Anda di halaman 1dari 7

A.

Pengertian Kejadian Luar Biasa (KLB) dan Wabah


Wabah adalah kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang
jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari pada keadaan yang lazim pada
waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan mala petaka (UU No 4. Tahun 1984).
Kejadian Luar Biasa atau KLB dapat dijelaskan sebagai timbulnya atau meningkatnya
kejadian kesakitan atau kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu daerah
dalam kurun waktu tertentu. Kriteria tentang KLB mengacu pada Keputusan Dirjen No. 451/9.
Suatu kejadian dinyatakan luar biasa jika ada unsur:
1) Timbulnya suatu penyakit menular yang sebelumnya tidak ada atau tidak dikenal.
2) Peningkatan kejadian penyakit/kematian terus-menerus selama 3 kurun waktu berturut-
turut menurut jenis penyakitnya (jam,hari,minggu)
3) Peningkatan kejadian penyakit/kematian 2 kali lipat atau lebih dibandingkan dengan
periode sebelumnya (jam,hari,minggu,bulan,tahun).
4) Jumlah penderita baru dalam satu bulan menunjukkan kenaikan 2 kali lipat atau lebih bila
dibandingkan dengan angka rata-rata perbulan dalam tahun sebelumnya. Misalnya : wabah
malaria.
B. Kriteria Kerja Kejadian Luar Biasa (KLB)
KLB meliputi hal yang sangat luas seperti sampaikan pada bagian sebelumnya, maka
untuk mempermudah penetapan diagnosis KLB, pemerintah Indonesia melalui Keputusan
Dirjen PPM&PLP No. 451-I/PD.03.04/1999 tentang Pedoman Penyelidikan Epidemiologi dan
Penanggulangan KLB telah menetapkan criteria kerja KLB yaitu :
1) Timbulnya suatu penyakit/menular yang sebelumnya tidak ada atau tidak dikenal.
2) Peningkatan kejadian penyakit/kematian terus menerus selama 3 kurun waktu berturut-
turut menurut jenis penyakitnya.
3) Peningkatan kejadian/kematian >2 kali dibandingkan dengan periode sebelumnya.
4) Jumlah penderita baru dalam satu bulan menunjukkan kenaikan >2 kali bila dibandingkan
dengan angka rata-rata per bulan tahun sebelumnya.
5) Angka rata-rata perbulan selama satu tahun menunjukkan kenaikkan > 2 kali dibandingkan
angka rata-rata per bulan tahun sebelumnya.
6) CFR suatu penyakit dalam satu kurun waktu tertentu menunjukkan kenaikkan 50 % atau
lebih dibanding CFR periode sebelumnya.
7) Proporsional Rate penderita baru dari suatu periode tertentu menunjukkan kenaikkan > 2
kali dibandingkan periode yang sama dan kurun waktu/tahun sebelumnya.
Beberapa penyakit khusus seperti Kholera, DHF/DSSSetiap peningkatan kasus dari periode
sebelumnya (pada daerah endemis) Terdapat satu/lebih penderita baru dimana pada periode 4
minggu sebelumnya daerah tersebut dinyatakan bebas dari penyakit tersebut. Beberapa
penyakit yang dialami satu atau lebih penderita misalnya : keracunan makanan dan keracunan
peptisida.
C. Kekebalan Kelompok (Herd Immunity)
Kekebalan kelompok adalah tingkat kemampuan atau daya tahan suatu kelompok
penduduk tertentu terhadap serangan atau penyebaran unsur penyebab penyakit menular
tertentu berdasarkan tingkat kekebalan sejumlah tertentu anggota kelompok tersebut. Herd
Immunity merupakan faktor utama dalam proses kejadian wabah di masyarakat serta
kelangsungan penyakit pada suatu kelompok penduduk tertentu.Wabah terjadi karena 2
keadaan :
 Keadaan kekebalan populasi yakni suatu wabah besar dapat terjadi jika agent penyakit
infeksi masuk ke dalam suatu populasi yang tidak pernah terpapar oleh agen tersebut atau
kemasukan suatu agen penyakit menular yang sudah lama absen dalam populasi tersebut.
 Bila suatu populasi tertutup seperti asrama, barak dimana keadaan sangat tertutup dan
mudah terjadi kontak langsung, masuknya sejumlah orang-orang yang peka terhadap
penyakit tertentu dalam populasi tsb. Ex: Asrama mahasiswa/tentara.
D. Langkah-Langkah yang Dilakukan Jika Terjadi Wabah
Langkah pencegahan kasus dan pengendalian wabah dapat dimulai sedini mungkin
setelah tersedia informasi yang memadai. Bila investigasi atau penyelidikan wabah telah
memberikan fakta yang jelas mendukung hipotesis tentang penyebab terjadinya wabah,
sumber agen infeksi, dan cara transmisi yang menyebabkan wabah, maka upaya pengendalian
dapat segera dimulai tanpa perlu menunggu pengujian hipotesis. Tetapi jika pada investigasi
wabah belum memberikan fakta yang jelas maka dilakukan langkah-langkah sebagai berikut :
1. Mengidentifikasi Wabah. Wabah merupakan peningkatan kejadian kasus penyakit yang
lebih banyak daripada keadaan normal di suatu area tertentu atau pada suatu kelompok
tertentu, selama suatu periode waktu tertentu. Informasi tentang terjadinya wabah
biasanya datang dari sumber-sumber masyarakat, yaitu laporan pasien, keluarga pasien,
kader kesehatan, atau warga masyarakat. Tetapi informasi tentang terjadinya wabah bisa
juga berasal dari petugas kesehatan, laporan kematian, laporan hasil pemeriksaan
laboratorium, atau media lokal (suratkabar dan televisi). Pada dasarnya wabah merupakan
penyimpangan dari keadaan normal karena itu wabah ditentukan dengan cara
membandingkan jumlah kasus sekarang dengan rata-rata jumlah kasus dan variasinya di
masa lalu (minggu, bulan, tahun). Kenaikan jumlah kasus belum tentu mengisyaratkan
terjadinya wabah. Terdapat sejumlah faktor yang bisa menyebabkan jumlah kasus “tampak”
meningkat:
a) Variasi musim (misalnya, diare meningkat pada musim kemarau ketika air bersih langka)
b) Perubahan dalam pelaporan kasus;
c) Kesalahan diagnosis (misalnya, kesalahan hasil pemeriksaan laboratorium);
d) Peningkatan kesadaran petugas kesehatan (meningkatkan intensitas pelaporan);
e) Media yang memberikan informasi bias dari sumber yang tidak benar.
Terjadinya wabah dan teridentifikasinya sumber dan penyebab wabah perlu ditanggapi
dengan tepat.
Jika terjadi kenaikan signifikan jumlah kasus sehingga disebut wabah, maka pihak dinas
kesehatan yang berwewenang harus membuat keputusan apakah akan melakukan
investigasi wabah. Sejumlah faktor mempengaruhi dilakukan atau tidaknya investigasi
wabah:
a) Keparahan penyakit;
b) Potensi untuk menyebar;
c) Perhatian dan tekanan dari masyarakat;
d) Ketersediaan sumber daya. Beberapa penyakit menimbulkan manifestasi klinis ringan
dan akan berhenti dengan sendirinya (self-limiting diseases), misalnya flu biasa.
Implikasinya, tidak perlu dilakukan investigasi wabah maupun tindakan spesifik
terhadap wabah, kecuali kewaspadaan. Tetapi wabah lainnya akan terus berlangsung
jika tidak ditanggapi dengan langkah pengendalian yang tepat.
Sejumlah penyakit lain menunjukkan virulensi tinggi, mengakibatkan manifestasi klinis berat
dan fatal, misalnya flu burung. Implikasinya, sistem kesehatan perlu melakukan investigasi
wabah dan mengambil langkah-langkah segera dan tepat untuk mencegah penyebaran
lebih lanjut penyakit itu.
2. Melakukan Investigasi Wabah Pada Investigasi wabah dilakukan dua investigasi, yaitu
investigasi kasus dan investigasi penyebab. Pada investigasi kasus, peneliti melakukan
verifikasi apakah kasus-kasus yang dilaporkan telah didiagnosis dengan benar (valid).
Peneliti wabah mendefinisikan kasus dengan menggunakan seperangkat kriteria sebagai
berikut:
a) Kriteria klinis (gejala, tanda, onset);
b) Kriteria epidemiologis karakteristik orang yang terkena, tempat dan waktu terjadinya
wabah);
c) Kriterialaboratorium (hasil kultur dan waktu pemeriksaan).
Dengan menggunakan definisi kasus, maka individu yang diduga mengalami penyakit akan
dimasukkan dalam salah satu klasifikasi kasus. Berdasarkan tingkat ketidakpastian diagnosis,
kasus dapat diklasifikasikan menjadi:
a) kasus suspek (suspected case, syndromic case),
b) kasus mungkin (probable case, presumptive case),
c) kasus pasti (confirmed case, definite case).
Klasifikasi kasus yang berbeda tingkat kepastiannya tersebut memungkinkan dilakukannya
upaya untuk meningkatkan sensitivitas dan spesifisitas pelaporan. Kasus suspek bersifat
sensitive tetapi kurang spesifik, dengan tujuan mengurangi negatif palsu. Kasus mungkin
dan kasus pasti bersifat lebih sensitif dan lebih spesifik daripada kasus suspek, dengan
tujuan mengurangi positif palsu. Investigasi selanjutnya adalah investigasi penyebab
terjadinya wabah. Pada investigasi penyebab terjadinya wabah dapat dilakukan dengan
wawancara dan epidemiologi deskriptif. Pada wawancara intinya, tujuan wawancara
dengan kasus dan nara sumber terkait kasus adalah untuk menemukan penyebab terjadinya
wabah. Dengan menggunakan kuesioner dan formulir baku, peneliti mengunjungi pasien
(kasus), dokter, laboratorium, melakukan wawancara dan dokumentasi untuk memperoleh
informasi berikut:
a) Identitas diri (nama, alamat, nomer telepon jika ada);
b) Demografis (umur, seks, ras, pekerjaan);
c) Kemungkinan sumber, paparan, dan kausa;
d) Faktor-faktor risiko;
e) Gejala klinis (verifikasi berdasarkan definisi kasus, catat tanggal onset gejala untuk
membuat kurva epidemi, catat komplikasi dan kematian akibat penyakit);
f) Pelapor (berguna untuk mencari informasi tambahan dan laporan balik hasil investigasi).
Pemeriksaan klinis ulang perlu dilakukan terhadap kasus yang meragukan atau tidak
didiagnosis denganbenar (misalnya, karena kesalahan pemeriksaan laboratorium). Tujuan
epidemiologi deskriptif adalah mendeskripsikan frekuensi dan pola penyakit pada populasi
menurut karakteristik orang, tempat, dan waktu. Dengan menghitung jumlah kasus,
menganalisis waktu, incidence rate, dan risiko, peneliti wabah mendeskripsikan distribusi
kasus menurut orang, tempat, dan waktu, menggambar kurva epidemi, mendeskripsikan
kecenderungan (trends) kasus sepanjang waktu, luasnya daerah wabah, dan populasi yang
terkena wabah. Dengan epidemiologi deskriptif peneliti wabah bisa mendapatkan hipotesa
penyebab dan sumber wabah.
3. Melaksanakan penanganan wabah Bila investigasi kasus dan penyebab telah memberikan
fakta tentang penyebab, sumber, dan cara transmisi, maka langkah pengendalian
hendaknya segera dilakukan, tidak perlu melakukan studi analitik yang lebih formal.
Prinsipnya, makin cepat respons pengendalian, makin besar peluang keberhasilan
pengendalian. Makin lambat repons pengendalian, makin sulit upaya pengendalian, makin
kecil peluang keberhasilan pengendalian, makin sedikit kasus baru yang bisa dicegah.
Prinsip intervensi untuk menghentikan wabah sebagai berikut:
a) Mengeliminasi sumber patogen;
b) Memblokade proses transmisi;
c) Mengeliminasi erentanan. Eliminasi sumber patogen mencakup: Eliminasi atau
inaktivasi patogen; Pengendalian dan pengurangan sumber infeksi (source reduction);
Pengurangan kontak antara penjamu rentan dan orang atau binatang terinfeksi
(karantina kontak, isolasi kasus, dan sebagainya); Perubahan perilaku penjamu dan/
atau sumber (higiene perorangan, memasak daging dengan benar, dan sebagainya);
Pengobatan kasus. Blokade proses transmisi mencakup:
 Penggunaan peralatan pelindung perseorangan (masker, kacamata, jas, sarung
tangan, respirator);
 Disinfeksi/ sinar ultraviolet;
 Pertukaran udara/ dilusi;
 Penggunaan filter efektif untuk menyaring partikulat udara;
 Pengendalian vektor (penyemprotan insektisida nyamuk Anopheles, pengasapan
nyamuk Aedes aegypti, penggunaan kelambu berinsektisida, larvasida, dan
sebagainya).
Eliminasi kerentanan penjamu (host susceptibility) mencakup:
 Vaksinasi;
 Pengobatan (profilaksis, presumtif);
 Isolasi orang-orang atau komunitas tak terpapar (“reverse isolation”);
 Penjagaan jarak sosial (meliburkan sekolah, membatasi kumpulan massa).
4. Menetapkan Berakhirnya Wabah.
Pada tahap ini, langkah yang dilakukan sama dengan langkah pada mengidentifikasi wabah.
Pada tahap ini, dilakukan dengan mencari informasi tentang terjadinya wabah biasanya
datang dari sumber-sumber masyarakat, yaitu laporan pasien, keluarga pasien, kader
kesehatan, atau warga masyarakat. Informasi juga bisa berasal dari petugas kesehatan,
laporan kematian, laporan hasil pemeriksaan laboratorium, atau media lokal (suratkabar
dan televisi). Hal ini untuk menganalisis apakah program penanganan wabah dapat
menurunkan kasus yang terjadi.
5. Pelaporan Wabah
Peneliti wabah memberikan laporan tertulis dengan format yang lazim, terdiri dari:
introduksi, latar belakang, metode, hasil-hasil, pembahasan, kesimpulan, dan rekomendasi.
Laporan tersebut mencakup langkah pencegahan dan pengendalian, catatan kinerja sistem
kesehatan, dokumen untuk tujuan hukum, dokumen berisi rujukan yang berguna jika terjadi
situasi serupa di masa mendatang. Selain itu pada pelaporan wabah terdapat tahap akhir
dari investigasi wabah yaitu evaluasi program. Peneliti wabah perlu melakukan evaluasi
kritis untuk mengidentifikasi berbagai kelemahan program maupun defisiensi infrastruktur
dalam sistem kesehatan. Evaluasi tersebut memungkinkan dilakukannya perubahan-
perubahan yang lebih mendasar untuk memperkuat upaya program, sistem kesehatan,
termasuk surveilans itu sendiri.