Anda di halaman 1dari 21

LABORATORIUM PEMBELAJARAN FISIKA

(Tugas Mata Kuliah Pengelolaan Laboratorium)

Oleh
1. Afifah Hidayati 11139022002
2. Desmaria Kristin 11139022011
3. I wayan Adinata 11139022022
4. Inayah Rahmawati 11139022025
5. Novinta Nurulsari 11139022039
6. Surya Darma 11139022061

PENDIDIKAN FISIKA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2013

KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan syukur kehadirat Allah SWT. berkat bimbingan serta


petunjuk-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah pengelolaan laboratorium
tepat pada waktunya.
Makalah ini disusun sehubungan dengan tugas mata kuliah Pengelolaan
Laboratorium. Makalah ini membahas mengenai pengertian dan definisi
laboratorium serta fungsi dan manfaat laboratorium pembelajaran fisika.
Penulis menyadari dalam penyusunan makalah ini terdapat kekurangan. Oleh
karena itu, kritik dan saran dari semua pihak sangat membantu. Penulis
berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Bandarlampung, September 2013

Penulis
DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 2
C. Tujuan Penulisan 2
BAB II ISI
A. Pengertian Laboratorium 3
B. Fungsi dan Manfaat Laboratorium Pembelajaran Fisika 5
C. Komponen Laboratorium Pembelajaran Fisika 11
D. Kelengkapan Alat dan Bahan Pembelajaran Fisika 15
E. Tata Tertib Laboratorium Pembelajaran Fisika 16
F. Tata Ruang Laboratorium Pembelajaran Fisika 17
G. Karakteristik Laboratorium Pembelajaran Fisika Ideal dan
Konvensional 20
BAB III PENUTUP
A. Simpulan 26
B. Saran 27
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam dunia fisika, laboratorium tentu sudah tidak asing lagi didengar.
Laboratorium adalah tempat penunjang kegiatan pembelajaran untuk mencapai
tujuan pembelajaran yang optimal. Karena dalam pencapaian tujuan
pembelajaran fisika, sebaiknya siswa dituntut mampu mengembangkan
keterampilannya dalam mengaplikasikan beberapa konsep atau materi fisika
yang sedang dipelajari dalam bentuk eksperimen atau percobaan untuk
menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja dan berpikir ilmiah, serta
mengkomunikasikannya sebagai aspek penting kecakapan hidup.
Laboratorium adalah suatu tempat dimana percobaan dan penyelidikan
dilakukan. Dalam pengertian sempit laboratorium diartikan sebagai tempat yang
berupa gedung yang dibatasi oleh dinding dan atap yang didalamnya terdapat
sejumlah alat dan bahan praktikum. Dalam pendidikan Sains kegiatan
laboratorium merupakan bagian integral dari kegiatan belajar mengajar,
khususnya fisika. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya peranan kegiatan
laboratorium untuk mencapai tujuan pendidikan sains. Woolnough & Allsop
(dalam Nuryani Rustaman, 1995), mengemukakan empat alasan mengenai
pentingnya prktikum sains. Pertama, praktikum membangkitkan motivasi belajar
sains. Kedua, praktikum mengembangkan keterampilan dasar melakukan
eksperimen. Ketiga, praktikum menjadi wahana belajar pendekatan ilmiah.
Keempat, praktikum menunjang materi pelajaran. Dari kegiatan tersebut dapat
disimpulkan bahwa praktikum dapat menunjang pemahaman siswa terhadap
materi pelajaran. Dan itu berarti laboratorium juga memiliki kontribusi yang
besar dalam menunjang pemahaman siswa. Untuk menambah wawasan dan
mengoptimalkan fungsi laboratorium serta pemenuhan tugas mata kuliah
Pengelolaan Laboratorium, maka disusunlah makalah ini.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari penulisan makalah ini adalah :
1. Apakah pengertian dari laboratorium?
2. Apakah fungsi dan manfaat laboratorium pembelajaran fisika?
3. Apakah komponen laboratorium pembelajaran fisika?
4. Alat dan bahan apa sajakah yang harus ada dalam laboratorium?
5. Bagaimana tata tertib laboratorium pembelajaran fisika?
6. Bagaimana tata ruang laboratorium pembelajaran fisika?
7. Bagaimana karakteristik laboratorium pembelajaran fisika konvensional dan
ideal?

C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah:
1. Mengetahui pengertian dan definisi laboratorium.
2. Mengetahui fungsi dan manfaat laboratorium pembelajaran fisika .
3. Mengetahui komponen laboratorium pembelajaran fisika.
4. Mengetahui alat dan bahan yang harus ada dalam laboratorium pembelajaran
fisika.
5. Memahami tata tertib laboratorium pembelajaran fisika.
6. Mengetahui tata ruang laboratorium pembelajaran fisika.
7. Mengetahui karakteristik laboratorium pembelajaran fisika konvensional dan
ideal.

BAB II
ISI
A. Pengertian dan Definisi Laboratorium
Untuk dapat melakukan pembelajaran dengan praktek atau eksperimen setiap
sekolah perlu didukung dengan adanya laboratorium. Laboratorium merupakan
salah satu sarana pembelajaran dengan metode demonstrasi maupun praktek.
Laboratorium sering diartikan sebagai suatu ruangan atau tempat untuk
melakukan percobaan atau penelitian. Ruang dimaksud dapat berupa gedung
yang dibatasi oleh dinding atau alam terbuka misalnya kebun botani.
Laboratorium adalah suatu tempat dilakukannya percobaan dan penelitian.
Tempat ini dapat merupakan ruangan tertutup, kamar atau ruangan terbuka.
Laboratorium adalah suatu ruangan yang tertutup di mana percobaan
eksperimen dan penelitian dilakukan (Depdikbud : 1995, 2003). Laboratorium
adalah tempat belajar mengajar melalui metode pratikum yang dapat
menghasilkan pengalaman belajar dimana siswa berinteraksi dengan berbagai
alat dan bahan untuk mengobservasi gejala-gejala yang dapat diamati secara
langsung dan dapat membuktikan sendiri sesuatu yang dipelajari.

Laboratorium (disingkat lab) adalah tempat riset ilmiah, eksperimen, pengukuran


ataupun pelatihan ilmiah dilakukan. Laboratorium biasanya dibuat untuk
memungkinkan dilakukannya kegiatan-kegiatan tersebut secara terkendali
(Anonim, 2007). Sementara menurut Emha (2002), laboratorium diartikan sebagai
suatu tempat untuk mengadakan percobaan, penyelidikan, dan sebagainya yang
berhubungan dengan ilmu fisika, kimia, dan biologi atau bidang ilmu lain.
Defenisi laboratorium menurut:
1. Procter
Laboratorium adalah tempat atau ruangan di mana para ilmuwan bekerja dengan
peralatan untuk penyelidikan dan pengujian terhadap suatu bahan atau benda.
2. ISO / IEC Guide
Laboratorium adalah instalasi atau lembaga yang melaksanakan pengujian.

Pengertian lain menurut Sukarso (2005), laboratorium ialah suatu tempat dimana
dilakukan kegiatan kerja untuk mernghasilkan sesuatu. Tempat ini dapat
merupakan suatu ruangan tertutup, kamar, atau ruangan terbuka, misalnya
kebun dan lain-lain.

Berdasarkan definisi tersebut, laboratorium adalah suatu tempat yang digunakan


untuk melakukan percobaan maupun pelatihan yang berhubungan dengan ilmu
fisika, biologi, dan kimia atau bidang ilmu lain yang merupakan suatu ruangan
tertutup, kamar atau ruangan terbuka seperti kebun dan lain-lain.

Engkoswara (1982) mengatakan bahwa melalui kegiatan praktikum yang


biasanya dilakukan di laboratorium, siswa diharapkan dapat:
a. Mengembangkan berbagai keterampilan secara terintegrasi.
b. Mengenal berbagai peralatan laboratorium.
c. Mengenal berbagai desain dan peralatan untuk eksperimen.
d. Mengembangkan keterampilan mengumpulkan dan menginterprestasikan data.
e. Mengembangkan sikap untuk melakukan sesuatu secara tepat dan akurat.
f. Mengembangkan keterampilan dalam mengobservasi.
g. Mengembangkan kemampuan dalam mengkomunikasikan hasil eksperimen.
h. Mengembangkan kecakapan dalam menulis laporan.
i. Mengembangkan kemampuan untuk belajar dan melakukan percobaan sendiri.
j. Menambah keberanian berfikir sendiri dan menanggung resiko.
k. Merangsang berfikir siswa melalui eksperimen.
l. Mengembangkan keterampilan dalam memecahkan masalah dengan berbagai
variabel yang banyak dan berbagai kemungkinan pemecahannya.
Macam-macam laboratorium yaitu:
1. Laboratorium pendidikan

Laboratorium yang digunakan untuk pendidikan terutama tingkat SD, SMP, SMA.
2. Laboratorium riset
Laboratorium yang digunakan oleh para praktisi keilmuwan dalam upaya
menemukan sesuatu untuk meneliti suatu hal yang dibidanginya.

B. Fungsi dan Manfaat Laboratorium Pembelajaran Fisika

Menurut Wirjosoemarto dkk (2004: 44) fasilitas Laboratorium adalah sebagai


berikut: laboratorium yang baik harus dilengkapi dengan berbagai fasilitas untuk
memudahkan pemakaian laboratorium dalam melakukan aktivitasnya. Fasilitas
tersebut ada yang berupa fasilitas umum dan fasilitas khusus. Fasilitas umum
merupakan fasilitas yang dapat digunakan oleh semua pemakai Laboratorium
contohnya penerangan, ventilasi, air, bak cuci (sinks), aliran listrik dan gas.
Fasilitas khusus berupa peralatan dan mebelair, contohnya meja
siswa/mahasiswa, meja guru/dosen, kursi, papan tulis, lemari alat, lemari bahan,
ruang timbang, lemari asam, perlengkapan P3K, pemadam kebakaran dan lain-
lain.

Menurut Wicahyono (2003:30), untuk menentukan apakah suatu ruangan itu


cocok atau tidak untuk dijadikan laboratorium, kita perlu memperhatikan
beberapa hal seperti arah angin, dan arah datangnya cahaya. Apabila
memungkinkan, ruangan Laboratorium sebaiknya terpisah dari bangunan
ruangan kelas. Hal ini perlu untuk menghindari terganggunya proses belajar
mengajar di kelas yang dekat dengan laboratorium akibat dari kegiatan yang
berlangsung di laboratorium, baik suara atau bau yang ditimbulkan.
Menurut Sukarso (2005), secara garis besar fungsi laboratorium dalam proses
pendidikan adalah sebagai berikut:
1. Sebagai tempat untuk berlatih mengembangkan keterampilan intelektual
melalui kegiatan pengamatan, pencatatan dan pengkaji gejala-gejala alam.
2. Mengembangkan keterampilan motorik siswa. Siswa akan bertambah
keterampilannya dalam mempergunakan alat-alat media yang tersedia untuk
mencari dan menemukan kebenaran.
3. Memberikan dan memupuk keberanian untuk mencari hakekat kebenaran
ilmiah dari sesuatu objek dalam lingkungn alam dan sosial.
4. Memupuk rasa ingin tahu siswa sebagai modal sikap ilmiah seseorang calon
ilmuan.
5. Membina rasa percaya diri sebagai akibat keterampilan dan pengetahuan atau
penemuan yang diperolehnya.

Lebih jauh dijelaskan dalam Anonim (2003), bahwa fungsi dari laboratorium
adalah:
1. Laboratorium Sebagai Sumber Belajar
Tujuan pembelajaran fisika dengan banyak variasi dapat digali, diungkapkan, dan
dikembangkan dari laboratorium. Laboratorium sebagai sumber untuk
memecahkan masalah atau melakukan percobaan. Sebagai sumber belajar
Laboratorium juga memiliki peran penting yang bermanfaat dalam pencapaian
tiga tujuan pembelajaran yaitu :
a. Keterampilan kognitif, misalnya melatih agar teori dapat dimengerti dan agar
teori dapat diterapkan pada keadaan problem nyata.
b. Keterampilan afektif, misalnya belajar bekerja sama, belajar menghargai
bidangnya dan belajar merencanakan kegiatan secara mandiri.
c. Keterampilan psikomotorik, misalnya belajar memasang peralatan sehingga
betul-betul berjalan, dan berjalan memakai peralatan dan instrumen tertentu.
2. Laboratorium Sebagai Metode Pembelajaran
Di dalam laboratorium terdapat dua metode dalam pembelajaran yakni metode
percobaan dan metode pengamatan.
3. Laboratorium Sebagai Prasarana Pendidikan
Laboratorium sebagai prasarana pendidikan atau wadah proses pembelajaran.
Laboratorium terdiri dari ruang yang dilengkapi dengan berbagai perlengkapan
dengan bermacam-macam kondisi yang dapat dikendalikan, khususnya peralatan
untuk melakukan percobaan.
Fungsi laboratorium yaitu sebagai sumber belajar dan mengajar, sebagai metode
pengamatan dan metode percobaan, sebagai prasarana pendidikan atau sebagai
wadah dalam proses belajar mengajar. Menurut Soejitno (1983) secara garis
besar fungsi laboratorium adalah sebagai berikut:
a. Memberikan kelengkapan bagi pelajaran teori yang telah diterima sehingga
antara teori dan praktik bukan merupakan dua hal yang terpisah. Keduanya
saling kaji-mengkaji dan saling mencari dasar.
b. Memberikan keterampilan kerja ilmiah bagi mahasiswa/siswa.
c. Memberikan dan memupuk keberanian untuk mencari hakikat kebenaran
ilmiah dari sesuatu obyek dalam lingkungan alam dan lingkungan sosial.
d. Menambah keterampilan dalam menggunakan alat dan media yang tersedia
untuk mencari dan menemukan kebenaran.
e. Memupuk rasa ingin tahu mahasiswa/siswa sebagai modal sikap ilmiah
seorang calon ilmuwan.

Pasal 43 Keputusan Menteri Agama No. l7 Tahun 1988 ditetapkan pula fungsi
Laboratorium untuk :
a. Mempersiapkan sarana penunjang untuk melaksanakan pendidikan dan
pembelajaran sesuai dengan bidang stu¬di yang bersangkutan.
b. Mempersiapkan sarana penunjang untuk melaksanakan penelitian dan
pengembangan sesuai dengan bidang studi yang bersangkutan.

Laboratorium harus ditata sedemikian rupa sehingga dapat berfungsi dengan


baik. Tata ruang yang sempurna, harus dimulai sejak perencanaan gedung
sampai pada pelaksanaan pembangunan. Tata ruang yang baik mempunyai pintu
masuk (in), pintu keluar (out), pintu darurat (emergency-exit), ruang persiapan
(preparation-room), ruang peralatan (equipment-room), ruang penangas (fume-
hood), ruang penyimpanan (storage - room), ruang staf (staff-room), ruang teknisi
(technician-room), ruang bekerja (activity-room), ruang istirahat/ibadah, ruang
prasarana kebersihan, ruang toilet, lemari praktikan (locker), lemari gelas (glass-
rack), lemari alat-alat optik (opticals-rack), pintu jendela diberi kawat kasa agar
serangga dan burung tidak dapat masuk, fan (untuk dehumidifier), ruang ber-AC
untuk alat-alat yang memerlukan persyaratan tertentu.
Berdasarkan Kurikulum 2013 guru fisika sangat dituntut dalam kreatifitas
membuat alat-alat sederhana yang mampu menjelaskan teori dan konsep fisika,
sesuai dengan peralatan yang ada dan kondisi daerahnya agar tervisualisasi
sehingga mudah dipahami dan dimengerti siswanya. Untuk itu peranan
laboratorium fisika menjadi sangat penting, karena laboratorium merupakan
pusat proses belajar mengajar untuk mengadakan percobaan, penyelidikan atau
penelitian (Ar1, 2007). Adapun peranan laboratorium sekolah antara lain :
1. Laboratorium sekolah sebagai tempat timbulnya berbagai masalah sekaligus
sebagai tempat untuk memecahkan masalah tersebut.
2. Laboratorium sekolah sebagai tempat untuk melatih keterampilan serta
kebiasaan menemukan suatu masalah dan sikap teliti.
3. Laboratorium sekolah sebagai tempat yang dapat mendorong semangat
peserta didik untuk memperdalam pengertian dari suatu fakta yang diselidiki
atau diamatinya.
4. Laboratorium sekolah berfungsi pula sebagai tempat untuk melatih peserta
didik bersikap cermat, bersikap sabar dan jujur, serta berpikir kritis dan cekatan.
5. Laboratorium sebagai tempat bagi para peserta didik untuk mengembangkan
ilmu pengetahuannya (Emha, 2002).
Berdasarkan hasil pemantauan Direktorat Pendidikan Menengah Umum dan
Inspektorat Jendral dalam Anonim (2003), Laboratorium IPA-Fisika yang
pemanfaatan dan pengelolaannya sebagai sumber belajar yang belum optimal
atau tidak digunakan disebabkan oleh berbagai faktor antara lain:
1. Kemampuan dan penguasaan guru terhadap peralatan dan pemanfaatan bahan
praktek masih belum memadai.
2. Kurang memadai baik secara kualitas maupun kuantitas tenaga laboratorium.
3. Banyak alat-alat laboratorium dan bahan yang sudah rusak yang belum
diadakan kembali.
4. Tidak cukupnya/terbatasnya alat-alat dan bahan mengakibatkan tidak setiap
siswa mendapat kesempatan belajar untuk mengadakan eksperimen.
Untuk melaksanakan kegiatan di laboratorium fisika perlu perencanaan yang
sistematis agar dapat dicapai tujuan pembelajaran secara optimal. Kegiatan
praktikum fisika dapat dilaksanakan di dalam laboratorium atau di luar
laboratorium (di lapangan), tergantung pada kepentingannya didalam membahas
konsep dan subkonsep. Dalam hal ini guru fisika dengan pertimbangannya dapat
mengetahui alat mana yang dapat dibawa ke lapangan dan mana yang harus ada
di laboratorium atau tidak mungkin dibawa ke luar.
Dalam anonim (2003), Langkah-langkah praktis pelaksanaan kegiatan
laboratorium fisika adalah sebagai berikut :
1. Guru Fisika pada awal tahun pelajaran dan semester sebaiknya menyusun
program semester yang ditanda tangani oleh kepala sekolah. Tujuannya untuk
mengidentifikasi kebutuhan alat/bahan serta menyusun jadwal dan untuk
keperluan supervisi bagi kepala sekolah.
2. Setiap akan melaksanakan kegiatan laboratorium, guru sebaiknya mengisi
format permintaan/peminjaman alat/bahan kemudian diserahkan kepada
penanggung jawab teknis laboratorium atau laboran. Ini diperlukan untuk
mempersiapkan alat/bahan serta mengecek fungsi tiap-tiap alat.
3. Di laboratorium, guru tidak hanya memberikan bimbingan kepada siswa untuk
melakukan eksperimen, tetapi guru dapat pula menyampaikan konsep atau
subkonsep non eksperimen, yang memerlukan alat bantu, misalnya cara
menggunakan osiloskop.
4. Kegiatan di lapangan juga dapat dilakukan yang merupakan laboratorium
alam. Dalam melaksanakan kegiatan di laboratorium alam ini adalah untuk
menyampaikan atau menerapkan aplikasi-aplikasi dari materi fisika dalam
kehidupan sehari-hari. Guru harus sudah menyiapkan fasilitas, alat seadanya
ataupun siap memberikan pemahan konsep tentang aplikasi dari materi.
Kegiatan praktikum fisika dapat dan seharusnya dilaksanakan di laboratorium,
baik laboratorium yang disiapkan terlebih dahulu yang dilengkapi dengan segala
macam peralatan yang dibutuhkan untuk praktik, dapat pula di laboratorium
alam yang memiliki fasilitas seadanya sesuai dengan alam yang ada disekitar
sekolah. Laboratorium ini diharapkan dapat menempatkan cara belajar fisika
sebagaimana seharusnya yang akan dapat melibatkan siswa belajar, baik secara
langsung maupun tidak langsung. Sehingga siswa dapat lebih memahami materi
dibandingkan dengan pembelajaran biasa.
Meskipun Laboratorium sangat besar manfaat dan kegunannya, akan tetapi
praktik di laboraturium juga memiliki kelemahan, disamping kelebihannya.
Kelebihan dari praktik di Laboraturium :
a. Melibatkan siswa secara langsung dalam mengamati suatu proses.
b. Siswa dapat meyakini hasilnya, karena mereka secara langsung mengamati,
mendengarkan, meraba, dan melihat.
c. Siswa akan mempunyai kemampuan dalam keterampilan mengelola alat,
mengadakan percobaan, membuat kesimpulan, menulis laporan, dan mampu
berfikir analisis.
d. Siswa lebih cenderung menyukai obyek yang nyata di alam sekitarnya.
e. Memupuk dan mengembangkan sikap berfikir ilmiah, sikap inovatif dan saling
bekerja sama.
f. Membangkitkan minat ingin tahu, memperkaya pengalaman keterampilan kerja
dan pengalaman berfikir ilmiah.

Sedangkan kekurangan dari praktik di Laboraturium :


a. Guru harus benar-benar mampu menguasai materi dan keterampilan.
b. Tidak semua mata pelajaran dapat di praktikkan dan tidak semua diajarkan
dengan metode praktik.
c. Alat-alat dan bahaan yang mahal harganya dapat menghambat untuk
melakukan praktek.
d. Banyak waktu yang diperlukan untuk praktik, sehingga kemungkinan dapat
dilaksanakan diluar jam pelajaran.

C. Komponen Laboratorium

Komponen-komponen laboratorium fisika dapat dikategorikan dalam 5 komponen


yang terdiri dari bangunan laboratorium, fasilitas laboratorium, alat-alat
laboratorium, bahan-bahan, dan personil pengelola laboratorium. Suatu
komponen yang penting dalam pengelola laboratorium adalah para personilnya,
yaitu yang akan mengelola tugas pengelola laboratorium.

Para personil akan terdiri dari beberapa orang yang jumlahnya akan tergantung
pada keadaan laboratorium, jumlah praktikum dan tujuan para praktikum yang
melaksanakan praktikum atau eksperimen di laboratorium itu. Yang ideal
personal-personal yang akan terlibat langsung berdasarkan birokrasi dan hirarki
tanggung jawab bidang kerja yang harus ditanganinya terdiri dari, masing-masing
personal harus memahami dan mengerti bidang kerja yang menjadi tanggung
jawabnya, sesuai dengan peraturan yang berlaku pada lembaganya dan selalu
berorientasi pada tujuan dan fungsi laboratorium yang dibinanya.
Antara para personil pengelola yang langsung dan jalur vertikal secara
administrasi harus terbina dengan hubungan yang harmonis dan masing-masing
dapat memahami bahwa mereka semua itu merupakan komponen-komponen dari
system dan pendidikan. Persyaratan ketrampilan yang harus dimiliki para
personil diantaranya seperti fungsi masing-masing kegiatan dari para mahasiswa
yang telah diuraikan sebelumnya. Pembinaan personil secara teknis dan
administrasi dari waktu kewaktu agar selalu ditingkatkan dan dibina sehingga
pelaksanaan kerjanya mencapai tujuan yang optimal. Secara ringkas dapat
dikatakan bahwa keberhasilan tugas dalam melaksanakan pengelolaan
laboratorium akan ditentukan oleh para personilnya, dan lembaga yang
membinanya.

Dalam pengelolaan laboratorium, ada 5 macam komponen laboratorium yang


dapat dikategorikan dalam 2 kelompok, yaitu kelompok pengelola (sebagai
sumber daya manusia) dan kelompok yang dikelola, yaitu bangunan laboratorium,
fasilitas laboratorium, alat-alat laboratorium dan bahan-bahan laboratorium.
Dalam uraian ini akan ditinjau fungsi dan aspek dari masing-masing kelompok
itu.

1. Kelompok Pengelola
Untuk tercapainya tujuan pembelajaran/praktikum, maka perlu mendapat
perhatian yang serius terutama dari pihak yang berwenang baik secara teknis
maupun administrativ. Pengelola laboratorium perlu mendapat perhatian
terutama dari segi penggunaan waktu kerja, disiplin yang diperlukan, kesehatan
personal yang bekerja dilaboratorium, dan yang paling penting keselamatan kerja
personal/siswa di Laboratorium. Pengelolaan merupakan suatu proses
pendayagunaan sumber daya secara efektif dan efisien untuk mencapai suatu
sasaran yang diharapkan secara optimal dengan memperhatikan keberlanjutan
fungsi sumber daya. Dalam pengelolaan laboratorium meliputi beberapa aspek
yaitu sebagai berikut:
1. Perencanaan
2. Penataan
3. Pengadministrasian
4. Pengamanan, perawatan, dan pengawasan

Pengelolaan laboratorium berkaitan dengan pengelola dan pengguna, fasilitas


laboratorium (bangunan, peralatan laboratorium, KIT IPA), dan aktivitas yang
dilaksanakan di laboratorium yang menjaga keberlanjutan fungsinya. Pada
dasarnya pengelolaan laboratorium merupakan tanggung jawab bersama baik
pengelola maupun pengguna. Oleh karena itu, setiap orang yang terlibat harus
memiliki kesadaran dan merasa terpanggil untuk mengatur, memelihara, dan
mengusahakan keselamatan kerja.
Mengatur dan memelihara laboratorium merupakan upaya agar laboratorium
selalu tetap berfungsi sebagaimana mestinya. Sedangkan upaya menjaga
keselamatan kerja mencakup usaha untuk selalu mencegah kemungkinan
terjadinya kecelakaan sewaktu bekerja di laboratorium dan penangannya bila
terjadi kecelakaan.

Para pengelola laboratorium hendaknya memiliki pemahaman dan keterampilan


kerja di laboratorium, bekerja sesuai tugas dan tanggung jawabnya, dan
mengikuti peraturan. Tata tertib kerja di laboratorium merupakan pedoman
umum yang dirumuskan dirumuskan untuk menjaga keselamatan kerja dan
memelihara fasilitas laboratorium.

Selama ini pengelolaan laboratorium sekolah belum dapat dilakukan


sebagaimana mestinya. Bahkan terkesan ruang laboratorium yang dibangun tidak
berfungsi. Tidak sedikit ruangan yang dibangun bagi kegaiatan laboratorium
sekolah ada yang berubah fungsi. Tentu saja hal tersebut sangat disayangkan
dan merugikan. Banyak faktor-faktor yang menyebabkan bergesernya
laboratorium sebagai tempat untuk mengamati, menemukan, dan memecahkan
suatu masalah manjadi ruang kelas ataupun gudang, antara lain :
1. Kurangnya kemampuan dalam mengelola laboratorium sekolah.
2. Kurangnya pemahaman terhadap makna dan fungsi laboratorium sekolah serta
implikasinya bagi pengembangan dan perbaikan sistem pembelajaran fisika.
Ironisnya keberadaan laboratorium sekolah dianggap membebani sehingga
jarang dimanfaatkan sebagai mana mestinya.
3. Terbatasnya kemampuan guru dalam penguasaan mata pelajaran.
4. Belum meratanya pengadaan dan penyebaran alat peraga KIT IPA sehingga
menyulitkan bagi pusat kegiatan guru untuk menjalankan fungsi pembinaannya
kepada para guru (Emha, 2002).

2. Kelompok yang Dikelola


Kelompok laboratorium yang dikelola termasuk didalamnya bangunan gedung
laboratorium, kebun sekolah, fasilitas laboratorium, alat-alat laboratorium, dan
bahan-bahan praktikum. Untuk pengelolaan masing-masing komponen tersebut
diatas dapat dilakukan berbagai system sesuai dengan landasan, fungsi dan
tujuan laboratorium. Salah satu alternatif pengelolaan laboratorium
pembelajaran IPA khususnya fisika di sekolah dapat digambarkan sebagai
berikut :
1) Mengelola bangunan dan fasilitasnya.
- Perabot laboratorium
- Instalasi listrik
- Instalasi air
- Instalasi gas
- Lingkungan sekolah
2) Mengelola alat-alat laboratorium.
- Perencanaan (jumlah dan jenis alat yang ada)
- Desain ruang sesuai dengan alat yang ada
- Penetapan alat yang telah diidentifikasi
- Mengadministrasikan alat-alat yang ada
- Penggunaan alat secara ruti/periodic
3) Mengelola bahan pratikum.
- Mengidentifikasi jumlah bahan yang dibutuhkan
- Mempersiapkan tempat penggunaan dan penyimpanan bahan praktikum
- Pengadministrasian bahan yang habis/sisa praktikum

Didalam pengelolaan bahan praktikum yang sangat penting diperhatikan adalah


keselamatan alat, bahan, dan personil pengelola.

D. Kelengkapan Alat Dan Bahan

Hal ini menuntut para guru fisika membuat lembar kerja siswa yang merangsang
siswa untuk bekerja dan mencoba menemukan teori, konsep, rumus fisika
sederhana, sehingga mereka dilatih untuk menjadi peneliti-peneliti muda.

Dalam proses belajar mengajar di dalam laboratorium diperlukan berbagai


peralatan yang memadai untuk menunjang kelancaran pelaksanaan kegiatan
belajar mengajar. Dalam hal ini alat peraga mempunyai peranan yang sangat
penting bahkan dapat menentukan berhasil atau tidaknya kegiatan proses
belajar mengajar.

Secara garis besar alat peraga, ada yang mudah dibuat dan ada yang sukar
dibuat. Alat yang mudah dibuat dinamakan alat peraga sederhana karena dapat
menggunakan bahan murah dan mudah didapat dari lingkungan sekitar dan
dapat pula dibuat sendiri oleh guru atau bersama-sama dengan peserta didik.
Penggunaan dan pembuatan alat peraga sederhana dapat merangsang
kreativitas para guru atau peserta didik untuk mengembangkan kemampuannya
dalam membuat alat peraga, sedangkan alat yang sukar akan dibuatkan oleh
instansi yang memerlukan dan kemudian disebarkan ke sekolah (Emha, 2002).
Adapun administrasi alat praktek IPA menurut sukarso (2005), terdiri dari
beberapa bagian antara lain :
a. Kartu stok adalah untuk mengetahui jumlah alat/bahan yang tersedia di
laboratorium dan tempat penyimpanannya.
b. Buku inventaris, memuat catatan tentang jumlah semua macam barang yang
ada di laboratorium termasuk perabot laboratorium.
c. Daftar alat/bahan sesuai LKS.
d. Buku harian kegiatan laboratorium berguna untuk merekam semua kejadian
dalam kegiatan laboratorium.
e. Label, memuat kode alat, nama alat dan jumlah alat dan keterangan mengenai
kondisi alat tersebut.
f. Format permintaan alat/bahan, biasanya diisi oleh guru bila akan
melaksanakan kegiatan laboratorium dan diberikan kepada laboran sebelum
kegiatan dilakukan.
g. Jadwal kegiatan laboratorium.

E. Tata Tertib Laboratorium

Praktikum di dalam laboratorium harus dilakukan dengan serius disertai dengan


pengetahuan tentang teori praktikum, sebelum memulai kerja perlu mempelajari
serta memahami petunjuk dan prosedur pecobaan yang dilakukan. Ada tiga hal
yang perlu diperhatikan selama bekerja di lab.
1. Kebersihan
Selama bekerja, lab harus selalu dijaga kebersihannya dan jas praktikum yang
dipakai harus selalu bersih demikian pula alat-alat yang dipakai.Setelah selesai
melakukan percobaan, bersihkan dan keringkan alat-alat, cuci wadah dan
kembalikan ketempat semula. Tinggalkan laboratorium dalam keadaan bersih
dan rapih.
2. Ketepatan
Ketepatan yang harus diperhatikan dalam hal menimbang dan mengukur.
3. Pengamatan
Percobaan akan memberikan hasil yang baik jika pengamatan dilakukan secara
layak dan setiap perubahan yang terjadi harus dicatat.

Tata tertib dalam laboratorium sebagai berikut:


a. Peserta paktikum harus datang paling lambat 15 menit sebelum kegiatan
dimulai. Bagi yang berhalangan hadir wajib memberi keterangan atau alasan
yang jelas.
b. Selama berada dilaboratorium, jas praktikum lengkap dengan atributnya harus
selalu dipakai dengan rapi, tidak boleh dilepas, bagi yang tidak lengkap
atributnya tidak akan diijinkan praktikum, bagi laki2 maks 5 cm di bawah siku.
c. Setiap kali praktikum diadakan responsi untuk pecobaan yang dilakukan.
d. Selama praktikum belangsung, peserta praktikum tidak boleh meninggalkan
lab tanpa ijin dosen atau asisten pembimbing.
e. Praktikum dibagi-bagi atas kelompok-kelompok, setiap kelompok
beranggungjawab atas peralatan yang dipakai.
f. Tidak boleh makan dan minum selama jam praktikum.

F. Tata Ruang Laboratorium


Dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah diperlukan penilaian aspek
psikomotor guna mengetahui kopentensi siswa setelah mengikuti proses
pembelajaran selama periode tertentu. Dalam kaitan dengan pendukung
kegiatan teoritis di dalam ruang kelas maka diperlukan kerja laboratorium, yang
berupa praktikum atau percobaan. Laboratorium dalam pendidikan IPA berarti
suatu tempat di mana guru dan siswa melakukan kegiatan percobaan atau
penelitian, sehingga laboratorium tidak selalu berarti gedung laboratorium tetapi
dapat berupa kebun, lapangan dan lain-lain yang dipakai untuk kegiatan tersebut.
Di samping itu ruangan kelas biasa atau ruangan lain dapat diubah menjadi
ruangan laboratorium setelah mengalami penataan sedemikian rupa

Desain laboratorium berarti suatu tatanan dari komponen-komponen dan


kelengkapan laboratorium, yakni menyangkut bentuk ruangan, bagian-bagian
ruangan, perlengkapan, kemudahan atau fasilitas yang harus ada, dan posisi
terhadap bangunan lain. Tata ruang laboratorium fisika berarti suatu tatanan
komponen pengisi ruangan Laboratorium Fisika, di mana letak meja-meja,
bangku, berapa renggang barang-barang tersebut berjarak dan di mana letak
bak-bak cuci, perlengkapan air, listrik dan gas, letak lemari, alat pengaman dan
kotak P3K diletakan. Hal ini merupakan segi-segi yang harus diperhatikan dalam
pengaturan tata ruang Laboratorium Fisika. Tata ruang tersebut dapat dibagi
atas ruang tetap dan tata ruang tidak tetap.

1. Tata Ruang Tetap


Tidak ada dua sekolahpun yang memiliki lingkungan yang sama, sehingga letak
laboratorium tidak bisa diseragamkan. Sebaiknya laboratorium diletakan dengan
posisi arah utara–selatan karena arah demikian erat dengan banyaknya sinar
matahari yang masuk dan ada sangkut pautnya dengan ventilasi cahaya alami.
Proyek penyediaan Laboratorium SMU dan SMP dari Kementerian Pendidikan
Nasional dalam Buku Penuntun Perencanaan Pembangunan memberikan syarat
sebagai berikut :
• Laboratorium tidak terletak di atas tanah pertanian dan tidak terletak di arah
angin. Hal ini untuk menghindari pencemaran udara dalam lingkungan yang lebih
luas.
• Letak laboratorium mempunyai jarak yang cukup jauh terhadap sumber air. Hal
ini untuk menghindari pencemaran air di lain tempat yang berhubungan.
• Laboratorium harus mempunyai saluran pembuangan air pencuci agar tidak
mencemari sumber air penduduk sekitar.
• Jarak laboratorium harus cukup jauh dari bangunan lain, agar ventilasi dan
penerangan alami yang optimum dapat diperoleh (jarak minimal yang disyartakan
adalah 3 meter).
• Letak laboratorium mudah dikontrol dalam kompleks sekolah guna menjaga
keamanan dari pencurian, kebakaran dan lain-lain. Dan pembanguanannya tidak
menyerobot untuk aktivitas lain bagi kepentingan yang lebih utama dan luas.
Adapun luas ruangan laboratorium bervariasi sesuai dengan macam dan
jenisnya, yaitu:
• Ruangan kegiatan belajar mengajar yang berisi perabotan seperti meja, kursi
almari, rak, meja demonstrasi. Luas minimum 2,5 m2 untuk tiap orang siswa,
sehingga untuk tiap 50 orang siswa luas laboratorium 125 m2. Bentuk ruangan
sedemikian rupa sehingga siswa dapat duduk tidak berdempetan dan siswa
paling belakangpun dapat melihat percobaan yang didemonstrasikan guru.
• Ruangan persiapan, yaitu tempat guru dan laboran/pembantu laboratorium
melakukan persiapan sebelum kegiatan praktikum atau demonstrasi dilakukan.
Luas lantai 20 m2 untuk laboratorium yang luasnya 100 m2 sehingga tidak
mengganggu kegiatan ruang lain.
• Ruangan gudang terdiri dari ruang penyimpanan alat atau perkakas dan ruang
penyimpan chemicalien (bahan-bahan kimia). Luas gudang minimum 20 m2.
terpisahkan ruang ini karena sering terjadi perusakan perkakas oleh
terkontaminasinya zat kimia.
• Ruangan gelap, kegunaannya untuk proses pembuatan foto atau kegiatan yang
mensyaratkan bebas cahaya seperti fotografi dan sablon. Luas minimum 2,5 m2
yang disediakan untuk dua orang.
• Ruang Pembimbing Praktikum, ruangan ini diperuntukan bagi para asisten
praktikum untuk istirahat dan koreksi laporan. Di dalamnya terdapat buku-buku
literatur praktikum.

2. Tata Ruang Tidak Tetap


Tatanan dalam ruang ini terdiri dari perabotan yang mudah dipindah-pindahkan.
Penempatan perabotan ini harus mempertimbangan hal-hal sebagai berikut :
 Keamanan; penempatan perabotan harus menghindari penyebab kecelakaan.
 Kemudahan; penempatan perabotan harus sedemikian rupa sehingga mudah
didapat jika diperlukan.
 Keleluasaan; penempatan perabotan harus memungkinkan guru dan siswa
untuk bebas bergerak dalam melakukan percobaan.
 Keindahan; penempatan perkakas/perabotan harus memberikan rasa
kenyamanan dan keindahan dan enak dipandang.
 Kefisikaan; penempatan perabotan atau zat harus memperhitungkan pengaruh
cahaya, listrik, dan panas.
 Kekimiaan; penempatan perabotan/perkakas/zat kimia harus
mempertimbangkan adanya pengaruh uap/gas kimia, kelembaban, kontak korosif
antarlogam dan gas/zat.
 Kebiologian; penempatan perkakas harus memperhitungkan kemungkinan
hidupnya tumbuhan, jamur, binatang dan lain-lain.

Beberapa macam alat perlengkapan non-permanen atau berupa benda


laboratorium yang dapat/mudah dipindahkan, antara lain :
 Meja
 Lemari dan rak
 Media pandang

G. Karakteristik Laboratorium Konvensional dan Ideal


Pada umumnya bentuk, ukuran dan tata ruang suatu laboratorium didesain
sedemikian rupa sehingga pemakai laboratorium mudah melakukan aktivitasnya.
Disamping bentuk, ukuran laboratorium perlu mendapat perhatian, karena fungsi
laboratorium di sekolah-sekolah tidak hanya digunakan untuk percobaan yang
bersifat individual. Umumnya laboratorium digunakan untuk berbagai kegiatan
percobaan dalam konteks proses belajar mengajar. Jumlah siswa yang melebihi
kapasitas ruangan laboratorium dalam satu kali percobaan akan mengganggu
kenyamanan dan jalannya percobaan atau aktivitas lainnya.
Suatu laboratorium dapat dikatakan konvensional dan ideal dapat dilihat dari
beberapa faktor, antara lain:
1. Jenis Laboratorium
Di sekolah menengah, umumnya jenis laboratorium disesuaikan dengan mata
pelajaran yang membutuhkan laboratorium tersebut. Karena itu di sekolah-
sekolah untuk pembelajaran IPA biasanya hanya dikenal laboratorium fisika,
laboratorium kimia dan laboratorium biologi. Di SLTP mungkin hanya ada
laboratorium IPA saja. Di Perguruan Tinggi, untuk satu jurusan saja, mungkin
terdapat banyak laboratorium. Namun terkadang, ada sekolah yang tidak ada
ruangan untuk setiap kali ingin melakukan percobaan, sehingga menggunakan
ruang kelas sebagai ruang laboratorium.

2. Tata Letak Laboratorium


Persyaratan lokasi pembangunan laboratorium antara lain:
a. Tidak terletak pada arah angin yang menuju bangunan lain atau pemukiman.
Hal ini dimaksudkan untuk menghindari penyebaran gas-gas berbahaya.
b. Bangunan laboratorium tidak berdekatan atau dibangun pada lokasi sumber
air dan jangan terlalu dekat dengan bangunan lainnya.
c. Lokasi laboratorium harus mudah dijangkau untuk pengontrolan dan
memudahkan tindakan lainnya misalnya apabila terjadi kebakaran,mobil
kebakaran harus dapat menjangkau bangunan laboratorium.
Namun terkadang ada laboratorium yang dibangun pada daerah yang kurang baik
karena minimnya dana dan daerah pembangunan.

3. Ruangan laboratorium
Ruangan laboratorium untuk pembelajaran sains umumnya terdiri dari ruang
utama dan ruang ruang pelengkap. Ruang utama adalah ruangan tempat para
siswa atau mahasiswa melakukan praktikum. Ruang pelengkap umumnya terdiri
dari ruang persiapan dan ruang penyimpanan. Ruang persiapan digunakan untuk
menyiapkan alat-alat dan bahan-bahan yang akan dipakai praktikum atau
percobaan baik untuk siswa maupun untuk guru. Ruang penyimpanan atau
gudang terutama digunakan untuk menyimpan bahan-bahan persediaan
(termasuk bahan kimia) dan alat-alat yang penggunaannya tidak setiap saat
(jarang). Mungkin juga sebuah laboratorium memiliki ruang gelap (dark room)
untuk percobaan yang berkaitan dengan cahaya. Penyimpanan alat-alat peraga di
dalam gudang tidak boleh disatukan dengan bahan kimia. Demikian pula
penyimpanan alat-alat gelas tidak boleh disatukan dengan alat-alat yang terbuat
dari logam kuran ruang utama lebih besar dari pada ukuran ruang persiapan dan
ruang penyimpanan. Namun yang sering kita lihat jarang sekali sekolah yang
benar-benar memiliki tata ruang yang sangat teratur, kebanyakan ruang
laboratorium yang digunakan sebagai tempat untuk percobaan digunakan juga
sebagai gudang dan tempat penyimpanan alat peraga atau percobaan yang
sudah tidak digunakan.

4. Fasilitas Laboratorium
Laboratorium yang baik harus dilengkapi dengan berbagai fasilitas untuk
memudahkan pemakai laboratorium dalam melakukan aktivitasnya. Fasilitas
tersebut ada yang berupa fasilitas umum (utilities) dan fasilitas khusus. Fasilitas
umum merupakan fasilitas yang dapat digunakan oleh semua pemakai
laboratorium contohnya penerangan,ventilasi, air, bak cuci (sinks), aliran listrik,
gas.
• Penerangan
Ruang laboratorium harus memiliki pengatur penerangan yang dapat diubah-ubah
sesuai kebutuhan. Sumber cahaya dapat berasal dari cahaya matahari atau dari
listrik.
• Ventilasi
Laboratorium fisika membutuhkan ventilasi yang baik. Kadangkadang ventilasi
tidak dapat dicukup dari jendela, sehingga dibutuhkan alat perotasi udara
seperti kipas penyedot (ceiling fans). Adanya kipas penyedot ini dapat membantu
pergantian udara menjadi lebih baik.
• Air
Air merupakan fasilitas yang penting dalam laboratorium IPA, terutama untuk
laboratorium biologi. Pasokan air ke dalam laboratorium tersebut harus cukup.
Selain jumlah pasokan, kualitasnya juga harus baik, kualitas air yang kurang baik
dapat mempercepat kerusakan alat-alat terutama alat-alat yang terbuat dari
logam. Aliran air yang masuk ke dalam laboratorium harus lancar. Demikian juga
aliran air yang ke luar laboratorium. Air yang masuk dan ke luar laboratorium
biasanya lewat pipa-pipa. Harus diperhatikan pembuangan air sisa cucian yang
mengandung bahan-bahan yang dapat merusakkan pipa-pipa tersebut.
Pembuangan sisa asam atau basa kuat atau bahan korosif
• Listrik
Pada laboratoium fisika, listrik merupakan fasilitas yang sangat penting.
Besarnya daya yang terpasang harus mencukupi kebutuhan alat-alat
laboratorium, terutama alat-alat laboratorium yang membutuhkan daya besar,
seperti oven, furnace, autoclave dan lain-lain. Tegangan listrik harus selalu dicek
apakah stabil atau tidak.Tegangan listrik yang tidak stabil dapat merusak alat-
alat. Harus diperhatikan pula instalasi listrik, jangan didekatkan dengan aliran
air dan gas. Selain itu harus dilengkapi dengan pengaman yang mudah dijangkau.
Terminal out let harus mudah dijangkau. Instalasi listrik secara periodic perlu
diperiksa kondisinya. Kabel-kabel listrik secara periodic disikat untuk
menghilangkan bahan-bahan korosif yang biasanya menempel pada permukaan
kabel. Socket dan plug harus diperiksa apakah masih berfungsi dengan baik atau
rusak (aus). Apabila rusak harus segera diganti. Periksa juga secara periodic
hubungan kabel ke socket apakah masih terikat dengan kuat.
• Mebelair
Perlengkapan yang berupa mebelar harus diperhatikan kualitas dan ukurannya.
Misalnya untuk meja perlu diperhatikan ketinggiannya. Umunya meja siswa /
mahasiswa ukuran tingginya 70-75 cm. Meja guru / dosen atau meja demonstrasi
harus lebih tinggi dari meja siswa, agar sewaktu demonstrasi dapat terlihat
sampai ke meja siswa paling belakang. Kursi laboratorium apabila
memungkinkan ketinggiannya dapat diatur, sehingga siswa / mahasiswa dapat
menyesuaikan dengan jenis kegitan praktikum / percobaan. Meja samping yang
biasa dipakai untuk menyimpan alat-alat yang menetap umumnya terbuat dari
cor beton. Namun demikian dapat juga meja samping tersebut dibuat dari bahan
kayu keras. Bagian bawah meja samping dapat sekaligus digunakan sebagai
lemari. Ukuran meja samping panjangnya bervariasi sesuai kebutuhan,
sedangkan lebarnya antara 50 cm sampai 60 cm dengan ukuran tinggi 70cm -75
cm. Demikian halnya meja untuk timbangan harus rata dan tidak mudah bergetar
atau goyang. Meja timbangan ini sangat cocok dibuat dari cor beton atau dari
bahan kayu keras yang tebal. Lemari alat dan bahan hendaknya memiliki tahapan
(shelve) yang dapat diubah-ubah posisinya agar memudahkan dalam menata alat-
alat yang bervariasi ukurannya. Adakalanya dibutuhkan suatu lemari yang khusus
digunakan untuk menyimpan mikroskop dan alat optik lainnya. Lemari mikroskop
dibuat dengan tahapan (shelve) yang kokoh dan datar yang dapat dibuat dari
bahan logam atau kayu keras. Ukurannya disesuaikan dengan kebutuhan atau
jumlah mikroskop yang dimiliki. Hal yang perlu diperhatikan untuk lemari
mikroskop tersebut adalah diusahakan tidak lembab agar terhindar dari jamur.’

Fasilitas khusus berupa peralatan dan mebel contohnya meja siswa/mahasiswa,


meja guru/dosen, kursi, papan tulis, lemari alat, lemari bahan, dan ruang
timbang, lemari asam, perlengkapan P3K, pemadam kebakaran dll. Namun, untuk
sekolah yang memang kekurangan sarana dan fasilitas pembelajaran, biasanya
tidak terlalu memperhatikan masalah fasilitas yang memang seharusnya ada.
Sehingga ketika melaksanakan kegiatan praktikum, siswa sering mengalami
hambatan dan kesulitan.
BAB III
PENUTUP

A. Simpulan
Dari penjabaran di atas maka dapat diperoleh kesimpulan yaitu:
1. Laboratorium adalah suatu tempat dilakukannya percobaan dan penelitian.
2. Fungsi dan manfaat laboratorium pembelajaran fisika secara garis besar
adalah sebagai sumber belajar, sebagai metode pembelajaran, dan sebagai
prasarana pendidikan.
3. Dalam pengelolaan laboratorium, ada 5 macam komponen laboratorium yang
dapat dikategorikan dalam 2 kelompok, yaitu kelompok pengelola (sebagai
sumber daya manusia) dan kelompok yang dikelola, yaitu bangunan laboratorium,
fasilitas laboratorium, alat-alat laboratorium dan bahan-bahan laboratorium.
4. Dalam proses belajar mengajar di dalam laboratorium diperlukan berbagai
peralatan yang memadai untuk menunjang kelancaran pelaksanaan kegiatan
belajar mengajar.
5. Praktikum di dalam laboratorium harus dilakukan dengan serius dan mematuhi
tata tertib laboratium disertai dengan pengetahuan tentang teori praktikum,
sebelum memulai kerja perlu mempelajari serta memahami petunjuk dan
prosedur pecobaan yang dilakukan.
6. Tata ruang laboratorium fisika berarti suatu tatanan komponen pengisi
ruangan Laboratorium Fisika. Tata ruang tersebut dapat dibagi atas ruang tetap
dan tata ruang tidak tetap.
7. Mayoritas laboratorium pembelajaran IPA khususnya fisika kurang
memperhatikan segala aspek yang seharusnya dijadikan acuan dalam
membangun fungsi laboratorium yang optimal sehingga hanya sedikit sekali
laboratorium yang ada di sekolah-sekolah yang memang sudah memasuki kriteria
laboratorium ideal.

B. Saran
Sebagai calon penyelenggara pendidikan, hendaknya kita dapat mengoptimalkan
fungsi laboratorium pembelajaran IPA khususnya fisika dengan mengacu pada
kriteria laboratorium pembelajaran fisika yang ideal sehingga proses
pembelajaran dapat berjalan dengan efektif dan berkualitas. Karena pada
dasarnya tujuan kurikulum kita tidak hanya pada aspek intelektual/pengetahuan
melainkan juga aspek keterampilan, sikap, dan spiritual. Dan laboratorium
adalah tempat yang dapat mengembangkan keterampilan siswa atas
pengetahuan yang dimiliki.

DAFTAR PUSTAKA

Hadiat. 1984. Pedoman Pengelolaan Laboratorium IPA. Jakarta : Depdikbud.


Nyeneng,I Dewa Putu.2011. Materi Pokok Pengelolaan Laboratorium IPA.
Bandarlampung : Universitas Lampung.
Kancono . 2010. Manajemen Laboratorium IPA. Bengkulu : Unit Penerbitan FKIP
UNIB.
Restuati, Martina, dkk. 2011. Teknik Laboratorium. Medan: FMIPA UNIMED
Team teaching. 2011. Biologi Umum 1. Medan : FMIPA UNIMED

Anda mungkin juga menyukai