Anda di halaman 1dari 34

HUKUM PERTANAHAN INDONESIA

PROSES PENERBITAN SERTIFIKAT TANAH

PENGAJAR :

Ir. LEO PANTINEMA, MSc

DI SUSUN OLEH :

NAMA : MUHAMMAD DIMYATI


NIM : 1625925
PRODI : TEKNIK GEODESI

JURUSAN TEKNIK GEODESI S-1


FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
INSTITUT TEKNOLOGI NASIONAL MALANG
2018
BAB I

PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG

Undang-Undang Pokok Agraria yang disingkat dengan UUPA, merupakan peraturan


perundang-undangan yang mengatur masalah pertanahan di Indonesia sejak empat puluh
tahun yang silam.

Tujuan dari UUPA itu sendiri sebagaimana yang dicantumkan dalam Penjelasan
Umumnya adalah :

1. Meletakkan dasar-dasar bagi prnyusunan hukum agraria nasional, yang akan


merupakan alat untuk membawakan kemakmuran, kebahagiaan dan keadilan bagi
negara dan rakyat tani, dalam rangka masyarakat yang adil dan makmur;
2. Meletakkan dasar-dasar untuk mengadakan kesatuan dan kesederhanaan dalam
hukum pertanahan.

3. Meletakkan dasar-dasar untuk memberikan kepastian hukum mengenai hak-hak atas


tanah bagi rakyat seluruhnya.

Berdasarkan tujuan pokok UUPA tersebut di atas diatur macam-


macam hak atas tanah yang dapat diberikan dan dipunyai oleh setiap orang, baik sendiri-
sendiri maupun bersama-sama dengan orang lain ataupun badan hukum. Menurut Pasal 16
UUPA, hak-hak atas tanah yang dapat dipunyai dan diberikan kepada setiap orang dan atau
badan hukum adalah hak milik, hak guna usaha, hak guna bangunan, hak pakai dan lain-lain
sebagainya..

Yang dimaksud dengan hak milik adalah hak turun-temurun, terkuat dan terpenuh yang
dapat dipunyai orang atastanah (Pasal 20 UUPA), sedangkan hak guna usaha adalah hak
untuk mengusahakan tanah yang dikuasai langsung oleh negara dalam jangka waktu tertentu
(paling lama enampuluh tahun), guna perusahaan pertanian (perkebunan), perikanan atau
peternakan (Pasal 28), dan hak guna bangunan adalah hak untuk mendirikan dan mempunyai
bangunan atas tanah yang bukan miliknya sendiri, dengan jangka waktu paling lama 30 tahun
(Pasal 35)

Hubungan tanah dengan manusia adalah sangat erat, dimana tanah sebagai benda tetap,
akan selalu utuh dan selalu abadi yang tidak akan musnah di permukaan bumi kecuali adanya
hari akhir. Karena hal itu, maka setiap perbuatan hukum yang berhubungan dengan tanah,
misalnya pembuatan sertifikat tanah, di perlukan suatu instansi yang mengurusnya, seperti
camat,/PPAT dan BPN, supaya tidak terjadinya peristiwa hukum dalam penggunaan hak atas
tanah, seperti banyak terjadi di Indonesia.

Supaya tidak tejadi peristiwa hukum dalam penggunaan hak atas tanah, maka pemerintah
mengeluarkan Undang – Undang tanah No.5 Tahun 1960 yang disebut UUPA. Setelah adanya
UUPA No.5 Tahun 1960, maka salah satu isinya adalah tata cara penbuatan sertifikat tanah di
Indonesia, seperti dasar hukum pendaftaran tanah objek pendaftaran tanah dll, supaya adanya
penertiban tentang penggunaan tanah, karena sering di jumpai pada masyarakat bahwa tidak
tahu dan tidak paham tentang penggunaan hak atas tanah, yang mana hal itu merupakan suatu
hal yang harus di ketahui, dan memerlukan suatu pembuktian atau alat bukti yaitu sertifikat
tanah yang menyatakan tanah itu adalah benar – benar miliknya.

Berdasarkan latar belakang di atas, guna penulisan tugas makalah perkuliahan akan
dibahas lebih jelas mengenai proses penerbitan sertifikat tanah secara lebih mudah untuk
dipahami.

2. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana tata cara pendaftaran tanah?
2. Apa saja dasar-dasar hukum tentang pendaftaran tanah ?

3. TUJUAN
1. Mengetahui tata cara pelaksanaan pendaftaran tanah.
2. Mengidentifikasi ketentuan dasar-dasar hukum pertanahan tentang pendaftaran tanah.
3. Memenuhi salah satu tugas pada perkuliahan Sistem Kadaster.

4. BATASAN MASALAH
Dalam penulisan makalah ini, akan dibahas secara lebih mendalam tentang proses
penerbitan sertifikat tanah dengan batasan masalah, yakni :
1. Dasar-dasar hukum pertanahan tentang penerbitan sertifikat tanah yang ada di
Undang-Undang Pokok Agraria
2. Bidang – bidang tanah yang di punyai dengan hak milik, hak guna usaha, hak
guna bangunan dan hak pakai.

3. Data-data yang didapat dari Kantor Pertanahan

5. KEGUNAAN

Kegunaan yang diperoleh dari makalah ini adalah :


1. Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan dan sumbangan
pemikiran dalam bidang ilmu hukum, khususnya hukum pertanahan yang
berhubungan dengan pendaftaran tanah (Pasal 19 UUPA)
2. Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dan informasi
mengenai pendaftaran tanah pertama kali dan memudahkan bagi masyarakat yang
belum mengetahui jalannya proses pendaftaran tanah hingga penerbitan sertifikat
tanah.
BAB II
ISI

1. PELAKSANAAN PENDAFTARAN TANAH


1.1. PENDAFTARAN TANAH

Pendaftaran tanah adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah


secara terus-menerus, berkesinambungan dan teratur, meliputi pengumpulan,
pengolahan, pembukuan dan penyajian serta pemeliharaan data fisik dan data yuridis
dalam bentuk peta dan daftar, mengenai bidang-bidang tanah dan satuan rumah susun,
termasuk pemberian surat tanda bukti haknya bagi bidang-bidang tanah yang sudah
ada haknya dan hak milik atas satuan rumah susun serta hak-hak tertentu yang
membebaninya.

Pendaftaran tanah dilaksanakan berdasarkan azas sederhana, aman, terjangkau,


mutakhir dan terbuka.

1. Azas sederhana dalam pendaftaran tanah dimaksudkan agar ketentuan-


ketentuan pokoknya maupun prosedurnya dengan mudah dapat dipahami oleh
pihak-pihak yang berkepentingan terutama para pemegang hak atas tanah.
2. Azas aman dimaksudkan utuk menunjukkan bahwa pendaftaran tanah perlu
diselenggarakan secara teliti dan cermat sehingga hasilnya dapat memberikan
jaminan kepastian hukum.

3. Azas terjangkau dimaksudkan keterjangkauan bagi pihak yang memerlukan


khususnya dengan memperhatikan kebutuhan dan kemampuan golongan
ekonomi lemah. Pelayanan yang diberikan dalam rangka penyelenggaraan
pendaftaran tanah harus bisa terjangkau oleh para pihak yang memerlukan.

4. Azas mutakhir dimaksudkan kelengkapan yang memadai dalam


pelaksanaannya dan kesinambungan dalam pemeliharaan datanya. Data yang
tersedia menunjukkan keadaan yang mutakhir. Untuk itu perlu diikuti
kewajiban mendaftar dan pencatatan perubahan-perubahan yang terjadi di
kemudian hari.
5. Azas terbuka dimaksudkan agar masyarakat dapat memperoleh keterangan
mengenai data yang benar setiap saat.

Ada 3 tujuan pendaftaran tanah, yaitu :

1. Untuk memberikan kepastian hukum dan perlindungan hukum kepada pemegang


hak atas suatu bidang tanah agar dengan mudah dapat membuktikan dirinya
sebagai pemegang hak atas tanah yang bersangkutan.
2. Untuk menyediakan informasi kepada pihak-pihak yang berkepentingan termasuk
pemerintah agar mudah dapat memperoleh data yang diperlukan dalam
mengadakan perbuatan hukum mengenai bidang-bidang tanah yang sudah
terdaftar.
3. Untuk terselenggaranya tertib administrasi pertanahan, khusus untuk tujuan
pendaftaran tanah pertama yaitu untuk memberikan jaminan kepastian hukum,
meliputi :
a. Kepastian mengenai subjek hukum hak atas tanah (orang atau badan hukum)
b. Kepastian mengenai letak, batas, ukuran/luas tanah atau disebut kepastian
mengenai objek hak.
c. Kepastian hak atas tanah, yakni jenis/macam hak atas tanah yang menjadi
landasan hukum antara tanah dengan orang atau badan hukum.
d. Kegunaan pendaftaran tanah.

Pendaftaran tanah mempunyai kegunaan ganda, artinya di samping berguna bagi


pemegang hak, juga berguna bagi pemerintah.

1. Kegunaan bagi pemegang hak :


a. Dengan diperolehnya sertifikat hak atas tanah dapat memberikan rasa aman
karena kepastian hukum hak atas tanah;
b. Apabila terjadi peralihan hak atas tanah dapat dengan mudah dilaksanakan;
c. Dengan adanya sertifikat, lazimnya taksiran harga tanah relatif lebih tinggi
daripada tanah yang belum bersertifikat;
d. Sertifikat dapat dipakai sebagai jaminan kredit;
e. Penetapan pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) tidak akan keliru.
2. Kegunaan bagi pemerintah :
a. Dengan diselenggarakan pendaftaran tanah berarti akan menciptakan
terselenggarakannya tertib administrasi di bidang pertanahan, sebab dengan
terwujudnya tertib administrasi pertanahan akan memperlancar setiap kegiatan
yang menyangkut tanah dalam pembangunan di Indonesia.
b. Dengan diselenggarakannya pendaftaran tanah, merupakan salah satu cara
untuk mengatasi setiap keresahan yang menyangkut tanah sebagai sumbernya,
seperti pendudukan tanah secara liar, sengketa tanda batas dan lain
sebagainya.

1.2. Pelaksanaan Pendaftaran Tanah

Pelaksanaan pendaftaran meliputi kegiatan tanah untuk pertama kali dan


pemeliharaan data pendaftaran tanah.

1. Kegiatan pendaftaran tanah untuk pertama kali meliputi :


a. Pengumpulan dan pengolahan data fisik
b. Pembuktian hak dan pembukuannya
c. Penerbitan sertifikat
d. Penyajian data fisik dan data yuridis
e. Penyimpanan daftar umum dan dokumen
2. Kegiatan pemeliharaan data pendaftaran tanah meliputi :
a. Pendaftaran peralihan hak dan pembeban hak
b. Pendaftaran perubahan dat pendaftaran tanah lainnya

Pendaftaran tanah untuk pertama kali dilaksanakan melalui pendaftaran tanah


secara sistematik dan pendaftaran tanah secara sporadik. Pendaftaran tanah secara
sistematik adalah pendaftaran tanah yang didasarkan pada suatu rencana kerja
pemerintah dan dilaksanakan dalam suatu wilayah yang ditetapkan oleh Menteri,
sedangkan pendaftaran tanah secara sporadik adalah pendaftaran tanah yang
dilakukan atas permintaan atau permohonan pihak yang berkepentingan.

Berdasarkan hal tersebut di atas, maka pemerintah berkewajiban untuk melakukan


pendaftaran tanah sedangkan masyarakat (pemegang hak atas tanah) berkewajiban
untuk mendaftarkan hak atas tanah tersebut (Pasal 23, Pasal 32 dan {Pasal 38 UUPA).

1.3. Persyaratan Proses Sertifikat Tanah Hak Milik

Ada beberapa persyaratan dalam proses pensertifikatan tanah hak milik untuk
pendaftaran pertama kali melalui konversi, antara lain:
1. Surat permohonan pemohon atau kuasanya;
2. Fotokopiidentitas diri pemohon atau kuasanya (fotokopi KTP dan KK );

3. SPPT PBB tahun berjalan;

4. Bukti tertulis yang membuktikan adanya hak yang bersangkutan antara lain:
Pemilikan yang terbit dan berlaku sebelum berlakunya UUPA (sesuai pasal 76
ayat (1 ) Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nomor 3
Tahun 1997). Jika bukti kepemilikan sesuai pasal 76 ayat (1) tersebut tidak
lengkap atau tidak ada, pembuktian kepemilikan atas bidang tanah dapat
dilakukan dengan pernyataan yang bersangkutan dan bentuk surat pernyataan
penguasaan fisik lebih dari 20 tahun secara terus-menerus dan surat keterangan
kepala desa/lurah disaksikan 2 orang tetua adat (bendesa adat ) atau masyarakat
setempat yang tidak memunyai hubungan keluarga dengan yang bersangkutan
sampai derajat kedua baik dalam kekerabatan vertikal maupun horizontal. Jika
surat pernyataan dan surat keterangan tersebut tidak ada, permohonan harus
disertai surat pernyataan pemohon yang menyatakan hal hal sebagai berikut :

1. Pemohon telah menguasai secara nyata tanah yang bersangkutan selama 20


tahun atau lebih secara berturut-turut, atau telah memperoleh penguasaan itu
dari pihak atau pihak lain yang telah menguasainya, sehingga waktu
penguasaan pemohon dan pendahulunya tersebut berjumlah 20 tahun atau
lebih;

2. Penguasaan tanah itu telah dilakukan dengan itikad baik;

3. Penguasaan itu tidak pernah diganggu gugat dan karena itu dianggap diakui dan
dibenarkan masyarakat hukum adat atau desa/kelurahan yang bersangkutan;

4. Tanah tersebut sekarang tidak dalam sengketa;

5. Jika pernyataan tersebut memuat hal hal yang tidak sesuai dengan kenyataan,
penanda tangan bersedia dituntut di muka hakim secara pidana maupun perdata
karena memberikan keterangan palsu
Pendaftaran tanah untuk pertama kalinya dalam praktiknya proses dilakukan dengan
cara sebagai berikut :

1. Mendapatkan surat rekomendasi dari lurah/camat perihal tanah yang bersangkutan

2. Pembuatan surat tidak sengketa dari RT/RW/Lurah

3. Dilakukan tinjau lokasi dan pengukuran tanah oleh Kantor Pertanahan

4. Penerbitan Gambar Situasi baru

5. Pembayaran Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan sesuai dengan luas
yang tercantum dalam Gambar Situasi

6. Proses pertimbangan pada panitia A

7. Penerbitan SK Pemilikan Tanah (SKPT)

8. Pembayaran Uang Pemasukab ke negara (SPS)

9. Penerbitan Sertifikat Tanah

2. PENGUKURAN TANAH

Berdasarkan PP No.24/1997 dan PMNA/ KBPN No.3/1997, rincian kegiatan


pengukuran dan pemetaan terdiri dari :
a. Pengukuran dan Pemetaan Titik Dasar Teknik
b. Pembuatan Peta Dasar Pendaftaran
c. Pemetaan Indeks Grafis
d. Pengukuran Bidang dan Pembuatan Gambar Ukur
e. Pembuatan Peta Bidang
f. Pembuatan Peta Pendaftaran
g. Pembuatan Surat Ukur
h. Penyimpanan

Pengukuran bidang tanah secara sporadic adalah proses pemastian letak batas satu
atau beberapa bidang tanah berdasarkan permohonan pemegang haknya atau calon
pemegang hak baru yang letaknya saling berbatasan atau terpencar-pencar dalam satu
desa/kelurahan dalam rangka penyelenggaraan pendaftaran tanah secara sporadik (pasal 1
butir 4). Setelah petugas pengukuran menerima perintah pengukuran, segera dilakukan
persiapan sebagai berikut (pasal 79) :
a. Memeriksa tersedianya saran peta seperti ; peta pendaftaran atau peta dasar
pendaftaran atau peta lainnya pada lokasi yang dimohon.
b. Merencanakan pengukuran di atas peta pendaftaran atau peta dasar pendaftaran
atau peta-peta lainnya yang memenuhi syarat, apabila tanah yang dimohon belum
mempunyai gambar situasi/surat ukur.
c. Dalam hal tidak terdapat peta pendaftaran atau peta dasar pendaftaran atau peta
yang lain yang memenuhi syarat, maka segera disiapkan perencanaan pembuatan
peta pendaftaran.
d. Memeriksa tersedianya titik dasar teknik di sekitar bidang tanah yang dimohon.
e. Dalam hal tidak terdapat itik dasar teknik di sekitar bidang tanah yang akan
diukur, meminta kepada pemohon untuk menyiapkan tugu titik dasar teknik
minimal 2 buah.
f. Apabila kegiatan pengukuran bidang tanah diperlukan, mengadakan persiapan-
persiapan seperti menyiapkan formulir pengukuran.
g. Memberikan pemberitahuan tertulis kepada pemohon mengenai waktu penetapan
batas dan pengukuran.

Pengukuran bidang tanah secara sistematik adalah proses pemastian letak batas
bidang-bidang yang terletak dalam satu atau beberapa desa/kelurahan atau bagian dari
desa/kelurahan atau lebih dalam rangka penyelenggaraan pendaftaran tanah secara
sistematik (pasal 1 butir 3). Setelah lokasi pendaftaran tanah secara sistematik ditetapkan,
segera dilakukan persiapan sebagai berikut (pasal 47) :
a. Kepala kantor Pertanahan menyiapkan peta dasar pendaftaran, berupa peta dasar
yang berbentuk peta garis atau peta foto.
b. Peta dasar pendaftaran sebagaimana dimaksud di atas telah memuat semua
pemetaan bidang-bidang tanah yang sudah terdaftar haknya dalam bentuk peta
indeks grafis.
Dalam hal peta pendaftaran telah tersedia pada wilayah yang telah ditetapkan
sebagai lokasi pendaftaran tanah sistematik, peta pendaftaran tersebut dapat
dianggap sebagai peta indeks grafis.
c. Apabila karena alasan teknis pembuatan peta indeks grafis tersebut tidak dapat
dilaksanakan sebelum dilakukan pendaftaran tanah secara sistematik, pemetaan
bidang-bidang tanah yang sudah terdaftar tersebut dilakukan bersamaan dengan
pemetaan bidang-bidang tanah hasil pengukuran bidang tanah secara sistematik.
d. Dalam hal desa/kelurahan yang wilayah atau bagian wilayahnya ditetapkan
sebagai lokasi pendaftaran tanah secara sistematik belum tersedia peta dasar
pendaftaran, maka pembuatan peta dasar pendaftaran dapat dilakukan bersamaan
dengan pengukuran dan pemetaan bidang tanah yang bersangkutan.

Petunjuk Teknis Pengukuran dan Pemetaan Pendaftaran Tanah ini dibuat sebagai
bahan panduan kerja bagi pelaksana di lingkungan Badan Pertanahan Nasional. Untuk
penyeragaman, yang dimaksud dengan peraturan, pasal, ayat, butir dan lampiran pada
Petunjuk Teknis adalah pasal, ayat, butir dan lampiran seperti dinyatakan pada
PMNA/KBPN No.3/1997, kecuali dinyatakan lain.

3. PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA FISIK

Pengumpulan dan pengolahan data fisik meliputi kegiatan pengukuran dan pemetaan,
sedangkan kegiatan pengukuran dan pemetaan meliputi :

1. Pembuatan peta dasar pendaftaran.


2. Penetapan batas bidang – bidang tanah.

3. Pengukuran dan pemetaan bidang – bidang tanah dan pembuatan peta pendaftaran
tanah.

4. Pembuatan daftar tanah.

5. Pembuatan surat ukur.

Pengumpulan data dilakukan untuk mengumpulkan dokumen-dokumen yang


berhubungan dengan data fisik dari bidang-bidang tanah yang telah terdaftar.

Dokumen-dokumen yang diperlukan adalah:


1. Dokumen yang tersedia di Kantor Pertanahan
a. Salinan Daftar Tanah / Daftar Tanah Negara (DI 203 atau DI 203 A).
b. Salinan Surat Ukur (DI 207), Gambar Situasi dan Gambar Ukur (DI 107).

c. Salinan peta-peta yang memuat lokasi bidang tanah yang dimaksud pada Daftar
Tanah. Misalnya ; peta PP 10, peta kawasan pengembangan (real estate) dan lain-
lain.

d. Salinan peta dasar pendaftaran yang akan dijadikan dasar pembuatan peta indeks
grafis.

2. Dokumen yang tersedia pada instansi lain.


a. Salinan peta atau daftar yang dimiliki oleh PBB.
b. Salinan peta atau keterangan yang diperoleh dari Lurah atau Kepala Desa.

4. PEMBUATAN PETA PENDAFTARAN TANAH


4.1. PETA PENDAFTARAN TANAH

Peta Pendaftaran merupakan peta tematik, adalah peta yang menginformasikan


mengenai bentuk, batas, letak, nomor bidang dari setiap bidang tanah dan digunakan
untuk keperluan pembukuan bidang . Hal ini sesuai dengan bunyi pasal 1 ayat 15
PP24/1997 dan pasal 141 PMNA/KBPN No. 3/ 1997.
Peta pendaftaran dibuat dengan skala 1 : 1.000, 1 : 2.500, dan 1 : 10.000, sesuai
dengan fungsinya sebagai pembukuan bidang-bidang tanah dan mencegah terjadinya
pendaftaran ganda, maka peta pendaftaran harus digunakan sebagai peta yang
berkembang (tumbuh/ up-to date). Dengan demikian setiap perubahan, penambahan
bidang-bidang tanah yang tercakup pada suatu lembar peta pendaftaran harus digambar
pada peta tersebut.

Unsur bangunan pada peta pendaftaran tidak merupakan keharusan untuk dipetakan,
kecuali unsur tersebut merupakan bagian data yang penting atau dapat digunakan untuk
rekonstruksi batas bidang tanah jika diperlukan (pasal 141) .

Nomor identifikasi bidang (NIB) digunakan sebagai identifier untuk dapat


berhubungan atau korelasi dengan data lain yang menyangkut satu bidang atau bidang-
bidang tanah (pasal 21 PP24/1997 dan pasal 142 ayat 3). Dalam peta pendaftaran hanya
ditulis 5 (lima) digit terakhir mengingat batas wilayah administrasi telah dicantumkan.

Peta pendaftaran yang digunakan untuk kegiatan sehari-hari di Kantor Pertanahan


haruslah peta dalam satu sistim koordinat tertentu dan format peta tertentu.

Sistim koordinat tertentu artinya untuk suatu peta pendaftaran hanya menggunakan
sistim koordinat lokal atau nasional. Semua bidang tanah yang tercakup pada lembar peta
harus dapat dipetakan sesuai keadaan dilapangan. Sehingga pada suatu lokasi administrasi
desa/ kelurahan tidak perlu lagi menggunakan banyak peta dengan banyak sistim
koordinat, tetapi hanya ada satu sistim koordinat yaitu lokal/ nasional. Apabila
menggunakan sistim lokal, maka harus ditransformasi ke sistim nasional.

Diagram 7-1

Penyatuan sistim peta pendaftaran


Format peta tertentu artinya, peta pendaftaran yang menggunakan format seperti yang
ditentukan oleh peraturan ini. Peta pendaftaran yang masih menggunakan format lama
disalin menjadi peta pendaftaran format yang telah ditetapkan pada saat transformasi
koordinat ke sistem nasional.

Diagram 7-2

Perubahan format lembar peta pendaftaran

Dasar pembuatan peta pendaftaran adalah peta dasar pendaftaran (pasal 16 ayat 4
PP24/1997), dimana hasil pengukuran bidang-bidang tanah dipetakan/ dikartir diatas peta
dasar pendaftaran yang berupa drafting film atau shepia.

Sebelum digunakan peta dasar pendaftaran harus terdiri atas 2 (dua) set peta, dimana :

 1 (Satu) set peta dasar pendaftaran yang di sahkan penggunaannya digunakan


sebagai dokumen dan harus disimpan .

 1 (satu) set lainnya di sahkan penggunaannya menjadi peta pendaftaran dengan


mencoret kata Dasar yang akan digunakan untuk pembukuan bidang-bidang tanah
terdaftar.

Material yang digunakan adalah bahan yang sangat stabil, kuat dan tahan lama,
misalnya drafting film, sepia atau bahan-bahan transparan lainnya.
Diagram 7–4

Penggunaan peta dasar Pendaftaran

Kriteria peta dasar pendaftaran agar dapat digunakan sebagai peta pendaftaran :

 Berupa peta garis atau peta foto. Jika tersedia peta foto, untuk salinan (lembar
kedua) di tracing/ disalin menjadi peta garis.

 Kesalahan planimetris 0.3 mm x skala peta

 Skala, sistim koordinat dan format peta harus memenuhi persyaratan dan
peraturan yang berlaku. Apabila tersedia peta dasar pendaftaran dengan skala
selain yang ditetapkan ditransformasi ke salah satu skala peta pendaftaran yang
telah ditetapkan. Peta yang dihasilkan oleh BPN atau instansi lain, baik skala,
format dan sistim koordinatnya masih belum sesuai, diusahakan untuk dibuat atau
ditransformasi sesuai peraturan.

 Sistim koordinat nasional/ lokal. Sistim koordinat lokal harus di transformasi ke


sistim koordinat nasional jika telah tersedia titik-titik dasar teknik nasional.

 Format peta nasional atau sistim lokal. Jika format peta masih sistim lokal, harus
dibuatkan ke dalam sistem nasional bersamaan pada saat transformasi peta.

Peta dasar pendaftaran yang memenuhi kriteria diatas akan berubah fungsi
menjadi peta pendaftaran setelah di sahkan dan selanjutnya disebut peta
pendaftaran.
Pemetaan bidang-bidang tanah pada peta pendaftaran dilakukan dengan
mengkartir atau memetakan data dari :

 Gambar ukur sistematik

 Gambar ukur sporadik

 GIM, hasil pemetaan indeks grafis

Data tersebut dikartir atau disalin pada peta pendaftaran, sebagaimana skema berikut :

Diagram 7-5

Alur kerja Pembuatan Peta Pendaftaran tersedia peta dasar

Dari diagram diatas :

 Hasil pengukuran baik sporadik ataupun sistematik dikartir pada peta pendaftaran.

 GS/SU dari pelaksanaan GIM disalin pada peta pendaftaran.

 Pengkartiran dan penyalinan data tersebut dapat dilaksanakan secara manual


ataupun digital, demikian juga sistim koordinatnya mengikuti sistim koordinat
yang ada (nasional/lokal).

 Peta pendaftaran yang masih menggunakan sistim koordinat lokal dan format
lokal ditransformasikan ke sistem nasional dan formatnya diubah menggunakan
format nasional menjadi peta pendaftaran nasional

4.2. PETA BIDANG TANAH


Adalah hasil pemetaan 1 (satu) bidang tanah atau lebih padalembaran kertas
dengan suatu skala tertentu yang batas-batasnya telah ditetapkan oleh pejabat yang
berwenang dan digunakan untuk pengumuman data fisik (pasal 1 ayat 6) . Dari
definisi diatas, jelas dimaksudkan bahwa setiap data hasil pengukuran bidang tanah
baik yang dilaksanakan secara sistematik maupun sporadik harus dibuatkan peta
bidang tanahnya.Peta bidang tanah ini selain merupakan bagian (lampiran) DI 201 B
pada pendaftaran tanah sporadik dan DI 201C pada pendaftaran tanah sistematik,
yang digunakan sebagai salah satu data fisik pada pengumuman, juga dapat digunakan
untuk melengkapi peta pendaftaran yang telah tersedia. Pembuatan peta bidang tanah
adalah berdasarkan data gambar ukur baik itu dilakukan dengan cara pengukuran
terrestrial atau dengan cara identifikasi pada peta foto. Oleh karena itu pembuatan
peta bidang sebenarnya adalah salinan/kutipan dari manuskrip (kartiran) sehingga
bentuk dan ukuran luasnya dianggap relative benar.

1. Metode Pembuatan Peta Bidang Tanah


Format dan ukuran kertas hasil akhir (hard copy) dari peta bidang tanah yaitu
ukuran A3pada kertas HVS 80 gram (pasal 31 ayat 3), dengan demikian untuk
blanko (bingkai) peta ini dapat disediakan/ dicetak terlebih dahulu atau apabila
pembuatannya secara dijital dapat dibuat dengan file tersendiri.
Sedangkan data yang di extract (digabungkan) dapat berupa batas bidang-
bidang tanah, jalan sungai atau benda benda lain yang dapat dijadikan petunjuk
untuk memudahkan mengenallokasi bidang tanah (pasal 31 ayat 5e,f).
a. Metode Manual
Secara manual peta bidang tanah dibuat pada blanko (bingkai) peta bidang
tanahyang telah disiapkan terlebih dahulu, menggunakan skala yang sama
dengan peta asalnya. Cara manual hanya dapat dilakukan dengan cara
menyalin atau mengutip bidang-bidang tanah dan detail situasi penting lainnya
dengan cara menempatkan manuskrip pada meja gambar (meja kaca dengan
lampu penerang) dan diatasnya ditempatkan bingkai peta bidang tanah
sedemikian rupa sehingga bidang-bidang tanah yang akan disalin menempati
posisi yang cukup simetris .

Manuskrip/ peta yang dapat digunakan untuk disalin menjadi peta antara
lain :
1. Manuskrip (kartiran gambar ukur) yang dikerjakan secara manual ;
2. Kartiran gambar ukur (GU) pada peta dasar pendaftaran, jika peta dasar
pendaftaran berupa peta garis (pasal 32 ayat 1).

3. Kartiran pada peta dasar pendaftaran berupa peta foto yang merupakan
hasil identifikasi batas pemilikan dan pengukuran sisi-sisi bidang tanah
(pasal 32 ayat 2).

b. Metode Digital
Peta bidang tanah yang dibuat secara dijital merupakan extraction (ektraksi)
bidang-bidang tanah yang diambil dari :
1. Manuskrip/ kartiran gambar ukur yang dikerjakan secara digital ;
2. Hasil dijitasi peta dasar pendaftaran dijital baik peta garis atau peta foto
yang telah melalui proses editing sesuai hasil penetapan batas, identifikasi
dan data ukuran sisi-sisinya.

5. PEMBUKTIAN HAK DAN PEMBUKUANNYA

Pembuktian hak meliputi pembuktian hak lama dan hak baru (Pasal 23,24,dst)

Hak atas tanah baru di buktikan dengan :

1. Penetapan pembuatan hak dari pejabat, apabila pembuktian hak tersebut berasal
dari tanah Negara atau tanah hak pengelola.
2. Asli akta PPAT yang memuat pemberian hak tersebut oleh pemegang hak milik
kepada penerima hak yang bersangkutan, apabila mengenai hak guna bangunan
dan hak pakai atas tanah hak milik.

3. Hak pengelola di buktikan dengan penetapan pemberian hak pengelola oleh


pejabat yang berwenang.

4. wakaf di buktikan dengan akta ikrar wakaf.

5. Hak milik atas satuan rumah susun di buktikan dengan akta pemisah.

6. Pemberian hak tanggungan di buktikan dengan akta pemberian hak tanggungan.

Hak atas tanah lama di buktikan dengan :


1. Untuk keperluan pendaftaran hak, hak atas tanah yang berasal dari konversi hak –
hak lama di buktikan dengan alat – alat bukti mengenai adanya hak tersebut
berupa bukti – bukti tertulis, keterangan saksi dan atau penyertaan dari panitia
Ajudikasi / Kepala Pertanahan.
2. Apabila tidak tersedia alat pembuktian seperti hal di atas, maka pembuktian dapat
di lakukan dengan penguasaan fisik bidang tanah selama 20 Tahun / lebih dengan
syarat:

o Pengawasan atas bidang tanah tersebut di lakukan dengan I’tikad baik yang di
perkuat oleh kesaksian yang dapat dipercaya.

o Tidak di permasalahkan oleh masyarakat hukum adapt atau desa / kelurahan


yang bersangkutan ataupun pihak lainnya.

Pendaftaran Tanah Menurut Hukum Adat :1

1. Harus di lakukan di depan kepala desa, agar dianggap terang.


2. Tidak ada ketentuan harus di daftar lagi di kantor pertanahan, kecuali daerah –
daerah tertentu, seperti di kantor kerapatan di Deli, Siak, Lingga,Yogyakarta,dan
Surakarta.

3. Selain dari tersebut yang harus di daftarkan tidak suatu formulir baku.

Pengurasan sertifakat tanah eks Hukum Adat : 2

1. Jika tanah itu eks hukum adat, maka pengurusannya melalui lembaga konversi
dengan melengkapi bukti – buktinya dan prosedur selanjutnya dengan
memperhatikan ketentuan – ketentuan dari PMA No.2 Tahun 1962 baik melalui
konversi ataupun jika surat bukti hak atas tanahnya kurang lengkap ataupun

1.Parlindunangan,Tanya Jawab Hukum Agararia dan Pertanahan,Bandung ; Mandar Maju.2003,cet. ke 3,hal. 48

2.Ibid., hal.193 - 194

tanah tersebut sudah beralih beberapa kali maka di tempuh dengan lembaga
pengakuan Hak Atas Tanah oleh Kepala Kanwil BPN setempat, maka baru dapat
diproses pembuatan sertifikatnya.Pengakuan hak ini harus melalui pengumuman
selama 2 bulan. Juga dapat dilihat melalui penegasan hak yaitu sekaligus
konversi dengan mutasi hak / pengikatan sebagai jaminan, dengan syarat
pernyataan dari kepala desa yang di sahkan oleh camat atas haknya itu, SKPT
(Lihat pasal 25 PP 10 / 1961).

SKPT adalah suatu surat informasi tanah, yang memberikan informasi tiap
bidang makalah, seperti haknya, luas, siapa pemiliknya, sengketa atau tidak
sengketa.

2. Melalui permohonan hak atas tanah yang di kuasai oleh Negara maka sesuai
dengan PMDN No. 6 Tahun 1972 di proses melalui panitia pemeriksa Tanah A
dan di atasnya harus di tetapkan oleh Kepala BPN.

6. PENYAJIAN DATA FISIK DAN YURIDIS

Penyajian data fisik dan yuridis di lakukan oleh kantor pertanahan dengan cara
menyelenggarakan tata usaha pendaftaran tanah dalam daftar umum yang terdiri dari peta
pendaftaran , daftar tanah, surat ukur, buku tanah, dan daftar nama ( Pasal 35) yang dapat
di ketahui Informasinya oleh pihak yang berkepentingan ( Pasal 34 ayat 1 PP Np. 24
Tahun 1997jo Pasal 187 Peraturan Mentri Negara Agraria / Kepala BPN No.3 Tahun
1997). Daftar umum tersebut merupakan alat pembuktian yang di gunakan sebagai dasar
pendaftaran.

Apabila data fisik dan yuridis tersebut mengalami perubahan, maka di lakukan
pemeliharaan data pendaftaran tanah, seperti pendaftaran peralihan, pembebanan hak,dan
pendaftaran perubahan data pendaftaran tanah lainnya, (Pasal 37 – 56).

7. BIAYA PENDAFTARAN TANAH

Berdasarkan Pasal 61 ayat 2 PP No. 24 Tahun 1997 menyatakan pembebasan biaya


pendaftaran tanah dari sebagian atau seluruhnya, jika pemohon dapat membuktikan
bahwa ia tidak mampu membayar biaya pendaftaran tanah tersebut.

Penetapan besarnya yang pengganti biaya cetak blangko sertifikat (keputusan Kepala
BPN No. 10 Tahun 1994) :3
 Sertifikat hak atas tanah, sertifikat hipotik / credit verband atau sertifikat hak
milik atas rumah susun sebesar Rp. 2.000 setiap set (Pasal 1).

Perubahan besarnya pungutan biaya dalam rangka pemberian sertifikat tanah yang
berasal dari pemberian hak atas negara penegasan hak tanah dan konversi hak tanah ada
yang menjadi Operasi Nasional Negara (Keputusan Kepala BPN No.4 Tahun 1995) :3

 Pasal 2
1. Pemberian hak atas tanah Negara :

 Pedesaan, untuk luas tanah sampai dengan 2 Ha Rp. 3.000

 Perkotaan, untuk luas tanah kurang dari 2000 M² Rp. 5.000 (Pertanian)

 Perkotaan untuk luas tanah lebih dari 2000 M² Rp.10.000 (non Pertanian)

 Asal tanah milik Adat :

2. Asal tanah milik Adat :

 Pedesaan, untuk luas tanah sampai 2 Ha Rp.1.000

 Perkotaan, untuk luas tanah sampai 2000 M² Rp.1.000

 Pasal 67

1. Untuk biaya pendaftaran hak di kenakan pungutan sebesar :

 Untuk konversi hak Adat :Rp. 10.000 (Kota) dan Rp. 1.000 (Desa)

 Untuk penegasan hak :Rp. 10.000 (Kota) dan Rp. 1.000 (Desa)

 Untuk tanah Negara :Rp. 10.000 (Kota) dan Rp. 1.000 (Desa)

2. Untuk biaya Formulir, di kenakan pungutan Rp. 2.000

 Biaya peralihan hak adalah ¼ % dari NJOP, Rp. 25.000 (kota) & Rp. 2.500
(Desa).
 Pengikatan sebagai jaminan, Rp. 10.000 (Kota), Rp. 1.000 (Desa), 10 x
(Badan Hukum).

 Konversi pengakuan hak Rp. 150.000.

 Penghapusan hipotik / credit verband, Rp. 10.000 (Kota), Rp. 1.000 (Desa).

 Biaya pengganti sertifikat rusak Rp. 10.000 (Kota), Rp. 1.000 (Desa).

 Biaya pengganti sertifikat hilang Rp. 10.000 (Kota), Rp. 1.000 (Desa), di
samping biaya iklan di surat kabar pengumuman hilangnya sertifikat
tersebut.

 Biaya pencatatan warisan Rp. 10.000 (Kota), Rp. 1.000 (Desa)

 Biaya pencatatan lelang ¼ % dari harga NJOP atau jika harga lelang tinggi
dari harga NJOP maka di hitung dari harga lelang tersebut.

 Untuk pendaftaran wakaf, Gratis.

8. PERTIMBANGAN TEKNIS PENATAGUNAAN TANAH

Dari segi pertanahan, pembangunan berkelanjutan dapat diartikan sebagai usaha untuk
menyeimbangkan penggunaan dan pemanfaatan tanah yang jumlahnya terbatas dengan
perkembangan sosial ekonomi masyarakat. Untuk mencapai maksud tersebut maka tanah
perlu diatur penggunaan dan pemanfataannya secara optimal melalui rencana tata ruang
wilayah (RTRW).

Selain dilihat dari segi keberlanjutannya maka dalam kehidupan sehari-hari tanah
telah dimanfaatkan untuk hidup dan berlangsung secara terus-menerus. Hal inilah yang
kemudian menjadi sebab diperlukannya jaminan kepastian hukum dalam hubungan antara
manusia dan tanah. Jaminan kepastian hukum ini melahirkan sistem kelembagaan
pengelolaan tanah. Kelembagaan yang dimaksud adalah kelembagaan hukum maupun
kelembagaan yang telah berkembang di masyarakat. Kelembagaan hukum di Indonesia
antara lain Undang-Undang Pokok Agraria No. 5 tahun 1960, sedangkan kelembagaan
dalam masyarakat antara lain hukum adat, norma/nilai yang berlaku dalam masyarakat
dan lain-lain.
Mengingat kelembagaan pengelolaan tanah tersebut sangat banyak maka diperlukan
suatu usaha untuk menserasikan kelembagaan-kelembagaan pengelolaan tanah yang ada
di Indonesia serta menjamin keberlanjutan tanah. Dengan tujuan tersebut maka
diperlukan kegiatan penatagunaan tanah.

8.1. PENGERTIAN PENATAGUNAAN TANAH

Penatagunaan tanah adalah rangkaian kegiatan untuk mengatur peruntukan,


penggunaan dan persediaan tanah secara berencana dan teratur sehingga diperoleh
manfaat yang lestari, optimal, seimbang dan serasi untuk sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat dan negara.

Sedangkan pengertian Penatagunaan Tanah berdasarkan Pasal 1 Peraturan


Pemerintah No 16 tahun 2004 tentang Penatagunaan Tanah adalah pola pengelolaan
tata guna tanah yang meliputi penguasaan, penggunaan dan pemanfaatan tanah yang
berujud konsolidasi pemanfaatan tanah melalui pengaturan kelembagaan yang terkait
dengan pemanfaatan tanah sebagai satu kesatuan sistem untuk kepentingan
masyarakat secara adil. Dalam hal ini Tanah adalah wujud tutupan permukaan bumi
baik yang merupakan bentukan alami maupun buatan manusia.

8.2. TUJUAN PENATAGUNAAN TANAH

Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 16 Tahun 2004 tentang Penatagunaan


Tanah tujuan dari penatagunaan tanah ialah pemanfaatan tanah sebagai satu kesatuan
sistem untuk kepentingan masyarakat secara adil. Secara rinci penatagunaan tanah
bertujuan untuk:

1. Mengatur penguasaan, penggunaan dan pemanfaatan tanah bagi berbagai


kebutuhan agar dapat digunakan sesuai dengan fungsinya.
2. Mewujudkan tertib pertanahan yang meliputi penguasaan, penggunaan dan
pemanfaatan tanah serta pengendalian pemanfaatan tanah.

3. Menjamin kepastian hukum untuk memanfaatkan tanah bagi masyarakat yang


mempunyai hubungan hukum dengan tanah.

8.3. KEGIATAN POKOK PENATAGUNAAN TANAH


Sesuai dengan uraian diatas maka dalam kegiatan penatagunaan tanah ada tiga
kegiatan pokok yang perlu dilaksanakan yaitu:

1. Pengumpulan data (inventarisasi) dan informasi penatagunaan tanah. Kegiatan


pengumpulan data dan informasi penatagunaan tanah ini berfungsi untuk
mengetahui:
1. Sebaran hak tanah

2. Sebaran kelembagaan pengelolaan tanah

3. Sebaran penggunaan tanah

4. Sebaran pemanfaatan tanah, dll

2. Penyusunan Neraca Penatagunaan Tanah, dilaksanakan Analisa Penatagunaan


Tanah yang meliputi :

1. Analisa Perubahan Penggunaan Tanah

Dalam analisa ini, dilaksanakan inventarisasi luas dan letak perubahan


penggunaan tanah pada kurun waktu tertentu dalam fungsi kawasan pada
rencana tata ruang wilayah. Analisa ini dilaksanakan dengan overlay peta
penggunaan tanah terbaru dan peta penggunaan tanah sebelumnya; selanjutnya
hasilnya dioverlay terhadap peta rencana tata ruang wilayah. Hasil dari analisa
ini adalah Peta Perubahan Penggunaan Tanah.

2. Analisa Kesesuaian Penggunaan Tanah Terhadap Rencana Tata Ruang


Wilayah

Dalam analisa ini, dilihat kesesuaian penggunaan tanah saat ini terhadap
fungsi kawasan dalam rencana tata ruang wilayah (RTRW) melalui overlay
penggunaan tanah dengan RTRW. Sebagai alat bantu dalam menentukan
kesesuaian, disusun matrik kesesuaian penggunaan tanah terhadap fungsi
kawasan dalam rencana tata ruang wilayah. Hasil dari analisa ini adalah Peta
Kesesuaian Penggunaan Tanah.

3. Analisa Prioritas Ketersediaan Tanah


Dalam analisa ini, dilihat prioritas ketersediaan tanah berdasarkan kondisi
penggunaan dan penguasaan tanah serta arahan fungsi kawasan dalam RTRW.
Melalui overlay peta penggunaan tanah dan peta gambaran umum penguasaan
tanah, diidentifikasi tanah-tanah yang dapat dikategorikan masih tersedia,
yaitu pada penggunaan tanah non-budidaya dan belum ada penguasaan tanah
skala besar. Selanjutnya tanah-tanah yang tersedia tersebut dioverlay dengan
RTRW, sehingga diperoleh ketersediaan tanah-tanah untuk kegiatan budidaya
sesuai dengan fungsi kawasan serta tanah-tanah yang tersedia terbatas untuk
kegiatan yang berfungsi lindung.

4. Pola penyesuaian/kebijakan penatagunaan tanah.


Pola penyesuaian merupakan langkah-langkah yang diambil sesuai dengan
hasil analisis yang telah dilaksanakan.

8.4. PRODUK PENATAGUNAAN TANAH

Salah satu produk yang dihasilkan dari direktorat penatagunaan tanah yaitu peta. Peta
yang dihasilkan Direktorat Penatagunaan Tanah antara lain:

1. Peta Neraca Penatagunaan Tanah

 Peta Analisa Perubahan Penggunaan Tanah

 Peta Kesesuaian Penggunaan Tanah dengan Tata Ruang

 Peta Ketersediaan Tanah

2. Peta Kesesuaian Peruntukan Penggunaan Tanah (komoditas


pertanian/perkebunan, perumahan dll.)
3. Peta Persediaan Tanah

Meskipun Direktorat Penatagunaan Tanah memproduksi peta-peta, namun


kegiatan pemetaan tematik bukanlah tugas pokok Direktorat Penatagunaan Tanah.
Dalam kaitannya dengan Pertimbangan Teknis Penatagunaan Tanah, kegiatan
pengumpulan data penatagunaan tanah, penggambaran serta analisanya merupakan
satu kesatuan proses yang tidak dapat dipisahkan, oleh karenanya menjadi tugas
pokok dan fungsi Penatagunaan Tanah.

Persyaratan :

1. Formulir pemohon yang sudah diisi dan ditandatangani pemohon atau kuasanya
di atas materai cukup
2. Surat Kuasa apabila dikuasakan
3. Fotokopi identitas diri (KTP,KK) pemohon dan kuasa apabila dikuasakan, yang
telah dicocokkan dengan aslinya oleh petugas loket
4. Fotokopi Akta Pendirian dan Pengesahan Badan Hukum yang telah dicocokkan
dengan aslinya oleh petugas loket bagi Badan Hukum
5. Proposal rencana kegiatan teknis pada lokasiohon
6. Fotokopi sertifikat yang telah dicocokkan dengan aslinya oleh petugas loket
7. Sketsa lokasi yang dimohon

Keterangan :

Formulir permohonan memuat :

1. Identitas diri
2. Luas, letak dan penggunaan tanah yang dimohon
3. Pernyataan tanah tidak sengketa
4. Pernyataan tanah dikuasai secara fisik

9. PEMBUATAN SURAT UKUR TANAH

Surat Ukur (d.i 207) merupakan kutipan gambar bidang tanah dari peta
pendaftaran yang dibuat 2 (dua) rangkap, satu disimpan pada Kantor Pertanahan
sebagai arsip dalam daftar surat ukur (d.i 311 B), dan yang lainnya merupakan bagian
sertipikat tanah untuk menginformasikan tanah tersebut haknya telah terdaftar pada
buku tanah. Surat Ukur merupakan salah satu kegiatan pengukuran dan pemetaan,
dimana setiap bidang tanah yang telah dipetakan dalam peta pendaftaran dibuat surat
ukur guna keperluan pendaftaran haknya (pasal 14 ayat 2 dan pasal 22 ayat 1
PP24/1997). Sedangkan untuk wilayah wilayah-wilayah pendaftaran tanah secara
sporadik yang belum tersedia peta pendaftaran, surat ukur dibuat dari hasil
pengukuran yang dipetakan pada peta dasar pendaftaran, atau jika peta dasar
pendaftaran juga tidak tersedia, maka surat ukur dibuat dari peta bidang tanah (pasal
22 ayat 2 PP24/1997).
1. Tata Cara Pembuatan Surat Ukur
Secara umum surat ukur dibuat dengan mengutip gambar bidang tanah yang
dimaksud dari peta pendaftaran, atau peta bidang tanah yang dibuat untuk
keperluan pengumuman, secara lebih rinci dijelaskan sebagai berikut :
a. Tersedia Peta pendaftaran
1. Bidang tanah dimaksud yang terdapat pada peta pendaftaran disalin ke
blanko daftar isian 207 pada halaman 2 atau halaman 2 dan 3. Penyalinan
tersebut dapat dilakukan langsung dengan skala yang sama sesuai skala
peta pendaftarannya atau di buat dalam skala yang lebih besar, namun
harus disesuaikan dengan ruang gambar yang tersedia pada daftar isian
207 (pasal 157 ayat 4 PMNA 3/1997).

2. Cara penyalinan yang paling mudah dilakukan jika skalanya sama dengan
skala peta pendaftaran adalah dengan menggunakan meja gambar kaca
yang mempunyai lampu penerangan di dalamnya. Letakkan peta
pendaftaran pada meja kaca, kemudian letakkan blanko daftar isian 207
diatasnya.

3. Penyalinan tidak hanya bidang tanah yang dimaksud, tetapi juga bidang
tanah yang bersebelahan serta situasi disekitar bidang tanah dimaksud.

b. Tidak Tersedia Peta Pendaftaran


1. Jika tersedia peta dasar pendaftaran, maka hasil ukuran dilapangan di
kartir pada peta dasar pendaftaran. Hasil kartiran ini disalin atau dikutip
pada blanko daftar isian 207 sebagai mana cara diatas.

2. Jika tidak tersedia peta dasar pendaftaran maka hasil pengukuran dikartir
untuk pembuatan peta bidang tanah guna pengumuman. Surat ukur dapat
dibuat dengan menyalin atau mengutip peta bidang tanah tersebut.

3. Dalam hal bidang tanah yang akan digambarkan sangat luas, sehingga
penggambaran pada daftar isian 207 yang tersedia akan menghasilkan
skala yang sangat kecil, maka salinan peta pendaftaran dapat digunakan
sebagai surat ukur (pasal 157 ayat 5 PMNA 3/1997).

c. Tersedia Peta/ Data Digital


Surat ukur dapat dibuat dengan mem plot bidang tanah dimaksud dan
bidang tanah serta situasi disekitar bidang tanah dimaksud (data spasial dan
tektual) pada blanko daftar isian 207 (pasal 157 ayat 3 PMNA 3/1997), dapat
dilaksanakan dengan menggunakan sistim sunting gambar (cropping).Penge-
plot-an dapat dilakukan dengan skala yang dikehendaki, namun demikian
disarankan menggunakan skala sesuai dengan aturan yang berlaku.

d. Perubahan, Penghapusan Dan Pembuatan Surat Ukur Baru


1. Jika terjadi pengukuran ulang, yang menyebabkan perubahan bentuk fisik
dan luas, maka pada surat ukur harus di lakukan perubahan sesuai data
perubahan tersebut (pasal 41ayat 5 PMNA 3/1997). Perubahan tersebut
dapat dilakukan langsung pada surat ukurnya atau dibuatkan surat ukur
pengganti jika surat ukur lama tidak memungkinkan untuk digunakan.

2. Jika terjadi pemecahan, untuk pendaftarannya masing-masing bidang


dibuatkan surat ukur baru, sebagai pengganti surat ukur lama (pasal 133
ayat 3 PMNA 3/1997.

3. Surat ukur semula dinyatakan tidak berlaku lagi dengan mencantumkan


catatan dengan kalimat sebagai berikut :
"Tidak berlaku lagi karena haknya sudah dibukukan sebagai hak atas
bidang-bidang tanah hasil pemecahan sempurna, yaitu Hak ……. Nomor
… s/d ….. (lihat buku tanah nomor ... s/d .... )", yang dibubuhi tanda
tangan Kepala Kantor Pertanahan atau pejabat yang ditunjuk berikut cap
dinas Kantor Pertanahan (pasal 133 ayat 5 PMNA 3/1997).

4. Bidang atau bidang-bidang tanah yang dipisahkan untuk pendaftarannya


dibuatkan surat ukur tersendiri pasal 134 ayat 3 PMNA 3/1997.

5. Dalam pendaftaran pemisahan bidang tanah surat ukur yang lama tetap
berlaku untuk bidang tanah semula setelah dikurangi bidang tanah yang
dipisahkan dan pada nomor surat ukur dan nomor haknya ditambahkan
kata "sisa" dengan tinta merah, sedangkan angka luas tanahnya dikurangi
dengan luas bidang tanah yang dipisahkan pasal 134 ayat 5 PMNA
3/1997 .

6. Bidang atau bidang bidang tanah hasil penggabungan untuk


pendaftarannya dibuatkan surat ukur baru (pasal 135 ayat 3 PMNA
3/1997).

Pendaftaran penggabungan bidang-bidang tanah dilakukan dengan


menyatakan tidak berlaku lagi surat ukur atas bidang-bidang tanah yang digabung
dan membuatkan surat ukur baru untuk bidang tanah hasil penggabungan (pasal
135 ayat 4 PMNA 3/1997).

10. PENDAFTARAN HAK ATAS TANAH

Setelah uang pemasukan ke kas negara dibayar, pemohon dapat mengajukan


permohonan pendaftaran hak ke Kantor Pertanahan Kabupaten/Kotamadya untuk
diterbitkan sertifikat hak atas tanahnya dengan syarat-syarat :
a. Mengisi formulir permohonan.
b. Surat keputusan penetapan hak atas tanah.
c. Menyerahkan asli surat-surat tanah.
d. Bukti pelunasan pembayaran Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan
Bangunan/surat setoran BPHTP (Undang-Undang No.21 Tahun 1997 Jo
Undang-Undang No.20 Tahun 2000 yang divalidasi oleh Kantor Pelayanan
PBB dan Kantor Petanahan konfirmasi terlebih dahulu dengan Kantor
Pelayanan PBB)
e. Bukti pelunasan pembayaran pajak penghasilan (peraturan pemerintah No.48
Tahun 1994 Jo Peraturan Pemerintah No.27 Tahun 1996)
f. Bukti pembayaran setoran uang pemasukan ke kas negara.
g. Surat kuasa dan ftokopi KTP pemberi/penerima kuasa apabila dikuasakan.
h. Identitas pemohon; Fotokopi KTP, KK, WNI, Ganti Nama (jika perorangan),
Akta Pendirian /Akta Perubahan (jika badan hukum)
i. Peta Bidang Tanah/Surat Ukur
j. Membayar tarif atas jenis penerimaan bukan pajak, untuk pelayanan
pendaftaran pertama kali.

Setelah sertifikat hak atas tanah selesai dan diberikan kepada pemohon, pemohon
dapat pengajukan peralihan hak kepada perorangan, pemasukan ke dalam perusahaan,
pemindahan hak karena lelang, peralihan karena putusan pengadilan, peralihan hak
karena waris, peralihan hak karena penggabungan peleburan perseroan/koperasi –
merger, Hak Tanggungan serta peningkatan haknya sesuai dengan ketentuan
perundang-undangan.

11. PENERBITAN SERTIFIKAT

Sertifikat merupakan surat tanda bukti hak yang berlaku sebagai alat pembuktian
yang kuat mengenai data fisik dan data yuridis yangt termuat di dalamnya, sepanjang
data fisik dan data yuridis tersebut sesuaidengan data dalam surat ukur dan buku tanah
yang bersangkutan (PP No. 24 Tahun 1997 Pasal 32 ayat 1).

Penerbitan sertifikat di lakukan untuk kepentingan pemegang hak yang


bersangkutan yang sesuai dengan data fisik dan yuridish yang terdaftar dalam buku
tanah (Pasal 31). Apabila dalam waktu 5 Tahun, tidak ada yang menuntut penerbitan
sertifikat tersebut secara tertulis atau gugatan ke pengadilan ( Pasal 32 ayat 2), maka
pihak lain tidak bisa menuntut hak itu. Selanjutnya Pasal 32 ayat (1) Peraturan
Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997, sertifikat merupakan surat tanda bukti hak yang
berlaku sebagai alat pembuktian yang kuat mengenai data fisik dan data yuridis yang
termuat di dalamnya, sepanjang data fisik dan data yuridis tersebut sesuai dengan data
yang ada dalam surat ukur dan buku tanah yang bersangkutan.

Selain pengertian sertifikat yang diberikan oleh undang-undang secara otentik, ada
juga pengertian serttifikat yang diberikan oleh para sarjana. Salah satunya adalah K.
Wantjik Saleh yang menyatakan bahwa sertifikat adalah salinan buku tanah
dan surat ukurnya setelah dijilid menjadi satu bersama-sama dengan suatu kertas
sampul yang entuknya ditetapkan oleh Menteri.

Dari pengertian di atas penulis berpendapat bahwa sertifikat adalah surat tanda
bukti hak yang dijilid dan diterbitkan oleh Kantor Pertanahan, yang berlaku sebagai
alat pembuktian yang kuat mengenai data fisik dan data yuridis yang termuat di
dalamnya, dimana data tersebut sesuai dengan data yang ada dalam surat ukur dan
buku tanah yang bersangkutan.

Dari uraian di atas, maka sertifikat sebagai alat pembuktian yang kuat, berarti
bahwa selama tidak dibuktikan sebaliknya data fisik dan data yuridis yang tercantum
di dalamnya harus diterima sebagai data yang benar. Sudah barang tentu data fisik
maupun data yuridis yang tercantum dalam buku sertifikat harus sesuai dengan data
yang tercantum dalam buku tanah dan surat ukur yang bersangkutan karena data itu
diambil dari buku tanah dan surat ukur tersebut.

Dengan demikian sertifikat sebagai akte otentik, mempunyai kekuatan


pembuktian yang sempurna, dalam arti bahwa hakim harus terikat dengan data yang
disebutkan dalam sertifikat itu selama tidak dapat dibuktikan sebaliknya oleh pihak
lain.

Sertifikat dinyatakan sebagai alat bukti yang kuat. Hal ini berkaitan dengan sistem
publikasi yang dianut oleh hukum pertanahan Indonesia baik Peraturan Pemerintah
Nomor 10 tahun 1961 maupun Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 yakni
sistem publikasi negatif yang mengandung unsur positif karena akan menghasilkan
surat-surat tanda bukti hak (sertifikat) yang berlaku sebagai alat pembuktian yang
kuat. Jadi tidak sistem publikasi positif, karena menurut sistem publikasi positif
adalah apa yang tercantum dalam buku pendaftaran tanah dan surat-surat tanda bukti
hak yang dikeluarkan merupakan alat pembuktian yang mutlak Pihak ketiga (yang
beriktikad baik) yang bertindak atas dasar bukti-bukti tersebut tidak mendapat
perlindungan, biarpun kemudian ternyata bahwa keterangan-keterangan yang
tercantum di dalamnya tidak benar.

Menurut Boedi Harsono, sistem pendaftaran tanah Indonesia ialah sistem


publikasi negatif dengan tendens positif. Pengertian negatif adalah keterangan-
keterangan yang ada itu jika ternyata tidak benar masih dapat diubah dan dibetulkan,
sedangkan pengertian dengan tendens positif adalah bahwa para petugas pendaftaran
tanah tidak bersikap pasif, artinya mereka tidak menerima begitu saja apa yang
diajukan dan dikatakan oleh pihak-pihak yang meminta pendaftaran. petugas
pelaksana diwajibkan untuk mengadakan pembuktian seperlunya (terhadap hak-hak
atas tanah yang didaftar tersebut) untuk mencegah kekeliruan[9].

Demikian pula pendapat Parlindungan bahwa pengertian negatif tidak berarti


Kantor Pendaftaran Tanah (Kantor Pertanahan, penulis) akan gegabah menerima
permohonan pendaftaran tanah, tetapi selalu harus melalui suatu pemeriksaan,
sehingga kadangkala pendaftaran (tanah) di Indonesia sekarang ini adalah pendaftaran
yang negatai bertendensi positif.
Sertifikat pengganti di terbitkan apabila ada permohonan dari pemegang hak,
sebagai pengganti setifikat yang hilang atau rusak.

BAB III

PENUTUP

1. KESIMPULAN

a. Tata cara pelaksanaan pendaftaran tanah yang telah tercantum di dalam UUPA,
antara lain melalui proses pendaftaran, pengolahan data, pembuatan peta,
pembuktian hak, penyajian data fisik dan yuridis, pertimbangan teknis
penatagunaan tanah hingga terbitnya surat keterangan tanah (sertifikat tanah).

b. Dasar-dasar hukum pertanahan tentang pendaftaran tanah, antara lain :

 Pasal 19 Undang – Undang No.5 Tahun 1960 (UUPA).

 Peraturan pemerintah No.24 Tahun 1997 tentang pendaftaran tanah.

 Peraturan pemerintah No. 37 Tahun 1998 tentang peraturan jabatan pejabat


pembuat akta tanah.

 Peraturan perundang – undangan sebagai pelaksana dari peraturan pemerintah No.


10 Tahun 1961.

 Peraturan Menteri Agraria / kepala BPN No. 3 Tahun 1997 tentang ketentuan
pelaksanaan peraturan pemerintah No.24 Tahun 1997 tentang pendaftaran tanah.

A. SARAN
Mengingat masih banyaknya daerah yang belum dibuat peta dasarnya, maka
pembuatan peta dasar dalam suatu wilayah desa/kota perlu segera dilakukan
melalui peningkatan pelaksanaan pendaftaran tanah pertama kali secara sistematik
dengan cara melaksanakan Sertifikasi Massal Swadaya (Program SMS) yaitu
pelaksanaan pendaftaran tanah secara sistematik tetapi dengan swadaya atas biaya
dan inisiatif dari para pemilik bidang tanah yang akan didaftarkan, dan yang
menyelenggarakan yakni Kantor Pertanahan Kota/Kabupaten yang bersangkutan.

DAFTAR PUSTAKA

Usman, Suparman. 2003,Hukum Agraria Di Indonesia.Fakultas Hukum UNTIRTA

Parlindungan, 2003,Tanya Jawab Hukum Agraria dan Pertanahan , Bandung :


Mandar Maju
Petunjuk Teknis PMNA/ KBPN Nomor 3 Tahun 1997 Materi Pengukuran Dan
Pemetaan Pendaftaran Tanah

Team Penerbit Mitra Karya.2003,Pedoman Peraturan Pejabat Akta Tanah Di


Indonesia, Jakarta : Mitra Karya
http://ass.surveyorkadastral.com/2011/03/pengukuran-dan-pemetaan.html

http://bpn16.wordpress.com/2010/09/08/185/

http://eprints.undip.ac.id/15724/1/ME_Noviana_Ira_Hapsari.pdf

http://www.cybertokoh.com/index.php?
option=com_content&task=view&id=641&Itemid=61

http://eleveners.wordpress.com/2010/01/19/dir-penatagunaan-tanah-pgt/

http://eprints.undip.ac.id/15855/1/Soesilowati_Maria_Margaretha.pdf

http://hanyarepost.blogspot.com/2011/07/metode-pengukuran-tanah.html

http://perumahandidepok.com/proses-sertifikasi-tanah-girik/