Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kesehatan manusia terletak diantara dua kutub, yaitu sehat dan mati. Berada di area
sehat jika kesehatan manusia bergerak mendekati sehat, sementara berada pada area sakit
jika bergerak mendekati kematian. Sehat dan sakit manusia dipengaruhi oleh perilaku,
keturunan, lingkungan, sosial ekonomi, pelayanan kesehatan, dll. Agama memiliki peran
yang sangat penting dalam menangani sehat dan sakit manusia. Permasalahan sehat sakit
yang tidak dapat diselesaikan dapat menyebabkan distress moral bagi yang mengalami.
Disini diharapkan peran agama dapat menjadi pedoman bagi yang mengalami untuk dapat
menghadapi permasalahan sehat sakit yang dialami.

B. Identifikasi Masalah

Dari latar belakang di atas, penyusun mencoba menyampaikan dan membahas tentang
Hubungan Agama dengan Konsep Sehat Sakit.

C. Tujuan Penulisan

Makalah ini disusun dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Agama dan agar
mahasiswa mampu memahami hubungan agama dengan konsep sehat sakit sebagai landasan
dalam melaksanakan praktik profesi keperawatan.

D. Metode

Metode yang penyusun gunakan dalam menyusun makalah ini adalah metode literature
yaitu penyusun mencari dan menggali bahan-bahan dari internet dan penyusun juga
menggunakan metode diskusi kelompok (Small Group Discussion).

1
BAB II

PEMBAHASAN

HUBUNGAN AGAMA DENGAN KONSEP SEHAT SAKIT

2.1 DEFINISI KONSEP SEHAT SAKIT

Menurut DEPKES RI, konsep sehat dan sakit sesungguhnya tidak terlalu mutlak dan
universal karena ada factor-faktor lain di luar kenyataan klinis yang mempengaruhi
terutama factor social budaya. Menurut UU No. 23, tahun 1992, definisi sehat adalah
keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan social yang memungkinkan hidup produktif secara
social dan ekonomi. Sedangkan definisi sakit, seseorang dikatakan sakit apabila ia
menderita penyakit menahun (kronis) atau gangguan kesehatan lain yang menyebabkan
aktifitas kerja/kegiatannya terganggu.

Jadi definisi sehat-sakit yaitu status kesehatan seseorang terletak antara 2 kutub yaitu
“sehat optimal” dan “kematian” yang sifatnya dinamis. Bila kesehatan seseorang bergerak
ke kutub kematian maka seseorang berada pada area sakit (illness area) dan bila status
kesehatan bergerak kearah sehat (optimal well being) maka seseorang dalam area sehat
(wellness area).

2.2 DEFINISI SEJAHTERA DAN PERBEDAANYA DENGAN SEHAT

Sejahtera menunjuk pada kekeadaan yang baik, kondisi manusia dimana orang-
orangnya dalam keadaan makmur, dalam keadaan sehat dan damai terlepas dari segala
hambatan dan gangguan. Sedangakan sehat merupakan suatu keadaan dinamis yang
berubah secara tyerus menerus sesuai adaptasi individu terhadap berbagai perubahan yang
ada di lingkungan baik fisik, mental, dan social.

Dari penjelasan mengenai definisi sejahtera dan sehat, kita dapat mengetahui
perbedaan sejahtera dan sehat, dimana sejahtera itu menyangkut keadaan seseorang yang

2
dilihat dari segi ekonomi dan sosial. Orang yang hidupnya sejahtera pastinya dalam
keadaan yang sehat dan damai. Sedangkan orang sehat belum tentu sejahtera. Jika ditinjau
dari segi ekonomi, tidak selamanya orang yang dalam keadaan sehat tergolong ke dalam
ekonomi yang memadai.

2.3 FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI SEHAT DAN SAKIT

Faktor-faktor yang mempengaruhi sehat meliputi:

1. Perilaku

Dengan perilaku gaya hidup sehat maka dapat menghindarkan diri kita dari banyak
penyakit, mislanya : penyakit jantung, stroke, dsb. Contohnya : mengkonsumsi
vitamin dan kebiasaan pola makan yang sehat

2. Lingkungan atau Sosial Budaya

Dengan tinggal di lingkungan yang bersih, terawatt dan sehat maka kita akan bisa
menjalani hidup sehat. Lingkungan yang bersih dapat kita wujudkan dengan menjaga,
memelihara serta merawat lingkungan dengan baik dan benar.

3. Keturunan atau Biologis

Apabila kita memiliki orang tua yang mengidap penyakit menurun seperti asma maka
sudah pasti kita akan mengidapnya pula. Hal ini dapat diatasi dengan pengobatan
secara rutin agar tidak sering kambuh dan bertambah parah.

4. Pelayanan Kesehatan

Dengan semakin baiknya pelayanan kesehatan dari segi fasilitas dan murahnya biaya
berobat maka pasien/masyarakat diharapkan banyak yang berobat ke pelayanan
kesehatan sehingga tingkat kesehatan masyarakat semakin tinggi dan mampu menekan
angka masyarakat yang sakit.

Faktor-faktor yang mempengaruhi sakit meliputi :

3
1. Faktor internal
a. Persepsi individu terhadap gejala dan sifat sakit yang dialami
Klien akan segera mencari pertolongan jika gejala tersebut dapat mengganggu
rutinitas kegiatan sehari-hari. Hal ini tentu saja dapat memiliki akibat yang
sebaliknya. Bila saja orang tersebut takut mengalami sakit yang serius akan
bereaksi dengan cara menyangkal dan tidak mau mencari bantuan.
b. Asal atau jenis penyakit
Pada penyakit akut dimana gejala relative singkat dan berat serta mengikuti
menggangu fungsi pada seluruh dimensi yang ada. Maka klien biasanya akan
segera mencari pertolongan dan mematuhi program terapi yang diberikan. Tetapi
lain halnya jika itu penyakit kronik yang tidak dapat disembuhkan dan terapi
tersebut hanya mampu menghilangkan sebagian gejala yang ada, maka klien
mungkin tidak akan termotivasi untuk memenuhi rencana terapi yang ada.
2. Faktor eksternal
a. Gejala yang dapat dilihat
Gejala yang dapat terlihat dari suatu penyakit dapat mempengaruhi citra tubuh dan
perilaku sakit
b. Kelompok sosial
Kelompok sosial klien akan membantu mengenali ancaman penyakit atau justru
menyangkal potensi terjadinya suatu penyakit.
c. Latar belakang budaya
Latar belakang budaya dan etika mengajarkan seseorang bagaimana menjadi sehat,
mengenal penyakit dan menjadi sakit. Dengan demikian perawat perlu memahami
latar belakang budaya yang dimiliki klien.
d. Ekonomi
Semakin tinggi tingkat ekonomi maka akan lebih cepat tanggap terhadap gejala
penyakit yang ia rasakan. Sehingga ia akan segera mencari pertolongan ketika
merasa ada gangguan pada kesehatan.
e. Kemudahan akses terhadap system pelayanan
Semakin dekatnya jarak klien dengan rumah sakit, klinik, atau tempat pelayanan
medis lain sering mempengaruhi kecepatan mereka dalam memasuki system

4
pelayanan kesehatan. Demikian pula beberapa klien enggan mencari pelayanan
yang kompleks dan besar. Sehingga mereka lebih suka mengunjungi puskesmas
yang tidak membutuhkan prosedur yang rumit.
f. Dukungan sosial
Meliputi beberapa institusi atau perkumpulan yang bersifat peningkatan kesehatan.
Hal ini yang banyak menarik klien untuk mengikuti acara tersebut seperti, seminar
kesehatan, pendidikan, pelatihan senam, dll.
2.4 PROSES MASYARAKAT MENGALAMI PERAN SAKIT DAN MENUNJUKKAN
PERILAKU MENCARI BANTUAN UNTUK PENANGANAN KONDISINYA
SERTA PERAN AGAMA DALAM PROSES INI

Ketika seseorang mengalami peran sakit umumnya mereka akan mencari bantuan
untuk menangani sakit yang diderita dengan berbagai cara dari bantuan medis sampai
bantuan non-medis. Disini peran agama sebagai landasan aturan/kode etik dalam
pengobatan pasien. Peran agama disini diharapkan dapat mencegah terjadinya hal-hal yang
menyimpang dari nilai-nilai agama. Jadi agama itu digunakan sebagai pedoman
masyarakat dalam mencari bantuan untuk menangani sakitnya agar tidak melenceng dari
nilaiu-nilai agama.

2.5 PERAN AGAMA, NILAI-NILAI DAN KEPERCAYAAN DALAM


MEMPENGARUHI SEHAT DAN SAKIT SESEORANG

Peran agama, nilai-nilai dan kepercayaan dalam mempengaruhi sehat dan sakit
seseorang adalah agama dapat menginisiasi seseorang untuk mencari solusi yang tidak
merugikan kesehatan dan tidak menimbulkan penyakit. Seperti yang kita tau, di
masyarakat banyak nilai-nilai dan kepercayaan yang berbeda-beda, dan disini peran
agama sebagai pedoman dan tuntunan serta mengawasi bahwa masyarakat boleh
memiliki kepercayaan yang berbeda-beda namun harus tetap berpedoman pada nilai-nilai
yang terkandung dalam agama dan tidak boleh melenceng dari nilai-nilai agama itu
sendiri.

5
2.6 BAGAIMANA AGAMA DAPAT MENGINISIASI SESEORANG UNTUK
MENCARI SOLUSI YANG TIDAK MERUGIKAN KESEHATAN DAN TIDAK
MENIMBULKAN PENYAKIT

Dengan nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran agama dapat menjadi pedoman bagi
seseorang untuk mencari solusi yang tidak merugikan kesehatan dan tidak menimbulkan
penyakit.

2.7 DEFINISI DISTRESS MORAL DAN PROSES TERJADINYA

Distress adalah keadaan seseorang dimana psikologisnya menderita , keadaan malang,


ekstrim fisik sakit dan serangan yang terus menerus yang menyebabkan sakit mental.
Seseorang yang mengalami fungsi spiritual biasanya memverbalisasikan distress yang
dialaminya atau mengekspresikan kebutuhan untuk mendapatkan bantuan.

Seseorang awalnya mengalami tekanan misalnya disebabkan oleh masalah kesehatan


yang dihadapi individu, masalah keuangan, masalah di tempat kerja, beban kerja, konflik
dikeluarga, dll. Lalu seseorang itu tidak mampu menyelesaikan masalah atau tekanan yang
dihadapi sehingga mengakibatkan gangguan emosi, masalah tingkah laku, perubahan
biokimia dan hormon. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya sakit mental.

2.8 SEBAGAI SEORANG PERAWAT BAGAIMANA CARA MENGATASI DISTRESS


MORAL YANG TERJADI PADA SEORANG PASIEN

Sebagai seorang perawat, langkah pertama yang dapat dilakukan adalah melakukan
pendekatan kepada pasien untuk mengetahui masalah apa yang dihadapi oleh pasien.
Memberikan support dan keyakinan kepada pasien bahwa pasien bisa sembuh dan masalah
yang dihadapi bisa diselesaikan. Selain itu merujuk pasien ke pemuka-pemuka agama
untuk membantu pasien dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi.

6
Peran agama dalam memfasilitasi hal ini adalah dengan memperkuat iman dan
pengendalian diri untuk tidak berbuat hal-hal yang tidak diinginkan serta menambah dan
mendalami keyakinan/kepercayaan diri pasien untuk dapat bangkit dan sehat kembali dari
keterpurukan.

7
BAB III

KESIMPULAN

Definisi sehat-sakit yaitu status kesehatan seseorang terletak antara 2 kutub yaitu
“sehat optimal” dan “kematian” yang sifatnya dinamis. Bila kesehatan seseorang bergerak
ke kutub kematian maka seseorang berada pada area sakit (illness area) dan bila status
kesehatan bergerak kearah sehat (optimal well being) maka seseorang dalam area sehat
(wellness area). Perbedaan sejahtera dan sehat, dimana sejahtera itu menyangkut keadaan
seseorang yang dilihat dari segi ekonomi dan sosial. Orang yang hidupnya sejahtera
pastinya dalam keadaan yang sehat dan damai. Sedangkan orang sehat belum tentu
sejahtera. Sehat dan sakit manusia dipengaruhi oleh perilaku, keturunan, lingkungan, sosial
ekonomi, pelayanan kesehatan, dll.

Peran agama dalam permasalahan sehat sakit adalah sebagai landasan aturan/kode etik
dalam pengobatan pasien. Jadi agama itu digunakan sebagai pedoman masyarakat dalam
mencari bantuan untuk menangani sakitnya agar tidak melenceng dari nilaiu-nilai agama.

Munculnya tekanan dari permasalahan yang ada menyebabkan distress moral. Peran
agama dan perawat khususnya diharapkan mampu menangani permasalahan sehat sakit
yang dialami pasien.