Anda di halaman 1dari 10

TRANSLATED BY, CHERIN VIRGINIA, 06111281520055| PENDIDIKAN FISIKA 2015

1.1. Aljabar Vektor


1.1.1. Operasi Vektor
Jika seseorang berjalan 4 mill ke utara dan 3 mill ke timur seperti pada
gambar 1.1. jarak total yan telah ditempuh adalah 7 mill. Tetapi bukan berarti
seseorang tersebut telah berpindah sejauh 7 mill, orang tersebut hanya
berpindah 5 mill. pada kasus seperti ini diperlukan aritmatika untuk
menggambarkan perhitungannya, dibuktikanya dengan cara yang tidak biasa.
Alasan mengapa hal tersebut tidak belaku tentu saja karena Perpindahan
(garis lurus antar titik) yang memiliki besar dan arah. Diperlukan saat ingin
memperhitungkan dengan perpindahan lainya. Objek seperti ini disebut
dengan vektor: contoh lain dari vektor adalah kecepatan, percepatan, gaya
dan momentum. Kebalikanya adalah sesuatu yang hanya memiliki besar saja
yang disebut dengan skalar. Contoh dari skalar adalah massa, harga, massa
jenis, dan temperatur. Vektor di simbolkan dengan huruf bercetak tebal (A, B,
dan seterusnya). Besar dari vektor A ditulis dengan |𝐀| atau lebih sederhana
A. Diagram vektor ditunjukan oleh panah: panjang dari panah merupakan
besar dari vektor. Ujung panah menunjukan arah dari vektor. 𝐀(−𝐀) adalah
vektor denganbesar yang sama tetapi berlawanan arah. (lihat gambar 1.2)

3 Mill

𝐀
4 Mill 5 Mill −𝐀

Gambar 1.1 Gambar 1.2


Perlu diingat bahwa vektor hanya memiliki besar dan arah tidak memiliki
lokasi. Perpindahan 4 mill ke utara dari Baltimore (dengan mengabaikan
kelengkungan dari bumi). Oleh karena itu diagram bisa digeser-geser , selama
besar dan arahnya tidak diubah.
INTRODUCTION TO ELECTRODYNAMICS | DAVID J. GRIFFITHS 1
|3𝑟𝑑 EDITION
TRANSLATED BY, CHERIN VIRGINIA, 06111281520055| PENDIDIKAN FISIKA 2015

Ada 4 macam operasi vektor yang ada dan ada tiga jenis perkalian
vektor
(i) Penjumlahan dua vektor. Letakan ujung vektor B pada anah atas
vektor A , 𝐀 + 𝐁, adalah penjumlahan ujung A dan B (Gambar 1.3).
Penjumlahan ini bersifat komutatif
𝐀+𝐁 =𝐁+𝐀
dan juga berlaku sifat asosiatif
(𝐀 + 𝐁) + 𝐂 = 𝐀 + (𝐁 + 𝐂)
Pada gambar 1.4 merupakan vektor yang berlawanan
𝐀 − 𝐁 = 𝐀 + (−𝐁)

B
−𝐁

𝐁+𝐀
A
A+B A 𝐀−𝐁 A

Gambar 1.3 Gambar 1.4


(ii) Perkalian skalar. Perkalian skalar vektor dengan bilangan positif
membuat besar vektor bertambah tetapi arah nya tidak berubah seperti pada
gambar 1.5. Jika dikalian dengan bilangan negatif maka arahnya akan
berubah. Pada perkalian salar berlaku sifat distributif:
a(𝐀 + 𝐁) = a𝐀 + a𝐁
(iii) Dot product dua vektor, perkalian titik dua vektor di tuliskan
sebagai berikut
𝐀 ∙ 𝐁 = A. B cos θ 1.1
Dimana 𝜃 merupakan sudut antar ujung dari vektor seperti pada gambar
1.6. perlu diingat bahwa 𝐀 ∙ 𝐁 merupakan operasi skalar. Pada perkalian titik
berlaku sifat komutatif, dan distributif
𝐀∙𝐁= 𝐁∙𝐀
1.2
INTRODUCTION TO ELECTRODYNAMICS | DAVID J. GRIFFITHS 2
|3𝑟𝑑 EDITION
TRANSLATED BY, CHERIN VIRGINIA, 06111281520055| PENDIDIKAN FISIKA 2015

𝐀 ∙ (𝐁 + 𝐂) = 𝐀 ∙ 𝐁 + 𝐀 ∙ 𝐂

𝟐𝐀 𝐀
𝐀
𝜃
𝐁
Gambar 1.5 Gambar 1.6

Secara geometri, 𝐀 ∙ 𝐁 adalah A kali proyeksi dari B sepanjang A


(atau B kali proyeksi dari A sepanjang B). Jika dua vektor paralel,
kemudian 𝐀 ∙ 𝐁 = 𝐴𝐵. Pada bagian hanya memperkalian antar
vektor A,
𝐀 ∙ 𝐀 = 𝐴𝟐 1.3
Jika A dan B saling tegak lurus, maka 𝐀 ∙ 𝐁 = 𝟎
Example 1.1
Misal 𝐂 = 𝐀 − 𝐁 (Gambar 1.7), dan hitunglah perkalian titik dari 𝐂
dengan dirinya sendiri.
Penyelesaian
𝐂 ∙ 𝐂 = (𝐀 − 𝐁) ∙ (𝐀 − 𝐁) = 𝐀 ∙ 𝐀 − 𝐀 ∙ 𝐁 − 𝐁 ∙ 𝐀 + 𝐁 ∙ 𝐁
Atau
𝐶 2 = 𝐴2 + 𝐵 2 − 2𝐴𝐵 cos 𝜃

Merupakan aturan cos


(iv) Cross product dua vektor. Perkalian silang dari dua vektor
dituliskan
̂
𝐀 × 𝐁 ≡ 𝐴𝐵 sin 𝜃 𝒏
̂ adalah unit vektor (vektor yang nilainya 1) menujukan
Dimana 𝒏 1.4
bahwa koordinat A dan B. pada operasi perkalian ini tentunya ada dua
arah yang saling tagk lurus dengan koordinat lainya: masuk dan keluar.
Hal ini lebih jelas di selesaikan dengan menggunakan kaidah tangan

INTRODUCTION TO ELECTRODYNAMICS | DAVID J. GRIFFITHS 3


|3𝑟𝑑 EDITION

1.5
TRANSLATED BY, CHERIN VIRGINIA, 06111281520055| PENDIDIKAN FISIKA 2015

kanan: jari-jari menunjukan arah dari vektor yang pertama dan jempol
merupakan penunjuk arah vektor yang kedua. Operasi perkalian 𝐀 × 𝐁
hasilnya adalah vektor. Pada perkalian cross hanya berlaku sifat
distributif tidak berlaku sifat komutatif
𝐀 × (𝐁 × 𝐂) = (𝐀 × 𝐁) + (𝐀 × 𝐂)

A C A

B B
Gambar 1.7 Gambar 1.8
(𝐁 × 𝐀) = −(𝐀 × 𝐁)
Secara geometri, |𝐀 × 𝐁| merupakan area pembangkit parallelogram
dari A dan 𝐁. Jika dua vektor paralel, perkalian silangnya adalah nol.
𝐀×𝐀=0
Untuk setiap vektor 𝐀.
Soal 1.1 berdasarkan pengertian pada persamaan 1.1. dan 1.4, dan
dengan menggunakan diagram, tunjukah bahwa perkalian titik dan
perkalian slang memiliki sifat distributif
a) Ketika tiga vektor koplanar
b) Pada kasus biasa
Soal 1.2 Apakah perkalian cross bersifat asosiatif? Buktikan!
(𝐀 × 𝐁) × 𝐂 = 𝐀 × (𝐁 × 𝐂)
1.1.2. Aljabar Vektor : Bentuk Komponen
Pada bagian pertama sudah dijelaskan tentang empat operasi vektor
(penjumlahan, perkalian skalar, perkalian titik dan perkalian silang) pada
bentukan yang abstrak, tanpa mengacu pada sebagian sistem koordinat.
Kenyataanya , lebih mudah untuk meletakan pada korrdinat cartesian x, y, z
̂, ̂
dan dijadikan komponen vektor, misal 𝒙 𝒚, dan 𝒛̂ menjadi unite vektor

INTRODUCTION TO ELECTRODYNAMICS | DAVID J. GRIFFITHS 4


|3𝑟𝑑 EDITION
TRANSLATED BY, CHERIN VIRGINIA, 06111281520055| PENDIDIKAN FISIKA 2015

paralel untuk sumbu x, y, dan z, sesuai dengan gambar 1.9a. jadi vektor A
dapat dituliskan dengan basis vektor sebagai berikut :
𝐀 = 𝐀 𝐱 𝐱̂ + 𝐀 𝐲 𝐲̂ + 𝐀 𝐳 𝐳̂

z
z

𝒛̂
𝑨𝒛 𝒛̂
y y
̂
𝒚 ̂
𝑨𝒙 𝒙
̂
𝒙
̂
𝑨𝒚 𝒚
(a) x (b)
x
Gambar 1.9
Nilai 𝐀 𝐱 , 𝐀 𝐲 , dan 𝐀 𝐳 , disebut komponen dari A. Secara geometris, nilai
tersebut merupakan proyeksi dari A sepnjang tiga sumbu koordinat. Kita bisa
mengetahuinya dengan merumuskan ulang setiap dari empat operasi vektor
sebagai aturan untuk memanipulasi komponen :
𝐀 + 𝐁 = (𝐀 𝐱 𝐱̂ + 𝐀 𝐲 𝐲̂ + 𝐀 𝐳 𝐳̂) + (𝐁𝐱 𝐱̂ + 𝐁𝐲 𝐲̂ + 𝐁𝐳 𝐳̂)
= (𝐀 𝐱 + 𝐁𝐱 )𝐱̂ + (𝐀 𝐲 + 𝐁𝐲 )𝐲̂ + (𝐀 𝐳 + 𝐁𝐳 ) 𝐳̂ 1.7
(i) Aturan: untuk menambahkan vektro tambahkan per komponen.
𝐀 = a(𝐀 𝐱 )𝐱̂ + a(𝐀 𝐲 )𝐲̂ + a(𝐀 𝐳 ) 𝐳̂ 1.8
(ii) Aturan: untuk mengalikan vektor, kalikan pada setiap komponen
Karena 𝐱̂, 𝐲̂, dan 𝐳̂ adalah unit vektor yang saling tegak lurus.
̂∙𝒙
𝒙 ̂=𝒚
̂∙𝒚
̂ = 𝒛̂ ∙ 𝒛̂ = 1; ̂∙𝒚
𝒙 ̂=𝒙
̂ ∙ 𝒛̂ = 𝒚
̂ ∙ 𝒛̂ = 0 1.9

Karena itu,
𝐀 ∙ 𝐁 = (𝐀 𝐱 𝐱̂ + 𝐀 𝐲 𝐲̂ + 𝐀 𝐳 𝐳̂) ∙ (𝐁𝐱 𝐱̂ + 𝐁𝐲 𝐲̂ + 𝐁𝐳 𝐳̂)
= (𝐀 𝐱 𝐁𝐱 + 𝐀 𝐲 𝐁𝐲 + 𝐀 𝐳 𝐁𝐳 ) 1.10
(iii) Aturan: untuk menghitung perkalian silang, kalikan setiap komponen
yang ada, dan kemudian tambahkan bagian-bagianya;
𝐀 ∙ 𝐀 = 𝐀𝟐𝐱 + 𝐀𝟐𝐲 + 𝐀𝟐𝐛

A = √𝐀𝟐𝐱 + 𝐀𝟐𝐲 + 𝐀𝟐𝐛 1.11

INTRODUCTION TO ELECTRODYNAMICS | DAVID J. GRIFFITHS 5


|3𝑟𝑑 EDITION
TRANSLATED BY, CHERIN VIRGINIA, 06111281520055| PENDIDIKAN FISIKA 2015

Ini mirip dengan aturan phytagoras yang telah diketahui


Mirip dengan
𝐱̂ ∙ 𝐱̂ = 𝐲̂ ∙ 𝐲̂ = 𝐳̂ ∙ 𝐳̂ = 𝟎
̂
𝐱̂ ∙ 𝐲̂ = −𝐲̂ ∙ 𝐱̂ = 𝐳,
𝐲̂ ∙ 𝐳̂ = −𝐳̂ ∙ 𝐲̂ = 𝐱̂,
𝐳̂ ∙ 𝐱̂ = −𝐱̂ ∙ 𝐳̂ = 𝐲̂, 1.12
Oleh karena itu
𝐀 × 𝐁 = (𝐀 𝐱 𝐱̂ + 𝐀 𝐲 𝐲̂ + 𝐀 𝐳 𝐳̂) × (𝐁𝐱 𝐱̂ + 𝐁𝐲 𝐲̂ + 𝐁𝐳 𝐳̂) 1.13
= (𝐀 𝐲 𝐁𝐳 − 𝐀 𝐳 𝐁𝐲 )𝐱̂ + (𝐀 𝐳 𝐁𝐱 − 𝐀 𝐱 𝐁𝐳 )𝐲̂ + (𝐀 𝐱 𝐁𝐲 − 𝐀 𝐲 𝐁𝐱 )𝐳̂
Dapat di tulis dengan matriks determinan:
𝐱̂ 𝐲̂ 𝐳̂
𝐀 × 𝐁 = |𝐀 𝐱 𝐀𝐲 𝐀𝐳| 1.14
𝐁𝐱 𝐁𝐲 𝐁𝐳
(iv) Aturan: untuk menghitung perkalian silang, bentuk determinan pada
baris pertama adalah 𝐱̂, 𝐲̂, dan 𝐳̂, baris kedua merupakan bentuk
komponen A, dan baris ketiga merupakan bentuk komponen B.

Contoh 1.2
Temukan sudut antara diagonal bidang dari kubus.
Penyelesaian: menggunakan sisi kubus 1, dan letakan seperti ditunjukan pada
gambar 1.10, dengan satu sudut asal, diagonal bidang A dan B adalah
𝐀 = 1𝐱̂ + 0𝐲̂ + 1𝐳̂; 𝐁 = 0𝐱̂ + 1𝐲̂ + 1𝐳̂
z
(0, 0, 1)

B
𝜃
A
y (0, 1, 0)

(1, 0, 0)
x Gambar 1.10

INTRODUCTION TO ELECTRODYNAMICS | DAVID J. GRIFFITHS 6


|3𝑟𝑑 EDITION
TRANSLATED BY, CHERIN VIRGINIA, 06111281520055| PENDIDIKAN FISIKA 2015

Jadi, bentuk dari komponenya


𝐀∙𝐁= 1∙0+0∙1+1∙1=1
Disisilain, pada bentuk abstrak
𝐀 ∙ 𝐁 = 𝐴𝐵 cos 𝜃 = √2√2 cos 𝜃 = 2 cos 𝜃
Oleh karena itu,
1
cos 𝜃 = , atau 𝜃 = 60𝑜
2
Tentu saja, akan lebih mudah menentukanya dengan menggambar bidang
diagonal.

Soal 1.3 Temukan sudut antara bidang diagonal dari kubus!


Soal 1.4 Gunakan perkalian silang untuk menemukan komponen dari unit
̂ tegak lurus dengan kurva yang ditujukan pada Gambar 1.11
vektor 𝒏

1.1.3. Perkalian Tripel


Karena perkalian vektor dari dua vektor menghasilkan vektor, hasilnya
dapat di-dot-kan atau di-cross-kan vektor lainya, ini disebut dengan
perkalian tripel.
(i) Perkalian tripel skalar: 𝐀 ∙ (𝐁 + 𝐂). Secara geometri, |𝐀 ∙ (𝐁 + 𝐂)|
merupakan volume dari pembangkit paralelpiped dari A, B, dan C,
karena |𝐁 × 𝐂| adalah area bawah, dan |𝐀 cos θ| ditunjukan pada
gambar 1.12. dibuktikan,
𝐀 × (𝐁 × 𝐂) = 𝐁 × (𝐂 × 𝐀) = 𝐂 × (𝐀 × 𝐁) 1.15
Untuk semua operasi di atas digambarkan dengan gambar yang sama.
Perlu diingat “alfabet” harus berurutan sepert pada persamaan 1.6,
perkalian tripel non alfabet,
𝐀 × (𝐂 × 𝐁) = 𝐁 × (𝐀 × 𝐂) = 𝐂 × (𝐁 × 𝐀)
z
3
̂
𝒏

𝜃
A
2 ̂
𝒏
1 C
x B
Gambar 1.11 Gambar 1.12

INTRODUCTION TO ELECTRODYNAMICS | DAVID J. GRIFFITHS 7


|3𝑟𝑑 EDITION
TRANSLATED BY, CHERIN VIRGINIA, 06111281520055| PENDIDIKAN FISIKA 2015

Memiliki bentuk berlawanan untuk komponen,


𝐀𝐱 𝐀𝐲 𝐀𝐳
𝐀 ∙ (𝐂 × 𝐁) = |𝐁𝐱 𝐁𝐲 𝐁𝐳 | 1.16
𝐂𝐱 𝐂𝐲 𝐂𝐳
Perlu diingat bahwa dot dan cross dapat saling menukar:
𝐀 ∙ (𝐁 × 𝐂) = (𝐀 × 𝐁) ∙ 𝐂
(persamaan ini secara langsung mengikuti persamaan 1.15);
bagaimanapun, penempatan dari penurunan ini adalah: (𝐀 ∙ 𝐁) × 𝐂
merupakan persamaan yang tidak memiliki arti, kita tidak dapat
melakukan perkalian cross pada hasil perkalian dot.
(ii) Perkalian tripel vektor: 𝐀 × (𝐁 × 𝐂). Perkalian tripel vektor bisa
disederhanakan dengan menggunakan aturan BAC-CAB :
𝐀 × (𝐁 × 𝐂) = 𝐁 (𝐀 ∙ 𝐂) − 𝐂 (𝐀 ∙ 𝐁) 1.17
Ketahui bahwa
(𝐀 × 𝐁) × 𝐂 = −𝐂 × (𝐀 × 𝐁) = −𝐀(𝐁 ∙ 𝐂) + 𝐁(𝐀 ∙ 𝐂)
Yang seluruhnya merupakan vektor berbeda. Secara langsung, semua
operasi vektor yang lebih tinggi bisa secara mirip dikurangi. Dengan
mengulang aplikasi persamaan 1.17. jadi jadi tidak perlu ada satu lagi
perkalian cross. Untuk lebih jelas:
(𝐀 × 𝐁) ∙ (𝐂 × 𝐃) = (𝐀 ∙ 𝐂)(𝐁 ∙ 𝐃) − (𝐀 ∙ 𝐃)(𝐁 ∙ 𝐂);
𝐀 × (𝐁 × (𝐂 × 𝐃)) = 𝐁(𝐀 ∙ (𝐂 × 𝐃)) − (𝐀 ∙ 𝐁)(𝐂 × 𝐃) 1.18

Soal 1.5 Buktikan aturan BAC-CAB dengan menuliskan komponen dari dua
sisi!
Soal 1.6 Buktikan bahwa
[𝑨 × (𝑩 × 𝑪)] + [𝑩 × (𝑪 × 𝑨)] + [𝑪 × (𝑨 × 𝑩)] = 0
Pada kondisi 𝐀 × (𝐁 × 𝐂) = (𝐀 × 𝐁) × 𝐂

1.1.4. Posisi, Perpindahan, dan Separasi Variabel


Lokasi dari titik a pad tiga dimensi bisa digambarkan dengan koordinat
kkartesian (x, y,z). Vektor yang berasal dari titik asal (gambar 1.13) disebut
dengan vektor posisi :
INTRODUCTION TO ELECTRODYNAMICS | DAVID J. GRIFFITHS 8
|3𝑟𝑑 EDITION

1.18
TRANSLATED BY, CHERIN VIRGINIA, 06111281520055| PENDIDIKAN FISIKA 2015

𝒓 ≡ 𝒙 ̂𝒙 + 𝒚 𝒚
̂ + 𝒛 𝒛̂ 1.19
z Titik asal

𝒓̂ (x,y,z) r’ r
r z
y Titik bidang
x
x
Gambar 1.13

r adalah besar dari vektor,


𝒓 = √𝑥 2 + 𝑦 2 + 𝑧 2 1.20

Merupakan jarak dari titik asal, dan


𝒓 𝒙 ̂𝒙 + 𝒚 𝒚
̂ + 𝒛 𝒛̂
𝒓̂ = = 1.21
𝑟 √𝑥 2 + 𝑦 2 + 𝑧 2

Merupakan unit vektor. Nilai perpindahan infinitesimal vektor, (x, y, z) ke


(𝑥 + 𝑑𝑥, 𝑦 + 𝑑𝑦, 𝑧 + 𝑑𝑧), adalah
𝒅𝒍 = 𝒅𝒙 ̂𝒙 + 𝒅𝒚 𝒚
̂ + 𝒅𝒛 𝒛̂ 1.22
(kita bisa menyebutnya dr, karena jenisnya tetapi digunakan untuk untuk
menyediakan huruf khusus dari perpindahan infinitesimal)
Pada elektrodinamika satu masalah yang sering muncul biasanya
melibatkan dua titik, titik sumber. r’ , dimana muatan listrik berada, dan
sebah titik bidang , r, pada tempat dimana medan magnet dan muatan listrik
dihitung (Gambar 1.4). menyebabkan dari awal untuk separasi variabel dari

sumber titik ke sumber bidang. Akan digunakan huruf r :

𝓻 ≡ 𝒓 − 𝒓′ 1.23
besarnya
𝓻 ≡ |𝒓 − 𝒓′ | 1.24
dan arah dari vektor
𝓻 𝒓 − 𝒓′
̂=
𝓻 = 1.25
𝓇 |𝒓 − 𝒓′|

INTRODUCTION TO ELECTRODYNAMICS | DAVID J. GRIFFITHS 9


|3𝑟𝑑 EDITION
TRANSLATED BY, CHERIN VIRGINIA, 06111281520055| PENDIDIKAN FISIKA 2015

Pada koordinat cartesian,


𝓻 = (𝒙 − 𝒙′ )𝒙
̂ + (𝒚 − 𝒚′ )𝒚
̂ + (𝒛 − 𝒛′ )𝒛̂ 1.26
𝓇 = √(𝒙 − 𝒙′ )2 + (𝒚 − 𝒚′ )2 + (𝒛 − 𝒛′ )2 1.27
(𝒙 − 𝒙′ )𝒙
̂ + (𝒚 − 𝒚′ )𝒚
̂ + (𝒛 − 𝒛′ )𝒛̂
̂=
𝓻 1.28
√(𝒙 − 𝒙′ )2 + (𝒚 − 𝒚′ )2 + (𝒛 − 𝒛′ )2
Dari yang di mulai dengan 𝓇
Soal 1.7 Temukan pemisahan vektor 𝓇 dari titik sumber (2, 8, 7) untuk
bidang (4, 6,8) tentukan besar dari (𝓇), dan buatlah unit vekto𝑟 𝓇

1.1.5. Transformasi Vektor


𝑨𝒚 = 𝐴 cos 𝜃, 𝑨𝒛 = 𝐴 sin 𝜃,
̅̅
𝑨̅̅𝒚 = 𝐴 cos 𝜃̅ = 𝐴 cos(𝜃 − ∅) = 𝐴( cos 𝜃 cos ∅ + sin 𝜃 sin ∅)
= cos ∅ 𝑨𝒚 + sin ∅ 𝑨𝒛

𝑨𝒛 = 𝐴 sin 𝜃̅ = 𝐴 sin (𝜃 − ∅) = 𝐴( sin 𝜃 cos ∅ + cos 𝜃 sin ∅)


̅̅̅
= −sin ∅ 𝑨𝒚 + cos ∅ 𝑨𝒛

z’

A 𝜃̅ y’
𝜃 ∅ y

̅𝑨̅̅̅
𝒚 cos ∅ sin ∅ 𝑨𝒚
( )=( )( )
̅̅̅
𝑨𝒛 −sin ∅ cos ∅ 𝑨𝒛
̅𝑨̅̅̅ 𝑹𝒙𝒙 𝑹𝒙𝒚 𝑹𝒙𝒛
𝒙 𝑨𝒙
(̅𝑨̅̅̅𝒚 ) = (𝑹𝒚𝒙 𝑹𝒚𝒚 𝑹𝒚𝒛 ) (𝑨𝒚 )
̅̅̅
𝑨 𝑹𝒛𝒙 𝑹𝒛𝒚 𝑹𝒛𝒛 𝑨𝒛
𝒛

INTRODUCTION TO ELECTRODYNAMICS | DAVID J. GRIFFITHS 1


|3𝑟𝑑 EDITION 0