Anda di halaman 1dari 22

BAGIAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI REFERAT

FAKULTAS KEDOKTERAN MEI 2018


UNIVERSITAS HASANUDDIN

PENILAIAN HASIL PEMERIKSAAN SEMEN

DISUSUN OLEH:
AFUA AGHNIYATUL HILMA
C11113005

RESIDEN PEMBIMBING:
dr. Septian Sima

SUPERVISOR PEMBIMBING:
dr. Nugraha Utama P, Sp.OG (K)

DIBAWAKAN DALAM RANGKA KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2018
LEMBAR PENGESAHAN

JUDUL REFERAT : PENILAIAN HASIL PEMERIKSAAN SEMEN


Yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bahwa:
1. Nama : Afua Aghniyatul Hilma
NIM : C111 13 005
Telah menyelesaikan tugas dalam rangka kepaniteraan klinik pada Bagian Ilmu
Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin.

Makassar, Mei 2018

Supervisor Pembimbing Residen Pembimbing

dr. Nugraha Utama P, Sp.OG(K) dr. Septian Sima


DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN………………………………………………… 2

DAFTAR ISI………………………………………………………………… 3

BAB I PENDAHULUAN ………........………………………………….…. 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ……….......………………………………. 5

2.1 ANATOMI ……............……………….……....…….………………… 5


2.2 KANDUNGAN SEMEN ……………………………………………… 10
2.3 ANALISIS SEMEN ………………………...............………………… 11
2.4 HASIL ANALISIS SEMEN…....……………………………………… 15

DAFTAR PUSTAKA
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Penilaian hasil pemeriksaan semen atau analisis semen disebut juga sebagi
analisis sperma merupakan pemeriksaan yang memberikan informasi penting
mengenai kualitas dan kuantitas sperma. Analisis sperma berguna untuk mengetahui
tingkat fertilitas pria, diagnosis infertil, terapi atau evaluasi terapi, serta memberi
informasi mengenai masalah organ genital pria, sehingga analisis semen dapat
digunakan sebagai pemeriksaan infertilitas yang berkelanjutan.(1)

Pemeriksaan analisis semen meliputi pemeriksaan dasar makroskopik dan


mikroskopik dan pemerikaan lanjutan seperti pemeriksaan antibodi antisperma,
fungsi sperrma, integritas DNA, dan pemeriksaan biokimia untuk menilai fungsi
organ aksesori seks pria. Namun diagnosis infertil pada pria dapat ditegakkan
berdasarkan pada hasil analisis semen dasar, terutama yang terpenting adalah
pemerriksaan morfologi, motilitas dan jumlah sperma.(1,2)
BAB II

2.1 Anatomi Saluran Reproduksi Laki-laki

Tampakan transversal organ reproduksi laki-laki (3)

2.1.1 Testis

Testis merupakan sepasang struktur berbentuk oval, agak gepeng dengan


panjang sekitar 4-5 cm dan diameter sekitar 2,5 cm. Testis berada didalam skrotum
bersama epididimis yaitu kantung ekstraabdomen tepat dibawah penis. Dinding pada
rongga yang memisahkan testis dengan epididimis disebut tunika vaginalis. Tunika
vaginalis dibentuk dari peritoneum intraabdomen yang bermigrasi ke dalam skrotum
primitif selama perkembangan genitalia interna laki-laki, setelah migrasi ke dalam
skrotum, saluran tempat turunnya testis (prosesus vaginalis) akan menutup. (4)
Tampakan transversal organ testis (3)

2.1.2 Organ reproduksi internal aksesoris laki-laki

Epididimis merupakan suatu struktur berbentuk koma yang menahan batas


posterolateral testis. Epididimis dibentuk oleh saluran yang berlekuk-lekuk secara
tidak teratur. Panjang duktus epididimis sekitar 600 cm. Duktus ini berawal dari
puncak testis (kepala epididimis) dan berjalan berliku-liku, kemudian berakhir pada
ekor epididimis yang kemudian menjadi vas deferens. Epididimis merupakan tempat
terjadinya maturasi akhir sperma (4)

Vas deferens merupakan lanjutan langsung dari epididimis, panjangnya


45cm yang berawal dari ujung bawah epididimis, naik disepanjang aspek posterior
testis dalam bentuk gulungan-gulungan bebas, kemudian meninggalkan bagian
belakang testis, duktus ini melewati korda spermatika menuju abdomen.(4)

Vesika seminalis merupakan sepasang struktur berongga dan berkantung-


kantung pada dasar kandung kemih di depan rektum. Masing-masing vesikular
memiliki panjang 5 cm dan menempel lebih erat pada kandung kemih daripada pada
rektum. Pasokan darah ke vas deferens dan vesika seminalis berasal dari arteri
vesikular inferior. Arteri ini berjalan bersama vas deferens menuju skrotum
beranastomosis dengan arteri testikular, sedangkan aliran limfatik berjalan menuju
ke nodus iliaka interna dan eksterna. Vesikula seminalis memproduksi sekitar 50-
60% dari total volume cairan semen. Komponen penting pada semen yang berasal
dari vesikula seminalis adalah fruktosa dan prostaglandin. (4)
Kelenjar prostat merupakan organ dengan sebagian strukturnya merupakan
kelenjar dan sebagian lagi otot dengan ukuran sekitar 2.3x3.5x4.5 cm. Organ ini
mengelilingi uretra laki-laki, yang terfiksasi kuat oleh labisan jaringan ikat di
belakang simpisis pubis. Lobus media prostat secara histologis sebagai zona
transisional berbentuk baji, mengelilingi uretra dan memisahkannnya dengan duktus
ejakulatorius. Saat terjadi hipertropi, lobus media dapat menyumbat aliran urin.
Hipertropi lobus media banyak terjadi pada klaki-laki usia lanjut.(3,4)

2.1.3 Organ Reproduksi Aksesoris Eksternal Laki-laki

Skrotum pada dasarnya merupakan kantung kulit khusus yang melindungi


testis dan epididimis dari cedera fisik dan merupakan pengatur suhu testis.
Spermatozoa sangat sensitif terhadap suhu karena testis dan epididimis berada di luar
rongga tubuh, suhu di dalam testis biasanya lebih rendah daripada suhu di dalam
abdomen. (4)

Penis terdiri dari jaringan kavernosa (erektil) dan dilalui uretra. Ada dua
permukaan yaitu permukaan posterior penis teraba lunak (dekat uretra) dan
permukaan dorsal. Jaringan erektil penis tersusun dalam tiga kolom longitudinal,
yaitu sepasang korpus kavernosum dan sebuah korpus spongiosum di bagian tengah.
Ujung penis disebut glands. Glands penis ini mengandung jaringan erektil dan
berlanjut ke korpus spongiosum. Glans dilapisan kulit tipis berlipat, yang dapat
ditarik ke proksimal disebut preputium (kulit luar), preputium ini dibuang saat
dilakukan pembedahan (sirkumsisi). Penis berfungsi sebagai penetrasi. Penetrasi
pada wanita memungkinkan terjadinya deposisi semen dekat serviks uterus. (4)
Tampakan transversal penis dan sekitarnya

2.1.4 Semen

Cairan semen adalah Lendir yang keluar dari genitalia jantan waktu ejakulasi.
Ia terdiri dari bagian padat dan bagian cair. Bagian padat ialaah spermatozoa, bagian
cair disebut plasma semen .air mani.. spermatozoa dihasilkan testis, plassma semen
dihasilkan ampulla vas deferens, dan kelenjar prostat, vesicula seminalis, cowper,
dan Littre.(4)

Semen keluar dari penis biasanya dalam fraksi ; fraksi pre ejakulasi, fraksi
awal, fraksi utama fraksi-fraksi ejakulat, fraksi akhir. Fraksi pre ejakulasi berasal
dari kelenjar Cowper dan Littre, ini dapat keluar dari penis sebelum ejakulasi
berlangsung, berfungsi untuk melicinkan urethra juga untuk melicinkan vagina wktu
coitus. Volume kurang lebih 0,2 ml. Fraksi awal semata-mata hanya lendir, berasal
dari prostat. Lendir ini mengandung berbagai zat untuk memeliharaa spermatozoa
ketika berada diluar tubuh jantan (volume 0,5 ml) Fraksi utama terdiri dari lendir
dan sebagian terbesar spermatozoaa yang dikeluarkan dari simpanannya dalam
epididimis (Volume lebih kurang 2,0 ml). Sedangkan fraksi akhir adalah lendir yang
mengandung sedikit spermatozoa, yang biasanya non motil.(4,5)
Lendir fraksi utama dan akhir berasal dari vesicula seminalis, yaang
fungsinya juga untuk memelihara spermatozo ketika berada diluar tubuh jantan.
Warna semen waktubaru ejakulasi seperti wana lm kanji yang encer atau putih
keabu-abuan. Mkain gelap warna ini jika makin banyak terkandung spermatozoa d i
dalam. Jika spermatozoa sedikit sekali atau tak d di dalam semen itu bening jernh.
Volume normal semen sekali ejakulasi sekitar 2,0 ml sampai 3,0 ml. Jika volume
kurang dari ml ad kemungkinan tak beresnya prostat dan vesicula seminalis yang
merupakan penghasil utama plasma semen. (4)

Bau semen itu khas, yang kata orang barat seperti bau bunga chestnut.
Keadaan fisik semen yang bau diejakulasi adalah kental. Tap sekitar 5 menit
kemudian akan mengalami pengenceran, disebut likuifikasi sminim (enzim lysis)
yang dihasilkan prostat. Jika pengenceran tidak wajar berarti ada ketidakberesn
paada kelenja itu. (4)

2.1.5 Sperma

Spermatozoa merupakan sel padat yang sangat tespesialisasi yang tidak dapat
mengalami pembelahan dan pertumbuhan, hasil akhir dari spermatogonium, terdiri
dari dua bagian fungsional yaitu kepala dan ekor. (4,5)

Kepala spermatozoa bentuknya bulat telur dengan ukuran panjang 5 mikron,


diameter 3 mikron dan tebal 2 mikron yang terutama dibentuk oleh nukleus yang
mengandung informasi genetik. Ekor dibedakan atas 3 bagian yaitu bagian tengah
(midpiece). Bagian utama (principle piece) dan bagian ujung (endpiece). Panjang
ekor seluruhnya sekitar 55 mikron dengan diameter yang makin ke ujung makin kecil
pada bagian depan 1 mikron, bagian ujung 0,1 mikron. (4,5)

Sperma manusia bergerak dengan kecepatan sekitar 3 mm/menit melintasi


saluran genitalia wanita, sperma mencapai tuba uterina 30-60 menit setelah kopulasi.
Pada beberapa spesies, kontraksi organ wanita mempermudah transportasi sperma
ke tuba uterina. (4,5)

Spermatogenesis merupakan suatu proses pembentukan gamet pada laki-laki


berupa sperma. Proses ini terjadi di testis pada struktur yang disebut sebagai tubulus
seminiferus. Pembentukan sperma ini dimulai pada saat pubertas, ketika produksi
hormon gonadotropin sudah cukup maksimal untuk merangsang pembentukan
spermatozoa. Setelah terbentuk sperma di dalam tubulus seminiferus, sperma
membutuhkan waktu beberapa hari untuk melewati epididmis yang panjangnya
kurang lebih enam meter. Sperma yang bergerak dari tubulus seminiferus dari bagian
awal epididmis adalah sperma yang belum motil, dan tidak dapat membuahi ovum.
Akan tetapi, setelah sperma berada dalam epididimis selama 18-24 jam, sperma akan
memiliki kemampuan motilitas, walaupun beberapa faktor penghambat protein
dalam cairan epididmis, masih mecegah mortilitas yang sebenarnya, sampai setelah
terjadi ejakulasi. (4)

2.2 Kandungan Semen

Zat yang terkandung dalam semen, ialah sebagai berikut (4) :

1. Fruktosa, dihasilkan vesikula seminalis, berada dalam plasma semen. Untuk


sumber energi bagi spermatozoa dalam bergerak. Sifat pernapasannya adalah
anaerobis.
2. Asam sitrat, spermin, seminim, enzimposfatase asam, glukonidase, lisozim
dan amilase. Semua dihasilkan prostat. Asam sitrat belum jelas peranannya,
diduga untuk mengumpulkan semen setelah ejakulasi. Spermin yang
memberi bau khas, seminim untuk merombak (lysis); sehingga semen
mengencer, dan juga untuk mengencerkan lendir serviks betina; sedangkan
enzim-enzim lain berperan dalam memelihara atau memberi nutrisi bagi
spermatozoa di luar tubuh jantan.
3. Prostaglandin, dihasilkan divesikula seminalis dan prostat.peranannya yang
melancarkan pengangkutan spermatozoa dalam saluran kelamin jantan dan
betina, diantaranya dengan mengurangi gerakan uterus, merangsang
kontraksi otot polos saluran kelamin jantan waktu ejakulasi, dan juga untuk
vasodilatasi (mengembangkan pembuluh darah).
4. Elektrolit, terutama Na, K, Zn, Mg. Dihasilkan prostat dan vesikula
seminalis, untuk memelihara PH plasma semen.
5. Enzim pembuahan : hyaluronidase, neuroaminidase, protease mirip tripsin,
protease seperti kimotripsin. Enzim pembuahan ini sebagian terdapat
akrosom spermatozoa (hyaluronidase, protease mirip tripsin). Sebagian
terdapat dalam plasma semen, dihasilkan oleh kelenjar-kelenjar (terutama
protease mirip kimotripsin). Enzim pembuahan ini selama masih berupa
ejakulat (artinya belum mendapat reaksi dari saluran kelamin betina) dalam
keadaan nonaktif, oleh hadirnya dalam plasma semen itu zat inhibitor.
6. Inhibitor, dihasilkan oleh kelenjar-kelenjar kelainan jantan dan terkandung
dalam plasma semen. Inhibitor itu terutama terhadap hyaluronidase, protease
mirip tripsin, dan protease mirip kimotripsin.
7. Hormon testosteron, FSH (follicle stimulating hormone) dan LH (luteinizing
hormone). Ketiganya berasal dari testis; belakangan gonadotropin yang
datang ke testis berasal dari hipofisis.
8. Zat organis lain, seperti asam amino, protein, dan lemak. Asam amino yang
utama dan jadi ciri semen yaitu tirosin dan asam glutamat, sedang protein
yang utama adalah karnitin. Zat organis ini berasal dari testis, saluran dan
kelenjar, protein, seperti karnitin, dihasilkan vesikula seminalis.

2.3 Analisis Semen

Analisis semen adalah suatu pemeriksaan yang penting untuk menilai fungsi
reproduksi pria. Untuk mrngrtahui apakah seorang pria fertil atau infertil. Semen
diperiksa harus dari eyakulat. Karena itu mengambilnya dari tubuh harus dengan
masturbasi atau coitu interuptus (bersetubuh dan waktu eyakulasi persetubuhan
dihentikan dan mani ditampung semua).(1)

2.3.1 Syarat-syarat pemeriksaan

Setiap pasangan yang mengalami infertilitas, perlu dilakukan pemeriksaan


secara bersamaan antara istri dan suami. Jika salah satu pasangan tidak ingin
diperiksa maka tidak dilakukan pemeriksaan diantara keduanya. (1,6)

Adapun syarat-syarat pemeriksaan pasangan infertil adalah sebagai berikut(1) :

1. Istri yang berumur 20-30 tahun baru akan diperiksa setelah berusaha untuk
mendapat anak selama 12 bulan. Pemeriksaan dapat dilakukan lebih dini
apabila :
a. Pernah mengalami keguguran berulang
b. Diketahui mengidap kelainan endokrin
c. Pernah mengalami peradangan rongga panggul atau rongga perut
d. Pernah mengalami bedah ginekkologik
2. Istri berumur antara 31-35 tahun dapat diperiksa pada kesempatan pertama
pasangan itu ke dokter.
3. Istri pasangan infertil yang berumur antara 36-40 tahun hanya dilakukan
pemeriksaan infertilitas kalau belum mempunyai anak dari perkawinan ini.
4. Pemeriksaan infertilitas tidak dilakukan pada pasangan infertil yang salah
satu anggota pasangannya mengidap penyakit yang dapat membahayakan
kesehatan istri atau anakanya.

2.3.2 Faktor yang mempengaruhi produsen semen (6):

1. Riwayat penyakit sistemik

Penyakit sistemik dan neurologis dapat menyebabkan impotensi dan


gangguan eyakulasi. Kedua penyakit tersebut dapat merusak
spermatogenesis dan fungsi sex.

Tuberkulosis dapat menyebabkan epididimitis dan prostatitis yang


berhubungan dengan gangguan transport semen. Penyakit saluran
pernapasan kronis termasuk bronkiektasis, sinusitis kronis dan bronkitis
kronis seperti ini sering kali berhubungan dengan gangguan silia sperma dan
faktor epididimis seperti yang terjadi pada young syndrome. Young
syndrome ditandai dengan kelainan struktur dari vas deferen, epididimis dan
vesikula seminalis yang didasari oleh adanya mutasi pada gen CFTR pada
young syndrome.

2. Demam
Demam melebihi 38 C dapat menekan spermatogenesis sampai 6
bulan lamanya. Demam akan menekan fungsi testis sehingga akan
menurunkan kadar testosteron, meningkatkan kadar imunoreaktif
gonadotropin dengan kadar LH yang rendah.
3. Pemberian obat-obatan
Beberapa obat-obatan yang menyebabkan kerusakan
spermatogenesis sementara ataau menetap dan dapat mengganggu fertilitas
antara lain kemoterapi kanker, pengobatan hormon kortikosteroid dosis
tinggi, radiasi, simetidin, sulfasalasin, spironolakton, nitrofurantoin,
niridisal, kolkisin juga obat-obatan anti hipertensi dan obat penenang.
4. Riwayat bedah

Penurunan fertilitas dapat juga terjadi setelah tindalkan bedah.


Yindakan bedah yang dapat memengaruhi fertilitas secara langsung antara
lain operasi katup uretra pada masa bayi, prostektomi atau insisi leher buli-
buli, operasi striktur uretra, operasi hernia, hidrokeletomi, vasektomi,
simpatektomi lumbal, pembedahan retroperitoneal berat, operasi varikokel,
torsi testis atau setiap operasi pembedahan genital atau inguinal.

5. Infeksi saluran kemih


Riwayat disuria, keluar nanah dari uretra, piuri, hematuri, sering
kencing, dan lain-lain.
6. Penyakit hubungan seksual
Informasi tentang sifilis, gonorea, klamidia, atau penyakit hubungan
seksual lain seperti limfogranuloma venerum, mikoplasma atau uretritis non
spesifik perlu didata dan dicatat berapa kali terjadi dan berapa lama.
Penyakit-penyakit hubungan seksual tersebut daiatas dapat menurunkan
fertilitas pria dengan cara gangguan obstruktif, merangsang pembentukan
antibodi dan gangguan eyakulasi serta gangguan spermatogenesis.
7. Kelainan lain
Kelainan yang mungkin menyebabkan kelainan testis, misalnya
rudapaksa testis, torsi testis, riwayat farikokel, kelainan desensus testis, testid
retraktil, testis ektopik, desensus dan kelainan hormonal terutama testosteron.
8. Pekerja yang berhubungan dengan radioaktif
9. Suatu pekerjaan dimana situasi temperaturnya tinggi, misalnya sopir.

2.3.3 Faktor-faktor yang memengaruhi hasil analisis semen

Hasil dari suatu analisis semen sendiri banyak faktor-faktor yang mempengaruhi.
WHO dalam menuntun pemeriksaan analisis semen, dalam usaha
menstandarisasikan analisis semen mengingatkan beberapa hal yang berpengaruh
antara lain. (1,2)

1. Cara memperoleh semen dan pengiriman siapan.


a. Sediaan diambil setelah albstinensia sedikitnya 48 jam dan tidak lebih
lama dari tujuh hari.
b. Oleh karena variasi yang besar dalam produksi semen dapat terjadi pada
seseorang, sebaiknya dilakukan pemeriksaan dua sediaan. Waktu antara
kedua pemeriksaan tersebut tidak boleh kurang dari 7 hari atau lebih dari
3 bulan.
c. Sebaiknya sedian diperoleh dengan cara masturbasi dan ditampung
dalam botol kaca atau plastik yang bermulut lebar. Jika dipakai plastik,
maka harus diperiksa terlebih dahulu apakah ada efek toksik dari plastik
tersebut. Botol sebaiknya dipanaskan dahulu untuk mengurangi bahaya
renjatan akibat suhu dingin. Jika akan dilakukan pemeriksaan
bakteriologis, maka penderita diminta untuk mengeluarkan air seninya
terlebih dahulu. Kemudian mencuci tangan dan oenisnya sebelum
sediaan ditampung dalam botol yang steril.zat pelicin sebaiknya jangan
digunakan untuk mempermudah pengeluaran siapan.
d. Gunakan kondom dengan bahan plastik khusus (Mylex) atau penyimpan
cairan khusus (HDC Corporation, mountion view, Calif). Kondom biasa
sebaiknya tidak dipakai untuk menampung semen karena mengandung
spermatisit.
e. Coitus interuptus tidak dapat dipakai untuk mendapatkan siapan karena
ada kemungkinan bagian pertama ejakulat yang mengandung sperma
paling banyak akan hilang. Selain itu juga akan terjadi kontaminasi
selular dari bakteri pada siapan, serta dapat terjadi pula pengaruh kurang
baik terhadap motolitas sperma sebagai akibat PH cairan vagina yang
asam.
f. Sebaiknya sediaan dikeluarkan dalam sebuah kamar yang tenang dekat
laboratorium. Jika tidak, maka sediaan harus diantar ke laboratorium
dalam waktu satu jam setelah dikeluarkan dan jika motilisasi sperma
sangat rendah (kurang dari 25% bergerak maju terus) sediaan kedua harus
diperiksa secepatnya. N jika uji fungsi sperma seperti uji oosit bebas zona
hamster akan dilakukan, maka penting seklai untuk memisahkan sperma
dari plasma semen dalam waktu satu jam setelah ejakulasi.
g. Siapan yang tidak lengkap sebaiknya tidak diperiksa, terutama jika
bagian pertama eyakulat hilang
h. Siapan harus dilindungi terhadap suhu yang ekstrim selama
pengangkutan ke laboratorium (suhu sebaiknya diantara 20-40 C)
i. Botol harus diberi label dengan identitas, tanggal pengumpulan dan
lamanya abstinensi.

Disamping faktor-faktor tersebut diatas, keadaan penderita menjelang


dilakukannya analisis semen juga sangat berpengaruh. Kelelahan atau
serangan influensi misalnya, dapat mempengaruhi hal analisis semen,
terutama mengenai kadar spermatozoanya. Pemakaian antibiotik
misalnya tetrasiklin dan sulfonamide mengurangi motilitas dan
mempercepat kematian spermatozoa. (1)

2.4 Hasil Analisis Semen

Parameter yang diperiksa pada analisis semen meliputi warna, bau, PH,
volume, viskositas, konsentrasi spermatozoa dengan presentase yang motil dan mati,
kecepatan motolitas rata-rata spermatozoa, presentase morfologi abnormal dan sel-
sel lain, serta uji fruktose yang hanya dilakukan khusus pada keadaan azoospermia.
Sedangkan persiapaannya meliputi petunjuk abstinensi, cara memperoleh semen dan
pemilihan penampung semen yang disediakan oleh laboratorium.(1,5)

Pemeriksaan makroskopis semen

Pemeriksaan makroskopis semen meliputi :


1. Warna

Warna normal adalah putih / agak keruh. Kadang-kadang ditemukan juga


warna kekuning-kuningan atau merah. Warna kekuning-kuningan
disebabkan karena radang saluran kencing atau abstinensia terlalu lama.
Warna merah biasanya oleh karena tercemar sel eritrosit (hemospermi). ( 1,6)

2. Volume

Cairan semen ditampung dengan jalan masturbasi langsung ke dalam


botol gelas bersih yang bermulut bermulut lebar (atau gelas minum), setelah
abstinensi 3-5 hari. Sebaiknya penampungan air mani itu dilakukan di rumah
pasien sendiri, kemudian dibawa ke laboratorium dalam 1 jam setelah
dikeluarkan. Air mani yang dimasukkan ke kondom dahulu, yang biasanya
mengandung zat spermatisid, akan mengelirukan penilaian motilitas
spermatozoa. (1)

Cairan semen yang ditampung diukur dengan gelas ukur, dan dikatakan
normosperma bila volumenya normal yaitu 2-6 ml, dengan volume rata-rata
2-3 ml. Aspermi bila tidak keluar sperma pada waktu eyakulasi. Hiperspermi
bila volume lebih dari 6 ml. (1,6) Hipospermi bila volumenya kurang dari 1
ml, ini mungkin disebabkan karena : (1)

a. Tercecer pada waktu memasukkan semen ke dalam botol.


b. Keadaan patologis antara lain :
 Penyumbatan kedua duktus ejakulatorius
 Kelaina kongenital misalnya agenesis vesikula seminalis.\

Hiperspermi biasanya diikuti oleh konsentrasi spermatozoa yang rendah dan


hiperspermi dapat disebabkan :

a. Abstinensi yang lama


b. Produksi kelenjar asesorius yang berlebihan.

Secara umum, volume semen terdiri dari sekret kelenjar bulbouretral


3%, sekret kelenjar prostat 20%, spermatozoa dengan cairan epididimis 7%,
dan sisanya yang merupakan bagian terbesar dari vesica seminalis 70%.
Mengenai cara pengeluarannya, pada waktu terjadi eyakulasi mula-mula
sekret kelenjar prostat, baru spermatozoa dengan cairan dari epididimis dan
ampula, lalu yang terakhir cairan seminalis (1).

Volume semen sangat bervariasi antara setiap laki-laki, bahkan pada


setiap eyakulasinya. Faktor-faktor yang mempengaruhi sangat banyak, antara
lain lamanya abstinensia, keadaaan emosi atau rangsangan pada waktu terjadi
eyakulasi. (1)

3. Bau
Spermatozoa mempunyai bau khas, sekali membau tidak akan lupa
lagi, bau ini mungkin disebabkan oleh proses oksidasi dari sperma yang
diprosuksi oleh prostat. Baunya seperti bau bunga akasia (1,5,6). Semen dapat
berbau busuk atau amis bila terjadi infeksi. (1,6)

4. PH

Cara untuk mengetahui keasaman semen digunakan kertas PH atau


lakmus, biasanya sifatnya sedikit alkalis. Semen yang terlalu lama akan
berubah Phnya. Pada infeksi akut kelenjar prostat Phnya berubah menjadi
diatas 8, atau menjadi 7,2 misalnya pada infeksi kronis organ-organ tadi.
WHO memakai kriteria normal yaitu 7,2-7,8 (5)

5. Viskositas

Setelah berlikuefaksi, eyakulat akan menjadi cairan homogen yang


agak pekat, yang dapat membenang kalau dicolek dengan sebatang lidi. Daya
membenangnya dapat mencapai 3-10 cm. Makin panjang membenangnya
makin tinggi viskositasnya. Pengukuran viskositas seperti ini sangat
subyektif. (5)

Viskositas semen diukur setelah mengalami likuefaksi secara penuh


(15-20 menit setelah ejakulasi) (5,7)

Pengukuran dapat dilakukan dengan 2 cara :

a. Dengan pipet pasteur : semen diisap ke dalam pipet tersebut, pada


waktu pipet diangkat maka akan tertinggal semen berbentuk benang
pada ujung pipet. Panjang benang diukur, normal panjangnya 3-5 cm.
(1)
b. Menggunakan pipet yang sudah mengalami standarisasi (Elliason).
Pipet dalam posisi tegak, lalu diukur waktu yang diperlukan setetes
semen untuk lepas dari ujung pipet tadi, angka normal adalah 1-2
detik. (1,5)
6. Likuifaksi
Semen normal pada suhu ruangan akan mengalami likuifaksi dalam
60 menit, walau pada umumnya sudah terjadi dalam 15 menit. (1,6) pada
beberapa kasus, lkuefaksi lengkap tidak terjadi dalam 60 menit. Hal ini bisa
terjadi bila mengandung granula seperti jelly (badan gelatin yang tidak
mencair), tetapi tidak memiliki makna secara klinis. Bila ghal ini ditemukan
akan sangat mengganggu dalam analisis semen, sehingga perlu dibantu
dengan pencampuran enzimatis. (1,5)

7. Frukstosa

Fruktosa air mani adalah hasil vesikulasi seminalis, yang


menunjukkan adanya ransangan androgen. Fruktosa terdpat pada semua air
mani, kecuali pada (8) :

- Azoospermia karena tidak terbentuknya kedua vas deferens. Air


maninya tidak berkoagulasi segera setelah eyakulasi karena vesikula
seminalisnya pun tidak terbentuk.
- Kedua duktus ejakulatoriusnya tertutup.
- Keadaan luar biasa dari eyakulasi retrograd, dimana sebagian kecil
ejakulat yang tidak mengandung spermatozoa sempat keluar.

Setiap air mani yang azoospermia harus diuji secara rutin akan adanya
fruktosa. Dengan jalan ini setiap kecurigaan tidak adanya vasa dapat lebih
diyakinkan, tanpa harus melakukan eksplorasi skrotum. Ada tidaknya
koagulasi segera setelah ejakulasi harus diperiksa dalam 5 menit setelah
ejakulasi.(8)

Pemeriksaan mikroskopis semen

Pemeriksaan mikroskopis meliputi (7) :

1. Jumlah spermatozoa per ml


Perlu diketahui yang dimaksud dengan konsentrasi sperma ialah
jumlah spermatozoa per ml sperma. Jumlah spermatozoa total ialah jumlah
seluruh spermatozoa dalam ejakulat.
Interpretasi jumlah sperma :
Normal : jumlah spermatozoa diatas 60 juta/ml
Subfertil : 20-60 juta/ml
Steril : 20 juta atau kurang/ml
Namun WHO menganggap bila jumlah sperma 20 juta/ml atau lebih
dianggap masih normal. (1)
2. Jumlah sperma motil per ml/presentase spermatozoa motil (6,7)
Presentase spermatozoa motil yang sekaligus juga menunjukkan
jumlah spermatozoa motil dalam suatu ejakulat, merupakan parameter
terpenting dari suatu hasil analisis semen seseorang, kadang dihubungkan
dengan kemungkinan terjadinya kehamilan oleh sperma tersebut. (1)
Nilai normal dari presentase spermatozoa motil berbeda-beda antara
tiap laboratorium. Tetapi pada umumnya dianggap normal kalau nilai
tersebut diatas 50-70%, kalau mendapatkan motilitas sperma dari seorang
pria yang jelek, hendaknya pemeriksaan diulang, dengan memperpendek
jarak waktu antara ejakulasi dari pemeriksaan. (1)
Sedangkan Amelar dan Dubin 1977 menganjurkan waktu
abstinensinya diperpendek kalau menjumpai hal-hal semacam itu, karena
dengan lamanya abstinensi, menyebabkan tersimpannya spermatozoa terlalu
lama dalam saluran spermatozoa yang mungkin akan menimbulkan
kerusakan. Motilitas sperma jelek bila abstinensinya lebih dari 5 hari dan
motilitas terbaik didapatkan pada 2/3 bagian ejakulat pertama. Motilitas
sperma akan sangat dipengaruhi atau berhubungan dengan adanya perubahan
PH, infeksi, morfologi, pematangan, dan juga gangguan hormonal. (8)
Namun secara garis besar WHO dan beberapa ahli berpendapat
motilitas dianggap normal bila 50% atau lebih bergerak maju atau 25 % atau
lebih bergerak maju dengan cepat dalam waktu 60 menit setelah ditampung.
(1,3)

Sebagai patokan nilai normal hasil pengamatan sperma diatas WHO


telah mendapatkan nilai normal hasil pemeriksaan. (1)
Dibawah ini terdaftar kriteria semen normal yang umum dipakai menurut
WHO (1,2)

Volume 2 ml atau lebih


Ph 7,2-7,8
Jumlah/sperma 20 juta sperma/ml atau lebih
Jumlah sperma 40 juta sperma/ ejakulat atau lebih
total/ejakulat
Motilitas 50% atau lebih bergerak maju atau
25% lebih bergerak maju dengan
cepat dalam waktu 60 menit setelah
ditampung
Morfologi 50% atau lebih bermorfologi normal
Viabilitas 50% atau lebih hidup, yaitu tidak
terwarna dengan pewarnaan
supravital
Sel lekosit Kurang daripada 1 juta/ml
Asam sitrat (total) 52 mikromol (10 mg) atau lebih
setiap ejakulat
Fruktosa (total) 52 mikromol (10 mg) atau lebih
setiap ejakulat
Uji MAR Perlekatan pada kurang daripada
10% sperma
Uji butir imun Perlekatan butir imun pada kurang
dari pada 10% sperma

3. Kecepatan
Semen yang tidak diencerkan diteteskan ke dalam titik hitung, tentukan
waktu yang dibutuhkan satu spermatozoa untuk menempuh jarak 1/20 mm,
pada keadaan normal dibutuhkan 1-1,4 detik ini disebut normakinetik. (1,6)
4. Morfologi
Morfologi spermatozoa yang normal ditentukan oleh bentuk kepala, leher,
tanpa adannya sitoplasmik “droplets” dan bentuk ekor, semen yang normal
mengandung setidaknya 48%-50% spermatozoa normal.
Tabel. Terminologi dan Definisi Analisis Sperma Berdasarkan Kualitas Sperma.(2)

Terminologi Definisi

Normozoospermia Ejakulasi normal sesuai dengan nilai rujukan WHO

Oligozoospermia Konsentrasi sperma lebih rendah daripada nilai rujukan


WHO

Astenospermia Konsentrasi sel sperma dengan motilitas lebih rendah


daripada nilai rujukan WHO

Teratozospermia Konsentrasi sel sperma dengan morfologi lebih rendah


daripada nilai rujukan WHO

Azospermia Tidak didapatkan sel sperma di dalam ejakulat

Aspermia Tidak terdapat ejakulat

Kristospermia Jumlah sperma sangat sedikit yang dijumpai setelah


sentrifugasi

Dua atau tiga nilai analisis sperma diperlukan untuk menegakkan diagnosis
adanya analisis sperma yang abnormal. Namun, cukup banyak melakukan analisis
sperma tunggal jika pada pemeriksaan telah dijumpai hasil analisis sperma normal,
karena pemeriksaan analisis sperma yang ada merupakan metode pemeriksaan yang
sensitif. Untuk mengurangi positif palsu, maka pemeriksaan analisis sperma yang
berulang hanya dilakukan jika pemeriksaan analisis sperma yang pertama
menunjukkan hasil yang abnormal. Pemeriksaan analisis sperma kedua dilakukan
dalam kurun waktu 2-4 minggu. (2)
DAFTAR PUSTAKA

1. WHO. 2010. WHO laboratory manual for the Examination and processing
of the human semen.
2. Prawirohardjo, S. 2011. Ilmu Kandungan Edisi ketiga. Jakarta. PT Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo
3. Netter, F. H. 2014. Atlas of Human Anatomy 6th edition. London, Elsevier
Health Sciences.
4. Sheerwood, Laure. 2010. Human Physiology From cells to system.
Brooks/Cole Cengage Learning
5. Saili, Takdir, dkk. 2005. Pengelolaan Semen dan Inseminasi buatan.
www.researchgate.net/publication/
6. Garrido, Nicolas, et al. 2005 . A Practical Guide to Sperm Analysis Basic
Andrology In Reproductive medicine. CRC Press
7. Carrel, Douglas T. Computer-Aided Sperm Analysis (CASA) of Sperm
Motility and Hiperactivation. MIMB, volume 927
8. Franken, Daniel R. Et al. 2012. Semen analysis and sperm function testing.
Asian journal of Andrology