Anda di halaman 1dari 3

MENINGKATKAN KOMUNIKASI YANG EFEKTIF (TEKNIK SBAR)

I. DEFINISI
Komunikasi efektif adalah sebuah proses penyampaian pikiran atau
informasi dari seseorang kepada orang lain melalui suatu cara tertentu
sehingga orang lain tersebut mengerti betul apa yang dimaksud oleh
penyampai pikiran-pikiran atau informasi (Komaruddin, 1994; Koontz &
Weihrich, 1988).
SBAR (Situation, Background, Assesment, Recommendation) adalah format
komunikasi yang awalnya dikembangkan oleh militer yang kemudian
dikembangkan oleh industri penerbangan untuk mengurangi risiko yang terkait
dengan transmisi informasi yang tidak akurat dan tidak lengkap (Rodgers,
2007).
 Situation, yaitu situasi yang ingin dilaporkan saat itu meliputi
pengenalan (identifikasi) petugas dan pasien, dan kondisi / keluhan
pasien yang ingin dilaporkan.
 Background, yaitu latar belakang informasi klinis yang berhubungan
dengan kondisi pasien yang ingin dilaporkan, meliputi diagnosis awal
masuk, tanda vital dan hasil pemeriksan fisik terbaru, hasil
pemeriksaan penunjang terbaru dan obat-obatan yang telah
didapatkan pasien.
 Assesment, yaitu penilaian kondisi pasien saat ini menurut petugas
yang melaporkan.
 Recommendation, pelapor merekomendasikan pemeriksaan yang
mungkin perlu dilakukan kepada pasien.

II. RUANG LINGKUP


Pedoman komunikasi efektif ini wajib diterapkan oleh seluruh profesional
pelaksana pelayanan kesehatan di RSU Syifa Medika saat terjadi pelaporan
keadaan pasien secara lisan, baik langsung maupun tidak langsung (via
telepon).
Seluruh profesional yang dimaksud adalah:
- Perawat ke dokter
- Petugas laboratorium ke dokter
- Petugas radiologi ke dokter
- Dokter ke dokter

III. TATA LAKSANA


Tata laksana komunikasi efektif antar profesional menggunakan Teknik
SBAR adalah sebagai berikut:
1) Pelapor menyebutkan nama dan divisi kerjanya (S).
2) Pelapor menyebutkan identitas pasien dan keluhan / kondisi pasien saat itu
(S).
3) Pelapor menyebutkan diagnosis masuk pasien, tanda vital dan
pemeriksaan fisik terakhir, hasil pemeriksaan penunjang terbaru, dan obat-
obatan yang telah didapatkan pasien (B).
4) Pelapor menyebutkan analisis kondisi pasien berdasarkan hasil
pemeriksaan yang dilaporkan (A).
5) Pelapor memberikan rekomendasi kepada yang dilaporkan mengenai
tindakan yang mungkin perlu dilakukan kepada pasien (R).
6) Penerima pesan memberikan feed back kepada pelapor, pelapor wajib
mencatat seluruh feed back yang diberikan oleh penerima laporan.
7) Pelapor membacakan ulang feed back yang diberikan oleh penerima
laporan.
8) Penerima laporan mengkonfirmasi bahwa feed back yang dibacakan sudah
tepat.
9) Pelapor membubuhkan stempel konfirmasi dan tanda tangan pada catatan
feed back untuk kemudian ditandatangani oleh penerima laporan dalam
kurun waktu 1x24 jam.
10) Jika dalam keadaan darurat, mempertimbangkan kondisi klinis pasien,
maka proses pelaporan pasien dapat dipersingkat dengan pelapor tidak
membacakan ulang feed back yang diberikan dengan catatan bahwa
pelapor telah menangkap dengan jelas feed back yang diberikan.

IV. DOKUMENTASI