Anda di halaman 1dari 12

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Pendekatan Metodologi


Metodologi pelaksanaan yang akan disampaikan pada bab ini merupakan
implementasi dan pemahaman dan tanggapan konsultan terhadap KAK (Kerangka
Acuan Kerja). Secara umum tahapan pelaksanaan ini terdiri dari:
1. Tahap Persiapan;
2. Tahap Kajian Literatur;
3. Pengumpulan Data;
4. Tahap Analisa;
5. Tahap Penyusunan Kesimpulan.

3.2. Pendekatan Pelaksanaan Pekerjaan


Penyusunan tahapan kegiatan ini disesuaikan dengan kebutuhan pelaporan dalam
studi ini, dimana tujuan dari setiap tahapan adalah sebagai berikut :
1. Tahap Persiapan,
Tahap persiapan meliputi kegiatan-kegiatan sebagai berikut :
a. Insisiasi studi berupa konsolidasi tim.
b. Pengenalan terhadap wilayah studi/kegiatan.
c. Melakukan Brainstorming guna pemantapan metodologi yang akan
dikembangkan.
Di dalam tahap persiapan ini dilakukan beberapa kegiatan sebagai awal
(inisiation) dari seluruh rangkaian kegiatan yang direncanakan. Hasil tahap
persiapan ini akan sangat mempengaruhi proses yang dilakukan dalam tahap-
tahap selanjutnya. Secara umum terdapat 3 (tiga) kegiatan utama di dalam
tahap persiapan ini, yaitu :
a. Merencanakan secara detail tahap-tahap pelaksanaan kegiatan berikutnya,
untuk mengefisienkan penggunaan waktu dan sumberdaya.
b. Menetapkan metoda perumusan dan perancangan yang akan digunakan, hal
ini penting untuk ditetapkan karena akan mempengaruhi kebutuhan data,
penyediaan waktu analisis, dan kualitas hasil penelitian secara keseluruhan.
c. Mengenal wilayah studi atau kegiatan, dalam kegiatan ini.

PT. Perkebunan Nusantara III (Persero) Professional Appraisers & Consultants III-1
2. Tahap Kajian Literatur
Pada tahap ini dilakukan studi sekunder mengenai literatur tentang Studi
Kelayakan. Kajian literatur dilakukan untuk mempertajam tahap identifikasi yang
akan dilakukan pada tahap kegiatan berikutnya. Kajian literature kegiatan ini
terdiri dari :
a. Kondisi geografi Kabupaten Labuhanbatu Utara khususnya Kecamatan
Kualuh Hulu.
b. Struktur kependudukan Kabupaten Labuhanbatu Utara dan Kecamatan
Kualuh Hulu.
c. Kondisi perekonomian Kabupaten Labuhanbatu Utara dan Kecamatan Kualuh
Hulu.
d. Kondisi PDRB Kabupaten Labuhanbatu Utara.
e. Sektor- sektor yang mempengaruhi peningkatan pendapatan.

3. Tahap Pengumpulan Data,


Tahap pengumpulan data ini meliputi kegiatan :
a. Melakukan kajian/review terhadap berbagai potensi yang dapat di
kembangkan di lokasi kajian.
b. Melakukan identifikasi sub-sektor potensial/komoditas yang dapat
menjadi unggulan dalam pengembangan kawasan kajian.
c. Menginventariasi potensi investasi yang meliputi kekuatan/keunggulan,
kelemahan serta hambatan yang dihadapi, sehingga dapat menganalisa dan
merencanakan pengembangan kawasan ekonomi seperti kawasan industri,
pariwisata, pertanian dan lain-lain sesuai dengan Rencana Tata Ruang
Wilayah Kabupaten Labuhanbatu Utara

4. Tahap Analisa
Tahap Analisa ini meliputi kegiatan :
a. Melakukan identifikasi terhadap peluang pengembangan sektor-
sektorstrategis dan potensial untuk selanjutnya diidentifikasi
kebutuhanpengembangan investasinya sehingga dapat memberikan nilai
tambahterhadap sumberdaya potensial khususnya yang dimiliki oleh
Kabupaten Labuhanbatu Utara.
b. Melakukan analisa-analisa bagi pengembangan sektor-sektor
strategisterutama yang terkait dengan kebutuhan investasi penunjang,

PT. Perkebunan Nusantara III (Persero) Professional Appraisers & Consultants III-2
dukunganregulasi, ivestasi infrastruktur dan sektor lainnya yang menjadi
tanggungjawab Pemerintah
c. Menetapkan investasi prioritas sesuai dengan potensi, sumber dayaalam
dan geografis di Kabupaten Labuhanbatu Utara.

5. Tahap Penyusunan Kesimpulan


Tahap Penyusunan Kesimpulan meliputi dari kegiatan-kegiatan sebagai
berikut:
a. Menentukan sektor usaha yang berpotensi.
b. Kebijakan dan strategi yang terkait optimalisasi aset.
c. Investasi prioritas sesuai dengan potensi, sumber daya alam,
dan kondisi geografis Kabupaten Labuhanbatu Utara.

3.3. Kerangka Berpikir


Dari latar belakang dan ruang lingkup kegiatan ini, dibuat suatu kerangka berpikir
yang mengarahkan kegiatan ini menuju hasil yang ingin dicapai. Kerangka berpikir
kegiatan ini dapat dibaca pada gambar berikut ini:

INPUT PROSES output

Aset Lahan Kebun Analisis Potensi Analisis Potensi


Membang Muda Pengembangan Aset Pengembangan
1. Lahan seluas 238 ha Berdasarkan Analisis HBU
2. Berada di Pinggir jalan Kelayakan Berdasarkan:. Mendapatkan hasil analisis
3. Dekat dengan pusat kota 1. Aspek Legal dan informasi
4. Belum ada upaya 2. Aspek Fisik pengembangan aset yang
pemanfaatan aset 3. Aspek Finansial cocok dan sesuai untuk
4. Aspek Produktivitas aset lokasi laham kebun
Landasab Teori Maksimal membang muda
Analisis SWOT
1. Analisis HBU
Berdasarkan Lokasi dan
2. Analisa SWOT
Pemilihan Aset
3. Analisa Keuangan Analisis Potensi Bentuk
1. Faktor Internal
4. Bentuk Kerjasama Kerjasama
2. Faktor Eksternal
Landasab Hukum Analisis Keuangan Mendapatkan hasil dan
1. RTRW Kabupaten Untuk Menentukan: informasi terkait
Labuhanbatu Utara 1. IRR kerjasama pemanfaatan
2. UU No.19 Tahun 2003 2. BEP aset dan pemanfaatan
3. Permen BUMN No. PER 3. PBP lahan untuk jangka
– 06/MBU/2011 4. NPV pendek, menengah dan
5.B/CR panjang
6. PRR
7. Sensitivitas

Pemilihan Bentuk
kerjasama yang
menghasilkan pendapatan
tertinggi
1. Persewaan
2. Kerjasama Operasi (KSO)
3. Kerjasama Usaha (KSU)
4. Kerjasama Manajemen
(KSM)

PT. Perkebunan Nusantara III (Persero) Professional Appraisers & Consultants III-3
3.4. Landasan Teori
3.4.1. Optimasi Aset
Optimasi aset merupakan proses kerja dalam manajemen aset yang
bertujuan untuk mengoptimalkan potensi fisik, lokasi, nilai, jumlah/volume, legal dan
ekonomi yang dimiliki suatu aset (Siregar, 2004). Secara umum tujuan optimasi aset
dimaksudkan untuk mengidentifikasi dan menginventarisasi semua aset yang
meliputi bentuk, ukuran fisik, legal, sekaligus mengetahui nilai pasar atas masing-
masing aset tersebut yang mencerminkan manfaat ekonominya. Dalam tahap ini
aset-aset yang dimiliki pemerintah diidentifikasi dan dikelompokkan atas aset yang
memiliki potensi dan tidak memiliki potensi. Analisis optimasi penggunaan dan
pemanfaatan aset digunakan untuk mengidentifikasi dan memilah aset yang masuk
ke dalam aset operasional atau aset non operasional. Untuk aset operasional,
dilakukan kajian yang telah mendalam untuk mengetahui apakah aset operasional
tersebut sudah optimal atau belum penggunaan dan pemanfaatannya. Sedangkan
untuk analisis atas aset non operasional yang dilakukan terhadap kondisi eksisting
suatu aset. Untuk mengetahui pemanfaatannya sudah optimal dilihat dari
penggunaan aset dari aspek ekonomis. Analisis ini akan mencakup regulasi,
peruntukan, dan pengembangan kawasan sekitar.
3.4.1.1. Tujuan Optimasi Aset
Tujuan optimasi aset secara umum adalah sebagai berikut :
1. Mengidentifikasi dan inventarisasi semua aset meliputi bentuk,
ukuran fisik, dan legal, sekaligus mengetahui nilai pasar atas
masing-masing aset etrsebut yang mencerminkan manfaat
ekonominya.
2. Pemanfaatan aset tersebut telah sesuai dengan peruntukannya
atau tidak.
3. Terciptanya suatu sistem infromasi dan administrasu sehingga
tercapainya efisiensi dan efektivitas dalam pengelolaan aset.

Optimasi aset bertujuan untuk mengidentifikasi aser sehingga akan


dketahui aset yang perlu dioptimalkan dan bagaimana cara mengoptimalkan
aset tersbeut. Hasil akhir optimasi aset ini adalah rekomendasi yang berupa
sasaran, strategi dan program untuk mengoptimalkan aset yang dikuasai.

PT. Perkebunan Nusantara III (Persero) Professional Appraisers & Consultants III-4
3.4.1.2. Prosedur Optimasi Aset
Dalam mencapai tujuan optimasi aset, secara umum ada beberapa
langkah yang harus dilakukan diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Identifikasi aset, inventarisasi fisik dan legal
Melakukan pendataan terhadao semuan aset yang dimiliki yang mencakup
ukuran, fisik, legal status dan kondisi aset. Melakukan identifikasi atas
kelengkapan dokumen-dokumen legalnya dan analisis yuridis atas aset
bermaslaah yang pada akhirnya dapat memberikan legal opinion.
2. Penilaian aset tetap
Melakukan kegiatan penilaian untuk mengetahui nilai pasar (market value)
atas objek properti dengan menggunakan pendekatan-pendekatan dan
metode penilaian.
3. Analisis optimasi pemanfaatan fixed assets
Analisis optimasi pemanfaatan adalah untuk mengidentifikasi dan memilah
aset yang masuk dalam aset operasional atau aset non operasional. Untuk
aset operasional kemudian dilakukan kajian yang lebih mendalam untuk
mengetahui apakah aset operasional tersebut sudah optimal
pemanfatannya atau belum. Apabila belum optimal diadakan studi optimasi.
Studi optimasi ini dilakukan berdasar tolak ukut kebutuhan akan aset
tersebut dikaitkan dengan kegiatan usahanya. Untuk aset non operasional
analisis dilakukan terhadap kondisi aset saat ini. Untuk mengetahui apakah
pemanfaatan aset ini sudah optimal atau belum dilihat dari penggunaan
tanah dalam bangunan dan fungsional bangunannya dari aspek ekonomis.
Analisis ini akan mencakup regulasi peruntukan dan pengembangan
kawasan sekitar.
4. Sistem Infromasi Manajemen Aset (SIMA)
Objek pengembangan Sistem Informasi Manajemen Aset (SIMA) sebagai
alat untuk optimasi dan efisiensi pengelolaan aset. Sednagkan SIMA adalah
suatu konsep yang memadukan beberap disiplin keahlian. Dengan
memadukan berbagai disiplin keahlian akan dapat menunjang pemanfaatan
terbaik dari aset yang dimiliki.

Dari penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa ada 4 langkah yang
harus dilewati dalam melakukan optimasi aset, yaitu identifikasi aset,

PT. Perkebunan Nusantara III (Persero) Professional Appraisers & Consultants III-5
inventarisasi fisik dan legal, penilaian aset tetap, analisis optimasi
pemanfaatan fixed aset dan sistem infromasi manajemen aset (SIMA).

3.4.1.3. Optimasi Aset Badan Usaha Milik Negara (BUMN)


Berbagai program telah, sedang dan akan dijalankan oleh pemerintah
untuk mewujudkan reformasi struktural di bidang ekonomi maupun politik. Tanpa
disadari BUMN, BUMD dan instansi pemerintah baik pusat maupun daerah
memiliki aktiva tetap yang besar, beragam dan tersebar hampir diseluruh kota di
Indonesia. Dalam kenyataannya aktiva tetap yang dimiliki tersebut masih banyak
yang belum optimal pemanfaatannya, bahkan sebagian belum dilakukan
inventarisasi yang benar sesuai dengan kondisi sesungguhnya. Untuk itu
restrukturisasi aset di lingkungan BUMN, BUMD, dan instansi pemerintah
termasuk pemerintah daerah sangat perlu dilaksankan berdasarkan UU No. 19
Tahun 2003 Tentang BUMN, restrukturisasi adalah upaya yang dilakukan dalam
rangka penyehatan BUMN yang merupakan salah satu langkah strategis untuk
memperbaiki kondisi internal perusahaan guna memperbaiki kinerja dan
meningkatkan nilai perusahaan. Dengan restrukturisasi aset, diharapkan
tercipatanya optimasi pemanfaatan aktiva tetap serta terciptanya tingkat efisiensi
dan efektifitas yang tinggi dalam pengelolaan aktiva tetap.
Aset yang dimiliki oleh beberapa BUMN berupa tanah dan bangunan
dengan jumlah sangat besar tersebar dan tidak sedikit yang berada di lokasi-
lokasi strategis pada pusat kota, seperti BUMN kelompok perkebunan. Dapat
kita lihat dengan jelas banyak sekali aset berupa tanah dan bangunan yang
dimiliki BUMN tidak optimal pemanfaatan ekonomisnya. Bahkan tidak sedikit
yang belum dimanfaatkan. Jikapun sudah dimanfaatkan oleh pihak-pihak
tertentu tidak jelas status hukum dan perjanjian kerjasamnya.

3.4.2. Analisis Highest and Best Use Analysis (HBU)


Highest and Best Use Analysis adalah suatu analisis yang bertujuan untuk
mengembangkan aset yang mempunyai potensi untuk dikembangkan atau aset yang
dirasakan belum optimal pemanfaatannya. Berdasarkan The Uniform Standards of
Profesional Appraisal Pracitce HBU didefiniskan sebagai “the reasonable probable
and legal use of property that us physically possible. Appropriately supported and
financially feasible and the result is teh highest value.” Berdasarkan pengertian
tersebut, maka HBU dapat diartikan sebagai alat yang membantu untuk menentukan

PT. Perkebunan Nusantara III (Persero) Professional Appraisers & Consultants III-6
penggunaan aset yang memungkinkan secara legal, fisik, finansial dan dapat
memberikan nilai yang paling tinggi.
3.4.2.1. Konsep Dasar Analisis HBU
BerdasarkaKonsep dan Prinsip Umum Penilaian 6.0 SPI 2007 konsep
dasar dari Analisis HBU adalah sebagai berikut :
1. Higher and Best Analysis (HBU) didefinisikan sebagai penggunaan yang
paling mungkin dan optimal dari suatu properti yang secara fisik
dimungkinkan telah dipertimbangkan secara memadai secara hukum diijinkan
secara finansial layak dan menghasilan nilai tertinggi dari properti tersbeut.
2. Penilai akan mempertimbnagkan penggunaan yang paling memungkinakan
dan menghasilkan nilai tertinggi dari properti tersebut.
3. Apabila penggunaan tanah dan peruntukan berada dalam tahap perubahan
Penggunaan Tertinggi dan Terbaik saat ini dapat bersifat sementara.
4. Kajian HBU yang mendalam merupakan suatu penugasan terpisah dari
pekerjaan penilaia.

3.4.2.2. Tipe Higher and Best Use Analysis (HBU)


Ada dua tipe analissi HBU yaitu Kegunaan Tertinggi Dan Terbaik Dari
Tanah Kosong /Tanah Yang Dianggap Kosong dan Kegunaan Tertinggi Dan
Terbaik Properti Yang Telah Terbangun. Dalam projek ini digunakan tipe analisis
yang pertama yaitu Kegunaan Tertinggi dan Terbaik dari Tanah Kosong / Tanah
yang Dianggap Kosong dimana tipe analisis ini mengasumsikan bahwa tanah
tersebut adalah kosong atau dapat dibuat kosong melalui pembongkaran
bangunan. Dengan asumsi demikian maka kegunaan yang menciptakan nilai
dapat teridentifikasi dan penilai dapat mempertimbangkan pembanding serta
mengestimasi nilai. Atau dalam projek ini sebuah pengembangan diperlukan
untuk mendapatkan kegunaan tertinggi dan terbaik dari suatu tanah, maka
penilai harus menentukan tipe dan karakteristik dari pengembangan yang
memungkinkan untuk dibangun.

3.4.2.3. Tujuan Analisis Higher and Best Use Analysis (HBU)


Highest adn Best Use Analysis (HBU) memiliki tujuan untuk mengetahui
produk pengembangan terbaik dan optimal di atas tanah atau tanah dan
bangunan yang dianggap memiliki potensi untuk dikembangkan atau yang
dirasakan belum optimal pemanfaatannya. Menurut Rober (dalam Prijatno :

PT. Perkebunan Nusantara III (Persero) Professional Appraisers & Consultants III-7
2010) tujuan dari HBU Analysis adalah untuk menetapkan pemanfaatan yang
paling optimal dari aset-aset yang belum optimal akan tetapi mempunyai potensi
untuk dikembangkan sehingga dapat memberikan hasil yang maksimal bagi
pemilik.
Berdasarkan pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan dari
Highest and Best Use Anlysis (HBU) adalah untuk mengoptimalkan aset yang
memilki potensi untuk dikembangkan sehingga dapat memberikan hasil yang
maksismal untuk pemilik atau pengelola aset tersebut.

3.4.2.4. Kriteria dalam Highest and Best Use Analysis (HBU)


Menurut Soeparjanto (2012), ada 4 (empat) kriteria yangharus dipenuhi
dalam menganalisis kegunaan tertinggi dan terbaik, yaitu :
1. Memungkinkan secara fisik
Ukuran, bentuk tanah, luas, ketinggian, dan kontur tanah berpengaruh
terhadap kegunaan aset yang dibangun diatasnya.
2. Diijinkan oleh peraturan
Batasan-batasan tertentu, zoning, peratiran-peraturan bangunan, kontrol-
kontrol terhadap benda bersejarah dan peraturan-peraturan lingkungan dapat
mempengaruhi potensi kegunaan aset.
3. Layak secara keuangan
Analisis yang dilakukan dengan cara mengestimasikan pendapatan, dan
tingkat pengembalian yang akan diterima yang diekspektasikan dari setiap
potensi kegunaan tertinggi dan terbaik.
4. Mendapatkan hasil secara maksimum
Analisis kelayakan keunagn dengan alat analisis atau tolak ukur Net Present
Value, Internal Rate of Return, Return on Investment, Return on Equity, dan
Payback Period.

3.4.2.5. Proses Highest and Best Use Analysis (HBU)


Dalam melakukan Highest and Best Use Analysis (HBU) ada proses
yang harus dilakukan oleh penilai aset. Proses dari studi HBU yaitu dengan
melakukan beberapa studi kelayakan, diantaranya adalah sebagi berikut :
1. Kelayakan secara peraturan dan hukum (Legally Permissible)
2. Kelayakan secara fisik (Physically Possible)
3. Kelayakan secara keuangan (Fianncially Feassible)

PT. Perkebunan Nusantara III (Persero) Professional Appraisers & Consultants III-8
4. Produktivitas yang maksimal (Maximally Productive)

Proses dalam HBU analisis ini harus dilakukan tahap demi tahap, dan dalam
setiap tahapan ini akan memberikan informasi yang dibutuhkan dalam
melakukan penilaian optimasi suatu aset, sehingga hasil yang didapatkan akan
sesuai dengan apa yang diharapkan.

3.4.3. Analisa SWOT


Analisis SWOT merupakan suatu bentuk instrumen perencanaan yang
terdapat dalam organisasi atau dalam manajemen perusahaan yang secara
sistematis dapat membantu dalam upaya penyusunan suatu rencana yang matang,
baik itu untuk tujuan jangka pendek ataupun jangka panjang.
Analisis SWOT juga dapat juga diartikan sebagai sebuah bentuk analisa
situasi dan kondisi yang bersifat deskriptif. Dalam hal ini analisa situasi dan kondisi
berperan sebagai faktor masukan, kemudian dikelompokkan menurut kontribusinya
masing-masing. Satu hal yang perlu di catat baik-baik, bahwa analisis SWOT ini
hanya di gunakan untuk tujuan menggambarkan situasi yang sedang dihadapi, dan
bukan sebagai sebuah alat analisa yang dapat memberikan solusi dari
permasalahan yang sedang dihadapi.
SWOT merupakan singkatan dari :
S = Strength (Kekuatan)
W = Weakness (Kelemahan)
O = Opportunities (Peluang)
T = Threats (Hambatan)

3.4.3.1. Strength (S)


Adalah suatu kondisi internal yang menjadi pendorong keberhasilan
meraih posisi unggul dalam menghadapi persaingan. Yang harus di lakukan
dalam analisis ini adalah kita harus bisa menilai kekuatan-kekuatan dan
kelemahan di bandingkan dengan para pesaingnya. Misalnya jika kekuatan
yang berpotensi dari lahan kosong ini adalah dengan dibangun perumahan
masayarakat, maka keunggulan itu dapat di manfaatkan sebagai salah satu
dasar dalam perencanaan projek ini.

PT. Perkebunan Nusantara III (Persero) Professional Appraisers & Consultants III-9
3.4.3.2. Weakness (W)
Adalah suatu kondisi internal yang menghambat keberhasilan dari
suatu organisasi atau kegiatan untuk mencapai tujuannya. Weaknesses
merupakan sebuah cara untuk menganalisis kelemahan sebuah organisasi
ataupun kegiatan yang menjadi kendala serius dalam kemajuan dari
organisasi atau kegiatan tersebut. Misalnya dari suatu organisasi atau project
terdapat kendala dalam hal bidang pemasaran, maka harus diteliti
kekurangan-kekurangan yang di miliki yang berhubungan dengan bidang
pemasaran.

3.4.3.3. Opportunity (O)


Adalah suatu kondisi eksternal yang menjadi pendorong
keberhasilan dari suatu organisasi atau kegiatan dan dapat memberikan
peluang berkembangnya organisasi dimasa depan. Opportunity adalah
sebuah alat analisa yang gunanya untuk mencari sebuah peluang ataupun
terobosan yang memungkinkan suatu organisasi bisa berkembang di masa
sekarang ataupun di masa yang akan datang.

3.4.3.4. Threats (T)


Adalah suatu kondisi eksternal yang menghambat keberhasilan
pencapaian tujuan suatu organisasi. Threats adalah sebuah alat analisa yang
digunakan untuk menghadapi berbagai macam faktor lingkungan yang tidak
menguntungkan pada suatu organisasi yang dapat menyebabkan
kemunduran. Jika tidak segera di atasi, maka ancaman tersebut akan
menjadi penghalang bagi yang bersangkutan baik di masa sekarang maupun
masa yang akan datang.

3.4.3.5. Manfaat Analisis SWOT


Metode analisis SWOT adalah sebuah metode analisis yang paling
dasar, yang berfungsi untuk melihat suatu topik ataupun permasalahan dari 4
empat faktor yang berbeda. Hasil akhirnya biasanya merupakan sebuah
bentuk arahan ataupun rekomendasi untuk mempertahankan kekuatan dan
menambah keuntungan dari segi peluang yang ada, sambil mengurangi
kekurangan yang dimiliki dan juga menghindari berbagai ancaman yang
mungkin akan terjadi. Jika digunakan dengan baik dan benar, maka analisis

PT. Perkebunan Nusantara III (Persero) Professional Appraisers & Consultants III-10
ini akan dapat membantu sebuah organisasi ataupun perusahaan untuk
melihat sisi-sisi yang terlupakan atau tak terlihat selama ini. Dari pembahasan
diatas tadi, analisis SWOT merupakan sebuah instrumen yang sangat
bermanfaat dalam menganalisis strategi. Analisis ini berperan sebagai alat
untuk meminimalisasi kelemahan yang terdapat dalam suatu perusahaan
atau organisasi serta menekan dampak ancaman yang timbul dan harus
dihadapi.

3.4.4. Analisa Bentuk Kerjasama


Dalam melakukan kajian untuk pemilihan bentuk kerjasama dalam rangka
optimasi aset lahan di Kebun Membang Muda, maka kerjasama yang akan
dilakukan meliputi persewaan, kerjasama operasi (KSO), kerjasama usaha
(KSU), dan kerjasama manajemen (KSM).
1. Kerjasama Pesewaan
Kerjasama Persewaan adalah bentuk kerjasama yang dilaksanakan
dengan ketentuan tarif sewa yang telah ditetapkan sebagai acuan
negosiasi para pihak dan dalam jangka waktu tertentu, dengan batas-batas
kewenangan tertentu. Jangka waktu persewaan maksimum adalah 5
tahun.
2. Kerjasama Operasi (KSO)
Kerjasama operasi (KSO) merupakan bentuk kegiatan usaha yang modal
usahanya merupakan penyertaan dari perusahaan dan pihak lain. Pola
kerjasama dapat berupa BOT (Build, Operate and Transfer), BOO (Build,
Own, and Operate), BOL (Build, Own, and Lease), BTO (Build, Transfer,
and Operate), atau bentuk lain atas kesepakatan antara perusahaan
dengan pihak lain. Jangka waktu KSO maksimum adalah 30 tahun.
3. Kerjasama Usaha (KSU)
KSU merupakan bentuk kegiatan usaha yang modal usahanya merupakan
penyertaan dari perusahaan dan pihak lain. Pengelolaannya dilaksanakan
oleh pihak lain. Pola kerjasama dapat berupa BOT (Build, Operate and
Transfer), BOO (Build, Own and Operate), BOL (Build, Own and Lease,
BTO (Build, Transfer and Operate) atau bentuk lain atas kesepakatan
antara perusahaan dengan pihak lain. Pemilihan jenis pola kerjasama
dilakukan dengan negosiasi antara perusahaan dengan pihak lain. Jangka
waktu KSU maksimum adalah 30 tahun.

PT. Perkebunan Nusantara III (Persero) Professional Appraisers & Consultants III-11
4. Kerjasama Manajemen (KSM)
Kerjasama manajemen (KSM) merupakan bentuk kegiatan usaha yang
modal usaha berupa bangunan dan atau fasilitas usaha merupakan milik
perusahaan. Pengelolaannya dilaksanakan oleh pihak lain dengan suatu
pembayaran/kompensasi tertentu. Jangka waktu maksimum KSM adalah 5
tahun.

***BAB III***

PT. Perkebunan Nusantara III (Persero) Professional Appraisers & Consultants III-12