Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH

PRAKTEK COMPOUNDING AND DISPENSING


“MONITORING EFEK SAMPING OBAT”

Dosen Pengampu : Prof. Dr. RA. Oetari, SU., MM.Sc., Apt

Disusun oleh:
KELAS A2

MUH. DENI KURNIAWAN 1820364036

FAKULTAS FARMASI
PROGRAM PROFESI APOTEKER
UNIVERSITAS SETIA BUDI
SURAKARTA
2018
BAB I
PENDAHULUAN

I. DEFINISI MESO
Monitoring Efek Samping Obat adalah program pemantauan keamanan
obat sesudah beredar (pasca-pemasaran). Program ini dilakukan secara
berkesinambungan untuk mendukung upaya jaminan atas keamanan obat,
sejalan pelaksanaan evaluasi aspek efikasi, MESO oleh tenaga kesehatan di
Indonesia masih bersifat sukarela (voluntary reporting ) dengan menggunakan
formulir pelaporan ESO berwarna kuning, yang dikenal sebagai Form Kuning.
Monitoring tersebut dilakukan terhadap seluruh obat yang beredar dan
digunakan dalam pelayanan kesehatan di Indonesia.
Aktifitas monitoring ESO dan juga pelaporannya oleh sejawat tenaga
kesehatan sebagai healthcare provider merupakan suatu tool yang dapat
digunakan untuk mendeteksi kemungkinan terjadinya ESO yang serius dan
jarang terjadi (rare). keamanan dan mutu sebelum suatu obat diberikan ijin edar
(pra-pemasaran).
II. TUJUAN MESO
 Menentukan frekuensi dan insidensi ESO yang sudah dikenal sekali yang
baru saja ditemukan
 Mengenal semua faktor yang mungkin dapat menimbulkan/mempengaruhi
timbulnya ESO atau mempengaruhi angka kejadian dan hebatnya reaksi
ESO.
 Memberi umpan balik adanya interaksi pada petugas kesehatan
 Membuat peraturan yang sesuai
 Memberi peringatan pada umum bila dibutuhkan
 Membuat data esensial yang tersedia sesuai sistem yang dipakai WHO

III. PEMANTAUAN DAN PELAPORAN EFEK SAMPING OBAT (ESO)


MESO oleh tenaga kesehatan di Indonesia masih bersifat sukarela
(voluntary reporting) dengan menggunakan formulir pelaporan ESO berwarna
kuning, yang dikenal sebagai Form Kuning (Lampiran 1). Monitoring tersebut
dilakukan terhadap seluruh obat beredar dan digunakan dalam pelayanan
kesehatan di Indonesia. Aktifitasmonitoring ESO dan juga pelaporannya oleh
sejawat tenaga kesehatan sebagai healthcare provider merupakan suatu tool
yang dapat digunakan untuk mendeteksi kemungkinan terjadinya ESO yang
serius dan jarang terjadi (rare).

IV. PETUGAS YANG TERLIBAT DALAM MELAKUKAN MESO


Tim Meso dalam PFT adalah :
1. Para Klinisi Terkait
2. Ahli Farmakologi
3. Apoteker
4. Perawat
V. SIAPA YANG MELAPORKAN MESO
Tenaga kesehatan, dapat meliputi:
a. Dokter
b. Dokter spesialis
c. Dokter gigi
d. Apoteker
e. Bidan
f. Perawat
g. Tenaga kesehatan lain.

VI. MENGAPA PERLU MESO


Pemantauan keamanan obat sesudah beredar masih perlu dilakukan karena
penelitian atau ijin yang dilakukan sebelum obat diedarkan, baik uji preklinik
maupun uji klinik belum sepenuhnya dapat mengungkapkan efek samping obat
(ESO) utamanya efek samping yang jarang terjadi ataupun yang timbul setelah
penggunaan obat untuk jangka waktu lama. Disamping itu pada uji klinik
seringkali tidak melibatkan penggunaan obat yang termasuk kelompok anak-
anak, wanita hamil, wanita menyusui atau usia lanjt. Maka perhatian terhadap
reaksi yang tidak diinginkan selama pemakaian sangat perlu dipantau secara
sistemik.
BAB II
PEMBAHASAN

Kasus 3
Anda Apoteker di Apotek Ismi yang akan melakukan monitoring efek
samping obat kerumah pasien . Pasien adalah seorang Laki-laki usia 50 tahun
yang sedang menjalani pengobatan hipertensi dan infeksi saluran kemih pada hari
ke 5. Tekanan darah pasien 150 mmHg. Pasien mempunyai riwayat sering
menahan kencing, jika sedang bekerja/
Tugas:
1. Tetapkan dan tulislah rencana monitoring efikasi dan keamanan dengan
menggunakan data yang tersedia!
2. Komunikasikan dengan pasien !
 ANALISIS OBAT
1. Enalapril
Enalapril adalah obat yang digunakan untuk mengobati hipertensi
(tekanan darah tinggi), nefropati diabetik, dan beberapa jenis gagal jantung
kronis. Obat ini adalah obat anti hipertensi yang termasuk kelas
angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitor.
Enalapril adalah prodrug yang terhidrolisis di dalam hati menjadi
enalaprilat. Enalaprilat mencegah konversi angiotensin I menjadi
angiotensin II, suatu zat vasokonstriktor endogen. Penghambatan ini
menyebabkan kadar angiotensin II menurun. Penurunan angiotensin II
mengakibatkan peningkatan aktivitas renin plasma dan mengurangi
sekresi aldosteron (hormon yang menyebabkan retensi air dan Natrium).
Hal ini menyebabkan terjadinya vasodilatasi dan penurunan tekanan darah.
 GOLONGAN
Harus dengan resep dokter

 KEMASAN
Obat ini biasanya dipasarkan sebagai Enalapril maleate 5 mg atau 10
mg.
 INDIKASI
Berikut ini adalah beberapa kegunaan Enalapril :
 Enalapril digunakan untuk menurunkan tekanan darah (hipertensi)
baik secara tunggal atau dalam kombinasi dengan anti hipertensi lain
terutama diuretik golongan tiazid.
 Untuk pengobatan gagal jantung kongestif simtomatik, biasanya
dikombinasikan dengan diuretik dan digitalis. Pengobatan ini
mampu mengurangi gejala, meningkatkan daya tahan pasien saat
beraktivitas atau berolah raga, mengurangi insiden kekambuhan dan
menurunkan frekuensi rawat inap bahkan menurunkan tingkat
kematian.
 Mengobati disfungsi ventrikel kiri asimtomatik (tanpa gejala klinis
yang stabil). Enalapril menurunkan laju perkembangan gagal
jantung terbuka dan menurunkan frekuensi rawat inap pasien gagal
jantung.

 KONTRA INDIKASI
 Jangan menggunakan obat ini pada pasien yang memiliki riwayat
hipersensitif terhadap Enalapril atau obat-obat yang termasuk ACE
inhibitor lain.
 Jangan menggunakan Enalapril jika Anda sedang hamil karena obat
ini bisa membahayakan bayi yang belum lahir. Segera hentikan
penggunaan obat ini jika Anda sedang hamil.
 Pengobatan dengan Enalapril tidak boleh dilakukan terhadap orang-
orang yang memiliki riwayat angioedema (herediter atau idiopatik).
 Jangan menggunakan aliskiren dan enalapril secara bersamaan pada
pasien dengan diabetes melitus.

 EFEK SAMPING ENALAPRIL


Efek samping Enalapril yang pernah dilaporkan adalah sebagai berikut
:
 Efek samping yang paling umum adalah peningkatan serum
kreatinin, pusing, dan sinkop.
 Batuk juga sering terjadi karena peningkatan kadar bradikinin.
 Efek samping lainnya adalah kemungkinan terjadinya hipotensi
(tekanan darah rendah) dan gagal ginjal akut. Hentikan pemakaian
obat ini bila tekanan darah sistolik turun menjadi < 90 mm Hg, atau
kalium meningkat > 6 mmol/l, atau kreatinin meningkat 50% atau >
3 mg/dl.
 Obat ini juga bisa menyebabkan hiperkalemia yang terjadi terjadi
karena penurunan kadar aldosteron, hormon steroid yang berfungsi
menahan natrium dan mengekskresi kalium.
 Efek samping yang jarang tetapi sangat berbahaya akibat pemakaian
obat yang mengandung Enalapril adalah angioneurotik edema, yang
biasanya timbul pada bulan pertama pemakaian.
 Obat-obat ACE inhibitors diketahui bersifat teratogenik sehingga
tidak boleh diberikan pada wanita hamil.
 Efek samping lainnya adalah : Sakit kepala, kelelahan, nyeri perut
dan dada, pusing, mual, muntah, diare, infeksi saluran pernafasan
atas, asthenia, dan ruam.

 PERHATIAN
Hal-hal yang harus diperhatikan pasien saat menggunakan
Enalapril adalah sebagai berikut :
 Segera hentikan pemakaian obat jika anda positif hamil, karena obat-
obat yang termasuk ACE inhibitor dapat menyebabkan cedera dan
kematian pada janin.
 Obat ini disekresi dalam ASI dan tidak direkomendasikan untuk
digunakan saat menyusui.
 Keamanan dan efektivitas obat ini pada pasien anak belum
ditetapkan. Penggunaan pada anak-anak bisa dilakukan jika
pengendalian tekanan darah dengan cara lain tidak efektif.
 Enalapril hanya digunakan dalam pengawasan dokter, terutama pada
permulaan terapi untuk antisipasi terjadinya penurunan tekanan
darah yang drastis. Penurunan tekanan darah secara drastis bisa
menyebabkan pusing, sakit kepala dan penurunan kewaspadaan.
Jangan mengemudi dan mengoperasikan mesin yang membutuhakn
kewaspadaan tinggi.
 Jika mengalami tanda-tanda atau gejala angioedema seperti :
pembengkakan wajah, mata, bibir, lidah, laring dan ekstremitas,
kesulitan dalam menelan atau bernapas, suara serak segera hubungi
dokter anda.
 Segera hubungi dokter jika mengalami infeksi (misalnya, sakit
tenggorokan, demam) yang bisa saja merupakan tanda terjadinya
neutropenia atau edema progresif yang berhubungan dengan
proteinuria dan sindrom nefrotik.
 Sebaiknya jangan menggunakan obat diuretik hemat kalium atau
suplemen yang mengandung kalium atau pengganti garam kalium
selama menggunakan Enalapril, karena ada potensi hiperkalemia.
 Berkonsultasi dengan dokter jika anda berkeringat secara
berlebihan, dehidrasi, muntah, atau diare karena dapat menyebabkan
penurunan tekanan darah yang drastis akibat berkurangnya cairan
tubuh.
 Perhatian khusus perlu diberikan kepada pasien dengan bilateral
renal artery stenosis atau pasien dengan ginjal tunggal penderita
unilateral renal artery stenosis, penderita penyakit vaskular kolagen,
aortic atau mitral valve stenosis, dan pasien dengan riwayat
gangguan ginjal.
 Jangan menghentikan pemakaian Enalapril tanpa diketahui dokter.
 PENGGUNAAN OLEH WANITA HAMIL
FDA (badan pengawas obat dan makanan amerika serikat)
mengkategorikan Enalapril kedalam kategori D dengan penjelasan
sebagai berikut :
 Terbukti beresiko terhadap janin manusia berdasarkan bukti-bukti
empiris yang didapatkan dari investigasi, pengalaman marketing
maupun studi terhadap manusia. namun jika benefit yang diperoleh
dipandang lebih tinggi dari resiko yang mungkin terjadi, obat ini bisa
diberikan.
 Beberapa bukti menunjukkan obat ini bisa menyebabkan cedera dan
kematian janin. Enalapril dapat mengakibatkan kerusakan ginjal
janin dan oligohidramnion (tidak cukup cairan ketuban). Oleh
karena itu, sebaiknya dipilih terapi penurun tekanan darah yang lain.

 INTERAKSI OBAT
Di bawah ini adalah interaksi obat-obat yang mengandung
Enalapril dengan obat-obat lain jika digunakan secara bersamaan :
 Pada awal-awal penggunaan bersamaan dengan obat-obat diuretik
bisa mengakibatkan pengurangan berlebihan tekanan darah.
Sebaiknya kurangi dosis awal Enalapril.
 Peningkatan risiko hiperkalemia jika digunakan bersamaan dengan
diuretik hemat kalium (spironolactone, amiloride, triamterene, dan
lain-lain) dan suplemen Kalium.
 Penggunaan bersamaan dengan obat-obatan antidiabetes (insulin,
agen hipoglikemik oral) dapat menyebabkan peningkatan efek
penurunan kadar glukosa.
 Penggunaan bersamaan dengan NSAID, termasuk selektif COX-2
inhibitor, dapat mengakibatkan kerusakan fungsi ginjal, termasuk
mungkin gagal ginjal akut. Efek antihipertensi ACE inhibitor,
termasuk Enalapril, dapat dilemahkan oleh NSAID.
 Dapat meningkatkan kadar serum dan toksisitas lithium.
 Penggunaan bersamaan dengan obat-obat yang mempengaruhi
renin-angiotensin system (RAS) seperti angiotensin receptor
blocker, ACE inhibitor (termasuk captopril), atau aliskiren bisa
meningkatkan terjadinya resiko hipotensi, hiperkalemia, dan
kerusakan fungsi ginjal.
 Licorice dapat memperburuk hipertensi.
 Interakasi ciprofloxacin dan enalapril mengakibatkan peningkatan
risiko gangguan ginjal akut

 DOSIS ENALAPRIL
Enalapril diberikan dengan dosis sebgai berikut :
 Dosis dewasa untuk hipertensi
- Oral :
Dosis awal : 1 x sehari 5 mg, pada waktu tidur.
Dosis pemeliharaan : 10 – 40 mg/ hari, dalam dosis tunggal atau
dibagi dalam 2 dosis. Bisa ditingkatkan menjadi 40 mg/hari
dalam 2 dosis.
Dosis maksimum : 40 mg/hari, dalam dosis tunggal atau dibagi
dalam 2 dosis.
Jika dikombinasikan dengan diuretik :
Dosis awal : 1 x sehari 2.5 mg. Sebaiknya diuretik dihentikan dulu 2
– 3 hari sebelum mulai menggunakan enalapril. Jika diperlukan,
terapi diuretik secara bertahap dilanjutkan.

2. Ciplos 500 mg
Ciflos 500 mg Tablet adalah antibiotik yang digunakan untuk
mengobati infeksi saluran kemih (ISK), infeksi saluran pernafasan, infeksi
kulit dan jaringan lunak, infeksi tulang dan sendi, infeksi saluran
pencernaan, infeksi genital, dan infeksi lain yang disebabkan oleh bakteri
yang rentan. Ciflos 500 mg Tablet mengandung Ciprofloxacin, obat yang
termasuk antibiotik golongan fluorokuinolon generasi ke 2.
 PABRIK
Guardian Pharmatama
 GOLONGAN
Harus dengan resep dokter
 KANDUNGAN
Tiap kemasan obat Ciflos 500 mg Tablet mengandung zat aktif
(nama generik) sebagai berikut :
Ciprofloxacin 500 mg/tablet
Sekilas tentang zat aktif
Ciprofloxacin adalah antibiotik golongan fluoroquinolone generasi
ke 2 yang mempunyai spektrum luas, aktif terhadap bakteri gram
negatif maupun gram positif. Mekanisme aksi antibiotik ini adalah
dengan cara menghambat dua tipe enzim II topoisomerase yaitu
DNA Gyrase dan topoisomerase IV. Topoisomerase IV memerlukan
DNA terpisah yang telah direplikasi sebelum pembelahan sel
bakteri. Dengan DNA yang tidak dipisahkan, proses terhenti dan
bakteri tidak bisa membagi. Sedangkan DNA gyrase
bertanggungjawab untuk supercoil DNA sehingga akan cocok di
dalam sel yang baru terbentuk. Kombinasi dari dua mekanisme di
atas akan membunuh bakteri sehingga Ciprofloxacin digolongkan
sebagai bakterisida.

Ciprofloxacin diserap dengan baik di saluran pecernaan, jika


diberikan secara oral akan memiliki bioavailabilitas sekitar 70-80%.
Waktu yang diperlukan untuk mencapai konsentrasi plasma puncak
: 1-2 jam (oral). Antibiotik ini terdistribusi secara luas di dalam
tubuh, penetrasi jaringan baik, mampu melintasi plasenta, dan masuk
ke air susu ibu.
 INDIKASI
Kegunaan Ciflos 500 mg Tablet (Ciprofloxacin) adalah untuk
pengobatan kondisi-kondisi berikut :
Pengobatan infeksi saluran pernafasan, infeksi saluran kemih,
pencernaan, dan infeksi perut, termasuk infeksi oleh baketri gram
negatif (Escherichia coli, Haemophilus influenzae, Klebsiella
pneumoniae, Legionella pneumophila, Moraxella catarrhalis,
Proteus mirabilis, dan Pseudomonas aeruginosa), dan gram positif
(Staphylococcus aureus, Streptococcus pneumoniae,
Staphylococcus epidermidis, Enterococcus faecalis, dan
Streptococcus pyogenes).
Ciflos 500 mg Tablet (Ciprofloxacin) juga digunakan untuk infeksi
pada kulit dan jaringan lunak, tulang dan sendi, gonore akut dan
osteomilitis akut.

 KONTRA INDIKASI
• Jangan menggunakan antibiotik ini pada pasien dengan dengan
riwayat hipersensitif atau alergi obat Ciprofloxacin dan antibiotik
golongan kuinolon lainnya.
• Sebaiknya juga tidak digunakan untuk ibu hamil, ibu menyusui,
anak dan remaja sebelum akhir fase pertumbuhan.
• Ciflos 500 mg Tablet (Ciprofloxacin) juga kontraindikasi pada
pasien dengan epilepsi atau gangguan kejang lainnya.
• Sebaiknya tidak diberikan kepada pasien dengan riwayat tendon
pecah.
• Jangan digunakan bersamaan dengan tizanidine.
 EFEK SAMPING CIFLOS 500
Kebanyakan efek samping Ciflos 500 mg Tablet (Ciprofloxacin)
bersifat ringan sampai sedang yang akan segera hilang ketika
pemberian obat dihentikan. Namun, efek samping serius kadang
terjadi. Berikut adalah beberapa efek samping yang bisa terjadi :

Efek samping yang paling umum seperti mual, diare, tes fungsi hati
yang abnormal, muntah, dan ruam pada kulit.
Obat ini juga meningkatkan resiko tendonitis dan tendon pecah,
terutama pada pasien berusia lebih dari 60 tahun, pasien yang juga
menggunakan obat-obat golongan kortikosteroid, dan pasien dengan
transplantasi ginjal, paru-paru, atau jantung.
Seperti fluoroquinolones lain, antibiotik ini dapat memicu terjadinya
kejang atau menurunkan ambang kejang, dan dapat menyebabkan
efek samping terhadap sistem saraf pusat lainnya.
Sakit kepala, pusing, dan insomnia juga dilaporkan cukup sering
terjadi.
Kejadian yang jauh lebih jarang seperti tremor, psikosis, kecemasan,
halusinasi, paranoia, dan percobaan bunuh diri, terutama pada dosis
yang lebih tinggi.
Berbagai efek samping yang sangat jarang namun berpotensi fatal
seperti nekrolisis epidermal toksik, sindrom Stevens-Johnson,
aritmia jantung (torsades des pointes atau perpanjangan QT),
pneumonitis alergi, penekanan sumsum tulang, hepatitis atau gagal
hati, dan phototoxicity / fotosensitifitas.
Obat harus dihentikan jika ruam, sakit kuning, atau tanda lain dari
hypersentitivitas terjadi.
Efek samping yang berpotensi fatal : Reaksi hipersensitivitas,
hepatotoksisitas berat, diare dan kolitis terkait Clostridium difficile.
 PERHATIAN
Hal-hal yang harus diperhatikan selama menggunakan obat Ciflos
500 mg Tablet (Ciprofloxacin) adalah sebagai berikut :
Penggunaan antibiotik ini untuk pasien dengan penyakit hati harus
dilakukan dengan sangat hati-hati.
Efektivitas dan keamanan pemakaian pada anak-anak, wanita hamil
dan menyusui belum terbukti. Obat ini mampu memasuki air susu
ibu (ASI) oleh karena itu penggunaan Ciflos 500 mg Tablet
(Ciprofloxacin) untuk ibu menyusui harus mempertimbangkan
manfaat dengan risiko pada bayi.
Ciflos 500 mg Tablet (Ciprofloxacin) tidak boleh digunakan untuk
mengobati penyakit infeksi oleh virus.
Jangan hentikan pengobatan sebelum dosis dan durasi yang
dianjurkan dokter selesai. Jika pengobatan dihentikan sebelum
waktunya berpotensi terjadinya resistensi antibiotik.
Hati-hati menggunakan antibiotik ini untuk pasien dengan epilepsi,
riwayat gangguan sistem saraf pusat, defisiensi G6PD, perpanjangan
interval QT, memiliki faktor risiko perpanjangan interval QT atau
torsades de pointes (misalnya sindrom QT kongenital panjang,
ketidakseimbangan elektrolit yang tidak dikoreksi, penyakit
jantung).
Ciflos 500 mg Tablet (Ciprofloxacin) dapat memperburuk gejala
myasthenia gravis.
Ciflos 500 mg Tablet (Ciprofloxacin) dapat menyebabkan pusing,
sebaiknya tidak mengemudikan kendaraan atau mengoperasikan
mesin.
Pertahankan asupan cairan yang adekuat dan hindari alkalinitas urine
yang berlebihan.
Hindari paparan sinar matahari atau sinar UV buatan.
Jika selama menggunakan obat Ciflos 500 mg Tablet
(Ciprofloxacin) Anda mengalami tendinitis atau ruptur tendon
(misalnya nyeri, bengkak) saat berolahraga, segera istirahat dan
hentikan olahraga.

 PENGGUNAAN OBAT GLUCOPHAGE XR UNTUK IBU


HAMIL
FDA (badan pengawas obat dan makanan amerika serikat)
mengkategorikan Ciprofloxacin kedalam kategori C dengan
penjelasan sebagai berikut :

Penelitian pada reproduksi hewan telah menunjukkan efek buruk


pada janin dan tidak ada studi yang memadai dan terkendali dengan
baik pada manusia, namun jika potensi keuntungan dapat dijamin,
penggunaan obat pada ibu hamil dapat dilakukan meskipun potensi
resiko sangat besar.

Meskipun hasil studi pada hewan tidak selalu equivalen dengan hasil
pada manusia, namun efek buruk obat ini pada janin hewan harus
menjadi pertimbangan serius sebelum menggunakan Ciflos 500 mg
Tablet untuk ibu hamil. Oleh karena obat ini diketahui mampu
menembus sawar plasenta, sebaiknya kalaupun harus digunakan
harus di bawah pengawasan dokter.

 INTERAKSI OBAT
1. Penggunaan bersama antasida yang mengandung magnesium
hidroksida atau aluminium hidroksida, menurunkan
penyerapan Ciflos 500 mg Tablet (Ciprofloxacin) oleh usus.
2. Hal yang sama terjadi jika diberikan bersamaan dengan
suplemen zat besi dan multi-vitamin yang mengandung zinc.
3. Sebaiknya tidak diberikan bersamaan dengan susu, produk
yang kaya kalsium, multivitamin oral dan suplemen mineral
yang mengandung kation divalen atau trivalen (misalnya Fe,
Zn, Ca) karena bisa menurunkan level Ciflos 500 mg Tablet
(Ciprofloxacin) dalam darah di bawah level yang
dibutuhkan.
4. Ciflos 500 mg Tablet (Ciprofloxacin) menunjukkan potensi
untuk menghambat kerja enzim yang memecah tizanidine,
theophylline, caffeine, methylxanthines, clozapine,
olanzapine, dan ropinirole. Hal ini dapat meningkatkan level
obat tersebut dalam darah, sehingga menyebabkan efek
samping yang lebih potensial.
5. Dalam dosis tinggi, penggunaan Ciflos 500 mg Tablet
(Ciprofloxacin) bersamaan dengan anti inflamasi non steroid
(NSAID) dapat menyebabkan kejang. beberapa merk-merk
obat yang termasuk NSAID misalnya mefinal yang
mengandung asam mefenamat, dan voltadex yang
mengandung diclofenac.
6. Meningkatkan efek antikoagulan oral (misalnya warfarin)
dan anti diabetes glibenclamide.
7. Meningkatkan toksisitas methotrexate.
8. Konsentrasi plasma Ciflos 500 mg Tablet (Ciprofloxacin)
dapat ditingkatkan oleh probenesid.
9. Penggunaan bersamaan dengan antiaritmia kelas IA
(misalnya quinidine, procainamide), antiaritmia kelas III
(misalnya amiodarone, sotalol), TCA, makrolides dan
antipsikotik dapat menyebabkan efek aditif pada
perpanjangan interval QT.
10. Penggunaan bersamaan dengan kortikosteroid (misalnya
dexamethasone, betamethasone) dapat meningkatkan risiko
gangguan tendon parah.
11. Interaksi yang berpotensi fatal : Peningkatan kadar tizanidine
dalam serum yang bisa menyebabkan efek hipotensi dan
sedatif.
12. Interakasi ciprofloxacin dan enalapril mengakibatkan
peningkatan risiko gangguan ginjal akut
 DOSIS CIFLOS 500
Dosis obat ini ditentukan secara individual untuk setiap pasien
berdasarkan manfaat dan tolerabilitas masing-masing pasien. Obat
Ciflos umumnya diberikan dengan dosis sebagai berikut :

SISTITIS TANPA KOMPLIKASI


 dewasa : 250-500 mg 2 x sehari selama 3 hari.
 wanita pra-menopause : 500 mg sebagai dosis tunggal.
 Komplikasi : 500 mg 2 x sehari selama 7 hari.

PYELONEPHRITIS TANPA KOMPLIKASI


 dewasa : 500 mg 2 x sehari selama 7 hari.
 Komplikasi : 500-750 mg 2 x sehari minimal 10 hari; bisa dilanjutkan> 21
hari.
 Dosis anak usia ≥1 tahun : 10-20 mg / kg berat badan untuk 10-21 hari. Max
: 750 mg / dosis.

PROSTATITIS
 dewasa : 500-750 mg 2 x sehari untuk 2-4 minggu (akut) atau 4-6 minggu
(kronis).

3. Urinter
Urinter adalah obat yang digunakan untuk mengobati infeksi
saluran kemih baik akut maupun kronis. Urinter mengandung Pipemidic
acid, suatu obat anti bakteri sintetik turunan pyrido-pirimidin.
Berikut ini adalah informasi lengkap obat Urinter yang disertai
tautan merk-merk obat lain dengan nama generik yang sama.

 PABRIK
Interbat
 GOLONGAN
Harus dengan resep dokter

 KEMASAN
Obat Urinter dipasarkan dengan kemasan sebagai berikut :
100 caplet 400 mg
 KANDUNGAN
Tiap caplet Urinter mengandung zat aktif (nama generik) sebagai
berikut :
Pipemidic acid 400 mg

 SEKILAS TENTANG ZAT AKTIF (NAMA GENERIK)


Asam pipemidat (Pipemidic acid) adalah suatu obat anti bakteri
sintetik untuk mengobati penyakit infeksi saluran kemih, baik yang
monomikrobial maupun yang polymikrobial. Pipemidic acid aktif
terhadap bakteri gram negatif, serta beberapa bakteri gram positif.
Pipemidic acid adalah turunan pyrido-pirimidin. Seperti
pyridones lainnya, mekanisme kerja obat ini adalah dengan
menghambat DNA girase pada proses sintesis DNA. Obat ini termasuk
golongan quinolone dan mempunyai struktur molekul yang berkaitan
dengan golongan Nalidixic acid, Oxolinic acid dan Piromidic acid.
Obat ini menunjukkan aktivitas yang lebih kuat dibandingkan
Piromidic acid atau Nalidixic acid dan menunjukkan aktivitas moderat
terhadap bakteri yang tahan terhadap Piromidic acid dan Nalidixic acid.

 INDIKASI
Kegunaan Urinter (Pipemidic acid) adalah untuk mengobati gejala infeksi saluran
kemih baik akut maupun kronis, yang disebabkan oleh bakteri yang sensitif.

 KONTRA INDIKASI
Jangan menggunakan obat ini pada pasien dengan riwayat hipersensitif atau alergi
terhadap Pipemidic acid.
Tidak boleh digunakan untuk neonatus (bayi baru lahir), wanita hamil dan ibu
menyusui.
Tidak boleh diberikan pada penderit gagal ginjal berat (CrCl <10 mL / menit)
karena bisa menyebabkan peningkatan kadar obat dalam darah dan cairan
serebrospinal.
 EFEK SAMPING URINTER
Obat-obat yang mengandung Pipemidic acid termasuk Urinter dapat ditolerir
dengan baik oleh saluran pencernaan dan toksisitasnya rendah. Namun Obat ini
tetap memiliki beberapa efek samping. Efek samping Urinter (Pipemidic acid)
sebagai berikut :

Efek samping pada saluran pencernaan (Gastrointestinal) : efek samping yang


paling umum seperti mual atau anoreksia, sakit perut atau distensi, muntah, diare,
konstipasi atau stomatitis. Efek samping ini tidak memerlukan penghentian terapi
karena biasanya akan hilang bila pengobatan diberikan setelah makan.
Reaksi hipersensitivitas : erupsi kulit, reaksi fotosensitivitas, urtikaria, pruritus dan
demam. Kadang bisa disertai dengan angioedema, dyspnea, sianosis, bradikardia
dan hipotensi (anafilaksis). Efek samping ini jarang terjadi namun bisa berakibat
fatal. Jika reaksi hipersensitivitas terjadi, pemakaian obat harus dihentikan.
Efek samping pada organ ginjal : Bisa menyebabkan peningkatan BUN (urea
nitrogen darah) dan kreatinin.
Efek samping pada organ hati : level SGOT dan SGPT yang tinggi kadang bisa
terjadi, meskipun belum diketahui hubungan kausalitasnya.
Efek samping lain : Kelelahan, rasa haus, leukopenia, sakit kepala dan pusing.

PERHATIAN
Hal-hal yang harus diperhatikan saat menggunakan obat Urinter adalah sebagai
berikut :
• Obat ini menyebabkan penderita lebih sensitif terhadap paparan cahaya.
Oleh karena itu, pasien yang sedang menggunakan obat Urinter (Pipemidic
acid) sebaiknya menghindari paparan sinar matahari langsung maupun sinar
buatan. Reaksi fotosensitifitas sangat langka, jika terjadi terapi harus
dihentikan.
• Keamanan pemakaian pada anak- anak belum ditetapkan. Sebaiknya anak-
anak di bawah usia 12 tahun tidak menggunakan obat ini.
• Obat ini ditemukan pada air susu ibu. Jangan menyusui bayi selama
menggunakan obat ini.

 PENGGUNAAN OBAT URINTER UNTUK IBU HAMIL


Keamanan penggunaan obat-obat yang mengandung Pipemidic acid termasuk
Urinter untuk ibu hamil sehubungan dengan efek buruk pada janin atau bayi baru
lahir belum ditetapkan. Jika tidak benar-benar dibutuhkan atau masih ada obat
pilihan lain yang lebih aman, sebaiknya obat ini tidak digunakan.
 INTERAKSI OBAT
Berikut adalah interaksi obat Urinter jika digunakan secara bersamaan dengan obat
lain :
Ada resistensi silang (cross resistance) dengan Nalidixic acid dan Oxolinic acid.
Obat ini menghambat metabolisme Teofilin sehingga meningkatkan konsentrasi
Teofilin dalam darah.

 DOSIS URINTER
Urinter (Pipemidic acid) diberikan dengan dosis berikut :
Untuk pengobatan infeksi saluran kemih akut, termasuk Cystitis, Uretritis,
Pielonefritis dan Pyelitis :
2 x sehari 1 caplet untuk jangka waktu 7-10 hari.
Untuk pengobatan infeksi saluran kemih kronis :
2-4 x sehari 1 caplet untuk jangka waktu minimal 2 minggu atau lebih jika
diperlukan.
- Aturan pakai :
Obat digunakan saat perut kosong, 1 atau 2 jam sebelum/sesudah makan.
4. Imudator
Imudator Kaplet adalah suplemen untuk menstimulasi sistem
imun dan sebagai terapi tambahan untuk infeksi bakteri. Imudator
Kaplet mengandung Polinacea extrak, Zn picolinate, Phyllanthus
niruri extrak, Reishi mushroom extrak. Kombinasi kandungan
tersebut bermanfaat sebagai Imunomodulator yang berperan untuk
membuat sistem imun lebih aktif dalam menjalankan fungsinya
menguatkan sistem imun tubuh (imuno stimulator) atau menekan
reaksi sistem imun yang berlebihan (imuno supresan) sehingga
kekebalan atau daya tahan tubuh kita selalu optimal menjaga kita
tetap sehat ketika diserang oleh virus, bakteri atau mikroba lainnya.

Indikasi

Imudator Kaplet diindikasikan untuk :

 Menstimulasi sistem imun.


 Terapi tambahan untuk infeksi bakteri, virus, dan jamur pada saluran kemih
dan kelamin, batu ginjal, penyembuhan luka.
 Sebagai hepatoprotektor (menjaga fungsi hati) untuk hepatitis dan
antioksidan.

Komposisi

Tiap kaplet Imudator Kaplet mengandung :

 Polinacea extrak 200 mg.


 Zn picolinate 10 mg.
 Phyllanthus niruri extrak 50 mg.
 Reishi mushroom extrak 250 mg.

Kontra Indikasi
 Penggunaan pada wanita hamil harus dengan saran dari dokter.
 Pasien penerima transplantasi atau obat yang menekan sistem imun.
 Penyakit autoimun.

Efek Samping
Semua Obat pasti memiliki efek samping, namun tidak semua orang
akan mengalami efek samping tersebut. Belum ditemukan adanya efek
samping yang berarti selama penggunaan Imudator Kaplet. Bila
menemukan atau merasakan efek samping menetap bahkan memburuk,
segera hentikan penggunaan Imudator Kaplet dan konsultasikan ke
Dokter.

Dosis & Cara Mengonsumsi


Imudator Kaplet merupakan suplemen makanan, sehingga pembelian
Imudator Kaplet dapat dibeli tanpa menggunakan resep Dokter.
Dosis Imudator Kaplet dapat dilihat pada label kemasan.
Dosis umum Imudator Kaplet adalah Dewasa : 1 Kaplet 1-3 kali sehari.
Imudator Kaplet diminum setelah makan. Hentikan pengonsumsian
jika suplementasi tidak dibutuhkan.

DAFTAR PUSTAKA

• Drug Information Handbook, 15th ed., 2007-2008.


• Drug Information Handbook, 12th ed., 2004-2005.
• Handbook on injectable Drug, 12th ed, 2003.
• ISO Indonesia vol. 43, 2008.
• Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian Dan Alat Kesehatan JNC 8
Hypertension Guideline Algorithm
• Martindale : The Complate Drug Reference, 35 th ed., 2007 (e-book).
• MIMS Indonesia 109th ed. 2008.