Anda di halaman 1dari 2

PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM UPAYA PENCEGAHAN DAN

PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI

Dalam upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi, seringkali masyarakat hanya
membebankan tugas tersebut kepada Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (KPK)
dan/atau kepada para penegak hukum lainnya saja. Kurangnya kesadaran masyarakat untuk ikut
berperan serta aktif dalam upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi
mengakibatkan upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi tersebut menjadi
kurang efektif dan tindak pidana korupsi tetap merajalela, tidak hanya di kalangan para pejabat
negara dan/atau korporasi saja tapi juga di tengah-tengah kalangan masyarakat itu sendiri. Itulah
sebabnya sangat diharapkan peran serta aktif, tidak hanya dari pihak KPK dan/atau penegak
hukum lainnya saja melainkan dari seluruh pihak,termasuk dari pihak kalangan masyarakat
umum pula. Di samping itu, ketentuan Pasal 41 ayat (1) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999
tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-
Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999
tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana
Korupsi) pun telah mengamanahkan secara tegas kepada masyarakat agar kiranya dapat berperan
serta membantu upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi. Hal tersebut tentu
saja dimaksudkan agar dapat meningkatkan efektifitas upaya pencegahan dan pemberantasan
tindak pidana korupsi.

Peran serta masyarakat yang dimaksud dalam ketentuan Pasal 41 ayat (1) Undang-Undang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi tersebut adalah peran aktif perorangan, Organisasi
Masyarakat, atau Lembaga Swadaya Masyarakat dalam pencegahan dan pemberantasan tindak
pidana korupsi (Pasal 1 angka 1 Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2000 tentang Tata Cara
Pelaksanaan Peran Serta Masyarakat Dan Pemberian Penghargaan Dalam Pencegahan Dan
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, yang selanjutnya disebut PP No. 71 Tahun 2000).
Dengan peran serta tersebut diharapkan masyarakat akan menjadi lebih proaktif berperan secara
langsung untuk melaksanakan kontrol sosial terhadap tindak pidana korupsi. Di samping itu,
peran serta masyarakat tersebut juga dimaksudkan untuk mewujudkan hak dan tanggung jawab
masyarakat dalam penyelenggaraan negara yang bersih dari tindak pidana korupsi. Perwujudan
hak dan tanggung jawab sebagaimana dimaksud tersebut meliputi :

1. Hak mencari, memperoleh, dan memberikan informasi adanya dugaan telah terjadi tindak
pidana korupsi.
Artinya setiap orang, Organisasi Masyarakat, atau Lembaga Swadaya Masyarakat berhak
mencari, memperoleh, dan memberikan informasi adanya dugaan telah terjadi tindak pidana
korupsi.

2. Hak untuk memperoleh pelayanan dalam mencari, memperoleh, dan memberikan informasi
adanya dugaan telah terjadi tindak pidana korupsi kepada penegak hukum yang menangani
perkara tindak pidana korupsi.
Artinya setiap orang, Organisasi Masyarakat, atau Lembaga Swadaya Masyarakat berhak
memperoleh pelayanan dari penegak hukum atau KPK dalam hal mencari, memperoleh, dan
memberikan informasi adanya dugaan telah terjadi tindak pidana korupsi yang disampaikan
kepada penegak hukum atau KPK. Penegak hukum yang dimaksud disini adalah aparat
kepolisian dan kejaksaan.

3. Hak menyampaikan saran dan pendapat secara bertanggungjawab kepada penegak hukum
yang menangani perkara tindak pidana korupsi.
Artinya setiap orang, Organisasi Masyarakat, atau Lembaga Swadaya Masyarakat berhak
menyampaikan saran dan pendapat kepada penegak hukum dan/atau KPK mengenai perkara
tindak pidana korupsi. Penyampaian informasi, saran, dan pendapat harus dilakukan secara
bertanggungjawab sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, norma
agama, kesusilaan, dan kesopanan.

4. Hak untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan tentang laporannya yang diberikan kepada
penegak hukum dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari.
Artinya penegak hukum atau KPK wajib memberikan jawaban secara lisan atau tertulis atas
informasi, saran, atau pendapat dari setiap orang, Organisasi Masyarakat, atau Lembaga Swadaya
Masyarakat dalam waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal informasi,
saran, atau pendapat diterima. Dalam hal tertentu penegak hukum atau KPK dapat menolak
memberikan isi informasi atau memberikan jawaban atas saran atau pendapat sebagaimana yang
dimaksud tersebut sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Yang dimaksud
dengan "dalam hal tertentu" adalah dalam hal mengenai sesuatu masalah diatur lain oleh
peraturan perundang-undangan yang berlaku, misalnya yang berkaitan dengan kerahasiaan
(rahasia bank dan rahasia pos).

5. Hak untuk memperoleh perlindungan hukum dalam hal :


a. Melaksanakan haknya sebagaimana dimaksud dalam nomor 1, 2 dan 3.
b. Diminta hadir dalam proses penyelidikan,penyidikan, dan di sidang pengadilan sebagai saksi
pelapor, saksi, atau saksi ahli sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.

Perlindungan hukum terhadap pelapor yang menyampaikan informasi, saran dan/atau pendapat
adanya dugaan telah terjadi tindak pidana korupsi sebagaimana telah dijelaskan di atas,
dimaksudkan untuk memberikan rasa aman bagi pelapor yang dilaksanakan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan. Artinya setiap orang, Organisasi Masyarakat, atau
Lembaga Swadaya Masyarakat yang menyampaikan informasi, saran dan/atau pendapat adanya
dugaan telah terjadi tindak pidana korupsi berhak atas perlindungan hukum, baik mengenai status
hukum maupun rasa aman. Yang dimaksud dengan "status hukum" adalah status seseorang pada
waktu menyampaikan suatu informasi, saran, atau pendapat kepada penegak hukum atau KPK
dijamin tetap, misalnya status sebagai pelapor tidak diubah menjadi sebagai tersangka. Akan
tetapi, perlindungan mengenai status hukum sebagaimana dimaksud tersebut tidak akan diberikan
apabila:
1. Dari hasil penyelidikan atau penyidikan terdapat bukti yang cukup yang memperkuat
keterlibatan pelapor dalam tindak pidana korupsi yang dilaporkan.
2. Terhadap pelapor dikenakan tuntutan dalam perkara lain.

Dalam hal memberikan rasa aman terhadap pelapor, penegak hukum atau KPK wajib
merahasiakan kemungkinan dapat diketahuinya identitas pelapor atau isi informasi,saran,atau
pendapat yang disampaikan. Apabila diperlukan, atas permintaan pelapor, penegak hukum atau
KPK dapat memberikan pengamanan fisik terhadap pelapor maupun keluarganya (pasal 6 PP No.
71 Tahun 2000).

Di samping itu, untuk memberi motivasi yang tinggi kepada masyarakat, maka dalam PP No. 71
Tahun 2000 diatur pula pemberian penghargaan kepada masyarakat yang berjasa terhadap upaya
pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi berupa piagam dan/atau premi.

Untuk mengetahui dan mempelajari lebih lanjut dan lebih rinci mengenai PERAN SERTA
MASYARAKAT DALAM UPAYA PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN TINDAK
PIDANA KORUPSI ini, silahkan baca dan pelajari Undang-Undang Pemberantasan Tindak
Pidana Korupsi, PP No. 71 Tahun 2000 serta peraturan perundang-undangan lainnya yang
berkaitan dengan upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi.

Marilah kita turut serta berperan aktif dalam upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana
korupsi untuk mewujudkan penyelenggaraan negara yang bersih dan bebas dari tindak pidana
korupsi