Anda di halaman 1dari 30

TEKNIK CARING LANSIA

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Keperawatan Gerontik

Disusun Oleh:
Kelompok 3

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG
PRODI PROFESI NERS
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Subhanahu wata’ala, yang telah
melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah
Teknik Caring Lansia ini. Penulisan makalah ini dilakukan guna memenuhi tugas
pada mata kuliah Keperawatan Gerontik.
Makalah ini tidak akan selesai dengan baik jika tanpa dukungan berbagai
pihak. Oleh karena itu penulis mengucapkan terimakasih kepada :
1. Tuhan Yang Maha Esa
2. Orang tua yang telah memberi kasih sayang serta dukungan moril dan materiil
3. Ibu Titin Suheri, S.Kp., M.Sc dan Ibu Sugih Wijayanti, Skep, Ns, M.Kes
(Epid) selaku dosen pembimbing mata ajar Keperawatan Gerontik
4. Teman-teman seperjuangan profesi ners yang senantiasa mendukung satu
sama lain.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan. Oleh karena
itu, kami menerima berbagai kritik dan saran yang bersifat membangun demi
kesempurnaan makalah ini. Kami berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi
pembaca dan pihak-pihak yang memerlukan serta menjadi tambahan wawasan untuk
ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang kesehatan.

Semarang, Juli 2018

Penulis

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.......................................................................................i

DAFTAR ISI...................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN...............................................................................1

A. Latar Belakang......................................................................................1

B. Rumusan Masalah.................................................................................2

C. Tujuan...................................................................................................2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA.....................................................................3

A. Konsep Lansia .....................................................................................3

B. konsep Caring.......................................................................................5

C. Paradigma Keperawatan Menurut Watson...........................................6

D. Permasalahan Lanjut Usia..................................................................10

E. Asumsi Dasar Science Of Caring.......................................................14

F. Faktor Carative Dalam Caring............................................................14

G. Perilaku Caring...................................................................................16

H. Tahap Perkembangan Hubungan Caring............................................17

BAB III STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR....................................22

BAB IV PENUTUP.......................................................................................27

A. Kesimpulan.........................................................................................27

B. Saran...................................................................................................27

1
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................28

2
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Proses menua (aging) merupakan suatu perubahan progresif pada
organisme yang telah mencapai kematangan intrinsik dan bersifat irreversibel
serta menunjukkan adanya kemunduran sejalan dengan waktu dan proses alami
yang disertai dengan adanya penurunan kondisi fisik, psikologis maupun sosial
serta saling berinteraksi satu sama lain. Proses menua yang terjadi pada lansia
secara linier dapat digambarkan melalui tiga tahap yaitu, kelemahan
(impairment), keterbatasan fungsional (functional limitations), ketidakmampuan
(disability), dan keterhambatan (handicap) yang akan dialami bersamaan dengan
proses kemunduran. Dimana kehidupan itu akan diakhiri dengan proses penuaan
yang berakhir dengan kematian (Stanley, Mickey.2006).
Sesuai dengan UU.23 tahun 1992 (pasal 19) dijelaskan bahwa “ manusia
lansia adalah seseorang yang karena usianya mengalami perubahan biologis,
fisik, kejiwaan dan sosial, perubahan ini akan memberikan pengaruh pada
seluruh aspek kehidupan, termasuk kesehatannya. Oleh karena itu, kesehatan
lansia perlu mendapat perhatuan khusus dengan tetap dipelihara dan ditingkatkan
agar selama mungkin dapat hidup secara produktif sesuai dengan kemampuannya
sehingga dapat ikut serta berperan aktif dalam pembangunan”.
Keperawatan gerontik adalah ilmu yang membahas fenomena biologis,
psiko dan sosial serta dampaknya terhadap pemenuhan kebutuhan dasar manusia
dengan penekanan pada upaya prevensi dan promosi kesehatan sehingga tercapai
status kesehatan yang optimal bagi lanjut usia. Ada beberapa hal yang perlu
dilakukan dalam pelayanan lansia, yaitu pelayanan konsultasi, pelayanan
mediasi, dan pelayanan advokasi. Pelayanan ini tidak lain untuk meningkatkan

1
taraf kesejahteraan lansia, mewujudkan kemandirian usaha sosial ekonomi
lansia (Nugroho, Wahjudi. 2000).

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimanakah konsep lansia ?


2. Bagaimanakah konsep caring ?
3. Bagaimana paradigma keperawatan menurut watson ?
4. Apa saja permasalahan pada lanjut usia ?
5. Bagaimana asumsi dasar science of caring ?
6. Apa saja faktor carative dalam caring ?
7. Bagaimana perilaku caring ?
8. Apa saja faktor-faktor pembentuk caring ?

C. Tujuan
1. Tujuan umum
Untuk mengetahui konsep caring pada lansia.
2. Tujuan khusus
a. Untuk mengetahui konsep lansia
b. Untuk konsep caring
c. Untuk mengetahui paradigma keperawatan menurut watson
d. Untuk mengetahui permasalahan pada lanjut usia
e. Untuk mengetahui asumsi dasar science of caring
f. Untuk mengetahui faktor carative dalam caring
g. Untuk mengetahui perilaku caring
h. Untuk mengetahui faktor-faktor pembentuk caring

BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Konsep Lansia
1. Definisi Lansia
Berdasarkan UU Kes. No. 23 1992 Bab V bagian kedua
Pasal 13 ayat 1 menyebutkan bahwa manusia lanjut usia adalah

2
seseorang yang karena usianya mengalami perubahan biologis,
fisik, dan sosial. Badan Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan 65
tahun sebagai usia yang menunjukkan proses penuaan yang
berlangsung secara nyata dan seseorang telah disebut lanjut usia.
Lansia banyak menghadapi berbagai masalah kesehatan yang perlu
penangan segera dan terintegrasi.
2. Batasan Usia pada Lansia
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menggolongkan lanjut usia
menjadi 4 yaitu :
a. Usia pertengahan (middle age) kelompok usia 45 – 59 tahun.
b. Lanjut usia (alderly) kelompok usia 60 – 74 tahun
c. Lanjut usia tua (old) kelompok usia 75 – 90 tahun
d. Usia sangat tua (very old) kelompok usia diatas 90 tahun
3. Ciri-ciri Lansia
Ciri-ciri lansia menurut Kholifah, S. N. (2016) adalah sebagai berikut :
a. Lansia merupakan periode kemunduran
Kemunduran pada lansia sebagian datang dari faktor fisik dan faktor
psikologis. Motivasi memiliki peran yang penting dalam kemunduran
pada lansia. Misalnya lansia yang memiliki motivasi yang rendah dalam
melakukan kegiatan, maka akan mempercepat proses kemunduran fisik,
akan tetapi ada juga lansia yang memiliki motivasi yang tinggi, maka
kemunduran fisik pada lansia akan lebih lama terjadi.
b. Lansia memiliki status kelompok minoritas
Kondisi ini sebagai akibat dari sikap sosial yang tidak menyenangkan
terhadap lansia dan diperkuat oleh pendapat yang kurang baik, misalnya
lansia yang lebih senang mempertahankan pendapatnya maka sikap
sosial di masyarakat menjadi negatif, tetapi ada juga lansia yang
mempunyai tenggang rasa kepada orang lain sehingga sikap sosial
masyarakat menjadi positif.
c. Menua membutuhkan perubahan peran
Perubahan peran tersebut dilakukan karena lansia mulai mengalami
kemunduran dalam segala hal. Perubahan peran pada lansia sebaiknya
dilakukan atas dasar keinginan sendiri bukan atas dasar tekanan dari

3
lingkungan. Misalnya lansia menduduki jabatan sosial di masyarakat
sebagai Ketua RW, sebaiknya masyarakat tidak memberhentikan lansia
sebagai ketua RW karena usianya.
d. Penyesuaian yang buruk pada lansia
Perlakuan yang buruk terhadap lansia membuat mereka cenderung
mengembangkan konsep diri yang buruk sehingga dapat
memperlihatkan bentuk perilaku yang buruk. Akibat dari perlakuan yang
buruk itu membuat penyesuaian diri lansia menjadi buruk pula. Contoh :
lansia yang tinggal bersama keluarga sering tidak dilibatkan untuk
pengambilan keputusan karena dianggap pola pikirnya kuno, kondisi
inilah yang menyebabkan lansia menarik diri dari lingkungan, cepat
tersinggung dan bahkan memiliki harga diri yang rendah.

B. Konsep Caring
Caring merupakan fenomena universal yang berkaitan dengan cara
seseorang berpikir, berperasaan dan bersikap ketika berhubungan dengan orang
lain. Caring dalam keperawatan dipelajari dari berbagai macam filosofi dan
perspektif etik (Dwiyanti, 2010).
Watson (1985) meyakini praktek caring sebagai inti keperawatan, yang
menggambarkan dasar dalam kesatuan nilai-nilai kemanusiaan yang universal
(kebaikan, kepedulian dan cinta terhadap diri sendiri dan orang lain) caring
digambarkan sebagai moral ideal keperawatan. Hal ini meliputi keinginan untuk
merawat, dengan tulus yang meliputi komunikasi, tanggapan positif, dukungan
atau intervensi fisik oleh perawat (Synder, 2011).
Caring sebagai tindakan di sengaja membawa rasa aman baik fisik dan
emosi serta keterikatan yang tulus dengan orang lain atau sekelompok orang.
Caring memperjelas sisi kemanusiaan pemberi asuhan maupun penerima asuhan
(Miller, 1995).

4
Watson (1979) dan Leininger (1984) menempatkan asuhan sebagai jantung
dari seni dan ilmu keperawatan. Keperawatan sebagai hubungan antar-manusia
yang di sentuh dengan rasa kemanusiaan dari orang lain. Dalam menampilkan
asuhan sebagai inti dari modelnya, menambahkan faktor caratif dengan tujuh
asumsi utama berikut ini:
1. Caring hanya akan efektif bila diperlihatkan dan dipraktekkan secara
interpersonal.
2. Caring terdiri dari faktor caratif yang berasal dari kepuasan dalam
membantu memenuhi kebutuhan manusia atau klien.
3. Caring yang efektif dapat meningkatkan kesehatan individu dan
keluarga.
4. Caring merupakan respon yang diterima oleh seseorang tidak hanya
saat itu saja namun juga mempengaruhi akan seperti apakah seseorang tersebut
nantinya. Lingkungan yang penuh caring sangat potensial untuk mendukung
perkembangan seseorang dan mempengaruhi seseorang dalam memilih
tindakan yang terbaik untuk dirinya sendiri.
5. Caring lebih kompleks daripada curing, praktik caring memadukan
antara pengetahuan biofisik dengan pengetahuan mengenai perilaku manusia
yang berguna dalam peningkatan derajat kesehatan dan membantu klien yang
sakit.
6. Caring merupakan inti dari keperawatan (Watson, 1989).

C. Paradigma Keperawatan menurut Watson


1. Klien
Klien adalah individu atau kelompok yang mengalami
ketidakharmonisan pikiran, jiwa dan raga, yang membutuhkan bantuan
terhadap pengambilan keputusan tentang kondisi sehat-sakitnya untuk
meningkatkan harmonisasi, self-control, pilihan dan self determination.
Jean Watson dalam memahami konsep keperawatan terkenal
dengan Human Caring Theory. Tolak ukur pandangan Watson ini didasari
pada unsur teori kemanusiaan. Jean Watson, 1985 (dalam B. Talento, 1995)
membagi kebutuhan dasar manusia dalam dua peringkat utama, yaitu

5
kebutuhan yang tingkatnya lebih rendah (lower order needs) dan kebutuhan
yang tingkatnya lebih tinggi (higher order needs).
Pemenuhan kebutuhan yang tingkatnya lebih rendah tidak selalu
membantu upaya kompleks manusia untuk mencapai aktualisasi diri. Tiap
kebutuhan dipandang dalam konteksnya terhadap kebutuhan lain dan
semuanya dianggap penting. Kebutuhan manusia yang saling berhubungan
diantaranya kebutuhan dasar biofisikal (kebutuhan untuk hidup yang
meliputi kebutuhan makanan dan cairan, kebutuhan eliminasi, kebutuhan
ventilasi, kebutuhan psikofisikal (kebutuhan fungsional) yang meliputi
kebutuhan aktivitas dan istirahat, kebuthan seksualitas; kebutuhan psikososial
(kebutuhan untuk integrasi) yang meliputi kebutuhan intrapersonal dan
interpersonal (kebutuhan aktualisasi diri).
Berdasarkan kebutuhan tersebut, Jean Watson memahami bahwa
manusia adalah makhluk yang sempurna yang memiliki berbagai macam
ragam perbedaan, sehingga dalam upaya mencapai kesehatan, manusia
seharusnya dalam keadaan sejahtera baik fisik, mental, dan spiritual karena
sejahtera merupakan keharmonisan antara pikiran, badan dan jiwa sehingga
untuk mencapai keadaan tersebut keperawatan harus berperan dalam
meningkatkan status kesehatan, mencegah terjadinya penyakit, mengobati
berbagai penyakit dan penyembuhan kesehatan.
2. Kesehatan
Jean Watson mendefinisikan sehat sebagai kondisi yang utuh dan selaras
antara badan, pikiran, dan jiwa, ini berkaitan dengan tingkat kesesuaian
antara diri yang dipersepsikan dan diri yang diwujudkan. Dari beberapa
konsep sehat sakit di atas dapat dikemukakan beberapa hal prinsip, antara
lain:
a. Sehat menggambarkan suatu keutuhan kondisi seseorang yang
sifatnya multidimensional, yang dapat berfluktuasi tergantung dari
interrelasi antara faktor-faktor yang mempengaruhi.
b. Kondisi sehat dapat dicapai, karena adanya kemampuan seseorang
untuk beradaptasi terhadap lingkungan baik internal maupun eksternal.
6
c. Sehat tidak dapat dinyatakan sebagai suatu kondisi yang terhenti pada
titik tertentu, tetapi berubah-ubah tergantung pada kapasitasnya untuk
berfungsi pada lingkungan yang dinamis.
3. Keperawatan
Keperawatan adalah penerapan art dan human science melalui transaksi
transpersonal caring untuk membantu manusia mencapai keharmonisan
pikiran, jiwa dan raga yang menimbulkan self knowlegde, self-control, self-
care, dan self healing. Watson mengemukakan bahwa caring merupakan inti
dari keperawatan. Dalam hal ini caring merupakan perwujudan dari semua
faktor yang digunakan perawat dalam memberikan pelayanan kesehatan pada
klien. Kemudian caring juga menekankan harga diri individu, artinya dalam
melakukan praktik keperawatan, perawat senantiasa selalu menghargai klien
dengan menerima kelebihan maupun kekurangan klien. Watson juga
mengemukakan bahwa respon setiap individu terhadap suatu masalah
kesehatan unik, artinya dalam praktik keperawatan, seorang perawat harus
mampu memahami setiap respon yang berbeda dari klien terhadap penderitaan
yang dialaminya dan memberikan pelayanan kesehatan yang tepat dalam
setiap respon yang berbeda baik yang sedang maupun akan terjadi. Selain itu,
caring hanya dapat ditunjukkan dalam hubungan interpersonal yaitu hubungan
yang terjadi antara perawat dengan klien, dimana perawat menunjukkan caring
melalui perhatian, intervensi untuk mempertahankan kesehatan klien dan
energi positif yang diberikan pada klien. Watson juga berpendapat bahwa
caring meliputi komitmen untuk memberikan pelayanan keperawatan yang
didasarkan pada ilmu pengetahuan. Dalam praktiknya, perawat di tantang
untuk tidak ragu dalam menggunakan pengetahuan yang dimilikinya dalam
praktik keperawatan.
Kebutuhan manusia saling berhubungan satu dengan yang lain
diantaranya kebutuhan dasar biofisikal (kebutuhan untuk hidup yang meliputi
kebutuhan makanan dan cairan, kebutuhan eliminasi, kebutuhan ventilasi,
kebutuhan psikofisikal (kebutuhan fungsional) yang meliputi kebutuhan
7
aktivitas dan istirahat, kebuthan seksualitas; kebutuhan psikososial (kebutuhan
untuk integrasi) yang meliputi kebutuhan intrapersonal dan interpersonal
(kebutuhan aktualisasi diri). Untuk memenuhi itu semua dapat dilakukan
tindakan keperawatan antara lain :
a. Upaya promotif adalah suatu rangkaian kegiatan pelayanan kesehatan
yang lebih mengutamakan kegiatan yang bersifat promosi kesehatan.
Contoh upaya promotif adalah penyuluhan kesehatan gigi dan mulut.
b. Upaya preventif adalah suatu kegiatan pencegahan terhadap suatu
masalah kesehatan/penyakit. Contoh Preventif adalah pengolesan fluor
pada gigi.
c. Upaya kuratif adalah suatu kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan
pengobatan yang ditujukan untuk penyembuhan penyakit, pengurangan
penderitaan akibat penyakit, pengendalian penyakit, atau pengendalian
kecacatan agar kualitas penderita dapat terjaga seoptimal mungkin. Contoh
Kuratif adalah penambalan gigi.
d. Upaya rehabilitatif adalah kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan
untuk mengembalikan bekas penderita ke dalam masyarakat sehingga
dapat berfungsi lagi sebagai anggota masyarakat yang berguna untuk
dirinya dan masyarakat semaksimal mungkin sesuai dengan
kemampuannya. Contoh rehabilitatif adalah pembuatan atau pemasangan
gigi palsu.
4. Lingkungan
Salah satu variabel yang mempengaruhi perilaku masyarakat adalah
lingkungan sosial. Masyarakat memberikan nilai yang menentukan bagaimana
individu berperilaku dan tujuan apa yang harus dicapai. Nilai -nilai tersebut
tidak hanya dibentuk oleh lingkungan social tetapi juga kultural, dan spiritual.
Asuhan keperawatan telah ada dalam masyarakat, karena setiap
masyarakat memiliki rasa peduli terhadap sesama. Watson menyatakan bahwa
merawat dan keperawatan ternyata sangat diperlukan oleh setiap lingkungan
sosial karena didalamnya berisi individu yang mempunyai yang saling peduli.

8
Sikap merawat tidak diturunkan dari generasi ke generasi melalui gen, tetapi
diturunkan dari kebudayaan profesi sebagai suatu koping yang unik terhadap
lingkungan.
Lingkungan adalah dimana interaksi transpersonal caring terjadi antara klien
dan perawat.

D. Permasalahan Lanjut Usia


1. Kurang bergerak: gangguan fisik, jiwa, dan faktor lingkungan dapat
menyebabkan lansia kurang bergerak. Penyebab yang paling sering adalah
gangguan tulang, sendi dan otot, gangguan saraf, dan penyakit jantung dan
pembuluh darah.
2. Instabilitas: penyebab terjatuh pada lansia dapat berupa faktor
intrinsik (hal-hal yang berkaitan dengan keadaan tubuh penderita) baik karena
proses menua, penyakit maupun faktor ekstrinsik (hal-hal yang berasal dari
luar tubuh) seperti obat-obat tertentu dan faktor lingkungan. Akibat yang
paling sering dari terjatuh pada lansia adalah kerusakan bagian tertentu dari
tubuh yang mengakibatkan rasa sakit, patah tulang, cedera pada kepala, luka
bakar karena air panas akibat terjatuh ke dalam tempat mandi. Selain itu,
terjatuh menyebabkan lansia tersebut sangat membatasi pergerakannya.
3. Beser: beser buang air kecil (bak) merupakan salah satu masalah yang
sering didapati pada lansia, yaitu keluarnya air seni tanpa disadari, dalam
jumlah dan intensitas yang cukup mengakibatkan masalah kesehatan atau
sosial. Beser BAK merupakan masalah yang seringkali dianggap wajar dan
normal pada lansia, walaupun sebenarnya hal ini tidak diinginkan terjadi baik
oleh lansia tersebut maupun keluarganya. Akibatnya timbul berbagai masalah,
baik masalah kesehatan maupun sosial, yang akan memperburuk kualitas
hidup dari lansia tersebut. Lansia dengan beser BAK sering mengurangi
minum dengan harapan untuk mengurangi keluhan tersebut, sehingga dapat

9
menyebabkan lansia kekurangan cairan dan juga berkurangnya kemampuan
kandung kemih. Beser BAK sering disertai dengan beser buang air besar
(BAB), yang justru akan memperberat keluhan beser BAK tadi.
4. Gangguan intelektual: merupakan kumpulan gejala klinik yang
meliputi gangguan fungsi intelektual dan ingatan yang cukup berat sehingga
menyebabkan terganggunya aktivitas kehidupan shari-hari. Kejadian ini
meningkat dengan cepat mulai usia 60 sampai 85 tahun atau lebih, yaitu
kurang dari 5 % lansia yang berusia 60-74 tahun mengalami dementia
(kepikunan berat) sedangkan pada usia setelah 85 tahun kejadian ini
meningkat mendekati 50%. Salah satu hal yang dapat menyebabkan gangguan
interlektual adalah depresi sehingga perlu dibedakan dengan gangguan
intelektual lainnya.
5. Infeksi: merupakan salah satu masalah kesehatan yang penting pada
lansia, karena selain sering dialami oleh lansia, juga gejala tidak khas bahkan
asimtomatik yang menyebabkan keterlambatan di dalam diagnosis dan
pengobatan akan meningkatkan resiko pada lansia. Beberapa faktor risiko
yang menyebabkan lansia mudah mendapat penyakit infeksi adalah karena
kekurangan gizi, kekebalan tubuh yang menurun, berkurangnya fungsi
berbagai organ tubuh, terdapatnya beberapa penyakit sekaligus (komorbiditas)
yang menyebabkan daya tahan tubuh yang sangat berkurang. Selain itu, faktor
lingkungan, jumlah dan keganasan kuman akan mempermudah tubuh
mengalami infeksi.
6. Gangguan pancaindera, komunikasi, penyembuhan, dan kulit:
akibat proses menua semua pancaindera berkurang fungsinya, demikian juga
gangguan pada otak, saraf dan otot-otot yang digunakan untuk berbicara dapat
menyebabkan terganggunya komunikasi, Sedangkan kulit menjadi lebih
kering, rapuh dan mudah rusak dengan trauma yang minimal.
7. Sulit buang air besar (konstipasi): beberapa faktor yang
mempermudah terjadinya konstipasi, seperti kurangnya gerakan fisik,
makanan yang kurang mengandung serat, kurang minum, akibat pemberian

10
obat-obat tertentu dan lain-lain. Akibatnya, pengosongan isi usus menjadi sulit
terjadi atau isi usus menjadi tertahan. Pada konstipasi, kotoran di dalam usus
menjadi keras dan kering, dan pada keadaan yang lebih berat dapat berupa
penyumbatan pada usus disertai rasa sakit pada daerah perut.
8. Depresi: perubahan status sosial, bertambahnya penyakit dan
berkurangnya kemandirian sosial serta perubahan-perubahan akibat proses
menua menjadi salah satu pemicu munculnya depresi pada lansia. Namun
demikian, seringkali gejala depresi menyertai penderita dengan penyakit-
penyakit gangguan fisik, yang tidak dapat diketahui ataupun terpikirkan
sebelumnya, karena gejala-gejala depresi yang muncul seringkali dianggap
sebagai suatu bagian dari proses menua yang normal ataupun tidak khas.
Gejala-gejala depresi dapat berupa perasaan sedih, tidak bahagia, sering
menangis, merasa kesepian, tidur terganggu, pikiran dan gerakan tubuh
lamban, cepat lelah dan menurunnya aktivitas, tidak ada selera makan, berat
badan berkurang, daya ingat berkurang, sulit untuk memusatkan pikiran dan
perhatian, kurangnya minat, hilangnya kesenangan yang biasanya dinikmati,
menyusahkan orang lain, merasa rendah diri, harga diri dan kepercayaan diri
berkurang, merasa bersalah dan tidak berguna, tidak ingin hidup lagi bahkan
mau bunuh diri, dan gejala-gejala fisik lainnya. Akan tetapi pada lansia sering
timbul depresi terselubung, yaitu yang menonjol hanya gangguan fisik saja
seperti sakit kepala, jantung berdebar-debar, nyeri pinggang, gangguan
pencernaan dan lain-lain, sedangkan gangguan jiwa tidak jelas.
9. Kurang gizi: kekurangan gizi pada lansia dapat disebabkan karena
perubahan lingkungan maupun kondisi kesehatan. Faktor lingkungan dapat
berupa ketidaktahuan untuk memilih makanan yang bergizi, isolasi sosial
(terasing dari masyarakat) terutama karena gangguan pancaindera,
kemiskinan, hidup seorang diri yang terutama terjadi pada pria yang sangat
tua dan baru kehilangan pasangan hidup, sedangkan faktor kondisi kesehatan

11
berupa penyakit fisik, mental, gangguan tidur, alkoholisme, obat-obatan dan
lain-lain.
10. Penyakit akibat obat-obatan: salah satu yang sering didapati pada
lansia adalah menderita penyakit lebih dari satu jenis sehingga membutuhkan
obat yang lebih banyak, apalagi sebagian lansia sering menggunakan obat
dalam jangka waktu yang lama tanpa pengawasan dokter yang dapat
menyebabkan timbulnya penyakit akibat pemakaian obat-obat yang
digunakan.
11. Gangguan tidur: dua proses normal yang paling penting di dalam
kehidupan manusia adalah makan dan tidur. Walaupun keduanya sangat
penting akan tetapi karena sangat rutin maka kita sering melupakan akan
proses itu dan baru setelah adanya gangguan pada kedua proses tersebut maka
kita ingat akan pentingnya kedua keadaan ini. Jadi dalam keadaan normal
(sehat) maka pada umumnya manusia dapat menikmati makanan enak dan
tidur nyenyak. Berbagai keluhan gangguan tidur yang sering dilaporkan oleh
para lansia, yakni sulit untuk masuk dalam proses tidur. Tidurnya tidak dalam
dan mudah terbangun, tidurnya banyak mimpi, jika terbangun sukar tidur
kembali, terbangun dinihari, lesu setelah bangun dipagi hari.
12. Daya tahan tubuh yang menurun: daya tahan tubuh yang menurun
pada lansia merupakan salah satu fungsi tubuh yang terganggu dengan
bertambahnya umur seseorang walaupun tidak selamanya hal ini disebabkan
oleh proses menua, tetapi dapat juga karena berbagai keadaan seperti penyakit
yang sudah lama diderita (menahun) maupun penyakit yang baru saja diderita
(akut) yang dapat menyebabkan penurunan daya tahan tubuh seseorang.
Demikian juga penggunaan berbagai obat, keadaan gizi yang kurang,
penurunan fungsi organ-organ tubuh dan lain-lain.
13. Impotensi: merupakan ketidakmampuan untuk mencapai dan atau
mempertahankan ereksi yang cukup untuk melakukan hubungan seksual yang
terjadi paling sedikit 3 bulan. Menurut Massachusetts Male Aging Study
(MMAS) bahwa penelitian yang dilakukan pada pria usia 40-70 tahun yang

12
diwawancarai ternyata 52 % menderita disfungsi ereksi, yang terdiri dari
disfungsi ereksi total 10 %, disfungsi ereksi sedang 25 % dan minimal 17 %.
Penyebab disfungsi ereksi pada lansia adalah hambatan aliran darah ke dalam
alat kelamin sebagai adanya kekakuan pada dinding pembuluh darah
(arteriosklerosis) baik karena proses menua maupun penyakit, dan juga
berkurangnya sel-sel otot polos yang terdapat pada alat kelamin serta
berkurangnya kepekaan dari alat kelamin pria terhadap rangsangan (Siburian,
2009).

E. Asumsi Dasar Science of Caring


Watson mengidentifikasi banyak asumsi dan beberapa prinsip dasar dari
transpersonal caring. Watson meyakini bahwa jiwa seseorang tidak dapat dibatasi
oleh ruang dan waktu. Watson menyatakan tujuh asumsi tentang science of caring.
Asumsi dasar tersebut yaitu:
1. Caring dapat didemonstrasikan dan dipraktekkan dengan efektif hanya
secara interpersonal
2. Caring terdiri dari carative factors yang menghasilkan kepuasan
terhadap kebutuhan tertentu manusia
3. Efektif caring meningkatkan kesehatan dan pertumbuhan individu dan
keluarga
4. Respon caring menerima seseorang tidak hanya sebagai dia saat ini,
tetapi juga menerima akan jadi apa dia kemudian
5. Lingkungan caring adalah sesuatu yang menawarkan perkembangan
dari potensi yang ada, dan di saat yang sama membiarkan sesorang untuk
memilih tindakan yang terbaik bagi dirinya saat itu
6. Caring lebih “healthogenic” dari pada curing.
7. Praktek caring merupakan sentral bagi keperawatan.

F. Faktor Carative dalam Caring


Original carative factors kemudian dikembangkan oleh Watson menjadi clinical
caritas processes yang menawarkan pandangan yang lebih terbuka (Watson,
2004), yaitu:

13
1. Menerapkan perilaku yang penuh kasih sayang dan kebaikan dan
ketenangan dalam konteks kesadaran terhadap caring.
2. Hadir dengan sepenuhnya, dan mewujudkan dan mempertahankan
sistem keperacayaan yang dalam dan dunia kehidupan subjektif dari dirinya
dan orang dirawat.
3. Memberikan perhatian terhadap praktekpraktek spiritual dan
transpersonal diri orang lain, melebihi ego dirinya.
4. Mengembangkan dan mempertahakan suatu hubungan caring yang
sebenarnya, yang saling bantu dan saling percaya.
5. Hadir untuk menampung dan mendukung ekspresi perasaan positif
dan negatif sebagai suatu hubungan dengan semangat yang dalam dari diri
sendiri dan orang yang dirawat.
6. Menggunakan diri sendiri dan semua cara yang diketahui secara
kreatif sebagai bagian dari proses caring, untuk terlibat dalam penerapan
caring-healing yang artistik.
7. Terlibat dalam pengalaman belajar mengajar yang sebenarnya yang
mengakui keutuhan diri orang lain dan berusaha untuk memahami sudut
pandang orang lain.
8. Menciptakan lingkungan healing pada seluruh tingkatan, baik fisik
maupun non fisik, lingkungan yang kompleks dari energi dan kesadaran, yang
memiliki keholistikan, keindahan, kenyamanan, martabat, dan kedamaian.
9. Membantu terpenuhinya kebutuhan dasar, dengan kesadaran caring
yang penuh, memberikan “human care essentials”, yang memunculkan
penyesuaian jiwa, raga dan pikiran, keholistikan, dan kesatuan diri dalam
seluruh aspek care; dengan melibatkan jiwa dan keberadaan secara spiritual.
10. Menelaah dan menghargai misteri spritual, dan dimensi eksistensial
dari kehidupan dan kematian seseorang, “soul care” bagi diri sendiri dan
orang yang dirawat.

G. Perilaku Caring

14
Daftar dimensi caring (Caring Dimensions Inventory = CDI) yang
didesain oleh Watson dan Lea (1997) merupakan instrumen yang dikembangkan
untuk meneliti perilaku perawat (perilaku caring).
Daftar dimensi caring tersebut antara lain:
1. CDI 1. Membantu klien dalam ADL.
2. CDI 2. Membuat catatan keperawatan mengenai klien.
3. CDI 3. Merasa bersalah /menyesal kepada klien
4. CDI 4. Memberikan pengetahuan kepada klien sebagai individu
5. CDI 5. Menjelaskan prosedur klinik
6. CDI 6. Berpakaian rapi ketika bekerja dengan klien
7. CDI 7. Duduk dengan klien
8. CDI 8. Mengidentifikasi gaya hidup klien
9. CDI 9. Melaporkan kondisi klien kepada perawat senior
10. CDI 10. Bersama klien selama prosedur klinik
11. CDI 11. Bersikap manis dengan klien
12. CDI 12. Mengorganisasi pekerjaan dengan perawat lain untuk klien
13. CDI 13. Mendengarkan klien
14. CDI 14. Berkonsultasi dengan dokter mengenai klien
15. CDI 15. Menganjurkan klien mengenai aspek self care
16. CDI 16. Melakukan sharing mengenai masalah pribadi dengan klien
17. CDI 17. Memberikan informasi kepada keluarga tentang klien
18. CDI 18. Mengukur tanda vital klien
19. CDI 19. Menempatkan kebutuhan klien sebelum kebutuhan pribadi
20. CDI 20. Bersikap kompeten dalam prosedur klinik
21. CDI 21. Melibatkan klien dalam perawatan
22. CDI 22. Memberikan jaminan mengenai prosedur klinik
23. CDI 23. Memberikan ceria dengan klien
24. CDI 25. Mengobservasi efek medikasi kepada klien
H. Faktor-faktor Pembentuk Caring
1. Pembentukan faktor nilai humanistik dan altruistik.
Watson mengemukakan bahwa asuhan keperawatan didasarkan pada
nilainilai kemanusiaan (humanistik) dan prilaku mementingkan kepentingan
orang lain diatas kepentingan sendiri (altruistik). Hal ini dapat
dikembangkan melalui pemahaman nilai yang ada pada diri seseorang,
keyakinan, interaksi dan kultur serta pengalaman pribadi. Hal ini perlu
untuk mematangkan pribadi perawat agar dapat bersikap altruistik terhadap
orang lain.
2. Menanamkan keyakinan dan harapan (faith-hope).
15
Faktor ini menjelaskan tentang peran perawat dalam mengembangkan
hubungan timbal balik perawat-klien yang efektif dan meningkatkan
kesejahteraan dengan membantu klien mengadopsi prilaku hidup sehat.
Perawat mendorong penerimaan klien terhadap pengobatan yang dilakukan
kepadanya dan membantunya memahami alternatif terapi yang diberikan,
memberikan keyakinan akan adanya kekuatan penyembuhan atau kekuatan
spiritual dan penuh pengharapan. Dengan mengembangkan hubungan
perawat-klien yang efektif, perawat memfasilitasi perasaan optimis, harapan
dan rasa percaya.
3. Menanamkan sensitifitas terhadap diri sendiri dan orang lain. Seorang
perawat dituntut untuk mampu meningkatkan sensitifitas terhadap diri
pribadi dan orang lain, dengan memiliki sensitifitas/kepekaan terhadap diri
sendiri, maka perawat menjadi lebih apa adanya dan lebih lebih sensitif
kepada orang lain dan menjadi lebih tulus dalam memberikan bantuan
kepada orang lain. Perawat juga perlu memahami bahwa pikiran dan emosi
seseorang merupakan jendela jiwanya.
4. Membina hubungan saling percaya dan saling membantu (helping-
trust). Pengembangan hubungan saling percaya antara perawat dan klien
adalah sangat krusial bagi transportal caring. Hubungan saling percaya akan
meningkatkan dan menerima ekspresi perasaan positif dan negative.
Pengembangan hubungan saling percaya menerapkan bentuk komunikasi
untuk menjalin hubungan dalam keperawatan. Ciri hubungan helping-trust
adalah harmonis haruslah hubungan yang dilakukan secara jujur dan
terbuka, tidak dibuat-buat. Perawat menunjukkan sikap empati dengan
berusaha merasakan apa yang dirasakan oleh klien dan sikap hangat dengan
menerima orang lain secara positif.
5. Meningkatkan dan menerima ekspresi perasaan positif dan negatif
Perasaan mempengaruhi pikiran seseorang hal ini perlu menjadi
pertimbangan dalam memelihara hubungan. Oleh sebab itu, perawat harus

16
menerima perasaan orang lain serta memahami prilaku mereka dan juga
perawat mendengarkan segala keluhan klien.
6. Menggunakan metode pemecahan masalah yang sistematis dalam
pengambilan keputusan. Perawat menerapkan proses keperawatan secara
sistematis, praktek yang efektif adalah memecahkan masalah secara ilmiah
dalam menyelenggarakan pelayanan berfokus klien. Proses keperawatan
seperti halnya proses penelitian yaitu sistematis dan terstruktur, metode
pemecahan masalah ilmiah merupakan metode yang memberi control dan
prediksi serta memungkinkan koreksi diri sendiri.
7. Meningkatkan proses belajar mengajar interpersonal. Faktor ini
merupakan konsep yang penting dalam keperawatan untuk membedakan
caring dan curing. Bagaimana perawat menciptakan situasi yang nyaman
dalam memberikan pendidikan kesehatan. Perawat memberi informasi
kepada klien, perawat menfasilitasi proses ini dengan memberikan
pendidikan kesehatan yang didesain supaya dapat memampukan klien
memenuhi kebutuhan pribadinya dan alternatif pengobatan lain, dalam hal
ini, perawat harus mampu memahami persepsi klien dan meredakan situasi
yang menegangkan agar proses belajar-mengajar ini berjalan lebih efektif.
8. Menyediakan lingkungan yang mendukung, melindungi,memperbaiki
mental, sosiokultural dan spiritual. Perawat harus menyadari bahwa
lingkungan internal dan eksternal berpengaruh terhadap kesehatan dan
kondisi penyakit klien. Konsep yang relevan dengan lingkungan internal
meliputi kepercayaan, sosial budaya, mental dan spiritual klien. Lingkungan
eksternal meliputi kenyamanan, privasi, keamanan, kebersihan, dan
lingkungan yang estetik. Melalui pengkajian perawat dapat menentukan
penilaian seseorang terhadap situasi dan dapat mengatasinya. Perawat dapat
memberikan dukungan situasional, membantu individu mengembangkan
persepsi yang lebih akurat dan memberikan informasi sehingga klien dapat
mengatasi masalahnya.

17
9. Membantu dalam pemenuhan kebutuhan dasar manusia. Dalam
membantu memenuhi kebutuhan dasar klien, perawat harus melakukan
dengan gembira. Hirarki kebutuhan dasar Watson hampir sama dengan
Maslow, yakni kebutuhan untuk bertahan hidup, fungsional, integrasi, untuk
tumbuh dan mencari bantuan ketika individu kesulitan memenuhi kebutuhan
dasarnya.
10. Mengembangkan faktor kekuatan eksistensial-fenomologis.
Membantu seseorang untuk mengerti kehidupan dan kematian, keduanya
dapat membantu seseorang untuk menemukan kekuatan atau keberanian
untuk menghadapi kehidupan dan kematian.

I. Proses Keperawatan Dalam Teori Caring


Watson (1979) menekankan bahwa proses keperawatan memiliki
langkah-langkah yang sama dengan proses riset ilmiah, karena kedua proses
tersebut mencoba untuk menyelesaikan masalah dan menemukan solusi yang
terbaik. Lebih lanjut Watson menggambarkan kedua proses tersebut sebagai
berikut (tulisan yang dimiringkan menandakan proses riset yang terdapat dalam
proses keperawatan):
1. Pengkajian
Meliputi observasi, identifikasi, dan review masalah; menggunakan
pengetahuan dari literature yang dapat diterapkan, melibatkan pengetahuan
konseptual untuk pembentukan dan konseptualisasi kerangka kerja yang
digunakan untuk memandang dan mengkaji masalah. (Berita Ilmu
Keperawatan ISSN 1979-2697, Vol . 1 No.3, September 2008 :147-150).
Pengkajian juga meliputi pendefinisian variabel yang akan diteliti
dalam memecahkan masalah. Watson (1979) dalam Julia (1995)
menjelaskan kebutuhan yang harus dikaji oleh perawat yaitu:
a. Lower order needs (biophysical needs) yaitu kebutuhan untuk
tetap hidup meliputi kebutuhan nutrisi, cairan, eliminasi, dan
oksigenisasi.

18
b. Lower order needs (psychophysical needs) yaitu kebutuhan
untuk berfungsi, meliputi kebutuhan aktifitas, aman, nyaman,
seksualitas.
c. Higher order needs (psychosocial needs) yaitu kebutuhan
integritas yang meliputi kebutuhan akan penghargaan dan beraffiliasi.
d. Higher order needs (intrapersonali needs), yaitu kebutuhan
untuk aktualisasi diri.
2. Perencanaan
Perencanaan membantu untuk menentukan bagaimana variable-
variabel akan diukur, meliputi suatu pendekatan konseptual atau design
untuk memecahan masalah yang mengacu pada asuhan keperawatan serta
meliputi penentuan data apa yang akan dikumpulkan dan pada siapa dan
bagaimana data akan dikumpulkan.
3. Implementasi
Merupakan tindakan langsung dan implementasi dari rencana serta
meliputi pengumpulan data.
4. Evaluasi
Merupakan metoda dan proses untuk menganalisa data, juga untuk
meneliti efek dari intervensi berdasarkan data serta meliputi interpretasi
hasil, tingkat dimana suatu tujuan yang positif tercapai, dan apakah hasil
tersebut dapat digeneralisasikan

19
BAB III
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR

Tabel 35 - item caring dimensions inventory (CDI)


Pertanyaan Inti : Apakah Anda mempertimbangkan aspek praktik
keperawatan berikut untuk caring kepada pasien?’
Jawablah pada salah satu poin di Skala Likert berikut : 1 (sangat tidak setuju)
- 5 (sangat setuju)
No. Pernyataan Skala Likert
S T K S S
TJ S S T

20
1. Membantu pasien dengan aktivitas hidup
sehari-hari (mencuci, berpakaian, dll)
2. Membuat catatan keperawatan pasien
3. Berempati pada pasien
4. Mengenal pasien sebagai pribadi
5. Menjelaskan prosedur klinis kepada pasien
6. Bersikap rapi saat bekerja dengan pasien
7. Duduk bersama pasien
8. Menjelajahi gaya hidup pasien
9. Melaporkan kondisi pasien ke perawat senior
10. Berada bersama pasien selama prosedur klinis
11. Bersikap jujur dengan seorang pasien
12. Mengorganisir pekerjaan perawat lain untuk
seorang pasien
13. Mendengarkan seorang pasien
14. Berkonsultasi dengan dokter tentang seorang
pasien
15. Mengajarkan atau mendampingi pasien aspek
perawatan diri (mencuci, berpakaian, dll.)
16. Berbagi masalah pribadi dengan seorang pasien
17. Memberi informasi kepada kerabat tentang
seorang pasien
18. Mengukur tanda-tanda vital pasien (misalnya
denyut nadi dan tekanan darah)
19. Menempatkan kebutuhan pasien sebelum Anda
sendiri
20. Menjadi kompeten secara teknis dengan
prosedur klinis
21. Melibatkan pasien dengan perawatannya
22. Memberikan kepastian tentang prosedur klinis
23. Berdoa untuk seorang pasien
24. Berurusan dengan masalah semua orang
sekaligus
25. Mengamati efek obat pada pasien
26. Membuat pasien melakukan sesuatu meskipun
ada penolakan

21
27. Menjamin pasien yang sakit parah bahwa dia
tidak akan mati
28. Tetap bekerja setelah giliran kerja perawat
selesai
29. Tetap datang untuk bekerja meski perawat
merasa tidak enak badan
30. Bersikap ceria dengan pasien
31. Mengatur pasien untuk bertemu dengan
rohaniawan
32. Memberikan privasi untuk pasien
33. Tetap berhubungan dengan pasien setelah
selesai bekerja
34. Tampak sibuk setiap saat
35. Memberikan kebutuhan rohani pada pasien
Sumber :
Lea, A., Watson, R., Deary, I.J., 1998. Caring in nursing: a multivariate analysis.
Journal of Advanced Nursing 28, 662–671.
Keterangan :
35 item diatas merupakan bentuk akhir dari penambahan 25 item yang sebelumnya
telah dirancang telah Jean Watson. Penambahan 10 item bertujuan untuk menilai
pemberian asuhan oleh perawat/ mahasiswa keperawatan yang tepat dan tidak tepat
berdasarkan konsep keperawatan.

22
Standar Operasional Prosedur (SOP)
Teknik Caring Pada Lansia

Pengertian Merupakan pelayanan kesehatan yang ditujukan pada


pra lanjut usia dan lanjut usia meliputi aspek promotif,
preventif, kuratif dan rehabilitative yang menekankan
unsur – unsur : pro aktif, kemudahan pelayanan, santun,
dilayani oleh tenaga profesional dan pelayanan dengan
standart teknis pelayanan yang berlaku.
Tujuan Secara umum adalah untuk mengoptimalisasikan
pelayanan kesehatan terhadap lanjut usia. Sedangkan
secara khusus diantaranya :
1. Mengajak lansia untuk dapat mengikuti kegiatan
penyelenggaraan posyandu sehingga dapat meningkatkan
kesehatan lansia
2. Kegiatan posyandu dapat meningkatkan keaktifan para
lansia dan mencegah kepikunan
3. Kegiatan posyandu dapat meningkatkan rasa
persaudaraan, terbangunnya ikatan emosi yang positif antar
generasi dan akan membuat lanjut usia rajin datang
Ruang 1. Pra lansia umur 45 – 59 tahun
2. Lanjut usia umur 60 – 69 tahun
Lingkup
3. Lanjut usia resiko tinggi > 70 tahun
Alat-Alat 1. Alat tulis
2. Register posyandu
3. KMS lansia
4. Tensi meter
5. Stetoskop
6. Timbangan berat badan

23
7. Peralatan pemeriksaan kesehatan
dan pengobatan
8. Leaflet penyuluhan
Prosedur 1. Meja I : Tempat pendaftaran
2. Meja II : Tempat penimbangan dan pencatatan berat badan,
pengukuran dan pencatatan tinggi badan serta penghitungan
index masa tubuh (IMT)
3. Meja III : Tempat melakukan kegiatan pemeriksaan dan
pengobatan sederhana (tekanan darah, gula darah, hb dan
pemberian vitamin, dan lain – lain )
4. Meja IV : Tempat melakukan kegiatan konseling
(kesehatan, gizi, dan kesejahteraan )
5. Meja V : Tempat memberikan informasi dan melakukan
kegiatan sosial (pemberian makanan tambahan, bantuan
modal, pendampingan, dan lain – lain sesuai kebutuhan )
Unit Dokter, perawat, dan petugas farmasi
Terkait
Daftar Damojo 2013, PP no. 102 tahun 2000
Pustaka

BAB IV
PENUTUP

24
A. Kesimpulan
Penurunan fungsi organ dan kemampuan fisik menjadi faktor resiko bagi
lansia rentan terhadap penyakit. Sebagai akibatnya, lansia lebih sering menjalani
perawatan baik di rumah sakit maupun di rumah. Dampak dari adanya perawatan
kesehatan tidak hanya secara fisik tetapi juga membawa beban emosional.
Perawat dalam melakukan perawatan perlu mempertimbangkan pendekatan
khusus agar tercapai asuhan yang efektif atau bisa disebut dengan Caring
Nursing Center. Caring perawat merupakan sikap peduli yang memudahkan
pasien untuk mencapai peningkatn kesehatan dan pemulihan. Dalam hal ini,
lansia sering dihadapkan dalam berbagai aspek masalah dan sulit untuk
mengungkapkan masalah yang dihadapi. Sehingga perlu adanya Caring Nursing
Center untuk membantu masalah yang sedang dihadapi lansia. Beberapa hal yang
perlu diperhatikan yaitu komunikasi dan penyediaan lingkungan yang aman dan
nyaman.

B. Saran
Upaya dalam meningkatkan harapan hidup pada lansia harus dicapai,
namun disisi lain kondisiini menimbulkan masalah dalam melakukan perawatan
lansia tersebut.Salah satu aspek penting dari perawatan lansia adalah penekanan
pada unit keluarga. Keluarga bersama dengan lansia adalah klien atau resifien
keperawatan.Unit dasar ini memiliki pengaruh yang begitu kuat terhadap
perkembangan seorang lansia yang dapat menentukan berhasil atau tidaknya
kehidupan lansia tersebut, yang diharapkan mampu memberikan kontribusi
dalam upaya mencapai tujuan didalam perawatan lansia secara optimal.

DAFTAR PUSTAKA

25
Arisman (2007). Buku Ajar Ilmu Gizi: Gizi dalam Daur Kehidupan. EGC.
http://dinkes.lumajangkab.go.id/posyandu-lansia/ Tanggal 21 Juli 2018
Jam 20.10 WIB
Azizah, L.,M. (2010). Keperawatan Lanjut Usia. Yogjakarta : Graha Ilmu
Burnard, P. 2009. Caring &Communicating.Jakarta : EGC
Damojo. 2013. PP no. 102 tahun 2000
Dwidiyanti, M. 2007. Caring.Semarang :Hapsari
George, Julia B. (1995). Nursing theories: the base for professional nursing
practice, 4th edition.Connecticut: Apleton & Lange
Http://www2.uchsc.edu/son/caring
Kholifa, Siti Nur. 2016. Modul Keperawatan Gerontik. Jakarta : Pusdik
SDM Kesehatan
Leininger, M. 2002, Transcultural Nursing, Concept, Theories, Research
&Practice,Mc, Grow-Hill Companies
NANDA. Nursing Diagnoses: Definition and Classification 2005-2006.
Philadelphia : NANDA International
Notoatmojdo, S. 2007. Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni dan Pendidikan
dan Perilaku Kesehatan. Rineka Cipta
Nugroho, Wahyudi.2000.Keperawatan gerontik.Jakarta:EGC
Pedoman Pengelolaan Kesehatan di Kelompok Usia Lanjut. Depkes RI 2003
Pedoman Pelaksanaan Posyandu Lanjut Usia. Komisi Nasional Lanjut Usia.
2010
Pedoman Pembinaan Kesehatan Usia Lanjut Bagi Petugas Kesehatan I
Kebijaksanaan Program. Depkes RI (2000)
Stanley, Mickey.2006.Buku Ajar Keperawatan Gerontik.Jakarta:EGC
Watson, Jean. (2004). Theory of human caring.

26