Anda di halaman 1dari 11

PANDUAN PPELAYANAN

IDENTIFIKASI PASIEN

JL. HOS COKROAMINOTO NO.96 ENGGAL


PAHOMAN BANDARLAMPUNG 35213
TELP. 0721 252519

1
DOKUMEN TIM SKP
DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI...........................................................................................2
BAB I PENDAHULUAN
1.1 DEFINISI ............................................................................... 3
1.2 Tujuan ......................................................................................... 3
1.3 Prinsip ................................................................................... 3
BAB II RUANG LINGKUP ........................................................................ 4
2.1 Lingkup Area ............................................................................... 4
2.2 Kewajiban Dan Tanggunga Jawab 4
BAB III TATA LAKSANA ...................................................................5
3.1 Prosedur Yang Membutuhkan Identifikasi Pasien ..................... 5
3.2 Identifikasi Pasien ......................................................................... 5
3.3 Gelang Identitas Pasien................................................................. 6
3.4 Identifikasi Pasien Pada Kondisi Tertentu (Khusus) .................... 8
3.5 Algoritma Identifikasi Pasien ....................................................... 9
3.6 Pelaporan Insiden/Kejadian Kesalahan Identifikasi Pasien .......... 9
BAB IV DOKUMENTASI .......................................................................... 11
4.1 Revisi Dan Audit ....................................................................... 11

2
DOKUMEN TIM SKP
BAB I
DEFINISI IDENTIFIKASI PASIEN

1.1 Definisi
Pengertian identifikasi adalah proses pengumpulan data dan pencatatan segala
keterangan tentang bukti-bukti dari seseorang sehingga kita dapat menetapkan dan
menyamakan keterangan tersebut dengan individu seseorang. Dengan kata lain bahwa
dengan identitas kita dapat mengetahui identitas seseorang dan dengan identitas tersebut
kita mengenal seseorang dengan membedakan dari orang lain.
Gelang identifikasi pasien adalah suatu alat berupa gelang identifikasi yang dipasangkan
kepada pasien secara individual yang digunakan sebagai identitas pasien selama dirawat di
rumah sakit.

1.2 Tujuan
a. Mendeskripsikan prosedur untuk memastikan tidak terjadinya kesalahan dalam
identifikasi pasien selama perawatan di RSIA Mutiara Putri.
b. Mengurangi kejadian/ kesalahan yang berhubungan dengan salah identifikasi.
Kesalahan ini dapat berupa salah pasien, kesalahan prosedur, kesalahan medikasi,
kesalahan tranfusi dan kesalahan pemeriksaan diagnostik.

1.3 Prinsip
a. Semua pasien rawat inap, IGD, dan yang akan menjalani suatu prosedur harus
diidentifikasi dengan benar saat masuk rumah sakit dan selama masa perawatannya.
b. Kapanpun dimungkinankan, pasien rawat inap harus menggunakan gelang pengenal
dengan minimal 2 data (nama pasien, tanggal lahir).
c. Tujuan utama tanda pengenal ini adalah untuk mengidentifikasi pemakainya.
d. Tanda pengenal ini digunakan pada proses untuk mengidentifikasi pasien ketika
pemberian obat, darah, atau produk darah; pengambilan darah dan spesimen lain untuk
pemeriksaan klinis; atau pemberian pengobatan atau tindakan lain.

3
DOKUMEN TIM SKP
BAB II
RUANG LINGKUP

2.1 Lingkup Area


a. Panduan ini diterapkan kepada semua pasien rawat inap, pasien Instalasi Gawat
Darurat (IGD), rawat jalan (pemberian imunisasi, pemberiaan obat), ruang operasi,
kamar bersalin, penunjang medis dan pasien yang akan menjalani prosedur.
b. Pelaksana panduan ini adalah para tenaga kesehatan (medis, perawat, bidan, dan
tenaga kesehatan lainnya).
c. Pasien diidentifikasi saat di Instalasi Gawat Darurat, Ruang Bersalin dan poliklinik
untuk pasien yang akan dirawat inap.

2.2 Kewajiban Dan Tanggung Jawab


2.2.1 Seluruh staf Rumah Sakit
a. Memahami dan menerapkan prosedur identifikasi pasien.
b. Memastikan identifikasi pasien yang benar ketika pemberian obat, darah, atau
produk darah; pengambilan darah dan spesimen lain untuk pemeriksaan klinis;
atau pemberian pengobatan atau tindakan lain.
c. Melaporkan kejadian salah identifikasi pasien; termasuk hilangnya gelang
pengenal.
2.2.2 Perawat yang bertugas (perawat penanggung jawab pasien)
a. Bertanggung jawab memakaikan gelang pengenal pasien dan memastikan
kebenaran data yang tercatat di gelang pengenal.
b. Memastikan gelang pengenal terpasang dengan baik. Jika terdapat kesalahan
data, gelang pengenal harus diganti, dan bebas coretan.
2.2.3 Penanggung Jawab Ruang
a. Memastikan seluruh staf diInstalasi tmemahami prosedur identifikasi pasien dan
menerapkannya.
b. Menyelidiki semua insidens salah identifikasi pasien dan memastikan
terlaksananya suatu tindakan untuk mencegah terulangnya kembali insidens
tersebut.
2.2.4 Manajer
a. Memantau dan memastikan panduan identifikasi pasien dikelola dengan baik
oleh Kepala Instalasi.
b. Menjaga standarisasi dalam menerapkan panduan identifikasi pasien.

BAB III
TATA LAKSANA

3.1 Prosedur Yang Membutuhkan Identifikasi Pasien


3.1.1 Berikut adalah beberapa prosedur yang membutuhkan identifikasi pasien :
a. Pemberian obat-obatan.

4
DOKUMEN TIM SKP
b. Prosedur pemeriksaan radiologi (rontgen, dan sebagainya).
c. Intervensi pembedahan dan prosedur invasif lainnya.
d. Transfusi darah.
e. Pengambilan sampel (misalnya darah, tinja, urin, dan sebagainya).
f. Transfer pasien.
g. Konfirmasi kematian.

3.2 Identifikasi Pasien


a. Identifikasi pasien dilaksanakan dengan dengan dua cara, yaitu nama, dan tanggal lahir
di Instalasi : (IGD, rawat inap, rawat jalan (pemberian imunisasi, pemberiaan obat),
ruang operasi, kamar bersalin, dan penunjang medis.
Apabila pasien tidak ingat tanggal lahirnya, maka identifikasi pasien dilakukan dengan
nama, alamat, dan no rekam medis.
b. Pasien tidak boleh diidentifikasi menggunakan nomor kamar atau lokasi pasien.
c. Petugas menjelaskan tujuan identifikasi dengan cara memberikan edukasi mengenai
identifikasi kepada pasien dan keluarganya :
1. Pentingnya untuk melakukan dua kali pengecekan yaitu:
a) pertama, untuk identifikasi pasien sebagai individu yang akan menerima
pelayanan atau pengobatan;
b) kedua, untuk kesesuaian pelayanan atau pengobatan terhadap individu tersebut.
2. Pentingnya pasien/keluarganya mengingatkan petugas apabila dalam melakukan
tindakan tidak mengkonfirmasi identitas.
3. Menjelaskan kepada pasien bahwa petugas kesehatan akan selalu menanyakan
nama dan tanggal lahir, sebelum melakukan tindakan / pemberian obat
4. Saat menanyakan identitas pasien, selalu gunakan pertanyaan terbuka, (jangan
menggunakan pertanyaan tertutup contoh: pertanyaan terbuka “siapa nama anda?”,
pertanyaan tertutup “apakah anda ibu Susi?’
c. Semua pasien harus diidentifikasi dengan benar sebelum:
1. Pemberian obat
a. Setiap pemberian obat di setiap Instalasi pelayanan
1) secara verbal: tanyakan nama pasien
2) secara visual : lihat gelang pasien dua dari tiga identitas, cocokkan dengan
perintah dokter
2. Pemberian obat di rawat inap dapat terjadi beberapa kali dalam sehari, untuk
pertemuan pertama
a. secara verbal: tanyakan nama pasien
b. secara visual: lihat gelang pasien dua dari tiga identitas, cocokkan dengan
perintah dokter
3. Pertemuan berikutnya dapat dilihat secara visual saja ke gelang pasien, dua identitas
dari tiga identitas.
a. Pemberian darah atau transfusi darah
Pemberian transfusi darah, verifikasi dilakukan oleh dua orang dengan
menggunakan check pemberian transfusi darah. Dua langkah dalam pengecekan
checklist pemberian transfusi darah :
1. cocokkan produk darah dengan instruksi dokter dalam berkas rekam medik,
format permintaan darah, kantong darah dan kartu label, bila langkah pertama
belum ada kecocokan, maka perlu dilakukan verifikasi kembali
2. cocokkan produk darah, kartu label dengan identitas pasien.
b. Pengambilan darah dan spesimen lain untuk pemeriksaan klinis;
1. secara verbal : tanyakan nama pasien
2. secara visual : lihat gelang pasien dua dari tiga identitas, cocokkan dengan
perintah dokter
a. Pemberian prosedur tindakan
b. Tindakan radiologi

5
DOKUMEN TIM SKP
3. Meminta pasien untuk menyebutkan nama lengkap dan tanggal lahirnya,
untuk semua pasien yang akan dilakukan pemeriksaan radiologi.
4. Khusus untuk pasien rawat inap dan one day care, periksa dan bandingkan
data pada gelang pengenal dengan rekam medis. Jika data yang diperoleh
sama, lakukan prosedur.
5. Jika terdapat ≥ 2 pasien di departemen radiologi dangan nama yang sama,
periksa ulang identitas dengan melihat alamat rumahnya.
6. Jika data pasien tidak lengkap, informasi lebih lanjut harus diperoleh sebelum
pajanan radiasi (exposure) dilakukan.
2. Tindakan operasi :
a. Petugas di kamar operasi harus mengkonfirmasi identitas pasien.
b. Jika diperlukan untuk melepas gelang pengenal selama dilakukan operasi,
tugaskanlah seorang perawat di kamar operasi untuk bertanggungjawab
melepas dan memasang kembali gelang pengenal pasien.
c. Gelang pengenal yang dilepas harus ditempelkan di depan rekam medis
pasien.
3.3 Gelang Identitas Pasien
a. Pemakaian Gelang Identitas, Setiap pasien rawat inap dan “one day care” harus
menggunakan gelang identitas.
b. Jelaskan tujuan pemasangan gelang dengan cara memberikan edukasi pemasangan
gelang kepada pasien dan keluarganya, mengenai:
1. manfaat gelang identitas
2. menjelaskan bahaya bila pasien menolak pemasangan gelang, melepas dan
menutupi gelang
c. Yang tercantum di gelang pengenal pasien sebaiknya mencakup 3 (tiga) detail
wajib yang dapat mengidentifikasi pasien, yaitu:
1. Nama pasien dengan minimal 2 (dua) suku kata, tidak boleh disingkat dan sesuai
rekam medis
2. Tanggal lahir pasien (tanggal/bulan/tahun)
3. Nomor rekam medis
d. Identifikasi pada bayi baru lahir atau neonatus, gunakan gelang pengenal di kaki
kanan karena untuk pasien di rsia mutiara putri bayi tidak di bedong untuk tujuan
identifikasi.
1. Bayi baru lahir
b. Untuk bayi baru lahir yang masih belum diberi nama, data di gelang pengenal
berisikan jenis kelamin bayi, nama ibu, tanggal dan jam lahir bayi, nomor
rekam medis bayi, dan cara kelahiran.
c. Ibu bayi menggunakan gelang bayi yang berisi jenis kelamin bayi , nama ibu,
berat badan bayi, panjang badan bayi, cara lahir, warna gelang disesuaikan
dengan jenis kelamin bayi, jadi ibu yang melahirkan akan menggunakan 2
gelang yaitu gelang ibu dan gelang bayi.
d. Saat nama bayi sudah didaftarkan, gelang pengenal berisi data ibu dapat dilepas
dan diganti dengan gelang pengenal yang berisikan data bayi.
e. Gunakan gelang pengenal berwarna merah muda (pink) untuk bayi
perempuan dan biru untuk bayi laki-laki.
f. Pada kondisi di mana jenis kelamin bayi sulit ditentukan, gunakan gelang
pengenal berwarna putih.
3. Bayi sakit yang dirawat (Perinatologi)
a. gelang pengenal berisi data bayi dipasangkan pada tangan yang tidak terpasang
infus, jika pasien tidak diinfus gelang dipasang pada tangan kanan bayi
b. Gunakan gelang pengenal berwarna merah muda (pink) untuk bayi perempuan
dan biru untuk bayi laki-laki.
4. Pakaikan gelang pengenal di pergelangan tangan pasien yang dominan, pastikan
gelang terpasang dengan baik dan nyaman untuk pasien.

6
DOKUMEN TIM SKP
5. Jika tidak dapat dipakaikan di pergelangan tangan, pakaikan di pergelangan kaki.
Pada situasi di mana tidak dapat dipasang di pergelangan kaki, gelang pengenal
dapat dipakaikan di baju pasien di area yang jelas terlihat petugas. Gelang
pengenal harus dipasang ulang jika baju pasien diganti dan harus selalu menyertai
pasien sepanjang waktu. (Hal ini harus dicatat di rekam medis).
6. Pengecekan gelang pengenal dilakukan tiap kali:
a. Pergantian jaga perawat : dinas pagi, dinas sore, dinas malam
b. Sebelum pasien ditransfer ke Instalasi lain, seperti halnya: dari IGD ke Instalasi
rawat inap, OK ke Instalasi rawat inap dan lain-lain.
7. Warna Gelang identitas pasien di RSIA Mutiara Putri :
a. Merah Muda untuk Perempuan
b. Biru Muda untuk Laki- laki
8. Identitas pasien yang beresiko, mempergunakan sticker berwarna yang dipasang di
gelang pasien yaitu:
a. Sticker warna Merah →Alergi (riwayat alergi obat-obatan, makanan)/ tes
antibiotik dengan hasil positif.
b. Sticker warna Kuning → Resiko Jatuh (pasien Dewasa : Morse Fall Scale;
pasien Anak: Humpty Dumpty; Pasien Lansia : Hendrich)
1. Pelaksanaan asessmen resiko jatuh: (dilakukan oleh perawat Instalasi Gawat
Darurat, Instalasi Kamar Operasi, Instalasi Rawat Inap)
2. Pemasangan Sticker kuning dilakukan saat assessment resiko jatuh dengan
skor tinggi dan sedang
a. Instalasi Gawat Darurat : Pertama kali pasien dilakukan asessmen resiko
jatuh.
b. Instalasi Kamar Operasi : Pasien dilakukan asessmen setelah menjalankan
operasi.
c. Rawat Inap: dipergunakan untuk asessmen ulang resiko jatuh.
9. Gelang ber warna Ungu →Do not resuscitate (tidak diresusitasi)
Bila ada pasien di unit pelayanan, biasanya pasien dalam keadaan coma, pasien
yang menghadapi tahap terminal, pasien usia lanjut dalam keadaan coma.
Diawali dengan penjelasan oleh DPJP, kepada keluarga pasien, kemudian setelah
mendapat penjelasan, keluarga diminta menandatangani persetujuan (informed
consent) untuk tidak dilakukan resusitasi saat pasien menghadapi tahap terminal,
proses tersebut di catat dalam rekam medis pasien.
10. Stiker warna Hijau →Resiko apabila ada nama sama
a. Jika terdapat pasien dengan nama yang sama, harus diinformasikan kepada
perawat yang bertugas setiap kali pergantian jaga.
b. Berikan label / penanda berupa ‘pasien dengan nama yang sama’ di lembar
pencatatan, lembar obat-obatan, dan lembar tindakan.
c. Kartu bertanda ‘“HATI-HATI PASIEN NAMA SAMA”’ harus dipasang di
tempat tidur pasien agar petugas dapat memverifikasi identitas pasien.
11. Stiker warna Hitam →Pasien meninggal
a. Pasien yang meninggal di ruang rawat rumah sakit harus dilakukan konfirmasi
terhadap identitasnya dengan gelang pengenal dan rekam medis (sebagai
bagian dari proses verifikasi kematian).
b. Semua pasien yang telah meninggal harus diberi identifikasi dengan
menggunakan gelang pengenal yang diberikan stiker hitam.
c. Satu salinan surat kematian harus ditempelkan di kain kafan. Salinan kedua
harus ditempelkan di kantong jenazah (body bag). Salinan ketiga disimpan di
rekam medis pasien.
12. Pada kasus pasien yang tidak menggunakan gelang pengenal karena alasan alergi
atau yang lainnya, maka:
a. Pasien harus diinformasikan akan risiko yang dapat terjadi jika gelang pengenal
tidak dipakai. Alasan pasien harus dicatat pada rekam medis.

7
DOKUMEN TIM SKP
b. Jika pasien menolak menggunakan gelang pengenal, petugas harus lebih
waspada dan mencari cara lain untuk mengidentifikasi pasien dengan benar
sebelum dilakukan prosedur kepada pasien.
13. Gelang pengenal harus dipakai oleh semua pasien selama perawatan di rumah
sakit karena identifikasi pasien harus mengikuti pasien kemanapun dan yang tak
mudah/bisa berubah.
14. Pasien Rawat Jalan
a. Tidak perlu menggunakan gelang pengenal
b. Sebelum melakukan suatu prosedur/ terapi, tenaga medis harus menanyakan
identitas pasien berupa nama dan tanggal lahir. Data ini harus dikonfirmasi
dengan yang tercantum pada rekam medis.
c. Jika pasien adalah rujukan dari dokter umum / puskesmas / layanan kesehatan
lainnya, surat rujukan harus berisi identitas pasien berupa nama lengkap,
tanggal lahir, dan alamat. Jika data ini tidak ada, prosedur / terapi tidak dapat
dilaksanakan.
d. Jika pasien rawat jalan tidak dapat mengidentifikasi dirinya sendiri, verifikasi
data dengan menanyakan keluarga / pengantar pasien.
15. Pelepasan Gelang Pengenal, saat pasien pulang atau keluar dari rumah sakit.
a. Gelang pengenal hanya dilepas saat pasien pulang atau keluar dari rumah sakit.
b. Yang bertugas melepas gelang pengenal adalah perawat yang
bertanggungjawab terhadap pasien selama masa perawatan di rumah sakit.
c. Gelang pengenal dilepas setelah semua proses selesai dilakukan. Proses ini
meliputi: pemberian obat-obatan kepada pasien dan pemberian penjelasan
mengenai rencana perawatan selanjutnya kepada pasien dan keluarga.
d. Gelang pengenal yang sudah tidak dipakai harus digunting menjadi potongan-
potongan kecil sebelum dibuang ke tempat sampah.
e. Terdapat kondisi-kondisi yang memerlukan pelepasan gelang pengenal
sementara (saat masih dirawat di rumah sakit), misalnya lokasi pemasangan
gelang pengenal mengganggu suatu prosedur. Segera setelah prosedur selesai
dilakukan, gelang pengenal dipasang kembali.
16. Identifikasi dalam penyajian makanan menggunakan label dengan mencantumkan
nama pasien, no rekam medik, tanggal lahir, dan diet yang dibutuhkan. Yang
ditempelkan pada menu makanan yang disajikan kepada pasien.
3.4 Identifikasi Pasien Pada Kondisi Tertentu (Khusus)
a. Identifikasi diberikan kepada Ibu yang akan menyusui bayinya, untuk bayinya yang
masih di rawat di Rumah Sakit dengan meninggalkan fotocopi KTP dan identifikasi
ibu yang mau menyusui bayinya dengan menyebutkan tanggal lahir, jenis kelamin
anak dan berat badan saat lahir.
b. Pasien yang tidak dapat berkomunikasi, terpasang gelang identitas, (bayi)/ pasien tidak
sadar/ gangguan mental: identifikasi dilakukan dengan mencocokkan identitas gelang
pasien dengan identitas pada berkas rekam medis
c. Kesadaran menurun dan tidak ada keluarga: gelang identitas mencantumkan : Tn. X/
Nn X, tanggal, jam masuk RS, dan nomor rekam medis
d. Tidak memiliki ekstremitas atas: pasang di kaki atau identifikasi dilakukan dengan
menempelkan stiker identitas di baju pasien.

8
DOKUMEN TIM SKP
3.5 Algoritma Identifikasi Pasien

Pasien masuk rumah sakit

Dirawat untuk menjalani


Melalui IGD
operasi elektif

Apakah terdapat rekam Apakah terdapat rekam


medis sebelumnya ? medis sebelumnya ?

YA TIDAK YA TIDAK

· · Identitas diperiksa dan ·


· Identitas diperiksa dari Lengkapi Identitas Lengkapi Identitas
pasien. dibandingkan dengan pasien.
rekam medis.
· rekam medis. ·
· Buatlan gelang pengenal Gelang pasien dibuat dan Gelang pasien dibuat dan
diperiksa ulang pada · Buatlan gelang pengenal diperiksa ulang pada
berisi nama depan dan
pasien. berisi nama depan dan pasien.
tengah, tanggal lahir,
tengah, tanggal lahir,
nomor rekam medis.
nomor rekam medis.
· Data gelang pengenal di
· Data gelang pengenal di
periksa ulang pada
periksa ulang pada
pasien.
pasien.

Gelang pengenal dipakaikan ke pergelangan tangan pasien yang


dominan (misal : di tangan yang digunakan untuk menulis)

Gelang pengenal diperiksa, pasien diminta menyebutkan nama


lengkap dan tanggal lahirnya sebelum menjalani prosedur, seperti :
· Pengambilan darah/semple cairan tubuh lainnya.
· Transfusi darah.
· Pemberian obat-obatan.
· Intervensi pembedahan dan prosedur invasif lainnya.
· Transfer pasien.
· Prosedur pemeriksaan radiologi (rontgen, MRI, dan sebagainya)

· Gelang pengenal harus


diperiksa setiap pergantian
jam jaga oleh perawat
berikutnya untuk memastikan
Lepaskan gelang
gelang terpasang dengan
pengenal saat pasien
baik dan terbaca.
pulang / keluar dari rumah
· Ganti gelang pengenal jika
sakit.
terdapat kesalahan data.
· Jangan mencoret atau
menimpa tulisan sebelumnya
dengan data baru.

3.6 Pelaporan Insiden / Kejadian Kesalahan Identifikasi Pasien


a. Setiap petugas yang menemukan adanya kesalahan dalam identifikasi pasien harus
segera melapor kepada petugas yang berwenang di ruang rawat / departemen tersebut,
kemudian melengkapi laporan insidens.
b. Petugas harus berdiskusi dengan Kepala Unit atau Manajer mengenai pemilihan cara
terbaik dan siapa yang memberitahukan kepada pasien / keluarga mengenai kesalahan
yang terjadi akibat kesalahan identifikasi.
c. Contoh kesalahan yang dapat terjadi adalah:
1. Kesalahan penulisan alamat di rekam medis
2. Kesalahan informasi / data di gelang pengenal
3. Tidak adanya gelang pengenal di pasien

9
DOKUMEN TIM SKP
4. Misidentifikasi data / pencatatan di rekam medis
5. Misidentifikasi pemeriksaan radiologi (rontgen)
6. Misidentifikasi laporan investigasi
7. Misidentifikasi perjanjian (appointment)
8. Registrasi ganda saat masuk rumah sakit
9. Salah memberikan obat ke pasien
10. Pasien menjalani prosedur yang salah
11. Salah pelabelan identitas pada sampel darah
Kesalahan juga termasuk insidens yang terjadi akibat adanya misidentifikasi, dengan atau
tanpa menimbulkan bahaya, dan juga insidens yang hampir terjadi di mana
misidentifikasi terdeteksi sebelum dilakukan suatu prosedur.
d. Beberapa penyebab umum terjadinya mis- identifikasi adalah :
1. Kesalahan pada administrasi / tata usaha :
a. Salah memberikan label
b. Kesalahan mengisi formulir
c. Kesalahan memasukkan nomor / angka pada rekam medis.
d. Penulisan alamat yang salah.
e. Pencatatan yang tidak benar / tidak lengkap / tidak terbaca.,
2. Kegagalan verifikasi
a. Tidak adekuatnya / tidak adanya protokol verifikasi
b. Tidak mematuhi protokol verifikasi
e. Kesulitan komunikasi
1. Hambatan akibat penyakit pasien, kondisi kejiwaan pasien, atau keterbatasan
bahasa.
2. Kegagalan untuk pembacaan kembali. Kurangnya kultur/budaya organisasi.
f. Jika terjadi insidens akibat kesalahan identifikasi pasien, lakukan hal berikut ini:
1. Pastikan keamanan dan keselamatan pasien.
2. Pastikan bahwa tindakan pencegahan cedera telah dilakukan.
3. Jika suatu prosedur telah dilakukan pada pasien yang salah atau dilakukan di
tempat yang salah, para klnisi harus memastikan bahwa langkah-langkah yang
penting telah diambil untuk melakukan prosedur yang tepat pada pasien yang tepat.

10
DOKUMEN TIM SKP
BAB IV
DOKUMENTASI

4.1 Revisi Dan Audit


a. Kebijakan ini akan dikaji ulang dalam kurun waktu 2 tahun.
b. Rencana audit akan disusun dengan bantuan kantor audit medik dan akan dilaksanakan
dalam waktu 6 bulan setelah implementasi kebijakan. Audit klinis ini meliputi :
1. Jumlah persentase pasien yang menggunakan gelang pengenal.
2. Akurasi dan reliabilitas informasi yang terdapat di gelang pengenal.
3. Alasan mengapa pasien tidak menggunakan gelang pengenal.
4. Efikasi cara identifikasi lainnya.
5. Insidens yang terjadi dan berhubungan dengan misidentifikasi
c. Setiap pelaporan insidens yang berhubungan dengan identifikasi pasien akan dipantau
dan ditindaklanjuti saat dilakukan revisi kebijakan.

11
DOKUMEN TIM SKP