Anda di halaman 1dari 6

Formulasi Edible Film dari Komposit PLA-CNC untuk Aplikasi

Pengemasan Ikan Bandeng


M. Irfan Al-Gifari (3335150081) dan Hilda Izzatul Awaliyah (3335150073)

Pembimbing
Dr. Endarto Yudho W, S.T., M.T , Dr. Rahmayetty, S.T., M.T

Program Studi Teknik Kimia – Fakultas Teknik


Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
Jl.Raya Jend Sudirman Km.3 Cilegon-Banten

Abstrak
Ikan bandeng adalah salah satu produk yang mudah mengalami pembusukan
karena pengaruh aktivitas bakteri dan jamur, sehingga memerlukan
perlindungan selama masa penyimpanan dan pendistribusiannya untuk
menjaga kesegaran umur simpan serta kualitasnya. Pengemasan
menggunakan material edible film merupakan salah satu teknik yang dapat
digunakan dalam mempertahankan kesegaran dan umur simpan ikan bandeng.
Penggunaan bioplastik seperti PLA telah menjadi popular, namun PLA masih
memiliki barrier properties yang kurang baik dan stabilitas thermal yang
rendah. Untuk memperbaiki kekurangan dari sifat yang dimiliki oleh PLA,
maka ditambahkan material penguat seperti CNC dalam bentuk biokomposit.
Terdapat beberapa tujuan dilakukannya penelitian ini yaitu mendapatkan
formulasi dan komposisi komposit PLA-CNC untuk aplikasi edible film,
mendapatkan metode yang terbaik pada pembuatan edible film PLA-CNC,
menganalisis umur kesegaran ikan bandeng hasil pengemasan secara
organoleptik. Adapun metode yang dilakukan meliputi proses pembuatan
komposit PLA/CNC dengan metode sonikasi dan direct blending, menganalisa
karakteristik komposit PLA/CNC dan menganalisis umur kesegaran ikan
bandeng yang dilapisi komposit PLA/CNC.

Kata kunci : CNC, Edible Film, PLA

1. PENDAHULUAN
Produk-produk hasil perikanan dan pertanian adalah jenis produk yang mudah mengalami
kerusakan karena faktor alam. Umumnya produk-produk tersebut mengalami pembusukan karena
pengaruh aktivitas bakteri dan jamur setelah dipanen, sehingga memerlukan perlindungan dari
proses pembusukan selama masa penyimpanan dan pendistribusiannya untuk menjaga kesegaran
umur simpan serta kualitasnya. Selain itu beberapa mikroorganisme, pathogen, yang dapat
menimbulkan masalah bagi kesehatan konsumen, terutama jika produk-produk tersebut tidak
ditangani dengan baik. Karena, reaksi yang tidak diinginkan dapat terjadi yang menimbulkan bau
dan perubahan rasa, warna dan sifat teksturnya.
Ikan bandeng merupakan jenis ikan yang banyak digemari masyarakat Indonesia. Di beberapa
daerah di provinsi Banten, ikan bandeng dibudidayakan menjadi produk unggulan dan diolah
menjadi makanan khas, namun daya tahannya yang rendah mendorong petani menggunakan
bahan pengawet untuk mempertahankan tingkat kesegarannya. Ikan segar umumnya mengalami
1
kerusakan apabila dibiarkan pada suhu ruang selama 12 jam (Rofik dan Rita, 2012). Kadar air
yang cukup tinggi terkandung didalamnya, sekitar 60 - 84% menjadi media yang cocok untuk
pertumbuhan bakteri (Afrianto dan Evi, 2011).
Saat ini material pengemas makanan yang masih sering digunakan adalah plastik. Plastik
konvensional umumnya berasal dari bahan polimer sintetis dari minyak bumi, atau gas alam
karena harganya murah dan sifatnya yang kuat tetapi ringan, inert, tidak berkarat, termoplastik
(heat seal) dan dapat diberi warna. Namun, penggunaan plastik telah menimbulkan permasalahan
yang cukup serius dewasa ini. Polimer plastik yang tidak mudah terurai secara alami
mengakibatkan terjadinya penumpukan limbah dan menjadi penyebab pencemaran dan kerusakan
lingkungan hidup. Aspek negatif lainnya adalah sifat plastik yang tidak tahan panas dapat
menyebabkan kontaminasi melalui transmisi monomernya ke bahan yang akan dikemas,
merupakan bagian yang berbahaya karena bersifat karsinogenik, sehingga makanan yang
dikonsumsi tidak memenuhi kaidah keamanan pangan atau Food Security.
Salah satu solusi adalah dengan mengganti bahan plastik konvensional menjadi bahan yang
mudah terurai yang disebut dengan bioplastik. Bioplastik dirancang untuk memudahkan proses
degradasi terhadap reaksi enzimatis mikroorganisme seperti bakteri dan jamur (Suryani dkk,
2012). Penggunaan bioplastik seperti poli asam laktat (PLA), telah menjadi alternatif populer
untuk plastik tradisional untuk mengurangi dampak lingkungan dari kemasan (Wei dkk, 2016).
PLA adalah jenis poliester alifatik yang mudah terurai, dan berasal dari 100% sumber daya
terbarukan (Lopes dkk, 2014). Polimer ini dapat terurai baik dalam kondisi aerob ataupun anaerob
dalam kurun waktu enam bulan sampai lima tahun (Auras, 2002). Namun PLA masih memiliki
barrier properties yang kurang baik dan stabilitas thermal yang rendah menyebabkan PLA belum
digunakan sebagai bahan pengemas makanan secara luas. Untuk memperbaiki kekurangan dari
sifat yang dimiliki oleh PLA, maka ditambahkan material penguat seperti CNC (Crystal
NanoCelullose) dalam bentuk biokomposit.
CNC sering ditambahkan ke dalam polimer PLA untuk mengatasi beberapa kekurangan yang
dimilikinya. CNC dalam ukuran nano akan tersebar dengan baik dapat meningkatkan sifat
mekanik PLA dengan meningkatkan transfer tegangan dari matriks ke CNC. Selain itu, CNC
dapat bertindak sebagai nukleasi agen untuk meningkatkan kristalinitas PLA untuk meningkatkan
barrier propertie nya (Kharkhanis dkk, 2017).
2. TINJAUAN PUSTAKA
Edible film adalah lapisan tipis yang terbuat dari bahan yang dapat dimakan, serta dapat
berfungsi sebagai penghalang perpindahan massa (seperti kelembaban, oksigen, lemak, dan
larutan), atau sebagai carrier bahan makanan dan aditif juga untuk meningkatkan kemudahan
penanganan makanan (Khotimah, 2014). Edible film yang terbuat dari lipida dan juga edible film
dua lapis (bilayer) ataupun campuran yang terbuat dari campuran antara lipida dan protein ataupun
campuran antara lipida dan polisakarida pada umumnya baik digunakan sebagai penghambat
perpindahan uap air dibandingkan dengan edible film yang terbuat dari protein dan polisakarida
dikarenakan lebih bersifat hidrofobik (Hui, 2006). Beberapa keuntungan edible film dibandingkan
dengan pengemas sintetis yaitu: (1) Dapat dikonsumsi bersama produk yang dikemas; (2)
Mengurangi pencemaran lingkungan; (3) Dapat memperbaiki sifat-sifat organoleptik produk yang
dikemas; (4) Dapat berfungsi sebagai suplemen gizi, dan agensia antimikrobia serta antioksidan
(Krochta and Johnson, 1997).

2
Komponen penyusun edible film dapat dibagi menjadi tiga macam yaitu : hidrokoloid, lipida,
dan komposit. Hidrokoloid yang umum digunakan adalah protein, turunan selulosa, alginat,
pektin, pati dan polisakarida lainnya. Beberapa jenis lipida yang biasa digunakan adalah waxes,
asilgliserol, dan asam lemak. Sedangkan komposit merupakan gabungan lipida dengan
hidrokoloid.
Polimer PLA merupakan poliester alifatik yang memiliki sifat biodegradable, yaitu dapat
terdegradasi atau hancur di dalam tubuh. Bahan ini telah banyak digunakan untuk berbagai
keperluan, salah satunya untuk agen pembawa obat di dalam tubuh (Guo et al., 2012). Struktur
PLA dapat dilihat pada gambar 2.1:

Gambar 2.1. Struktur Poli Asam Laktat (Garlotta, 2002)

PLA merupakan polimer termoplastik kaku yang dapat semicrystalline atau amorf, tergantung
pada komposisi optic kopolimer. Komposisi optik kopolimer mempengaruhi karakterstik polimer
seperti kinetika kristalisasi, kuat tarik, elongasi, kristalinitas dan massa molekul (Henton, 2005).

Selulosa adalah jenis biopolimer dengan sumber sangat melimpah di alam, mudah terurai,
terbarukan, biocompatible, dan dapat dimodifikasi, sehingga dianggap sebagai alternatif hijau
untuk menggantikan polimer sintesis berbasis bahan bakar fosil (Tingaut et al., 2012). Serat
selulosa pada skala nanometer sering disebut sebagai Cellulose NanoCrystals, CNC. CNC
umumnya diisolasi dari serat selulosa, setelah pelarutan total dari fraksi non-kristalinnya,
sedangkan CNF dihasilkan melalui proses mekanis untuk menghasilkan derajat fibrilasi yang
tinggi (Kalia et al., 2013).

Menurut George dan Sabapathi (2015), kombinasi CNC dengan beberapa material
menghasilkan komposit yang sangat kuat dengan kerapatan 1.4 g/cm3 dan bending strength 450
MPa, atau hampir setara baja ringan jenis SS400 (kerapatan 1,8 g/cm3 dan bending strength 500
MPa). Kekuatannya yang mendekati baja ringan namun memiliki kerapatan yang lebih rendah,
menjadikan komposit CNC sebagai material yang sangat menjanjikan untuk industri otomotif,
elektronik, maupun konstruksi. Selain ringan, kuat, murah dan mudah dalam proses
pembuatannya, keunggulan CNC lainnya adalah dibuat dari bahan alami dengan ketersediaan di
alam sangat melimpah (Dufresne, 2017).
Dalam penelitian ini, salah satu metode yang digunakan adalah menggunakan metode solvent
dispersion dengan sonikasi. Yang dimaksud sonikasi adalah suatu teknologi yang memanfaatkan
gelombang ultrasonik yang digunakan untuk mempercepat pelarutan suatu materi dengan
memecah reaksi intermolekuler. Sonikasi berarti memberi gelombang ultrasonik pada suatu bahan
dengan kondisi tertentu, sehingga bahan tersebut mengalami reaksi kimia akibat perlakuan
tersebut. Pemberian gelombang ultrasonik pada suatu larutan menyebabkan molekul-molekul yang
terkandung di dalam larutan berosilasi terhadap posisi rata-ratanya. Larutan akan mengalami
regangan dan rapatan. Ketika energi yang diberikan oleh gelombang ultrasonik ini cukup besar,

3
regangan gelombang bisa memecah ikatan antar molekul larutan, dan molekul larutan yang
terpecah ikatannya ini akan memerangkap gas-gas yang terlarut didalam larutan ketika timbul
rapatan kembali (Deasy dan Triani, 2011).

3. METODOLOGI PERCOBAAN
3.1 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah hot plate, sonikator, magnetic stirrer, grinder,
oven, neraca analitik, plat kaca, pengering vakum, dan gelas beker. Bahan yang digunakan dalam
penelitian ini adalah PLA (Poly Lactic Acid) komersial, CNC (Crystal Nanocellulose) komersial,
dan pelarut kloroform.
3.2 Metode Percobaan
Metode yang digunakan dalam penelitian ini terdapat dua macam, diantaranya :
1. Sonikasi
Dalam proses pembuatan komposit dengan metode sonikasi, langkah pertama yang dilakukan
adalah melarutkan PLA (100%, 80%, 60%, 40%) w/w dan CNC (0%, 20%, 40%, 60%) w/w
menggunakan 50 mL pelarut kloroform dengan dengan menggunakan sonikator selama 5 menit.
Kemudian, dua larutan yang terbentuk dicampur ke dalam gelas beaker dan masukkan ke dalam
sonikator selama 20 menit. Setelah itu, menuangkan campuran tersebuat kepada plat kaca dan
mengeringkannya pada temperatur 55oC dalam keadaan vakum selama 1 hari. Setelah kering,
sampel dipanaskan ke dalam oven dengan suhu 45oC dan dihancurkan menjadi serbuk untuk
persiapan analisa FTIR, SEM dan XRD.
2. Direct Blending
Dalam proses pembuatan komposit dengan metode direct blending, langkah pertama yang
dilakukan adalah mencampurkan PLA (100%, 80%, 60%, 40%) dengan CNC (0%, 20%, 40%,
60%) dengan komposisi campuran sebesar 10 gram ke dalam gelas beker. Kemudian, campuran
tersebut dipanaskan pada temperatur 175oC dan kecepatan magnetic stirrer sebesar 150 rpm.
Setelah itu, menuangkan campuran tersebuat kepada plat kaca dan mengeringkannya pada suhu
ruangan selama 1 hari. Setelah itu sampel dipanaskan pada oven pada suhu 45oC dan sampel
dihancurkan dengan menggunakan grinder untuk persiapan analisa FTIR, SEM, dan XRD.
3.3 Variabel percobaan
Pada penelitian ini terdapat dua variabel, yaitu variabel bebas dan variabel terikat dimana variabel
bebas berupa perbandingan komposisi berat antara PLA (100%, 80%, 60%, 40%) dengan CNC
(0%, 20%, 40%, 60%), dan perbandingan metode direct blending dengan sonikasi dalam
pembuatan komposit PLA-CNC. Sedangkan variabel terikatnya adalah karakteristik komposit
PLA-CNC yang terbentuk.

3.4 Metode Pengumpulan dan Analisis Data


1. Analisa Fourier transform infrared (FT-IR) Spectroscopy
Metode ini digunakan untuk mengetahui gugus fungsi molekul yang terdapat dalam komposit
PLA-CNC dengan menggunakan alat FT-IR spectrometer.
2. Analisa X-ray diffraction (XRD)
Analisa ini dilakukan untuk mengetahui nilai indeks kristalinitas komposit PLA-CNC yang
terbentuk dengan menggunakan difraksi sinar-X (XRD).

4
3. Analisa Scanning Electron Microscopy (SEM)
Analisis SEM bermanfaat untuk mengetahui sifat morfologi hasil dari komposit PLA-CNC yang
terbentuk.
4. Analisa Sifat Mekanik
Uji kekuatan tarik (tensile strength) bertujuan untuk mengetahui kemampuan maksimum sampel
dalam menahan beban (tegangan tarik maksimum) dan uji elongation at break perpanjangan
bertujuan untuk mengetahui perpanjangan maksimum suatu sampel ketika putus.
5. Analisa Uji Umur Kesegaran Ikan Bandeng
Membandingkan ikan bandeng segar yang dikemas dengan sampel dibandingkan dengan ikan
yang tidak dikemas dengan sampel untuk mengetahui lamanya kesegaran ikan yang diamati
secara organoleptic.

DAFTAR PUSTAKA
Afrianto, Eddy dan Evi Liviawati. 2011. Pengawetan Dan Pengolahan Ikan. Yogyakarta : Kanisius
Auras, R. 2002. Poly (Lactic Acid) Film as Food Packaging Materials. Environmental Coference.
USA.
Deasy Siti Ulfah dan Triani,. 2011. Pengaruh waktu sonikasi dan amplitudo gelombang ultrasonik
terhadap stabilitas suspensi dan mutu sari kacang hijau. Institut Pertanian Bogor.
Dufresne Alain., Hanieh Kargarzadeh., Ishak Ahmad., Sabu Thomas. 2017. Handbook of
nanocellulose and cellulose Nanocomposite first edition.Wiley-VCH Verlag GmbH &Co.
KGaA, Germany.
Garlotta, D. 2002. “A Literature Review of Poly (Lactic Acid)” dalam Journal of Polymers and
The Environment, Vol.9. Plenum Publishing Company.
George J, and Sabapathi S. 2015. Cellulose Nanocrystals : Synthesis, functional properties and
application. Nanothecnol Sci Appl 8:45-54.
Guo, Y., X. Wang, X. Shu, Z. Sheng, and R.C. Sun. 2012. Self- Assembly and Pacitaxel Loading
Capacity of Cellulose-Graft-poly (lactide) Nanomicelles. Agricultural and Food Chemistry.
60:3900-3908.
Henton. 2005. Polylactic Acid Technology. Berlin: Wiley-VCH
Hui Y.H. 2006. Handbook of Food Science, Technology, and, Engineering Volume I. USA : CRC
Press.
Kalia, Susheel, Sami Boufi, Annamaria Celli and Sarita Kango. 2013. Nanofibrillated cellulose:
surface modification and potential applications. Springer. Verlag Berlin Heidelberg.
Karkhanis, Sonal S. dkk. 2017. Performance of Poly (lactic acid)/Cellulose Nanocrystal Composite
Blown Films Processed by Two Different Compounding Approaches. School of Packaging,
Michigan State University, East Lansing, Michigan.
Khotimah, Khusnul. 2014. Karakterisasi Edible Film dari Pati Singkong (Manihot utilissima Pohl).
Universitas Negeri Yogyakarta.
Krochta J M dan Johnson C D M. 1997. Edible and biodegredible polimer films. J. Food
Technology. 51(2):61.
Lopes, Milena S. dkk. 2014. Synthesis and Characterizations of Poly (Lactic Acid) by Ring-
Opening Polymerization for Biomedical Applications. School of Chemical Engineering – State
University of Campinas, UNICAMP, P.O. Box 6066, 13083-970, Campinas-SP – Brazil.
Rofik, Syafiul dan Rita Dwi Ratnani. 2012. Ekstrak Daun Api-Api (Avecennia marina) Untuk
Pembuatan Bioformalin Sebagai Antibakteri Ikan Segar. Prosiding SNST ke-3 Tahun 2012.
Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim Semarang.

5
Suryani dkk, 2012. Sintesis dan Karakterisasi Poli Asam Laktat Berbasis Bahan Alam
Menggunakan Katalis Timah (II) Oktoat. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Sumatera Utara.
Wei Liqing, Nicole M. Stark, Ronald C. Sabo, Laurent Matuana. 2016. Modification of Cellulose
Nanocrystals (CNCs) for use in Poly(lactic acid) (PLA)-CNC Composite Packaging Products.
USDA Forest Service, Forest Products Laboratory, One Gifford Pinchot Drive, Madison, WI
53726, USA.