Anda di halaman 1dari 40

MAKALAH SEMINAR

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA


TN. T DENGAN MASALAH UTAMA ISOLASI SOSIAL

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 4

Agung Setiadi Utari Martiningsih


Ezy Alkendhy Widiyanto
Indri Tri Handayani Deska Kurniasari
Luthfi Ummami Fauzi Lili Seftiani
Rangga Hariyanto Makhyarotil Ashfiya
Ratna Sari Ulfa Muzliyati
Rinda Farlina Yossy Claudia Evan
Tesar Pradyka

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
atas karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Asuhan
Keperawatan Jiwa Pada Tn. T dengan Isolasi Sosial”.
Penulisan makalah ini adalah untuk kegiatan seminar kelompok dalam
memenuhi salah satu tugas praktik klinik stase keperawatan jiwa di Program Studi
Profesi Ners Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura Pontianak. Penulisan
makalah ini dapat terlaksana dengan baik berkat dukungan dari berbagai pihak.
Untuk itu, pada kesempatan kali ini penulis mengucapkan terimakasih kepada
berbagai pihak yang telah memberikan bimbingan, dukungan dan bantuan baik
materil maupun spiritual.
Semoga penulisan makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis dan pembaca.

Singkawang, September 2018

Kelompok 4

ii
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ................................................................................. i
KATA PENGANTAR ................................................................................ ii
DAFTAR ISI ............................................................................................. iii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ............................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ........................................................................ 3
1.3 Tujuan Penulisan .......................................................................... 4
1.4 Manfaat Penulisan ....................................................................... 4

BAB II LANDASAN TEORI


2.1 Definisi ........................................................................................ 6
2.2 Etiologi ........................................................................................ 6
2.2.1 Faktor Predisposisi............................................................. 6
2.2.2 Faktor Presipitasi ............................................................... 7
2.3 Tanda dan Gejala ......................................................................... 8
2.4 Rentang Respon ........................................................................... 9
2.5 Mekanisme Koping....................................................................... 11
2.6 Pohon Masalah ............................................................................ 11
2.7 Pengkajian.................................................................................... 12
2.6 Penatalaksanaan ........................................................................... 12

BAB III GAMBARAN KASUS


3.1 Identitas........................................................................................ 14
3.2 Alasan Masuk...............................................................................
3.3 Faktor Predisposisi.......................................................................
3.4 Pemeriksaan Fisik ........................................................................
3.5 Pengkajian Psikososial.................................................................
3.6 Status Mental ...............................................................................
3.7 Kebutuhan Persiapan Pulang .......................................................
3.8 Mekanisme Koping.......................................................................
3.9 Masalah Psikososial dan Lingkungan ..........................................
3.10 Pengetahuan Kurang Tentang ....................................................
3.11 Terapi..........................................................................................
3.12 Daftar Masalah Keperawatan.....................................................
3.13 Pohon Masalah ..........................................................................
3.14 Analisa Data................................................................................

BAB IV PELAKSANAAN TINDAKAN


4.1 Rencana Tindakan Keperawatan Jiwa .........................................
4.2 Implementasi dan Evaluasi Keperawataj Jiwa ............................

BAB V PEMBAHASAN

iii
5.1 Pengkajian....................................................................................
5.2 Diagnosa Keperawatan ................................................................
5.3 Intervensi Keperawatan ...............................................................
5.4 Implementasi Keperawatan .........................................................
5.5 Evaluasi Keperawatan .................................................................

BAB VI SIMPULAN DAN SARAN


6.1 Kesimpulan...................................................................................
6.2 Saran ............................................................................................

DAFTAR PUSTAKA

iv
BAB 1
PENDAHULUAN
1 Latar Belakang
Gangguan jiwa merupakan manifestasi klinis dari bentuk
penyimpangan perilaku akibat adanya distrosi emosi sehingga ditemukan
ketidakwajaran dalam bertingkah laku. Gangguan jiwa berat ada tiga macam
yaitu Schizofrenia, gangguan bipolar dan psikosis akut. Dengan
Schizofrenia yang paling dominan yaitu sejumlah 1% hingga 3% warga
dunia (Nasir & Muhith, 2011). Skizofrenia adalah gangguan multifaktorial
perkembangan saraf yang dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan
serta ditandai dengan gejala positif, negatif dan kognitif. Gejala psikotik
ditandai oleh abnormalitas dalam bentuk dan isi pikiran, persepsi, dan emosi
serta perilaku. Gejala yang dapat diamati pada pasien skizofrenia adalah
penampilan dan perilaku umum, gangguan pembicaraan, gangguan perilaku,
gangguan afek, gangguan persepsi, dan gangguan pikiran. Gejala kognitif
sering mendahului terjadinya psikosis. Gejala positif (nyata) meliputi
waham, halusinasi, gaduh gelisah, perilaku aneh, sikap bermusuhan dan
gangguan berpikir formal. Gejala negatif (samar) meliputi sulit memulai
pembicaraan, efek datar, berkurangnya motivasi, berkurangnya atensi, pasif,
apatis dan penarikan diri secara sosial dan rasa tak nyaman (Videbeck,
2008). Pasien dengan skizofrenia cenderung menarik diri secara sosial
(Maramis, 2009).
Data dari (WHO dalam Wakhid, Hamid & Helena, 2013)
memperkirakan sebanyak 450 juta orang di seluruh dunia mengalami
gangguan mental, terdapat sekitar 10% orang dewasa mengalami gangguan
jiwa saat ini dan 25% penduduk diperkirakan akan mengalami gangguan
jiwa pada usia tertentu selama hidupnya. Gangguan jiwa mencapai 13% dari
penyakit secara keseluruhan dan kemungkinan akan berkembang menjadi
25% di tahun 2030, gangguan jiwa juga berhubungan dengan bunuh diri,
lebih dari 90% dari satu juta kasus bunuh diri setiap tahunnya akibat
gangguan jiwa. Gangguan jiwa ditemukan di semua negara,

1
2

pada perempuan dan lakilaki, pada semua tahap kehidupan, orang miskin
maupun kaya baik di pedesaan maupun perkotaan mulai dari yang ringan
sampai berat.
Data dari Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) 2013 menunjukan 1,7
jiwa atau 1-2 orang dari 1.000 warga di Indonesia. Jumlah ini cukup besar,
artinya 50 juta atau sekitar 25 % dari jumlah penduduk indonesia
mengalami gangguan kesehatan jiwa dan provinsi kalimantan barat
menunjukan angka 0,7 jiwa. Salah satu gejala negatif dari skizofrenia
sendiri adalah dapat menyebabkan klien mengalami gangguan fungsi sosial
dan isolasi sosial: menarik diri. Kasus pasien gangguan jiwa yang mengalmi
gejala isolasi sosial sendiri tergolong tinggi yaitu 72 % (Maramis, 2009).
Jadi dapat disimpulkan bahwa gejaa terbanyak dari pasien skizofrenia
adalah isolasi sosial: menarik diri sebagai akibat kerusakan afektif kognitif
klien.
Isolasi sosial sebagai salah satu gejala negatif pada skizofrenia dimana
klien menghindari diri dari orang lain agar pengalaman yang tidak
menyenangkan dalam berhubungan dengan orang lain tidak terulang lagi.
Klien akan mengalami penurunan atau bahkan sama sekali tidak mampu
berinteraksi sosial dengan orang lain disekitarnya. Perasaan ditolak, tidak
diterima, kesepian, dan tidak mampu membina hubungan yang berarti
dengan orang lain akan dirasakan oleh klien dengan isolasi sosial (Yosep,
2014).
Klien dengan isolasi sosial dapat disebabkan oleh beberapa faktor
antara lain yang terdiri dari faktor predisposisi dan faktor presipitasi. Faktor
predisposisi yang dapat menyebabkan seseorang mengalami isolasi sosial
adalah adanya tahap pertumbuhan dan perkembangan yang belum dapat
dilalui dengan baik, adanya gangguan komunikasi didalam keluarga, selain
itu juga adanya norma-norma yang salah yang dianut dalam keluarga serta
factor biologis berupa gen yang diturunkan dari keluarga yang
menyebabkan gangguan jiwa. Selain faktor predisposisi ada juga factor
presipitasi yang menjadi penyebab adalah adanya stressor sosial budaya
3

serta stressor psikologis yang dapat menyebabkan klien mengalami


kecemasan (Prabowo, 2014).
Perasaan negatif yang timbul setelahnya akan berdampak pada
penurunan harga diri terhadap diri sendiri, hilang kepercayaan diri, merasa
gagal mencapai keinginan yang ditandai dengan adanya perasaan malu
terhadap diri sendiri, rasa bersalah terhadap diri sendiri, gangguan hubungan
sosial, merendahkan martabat, percaya diri kurang dan juga dapat
mencederai diri (NANDA, 2012). Akibat yang akan ditimbulkan dari
perilaku isolasi sosial yaitu perubahan persepsi sensori: halusinasi, resiko
tinggi terhadap kekerasan, dan harga diri rendah kronis. (Keliat, 2011).
Perasaan tidak berharga menyebabkan pasien semakin sulit dalam
mengembangkan hubungan dengan orang lain. Hal ini menyebabkan pasien
menjadi regresi atau mundur, mengalami penurunan dalam aktivitas dan
kurangnya perhatian terhadap penampilan dan kebersihan diri. Pasien akan
semakin tenggelam dalam perjalanan dan tingkah laku masa lalu serta
tingkah laku yang tidak sesuai dengan kenyataan, sehingga berakibat lanjut
seperti deficit perawatan diri, halusinasi yang akhirnya menyebabkan
kekerasan dan tindakan bunuh diri (Dalami dkk, 2009).
Masalah keperawatan jiwa dengan isolasi sosial dapat diatasi dengan
tindakan psikofarmakologi dan non farmakologi. Dengan cara
psikofarmakologi dapat menggunakan Antipsikotik yang dikenal dengan
neuroleptic yang digunakan adalah antagonis dopamine dan antaginis
serotonin. Sedangkan mengatasi masalah isolasi sosial secara non
farmakologi adalah dengan menerapkan tindakan Asuhan Keperawatan yang
sesuai dengan Standar Operasional Perawatan (Yosep, 2014).

2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan tersebut, maka dapat
dibuat rumusan masalah keperawatan dalam penulisan makalah ini yakni
“bagaimana penerapan asuhan keperawatan pada klien dengan masalah
isolasi sosial : menarik diri”.
4

3 Tujuan Penulisan
1.3.1 Tujuan Umum
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memberikan gambaran tentang
penerapan asuhan keperawatan pada pasien gangguan jiwa dengan masalah
utama isolasi sosial dengan metode komunikasi terapeutik.
1.3.2 Tujuan Khusus
a. Mahasiswa dapat melakukan pengkajian, analisa data, merumuskan
masalah keperawatan, membuat pohon masalah pada klien gangguan
jiwa dengan isolasi sosial : menarik diri.
b. Menerapkan diagnosa keperawatan pada klien gangguan jiwa dengan
isolasi sosial: menarik diri.
c. Mahasiswa dapat menyusun perencanaan tindakan keperawatan untuk
memenuhi kebutuhan klien dan mengatasi masalah klien.
d. Mahasiswa dapat mengimplementasikan rencana tindakan keperawatan
yang nyata sesuai dengan diagnosa keperawatan yang ditegakkan.

4 Manfaat Penulisan
1.4.1 Manfaat Bagi Rumah Sakit
Dapat mengembangkan proses asuhan keperawatan pada klien dengan
masalah isolasi sosial : menarik diri dan diharapkan menjadi informasi
dalam saran dan evaluasi untuk peningkatan mutu pelayanan yang lebih
kepada pesien yang akan datang.
1.4.2 Manfaat Bagi Penulis
Sebagai ilmu pengetahuan tentang masalah isolasi sosial : menarik diri dan
bagaimana untuk melakukan asuhan keperawatanya serta sebagai tambahan
pengalaman bagi penulis dalam penerapan ilmu yang didapatkan selama
pendidikan.
1.4.3 Manfaat Bagi Institusi
Sebagai sumber informasi dan bahan bacaan pada kepustakaan institusi
dalam meningkatkan mutu pendidikan yang akan datang di bidang
keperawatan.
5

1.4.4 Manfaat Bagi Klien dan keluarga


Sebagai bahan masukan bagi klien dalam mengatasi permasalahan yang
dihadapinya, dan juga dapat memberikan kepuasan bagi keluarga klien atas
asuhan keperawatan yang dilakukan.
BAB 2
LANDASAN TEORI
2.1 Definisi
Isolasi sosial adalah keadaan dimana seorang individu mengalami
penurunan atau bahkan sama sekali tidak mampu berinteraksi dengan orang
lain disekitarnya (Damaiyanti, 2012).
Isolasi sosial juga merupakan kesepian yang dialami oleh individu dan
dirasakan saat didorong oleh keberadaan orang lain dan sebagai pernyataan
negatif atau mengancam (Prabowo, 2014).

2.2 Etiologi
Berbagai faktor dapat menimbulkan respon yang maladaptif. Menurut
Damaiyanti (2012), belum ada suatu kesimpulan yang spesifik tentang
penyebab gangguan yang mempengaruhi hubungan interpersonal. Faktor
yang mungkin mempengaruhi antara lain yaitu:
2.2.1 Faktor predisposisi
Beberapa faktor yang dapat menyebabkan isolasi sosial adalah :
a. Faktor perkembangan
Setiap tahap tumbuh kembang memiliki tugas yang harus dilalui
individu dengan sukses, karena apabila tugas perkembangan ini tidak
dapat dipenuhi, akan menghambat masa perkembangan selanjutnya.
Keluarga adalah tempat pertama yang memberikan pengalaman bagi
individu dalam menjalin hubungan dengan orang lain.
Kurangnya stimulasi, kasih sayang, perhatian dan kehangatan dari
ibu/pengasuh pada bayi akan memberikan rasa tidak aman yang dapat
menghambat terbentuknya rasa percaya diri. Rasa ketidakpercayaan
tersebut dapat mengembangkan tingkah laku curiga pada orang lain
maupun lingkungan di kemudian hari. Komunikasi yang hangat penting
dalam masa ini, agar anak tidak merasa diperlakukan sebagai objek.

6
7

b. Faktor sosial budaya


Isolasi sosial atau mengasingkan diri dari lingkungan merupakan
faktor pendukung terjadinya gangguan berhubungan. Dapat juga
disebabkan oleh karena norma-norma yang salah yang dianut oleh satu
keluarga, seperti anggota tidak produktif diasingkan dari lingkungan
sosial.
c. Faktor Biologis
Genetik merupakan salah satu faktor pendukung gangguan jiwa.
Insiden tertinggi skizofrenia ditemukan pada keluarga yang anggota
keluarganya ada menderita skizofrenia. Berdasarkan hasil penelitian pada
kembar monozigot apabila salah diantaranya menderita skizofrenia
adalah 58%, sedangkan bagi kembar dizigot persentasenya 8%. Kelainan
pada struktur otak seperti atropi, pembesaran ventrikel, penurunan berat
dan volume otak serta perubahan struktur limbik, diduga dapat
menyebabkan skizofrenia.
2.2.2 Faktor Presipitasi
Stresor presipitasi terjadinya isolasi sosial dapat menimbulkan oleh faktor
internal maupun eksternal, meliputi:
a. Stresor sosial budaya
Stresor sosial budaya dapat memicu kesulitan dalam berhubungan
terjadinya penurunan stabilitas keluarga seperti perceraian, berpisah
dengan orang yang dicintai, kehilangan pasangan pada hari tua, kesepian
karena ditinggal jauh, dirawat di rumah sakit atau di penjara. Semua ini
dapat menimbulkan isolasi sosial.
b. Stresor biokimia
1) Teori dopamine : Kelebihan dopamin pada meokortikal dan
mesolimbik serta tractus saraf dapat merupakan indikasi terjadinya
skizofrenia.
2) Menurunnya MAO (Mono Amino Oksidasi) didalam darah akan
meningkatkan dopamin dalam otak. Karena salah satu kegiatan MAO
8

adalah sebagai enzim yang menurunkan dopamin, maka menurunya


MAO juga dapat merupakan indikasi terjadinya skizofrenia.

2.3 Tanda dan Gejala


Tanda dan gejala Isolasi Sosial menurut Direja (2011) meliputi :
a. Kurang spontan
b. Apatis atau acuh terhadap lingkungan
c. Ekspresi wajah kurang berseri
d. Tidak merawat diri dan tidak memperhatikan kebersihan diri
e. Tidak ada/kurang sadar terhadap komunikasi verbal
f. Mengisolasi diri
g. Tidak sadar/kurang sadar terhadap lingkungan sekitarnya
h. Aktivitas menurun
i. Kurang energy
j. Rendah diri
k. Asupan makanan dan minuman terganggu
Tanda dan gejala Isolasi Sosial lain yang dapat ditemukan yaitu :
a. Tidak ada dukungan orang yang dianggap penting
b. Perilaku tidak sesuai dengan perkembangan
c. Afek tumpul
d. Bukti kecacatan (fisik, mental)
e. Tindakan tidak berarti
f. Tidak ada kontak mata
g. Menunjukan permusuhan
h. Ingin sendiri
i. Menunjukan perilaku yang tidak dapat diterima oleh kelompok kultural
yang dominan
j. Tidak komunikatif
k. Menarik diri (Kusuma dan Nurarif, 2012).
9

2.4 Rentang Respon

Respon ini meliputi :


a. Solitude atau menyendiri
Merupakan respon yang dilakukan individu untuk apa yang telah terjadi
atau dilakukan dan suatu cara mengevaluasi diri dalam menentukan
rencana-rencana (Riyadi & Purwanto, 2009).
b. Otonomi
Merupakan kemampuan individu dalam menentukan dan menyampaikan
ide, pikiran, perasaan dalam hubungan sosial. Individu mampu
menetapkan diri untuk interdependen dan pengaturan diri (Riyadi &
Purwanto, 2009).
c. Kebersamaan
Merupakan kemampuan individu untuk saling pengertian, saling
memberi, dan menerima dalam hubungan interpersonal (Riyadi &
Purwanto, 2009).

d. Interdependen (Saling Ketergantungan)


Merupakan suatu hubungan saling ketergantungan saling tergantung
antar individu dengan orang lain dalam membina hubungan interpersonal
(Riyadi & Purwanto, 2009).
10

e. Kesepian
Merupakan kondisi dimana individu merasa sendiri dan terasing dari
lingkungannya (Damaiyanti, 2012).
f. Menarik diri
Seseorang yang mengalami mengalami kesulitan dalam membina
hubungan secara terbuka dengan orang lain (Yosep, 2011).
g. Manipulasi
Merupakan gangguan sosial dimana individu memperlakukan orang lain
sebagai objek, hubungan terpusat pada masalah pengendalian orang lain
dan individu cenderung berorientasi pada diri sendiri. Tingkah laku
mengontrol digunakan sebagai pertahanan terhadap kegagalan atau
frustasi dan dapat menjadi alat untuk berkuasa pada orang lain (Riyadi &
Purwanto, 2009).
h. Impulsif
Merupakan respon sosial yang ditandai dengan individu sebagai subjek
yang tidak dapat diduga, tidak dapat dipercaya, tidak mampu
merencanakan, tidak mampu untuk belajar dari pengalaman dan miskin
penilaian (Riyadi & Purwanto, 2009).
i. Narkisisme
Respon sosial ditandai dengan individu memiliki tingkah laku egosentris,
harga diri yang rapuh, terus menerus berusaha mendapatkan penghargaan
dan mudah marah jika tidak mendapat dukungan dari oranglain (Riyadi
& Purwanto, 2009).
j. Isolasi Sosial
Keadaan dimana seorang individu mengalami penurunan atau bahkan
sama sekali tidak mampu berikteraksi dengan orang lain disekitarnya.
Pasien mungkin merasa ditolak, tidak diterima, kesepian, dan tidak
mampu membina hubungan yang berarti dengan orang lain (Riyadi &
Purwanto, 2009).
2.5 Mekanisme Koping
Mekanisme yang digunakan klien sebagai usaha mengatasi kecemasan
yang merupakan suatu kesepian nyata yang mengancam dirinya. Mekanisme
yang sering digunakan pada isolasi sosial adalah regresi, represi, isolasi
(Damaiyanti, 2012 : 84).
a. Regresi adalah mundur ke masa perkembangan yang telah lain.
11

b. Represi adalah perasaan-perasaan dan pikiran pikiran yang tidak dapat


diterima secara sadar dibendung supaya jangan tiba di kesadaran.
c. Isolasi adalah mekanisme mental tidak sadar yang mengakibatkan
timbulnya kegagalan defensif dalam menghubungkan perilaku dengan
motivasi atau bertentangan antara sikap dan perilaku.
Mekanisme koping yang muncul yaitu :
a. Perilaku curiga : regresi, represi
b. Perilaku dependen : regresi
c. Perilaku manipulative : regresi, represi
d. Isolasi / menarik diri : regresi, represi, isolasi (Prabowo, 2014:113).
2.6 Pohon Masalah

2.7 Pengkajian
Pengkajian (Data yang perlu dikaji)
Subjektif :
a. Klien mengatakan malas bergaul dengan orang lain
b. Klien mengatakan dirinya tidak ingin ditemani perawat dan meminta
untuk sendirian
c. Klien mengatakan tidak mau berbicara dengan orang lain
Objektif :
a. Klien tampak tidak mau berkomunikasi
b. Kurang spontan
c. Apatis (acuh terhadap lingkungan)
d. Ekspresi wajah kurang berseri
e. Tidak merawat diri dan tidak memperhatikan kebersihan diri
f. Tidak ada atau kurang komunikasi verbal
g. Mengisolasi diri
h. Tidak atau kurang sadar terhadap lingkungan sekitarnya
i. Asupan makanan dan minuman terganggu
j. Aktivitas menurun
k. Kurang berenergi atau bertenaga
12

l. Rendah diri (Fitria, 2012).


2.8 Penatalaksanaan (Rencana Tindakan Keperawatan)
1. Rencana tindakan keperawatan untuk klien
Strategi Pelaksanaan 1 (SP 1) untuk klien
a. Mengidentifikasi penyebab isolasi sosial
b. Berdiskusi dengan klien tentang keuntungan berinteraksi dengan
orang lain
c. Berdiskusi dengan klien tentang kerugian tidak berinteraksi dengan
orang lain
d. Mengajarkan kepada klien tentang cara berkenalan dengan satu orang
e. Menganjurkan klien memasukkan kegiatan berbincang-bincang
dengan orang lain dalam kegiatan harian
Strategi Pelaksanaan 2 (SP 2) untuk klien
a. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian klien
b. Memberikan kesempatan kepada klien mempraktikkan cara
berkenalan dengan satu orang
c. Membantu klien memasukkan kegiatan berbincang-bincang dengan
orang lain dalam kegiatan harian
Strategi Pelaksanaan 3 (SP 3) untuk klien
a. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian klien
b. Memberi kesempatan kepada klien untuk berkenalan dengan dua
orang atau lebih
c. Menganjurkan klien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian
2. Rencana tindakan keperawatan untuk keluarga
Strategi Pelaksanaan 1 (SP 1) untuk keluarga
a. Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat klien
b. Menjelaskan pengertian, tanda dan gejala isolasi sosial beserta proses
terjadinya
c. Menjelaskan cara-cara merawat klien dengan isolasi sosial
Srategi Pelaksanaan 2 (SP 2) untuk keluarga
a. Melatih keluarga mempraktikkan cara merawat klien dengan isolasi
sosial
b. Melatih keluarga melakukan cara merawat langsung klien dengan
isolasi sosial
Strategi Pelaksanaan 3 (SP 3) untuk keluarga
a. Membantu keluarga membuat jadwal aktivitas di rumah termasuk
minum obat
b. Menjelaskan follow up klien setelah pulang
13

BAB 3
GAMBARAN KASUS

Tn. E berumur 38 tahun datang ke Rumah Sakit dengan keluahan bicara


sendiri, sering terdiam dan tatapan mata kosong, bingung, sulit tidur, tidak mau
makan, jarang sekali bergaul dengan lingkungan, karena klien merasa malu dan
juga merasa dirinya dimusuhi oleh temannya semasa sekolah sehingga di bawa
oleh keluarganya pada tanggal 31 Mei 2017. Klien pernah mengalami gangguan
jiwa sebelumnya dan sudah pernah masuk RSJ pada tanggal pada tanggal 16 – 12
-2016 tapi karena putus obat klien masuk RSJ lagi.
Berdasarkan hasil pengkajian didapatkan klien malu berbicara dengan
temanya sebab pada zaman dahulu ketika sekolah klien sering di buli oleh
temanya.

Dari hasil pemeriksaan fisik :

TD : 110/80 mmHg

N : 78 x/menit

RR : 20 x/menit

S : 37 C

TB : 157 cm

BB : 50 kg

Hasil pengkajian didapatkan klien tidak mengeluh terhadap keadaan


fisiknya dan pada tubuh klien tidak menunjukkan adanya kelainan ataupun
gangguan fisik lainnya
14

3.1 IDENTITAS KLIEN


Inisial : Tn. E
Umur : 20 tahun
Pekerjaan : Tidak Bekerja
Status : Belum Menikah
No. RM : 6802xx
Ruangan Rawat : Ruang Rajawali
Tanggal Dirawat : 31 Mei 2018
Tanggal Pengkajian : 18 September 2018
Pendidikan : SMP
Suku : Dayak
Agama : Khatolik

3.2 KELUHAN SAAT DI KAJI


Klien mengatakan masuk Rumah Sakit Jiwa karena klien pernah
mendengar bisikan yang mengajaknya untuk bercakap-cakap, klien
mengatakan sulit untuk tidur malam.
Teman sekamar klien mengatakan klien jarang berinteraksi dengan
orang lain, klien juga merasa malu untuk bertemu dengan orang lain, klien
tanpak sering dikamar sendiri dan melamun, klien tanpak bingung ketika
diajak berkenalan dengan perawat dan klien tidak bisa memulai pembicaraan
apa yang akan dibicarakan.
3.3 FAKTOR PREDISPOSISI
a. Riwayat Gangguan Jiwa
Klien merupakan pasien ulangan yang ke 2 kalinya dimana pengobatan
sebelumnya tidak berhasil karena klien tidak patuh minum obat sehingga
membuat klien masuk RJS dan sebelumnya sudah pernah masuk rumah
sakit jiwa pada tahun 2016.

b. Riwayat Pengobatan
15

Berdasarkan catatan keperawatan klien di bawa oleh keluarga karena


putus obat sehingga kambuh lagi. Klien mengatakan alasan putus obat
karena membuat ia
c. Riwayat Penganiyayaan
Klien tidak pernah mengalami penganiyayaan fisik, tidak ada
kekerasan dalam rumah tangga dan tidak pernah mengalami tindakan
kriminal.
d. Riwayat Penolakan
Klien mengatakan pernah dibully oleh teman-temannya sejak masa
kecil, sehingga klien merasa dikucilkan dari kelompok sebaya dan
lingkungan sekitarnya.
Masalah keperawatan: koping keluarga tidak efektif
e. Riwayat Anggota Keluarga yang Gangguan Jiwa
Berdasarkan catatan keperawatan tidak ada keluarga klien yang
mengalami gangguan jiwa.
Masalah keperawatan: Tidak ditemukan
f. Pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan
Klien mengatakan pada saat sekolah dulu pernah mengalami penganiyaan
secara psikologis (di bully) oleh temanya di sekolah sehingga membuatnya
malu untuk berteman dengan orang.
Masalah keperawatan: isolasi sosial
3.4 FISIK
3.4.1 Tanda vital : TD : 110/80 mmHg N : 78 x/menit S : 36C P : 20 x/menit

3.4.2 Ukur : TB : 157 cm BB : 63 kg

3.4.3 Klien tidak ada mengalami masalah kesehatan yang berhubungan


dengan fisik

Masalah keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan


16

3.5 PSIKOSOSIAL
3.5.1 Genogram

Keterangan :

: Laki-Laki

: Perempuan

: Klien

X : Meninggal

: Tinggal Serumah

Klien merupakan anak ke lima dari lima bersaudara tingga bersama


ayah dan ibunya dan kakak perempuannya.

3.5.1 Konsep diri

a. Gambaran diri
Klien mengatakan menyukai tangannya. Klien mengatakan tidak
menyukai bagian telinga karena sering mendengar suara seperti
17

bisikan dimasa lalunya yang membuat klien merasa di jauhi oleh


kelompok sebaya.
b. Identitas
Klien menerima dirinya sebagai laki-laki dan merupakan anak
kelima dari 5 bersaudara

c. Peran
Selama di rumah sakit peran klien sebagai pasien yang biasa
membantu perawat dan teman sekamar untuk membersihkan
ruangan. Salama di rumah klien berperan sebagai anak dari lima
bersaudara.
d. Ideal diri
Klien berharap keluarga datang menjenguknya dan peduli
dengannya, klien berharap agar segera sembuh dank lien juga
berharap agar dapat diterima di lingkungan masyarakat.
e. Harga diri
Klien malu berinteraksi dengan orang lain karena klien merasa tidak
di anggap dan tidak sama dengan orang lain .

Masalah Keperawatan: Harga Diri Rendah

3.5.2 Hubungan Sosial

a. Orang yang berarti


Klien mengatakan orang yang paling berarti dalam hidupnya adalah
kakaknya, sebab kakaknya biasa membawakan makanan ke rumah
sakit jiwa. Orang yang berarti di RS adalah 1 orang kawan
sekamarnya.

b. Peran serta dalam kegiatan kelompok/masyarakat


Klien sebelum masuk rumah sakit hanya di rumah karena klien
merasa dirinya berbeda dari orang lain, selama di rumah sakit klien
biasa ikut bersih – bersih ruangan dan diarahkan oleh perawat
dalam memenuhi ADL.
c. Hambatan dalam berbuhungan dengan orang Lain
18

Klien tidak mampu memulai pembicaraan dengan orang lain. Klien


tampak suka menyendiri di atas tempat tidur dan tidak mau bergaul
dengan teman sekamarnya. Klien merasa trauma dengan kejadian
masa lalu karena pernah di buli oleh temannya sehingga klien
beranggapan tidak ada hal penting yeng perlu dibicarakan dengan
orang lain.

Masalah keperawatan: Isolasi Sosial


Hambatan Komunikasi Verbal

3.5.3 Spiritual
a. Nilai dan keyakinan
Klien beragama khatolik dan klien meyakini bahwa adanya
Tuhan. Klien mengatakan beribadah pada hari minggu di gereja.
b. Kegiatan ibadah
Klien mengatakan selama di RSJ jarang ibadah.
3.6 STATUS MENTAL
3.6.1 Penampilan
Klien tampak menggunakan pakaian pasien yang sesuai. Pada
bagian kuku klien juga tampak sedikit panjang dan kotor. Klien mandi
dua kali sehari, BAB dan BAK klien dilakukan di WC dengan frekuensi
BAK 5-6 x sehari dan BAB 1 kali sehari.

Masalah Keperawatan : Defisit Perawatan Diri: Berhias

3.6.2 Pembicaraan
Pada saat di kaji klien berbicara dengan lambat dan harus di beri
pertanyaan secara langsung karena pasien tidak bisa menjelaskan
sesuatu secara rinci. Klien tidak mampu memulai pembicaraan

Masalah Keperawan : Isolasi sosial

Kerusakan Komunikasi Verbal

3.6.3 Aktivitas Motorik


19

Pada saat di kaji klien tampak lesu. Kontak mata klien kurang,
klien lebih banyak diam ketika tidak ditanya.

Masalah Keperawatan : Isolasi Sosial

3.6.4 Alam perasaaan


Klien tampak sedih sebab keluarga jarang menjenguk.

Masalah Keperawatan : Koping Keluarga Tidak Efektif

3.6.5 Afek
Pada saat dikaji, Datar. Selama interaksi klien banyak diam,
menjawab pertanyaan seperlunya saja.
Masalah Keperawatan : Isolasi Sosial
3.6.6 lnteraksi selama wawancara
Klien kurang kooperatif, kontak mata sedikit dan berbicara
seperlunya saja. Tidak mampu memulai pembicaraan.
Masalah Keperawatan : kerusakan komunikasi verbal
3.6.7 Persepsi
Klien mengatakan sudah tidak pernah mendengar suara bisikan.

Masalah Keperawatan : tidak ditemukan.

3.6.8 Proses Pikir


Klien sering terlihat melamun, tidak suka memulai pembicaraan.
Klien lebih suka menyendiri. Saat interaksi selama wawancara kontak
mata klien tidak fokus mudah teralihkan saat klien lain berbicara/
perawat berbicara.

Masalah Keperawatan : Gangguan Proses Pikir

3.6.9 Isi Pikir


Klien merasa takut dan malu untuk memulai pembicaraan dengan
orang lain sehingga ia lebih memilih untuk menyendiri.
20

Masalah Keperawatan : Isolasi Sosial dan Harga Diri Rendah

3.6.10 Tingkat kesadaran


a. Waktu: klien dapat mengetahui kapan klien masuk RSJ, dan mengerti
kapan saja waktu klien dapat makanan.
b. Tempat: Klien mengetahui saat ini klien masuk RSJ
c. Orang: klien sulit mengenal seseorang, jarang memulai perkenalan,
didalam ruangan klien hanya mengingat 1-3 orang saja.
Masalah Keperawatan : Gangguan Proses pikir

3.6.11 Memori

Klien mampu mengingat kejadian yang telah lalu dan baru-baru terjadi.
Klien masih ingat jam berapa dia dapat makanan tadi, klien juga ingat
tahun berapa klien masuk RSJ.

Masalah Keperawatan : Tidak ditemukan masalah

3.6.12 Tingkat konsentrasi dan berhitung


Klien mampu melakukan perhitungan sederhana.

Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah

3.6.12 Kemampuan penilaian


Klien dapat mengambil keputusan sederhana seperti cuci tangan
dahulu sebelum makan
Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah
3.6.13 Daya tilik diri

Klien menyadari penyakit yang ia alami

Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah


3.7 Kebutuhan Persiapan Pulang
3.7.1 Makan

Klien tidak mengalami gangguan saat makan ataupun minum klien


mampu dengan mandiri. Selama dirawat klien dibimbing oleh perawat
dalam menyiapkan makanan dan membereskan makanan. Klien
21

mengatakan makan sebanyak 3 kali sehari selama di RSJ dan menyukai


semua jenis makanan.

3.7.2 BAB/BAK

Klien tidak mengalami gangguan saat BAB/BAK selama di rawat,


sehingga ketika pulang ke rumah klien hanya memerlukan bantuan
yang minimal untuk BAB/BAK. Klien mengatakan biasanya untuk
BAB sebanyak 2 kali sehari dan untuk BAK sebanyak 3 kali sehari dan
selalu membersihkan jika selesai BAB/BAK.

3.7.3 Mandi

Klien tidak mengalami gangguan saat mandi dan biasanya mandi


sebanyak 2 kali sehari yaitu pagi dan sore. Ketika di rawat klien mampu
untuk mandi sendiri, namun mungkin ketika mandi klien kurang
memperhatikan kebersihan, sehingga ketika pulang ke rumah klien
hanya memerlukan bantuan yang minimal untuk mandi.

3.7.4 Berpakaian/berhias
Klien dapat berpakaian dengan sendiri selama di rawat, namun
klien kurang memperhatikan kerapian, sehingga klien membutuhkan
bantuan yang minimal untuk berpakaian saat pulang ke rumah.
3.7.5 Istirahat dan tidur
a. Klien tidur malam ±6-8 jam/malam, yaitu dari jam 20.00s/d jam
05.00.
b. Klien tidak memiliki kebiasaan sebelum ataupun setelah tidur.
3.7.6 Penggunaan obat
Klien harus diingatkan dan diawasi untuk minum obat untuk
menghindari kejadian putus obat atau salah minum obat.
3.7.7 Pemeliharaan Kesehatan
a. Perawatan lanjutan
Klien mendapatkan perawatan lanjutan yaitu dengan minum obat
yang rutin agar klien bisa mengobrol baik bersama kelurga dan
lingkungan.
b. Perawatan pendukung
22

Sistem pendukung klien yaitu perawat, dokter, teman dan anggota


keluarga
3.7.8 Kegiatan di dalam rumah
a. Mempersiapkan makanan
Klien bisa menyiapkan makanan sederhana
b. Menjaga kerapihan rumah
Klien dapat menjaga kerapian ruamah
c. Mencuci Pakaian
Klien dapat mencuci pakaian sendiri
d. Pengaturan keuangan
Pengaturan keuangan dibantu oleh keluarga
3.7.9 Kegiatan di luar rumah
a. Belanja
Saat belanja klien harus dibantu
b. Transportasi
Saat menggunakan kendaraan harus didampingi

Jelaskan :

Secara umum klien masih dapat melakukan kegiatan sehari-harinya, klien


perlu diarahkan dan diawasi dalam melakukan kegiatan sehari-harinya.

Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah

3.8 Mekanisme Koping


Klien mampu menahan emosi ketika dalam keadaan stress. Klien tampak
maladaftif karena merasa dirinya berbeda dari orang lain.

Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah

3.9 Masalah Psikososial dan Lingkungan:


a. Masalah dengan dukungan kelompok
Klien mengatakan merasa enggan untuk berinteraksi dengan orang lain.
Masalah Keperawatan: tidak ditemukan.
b. Masalah berhubungan dengan lingkungan,
Klien termasuk orang yang pendiam dan klien sering menyendiri ketika
diruangan. Klien berbicara ketika ada yang memulai pembicaraan
terlebih dahulu.
Masalah Keperawatan: Isolasi Sosial
c. Masalah dengan pendidikan
23

Klien tidak tamat SD karena sering dibuli oleh temannya.


Masalah Keperawatan: HDR
d. Masalah dengan pekerjaan
Klien belum bekerja.
Masalah Keperawatan: koping individu tidak efektif
e. Masalah dengan perumahan
Klien tidak ada masalah dengan perumahan. Klien tinggal dengan orang
tuanya dan kakaknya.
Masalah Keperawatan: koping individu tidak efektif
f. Masalah ekonomi
Keluarga cukup memenuhi kebutuhan sehari – hari dan membayar biaya
pengobatan klien di RSJ.
Masalah Keperawatan: tidak ditemukan
g. Masalah dengan pelayanan kesehatan
Klien tidak ada masalah dengan pelayanan kesehatan.
Masalah Keperawatan: HDR

3.10 Pengetahuan Kurang Tentang:

Klien kurang pengetahuan tentang penyakit jiwa yang dialami


sekarang, klien belum mengetahui cara pengobatan yang dilakukan, karena
kurang pengetahuan klien kurang tepat dalam menyelesaikan masasalah
penyakitnya.

Masalah Keperawatan : Defisiensi Pengetahuan

3.11 Terapi

a. Stelosi 5 mg 2x1
b. Trihexyphenidil (THP) 2 mg : 3x1
c. Clozapin
3.12 Daftar Masalah Keperawatan

a. Isolasi sosial
b. Harga Diri Rrendah
c. Kerusakan Komunikasi Verbal

3.13 Pohon Masalah


24

Risiko Mencederai Diri,


Orang Lain, dan Lingkungan

PPS :
Defisit Perawatan
Halusinasi
Diri

Intoleransi Isolasi Sosial


Aktivitas
Harga Diri Rendah Kronis

Koping Keluarga Tidak Koping Keluarga Tidak


Efektif Efektif

3.14 Analisa Data

Nama Pasien : Tn. E


Usia : 20 tahun
Diagnosa medis : Skizofrenia
25

Ruangan : Rajawali

Data Masalah Keperawatn

Data Subyektif: Isolasi Sosial


a. Klien mengatakan trauma dengan dibuli
sehingga tidak suka bergaul dengan
orang
b. Klien mengatakan dibulli pada waktu
klien masih sekolah dasar.
c. Klien mengatakan merasa dirinya
berbeda dari orang lain
d. Klien mengatakan sulit tidur malam

Data Obyektif:
- Klien tidak mampu memulai
pembicaraan dengan orang lain.
- Klien tampak suka menyendiri di atas
tempat tidur dan tidak mau bergaul
dengan teman sekamarnya
- Tidak mampu memulai pembicaraan
dengan orang lain.
- Kontak mata kurang
- Sering melamun
- afek datar
- lamban
- Tidak ada atau kurang komunikasi
verbal

BAB IV
PELAKSANAAN TINDAKAN
26

5 Rencana Tindakan Keperawatan Jiwa

Nama Pasien : Tn. E


Usia : 20 tahun
Diagnosa medis : Skizofrenia
Ruangan : Rajawali

No Diagnosa Perencanaan
Intervensi Rasional
Dx Keperawatan Tujuan Kriteria Hasil
1. Isolai Sosial 1. Klien dapat 1.1 Ekspresi 1.1.1 Bina hubungan Hubungan
membina wajah saling percaya Saling
hubungan bersahabat dengan percaya
saling menunjukkan mengungkapkan merupakan
percaya rasa senang prinsip komunikasi dasar untuk
ada kontak terapeutik kelancaran
mata, mau a. Sapa klien hubungan
berjabat dengan ramah interaksi
tangan, mau baik verbal selanjutnya
menjawab maupun
salam, klien nonverbal
mau duduk b. Perkenalkan diri
berdampingan dengan sopan
dengan c. Tanyakan nama
perawat, mau lengkap klien dan
mengutarakan nama panggilan
masalah yang klien.
dihadapi d. Jelaskan tujuan
pertemuan.
e. Jujur dan
menepati janji
f. Tunjukkan sifat
empat dari
menerima klien
apa adanya

2. Klien 2.1 Klien dapat 2.1.1 Kaji pengetahuan Diketahui


dapat menyebutkan klien tentang peneybab
menyebutka penyebab perilaku menarik akan dapat
n penyebab menarik diri diri dan tanda- dihubungkan
menarik diri yang berasal tandanya. dengan faktor
dari : 2.1.2 Beri kesempatan resipitasi yang
- Diri sendiri kpada klien untuk dialami klien
- Orang lain mengungkapkan
- Lingkungan perasaan penyebab
menarik diri atau
27

tidak mau bergaul


2.1.3 Diskusikan
bersama klien
tentang prilaku
menarik dri tanda-
tanda serta
penyebab yang
muncul
2.1.4 Berikan pujian
terhadap
kemampuan klien
dalam
menggunakan
perasaanya.

3. Klien dapat 4.1 Klien dapat 3.1.1 Kaji pengetahuan Klien harus
menyebutka menyebutkan klen tentang dicoba
n Keuntungan manfaat dan berinteraksi
keuntungan berhubungan keuntungan secara
berhubungan dengan orang lain berhubungn bertahap agar
dengan dengan orang lain membina
orang lain 3.1.2 Beri kesempatan hubungan
dan kerugian dengan klien yang sehat
tidak untuk dengan orang
berhubungan mengungkapkan lain
dengan perasaan tentang
orang lain keuntungan
3.1.3 Diskusikan
bersama klien
tentang
keuntungan
berhubungan
dengan orang lan
3.1.4 Beri
reinforcoment
positif terhadap
kemampuan
pengungkapan
3.2 Klien dapat persaan tentang
menyebutkan keunttungan
kerugian tidak berhubungan Mengevaluasi
berhubungan dengan orang lain manfaat yang
dengan orang 3.2.1 Kaji pengetahuan dirasakan
lain klien tentang klien sehingga
manfaat dan timbul
28

kerugian tidak motivasi


berhubungan untuk
dengan orang lain berinteraksi
3.2.2 Beri kesempatan
kepada klien
untuk
mengungkapkan
perasaan tentang
kerugian tidak
berhubungan
dengan orang lain.
3.2.3 Diskusikan
bersama klien
tentang kerugian
tidak berhubungan
dengan orang lain

4. Klien dapat 5.1 Klien dapat 4.1.1 Kaji kemampuan


melaksanaka mendemonstrasi klien membina
n hubungan kan hubungan hubungan dengan
sosial secara sosial secara orang lain
bertahap bertahap, 4.1.2 Dorong dan bantu
antara: klien untuk
K-P berhubungan
K-P-K dengan orang lain
K - P - Kel melalui tahap:
K - P - - Klp K-P
K-P-P lain
K-P-P lain-K
lain
K-P kel/Klp/Masy
4.1.3 Beri reinforcement
terhadap
keberhaslan yang
telah dicapai.

4.1.4 Bantu klien untu


negevaluasi
manfaat hubungan
4.1.5 Diskusikan jadwal
harian yang dapat
dilakukan
bersama klien
dalam mengisi
waktu
4.1.6 Motivasi klien
29

untuk mengikuti
kegiatan ruangan
4.1.7 Beri reinforcement
atas kegiatan klien
dalam ruangan
5. Klien dapat 5.1 Klien dapat 5.1.1 Dorong klien Keterlibatan
mengungkap mengungkapkan untuk keluarga
kan perasaanya mengungkapkan sangat
perasaannya setelah perasaannya bila mendukung
setelah berhubungan berhubungan terhadap
berhubungan dengan orang dengan orang lain proses
dengan lain: 5.1.2 Diskusikan perubahan
orang lain. - Diri sendiri dengan klien perilaku klien
- Orang lain tentang perasaan
manfaat
berhubungan
dengan orang lain.
5.1.3 Beri
reinforcement
positif atas
kemampuan klien
mengungkapkan
klien manfaat
berhubungan
denga orang lain
30

4.1 Implementasi dan Evaluasi Keperawatan Jiwa

Nama Klien: Tn. E Diagnosa Medis: Skizofernia

Ruang: Rajawali No. RM: 6802xx

Dx
No Tanggal/Jam Implementasi Keperawatan Evaluasi Keperawatan
Keperawatan
1. 19 Isolasi Sosial SP 1 S:
September 1. Membina hubungan saling percaya - Klien mengatakan bernanam noni
2018 kepada pasien. O:
15.00-15.15 R: Klien mau berkenalan dengan Perawat - Pasien mau menyebutkn namanya
2. Melakukan kontrak waktu terhadap - Pasien tidak banyak bicara
pasien - Kontak mata kurang
R: Klien mau bertemu besok pada pukul 10 - Bicara lambat
pagi. - Pasien bingung
3. Mengidentifikasi dengan pasien A:
penyebab isolasi social - SP 1 belum tercapai
R: belum terkaji P:
4. Berdiskusi dengan pasien tentang Perawat :
keuntungan berinteraksi dengan orang - Lanjutkan SP 1 isolasi sosial pada pertemuan
lain. ke 2 pada hari sabtu 20 September 2018 pukul
R: Belum Terkaji 10.00 di ruang perawatan pasien
5. Berdiskusi dengan pasien tentang Pasien :
kerugian tidak berinteraksi dengan orang - Observasi kegiatan harian pasien
lain. - Memotivasi pasien latihan berkenalan dengan
R: Belum Terkaji sesuai jadwal yang dibuat.
6. Mengajarkan kepada pasien dengan cara
berkenalan dengan satu orang
31

7. Mengajurkan kepada pasien


memasukkan kegiatan berbincang-
bincang dengan orang lain dalam
kegiatan harian.
8. Memberikan reinforcement kepada
pasien
9. Melakukan kontrak waktu untuk
pertemuan selanjutnya.
2. 20 Isolasi Sosial SP 1 S:
September 1.Membina hubungan saling percaya - Klien mengatakan bernanam noni
2018 kepada pasien. - Klien mengatakan keuntungan punya teman
15.00-15.15 R: Klien mau berkenalan dengan Perawat biar ada kawan
b. Melakukan kontrak waktu terhadap - Klien mengatakan kerugian tidak ada kawan
pasien sepi
R: Klien mau bertemu besok pada pukul 10 O:
pagi. - Pasien mau menyebutkn namanya
c. Mengidentifikasi dengan pasien - Klien mampu menyebutkan kekurangan dan
penyebab isolasi social kelebihan punya teman.
R: karena malu dengan orang - Kontak mata kurang
d. Berdiskusi dengan pasien tentang - Bicara lambat
keuntungan berinteraksi dengan orang - Pasien bingung
lain. A:
R: klien mampu menyebutkan keuntungan - SP 1 belum tercapai
berinteraksi dengan orang lain P:
e. Berdiskusi dengan pasien tentang Perawat :
kerugian tidak berinteraksi dengan orang - Lanjutkan SP 1 isolasi sosial pada pertemuan
lain. ke 3 pada hari sabtu 21 September 2018 pukul
R: Klien mampu menyebutkan kerugian 10.00 di ruang rajawali
32

tidak punye teman Pasien :


f. Mengajarkan kepada pasien dengan cara - Observasi kegiatan harian pasien
berkenalan dengan satu orang - Memotivasi pasien latihan berkenalan dengan
R: Belum dilakukan karena waktu kontrak sesuai jadwal yang dibuat.
habis
g. Mengajurkan kepada pasien
memasukkan kegiatan berbincang-
bincang dengan orang lain dalam
kegiatan harian.
R: Belum dilakukan karena waktu kontrak
habis
h. Memberikan reinforcement kepada
pasien
R: Klien tanpak senang ketika di puji.
BAB V
PEMBAHASAN
6 Pengkajian

5.1 Diagnosa Keperawatan

5.2 Intervensi Keperawatan

5.3 Implementasi Keperawatan

5.4 Evaluasi Keperawatan

33
34

BAB VI
SIMPULAN DAN SARAN
7 Kesimpulan
6.1 Saran
35

DAFTAR PUSTAKA

Dalami, Ermawatin, dkk. (2009). Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan


Jiwa. Jakarta : CV. Trans Info Media.
Damaiyanti, M & Iskandar, I. (2012). Asuhan Keperawatan Jiwa. Bandung : PT.
Refika Aditama.
Direja, S.N.A.H. (2011). Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta : Nuha Medika.
Fitria, N. (2012). Prinsip Dasar dan Aplikasi Penulisan Laporan Pendahuluan
dan Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (LP dan SP). Jakarta :
Salemba Medika.
Keliat, A.B & Akemat. (2014). Keperawatan Jiwa : Terapi Aktivitas Kelompok,
Edisi 2. Jakarta : EGC.
Kusuma. H & Nurarif, A. H. (2012). Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan
NANDA (North American Nursing Diagnosis Association) NIC-NOC.
Yogyakarta : Media Hardy.
Maramis, F.W. (2009). Ilmu Kedokteran Jiwa, Edisi 2. Jakarta : Airlangga
University Press.
Nanda. (2012). Diagnosa Keperawatan Nanda 2012-2014 Definisi dan
Klasifikasi. Jakarta : EGC
Nasir, A & Muhith, A. (2011). Dasar-dasar Keperawatan Jiwa. Jakarta : Salemba
Medika.
Prabowo, E. (2014). Konsep & Aplikasi Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta :
Nuha Medika.
RISKESDAS. (2013). Laporan Nasional Riskesdas 2013.
Riyadi, Sujono & Teguh Purwanto. (2009). Asuhan Keperawatan Jiwa.
Yogyakarta : Graha Ilmu.
Stuart, G.W. (2007). Pocket Guide to Psychiatric Nursing, atau Buku Saku
Keperawatan Jiwa. Alih bahasa Ramona P. Kapoh dan Egi Komara
Yudha. Jakarta : EGC.
Videbeck, S.L. (2008). Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Alih bahasa Renata K &
Afrina H. Editor Pamilih, E.K. Jakarta : EGC.

Wakhid, A, Hamid, A,Y,S & Helena, N. (2013). Penerapan Terapi Latihan


Keterampilan Sosial Pada Klien Isolasi Sosial Dan Harga Diri Rendah
Dengan Pendekatan Model Hubungan Interpersonal Peplau Di Rs Dr.
36

Marzoeki Mahdi Bogor. Jurnal Keperawatan Jiwa. Vol 3. No 1. Hlm 34-


48.
Yosep, I. (2011). Keperawatan Jiwa. Bandung : PT Refika Aditama.