Anda di halaman 1dari 12

REFLEKS SPINAL PADA KATAK

Oleh :
Nama : Arlina Setyoningtyas
NIM : B1A017150
Rombongan :
Kelompok :
Asisten : Pesona Gemilang

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN I

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2018
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Hewan Vertebrata dan beberapa hewan Avertebrata memiliki suatu


sistem yang mengatur koordinasi keseluruhan gerak tubuhnya. Tugas itu
dilaksanakan oleh sistem yang disebut sistem saraf. Sistem ini sangat kompleks
perkembangannya pada hewan Vertebrata dalam mengatur fungsi alat – alat tubuh.
Berdasarkan letaknya sistem saraf terbagi menjadi dua bagian yaitu sistem saraf
pusat dan sistem saraf perifer (tepi) (Gunawan, 2002).
Sistem saraf adalah suatu sistem organ yang terdiri dari sel-sel saraf atau
neuron. Sistem saraf terdiri atas sistem saraf pusat yang meliputi otak dan batang
spinal, dan sistem saraf perifer yang meliputi saraf kranial, saraf spinal, dan trunkus
simpatikus. Kedua sistem ini bekerja saling menunjang. Sistem saraf pusat berguna
sebagai pusat koordinasi untuk aktivitas-aktivitas yang harus dilaksanakan.
Sedangkan sistem saraf perifer berfungsi memberikan informasi kepada sistem saraf
pusat tentang adanya stimulus yang menyebabkan otot dan kelenjar melakukan
respon (Hoar, 1984).
Sistem saraf mempunyai tiga fungsi yang saling tumpang-tindih, yaitu input
sensoris, integrasi, dan output motoris. Input adalah penghantaran atau konduksi
sinyal dari reseptor sensoris, misalnya sel-sel pendeteksi cahaya di mata ke pusat
integrasi. Integrasi adalah penerjemahan informasi yang berasal dari stimulasi
reseptor ke lingkungan, kemudian dihubungkan dengan respon tubuh yang sesuai.
Sebagian integrasi dilakukan dalam system saraf pusat, yaitu otak dan sumsum
tulang belakang (pada vertebrata). Output motoris adalah penghantaran sinyal dari
pusat integrasi ke sel-sel efektor, sel-sel otot atau sel kelenjar yang
mengaktualisasikan respon tubuh terhadap stimulus tersebut. Sinyal tersebut
dihantarkan oleh saraf yang berasal dari penjuluran neuron yang terbungkus dengan
ketat dalam jaringan ikat. Saraf yang menghubungkan sinyal motoris dan sensoris
antara system saraf pusat dan bagian tubuh lain secara bersamaan disebut system
saraf tepi (Campbell, 2004).
Sistem saraf tersusun atas dua jenis sel utama, yaitu sel neuron dan sel-sel
pendukung. Neuron adalah sel yang menghantarkan stimulus di sepanjang jalur
komunikasi sistem saraf. Sel-sel pendukung (glia) memberikan struktur dalam sistem
saraf serta melindungi, menginsulasi, dan secara umum membantu fungsi neuron.
Refleks merupakan suatu respon organ efektor (otot ataupun kelenjar) yang bersifat
otomatis atau tanpa sadar terhadap suatu stimulus tertentu (Bykov, 1960).
Refleks merupakan sebagian kecil dari perilaku hewan tingkat tinggi, tetapi
memegang peranan penting dalam perilaku hewan tingkat tinggi. Refleks biasanya
menghasilkan respon, jika bagian distal sumsum tulang belakang memiliki bagian
yang lengkap dan mengisolasi ke bagian pusat yang lebih tinggi. Tetapi kekuatan dan
jangka waktu menunjukan keadaan sifat involuntari yang meningkat bersama dengan
waktu (Madhusoodanan, 2007).

B. Tujuan
Tujuan praktikum kali ini adalah untuk mengetahui terjadinya reflek spinal
pada katak.
II. MATERI DAN CARA KERJA

A. Materi

Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah Katak Sawah
(Fejervarya cancrivora) dan larutan asam sulfat 1%.
Alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah jarum, gunting dan
pinset

B. Cara Kerja

1. Otak katak dirusak dengan jarum preparat. Caranya adalah katak dipegang
dengan kepala ditundukkan kearah ventral (kearah perut). Dimasukkan
ujung jarum pada batas kepala dan punggung dimasukkan ujung jarum
kurang lebih sedalam 1 cm, kemudian dikorek-korekkan.
2. Perhatikkan sikap katak jika diletakkan di atas meja. Jika katak
dilentangkan, ia tidak akan membalik karena reflex pembentukan sikap
sudah tidak ada dengan lenyapnya hubungan antara alat-alat vestibula
dengan sumsum tulang belakang mamalia (medulla spinalis).
3. Tulang rahang bawah katak dijepit pada tempat penggantung katak. Jika
kaki belakangnya dijepit / dipijat dengan pinset kaki adan ditarik. Maka ini
disebut reflex melarikan diri. Jika memijatnya lebih kuat, reflex menjalar
ke kaki sebelah lain dan mungkin juga kaki muka.
4. Masukkanlah kaki katak ke dalam larutan asam sulfat yang tersedia,
terjadilah gerakan reflex yang menarik kaki dari larutan asam sulfat=
refleks melarikan diri, kemudian dapat dilihat pula gerakan-gerakan kaki
itu dan kadang-kadang juga dengan kaki yang lain untuk menghapuskan
asamnya= refleks menghapuskan. Kaki katak dicuci dengan memasukan
kakinya ke dalam gelas berisi air setelah percobaan asam selesai.
5. Perhatikan bahwa kaki belakang yang tergantung tidak lemas sama sekali.
Ini karena adanya tonus otot yang reflektoris.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Tabel 3.1. Pengamatan Refleks Spinal Pada Katak

No Pengunduran
Variasi Stimulasi Body Kaki Kaki Pencelupan H2SO4
Turning Anterior Posterior
1 Otak ++ + ++ ++
2 ¼ Saraf Spinal - + ++ ++
3 ½ Saraf Spinal - + - +
4 ¾ Saraf Spinal - + + +
5 Saraf Spinal Total - + + -

Keterangan :
++ = Cepat
+ = Lambat
- = Tanpa Respon
B. Pembahasan

Berdasarkan hasil pengamatan diatas dapat diketahui bahwa pada perusakan


otak, katak masih menunjukan respon pembalikan tubuh, penarikan kaki depan dan
belakang serta pencelupan kaki belakang ke dalam larutan H2SO4 1%. Perusakan ¼
bagian medulla spinalis menunjukan katak tidak memberikan respon, namun katak
masih memberikan respon terhadap penarikan kaki depan dan perlakuan pencelupan
kaki belakang ke dalam larutan H2SO4 1%. Perusakan ½ tidak merespon untuk
pembalikan tubuh dan penarikan kaki posterior. Sedangkan untuk kaki anterior dan
pencelupan kaki dengan H2SO4 1% masih memberikan respon. Perusakan ¾ bagian
keseluruhan memberikan respon kecuali pada pembalikan tubuh. Perusakan total
seluruh bagian medulla spinalis menunjukkan respon untuk penarikan kaki posterior
dan kaki anterior tetapi tidak memberikan respon untuk pembalikan tubuh dan
pencelupan kaki dengan H2SO4 1%. Keseimbangan tubuh katak terlihat semakin
kacau, gerakannya tidak terarah dan tidak dapat lagi melompat ketika bagian medulla
spinalis yang dirusak semakin besar. Sumsum tulang belakang merupakan pusat
gerak refleks, sehingga semakin tinggi tingkat perusakan sumsum tulang belakang
maka semakin lemah respon yang diberikan. Hal ini yang akan menyebabkan refleks
pembalikkan tubuh, penarikan kaki depan dan kaki belakang serta pencelupan ke
dalam larutan H2SO4 1% makin melemah seiring dengan tingkat perusakan Hal ini
sesuai hasil pengamatan dengan pustaka yang menyebutkan bahwa meskipun hampir
seluruh saraf spinalnya sudah mengalami kerusakan ternyata gerakan refleks masih
dapat terjadi. Gerakan refleks masih dapat terjadi dikarenakan sistem koordinasi dari
sistem saraf masih dapat berjalan, terutama sumsum tulang belakang sebagai sistem
utama gerak refleks selain otak (Pearce, 1989).
Menurut Gordon et al (1982), refleks spinal pada katak dipengaruhi oleh
beberapa faktor, yaitu:
a. Kondisi sumsum tulang belakang dimana kerusakan sumsum tulang
belakang dalam tingkat parah dapat menghilangkan reflek spinal.
b. Larutan kimia seperti H2SO4 yang dapat menimbulkan refleks spinal
tertentu.
c. Obat-obatan keras dapat menurunkan kontrol otak terhadap pergerakan,
sehingga gerakan dikendalikan oleh sumsum tulang belakang sebagai
refleks spinal.
Sistem saraf adalah suatu sistem organ yang terdiri dari sel-sel saraf atau
neuron. Sistem saraf terdiri atas sistem saraf pusat yang meliputi otak dan batang
spinal, dan sistem saraf perifer yang meliputi saraf kranial, saraf spinal, dan trunkus
simpatikus. Kedua sistem ini bekerja saling menunjang. Sistem saraf pusat berguna
sebagai pusat koordinasi untuk aktivitas-aktivitas yang harus dilaksanakan.
Sedangkan sistem saraf perifer berfungsi memberikan informasi kepada sistem saraf
pusat tentang adanya stimulus yang menyebabkan otot dan kelenjar melakukan
respon (Johnson, 1984).
Sistem saraf pusat mengendalikan gerakan-gerakan yang dikehendaki,
misalnya gerakan tangan, kaki, leher dan jari-jari. Sistem saraf otonom berfungsi
mengendalikan gerakangerakan yang bersifat otomatis, misalnya fungsi digestif,
proses kardiovaskuler dan gairah seksual. Sistem saraf otonom terdiri dari subsistem
yang kerjanya saling berlawanan, terdiri dari sistem saraf simpatis dan sistem saraf
parasimpatetis (Budiono, Pertami, & Mustayah, 2018).
Sistem saraf mempunyai tiga fungsi yang saling tumpang-tindih, yaitu input
sensoris, integrasi, dan output motoris. Input adalah penghantaran atau konduksi
sinyal dari reseptor sensoris, misalnya sel-sel pendeteksi cahaya di mata ke pusat
integrasi. Integrasi adalah penerjemahan informasi yang berasal dari stimulasi
reseptor ke lingkungan, kemudian dihubungkan dengan respon tubuh yang sesuai.
Sebagian integrasi dilakukan dalam system saraf pusat, yaitu otak dan sumsum
tulang belakang (pada vertebrata). Output motoris adalah penghantaran sinyal dari
pusat integrasi ke sel-sel efektor, sel-sel otot atau sel kelenjar yang
mengaktualisasikan respon tubuh terhadap stimulus tersebut. Sinyal tersebut
dihantarkan oleh saraf yang berasal dari penjuluran neuron yang terbungkus dengan
ketat dalam jaringan ikat. Saraf yang menghubungkan sinyal motoris dan sensoris
antara system saraf pusat dan bagian tubuh lain secara bersamaan disebut system
saraf tepi (Campbell, 2004). Namun, penjelasan bahwa saraf simpatik sebagai
penyebab 'fight or flight' respon adalah terlalu disederhanakan. Umumnya, kedua
bagian tersebut berfungsi bersama-sama untuk mengatur kegiatan tubuh sehari-hari
(Colgan, 2012).
Sistem saraf tersusun atas dua jenis sel utama, yaitu sel neuron dan sel-sel
pendukung. Neuron adalah sel yang menghantarkan stimulus di sepanjang jalur
komunikasi sistem saraf. Sel-sel pendukung (glia) memberikan struktur dalam sistem
saraf serta melindungi, menginsulasi, dan secara umum membantu fungsi neuron.
Refleks merupakan suatu respon organ efektor (otot ataupun kelenjar) yang bersifat
otomatis atau tanpa sadar terhadap suatu stimulus tertentu (Bykov, 1960).
Sistem syaraf adalah suatu sistem penyampaian impuls yang diterima oleh
reseptor dan dikirim ke pusat syaraf untuk ditanggapi. Aktifitas sistem syaraf
memerlukan kerja sama dari beberapa sel, antara lain dalam mekanisme gerak
sensori dan reseptor. Rangkaian dari stimulus dalam sebuah situasi diaplikasikan ke
dalam suatu gerak. Sistem syaraf pusat terdiri atas otak dan dan batang spinal otak
merupakan ujung anterior lubang neural yang membesar. Otak bekerja sama sebagai
suatu rangkaian untuk memerima impuls (Goenarso, 1989). Senyawa seperti ketamin
yang mempunyai sifat simpatomimetik, bekerja menghambat saraf parasimpatis pada
sistem saraf pusat sehingga bisa meningkatkan tekanan darah dan jantung
(Yudaniayanti et al., 2012). Ukuran potensi yang tercatat secara periferal digunakan
sebagai ukuran jumlah serat yang digemakan oleh intraspinal rangsangan, yang, pada
gilirannya, adalah ukuran dari serat rangsangan (Bolzoni & Jankowska, 2015).
Menurut Djuhanda (1988) Gerak refleks merupakan gerakan pintas ke
sumsum tulang belakang. Ciri refleks yaitu respon yang terjadi berlangsung dengan
cepat dan tidak disadari. Neuron konektor merupakan penghubung antara neuron
sensorik dan neuron motorik. Gerak refleks spinal diatur oleh saraf-saraf yang
terdapat di dalam medulla spinalis yang terdapat di dalam kanalis vertebratalis dan
berhubungan dengan otak melalui fragmen magnum. Jadi, gerak refleks berpusat di
medulla spinalis yang terdapat di dalam kanalis vertebralis. Mekanisme terjadinya
reflek spinal yaitu stimulus mula-mula diterima oleh reseptor yang kemudian diubah
menjadi impuls di dalam neuron afferent, kemudian ke sumsum tulang belakang dan
diteruskan oleh neuron motoris untuk diwujudkan dalam bentuk gerak refleks atau
gerak tidak sadar (Kimball, 1983) . Gerak refleks sendiri memiliki mekanisme yang
secara sederhana dituliskan sebagai berikut :
Stimulus Reseptor Saraf sensori Saraf Penghubung

Respon Efektor Saraf motoris


Gerak sadar merupakan gerakan yang terjadi karena proses yang disadari.
Impuls pada gerakan sadar melalui jalan panjang, yaitu dari reseptor, ke saraf
sensori, dibawa ke otak untuk selanjutnya diolah oleh otak, kemudian hasil olahan
oleh otak, berupa tanggapan, dibawa oleh saraf motor sebagai perintah yang harus
dilaksanakan oleh efektor (Ville et al., 1988). Mekanisme gerak sadar:
Stimulus Reseptor Saraf sensori Otak

Respon Efektor Sel saraf motorik


Faktor-faktor yang mempengaruhi reflek spinal antara lain :
1. Ada tidaknya rangsangan/stimulus.
Rangsangan dari luar contohnya adalah derivat dari temperatur, kelembaban,
sinar, tekanan, zat-zat dan sebagainya.rangsangan dari dalam yaitu dari makanan,
oksigen, air dan lainnya. Beberapa rangsangan langsung bereaksi pada sel atau
jaringan tetapi kebanyakan hewan-hewan mempunyai kepekaan yang spesial. Pada
reflek spinal, somato sensori dimasukkan dalam urat spinal sampai bagian dorsal.
Sensori yang masuk dari kumpulan reseptor yang berbeda memberikan pengaruh
hubungan pada urat spinal sehingga terjadi reflek spinal ( Richard and Gordon,
1989 ).
2. Berfungsinya sumsum tulang belakang.
Sumsum tulang belakang mempunyai dua fungsi penting yaitu untuk mengatur
impuls dari dan ke otak dan sebagai pusat reflek, dengan adanya sumsum tulang
belakang pasangan syaraf spinal dan kranial menghubungkan tiap reseptor dan
effektor dalam tubuh sampai terjadi respon. Apabila sumsum tulang belakang telah
rusak total maka tidak ada lagi efektor yang menunjukkan respon terhadap
stimulus/rangsang (Ville et al, 1988). Adanya reflek spinal katak berupa respon
dengan menarik kaki belakang saat perusakan sumsum tulang belakang disebabkan
karena masih terjadi interkoneksi dari satu sisi korda spinalis ke sisi yang lain
(Subowo, 1992). Organisasi daerah kekuatan dalam spinal jantung katak dapat
berguna sebagai tehnik fungsional stimulasi neuron muscular digunakan untuk untuk
fungsi motorik stimulasi elektrik pada interneuron spinal. Mikrostimulasi pada
daerah kelabu pada jantung spinal katak menghasilkan respon motorik yang dapat
disebarkan pada daerah kekuatan ( Michel et. al.,1996).
IV. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa Gerak


refleks merupakan gerakan pintas ke sumsum tulang belakang. Ciri refleks yaitu respon
yang terjadi berlangsung dengan cepat dan tidak disadari. Neuron konektor merupakan
penghubung antara neuron sensorik dan neuron motorik. Gerak refleks spinal diatur oleh
saraf-saraf yang terdapat di dalam medulla spinalis yang terdapat di dalam kanalis
vertebratalis dan berhubungan dengan otak melalui fragmen magnum. Jadi, gerak refleks
berpusat di medulla spinalis yang terdapat di dalam kanalis vertebralis. Mekanisme
terjadinya reflek spinal yaitu stimulus mula-mula diterima oleh reseptor yang kemudian
diubah menjadi impuls di dalam neuron afferent, kemudian ke sumsum tulang belakang
dan diteruskan oleh neuron motoris untuk diwujudkan dalam bentuk gerak refleks atau
gerak tidak sadar.
DAFTAR PUSTAKA

Bolzoni, F., & Jankowska, E., 2015. Presynaptic and postsynaptic effects of local
cathodal. Journal of Neuroscience and Physiology, 947-966.

Budiono, Pertami, S. B., & Mustayah., 2018. Pemberdayaan Lansia Melalui


Aktivitas Relaksasi Progresif Untuk Menurunkan Nyeri Kepala dan Tekanan
Darah. Jurnal Idaman, 7-12.

Bykov, K.M., 1960. Text Book of Physiology. Moscow: Foreign Languages


Publishing House.

Campbell, N.A., 2004. Biologi Edisi Kelima Jilid III. Jakarta: Erlangga.
Colgan, Wes., 2012. Classic Clinical Technique Adapted to Demonstrate Autonomic
Nervous System Physiology in an Undergraduate Laboratory Course.The
Journal of Undergraduate Neuroscience Education (JUNE), vol 11(1) : A158
- A160.

Djuhanda, T., 1988. Anatomi Perbandingan Vertebrata II. Bandung: Armico.


Hoar, W.S., 1984. General and Comparative Physiology Third Edition. New Delhi:
Prentice Hall of India Private Limited.

Goenarso., 1989. Fisiologi Hewan. Pusat antar Universitas Bidang Ilmu Hayati.
Bandung: ITB.

Gordon, M. S., 1972. Animal Physiology Principles and Adaptation. New York: Mac
Mllan Publishing Co. Inc.
Gunawan, Adi, M. S., 2002. Mekanisme Penghantaran dalam Neuron
(Neurotransmisi). Integral, vol. 7 no. 1
Kimball, J.W., 1983. Biologi Edisi Ke lima Jilid II. Jakarta: Erlangga.

Madhusoodanan, M. G. P., 2007. Continence Issues in the Patient with Neurotrauma.


Senior Consultant Surgery, Armed Forces Medical Services ‘M’ Block,
Ministry of Defence, DHQ, New Delhi. Indian Journal of Neurotrauma
(IJNT) 2007, Vol. 4(2): 75-78.

Michel A. Lemay; Neville Hogan; and Emilio Bizzi., 1996. Recruitment Modulation
of Force Fields Organized in the Frog's Spinal Cord. Departments of
Mechanical Engineering and Brain & Cognitive Sciences , Massachusetts
Institute ofTechnology, Cambridge, MA 02 139.

Pearce, E., 1989. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta: Gramedia.

Richard, W.H and Gordon., 1989. Animal Physiology. New York: Harper Collins
Publisher.

Subowo., 1992. Histologi Umum. Bandung: ITB Press.


Villee, C.A,W.F. Walker and R.D. Barnes., 1988. General Zoology. Philadelphia:
W.B. Saunders Company.

Yudaniayanti, I.S., Yusuf, D., Setyono, H., Arifin, M.Z., Tehupuring, B.Chr., dan
Tjitro, H., 2012. Profil Tekanan Intra Okuler Penggunaan Kombinasi
Ketamin-Xylazin dan Ketamin Midazolam pada Kelinci.Vet Medika J Klin
Vet, vol. 1(1).