Anda di halaman 1dari 8

TEKNIK FIKSASI IMW “IVY” (tp

susunan artikel masih berantakan)


Desember 31, 2009pu2t fkg, tugas 1 Komentar

8134:

Penatalaksanaan fraktur mandibula

Pendekatan tertutup dan terbuka, ada dua cara penatalaksanaan, pada teknik tertutup, reduksi
fraktur dan immobilisasi mandibula dicapai dengan cara menempatkan peralatan fiksasi
maksilomandibular. Pada prosedur terbuka bagian yang fraktur dibuka dengan pembedahan
dan segmen di reduksi dan di fiksasi secara langsung dengan menggunakan kawat atau
plat.teknik terbuka dan tertutup tidaklah selalu dilakukan sendiri-sendiri terkadang dilakukan
secara kombinasi.dasar pemikiran perawatan yang baik adalah respons fleksible, yakni
kemauan dan kemampuan untuk menggunakan teknik yang ada (alat-alat yang diperlukan),
dengan profesionalitas yang memadai.

Periode imobilisasi

Periode stabilisasi fiksasi diperlukan untuk memastikan perbaikan fungsi sepenuhnya adalah
berbeda-beda, tergantung dari letak fraktur, ada atau tidaknya gigi yang tertinggal pada garis
fraktur, umur pasien dan ada tidaknya infeksi. Juniper dan awty (1973) mengatakan bahwa
dalam lingkungan yang menguntungkan terbentuknya persatuan secara klinis yang stabil rata-
rata secara teratur tercapai sesudah 3 miggu sehingga pada saat itu fiksasi bisa dilepas.

Pada fraktur korpus madibula suplai darah ke tempat fraktur sangat berarti. Tempat
vaskularisasi endosteal relatif miskin seperti halnya pada rahang yang sudahberumur, dan
terutama daerah simfisis, pengobatan bertendensi jadi lebih lama. Sebaliknya kayanya suplai
darah dan aktivitas osteoblastik yang melimpah pada mandibula yang sedang tumbuh pada
anak memastikan akan terjadi persatuan yang cepat.

Suatu pedoman yang sederhana untuk menuju ke imobilisai fraktur pada daerah gigi dan pada
rahang bawah adalah sebagai berikut:

Jika:
Anak muda dewasa

Dengan

Fraktur pada angulus


3 minggu
Menerima

Perawatan awal

Serta

Gigi dibuang dari garis fraktur


1. Garis tetap berada di garis fraktur : tambah 1 minggu
2. Fraktur terjadi di simfisis : tambah 1 minggu
3. Umur 40 tahun keatas : tambah 1 atau 2 minggu
4. Kanak-kanak atau remaja : kurangi 1 minggu

Dengan menggunakan pedoman ini, maka sebuah fraktur simfisis pada pasien yang sudah
berumur 40 tahun yang giginya terdapat pada garis fraktur tetap dipertahankan memerlukan
waktu 6 minggu untuk imobilisasi (dasar 3 minggu + 1 minggu untuk tempat yang kurang
menguntungkan + 1 minggu untuk umur yang diijinkan + 1 minggu untuk yang ditinggalkan
pada garis fraktur)

Aturan-aturan ini hanya di buat untuk pedoman belaka, dan harus diingat bahwa fraktur ini
harus selalu di uji secara klinis sebelum mandibula akhirnya dibebaskan.

Metode Imobilisasi

Metode imobilisasi pada mandibula apabila terdapat gigi dikategorikan dalam 2 golongan,
tergantung dari apakah dikenakan fiksasi secara langsung pada gigi-gigi.

A.fiksasi yang diterapkan pada gigi-gigi

1.pengawatan gigi (dental wiring) kemugkinan dapat: a.langsung dan b. Eyelet

2.berlengkung

3.splin kap

B. fiksasi langsung pada tulang

Metode fiksasi yang di terapkan pada gigi geligi

1.pengawatan gigi-geligi

Pengawatan gigi geligi digunakan bila pasien memiliki seperangkat gigi yang mempunyai
bentuk sesuai, baik sempurna maupun hampir sempurna. Banyak perbedaan pendapat
mengenai jenis kekuatan (gauge) kawat yang dipakai, tetapi kawat lunak anti karat
berdiameter 0,45 mm efektif. Kawat ini memerlukan tarikan sebelum dipakai atau sebaiknya
di renggangkan kira-kira 10%. Kalau hal ini tidak dilakukan maka kawat akan menjadi kendor
sesudah dipasang beberapa hari. Harus berhati-hati agar jangan sampai regangan berlebih
karena kawat menjadi keras dikerjakan dan mudah rusak

Pengawatan langsung yang paling sering digunakan adalah sistem eyelet, pada sistem ini
kawat dipilinkan satu sama lain untuk membentuk loop, kedua ujung kawat di lewatkan ruang
interproksimal, dengan loop tetap disebelah bukal. Salah satu ujung kawat dilewatkan di
sebelah distal dari gigi distal dan kembalinya di bawah atau melalui loop, sedangkan ujung
lainnya ditelusupkan pada celah interproksimal mesial dari gigi distal. Kedua ujung kawat
dipilinkan satu sama lain, dipotong dan dilipat pada aspek mesial gigi mesial. Akhirnya loop
dikencangkandengan cara memilinnya.

Beberapa eyelet bisa di tempatkan pada gigi posterior untuk mendapatkan tempat perlekatan
kawat atau elastik yang digunakan untuk fiksasi maksilo-mandibular. Sistem eyelet tidak
rumit dan mudah dilakukan ini ideal untuk penangan kasus dengan cepat yang membutuhkan
stabilitas sementara, atau apabila durasi anastesi harus dikurangi. Empat eyelet, dengan fiksasi
maksilomandibular yang baik sering mendapatkan hasil immobilisasi mandibular yang
memuaskan untuk merawat fraktur subkondilar unilateral dengan pergeseran hanya sedikit.
(pedersen, 1996)

Pengawatan “eyelet” interdental

Eyelets dibentuk dengan cara

8122-8126:

INDIKASI:

1. Untuk penanganan kasus dengan cepat apabila durasi anestesi umum harus dikurangi.
2. Untuk merawat fraktur subkondilar unilateral dengan pergeseran yang hanya sedikit
3. Dapat digunakan pada pasien dengan oklusi pre-fraktur normal /abnormal.
4. Pasien yang memerlukan oklusi sementara

KONTRAINDIKASI:

1. Tidak dapat digunakan pada pasien yang tidak mempunyai cukup jumlah bentuk gigi
yang sesuai

DAPUS :

Pedersen,G.W. 1988. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut. EGC. Jakarta.

Banks,P. 1992. Fraktur Pada Mandibula Menurut Killey. Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta.

Mathong, Robert H. et al. 1995. Trauma of the Nose and Paranasal Sinuses. Thieme. United
States of Amerika.

Tebe:

Ivy Loops Prosedur

1. Anestesi umum dengan intubasi hidung adalah pilihan terbaik.

2. Potong kawat 24-gauge kawat (atau apa pun yang anda punya) minimal 6 potong,
masing-masing panjangnya 6 inci (15 cm). Hati-hati, karena ujung-ujung kabel dengan mudah
dapat menembus melalui sarung tangan ke jari Anda.

3. bengkokkan potongan kawat di tengah. Genggam bagian tengah dari kawat dengan
pemegang jarum, dan kawat di diputar (dipluntir) 2-3 kali, buat lingkaran kecil di bengkokan
kawat.
4. lewatkan kedua ujung kabel antara dua gigi yang terlihat stabil dan terletak distal ke
fraktur. Pastikan bahwa gigi stabil tersedia di seberang rahang atas atau bawah. Kawat
melewati gusi dari luar (di sisi yang terdekat dengan pipi) ke dalam (di sisi yang terdekat
dengan lidah). lingkarannya harus disepanjang permukaan luar gigi.

Penempatan Ivy intermaxillary loop untuk fiksasi. (Dari McCarthy JG (ed): Plastic Surgery.
Philadelphia, WB Saunders, 1990, dengan izin.) Facial Fraktur 255

5. Ambil salah satu ujung kabel dan membungkusnya di sekitar gigi di depan dengan cara
melewatkannya melalui gusi dari dalam ke luar.

6. Bungkus ujung kawat di belakang gigi dengan cara yang sama. Kedua kawat harus
berakhir pada bagian luar gigi.

7. Tarik pada ujung-ujungnya untuk menjaga kenyamanan sepanjang kawat gigi.

8. lewatkan satu ujung kabel melalui lingkaran

9. Tarik akhiran kawat bersama-sama, dan secara manual keduanya diputar searah jarum
jam sekali atau dua kali.

10. Gunakan jarum untuk menggenggam kawat beberapa sentimeter dari gusi. Tarik ke atas
dudukan jarum, dan putar(dipluntir) kawat searah jarum jam sampai kawat tampak nyaman.
Lihat disekitar kawat. Jika muncul perubahan kawat dari mengkilap kemudian memudar,
maka hentikan atau Anda akan mematahkan kawat dan harus mulai lagi.

11. Ulangi proses ini pada gigi yang sesuai pada rahang yang berlawanan dan pada gigi di
sisi lain fraktur. Anda akan membutuhkan tempat untuk menaruh kabel sekitar minimal 4
pasang gigi.

12. Gunakan alat pemotong kawat untuk memperpendek kabel akhiran kabel dengan panjang
1 cm. Tekuk kawat ke permukaan gusi sehingga ujung kawat tidak dipotong pada mukosa
pipi.

13. Ketika semua kabel telah ditempatkan,bawa rahang pasien dan coba pada baris gigi.
Pastikan bahwa lidah tidak terjebak di antara gigi.

14. Gunakan kabel tambahan untuk menghubungkan setiap pasangan lingkaran dan bawa
rahang atas dan bawah bersama-sama. Teknik ini melumpuhkan fraktur rahang. Pelintir
kawat (seperti telah dijelaskan sebelumnya) di tempat.

15. Rahang harus dihubungkan bersama selama kurang lebih 6 minggu. Untuk memastikan
nutrisi yang memadai, pasien harus makan bubur dan minum banyak cairan. Kebanyakan
berat badan pasien menurun. menganjurkan pasien untuk menelan cukup kalori. Pastikan
untuk mencegah merokok. Gizi buruk dan penggunaan tembakau merusak penyembuhan
fraktur.

16. Gigi harus disikat dengan hati-hati setidaknya 1-2 kali setiap hari, dan mulut harus
dibilas dengan air garam setelah makan dan sebelum tidur.
17. Ketika rasa sakit tidak lagi hadir pada letak fraktur (biasanya setelah 4-6 minggu),
lepaskan kabel yang menghubungkan dan memperbolehkan pasien untuk makan makanan
tidak keras selain makanan lunak untuk tambahan selama 2-3 minggu.

18. Jika pasien mengalami nyeri pada letak fraktur, sambung kembali rahang selama 2-3
minggu.

19. Jika, setelah melepas kabel penghubung, pasien bisa makan dan tidak ada rasa nyeri pada
letak fraktur, lepaskan kabel dari gigi.

Catatan: Ketika penghubungkan kabel pertama kali dilepas, kemampuan pasien untuk
membuka mulut akan sangat terbatas. Masalah ini akan diperbaiki dari hari kehari dan
berminggu-minggu

Dari dika:

PENDAHULUAN

Fraktur pada mandibula lebih sering terjadi daripada fraktur-fraktur tulang wajah yang lain.
Fraktur ini merupakan trauma tulang penting yang mungkin dihadapi oleh dokter gigi, dan
terkadang pula dihadapi pada ruang bedah. Fraktur pada mandibula juga merupakan fraktur
wajah yang secara tidak sengaja sering dihadapi dokter gigi sebagai komplikasi dari
pencabutan gigi. Fraktur mandibula dapat dibagi menjadi dua kelompok utama, yaitu:

1. Fraktur tanpa terbukanya tulang dan tanpa kerusakan dari jaringan keras atau lunak
gigi
2. Fraktur dengan terbukanya tulang dan kerusakan yang hebat dari jaringan keras dan
lunak gigi.

Sebagian besar fraktur terdapat pada kelompok pertama. Fraktur dari kelompok kedua dapat
berasal dari luka peluru, trauma industri (kecelakaan kerja atau lalu lintas), dimana terjadi
trauma langsung dari benda yang tajam dan bergerak dengan kecepatan tinggi. Pembagian
jenis fraktur di atas bermanfaat karena cara perawatan umum dari masing-masing fraktur
berbeda, baik pada tahap perawatan primer hingga rekontruksi (Banks, 1990).

Fiksasi

Fiksasi maksilomandibular dilakukan dengan menggunakan elastik atau kawat untuk


menghubungkan loop (lug) arch bar atau kawat maksilar dan mandibular lain. Apabila suatu
segmen mengalami pergeseran cukup banyak, maka dianjurkan untuk melakukan imobilisasi
segmen yang pergeserannya sedikit terlebih dahulu, kemudian melakukan reduksi dan
imobilisasi segmen yang lain secara digital ataupun secara manual. Semua pasien dengan
pengawatan maksilomandibular harus dibekali dengan alat pemotong kawat yang dapat
dipergunakan setia saat (Pedersen, 1996).

Tabel 1. Ukuran Kawat Untuk Fiksasi

Diameter
Ukuran gauge
(inch) (mm)
22 0,028 0,70
23 0,024 0,60
24 0,022 0,55
25 0,020 0,50
26 0,018 0,45
27 0,016 0,40
28 0,014 0,35

Jenis fiksasi yang dipasang pada gigi-gigi yaitu:

1. Wiring gigi, dapat; (a) langsung atau (b) eyelet.


2. 2. Arch bar
3. Cap splint (Banks, 1990).

Prosedur dan Hasil Perlakuan Metode Ivy

Metode fiksasi Ivy sering disebut juga dengan :

1. Eyelet method
2. Ivy loop wiring

Prosedur

Pada system ini, kawat dipilinkan satu sama lain untuk membentuk loop. Kedua ujung kawat
dilewatkan ruang interproksimal, dengan loop tetap di sebelah bukal. Satu ujung dari kawat
dilewatkan di sebelah distal dari gigi distal dan kembalinya di bawah atau melalui loop,
sedangkan ujung yang lain ditelusupkan pada celah interproksimal mesial dari gigi mesial.
Kedua ujung kawat dipilinkan satu sama lain, dipotong dan dilipat pada aspek gigi mesial gigi
mesial. Akhirnya loop-nya dikencangkan dengan jalan memilinnya. Beberapa eyelet bisa
ditempatkan pada gigi posterior untuk mendapatkan tempat perlekatan kawat atau elastik yang
digunakan untuk fiksasi maksilomandibular. Metode Ivy (eyelet) ini tidak rumit dan mudah
dilakukan serta ideal untuk penanganan kasus dengan cepat apabila diperlukan stabilisasi
sementara, atau apabila durasi anestesi umum harus dikurangi. Empat eyelet dengan fiksasi
maksilomandibular yang baik, sering memberikan hasil imobilisasi mandibular yang
memuaskan untuk merawat fraktur subkondilar unilateral dengan pergeseran yang hanya
sendiri (Pedersen, 1996).

Eyelet harus dipasang sedemikian rupa pada rahang atas dan bawah sehingga bila kawat
dipasang di antara eyelet, akan dihasilkan efek tarikan melintang. Apabila eyelet dipasang
tepat di atas gigi yang satu dengan yang lain, maka pergerakan rahang bawah tetap dapat
berlangsung. Harus diingat pada saat memasang kawat, bahwa kawat sangat tajam dan sangat
mudah terlontar serta dapat mengenai bola mata pasien, bila tidak dipegang dengan benar.
Sebaikknya mata pasien dilindungi dan untuk ini, setiap ujung kawat tersebut tidak sedang
dipergunakan. Pada saat bekerja dengan anestesi umum, mata pasien harus ditutup dan diberi
pelindung.

Setelah eyelet terpasang dengan erat, kawat penghubung harus dilewatkan melalui eyelet
hingga menghubungkan eyelet atas dan bawah, tetapi kawat penghubung belum dipilin pada
tahap ini. Gigi-gigi yang perlu diekstraksi dapat diekstraksi pada saat itu juga dan sebelum
fiksasi intermaksilaris selesai dipasang, pak pada kerongkongan dapat dilepas, kemudian
fraktur direduksi dan fiksasi kawat dikencangkan. Penting bahwa oklusi normal pasien
diketahui oleh operator, karena banyak pasien yang memiliki keabnormalan oklusi dan
berusaha untuk mendapatkan oklusi yang baik secara teoritis, pada keadaan tersebut dapat
menimbulkan susunan fragmen tulang yang salah (Banks, 1990).

Kawat penghubung harus dikencangkan pada daerah geraham besar, mula-mula pada salah
satu sisi dan kemudian pada sisi yang lain, sehingga dapat berjalan sampai ke daerah gigi seri.
Harus diingat bahwa bila kawat dikencangkan pada salah satu sisi terlebih dahulu, akan
terbentuk crossbite dan bila kawat anterior dikencangkan sebelum kawat pada daerah
geraham, dapat terjadi gigitan gigi belakang yang terbuka. Kawat dapat dipilin dengan kuat
pada gigi berakar jamak, tetapi dokter gigi harus berhati-hati pada gigi berakar tunggal karena
gigi mungkin harus diekstraksi sebagai akibat dari tekanan pemilinan kawat penghubung yang
terlalu kuat. Sebaiknya, kawat dipilin longgar terlebih dahulu dan pemilinan akhir yang
kencang dilakukan setelah oklusi diperikasi. Dokter gigi harus berhati-hati untuk memastikan
bahwa lidah tidak terjebak di antara cusp gigi-gigi. Setelah wiring eyelet interdental
dilakukan, jari operator harus digerakkan di sekitar mulut pasien untuk memastikan bahwa
tidak ada ujung kawat yang dibiarkan menonjol yang dapat melukai jaringan lunak (Banks,
1990).

DAFTAR PUSTAKA

Banks P. 1990. Faktur Mandibula. Edisi 1. Hipokrates. Jakarta.

Pedersen GW. 1996. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut. Edisi 1. EGC. Jakarta.

http://mawarputrijulica.wordpress.com/2009/12/31/teknik-fiksasi-imw-ivy-tp-
susunan-artikel-masih-berantakan/