Anda di halaman 1dari 8

PRIVATISASI RUANG PUBLIK DI PANTAI SEGARA, SANUR

Oleh:
I Made Bagus Wisnu Wisnawa
1662121034
1. LATAR BELAKANG
Indonesia merupakan Negara hukum segala sesuatu yang berkaitan dengan Negara diatur oleh
Undang Undang Dasar 1945 salah satunya kekayaan milik Negara. Menurut pasal 33 Undang
Undang Dasar 1945 berbunyi pasal
(2); Cabang-cabang produksi yang penting bagi Negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak
dikuasai oleh Negara, ayat (3) menyebutkan ; Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya
dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. (UUD 1945).
Menurut Undang Undang Dasar 1945 Pasal 33, kekayaan alam berupa air merupakan milik negara.
Pantai yang dapat dikatakan sebagai kekayaan alam milik Negara, maka segala sesuatu yang
terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara.
Bali yang terkenal dengan keindahan alamnya kini gencar mengembangkan pariwisata.
Salah satu pariwisata alam yang paling banyak dikunjungi adalah pantai. Pantai yang tersebar di
seluruh Bali kini menjadi ikon pariwisata Bali, salah satunya yaitu Pantai Segara yang masih
menjadi bagian dari Pantai Sanur. Kawasan Pantai Segara yang banyak dikunjungi wisatawan
diakibatkan beberapa alasan, antara lain : (1) Pantai Segara tidak jauh dari pusat Kota Denpasar;
(2) Pantai Segara masih menjadi bagian dari Pantai Sanur; (3) Pantai Segara dekat dengan
penyebrangan fast boat dan Museum Le Mayeur; dan (4) Pantai Segara dikelilingi hotel-hotel dan
restoran yang berdiri di sepanjang pantai.
Perkembangan kawasan Pantai Segara, tidak lepas dari perkembangan kawasan Sanur yang
selama ini menjadi salah satu ikon pariwisata Kota Denpasar. Kawasan pariwisata tertua di Bali
yang berada di Sanur mulai dikunjungi sejak tahun 1930an dan yang pertama kalinya dibangun
sebuah resort tepi pantai. Awalnya Sanur terkenal akibat kedatangan pelukis Belgia bernama
Adrien-Jean Lemayur de Merpres. Seiring perkembangan pariwisata yang semakin meningkat,
pada tahun 1957 dibangunlah hotel pertama di Desa Sanur dengan nama Hotel Sindhu Beach,
disusul pembangunan Hotel Bali Beach yang mulai beroperasi pada tahun 1966. Selain akomodasi
perkembangan ekonomi juga mulai diterapkan dengan dibangunnya Beach Market pada tahun
1971 yang menyajikan jasa pelayaran, kesenian dan pengelolaan kafe dan restaurant (Widiyani,
2017). Hingga sampai saat ini perkembangan pariwisata masih terus berlanjut hingga
berkembangnya akomodasi pariwisata. Akomodasi pariwisata seperti restaurant, hotel, caffe,
beachclub, villa, dan lain sebagainya.
Perkembangan akomodasi pariwisata ini juga menimbulkan dampak negatif, dimana
banyak kita temui ruang ruang publik yang sebelumnya bebas bisa dimanfaatkan dan dikunjungi
oleh masyarakat mulai diambil alih oleh pihak individu atau swasta demi sebuah komersialisasi
dan keuntungan. Ruang-ruang publik yang awalnya dimiliki oleh Negara mulai dimanfaatkan oleh
pihak individu atau swasta untuk sekedar mencari keuntungan dari potensi yang ada di Pantai
Segara, Sanur melalui kerjasama, Privatisasi ini akhirnya menimbulkan kekhawatiran masyarakat
akan keberadaan ruang publik di Pantai Segara, Sanur. Berdasarkan permasalahan tersebut, peneliti
meyakini adanya temuan menarik terkait dengan kondisi yang terjadi di Pantai Segara, Sanur.

2. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang dan permasalaha yang ada dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana bentuk privatisasi di Pantai Segara, Sanur?
2. Apakah ada perbedaan antara “ruang publik” yang privat dan tidak privat di Pantai
Segara, Sanur?

3. HIPOTESIS PENELITIAN
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah yang telah dipaparkan, penulis memiliki
hipotesis atas rumusan masalah adalah sebagai berikut : “Telah terjadinya privatisasi ruang public
di Pantai Segara, Sanur akibat perkembangan pariwisata khususnya akomodasi pariwisata yang
berkembang seperti restaurant, hotel, caffe, beachclub, villa, dan sebagainya yang memanfaatkan
potensi Pantai Segara, Sanur. Serta, Mulai munculnya perbedaan “ruang public” yang privat dan
tidak privat.”

4. TINJAUAN PUSTAKA
Ruang Publik
Ruang publik adalah ruang yang berfungsi untuk tempat menampung aktivitas masyarakat, baik
secara individu maupun secara kelompok, dimana bentuk ruang publik ini sangat tergantung pada
pola dan susunan massa bangunan. Tanpa ruang-ruang public masyarakat yang terbentuk adalah
masyarakat individualis dan anti sosial, yang tidak mampu berinteraksi apalagi bekerja sama satu
sama lain. Agar efektif sebagai mimbar, ruang publik haruslah netral. Artinya, bisa dicapai hampir
setiap penghuni kota. Tidak ada satu pun pihak yang berhak mengklaim diri sebagai pemilik dan
membatasi akses ke ruang publik sebagai sebuah mimbarpolitik.(Rustam Hakim, 1987).
Menurut buku PUBLIC PLACES URBAN SPACES The Dimensions of Urban Design oleh
Matthew Carmona, dkk menyebutkan ruang publik dapat dibagi menjadi beberapa tipologi antara
lain : (Carmona, Tiesdell, Oc, & Heath, 2003)

 External public space. Ruang publik jenis ini biasanya berbentuk ruang luar yang dapat
diakses oleh semua orang (publik) seperti taman kota, alun-alun, jalur pejalan kaki, dan
lain sebagainya.
 Internal public space. Ruang publik jenis ini berupa fasilitas umum yang dikelola
pemerintah dan dapat diakses oleh warga secara bebas tanpa ada batasan tertentu,
seperti kantor pos, kantor polisi, rumah sakit dan pusat pelayanan warga lainnya.
 External and internal “quasi” public space. Ruang publik jenis ini berupa fasilitas
umum yang biasanya dikelola oleh sektor privat dan ada batasan atau aturan yang harus
dipatuhi warga, seperti mall, diskotik, restoran dan lain lain.
Berdasarkan fungsinya secara umum dapat dibagi menjadi beberapa tipologi:
 Positive space. Ruang ini berupa ruang publik yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan-
kegiatan yang sifatnya positif dan biasanya dikelola oleh pemerintah. Bentuk dari ruang ini
antara lain ruang alami/semi alami, ruang publik dan ruang terbuka publik.
 Negative space. Ruang ini berupa ruang publik yang tidak dapat dimanfaatkan bagi
kegiatan publik secara optimal karena memiliki fungsi yang tidak sesuai dengan
kenyamanan dan keamanan aktivitas sosial serta kondisinya yang tidak dikelola dengan
baik. Bentuk dari ruang ini antara lain ruang pergerakan, ruang servis dan ruang-ruang yang
ditinggalkan karena kurang baiknya proses perencanaan.
 Ambiguous space. Ruang ini adalah ruang yang dipergunakan untuk aktivitas peralihan dari
kegiatan utama warga yang biasanya berbentuk seperti ruang bersantai di pertokoan, café,
rumah peribadatan, ruang rekreasi, dan lain sebagainya.
 Private space. Ruang ini berupa ruang yang dimiliki secara privat oleh warga yang biasanya
berbentuk ruang terbuka privat, halaman rumah dan ruang di dalam bangunan.

Privatisasi Ruang Publik


Privatisasi merupaka kata serapan dari bahasa asing yang memiliki makna yaitu suatu proses
perubahan kepemilikan dari suatu instansi (umum) ke khusus (individu). Dalam hal ruang salah
satu cotoh privatisasi adalah perubahan ruang public dari public ke privat. Proses terjadinya sebuah
privatisasi yaitu tidak langsung biasanya melalui kegiatan ekonomi atau komersil seperti pusat
perbelanjaan, taman hiburan, akomodasi pariwisata yang bertahap akan mengambil alih ruang
public.

Privatisasi memiliki dampak positif diantara lain meningkatnya kualitas fasilitas dan
pengelolaan di suatu daerah sedangkan dampak negatifnya yaitu pembatasan akses dan
kesenjangan social. (Putra, Eka Adhitya Hari; Khadiyanto, 2014)
Pantai Segara, Sanur
Objek Wisata Pantai Sanur merupakan pantai yang bersejarah karena Pantai ini merupakan
pantai tempat mendaratnya pasukan kerajaan Belanda ketika Belanda menyerang wilayah Badung
pada waktu zaman penjajahan. Sanur berasal dari dua kata, “Saha” dan “Nuhur” yang secara
harfiah berarti keinginan/gairah untuk mengunjungi tempat tertentu, dan menurut pendapat dari
beberapa pemuka adat menjelaskan bahwa “Saha” dan “Nuhur” berarti memohon untuk datang di
suatu tempat. Dari kata tersebut lama kelamaan berubah menjadi Sanur.
Dalam kaitannya dengan sejarah Bali, Sanur tercatat sebagai tempat dimana salah satu prasasti
Bali yang paling tua ditemukan. Dalam prasasti Belanjong yang berangka tahun 917 M, dapat
diperkirakan bahwa pada masa tersebut di daerah Sanur sekarang ini sudah difungsikan sebagai
daerah pelabuhan. Sejarah lainnya yang menandai pengembangan atau seni di Pulau Bali adalah
Museum Le Mayeur, dibangun di Sanur pada tahun 1953 dan merupakan museum pertama yang
dibangun di Bali.
Dikalangan pariwisata, pantai Sanur pertama kali diperkenalkan oleh pelukis dari Belgia
bernama A.J. Le Mayeur bersama istrinya Ni Polok yang menetap di Sanur sejak tahun 1937.
Dengan didirikannya Museum Le Mayeur, sekitar 80 lukisan dipamerkan dalam museum ini yang
dulunya merupakan rumah dari artis terkenal Adrian-Jean Le Mayeur sendiri. Museum ini terletak
hanya beberapa meter dari laut adalah bukti fisik untuk cinta seorang seniman terhadap pulau Bali.
Melalui lukisan spektakuler dan pameran Le Mayeur, Sanur diperkenalkan kepada dunia.
Berdasarkan dokumen yang ada, baru tercatat sejak tahun 1909-1932 untuk pertama kalinya
diperintah oleh kepala desa. Kemudian dari tahun 1932-1935 terjadi pergantian kepala desa dengan
wilayah Sanur pada saat itu meliputi daerah Sanur (Desa Sanur Kaja, Desa Sanur Kauh, Kelurahan
Sanur) dan Kelurahan Renon sekarang. Selanjutnya dari tahun 1935-1951 juga mengalami
pergantian kepala desa. Pada masa ini terjadi pemekaran wilayah bagian barat menjadi desa baru
(perbekelan) yang bernama desa/perbekelan Renon.
Pada tahun 1951-1959 mulai nampak titik-titik terang yaitu dengan penunjukan Desa Sanur
sebagai desa percobaan oleh Gubernur Provinsi Bali pada tahun 1956. Kemudian sejak 1959 Sanur
dikembangkan menjadi daerah wisata. Pada tahun 1963 geliat pariwisata Sanur semakin terasa
dengan didirikannya Hotel Bali Beach (sekarang Inna The Grand Bali Beach yang merupakan hotel
pertama kalinya dibangun di Bali. Sampai sekarang kawasan ini masih menjadi salah satu tujuan
wisata utama di Kota Denpasar. (Widiyani, 2017)

5. METODE PENELITIAN
Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, dengan objek kajian adalah bentuk privatisasi di
Pantai Segara, Sanur dan perbedaan antara “ruang publik” yang privat dan tidak privat di Pantai
Segara, Sanur. Adapun lokasi penelitian ini terdapat di Pantai Segara, Sanur. Lokasi ini dipilih
berdasar beberapa pertimbangan yang telah dipaparkan pada latar belakang.
Terdapat lima tahapan utama yang dijalankan dalam penelitian ini, yaitu : (a) tahap pra
penelitian ; (b) tahap pengumpulan data ; (c) tahap analisis data ; (d) tahap sintesis data dan (e)
tahap simpulan dan penyusunan laporan akhir.
TAHAP PENELITIAN GAMBARAN PENELITIAN
Pra Penelitian Pengamatan Pengamatan langsung berfungsi untuk melihat permasalahan
Langsung secara umum dan nyata dengan cara berkeliling dan
mengambil foto objek
Studi Literatur Studi literatur awal yang telah dilakukan adalah dengan
Awal mempelajari karakteristik, sejarah Pantai Segara , Sanur
Penetapan Penetapan fokus topik penelitian dilakukan berdasarkan
fokus topik masalah nyata yang terdapat di lapangan
penelitian
Studi lapangan Menyangkut mengenai observasi, tata pola bentuk privatisasi,
Pengumpulan (observasi) fungsi ruang publik, dan observasi lanjutan
Data Studi literatur Pada tahap ini akan dilakukan mengenai studi pustaka tentang
lanjutan data yang berkaitan di lapangan
Wawancara Pada tahap ini dilakukan wawancara untuk mendapatkan
pendapat dari pengguna langsung pada objek penelitian ini

Identifikasi Identifikasi atas karakter aspek aktifitas pengguna, aspek


Analisis kasus kenyamanan ruang yang ada pada Pantai Segara, Sanur dalam
Data penelitian menjelaskan bentuk privatisasi di Pantai Segara, Sanur dan
perbedaan antara “ruang publik” yang privat dan tidak privat
di Pantai Segara, Sanur.
Klasifikasi Kasus dan karakter yang dimiliki akan dibagi menjadi
kasus dan beberapa kelompok, hingga ditemukannya tema-tema
karakter yang temuan.
dimiliki
Penetapan Temuan ditetapkan berdasarkan klasifikasi kasus dan karakter
jenis-jenis yang dimiliki
temuan
Data literatur Difokuskan pada hal-hal yang berkenaan dengan teori ruang
public, privatisasi ruang public berdasarkan aspek aktifitas
pengguna dan aspek kenyamanan ruang
Sintesis Dialog antar Dialog dilakukan hingga menemukan temuan tentang: bentuk
Data temuan privatisasi di Pantai Segara, Sanur dan perbedaan antara
“ruang publik” yang privat dan tidak privat di Pantai Segara,
Sanur..
Hasil temuan Didialogkan dengan teori dan data lapangan untuk
menemukan temuan akhir penelitian.
Simpulan Simpulan disusun secara induktif untuk menemukan dua hasil akhir penelitian
yang merupakan jawaban dari rumusan masalah penelitian ini, yaitu berupa : (1)
Bagaimana bentuk privatisasi di Pantai Segara, Sanur? (2) Apakah ada perbedaan
antara “ruang publik” yang privat dan tidak privat di Pantai Segara, Sanur?
Sumber : Analisis, 2018

Lokus dan Fokus Penelitian

Lokus penelitian ini dilaksanakan di Pantai Segara, Desa Sanur, Kecamatan Denpasar Selatan,
Kota Denpasar, Bali. Sebelah timur berbatasan denganaberbagai macam area akomodasi
pariwisata, sebelah utara berbatasan Pantai Sanur, Sebelah Selatan berbatasan dengan Pantai
Karang

Gambar 5.1 Pantai Segara


Sumber: http://bit.ly/2S585TH
Fokus penelitian ini tentang seperti apa bentuk privatisasi ruang public yang ada pada pantai
Segara, Sanur dan seperti apa perbedaan antara “ruang public” yang privat dan tidak privat

Jenis Data dan Sumber Data

Jenis data yang akan digunakan adalah data yang bersifat kualitatif atau data yang tidak berupa
angka atau statistik, data ini diperoleh melalui hasil observasi lapangan dan studi literatur serta
wawancara.
Sumber data yang akan digunakan terdapat dua jenis, yaitu sebagai berikut.

a. Data primer, yaitu data yang diperoleh dari observasi langsung ke lokasi penelitian dan
wawancara kepada para informan.
b. Data sekunder, yaitu data yang diambil dari literatur yang berkaitan langsung dengan
penelitian yang akan diangkat seperti buku, jurnal, penelitian sebelumnya, sumber internet,
dan lain sebagainya

Teknik Penelitian
Dilaksanakan dengan teknik penelitian lapangan (field research) dan studi literatur (literature
review) yakni dengan mempelajari, menganalisis literature yang berkaitan dengan topik
pembahasan. Adapun langkah langkahnya:

a. Observasi yaitu dengan cara mengadakan pengamatan secara langsung. Observasi ini kami
gunakan untuk menggali data dengan jalan melakukan pengamatan.
b. Studi literatur dalam penelitian ini dengan cara mencari literatur atau teori yang berkaitan
dengan judul penelitian. Studi literatur dilakukan pada kajian pustaka, teori-teori dan konsep
yang berkaitan dengan penelitian ini, studi literatur ini dilakukan untuk membedah
penelitian yang kita lakukan agar mendapatkan hasil terbaik. Literatur yang digunakan
antara lain buku, jurnal, sumber internet, e-book, dan lain sebagainya.
c. Melakukan wawancara terhadap key person atau yang menjadi informan dalam penelitian
ini, yang disajikan dalm bentuk pertanyaan yang berkenan dalam topik pembahasan. Metode
wawancara yang dilakukan akan dilakukan dengan cara sistem wawancara semi terstruktur
yaitu dengan penentuan poin-poin wawancara kepada informan yang telah ditentukan dan
dikembangkan sesuai dengan situasi yang ada.
d. Pengolahan data dilakukan dengan merekam, mendata serta menyusun kembali data yang
telah terkumpul yang diperoleh dari data primer dan data sekunder
e. Teknik analisis melalui tahapan pengumpulan data primer di lapangan maupun data
sekunder melalui studi literature berupa teori teori yang sesuai dengan topik pembahasan
peneltian ini , kemudian dilanjutkan dengan proses analisis sampai menghasilkan temuan-
temuan yang dipakai untuk menjawab masalah penelitian.
f. Teknik penarikan kesimpulan dengan cara deduktif dimulai dari hal yang umum menuju ke
hal yang khusus melalui proses pengumpulan, pengolaha dan analisis data yang sudah dilalui

6. ALUR PIKIR PENELITIAN


DAFTAR PUSTAKA
Carmona, M., Tiesdell, S., Oc, T., & Heath, T. (2003). Public Space Urban Space The
Dimensions of Urban Design. Architectural Press.
Putra, Eka Adhitya Hari; Khadiyanto, P. (2014). PENGARUH PRIVATISASI RUANG
TERBUKA PUBLIK TAMAN TABANAS GOMBEL SEMARANG TERHADAP
TINGKAT KENYAMANAN PENGUNJUNG. Jurnal Teknik PWK, 3(3), 446–460.
Retrieved from https://media.neliti.com/media/publications/214178-pengaruh-privatisasi-
ruang-terbuka-publi.pdf
Rustam Hakim. (1987). Komponen Perancangan Arsitektur Lansekap (Kedua). Jakarta: Bumi
Aksara.
Widiyani, M. D. (2017). PERKEMBANGAN DAERAH PARIWISATA SANUR (Dilihat dari
Teori Lokasi Growth Pole), 1–10.