Anda di halaman 1dari 40

Keluarga sejahtera

dan keluarga rentan


Kasus

 Sebuah keluarga yang cukup sederhana, Tn A adalah


kepala keluarganya. Tn A seorang wiraswasta mempunyai
3 orang anak An H laki-laki, kuliah semester satu
berumur 19 th, an B perempuan berumur 16 tahun
sekolah SMU kelas 1, dan anak C laki-laki sekolah SMP.
Satu minggu yang lalu Tn A terkejut karena mendapat
laporan tetangganya bahwa anak H sering nongkrong-
nongkrong di pinggir jalan. Walaupun belum ada laporan
negatif tentang An. H tapi Tn A sangat khawatir kalau-
kalau an H melakukan hal-hal yang negatif. Terlebih
sebulan belakangan ini an H susah untuk dibilangin/diajak
ngobrol.
 Kebetulan di desa tn A sedang ada mahasiswa kesehatan yang
sedang praktek, dan tn A meminta mahasiswa yang sedang
praktik untuk berkunjung kerumahnya.
 Hasil kunjungan perawat puskesmas didapatkan data, tn A
merasa senang dikunjungi oleh petugas puskesmas Menerima
petugas Puskesmas Menyatakan masalah secara benar. Bahwa
anak H memang suka nongkrong dan gaul dengan temannya.
tn a membenarkannya dan merasa belum waktunya untuk
menegur kelakuan anak H, karena menurut tn A biarlah kalau
memang anak H menyukainya dan suka, yang penting tidak
mengkonsumsi narkoba. tn a berprinsip anak-anaknya harus
bahagia walaupun tn a sendiri tidak bisa mencukupi
Mengadakan rekreasi bersama di luar rumah paling kurang 1
kali perbulan.
Dari kasus tsb kelompok tolong identifikasi:
 Apakah keluarga masuk kedalam keluarga
rentan atau resiko?
 Tn A masuk kedalam keluarga sejatera
tingkat berapa?
 Dari kasus tsb apa yang teridentifikasi
terkait trend dan issue? (klpk 4)
Pokok Bahasan

 Keluarga sejahtera
 Keluarga resiko dan rentan
Keluarga Sejahtera
 “Kesejahteraan adalah hal atau keadaan
sejahtera, aman, selamat, dan tentram”.
(Depdiknas, 2001:1011)
 “Keluarga Sejahtera adalah Keluarga yang
dibentuk berdasarkan perkawinan yang sah,
mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual
dan materi yang layak, bertaqwa kepada
Tuhan yang maha Esa, memiliki hubungan
yang selaras, serasi, dan seimbang antar
anggota dan antar keluarga dengan
masyarakat dan lingkungan”.
(BKKBN,1994:5)
TAHAPAN Keluarga Sejahtera
 Untuk mengetahui tingkat kesejahteraan,
berdasarkan Badan Koordinasi Keluarga
Berencana Nasional (BKKBN) yang telah
mengadakan program yang disebut dengan
Pendataan Keluarga.
 Tujuannya untuk memperoleh data
tentang dasar kependudukan dan keluarga
dalam rangka program pembangunan dan
pengentasan kemiskinan.
Tujuan klg sejehtera
 Pelaksanaan pembangunan dalam keluarga
sejahtera
Dalam PP No. 21 Th 1994, pasal 2:
pembangunan keluarga sejahtera diwujudkan
melalui pengembangan kualitas keluarga
diselenggarakan secara menyeluruh, terpadu
oleh masyarakat dan keluarga.
 Tujuan :Mewujudkan keluarga kecil bahagia,
sejahtera bertakwa kepada Tuhan YangMaha
Esa, produktif, mandiri dan memiliki
kemampuan untuk membangun diri sendiri
dan lingkungannya.
Keluarga pra sejahtera

Yaitu keluarga yang belum dapat


memenuhi kebutuhan dasarnya (basic
need) secara minimal, seperti kebutuhan
akan spiritual, pangan, sandang, papan,
kesehatan dan KB.
Keluarga Sejahtera Tahap I
adalah keluarga-keluarga yang telah dapat memenuhi kebutuhan
dasarnya secara minimal yaitu
1. Melaksanakan ibadah menurut agama oleh masing-masing
anggota keluarga.
2. Pada umumnya seluruh anggota keluarga makan 2 (dua) kali
sehari atau lebih.
3. Seluruh anggota keluarga memiliki pakaian yang berbeda
untuk di rumah, bekerja/sekolah dan bepergian.
4. Bagian yang terluas dari lantai rumah bukan dari tanah.
5. Bila anak sakit atau pasangan usia subur ingin ber KB dibawa
kesarana/petugas kesehatan.
Keluarga Sejahtera tahap II
Yaitu keluarga - keluarga yang disamping telah dapat memenuhi kriteria keluarga sejahtera I,
harus pula memenuhi syarat sosial psykologis 6 sampai 14 yaitu :

6. Anggota Keluarga melaksanakan ibadah secara teratur.


7. Paling kurang, sekali seminggu keluarga menyediakan daging/ikan/telur sebagai lauk pauk.
8. Seluruh anggota keluarga memperoleh paling kurang satu stel pakaian baru per tahun.
9. Luas lantai rumah paling kurang delapan meter persegi tiap penghuni rumah.
10. Seluruh anggota keluarga dalam 3 bulan terakhir dalam keadaan sehat.
11. Paling kurang 1 (satu) orang anggota keluarga yang berumur 15 tahun keatas mempunyai
penghasilan tetap.
12. Seluruh anggota keluarga yang berumur 10-60 tahun bisa membaca tulisan latin.
13. Seluruh anak berusia 5 - 15 tahun bersekolah pada saat ini.
14. Bila anak hidup 2 atau lebih, keluarga yang masih pasangan usia subur memakai kontrasepsi
(kecuali sedang hamil)
Keluarga Sejahtera Tahap III
yaitu keluarga yang memenuhi syarat 1 sampai 14 dan dapat pula memenuhi
syarat 15 sampai 21, syarat pengembangan keluarga yaitu :
15. Mempunyai upaya untuk meningkatkan pengetahuan agama.
16. Sebagian dari penghasilan keluarga dapat disisihkan untuk tabungan
keluarga untuk tabungan keluarga.
17. Biasanya makan bersama paling kurang sekali sehari dan kesempatan itu
dimanfaatkan untuk berkomunikasi antar anggota keluarga.
18. Ikut serta dalam kegiatan masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya.
19. Mengadakan rekreasi bersama diluar rumah paling kurang 1 kali/6 bulan.
20. Dapat memperoleh berita dari surat kabar/TV/majalah.
21. Anggota keluarga mampu menggunakan sarana transportasi yang sesuai
dengan kondisi daerah setempat.
Keluarga Sejahtera Tahap III Plus
Keluarga yang dapat memenuhi kriteria I sampai 21
dan dapat pula memenuhi kriteria 22 dan 23 kriteria
pengembangan keluarganya yaitu :

22. Secara teratur atau pada waktu tertentu dengan


sukarela memberikan sumbangan bagi kegiatan
sosial masyarakat dalam bentuk materiil.

23. Kepala Keluarga atau anggota keluarga aktif


sebagai pengurus perkumpulan/yayasan/institusi
masyarakat.
 Keluarga Miskin.
adalah keluarga Pra Sejahtera alasan ekonomi dan KS
- I karena alasan ekonomi tidak dapat memenuhi salah
satu atau lebih indikator yang meliputi :
Paling kurang sekali seminggu keluarga makan
daging/ikan/telor.

 Setahun terakhir seluruh anggota keluarga


memperoleh paling kurang satu stel pakaian baru.

 Luas lantai rumah paling kurang 8 M2 untuk tiap


penghuni.
Kriteria Keluarga Mandiri

a. Keluarga Mandiri I meliputi beberapa


kriteria, yaitu terdiri atas:
1) Menerima petugas Puskesmas
2) Menerima Pelayanan Kesehatan
(Yankes) sesuai rencana
KONSEP ”AT RISK”
Definisi
Risiko didefinisikan sebagai kemungkinan
terjadinya suatu kejadian. Risiko juga dapat
didefinisikan sebagai kemungkinan bahwa
dampak kesehatan akan terjadi setelah
individu terpapar oleh sejumlah bahaya
(hazard)(Communicable Disease Centre
(CDC)).
Lanjut...
Populasi beresiko dalam konteks
kesehatan dikaitkan dengan dampak
kesehatan yang dapat diperoleh oleh
semua penduduk dengan karakteristik
tertentu.
Lanjut…
Dalam epidemiologi konsep at risk sangat
perlu dimiliki untuk memahami etiologi
dan pencegahan penyakit. Konsep at risk
dapat mengetahui hubungan antara
karakteristik atau kondisi dengan penyakit
pada masyarakat.
Lanjut...
Konsep at risk memudahkan seorang
praktisi perawat komunitas dalam
mengaplikasikan asuhan keperawatan pada
aggregate dan komunitas secara intensif
dengan memfokuskan pada kondisi at risk .
Lanjut…
At risk dapat terjadi pada masyarakat karena
kurang bahkan tidak adanya control
masyarakat tersebut terhadap dampak
negative yang akan terjadi. Tidak adanya
control dimasyakarat dapat disebabkan oleh
berbagai factor, seperti; tidak adanya aturan,
tidak adanya struktur formal dan informal
yang mengatur, rendahnya pendidikan
masyarakat atau tidak adanya informasi
memadai terhadap bahaya.
Lanjut…
Dalam Epidemiologi,at risk dikaitkan
dengan karakteristik lingkungan,individu,
dan social ketika terjadi hubungan dengan
peningkatan kemungkinan penyakit.
Karakteristik tersebut disebut sebagai
factor risiko.
Kategori At Risk
At risk terdiri dari beberapa kategori, sebagai berikut;
 Biologic risk
 Social risk
 Economic risk
 Life-style risk
 Life-event risk
(Stanhope, 1996).
Lanjut…
Biologic risk
Adalah factor genetik atau fisik yang berkontribusi
terjadinya resiko.
Social risk
Adalah factor kehidupan yang tidak
teratur, tingkat kriminal yang tinggi,
lingkungan yang terkontaminasi oleh
polusi udara, kebisingan, zat kimia
berkontribusi untuk terjadinya masalah.
Economic risk
Adalah tidak seimbangnya antara
kebutuhan dengan penghasilan, krisi
ekonomi yang berkepanjangan.sehingga
berpengaruh terhadap kebutuhan
perumahan, pakaian, makanan, pendidikan,
dan kesehatan.
Life-style risk
Adalah kebiasaan atau gaya hidup yang
dapat berdampak terjadinya resiko,
termasuk keyakinan terhadap kesehatan,
kebiasaan sehat, persepsi sehat,
pengaturan pola tidur, rencana aktifitas
keluarga, norma tentang perialku yang
beresiko.
Life-event risk
Adalah kejadian dalam kehidupan yang
dapat beresiko terjadinya masalah
kesehatan, seperti; pindah tempat tinggal,
adanya anggota keluaga baru, adanya
anggota keluarga yang meninggalkan
rumah dapat berpengaruh pada pola
komunikasi.(Stanhope, 1996).
Cara Menurnkan Resiko
Untuk mencegah terjadinya resiko, maka ada beberapa
hal yang harus diperhatikan, seperti ;
Lanjut…
Biologic health risk
Pada populasi yang beresiko dari aspek biologi dengan
mengkaji factor genetic dan fisik individu. dan keluarga
dpat diketahui lebih dini resiko yang akan terjadi
sehingga dapat dicegah, dan juga dengan upaya promosi
kesehatan untuk meningkatkan kesehatan fisik serta
meningkatkan pengetahuan tentang kesehatan fisik.
Social health risk

Pada masyarakat yang beresiko secara social dengan


membuat aturan, norma di populasi serta adanya
struktur formal dan informal yang efektif berperan
dalam mengatur populasi tersebut agar terhindar dari
bahaya social.
Economic health risk

Pada masyarakat yang beresiko dari segi ekonomi


dengan mengatur pengeluaran seefisien mungkin serta
meningkatkan usaha untuk menambah penghasilan dalam
memenuhi kebutuhan makanan, pakaian, perumahan,
pendidikan, dan kesehatan.
Life-style health risk

Pada masyarakat yang beresiko dari aspek life-style


adalah dengan mengatur pola hidup dan membuat
perencanaan aktifitas secara menyeluruh.
Life-event health risk
Pada populasi yang beresiko dari aspek
life-event adalah dengan cara meningkatkan
keyakinan dan ketahanan secara
biopsikososiopsiritual dan kultural dalam
menghadapi perubahan yang terjadi baik
yang dapat diprediksi maupun
tidak.(Stanhope, 1996).
KELOMPOK RENTAN
PENDAHULUAN
 Garis Garis Besar Haluan Negara 1999 - 2004
 Pasal 8 UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang
HAM
 Pasal 5 ayat (3) Undang-Undang No.39 Tahun
1999 yang menyatakan bahwa setiap orang yang
termasuk kelompok masyarakat yang rentan
berhak memperoleh perlakuan dan perlindungan
lebih berkenaan dengan kekhususannya
DEFINISI KELOMPOK RENTAN
 kelompok social yang beresiko tinggi
terjadi masalah kesehatan
 populasi ini mempunyai kemungkinan
besar terjadi penyakit dari pada kelompok
lainnya
JENIS KELOMPOK RENTAN
◦ orang lanjut usia
◦ Anak - anak,
◦ fakir miskin
◦ Perempuan rentan
◦ penyandang cacat
◦ Kelompok minoritas
MASALAH – MASALAH KELOMPOK
RENTAN
 ANAK
pelanggaran hak asasi : abuse, eksploitasi dan
diskriminasi
 PEREMPUAN
KDRT
 PENYANDANG CACAT
diskriminasi pekerjaan, perhatian terhadap keterbatasan
yang masih kurang
 KELOMPOK MINORITAS
diskriminasi poleksosbud
SASARAN PROMOSI KESEHATAN
 Sasaran primer
- individu dari kelompok rentan
 Sasaran sekunder
- keluarga kelompok rentan
- masyarakat
 Sasaran tertier
- Dinas Kesehatan, Dinas Tenaga Kerja,
dan perusahaan asuransi kesehatan.