Anda di halaman 1dari 31

PERANCANGAN ANTENA DIPOLE 137.

9125 MHz

TUGAS
ANTENA DAN PROPAGASI
Dosen Pengajar: Hj. Yenniwarti Rafsyam, SST., MT

Disusun Oleh :
Muhammad Ramadikal Kahfi (1317030062)
Teknik Telekomunikasi 3C

PROGRAM STUDI TEKNIK TELEKOMUNIKASI


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI JAKARTA
2018
I. Soal.
Rancanglah Antena Dipole dengan frekuensi kerja 137.9125 MHz !.
II. Perhitungan.
- Diameter Antena.
D = 2 mm
- Penentuan Panjang Gelombang Antena Dipole.
𝑐 3 𝑥 108 𝑚/𝑠
ℷ= = = 2175.292 𝑚𝑚
𝑓 137.9125 𝑥 106

- Penentuan Panjang Antena Dipole.


(Kontanta Dielektrik x ℷ)
L= 2
(0.95 x 2175.292 mm)
L= 2

L = 1033.2638 mm

- Penentuan Lebar Gap Antena Dipole.


(L)
G = 250
(1033.2638)
G= 250

G = 4.133 mm
III. Perancangan, Optimasi serta Simulasi.
1. Menjalankan program CST Studio Suite 2018

Gambar 1. CST Microwave Studio 2018


2. Pilih Project Template

Gambar 2. Jendela Awal Software CST


3. Pilih MW & RF Optical lalu Pilih Antennas

Gambar 3. Jendela Pemilihan Aplikasi


4. Pilih Wire lalu next

Gambar 4. Jendela Pemilihan Antenna


5. Pilih Time Domain untuk Janis Solver

Gambar 5. Jendela Pemilihan Jenis Solver


6. Atur nilai satuan

Gambar 6. Jendela Pemilihan nilai satuan


7. Mengatur nilai rentang frekuensi kerja dan monitors yang akan digunakan.

Gambar 7. Jendela Pengaturan Rentang Frekuensi


8. Masukkan nama template lalu klik Finish

Gambar 8. Jendela Pemberian Nama Template


9. Maka CST akan siap digunakan seperti pada gambar

Gambar 9. Gambar Lembar Kerja Baru


10. Masukkan Nilai Parameter yang akan kita gunakan pada Parameter List.

Gambar 10. Kolom Parameter List


11. Setelah parameter terisi, maka langkah selanjutnya adalah membuat antenna. Pilih
Modeling maka hasilnya aka terlihat seperti pada gambar.

Gambar 11. Kolom Modeling


12. Pilih Cylinder

Gambar 12. Ikon Untuk Membuat Cylinder


13. Setelah memilih Cylinder, anda akan diminta untuk menekan tombol ESC pada
keyboard anda agar dialog box dapat dibuka

Gambar 13. Permintaan menekan ESC


14. Maka akan terbuka sebuah dialog box untuk membuat cylinder.

Gambar 14. Dialog Box Cylinder


15. Atur nama komponen, dan masukkan parameternya. Setelah itu Pilih material yang
akan digunakan.

Gambar 15. Parameter dan bahan (material) yang digunakan.


16. Pilih PEC lalu klik OK

Gambar 16. Material PEC


17. Maka antenna akan terbentuk

Gambar 17. Antena Dipole


18. Sekarang Kita akan mengatur Gap antenna dipole tersebut. Lakukan langkah 11 -14.
Lalu masukan parameter dan bahan untuk Gapnya. Untuk bahan kita akan
menggunakan Vacuum. Lalu klik OK

Gambar 18. Dialog Box Gap Antena


19. Maka akan muncul dialog box Shape Intersection seperti pada gambar. Pilih cut away
highlighted shape dan klik OK.

Gambar 19. Dialog Box Shape Intersection.


20. Sekarang kita zoom bagian tengah antenna dipole untuk melihat hasil gap yang kita
buat tadi.

Gambar 20. Gap Antena Dipole


21. Selanjutnya yang akan kita lakukan adalah membuat port. Pilih panah kebawah yang
berada disebelah kanan pick points.

Gambar 21. Kolom Pick Points.


22. Pilih pick circle center. Maka kita siap untuk memilih titik yang akan digunakan
sebagai tempat port. Karena kita akan membuat port diantar Dipole kanan dan kiri,
maka, kita harus mengatur 2 titik pick points agar port dapat berada ditengah.

Gambar 22. Mengatur Port.


23. Pick points pertama ada di antenna bagian kanan. Seperti pada gambar. Letakkan
mouse pada bagian luar lingkaran dan klik kiri 2x.

Gambar 23. Pick point 1


24. Pick points kedua ada di antenna bagian kiri. Seperti pada gambar. Letakkan mouse
pada bagian luar lingkaran dan klik kiri 2x.

Gambar 24. Pick Point 2.


25. Maka kita akan melihat hasilnya seperti pada gambar.

Gambar 25. Pick points 1 dan 2.


26. Langkah selanjutnya adalah membuat Discrete Port pada bar menu. Pilih Simulation
lalu klik Discrete Port.

Gambar 26. Kolom Simulation


27. Atur impedansinya sebesar 75 Ohm. Klik Ok

Gambar 27. Dialog box discrete port.


28. Maka Port akan munsul seperti pada gambar.

Gambar 28. Discrete Port


29. Maka Antena dipole sudah berhasil dibuat. Yang harus kita lakukan sekarang adalah
men- simulasikan-nya. Pilih Home pada menu bar lalu klik setup solver.

Gambar 29. Kolom Home. Setup Solver.


30. Malan dialog box setup solver akan muncul.

Gambar 30. Dialog Box Setup Solver


31. Atur S-Parameter settings untuk menyesuaikan impedansi. Klik normalize to fixed
impedance atur ke 75 Ohm. Klik Start untuk melakukan simulasi.

Gambar 31. Mengatur nilai Impedansi.


32. Lihat pada kolom bawah kanan. Hal ini menandakan bahwa simulasi sedang
dilakukan. Tunggu hingga selesai.

Gambar 32. Simulasi.


33. Setelah simulasi selesai. Pilih 1D result, S-Parameter untuk melihat parameter antenna
dipole yang kita buat.

Gambar 33. S-Parameter.


34. Agar dapat melihat dengan jelas hasilnya. Klik kanan pada mouse lalu klik Show Axis
Marker.

Gambar 34. Show Axis Marker


35. Hasilnya seperti pada gambar.

Gambar 35. Axis Marker.


36. Sekarang kita zoom in S-Parameter untuk melihat titik palung terendahnya. Lalu
geser axis markernya. Titik palung terendah menandakan frekuensi yang kita
gunakan.

Gambar 36. Palung Terendah.


37. Jika dilihat pada hasilnya (Gambar 3.37). Palung terendah berada pada 137.44MHz.
Sedangkan frekuensi yang kita inginkan adalah 137.9125 MHz. Maka diperlukan
beberapa optimasi agar hasilnya dapat sesuai yang kita ingikan.
Optimasi pertama adalah mengatur nilai L. Apabila nilai L sebelumnya merupakan
rumus dari (0.95*wl/2) menghasilkan L sebesar 1033.2637 mm. Maka kita ubah nilai L
menjadi lebih besar dari 1033.2637. Sebagai contoh saya menggunakan nilai L
1035.2637 mm. Klik Enter pada keyboard, maka akan muncul dialog box seperti pada
gambar. Pilih “Delete Curent..” lalu klik OK.
Gambar 37. Optimasi L = 1035.2637 mm.
38. Lalu anda akan diminta untuk menekan tombol F7 pada keyboard anda untuk
mengaplikasi-kan nilai L yang baru saja anda ubah. Tekan F7.

Gambar 38. Permintaan Untuk Meng-Update nilai parametic pada antenna dipole.
39. Lakukan simulasi seperti pada langkah 29 – 31. Tunggu hingga simulasi selesai. Lalu
lihat S-Parameternya.

Gambar 39. S-Parameter dengan L = 1035.2637 mm


40. Jika kita lihat dari S-Parameternya (Gambar 3.40). Nilai Frekuensi terendah berada
pada 137.2 Mhz. Nilai ini menjauhi nilai yang kita inginkan (137.9125 MHz). Maka
sekarang kita akan mengsimulasikan ulang dengan nilai L lebih kecil dari 1033.2637
mm. Dalam praktiknya praktikan mencoba L dengan nilai 1031.2637 mm.

Gambar 40. Optimasi L 1031.2637 mm.


41. Lakukan simulasi seperti pada langkah 29 – 31. Tunggu hingga selesai. Lalu liat S-
Parameternya.

Gambar 41. S-Parameter dengan L = 1031.2637 mm


42. Dengan L yang lebih rendah dari 1033.2637 mm. Didapatkan hasil yang mulai
mendekati nilai frekuensi 137.9125 Mhz yaitu pada frekuensi 137.68Mhz.
Dari 2 percobaan diatas, praktikan menarik 1 kesimpulan bahwa, semakin kecil nilai
L maka frekuensi yang didapat akan semakin besar. Maka daripada itu
dipercobaan selanjutnya praktikkan menggunakan nilai L yang lebih kecil dari
1031.2637 mm. Praktikan mengambil nilai L sebesar 1029.666523 mm (nilai tersebut
merupakan nilai khayal dari praktikkan).

Gambar 42. Optimasi L =1029.666523 mm.


43. Lakukan simulasi seperti pada langkah 29 – 31. Tunggu hingga selesai. Lalu liat S-
Parameternya.

Gambar 43. S – Parameter dengan L = 1029.666523 mm


44. Jika kita lihat pada hasil S-Parameter dengan L = 1029.666523 mm (Gambar 3.44).
Palung terendah berada pada frekuensi 137.92Mhz. Hasil tersebut sudah mendekati
nilai frekuensi yang kita cari yaitu 137.9125 Mhz. Agar kita mendapat hasil yang
akurat, yang harus kita lakukan adalah meng Zoom In pada palung terendah, hingga
terbaca frekuensi dengan ketepatan 4 digi dibelakang koma. Terbaca 137.919998
Mhz.

Gambar 44. S – Parameter Zoom In.


45. Hasil yang didapat sudah mendekati nilai frekuensi yang kita inginkan. Biarkan nilai
L tersebut. Lalu kita melakukan optimasi ke 2. Dengan cara mengubah nilai range
tertinggi pada frekuensi. Klik simulation, lalu pilih frequency.

Gambar 45. Kolom Frequency.


46. Maka akan muncul dialog boxnya. Atur range frekuensi atas dibawah dari 180MHz.
Praktikkan memilih frekuensi 175MHz. Nilai frekuensi tersebut merupakan nilai
khayal dari praktikkan. Klik OK.

Gambar 46. Dialog Box Frequency Range Settings


47. Lakukan simulasi seperti pada langkah 29 – 31. Tunggu hingga selesai. Lalu liat S-
Parameternya.

Gambar 47. S-Parameter Range Frekuensi 100 – 175 Mhz.


48. Hasil yang terbaca berada pada 137.875Mhz. Lebih rendah dari frekuensi
sebelumnya. Untuk membandingkan hasil, maka sekarang kita mengatur Frekuensi
Atas, sebesar 185Mhz. Nilai frekuensi atas tersebut merupakan nilai khayal dari
praktikkan. Lakukan cara yang sama seperti langkah 45 – 46.

Gambar 48. Dialog Box Frequency Range Settings


49. Lakukan simulasi seperti pada langkah 29 – 31. Tunggu hingga selesai. Lalu liat S-
Parameternya.

Gambar 49. S – Parameter Range Frekuensi 100 – 185 MHz.


50. Nilai yang didapat sangat hampir mendekati dari target yaitu 137.910004 Mhz dengan
target 137.9125 Mhz. Dari sini praktikkan memutuskan untuk menggunakan nilai
range frekuensi atas 185 Mhz. Namun tetap harus melakukan sedikit optimasi pada
frekuensi atas tersebut. Praktikan mencoba frekuensi 185.01000 Mhz. Nilai tersebut
merupakan nilai khayal praktikkan.

Gambar 50. Dialog Box Frequency Range Settings.


51. Lakukan simulasi seperti pada langkah 29 – 31. Tunggu hingga selesai. Lalu liat S-
Parameternya.

Gambar 51. S-Parameter range frekuensi 100 – 185.01 Mhz.


52. Dari hasil tersebut, terbaca nilai frekuensi pada palung terendah sebesar 137.9145
Mhz. Nilai tersebut lebih besar 0.0020 dari frekuensi yang praktikkan inginkan. Dari
sini juga praktikkan berpendapat, bahwa Nilai sekecil apapun pada range frekuensi
atas memiliki dampak pada S-Parameter. Maka dari itu, praktikan mengambil nilai
acak pada frekuensi range atas antara 185 Mhz – 185.0100 Mhz. Praktikkan
mengambil nilai 185.00569 Mhz. Nilai tersebut merupakan nilai khayal praktikkan.

Gambar 52. Dialog Box Frequency Range Settings


53. Lakukan simulasi seperti pada langkah 29 – 31. Tunggu hingga selesai. Lalu liat S-
Parameternya.

Gambar 53. S – Parameter range frekuensi 100 – 185.00569 MHz.


54. Hasil tersebut (Gambar 3.54) merupakan hasil yang praktikkan diinginkan yaitu
antenna dipole yang bekerja pada 137.9125 Mhz. Hal ini menunjukkan bahwa optimasi
telah selesai dilakukan.
55. Setelah kita mengetahui dengan tepat S-Parameter yang kita inginkan. Yang
selanjutnya kita lakukan adalah melihat nilai VSWR nya.
Pilih 1D Results lalu klik VSWR.

Gambar 54. Hasil VSWR frekuensi kerja 137.9125 MHz.


56. Maka didapatkan hasil VSWR Sebesar 1,0455791. VSWR tersebut tergolong bagus
dikarenakan mendekati nilai VSWR terbaik yaitu 1.
57. Langkah selanjutnya adalah menyimpan data.
Pilih File pada menu bar lalu klik Save As.

Gambar 55. Menyimpan data.


58. Makan akan muncul dialog box seperti pada gambar. Lalu atur tempat anda akan
menyimpan data tersebut, jangan lupa untuk memberikan nama file. Klik Save.

Gambar 56. Dialog Box Save As.

59. Selesai.