Anda di halaman 1dari 15

TUGAS FINAL TSAQAFAH

RAHMADI SYAHPUTRA SR

UNIT 18

BAB 11 TARBIYAH ISLAMIYAH

Tarbiyah Islamiyah adalah suatu metode pembinaan kepribadian Muslim yang


bertujuan membentuk lahirnya manusia-manusia Muslim yang ideal.

Pentingnya Tarbiyah

Dari Aspek Internal Ajaran Islam

Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam membimbing umat manusia untuk keluar dari


kebodohan. Dengan ciri-ciri : kebodohan (ajahl), kehinaan (Dzillah), kemiskinan (faqr) dan
perpecahan (tanafur).

Kondisi umat Islam sekarang tidak memahami Islam itu sendiri sehingga akhirnya
terjebak dalam kondisi kejahiliyahan modern dengan kesesatan yang lebih dahsyat dan nyata
(QS. Al Imran(3) : 164) sehingga umat Islam berada pada tahap pengkeroposan yang
diakibatkan oleh :

a. Kecintaan pada dunia yang berlebihan dan takut mati.

b. Saling berpecah belah

c. Mengkotak-kotakan ajaran Islam

d. Penyimpangan ajaran Islam seperti meng-sipilis-mekan (sekularesme,pluralisme dan


liberalisme) Islam

e. Terbelenggu sinkritisme berbau TBC (tahayul, bid’ah & churofat)

f. Meninggalkan jihad.

Jalan keluar dari kesesatan salah satunya melalui pembinaan yang didalamnya
diajarkan tilawah (dibaca & dibacakan), tazkiyah (pembersihan diri) dan ta’limul kitab wal
hikmah (belajar Al-qur’an dan hadits) (QS. Al Baqarah (2) : 151). Sehingga akan
memperoleh nikmat yang akan mengantarkan kepada khoiru ummah (QS. Al Imran (3) : 110)
dengan ciri-ciri : berpengetahuan (ilmu), terhormat (izzah), kekayaan (ghina) dan
persaudaraan (ukhuwah).
BAB 12 AKHLAK DALAM ISLAM
Akhlak dalam islam adalah perbuatan yang dilakukan karena ikhlas semata-
mata karena Allah, bukan karena ingin dipuji orang atau karena ingin mendapatkan
suatu pujian.1

 Akhlak Mahmudah
Akhlak mahmudah adalah tingkah laku terpuji yang merupakan tanda
keimanan seseorang. Akhlak mahmudah atau akhlak terpuji ini dilahirkan dari sifat-
sifat yang terpuji pula”.

Sifat terpuji yang dimaksud adalah, antara lain: cinta kepada Allah, cinta
kepada rasul, taat beribadah, senantiasa mengharap ridha Allah, tawadhu’, taat dan
patuh kepada Rasulullah, bersyukur atas segala nikmat Allah, bersabar atas segala
musibah dan cobaan, ikhlas karena Allah, jujur, menepati janji, qana’ah, khusyu
dalam beribadah kepada Allah, mampu mengendalikan diri, silaturrahim, menghargai
orang lain, menghormati orang lain, sopan santun, suka bermusyawarah, suka
menolong kaum yang lemah, rajin belajar dan bekerja, hidup bersih, menyayangi
binatang, dan menjaga kelestarian alam.

 Akhlak Madzmumah
“Akhlak madzmumah adalah tingkah laku yang tercela atau perbuatan jahat
yang merusak iman seseorang dan menjatuhkan martabat manusia.”

Sifat yang termasuk akhlak mazmumah adalah segala sifat yang bertentangan
dengan akhlak mahmudah, antara lain: kufur, syirik, munafik, fasik, murtad, takabbur,
riya, dengki, bohong, menghasut, kikil, bakhil, boros, dendam, khianat, tamak, fitnah,
qati’urrahim, ujub, mengadu domba, sombong, putus asa, kotor, mencemari
lingkungan, dan merusak alam.

Demikianlah antara lain macam-macam akhlak mahmudah dan madzmumah.


Akhlak mahmudah memberikan manfaat bagi diri sendiri dan orang lain, sedangkan
akhlak madzmumah merugikan diri sendiri dan orang lain. Allah berfirman dalam
surat At-Tin ayat 4-6.Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia
dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan mereka ke tempat
yang serendah-rendahnya (neraka). Kecuali yang beriman dan beramal shalih, mereka
mendapat pahala yang tidak ada putusnya.”2

1
Ahmadi, Abu, Drs., H., dkk. 1991. MKDU Dasar-Dasar Pendidikan Agama Islam untuk Perguruan
Tinggi. Jakarta : Bumi Aksara.
2
Azra, Azyunardi, prof., Dr., dkk. 2002. Buku Teks Pendidikan Agama Islam pada Perguruan Tinggi
Umum. Jakarta : Direktur Perguruan Tinggi Agama Islam.
BAB 13 ADAB PERGAULAN DENGAN LAWAN JENIS

Salah satu godaan yang amat besar pada usia remaja adalah “rasa ketertarikan
terhadap lawan jenis”. Memang, rasa tertarik terhadap lawan jenis adalah fitrah manusia, baik
wanita atau lelaki. Namun kalau kita tidak bisa memenej perasaan tersebut,maka akan
menjadi mala petaka yang amat besar,baik untuk diri sendiri ataupun untuk orang yang kita
sukai. Sudah Allah tunjukkan dalam sebuah hadist Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

‫طا َو ْالقَ ْلبُ يَ ْه َوى‬َ ‫الرجْ ُل ِزنَاهَا ْال ُخ‬


ِ ‫ش َو‬ ْ َ‫سانُ ِزنَاهُ ْال َكالَ ُم َو ْاليَد ُ ِزنَاهَا ْالب‬
ُ ‫ط‬ َ ‫الل‬ ِ ‫ظ ُر َواألُذُن‬
ُ ‫َان ِزنَا ُه َما ا ِال ْس ِت َما‬
ِ ‫ع َو‬ ِ ‫فَ ْالعَ ْين‬
َ َّ‫َان ِزنَا ُه َما الن‬
ُ‫ِق ذَلِكَ ْالفَ ْر ُج َويُك َِذبُه‬ َ ُ‫َويَتَ َمنَّى َوي‬
ُ ‫صد‬

”Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan
adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah
dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu
kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim)

1. Dilarang untuk berkholwat (berdua-duaan)

Hal ini merupakan gambaran remaja umumnya saat ini,di mana batas-batas pergaulan di
sekolah umum sudah sangat tidak wajar dan melanggar prinsip Islam. Namun tidak mengapa
kita sekolah di sekolah umum jika tetap bisa menjaga adb-adab bergaul dengan lawan jenis.
Jika ada seorang laki-laki berduaan dengan seorang perempuan maka yang ketiga sebagai
pendampingnya adalah setan.

2. Menundukkan pandangan

Pandangan laki-laki terhadap perempuan atau sebaliknya adalah termasuk panah-panah


setan. Kalau cuma sekilas saja atau spontanitas atau tidak sengaja maka tidak menjadi
masalah pandangan mata tersebut, pandangan pertama yang tidak sengaja diperbolehkan
namun selanjutnya adalah haram.Ketika melihat lawan jenis,maka cepatlah kita tundukkan
pandangan itu, sebelum iblis memasuki atau mempengaruhi pikiran dan hati kita. Segera
mohon pertolongan kepada Allah agar kita tidak mengulangi pandangan itu.

3. Jaga aurat terhadap lawan jenis

Jagalah aurat kita dari pandangan laki-laki yang bukan mahramnya. Maksudnya mahram
di sini adalah laki-laki yang haram untuk menikahi kita. Yang tidak termasuk mahram seperti
teman sekolah, teman bermain, teman pena bahkan teman dekat pun kalau dia bukan mahram
kita, maka kita wajib menutup aurat kita dengan sempurna. Maksud sempurna di sini yaitu
kita menggunakan jilbab yang menjulur ke seluruh tubuh kita dan menutupi dada. Kain yang
dimaksud pun adalah kain yang disyariatkan, misal kainnya tidak boleh tipis, tidak boleh
sempit, dan tidak membentuk lekuk tubuh kita. Adapun yang bukan termasuk aurat dari
seorang wanita adalah kedua telapak tangan dan muka atau wajah.
4. Tidak boleh ikhtilat (campur baur antara wanita dan pria)

Ikhtilat itu adalah campur baurnya seorang wanita dengan laki-laki di satu tempat tanpa
ada hijab. Di mana ketika tidak ada hijab atau kain pembatas masing-masing wanita atau
lelaki tersebut bisa melihat lawan jenis dengan sangat mudah dan sesuka hatinya. Tentu kita
sebagai wanita muslimah tidak mau dijadikan obyek pandangan oleh banyak laki-laki bukan?
Oleh karena itu kita harus menundukkan pandangan,demikian pun yang laki-laki mempunyai
kewajiban yang sama untuk menundukkan pandangannya terhadap wanita yang bukan
mahramnya, karena ini adalah perintah Allah dalam Al Qur’an dan akan menjadi berdosa bila
kita tidak mentaatinya.

5. Menjaga kemaluan

Menjaga kemaluan juga bukan hal yang mudah,karena dewasa ini banyak sekali remaja
yamng terjebak ke dalam pergaulan dan seks bebas. Sebagai muslim kita wajib tahu
bagaimana caranya menjaga kemaluan. Caranya antara lain dengan tidak melihat gambar-
gambar yang senonoh atau membangkitkan nafsu syahwat, tidak terlalu sering membaca atau
menonton kisah-kisah percintaan, tidak terlalu sering berbicara atau berkomunikasi dengan
lawan jenis, baik bicara langsung (tatap muka) ataupun melalui telepon, SMS, chatting, YM
dan media komunikasi lainnya.

BAB 14 MENUTUP AURAT

Aurat adalah suatu angggota badan yang tidak boleh di tampakkan dan di
perlihatkan oleh lelaki atau perempuan kepada orang lain.3

Menutup aurat hukumnya wajib sebagaimana kesepakatan para ulama


berdasarkan firman Allâh Azza wa Jalla:

ۖ ‫ظ َه َر ِم ْن َها‬ َ ‫ظنَ فُ ُرو َج ُه َّن َو َال يُ ْبدِينَ ِزينَت َ ُه َّن ِإ َّال َما‬ ْ َ‫ار ِه َّن َويَحْ ف‬
ِ ‫ص‬َ ‫ضضْنَ ِم ْن أ َ ْب‬ ُ ‫ت يَ ْغ‬ ِ ‫َوقُ ْل ِل ْل ُمؤْ ِمنَا‬
‫اء بُعُولَتِ ِه َّن أ َ ْو أ َ ْبنَا ِئ ِه َّن‬ َ ‫َو ْليَض ِْربْنَ ِب ُخ ُم ِر ِه َّن‬
ِ َ‫علَ ٰى ُجيُو ِب ِه َّن ۖ َو َال يُ ْبدِينَ ِزينَت َ ُه َّن ِإ َّال ِلبُعُولَ ِت ِه َّن أ َ ْو آبَائِ ِه َّن أ َ ْو آب‬
‫ت أ َ ْي َمانُ ُه َّن أ َ ِو‬ ْ ‫سائِ ِه َّن أ َ ْو َما َملَ َك‬َ ِ‫َاء بُعُولَتِ ِه َّن أ َ ْو إِ ْخ َوانِ ِه َّن أ َ ْو بَنِي إِ ْخ َوانِ ِه َّن أ َ ْو بَنِي أَخ ََواتِ ِه َّن أ َ ْو ن‬
ِ ‫أ َ ْو أ َ ْبن‬
َ‫اء ۖ َو َال يَض ِْربْن‬ ِ ‫س‬َ ِ‫ت الن‬ ِ ‫ع ْو َرا‬ َ ‫علَ ٰى‬ َ ‫ظ َه ُروا‬ ْ َ‫الط ْف ِل الَّذِينَ لَ ْم ي‬ ِ ‫الر َجا ِل أ َ ِو‬ ِ َ‫اْل ْربَ ِة ِمن‬ِ ْ ‫غي ِْر أُو ِلي‬ َ َ‫التَّابِعِين‬
َ‫َّللا َج ِميعًا أَيُّهَ ْال ُمؤْ ِمنُونَ لَعَلَّ ُك ْم ت ُ ْف ِل ُحون‬ ِ َّ ‫بِأ َ ْر ُج ِل ِه َّن ِليُ ْعلَ َم َما ي ُْخفِينَ ِم ْن ِزينَتِ ِه َّن ۚ َوتُوبُوا ِإلَى‬

3
[Lihat al-Mausû’ah al Fiqhiyah al Kuwaitiyah, 31/44]
BATASAN-BATASAN AURAT.

1. Pertama. Aurat Sesama Lelaki

Terjadi perbedaan pendapat di kalangan para Ulama tentang batasan aurat sesama
lelaki, baik dengan kerabat atau orang lain. Pendapat yang paling kuat dalam hal ini adalah
pendapat jumhur Ulama yang mengatakan bahwa aurat sesama lelaki adalah antara pusar
sampai lutut. Artinya pusar dan lutut sendiri bukanlah aurat sedangkan paha dan yang lainnya
adalah aurat. Adapun dalil dalam hal ini, semua hadistnya terdapat kelemahan pada sisi
sanadnya , tetapi dengan berkumpulnya semua jalur sanad tersebut menjadikan hadist
tersebut bisa di kuatkan redaksi matannya sehingga dapat menjadi hujjah.

2. Aurat Lelaki Dengan Wanita

Jumhur Ulama sepakat bahwasanya batasan aurat lelaki dengan wanita mahramnya
ataupun yang bukan mahramnya sama dengan batasan aurat sesama lelaki. Tetapi mereka
berselisih tentang masalah hukum wanita memandang lelaki. Pendapat yang paling kuat
dalam masalah ini ada dua pendapat.

3. Aurat Wanita Dihadapan Para Lelaki Yang Bukan Mahramnya

Diantara sebab mulianya seorang wanita adalah dengan menjaga auratnya dari
pandangan lelaki yang bukan mahramnya. Oleh kerena itu agama Islam memberikan rambu-
rambu batasan aurat wanita yang harus di tutup dan tidak boleh ditampakkan. Para Ulama
sepakat bahwa seluruh anggota tubuh wanita adalah aurat yang harus di tutup, kecuali wajah
dan telapak tangan yang masih diperselisihkanoleh para Ulama tentang kewajiban
menutupnya.

4. Aurat Wanita Di depan Mahramnya

Mahram adalah seseorang yang haram di nikahi kerena adanya hubungan nasab,
kekerabatan dan persusuan. Pendapat yang paling kuat tentang aurat wanita di depan
mahramnya yaitu seorang mahram di perbolehkan melihat anggota tubuh wanita yang biasa
nampak ketika dia berada di rumahnya seperti kepala, muka, leher, lengan, kaki, betis atau
dengan kata lain boleh melihat anggota tubuh yang terkena air wudhu. Hal ini berdasarkan
keumuman ayat dalam surah an-Nûr, ayat ke-31, insyaAllâh akan datang penjelasannya pada
batasan aurat wanita dengan wanita lainnya.
BAB 15 MANAJEMEN WAKTU

Dalam Islam waktu adalah suatu hal yang penting, mengapa? dalam surat Al ‘Ashr ayat 1-3
Allah SWT berfirman “Demi Masa (Waktu)…” yang menunjukkan betapa berharga dan
pentingnya waktu tersebut. Selain itu dalam hadits Nabi SAW. berpesan agar kita manfaatkan
5 masa/waktu : “Masa muda sebelum tua, sehat sebelum sakit, kaya sebelum miskin, luang
sebelum sibuk, hidup sebelum mati” (HR.Al-Baihaqi). Dalam aturan-aturan terkait ibadah
mahdhoh seperti sholat, puasa, zakat, haji pun memberi penekanan pada waktu.

Tips-Tips Manajemen Waktu

1. Membuat target dan perencanaan

Tulislah target jangka pendek dan jangka panjang, selalu manfaatkan waktu luang ex. saat
dalam perjalanan selalu bawa buku atau/dan Al Quran. Pada saat perang Khandaq, Rasulullah
membuat strategi pembuatan Parit yang sangat terencana sehingga bisa selesai tepat waktu.

2. Mempersiapkan rencana cadangan

Ingat!!! Manusia hanya bisa merencanakan, dan mutlak Allah sajalah yang berhak untuk
menetukan. Ketika perang mu’tah, Rasulullah menunjuk 3 orang panglima perang untuk
bersiap2. Jika panglima pertama syahid maka akan digantikan panglima kedua, dst.

3. Program yang dibuat dalam mencapai target harus realistis, terukur dan adil

Target boleh melangit tapi program mesti membumi. Adil dalam artian tidak merugikan
orang lain. Saat perang Khandaq, umat islam yang jumlahnya hanya 3 ribu harus
mengalahkan pasukan romawi yang jumlahnya 10 ribu. Jika dipikir secara logika mungkin
hal itu hanyalah sebuah mimpi, namun dalam pelaksanaannya tetap membumi yakni dengan
strategi pembuatan parit sehingga umat Islam bisa memenangkan peperangan.

4. Disiplin dalam rencana

Ketidak disiplinan dalam perencanaan bisa berakibat fatal. Ingat pepatah bijak “Gagal
merencanakan sama saja dengan merencanakan kegagalan”. Kalau kita cermati kisah perang
uhud, maka dapat diambil ibroh bahwa sesungguhnya yang menyebabkan kekalahan umat
islam ketika itu adalah pasukan pemanah yang dipersiapkan untuk berjaga-jaga di bukit uhud
tidak disiplin meninggalkan posisinya karena ghonimah perang yang ada di bawah bukit
sehingga musuh yang hampir kalah malah menyerang balik.

5. sempurna dalam beramal (itqon=profesional)


Sebaiknya kita menyelesaikan satu masalah dulu baru berganti ke masalah yang lain.

6. Tentukan skala prioritas

Imam Hasan Al Banna mengatakan “Sesungguhnya kewajiban itu lebih banyak dari waktu
yang tersedia”, jadi suatu hal yang penting bagi kita untuk menentukan skala prioritas dalam
pelaksanaannya dimulai dari penting & mendesak, tidak penting tapi mendesak, penting tapi
tidak mendesak, dan tidak penting & tidak mendesak. Tapi jangan pula kita membenturkan
sesuatu yang seharusnya tidak berbenturan. misalnya kuliah dengan syuro, dsb.

BAB 16 BAHAYA NARKOBA MENURUT ISLAM

Hukum penggunaan narkoba dalam pandangan islam sebenarnya telah dijelaskan sejak lama.
Tepatnya pada 10 Februari 1976, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa bahwa
penyalahgunaan dan peredaran narkoba hukumnya bersifat haram. Keputusan tersebut tentu didasari
atas dalil-dalil agama yang bersumber dari Al-quaran dan hadist.

Menurut ulama, narkoba adalah sesuatu yang bersifat mukhoddirot (mematikan rasa) dan mufattirot
(membuat lemah). Selain itu, narkoba juga merusak kesehatan jasmani, mengganggu mental bahkan
mengancam nyawa. Maka itu, hukum penggunaan narkoba diharamkan dalam islam.

Dalil-Dalil yang Mengharamkan Narkoba


Terdapat banyak sekali dalil, baik ayat Al-quran, hadist ataupun pendapat ulama yang menjelaskan
keharaman penyalahgunaan narkoba. Diantaranya yaitu:

1. Hadist dari Umar bin Khattab R.A

Dari Umar bin Khattab radiallahu ‘anh, “Khamar adalah segala sesuatu yang menutup akal.” (HR
Bukhari Muslim).

2. Hadist dari Ummu Salamah

Dari Ummu Salamah mengatakan, “Rasulullah SAW melarang segala sesuatu yang memabukkan dan
melemahkan (menjadikan lemah).” (HR Abu Daud).

3. Pendapat Ibnu Taimiyah Rahimahullah

“Memakan (mengisap) ganja yang keras ini terhukum haram, ia termasuk seburuk-buruk benda kotor
yang diharamkan. Sama saja hukumnya, sedikit atau banyak, tetapi mengisap dalam jumlah banyak
dan memabukkan adalah haram menurut kesepakatan kaum Muslim. Barangsiapa yang menganggap
bahwa ganja halal maka dia termasuk kafir dan diharuskan bertobat. Jika ia bertobat maka urusannya
dianggap selesai. Tetapi jika ia tidak mau bertobat maka dia harus dibunuh sebagai orang murtad yang
tidak perlu dimandikan jenazahnya, tidak perlu dishalati dan tidak boleh dikubur di permakaman
kaum Muslim”.
Dalam kitab al-fatawa al-kubra, ibnu taimiyah juga mengatakan bahwa segala sesuatu yang bisa
menghilangkan keasadaran akal itu adalah haram, meskipun tidak sampai memberi efek
memabukkan. Mengonsumsi sesuatu yang menghilangkan akal adalah haram berdasarkan ijma’ kaum
muslimin.

4. Pendapat Ash-shan’ani

Ash-shan’ani menjelaskan dalam kitab subulussalam, bahwa sesungguhnya segala sesuatu yang
memabukan adalah haram, apapun jenis dan bentuknya. Tidak harus alkohol. Meskipun bukan
berbentuk minuman, seperti ganja tetap saja haram.

5. Hadist dari Abu Hurairah R.A

Dari Abu Hurairah radiallahu ‘anh, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa yang sengaja menjatuhkan dirinya dari gunung hingga mati, maka dia di neraka
Jahannam dalam keadaan menjatuhkan diri di (gunung dalam) neraka itu, kekal selama lamanya.
Barangsiapa yang sengaja menenggak racun hingga mati maka racun itu tetap ditangannya dan dia
menenggaknya di dalam neraka Jahannam dalam keadaan kekal selama lamanya. Dan barangsiapa
yang membunuh dirinya dengan besi, maka besi itu akan ada ditangannya dan dia tusukkan ke
perutnya di neraka Jahannam dalam keadaan kekal selama lamanya” (HR Bukhari dan Muslim).

Narkoba termasuk dianggap racun karena dapat merusak organ tubuh dan menganggu jiwa.

BAB 17 AL-UKHUWWAH AL-ISLAMIYAH

Perjuangan Islam tidak akan tegak tanpa adanya ukhuwah islamiyah.


Islam menjadikan persaudaraan dalam islam dan iman sebagai dasar bagi aktifitas perjuangan
untuk menegakkan agama Allah di muka bumi. Ukhuwah islamiyah akan melahirkan rasa
kesatuan dan menenangkan hati manusia. Banyak persaudaraan lain yang bukan karena islam
dan persaudaraan itu tidak akan kuat dan kekal. Persaudaraan Islam yang dijalin oleh Allah
SWT merupakan ikatan terkuat yang tiada tandingannya.
Poerpecahan dikalangan umat dewasa ini terjadi disebabkan mereka tidak memenuhi
persyaratan ukhuwah, yaitu kurangnya mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah yang
bersungguh-sungguh. Allah SWT berfirman, ketaatan beribadah dan ketakwaan sebagai
solusi dari perpecahan umat. Lihat Q.S.49:10 dan 8 :1

1. Melaksanakan proses ta’aruf (saling mengenal). Literaturnya : 49:13

Adanya interaksi dapat lebih mengenal karakter individu. Perkenalan pertama tentunya
kepada penampilan fisik (Jasadiyyan), seperti tubuh, wajah, gaya pakaian, gaya bicara,
tingkah laku, pekerjaan, pendidikan, dsb. Selanjutnya interaksi berlanjut ke pengenalan
pemikiran(Fikriyyan). Hal ini dilakukan dengan dialog, pandangan thd suatu masalah,
kecenderungan berpikir, tokoh idola yang dikagumi/diikuti,dll. Dan pengenalan terakhir
adalah mengenal kejiwaan (Nafsiyyan) yang ditekankan kepada upaya memahami kejiwaan,
karakter, emosi, dan tingkah laku. Setiap manusia tentunya punya keunikan dan kekhasan
sendiri yang memepengaruhi kejiwaannya. Proses ukuhuwah islamiyah akan terganggu
apabila tidak mengenal karakter kejiwaan ini.
2. Melaksanakan proses tafahum (saling memahami) Al-Hadits

Saling memahami adalah kunci ukhuwah islamiyah. Tanpa tafahum maka ukhuwah tidak
akan berjalan. Proses ta’aruf/pengenalan dapat deprogram namun proses tafahum dapat
dilakukan secara alami bersamaan dgn berjalannya ukhuwah. Dengan saling memahami
maka setiap individu akan mudah mengatahui kekuatan dan kelemahannya dan menerima
perbedaan. Dari sini akan lahirlah ta’awun (saling tolong menolong) dalam persaudaraan.
Ukhuwah tidak dapat berjalan apabila seseorang selalu ingin dipahami dan tidak berusaha
memahami org lain. Saling memahami keadaan dilakukan dgn cara penyatuan hati, pikiran
dan amal. Allah-lah yang menyatukan hati manusia.

3. Melakukan At-Ta’aawun (saling tolong menolong). Q.S. 5::2

Bila saling memahami sudah lahir maka timbullah rasa ta’awun. Ta’awun dapat dilakukan
dengan hati (saling mendo’akan), pemikiran (berdiskusi dan saling menasehati), dan ama(
saling Bantu membantu).
Saling membantu dalan kebaikan adalah kebahagiaan tersendiri. Manusia adalah makhluk
social yang butuh berinteraksi dan butuhbantuan org lain. Kebersamaan akan bernila bila kita
mengadakan saling Bantu membantu.

4. Melaksanakan proses takaful (saling menanggung/senasib sepenanggungan)

yang muncul setelah proses ta’awun berjalan. Rasa sedih dansenang diselesaikan bersama.
Takaful adalah tingkatan ukhuwah yang tertinggi. Banyak kisah dan hadits Nabi SAW dan
para sahabat yang menunjukkan pelaksanaan takaful ini. Seperti ketika seorang sahabat
kehausan dan memberikan jatah airnya kepada sahabat lainnya yang merintih kehausan juga,
namun setelah diberi, air itu diberikan lagi ek sahabat yang lain, terus begitu hingga semua
mati dalam kondisi kehausan. Mereka saling mengutamakan saudaranya sendiri dibandingkan
dirinya (itsar). Inlah cirri utama dari ukhuwah islamiyah.
Hadits : Tidak beriman seseorang diantaramu hingga kamu mencintainya seperti kamu
mencintai dirimu sendiri (HR. Bukhari-Muslim).

BAB 18 PERAN PEMUDA DALAM ISLAM

Pemuda Bagaikan Burung Elang Demikian pula seorang pemuda muslim yang cermat
dan teliti bagaikan seekor burung elang. Seekor burung elang dengan kepakan sayap yang
kuat mampu terbang tinggi di angkasa, sehingga memiliki pandangan yang luas dan mata
yang tajam dalam mengincar mangsanya yang siap diterkam. Begitulah seorang pemuda yang
memiliki pandangan yang luas dan mata yang tajam tentang medan dakwah, sehingga ia
mampu memanfaatkan peluang di setiap kesempatan untuk ditanamkan nilai – nilai dakwah.
Begitulah seorang pemuda yang membawa keberkahan di setiap tempat dan keadaan, ia tidak
akan membiarkan waktu berlalu tanpa disertai dengan nilai dakwah, bahkan yang ada dalam
sanubarinya seraya hati kecilnya berkata “ Hidup Adalah untuk Dakwah “.

Demikianlah gambaran seorang Nabi yang Allah jelaskan dalam firmannya :

َّ ‫ص َالةِ َو‬
‫الزكَاةِ َما د ُْمتُ َحيًّا‬ َ ‫ار ًكا أَيْنَ َما ُك ْنتُ َوأ َ ْو‬
َّ ‫صانِي ِبال‬ َ َ‫َو َج َعلَنِي ُمب‬

“Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi dimana saja aku berada dan Dia
memerintahkan kepadaku sholat dan zakat selama aku hidup” (Maryam : 31 ). Syaikh As-
Sa’di berkata : “ Yaitu diberkahi dimana saja dan kapan saja, maka barakah telah Allah
jadikan pada diriku yang berupa mengajarkan kebaikan, mendakwahkannya, melarang dari
keburukan dan berdakwah kepada Allah dengan perkataan dan perbuatan. Maka setiap orang
yang duduk dan berkumpul bersamanya akan mendapatkan barakahnya dan bahagia
bersamanya. (Tafsir As – Sa’di: 492). Seekor burung elang akan berhasil mendapatkan
mangsa apabila bersabar dalam mencarinya dan disertai keyakinan bahwa ia akan
mendapatkan mangsanya, demikian pula keberhasilan seorang pemuda akan tercapai apabila
memiliki kesabaran dalam mengarungi medan dakwah dan yakin dengan janji Allah bahwa
kemenangan dan pertolongan sangatlah dekat. Allah Ta’ala berfirman:

َ ‫َو َجعَ ْلنَا ِم ْن ُه ْم أَئِ َّمةً َي ْهد ُونَ بِأ َ ْم ِرنَا َل َّما‬
َ‫صبَ ُروا َوكَانُوا بِآيَا ِتنَا يُوقِنُون‬

“Dan kami jadikan diantara mereka itu pemimpin – pemimpin yang memberi
petunjuk dengan perintah Kami selama mereka bersabar dan mereka meyakini ayat – ayat
kami“

(As- Sajdah : 24). Rasulullah shalallahu alaihi wasallam juga mengajarkan sebuah
doa:

‫ َواجْ عَ ْلنَا ُهدَاةً ُم ْهتَدِين‬، ‫ان‬ ِ ‫اللَّ ُه َّم زَ ِينَّا ِب ِزينَ ِة‬
ِ ‫اْلي َم‬
“Wahai Allah hiasilah diri kami dengan perhiasan iman dan jadikanlah kami orang
yang memberi petunjuk dan mendapatkan petunjuk“. ( HR. An- Nasai, No.1305 ). Semoga
seorang pemuda muslim yang berwawasan luas memiliki kepekaan dan cermat di dalam
melihat sebuah peluang dakwah di lingkungan keluarga, masyarakat, sekolah, bangsa dan
negaranya.

BAB 19 MENJAUHKAN DIRI DARI DOSA-DOSA BESAR

Allah ta’ala menjelaskan bahwa jika kita meninggalkan dan menjauhi dosa – dosa besar,
maka Allah akan menghapus dosa – dosa kita yang kecil dan memasukkan kita ke dalam
JannahNya. Allah ta’ala berfirman:

(‫س ِيئ َاتِ ُك ْم َونُد ِْخ ْل ُك ْم ُمدْخ ًَال ك َِري ًما‬


َ ‫) ِإ ْن تَجْ تَنِبُوا َكبَائِ َر َما ت ُ ْن َه ْونَ َع ْنهُ نُك َِف ْر َع ْن ُك ْم‬

Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu
mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan
Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga). QS. An-Nisa’ 31.
Apa yang dimaksud dengan dosa – dosa besar dan dosa – dosa kecil?

Dosa – dosa besar adalah setiap kemaksiatan yang disertai dengan ancaman akan azab yang
keras atau setiap kemaksiatan yang mewajibkan sanksi had/hudud.

Menurut pendapat yang lain, dosa besar itu ada tujuh sebagaimana dalam hadits
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
‫الر َبا‬ ِ ‫َّللاُ ِإ َّال ِب ْال َح‬
ِ ‫ق َوأَ ْك ُل‬ َّ ‫اَّللِ َوالسِحْ ُر َوقَتْ ُل النَّ ْف ِس الَّ ِتي َح َّر َم‬
َّ ‫َّللاِ َو َما ه َُّن قَا َل الش ِْركُ ِب‬ ُ ‫ت قَالُوا َيا َر‬
َّ ‫سو َل‬ ِ ‫س ْب َع ْال ُمو ِبقَا‬ َّ ‫اجْ ت َ ِنبُوا ال‬
ْ
ِ ‫ت الغَافِ َال‬
‫ت‬ ْ
ِ ‫ت ال ُمؤْ ِمنَا‬
ِ ‫صنَا‬ ْ
َ ْ‫ف ال ُمح‬ ْ
ُ ‫ف َوقَذ‬ِ ْ‫الزح‬ ْ
َّ ‫َوأ َ ْك ُل َما ِل اليَتِ ِيم َوالت َّ َو ِلي يَ ْو َم‬

“Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan”. Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah,
apakah itu? Beliau bersabda: “Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan
oleh Allah kecuali dengan haq, memakan riba, makan harta anak yatim, kabur dari medan
peperangan dan menuduh seorang wanita mu’min yang suci berbuat zina”. HR. Bukhari dan
Muslim.

Menurut riwayat yang lain, termasuk dari dosa besar adalah durhaka kepada kedua orang tua
dan kesaksian palsu karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membicarakannya dalam
setiap kesempatan yang berhubungan dengannya

Allah ta’ala menjelaskan bahwa jika kita meninggalkan dan menjauhi dosa – dosa besar,
maka Allah akan menghapus dosa – dosa kita yang kecil dan memasukkan kita ke dalam
JannahNya. Allah ta’ala berfirman:

(‫س ِيئ َاتِ ُك ْم َونُد ِْخ ْل ُك ْم ُمدْخ ًَال ك َِري ًما‬


َ ‫) ِإ ْن تَجْ تَنِبُوا َك َبائِ َر َما ت ُ ْن َه ْونَ َع ْنهُ نُك َِف ْر َع ْن ُك ْم‬

Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu
mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan
Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga). QS. An-Nisa’ 31.

Apa yang dimaksud dengan dosa – dosa besar dan dosa – dosa kecil?

Dosa – dosa besar adalah setiap kemaksiatan yang disertai dengan ancaman akan azab yang
keras atau setiap kemaksiatan yang mewajibkan sanksi had/hudud.

Menurut pendapat yang lain, dosa besar itu ada tujuh sebagaimana dalam hadits
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
‫الر َبا‬ ِ ‫َّللاُ ِإ َّال ِب ْال َح‬
ِ ‫ق َوأَ ْك ُل‬ َّ ‫اَّللِ َوالسِحْ ُر َوقَتْ ُل النَّ ْف ِس الَّ ِتي َح َّر َم‬
َّ ‫َّللاِ َو َما ه َُّن قَا َل الش ِْركُ ِب‬ ُ ‫ت قَالُوا َيا َر‬
َّ ‫سو َل‬ ِ ‫س ْب َع ْال ُمو ِبقَا‬
َّ ‫اجْ ت َ ِنبُوا ال‬
ْ
ِ ‫ت الغَافِ َال‬
‫ت‬ ْ
ِ ‫ت ال ُمؤْ ِمنَا‬
ِ ‫صنَا‬ ْ
َ ْ‫ف ال ُمح‬ ْ
ُ ‫ف َوقَذ‬ِ ْ‫الزح‬ َّ ْ
َّ ‫َوأ َ ْك ُل َما ِل اليَتِ ِيم َوالت َو ِلي يَ ْو َم‬

“Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan”. Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah,
apakah itu? Beliau bersabda: “Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan
oleh Allah kecuali dengan haq, memakan riba, makan harta anak yatim, kabur dari medan
peperangan dan menuduh seorang wanita mu’min yang suci berbuat zina”. HR. Bukhari dan
Muslim.
Menurut riwayat yang lain, termasuk dari dosa besar adalah durhaka kepada kedua orang tua
dan kesaksian palsu karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membicarakannya dalam
setiap kesempatan yang berhubungan dengannya.

BAB 20 TAUBAT

Secara Syar’i, taubat adalah meninggalkan dosa karena takut pada Allâh, menganggapnya
buruk, menyesali perbuatan maksiatnya, bertekad kuat untuk tidak mengulanginya, dan
memperbaiki apa yang mungkin bisa diperbaiki kembali dari amalnya.

SYARAT-SYARAT TAUBAT

Pertama : Hendaknya taubat itu dilakukan dengan ikhlas. Artinya, yang mendorong dia
untuk bertaubat adalah kecintaannya kepada Allâh Azza wa Jalla , pengagungannya terhadap
Allâh, harapannya untuk pahala disertai rasa takut akan tertimpa adzab-Nya. Ia tidak
menghendaki dunia sedikitpun dan juga bukan karena ingin dekat dengan orang-orang
tertentu. Jika ini yang dia inginkan maka taubatnya tidak akan diterima. Karena ia belum
bertaubat kepada Allâh Azza wa Jalla namun ia bertaubat demi mencapai tujuan-tujuan dunia
yang dia inginkan.

Kedua : Menyesali serta merasa sedih atas dosa yang pernah dilakukan, sebagai bukti
penyesalan yang sesungguhnya kepada Allâh dan luluh dihadapan-Nya serta murka pada
hawa nafsunya sendiri yang terus membujuknya untuk melakukan keburukan. Taubat seperti
ini adalah taubat yang benar-benar dilandasi akidah, keyakinan dan ilmu.

Ketiga : Segera berhenti dari perbuatan maksiat yang dia lakukan. Jika maksiat atau dosa itu
disebabkan karena ia melakukan sesuatu yang diharamkan, maka dia langsung meninggalkan
perbuatan haram tersebut seketika itu juga. Jika dosa atau maksiat akibat meninggalkan
sesuatu yang diwajibkan, maka dia bergegas untuk melakukan yang diwajibkan itu seketika
itu juga. Ini apabila hal-hal wajib yang ditinggalkan itu bisa diqadha’, misalnya zakat atau
haji.

Keempat : Bertekad untuk tidak mengulangi dosa tersebut di masa yang akan datang. Karena
ini merupakan buah dari taubatnya dan sebagai bukti kejujuran pelakunya.

Kelima : Taubat itu dilakukan bukan pada saat masa penerimaan taubat telah habis.

KEUTAMAAN TAUBAT

Allâh Azza wa Jalla memerintahkan para hamba-Nya untuk bertaubat dan berjanji akan
menerima taubat mereka. Allâh Azza wa Jalla berfirman:
َ َ‫َوه َُو الَّذِي يَ ْقبَ ُل التَّ ْوبَة‬
‫ع ْن ِعبَا ِد ِه‬

Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya.. [Asy-Syura / 42: 25]

Dia membuka pintu harapan bagi hamba-Nya untuk meraih maaf dan ampunan-Nya. Allâh
Azza wa Jalla juga memerintahkan agar mereka bersandar pada kemurahan dan
kedermawanan-Nya, memohon agar kesalahan-kesalahan digugurkan, aibnya ditutupi dan
agar taubat mereka diterima. Tidak ada yang bisa menolak mereka dari rahmat Allâh Azza
wa Jalla dan pintu antara mereka dan Allâh pun tidaklah dikunci.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

ُ َ‫علَ ٰى أَ ْنفُس ِِه ْم ََل تَ ْقن‬


َّ ‫طوا ِم ْن َرحْ َم ِة‬
ۚ ِ‫ّللا‬ ْ َ ‫ِي الَّ ِذينَ أ‬
َ ‫س َرفُوا‬ َ ُ‫ّللاَ يَ ْغ ِف ُر الذُّن‬
َ ‫وب ج َِميعًا ۚ قُ ْل يَا ِع َباد‬ َّ َّ‫الر ِحي ُم ِإن‬ ُ ُ‫إِنَّهُ ه َُو ا ْلغَف‬
َّ ‫ور‬

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri,
janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allâh. Sesungguhnya Allâh mengampuni dosa-
dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [Az-
Zumar/39:53]

Barangsiapa bertaubat dan meminta ampun, Allâh Azza wa Jalla akan menerima taubatnya.
Allâh Azza wa Jalla berfirman:

ْ ‫ّللاَ فَا‬
َ ُ‫ستَ ْغفَ ُروا ِلذُنُوبِ ِه ْم َو َم ْن يَ ْغ ِف ُر الذُّن‬
َّ ‫وب إِ ََّل‬
ُ‫ّللا‬ َ ُ‫احشَةً أ َ ْو َظلَ ُموا أ َ ْنف‬
َّ ‫س ُه ْم ذَك َُروا‬ ِ َ‫َوالَّ ِذينَ إِذَا فَعَلُوا ف‬

Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri
sendiri, mereka ingat akan Allâh, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan
siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allâh? [Ali Imran / 3: 135]

BAB 21 BAHAYA TAKFIR

PENGERTIAN.

Kufur secara bahasa artinya penutupan, tutup. Sedangkan takfir adalah penjatuhan vonis
kafir.

MACAM-MACAM TAKFIR

Mengkafirkan seorang muslim ada dua macam:

1. Takfir muthlaq yaitu pengkafiran secara umum, tanpa menentukan orang atau individu
tertentu. Contoh ucapan pengkafiran secara muthlaq: “Barangsiapa berdoa kepada orang
mati, maka ia kafir” atau “Barangsiapa menyembelih untuk selain Allah, maka ia kafir”
atau “Barangsiapa yang mengatakan Al-Qur’an itu makhluk, maka ia kafir”.
2. Takfir mu’ayyan yaitu pengkafiran terhadap individu tertentu. Contoh ucapan: “Udin telah
kafir karena ia berdoa kepada orang-orang mati” atau “Gus fulan kafir karena menyembelih
untuk selain Allah”.
SYARAT TAKFIR MU’AYYAN.

Untuk takfir mu’ayyan yaitu mengkafirkan individu/pribadi tertentu, membutuhkan dua hal:

Pertama: Ada ketetapan yang sudah jelas (berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah). Bahwa
sesuatu yang dilakukan oleh seseorang tertentu merupakan perbuatan yang benar-benar
bersifat kekafiran.

Kedua: Syarat-syarat kekafiran atas diri seseorang sudah tepat dan tidak ada penghalang.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: syarat seseorang dapat dihukumi
sebagai kafir adalah:

1. Mengetahui jelas bahwa perbuatannya tersebut adalah mukaffir (yaitu menyebabkan ia


kafir), sehingga apabila ia tidak mengerti (jahil), maka ia belum kafir.
2. Dilakukan dengan sengaja.
3. Tidak ada paksaan. Maka tidak kafirnya orang yang dipaksa.
Firman Allah swt.

Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (Dia mendapat kemurkaan Allah),
kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (Dia tidak
berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan
Allah menimpanya dan baginya azab yang besar. (Qs. An Nahl 16: 106).

MENGKAFIRKAN ORANG ISLAM ADALAH PENGHALALAN DARAHNYA.

Sabda Rasulullah saw.

‫َّللاِ ِإ َّال ِبإِحْ دَى‬ ُ ‫َّللاُ َوأ َ ِني َر‬


َّ ‫سو ُل‬ َّ ‫ئ ُم ْس ِل ٍم َي ْش َهد ُ أ َ ْن َال ِإلَهَ ِإ َّال‬
ٍ ‫سلَّ َم َال َي ِح ُّل دَ ُم ا ْم ِر‬ َّ ‫صلَّى‬
َ ‫َّللاُ َعلَ ْي ِه َو‬ َّ ‫سو ُل‬
َ ِ‫َّللا‬ ُ ‫َّللاِ قَا َل قَا َل َر‬
َّ ‫َع ْن َع ْب ِد‬
ْ
َ ‫ار ُق ِلل َج َما‬
‫ع ِة‬ ْ
ِ َ‫اركُ ِلدِينِ ِه ال ُمف‬ ْ
ِ َّ‫س بِالنَّف ِس َوالت‬ ْ َّ ُ‫ث الثَّيِب‬
ُ ‫الزانِي َوالنَّف‬ ٍ ‫ث َ َال‬

Dari Abdullah (bin Mas’ud ra), ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, “Darah seorang
muslim yang bersaksi bahwa tidak ada ilah kecuali Allah dan aku adalah Rasul Allah, tidak
halal kecuali karena salah satu dari tiga hal: tsayyib (seorang yang telah menikah) yang
berzina, nyawa (dibalas) dengan nyawa, dan orang yang meninggalkan agamanya serta
memisahkan diri dari jama’ahnya.” (HR. Muttafaqun ‘Alaihi).

Ibnu Hajar Al Haitamy berkata, “Hadits ini merupakan kaidah yang sangat vital karena
berhubungan dengan sesuatu yang juga vital, yaitu darah. Hadits ini juga menjelaskan tentang
haram-tidaknya darah tersebut yang hukum asalnya adalah ‘ishmah (mesti dilindungi dan
tidak boleh dibunuh), demi menjaga eksistensi manusia yang diciptakan dalam bentuk
terbaik.”

َ َّ‫سلَّ َم أ ُ ِم ْرتُ أ َ ْن أُقَاتِ َل الن‬


َّ ‫اس َحتَّى يَقُولُوا َال ِإلَهَ ِإ َّال‬
‫َّللاُ فَ َم ْن قَا َل‬ َ ‫علَ ْي ِه َو‬ َّ ‫صلَّى‬
َ ُ‫َّللا‬ َّ ‫سو ُل‬
َ ِ‫َّللا‬ ُ ‫َّللاُ َع ْنهُ قَا َل قَا َل َر‬
َّ ‫ي‬َ ‫ض‬ِ ‫أ َ َّن أَبَا ه َُري َْرة َ َر‬
َّ ‫سابُهُ َعلَى‬
ِ‫َّللا‬ َ ‫سهُ َو َمالَهُ إِ َّال بِ َح ِق ِه َو ِح‬
َ ‫ص َم ِمنِي نَ ْف‬ َّ ‫َال إِلَهَ إِ َّال‬
َ ‫َّللاُ فَقَدْ َع‬
Bahwa Abu Hurairah ra berkata, Bersabda Rasulullah saw: “Saya diperintahkan untuk
memerangi manusia sehingga mereka berkata bahwa tidak ada ilah selain Allah. Dan
barangsiapa yang mengatakan ‘Tidak ada ilah selain Allah’ maka darah dan hartanya terjaga
dariku kecuali dengan haknya sedang hisabnya berada di sisi Allah.” (HR. Muttafaqun
‘Alaihi).

ُ ‫َّللاُ َوأ َ َّن ُم َح َّمدًا َر‬


‫سو ُل‬ َّ ‫اس َحتَّى يَ ْش َهد ُوا أ َ ْن َال ِإلَهَ إِ َّال‬ َ َّ‫سلَّ َم قَا َل أ ُ ِم ْرتُ أ َ ْن أُقَاتِ َل الن‬ َّ ‫صلَّى‬
َ ‫َّللاُ َعلَ ْي ِه َو‬ ُ ‫ع َم َر أ َ َّن َر‬
َّ ‫سو َل‬
َ ِ‫َّللا‬ ُ ‫َع ْن اب ِْن‬
َ
َّ ‫سابُ ُه ْم َعلى‬
ِ‫َّللا‬ َ
َ ‫اْلسْال ِم َو ِح‬ ْ
ِ ‫ق‬ َّ َ َ
ِ ‫ص ُموا ِمنِي ِد َما َء ُه ْم َوأ ْم َوال ُه ْم إِال بِ َح‬ َ ُ َ َ َ َّ ُ
َ ‫صالة َ َويُؤْ توا الزكَاة َ فإِذا فعَلوا ذلِكَ َع‬ َ َّ
َّ ‫َّللاِ َويُ ِقي ُموا ال‬

Dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah saw telah bersabda: “Aku diperintahkan untuk memerangi
manusia hingga mereka bersaksi; tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan
bahwa sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan
zakat. Jika mereka lakukan yang demikian maka mereka telah memelihara darah dan harta
mereka dariku kecuali dengan haq Islam dan perhitungan mereka ada pada Allah” (HR.
Muttafaqun ‘Alaihi).