Anda di halaman 1dari 11

TUGAS VULKANOLOGI DAN GEOTERMAL

GUNUNG GAMKONORA, MALUKU UTARA

Oleh:

Luthfi Nurul Hidayah Saifudin

12012041

MALUKU UTARA Oleh: Luthfi Nurul Hidayah Saifudin 12012041 PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS ILMU DAN TEKNOLOGI

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI

FAKULTAS ILMU DAN TEKNOLOGI KEBUMIAN

INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG

2014

2

GUNUNG GAMKONORA

Lokasi Geografis

Gunung

Gamkonora

terletak

di

Kecamatan

Ibu

Selatan,

Kabupaten

Halmahera Barat, Provinsi Maluku Utara, tepatnya pada koordinat 1º 22’ 30" LU

dan 127º 3' 00". Gunung Gamkonora memilki ketinggian 1635 mdpl dan terletak

1600

m

dari

kota

Kecamatan

Ibu.

Gunung

ini

memiliki

tipe

strato.

Pos

pengamatan Gunung Gamkonora terletak di Kampung Gamsungi, Kecamatan Ibu,

Kabupaten

Halmahera

Barat,

Maluku

Utara.

Gunung

Gamkonora

adalah

gunungapi termuda dalam rangkaian gunungapi Halmahera.

Utara. Gunung Gamkonora adalah gunungapi termuda dalam rangkaian gunungapi Halmahera. Gambar 1 Peta Provinsi Maluku Utara

Gambar 1 Peta Provinsi Maluku Utara

3

Puncak Gunung Gamkonora dapat dicapai dari Kampung Gamsungi selama

4 jam. Terdapat perkemahan di Paseba yang lokasinya berada dalam hutan Glagah

(Kaso)

pada

ketinggian

kurang

lebih

1100

mdpl.

Kawah

utara

juga

dapat

digunakan

untuk

berkemah.

Pada

musim

hujan

dapat

ditemukan

air

pada

celah-celah batuan.

dapat ditemukan air pada celah-celah batuan. Gambar 2 Gunung Gamkonora saat terjadi erupsi Tektonik

Gambar 2 Gunung Gamkonora saat terjadi erupsi

Tektonik Regional

Gunung Gamkonora termasuk dalam rangkaian busur gunungapi Halmahera.

Volkanisme di Halmahera dipengaruhi oleh aktivitas tumbukan antar busur. Pada

Miosen Awal terjadi penunjaman (subduksi) Lempeng Laut Maluku ke arah barat

di

bawah

Busur

Sangihe,

peristiwa

ini

diikuti

subduksi

ke

arah

timur

di

4

Halmahera

yang

terjadi

pada

Miosen

Tengah.

Dua

subduksi

ini

kemudian

membentuk lempeng baru, yaitu Lempeng Laut Maluku. Lempeng Laut Maluku

ini memiliki bentuk seperti huruf U yang terbalik. Lempeng ini menunjam ke

timur, di bawah Busur Halmahera, dan ke barat, di bawah Busur Sangihe. Bukti

dari zona subduksi ini tampak pada persebaran hiposenter gempabumi di zona

Benioff di bawah busur Sangihe yang mencapai kedalaman 600 km di bawah Laut

Sulawesi. Di sisi lain, Busur Halmahera juga telah “menelan” sekitar 200-300 km

dari Lempeng Laut Maluku. Kemunculan andesit dan basalt di Halmahera Barat

juga dapat mebuktikan bahwa subduksi pernah terjadi di lempeng ini.

Busur

Sangihe

dan

Busur

Halmahera

bergerak

semakin

mendekat.

Tumbukan antar busur pun mulai tampak pada masa Pliosen. Tumbukan diawali

dengan Busur Halmahera yang pecah pada jalur vulkanik aktifnya. Kemudian

terjadi pergerakan yang menyebabkan bagian belakang busur (backarc) berpindah

menuju bagian depan busur (forearc) ke arah barat. Di kawasan Obi, bagian busur

bergerak menuju ke forearc. Setelah peristiwa ini, kegiatan vulkanisme di Obi

berhenti. Vulkanisme di Busur Halmahera kemudian berlanjut ke Bacan hingga

utara Halmahera. Di sisi lain, Busur Sangihe yang menuju ke timur mulai

bergerak naik menimpa forearc Busur Halmahera. Ketika ditemukan ophiolit di

tengah Laut Maluku, Ophiolit tersebut bukan berasal dari Lempeng Laut Maluku,

melainkan dari forearc Busur Sangihe.

5

5 Gambar 3 Interpretasi penampang barat laut- tenggara yang melewati Busur Sangihe dan Busur Halmahera (Hall,

Gambar 3 Interpretasi penampang barat laut- tenggara yang melewati Busur Sangihe dan Busur Halmahera (Hall, 2009)

Sejarah Erupsi

Letusan gunungapi ini umumnya bersifat eksplosif, yang mengeluarkan

bahan-bahan piroklastik seperti bongkahan batuan, lapilli dan abu vulkanik, serta

kadang-kadang mengeluarkan aliran lava. Letusan

vulkanik

dalam

sejarahnya

sejak

tahun

dan

peningkatan

1564/1565 sampai

kegiatan

saat

ini

telah tercatat sebanyak 11 kali dan semua terjadi di kawah puncak. Letusan

terakhir terjadi pada bulan Juli tahun 2007. Berikut ini adalah sejarah erupsi

Gunung Gamkonora.

Tabel 1 Sejarah Erupsi Gunung Gamkonora

TAHUN

KEJADIAN

VEI

1564/1565 Terjadi letusan di kawah puncak yang menimbulkan hujan abu dan aliran lava. Suara dentuman terdengar hingga jarak kurang lebih 200 km, sedangkan aliran lavanya mencapai laut. Akibat letusan ini menyebabkan kerusakan pada hutan dan tanah garapan, juga menimbulkan korban manusia.

 

3

1673

5

Tanggal 20 - 21 Mei, terjadi letusan yang banyak mengeluarkan abu, hingga kota Ternate menjadi gelap gulita. Awan abu luar biasa besarnya, hingga pada jarak kurang lebih 350 km abu masih mengendap cukup tebal. Bersamaan dengan letusan ini juga terasa gempa bumi.

6

Akibat letusan ini menyebabkan pula kerusakan hutan dan tanah garapan serta menimbulkan korban manusia.

Tanggal 18 Oktober terjadi peningkatan kegiatan, kadang-kadang kilat api tampak di samping kepulan berupa tiang asap tebal.

1917

2

1926

Terjadi peningkatan kegiatan tanggal 1 dan 2 Juni, diduga terjadi letusan eksplosif dari kawah pusat. Beberapa hari kemudian de Kroon melakukan pendakian ke puncak, pada malam hari dilihatnya api pijar di lima buah tempat lapangan solfatara.

1

1949

Terjadi peningkatan kegiatan, diduga telah terjadi letusan eksplosif dari kawah pusat.

2

1950

Bulan Oktober terjadi letusan eksplosif. Akibat letusan ini tumbuh-tumbuhan di pinggir kawah sebelah selatan-baratdaya hangus terbakar, abu cukup tebal.

2

1951

Tanggal 12 April keluar asap hitam dari kawahnya. Kepulan asap ini terlihat dari Kampung Gamsungi. Tanggal 2 Mei terdengar 2 kali suara gemuruh dari lobang kawahnya. Tanggal 16 Juli terjadi letusan kecil. Tahun ini pula suhu kawah memperlihatkan suhu yang relatif tinggi yaitu berkisar antara 400-500 0 C.

2

1983

Tanggal 16 dan 17 Pebruari terjadi letusan abu. Keterangan lebih lanjut tidak ada.

1987

Tanggal 13, 24, 25 dan 26 April terjadi letusan abu, tinggi asap sekitar 1000 m, bergerak ke arah selatan. Material letusan dilontarkan dan jatuh kembali di sekitar kawah. Sebagian penduduk pantai mengungsi, setelah petugas Vulkanologi datang untuk melakukan pemeriksaan, baru mereka kembali.

1

1997

10 Januari terjadi letusan abu setinggi 200 m di atas puncak

2007

2

Sinar api teramati pada ketinggian 10-20 m di atas puncak, disertai lontaran material pijar. Letusan disertai dentuman masih terjadi dengan ketinggian asap 2000-4000 m

7

7 Gambar 4 Letusan Gunung Gamkonora, tampak awan panas sebagai tanda letusan eksplosif Dari sejarah letusan

Gambar 4 Letusan Gunung Gamkonora, tampak awan panas sebagai tanda letusan eksplosif

Dari

sejarah

letusan

tersebut

kemudian

dibuat

Peta

Kawasan

Rawan

Bencana Gunung Gamkonora yang dibagi dalam 3 zona, yaitu Zona Bahaya I, II,

dan III. Zona I memiliki potensi terkena dampak aliran lahar hujan. Zona II

memiliki potensi terkena aliran awan panas, lava, dan lahar hujan. Zona III selalu

terancam aliran awan panas, lava, dan gas beracun.

selalu terancam aliran awan panas, lava, dan gas beracun. Gambar 5 Peta Kawasan Rawan Bencana Gunung

Gambar 5 Peta Kawasan Rawan Bencana Gunung Gamkonora. Zona I ditunjukkan dengan warna kuning, Zona II ditunjukkan dengan warna merah muda terang, dan Zona III ditunjukkan dengan warna merah muda.

8

Tipe Batuan Berdasarkan

sumber,

jenis

dan

proses

pembentukannya

maka

batuan

penyusun Gunung Gamkonora dibagi menjadi: Produk Kawah 1, Produk Kawah 2

dan Produk Kawah 3. Komposisi lava-lava Gunung Gamkonora berkisar

antara

basaltik andesit sampai andesit. Secara umum lava-lava bertekstur porfiritik,

fenokris terdiri dari plagioklas, klinopiroksen, mineral hitam seperti magnetit,

kadang-kadang ditemui

hornblende.

Masssa dasar mikrolit

plagioklas,

gelas

vulkanik, mineral hitam dan sedikit piroksen. Ciri-ciri petrografi dari lava-lava

Gunung Gamkonora banyak kemiripan dengan lava-lava gunungapi di busur

tunjaman Halmahera yakni bertipe kalk alkali.

di busur tunjaman Halmahera yakni bertipe kalk alkali. Gambar 6 Peta geologi lembar Morotai, kawasan Gunung

Gambar 6 Peta geologi lembar Morotai, kawasan Gunung Gamkonora didominasi batuan gunungapi Holosen dan Tuff (modifikasi dari Supriatna, 1980)

9

9 Gambar 7 Kekar kolom pada lava di dinding kawah utara sebelah barat (Kusumadinata, 1969) Data

Gambar 7 Kekar kolom pada lava di dinding kawah utara sebelah barat (Kusumadinata, 1969)

Data kimia, batuan Gunung Gamkonora hanya berupa mayor elemen dengan

kisaran kandungan SiO 2 antara 53,62 - 56,91 % berat. Kandungan K 2 O berkisar

antara 0,99 - 1,65 % berat. Berdasarkan plot K 2 O terhadap SiO 2 menurut

klasifikasi Peccerillo dan Taylor (1976) termasuk basaltik andesit seri kalk alkali.

Bila dilihat dari kandungan MgO pada basaltik andesitik Gunung Gamkonora

merupakan

basaltik

andestik

yang

rendah

kandungan

MgO-nya.

Batas

kandungan MgO dalam lava-lava Gunung Gamkonora hanya 4,99 % berat,

merupakan kandungan MgO yang biasa dimiliki oleh andesit. Kandungan MgO

pada lava-lava Gunung Gamkonora berkisar antara 2,42-4,99 % berat, dan Mg

number berkisar antara 51,93 -64,44% berat.

10

10 Gambar 7 Sketsa kawah Gunung Gamkonora yang berbentuk seperti pelana (E.W de Kroon, 1926; dalam

Gambar 7 Sketsa kawah Gunung Gamkonora yang berbentuk seperti pelana (E.W de Kroon, 1926; dalam Kusumadinata, 1969)

Pemanfaatan Gunung Gamkonora saat ini dimanfaatkan sebagai sarana kunjungan

pariwisata. Pengunjung dapat mendaki gunung melalui jalur yang sudah ada.

Pengunjung juga dapat mendirikan tenda di kawah apabila ingin menginap. Di

Gunung

Gamkonora

belum

diketahui

potensi

lain

seperti

geotermal

atau

mineralisasi. Namun, di Gunung Gamkonora terdapat manifestasi panas bumi

berupa

fumarola

dalam

kawah

pusat.

Tetapi

manifestasi

ini

masih

belum

memungkinkan untuk dijadikan sumber energi panas bumi karena gunung ini

masih menunjukkan aktivitas vulkanik aktif.

11

11 Gambar 8 Fumarola pada kawah pusat (Kusumadinata, 1969) Daftar Pustaka Hall, R. 2000. Neogene history

Gambar 8 Fumarola pada kawah pusat (Kusumadinata, 1969)

Daftar Pustaka

Hall, R. 2000. Neogene history of collision in the Halmahera region, Indonesia. Proceedings of the Indonesian Petroleum Association 27th Annual Convention, p. 487-493. Kristianto, Gunalan, A., Mugu, M. 1996. Laporan Pengamatan Seismik Gunung Gamkonora, Pulau Halmahera, Maluku Utara Agustus 1996 Kusumadinata, K. 1969. Kumpulan Data Mengenai Gunung Gamkonora di Pulau Halmahera (Maluku Utara) Supriatna, S. 1980. Geological Map of Morotai Quadrangle, North Maluku