Anda di halaman 1dari 32

Laporan Akhir Praktikum Korosi Dan Perlindungan Logam Kelompok 5

BAB II
PENGARUH BERBAGAI LARUTAN TERHADAP KOROSI

2.1 TUJUAN
 Mengetahui pengaruh berbagai larutan terhadap laju korosi.
 Mengetahui dan memehami penggunaan diagram pourbaix (diagram
potensial – pH) dalam proses korosi.
 Mengetahui cara pengukuran potensial korosi dalam berbagai larutan.

2.2 TEORI DASAR


Korosi adalah proses reaksi kimia dan elektrokimia antara logam dan
lingkungannya yang menyebabkan logam tersebut turun sifat-sifatnya. Dalam
kehidupan sehari-hari korosi disebut perkaratan, contoh korosi yang paling
lazim adalah perkaratan besi. Pada peristiwa korosi, logam mengalami
oksidasi sedangkan oksigen (udara) mengalami reduksi. Karat logam
umumnya adalah berupa oksida atau karbonat. Rumus kimia karat besi adalah
Fe2O3. dimana senyawa itu merupakan suatu zat padat yang berwarna coklat-
merah.
Adapun pengaruh lingkungan terhadap korosi sebagai berikut:
1. Lingkungan Air
Air atau uap air dalam jumlah sedikit atau banyak akan
mempengaruhi tingkat korosi pada logam. Reaksinya bukan hanya
antara logam dengan oksigen saja, tetapi juga dengan uap air yang
menjadi reaksi elektrokimia. Karena air berfungsi sebagai:
a. Pereaksi. Misalnya pada besi akan berwarna cokelat karena
terjadinya besi hidroksida.
b. Pelarut. Produk-produk korosi akan larut dalam air seperti besi
klorida atau besi sulfat.
c. Katalisator. Besi akan cepat bereaksi dengan O2 dari udara sekitar
bila ada uap air.
d. Elektrolit lemah. Sebagai penghantar arus yang lemah atau kecil.

LABORATORIUM KIMIA DAN KOROSI TA 2015/2016 6


Laporan Akhir Praktikum Korosi Dan Perlindungan Logam Kelompok 5

Korosi pada lingkungan air bergantung pada pH, kadar oksigen


dan temperatur. Misalnya pada baja tahan karat pada suhu 300-500oC
bisa bertahan dari karat. Namun pada suhu yang lebih tinggi 600-650oC
baja tahan karat akan terserang korosi dengan cepat. Demikian juga
dengan penambahan kadar O2 dalam air maka akan mempercepat laju
korosi pada logam.
a) pH
Menurut penelitian Whitman dan Russel ternyata pH dari
suatu elektrolit sangat mempengaruhi pada proses terjadinya korosi
pada besi. Pengaturan pH dilakukan dengan pembubuhan KOH
pada air yang pH 6-14 dan pembubuhan asam pada 7-0.
pH netral adalah 7, sedangkan ph < 7 bersifat asam dan
korosif, sedangkan untuk pH > 7 bersifat basa juga korosif. Tetapi
untuk besi, laju korosi rendah pada pH antara 7 sampai 13. Laju
korosi akan meningkat pada pH < 7 dan pada pH > 13.
b) Kadar Oksigen
Adanya oksigen yang terlarut akan menyebabkan korosi pada
metal seperti laju korosi pada mild stell alloys akan bertambah
dengan meningkatnya kandungan oksigen. Kelarutan oksigen
dalam air merupakan fungsi dari tekanan, temperatur dan
kandungan klorida.
Untuk tekanan 1 atm dan temperatur kamar, kelarutan oksigen
adalah 10 ppm dan kelarutannya akan berkurang dengan
bertambahnya temperatur dan konsentrasi garam. Sedangkan
kandungan oksigen dalam kandungan minyak-air yang dapat
mengahambat timbulnya korosi adalah 0,05 ppm atau kurang.
Rumus kimia karat besi adalah Fe2O3.nH2O, suatu zat padat
yang berwarna coklat-merah. Korosi merupakan proses
elektrokimia. Pada korosi besi, bagian tertentu dari besi itu berlaku
sebagai anoda, di mana besi mengalami oksidasi.
Fe(s) ↔ Fe2+(aq) + 2e

LABORATORIUM KIMIA DAN KOROSI TA 2015/2016 7


Laporan Akhir Praktikum Korosi Dan Perlindungan Logam Kelompok 5

Elektron yang dibebaskan di anode mengalir ke bagian lain


dari besi itu yang bertindak sebagai katode, di mana oksigen
tereduksi.
O2(g) + 4H+(aq) + 4e ↔ 2H2O(l)
Atau
O2(g) + 2H2O(l) + 4e ↔ 4OH-(aq)

Contoh reaksi perkaratan besi :


Anoda : Fe → Fe2+ + 2e-
Katoda : 2H+ + 2e- → H2
2H2O + O2 + 4e- → 4OH-
Redoks : 2H+ + 2H2O + O2 + 3Fe → 3Fe2+ + 4OH- + H2
Fe(OH)2 oleh O2 di udara dioksidasi menjadi Fe2O3·nH2O (Karat
Besi).
Adapun macam-macam air seperti air suling merupakan air
yang paling bersih dan bebas dari kation dan anion serta terisolir
dari udara dan bebas mikroba.
Adapun air hujan atau salju merupakan proses sulingan alam,
namun demikian air ini masih mengandung CO2. Jika
karbondioksida dilarutkan dalam air maka akan terbentuk asam
karbonat (H2CO3) yang dapat menurunkan pH air dan
meningkatkan korosifitas, biasanya bentuk korosinya berupa
pitting yang secara umum reaksinya adalah:
CO2 + H2O → H2CO3
Fe + H2CO3→ FeCO3 + H2
FeC03 merupakan corrosion product yang dikenal sebagai
sweet corrosion, Untuk air permukaan komposisinya zat terlarut
bergantung pada tanah yang ditempati atau tempat tergenangnya.
Tetapi pada umumnya zat yang terlarut lebih rendah dari pada air
laut. Biasanya air permukaan mengandung Ca2+, Mg2+, NH4+, Cl-,
dan SO-4. Agresifitasnya lebih rendah daripada air laut. Sedangkan

LABORATORIUM KIMIA DAN KOROSI TA 2015/2016 8


Laporan Akhir Praktikum Korosi Dan Perlindungan Logam Kelompok 5

untuk air tanah dangkal seperti sumur zat terlarutnya bergantung


pada tanah sekitanya.
Korosi oleh air bersih pada logam yang tidak mulia akan
terbentuk reaksi sebagai berikut: L + 2H2O → L(OH)2 + H2
Sedangkan untuk air bersih dan adanya O2, akan ada proses
oksidasi dari udara sekitarnya. Hal ini biasanya terjadi pada air
dekat permukaan.
Reaksinya: 2L + 3H2O + 3/2O2 → 2L(OH)3
c) Temperatur
Pada lingkungan temperatur tinggi, laju korosi yang terjadi
lebih tinggi dibandingkan dengan temperatur rendah, karena pada
temperatur tinggi kinetika reaksi kimia akan meningkat.
Gambar berikut menunjukkan pengaruh temperatur terhadap laju
korosi pada Fe.

2. Lingkungan Udara
Temperatur, kelembaban relatif, partikel-partikel abrasif dan ion-
ion agresif yang terkandung dalam udara sekitar, sangat mempengaruhi
laju korosi. Dalam udara yang murni, baja tahan karat akan sangat tahan
terhadap korosi. Namun apabila udara mulai tercemari maka serangan
korosi dapat mudah terjadi. Salah satu polusi udara yang menimbulkan
korosi adalah NOX dari pabrik asam nitrat, Cl2 dari pabrik soda, dan
NaCl dari air laut.

3. Lingkungan Asam, Basa Dan Garam


Pada lingkungan air laut, dengan konsentrasi garam NaCl atau
jenis garam-garam yang lain seperti KCl akan menyebabkan laju korosi
logam cepat. Sama halnya dengan kecepatan alir dari air laut yang
sebanding dengan peningkatan laju korosi, akibat adanya gesekan,
tegangan dan temperatur yang mendukung terjadinya korosi.
Pada larutan basa seperti NaOH (Caustic soda), baja karbon akan
tahan terhadap serangan korosi pada media ini dengan suhu larutan 75

LABORATORIUM KIMIA DAN KOROSI TA 2015/2016 9


Laporan Akhir Praktikum Korosi Dan Perlindungan Logam Kelompok 5

o
F (24 oC) dan konsentrasi 45% berat. Pada larutan asam seperti Asam
cromat (CrO3) dengan Asam kromat 10% pada suhu 60oC tidak akan
menyerang baja tahan karat. Tingkat korosi akan naik sebanding dengan
temperatur dan konsentrasi yang juga meningkat.
Senyawa kromat mampu sebagai pemasif yang efektif terhadap laju
korosi pada logam. Dalam kenyataannya dapat tereduksi menjadi Cr2O3
yang membentuk serpih yang berwarna hijau kecoklatan. Cr2O3 banyak
digunakan sebagai abrasi pada pemolesan karena Cr2O3 keras, tajam
sehingga mampu mengikis atau mengasah logam menjadi mengkilap.
Penggunaan larutan garam Natrium Cromat / sodium kromat
(Na2CrO4) dengan kadar tertentu mampu menghambat laju korosi.
karena sodium kromat sebagai inhibitor kimia, yaitu suatu zat kimia
yang dapat menghambat atau memperlambat suatu reaksi kimia. Secara
khusus, inhibitor korosi merupakan suatu zat kimia yang bila
ditambahkan ke dalam suatu lingkungan tertentu, dapat menurunkan
laju penyerangan lingkungan itu terhadap suatu logam.
Selain itu fungsi dari inhibitor adalah mampu memperpanjang
umur pakai logam, melindungi dan memperindah permukaan logam,
lebih mengkilap dan terang dengan warna tertentu yang dihasilkan
sesuai inhibitornya. Adapun penggunaannya sebagai berikut :
a. Na2CrO4 , dengan konsentrasi 50 ppm digunakan pada pipa baja.
b. 2,3 gr/l Na2CrO4 untuk sambungan galvanik Cu-Zn-Fe
c. 2,4 gr/l Na2CrO4 untuk sambungan galvanik Fe-Al
d. 0,1% Na2CrO4 digunakan untuk penghambat laju korosi logam Fe,
Cu, Zn dalam sistem air pendingin (water cooling) dan pada larutan
garam (Brines)
e. 0,1% -1% Na2CrO4 digunakan untuk penghambat laju korosi
(inhibitor) logam Fe, Pb, Cu, Zn dalam sistem mesin
pendingin(engine coolants)

LABORATORIUM KIMIA DAN KOROSI TA 2015/2016 10


Laporan Akhir Praktikum Korosi Dan Perlindungan Logam Kelompok 5

4. Lingkungan Industri Minyak


Pada umumnya di lingkungan industri minyak terdapat 3 area yang
seringkali mengalami korosi, yaitu:
a. Kegiatan produksi (Production)
b. Pendistribusian dan Penyimpanan (Transportation and Storage)
c. Operasi Pemisahan (Refinery Operation)
Penyebab utama yang paling awal dilakukan untuk mengetahui
kekorosifan minyak dan gas bumi adalah gas karbondioksida (CO2).
Gas ini terperangkap dalam sumur pengeboran dan keluar bersama
condensate dan partikel lainnya melewati rangkaian pipa. Pada kondisi
demikian pipa yang bahannya terbuat dari baja karbon akan terserang
kerusakan akibat korosi. Terutama pada bagian-bagian yang berada di
sekitar lokasi proses kondensasi. Bentuk korosi yang sering dijumpai
adalah pitting korosi, uniform korosi, korosi erosi dan korosi fatique.
Selanjutnya keberadaan Asam asetat yang ada dalam minyak bumi
mulai diteliti karena asam ini bersifat korosif terhadap banyak logam
seperti besi, magnesium, dan seng, membentuk gas hidrogen dan
garam-garam asetat (disebut logam asetat). Asam asetat akan menjadi
sumber ion hydrogen jika asam ini berada bersamaan dengan asam
karbonat dalam jumlah yang sama. Ion asetat akan bereaksi dengan ion
besi membentuk besi asetat.
Adapun jenis-jenis korosi yaitu:
1. Korosi Sumuran (Pitting Corrosion)
Korosi sumur yaitu korosi lubang/rongga yang akan timbul
pada logam, korosi ini lebih berbahaya dari pada korosi merata
karena pada permukaan korosi ini tidak terlihat. Korosi sumuran
ini sangat kecil dan mudah tertutup oleh hasil korosi. Demikian
pula, serangan yang dilokalisasi biasanya terlindungi oleh celah
yang ada pada bagian logam di bawah endapan atau antara logam
dengan logam lainnya. Jadi korosi ini sering tidak terdeteksi
sampai kebocoran menembus ketebalan dinding.
Penyebab terjadinya korosi sumuran yaitu:

LABORATORIUM KIMIA DAN KOROSI TA 2015/2016 11


Laporan Akhir Praktikum Korosi Dan Perlindungan Logam Kelompok 5

- Komposisi kimia dipermukaan logam mungkin tidak homogeny


- Konsentrasi oksigen yang rendah dan konsentrasi Cl yang tinggi
- kerusakan setempat
- Non-homogenitas pada permukaan logam (inklusi)
- Lingkungannya mengandung Cl
2. Korosi Celah (Crevice Corrosion)
Korosi ini terjadi antara celah-celah antara dua logam
dimana ada cairan yang korosi, korosi celah ini biasanya terjadi
pada celah sempit antara 5-100 µm. Biasanya celah ini terjadi
akibat sambungan peralatan mekanik, retakan bagian mesin dan
lain-lain. Akibat celah ini maka terjadi perbedaan konsentrasi
oksigen, di mana pada celah kekurangan oksigen sehingga reaksi
katodik terhalang, akibatnya pada celah kelebihan ion positif logam
yang segera dinetralisir oleh ion begatif seperti klorida misalnya
dari elektrolit (media korosif). Mekanisme yang sama juga terjadi
pada garis air sehingga banyak dijumpai bagian pasang/surut air
laut menyebabkan korosi pada tiang dermaga.
3. Korosi Erosi (Errosion Corrosion)
Korosi ini sebenarnya tidak termasuk dalam bagian korosi
elektrokimia, karena mekanismenya lebih cenderung pada akibat
mekanis. Penyebab korosi ini adanya aliran pada media korosif
(elektrolit) sehingga selalu menganggu keseimbangan reaksi korosi
elektrokimia (ion terlarut terikut yang mengalir) dan laju yang
mengikat.
4. Korosi Galvanik (Galvanic Corrosion)
Korosi ini terjadi apabila dua buah logam yang berbeda,
memiliki potensial yang berbeda saling kontak/bersentuhan,
dimana logam dengan potensial lebih rendah melepaskan
elektronnya menuju logam pasangannya yang potensialnya lebih
tinggi sehingga logam yang kekurangan elektron mengalami
oksidasi (terskorosi) dan logam dengan potensial lebih tinggi
menjadi lebih bersifat katodik.

LABORATORIUM KIMIA DAN KOROSI TA 2015/2016 12


Laporan Akhir Praktikum Korosi Dan Perlindungan Logam Kelompok 5

5. Korosi Selektif (Dealloying)


Korosi ini sebenrnya juga bukan ternasuk bentuk korosi
elektrokimia tetapi cenderung korosi kimia. Korosi selektif
menyerang logam campuran, sebagai misal kuningan (Cu-Zn),
yang berada dilingkungan asam dimana Zn akan terlarut dalam
asam (dezincification).
6. Korosi Tegangan (Stress Cracking Corrosion)
Korosi tegangan terjadi apabila pada logam terjadi tegangan static
dan berada di media korosif. Kedua factor tersebut di atas hadir
secara simultan. Korosi banyak terjadi pada tangki bertekanan yang
menampung cairan kimia, konstruksi-konstruksi baja yang berada
di daerah korosif, system pipa reaktor nuklir, sudu turbin, dll.
7. Korosi Gelembung (Cavitation Corrosion)
Korosi gelembung yaitu korosi yang terjadi akibat gelembung yang
meletus atau pecah.
8. Korosi yang disebabkan oleh arus sesat (Stay Current Corrosion)
Pada jenis korosi ini, kerusakan korosi pada struktur akibat adanya
arus yang mengalir melalui tanah atau air pada struktur dari sumber
listrik dari luar. Korosi semakin dipercepat bila arus positif
meninggalkan struktur.
9. Korosi Lelah (Fatigue Corrosion)
10. Penggetasan Hidrogen

Diagram Pourbaix
Daerah kestabilan logam dan oksida/hidroksida logam serta daerah
prediminan ion logam sebagai fungsi potensial dan pH untuk setiap logam
pada 250C telah dikonstruksi oleh Pourbaix dan sejawatnya (lihat Pourbaix,
M., Atlas Chemical in Aqueous Solution, NACE). Diagram ini telah
digunakan secara luas untuk menerangkan mekanisme korosi logam dan cara
pengendaliannya berdasarkan thermodinamika. Sebagai contoh, meskipun
korosi baja dalam lingkungannya dapat dipelajari dengan mnggunakan
diagram potensial-pH untuk system Fe-H2O, karena komponen terbesar baja

LABORATORIUM KIMIA DAN KOROSI TA 2015/2016 13


Laporan Akhir Praktikum Korosi Dan Perlindungan Logam Kelompok 5

adalah Fe. Batas kestabilan Fe dan ionnya telah ditentukan secara seimbang
dengan memperlihatkan segi kinetiknya, yaitu pada Fe = 10-5 atau Fe = 10-6.
Proses korosi besi terjadi bila potensial antar muka naik ke dalam daerah
predominan ion Fe. Apabila potensial antar muka berada dalam daerah
kestabilan Fe2O3. Korosi baja mungkin berlangsung dengan lambat karena
berbentuk film oksida/hidroksida protektif yang memperlambat laju korosi
baja. Dengan memperhatikan diagram ini juga dapat diterangkan mekanisme
passivator dalam mempasifkan logam baja dilingkungannya
Diagram Pourbaix juga dikenal sebagai pH/diagram potensial, peta keluar
mungkin stabil (keseimbangan) tahap sistem elektrokimia berair. Batas ion
utamanya diwakili oleh baris. Dengan demikian diagram Pourbaix bisa dibaca
seperti standar diagram fasa dengan sumbu yang berbeda.
Diagram diberi nama setelah Marcel Pourbaix (1904-1998), yang Rusia
lahir,Belgia ahli kimia yang menemukan mereka. Diagram Pourbaix juga
dikenal sebagai diagram Eh-pH karena pelabelan dari dua sumbu. Sumbu
vertikal diberi label Eh untuk potensi tegangan sehubungan dengan elektroda
hidrogen standar (SHE) yang dihitung oleh persamaan Nernst . The "h"
singkatan dari Hydrogen, meskipun standar lain dapat digunakan. (Ini adalah
untuk suhu kamar saja)

Gambar 2.1 Digram Pourbaix

Bila suatu logam berada dalam suatu lingkungan, ada tiga kemungkinan
bisa terjadi yaitu Imun, Aktif, dan Pasif.

LABORATORIUM KIMIA DAN KOROSI TA 2015/2016 14


Laporan Akhir Praktikum Korosi Dan Perlindungan Logam Kelompok 5

a. Imun/Nobel/Mulia = Tidak terjadi apa-apa: Logam berada dalam


kondisi imun terhadap lingkungan korosif.
b. Aktif = Terjadi reaksi korosi: Logam berada dalam kondisi aktif
terhadap lingkungan (korosif)-nya.
c. Pasif = Terbentuk lapisan film di permukaan logam: Logam dalam
kondisi pasif di lingkungan korosif karena terbentuk lapisan pasif
di permukaan logam yang melindungi logam dari serangan korosi
(lingkungan korosif di sekitarnya).
Korosi merupakan proses elektrokimia dimana pada korosi besi, bagian
tertentu dari besi itu berlaku sebagai anoda yang mengalami oksidasi.
Fe (s)  Fe2+(aq) + 2e
Elektron yang dibebaskan di anoda mengalir ke bagian lain dari besi itu
yang bertindak sebagai katoda di mana oksigen akan tereduksi.
O2 (g) + 4H+ (aq) + 4e  2H2O (l)
atau
O2 (g) + 2H2O (l) + 4e  4OH- (aq)
Ion besi (II) yang terbentuk pada anoda selanjutnya teroksidasi
membentuk ion besi (III) yang kemudian membentuk senyawa oksida
terhidrasi yaitu karat besi. Korosi merupakan kerusakan suatu material
karena bereaksi dengan lingkungannya. Reaksi ini menghasilkan oksida
logam, sulfida logam atau hasil reaksi lain.
Secara garis besar faktor-faktor yang mempengaruhi cepat atau lambatnya
suatu proses korosi adalah :
a. Air dan kelembapan udara
Air merupakan salah satu faktor penting untuk
berlangsungnya proses korosi. Udara yang banyak mengandung uap
air (lembap) akan mempercepat proses korosi.
b. Elektrolit
Elektrolit (asam atau garam) merupakan media yang baik
untuk melangsungkan transfer muatan. Hal itu mengakibatkan
elektron lebih mudah untuk dapat diikat oleh oksigen di udara. Oleh

LABORATORIUM KIMIA DAN KOROSI TA 2015/2016 15


Laporan Akhir Praktikum Korosi Dan Perlindungan Logam Kelompok 5

karena itu, air hujan (asam) dan air laut (garam) merupakan penyebab
korosi yang utama.
c. Adanya oksigen
Pada peristiwa korosi adanya oksigen mutlak diperlukan.
d. Permukaan logam
Permukaan logam yang tidak rata memudahkan terjadinya
kutub-kutub muatan, yang akhirnya akan berperan sebagai anoda dan
katoda. Permukaan logam yang licin dan bersih akan menyebabkan
korosi sukar terjadi, sebab sukar terjadi kutub-kutub yang akan
bertindak sebagai anoda dan katoda.
e. Letak logam dalam deret potensial reduksi
Korosi akan sangat cepat terjadi pada logam yang
potensialnya rendah, sedangkan logam yang potensialnya lebih tinggi
justru lebih awet.
f. Material korosi
Material yang dipakai untuk membuat benda konstruksi sangat
berpengaruh terhadap laju korosi, dengan demikian harus dipilih sejeli
mungkin untuk mengurangi dampak negatif korosi.
g. Kondisi lingkungan/ media
Lingkungan di mana benda konstruksi akan dibuat dan
digunakan juga merupakan salah satu faktor dalam proses dan
kecepatan korosi. Material di lingkungan air laut akan sangat berbeda
dengan material di lingkungan air tawar. Korosi yang timbul akan
dipengaruhi oleh media korosif yang terkandung pada lingkungan
tersebut.
h. Bentuk konstruksi/ susunan
Bentuk konstruksi yang oleh sebagian orang diabaikan efeknya
terhadap proses korosi, sebenarnya tidak sedikit dampak negatifnya.
Karena bentuk ini sedikit banyak juga akan berpengaruh terhadap
kecepatan korosi. Sebagai contoh pipa yang dibengkokkan dengan
radius 180o akan sangat berlainan korosinya jika dibandingkan dengan
pipa yang lurus.

LABORATORIUM KIMIA DAN KOROSI TA 2015/2016 16


Laporan Akhir Praktikum Korosi Dan Perlindungan Logam Kelompok 5

i. Fungsi konstruksi
Konstruksi baja yang digunakan untuk operasi suhu panas akan
berlainan jika dibandingkan dengan suhu operasi rendah. Dengan
demikian dapat diambil kesimpulan jika konstruksi tersebut akan
dibuat harus dipertimbangkan untuk apa alat tersebut dibuat atau
untuk operasi yang bagaimana konstruksi tersebut dipakai.
Sedangkan syarat terjadinya proses korosi yaitu:
a. Anode : tempat terjadinya reaksi oksidasi.
b. Chatode : tempat terjadinya reaksi reduksi.
c. Electrolyte path : tempat hantaran ion.
d. Metallic pulp : tepat hantaran elektron.
Jika tidak ada salah satu dari ke-empat syarat tersebut maka tidak akan
terjadi korosi.
Daerah kestabilan logam dan oksida/ hidroksida logam serta daerah
predominan ion logam sebagai fungsi potensial dan pH untuk setiap logam
pada 250 C telah dikonstruksi oleh diagram pourbaix dan sejawatnya.
Diagram ini telah digunakan secara luas untuk menerangkan mekanisme
korosi logam dan cara pengendaliannya berdasarkan termodinamika.
Sebagai contoh, meskipun diagram potensial-pH yang dikonstruksi hanya
untuk elemen murni, mekanisme korosi baja dalam lingkungannya dapat
dipelajari dengan menggunakan diagram potensial-pH untuk sisem Fe-
H2O, karena komponen terbesar baja adalah Fe. Batas kestabilan Fe dan
ionnya telah ditentukan secara seimbang dengan memperlihatkan segi
kinetiknya, yaitu pada Fe = 10-5 atau Fe = 10-6. Proses korosi besi terjadi
bila potensial antar muka naik kedalam daerah predominan ion Fe.
Apabila potensial antar muka berada dalam daerah kestabilan Fe2O3.

LABORATORIUM KIMIA DAN KOROSI TA 2015/2016 17


Laporan Akhir Praktikum Korosi Dan Perlindungan Logam Kelompok 5

2.3 METODOLOGI PRAKTIKUM


2.3.1 SKEMA PROSES

Siapkan Alat dan Bahan

Ampelas Spesimen (Baja ST-37)

Ukur spesimen (Baja ST-37)

Timbang spesimen (Baja ST-37)

Bersihkan spesimen (Baja ST-37)

Keringkan Spesimen (Baja ST-37)

Celupkan spesimen ke dalam larutan Aqua dm, H2SO4, NaCl,


K2CrO4, NaOH

Amati percobaan
(1x24 jam selama 7 hari)

Ukur pH dan potensial sel pada setiap pengamatan

Bersihkan logam yang telah tercelup pada larutan selama 7 hari


kemudian timbang berat akhir spesimen

Analisa dan pembahasan

Kesimpulan

Gambar 2.2 Skema Proses Pengaruh Berbagai Larutan Terhadap Korosi

LABORATORIUM KIMIA DAN KOROSI TA 2015/2016 18


Laporan Akhir Praktikum Korosi Dan Perlindungan Logam Kelompok 5

2.3.2 PENJELASAN SKEMA PROSES


1. Pertama siapkan alat dan bahan serta spesimen (Baja ST-37).
2. Bersihkan spesimen menggunakan amplas 800 & 1000 mesh.
3. Kemudian ukur spesimen.
4. lalu timbang menggunakan neraca digital.
5. Setelah ditimbang kemudian bersihkan lalu bilas spesimen
menggunakan alkohol.
6. Selanjutnya keringkan menggunakan hairdryer.
7. Setelah itu simpan spesimen ke dalam larutan Aqua dm, H2SO4, NaCl,
K2CrO4, NaOH.
8. Lakukan pengecekan selama 1x24 jam.
9. Kemudian menghitung potensial dan pH larutan serta melakukan
pengamatan visual.
10. Setelah melakukan pengecekan selama 1x24 jam dalam 7 hari
lakukan penimbangan spesimen dan ukur dimensi.
11. Setelah itu analisa praktikum yang telah dilaksanakan.
12. kemudian tarik kesimpulan.

2.3.3 GAMBAR PROSES

Baja ST-37 Pengamplasan Penimbangan

10.4
8 g

Pengamatan Pengukuran pH Pencelupan

Gambar 2.3 Gambar Proses Pengaruh Berbagai Larutan Terhadap Korosi

LABORATORIUM KIMIA DAN KOROSI TA 2015/2016 19


Laporan Akhir Praktikum Korosi Dan Perlindungan Logam Kelompok 5

2.4 ALAT DAN BAHAN


2.4.1 ALAT
 Neraca digital : 1 unit
 pH meter : 1 unit
 Potensiometer : 1 unit
 Hairdryer : 1 unit
 Kaca arloji : 1 unit
 Batang pengaduk : 1 unit
 Gelas kimia 250 ml : 5 unit
 Botol semprot : 1 unit

2.4.2 BAHAN
 Spesimen baja ST-37 : 5 buah
 Amplas 800 & 1000 mash: 1 lembar
 Aqua dm : Secukupnya
 Alkohol : Secukupnya
 Larurtan H2SO4 0,1 M : 200 ml
 Larutan NaCl 0,1 M : 200 ml
 Larutan K2CrO4 0,1 M : 200 ml
 Larutan NaOH 0,1 M : 200 ml

2.5 PENGUMPULAN DATA


2.5.1 TABEL PENGAMATAN
 Data awal spesimen tiap larutan

Tabel 2.1 Tabel Data Awal Spesimen Larutan

Panjang Lebar Tebal


Luas Berat (gr)
Larutan (mm) (mm) (mm)
Po Pi Lo Li to ti Ao Ai Wo Wi W
Aquades 49.4 49.2 31.7 30.4 1.2 1.1 3326.6 3166.4 11.65 15.68 0.03
NaCl 49.9 49.6 30.2 30.3 1.4 1.4 3238.2 3229.4 16.1 15.31 0.69

LABORATORIUM KIMIA DAN KOROSI TA 2015/2016 20


Laporan Akhir Praktikum Korosi Dan Perlindungan Logam Kelompok 5

K2CrO4 48.9 48.8 29.6 29.7 1.3 1.4 3118.8 3123.5 15.93 15.36 0.57
H2SO4 49.4 49.4 31.7 30.9 1.2 1.1 3326.6 3229.5 15.65 12.64 3.01
NaOH 49.9 50.1 30.2 32.2 1.4 1.5 3326 3475 15.65 16.09 0.44

 Tabel Pengamatan Intensitas Korosi Tiap Larutan

Tabel 2.2 Tabel Pengamatan Intensitas Korosi Pada Larutan Aquades

Gambar
Potensial
No Tanggal Intensitas korosi pH Pengamatan visual
( Ampere)
dalam larutan
Larutan tak berwarna
3.71 Tidak ada Endapan
1 14/11/15 6 Tidak ada Gelembung

Larutan sedikit keruh


Endapan titik kuning
2 15/11/15 0.045 6 Tak bergelembung

Larutan kuning keruh


Endapan titik kuning
3 16/11/15 0.0575 7.95 Tak bergelembung

Larutan coklat keruh


Endapan serat kuning
4 17/11/15 0.21 7.95 Tak bergelembung

Larutan coklat keruh


Endepan serat kuning
5 18/11/15 0.85 8.1 gelap
Tak bergelembung

Larutan kuning keruh


Endapan titik kuning
6 19/11/15 1.45 7.39 Tak bergelembung

LABORATORIUM KIMIA DAN KOROSI TA 2015/2016 21


Laporan Akhir Praktikum Korosi Dan Perlindungan Logam Kelompok 5

Larutan coklat keruh


Endapan coklat halus
7 20/11/15 1.44 6.49 Tak bergelembung

Tabel 2.3 Tabel Pengamatan Intensitas Korosi Pada Larutan NaCl

Gambar
Potensial
No Tanggal Intensitas korosi pH Pengamatan visual
( Ampere)
dalam larutan
Larutan tak berwarna
Tidak ada Endapan
1.59
1 14/11/15 6 Tidak ada Gelembung

Larutan sedikit keruh


Endapan titik kuning
Tak bergelembung
2 15/11/15 0.017 6

Larutan coklat keruh


Endapan kuning gelap
3 16/11/15 0.027 6.6 Tak bergelembung

Larutan coklat keruh


Endapan serat halus
4 17/11/15 -0.18 6.55 Tak bergelembung

Larutan coklat keruh


Endepan serat halus
5 18/11/15 1.09 8.1 Tak bergelembung

Larutan kuning keruh


Endapan kuning halus
6 19/11/15 2.60 6.3 Tak bergelembung

LABORATORIUM KIMIA DAN KOROSI TA 2015/2016 22


Laporan Akhir Praktikum Korosi Dan Perlindungan Logam Kelompok 5

Larutan coklat keruh


Endapan endapan
7 20/11/15 0.3 5.89 coklat
Tak bergelembung

Tabel 2.4 Tabel Pengamatan Intensitas Korosi Pada Larutan NaOH

Gambar
Potensial
No Tanggal Intensitas korosi pH Pengamatan visual
( Ampere)
dalam larutan
Larutan tak berwarna
Tidak ada Endapan
1 14/11/15 0.74 13 Tidak ada Gelembung

Larutan sedikit keruh


Endapan titik kuning
Tak bergelembung
2 15/11/15 -0.09 13

Larutan coklat keruh


Endapan kuning gelap
3 16/11/15 -0.05 12.01 Tak bergelembung

Larutan coklat keruh


Endapan serat halus
4 17/11/15 -0.04 12.62 Tak bergelembung

Larutan coklat keruh


Endepan serat halus
5 18/11/15 0.15 10.33 Tak bergelembung

Larutan kuning keruh


Endapan kuning halus
6 19/11/15 1.99 10.13 Tak bergelembung

LABORATORIUM KIMIA DAN KOROSI TA 2015/2016 23


Laporan Akhir Praktikum Korosi Dan Perlindungan Logam Kelompok 5

Larutan coklat keruh


Endapan endapan
coklat
7 20/11/15 -0.6 10.18
Tak bergelembung

Tabel 2.5 Tabel Pengamatan Intensitas Korosi Pada Larutan H2SO4

Gambar
Potensial
No Tanggal Intensitas korosi pH Pengamatan visual
( Ampere)
dalam larutan
Larutan tak berwarna
Tidak ada Endapan
1 14/11/15 1.01 2 Bergelembung

Larutan tak berwarna


Tidak ada Endapan
Bergelembung
2 15/11/15 0.072 2

Larutan tak berwarna


Tidak ada Endapan
3 16/11/15 0.095 3.64 Bergelembung

Larutan tak berwarna


Endapan halus
4 17/11/15 0.44 3.93 Bergelembung

Larutan coklat keruh


Endapan halus
5 18/11/15 0.1 3.96 Tak bergelembung

LABORATORIUM KIMIA DAN KOROSI TA 2015/2016 24


Laporan Akhir Praktikum Korosi Dan Perlindungan Logam Kelompok 5

Larutan coklat redup


Endapan halus
6 19/11/15 1.42 3.95 Tak bergelembung

Larutan coklat halus


Endapan coklat halus
7 20/11/15 2.67 3.84 Tak bergelembung

Tabel 2.6 Tabel Pengamatan Intensitas Korosi Pada Larutan K2CrO4

Gambar
Potensial
No Tanggal Intensitas korosi Ph Pengamatan visual
( Ampere)
dalam larutan
Larutan kuning
menyala
1 14/11/15 3.2 8 Tidak ada endapan
Tidak ada gelembung

Larutan kuning
menyala
Endapan berbentuk
2 15/11/15 0.022 8
serat
Tidak ada gelembung

Larutan kuning
menyala
3 16/11/15 0.1 7.72 Endapan serat
Tidak ada gelembung

Larutan kuning
menyala
4 17/11/15 0.1 7.81 Endapan serat kuning
Tak bergelembung

Larutan kuning
menyala
5 18/11/15 0.94 7.68 Endepan kuning halus
Tak bergelembung

LABORATORIUM KIMIA DAN KOROSI TA 2015/2016 25


Laporan Akhir Praktikum Korosi Dan Perlindungan Logam Kelompok 5

Larutang kuning
menyala
6 19/11/15 2.74 7.68 Endapan kuning
keruh
Tak bergelembung
Larutan kuning
menyala
Endapan endapan
7 20/11/15 0.86 7.72
coklat menggumpal
Tak bergelembung

2.5.2 DIAGRAM POURBAIX


 Diagram Pourbaix Aquades

Gambar 2.4 Diagram Pourbaix Larutan Aquades

LABORATORIUM KIMIA DAN KOROSI TA 2015/2016 26


Laporan Akhir Praktikum Korosi Dan Perlindungan Logam Kelompok 5

 Diagram Pourbaix NaCl

Gambar 2.5 Diagram Pourbaix Larutan NaCl

LABORATORIUM KIMIA DAN KOROSI TA 2015/2016 27


Laporan Akhir Praktikum Korosi Dan Perlindungan Logam Kelompok 5

 Diagram Pourbaix NaOH

Gambar 2.6 Diagram Pourbaix Larutan NaOH

LABORATORIUM KIMIA DAN KOROSI TA 2015/2016 28


Laporan Akhir Praktikum Korosi Dan Perlindungan Logam Kelompok 5

 Diagram Pourbaix H2SO4

Gambar 2.7 Diagram Pourbaix Larutan H2SO4

LABORATORIUM KIMIA DAN KOROSI TA 2015/2016 29


Laporan Akhir Praktikum Korosi Dan Perlindungan Logam Kelompok 5

 Diagram Pourbaix K2CrO4

Gambar 2.8 Diagram Pourbaix Larutan K2CrO4

LABORATORIUM KIMIA DAN KOROSI TA 2015/2016 30


Laporan Akhir Praktikum Korosi Dan Perlindungan Logam Kelompok 5

2.6 PENGOLAHAN DATA


2.6.1 PERHITUNGAN

 Pembuatan Larutan

NaOH : gr

= 0,8 gr

NaCl : gr =

= 1,17 gr

K2CrO4 : gr =

= 3,88 gr

H2SO4 20%

H2SO4 : 1,8

M =

= = 3,67

V1 C 1 = V2C2

V1 . 3,67 = 200 . 0,1

V1 = 5,5 mL

LABORATORIUM KIMIA DAN KOROSI TA 2015/2016 31


Laporan Akhir Praktikum Korosi Dan Perlindungan Logam Kelompok 5

 Perhitungan Luas Penampang


 Spesimen Aquades

Ao = 2 ( Po x lo) + 2 ( lo x to ) + 2 ( lo x to )

= 2 ( 49.4 x 31.7 ) + 2 ( 31.7 x 1.2 ) + 2 ( 49.4 x 1.2)

= 3326.6 mm2

Ai = 2 ( Pi x li ) + 2 ( li x ti ) + 2 ( li x ti )

= 2 (49.2 x 30.4 ) + 2 ( 49.2 x 1.1 ) + 2 ( 30.4 x 1.1)

= 3166.48 mm2 = 4.9 inch2

 Spesimen NaCl

Ao = 2 ( Po x lo) + 2 ( lo x to ) + 2 ( lo x to )

= 2 ( 49.9 x 30.2 ) + 2 ( 49.9 x 1.4 ) + 2 ( 30.2 x 1.4 )

= 3238.24 mm2

Ai = 2 ( Pi x li ) + 2 ( li x ti ) + 2 ( li x ti )

= 2 ( 49.6 x 30.2 ) +2 (49.9 x 1.4 ) + 2 ( 30.3 x 1.4 )

= 3229.48 mm2 = 5,00 inch2

 Spesimen K2CrO4
Ao = 2 ( Po x lo) + 2 ( lo x to ) + 2 ( lo x to )

= 2 (48.9 x 29.65 ) + 2 ( 48.9 x 1.35 ) + 2 ( 29.65 x 1.35 )

= 3111.85 mm2

Ai = 2 ( Pi x li ) + 2 ( li x ti ) + 2 ( li x ti )

= 2 ( 48.8 x 29.75 ) + 2 (48.8 x 1.4 ) + 2 ( 29.75 x 1.4 )

= 3123.54 mm2 = 4.84 inch2

LABORATORIUM KIMIA DAN KOROSI TA 2015/2016 32


Laporan Akhir Praktikum Korosi Dan Perlindungan Logam Kelompok 5

 Spesimen H2SO4

Ao = 2 ( Po x lo) + 2 ( lo x to ) + 2 ( lo x to )

= 2 ( 49.4 x 31.7 ) + 2 ( 49.4 x 1.2 ) + 2 ( 31.7 x 1.2)

= 3376.6 mm2

Ai = 2 ( Pi x li ) + 2 ( li x ti ) + 2 ( li x ti )

= 2 ( 49.4 x 30.9 ) + 2 (49.4 x 1.1 ) + 2 ( 30.9 x 1.1 )

= 3229.58 mm2 = 5.009 inch2


 Spesimen NaOH

Ao = 2 ( Po x lo) + 2 ( lo x to ) + 2 ( lo x to)

= 2 ( 49.9 x 30.2 ) + 2 ( 49.9 x 1.4 ) + 2 ( 30.2 x 1.4 )

= 3238.24 mm2

Ai = 2 ( Pi x li ) + 2 ( li x ti ) + 2 ( li x ti )

= 2 ( 50.1 x 32.2 ) +2 ( 50.1 x 1.5 ) + 2 ( 32.2 x 1.5 )

= 3473.34 mm2 = 5.383 inch2

 Perhitungan Laju Korosi


 Aquades
w = 30 mg

korosi =

= 2.494 mpy

LABORATORIUM KIMIA DAN KOROSI TA 2015/2016 33


Laporan Akhir Praktikum Korosi Dan Perlindungan Logam Kelompok 5

 NaCl

w = 690 mg

korosi =

= 56.18 mpy

 K2CrO4

w = 570 mg

korosi =

= 57.49 mpy

 H2SO4

w = 3010 mg

korosi =

= 244.87 mpy

LABORATORIUM KIMIA DAN KOROSI TA 2015/2016 34


Laporan Akhir Praktikum Korosi Dan Perlindungan Logam Kelompok 5

 NaOH

w = 440 mg

korosi =

= 33.309 mpy

2.6.2 PERSAMAAN REAKSI

 Reaksi kimia pada spesimen di dalam larutan Asam


Anoda : Fe + x4 = - 0.44 v
: + x4 = 0.77 v
Katoda : + + 2 O x3 = -1.23 v
4Fe + 3 + +6 O = -0.9

 Reaksi kimia pada specimen dalam larutan Basa


Anoda : Fe + x4 = - 0.44 v
: + x4 = 0.77 v
Katoda : + + 2 O x3 = -0,4 v
4Fe + 3 + +6 O = -0.6 v

 Reaksi kimia pada spesimen dalam Aquades


Anoda : Fe +
Katoda : 4 H2O + 2e- 2
4Fe + 4H2O + 2 H2 + 4 OH

LABORATORIUM KIMIA DAN KOROSI TA 2015/2016 35


Laporan Akhir Praktikum Korosi Dan Perlindungan Logam Kelompok 5

2.7 ANALISA DAN PEMBAHASAN


Berdasarkan data yang didapatkan pada praktikum modul 1 yaitu
mengenai pengaruh beberapa larutan terhadap korosi yaitu sebagai berikut.
Pada spesimen yang dicelupkan ke dalam larutan aquades, spesimen
tersebut mengalami proses korosi yang begitu intensif dan juga bertahap.
Dengan laju korosi sebesar 2.494 mpy dan daerah korosi yang ditunjukan
menurut diagram pourbaix yaitu berada pada daerah passive.
Kemudian pada spesimen yang dicelupkan ke dalam larutan NaCl,
spesimen tersebut mengalami korosi, akan tetapi pada pengamatan visual
proses munculnya korosi spesimen justru terlihat pada akhir-akhir
pengecekan. Pada spesimen ini, didapatkan laju korosi sebesar 56.18 mpy dan
jika diamati melalui diagram pourbaix yaitu berada pada daerah passive.
Selanjutnya pada spesimen yang dicelupkan pada larutan K2CrO4,
spesimen mengalami korosi namun hanya sebagian titik kecil spesimen yaitu
terletak pada bagian belakang spesimen dan itupun terlihat pada hari ke-4
sampai dengan hari ke-7 pengecekan. Dan dimana didapatkan laju korosi
sebesar 57.49 mpy dan jika diamati melalui diagram puorbaix yaitu berada
pada daerah passive.
Untuk spesimen yang dicelupkan pada larutan H2SO4, spesimen tersebut
mengalami proses korosi yang sama dengan spesimen yang dicelupkan pada
larutan K2CrO4 yaitu korosi terjadi pada hari ke-4 sampai dengan hari ke-7
pengecekan. Dimana laju korosi didapat dengan nilai 244.87 mpy dan jika
diamati melalui diagram pourbaix yaitu berada pada daerah immunity.
Dan pada spesimen terakhir yaitu spesimen yang dicelupkan pada larutan
NaOH, spesimen tersebut tidak mengalami korosi sedikitpun. Adapun pada
saat pengecekan yang terlihat seperti korosi pada spesimen itu hanyalah
endapan yang menempel pada spesimen. Dimana pada spesimen ini laju
korosi didapat sebesar 33.309 mpy dan berada pada daerah passive jika dilihat
menggunakan diagram pourbaix.
Jadi, pada kelima spesimen yang diamati dapat dianalisa spesimen yang
mudah terkorosi disebabkan oleh larutan yang bersifat asam. Contoh yang
terlihat sekali yaitu pada spesimen H2SO4, sedangkan spesimen yang

LABORATORIUM KIMIA DAN KOROSI TA 2015/2016 36


Laporan Akhir Praktikum Korosi Dan Perlindungan Logam Kelompok 5

dicelupkan pada larutan yang bersifat basa itu tidak mudah terkorosi.
Contohnya spesimen yang dicelupkan pada larutan NaOH.

2.8 KESIMPULAN DAN SARAN


2.8.1 KESIMPULAN
 Faktor yang mempengaruhi laju korosi yaitu waktu, besar
potensial, pH, lingkungan, luas penampang.
 Dari kelima spesimen yang mengalami korosi secara intensif yaitu
spesimen yang dicelupkan pada larutan aquades.
 Sedangkan yang tidak terkorosi yaitu spesimen yang dicelupkan
pada larutan NaOH.
 Larutan yang bersifat asam dapat menyebabkan korosif.

2.8.2 SARAN
Harus lebih dipersiapkan lagi alat dan bahan sewaktu praktikum dan
memahami isi dari modul praktikum.

LABORATORIUM KIMIA DAN KOROSI TA 2015/2016 37