi hewan yang mempelajari startegi makanan sering


memperhatikan model-model pencarian makanan yang optimal yang dilakukan
oleh hewan. Halini sangat dipertimbangkan bahwa binatang harus memasukkan
energi yang lebih banyak dibangdingkan yang dikeluarkannya. Selain dari energi,
hewan juga harus memperoleh nutrien (zat-zat gizi) yang spesifik yang betul-betul
dibutuhkan oleh tubuh. Dengan demikian pencarian makanan oleh hewan akan
sanga tmemperhatikan pertimbangan pemilihan makanan, penggantian, mangsa
yang harus dimakan, dan lain sebagainya.

2.Aspek makanan hewan

Semua organisme membutuhkan sumber energi dan nutrisi untuk


tumbuh, perawatan, aktifitas, reproduksi dan kelangsungan hidup. Organisme
harus makan agar tetap bertahan. Makanan yang potensial dapat dijumpai dimana-
mana,namun apa yang dieksploitasi oleh jenis tertentu tergantung dari jenis
organisme tersebut. Struktur dan ukuran membatasi apa yang bisa digunakan
6

sebagai makanan. Makanan dari hewan juga tergantung dari dan dimana tempat
tinggalnya. Walaupun kelompok makanan yang potensial sangat banyak, tetapi
kadang-kadang tidak dieksploitasi oleh hewan tersebut.Hubungan organisme
dengan mangsa hampir tidak bisa disamaratakan hewansatu dengan yang lain.
Masing-masing hewan memiliki hubungan yang khas.

Faktor utama dalam kebutuhan energi pada konsumen khususnya predator,


adalah energi yang dikeluarkan untuk mendapatkan makanan. Banyak predator
mengejar dan menerkam mangsanya terlebih dahulu sebelum mendapatkan
makanan.Semua proses mencari makan membutuhkan energi. Hal inilah yang
mungkin dapat menjelaskan bagaimana pemilihan makanan suatu hewan dalam
memenuhi kebutuhan energinya. Ada yang memilih untuk mendapatkan banyak
makanan dengan sedikit usaha, ada juga yang memilih makanan yang
menghasilkan energy dan nutrisi yang lebih banyak.

Beberapa aspek makanan hewan sebagai berikut :

1) Palatabilitas (Tingkat Kelezatan)

Palabilitas makanan tergantung dari tidak adanya kandungan zat-zat kimia


tertentu misalnya yang meransang diluar kisaran toleransi hewanataupun yang
bersifat toksik. Selain itu adanya struktur-struktur yang mengganggu seperti bulu
atau duri yng tajam atau lapisan yang keras mengurangi nilai palabilitas makanan
bagi hewan. Karena itu banyak hewan karnivor menunjukkan prefernsi memakan
tumbuhan muda daunatau pucuk muda.

2) Nilai Gizi

Nilai Gizi makanan menyangkut masalah kandungan protein,karbohidrat,


lemak mineral-mineral, vitamin dan air dalam makanan itu. Kandungan substansi
organiknya memberikan nilai kandungan energimakanan itu. Kekurangan salah
satu komponen dalam dlit dapat dideteksi oleh hewan melalui mekanisme
neurofisiologi tubuhnya. Hewan kemudianakan berusaha mengatasinya dengan
memakan dalam jumlah yang banyak makanan lain yang mengandung komponen
yang kurang itu. Apabila kekurangan itu tidak dapat diatasi, hewan akan
7

mengalami ketegangan yang mungkin menjurus ke terjadinya kanibalisme,


meskipun hewan itu jenis herbivora. Nilai gizi makanan dalam arti pemanfaatan
makanan itu hingga dapat digunakan dalam tubuhnya hewan yang mengkonsumsi
makanan itu erat kaitannya dengan daya cerna makanan.

3) Daya Cerna

Daya cerna makanan tergantung daari komposisi kimia dan structural


makanan itu serta adaptasi fisiologis yang didukung adaptasi structural hewan
pemaka. Hewan herbivor lebih memerlukan enzim-enzim protease dan hewan-
hewan omnivor memerlukan komplek enzim yang lebih lengkap. Daya cerna
makanan lebih merupakan masalah bagi hewan herbivor dari pada hewan
karnivor. Yang dihadapi hewan karnivor adalah masalah menemukan, menangkap
dan menangani mangsa, bukan masalah pencernaan.

Ditinjau dari segi nilai gizi, komposisi tubuh mangsa berupa tikus, ikan atau
cacing bagi hewan karnivor semuanya praktis tidak berbeda. Lain halnya
dengan makanan hewan herbivor.

4) Ukuran Makanan

Bagi hewan-hewan herbivor, saprovor dan parasit ukuran tubuh hewan


makanannya tidak merupakan masalah. Tidak demikian halnya pada hewan-
hewan karnivor (predator) yang makanannya berupa hewan lainyang mungkin
mobilitasnya tinggi. Ukuran tubuh hewan mangsa biasanya lebih kecil dari
pemangsanya. Namun demikian ukuran itu tidak boleh terlalu kecil agar energi
perolehan memangsa tidak lebih rendah dari pada energi yang telah dipakai untuk
mencari dan mengejar hewan mangsanya itu.

Kita mengenal beberapa jenis hewan karnivor yang ukuran tubuhnya kecil
sekali dibandingkan dengan ukuran tubuhnya sendiri. Hewan-hewan ini
mempunyai adaptasi dan strategi khusus untuk mendapatkan mangsanya.
Misalnya, Labah-labah menggunakan jaring untuk menjebak mangsanya. Bangsa
buaya, ular, kadal dan ikan predator mempunyai strategi mengefesiensikan
penggunaan energi dengan merayap mengsanya.Secara tiba-tiba apabila ukuran
8

tubuh hewan mangsa lebih besar maka hewan pemangsa menyerangnya dengan
secara bergerombol, seperti misalnya pada bangsa ajag atau pun hyena.

3. Strategi Mencari Makan

Masalah makan yaitu masalah mendapatkan materi dan energi, juga


masalah aktivitas yang menghabiskan energi, sekaligus berisiko. Menurut teori
mencari makan optimum, strategi hewan dalam mencari makan ialah
mendapatkan perolehan semaksimal mungkin dengan risiko seminimal mungkin.
Setiap kali hewan mencari makan / mangsa, energi harus dikeluarkan. Setiap jenis
hewan, berbeda corak pencarian makanannya. Pada jenis predator tertentu (buaya,
ular) energi tidak digunakan untuk aktivitas mengejar mangsa, melainkan untuk
menyergap mangsa secara tiba-tiba. Beberapa jenis hewan tidak mengeluarkan
energi ekstra setiap mencari makan. Misal lebah, sebagian besar energi untuk
pembuatan dan perbaikan jarring penangkap mangsa.
Ada jenis hewan mencari makan secara individual atau berkelompok. Secara
berkelompok akan memberikan keuntungan bila ketersedian sumber daya
makanan di lingkungan berlimpah. Pada tingkat kelimpahan yang rendah
menguntungkan untuk individual, bagi yang berkelompok belum menguntungkan,
karena dapat menyebabkan persaingan antar-individu.
Mencari makan secara berkelompok mempunyai nilai penting, yaitu sumber daya
makanan lebih mudah dan cepat ditemukan, serta bahaya yang mengancam lebih
cepat terdeteksi.Biaya mencari makan umumnya lebih rendah pada hewan yang
jenis makanannya banyak (polifag), dibandingkan dengan yang jenis makanannya
sedikit (oliofag) atau hanya semacam (monofag).

4. Aspek Terhadap Hubungan Makanan

Fenomena hubungan makan berperan sebagai mekanisme pengatur dan


pengendali populasi berjenis organisme dalam suatu komunitas. Beroperasinya
mekanisme itu karena populasi predator / parasitoid menghasilkan umpan balik
negatif, sedang mangsa / inag menghasilkan umpan balik positif. Umpan balik
9

tersebut menghasilkan homeostasis, yakni kecenderungan yang dipunyai sebuah


sistem biologis untuk menahan perubahan agar seperti semula dan menjaga dalam
tingkat kesetimbangan.Berbagai jenis serangga herbivor yang dikenal sebagai
hama tanaman, serangga dan hewan non serangga yang merupakan predator dan
parasitoid dari serangga tersebut merupakan pengendali potensialnya
(pengendalian biologis) merupakan aspek penting dari fenomena hubungan ,akan
dan mekanisme sistem umpan-balik.Efektivitas pengendalian ditentukan oleh
derajat spesifitas hubungan makan (monofagi, ologofagi), daya mencari dan
mendaptkan mangsa, daya berbiak hewan predator terhadap daya berbiak mangsa,
daya adapatsi serta kisaran toleransi terhadap lingkungan.Pengendalian secara
biologis lebih baik daripada secara kimiawi. Misal burung hantu mengendalikan
hama tikus. Spesifisitas mangsa/inang dalam menggunakan hewan predator
merupakan prasayarat penting. Bila tidak terpenuhi, mungkin saja populasi yang
tertekan adalah populasi non-sasaran yang bermanfaat atau pesaing hewan hama.

5. Rantai Dan Jaring Makanan

Berbagai jenis organisme dalam suatu komunitas ekosistem terlibat interasi


hubungan makan yang menghasilkan rantai-rantai makanan yang menggambarkan
urutan hubungan linier antara organisme makanan dengan organisme pemakannya
pada tingkatan-tingkatan trofik berurutan. Rantai makanan merupakan
perwujudan abstrak dari aliran energi melalui populasi-populasi dalam komunitas.
Adanya polifagi dan omnivore yang melibatkan makanan dari tingkatan trofik
yang berbeda-beda menyebabkan rantai makanan seperti beranastomosis
membentuk jarring makanan. Corak jarring makanan dapat stabil maupun rawan
perubahan. Komunitas yang kurang berpotensi stabil disebabkan karena
spesialisasi makan terlalu tinggi, atau hewan herbivor dan karnivornya terlalu
sedikit.Penelitian mengenai rantai dan jarring makanan dalam komunitas biotic
jarang yang lengkap dan rinci mencakup semua spesies dalam komunitas itu.
Karena spesies kunci yang menjadi pusat perhatian berbeda-beda, maka strategi
untuk memelihara suatu komunitas akan berbeda dari komunitas lainnya.
Berbagai ciri hewan sebagai konsumen, mulai dari yang menempati tingkat trofik
10

2 hingga ke tingkat puncak. Jumlah tingkatan trofik dalam suatu rantai makananm
jarang yang berjumlah lebih dari 5. Sebab fenomena hubungan makan pada
dasarnya masalah transfer energi, dan setiap transfer energi selalu ada sebagian
energi yang tidak termanfaatkan (hilang sebagai panas). Energi yang tersedia pada
tingakatan trofik yang lebih tinggi akan semakin sedikit.Rantai makanan tidak
selalu berawal dari tumbuhan hijau. Hewan non-karnivor yang hidup di bagian
dasar dan lapisan dalam afotik lautan, memanfaatkan ‘hujan detritus’ organic yang
turun dari lapisan eutrofik di atasnya. Hujan detritus merupakan sumber energi
awal.Rantai makanan sebagai suatu sirkuit energi dapat dibagi atas:
Sirkuit merumput (grazing circuit), konsumen primer mendapat energi dari
tumbuhan hijau.Sirkuit detritus organic, konsumen primer mendapat energi dari
detritus.Salah satu konsekuensi dari rantai dan jarring makanan adalah timbulnya
magnifikasi biologis. Substansi-substansi yang persisten (DDT, zat radio
aktif)cenderung makain terkonsentrasi pada tingkatan trofik yang lebih tinggi.

2.2 Mekanisme Pertahanan Diri

Semua jenis hewan sebenarnya memiliki peluang untuk dimangsa. Bahkan


serigala dan singa sering menjadi mangsa ketika mereka masih sangat muda.
Beberapa hewan seperti pada kebanyakan ulat dan kadal meleburkan warna
dirinya dengan latar belakang di mana mereka berada sehingga seringkali sulit
untuk dilihat.Perilaku ini sering disebut dengan perilaku cryptic. Beberapa jenis
hewan lain memiliki kemampuan perilaku untuk melepaskan diri dari
pemangsaan, seperti berlari sangat cepat pada antelope dan berenang dengan cepat
pada ikan. Perilaku lain,melakukan serangan balik dengan perilaku menggunakan
tanduk atau dengan gigitan. Beberapa hewan melakukan perilaku dengan menakut
- nakuti, sehingga predator berpikir bahwa dengan memakannya akan berisiko
terkena gigitan atau yang lainnya.Racoon misalnya, akan memperlihatkan gigi -
giginya yang tajam ketika didekati predator. Serta ada
beberapa jenis hewan yang melakukan kamuflase (penyamaran) untuk melindungi
diri dari predator. Seperti Burung Ptarmigan pada musim
11

dingin berbulu putih, dan pada musim panas bulunya berbintik membuat tidak me
narik perhatian.

Perilaku mempertahankan diri pada hewan yaitu pola Perilaku yang di


lakukan oleh hewan guna keberlangsungan hidupnya. Baik itu berkisar pada
melarikan diri dari pemangsa potensialnya maupun bertahan dari kondisi
lingkungannya. Berdasarkan pengertiannya, Pola perilaku pertahanan diri pada
hewan terbagi atas 2yaitu:

1.Pola perilaku mempertahankan diri

pola perilaku yang berkisar mulai pada melarikan diri dari pemangsa potensial
sampai dengan menggunakan senjata bertahan dan penggunaan kamuflase dan
mimikri (meniru).

2.Pola perilaku Bertahan hidup dalam lingkungan fisik

Kebanyakan hewan hanya dapat bertahan hidup dalam kisaran suhu,


salinitas, kelembaban tertentu, dan sebagainya. Kisaran ini relatif luas bagi hewan,
seperti mamalia dan burung, yang banyak mempunyai mekanisme yang efisien
untuk mempertahankan kendali homeostatis terhadap lingkungannya.Beberapa
mekanisme pertahanan diri pada hewan yaitu :

1. Semut yang Meletus

Salah satu jenis semut di Malaysia jika merasa ada bahaya yang
mengancam akan menyebabkan tubuhnya meletus (mereka akan menungguhingga
musuhnya cukup dekat untuk dibunuh sebelum meledakkan diri). Tentara semut
12

dari jenis camponotus saundersi ini memiliki kelenjar-kelenjar yang penuh dengan
racun didalam tubuhnya. Ketika merasa ada bahaya mengancam, tubuhnya akan
berkonstraksi, menyebabkan kelenjar-kelenjar itumeletus dan menyemburkan
racun.

2. Ketimun Laut

Ketimun laut dapat merubah tubuhnya dalam keadaan yang berbeda- beda
dari padat menjadi lunak untuk mempertahankan dirinya. Dalam wikipedia
dijelaskan seperti ini : “Sepertiechinoderms lainnya, hewan ini mempunyai jenis
kolagen di kulitnya yang mampu mengeluarkan atau menyerap lebih banyak
cairan yang secara efektif merubah dirinya dari keadaan “cair” menjadi “padat”.
Mereka mampu merubah tubuhnya menjadi seperti bubur, kemudian menjadi
potongan-potongan kecil dan menjadi gumpalan padat sehingga tidak bisa
diurai.”Lebih ajaibnya dari sekedar membelah diri menjadi potongan-potongan
yang merupakan bagian dari tubuhnya ; binatang ini juga merubah bagian dalam
tubuhnya menjadi keluar sehingga cairan dari sistem pencernaanya dapat
menjadi racun bagi musuhnya.

3. Hagfish
13

Hagfish di lautan pasifik memiliki cara yang menjijikkan untuk


mempertahankan dirinya. Ketika sedang diserang, akan menyemburkan kotoran
yang mampu mencekik dan bikin sesak napas dengan
membungkus predatornya ke dalam bahan pekat dan lengket. Sayangnya, kadang-
kadang binatang ini terjebak sendiri ke dalam mekanisme pertahanannya ini, tapi
biasanya dia akan memilinmilin tubuhnya menjadi simpulsimpul untukmeloloska
n diri dari perangkap lengket ini.

4. Kadal Bertanduk

Kadal bertanduk kelihatannya seperti kadal biasa yang ditemukan


di bagian barat daya Amerika. Kadal ini tidak menggunakan tanduknya sebagai
alat pertahanan diri ketika diserang, melainkan dengan memompa rongga
dihidungnya hingga darah yang mengalir di matanya meletus dan menyemburkan
darah itu ke arah musuhnya.

5. Tupai
14

Tupai kecil yang lucu punya banyak trik untuk mekanisme pertahanan
dirinya. Dia dapat berpura-pura mati! Dia bisa mengeluarkan busa di mulutnya
sehingga predatornya akan mengaggapnya seperti keracunan, atau sakit.Hewan ini
juga mengeluarkan cairan anus berwarna hijau yang baunya miriparoma kuskus
yang menyengat. Tupai berpura-pura mati yang sebenarnyaseperti pingsan sesaat,
sehingga membuat predator yang memang ingin membunuhnya enggan
mendekatinya

6. Kuskus

Kuskus atau Skunk sebenarnya adalah mamalia kecil yang menarik


dan beberapa orang juga menjadikannya binatang peliharaan. Kuskus adalah pema
kan segala (omnivora) tapi akan mati jika tidak ada serangga atau lebah,makanan
favorit mereka. Meski aroma mereka yang luar biasa bisa tercium hingga sangat
jauh, penglihatan mereka sangat lemah, dan kebanyakan kuskushanya mampu
melihat hingga jarak 10 kaki saja. Akibatnya banyak yangtertangkap separuhnya
mati, karena diburu manusia. Seluruh anggota keluarga Mustelidae dapat
menyemburkan bau, tapi kuskuslah yang paling dikenal. “Parfum” anus kuskus
sangat powerful yang jika disemburkan langsung, korbannya akan mengalami
kebutaan sesaat.
15

2.3 Preferensi Makanan

Preferensi terhadap makanan didefinisikan sebagai derajat kesukaan atau


ketidaksuakaan terhadap makanan dan preferensi ini akan berpengaruh terhadap
konsumsi pangan.

Setiap organisme untuk melangsungkan kehidupannya memerlukan


makanan dan setiap makanan yang dimakan oleh hewan dapat ditinjau dari dua
aspek yaitu aspek kulaitatif dan aspek kuantitatif. Preferensi terhadap jenis
makanan tertentu diduga dipengaruhi oleh warna, berat dan besar ukuran
makanan,produktivitas jenis makanan dan kandungan nutrisi makanan tersebut.

Demikian pula bagi hewan, berat dan ukuran tubuh serta sistem
pencernaannya merupakan faktor-faktor yang berperan dalam menentukan pola
hidup dan jenis makanannya. Hewan juga akan memilih makanan yang
bernilai gizi tinggi. Kelimpahan yang tinggi dari jenis makanan yang kurang
disukai hewan tidak akan berpengaruh, kecuali apabila kelimpahan jenis makanan
yang disukai sangat rendah. Hubungan antara
jenisjenis makanan yang dikonsumsi berbagai jenis hewan dengan ketersediaanny
a dilingkungan di lingkungan dapat memperlihatkan fenomena beralih
preferensi.Misalnya apabila ketersediaan suatu jenis makanan di lingkungan
rendah, maka penggunaan jenis makanan itu juga relaitf rendah
(tidak menampakan preferensi ),tetapi apabila ketersediaannya meningkat, maka
hewan akan memperlihatkan preferensi yang tinggi terhadap jenis makanan
tersebut.
16

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Makanan adalah bahan, biasanya berasal dari hewan atau tumbuhan, yang
dimakan oleh makhluk hidup untuk mendapatkan tenaga dan nutrisi. Sumber
makanan hewan dikelompokkan ke dalam dua macam,yaitu makanan yang berasal
dari tumbuhan seperti daun, batang, buah biji dan makanan berupa hewan seperti
herbivor, karnivor, omnivor dan saprovor.

Pola perilaku pertahanan diri pada hewan terbagi atas 2 yaitu:

1.Pola perilaku mempertahankan diri

2.Pola perilaku Bertahan hidup dalam lingkungan fisikPreferensi terhadap


makanan didefinisikan sebagai derajat kesukaan atauketidaksuakaan terhadap
makanan dan preferensi ini akan berpengaruh terhadapkonsumsi pangan.

3.2 Saran

Dari pemaparan materi diatas perlu kita perkaya lagi karena masih banyak
hal-halyang belum dibahas secara secara spesifik. Saran- saran yang bersifat
membangun sangat diperlukan agar pada penulisan makalah selanjutnya menjadi
lebih baik.

16
17

DAFTAR PUSTAKA

Sukarsono. 2009.Pengantar Ekologi Hewan. Malang : UMM Press.

Campbell, Neil A. dkk.2004.Biologi Jilid III(edisi.5). Jakarta : Erlangga.

Suhardjo. 1989. Pangan, Gizi dan Pertanian. UI Press. Jakarta

Suwarno.2009.BSE Panduan pembelajaran Biologi X. Jakarta : Pusat Perbukuan

http://id.wikipedia.org/W/index.php?title=makanan hewan.

http://oranisasi.org/penggolongan kelompok hewan berdasarkan jenis makanan


binatang herbivora karnivora dan omnivora ilmu sains biologi.html.