Anda di halaman 1dari 11

STANDAR COSTING

Oleh :
I Made Surya Widhi Wibawa (1707531085)
I Made Risky Prasetya (1707531087)
Made Satryawan Jelantik (1707531093)
I Made Andika Wicaksana (1707531116)
I Ketut Agus Suyadnyana (1707531111)

PROGRAM STUDI AKUNTANSI REGULER


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
TAHUN AJARAN 2018/2019
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat yang
beliau limpahkan dan usaha yang telah kami lakukan, makalah “Standar Costing” ini dapat
diselesaikan.
Semoga makalah ini bukan hanya sekedar berguna bagi mahasiswa lainnya melainkan juga
berguna bagi masyarakat, khususnya bagi pelaku pendidikan. Oleh karena itu, kami sangat
mengharapkan saran dan kritik pembaca sehingga penulis dapat menghasilkan makalah yang lebih
baik pada kesempatan berikutnya.

Denpasar, 05 November 2018

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................................................... ii


DAFTAR ISI.................................................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN .............................................................................................................. iv
1.1. Latar Belakang ......................................................................................................................... iv
1.2. Rumusan Masalah .................................................................................................................... iv
1.3. Tujuan....................................................................................................................................... iv
BAB II PEMBAHASAN ................................................................................................................ 1
2.1. Sifat Diskriminasi Pekerjaan ..................................................................................................... 1
2.2. Tingkat Diskriminasi ................................................................................................................. 2
2.3. Diskriminasi : Utilitas, Hak, dan Keadilan ................................................................................ 3
2.4. Tindakan Afirmatif .................................................................................................................... 4
BAB III PENUTUP ........................................................................................................................ 6
3.1. Kesimpulan................................................................................................................................ 6
3.2. Saran .......................................................................................................................................... 6
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................................................... 7

iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Seperti yang telah kita ketahui, debat tentang apa arti kesamaan hak dan bagaimana
mempertahankannya telah berlangsung lama dan sengit. Kontroversi muncul seputar penderitaan
yang dialami kaum minoritas, perlakuan tidak adil terhadap kaum perempuan, dan akibat – akibat
merugikan yang dialami oleh kaum pria kulit putih akibat preferensi terhadap perempuan dan
minoritas. Perdebatan yang terus berlanjut tentang ras dan gender sebagai dasar besar difokuskan
pada bidang bisnis. Ini memang tidak bisa dihindari yaitu diskriminasi rasial dan seksual telah
lama ada dalam sejarah bisnis. Dan dalam bidang inilah praktik – praktik diskriminasi memiliki
pengaruh yang paling besar dan bertahan lama.
Mungkin persoalan sosial lainnya saat ini, telah masuk ke dalam masalah – masalah etis
yaitu istilah – istilah keadilan, kesamaan hak, rasisme hak dan diskriminasi selalu dalam setiap
perdebatan yang ada. Bab ini menganalisa berbagai sisi masalah etis, yang diawali dengan
mempelajari sifat dan tingkat diskriminasi, dan dilanjutkan dengan pembahasan tentang aspek –
aspek diskriminasi, tindakan afirmatif dan terakhir tentang peraturan yang terkait.

1.2. Rumusan Masalah


1. Bagaimana sifat diskriminasi pekerjaan ?
2. Bagaimana tingkat diskriminasi ?
3. Bagaimana diskriminasi : utilitas, hak, dan keadilan ?
4. Bagaimana tindakan afirmatif ?

1.3. Tujuan
1. Untuk mengetahui sifat diskriminasi pekerjaan.
2. Untuk mengetahui tingkat diskriminasi.
3. Untuk mengetahui diskriminasi : utilitas, hak, dan keadilan.
4. Untuk mengetahui tindakan afirmatif.

iv
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Sifat Diskriminasi Pekerjaan
Arti dasar dari istilah diskriminasi adalah membedakan satu objek dari objek lainnya.
Melakukan diskriminasi tenaga kerja berarti membuat keputusan (atau serangkaian
keputusan) yang merugikan pegawai (atau calon pegawai) yang merupakan anggota
kelompok tertentu karena adanya prasangka yang secara moral tidak dibenarkan terhadap
kelompok tersebut. Diskriminasi dalam tenaga kerja melibatkan tiga elemen dasar. Pertama,
keputusan yang merugikan seorang pegawai atau lebih (atau calon pegawai) karena bukan
didasarkan pada kemampuan yang dimiliki. Kedua, keputusan yang sepenuhnya (atau
sebagian) diambil berdasarkan prasangka rasial atau seksual stereotype yang salah atau sikap
lain yang secara moral tidak benar terhadap anggota kelompok tertentu dimana pegawai
tersebut berasal. Ketiga, keputusan (atau serangkaian keputusan) yang memiliki pengaruh
negatif atau merugikan pada kepentingan – kepentingan pegawai, mungkin mengakibatkan
mereka kehilangan pekerjaan, kesempatan memperoleh kenaikan pangkat, atau gaji yang
lebih baik.
Dalam suatu organisasi tindakan diskriminatif dapat terjadi dalam berbagai bentuk, yaitu :
1. Sengaja
Diskrimanasi dilakukan secara sengaja dan sadar karena :
- Perilaku pribadi individu yang ada dalam organisasi dan bukan merupakan praktek
yang dikehendaki organisasi. Misalnya, suatu perusahaan tidak bermaksud melakukan
diskriminasi, tetapi petugas pewawancara yang ditunjuk saat rekrutmen secara sengaja
dan sadar melakukan diskriminasi karena prasangka pribadi.
- Perilaku rutin organisasi yang secara historis (turun – temurun) melakukan praktek
diskriminasi karena prasangka pribadi para anggotanya sehingga praktek tersebut
akhirnya melembaga. Misalnya, suatu perusahan dari dulu sampai sekarang hanya
menerima pria sebagai tenaga keamanan, karena beranggapan wanita tidak cocok
sebagai tenaga keamanan. Tindakan ini akhirnya melembaga dan dilakukan terus –
menerus.

1
2. Tidak Sengaja
Suatu perusahaan mungkin saja tidak pernah bermaksud melakukan diskriminasi, tetapi
secara tidak sengaja dan tidak sadar telah melakukannya karena :
- Menerima praktek setereotip tradisional dari masyarakat sekitarnya. Misalnya, di suatu
lingkungan masyarakat terdapat anggapan bahwa wanita tidak pantas menjadi
pemimpin, sehingga wanita tidak lumrah menduduki posisi atau jabatan penting.
- Menjalankan prosedur formal perusahaan. Misalnya, suatu perusahaan wajib mengikuti
prosedur yang telah ditetapkan dalam melakukan rekrutmen. Tetapi prosedur tersebut
ternyata mengakibatkan adanya kelompok tertentu menjadi terdiskriminasi.
- Kebetulan. Misalnya, jumlah pekerja yang diterima bekerja dalam suatu perusahaan
mayoritas pria, karena kebetulan yang melamar pekerjaan dan berhasil memenuhi
standar kelulusan sebagian besar pria.

2.2. Tingkat Diskriminasi


Menurut Velasques (2000:373) dengan melihat indikator statistik tentang distribusi
anggota kelompok dalam organisasi yang bersangkutan dapat diperkirakan tentang terjadinya
diskriminasi pada kelompok tertentu dalam suatu organisasi.
Indikator bahwa diskriminasi telah terjadi apabila terdapat proporsi yang tidak seimbang
atas anggota kelompok tertentu yang memegang jabatan yang kurang diminati dalam suatu
institusi tanpa mempertimbangkan preferensi atau pun kemampuan mereka. Ada tiga
perbandingan yang bisa membuktikan distribusi semacam itu :
1. Perbandingan atas keuntungan rata – rata yang diberikan institusi pada kelompok yang
terdiskriminasi dengan keuntungan rata – rata yang diberikan pada kelompok lain dalam
pekerjaan yang sama.
2. Perbandingan atas proporsi kelompok terdiskriminasi yang terdapat dalam tingkat
pekerjaan paling rendah dengan proporsi kelompok lain dalam tingkat yang sama.
3. Perbandingan proporsi dari anggota kelompok tersebut yang memegang jabatan lebih
menguntukan dengan proporsi kelompok lain dalam jabatan yang sama.

2
2.3. Diskriminasi : Utilitas, Hak, dan Keadilan

Utilitas
Argumen utilitarian yang menentang diskriminasi rasial dan seksual didasarkan pada
gagasan bahwa produktivitas masyarakat akan optimal jika pekerjaan diberikan berdasarkan
kompetensi.
Namun argumen ini dihadapkan pada dua keberatan. Pertama, jika argumen ini benar,
pekerjaan haruslah diberikan dengan dasar kualifikasi yang berkaitan dengan pekerjaan,
hanya jika hal tersebut akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kedua, argumen
utilitarian harus menjawab tuntutan penentangnya yang menyatakan bahwa masyarakat secara
keseluruhan akan memperoleh keuntungan dari keberadaan bentuk diskriminasi seksual
tertentu.
Kaum utilitarian menanggapi berbagai kritik dengan menyatakan bahwa menggunakan
faktor selain kualifikasi pekerjaan tidak memberikan keuntungan yang lebih besar
dibandingkan dengan kualifikasi pekerjaan.

Hak
Argumen non-utilitarian yang menentang diskriminasi rasial dan seksual salah satunya
menyatakan diskriminasi salah karena melanggar hak moral dasar manusia. Diskriminasi
melanggar hak prinsip ini dalam dua cara. Pertama, diskriminasi didasarkan pada keyakinan
suatu kelompok dianggap terlalu rendah dibanding kelompok lain. Kedua, diskriminasi
menempatkan kelompok yang terdiskriminasi dalam posisi sosial dan ekonomi yang rendah.

Keadilan
Argumen non-utilitarian melihat diskriminasi melanggar prinsip keadilan. Diskriminasi
melanggar prinsip ini dengan cara menutup kesempatan bagi kaum minoritas untuk menduduki
posisi tertentu dalam suatu lembaga dan berarti mereka tidak memperoleh kesempatan yang
sama dengan orang lain.

3
2.4. Tindakan Afirmatif
Untuk menghapus pengaruh – pengaruh diskriminasi masa lalu, banyak perusahaan
melakukan tindakan afirmatif, yaitu tindakan yang dimaksudkan untuk mencapai distribusi
yang lebih representatif dalam perusahaan dengan memberikan preferensi pada kaum
perempuan dan minoritas. Inti program afirmatif adalah penyelidikan yang mendetail (anilisis
utilisasi) atas semua klasifikasi pekerjaan besar dalam perusahaan untuk menentukan apakah
jumlah pegawai perempuan dan minoritas dalam klasifikasi pekerjaan tertentu lebih kecil bila
dibandingkan dengan tingkat ketersediaan tenaga kerja di wilayah tempat pekerja direkrut.
Tindakan afirmatif dikritik dengan alasan bahwa upaya memperbaiki kerugian dikriminasi
masa lalu diatasi justru dengan melakukan diskriminasi kebalikan (reverse discrimination),
yaitu dengan meberikan preferensi kepada kaum minoritas dan perempuan. Preferensi yang
tidak relevan ini dianggap melanggar keadilan, karena tidak mengindahkan prinsip kesamaan
hak dan kesempatan. Diskriminasi kebalikan apa pun bentuknya tetap merupakan tindakan
yang tidak adil, karena merupakan diskriminasi.
Di sisi lain terdapat sejumlah argumen yang mendukung tindakan afirmatif yaitu bahwa :
1. Tindakan afirmatif sebagai kompensasi.
Afirmatif merupakan salah satu bentuk kompensasi dan didasarkan pada konsep
keadilan kompensasif. Keadilan kompensasif mengimplikasikan bahwa seseorang
wajib memberikan kopensasi terhadap orang – orang yang dirugikan secara sengaja.
Kelemahan argumen yang mendukung tindakan afirmatif yang didasarkan pada prinsip
kompensasi adalah prinsip ini menyarankan kompensasi hanya dari individu – individu
yang dirugikan.
2. Tindakan afirmatif sebagai instrumen untuk mencapai tujuan sosial.
Argumen untuk mendukung program tindakan afirmatif didasarkan pada gagasan
bahwa program – program tersebut secara moral merupakan instrumen yang sah untuk
mencapai tujuan – tujuan yang secara moral juga sah. Tujuan program tindakan
afirmatif :
a. Mendistribusikan keuntungan dan beban masyarakat yang konsisten dengan prinsip
– prinsip keadilan distributif.
b. Untuk menetralkan bias untuk menjamin hak yang sama untuk memperoleh
kesempatan bagi kaum perempuan dan minoritas.

4
c. Untuk menetralkan kelemahan kompetitif yang saat ini dimiliki oleh kaum
perempuan dan minoritas saat mereka bersaing.
Tujuan dasar program tindakan afirmatif adalah terciptanya masyarakat yang lebih adil,
masyarakat dimana kesempatan yang dimiliki oleh seseorang tidak dibatasi oleh ras
atau jenis kelaminnya.
3. Penerapan tindakan afirmatif dan penanganan keberagaman.
Para pendukung program tindakan afirmatif menyatakan bahwa kriteria lain selain ras
dan jenis kelamin perlu dipertimbangkan saat mengambil keputusan dalam program
tindakan afirmatif.

5
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Bentuk – bentuk diskriminasi : aspek kesengajaan dan aspek institusional. Perbedaan
tingkat tindakan diskriminatif yang dilakukan secara sengaja (atau tidak
terinstitusionalisasikan) dan tingkat yang dilakukan secara tidak sengaja (atau
terintitusionalisasikan)
Indikator pertama diskriminasi muncul apabila terdapat proporsi yang tidak seimbang atas
anggota kelompok tertentu yang memegang jabatan yang kurang diminati dalam suatu
institusi tanpa mempertimbangkan preferensi ataupun kemampuan mereka.
Kaum utilitarian menanggapi berbagai kritik dengan menyatakan bahwa menggunakan
faktor selain kualifikasi pekerjaan tidak akan memberikan keuntungan yang lebih besar
dibandingkan dengan kualifikasi pekerjaan. Argumen non-utilitarian yang menentang
diskriminasi rasial dan seksual salah astunya menyatakan diskriminasi salah karena
melanggar hak moral dasar manusia. Argumen non-utilitarian kedua melihat diskriminasi
melanggar prinsip keadilan. Diskriminasi melanggar prinsip ini dengan cara menutup
kesempatan bagi kaum minoritas untuk menduduki posisi tertentu dalam suatu lembaga dan
berarti mereka tidak memperoleh kesempatan yang sama dengan orang lain.
Untuk menghapus pengaruh – pengaruh diskriminasi masa lalu, banyak perusahaan
melakukan tindakan afirmatif, yaitu tindakan yang dimaksudkan untuk mencapai distribusi
yang lebih representatif dalam perusahaan dengan memberikan preferensi pada kaum
perempuan dan minoritas. Tujuan dasar program tindakan afirmatif adalah terciptanya
masyarakat yang lebih adil, masyarakat dimana kesempatan yang dimiliki oleh seseorang
tidak dibatasi oleh ras atau jenis kelaminnya.

3.2. Saran
Dari pembahasan sebelumnya, penulis memberikan saran – saran sebagai berikut :
a. Kepada pebisnis (perusahaan) diharapkan untuk lebih memperhatikan distribusi
pekerjaan agar tidak terjadi diskriminasi pekerjaan.
b. Kepada pemerintah, untuk lebih memberikan pengarahan dan himbauan kepada
masyarakat untuk tidak melakukan diskriminasi di bidang pekerjaan.

6
DAFTAR PUSTAKA
Dewi,Sutrisna.2010. Buku Etika Bisnis; Konsep Dasar, Implementasi, dan Kasus.
Denpasar: Udayana University Press