Anda di halaman 1dari 19

Pengertian

Untuk memudahkan pemahaman dan kesamaan persepsi terhadap pedoman ini, perlu
dijelaskan beberapa pengertian istilah dibawah ini yaitu:
1. Influenza
Influenza adalah infeksi akut yang menyerang saluran pernapasan, disebabkan oleh virus
influenza dengan gejala demam ≥380C disertai batuk dan atau sakit tenggorokan.
2. Influenza Like Illness (ILI)
Penyakit yang mempunyai gejala serupa influenza yaitu demam ≥380C disertai batuk dan
atau sakit tenggorokan.
3. Pandemi Influenza
Adalah wabah penyakit influenza yang menjangkiti banyak negara di dunia yang ditetapkan
oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
4. …

1
1. Pendahuluan
A. Latar Belakang

Influenza musiman adalah penyumbang signifikan untuk penyakit pernapasan akut di


Indonesia dan di seluruh dunia. Secara global, influenza menghasilkan sekitar 3 hingga 5 juta
kasus penyakit berat setiap tahun, dan sekitar 291.000-646.000 kematian pernapasan,
sebagian besar terjadi di negara-negara berpenghasilan rendah. Di Indonesia, data yang
dipublikasikan menunjukkan bahwa infeksi virus influenza memiliki dampak yang signifikan
terhadap kesehatan penduduk dan sistem perawatan kesehatan, yang menyebabkan penyakit
pernapasan rawat inap dan rawat jalan. Di antara pulau-pulau barat dan tengah yang lebih
padat penduduknya, puncak aktivitas influenza pada bulan Desember dan Januari,
berhubungan dengan musim hujan. Namun, data terbatas dari satu kabupaten di Jakarta
menunjukkan puncak yang lebih lama dalam aktivitas influenza, dari Desember hingga Mei,
dengan co-sirkulasi virus influenza A (H3N2), A (H1N1) pdm09 dan B.
Selain epidemi virus influenza A dan B musiman, Indonesia juga mengalami sirkulasi
endemik virus flu burung yang sangat patogen (HPAI) A (H5N1) di antara unggas. Provinsi
Jakarta merupakan pusat perdagangan unggas komersial Indonesia, dan Jakarta Timur, salah
satu dari lima kota di Jakarta, adalah titik masuk utama untuk pengiriman unggas nasional.
Selama 2005–2017, Indonesia mendeteksi dan melaporkan 200 infeksi manusia dengan virus
A (H5N1), dimana 168 (84%) berakibat fatal. Sementara jumlah infeksi manusia yang
diidentifikasi di Indonesia telah menurun dalam beberapa tahun terakhir, ia tetap menjadi
negara dengan jumlah kasus tertinggi kedua (setelah Mesir) serta ini tetap merupakan
proporsi kasus kematian tertinggi yang dilaporkan dari pelaporan negara manapun infeksi
virus A (H5N1) manusia di seluruh dunia. Di wilayah Jakarta Timur, tiga belas infeksi
manusia dengan virus A (H5N1) dilaporkan selama 2005-2015, dimana 12 diantaranya
meninggal.
Penyakit influenza merupakan penyakit yang dapat menimbulkan wabah sesuai dengan
Permenkes Nomor 1501/Menkes/Per/X/2010 tentang Jenis Penyakit Menular Tertentu Yang
Dapat Menimbulkan Wabah dan Upaya Penanggulangan.
Virus influenza mempunyai sifat mudah berubah baik secara mutasi maupun dengan
pertukaran materi genetik 2 jenis virus influenza atau lebih (reassortment) membentuk jenis
virus influenza baru. Pandemi Influenza berdampak pada kerugian ekonomi yang besar,
kelumpuhan pelayanan termasuk kesehatan dan gangguan keamanan dan ketertiban sosial.
Pada abad ke 20 ini terjadi pandemi Flu Spanyol (tahun 1918), Flu Asia (tahun 1957), Flu
Hongkong (tahun 1967), dan tahun 2009 pandemi Influenza A Baru (H1N1) menurut WHO
mempunyai derajat sedang.
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas maka disusunlah suatu Pedoman Program Influenza di
Indoneia yang bertujuan memberikan panduan bagi seluruh pemangku kepentingan dalam
menjalankan program influenza di Indonesia.

2. Ruang Lingkup
Ruang lingkup program Influenza meliputi pencegahan dan pengendalian influenza
musiman, avian influenza dan influenza zoonotic lainnya dan kesiapsiagaan pandemic
influenza.

2
3. Dasar Hukum
Buku ini disusun berdasarkan berbagai peraturan dan regulasi yang berhubungan dengan
penyakit influenza musiman, yaitu:
• UU No. 1 Tahun 1962 tentang Karantina Laut
• UU No. 2 Tahun 1962 tentang Karantina Udara
• UU No. 4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular
• UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
• UU No. 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia
• UU No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana
• UU No. 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan
• UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
• UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah
• UU No 6 tahun 2018 tentang kekarantinaan kesehatan
• Peraturan Pemerintah No. 38 Tahun 2007 tentang Distribusi urusan pemerintahan antara pusat
dan daerah
• Peraturan Presiden No. 35 Tahun 2015, tentang Kementerian Kesehatan
• Peraturan Pemerintah No. 40 Tahun 1991 tentang Penanggulangan Wabah Penyakit Menular
• Peraturan Pemerintah No. 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaran Penanggulangan Bencana
• Peraturan Pemerintah No. 18 Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah
• Peraturan Presiden No. 3 Tahun 2007, tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden No. 83
Tahun 2005, tentang Badan koordinasi Nasional Penanganan Bencana
• Peraturan Presiden No 116 Tahun 2016, tentang Pembubaran Badan Benih Nasional, Badan
Pengendalian Bimibingan Massal, Dewan Pemantapan Ketahan Ekonomi dan Keuagan,
Komite Pengarah Pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus di Pulau Batam, Pulau Bintan,
dan Pulau Karimun, Tim Nasional Pembakuan Nama Rupabumi, Dewan Kelautan Indonesia,
Dewan Nasional Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas, Badan Koordinasi Penataan
Ruang Nasional dan Komisi Nasional Pengendalian Zoonosis
• Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2017 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja
Kepolisian Negara Republik Indonesia
• Instruksi Presiden No. I Tahun 2007 tentang Penanganan dan Pengendalian Flu Burung
(Avian Influenza)
• Keputusan Menteri Kesehatan RI No 12 tahun 2017 tentang penyelenggaraan imunisasi
• Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No Hk.02.02/Menkes/514/2015 Tentang
Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter Di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama
• Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 560 Tahun 1989 tentang Jenis Penyakit tertentu yang
Dapat Menimbulkan Wabah, Tata Cara Penyampaian Laporannya Dan Tata Cara
Penanggulangannya
• Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 658 Tahun 2009 tentang Jejaring Laboratorium Penyakit
Infeksi New Emerging dan Re-Emerging
• Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 82 Tahun 2014 tentang Pengendalian Penyakit Menular
3
dan Penyakit Tidak Menular
• Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 64 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja
Kementerian Kesehatan
• Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 59 Tahun 2016 tentang Pembebasan biaya pasien
penyakit Infeksi Emerging tertentu
• Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1371/Menkes/SK/IX/2005 tentang Penyakit Flu
Burung/Avian Influenza sebagai Penyakit yang Dapat Menimbulkan Wabah, serta Pedoman
Penanggulangannya
• Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1372/Menkes/SK/IX/2005 tentang Penetapan Kondisi
Kejadian Luar Biasa (KLB) AI/Flu Burung
• Keputusan Menteri Kesehatan RI No.189/Menkes/SK/III/2006 tentang Kebijakan Obat
Nasional.
• Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1643/Menkes/SK/XII/2005 tentang Tim Nasional
Penanggulangan Penyakit Flu Burung
• Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 756 tahun 2006 tentang Pembebasan Perawatan Kasus
Flu Burung di Rumah Sakit
• Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 414/Menkes/SK/IV/2007 tentang Penetapan Rumah
Sakit Rujukan Penanggulangan Flu Burung/Avian Influenza
• Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 424/Menkes/SK/IV/2007 tentang Pedoman Upaya
Kesehatan Pelabuhan dalam rangka Karantina Kesehatan
• Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 425/Menkes/SK/IV/2007 tentang Pedoman-pedoman
Penyelenggaraan Karantina Kesehatan di Kantor Kesehatan Pelabuhan
• Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 431/Menkes/SK/IV/2007 tentang Pedoman Teknis
Pengendalian Risiko Kesehatan Lingkungan di Pelabuhan/Bandara/Pos Lintas Batas dalam
rangka Karantina Kesehatan
• Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 300/MENKES/SK/IV/2009 tentang Pedoman
Penanggulangan Episenter Pandemi Influenza
• Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 933/MENKES/SK/VII/2010 tentang Pedoman Tata
Laksana Flu Burung di Rumah Sakit
• Keputusan Menteri Kesehatan RI No.1501 / MENKES/PER/X/2010 tentang Jenis penyakit
menular tertentu yang dapat menimbulkan wabah dan upaya penanggulangan
• Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 059/MENKES/SK/I/2011 tentang Pedoman
Pengelolaan Obat dan Perbekalan Kesehatan pada Penanggulangan Bencana.
• Keputusan Menteri Kesehatan RI No.HK.02.02/Menkes/390/2014 tentang Pedoman
Penetapan Rumah Sakit Rujukan Nasional
• Keputusan Menteri Kesehatan RI No.HK.02.02/Menkes/391/2014 tentang Pedoman
Penetapan Rumah Sakit Rujukan Regional
• Surat Edaran Kementerian Dalam Negeri No 440/93/SJ tentang Penanganan Flu Burung
• Peraturan Kepala BNPB No 6a tahun 2011 tentang pedoman penggunaan dana siap pakai
pada status keadaan darurat bencana
• Peraturan Kepala BNPB no. 03 Tahun 2016 tentang Sistem Komando Penanganan Darurat
4
Bencana.
• Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia No. Pol 6 Tahun 2007 tentang Peran
Polri dalam penanggulangan terhadap Flu Burung
• Surat Telegram Panglima TNI No. ST/77/2006 Tanggal 3 April 2006, tentang perintah
menyiapkan Satuan untuk membantu Komite Nasional Pengendalian Flu Burung di daerah
• Surat Kapuskes TNI No. B/399/V/2006 Tanggal 9 Mei 2006, tentang jabaran pengendalian
Flu Burung dan kesiapsiagaan menghadapi Pandemi Influenza di dalam jajaran TNI
• Peraturan Panglima TNI No 27 tahun 2009 tentang Pelibatan TNI dalam Penanggulangan
Episenter Pandemi Influenza
• Pedoman dan Petunjuk Pelaksanaan Penanggulangan Episenter Pandemi Influenza tahun
2008
• Pedoman umum pengendalian penyakit Avian Influenza (Flu Burung) dan program
penanganannya tahun 2017
• International Health (IHR) 2005
• Surat Keputusan Dirjen Bina Upaya Kesehatan No. HK.02.02.03/I/0363/2015 tentang
Penetapan Rumah Sakit Rujukan Provinsi dan Rumah Sakit Rujukan Regional.
• Peraturan Menteri Pertahanan No. 35 Tahun 2011 tantang Bantuan TNI kepada Pemerintah
Daerah
• Peraturan Menteri Pertahanan No. 20 Tahun 2012 tentang Mekanisme Koordinasi Bantuan
Kesehatan di Lingkungan Kementerian Pertahanan dan TNI dalam Penaggulangan Bencana
• Peraturan Menteri Pertahanan No. 5 Tahun 2015 tantang Penanggulangan Dampak Bahan
agensia Biologi dari Aspek Kesehatan di Lingkungan Kementerian Pertahanan dan TNI
• Keputusan Menteri Pertahanan No. 40 Tahun 2014 tentang Pelibatan Satuan Kesehatan
Kementerian Pertahanan dan TNI dalam Pengendalaian Zoonosis

5
2. Kebijakan Program
A. Visi
Mencapai kesiapsiagaan tertinggi dalam menghadapi pandemi untuk berkontribusi pada
upaya kesehatan bagi seluruh masyarakat Indonesia

B. Misi
Kementerian Kesehatan dan mitra bekerja sama untuk mengoptimalkan kapasitas global
untuk deteksi cepat dan biaya - intervensi yang efektif untuk mengurangi beban dan dampak
dari influenza musiman dan pandemi.

C. Tujuan
Semua wilayah memiliki kapasitas untuk mendeteksi, mencegah dan mengendalikan
influenza sehingga:
1) Beban kesehatan karena influenza musiman berkurang
2) Dampak dari suatu pandemi dapat diminimalkan melalui kesiapan yang optimal

D. Kebijakan
1) Memperkuat kesiapsiagaan pandemi dan respon untuk influenza dan mengupayakan
dunia yang lebih aman.
2) Memperluas/mengembangkan kebijakan pencegahan dan pengendalian influenza
musiman khususnya meningkatkan kesehatan dan melayani yang rentan.
3) Mendorong penelitian dan inovasi dalam upaya mengupayakan dunia lebih aman dan
meningkatkan kesehatan.

E. Strategi
1. Penguatan koordinasi lintas program dan lintas sektor untuk pencegahan dan
pengendalian influenza dan kesiapsiagaan pandemi di tingkat nasional dan sub nasional
(provinsi/ kabupaten)
2. Meningkatkan kapasitas surveilans dan laboratorium untuk deteksi influenza dan
monitoring peredaran virus influenza melalui sentinel ILI-SARI dan análisis risiko.
3. Pencegahan influenza pada kelompok risiko tinggi / rentan dengan melakukan imunisasi
4. Penanggulangan kasus influenza dengan tatalaksana yang tepat
5. Melakukan kegiatan pencegahan dan pengendalian kasus dengan menerapkan
komunikasi risiko yang tepat
6. Meningkatkan penelitian terhadap karakteristik virus yang mengarah pada potensi
pandemi
7. Meningkatkan inovasi penemuan metode diagnostik tepat dan cepat untuk influenza
8. Meningkatkan kerjasama lintas sektor dan lintas program untuk penemuan vaksin
influenza yang efisien,efektif dan murah

6
F. Epidemiology

Influenza musiman
WHO memperkirakan 1 milyar kasus influenza musiman setiap tahunnya, dengan 3-5 juta kasus
berat dan 290,000-650,000 kematian. Efek dari epidemi influenza musiman di negara
berkembang tidak sepenuhnya diketahui, tetapi penelitian memperkirakan bahwa 99% kematian
pada anak di bawah usia 5 tahun dengan influenza terkait infeksi saluran pernapasan bawah
ditemukan di negara berkembang. Di negara-negara industri, sebagian besar kematian terkait
dengan influenza terjadi di antara orang yang berusia 65 tahun atau lebih tua. Epidemi dapat
mengakibatkan tingginya tingkat ketidakhadiran pekerja / sekolah dan hilangnya produktivitas.
Klinik dan rumah sakit dapat kewalahan selama periode penyakit puncak. Tingkat rawat inap
influenza di negara berkembang, tiga kali lebih tinggi daripada di negara-negara industri (150 /
100.000 anak / tahun versus 48 / 100.000).
Vaksinasi merupakan strategy efektif untuk pencegahan influenza (WHO Position paper, Nov
2016). Rekomendasi WHO yang termasuk kelompok risiko tinggi untuk vaksinasi influenza
diantaranya wanita hamil,anak-anak umur 6 bulan- 5 tahun, usia lanjut (lebih dari > 65 tahun),
pasien dengan komorbid (diabetes, asma, penyakit paru kronik, penyakit jantung kronik,
HIV/AIDS), dan Pelaku perjalanan Internasional, dan petugas kesehatan (WHO Weekly
epidemiology record no 47, 2012)
Berdasarkan data Surveilans ISPA Berat di Indonesia (SIBI) dari 6 sentinel, sejak 2013 sampai
dengan 30 Juni 2018, dari 4186 kasus ISPA berat, 600 kasus influenza positif (14.3 %) dengan
predominan sub type virus influenza A (H1N1)pdm 09. Proporsi kasus laki laki 56% dan
perempuan 44%. Sebagian besar proporsi kasus ISPA berat (37%) dan kasus positif influenza
(43%) ditemukan pada kelompok umur 1-4 tahun. Pneumonia ditemukan pada 30% kasus ISPA
berat dan 20% pada kasus positif influenza. 0.8% kasus meninggal dunia. Pasien positif
influenza dengan komorbid terbanyak perokok (7%), asma (5.5%) diabetes (3.5%), dan penyakit
paru obstruktif kronis (2%) (Buletin SIBI, Juni 2018).
Berdasarkan hasil analisis data, sejak bulanMei 2013 hingga April 2016, dari 1527 kasus SARI
yang dilaporakan dari 3 sentinel di Gunung Kidul, Balikppan dan Deli Serdang, ,1392 (91%)
spesimen diuji laboratorium dan 199 (14%) adalah influenza-positif. Secara keseluruhan
perkiraan kejadian tahunan terkait influenza SARI berkisar antara 13 hingga 19 per 100.000
penduduk. Insiden tertinggi terjadi pada anak usia 0-4 tahun tahun (82-114 per 100.000
penduduk), diikuti oleh anak-anak 5-14 tahun (22-36 per 100 000 populasi). Tingkat insiden
terkait influenza SARI di kabupaten-kabupaten ini menunjukkan beban besar rawat inap
influenza pada anak-anak di Indonesia (Ni Ketut et,al, 2018).

Avian Influenza dan influenza zoonotic lainnya


Sejak tahun 2003 sampai 2018, 860 kasus dengan 454 kematian (CFR 53 %) dilaporkan ke
WHO, dari 16 negara. 22 kasus Influenza A (H5N6) dilaporkan dari China sejak tahun 2014.
1567 influenza A (H7N9) dilaporkan dengan 615 kematian (CFR 39.2%). Kasus flu burung

7
lainnya yang ditularkan dari unggas ke manusia yang dilaporkan kepada WHO diantaranya
H9N2, H10N8, H1N2v, H3N2v, H10N7.
Sejak tahun 2005 sampai dengan tahun 2018, telah dilaporkan 168 kasus flu burung dengan 168
kematian (CFR 84%). Kasus dilaporkan dari 15 provinsi (sumatera Utara, Sumatera Barat,
Lampung, Sumatera Selatan, Riau, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur,
Sulawesi Selatan, Bali, DI Yogyakarta, Bengkulu, Nusa Tenggara Barat), yang meliputi 59
kabupaten. Faktor risiko penularan terdiri dari kontak langsung dengan unggas (45%), kontak
dengan unggas mati/ sakit 45%, 1.5 % kontak dengan pupuk yang terkontaminasi dan 9.5 %
yang belum diketahui faktor risikonya.
Dalam satu tahun terakhir 2017, flu burung pada unggas terjadi di 16 provinsi dengan tingkat
kejadian cukup rendah (1-28 kejadian per provinsi per tahun), sedangkan pada 18 provinsi
lainnya tidak terdapat kejadian. Sebanyak 3 provinsi telah ditetapkan sebagai zona / wilayah
bebas AI pada unggas dengan keputusan Menteri Pertanian, yaitu Maluku Utara, Maluku dan
Papua. Sebaran kejadian Flu burung pada unggas yang dilaporkan pada tahun 2017 diantaranya
116 kejadian dari Jawa Barat, Lampung, Jawa Tengah, NTT, Banten, Riau, Bengkulu, Sulawesi
Selatan, Kalimantan Timur, Kep Bangka Belitung, DI Yogyakarta, Kalimantan Selatan,
Sumatera Selatan, Jawa Timur, DKI Jakara, Bali.

Influenza potensi pandemi


Dunia telah mengalami pandemi influeza selama 4 kali. Diantaranya H1N1 Spanish flu 1918 yang
menimbulkan 40-50 juta kematian dengan CFR 2-3 %, H3N2 Hongkong flu 1968 dan H2N2 Asian Flu
1957 yang masing masing diperkirakan menimbulka 1-4 juta kematian dengan CFR 0.2 %, dan
H1N1pdm09 yang mengakibatkan 100,000-400,000 kematian dengan CFR 0.02 %. Karena dinamika
evolusi virus influenza yang dinamis, maka virus influenza dapat mengalami perbuhan genetik melalui
antigenik shift maupun antigenik drif sehingga menimbulkan virus baru (Novel Virus) yang dapat
menyebar antar manusia, dan populasi manusia di dunia ini tidak mempunyai kekebalan terhadap virus
baru tersebut.

3. Kegiatan Pokok Program Influenza

A. Surveilans Influenza

Melalui surveilans Influenza diharapkan akan dapat diperoleh informasi epidemiologi dan
virologi influenza di Indonesia sebagai dasar pengambilan keputusan dalam pencegahan,
pengendalian dan penanggulangan Influenza. Disamping itu melalui surveilans influenza akan
didapatkan informasi tentang gambaran besaran masalah influenza di Indonesia.
Gambaran epidemiologi kasus influenza, informasi tipe dan subtipe virus influenza yang
beredar di Indonesia.
Influenza surveilans network di Indonesia terdiri dari 6 sentinel berbasis rumah sakit
(Surveilans ISPA Berat) dan 27 sentinel berbasis puskesmas (Influenza Like Illness (ILI), 6
regional laboratorium, dan pusat influenza nacional (Litbangkes dan P2P Kemenkes).
8
Petugas kesehatan di sentinel ILI/SIBI melakukan skreening kasus ILI (di puskesmas) dan SIBI
di rumah sakit) menggunakan formulir kasus dan melakukan pengambilan spesimen. Spesimen
dari sentinel ILI dikirim setiap minggu ke laboratorium regional. Laboratorium regional akan
melakukan pengujian laboratorium dan mengirimkan beberapa spesimen ke litbangkes untuk
validasi. Spesimen dari sentinel SARI dikirimkan langsung ke Litbangkes. Laporan
epidemiology dikirimkan setiap minggu oleh sentinel kepada kabupaten yang diteruskan ke
provinsi dan pusat. Pusat influenza nacional akan mengirimkan umpan balik kepada sentinel,
provinsi dan kabupaten dan melakukan pengisian Flu net dan flu ID sebagai platform Global
Influenza Surevilans dan Response Network (GISRS) dan melakukan análisis data termasuk
menilai tingkat keparahan aktifitas influenza di Indonesia. Penilaian tingkat keparahan
influenza berdasarkan indikator transmisi penyakit, tingkat keseriusan penyakit, dan dampak
yang ditimbulkan, menentukan treshold, analisi data dengan menggunakan treshold dan
melaporkan hasil peningkatan tingkat keparahan. Kementerian kesehatan melakukan
monitoring dan pertemuan review untuk mengevaluasi kinerja sentinel. SOP mengeni
surveilans influenza menacu pada buku pedoman ILI dan SIBI.
Suspek Flu burung dilaporkan melalui event based surveilans dimana petugas kesehatan/
petugas kesehatan provinsi/ kabupaten melaporkan suspek kasus kepada PHEOC (Public
Health Emergency Operation Center) Kementerian kesehatan. Petugas kesehatan juga akan
berkordiansi dengan petugas kesehatan hewan untuk dilakukan penyelidikan investigasi
bersama dan analisis risiko bersama untuk penanggulangan lebih lanjut.
ILI dan suspek Avian Influenza merupakan salah satu syndrome yang juga dilaporkan oleh
puskesmas dalam SKDR (Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon).

B. Jenis, Tanda dan Gejala, Diagnosa, pengobatan dan pencegahan influenza

1) Influenza Musiman
A. Patogen
Ada 4 jenis virus influenza musiman, virus tipe A, B, C dan D. Influenza A dan B beredar dan
menyebabkan epidemi musiman penyakit.
• Virus Influenza A diklasifikasikan lebih lanjut menjadi subtipe berdasarkan kombinasi
hemagglutinin (HA) dan neuraminidase (NA), protein pada permukaan virus. Saat ini beredar
pada manusia adalah subtipe A (H1N1) dan A (H3N2) virus influenza. A (H1N1) juga ditulis
sebagai A (H1N1) pdm09 karena menyebabkan pandemi pada tahun 2009 dan kemudian
menggantikan virus influenza A musiman (H1N1) yang telah beredar sebelum 2009. Hanya
virus influenza tipe A yang diketahui telah menyebabkan pandemik .
• Virus Influenza B tidak diklasifikasikan ke dalam subtipe, tetapi dapat dipecah menjadi garis
keturunan. Saat ini virus influenza tipe B yang beredar adalah milik B / Yamagata atau garis
keturunan B / Victoria.
• Virus Influenza C lebih jarang dideteksi dan biasanya menyebabkan infeksi ringan, sehingga
tidak menunjukkan pentingnya kesehatan masyarakat.

9
• Virus Influenza D terutama menyerang sapi dan tidak diketahui menginfeksi atau
menyebabkan penyakit pada manusia.
B. Penularan influenza
Influenza ditularkan melalui droplet melalui batuk, bersin. Penularan dapat secara langsung
melalui aspirasi dari droplet orang yang terinfeksi, dan tidak langsung (kontaminasi
lingkungan).

C. Tanda dan gejala


Influenza musiman ditandai dengan demam mendadak > 38oC, batuk (biasanya kering), sakit
kepala, otot dan nyeri sendi, malaise berat (merasa tidak enak badan), sakit tenggorokan dan
hidung berair. Batuknya bisa parah dan bisa bertahan 2 minggu atau lebih. Kebanyakan orang
sembuh dari demam dan gejala lain dalam seminggu tanpa memerlukan perawatan medis. Tetapi
influenza dapat menyebabkan penyakit berat atau kematian terutama pada orang yang berisiko
tinggi.
Penyakit berkisar dari ringan hingga parah dan bahkan kematian. Rawat inap dan kematian
terjadi terutama di kalangan kelompok berisiko tinggi. Influenza dapat mengakibatkan
komplikasi, diantaranya pneumonia.

C. Diagnosa
a) Suspek
Kasus suspek influenza adalah kasus dengan gejala Demam > 38oC, batuk, sakit tenggorokan
dalam kurun waktu kurang dari 10 hari, rawat jalan atau rawat inap.
b) Probable (?)
c) Konfirm
Kasus konfirmasi influenza adalah kasus dengan gejala ILI/ SARI dengan konfirmasi (+)
pemeriksaan laboratorium influenza menggunakan metode PCR.
Pengumpulan sampel pernafasan yang tepat dan aplikasi tes diagnostik laboratorium diperlukan
untuk menetapkan diagnosis definitif. Pengumpulan, penyimpanan dan pengangkutan yang tepat
dari spesimen pernafasan adalah langkah pertama yang penting untuk mendeteksi infeksi virus
influenza di laboratorium. Konfirmasi laboratorium virus influenza dari sekresi tenggorokan,
hidung dan nasofaring atau aspirasi trakea atau pencucian biasanya dilakukan menggunakan
deteksi antigen langsung, isolasi virus, atau deteksi RNA spesifik influenza oleh reverse
transcriptase-polymerase chain reaction (RT-PCR).
D. Pencegahan :
Pencegahan dapat dilakukan dengan memberikan edukasi komunikasi dan pesan pesan yang
disampaikan kepada masyarakat, terutama sebelum meningkatnya aktivitas influenza di
Indonesia. Pencegahan influenza :
10
a. Cuci tangan pakai sabun di air mengalir , tujuannya adalah untuk menghilangkan kuman.
Perilaku sederhana, cuci tangan pakai sabun (CTPS) sebenarnya sudah dapat mengurangi
risiko tertular penyakit-penyakit seperti flu burung. Telah dibuktikan juga bahwa CTPS
dapat menurunkan kasus infeksi saluran pernafasan atas (ISPA) dan Flu Burung hingga 50
persen. Sanitasi penting, karena turut menyelamatkan jiwa
Langkah untuk mewujudkan Indonesia bersih, sehat, dan berkualitas, dapat dimulai dari hal-
hal sederhana di lingkungan rumah tangga, misalnya: Edukasi pada anak dan keluarga
tentang pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan; Peduli akan kondisi lingkungan
sekitar dengan melakukan penghijauan di sekitar rumah; Menjaga kebersihan diri pribadi
yang dimulai dengan membiasakan cuci tangan pakai sabun; serta mengajak anak-anak
untuk membiasakan cuci tangan pakai sabun (CTPS) sejak usia dini.

b. Etika batuk , etika bersin


Melakukan etika batuk / bersin yang benar dengan menutup hidung dan mulut dengan
menggunakan tissue atau sapu tangan atau lengan dalam baju, segera membuang tissue yang
tidak dipakai ke tempat sampah, mencuci tangan dengan menggunakan air bersih dan sabun
atau pencuci tangan berbasis alkohol, dan menggunakan masker apabila mengalami gejala
batuk/ bersin.

c. Beristirahat cukup apabila mengalami gejala ILI/SARI, dan tidak melakukan aktifitas
kegiatan sosial sehingga mengurangi risiko penularan.
d. Imunisasi influenza
Tambahan efektifitas vaksin , jenis vaksin influenza yang ada , Kesesuaian strain vaksin
dengan virus yang beredar. ( cari refferensi)
Influenza vaksin menggunakan influenza vaksin komposisi rekomendasi WHO.
Indoensia direkomendasikan menggunakan pasien northen hemisphere. Vaksin
dilaksanakan sebelum aktivitas influenza meningkat , sekitar bulan Oktober.
Vaksinasi influenza dianjurkan pada orang dengan risiko tinggi (WHO, 2017), yaitu
a. Usia ≥ 6 bulan kelompok risiko influenza berat
b. Tenaga kesehatan
c. Setiap orang yang ingin terlindung dari penyakit influenza
d. Wanita hamil ( termasuk periode setelah melahirkan )
e. Penderita HIV
f. Penderita TBC (?)
g. Penderita penyakit kronik

• Penyakit Paru ( seperti Asma, COPD)


• Immunosupresi ( Pengobatan Immunosupresi, kanker)
• Penyakit jantung ( Gagal jantung kongestif), kecuali hipertensi
• Gangguan metabolic seperti DM
• Penyakit Ginjal
• Penyakit hati
• Gangguan neurologi dan gangguan neurologi dalam masa pemulihan
• Hemoglobinopati ( Seperti penyakit Anemia sel sabit)
11
h. Usia ≥ 65 tahun ( utk Indonesia lebih besar dari 60 thn)
i. Haji dan Umroh dicari dulu evidence based nya ( diluar WHO)
j. Usia ≤ 18 tahun yang mendapatkan pengobatan aspirin kronik
k. Orang yang kelebihan BB (i.e. BMI ≥40).
l. Anak ( Umur < 2 tahun) ?

Dosis vaksinasi
Dewasa 0.5 ml IMI dosis tunggal
3 -8 tahun 0.5 IMI 1-2 dosis
6 bulan-2 tahun 0.25 ml IMI 1-2 dosis
Untuk 2 dosis harus diberikan > 1 bulan dalam 1 tahun vaksinasi, antara pemberian dosis pertama
dan kedua.

E. Tatalaksana
Pasien Influenza musiman tanpa penyakit penyerta atau tidak ada risiko tinggi maka diberikan
terapi symptomatis

Pasien influenza musiman dengan risiko tinggi atau dengan penyakit penyerta, maupun pasien
yang mengalami perburukan mengarah kepada komplikasi, diberikan oseltamivir dalam 48 jam
pertama

Dosis Pengobatan influenza Musiman


a) Dewasa 75 mg diberikan 2 kali sehari selama 5 hari
b) Anak
BB:
≤ 15 Kg dosis 30 mg diberikan 2kali sehari selama 5 hari
> 15 Kg – 25 kg , dosis 45 mg 2 kali sehari selama 5 hari

2) Avian dan zoonotic influenza lainnya


Fakta-fakta kunci
• Manusia dapat terinfeksi virus flu burung, babi dan zoonosis lainnya, seperti virus avian
influenza subtipe A (H5N1), A (H7N9), dan A (H9N2) dan virus influenza babi subtipe A
(H1N1), A (H1N2) dan A (H3N2).
• Infeksi manusia terutama diperoleh melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi
atau lingkungan yang terkontaminasi, virus ini belum memperoleh kemampuan transmisi
yang berkelanjutan di antara manusia.
• Flu burung, babi dan infeksi virus influenza zoonotik lainnya pada manusia dapat
menyebabkan penyakit mulai dari infeksi saluran pernapasan atas ringan (demam dan batuk),
produksi dahak dini dan perkembangan cepat ke pneumonia berat, sepsis dengan syok,
sindrom gangguan pernapasan akut dan bahkan kematian. Konjungtivitis, gejala
gastrointestinal, ensefalitis dan encephalopathy juga telah dilaporkan ke berbagai derajat
tergantung pada subtipe.
• Mayoritas kasus manusia influenza A (H5N1) dan A (H7N9) infeksi virus telah dikaitkan
dengan kontak langsung atau tidak langsung dengan unggas hidup atau mati yang terinfeksi.
12
Mengontrol penyakit di sumber hewan sangat penting untuk menurunkan risiko pada
manusia.
• Virus influenza, dengan reservoir diam yang luas pada burung air, tidak mungkin untuk
dibasmi. Infeksi influenza Zoonotik pada manusia akan terus terjadi. Untuk meminimalkan
risiko kesehatan masyarakat, pengawasan kualitas baik pada populasi hewan dan manusia,
penyelidikan menyeluruh terhadap setiap infeksi manusia dan perencanaan pandemi berbasis
risiko sangat penting.

Manusia dapat terinfeksi virus influenza zoonotik seperti virus flu burung atau babi.
Patogen
Ada empat jenis virus influenza: tipe A, B, C dan D:
• Virus Influenza A menginfeksi manusia dan banyak hewan yang berbeda. Munculnya virus
influenza A baru dan sangat berbeda dengan kemampuan menginfeksi orang dan memiliki
penularan manusia ke manusia, dapat menyebabkan pandemi influenza.
• Virus influenza B bersirkulasi di antara manusia dan menyebabkan epidemi musiman. Data
terbaru menunjukkan segel juga bisa terinfeksi.
• Virus Influenza C dapat menginfeksi manusia dan babi tetapi infeksi umumnya ringan dan
jarang dilaporkan.
• Virus Influenza D terutama menyerang sapi dan tidak diketahui menginfeksi atau
menyebabkan penyakit pada manusia.

Virus influenza tipe A adalah yang paling penting bagi kesehatan masyarakat karena potensi
mereka untuk menyebabkan pandemi influenza. Virus Influenza tipe A diklasifikasikan menjadi
subtipe sesuai dengan kombinasi protein permukaan virus yang berbeda hemagglutinin (HA) dan
neuraminidase (NA). Sejauh ini ada 18 subtipe hemagglutinin yang berbeda dan 11 subtipe
neuraminidase yang berbeda. Tergantung pada host asal, virus influenza A dapat diklasifikasikan
sebagai flu burung, flu babi, atau jenis virus influenza hewan lainnya. Contohnya termasuk virus
flu burung "flu burung" subtipe A (H5N1) dan A (H9N2) atau flu babi "flu babi" subtipe virus A
(H1N1) dan A (H3N2). Semua virus influenza tipe A hewan ini berbeda dari virus influenza
manusia dan tidak mudah menular di antara manusia.

Burung air adalah reservoir alami utama untuk sebagian besar subtipe virus influenza A.
Sebagian besar menyebabkan infeksi tanpa gejala atau ringan pada burung, di mana berbagai
gejala tergantung pada sifat virus. Virus yang menyebabkan penyakit parah pada unggas dan
mengakibatkan tingkat kematian yang tinggi disebut flu burung yang sangat patogen (HPAI).
Virus yang menyebabkan penyakit ringan pada unggas disebut patogen avian influenza rendah
(LPAI).

Tanda dan gejala pada manusia

Avian, babi dan infeksi influenza zoonotik lainnya pada manusia dapat menyebabkan penyakit
mulai dari infeksi pernapasan atas ringan (demam dan batuk) hingga perkembangan cepat ke
pneumonia berat, sindrom gangguan pernapasan akut, syok dan bahkan kematian. Gejala
gastrointestinal seperti mual, muntah dan diare telah dilaporkan lebih sering pada infeksi A
13
(H5N1). Konjungtivitis juga telah dilaporkan pada influenza A (H7). Fitur penyakit seperti
periode inkubasi, keparahan gejala dan hasil klinis bervariasi oleh virus yang menyebabkan
infeksi tetapi terutama bermanifestasi dengan gejala pernapasan.

Pada banyak pasien yang terinfeksi oleh virus avian influenza A (H5) atau A (H7N9), penyakit
ini memiliki perjalanan klinis yang agresif. Gejala awal yang umum adalah demam tinggi (lebih
besar dari atau sama dengan 38 ° C) dan batuk diikuti oleh gejala keterlibatan saluran pernapasan
bawah termasuk dyspnoea atau kesulitan bernapas. Gejala saluran pernafasan atas seperti sakit
tenggorokan atau coryza kurang umum. Gejala lain seperti diare, muntah, nyeri perut, perdarahan
dari hidung atau gusi, ensefalitis, dan nyeri dada juga telah dilaporkan dalam perjalanan klinis
beberapa pasien. Komplikasi infeksi termasuk pneumonia berat, gagal napas hipoksemik,
disfungsi multi-organ, syok septik, dan infeksi bakteri dan jamur sekunder. Tingkat kematian
kasus untuk infeksi virus subtipe A (H5) dan A (H7N9) di antara manusia jauh lebih tinggi
daripada infeksi influenza musiman.

Untuk infeksi manusia dengan virus avian influenza A (H7N7) dan A (H9N2), penyakit biasanya
ringan atau subklinis. Hanya satu infeksi fatal A (H7N7) pada manusia yang telah dilaporkan di
Belanda sejauh ini. Untuk infeksi manusia dengan virus flu babi, sebagian besar kasus ringan
dengan beberapa kasus dirawat di rumah sakit dan sangat sedikit laporan kematian akibat infeksi.
Diagnosa
Kasus FB pada manusia menurut WHO dan sesuai dengan situasi serta kondisi di Indonesia
diklafisikasikan menjadi empat jenis, yaitu:

a. SESEORANG DALAM INVESTIGASI: seseorang yang telah diputuskan oleh petugas


kesehatan setempat (untuk rumah sakit oleh dokter setempat) untuk diinvestigasi terkait
kemungkinan infeksi flu burung (H5N1). 
Kegiatan yang dilakukan berupa surveilans semua
kasus Influenza Like Illness (ILI) dan pnemonia di rumah sakit serta mereka yang kontak dengan
pasien flu burung (H5N1) di rumah sakit. 
Dasar untuk memutuskan orang perlu diinvestigasi
adalah bila ada kontak erat dalam waktu kurang dari 7 hari dengan pasien suspek, probable dan
terkonfirmasi flu burung (H5N1) atau disekitar wilayahnya terdapat banyak ungas (ayam,
burung, bebek, angsa, entok) yang mati diduga atau terbukti flu burung (H5N1).

b. KASUS SUSPEK : Seseorang yang menderita demam dengan suhu > 38oC disertai satu atau
lebih gejala berikut ini :
• Batuk
• Nyeri tenggorokan
• Pilek
• Sesak nafas

Definisi kasus dari suspek H5N1 diatas dibagi 2, yaitu:

i. Seseorang dengan demam >38oC dan ILI

DAN DISERTAI

- Satu atau lebih pajanan di bawah ini dalam 7 hari sebelum mulainya gejala :
14
- Kontak erat (dalam jarak + 1 meter), seperti merawat, berbicara atau bersentuhan dengan
pasien suspek, probable, atau kasus H5N1 yang sudah terkonfirmasi.
- Terpajan (misalnya memegang, menyembelih, mancabuti bulu, memotong, mengolah) dengan
ternak ayam, unggas liar, unggas air, bangkai unggas atau terhadap lingkungan yang tercemar
oleh kotoran unggas itu dalam wilayah terjangkit dalam satu bulan terakhir.
- Mengkonsumsi produk unggas mentah atau yang tidak dimasak dengan sempurna dari
wilayah yang dicurigai atau dipastikan terdapat hewan atau manusia yang terkonfirmasi H5N1
dalam satu bulan terakhir.
- Kontak erat dengan binatang lain (selain ternak unggas atau unggas liar), misalnya kucing
atau babi yang telah terkonfirmasi terinfeksi H5N1. Memegang/ menangani sampel (hewan
atau manusia) yang dicurigai mengandung virus H5N1 dalam suatu laboratorium atau tempat
lainnya.

ii. Seseorang dengan demam >38oC dan ILI

DAN DISERTAI

Keadaan di bawah ini:

Lekopeni dan tampak gambaran pnemonia pada foto toraks.

DAN DISERTAI

Satu atau lebih pajanan dibawah ini dalam 7 hari sebelum mulainya gejala foto toraks
menggambarkan pnemonia yang cepat memburuk pada serial foto.

− Kontak erat (dalam jarak + 1 meter), seperti merawat, berbicara atau bersentuhan dengan
pasien suspek, probabel atau kasus H5N1 yang sudah konfirmasi.
− Terpajan (misalnya memegang, menyembelih, mencabuti bulu memotong, mengolah) dengan
ternak ayam, unggas liar, bangkai unggas atau berada di lingkungan yang tercemar oleh
kotoran unggas itu dalam wilayah di mana infeksi dengan H5N1 pada hewan atau manusia
telah dicurigai atau dikonfirmasi dalam satu bulan terakhir.
− Mengkonsumsi produk unggas mentah atau yang tidak dimasak dengan sempurna dari
wilayah yang dicurigai atau dipastikan terdapat hewan atau manusia yang terkonfirmasi H5N1
dalam satu bulan terakhir.
− Kontak erat dengan binatang lain (selain ternak unggas atau unggas liar), misalnya kucing
atau babi yang telah terkonfirmasi terinfeksi H5N1. Memegang/ menangani sampel (hewan
atau manusia) yang dicurigai mengandung virus H5N1 dalam suatu laboratorium atau tempat
lainnya.
− Memegang/menangani sampel (hewan atau manusia) yang dicurigai mengandung virus H5N1
dalam suatu 
laboratorium atau tempat lainnya.
− Ditemukan lekopenia.
− Ditemukan titer antibodi terhadap H5 dengan 
pemeriksaan uji HI menggunakan eritrosit
kuda atau 
uji ELISA untuk Influenza A tanpa subtipe.
− Foto toraks menggambarkan pnemonia yang cepat 
memburuk pada serial foto.
− Seseorang yang mempunyai gejala ILI secara klinis 
dan radiologis yang cepat mengalami
perburukan meskipun riwayat kontak tidak jelas.

15
c. KASUS PROBABEL

Kriteria kasus Suspek ditambah dengan satu atau lebih keadaan dibawah ini :

1. Ditemukan kenaikan titer antibodi terhadap H5, minimum 4 kali dengan pemeriksaan uji
HI menggunakan eritrosit kuda atau uji ELISA.

2. Hasil laboratorium terbatas untuk Influenza H5 (terdeteksinya antibodi spesifik H5 dalam


spesimen serum tunggal) menggunakan uji netralisasi (dikirim ke laboratorium rujukan ).

ATAU

Seseorang yang meninggal karena penyakit saluran napas akut yang tidak bisa dijelaskan
penyebabnya yang secara epidemiologis berkaitan dengan aspek waktu, tempat dan pajanan
terhadap suatu kasus probabel atau suatu kasus konfirmasi H5N1.

D. KASUS KONFIRMASI

Seseorang yang memenuhi kriteria kasus Suspek atau Probabel

DAN DISERTAI

Satu dari hasil positif berikut ini yang dilaksanakan dalam suatu laboratorium influenza yang hasil
pemeriksaan H5N1-nya :

1. Hasil PCR H5 positif

2. Peningkatan > 4 kali lipat titer antibodi netralisasi untuk H5N1 dari spesimen konvalesen
dibandingkan dengan specimen akut (diambil < 7 hari setelah muncul gejala penyakit), dan titer
antibodi netralisasi konvalesen harus pula > 1/80

3. Isolasi Virus H5N1

4. Titer antibodi mikronetralisasi H5N1 > 1/80 pada spesimen serum yang diambil hari ke > 14 setelah
ditemukan penyakit, disertai hasil positif uji serologi lain, misalnya titer HI sel darah merah kuda
> 1/160 western blot spesifik H5 positif.

Pemeriksaan Laboratoium

Ditambahkan pengambilan dan pengiriman sampel

Suspek
Sampel yang memadai dan sesuai untuk tes influenza harus diambil dari pasien dan diproses
dengan diagnostik sesuai dengan pedoman dan protokol yang relevan 1.

16
Probable
Tes diagnostik cepat influenza (RIDTs) memiliki sensitivitas yang lebih rendah dibandingkan
dengan PCR dan keandalannya sangat tergantung pada kondisi di mana mereka digunakan. RDT
yang tersedia secara umum secara umum tidak dapat memberikan informasi subtipe. RIDT
kadang-kadang digunakan dalam pengaturan klinis, tetapi penggunaannya dalam mendeteksi
virus zoonotik terbatas.

Konfirm
Tes laboratorium diperlukan untuk mendiagnosis infeksi manusia dengan influenza zoonotik.
WHO, melalui Sistem Pengawasan dan Respons Influenza Global (GISRS), secara berkala
memperbarui protokol panduan teknis untuk mendeteksi influenza zoonotik pada manusia yang
menggunakan molekul misalnya. RT-PCR dan metode lainnya.

Pengobatan
Bukti menunjukkan bahwa beberapa obat antiviral, terutama inhibitor neuraminidase
(oseltamivir, zanamivir), dapat mengurangi durasi replikasi virus dan meningkatkan prospek
kelangsungan hidup, namun studi klinis yang sedang berlangsung diperlukan. Munculnya
resistensi oseltamivir telah dilaporkan.
• Pada kasus yang dicurigai dan dikonfirmasi, penghambat neuraminidase harus diberikan
sesegera mungkin (idealnya, dalam 48 jam setelah onset gejala) untuk memaksimalkan
manfaat terapeutik. Namun, mengingat kematian yang signifikan saat ini terkait dengan
infeksi virus subtipe A (H5) dan A (H7N9) dan bukti replikasi virus yang berkepanjangan
pada penyakit ini, pemberian obat juga harus dipertimbangkan pada pasien yang datang
kemudian dalam perjalanan penyakit.
• Perawatan dianjurkan selama minimal 5 hari, tetapi dapat diperpanjang sampai ada perbaikan
klinis yang memuaskan.
• Kortikosteroid tidak boleh digunakan secara rutin, kecuali diindikasikan untuk alasan lain
(misalnya: asma dan kondisi spesifik lainnya); karena telah dikaitkan dengan pembukaan
virus yang berkepanjangan, imunosupresi mengarah ke superinfeksi bakteri atau jamur.
• Virus A (H5) dan A (H7N9) terbaru resisten terhadap obat antiviral adamantane (misalnya
amantadine dan rimantadine) dan oleh karena itu tidak direkomendasikan untuk monoterapi.
• Kehadiran koinfeksi dengan bakteri patogen dapat ditemukan pada pasien yang sakit kritis.

Pencegahan
Selain pengobatan antiviral, manajemen kesehatan masyarakat termasuk tindakan perlindungan
pribadi seperti:
• Cuci tangan secara teratur dengan mengeringkan tangan dengan benar
• Kebersihan pernapasan yang baik - meliputi mulut dan hidung saat batuk atau bersin,
menggunakan jaringan dan membuangnya
• Isolasi diri awal dari mereka yang merasa tidak enak badan, demam dan memiliki gejala
influenza lainnya
• Menghindari kontak dekat dengan orang sakit
17
• Menghindari menyentuh mata, hidung, atau mulut seseorang

Petugas kesehatan yang melakukan preforming prosedur menghasilkan aerosol harus


menggunakan tindakan pencegahan terhadap udara. Kontak standar dan tindakan pencegahan
tetesan dan perlengkapan pelindung diri (APD) yang sesuai harus tersedia dan digunakan selama
epidemi.
Wisatawan ke negara-negara dan orang-orang yang tinggal di negara-negara dengan wabah flu
burung yang dikenal harus, jika mungkin, menghindari peternakan unggas, kontak dengan hewan
di pasar unggas hidup, memasuki area di mana unggas dapat disembelih, dan kontak dengan
permukaan yang tampaknya terkontaminasi dengan faeces dari unggas atau hewan lainnya.
Praktik keamanan makanan dan kebersihan makanan yang baik, misalnya, mencuci tangan
dengan sabun dan air harus diikuti. Para pelancong yang kembali dari daerah-daerah yang
terkena bencana harus melapor ke layanan kesehatan setempat jika gejala-gejala pernapasan
mencurigai infeksi virus influenza zoonotik.
Profilaksis pra pajanan atau pasca pajanan dengan antivirus adalah mungkin tetapi tergantung
pada beberapa faktor, mis. faktor individu, jenis paparan, dan risiko yang terkait dengan
eksposur.

F. Peningkatan Kapasitas
1) Dalam bidang surveilans influenza
Mengkatkan kapasitas pusat dan daerah dalam melakukan deteksi dan pelaporan kasus
influenza dan análisis risiko.
2) Dalam bidang laboratorium
Meningkatkan kapasitas laboratorium pusat dan daerah dalam pemeriksaan influenza
3) Dalam kesiapsiagaan menghadapi Pandemi Influenza
- Melakukan pemutakhiran pedoman kesiapsiagaan pandemic influenza
berdasarkan hasil kajian risiko terakhir.
- Memastikan adanya rencana kontigensi baik di pusat maupun daerah dengan
menghubungkan kesiapsiagaan pandemic dengan framework kebencanaan.
- Melakukan pelatihan, meliputi table top exercise dan simulai secara periodik
- Melakukan kajian risiko pandemi influenza secara periodik
- Melakukan review kesiapsiagaan pandemi secara periodik termasuk komponen
komando dan koordinasi, surveilans, laboratorium, manajemen kasus,
pengendalian infeksi, komunikasi risiko, intervensi pharmasi dan intervensi non
pharmasi.
4) Dalam bidang komunikasi risiko
- Membuat pesan pesan inti dan materi informasi, edukasi komunikasi untuk
pencegahan dan pengendalian influenza musiman, influenza zoonosis dan
kesiapsiagaan pandemi.

G. Kemitraan dan Jejaring


Membangun jejaring kemitraan dengan semua stakeholder di tingkat pusat maupun
tingkat daerah

H. Pengembangan Program
18
Bekerjasama dengan unit penelitian dan universitas baik didalam dan luar negri.

4. Peran jajaran kesehatan, Pemangku Kepentingan dan Masyarakat Dalam Program


Influenza

No KEGIATAN INSTANSI
Puskesmas Rumah Dinkes Dinkes Pusat Kementerian Masyarakat Mitra
Sakit Kab/Kota Prop Terkait Pembangunan
1 Surveilans V V V V V
2 Pencegahan dan V V V V V
pengobatan
influenza
3 Peningkatan V V V V V V V
Kapasitas
4 Kemitraan dan V V V V V V V V
Jejaring
5 Pengembangan V V
Program

5. Penutup

19