Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Salah satu tujuan utama pengelolaan lingkungan hidup adalah terlaksananya
pembangunan berwawasan lingkungan dan terkendalinya pemanfaatan sumber daya alam
secara bijaksana. Untuk itu sejak awal perencana kegiatan sudah harus memperkirakan
perubahan rona lingkungan akibat pembentukan suatu kondisi yang merugikan akibat di
selenggarakannya pembangunan. Setiap kegiatan pembangunan, dimana pun dan kapanpun,
pasti akan menimbulkan dampak. Dampak adalah suatu perubahan yang terjadi sebagai akibat
suatu aktivitas yang dapat bersifat alamiah, baik kimia, fisik maupun biologi (Otto
Soemarwoto, 1994)
Dampak positif pembangunan lainnya terhadap lingkungan hidup, misalnya
terkendalinya hama dan penyakit; tersedianya air bersih; terkendalinya banjir; dan lain-lain;
sedangkan dampak negatif akibat pembangunan terhadap lingkungan yang sangat menonjol
adalah masalah pencemaran lingkungan. Salah satu upaya pencegahan dan penanggulangan
pencemaran agar pelaksanaan pembangunan bidang lingkungan hidup dapat berhasil apabila
administrasi pemerintah berfungsi secara efektif dan terpadu. Sistem perizinan adalah salah
satu sarana yuridis administratif yangdigunakan untuk mencegah dan menanggulangi
pencemaran lingkungan. Secara formal Analisis Dampak Lingkungan (ADL) berasal dari
Undang-undang National Environmenal Protection Act (NEPA) 1969 di Amerika Serikat.
Dalam Undang-undang ini ADL dimaksudkan sebagai alat untuk merencanakan
tindakan preventif terhadap kerusakan lingkungan yang mungkin akan ditimbulkan oleh suatu
aktivitas pembangunan yang sedang direncanakan (Otto Soemarwoto,
1994)
Dalam pasal 1 angka 1 pp No 27 Tahun 2012 tentang izin lingkuungan dikatakan bahwa
izin lingkungan adalah izin yang diberikan kepada setiap orang yang melakukan usaha dan
atau kegiatan yang wajib AMDAL/UKL-UPL dalam rangka perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup sebagai pra syarat untuk memperoleh izin usaha dan atau kegiatan. Pasal 1
angka 1 PP No 27 tahun 2012 jelas mengatakan bahwa setiap izin pembangunan yang keluar
dari pemerintah wajib memiliki AMDAL/UKL-UPL. Hal ini berbanding terbalik dengan
kenyataan yang ada dilapangan.
Persoalan yang terkait AMDAL dapat terjadi di banyak sektor termasuk di
bidang pariwisata . Perkembangan kepariwisataan yang sangat cepat tersebut mendorong

1
timbulnya usaha –usaha akomodasi pariwisata, baik hotel, home stay, art shop, restoran
dan rumah makan dengan berbagai jenis prasarana dan saran pariwisata lainnya.

Hotel adalah usaha dan/ atau kegiatan yang memiliki dampak penting terhadap
lingkungan. Menurut lampiran 1 peraturan menteri negara lingkungan hidup republik
indonesia nomor 5 tahun 2012 tentang jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang wajib
memiliki Analisis Mengenai Dampak Lingkungan dampak yang mungkin terjadi akibat
pembangunan hotel adalah pembebasan lahan , daya dukung lahan , tingkat kebutuhan air
sehari – hari , limbah yang dihasilkan . efek pembangunan terhadap lingkungan sekita(
getaran, kebisingan , polusi , udara dll ) jumlah pohon yang mungkin hilang konflik sosial
akibat pembebasan lahan.

Pembangunan hotel yang tidak terkontrol, menyebabkan terbatasnya ruang terbuka


karena ada kecendrungan penduduk lokal berusaha memanfaatkan secara maksimal lahan
pekarangan rumahnya untuk pembangunan akomodasi usaha –usaha lainnya berupa rumah
makan, warung, dan berbagai jenis sarana dan prasarana pendukung lainnya.Untuk
mencegah dampak negatif yang terjadi akibat dari pembangunan hotel yang semakin
meningkat, maka pemerintah mengeluarkan PERWAL No. 03 Tahun 2017
tentang pelimpahan sebagian kewenangan di bidang perizinan kepada kepala dinas
penanaman modal dan pelayanan terpadu . Salah satu problem yang sangat
mengkhawatirkan dan mengancam kelestarian lingkungan di Kota bandar lampung
adalah meningkatnya volume limbah hotel dan berkurangnya kuantitas air tanah. Di
samping itu, pertumbuhan hotel juga berdampak pada turunnya kualitas air tanah. Hal
ini karena limbah hotel umumnya memiliki konsentrasi bahan pencemar yang relatif
tinggi.

Untuk meminimalisir dampak yang ditimbulkan akibat pencemaran, setiap


manajemen hotel harus memiliki komitmen yang kuat dalam pengelolaan lingkungan
hotel. Pihak hotel seharusnya menunjukan tanggung jawabnya terhadap kelestarian fungsi
lingkungan dengan melakukan pengelolaan lingkungan dan pemantauan lingkungan. Tidak
semua manajemen hotel memiliki kesadaran untuk mengolah air limbah yang
dihasilkan. Masih banyak hotel yang tidak melakukan pengolahan air limbah sebelum
di buang ke lingkungan. Dengan demikian diperlukan suatu upaya pengawasan dan
penataan lingkungan yang harus dilakukan instansi terkait, Salah satu problem yang
sangat mengkhawatirkan adalah, ada hotel yang memiliki banyak kamar, namun

2
memiliki area parkir yang sempit, dimana kemudian hal tersebut akan berimbas ke
jalan raya dan tentunya akan mengganggu arus lalulinas yang ada. Selain itu jumlah
hotel yang banyak, juga harus dibarengi dengan kesiapan infrastruktur ain, seperti
bandara dan stasiun sehingga bisa menampung jumlah pengunjung atau wisatawan
yang datang.

Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) hanya merupakan salah satu dokumen dari
Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Perkembangan aspek sosial dalam
AMDAL lebih dinamis dari perkembangan AMDAL itu sendiri. Dalam bab pembukaan dari
Undang-undang No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, disebutkan
bahwa lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan
makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan
perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain. Dari rumusan ini jelas
bahwa, Undang-undang tersebut secara eksplisit memperhatikan lingkungan sosial.
Lingkungan hidup, menurut Undang-undang ini, merupakan sebuah sistem yang terdiri dari
lingkungan hayati, lingkungan non hayati dan lingkungan sosial.
1.2 Tujuan Rencana kegiatan

Maksud dari penyusunan kerangka acuan anlisis dampak lingkungan (KA ANDAL )
pembangunan Hotel adalah untuk terciptanya pembangunan yang berwawasan lingkungan
serta pembangunan sarana pelayanan yang dapat mememnuhi kebutuhan masyarakat
sekaligus tetap memperhatikan keseimbangan dan kelestarian lingkungan

1. Menunjukan tingkat kepedulian pihak pemrakarsa dalam upaya menjalankan.


2. memberikan informasi kepada masyarakat yang tinggal di sekitarlokasi
kegiatan dan pihak terkait tentang rencana kegiatan pembangunan hotel yang bersifat
spesifik untuk kegiatan-kegiatan yang dapat menimbulkan dampak terhadap
lingkungan, sehingga masyarakat dapat memberikan masukan, saran dan tanggapan
atasrencana kegiatan tersebut.
3. Masyarakat berhak mengetahui setiap rencana usaha dan kegiatan yang wajib UKL –
UPL
4. Mengetahui kualitas rona lingkungan di lokasi rencana pembangunan dan sekitarnya
5. Mengkaji dan memperkirakan dampak lingkungan serta mengevaluasi dampak
terhadap lingkungan hidup dari rencana kegiatan pada tahap pra- kontruksi , kontruksi

3
, dan pasca kontruksi terhadap komponen lingkungan hidup serta mengidentifikasi
dampak muncul akibat kegiatan pembangunan .

1.3 Pelaksana Studi

1.3.1 Identifikasi Pemrakarsa dan Konsultan

a. Identidikasi Pemrakarsa
Nama : PT Subroto Jaya
Penanggung jawab : Made sudiarti ,SKM.,M.Kes
Alamat : Garuntang, Jl. Gatot Subroto No.136, Sukaraja, Bumi Waras,
Kota Bandar Lampung, Lampung 35226

b. Identifikasi Konsultan
Nama : PT Emma jaya
Penanggung jawab : Ester Kristina S,SST
Alamat : Jalan sultan paduridin 2 ,gang kelengkeng no 43 susunan baru
.

4
BAB II
PELINGKUPAN

2.1 deskripsi Rencana Usaha dan/atau Kegiatan


Nama kegiatan adalah Pembangunan hotel bertaraf bintang 5 (lima) di kabupaten Bandar
Lampung. Dasar kegiatan adalah Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dan dasar yang
mewajibkan pembangunan ini membutuhkan AMDAL mengacu pada Lampiran I Keputusan
Mentri Negara Lingkungkan hidup/Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Nomor
KEP-11/MENLH/3/1994, hotel dengan jumlah 200 kamar diwajbkan menyusun AMDAL.
Dikarenakan akibat inilah hotel di kota Bandar Lampung wajib Melakukan AMDAL .

Lokasi rencana pembangunan hotel bertaraf bintang 5 (lima) secara administratif berada
di Garuntang, Jl. Gatot Subroto No.136, Sukaraja, Bumi Waras, Kota Bandar Lampung,
Lampung 35226 Pembangunan hotel akan dibangun pda luas wilayah 2.400 𝑚2 , dengan
kamar berjumlah 223 kamar , 8 ruang pertemuan , 3 restoran , ruang gym , kolam renang ,
ruang rapat dan ballroom . Hotel novotel akan dibaangun sebagai hotel bintang 5 ( lima)

Setelah dilakukan pengamatan lapangan, sisa – sisa hasil kerja proyek / pembangunan
seperti limbah cair akan dibuat IPAL ( instalasi pembuangan air limbah ). IPAL ini tidak
hanya akan digunakan untuk proses pembangunan, namun juga akan digunakan jangka
panjang untuk hasil pembangunan, sehingga limbah cair yang akan dibuang ke lingkungan
tidak menimbulkan dampak terhadap kelestarian sungai dan lingkungan di sekitar lingkungan
masyarakat sukadanaham .

Untuk sisa – sisa kegiatan proyek / pembangunan Hotel Novotel yang terbuat dari
plastik , besi, alumunium , bahan kimia/ zat kimia yang akan menimbulkan dampak bagi
lingkungan akan di olah sesuai dengan kriteria sampah sehingga tidak mencemari atau
merusak lingkungan saat di buang ke lingkungan . sampah atau hasil sisa kegiatan dapat juga
di daur ulang jika masih bisa untuk di daur ulang .

2.2 Deskripsi Umum Rona lingkungan hidup Awal

2.2.1 Komponen Geo -fisik- kimia

a. Air permukaan

5
Pembangunan proyek hotel di perkirakan akan memberi dampak terhadap komponen
air permukaan. Komponen air permukaan meliputi debit banjir , pola saluran air, dan kualitas
air sungai. Debit banjir dan pola aliran sungai diperikirakan terkena dampak pembangunan
proyek hotel . hal ini dikarenakan setiap tahap pembangunan hotel tidak akan memberikan
tambahan air yang berarti terhadap debit banjir. Demekian juga terhadap pola saluran sungai,
bahwa setiap tahap pembangunan proyek hotel tidak akan mengubah pola saluran sungai .
dengan demikian , debit banjir dan pola saluran sungai pada setiap pra kontruksi , kontruksi
dan pascakontruksi mempunyai nilai 0.

b. Air tanah

Rencana pembangunan proyek hotel di perkirakan akan membawa dampak terhadap


komponen air tanah. Komponen air tanah mencakup debit air tanah, kedalaman muka air
tanah , kualitas air tanah, kualitas air tanah dangkal, dan kualitas air tanah dalam .

Pembangunan proyek hotel akan memberikan dampak negatif terhadap debit air tanah
. hal ini disebabkan sebagian kebutuhan air untuk pembangunan proyek hotel dari tahap awal
sampai beroperasi sebagian akan diambil dari air tanah dalam dua buah sumur pompa bor .
kebutuhan air proyek tersebut cukup banyak karena akan meliputi kebutuhan hotel ,
pertokoan , kolam renang dan prasarana lainnya . akibat pengambilan air mengurangi , /
menurunkandebit air tanah yang ada. Upaya Pengelolaan lingkungan dapa mengurangi
penurunan debit air tanah . pengelolaan tersebut dapa dilakukan dengan cara menjaga jarak
setiap sumur bor 200 meter dan kapasitas pompa air tanah tidak terlalu besar .

Pembangunan proyek hotel pada tahap pembangunan substruktur diperkiran


berdampak negatif pada kedalaman muka air tanah . dampak negatif tersebut muncul jika
pelaksanaan penggalian untuk ruang bawah tanah dan fondasi terdapat gangguan air tanah
sehingga perlu penurapan . penurapan tersebut menyebabkan penurunan muka air tanah
dangkal .

c. Kebisingan

Suara – suara yang timbul dari proses pembangunan proyek yang menyebabkan
kebisingan yang mengganggu masyarakat /penduduk setempat sehingga masyarakat sekitar
peroyek pembangunan menjadi tidak nyaman . kondisi ini akan di perburuk lagi dengan
adanya debu – debu sehingga kualitas menurun dan tercemar , serta berdampak terhadap
kesehatan masyarakat.

6
d. Kualitas udara

Pada tahap kontruksi terdapat dua kegiatan yang mempunyai dampak pada kualitas
udara dan kebisingan yaitu pengangkutan dan pembuangan material serta pembangunan
superstruktur pada kegiatan pengangkutan dan pembuangan material di lokasi yang
bersangkutan karena masih terdapat sisa – sisa pembongkaran bangunan lama .

Kegiatan tersebut akan menimbulkan dampak pada kualitas udara , terutama debu .
pada kegiatan pengangkitan material akan dilakukan pengangkutan material bangunan seperti
semen , pasir , kerikil , batu kali , plat besi , dan lain sebagainya . dampak dari kegiatan ini
adalah terpancarnya gas pencemar dari kendaraan pengangkut material berupa Co, Nox , S𝑂2 ,
dan hidrokarbon serta partikel debu .

e. Kualitas tanah

Pembangunan Hotel bertaraf Bintang 5 (Lima) menyebabkan alih fungsi tanah/lahan,


yang sebelumnya lahan digunakan untuk persawahan dan ada beberapa bangunan rumah
milik masyarakat setempat dengan adanya pembangunan hotel ini maka lahan tersebut tidak
dapat lagi difungsikan sebagai lahan produktif yang sebelumnya dapat ditanami berbagai
jenis tumbuhan, sehingga tanah menjadi suatu komponen yang perlu diperhatikan, walaupun
pada prakteknya tanah disekitar lokasi diperkirakan tidak akan mengalami dampak yang
signifikan.

2.2.2 Komponen Biologi

a. Flora

Semua komponen lingkungan lingkungan diamati adalah komponen ekosistem binaan


, yakni ekositem yang keberadaannya mencerminkan berbagai kepentingan manusia seperti
kebutuhan akan suasana yang indah dan nyaman , juga kebutuhan akan buah tanpa harus
membeli , kebutuhan akan kayu bakar , kayu bangunan , kebutuhan akan konservasi
lingkungan dan sebagainya .

Oleh sebab itu perhitungan indeks keanekaragaman didasarkan atas semua jenis tanaman
yang terdapata pada arael ekosistem binaan yang terkena dampak tanpa menimbang prioritas
kepentingan manusia karena lebih menitikberatkan pada pertimbangan ekologis . sedangkan
perhitungan perhitungan frekuensi relatif berdasar atas kepentingan manusia yang

7
membelakangi pegadaan ekosistem binaan yang tentu saja tidak melupakan perhitungan
ekologis .

2.2.3 Komponen Sosial - Ekonomi – Budaya

a. Sosial ekonomi

Dalam hal kesempatan kerja , akan tampak bahwa dengan adanya pembangunan hotel
akan tercipta kesempatan kerja / peluang usaha baru baik pada prakontruksi , kontruksi dan
pascakontruksi

Dengan terciptanya kesempatan kerja / peluang berusaha baru akan dapat diperkirakan
pula adanya kenaikan pendapatan masyarakat dan tentunya akan dapat peningkatan
permintaan barang dan jasa diwilayah tersebut . kenaikan pendapatan ini hendaknya dianggap
sebagai dampak positif karena akan menambah tingkat kesejahteraan masyarakat .apabila
sebagian tenaga kerja terserap berasal dari daerah sekitar yang sifatnya sementara saja maka
aliran konsumsi akan terjadi pula ke daerah asal pekerja yang bersangkutan .

2.2.4 Komponen Kesehatan Masyarakat

Komponen kesehatan masyarakat kemungkinan akan ditimbulkan dari proses proyek


pembangunan hotel seperti , kebisingan bagi penduduk disekitar area proyek pembangunan
dan kemungkinan akan menimbulkan debu. Kebisingan tentunya akan membuat
ketidaknyamanan dan kebisingan yang melewati ambang batas akan berdampak terhadap
kesehatan penduduk sekitar . debu disertai gas knalpot kendaraan yang mencemari udara akan
menyebabkan penyakit ISPA terhadap penduduk disekitar wilayah proyek pembangunan .
kegiatan pematangan lahan menyangkut seluruh areal proyek, maka akumulasi , dampaknya
akan di perkirakan lebih besar . Dampak yang lainnya adalag biota darat , perairan serta
topografi.

2.3 Hasil Pelibatan Masyarakat

Pada masyarakat yang berada pada tempat wilayah yang di praktikan akan menjadi
tempat proyek pembangunan hotel . Dampak yang akan timbul yaitu :

 Timbulnya permasalahan akan kepastian status hukum tanah , Hasil Pertanian dan
bangunan yang dimiliki oleh penduduk sekitar

8
 Timbulnya permasalahan pada kelancaran proses perpindahan hak milik tanah dan
pertanian serta bangunan dari pemilik (penduduk setempat) ke pemrakarsa dengan
segala konsekuensinya.

Kedua hal diatas dapat menimbulkan keresahan terhadap masyarakat sekitar di wilayah
survei yang akan dilaksanakan

2.4 Dampak penting Hipotetik

Penentuan dampak hipotetik dimaksudkan untuk menentukan jenis dampak penting


hipotetik dengan derajat kepentingannya akibat rencana kegiatan yang akan dikaji dalam
AMDAL sesuai hasil pelingkupan, juga dengan melihat kegiatan lain yang sejenis. Hasil
penentuan dampak hipotetik adalah sebagai berikut

2.4.1 Batas Proyek

a. Tahap Prakontruksi

Mobiliatas peralatan dapat berpengaruh negatif sangat kecil yang bersifat sementara
terhadap keanekaragaman dan kerapatan fauna darat / udara yang berkeliaran disekitar
kawasan proyek pembangunan hotel . dampak tersebut disebabkan oleh pengaruh asap
kendaraan yang keluar masuk kawasan proyek serta rusaknya bagian permukaan tanah yang
terkena roda kendaraan.

Mobilitas ketenagakerjaan tidak berdampak terhadap keanekaragaman dan kerapatan fauna


darat/udara maupun fauna mikroorganisme

b. Tahap Kontruksi

Pengangkutan material berdampak negatif kecil yang bersifat sementara terhadap


keanekaragaman dan kerapatan fauna darat/udara. Bila pengangkutan material dikerjakan
pada malam hari maka dampak tersebut dirasakan oleh serangga tanah, yang biasanya bersifat
nokturnal (aktif pada malam hari ) . sedangkan bila pengangkutan dilakukan pada siang hari
akan berpengaruh terhadap kerapatan burung dan serangga bersayap yang aktif siang hari
akibat ceceran material .

Pembuangan sisa bangunan , baik limbah cair maupun padat, bila ditampung pada suatu area
atau bagian lahan dari kawasan proyek akan berdampak negatif kecil yang permanen , tetapi

9
bila dibuang ke sungai dapat berdampak negatif terhadap fauna darat/ udara , perairan
maupun mikroroganisme

c. Tahap pascakontruksi

Manuver kendaraan berdampak sangat kecil dan permanen terhadap keanekaragaman dan
kerapatan fauna darat/udara. Serangga bersayap dan burung yang aktif berterbangan di sekitar
proyek , disebabkan karena adanya penambahan frekuensi kendaraan keluar masuk proyek .

Pengambilan air tanah berdampak negatif sangat kecil dan bersifat sementara , saat
pengeboran berlangsung terhadap keaenkaragaman dan kerapatan fauna , terutaman serangga
tanah .

Pembuangan limbah berdampak negatif sedang yang bersifat permanen terhadap


keanekaragaman fauna dan mikroorganisme perairan . penambahan bahan organik kesungai
menyebabkan plankton bertambah.

Dampak kegiatan proyek pada tahap kontruksi akan banyak terpengaruh terhadap
kegiatan penduduk, sebab kegiatan yang telah dilakukan tersebut akan menyebabkan daya
tarik tersendiri bagi masyarakat. Meningkatnya mobilitas tenaga kerja terutama yang
diharapkan bisa terserap dalam lapangan kerja dari aktivitas – aktivitas tersebut .

2.4.2 Batas Ekologis

Batas ekologis adalah ruang persebaran dampak dari kegiatan pembangunan proyek dan
operasionalnya menurut transportasi limbah cair, padat, difusi atau pergerakan limbah.
Termasuk dalam ruang ini adalah ruang sekitar rencana usaha atau kegiatan yang secara
ekologis terkena dampak dari proyek pembangunan hotel.

2.4.3 batas sosial

Penentuan batas sosial pada kegiatan AMDAL ini dengan memperhatikan intesitas
luas persebaran dampak dan antisipasi perubahan sosial akibat kegiatan pembangunan hotel
yang diperkirakan akan timbul terhadap komponen sosial dengan mempertimbangkan
keberadaan masyarakat yang berada disekitar pembangunan hotel .

10
BAB III

METODE STUDI

3.1 Metode Pengumpulan dan Analisis Data

Tujuan pengumpulan dan Analisis Data

1. Menelaah, mengamati, mengukur parameter lingkungan yang diperkirakan akan


terkena dampak besar dan penting dari kegiatan proyek.
2. Menentukan kualitas lingkungan dari berbagai parameter yang diperkirakan tekena
dampak besar dan penting dari kegiatan proyek.
3. Menelaah, mengamati, dan mengukur komponen rencana kegiatan yang diperkirakan
terkena dampak besar dan penting dari lingkungan hidup sekitarnya.
4. memprakirakan perubahan kualitas lingkungan hidup awal akibat kegiatan
proyek.

Secara umum lokasi-lokasi pengambilan data ditetapkan pada lokasi tapak proyek,
serta beberapa lokasi di sekitar tapak proyek yang diperkirakan akan terkena sebaran
dampak. Dengancara ini kondisi atau rona lingkungan hidup awal pada lokasi – lokasi calon
penerima dampak dapat teramati, seingga nantinya besaran dampak di wilayah studi dapat di
prakirakan . komponen lingkungan dan parameter yang haus diamati, diukur dan dicatat
beserta metode pengumpulan dan analisis datanya diuraikan sebagai berikut.

3.1.1 Komponen Geo-fisika- kimia

Komponen lingkungan geo – fisika – kimia yang ditelaah dalam studi ini meliputi :

kualitas udara ambien

hidrologi dan kualitas air

3.1.2.kualitas udara ambien . kebisingan dan getaran

3.1.2.1 kualitas udara dan kebisingan

a. metode pengumpulan data

Penentuan titik/lokasi sampling didasarkan atas pertimbangan arah dan angin yang
dihubungkan dengan tapak rencana kegiatan. Data kualitas udara dan kebisingan merupakan

11
data primer yang akan dikumpulkan langsung di lapangan , akan diambil dari lokasi
pembangunan hotel dan beberapa titik area sekitar pembangunan hotel

parameter yang akan dikumpulkan untuk kualitas udara dan kebisingan meliputi :

1). Kualitas udara ambien

Parameter kualitas udara ambien yang akan di teliti sesuai dengan peraturan
pemerintah Nomor 41 tahun 1999 tentang pengendalian pencemaran udara. Pengambilan
sampel dilakukan dibeberapa titik area sekitar pembangunan hotel ( dengan radius 1 km )
parameter yang diukur meliputi 𝑆𝑂2(sulfur dioksida), CO(karbon monoksida),𝑁𝑂2 ( Nitrogen
dioksida) , 𝑂3 dan TSP.

2). Kebisingan

kebisingan akan diukur secara langsung dengan menggunakan alat sound level meter
dilokasi yang sama dengan lokasi pengukuran/pengambilan sampel udara ambien. ) aku mutu
tingkat kebisingan diatur dalam Keputusan Mentri Negara Lingkungan Hidup No. Kep-
48/MENLH/11/1996 Tentang Baku Tingkat Kebisingan.

3 . Metode analisis data


Analisis kualitas udara akan dilakukan dengan cara menghitung sesuai Indeks Standar
Pencemaran Udara (ISPU). Tabel 3.1 menyajikan parameter-parameter, metode pengumpulan
dan analisis data untuk kualitas udara dan kebisingan.
Tabel 3.1 Parameter, Metode Pengumpulan dan Analisis Data untuk Kualitas Udara dan
Kebisingan
No. Parameter Metode Peralatan Sumber Metode Keterangan
Analisis Analisis
Data
1 Kualitas PP No. 41 Mengguna Hasil
Udara Pararosanili Spektrofotomet tahun kan perhitungan
SO2 n er 1999 Pedoman dikonversi
CO NDIR NDIR tentang ISPU: menjadi
NO2 Saltzman Analyzer Baku Kep.Men. skala
PM 10 Gravimetri Spektrofotomet Mutu LH No. 45 kualitas
TSP Gravimetri er Udara tahun lingkungan

12
O3 Chemilumin Hi-Vol Ambien 1997 dan
escen Hi-Vol Nasional Kep. Ka
Spektrofotomet BAPEDA
er L No. 107
tahun
1997
2 Kebisingan Sound level Kep.Men. Sesuai Hasil
meter LH No. dengan perhitungan
48 Kep.Men. dikonversi
tahun LH No. 48 menjadi
1996 tahun skala
tentang 1996 kualitas
Baku tentang lingkungan
Tingkat Baku
Kebisinga Tingkat
n Kebisinga
n

3.1.3 Hidrologi dan Kualitas Air


1. Hidrologi
a. Metode pengumpulan dan analisis data
Data yang akan digunakan dalam pengumpulan data mengenai hidrologi adalah data
primer, sekunder dan data berdasarkan perhitungan matematis. Lingkup studi komponen
lingkungan hidrologi meliputi komponen-komponen sebagai berikut:
Hidrologi
Tingkat penyediaan dan kebutuhan/pemanfaatan air

Tabel 1.1 Parameter, metode pengumpulan dan analisis data untuk Hidrologi
No. Parameter Metode Metode Analisis Keterangan
Pengumpulan Data
Data
1 Debit/Discharge Data sekunder Matematik Data debit
Sungai Dan data primer Q=V*A dekade,

13
bulanan,
tahunan
2 Debit aliran permukan Metode rasional Matematik Butuh data
Data primer R = 0,028C.I.A hujan, luas
(m3/dt) daerah dan
data penutup
lahan
3 Kualitas air permukaan Menerapkan Menerapkan National Pengukuran
Standard Sanitation parameter
Methods for Foundation’s fisik seperti
The Water Quality Index suhu, pH,
Examination of (NSFWQI), (Ott, TDS, DO dan
Water and 1998). DHL
Wastes Water, dilakukan
APHA, edisi langsung di
ke 20, tahun lapangan ( in
200. Baku Mutu situ
Air yang akan measurement)
dipergunakan
adalah PP No.
82 tahun 2001.
4 Air larian permukaan Observasi Persamaan empiris Lokasi
( run off) visual dan dengan dimana terjadi
pengukuran luas rumus Q = pembukaan
DAS pada peta 0,028.C.I.A. lahan (tapak
dengan (Rational equation) sumur, jalur
planimeter pipa dll.)

14
5 Tingkat penyediaan Data sekunder Perhitungan tingkat
dan kebutuhan/pemanfaatan
kebutuhan/pemanfaatan air dihitung
air berdasarkan rata -rata
penggunaan volume air
per satuan luas lahan
untuk pertanian, rata -
rata penggunaan air
untuk industri, dan
ratarata penggunaan air
untuk kegiatan lainnya

Masing- masing komponen dan paramerter lingkungan yang diprakirakan terkena dampak
tersebut akan dikumpulkan baik dari lapangan maupun instansi terkait, dengan rencana lokasi
pengambilan sampel disajikan pada Peta Rencana Lokasi Pengambilan Sampel, yang
selanjutnya akan dianalisis untuk menentukan skala Kualitas Lingkungannya.
2. Kualitas Air
a) Metode Pengumpulan data
1) Kualitas air tanah
Untuk mengetahui kualitas air tanah pada lokasi penelitian, maka dilakukan pengukuran
terhadap kualitas air sumur penduduk. Sampel air akan diambil dari lokasi rencana
pembangunan Hotel dan beberapa titik diarea sekitar pembangunan Hotel (dengan radius 1
KM), sampel air diambil pada sumur-sumur penduduk serta aliran sungai. Cara pengukuran,
perhitungan dan evaluasi kualitas air tanah berpedoman pada Peraturan Menteri Kesehatan
Nomor 416 Tahun 1990 . Parameter-parameter kualitas air tanah yang akan diukur disajikan
pada Tabel berikut

Tabel Parameter Kualitas Air Tanah/Sumur yang akan Diukur (sesuai PERMENKES
907/MENKES/SK/VII/2002)
No Parameter
1 Antimony
23 Air raksa (Hg)
4 Arsenic (As)
5 Barium (Ba)

15
6 Boron (Bo)
7 Cadmium (Cd)
8 Kromium (Cr)
9 Tembaga (Cu)
10 Sianida (CN)
11 Fluorida (F)
12 Timah (Pb)
13 Nikel (Ni)
14 Nitrat (NO3)
15 Nitrit (NO2)
16 Selenium (Se)
17 Amonia (NH3)
18 Alumunium (Al)
19 Klorida (Cl)
20 Tembaga (Cu)
21 Kesadahan (Ca CO3)
22 Hidrogen Sulfida (H2S)
23 Besi (Fe)
24 Mangan (Mn)
25 pH
26 Sodium (Na)
27 Sulfat (SO4 )
28 TDS
29 Seng (Zn)
30 Kekeruhan
31 E. Coli
32 Fecal coli
33 Suhu
Total zat padat terlarut (TDS

2) Kualitas Air Permukaan


Untuk mengetahui kualitas air permukaan (air sungai) pada lokasi penelitian, maka
dilakukan pengukuran terhadap kualitas air permukaan. Cara pengukuran, perhitungan dan
evaluasi kualitas air sungai berpedoman pada Peraturan Pemerintah RI No. 82 Tahun 2001
16
tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air dan Kep.Men LH No. 37
Tahun 2003 tentang Metode Analisis Kualitas Air Permukaan dan Pengambilan Contoh Air
Permukaan. Pengambilan sampel air permukaan untuk penelitian ini dilakukan di sungai
sungai terdekat yang terpengaruh oleh kegiatan pembangunan serta pengolahan limbah Hotel
(radius) 1 KM dari lokasi proyek pembangunan Hotel . Parameter- parameter kualitas air
permukaan yang akan diukur disajikan pada tabel berikut.
Tabel Parameter Kualitas Air Permukaan yang akan Diukur (sesuai PP RI No. 82
Tahun 2001)
No Parameter
1 pH
2 DO
3 Kekeruhan
4 DHL
5 BOD
6 COD
7 Total fosfat sebagai
8 P
9 NO3
10 NH3
11 Kobalt (Co)
12 Barium (Ba)
13 Boron (Bo)
14 Kadmium (Cd)
15 Khrom (VI)
16 Tembaga (Cu)
17 Besi (Fe)
18 Timbal (Pb)
19 Mangan (Mn)
20 Air Raksa (Hg)
21 Seng (Zn)
22 Khlorida (Cl)
23 Sianida (CN)
24 Fluorida (F)
25 Nitrit (NO2)

17
26 Sulfat (SO 4)
27 Khlorin bebas
28 Belerang sbg H2S
29 Minyak dan Lemak
30 Detergen
31 Residu Terlarut
32 Residu Tersuspensi
33 Total Coliform
Fecal Coliform

Lokasi pengambilan sampel ditetapkan pada lokasi tapak proyek dan sekitarnya yang
diprakirakan akan terkena dampak kegiatan proyek Pengambilan sampel air tanah akan
dilakukan pada 10 titik atau lokasi yang didasarkan pada perbedaan jenis tanah dan
pertimbangan lainnya.
b) Metode Analisis Data
Parameter yang telah diukur/diamati dan dicatat kemudian dianalisis dengan metode
seperti yang diuraikan dalam table berikut
Tabel Parameter dan Metode Analisis data kualitas Air
No Parameter Teknik Pengujian Spesifikasi
Metode
Pengujian
1 Amonium Spektrofotometri dengan Nessler SNI 06-2479-
2 Besi Spektrometri serapan atom 1991
3 BOD Inkubasi Winkler SNI 06-2523-
4 COD Refluk secara tertutup 1991
5 Fenol Spektrofotometri dengan SNI 06-2503-
aminoantipirin 1991
6 Krom Spektrometri serapan atom SNI 06-2504-
7 Kadmium Spektrometri serapan atom 1991
8 Minyak dan Ekstraksi dengan petroleum eter SNI 19-1656-
9 lemak Spektrofotometri dengan sulfat 1989
10 Nitrat Spektrofotometri dengan
11 Nitrit A.sulfanilat SNI 06-2511-

18
12 Perak Spektrometri serapan atom 1991
Sulfida Spektrofotometri dengan para SIN-06-2465-
13 aminodimetil anilin 1991
14 Sianida Titrimetri dan kolorimetri SNI 19-1660-
Seng Spektrometri serapan atom 1989
SNI 06-2480-
1991
SNI 06-2484-
1991
SNI 06-4162-
1996
SNI 19-1664-
1989

SNI 19-1504-
1989
SNI 06-2507-
1991
Sumber : Kepmen LH No. 37 tahun 2003

3.1.4. Komponen Biologi


1. Biota Air (Sungai)
Pengamatan biota sungai yang dilakukan di beberapa lokasi perairan di sekitar rencana tapak
proyek sesuai dengan lokasi pengambilan sampel kualitas air permukaan yaitu dibeberpa
sungai dengan radius 1 KM dari lokasi proyek. Dasar pengambilan sampel adalah media
hidup biota sungai berada di sekitar tapak proyek sehingga apabila kegiatan berlangsung
diprakirakan dapat berpengaruh terhadap biota sungai. Biota sungai yang akan ditelaah
meliputi plankton dan ikan. Adapun parameter yang diukur meliputi, kelimpahan dan indek
keanekaragaman untuk kelompok plankton dan kekayaan jenis untuk ikan.

2. Plankton
1) Metode pengumpulan data
Plankton diambil dengan menggunakan plankton net, mengingat air yang berada di sungai
dan laut cukup dinamis, maka jumlah air yang disampling dan disaring dengan plankton net
19
sebanyak 100 liter dan dipekatkan dalam botol plakton 10 ml dan diawetkan dengan larutan
formalin 4%, untuk dilakukan pengamatan di laboratorium. Plankton akan dipisahkan
menjadi kelompok fitoplankton dan zooplankton, untuk diketahui keanekaragaman jenis dan
kelimpahannya. Determinasi plankton menggunakan kunci determinasi yang dibuat oleh
Shirota (1966), Needham (1972), serta Ward and Whipple (1959).
2) Metode analisis data
Data plankton dianalisis untuk mengetahui densitas dan indeks diversitas. Densitas/kerapatan
plankton dihitung dengan rumus Welch (1948) dan untuk mengetahui indeks
keanekaragamannya, dengan indeks diversitas Shannon dan Weiner (Krebs, 1978). Indeks
keanekaragaman ini diguna kan untuk mengetahui kondisi perairan.

4.Flora Darat
Pengamatan vegetasi di dalam dan sekitar tapak proyek pembangunan Hotel yang
berjarak (radius) 1 KM dari lokasi proyek beradasarkan azas keterwakilan vegetasi
perkebunan dan persawahan dan pekarangan. Pada setiap daerah pengamatan akan dibuat 6
titik sampling pada tapak kegiatan. Dasar pengambilan sampel di sekitar lokasi kegiatan
adalah hilangnya flora di sekitar kawasan tersebut apabila rencana kegiatan telah
berlangsung. Pada jalur pipa juga akan dilakukan pengamatan tanpa plot, terutama pada jalur
yang berada di daerah persawahan atau perkebunan. Penentuan pengambilan sampel di
sekitar lokasi proyek adalah sebagai perwakilan vegetasi kebun, pekarangan dan persawahan.
1) Metode pengumpulan data
Pengambilan/pengumpulan data vegetasi diperoleh dengan menggunakan teknik plot
quadrat sampling. Ukuran kuadrat 10 x 10 m untuk strata pohon. Adapun penempatan
kuadrat tersebut ditentukan secara sistematik random sampling. Pengamatan terhadap
tanaman budidaya dilakukan dengan inventarisasi, pengamatan langsung dan wawancara
tentang jenis tanaman yang dibudidayakan masyarakat di wilayah studi.
2) Metode analisis data
Data- data flora dianalisis untuk mengetahui indeks diversitas, frekuensi, kerapatan dan
nilai penting.

Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara deskripsif sehingga dapat disimpulkan
kualitas lingkungan flora di lokasi kegiatan dan sekitarnya.

20
5.Sosial Ekonomi
Pengumpulan data sosial ekonomi dilakukan melalui data sekunder dan data primer. Data
sekunder meliputi data monografi, data statistik pada instansi terkait di daerah yang diteliti .
Data primer diperoleh dengan cara wawancara secara langsung terhadap masyarakat di
daerah sekitar proyek dan pada kegiatan- kegiatan ekonomi di lapangan. Adapun
parameter sosial ekonomi yang akan diteliti meliputi:
 Ekonomi rumah tangga terdiri dari: (a) tingkat pendapatan, (b) pola nafkah ganda.
 Ekonomi sumber daya alam yang terdiri dari : (a) pola pemanfaatan sumberdaya alam,
(b) pola penggunaan lahan.
 Perekonomian lokal yang terdiri dari: (a) kesempatan kerja dan berusaha, (b) jenis dan
jumlah aktivitas ekonomi nonformal , (c) pusat- pusat pertumbuhan ekonomi, (d)
Pendapatan Asli Daerah (PAD), (e) a ksesibilitas wilayah, (f) fasil itas umum dan
fasilitas sosial.
Analisis data sosial ekonomi yang bersifat kuantitatif akan dilakukan dengan analisis statistik,
sedangkan yang bersifat kualitatif akan dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif
analisis.
6.Kesehatan Masyarakat
Data komponen kesehatan masyarakat meliputi data primer dan sekunder. Data primer
dikumpulkan melalui wawancara dengan responden dan pengamatan lapangan. Sementara itu
data sekunder dikumpulkan dari instansi terkait seperti Puskesmas dan rumah sakit setempat.
Dengan mengacu pada Keputusan Kepala Bapedal Nomor: KEP- 124/12/1997 tentang
Panduan Kajian Aspek Kesehatan Masyarakat dalam Penyusunan Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan, metode pengumpulan dan analisis data adalah sebagai berikut.
1) Metode pengumpulan data
Pengumpulan data akan dilakukan melalui:
 Observasi/pengamatan lapangan
 wawancara dengan menggunakan kuesioner
 wawancara mendalam (in depth interview) terhadap informan kunci
 penelusuran data dan informasi tentang kondisi kesehatan masyarakat setempat
 pengumpulan data sekunder.
Macam data yang dikumpulkan meliputi: pola penyakit, status gizi, pembiayaan kesehatan,
macam pelayanan kesehatan, macam penyakit menular yang ada, air bersih dan atau air
sumur penduduk, Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) masyarakat baik preventif

21
maupun kuratif dan aspek-aspek kependudukan yang berkaitan dengan kesehatan masyarakat.
Instrumen penelitian (kuesioner) dibuat secara khusus dan selanjutnya digabung bersama
kuesioner sosial-ekonomi dan budaya. Data kualitatif diambil sendiri oleh peneliti yang
bergabung bersama aspek sosial-budaya.
2) Metode analisis data
Data dianalisis dengan metode analisis dampak kesehatan lingkungan dan epidemiologi
diantaranya melalui: (1) statistik sederhana, (2) deskriptif evaluatif, dan (3) pedoman resmi
(formal) yang sesuai dengan kepentingannya (misalnya mengenai status gizi balita, tingkat
kematian bayi, sumberdaya kesehatan, dan lain sebagainya).

3.2. METODE PRAKIRAAN DAMPAK PENTING


3.2.1. Prakiraan Besaran Dampak
Metode prakiraan dampak pada prinsipnya adalah untuk memprakirakan besaran
dampak (magnitude) dan tingkat kepentingan (important) dampak.
Tabel 1.2 Metode Prakiraan Besaran Dampak Untuk Masing-Masing Parameter
Lingkungan Pada Jenis-Jenis Dampak Hipotetik
No Komponen Parameter Metode Prakiraan Keterangan
Lingkungan Besaran Dampak
1 Kualitas Udara SO Matematik dan Analogi dengan
NO2 komparatif dengan kegiatan
CO analog kegiatan lain AMDAL
PM10 yang sama Pembangunan hotel di
Debu (TSP) kota bandar lampung.
Kebisingan
2 Drainase dan Pola aliran, Professional
irigasi, debit Jaringan irigasi, Judgement,
Kecepatan arus Komparatif
3 Kualitas air Sifat fisik air Matematik
tawar Sifat kimia air
4 Biota Air ID plangton Professional Judgement Analogi dengan
Jenis ikan dan analog dengan kegiatan
5 Biota Darat Vegetasi alami kegiatan sejenis AMDAL
Vegetasi budaya Pembangunan
hotel di kota bandar

22
lampung.
6 Sosial Budaya Kependudukan
Ekonomi Pendapatan
masyarakat
Kesempatan
berusaha
Proses sosial
Sikap dan
persepsi
masyarakat
7 Kesehatan
Masyarakat

Berdasarkan metode (Tabel 1.2) tersebut di atas, akan dihasilkan kondisi masing- masing
parameter lingkungan terprediksi yang selanjutnya dikonversi dalam bentuk skala. Besaran
dampak setiap parameter yang dikaji diperoleh dengan menghitung selisih kualitas
lingkungan hidup setiap kegiatan (proyek) berlangsung (KLp) dengan kualitas lingkungan
hidup saat rona lingkungan hidup awal (mula - mula sebelum adanya proyek (KLRLA) atau
Besar prakiraan dampak = KLp – KLRLA
Angka prakiraan besaran dampak yang akan diperoleh antara 1 s/d 4, dengan pengertian:
+/- 1 = dampak positif/negatif kecil
+/- 2 = dampak positif/negatif sedang
+/- 3 = dampak positif/negatif besar
+/- 4 = dampak positif/negatif sangat besar
Namun demikian penetapan besaran dampak tersebut di atas tidak terlalu kaku, khususnya
untuk parameter tertentu yang diprakirakan akan melebihi baku mutu dan atau telah
mendekati angka batas pada perubahan skala kualitas lingkungan

3.2.2. Prakiraan Sifat Penting Dampak


Sifat penting dampak akan ditetapkan dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah RI
No. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Dampak besar dan
penting merupakan satu kesatuan makna “dampak penting”. Hal ini berarti bahwa tidak selalu
yang hanya mempunyai dampak besar saja yang bersifat penting, tetapi dampak yang kecil

23
pun dapat bersifat penting. Untuk mengetahui apakah dampak-dampak tersebut mempunyai
sifat penting tertentu, maka dilakukan evaluasi terhadap faktor-faktor penentu dampak
penting untuk selanjutnya dievaluasi bersama-sama dengan besaran dampak-dampak tersebut,
untuk mengambil keputusan apakah dampak tersebut merupaka n dampak besar dan penting
agar dapat disimpulkan menjadi dampak lingkungan besar dan penting.
Penentuan Tingkat kepentingan dampak dilakukan pada semua dampak-dampak
hipotesis dengan mengacu pada kriteria penentu dampak penting sesuai dengan Peraturan
Pemerintah No. 27 tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL),
yaitu:
1. Jumlah manusia yang terkena dampak
2. Luas wilayah persebaran dampak
3. Intensitas dan lamanya dampak berlangsung
4. Banyaknya komponen lain yang akan terkena dampak
5. Sifat kumulatif dampak
6. Berbalik atau tidak berbaliknya dampak
Akan tetapi dalam penetapan tingkat kepentingan dampak secara umum, dalam kajian
AMDAL ini akan relatif lebih konservatif dibanding penetapan berdasarkan SK Kep Bapedal
No. 56 tahun 1994. Penetapan tingkat kepentingan dampak ini dikelompokkan kedalam
dampak penting (P) dan tidak penting (TP). Pedoman penetapan tingkat kepentingan dampak
apakah dampak tersebut penting (P) atau tidak penting (TP) didasarkan pada kriteria sebagai
berikut.
1) Untuk jumlah manusia yang terkena dampak
Kriteria P apabila terdapat > 25% manusia tidak mendapatkan memanfaatkan hasil/manfaat
dari proyek. Kriteria TP apabila tidak jumlah manusia terkena dampak <25% dari manusia
yang terkena dampak.
2) Luas wilayah persebaran dampak
\Kriteria P apabila luas dampak > 0,25 kali luas wilayah studi, karena setidak -tidaknya di
daerah tersebut dalam luasan 0,25 dari luas wilayah studi pemanfaatan ruang cukup beragam
sehingga tingkat kepentingannya tinggi, sehingga dampaknya sudah dianggap penting.
Kriteria TP apabila luas dampak < 0,25 kali luas wilayah studi.

3) Intensitas dan lamanya dampak berlangsung

24
Kriteria P apabila intensitasnya sama atau lebih besar daripada ambang batas baku mutu, dan
atau dampak berlangsung tidak hanya sesaat. Kriteria TP apabila intensitasnya rendah
(dibawah ambang batas baku mutu dan dampaknya berlangsung hanya sesaat).

4) Banyaknya komponen lain yang akan terkena dampak


Kriteria P apabila ada komponen lain yang terkena dampak. Kriteria TP apabila tidak ada
komponen lain yang terkena dampak.

5) Sifat kumulatif dampak


Kriteria P apabila dampak akan terakumulasi. Kriteria TP apabila dampak tidak akan
terakumulasi .

6) Berbalik atau tidak berbaliknya dampak


Kriteria P apabila dampak tidak berbalik. Kriteria TP apabila dampak berbalik.
Mengingat bahwa tujuan akhir pembangunan adalah untuk kepentingan manusia, maka
dalampenetapan sifat penting dampak, parameter jumlah manusia terkena dampak diberi
bobot 3.

3.3. METODE EVALUASI DAMPAK PENTING


Untuk memperkirakan komponen-komponen lingkungan yang akan terkena dampak,
dilakukan pembuatan simple checklist yang menandai komponen-komponen kegiatan yang
memiliki pengaruh terhaap komponen lingkungan. Metode prakiraan dampak dilaksanakan
dengan menggunakan pendekatan sebagai berikut:

 Pendekatan secara model matematis merupakan perkiraan dampak yang paling baik
bila tersedia cukup data dan model yang sesuai dengan data yang ada.
 Pendekatan secara standar baku mutu lingkungan merupakan perkiraan dampak
dengan menggunakan baku mutu lingkungan yang telah ditetapkan oleh pemerintah.
 Pendekatan secara analogi merupakan perkiraan dampak dengan mencari persamaan
pola dengan kasus-kasus serupa yang telah ada.
 Profesional judgement yang merupakan pendugaan dampak oleh tenaga ahli
berdasarkan pengalaman dan ilmu yang dimiliki yang dikaitkan dengan fenomena di
lapangan.

25
Dalam menentukan dampak penting pada laporan ini digunakan pendekatan secara
standar baku mutu lingkungan dengan melihat analogi terhadap kasus-kasus serupa yang
pernah terjadi sebelumnya. Dalam evaluasi dampak yang terjadi digunakan metode checklist
dan Metode evaluasi dampak penting non matrik yaitu dengan pendekatan deskriptif-kualitas
berdasarkan informasi besaran dan tingkat kepentingan masing-masing jenis dampak penting
hipotetik, dengan mengevaluasi kegiatan-kegiatan yang akan menghasilkan dampak terhadap
lingkungan.
Secara garis besar pentingnya suatu dampak adalah bila kondisi berikut tercapai :
1. Jumlah manusia yang terkena dampak
Dampak dapat dikatakan penting jika manusia yang terkena dampak negatif langsung
jumlahnya sama atau lebih besar dari jumlah manusia yang menerima manfaat positif
langsung proyek.
2. Luas wilayah penyebaran dampak
Dampak dikatakan penting jika sebarannya dua kali atau lebih luas dari luas wilayah
perencanaan atau telah melewati batas-batas administratif kabupaten.
3. Lamanya dampak berlangsung
Dampak dikatakan penting jika dampak berlangsung selama minimal satu tahapan
kegiatan proyek.
4. Intensitas dampak
Dampak dikatakan penting jika intensitas dampak negatif telah menyebabkan
kemerosotan daya toleransi lingkungan secara drastis dalam waktu yang singkat dan
ruang yang luas.
5. Banyaknya komponen lingkungan yang akan terkena dampak
Dampak dikatan penting jika komponen-komponen lingkungan yang terkena dampak
sekunder atau tersier lebih banyak atau sama dengan komponen lingkungan yang terkena
dampak penting.
6. Sifat kumulatif dampak
Dampak dikatakan penting jika akumulasi dampak terjadi terus menerus sehingga tidak
dapat diasimilasi oleh lingkungan dan menimbulkan ruang yang relatif luas bahkan terjadi
fenomena sinergetik (saling memperkuat di wilayah sebarannya).
7. Berbalik (reversibel) atau tidak berbaliknya (Irreversibel) dampak tersebut.
Dampak dikatakan penting jika komponen lingkungan yang terkena dampak tidak dapat
dipulihkan kembali walaupun dengan intervensi manusia. Untuk beberapa aspek, evaluasi
dilakukan melalui perbandingan dengan standar kualitas lingkungan yang berlaku.

26
Tujuan dilakukan evaluasi dampak besar dan penting lingkungan akibat dari komponen
kegiatan yang direncanakan adalah memutuskan/menentukan jenis dampak hipotetik yang
akan dikelola, jenis dampak tersebut ditelaah secara holistik, dan memberikan arahan atau
alternatif pengelolaannya. Adapun keputusan tentang jenis dampak hipotetik yang akan
dikelola adalah jenis dampak yang termasuk kategori dampak penting yang dikelola (PK)
yang ditetapkan berdasarkan dua kriteria sederhana berikut:
a) Pada prameter linkungan yang memiliki Baku Mutu Lingkungan tertentu: apabila
tingkat kepentingannya (∑ P) > 3 dan dampak negatif yang diprakirakan akan terjadi
menyebabkan perubahan nilai pada parameter tertentu sehingga nilai itu akan
melebihi baku mutu yang berlaku, maka kesimpulan dampaknya termasuk kat egori
dampak penting yang dikelola (PK).
b) Pada prameter linkungan yang tidak memiliki Baku Mutu Lingkungan: Apabila (∑
P)> 3 dan besaran angka prakiraan dampak ≥ (+/-) 2, maka kesimpulan dampaknya
masuk kategori dampak penting yang dikelola (PK) .
c) Diluar kedua kriteria tersebut di atas masuk dalam kategori dampak tidak penting
dan tidak dikelola (TPK).
Diluar kedua kriteria di atas, kesimpulan hasil evaluasi adalah dampak tidak penting dan tidak
dikelola (TPK) . Bila dampak yang disimpulkan merupakan dampak penting yang dikelola
(PK) , maka dampak - dampak itulah yang akan dijadikan dasar untuk penyusunan Rencana
Pengelolaan Lingkungan dan Rencana Pemantauan Lingkungan.
Jenis dampak penting tersebut kemudian di telaah secara holistik yang dibantu dengan Bagan
Aliran Dampak untuk mengetahui kecenderungan dengan menyajikan nilai kuantitatif dan
kualitatif dari setiap besaran dan sifat kepentingan dalam bentuk uraian deskriptif secara satu
kesatuan, yang dikelompokkan ke dalam tiga kajian, yaitu:
 Kelestarian fungsi ekologis, merupakan hasil pengkajian dari parameter fisik- kimia
dan biologi yang terkena dampak besar dan penting;
 Peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar, merupakan hasil pengkajian dari
parameter sosial ekonomi, budaya dan kesehatan masyarakat;
 Kontribusi terhadap pembangunan daerah, merupakan kajian secara makro dimana
kontribusi Hotel terhadap pembangunan daerah sebagai konsekuensi dari
diperolehnya ijin mendirikan rumah sakit yang dapat meningkatkan pelayanan public.

27
Berdasarkan hasil telaahan secara holistik atas jenis dampak besar dan penting dapat
ditentukan berbagai alternatif atau arahan pengelolaannya dengan mempertimbangkan
sumber penyebab dampak, lokasi atau kondisi lingkungan berlangsungnya dampak, dan
besaran dampaknya. Sumber dampak dapat berupa suatu komponen kegiatan atau penyebab
dampak yang bersumber dari jenis dampak yang lain. Berdasarkan arahan atau berbagai
alternative pengelolaan yang diusulkan akan dapat diperoleh dua informasi penting yaitu:
 Masukan untuk pengambilan keputusan atas kelayakan lingkungan dari Rencana
 Proyek pembangunan Hotel
 Masukan untuk penyusunan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana
Pemantauan Lingkungan (RPL)

28