Anda di halaman 1dari 22

PENGAMATAN ORGANOLEPTIK, MAKROSKOPIS, MIKROSKOPIS, DAN

HISTOKIMIA PADA SIMPLISIA KUNYIT DAN JAHE

LAPORAN PRAKTIKUM

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah


Etnobotani Yang Dibimbing Oleh
Dra. Eko Sri Sulasmi, M.S dan Drs. Sulisetijono, M.Si.

Disusun oleh:
Kelompok 3:
Fitria Maulita (150342606010)
Giovannica Zendi S. (150342606591)
I’if Fitrotul Mahmudah (150342600856)
Riza Eka Novita Sari (150342602425)
Sugi Hartono (150342608273)

Offering GHI-Pangan / 2015


S1 Biologi

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
September 2018
A. Topik
Pengamatan Organoleptik, Makroskopis, Mikroskopis, Dan Histokimia Pada
Simplisia Kunyit Dan Jahe

B. Tujuan
1. Untuk mengetahui uji organoleptik simplisia kunyit dan jahe.
2. Untuk mengetahui uji makroskopis simplisia kunyit dan jahe.
3. Untuk mengetahui uji mikroskopis simplisia kunyit dan jahe.
4. Untuk mengetahui uji histokimia simplisia kunyit dan jahe.

C. Dasar Teori
Etnobotani secara terminologi dapat dipahami sebagai hubungan antara
botani (tumbuhan) yang terkait dengan etnik (kelompok masyarakat) di berbagai
belahan bumi, dan masyarakat umumnya. Etnobotani adalah penelitian ilmiah
murni yang mengunakan pengalaman pengetahuan tradisional dalam memajukan
dan improvisasi kualitas hidup, tidak hanya bagi manusia tetapi juga kualitas
lingkungan, karena nilai nilai guna yang dimiliki dan digunakan secara
antrophologis adalah konservasi tumbuhan tersebut harus dilakukan sebagai
konsekuensinya. Etnobotani menekankan bagaimana mengungkap keterkaitan
budaya masyarakat dengan sumberdaya tumbuhan di lingkungannya secara
langsung ataupun tidak langsung. Penekanannya pada hubungan mendalam budaya
manusia dengan alam nabati sekitarnya. Mengutamakan persepsi dan konsepsi
budaya kelompok masyarakat dalam mengatur sistem pengetahuan anggotanya
menghadapi tetumbuhan dalam lingkup hidupnya (Suryadarma, 2008).
Tanaman obat adalah tanaman yang mengandung bahan yang dapat
digunakan sebagai pengobatan dan bahan aktifnya dapat digunakan sebagai bahan
obat sintetik (Sofowora dalam Pribadi, 1982). Di indonesia tanaman obat
dimanfaatkan sebagai bahan jamu gendong, obat herbal, makanan penguat daya
tahan tubuh, kosmetik dan bahan spa serta bahan baku industri makanan dan
minuman. Pada tahun 2000 nilai perdagangan tanaman obat di Indonesia mencapai
Rp 1,5 tryliun rupiah setara dengan US $ 8 milyar dikuasai oleh produk herbal dari
Cina (Anonim, 2008).
Untuk menjaga kelestarian hidup dan menjamin suplai bahan baku bagi
kebutuhan industri obat tradisional maka perlu dikembangkan system budidaya
tanaman obat yang sesuai dengan agroekosistem. Kurkumin atau seringkali juga
disebut sebagai kurkuminoid adalah suatu campuran yang kompleks berwarna
kuning oranye yang diisolasi dari tanaman dan memiliki efek terapeutik. Kurkumin
sebenarnya terdiri dari tiga macam kurkumin, yaitu kurkumin I (deferuloyl
methane), kurkumin II desmethoxy-kurkumin (feruloyl-p-hydroxy-
cinnamoylethane) dan kurkumin III (bis-desmethoxy-kurkumin (bis-(p-
hydroxycinnamoyl)-methane) (Wardini dan Prakoso, 1999).
Kurkumin merupakan zat yang memiliki aktivitas biologi (zat berkhasiat),
yang terdapat pada berbagai jenis Curcuma sp. (Chen dan Fang, 1997). Di
dunia ada 40-50 jenis Curcuma sp, yang merupakan tanaman asli dari wilayah
Indonesia-Malaysia, ditemukan tumbuh tersebar dari India, Taiwan, Thailand,
seluruh wilayah Malaysia sampai ke wilayah Pasifik dan Australia utara. Di
wilayah Malaysia ada sekitar 20 jenis Curcuma sp. Menurut Krishnamurthy et al.
(1981) kunyit mengandung 2,5-6 % kurkumin, sementara dalam temulawak
berkisar antara 1-2 %. Temulawak dan kunyit telah dikenal dikalangan industri
jamu atau obat tradisional dan banyak digunakan sebagai bahan baku dalam ramuan
jamu.
Selain kunyit ada juga tumbuhan jahe. Jahe-jahean pada umumnya berupa
tumbuhan terrestrial yang tumbuh di hutan tropis, terdapat pada dataran rendah di
hutan-hutan pebukitan, tercatat pada ketinggian 200-500 mdpl. Habitat yang
disenangi jahe-jahean umumnya tempat-tempat lembab. Beberapa jenis juga
ditemukan pada hutan sekunder, hutan yang terbuka, pinggir sungai, rawa-rawa dan
kadang dapat tumbuh pada daerah terbuka dengan cahaya matahari penuh.
Beberapa jenis dari Etlingera tumbuh pada hutan sekunder atau lokasi hutan yang
baru terbuka yang mana bisa tumbuh dengan cepat seperti gulma. Bahkan beberapa
diantaranya dapat dijadikan indikator kerusakan habitat (Larsen et al, 1999)
Pada pengamatan ini dilakukan beberapa uji yaitu uji organoleptik,
makroskopis, mikroskopis dan uji histokimia.
1. Uji Organoleptik
Pengujian organoleptik adalah pengujian yang didasarkan pada proses
pengindraan. Pengindraan diartikan sebagai suatu proses fisio-psikologis
yaitu kesadaran. Dimana pengujian ini meliputi rasa, tekstur, warna dan
aroma simplisia.
2. Uji Makroskopis
Makroskopis merupakan pengujian yang dilakukan dengan mata telanjang
atau dengan bantuan kaca pembesar terhadap berbagai organ tanaman yang
digunakan untuk simplisia.
3. Uji Mikroskopis
Pengujian mikroskopis yaitu pengujian yang dilakukan dengan
menggunakan mikroskop dengan pembesaran tertentu yang disesuaikan
dengan keperluan simplisia yang diuji dapat berupa sayatan melintang,
membujur, atau berupa serbuk. Fungsinya untuk mengetahui unsure-unsur
anatomi jaringan yang khas dari simplisia.
4. Uji Histokimia.
Pengujian histokimia yaitu pengujian yang dilakukan dengan cara menetesik
serbuk simplisia dengan berbagai macam pereaksi yang spesifik.

D. Alat dan Bahan


Alat Bahan
1. Mikroskop 1. Simplisia basah kunyit
2. Mortar 2. Simplisia basah jahe
3. Pistil 3. Sudan III
4. Baskom 4. IKI
5. Pipet tetes 5. FeCl3
6. Kaca benda 6. Floroglusin
7. Kaca penutup 7. HCl
8. Reagen Milon
9. Silet
10. KOH
11. Alcohol 70%
E. Cara Kerja
1. Pengamatan Organoleptik

Simplisia diiris sampai terlihat bagian dalamnya

Diamati secara organoleptik dari segi aroma, rasa, teksturdan warna

2. Pengamatan Makroskopis

Simplisia diamati dari segi bentuk fisik dalam dan luarnya

3. Pengamatan Mikroskopis

Dibuat irisan melintang dengan silet dari simplisia basah

Irisan diletakkan di atas kaca benda, lalu ditetesi akuades dan ditutup
dengan kaca penutup, menjadi sebuah preparat

Preparat diamati di bawah mikroskop, bagian jaringan yang terlihat


digambar dan diberi keterangan

4. Pengamatan Histokimia

Dibuat preparat dari irisan melintang simplisia basah

Preparat ditetesi dengan masing-masing reagen yang telah disediakan


sesuai dengan jenis pengujian yang telah ditentukan

Pengujian protein ditetesi dengan reagen Milon, minyak atsiri dengan


sudan III, tannin dengan Feriklorida (FeCl3), amilum dengan IKI, dan
lignin dengan Floroglusin HCl
F. Data Pengamatan
1. Organoleptik
Rasa (*)
No Sampel Warna Aroma Tekstur Rata-
1 2 3 4 5
rata
Khas Kulit
1 Kunyit orange 5 5 5 5 5 5
kunyit kasar
Kuning Khas Kulit
2 Jahe 5 5 5 5 5 5
pudar jahe kasar
*skor rasa:
1. kunyit  1) tidak getir, 2) sedikit getir, 3) agak getir, 4) getir, 5) sangat getir
2. jahe  1) tidak pedas, 2) sedikit pedas, 3) agak pedas pahit, 4) pedas pahit, 5)
sangat pedas pahit

2. Makroskopis

Gambar 1 Pengamatan makroskopis simplisia basah kunyit: kunyit memiliki


permukaan dalam berwarna jingga, dengan bentuk rimpang bulat memanjang
seperti jari, dan terkadang tidak beraturan, serta memiliki kulit yang bertekstur
kasar. Keterangan: a) irisan melintang kunyit dan b) kulit kunyit (Sumber: dok.
pribadi)
3. Mikroskopis

No Sampel Hasil Pengamatan


1 Kunyit

Keterangan:

2 Jahe

Keterangan:
4. Histokimia

No Sampel Protein Lignin Tanin Minyak Amilum


Atsiri
1 Kunyit + + + + +
2 Jahe + + + +

N Jenis Uji Hasil Pengamatan


o
Kuny 1. Milon
it

40x
400x
Keterangan:
Molekul protein yang terdeteksi akan berwarnqa
merah bata
2. Floroglus
in HCl

400x
3. FeCl3
400x
4. Sudan III

40x

400x
400x
5. IKI

400x
Jahe 1. Milon

400x
2. Floroglus
in HCl

400x
3. FeCl3

400x
4. Sudan III
5. IKI -

G. Analisis Data
Sampel yang digunakan dalam praktikum ini adalah rimpang kunyit dan
juga rimpang jahe. Parameter yang diamati dalam praktikum ini yaitu uji
organoleptic, pengamatan makroskopis, pengamatan mikroskopis serta uji
histokimia. Berdasarkan hasil praktikum pada uji organoleptic didapatkan hasil
yaitu rimpang kunyit memiliki warna oranye, aroma khas kunyit, tekstur kulit kasar
dan memiliki rasa yang sangat getir sedangkan rimpang jahe memiliki warna
kuning pudar, aroma khas jahe, tekstur kulit kasar dan memiliki rasa yang sangat
pedas pahit. Parameter yang selanjutnya yaitu pengamatan makroskopis didapatkan
hasil yaitu rimpang kunyit maupun rimpang jahe sama-sama memiliki tekstur kulit
yang kasar dan memiliki bentuk rimpang yang bulat memanjang seperti jari
sedangkan pengamatan mikroskopis diamati bagian-bagian sel yang ada pada
rimpang kunyit maupun rimpang jahe. Parameter yang terakhir yaitu uji histokimia
didapatkan hasil bahwa pada jaringan rimpang kunyit memiliki kandungan protein,
lignin, tannin, minyak atsiri dan juga amilum sedangkan pada jaringan rimpang jahe
juga memiliki kandungan protein, lignin, tannin, minyak atsiri, namun pada
pengujian amilum belum dilakukan karena keterbatasan waktu.
H. Pembahasan
a. Rimpang Kunyit
Kunyit merupakan jenis rumput–rumputan, tingginya sekitar 1 meter
dan bunganya muncul dari puncuk batang semu dengan panjang sekitar 10–15
cm dan berwarna putih. Umbi akarnya berwarna kuning tua, berbau wangi
aromatis dan rasanya sedikit manis. Bagian utamanya dari tanaman kunyit
adalah rimpangnya yang berada didalam tanah. Rimpangnya memiliki banyak
cabang dan tumbuh menjalar, rimpang induk biasanya berbentuk elips dengan
kulit luarnya berwarna jingga kekuning–kuningan (Hartati & Balittro, 2013).
Rimpang kunyit bercabang–cabang sehingga membentuk rimpun.
Rimpang berbentuk bulat panjang dan membentuk cabang rimpang berupa
batang yang berada didalam tanah. Rimpang kunyit terdiri dari rimpang induk
atau umbi kunyit dan tunas atau cabang rimpang. Rimpang utama ini biasanya
ditumbuhi tunas yang tumbuh kearah samping, mendatar, atau melengkung.
Tunas berbuku–buku pendek, lurus atau melengkung. Jumlah tunas umunya
banyak. Tinggi anakan mencapai 10,85 cm. Warna kulit rimpang jingga
kecoklatan atau berwarna terang agak kuning kehitaman. Warna daging
rimpangnya jingga kekuningan dilengkapi dengan bau khas yang rasanya agak
pahit dan pedas. Rimpang cabang tanaman kunyit akan berkembang secara
terus menerus membentuk cabang–cabang baru dan batang semu, sehingga
berbentuk sebuah rumpun. Lebar rumpun mencapai 24,10 cm. panjang
rimpang bias mencapai 22,5 cm. tebal rimpang yang tua 4,06 cm dan rimpang
muda 1,61 cm. rimpang kunyit yang sudah besar dan tua merupakan bagian
yang dominan sebagai obat (Winarto, 2004).
Berdasarkan hasil uji histokimia, didapatkan hasil bahwa pada jaringan
rimpang kunyit memiliki kandungan protein, lignin, tannin, minyak atsiri dan
juga amilum. Hal tersebut sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Nissar
et al. (2014) dimana hasil penelitiannya menunjukkan bahwa rimpang jahe
memiliki kandungan protein, lignin yang terletak pada jaringan epidermis atas,
tannin yang terletak pada jaringan epidermis dan parenkim, minyak atsiri yang
terletak pada jaringan korteks serta amilum yang terletak pada jaringan
epidermis atas, korteks dan juga jaringan endodermal.
Gambar 1. Jaringan pada rimpang kunyit yang menghasilkan minyak atsiri (Nissar
et al., 2014)

Gambar 2. Jaringan pada rimpang kunyit yang menghasilkan tannin (Nissar et al.,
2014)
Gambar 3. Jaringan pada rimpang kunyit yang menghasilkan lignin (Nissar et al.,
2014)

Gambar 4. Jaringan pada rimpang kunyit yang menghasilkan amilum (Nissar et al.,
2014)

b. Rimpang Jahe
Berdasarkan hasil uji organoleptik rimpang jahe, didapatkan literatur
dimana rimpang jahe memiliki ciri-ciri diantaranya bentuk rimpang bercabang
tidak beraturan, berkulit agak keras, dagingnya berwarna kuning, berserat dan
berbau harum yang khas (Gambar 5). Jahe dapat dibudidayakan di semua
negara tropis dan subtropis dan menyukai iklim lembab. Jahe merupakan
tanaman tahunan, berbatang semu dengan tinggi antara 30 – 75 cm. Akar jahe
berbentuk bulat, ramping, berserat,berwarna putih sampai coklat terang.
Berdaun sempit memanjang menyerupai pita, dengan panjang 15 – 23 cm, lebar
lebih kurang 2,5 cm, tersusun teratur dua baris berseling. Tanaman jahe hidup
berumpun, menghasilkan rimpang, dan berbunga. Bunga berupa malai yang
terdorong di permukaan tanah, berbentuk tongkat atau bulat telur, dengan
panjang lebih kurang 25 cm (Gambar 6). Mahkota bunga berbentuk tabung,
dengan helaian agak sempit, tajam, berwarna kuning kehijauan. Rimpang jahe
memiliki bentuk yang bervariasi, agak pipih sampai bulat panjang dengan
warna putih kekuning-kuningan hingga kuning kemerah-merahan (Sidqa,
2013). Berdasarkan ukuran bentuk dan warna kulit rimpang jahe
diklasifikasikan menjadi tiga varietas yaitu : (1) Zingiber officinale var Roscoe
yang dikenal dengan jahe gajah atau jahe badak atau jahe putih besar,
mempunyai rimpang yang besar dan ruas yang menggelembung, (2) Zingiber
officinale var Rubrum, yang dikenal dengan jahe merah atau jahe sunti, dengan
kulit rimpang yang berwarna merah, (3) Zingiber officinale var Amarum, yang
dikenal dengan jahe putih kecil atau jahe emprit, mempunyai rimpang dengan

ruas yang kecil dan agak menggelembung (Fatiah dan Nurjanah, 2011).

Gambar 5. Zingiber officinale (Malu dkk., 2009)


Gambar 6. Batang tegak dari Zingiber officinale (Malu dkk., 2009)

a b c

Gambar 7. Jaringan pada rimpang jahe yang menghasilkan a) Amilum. b)


Protein, dan c) Lipid (tetesan minyak) (Indriyani, 2017)

Berdasarkan hasil uji histokimia, didapatkan hasil bahwa pada jaringan


rimpang kandungan protein, lignin, tannin, minyak atsiri, namun karena
keterbatasan waktu sehingga tidak dilakukan pengujian amilum pada rimpang
jahe. Hal tersebut sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa jahe memiliki
berbagai kandungan zat yang diperlukan oleh tubuh, kandungan zat tersebut
antara lain minyak atsiri (0,5 - 5,6%) (Himawan dkk., 2011), ditemukan tiga zat
metabolit utama yaitu karbohidrat (butir amilum), protein (butiran protein), dan
lipid (tetesan minyak) (Indriyani, 2017) (Gambar 7), jahe memiliki kemampuan
mempertahankan kualitas pangan yaitu sebagai antimikrobia dimana kandungan
zat tersebut berupa tanin (Himawan dkk., 2011). Sifat anatomi yang berguna bagi
taksonomi meliputi ukuran, bentuk dan susunan berkas pengangkut; tipe
stomata, bulu-bulu dan papilla, substansi ergastik seperti: sel silika, kristal Ca-
oksalat, lignin, pati, tanin, sel minyak dan getah, asal, ukuran dan bentuk sel
parenkiem, xilem primer dan sekunder, serabut-serabut dan berkas pengangkut
floem (Setyawan, 2001).

I. Kesimpulan
1. Simplisia kunyit memiliki warna orange, dengan aroma khas kunyit, dan rasanya
sangat getir. Sedangkan simplisia jahe memiliki warna kuning pudar, dengan
aroma khas jare , dan memiliki rasa pedas pahit. Setiap simplisia tekstur kulitnya
kasar.
2. Pada kunyit maupu jahe positif mengandung protein, lignin, tanin, amilum, dan
minyak atsiri.
Daftar Pustaka

Fatiah, S., Nurjanah, S. 2011. Aktivitas Antimikroba Ekstrak Jahe (Zingiber


officinale Roscoe) Terhadap Beberapa Bakteri Patogen. Bogor : Institut
Pertanian Bogor.
Hartati, S.Y., Balittro. 2013. Khasiat Kunyit Sebagai Obat Tradisional dan Manfaat
Lainnya. Warta Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri. Jurnal
Puslitbang Perkebunan.
Himawan, E., N., Utami, R., Kawiji. 2011. Pemanfaatan Jahe (Zingiber officinale
Rosc.) Dalam Meningkatkan Umur Simpan Dan Aktivitas Antioksidan
“Sale Pisang Basah”. Jawa Tengah : Jurnal Teknologi Hasil Pertanian,
Vol. IV, No. 2.
Indriyani, S. 2017. Secretory Structure and Histochemistry Test of Some
Zingiberaceae Plants. Malang : Universitas Brawijaya. 8th International
Conference on Global Resource Conservation.
Krishnamoorthy, H.N. 1981. Plant Growth Substances. New Delhi: TataMcGrawHill
Publ.
Malu S, O., Tawo G., N., Nyong, B. 2009. Antibacterial Activity And Medicinal
Properties Of Ginger (Zingiber officinale). Nigeria : Global Journal Of
Pure And Applied Sciences. Vol(3): 365-368.
Nissar, A.R., Sudharsana, M.S., Smitha N., & Guru, C. 2014. Histochemical Studies
of Curcuma neilgherrensis – an antidiabetic herb. World Journal of
Pharmaceutical Research.
Setyawan, A., D. 2001. Anatomi Sistematik pada Anggota Familia Zingiberaceae.
Surakarta : Biosmart. Volume 3, Nomor 2.
Sidqa, H. 2013. Efektivitas Ekstrak Jahe (Zingiber officinale Roscoe) Terhadap
Pertumbuhan Bakteri Streptococcus viridans. Jakarta : Universitas Islam
Negeri Syarif Hidayatullah.
Wardini TH, Prakoso B. 1999. Curcuma L. Di dalam: Padua LS de et al., editor. Plant
Resources of South-East Asia 12 (1): Medicinal and Poisonous Plants 1. Bogor:
PROSEA. hlm 210-219.
Winarto, I.W. 2004. Khasiat dan Manfaat Kunyit. Jakarta: AgroMedia Pustaka.