Anda di halaman 1dari 2

Klasifikasi Etiologi

Tanda dan Gejala 1. Retardasi mental lambat belajar (slow learner, IQ= 85-90) Menurut Mutaqqin (2008):
1. Penampilan fisik tidak seimbang: kepala
2. Retardasi mental taraf perbatasan (borderliner, IQ= 70-84) 1.Faktor Genetik
terlalu kecil/terlalu besar, mulut
melongo, mata sipit/mongoloid, badan 3. Retardasi mental ringan (debil atau moron) (mild, IQ= 55- Kelainan jumlah dan bentuk kromosom
bungkuk, 69) misalnya trisomi-21 atau dikenal
4. Retardasi mental sedang (moderate, IQ= 36-54) dengan Mongolia atau Down
2. Kecerdasan terbatas Syndrome
3. Tidak mampu mengurus diri sendiri 5. Retardasi mental berat/ imbecile (seveer, IQ= 20-35) 2. Faktor Prenatal
tanpa bantuan orang lain sesuai usia 6. Retardasi mental sangat berat atau idiot (profound, IQ= 0- a. Gizi
4. Arah minat sangat terbatas kepada 19) (Mutaqqin, 2008). b. Mekanis
hal-hal yang terbatas dan sederhana c. Toksin
saja- Perkembangan bahasa/bicara d. Endokrin
e. Radiasi
lambat
f. Infeksi yaitu virus seperti
5. Tidak ada/kurang sekali perhatian campak, influenza, TBC.
terhadap lingkungannya(pandangan Retardasi mental merupakan keadaan dengan intelegensi g. Stres
kosong) dan perhatiannya labil, kurang (abnormal) atau dibawah rata-rata sejak masa perkembangan h. Imunitas
sering berpindah-pindah. (sejak lahir atau sejak masa kanak-kanak). Retardasi mental ditandai i. Anoksia embrio.
6. Koordinasi gerakan kurang, gerakan 3. Faktor Perinatal
kurang terkendali
dengan adanya keterbatasan intelektual dan ketidakcakapan dalam
a. Proses kelahiranyang lama.
7. Daya ingatnya lemah, emosi sangat interaksi sosial (Sandra, 2010). Proses kelahiran yang lama
miskin dan terbatas, apatis, dan acuh misalnya plasenta previa,
tak acuh terhadap sekitarnya. rupture tali umbilicus
8. Sering ngiler/keluar cairan dari mulut. b. Posisi janin yang abnormal
seperti letak bokong atau
melintang, anomali uterus, dan
kelainan bentuk jalan lahir.
Penatalaksanaan c. Kecelakaan pada waktu lahir
dan kegawatan fatal.
1.Medis 4. Faktor Pascanatal
a. Obat-obat psikotropika a. Akibat infeksi (meningitis,
(tiroidazin, mellaril) ensefalitis, meningoensefalitis)
b. Trauma kapitis dan tumor otak
b. Psikostimulan c. Kelainan tulang
c. Antidepresan d. Tengkorak
(imipromin) e. Kelainan endokrin dan
d. Carbamazepin metabolik keracunan pada otak.
(tegretol)
dan propanol (inderal)
2. Melibatkan :
a. Psikolog
b. Dokter anak
c. Pekerja sosial
d. Psikiater
e. Ahli rehabilitasi medis
f. Ahli terapi wicara
g. Orang tua
h. Pendidikan khusus
i. Pemeriksaan
kesehatan yang rutin,
imunisasi, dan
monitoring terhadap
tumbuh kembangnya
(IDAI, 2011).
1. Sediakan
lingkungan aman
dan nyaman. Pemeriksaan Penunjang
2. Manajemen anak 1. Kromosom kariotipe
dengan perilaku 2. EEG
sulit 3. Ultrasonografi (USG)
3. Batasi aktivitas 4. CT atau MRI
yang berlebihan. 5. Titer virus
6. Serum asam urat Laktat dan
piruvat
7. Plasma asam lemak rantai
sangat panjang
8. Serum seng (Zn)
9. Logam berat dalam darah
10. Serum tembaga (Cu) dan
ceruloplasmin
11. Serum asam amino atau asam
organik
12. Plasma ammonia
13. Analisa enzim lisozom pada
lekosit atau biopsy kulit:
14. Urin mukopolisakarida
15. Anak diatas 3 tahun
1. Diskusikan makanan yang dilakukan tes intelegensia
disukai 1. Tingkatkan komunikasi verbal
2. Buat jadwal masukan tiap jam dan stimulasi taktil
2. Berikan instruksi sederhana
3. Beritahu pasien untuk duduk
1. Bina hubungan saling percaya dengan anak. secara berulang
saat makan
2. Kaji faktor-faktor penyebab kelainan 3. Berikan waktu yang cukup untuk
4. Timbang BB tiap hari berkomunikasi
5. Kolaborasi dengan ahli gizi perkembangan pada anak
4. Dorong anak untuk
3. Identifikasi kebutuhan-kebutuhan anak. berkomunikasi dengan dunia
4. Berikan stimulasi aktivitas sesuai umur luar.
5. Monitor pola dari pertumbuhan (TB, BB, Contoh koran, TV, kalender dan
Lingkar kepala dan rujuk pada ahli gizi untuk jam.
Komplikasi memperoleh intervensi nutrisi).
1. Serebral palsi
2. Gangguan kejang
3. Gangguan kejiwaan Pencegahan
4. Gangguan konsentrasi/hiperaktif
5. Defisit komunikasi Melalui imunisasi/konseling perkawinan,
6. Konstipasi (karena penurunan pemeriksaan kehamilan rutin, nutrisi yang baik selama
motilitas usus akibat obat-obatan,
kurang meng- konsumsi makanan
kehamilan, dan bersalin pada tenaga kesehatan yang
berserat dan cairan) (IDAI, 2011). berwenang, maka dapat membantu menurunkan angka
kejadian retardasi mental (Mutaqqin, 2008).