Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA

KINETIKA REAKSI

Oleh:

ALFIYAH NAJMI (1707114037)


AZIZUL HAQ AR RASYID (1707113752)
SYABRINUR FADILAH (1707122680)
VALENTIN LILIS SURIANI (1707111378)

PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA S1


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS RIAU
2018

i
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ....................................................................................................... i


BAB I PENDAHULUAN
1.1 Tujuan Praktikum .................................................................................... 1
1.2 Landasan Teori ........................................................................................ 1

BAB II PERCOBAAN
2.1 Alat-Alat Yang Digunakan ..................................................................... 6
2.2 Bahan-Bahan Yang Digunakan ............................................................... 6
2.3 Prosedur Pengerjaan ................................................................................ 6

BAB III HASIL DAN DISKUSI


3.1 Hasil Percobaan ....................................................................................... 8
3.1.1 Pengaruh Konsentrasi Terhadap Laju Reaksi ................................ 8
3.1.2 Pengaruh Suhu Terhadap Laju Reaksi ........................................... 8
3.2 Diskusi .................................................................................................... 9
BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan............................................................................................ 11
4.2 Saran ...................................................................................................... 11

BAB V TUGAS DAN PERTANYAAN


5.1 Tugas ..................................................................................................... 12
5.2 Pertanyaan ............................................................................................. 14
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 16
LAMPIRAN

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Tujuan Percobaan


1. Mempelajari pengaruh perubahan konsentrasi pada laju reaksi
2. Mempelajari pengaruh suhu pada laju reaksi
1.2 Landasan Teori
Kinetika kimia adalah suatu ilmu yang membahas tentang laju (kecepatan)
dan mekanisme reaksi. Berdasarkan penelitian yang mula – mula dilakukan oleh
Wilhelmy terhadap kecepatan inverse sukrosa, ternyata kecepatan reaksi
berbanding lurus dengan konsentrasi / tekanan zat – zat yang bereaksi. Laju reaksi
dinyatakan sebagai perubahan konsentrasi atau tekanan dari produk atau reaktan
terhadap waktu (Siregar, 2008)
Menurut Siregar (2008), berdasarkan jumlah molekul yang bereaksi, reaksi
terdiri atas :
a. Reaksi unimolekular: hanya 1 mol reaktan yang bereaksi.
Contoh : N2O5 → N2O4 + ½ O2
b. Reaksi bimolekular: ada 2 mol reaktan yang bereaksi.
Contoh : 2HI → H2 + I2
c. Reaksi termolekular: ada 3 mol reaktan yang bereaksi.
Contoh : 2NO + O2 → 2NO2
Berdasarkan banyaknya fasa yang terlibat, reaksi terbagi menjadi :
a. Reaksi homogen: hanya terdapat satu fasa dalam reaksi (gas atau larutan) .
b. Reaksi heterogen: terdapat lebih dari satu fasa dalam reaksi.
Kinetika kimia disebut juga dinamika kimia, karena adanya gerakkan
molekul, elemen atau ion dalam mekanisme reaksi dan laju reaksi sebagai fungsi
waktu. Mekanisme reaksi dapat diramalkan dengan bantuan pengamatan dan
pengukuran besaran termodinamika suatu reaksi, dengan mengamati arah jalannya
reaktan maupun produk suatu sistem (Siregar, 2008).
Reaksi kimia adalah proses berubahnya pereaksi menjadi hasil reaksi.
Proses itu ada yang lambat dan ada yang cepat. Contohnya bensin terbakar lebih

1
cepat dibandingkan dengan minyak tanah. Ada reaksi yang berlangsung sangat
cepat, seperti membakar dinamit yang menghasilkan ledakan, dan yang sangat
lambat adalah seperti proses berkaratnya besi. Pembahasan tentang kecepatan
(laju) reaksi disebut kinetika kimia. Dalam kinetika kimia ini dikemukakan cara
menentukan laju reaksi dan faktor apa yang mempengaruhinya (Syukri, 1999).
Cabang ilmu kimia yang khusus mempelajari tentang laju reaksi disebut
kinetika kimia. Tujuan utama kinetika kimia ialah menjelaskan bagaimana laju
bergantung pada konsentrasi reaktan dan mengetahui mekanisme suatu reaksi
berdasarkan pengetahuan tentang laju reaksi yang diperoleh (Oxtoby, 2011).
Laju reaksi didefinisikan sebagai perubahan konsentrasi persatuan waktu.
Satuan yang umum adalah mol/dm-3-i .Umumnya laju reaksi meningkat dengan
meningkatnya konsentrasi dan dapat dinyatakan sebagai:

Laju = k f (C1, C2, ….,Ci) .................................... (1.1)

Dimana k adalah konstanta laju, juga disebut konstanta laju spesifik atau
konstanta kecepatan, C1, C2, …adalah konsentrasi dari reaktan-reaktan dan produk
produk (Dogra, 1990).
Laju reaksi kimia terlihat dari perubahan konsentrasi molekul reaktan atau
konsentrasi molekul produk terhadap waktu. Laju reaksi tidak tetap melainkan
berubah terus-menerus seiring dengan perubahan konsentrasi (Chang, 2005).
Pengetahuan tentang faktor yang mempengaruhi laju reaksi berguna dalam
mengontrol kecepatan reaksi berlangsung cepat, seperti pembuatan amoniak dari
nitrogen dan hidrogen, atau dalam pabrik menghasilkan zat tertentu. Akan tetapi
kadangkala kita ingin memperlambat laju reaksi, seperti mengatasi berkaratnya
besi, memperlambat pembusukan makanan oleh bakteri, dan sebagainya (Syukri,
1999).
Berikut ini adalah faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi:
1. Konsentrasi
Kecepatan reaksi bergantung pada banyak faktor. Konsentrasi reaktan
memainkan peran penting dalam mempercepat atau memperlambat rekasi tertentu.
Konsentrasi mempengaruhi laju reaksi karena banyaknya partikel memungkinkan

2
lebih banyak tumbukan, dan itu membuka peluang semakin banyak tumbukan
efektif yang menghasilkan perubahan (Martin, 1993).

2. Suhu
Kenaikan suhu dapat mempercepat laju reaksi karena dengan naiknya suhu,
energi kinetik partikel zat-zat meningkat sehingga memungkinkan semakin
banyaknya tumbukan efektif yang menghasilkan perubahan. Berdasarkan teori
tumbukan, reaksi terjadi bila molekul bertumbukan dengan energi yang cukup
besar, disebut energi aktivasi. Untuk memutus ikatan dan mengawali reaksi,
konsatanta laju dan energi aktivasi dihubungkan oleh persamaan Arrhenius
(Martin, 1993).

k = Ae-Ea/RT ..............................(1.2)

Keterangan: Ea = energi aktivasi


T = suhu mutlak
A = frekuensi tumbukan

3. Luas Permukaan
Luas permukaan mempercepat laju reaksi karena semakin luas permukaan
zat, semakin banyak bagian zat yang saling bertumbukan dan semakin besar
peluang adanya tumbukan efektif menghasilkan perubahan. Semakin luas
permukaan zat, semakin kecil ukuran partikel zat, reaksi pun akan semakin cepat
(Martin, 1993).

4. Katalis
Katalis ialah zat yang mengambil bagian dalam reaksi kimia dan
mempercepatnya, tetapi ia sendiri tidak mengalami perubahan kimia yang
permanen. Jadi, katalis tidak muncul dalam laju persamaan kimia balans secara
keseluruhan, tetapi kehadirannya sangat mempengaruhi hukum laju, memodifikasi
dan mempercepat lintasan yang ada (Martin, 1993).
Katalis menimbulkan efek yang nyata pada laju reaksi, meskipun dengan
jumlah yang sangat sedikit. Dalam kimia industri, banyak upaya untuk

3
menemukan katalis yang akan mempercepat reaksi tertentu tanpa meningkatkan
timbulnya produk yang tidak diinginkan (Oxtoby, 2001).

5. Efek pelarut
Pengaruh pelarut terhadap laju penguraian obat merupakan suatu topik
terpenting untuk ahli farmasi. Walau efek-efek tersebut rumit dan generalisasi
tidak dapat dilaksanakan. Tampak reaksi nonelektrolik dihubungkan dengan
tekanan dalam relative atau parameter kelarutan dari pelarut dan zat terlarut.
(Martin, 1993).
Proses laju merupakan hal dasar yang perlu diperhatikan bagi setiap orang
yang berkaitan kefarmasian, mulai dari pengusaha obat sampai kepasien.
Pengusaha obat harus dengan jelas menunjukkan bahwa bentuk obat atau sediaan
yang dihasilkannya cukup stabil sehingga dapat disimpan dalam jangka waktu
yang cukup lama, dimana obat tidak berubah menjadi zat tidak berkhasiat atau
racun, ahli farmasi harus mengetahui kestabilan potensial dari obat yang
dibuatnya. Dokter dan pasien harus diyakinkan bahwa obat yang ditulis atau
digunakannya akan sampai pada tempat pengobatan dalam konsentrasi yang
cukup untuk mencapai efek pengobatan yang diinginkan. Ada beberapa prinsip
dan proses laju yang berkaitan dimasukkan dalam rantai peristiwa ini yaitu:
kestabilan dan tak tercampurkan, disolusi, proses absorbs, distribusi dan eliminasi,
dan kerja obat pada tingkat molekul erobat (Martin, 1993).
Menurut Martin (1993), orde reaksi dapat ditentukan dengan beberapa
metode, yaitu:
1. Metode substansi
Data yang terkumpul dari hasil pengamatan jalannya suatu reaksi
disubtitusikan kedalam bentuk integral dari persamaan berbagai orde reaksi. Jika
persamaan itu menghasilkan menghasilkan harga K yang tetap konstan dalam
batas-batas variasi percobaan, maka reaksi dianggap berjalan sesuai dengan orde
tersebut.

4
2. Metode grafik
Plot data dalam bentuk grafik dapat digunakan untuk mengetahui orde
reaksi tersebut. Jika konsentrasi diplot terhadap t dan didapatkan garis lurus,
reaksi adalah orde nol. Reaksi dikatakan orde pertama bila log (a-x) terhadap t
menghasilkan garis lurus. Suatu reaksi orde-kedua akan memberikan garis lurus
bila 1/(a-x) diplot terhadap t (jika konsentrasi mula-mula sama). Jika plot 1/(a-x)2
terhadap t menghasilkan garis lurus dengan seluruh reaktan sama konsentrasi
mula-mulanya, reaksi adalah orde-ketiga.

3. Metode waktu-paruh
Dalam reaksi orde, waktu paruh sebanding dengan konsentrasi awal a,
waktu paruh reaksi orde-pertama tidak bergantung pada a, waktu paruh untuk
reaksi orde-kedua, dimana a=b sebanding dengan 1/a dari dalam reaksi orde-
ketiga, dimana a=b=c, sebanding dengan 1/a2.
Waktu paruh adalah waktu yang dibutuhkan oleh suatu obat untuk terurai
setengahnya dari konsentrasi mula-mula. Obat yang sama dapat menunjukkan
orde penguraian yang berbeda pada kondisi yang berbeda. Walaupun penguraian
hidrogen peroksida, misalnya dengan katalis ion iodin adalah suatu orde pertama,
telah ditemukan bahwa penguraian larutan yang distabilkan dengan berbagai
pereaksi dapat menjadi orde-nol. Dalam hal ini, di mana reaksi tidak tergantung
pada konsentrasi obat, penguraian mungkin akibat kontak dengan dinding wadah
atau berbagai faktor luar lainnya (Martin, 1993).

5
BAB II
PERCOBAAN

2.1 Alat-Alat Yang Digunakan


1. Gelas ukur 100 ml
2. Stopwatch
3. Water bath
4. Gelas piala 600 ml
5. Tabung reaksi
6. Pipet tetes 3 buah
7. Batang pengaduk
8. Thermometer
9. Gelas ukur 50 ml
2.2 Bahan-Bahan Yang Digunakan
1. Na2S2O3 0,25 M
2. HCl 1,0 M
3. Akuades
2.3 Prosedur Pengerjaan :
A. Pengaruh konsentrasi terhadap laju reaksi
1. Dimasukkan 50 ml Na2S2O3 0,25 M kedalam gelas ukur 100 ml yang
mempunyai alas rata. Seperti yang terlihat pada gambar :

Mata
Mata
Gelas Ukur

Larutan Gelas Ukur


Na2S2O3
Larutan Tanda silang dengan tinta
Na2S2O3 hitam pada kertas
Tanda putih.dengan
silang
tinta hitam pada
kertas putih

6
2. Kemudian gelas ukur tadi ditempatkan diatas sehelai kertas putih tepat
diatas tanda silang hitam yang dibuat pada kertas putih tersebut, sehingga
ketika dilihat dari atas melalui larutan tiosulfat, tanda silang tadi terlihat
jelas.
3. Ditambahkan 2 ml HCl 0,1 M dan tepat ketika penambahan dilakukan,
stopwatch dinyalakan. Larutan diaduk agar pencampuran merata, sementara
pengamatan dari atas tetap dilakukan.
4. Waktu yang diperlukan sampai tanda sialng hitam tidak dapat lagi diamati
dari atas dicatat.
5. Suhu larutan diukur dan dicatat.

B. Pengaruh suhu terhadap laju reaksi


1. 10 ml larutan tiosulfat dimasukkan kedalam gelas ukur, lalu diencerkan
hingga volumenya mencapai 50 ml.
2. Kemudian 2 ml HCl 1 M dimasukkan dalam tabung reaksi. Gelas ukur dan
tabung reaksi ditempatkan dalam penangas air sampai suhunya 35 oC.
Setelah suhu mencapai kesetimbangan, suhu kedua larutan diukur dan
dicatat.
3. Kedalam larutan tiosulfat ditambahkan asam, dan pada saat yang bersamaan
stopwatch dinyalakan. Larutan diaduk, kemudian ditempatkan diatas tanda
silang hitam. Waktu yang dibutuhkan sampai tanda silang tak lagi terlihat
dari atas dicatat.
4. Langkah diatas diulangi untuk berbagai suhu sampai 65oC (dilakukan untuk
empat suhu yang berbeda)

7
BAB III
HASIL DAN DISKUSI

3.1 Hasil Percobaan

3.1.1 Pengaruh Konsentrasi Terhadap Laju Reaksi

Tabel 3.1 Hasil Percobaan Pengaruh Konsentrasi Terhadap Laju Reaksi


Sistem Volume Volume Volume Konsentrasi Waktu
Na2S2O3 air (ml) HCL (ml) Relatif (detik)
(ml) Tiosulfat

1 50 0 2 0,25 M 12,63

2 40 10 2 0,2 M 13,84

3 30 20 2 0,15 M 14,31

4 20 30 2 0,1 M 18,22

5 10 40 2 0,05 M 41,87

6 5 45 2 0,025 M 75,02

3.2.2 Pengaruh Suhu Terrhadap Laju Reaksi

Tabel 3.2 Hasil Percobaan Pengaruh Suhu Terhadap Laju Reaksi


Sistem Suhu (oC) Waktu (detik)

1 35oC 35,47

2 45oC 19,56

3 55oC 14,70

4 65oC 08,74

8
3.2 Diskusi
Laju reaksi dinyatakan sebagai perubahan konsentrasi pereaksi ataupun
produk dalam satu satuan waktu. Faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi,
yaitu : konsentrasi, suhu, terkanan, volume, luas permukaan bidang sentuh dan
katalis. Sedangkan mekanise reaksi digunakan untuk menerangkan langkah-
langkah suatu reaktan berubah menjadi suatu produk.
Pada praktikum kali ini membahas tentang pengaruh konsentrasi dan suhu
terhadap laju reaksi dengan menggunkan bahan Na2S2O3 0,25 M, HCl 1 M, serta
akuades.
Percobaan pertama yaitu pengaruh perubahan konsentrasi terrhadap laju
reaksi., dilakukan dengan menyiapkan 1 buah gelas ukur 100 ml dan satu buah
gelas ukur 10 ml. Larutan Na2S2O3 0,25 M sebanyak 50 ml dimasukkan kedalam
gelas ukur 100 ml. Sebelumnya, gambarlah tanda silang diatas kertas putih
mernggunakan tinta hitam. Gelas ukur tadi diletakkan tepat diatas tanda silang
yang ada pada kertas putih. Hal terrsebut dilakukan agar kertika dilihat dari atas
melalui larutan tiosulfat, tanda silang tadi terlihat jelas. Kemudian, tambahkan 2
ml HCl 1 M ke dalam larutan tiosulfat, dan tepat kertika penambahan dilakukan,
stopwatch dinyalakan. Larutan kemudian diaduk, sementara pengamatan dari atas
tetap dilakukan. Tujuan pengadukan yaitu agar pencampuran jadi nyata.. Lalu,
catat waktu yang diperlukan sampai tanda silang hitam tidak dapat lagi diamati
dari atas. Hal ini menandakan reaksi sudah terjadi, yaitu reaksi pengendapan
sehingga kertika dilihat dari atas, tanda silang hitam tidak dapat terlihat karena
terhalang endapan-endapan sulfur. Waktu yang diperlukan yaitu 12,63 detik
dengan konsentrasi relatif tiosulfat sebesar 0,25 M.. Setelah itu suhu larutan
diukur dan dicatat. Percobaan diulang kembali untuk volume Na2S2O3 dan volume
akuades yang berbeda. Dengan volume Na2S2O3 berturut-turut sebanyak 40 ml, 30
ml, 20 ml, 10 ml, dan 5 ml serta volume akuades berturut turut sebanyak 10 ml,
20 ml, 30 ml, 40 ml, dan 45 ml. Dari percobaan yang diulang tadi, waktu yang
dibutuhkan sampai tanda silang hitam tidak terlihat lagi yaitu 13,84 detik, 14,31
detik, 18,22 detik, 41,87 detik dan 75,02 detik dengan konsentrasi tiosulfat
berturut-turut sebesar 0,2 M, 0,15 M, 0,1 M, 0,05 M, dan 0,025 M.. Hasil
percobaan ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa semakin pekat suatu

9
zat atau semakin tinggi konsentrasinya maka laju reaksinya akan semakin cepat
(Martin, 1993).
Pada percobaan yang kedua yaitu pengaruh temperatur atau suhu terhadap
laju reaksi dilakukan dengan cara memasukkan 10 ml larutan Na2S2O3 0,25 M
kedalam gelas ukur kemudian diencerkan hingga volumenya merncapai 50 ml.
Lalu 2 ml HCl 1 M diukur kemudian dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Gelas
ukur dan tabung reaksi tadi diletakkan pada penangas air hingga larutan berrsuhu
35oC. Setelah mencapai suhu 35oC, gelas ukur dan tabung reaksi dikeluaran dari
penangas air dan diletakkan tepat diatas tanda silang hitam pada kertas puih.
Tambahkan HCl yang sudah dipanaskan tadi kedalam larutan tiosulfat yang sudah
dipanaskan juga, dan pada saat yang bersamaan nyalakan stopwatch. Aduk larutan
agar pencampuran jadi merata. Sehingga didapatkan waktu yang dibutuhkan
sampai tanda silang tak lagi terlihat yaitu 35,47 detik. Setelah itu, percobaan
diulang kembali namun mernggunakan suhu larutan Na2S2O3 dan HCl yang
berbeda yaiu 45oC, 55oC, dan 65oC. Dari percobaan yang diulang tersebut
didapatkan waktu yang dibutuhkan sampai tanda silang tidak terlihat lagi yaitu
19,56 detik, 14,70 detik, dan 08,74 detik. Dapat disimpulkan dari percobaan diatas
bahwa semakin semakin tinggi suhu maka semakin cepat laju reaksinya (Martin,
1993).

10
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan
1. Pada percobaan pengaruh konsentrasi terhadap laju reaksi dapat di nyatakan,
jika semakin tinggi konsentrasi suatu zat maka semakin cepat terjadinya
reaksi.
2. Pada percobaan pengaruh suhu terhadap laju reaksi dapat dinyatakan, jika
semakin tinggi suhu maka semakin cepat terjadinya reaksi

4.2 Saran
1. Pada saat melakukan pengenceran, harus dilakukan dengan hati-hati agar
tidak terjadi kesalahan yang mempengaruhi konsentrasi zat tersebut.
2. Pada saat melakukan pemanasan terhadap Na2S2O3 dan HCl, harus benar-
benar dijaga konstan, agar tidak terjadi kesalahan dalam mengukur
kecepatan reaksi nya.

11
BAB V
TUGAS DAN PERTANYAAN

5.1 Tugas
A. Pengaruh konsentrasi terhadap laju reaksi
1. Lengkapi tabel hasil pengamatan saudara
Tabel 5.1 Komposisi Larutan Tiap Percobaan
Sistem Volume S2O3-2 Volume air Volume HCl
(ml) (ml) (ml)
1 50 0 2
2 40 10 2
3 30 20 2
4 20 30 2
5 10 40 2
6 5 45 2

Tabel 5.2 Hasil Percobaan Pengaruh Konsentrasi Terhadap Laju Reaksi


Konsentrasi Waktu 1/waktu
Sistem
relatif tiosulfat (detik) (det-1)
1 0.25 M 12.63 0.079
2 0.2 M 13.84 0.072
3 0.15 M 14.31 0.069
4 0.1 M 18.22 0.054
5 0.05 M 41.87 0.023
6 0.025 M 75.02 0.013

12
2. Dalam percobaan ini 1/waktu digunakan untuk mengukur laju reaksi.
Buatlah kurva laju reaksi sebagai fungsi konsentrasi tiosulfat.

Kurva Konsentrasi Terhadap Laju


Reaksi
L 0.1
a 0.09
j 0.08
u 0.07
0.06
R 0.05
e 0.04
Series 1
a 0.03
k 0.02
s 0.01
i 0
0.25 M 0.2 M 0.15 M 0.1 M 0.05 M 0.025 M
Konsentrasi

3. Hitung ordo reaksi terhadap tiosulfat.


𝑣2 𝑘[𝑁𝑎2 𝑆2 𝑂3 ]𝑥 [𝐻𝐶𝑙]𝑦
=
𝑣1 𝑘[𝑁𝑎2 𝑆2 𝑂3 ]𝑥 [𝐻𝐶𝑙]𝑦
0,072 [0,2]𝑥
=
0,054 [0,1]𝑥
4
= 2𝑥
3
𝑥 = 0,42
Ordo reaksi terhadap tiosulfat (x) adalah 0,42
B. Pengaruh suhu terhadap laju reaksi
1. Lengkapi hasil pengamatan saudara
Tabel 5.3 Hasil Pengamatan Pengaruh Suhu Terhadap Laju Reaksi
Suhu Suhu 1/suhu Waktu 1/waktu
log 1/waktu
(oC) (oK) (K-1) (detik) (det-1)
35 308 0.003246753 35.47 0.028 -1.55
45 318 0.003144654 19.56 0.051 -1.29
55 328 0.00304878 14.70 0.068 -1.16
65 338 0.00295858 08.74 0.11 -0,95

13
2. Laju reaksi dinyatakan sebagai 1/waktu. Buat kurva laju reaksi sebagai
fungsi suhu (℃). Buat kurva log laju reaksi sebagai fungsi 1/suhu (K-1).
Beri komentar mengenai bentuk kurva yang anda peroleh !

Kurva Suhu (℃) Terhadap Laju Reaksi


0.1
L 0.09
a 0.08
j 0.07
u 0.06
0.05
R
0.04 Series 1
e
a 0.03
k 0.02
s 0.01
i 0
35 45 55 65
Suhu (℃)

5.2 Pertanyaan
1. Bagaimana cara menentukan orde reaksi secara keseluruhan ?
2. Peningkatan suhu tidak selalu berarti peningkatan laju reaksi. Beri komentar
anda mengenai hal ini
Jawaban :
1. Cara menentukan orde reaksi secara keseluruhan :
1) Tentukan persamaan laju reaksinya. Secara umum, laju reaksi dapat
ditulis sebagai berikut :
v = k[A]m.[B]n
2) Tentukan orde reaksi terhadap zat A. Untuk menentukan orde reaksi zat
A (nilai m), lihat percobaan yang memiliki konsentrasi zat B-nya sama,
kemudian bandingkan persamaan laju reaksinya.
3) Tentukan orde reaksi terhadap zat B. Untuk menentukan orde reaksi zat
B (nilai n), lihat percobaan yang memiliki konsentrasi zat A-nya sama,
kemudian bandingkan persamaan laju reaksinya.
4) Setelah nilai m dan n diperoleh, maka orde reaksi secara keseluruhan
dapat ditentukan, yaitu dengan cara menjumlahkan nilai m dan nilai n.

14
2. Salah satu faktor yang mempengaruhi laju reaksi adalah suhu, dimana
semakin tinggi suhu maka laju reaksi akan semakin cepat. Hal ini
dikarenakan dengan bertambahnya suhu, maka energi kinetik partikel zat
meningkat sehingga memungkinkan bertambahnya tumbukan antar partikel.
Energi kinetik meningkat seiring dengan kenaikan suhu, tetapi disaat energi
kinetik sudah mencapai titik maksimum dengan suhu tertingginya, maka
saat suhu dinaikkan energi kinetik akan tetap konstan sehingga tidak terjadi
perubahan laju reaksi lagi. Oleh karena itu, setiap kenaikan suhu, bukan
berarti meningkat nya laju reaksi, hal ini dikarenakan kenaikan suhu juga
harus bersamaan dengan naiknya energi kinetik partikel yang
memungkinkan bertambahnya tumbukan sehingga laju rekasinya
bertambah.

15
DAFTAR PUSTAKA

Alfred ,M. J, Swarbrick. A, Cammara 1993, Farmasi Fisik. Dasar-dasar Farmasi


Fisik Dalam Ilmu Farmasetik. Universitas Indonesia Press: Jakarta.

Chang, R. 2005. Kimia Dasar Konsep-Konsep Inti Edisi Ketiga Jilid 2. Erlangga:
Jakarta

David W. Oxtoby, H. P. Gillis, Norman H. Nachtrieb. 2001.Prinsip-prinsip Kimia


Modern Edisi Keempat Jilid 1. Jakarta: Erlangga

Dogra, S.K dan S, Dogra. 1990. Kimia Fisik dan Soal-soal. Jakarta: Universitas
Indonesia

Siregar, T, B. 2008. Kinetika Kimia Reaksi Elementer. Medan: USU press.

Syukri, S. 1999. Kimia Dasar Jilid 2. ITB: Bandung.

16
LAMPIRAN
DOKUMENTASI

Gambar C.1 Larutan Na2S2O3 Gambar C.2 Campuran yang 50 ml


dalam gelas ukur 100 ml dan HCl larutan Na2S2O3 dengan 2 ml
dlam gelas ukur 10 ml HCl.

Gambar C.3 Campuran antara Gambar C.4 Campuran antara


40 ml larutan Na2S2O3, 10 ml 30 ml Na2S2O3, 20 ml akuades
akuades, dan 2 ml HCl dan 2 ml HCl
Gambar C.5 Campuran antara 20 Gambar C.6 Campuran antara
ml Na2S2O3, 30 ml akuades dan 2 10 ml Na2S2O3, 40 ml akuades
ml HCl dan 2 ml HCl

Gambar C.7 Campuran antara 5 Gambar C.8 Larutan Na2S2O3


ml Na2S2O3, 45 ml akuades dan 2 dalam gerlas ukur 100 ml dan
ml HCl larutan HCl dalam tabung
reaksi
Gambar C.9 Pemanasan Gambar C.10 Campuran
larutan Na2S2O3 dan HCl dalam larutan Na2S2O3 dan HCl yang
penangas air dicampurkan pada suhu 35oC

Gambar C.11 Campuran Gambar C.12 Campuran


larutan Na2S2O3 dan HCl yang larutan Na2S2O3 dan HCl yang
dicampurkan pada suhu 45oC dicampurkan pada suhu 55oC
Gambar C.13 Campuran
larutan Na2S2O3 dan HCl yang
dicampurkan pada suhu 65oC
LAMPIRAN
LEMBAR PERHITUNGAN

1. Menentukan konsentrasi tiosulfat :


a. M1 X V1 = M2 X V2
0,25 X 50 ml = M2 X 50 ml
M2 = 0,25 M

t = 12.63 s
1/t = 0,079 /det

b. M1 X V1 = M2 X V2
0,25 X 40 ml = M2 X 50 ml
M2 = 0,2 M

t = 13.84 s
1/t = 0.072 /det

c. M1 X V1 = M2 X V2
0,25 X 30 ml = M2 X 50 ml
M2 = 0,15 M

t = 14.31 s
1/t = 0,069 /det

d. M1 X V1 = M2 X V2
0,25 X 20 ml = M2 X 50 ml
M2 = 0,1 M

t = 18.22 s
1/t = 0,054 /det
e. M1 X V1 = M2 X V2
0,25 X 10 ml = M2 X 50 ml
M2 = 0,05 M

t = 41.87
1/t = 0,023 /det

f. M1 X V1 = M2 X V2
0,25 X 5 ml = M2 X 50 ml
M2 = 0,025 M

t = 75.02 s
1/t = 0,013 /det

2. Pengaruh suhu
a. T = 35 °C
T° K = 35 + 273
= 308 °K
1/K = 3,247 X 10-3
t = 35.47 s
1/t = 0,028 /det
Log 1/t = -1,55

b. T = 45 °C
T° K = 45 + 273
= 318 °K
1/K = 3,144 X 10-3
t = 19.56 s
1/t = 0,051 /det
Log 1/t = -1,29
c. T = 55 °C
T° K = 55 + 273
= 328 °K
1/K = 3,048 X 10-3
t = 14.70 s
1/t = 0,068 /det
Log 1/t = -1,16

d. T = 65 °C
T° K = 65 + 273
= 338 °K
1/K = 2,958 X 10-3
t = 08.74 s
1/t = 0,11 /det
Log 1/t = -0,95

Anda mungkin juga menyukai