Anda di halaman 1dari 10

Inovasi Varian Rasa POD Chocolate Bali

LAPORAN KKL (Kuliah Kerja Lapangan)

Disusun oleh

Retno Dewi Purwitasari : 1607026035

Mirzantika Khazamanda : 1607026038

Athiqotul Himmah : 1607026039

PROGRAM STUDI GIZI FAKULTAS PSIKOLOGI DAN KESEHATAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO

SEMARANG

2018
Kata Pengantar

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita
semua. Sholawat serta salam tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Agung Muhammad
SAW, keluarganya dan para sahabatnya. Serta para pengikutnya sampai pada hari kiamat
nantinya.

Pada kesempatan ini, kami telah menyelesaikan Laporan KKLdengan judul “Inovasi
Varian Rasa POD Chocolate Bali”. Dalam laporan ini kami akan membahas beberapa hal yang
terkait dengan higienitas dan sanitasi pada pengolahan makanan di ACS Juanda.

Terimakasih atas dukungan moral dari keluarga dan sahabat yang telah membantu dalam
menyelesaikan laporan ini. Tak lupa juga kami ucapkan terimakasih kepada seluruh Dosen-dosen
Gizi UIN Walisongo yang telah membimbing kami. Kami berharap laporan ini dapat bermanfaat
bagi kita semua. Apabila ada kesalahan dalam pembuatan maupun isi dari laporan ini kami
mohon maaf. Kritik dan saran dari Bapak/Ibu Dosen dan teman-teman sangat diperlukan untuk
perbaikan makalah ini selanjutnya.

Semarang, 22 Oktober 2018

Penyusun

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL 1
KATA PENGANTAR 2
DAFTAR ISI 3
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang 4
1.2 Rumusan Kegiatan 5
1.3 Tujuan Kegiatan 5
1.4 Manfaat Kegiatan 5
BAB II PEMBAHASAN
2.1 SejarahSingkat POD Chocolate Bali 6
2.2 Klasifikasi Inovasi Varian Rasa POD Chocolate Bali 7
2.3 Pemilihan Bahan Baku Varian Rasa POD Chocolate Bali 8
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan 12
3.2 Saran 13

DAFTAR PUSTAKA 14
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kakao atau di Indonesia dikenal dengan istilah kakao dan lebih dikenal dengan coklat
merupakan salah satu hasil perkebunan yang banyak terdapat di dunia dan khususnya di
Indonesia. Tanaman kakao pertama kali dibawa masuk ke Indonesia pada tahun 1560 oleh
bangsa Filipina dan kemudian berkembang pada tahun-tahun berikutnya. Kakao sendiri
dikenal terdapat beberapa jenis dan memiliki beberapa kegunaan. Seperti yang kita ketahui,
kakao dapat digunakan sebagai bahan makanan dan minuman, hingga dapat digunakan
sebagai produk untuk make up atau produk kecantikan. Banyak produk hasil olahan kakao
yang dapat digunakan oleh masyarakat luas saat ini.
Selain sebagai produsen kakao, Provinsi Bali juga merupakan salah satu provinsi di
Indonesia sebagai konsumen kakao. Konsumsi kakao di Provinsi Bali tidak hanya
dikonsumsi oleh masyarakat lokal. Dengan kata lain, konsumsi kakao di Bali juga
diperuntukkan untuk kebutuhan pariwisata. Namun, konsumsi kakao yang ada di Bali saat ini
belum diimbangi dengan jumlah tempat pengolahan yang ada. Mayoritas hasil produksi
kakao di Bali dikumpulkan pada pedagang pengepul, kemudian hasil produksi kakao tersebut
dibawa ke pabrik pengolahan besar di luar Bali untuk dilakukan pengolahan selanjutnya.
Kemudian hasil olahan yang telah jadi dikirim ke seluruh Indonesia dan kembali ke Provinsi
Bali untuk konsumsi.
Dengan hasil produksi kakao yang cukup besar, maka perlu didukung dengan keberadaan
industri atau pabrik pengolahan kakao yang kiranya cukup memadai di Bali. Adanya pabrik
pengolahan kakao ini diharapkan nantinya dapat membantu memperkenalkan kepada
masyarakat tentang bagaimana proses pengolahan kakao dari buah hingga siap digunakan
dengan fungsi atau kegunaannya yang beragam. Selain itu dapat membantu perekonomian
daerah dan membantu memperkenalkan lokasi terpilih sebagai daya tarik wisata, khususnya
wisata edukasi bagi wisatawan lokal maupun mancanegara.
Berbagai inovasi pun dihadirkan untuk proses pengembangan rasa. Oleh karena itu,
kelompok kami tertarik untuk membahas jenis-jenis inovasi rasa yang dihadirkan POD
Chocolate Bali untuk tetap eksis di dunia percoklatan.

1.2 Rumusan Masalah


Mengobservasi bagaimanakah Jenis-Jenis Inovasi Rasa POD Chocolate Bali

1.3 Tujuan
1. Mengetahui sejarah singkat POD Chocolate Bali
2. a) Mengetahui klasifikasi inovasi varian rasa di POD Chocolate Bali
b) Mengetahui pemilihan bahan baku varian rasa di POD Chocolate Bali.

1.4. Manfaat

1. Dapat mengetahui sejarah singkat POD Chocolate Bali


2. a) Dapat mengetahui klasifikasi inovasi rasa di POD Chocolate Bali
b) Dapat mengetahui pemilihan bahan baku varian rasa di POD Chocolate Bali.
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Sejarah POD Chocolate Bali


Pod Bali dimulai pada tahun 2010 dengan dua pertanyaan sederhana; bagaimana
biji kakao menjadi cokelat dan mengapa tidak dibuat di tempat kakao itu tumbuh? Toby
Garritt (Founder POD Chocolate Bali) mulai menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dalam
proses tiga tahun mengembangkan teknik dan resep produksi cokelat saat bekerja dengan
petani setempat untuk menciptakan model pertanian organik yang berkelanjutan dengan
meningkatkan hasil, kualitas, dan nilai bagi masyarakat setempat.
Pada tahun 2012 Pod Pod Origin yang dibangun di Bali Elephant Camp, fasilitas
produksi & kafe khusus, dibuka pada bulan Januari 2013. Dari Origin, Pod mulai
memproduksi Rangkaian Klasik cokelat couverture berkualitas tinggi bergaya Eropa;
cokelat batangan, cokelat blok dan tetes untuk pâtissière, chocolatiers dan layanan
makanan serta praline dan hadiah coklat dan fasilitas. Pod juga memulai tur cokelatnya
bagi orang-orang yang ingin melihat sendiri bagaimana cokelat dibuat, versi mini dari
perjalanan Toby sendiri.
Pada tahun 2014 Pod mulai bekerja dengan nektar bunga lontar organik sebagai
pemanis alternatif untuk gula rafinasi untuk menciptakan Rentang produk Nektar, yang
juga menarik secara ekstensif dari bahan-bahan lokal yang bersumber di sekitar Bali.
Sebagai salah satu makanan super kaya antioksidan di dunia, tampaknya alami untuk
menggabungkan kakao dengan nektar organik lokal, tidak dimurnikan, sebagai pengganti
gula rafinasi. Hasilnya adalah beberapa cokelat sehat dan lezat di dunia.
Karena meningkatnya permintaan dan ekspansi internasional, Pod Bali sedang
membangun pembukaan 'Pod Factory & Factory Outlet' baru di paruh kedua tahun 2016.
Pod saat ini memiliki tiga gerai selain tersedia di Pemalas Bandara Internasional Bali
Bebas & pengecer pilihan di seluruh Bali . Pertanyaan nasional & internasional
menyambut.

2.2 a. Klasifikasi Inovasi Varian Rasa di POD Chocolate Bali


Varian rasa Pod Chocolate dari masa ke masa bertambah semakin banyak.
Mereka selalu menambah inovasi varian rasa coklat mereka. Awalnya hanya memiliki
lima varian rasa, tetapi sekarang sudah ada sekitar 23 varian rasa cokelat batangan
berukuran 45 gram dan 100 gram dengan harga Rp 29.900 dan Rp 49.900 per batang,
mulai dari classic bar, nectar bar, hingga truffles dan pralines dengan kandungan cokelat
dari 29% white chocolate hingga 80% extra dark chocolate. Khusus nectar bar Pod
diramu dengan tambahan komposisi rempah khas Indonesia, seperti kayu manis, daun
mint, jahe, kunyit, cabai, pisang, dan rosela.
Tidak hanya chocolate bar, Pod juga memproduksi chocnut spread. Memang,
membuat produk premium yang dibungkus dengan kemasan bagus menjadi strategi Inda
sebagai pemain baru untuk menembus pasar cokelat yang cukup menggiurkan. Hal ini
dikarenakan cokelat merupakan camilan favorit keempat setelah pastry, biskuit, dan
permen. Hanya saja, masyarakat Indonesia rata-rata hanya mengonsumsi 300-400 gram
cokelat per tahun, jauh di bawah Swiss yang mencapai 8,8 kg atau negara tetangga
Malaysia yang mencapai 1,1 kg.
Cara pemasaran, selain di lokasi pabrik, awalnya hanya menyasar hotel-hotel
bintang lima di seputaran Bali. Setelah hotel berbintang, mereka merambah supermarket
yang pangsa pasarnya adalah wisatawan yang sedang berkunjung ke Bali, duty free shop
dan Bandara Ngurah Rai, serta Pod Café and Shop di daerah Sunset Road, Kuta, hingga
Surabaya dan Jakarta.
Pabrik cokelat pertamanya yang berkapasitas produksi 5 ton per bulan sudah tidak
mampu memenuhi permintaan pasar. Akhirnya, pada 2016, Pod Chocolate membuka
pabrik keduanya di jalur wisata Denpasar-Bedugul, Desa Benong Mengwi, yang
berkapasitas 45 ton per bulan.

2.3 b. Pemilihan Bahan Baku Varian Rasa di POD Chocolate Bali


Pertama kali kita datang di Pod Chocolate, kita disuguhkan oleh bangunan dengan
desain akulturasi budaya local khas Indonesia dengan desain modern terbukti dari
perpaduan bambu dan kaca. Semua proses pembuatan dan penjualan memang dilakukan
pada bangunan yang sama. Pod Chocolate sengaja dibangun dapur dengan dinding kaca
sehingga pelanggan dapat melihat proses pembuatan di dalam. Melalui kaca, para
pengunjung bisa melihat seluruh proses pembuatan coklat, dari mulai memasak, mengaduk,
menyebarkan hingga proses pendinginan. Selain itu, Pod Chocolate juga menyediakan tempat
bagi individu atau instansi yang ingin melakukan kunjungan disana untuk mengetahui secara
detail sejarah Pod Chocholate itu sendiri, pemilihan bahan baku produk mereka, proses
pembuatan coklat, dan lain sebagainya. Hal tersebut tentu merupakan hal yang positif
tentunya bagi kami para mahasiswa gizi yang ingin mengetahui lebih dalam mengenai
pemilihan bahan baku, proses pembuatan, dan hal lain yang bersangkutan dengan ilmu gizi.
Terlebih lagi, kami disambut dengan sangat ramah dan baik oleh para karyawan dan juga
oleh pihak marketing yang membuat kami lebih antusias dalam menggali ilmu disana.
Dari hasil observasi yang kami lakukan mengenai pemilihan bahan baku varian
rasa pada Pod Chocolate, mereka memilih bahan baku yang kualitasnya premium agar
tidak merusak cita rasa dari coklat itu sendiri. Bahan-bahan baku untuk varian rasa Pod
Chocolate selalu disortir terlebih dahulu. Varian rasa Pod Chocolate yang diramu dengan
tambahan komposisi rempah khas Indonesia, seperti kayu manis, daun mint, jahe, kunyit,
cabai, pisang, dan rosela menggunakan hasil perkebunan lokal yang memiliki kualitas
premimum. Misalnya varian rasa cabai terbuat dari cabai hasil perkebunan di Bali yang
memiliki kadar air tanah yang rendah daripada kadar air tanah wilayah lainnya (Jawa
misalnya). Sehingga kadar air cabai hasil perkebunan di Bali pun lebih rendah daripada
cabai hasil perkebunan wilayah lainnya yang membuat rasa pedas dari cabai hasil
perkebunan di Bali lebih kuat. Pod Chocholate sendiri memiliki kerjasama dengan para
petani kebun untuk menyediakan bahan baku yang berkualitas sehingga pihak Pod
Chocolate pun memberikan timbal balik kepada para petani kebun yakni berupa
penetapan harga bahan baku varian rasa yang sepadan. Dimana timbal balik tersebut
dapat memberikan motivasi kepada petani perkebunan untuk lebih intens dalam
mengembangkan perkebunan mereka sehingga hasil perkebunannya pun berkualias.
BAB III

PENUTUP

2.4 Kesimpulan
2.5 Saran

Semoga laporan observasi kelompok kami dapat bermanfaat bagi seluruh pembaca. Kritik dan
saran sangat diperlukan untuk kemajuan kelompok kami dalam pembuatan laporan observasi
berikutnya.
DAFTAR PUSTAKA