Anda di halaman 1dari 17

SERIAL TATA GERAK LITURGI

& SERBA-SERBINYA
1. PENDAHULUAN

Gereja Katolik ini kok ribet? Mau misa aja banyak banget aturannya! Berdiri, duduk, berlutut,
dll.. Mau menyembah Tuhan aja kok diatur-atur.. Ya suka-suka gw dong mau ikut apa nggak..

Eits, HATI-HATI.. Statement tersebut acap kali kita dengar keluar dari mulut umat Katolik..
Kalau dilihat sekilas, apa iya tata gerak liturgi itu sulit utk dilakukan? Sebagai manusia yang
sehat, apakah sulit untuk berdiri, duduk, berlutut, membungkukkan badan, membuat tanda salib?
Apakah kita termasuk orang-orang yang bersyukur karena masih mampu menggerakkan anggota
badan kita?

MULIAKANLAH ALLAH DENGAN TUBUH-MU (1 Korintus 6: 19)


Sadarkah kita, pada saat kita mengikuti Perayaan Ekaristi, kita memuliakan Allah dan
menyembahNya dengan seluruh anggota panca indera kita? Dengan seluruh tubuh, jiwa dan
raga? Bukan sekedar hati atau yang penting hatinya, yang lain ga penting.

Pertanyaannya, mengapa kita tidak melakukannya? Apa alasannya? Sulit? Malas? Ataukah kita
melakukan tapi dengan hampa karena tidak tau untuk apa kita melakukan itu? Tahukah kita apa
makna dari gerakan-gerakan tersebut?
Pada postingan kali ini, kita akan disuguhi serial mengenai tata gerak liturgi dan maknanya..
Selamat mengikuti!!!
2. MEMBUAT TANDA SALIB DENGAN AIR SUCI di PINTU MASUK GEREJA

Siapa sih orang Katolik yang tidak tahu tanda Salib? Rasanya orang Katolik sedikit banyak
dikenal lewat tanda salib. Ketika kita memasuki Gereja Katolik, apa yang kita cari atau kita
temukan? Bejana air suci. Lantas apa yang harus kita lakukan dengan air suci itu? Tentu saja
membuat tanda salib.

Jutaan umat Katolik setiap minggu bahkan setiap hari membuat tanda salib dengan air suci
sebelum memasuki Gereja. Sebenarnya apa sih maknanya? Jangan-jangan kita melakukan ini
tanpa makna dan menganggapnya hanya sekedar ritual sebelum masuk Gereja/Rumah Tuhan.

Dalam sejarah bangsa Yahudi dalam Kitab Perjanjian Lama ditemukan bahwa AIR digunakan
untuk pembasuhan diri dari segala dosa dan kenajisan. Dalam Bait Allah juga ditemukan bejana
besar berisi air, dimana para imam membersihkan tangan dan kakinya sebelum
mempersembahkan kurban.

Gereja Katolik juga mempunyai bejana-bejana berisi air suci untuk berkat karena tiga alasan:

1. Sebagai tanda sesal atas dosa,


2. Sebagai perlindungan dari yang jahat dan
3. Sebagai tanda peringatan akan pembaptisan kita.

Sesal atas dosa digambarkan dengan membersihkan diri dengan air seperti dinyatakan dalam
Mazmur 51: “Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku
menurut rahmat-Mu yang besar! Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah
aku dari dosaku! Bersihkanlah aku dari pada dosaku dengan hisop, maka aku menjadi tahir,
basuhlah aku, maka aku menjadi lebih putih dari salju!” (3-4, 9). (Hisop adalah tumbuh-
tumbuhan yang kecil, yang batang dan daunnya dipergunakan untuk memercikkan barang cair).

Kedua, air suci melindungi kita dari yang jahat. Dalam doa pemberkatan air dalam ibadat, kita
berdoa: “Tuhan, Allah yang Mahakuasa, pencipta segala yang hidup, baik tubuh maupun jiwa,
kami mohon sudilah memberkati air ini, yang kami gunakan dalam iman untuk mengampuni
dosa-dosa kami dan melindungi kami dari segala kelemahan dan kuasa jahat. Tuhan, karena belas
kasihan-Mu berilah kami air hidup, yang senantiasa memancar sebagai mata air keselamatan;
bebaskan kami, jiwa dan raga, dari segala mara bahaya, dan ijinkan kami menghadap hadirat-Mu
dengan hati yang murni.”

Yang terakhir, air suci mengingatkan kita akan pembaptisan kita, ketika oleh karena seruan
kepada Tritunggal Mahakudus dan penuangan air suci, kita dibebaskan dari dosa asal dan dari
segala dosa, dicurahi rahmat pengudusan, dipersatukan dalam Gereja, dan diberi gelar putera-
puteri Allah. Dengan membuat Tanda Salib dengan air suci, kita disadarkan bahwa kita dipanggil
untuk memperbaharui janji-janji baptis kita, yakni menolak setan, menolak segala karya-
karyanya, dan segala janji-janji kosongnya, serta mengaku syahadat iman kita. Sekali lagi, kita
menyesali dosa-dosa kita, agar kita dapat memanjatkan doa-doa kita dan beribadat kepada Tuhan
dengan hati murni dan penuh sesal. Seperti air dan darah yang mengalir dari Hati Yesus yang
Mahakudus sementara Ia tergantung di atas kayu salib – yang melambangkan Sakramen Baptis
dan Sakramen Ekaristi Kudus yang sungguh luar biasa, tindakan mengambil air suci dan
membuat Tanda Salib mengingatkan kita akan Baptis kita dalam mempersiapkan diri menyambut
Ekaristi Kudus.

Maka tindakan mengambil air suci sebelum memasuki gereja merupakan peringatan dan
pembaruan pembaptisan kita. Juga, penggunaan air suci merupakan suatu penyegaran, yang
membebaskan kita dari penindasan si jahat. St. Theresia dari Avila mengajarkan, “tidak ada suatu
pun yang membuat roh-roh jahat lari tunggang langgang – tanpa memalingkan muka – kecuali air
suci.” (St. Theresia Avila, The Book of Her Life).

Jadi jika disimpulkan, pengambilan air suci di pintu gereja adalah untuk mengingatkan kita akan
makna Pembaptisan kita (yaitu pertobatan, pengudusan, kehidupan baru di dalam Kristus dalam
kesatuan dengan Allah Bapa dan Roh Kudus, dan partisipasi kita sebagai anak- anak angkat Allah
di dalam misi Kristus) dan pengusiran roh-roh jahat.

PERLUKAH KITA MEMBUAT TANDA SALIB LAGI KETIKA KELUAR GEREJA?

Karena tujuannya ialah penyucian untuk memasuki tempat kudus, tindakan itu seyogyanya
dilakukan HANYA pada saat memasuki Gereja, dan tidak perlu dilakukan pada saat
meninggalkan Gereja. Kebiasaan demikian itu dilakukan pada Abad Pertengahan. Namun
demikian, banyak umat terbiasa melakukannya baik pada saat datang maupun pada saat pulang.
Karena hal ini bukanlah suatu tindakan yang salah atau berdosa, maka tetap boleh saja dilakukan.

Pembuatan tanda salib dengan air suci pada saat pulang (tentu bukan lagi artinya sebagai
penyucian sebelum memasuki tempat kudus) bisa diartikan sebagai penyucian diri kita untuk
melaksanakan tugas perutusan kita di dunia. Penyucian yang demikian mirip dengan makna
pemercikan dengan air suci.

Jadi, setelah tau maknanya, berhentilah membuat tanda salib dengan air suci secara asal-asalan
atau sambil lalu.. Yuk kita lakukan dengan pemahaman dan penghayatan yang benar.
3. MENGHORMATI ALTAR & TABERNAKEL

Ketika orang Katolik memasuki Gereja, ia membuat tanda salib. Lalu bergerak mencari tempat
duduk. Eits, nyelonong duduk ajah, ga liat di depan ada altar Tuhan dan Tabernakel yah? grin
emotikon

Sebelum duduk dan keluar meninggalkan kursi, kita berlutut terlebih dahulu dengan lutut sampai
ke tanah ke arah panti imam.

Kenapa sih harus begitu? Kok ribet amat ya? Ya jelas dong, Gereja kan ga sama dengan gedung
bioskop atau mall. Tapi seringkali kita melihat umat yang tidak berlutut dan kalaupun berlutut,
asal-asal aja yang penting udah lakuin, beres.

Sebenarnya tahu ga sih maknanya kalo kita berlutut dulu sebelum duduk dan keluar
meninggalkan kursi kita?
Di panti imam terdapat altar, mimbar, dan kursi imam. Ketiga perabot ini ibaratnya satu paket
yang amat penting dan bermakna. Ketiganya menopang tindakan-tindakan liturgis selama Misa.
Imam selebran akan secara bertahap menggunakan perabot itu. Perabot pertama yang dituju
adalah altar. Namun, dalam Ritus Pembuka, altar baru sebatas dituju untuk dihormati dengan
beberapa sikap tubuh, baik yang secara khusus dilakukan oleh imam maupun oleh petugas liturgi
lainnya. Tuh kan petugas liturgi aja menghormati altar Tuhan, kenapa kita enggak? Emang ada
apa dengan Altar?

PUMR 296 merumuskan altar sebagai ”tempat untuk menghadirkan kurban Salib dengan
menggunakan tanda-tanda sakramental. Sekaligus altar merupakan meja perjamuan Tuhan, dan
dalam Misa umat Allah dihimpun di sekeliling altar untuk mengambil bagian dalam perjamuan
itu. Kecuali itu, altar juga merupakan pusat ucapan syukur yang diselenggarakan dalam Misa.”
Ada tiga metafora yang saling melengkapi: altar untuk kurban Tubuh-Darah Kristus, meja Tuhan
untuk perjamuan di akhir zaman, dan pusat pengucapan syukur umat dalam kesatuan dengan
seluruh Gereja. Altar itu sebaiknya permanen, materinya batu, dan berbentuk meja, sehingga
secara jelas dan lestari menghadirkan Kristus, Sang Batu Hidup (1 Ptr 2:4).

Lilin ditaruh di atas atau di sekitar altar, sesuai dengan bentuk altar dan tata ruang panti imam. Di
atas atau di dekat altar hendaknya dipajang sebuah salib dengan sosok Kristus tersalib. Salib itu
harus mudah dilihat oleh seluruh umat. Semuanya harus ditata secara serasi, dan tidak boleh
menghalangi pandangan umat, sehingga umat dapat melihat dengan jelas apa yang terjadi di altar
atau yang diletakkan di atasnya (PUMR 304-308). Lebih lanjut lihat:
http://www.hidupkatolik.com/2011/06/15/menghormati-altar-dan-
tabernakel#sthash.r8JyzBtB.dpuf

Mengingat makna dan keistimewaannya, maka altar sebagai simbol Kristus pun dihormati
dengan beberapa cara. Semua petugas membungkuk pada altar ketika menghampirinya dan
hendak memulai tugas. Ketika Ritus Pembuka imam selebran menciumnya, lalu jika perlu juga
mendupai altar dan salib. Dalam Ritus Penutup, sebelum meninggalkan panti imam, ia kembali
mencium dan membungkuk lagi bersama petugas lainnya.

SELAIN ADA ALTAR, ADA APA LAGI YANG HARUS KITA HORMATI?

Seringkali ada juga tabernakel di panti imam. Idealnya, tabernakel disendirikan di sebuah kapel
khusus yang dapat dijangkau dengan mudah dari panti imam. Tabernakel memang sebenarnya tak
diperhitungkan sebagai bagian dalam Misa. Fungsinya berkaitan dengan ritual setelah Misa,
yakni untuk menyimpan Tubuh Kristus yang belum disantap dalam Misa atau yang dikhususkan
bagi orang sakit yang tak bisa hadir dalam Misa dan bagi kegiatan adorasi.

Letak tabernakel di panti imam juga tak seragam. Ada yang di belakang atau samping altar.
Tabernakel dihormati oleh setiap petugas yang melewati atau menghampirinya. Jika di belakang
altar terdapat tabernakel yang berisi Sakramen Mahakudus, maka penghormatan awal untuk altar
dijadikan satu dengan untuk tabernakel, yakni dengan cara berlutut. Berlutut adalah sikap hormat
tertinggi yang khusus diberikan bagi Sakramen Mahakudus. Simbolsimbol Kristus lainnya
(imam, Kitab Injil, altar, salib) dihormati dengan cara membungkukkan badan.

Jadi penghormatan terhadap tabernakel dan altar Tuhan kita lakukan dengan berlutut (lutut
menyentuh tanah). Jika di stasi/ kapel kecil, biasanya tidak ada Tabernakel, jadi kita cukup
membungkukkan badan saja.

BAGAIMANA DENGAN MEREKA YANG LANJUT USIA?

Selama kondisi tubuh masih sehat dan tidak ada gangguan, hal ini masih mungkin dilakukan.
(admin Pax et Bonum: Gereja pun sadar dan tahu bahwa ada umatnya yang tidak mampu secara
fisik untuk mengikuti seluruh atau sebagian tata gerak ibadah Gereja Katolik. Sikap alternatif
yang dianjurkan oleh Gereja adalah MEMBUNGKUK.) Namun, bagi kita yang masih muda,
sehat, dan segar bugar, tidak ada alasan loh untuk tidak melakukannya.
Tuhan Yesus ada di hadapanmu, apakah yang selayaknya kita lakukan selain berlutut
menyembah dan menghormati Dia?

4. MEMBUAT TANDA SALIB

Pernahkah kita melihat umat Katolik yang membuat tanda salib seperti sedang mengusir nyamuk
alias terburu-buru sehingga tidak jelas lagi gerakannya.. Mengapa demikian? Sebenarnya taukah
makna dari tanda salib?

Tanda Salib merupakan suatu gerakan yang indah, yang mengingatkan umat beriman pada salib
keselamatan sembari menyerukan Tritunggal Mahakudus. Secara teknis, Tanda Salib merupakan
sakramentali, suatu lambang sakral yang ditetapkan Gereja guna mempersiapkan orang untuk
menerima rahmat, dan yang menguduskan suatu saat atau peristiwa. Seiring pemikiran tersebut,
gerakan ini telah dilakukan sejak masa Gereja Perdana untuk memulai dan mengakhiri doa serta
Misa.

Tanda Salib adalah tanda pertama yang kita terima yaitu pada saat kita dibaptis dan tanda terakhir
yang kita terima yaitu saat kita meninggalkan dunia ini menuju kehidupan abadi. Tanda Salib
merupakan bagian yang amat penting dalam doa liturgis dan sakramen-sakramen. Dengan Tanda
Salib kita mengawali serta mengakhiri doa kita.

Membubuhkan tanda salib dengan tangan kita di kening, di dada serta di pundak kita, kita
memberkati diri kita: Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus. Amin.

Tanda Salib menyatakan berkat. Tanda Salib melambangkan Tuhan memberkati kita, Tuhan
melimpahi kita dengan berkat-berkat-Nya. Dan dengan tanda yang sama kita menyatakan
kepercayaan kita kepada Tuhan, yang daripada-Nya semua berkat berasal. Dengan Tanda Salib
kita memeluk Allah kita yang baik dengan segenap pikiran, hati serta kekuatan kita.

Tanda Salib dibuat dengan tiga jari, sebab penandaan diri tersebut dilakukan sembari menyerukan
Tritunggal Mahakudus…. Beginilah cara melakukannya: dari atas ke bawah, dan dari kanan ke
kiri, sebab Kristus turun dari surga ke bumi, dan dari Yahudi (kanan) Ia menyampaikannya
kepada kaum kafir (kiri).” Namun demikian, yang lain, membuat Tanda Salib dari kiri ke kanan,
sebab dari sengsara (kiri) kita harus beralih menuju kemuliaan (kanan), sama seperti Kristus
beralih dari mati menuju hidup, dan dari Tempat Penantian menuju Firdaus.
Mengenai gerakan membuat Tanda Salib sebelum Injil dibacakan, yaitu setelah diakon atau imam
mengatakan, “Inilah Injil Yesus Kristus menurut …,” ia dan umat beriman membuat Tanda Salib
dengan ibu jari di dahi, bibir dan dada. (Diakon atau imam juga membuat Tanda Salib pada buku
Bacaan Misa atau Injil). Hal mengenai membuat Tanda Salib sebelum Injil dibacakan, pertama
kali dicatat pada abad ke-9: Regimius dari Auxerre (wafat ± tahun 908) dalam ‘Expositio’
Penjelasan) yang ditulisnya mencatat bagaimana umat dalam kongregasi menandai dahi mereka
dan diakon menandai dahi serta dadanya. Pada abad ke-11, seperti ditegaskan oleh Paus
Inosensius III, diakon akan membuat Tanda Salib pada buku Bacaan Misa atau Injil, dan
kemudian ia, dan juga umat, akan membuat Tanda Salib pada dahi, bibir dan dada / hati. Makna
dari tiga kali menandai diri itu adalah bahwa kita ingin mendengarkan Injil dengan akal budi
yang terbuka, mewartakannya dengan bibir kita, dan mencamkan serta memeliharanya dalam hati
kita. Kita mohon pada Tuhan rahmat untuk menerima, menanggapi dan mengakui iman yang
telah kita terima dari Injil melalui Tuhan kita, Yesus Kristus, Sabda yang Menjadi Daging.

Tak peduli bagaimana orang secara teknis membuat Tanda Salib, gerakan haruslah dilakukan
dengan khidmat dan saleh. Umat beriman haruslah menyadari kehadiran Tritunggal Mahakudus,
dogma inti yang menjadikan orang-orang Kristen sebagai “Kristen”. Juga, umat beriman haruslah
ingat bahwa Salib adalah tanda keselamatan kita: Yesus Kristus, sungguh Allah yang menjadi
sungguh manusia, yang mempersembahkan kurban sempurna bagi penebusan dosa-dosa kita di
atas altar salib. Tindakan sederhana namun mendalam ini membuat setiap orang beriman sadar
akan betapa besar kasih Allah bagi kita, kasih yang lebih kuat daripada maut dan akan janji-janji
kehidupan abadi. Demi alasan-alasan yang tepat, indulgensi sebagian diberikan kepada mereka
yang menandari dirinya dengan Tanda Salib dengan khidmat, sambil menyerukan, “Dalam nama
Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus” (Enchirdion of Indulgences, No. 55). Oleh sebab itu, marilah
setiap kita membuat Tanda Salib dengan benar dan khidmad serta tidak dengan sembarangan
ataupun ceroboh.

Kita membuat tanda salib saat:


1. Memasuki Gereja dengan air suci, berarti kita mengingat Sakramen Pembaptisan yang kita
terima.. Bagaimana jika belum dibaptis? Mereka tetap boleh membuat tanda salib dgn air suci..
2. Mengawali dan menutup Perayaan Ekaristi..
3. Saat menerima percikan air suci, pengganti Penyataan Tobat..
4. Memulai bacaan Injil dengan membuat tanda salib pada dahi, mulut, dan dada.. Artinya kita
mengungkapkan hasrat agar budi diterangi, mulut disanggupkan untuk mewartakan, dan hati
diresapi oleh Sabda Tuhan..

Di luar itu, apakah BOLEH membuat Tanda Salib? Boleh, hanya saja perlu diingat bahwa
hendaknya tanda salib dibuat dengan penghayatan penuh dan makna, sehingga tanda salib tidak
hanya menjadi gerakan ritual kosong tanpa makna yang malahan mengaburkan makna tanda salib
apabila terlalu sering membuat tanda salib.. Lebih baik kita ikuti aturan yang sudah ada dalam
Tata Perayaan Ekaristi (TPE)..
5. BERLUTUT

Saat Perayaan Ekaristi Kita BERLUTUT saat:

1. Mengucapkan Doa Tobat (Saya Mengaku), untuk menunjukkan sikap kerendahan hati dan
permohonan ampun..

2. Mengucapkan “..Yang Dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria” waktu
Syahadat, KHUSUS pada HARI RAYA NATAL DAN HARI RAYA MARIA DIBERI KABAR
OLEH MALAIKAT, sebagai tanda penghormatan pada Misteri Inkarnasi.

3. Doa Syukur Agung…. (Jika tidak ada tempat berlutut, umat hendaknya BERDIRI, bukan
duduk..)
4. Sebelum Komuni, mempersiapkan diri dan meresapkan kehadiran Yesus dalam diri, dan
Sesudah Komuni, sikap sembah sujud untuk hormat kepada Allah..

Bagaimana untuk Lansia dan orang sakit? Tentu Gereja memahami dan mengerti kondisi setiap
umat yang karena keterbatasan fisik tidak dapat berlutut.. Namun untuk kita yang masih muda
dan sehat? Kenapa tidak?

6. MENEBAH DADA

Sebelum membaca artikel ini, mari merenungkan ayat berikut dari Lukas 18:9-14 ini:

18:9 Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua
orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini: 18:10 “Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk
berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. 18:11 Orang Farisi itu berdiri
dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak
sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan
juga seperti pemungut cukai ini; 18:12 aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan
sepersepuluh dari segala penghasilanku.

18:13 Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit,
melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. 18:14 Aku
berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan
orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa
merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

***

Betapa indahnya Perayaan Ekaristi.. Dalam bagian tobat, umat Katolik mengakui dengan
kerendahan hati mengakui dosa-dosa dan kelalaian mereka di hadapan Tuhan dan sesamanya..
Mengapa kita harus malu mengakui bahwa kita telah berdosa?

Kita berdoa, “Saya mengaku kepada Allah yang Mahakuasa dan kepada saudara sekalian bahwa
SAYA TELAH BERDOSA dengan pikiran dan perkataan, dengan perbuatan dan kelalaian…”

“SAYA BERDOSA, SAYA BERDOSA, SAYA SUNGGUH BERDOSA” Pada bagian ini kita
semua menebah dada.. Mengapa? Karena dengan rendah hati dan rasa menyesal yang mendalam
kita mengakui dosa kita.. Maka, jangan asal-asalan mengucapkan doa Saya Mengaku..!
Lalu kita semua menyanyikan Lagu Tuhan Kasihanilah Kami dengan syahdu.. Kita memohon
belas kasih Tuhan karena kita semua ini berdosa.. Imam menutup tobat ini dengan mengatakan
“Semoga Allah yang Mahakuasa mengasihani kita, mengampuni dosa kita, dan mengantar kita ke
hidup yang kekal”.

Pengakuan ini, jika dilakukan dengan disposisi batin yang benar, dapat menghapuskan dosa-dosa
ringan (KGK 1434-1439), sehingga kita layak untuk mengikuti Perjamuan Tuhan dan menerima
Tubuh dan Darah Kristus. — dosa berat tetap harus diakui dalam Sakramen Tobat terlebih dahulu
(KGK 1456)

7. TATA GERAK YANG KELIRU – MENGOBROL SAAT PERAYAAN EKARISTI dan


BERMAIN GADGET

Perkembangan zaman, selain membawa banyak dampak positif, ternyata juga memiliki dampak
yang buruk, terutama dalam penghayatan iman umat dewasa ini. Dalam perayaan Ekaristi,
kesiapan batin sangat dibutuhkan. Namun, gadget-gadget kini masuk dalam Gereja Katolik dan
menyita perhatian umat dari Kristus.

Kita lihat banyak sekali umat bermain gadget sebelum dan selama Misa. Ada juga yang asik
mengobrol dengan teman sebelahnya sambil tertawa-tawa cekikikan. Ada juga yang tanpa ragu
mengangkat telepon di saat Perayaan Ekaristi berlangsung. Dalam beberapa kesempatan
mengikuti Perayaan Ekaristi di paroki-paroki di kota besar, suasana ribut bukan main terjadi
bahkan setelah komuni berlangsung.

Apa yang seharusnya dilakukan setelah menyambut Tubuh dan Darah Tuhan? Bukankah jiwa
kita seharusnya hening di hadirat Tuhan yang Tubuh-Nya baru saja kita santap? Ke manakah
Yesus? Sungguhkah Tuhan Yesus terlihat kurang menarik jika dibandingkan dengan gadget-
gadget dan cerita-cerita/ gosip kita. Sulitkah melepaskan gadget 1 jam saja dan memberikan
waktu kita kepada Kristus yang hadir di depan kita?

Berhala jaman modern ternyata bukan lagi patung. Segala sesuatu yang menyingkirkan Allah dari
hidup kita, adalah berhala.

Apakah sesungguhnya motivasi kita pergi ke Gereja? Gereja bukan tempat kumpul-kumpul dan
sosialisasi! Ingatlah bahwa Misa adalah surga di bumi, dan otomatis Gereja adalah tempat yang
sakral yang harus dihormati dengan sikap khusyuk.

Mari, bersama-sama kita mulai lagi, mengembalikan kesakralan, keheningan, dan kekhidmatan
Misa Kudus di dalam Gereja! Perubahan harus dimulai dari diri sendiri!
8. MEMBUNGKUKKAN BADAN

“Eh saya baru tau kalo ada gerakan membungkukkan badan dalam Perayaan Ekaristi!”
Sebenarnya apa ya makna gerakan ini? Mengapa kita melakukannya? Kapan kita melakukannya?

Membungkukkan badan adalah sikap penghormatan kepada Tuhan yang kedua tertinggi setelah
sikap berlutut. Berlutut sendiri merupakan sikap penghormatan tertinggi dalam liturgi Gereja
Katolik.

* PERTAMA, kita membungkukkan badan bersama-sama dengan imam saat imam membungkuk
mencium altar setelah perarakan di awal Misa. Altar melambangkan Kristus sebagai pengantara
kita layaknya mezbah, di mana Kurban dan doa kita disatukan, kemudian dibawa pada Bapa.
Maka kita menghormati altar karena di atas altar itulah Anak Domba Allah dikurbankan sebagai
pepulih dosa-dosa kita.
PERHATIKAN bahwa memang pada bagian penghormatan altar tersebut, tampaknya seolah
imam dan umat membungkuk ke arah satu sama lain, memberi kesan umat menghormati imam
dan imam menghormati umat. Namun sebenarnya yang sedang kita hormati bersama-sama adalah
ALTAR.

* KEDUA, kita membungkukkan badan ketika mengucapkan bagian SYAHADAT PARA


RASUL “Yang dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria”.

Mengapa pada bagian tersebut? Karena itulah iman Kristen, peristiwa Inkarnasi, Allah yang
menjadi manusia dalam diri Yesus, dikandung dan dilahirkan oleh seorang ibu, yakni Ibu Maria.
Inkarnasi adalah tanda dan bukti solidaritas Allah dengan manusia. Ia menyelamatkan kita
dengan menjadi sama seperti kita, bukan dengan cara sulap atau simsalabim, maka manusia
selamat, meskipun Allah pun bisa melakukannya. Inkarnasi ada supaya manusia yang
PIKIRANNYA terbatas ini memahami sungguh peristiwa penyelamatan karena Allah yang tidak
kelihatan itu kini tampak dan kelihatan dalam diri Yesus.

Maka, statement yang berbunyi “Tidak mungkin Allah itu dilahirkan dari manusia”, “Tidak
mungkin Allah diperanakkan” itu hanyalah sebuah opini/pendapat yang didasarkan pada
rasionalitas dan pikiran manusia yang sangat terbatas ini pada Sang Pencipta.

KETIGA, kita juga membungkukkan badan ke arah altar saat masuk ke gereja Katolik bahkan
saat bukan dalam rangka Perayaan Ekaristi (misalnya, mengunjungi sebuah gereja untuk
berziarah atau doa pribadi). Sebab, altar-lah tempat di mana Kristus dihadirkan kembali untuk
kita semua. Maka jika kita masuk ke dalam kapel atau stasi kecil di mana tidak ada tabernakel di
situ, kita tetaplah membungkukkan badan untuk menghormati Altar Tuhan.

Mari melakukan setiap gerakan liturgi ini dengan sepenuh hati dan jiwa, menyembah Tuhan
dengan tubuh kita yang sempurna.

9. MENDENGARKAN SABDA ALLAH DAN IMAM SELAMA PERAYAAN EKARISTI

Iman itu timbul dari pendengaran, dari pendengaran akan firman Tuhan (Roma 10:17)

Di awal hidup Gereja atau masa-masa Gereja Perdana, bahkan Yesus sendiri menyampaikan
ajarannya lewat perkataan dan para murid dengan setia mendengarkan Dia.. Setelah itu, iman
Kristen hidup tanpa Kitab Suci karena Kitab Suci baru dikanon lewat Konsili Hippo tahun 393
oleh Gereja Katolik, maka para rasul pun juga menyebarkan iman Kristen secara lisan sehingga
tulisan–tulisan dalam Kitab Suci menjadi barang langka di masa itu.. Umat Katolik pada masa itu
tidak memiliki Kitab Suci, mereka mendengarkan dengan setia sabda Tuhan selama Perayaan
Ekaristi..

Bagaimana dengan sikap kita selama Perayaan Ekaristi?


Kita pun dengan setia berusaha mendengarkan Yesus yang sedang menyampaikan sabdaNya
kepada kita, sehingga kita tidak perlu sibuk membaca teks/ bacaan saat itu atau bahkan sibuk
membuka Kitab Suci online di gadget kita.. Apakah dengan demikian dapat disimpulkan bahwa
Gereja Katolik tidak akrab dengan Kitab Suci? Tanpa kita sadari, rangkaian Perayaan Ekaristi
yang kita ikuti adalah perayaan iman yang bersumber dari Kitab Suci sendiri sesuai dengan
amanat Yesus.. Gereja Katolik melaksanakan dan menghidupi apa yang ada dalam Kitab Suci
secara nyata sampai saat ini.

Apakah umat Katolik boleh membaca Kitab Suci? Tentu saja boleh.. Umat didorong untuk
merenungkan sabda Tuhan setiap hari sesuai dengan bacaan Kitab Suci dalam tahun liturgi
Gereja.. St. Hironimus mengatakan “Tidak mengenal Kitab Suci berarti tidak mengenal Kristus”.
Jika kita mengikuti Perayaan Ekaristi selama 3 tahun penuh maka kita telah membaca seluruh isi
Kitab Suci..

Lalu mengapa umat Katolik sering tidak mengenal Kitab Suci nya? sering kita temui Alkitab
dalam keluarga Katolik selalu bersih dan berdebu.. Banyak umat yang bilang kata-kata dalam
Kitab Suci itu sulit dipahami.. Memang perkataan ini ada benarnya maka kita perlu Gereja dalam
memahami isi Kitab Suci dengan benar. Menerjemahkan dan memahami Kitab Suci sesuai
dengan keinginan dan maksud diri sendiri akan membawa kita pada pemahaman iman yang
salah/sesat. Konsekuensinya kita akan menjauh dari Gereja dan merasa Gereja kita salah dan
mendirikan komunitas baru. Inilah yang terjadi pada saat ini..

Jadi, apakah kita telah setia mendengarkan Yesus saat kita mengikuti Perayaan Ekaristi? Atau
masih sibuk membaca atau bahkan mengobrol? Mendengarkan memang lebih sulit daripada
membaca atau berbicara, namun saat mendengarkan itulah kita menunjukkan sikap dan rasa
perhatian dan hormat pada Tuhan dan sesama..

10. SIKAP UMAT SAAT KONSEKRASI

Dalam Doa Syukur Agung (DSA), imam mengatakan “Terimalah dan makanlah: inilah tubuh-Ku
yang diserahkan bagimu,” dan “Terimalah dan minumlah: inilah piala darah-Ku, darah perjanjian
baru dan kekal, yang ditumpahkan bagimu dan bagi semua orang demi pengampunan dosa.
Lakukanlah ini untuk mengenangkan Daku.” Kemudian imam mengangkat Hosti dan Piala di
hadapan umat.
Sesuai dengan Tata Perayaan Ekaristi, sikap yang tepat yaitu,

Umat MEMANDANG Tubuh dan Darah Kristus saat imam mengangkat Cawan dan Piala,
setelah itu

Umat MENUNDUKKAN KEPALA saat imam berlutut menghormati Tubuh dan Darah Kristus

Sikap memandang dengan hormat Tubuh dan Darah Kristus janganlah dianggap sebagai sikap
menantang atau sikap kurang ajar karena Yesus sendiri yang memperlihatkan Tubuh dan Darah-
Nya kepada kita. Tuhan berkata “Inilah TubuhKu, Inilah DarahKu”.

Jika kita merasa tidak hormat memandangNya mengapa kita menerima Dia lewat komuni.
Bukankah ini lebih tidak hormat? Namun Yesus tidak menghendaki demikian. Ia ingin kita
bersatu dengan Dia sepenuhnya. Pandanglah Yesus seperti Thomas yang memandang Yesus
dengan penuh iman dan berkata, “Ya Tuhanku dan Allahku!”

Selamat mengikuti Ekaristi dengan khidmat dan memandang Yesus dalam kemuliaanNya yang
hadir dalam rupa Hosti dan Anggur.

11. SUDAHKAH ANDA MEMBUNGKUK SAAT “AKU PERCAYA”?

“Aku percaya akan Allah,


Bapa yang mahakuasa,
pencipta langit dan bumi.

Dan akan Yesus Kristus,


Putra-Nya yang tunggal, Tuhan kita,
yang dikandung dari Roh Kudus,
dilahirkan oleh Perawan Maria;
….”

Coba ingat-ingat terakhir kali kita mengucapkan Syahadat Iman tersebut di gereja. Apakah kita
terus berdiri?

Jika ya, maka sudah saatnya kita melihat kembali apa yang dikatakan oleh Gereja mengenai hal
ini.

Caranya mudah saja. Buka bagian Tata Perayaan Ekaristi (TPE) di dalam Puji Syukur masing-
masing. Itu lho, halaman kuningnya. Lalu lihat No. 16: SYAHADAT. Perhatikan kalimat kecil di
bawahnya: “kata-kata yang dicetak miring diucapkan sambil membungkuk (khusus pada Hari
Raya Natal: berlutut)”.
Kata-kata yang dimaksud adalah bagian “Ia dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan
Maria, dan menjadi manusia” dalam Syahadat Nikea-Konstantinopel, dan “dikandung dari Roh
Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria” dalam Syahadat Para Rasul (syahadat versi pendek yang
biasa kita ucapkan).

Apa signifikansi sikap membungkuk / berlutut pada bagian tersebut?

Gereja Katolik sangat menghormati Misteri Inkarnasi, yaitu menjelmanya Allah Putera menjadi
daging dalam rahim Perawan Maria. Peristiwa ini adalah titik awal pembaharuan sejarah umat
manusia, sebuah batu loncatan besar sekaligus pemenuhan janji Allah dalam tata keselamatan.
Maka dari itu, sudah sepantasnya kita menunjukkan rasa hormat yang mendalam melalui sikap
membungkuk / berlutut ketika mengucapkan kalimat “dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh
Perawan Maria”.

Memangnya detil kecil seperti ini penting ya?

Tentu saja penting. Gereja Katolik menyatakan bahwa “Liturgi adalah juga keikutsertaan dalam
doa yang Kristus sampaikan kepada Bapa dalam Roh Kudus” (Katekismus No. 1073). Bahkan,
misteri keselamatan dunia juga “diwahyukan dalam sejarah dan dilaksanakan menurut satu
rencana, artinya menurut satu ‘tata’ yang dipikirkan secara bijaksana, yang oleh Santo Paulus
dinamakan ‘tata misteri’ (Ef 3:9)” (Katekismus No. 1066).

Kita semua kaum beriman tentu setuju bahwa rencana Allah tidak ada yang kecelakaan. Allah
tidak pernah bekerja secara serampangan. Roh Allah adalah Roh keteraturan dan ketaatan. Jadi,
ketaatan terhadap Tata Liturgi diharapkan menjadi cerminan ketaatan kita terhadap rencana Allah
sendiri.

Bagi yang ada waktu untuk menonton video dan memiliki koneksi internet yang kuat, silahkan
ditonton video Youtube di bawah ini. Berikut adalah video Misa Novus Ordo berbahasa Latin
dari Keuskupan Surabaya, khusus bagian Credo
(Syahadat).http://www.youtube.com/watch?v=0d5eKVcMJKE

Perhatikan, bahkan selebran dan pembantu-pembantu beliau juga membungkuk ketika


mengucapkan “Et incarnatus est de Spiritu Sancto, ex Maria Virgine, et homo factus est.” Hal ini
juga berlaku ketika mengucapkan Syahadat dalam bahasa Indonesia.

Mari, pada Misa Kudus yang akan datang, kita melaksanakan apa yang semestinya kita
laksanakan. Jangan lupa sosialisasikan dan sebarluaskan perihal ini kepada saudara-saudara
seiman lainnya.

12. DENGAN HATI, ATAU DENGAN KEUTUHAN PRIBADI

Serial Tata Gerak Liturgi (http://tiny.cc/TataGerak) yang diinisiasi oleh admin Deo Gratias
merupakan salah satu serial yang paling laris di page Gereja Katolik ini. Harapannya, umat bisa
memperoleh informasi mengenai tata peribadatan bersama sebagai umat Katolik.
Ada komentar-komentar yang merasa informasi ini berguna, tetapi ada juga komentar yang
berbunyi, “tidak usah dibatasi,” karena “yang penting hatinya.” Komentar sejenis muncul, bukan
hanya di serial Tata Gerak, tetapi juga di artikel-artikel lain.

1. KESATUAN TUBUH DAN JIWA

Nampaknya, ada pandangan yang memisahkan antara tubuh dan jiwa. Pemisahan antar tubuh dan
jiwa dipercayai oleh Plato, seorang filsuf, yang mengatakan bahwa tubuh dan jiwa adalah
substansi terpisah yang berinteraksi, di mana identitas sejati seseorang terletak pada jiwanya.

Pandangan ini TIDAK SESUAI dengan pandangan Kristiani, seperti yang dikatakan dalam ajaran
resmi Gereja Katolik: “Pribadi manusia yang diciptakan menurut citra Allah adalah wujud
jasmani sekaligus rohani. … Kesatuan jiwa dan badan begitu mendalam … Dalam manusia, roh
dan materi bukanlah dua kodrat yang bersatu, melainkan kesatuan mereka membentuk kodrat
yang satu saja.” (Katekismus Gereja Katolik 362, 365)

Kita tahu bahwa jiwa tanpa tubuh adalah roh, dan tubuh tanpa jiwa adalah mayat. Dengan
demikian, pribadi manusia hanya nyata dalam kesatuan tubuh dan jiwanya.

2. KEBAIKAN TUBUH

Dengan mengatakan “yang penting hatinya” sambil tidak mempedulikan apa yang terjadi dengan
tubuh, sama saja menganggap tubuh sebagai sesuatu yang tidak perlu diperhitungkan.

Di abad pertama dan kedua, muncul ajaran sesat yang mengatakan bahwa segala bentuk materi
adalah jahat. Ajaran sesat “Gnostik” ini mengatakan bahwa orang harus mengabaikan semua
bentuk materi, termasuk tubuh, dan mengejar yang spiritual.

Ajaran ini secara langsung bertentangan dengan Kitab Kejadian, di mana dikatakan bahwa “Allah
melihat segala yang dijadikan-Nya itu, SUNGGUH AMAT BAIK,” (Kej 1:31) termasuk tubuh
jasmani kita.

Dengan demikian, tubuh jasmani ini tidak buruk. Tubuh jasmani ini pun perlu diperhitungkan dan
diperhatikan.

3. APA YANG KITA LAKUKAN DENGAN TUBUH KITA, MEMPENGARUHI JIWA KITA

Pernah mendengar tentang terapi tertawa? Seseorang yang memiliki gangguan atau penyakit,
diminta untuk mulai tertawa dan melanjutkan tawanya selama beberapa saat, walaupun
kenyataannya tidak ada hal yang dapat ditertawakan saat itu. Awalnya, tawa dilakukan secara
jasmaniah saja.

Hasilnya, walaupun secara hati dan keinginan tidak ada yang dapat ditertawakan, efek tawa
tersebut membawa perubahan positif bagi pasien, baik secara fisik maupun psikologis. Bahkan
terapi ini diberikan juga pada pasien-pasien kanker, karena dapat mengurangi nyeri, memberikan
stimulasi pada sistem sirkulasi, sistem kekebalan tubuh, dan sistem lain dalam tubuh.

Ternyata, apa yang kita lakukan dengan tubuh kita, turut mempengaruhi jiwa kita. Santo
Gregorius dari Nyssa dan Santo Dominikus sudah melakukannya terlebih dahulu dengan “DOA
TUBUH” dan “SEMBILAN CARA BERDOA”. Jika kita mengalami kesulitan dalam berdoa,
kita bisa mencoba posisi tubuh tertentu untuk menuntun kita berdoa.

BERDOA DENGAN HATI DAN TUBUH = BERDOA SEBAGAI PRIBADI YANG UTUH

Dalam perayaan Ekaristi, kita mengangkat hati kita, pikiran kita, dan suara kita kepada Allah.
Namun, sebagai makhluk yang terdiri dari tubuh dan jiwa, doa kita tidak dibatasi pada hati,
pikiran, atau suara kita saja, tetapi juga diekspresikan oleh tubuh kita. Ketika tubuh kita
berpartisipasi di dalam doa, kita berdoa dengan keseluruhan pribadi kita.
Yesus mengatakan, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap
jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.” (Mrk 12:30) Ayat
tersebut dengan jelas mengatakan bahwa kita perlu mengasihi Allah dengan keutuhan pribadi,
termasuk dengan kekuatan tubuh kita. Bukankah Yesus pun mengasihi Bapa dengan kekuatan
tubuhNya hingga wafat di kayu salib?

Seperti dikatakan penjelasan sebelumnya, apa yang kita lakukan dengan tubuh kita
mempengaruhi jiwa kita, maka kesungguhan hati ditambah keterlibatan tubuh, akan membuat
kita lebih fokus dalam berdoa.

Mari, bersama-sama memohon rahmat pada Tuhan, untuk berdoa dan menyembah dengan
keseluruhan dan keutuhan pribadi.