Anda di halaman 1dari 44

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Polymeric Foam

Foam didefinisikan sebagai penyebaran gelembung-gelembung gas yang

terjadi pada material cair dan padat. Foam berkembang menjadi rongga-rongga mikro

yang memiliki diameter 10 μm. Foam yang tersebar pada polimer dapat mencapai

108/cm3 (Kumar, 2005).

Pada saat ini, perkembangan penelitian telah menghasilkan karakteristik fisik

dan mekanik material foam (Klempner dan Sendijarevic, 2004). Karakteristik fisik

tersebut meliputi faktor geometri, seperti ukuran rongga dan ketebalan dinding

rongga. Selain karakteristik fisik juga terdapat karakteristik mekanik. Karakteristik

mekanik terdiri atas densitas dan modulus elastisitas.

Material foam memiliki susunan rongga yang bervariasi. Susunan rongga

tersebut dapat diketahui melalui pengamatan struktur mikro material foam. Susunan

rongga dibagi atas dua jenis, yaitu susunan terbuka (open-cell) dan tertutup (closed-

cell). Pada material foam dengan susunan rongga terbuka terdapat pemutusan dinding

rongga dan bersifat fleksibel. Material foam dengan susunan rongga tertutup tidak

terdapat pemutusan dinding rongga dan bersifat kaku. Perbedaan kedua jenis susunan

rongga tersebut ditunjukkan pada Gbr. 2.1 (Banyay, 2006).

Universitas Sumatera Utara


(a). Rongga terbuka (b). Rongga tertutup
Gambar 2.1 Jenis Material Berongga

Rongga-rongga pada polimer terbentuk akibat adanya pencampuran fase padat

dan gas. Dua fase tersebut terjadi dengan cepat dan membentuk permukaan material

yang berongga. Foam yang dihasilkan dari polimer merupakan gelembung udara atau

rongga udara yang bergabung di dalam polimer tersebut (Sivertsen, 2007).

Gas yang digunakan untuk membentuk foam disebut blowing agent.

Pemberian blowing agent dilakukan secara kimia dan fisika. Blowing agent secara

kimia menimbulkan dekomposisi unsur-unsur material dalam suatu reaksi kimia.

Blowing agent secara fisika terjadi akibat adanya gas yang diberikan pada material.

Polymeric foam yang bersifat fleksibel dihasilkan oleh reaksi polyurethane.

Polyurethane dalam pembentukan polymeric foam juga berfungsi sebagai blowing

agent. Proses pembentukan rongga dari hasil reaksi polyurethane fleksibel

berlangsung relatif cepat. Pada saat reaksi pembentukan polyurethane terjadi

pengeluaran panas (eksoterm) dengan kenaikan temperatur mencapai 75 s.d. 160 oC.

Universitas Sumatera Utara


Peningkatan volume yang dihasilkan oleh polyurethane sekitar 20 s.d. 50 kali volume

mula-mula (Astuti dan Budhayanti, 2004).

Polyurethane dibentuk dengan reaksi simultan menghasilkan kopolimer

balok. Proses pembentukan polyurethane terdiri dari 2 macam (Astuti dan

Budhayanti, 2004), yaitu:

1. Proses one shot

Proses one shot adalah proses pencampuran bahan-bahan menghasilkan

polimer secara bersama-sama.

2. Proses prepolimer

Proses prepolimer adalah reaksi polyol dengan polyisocyanate untuk

membentuk prepolimer, selanjutnya campuran prepolimer direaksikan dengan

diol atau diamine sebagai chain extender.

Menurut Sivertsen (2007), reaksi kimia pembentukan polymeric foam adalah reaksi

polyisocyanante (OCN – R – NCO) dengan polyol (HO – R’ – OH) menghasilkan

polyurethane (O – OC – HN – R – NH – CO – O – R’).

2.2 Serat TKKS

Tandan kosong kelapa sawit (TKKS), sebagai limbah dari Pabrik Kelapa

Sawit (PKS) jumlahnya cukup banyak, yaitu 1,9 juta ton berat kering atau setara 4

juta ton berat basah per tahun. PT. Perkebunan Nusantara III (PTPN-III) sendiri

menghasilkan limbah TKKS sebanyak 1350 ton per hari (Subyanto, et al, 2003).

Universitas Sumatera Utara


Minyak kelapa sawit yang telah melalui proses ekstraksi, buah kelapa sawit

diambil dari tandannya sehingga menyisakan TKKS seperti ditunjukkan pada Gbr.

2.2 (a). TKKS kemudian dibersihkan di dalam larutan air dan NaOH selama 24 jam.

(a). TKKS (b). Serat TKKS belum dicacah

(c). Serat TKKS yang dicacah sepanjang (d). Serat TKKS yang telah halus
2 s.d. 3 cm

Gambar 2.2 Pemrosesan Serat TKKS

Setelah proses pembersihan, TKKS dikeringkan seperti ditunjukkan pada Gbr. 2.2.

(b). TKKS yang telah kering selanjutnya dicacah menjadi serat sepanjang 2 s.d. 3 cm

seperti ditunjukkan pada Gbr. 2.2 (c). Serat TKKS akhirnya dicacah dengan

Universitas Sumatera Utara


menggunakan mesin pencacah. Hasil serat TKKS yang telah dicacah dengan

menggunakan mesin pencacah ditunjukkan pada Gbr. 2.2 (d).

Ukuran diameter serat TKKS cukup bervariasi. Bentuk serat tunggal TKKS

yang diamati menggunakan mikroskop optik Zeiss ditunjukkan pada Gbr. 2.3.

Beberapa penelitian telah dilakukan untuk mengamati ukuran diameter serat TKKS.

Menurut Zuhri, et al (2009), diameter serat tunggal TKKS berkisar antara 250 s.d.

610 μm.

Gambar 2.3 Bentuk Serat Tunggal TKKS yang Diamati Menggunakan


Mikroskop Optik Zeiss

Berdasarkan publikasi Zuhri, et al (2009) dapat diketahui bahwa ukuran diameter

serat tunggal TKKS cukup bervariasi. Kairiah dan Khairul (2006) menjelaskan bahwa

ukuran diameter serat tunggal TKKS adalah 150 s.d. 442 μm. Jacob, et al (2004),

Sreekala dan Thomas (2003) juga telah menjelaskan bahwa ukuran diameter serat

tunggal TKKS berkisar antara 150 s.d. 500 μm.

Universitas Sumatera Utara


Beberapa penelitian telah dilakukan untuk mengamati karakteristik serat

tunggal TKKS berdasarkan hasil pengujian tarik. Karakteristik serat tunggal TKKS

yang telah dipublikasikan ditunjukkan pada Tabel 2.1.

Tabel 2.1 Karakteristik Serat Tunggal TKKS


Kekuatan tarik Modulus Regangan total
Referensi
(MPa) elastisitas (GPa) (%)
156,3 11,88 - Gunawan, et al (2009)
71 1,7 11 Zuhri, et al (2009)
100 s.d. 400 1,0 s.d. 9 8 s.d. 18 Sreekala, et al (2001)

2.3 Respon Mekanik akibat Beban Tekan Statik

Respon didefinisikan sebagai reaksi yang muncul akibat terjadinya gangguan.

Sebagai contoh, gangguan diberikan terhadap suatu material yang dapat

mengakibatkan respon secara mekanik adalah gaya. Beberapa respon yang

diakibatkan oleh gaya adalah tegangan, retak, patah, dan lain-lain. Berdasarkan hasil

respon mekanik akan diperoleh informasi mengenai karakteristik suatu material.

Penyelidikan respon dinamik suatu material atau struktur merupakan

rangkaian kegiatan dalam mempelajari perubahan bentuk atau kerusakan akibat

pembebanan tertentu. Kegiatan tersebut merupakan tindakan dasar untuk

menanggulangi terjadinya kegagalan material dalam aplikasi teknik. Salah satu

kegiatan yang paling dasar adalah melakukan pengujian dengan pembebanan tertentu

terhadap sejumlah sampel. Setelah respon material secara kuantitatif diperoleh dari

Universitas Sumatera Utara


hasil pengujian atau data yang tersedia, maka kesempatan untuk berhasil dalam

mendesain suatu struktur tertentu dapat dievaluasi (Syam, et al, 1999).

2.3.1 Beban tekan statik aksial

Respon mekanik yang terjadi terhadap polymeric foam dapat dilihat melalui

kurva tegangan-regangan. Kurva tersebut memberikan informasi yang khas untuk

setiap jenis pembebanan. Untuk beban tekan statik aksial, tipikal kurva tegangan-

regangan ditunjukkan seperti Gbr. 2.4. Menurut Gibson dan Ashby (1999), di

sepanjang garis kurva terdapat tiga tingkat respon, yaitu: perilaku elastis (elastisitas

linier), plastisitas (plateau), dan densification yang ditandai dengan peningkatan

tegangan yang sangat cepat.


Tegangan, σ

Densification

Elastisitas
linier

Plateau

Regangan, ε

Gambar 2.4 Tipikal Kurva Respon Tegangan-Regangan terhadap


Material Foam akibat Beban Tekan Statik Aksial

Universitas Sumatera Utara


Nilai modulus elastisitas polymeric foam dapat diketahui melalui slope garis

elastisitas linier. Secara matematis, nilai modulus elastisitas akibat beban tekan statik

dapat diketahui melalui Pers. 2.1 (hukum Hooke).

σ
E= (2.1)
ε

dimana E adalah modulus elastisitas, σ adalah tegangan normal, dan ε adalah

regangan. Tegangan normal akibat beban aksial (tekan) dapat ditentukan berdasarkan

Pers. 2.2.

F
σ= (2.2)
A

dimana F adalah beban, A adalah luas penampang yang dikenai beban. Secara

skematik, beban tekan statik yang diberikan terhadap material ditunjukkan pada Gbr.

2.5.

F
δ
l

F
Gambar 2.5 Diagram Uji Tekan Statik

Kekakuan material dapat ditentukan berdasarkan Pers. 2.3.

F AE
k= = (2.3)
δ l

Universitas Sumatera Utara


Regangan akibat beban tekan statik dapat ditentukan berdasarkan Pers. 2.4.

δ
ε= (2.4)
l

dimana δ adalah defleksi, l adalah panjang mula-mula.


Pers. 2.2 dan 2.4 disubstitusikan ke Pers. 2.1 menjadi:

F ⋅l
E=
A ⋅δ

sehingga

F ⋅l
δ= (2.5)
A⋅ E

2.3.2 Beban tekan statik bending

Selain mengalami beban tekan statik aksial, struktur sering mengalami beban

tekan statik tekan bending. Permasalahan bending lebih sering berpeluang terjadi

dibandingkan akibat pembebanan yang lain di dalam perencanaan struktur.

F/2 F/2

Gambar 2.6 Three-Point Bending terhadap Batang Lurus

Universitas Sumatera Utara


Gambar 2.6 menunjukkan beban tekan statik bending terhadap batang lurus.

Tegangan-tegangan yang terjadi akibat beban tekan statik bending dapat dilihat pada

Gbr. 2.7.

Gambar 2.7 Distribusi Tegangan akibat Bending

Tegangan normal yang berubah secara linier terhadap perubahan jarak vertikal dari

sumbu aksis, y, adalah:

M⋅y
σ = (2.6)
x I

dimana σx adalah tegangan normal searah sumbu aksis, M adalah momen bending, y

adalah jarak elemen terhadap sumbu aksis, dan I merupakan inersia penampang.

Universitas Sumatera Utara


Besarnya tegangan maksimum diperoleh jika harga y mencapai titik maksimum,

yaitu:

M ⋅c
σ = (2.7)
maks I

Untuk menginvestigasi tegangan geser pada jarak y1 di atas sumbu aksis maka dipilih

penampang elemen, dA, di atas sumbu aksis pada jarak y. Penampang elemen, dA = b

dy, tegangan geser dapat ditentukan dengan:

V ⎛ 2
⎜ c − y1 ⎞⎟
2
τ= (2.8)
2I ⎝ ⎠

dimana τ adalah tegangan geser, V adalah gaya geser, dan y1 adalah jarak elemen

tertentu terhadap sumbu aksis.

Tegangan geser maksimum dapat ditentukan oleh Pers. 2.9.

3V
τ = (2.9)
maks 2A

dimana A adalah luas permukaan geser. Tegangan Von Mises dapat diketahui melalui

Pers. 2.10.

2
σ x +σ y ⎛σ x −σ y ⎞
σ 1, 2 = ± ⎜⎜ ⎟⎟ + τ xy2 (2.10)
2 ⎝ 2 ⎠

Pertimbangan yang paling penting dalam upaya untuk mencegah terjadinya

kegagalan desain suatu struktur adalah tegangan yang terjadi tidak melebihi dari

kekuatan material. Akan tetapi, ada banyak pertimbangan lain harus diperhatikan,

misalnya: tegangan yang terjadi dalam jangka waktu yang lama (fatik), tegangan

yang terjadi secara tiba-tiba (impak), dan lain sebagainya. Penyelidikan respon

Universitas Sumatera Utara


meliputi beberapa aspek, antara lain: respon material dan struktur terhadap

pembebanan tertentu, mekanisme perubahan bentuk yang terjadi pada saat terjadinya

beban maksimum, dan lain sebagainya.

2.4 Respon Mekanik akibat Beban Impak

2.4.1 Rambatan gelombang tegangan pada batang

Untuk memahami teori impak terlebih dahulu diberikan penjelasan tentang

rambatan gelombang, khususnya rambatan gelombang di dalam medium elastis.

Gelombang tegangan adalah gelombang mekanis, yaitu gelombang yang memerlukan

suatu medium untuk dapat mentransmisikannya (Johnson, 1972). Kecepatan rambat

sebuah gelombang sangat ditentukan oleh sifat-sifat medium yang dilaluinya.

Ditinjau dari arah penjalaran, gelombang dibagi atas 2 bagian, yaitu: (1)

gelombang transversal dan (2) gelombang longitudinal. Gelombang longitudinal

digunakan sebagai konsep dasar pembahasan teori kekuatan tarik impak. Perilaku

gelombang longitudinal pada sebuah batang logam dapat ditunjukkan pada Gbr. 2.8.

Gaya impak diberikan pada ujung kiri batang mengakibatkan batang bergerak ke

kanan dengan kecepatan C1, pada waktu t.

Vo , t

C1, t

Gambar 2.8 Perilaku Gelombang Longitudinal

Universitas Sumatera Utara


Keseimbangan momentum pada Gbr. 2.8 dapat diformulasikan dalam Pers.

2.11 berikut.

mv = Ft
mVo = Fo t
( Ao Cl tρo ) Vo = σ o Ao t

σo = ρo Cl Vo (2.11)

dimana Cl adalah kecepatan gelombang longitudinal merambat pada batang, Vo adalah

kecepatan partikel, dan σo adalah tegangan pada batang. Modulus elastisitas suatu

bahan dapat dinyatakan dengan Pers. 2.12.

E = Cl ρ
2

E
Cl = (2.12)
ρ

Substitusi Pers. 2.12 ke Pers. 2.11 akan diperoleh Pers. 2.13.

σ o = E o ρ o Vo (2.13)

2.4.2 Diagram Lagrange

Impak dari batang-batang kolinier dapat dianalisa secara sederhana dengan

menggunakan diagram lagrange atau diagram ruang waktu atau bidang karakteristik.

Representasi atau gambaran ruang waktu dari perambatan gelombang longitudinal

sangat berguna untuk pemeriksaan kolinier dari beberapa batang. Diagram ini dibuat

dengan mengetahui dimensi dan sifat mekanis masing-masing batang tersebut.

Diagram Lagrange dapat digunakan untuk:

Universitas Sumatera Utara


a. Menjelaskan metode pengukuran dengan cara membandingkan diagram

Lagrange dengan grafik yang diperoleh dari hasil pengujian.

b. Merencanakan panjang batang impak, batang input, spesimen, dan batang

insiden.

c. Memprediksi lokasi terjadinya keretakan terhadap spesimen.

Sumbu mendatar/horizontal adalah panjang susunan batang yang akan dianalisa

sedangkan sumbu vertikal menunjukkan waktu tempuh gelombang sepanjang batang

seperti ditunjukkan Gbr. 2.9. Gambar 2.9 menunjukkan diagram Lagrange untuk

pengujian impak tekan metode Split Hopkinson Pressure Bar (SHPB). Garis penuh

menunjukkan tegangan tekan sedangkan garis putus-putus menunjukkan tegangan

tarik. Pada diagram ini spesimen yang akan diuji ditempatkan di antara batang input

dengan batang insiden. Jika batang impak menumbuk batang input dengan kecepatan

tinggi, maka pada interface batang impak dan batang penerus akan timbul tegangan

tekan sebesar (-σ) yang berpropagasi ke kanan sampai ujung batang input dan ke kiri

menuju ujung batang impak. Gelombang tegangan tekan ini selanjutnya akan

berpropagasi ke spesimen dan collar serta menjalar hingga ke ujung batang insiden.

Setelah itu gelombang tersebut dipantulkan kembali ke batang insiden dalam bentuk

tegangan tarik (σ). Gelombang pantulan ini akan terus menjalar melewati spesimen

dan masuk lagi ke batang input. Sebagian dari gelombang tarik ini dipantulkan lagi ke

batang insiden demikian seterusnya hingga terjadi akumulasi tegangan tarik di dalam

spesimen.

Batang impak Batang input Spesimen Batang insiden

Universitas Sumatera Utara


Gambar 2.9 Diagram Lagrange

Setelah terjadi impak, pada interface batang impak dan batang penerus akan timbul

tegangan tekan sebesar σ yang merambat menjauhi interface (b).

- Tinjau batang impak

Waktu rambat gelombang dari titik a sampai dengan b adalah:

Lab
t1 = (2.14)
Cab

Setelah mencapai ujung bebas (a) gelombang kembali merambat menuju interface

batang penerus dan batang impak (b). Jika sifat mekanis dan luas permukaan

penampang yang mengalami beban impak sama, maka seluruh gelombang

tegangan akan diteruskan ke batang input.

Universitas Sumatera Utara


- Tinjau batang input

Waktu rambat gelombang dari titik b ke c adalah:

Lbc
t2 = (2.15)
Cbc

Setelah mencapai interface batang input dan spesimen (c), sebagian besar

gelombang diteruskan ke spesimen. Waktu yang dibutuhkan gelombang untuk

merambat di dalam spesimen adalah ts.

- Tinjau spesimen

Waktu rambat gelombang sepanjang titik c dan d adalah:

Lcd
t3 = (2.16)
Co

Setelah mencapai ujung bebas (titik d), selanjutnya gelombang tekan akan masuk

batang insiden dengan waktu t3 hingga ke ujung dan akan berbalik menjadi

gelombang tegangan tarik.

- Tinjau batang insiden

Waktu rambat gelombang sepanjang titik d dan e adalah:

Lde
t4 = (2.17)
Cde

2.5 Metode Tekan Impak Split Hopkinson Pressure Bar (SHPB)

Universitas Sumatera Utara


Salah satu metoda pengukuran kekuatan impak yang paling populer adalah

metode Split Hopkinson Pressure Bar, yang menggunakan batang elastis panjang

untuk mempelajari tegangan tekan yang dihasilkan oleh impak sebuah peluru atau

letupan bahan peledak. Pada alat ini, Hopkinson menyimpulkan bahwa selama batang

tekan bersifat elastis, perpindahan pada batang tekan berhubungan secara langsung

dengan tegangan, dan bahwa panjang gelombang tegangan dalam batang

berhubungan dengan waktu impak.

Metoda batang Hopkinson kemudian dikembangkan oleh Kolsky dengan

mengukur perpindahan pada batang tekan. Kolsky memperkenalkan teknik batang

tekan Split Hopkinson, dimana spesimen ditempatkan di antara dua batang tekan

seperti yang ditunjukkan pada Gbr. 2.10. Metoda ini lebih dikenal sebagai Batang

Kolsky. Pada pengujian tekan ini, spesimen akan patah akibat tegangan tekan yang

dihasilkan oleh batang impak. Bila batang impak menghantam batang input, pulsa

tegangan tekan akan dibangkitkan pada interface batang impak dan batang input,

dimana amplitudonya tergantung pada kecepatan dan panjang batang impak. Pulsa

tegangan berjalan ke dalam batang hingga pulsa tersebut mencapai spesimen.

Spesimen

Universitas Sumatera Utara


Batang impak Batang input Batang insiden

Gage A Gage B

lo

εi εr εt

u1 u2

Gambar 2.10 Batang Kolsky

Dari teori propagasi gelombang elastis satu dimensi diketahui:

t
u = co ∫ ε dt' (2.18)
0

dimana u adalah perpindahan (displacement) pada waktu t, co adalah kecepatan

gelombang elastis dan ε adalah regangan. Perpindahan ui pada permukaan batang

input (lihat Gbr 2.10) merupakan hasil kedua pulsa regangan insiden εi yang melewati

arah x positif dan pulsa regangan balik εr yang melewati arah x negatif sehingga:

t t t
u = co ∫ ε i dt '+(−co ) ∫ ε r dt ' = co ∫ (ε i − ε r ) dt ' (2.19)
0 0 0

Dengan cara yang sama, perpindahan u2 pada permukaan batang insiden dapat

diperoleh dari pulsa regangan yang ditransmisikan εt sebagai berikut:

Universitas Sumatera Utara


t
u2 = co ∫ ε t dt ' (2.20)
0

Dengan demikian nominal regangan di dalam spesimen adalah:

t
u1 − u 2 c o
εs =
lo
=
lo ∫ (ε
0
i − ε r − ε t ) dt ' (2.21)

dimana lo adalah panjang awal spesimen. Persamaan 2.24 dapat disederhanakan jika

diasumsikan bahwa tegangan yang melewati spesimen adalah konstan dan regangan

yang direfleksikan adalah:

εr = εt – εi

dengan mensubstitusikan ke dalam Pers. 2.21 diperoleh:

t
2c
ε s = − o ∫ ε r dt ' (2.22)
lo 0

Beban yang terjadi, P1 dan P2, di setiap ujung spesimen adalah:

P1 = E.A (εi + εr)

P2 = E.A.εt (2.23)

maka tegangan rata-rata yang masuk ke dalam spesimen (σs) adalah:

P1 + P2 1 ⎛ A ⎞
σs = = E ⎜⎜ ⎟⎟(ε i + ε r + ε t ) (2.23)
2 As 2 ⎝ As ⎠

dimana E adalah modulus elastisitas batang tekan, A/As adalah rasio luas penampang

antara batang tekan dengan spesimen. Persamaan 2.23 dapat disederhanakan menjadi:

Universitas Sumatera Utara


⎛ A ⎞
σ s = E ⎜⎜ ⎟⎟ ε (2.24)
⎝ As ⎠

2.6 Mode Kerusakan Polymeric Foam

Mode kerusakan sangat berkaitan dengan mekanisme keretakan/perpatahan

dari suatu material. Menurut Subhash dan Liu (2009), bentuk deformasi dinding foam

ditunjukkan pada Gbr. 2.11 (b). Kegagalan yang sering terjadi diakibatkan oleh

bending terhadap dinding foam. Retak/patah terjadi di daerah percabangan model

dinding foam seperti ditunjukkan pada Gbr. 2.12 (dilihat secara mikroskopik).

Permukaan
Foam

(a). Kondisi sebelum rusak

Kerusakan
dinding foam

(b). Kondisi setelah rusak


Gambar 2.11 Mode Foam yang Dikenai Beban Tekan
Di percabangan beberapa dinding foam sangat besar pengaruhnya untuk

terjadi patah akibat bending (bending fracture). Beberapa analisa mengenai

Universitas Sumatera Utara


kegagalan diakibatkan oleh konsentrasi tegangan di sekitar daerah percabangan.

Adanya pengaruh lain seperti momen bending di dinding foam juga merupakan

penyebab terjadi kerusakan terhadap foam. Kerusakan-kerusakan tersebut secara

setempat menunjukkan keretakan di daerah tertentu jika ditinjau secara makroskopik

seperti ditunjukkan pada Gbr. 2.11 (b).

Patah akibat σ
bending

σ σ

σ
Gambar 2.12 Model Struktur Foam Retak/Patah akibat Buckling
terhadap Dinding Foam

2.7 Metode Elemen Hingga (MEH)

Bila suatu kontinum dibagi-bagi menjadi beberapa bagian yang kecil maka

bagian-bagian yang kecil ini dinamakan elemen hingga. Proses pembagian suatu

kontinum menjadi elemen-elemen kecil ini sering dikenal sebagai proses pembagian

(diskritisasi). Dinamakan elemen hingga karena ukuran elemen kecil ini berhingga

(bukannya kecil tak berhingga) dan umumnya memiliki geometri yang lebih

sederhana dibandingkan dengan kontinumnya. Metode Elemen Hingga dapat

Universitas Sumatera Utara


mengubah suatu masalah yang memiliki derajat kebebasan tak berhingga menjadi

suatu masalah dengan jumlah derajat kebebasan tertentu sehingga pemecahannya

akan lebih sederhana.

Metode elemen hingga digunakan pada struktur yang dibebani atau pengaruh

lain sehingga menyebabkan terjadinya deformasi juga disertai terjadinya tegangan

dalam dan reaksi pada titik tertahan. Tujuan utamanya adalah untuk memperoleh

nilai pendekatan (bukan eksak) tegangan dan peralihan yang terjadi pada suatu

struktur. Deformasi pada elemen terjadi akibat peralihan titik nodal. Dalam masalah

struktur perpindahan ini disebabkan oleh gaya yang terdapat pada titik nodal.

Peralihan dan rotasi pada titik nodal disebut dengan DOF (Degree of Freedom).

Solusi akan lebih akurat bila DOF yang dipergunakan semakin banyak. Perpindahan

titik nodal terhadap sumbu lokal x dan y sebagai fungsi perpindahan terhadap

koordinat dilihat pada Pers. 2.25 dan Pers. 2.26 berikut ini:

u (x,y) = α1 + α2x + α3y (2.25)

v (x,y) = β1 + β2x + β3y (2.26)

Secara umum perpindahan titik nodal diberikan oleh Pers. 2.27.



U = [U V ]
T
(2.27)

Pada kondisi statis, penggunaan MEH mengikuti konsep persamaan pegas

elastis, dimana vektor gaya sebanding dengan perpindahan yang terjadi, sesuai

dengan persamaan, fE = Ku (Hukum Hooke). Akan tetapi, pada kondisi dinamis

Universitas Sumatera Utara


penggunaan MEH mengikuti konsep gerak (Hukum Newton II), yaitu persamaan fl =

Mü. Pada kondisi dinamik, juga dikenal implisit dan eksplisit integrasi. Perbedaannya

adalah pada pengabaian error. Implisit integrasi tidak dapat mengabaikan error bila

tegangan yang dicapai sudah mencapai batas maksimun sedangkan eksplisit integrasi

dapat mengabaikan error. Persamaan diferensial dinamik akan diperoleh dari

keseimbangan gaya inersia, fI(t), gaya redaman, fD(t) dan gaya elastis, fE(t) terhadap

gaya luar, F(t). Persamaan kesetimbangan transient dinamik dapat ditunjukkan

sebagai berikut:

fI(t) + fD(t) + fE(t) = F(t) (2.28)

[M]ü + [C]ù+ [K]u = F(t) (2.29)

Notasi M, C, dan K adalah matrik massa, redaman dan kekakuan serta ü, ù, u adalah

vektor percepatan, vektor kecepatan dan perpindahan. Harga C diperoleh dari

persamaan:

C =α K + β M (2.30)

2.7.1 Metode elemen hingga untuk tiga dimensi solid

Universitas Sumatera Utara


Elemen tiga dimensi solid (3D) dapat dipertimbangkan menjadi penyelesaian

elemen hingga karena memiliki variabel yang terikat, yaitu: x, y, dan z. Sebagai

contoh, struktur solid dapat ditunjukkan pada Gbr 2.13. Vektor-vektor gaya memiliki

arah yang berubah-ubah.

Gambar 2.13 Contoh Pembebanan terhadap Struktur 3D Solid

Di dalam struktur 3D terdapat enam komponen tegangan, yaitu tiga tegangan normal

dan tiga tegangan geser. Jenis elemen solid 3D dapat berupa tetrahedral atau

heksahedral. Setiap node pada elemen memiliki tiga derajat kebebasan translasi,

elemen akan terdeformasi dalam tiga arah yang berbeda. Formulasi elemen solid 3D

merupakan kelanjutan persamaan solid 2D, perbedaannya terdapat pada fingsi x, y,

dan z.

2.7.2 Elemen tetrahedral

Sebuah struktur 3D ditunjukkan pada Gbr. 2.14 yang terdiri dari sejumlah

elemen tetrahedral yang memiliki empat node dan empat permukaan. Elemen

tetrahedral ditunjukkan pada Gbr. 2.18.

Universitas Sumatera Utara


Gambar 2.14 Struktur Solid 3D yang Dibagi Menjadi Elemen-elemen Tetrahedral

Elemen tetrahedral mempunyai empat node, setiap node memiliki tiga derajat

kebebasan (u, v, dan w). Jumlah derajat kebebasan yang terdapat pada elemen

tetrahedral adalah dua belas seperti ditunjukkan pada Gbr. 2.15. Masing-masing node

diberi tanda angka 1, 2, 3, dan 4 yang mengikuti aturan tangan kanan. Di dalam

elemen, vektor perpindahan U merupakan fungsi koordinat x, y, dan z dan

diinterpolasi menjadi fungsi bentuk, yaitu:

Uh (x, y, z) = N (x, y, z)de (2.31)

Gambar 2.15 Elemen Tetrahedral

Universitas Sumatera Utara


Vektor perpindahan nodal dapat ditentukan dengan:

⎧ u1 ⎫
⎪v ⎪
⎪ 1⎪
⎪ w1 ⎪
⎪ ⎪
⎪ u2 ⎪
⎪ v2 ⎪
⎪ ⎪
⎪w ⎪
de = ⎨ 2 ⎬ (2.32)
⎪ u3 ⎪
⎪ v3 ⎪
⎪ ⎪
⎪ w3 ⎪
⎪u ⎪
⎪ 4⎪
⎪ v4 ⎪
⎪w ⎪
⎩ 4⎭

Matriks fungsi bentuk mempunyai format:

⎡ N1 0 0 N2 0 0 N3 0 0 N4 0 0 ⎤
N = ⎢⎢ 0 N1 0 0 N2 0 0 N3 0 0 N4 0 ⎥⎥ (2.33)
⎢⎣ 0 0 N1 0 0 N2 0 0 N3 0 0 N 4 ⎥⎦

Untuk membuat fungsi bentuk harus digunakan koordinat volume. Koordinat volume

node 1 didefinisikan sebagai:

V P 234
L1 = (2.34)
V1234

dimana VP234 dan V1234 merupakan volume tetrahedral P234 dan 1234 seperti

ditunjukkan pada Gbr. 2.16.

Universitas Sumatera Utara


Gambar 2.16 Koordinat Volume Elemen Tetrahedral

Koordinat volume node 2 s.d. 4 juga didefinisikan dengan cara yang sama, yaitu:

VP134 VP124 VP123


L2 = , L3 = , L4 = (2.35)
V1234 V1234 V1234

Koordinat volume juga ditunjukkan sebagai perbandingan jarak titik P dan titik 1

terhadap bidang 234, yaitu:

d P − 234 d P −134 d P −124 d P −123


L1 = , L2 = , L3 = , L4 = (2.36)
d1−234 d1−234 d1−234 d1− 234

sehingga dapat dinyatakan dengan:

L1 + L2 + L3 + L4 = 1 (2.37)

dimana

VP234 + VP134 + VP124 + VP123 = V1234 (2.38)

Hubungan antara koordinat volume dengan koodinat Cartesian adalah:

x = L1 x1 + L2 x 2 + L3 x3 + L4 x 4

y = L1 y1 + L2 y2 + L3 y3 + L4 y4 (2.39)

z = L1 z1 + L2 z 2 + L3 z3 + L4 z 4

Universitas Sumatera Utara


Pers. 2.34 dan 2.36 dapat dinyatakan dengan:

⎧1 ⎫ ⎧ 1 1 1 1 ⎫⎧ L1 ⎫
⎪x⎪ ⎪x x2 x3 x4 ⎪⎪⎪⎪ L2 ⎪⎪
⎪ ⎪ ⎪ 1
⎨ ⎬=⎨ ⎬⎨ ⎬ (2.40)
⎪ y ⎪ ⎪ y1 y2 y3 y4 ⎪⎪ L3 ⎪
⎪⎩ z ⎪⎭ ⎪⎩ z1 z2 z3 z 4 ⎪⎭⎪⎩ L4 ⎪⎭

Invers matriks yang ditunjukkan pada Pers. 2.40 adalah:

⎧ L1 ⎫ ⎡ a1 b1 c1 d 1 ⎤ ⎧1 ⎫
⎪L ⎪ ⎢a b2 c2 d 2 ⎥⎥ ⎪⎪ x ⎪⎪
⎪ 2⎪ 1 ⎢ 2
⎨ ⎬= ⎨ ⎬ (2.41)
⎪ L3 ⎪ 6V ⎢a3 b3 c3 d 3 ⎥⎪ y⎪
⎪⎩ L4 ⎪⎭ ⎢ ⎥
⎣a 4 b4 c4 d 4 ⎦ ⎪⎩ z ⎪⎭

dimana

⎡x j yj zj⎤ ⎡1 y j zj⎤
ai = det ⎢⎢ xk yk z k ⎥⎥ , bi = − det ⎢⎢1 yk z k ⎥⎥
⎢⎣ xl yl zl ⎥⎦ ⎢⎣1 yl zl ⎥⎦

⎡yj 1 zj ⎤ ⎡yj z j 1⎤
ci = − det ⎢⎢ yk 1 z k ⎥⎥ , d i = − det ⎢⎢ yk z k 1⎥⎥ (2.42)
⎢⎣ yl 1 zl ⎥⎦ ⎢⎣ yl zl 1⎥⎦

Subscript i bervariasi dari 1 s.d. 4, dan j, k, l dinyatakan dalam permutasi siklus.

Sebagai contoh, jika i = 1 maka j = 2, k = 3, l = 4. Jika i = 2 maka j = 3, k = 4, l = 1.

Volume tetrahedral dapat dinyatakan dengan:

⎡1 xi yi zi ⎤
⎢1 xj yj z j ⎥⎥
1
V = × det ⎢ (2.43)
6 ⎢1 xk yk zk ⎥
⎢ ⎥
⎣1 xl yl zl ⎦

Universitas Sumatera Utara


Fungsi bentuk dari elemen tetrahedral empat nodal dapat dinyatakan dengan:

1
N i = Li = (ai + bi x + ci y + d i z ) (2.44)
6V

Dari Pers. 2.44 dapat dilihat bahwa fungsi bentuk merupakan fungsi linier sehingga

elemen tetrahedral empat nodal merupakan elemen linier. Persamaan 2.44 merupakan

fungsi bentuk yang dibutuhkan penyelesaian permasalahan MEH.

Seperti yang telah dijelaskan pada paragrap sebelumnya bahwa elemen 3D

terdapat enam tegangan, yaitu: σxx, σyy, σzz, σyz, σxz, σxy.. Hubungan regangan {εxx, εyy,

εzz, εyz, εxz, εxy} dapat dinyatakan dengan:

ε = LU = LNde = Bde (2.45)

dimana matriks B ditentukan oleh Pers. 2.45.

⎡ ∂ ∂x 0 0⎤
⎢0


∂y 0 ⎥⎥
⎢0 0 ∂ ⎥
∂z
B = LN = ⎢ ⎥N (2.46)
⎢0
∂ ∂
∂z ∂y ⎥
⎢ ∂ ∂z 0 ∂ ⎥
∂x
⎢∂ ⎥
⎢⎣ ∂y ∂
∂x 0 ⎥⎦

dengan menggunakan Pers. 2.32, matriks regangan, B dapat dinyatakan dengan:

⎡ b1 0 0 b2 0 0 b3 0 0 b4 0 0⎤
⎢0
⎢ c1 0 0 c2 0 0 c3 0 0 c4 0 ⎥⎥
1 ⎢0 0 d1 0 0 d2 0 0 d3 0 0 d4 ⎥
B= ⎢ ⎥ (2.47)
2V ⎢ c1 b1 0 c2 b2 0 c3 b3 0 c4 b4 0⎥
⎢0 d1 c1 0 d2 c2 0 d3 c3 0 d4 c4 ⎥
⎢ ⎥
⎢⎣d1 0 b1 d2 0 b2 d3 0 b3 d4 0 b4 ⎥⎦

Universitas Sumatera Utara


Matriks regangan untuk elemen tetrahedral linier merupakan matriks konstan. Ini

berimplikasi bahwa regangan pada elemen tetrahedral linier adalah konstan, begitu

juga dengan tegangannya. Matriks kekakuan, k, untuk elemen solid 3D dapat

dinyatakan dengan:

k e = ∫ B T cB dV = Ve B T cB (2.48)
Ve

Matriks massa dapat dinyatakan dengan:

⎡ N11 N12 N13 N14 ⎤


⎢N N 22 N 23 N 24 ⎥⎥
me = ∫ ρN T NdV = ∫ ρ ⎢ 21 dV (2.49)
Ve Ve
⎢ N 31 N 32 N 33 N 34 ⎥
⎢ ⎥
⎣ N 41 N 42 N 43 N 44 ⎦

dimana matriks di atas dinyatakan dengan:

⎡Ni N j 0 0 ⎤
⎢ ⎥
N ij = ⎢ 0 Ni N j 0 ⎥ (2.50)
⎢ 0 0 N i N j ⎥⎦

m!n! p!q!
∫L Ln2 L3p Lq4 dV =
m
1 6Ve (2.51)
Ve
( M + n + p + q + 3)!

Integral pada Pers. 2.48 dapat ditentukan dengan Pers. 2.52. Sebuah langkah alternatif

untuk menghitung matriks massa elemen solid 3D adalah menggunakan system

koordinat natural khusus yang didefinisikan oleh Pers. 2.34 s.d. 2.36. Pada Gbr. 2.17

dapat dilihat bahwa bidang ξ = konstan yang didefinisikan pada garis P-Q sejajar

terhadap garis 2-3 pada elemen. Pada saat P berpindah ke titik 1, ξ = 0, dan P

Universitas Sumatera Utara


berpindah ke titik 2, ξ = 1. Pada Gbr. 2.18 bidang η = konstan didefinisikan sebagai

garis 1-4 pada segitiga dengan garis 1-4, titik P terletak pada garis 2-3.

⎡2 0 0 1 0 0 1 0 0 1 0 0 ⎤
⎢ 2 0 0 1 0 0 1 0 0 1 0⎥
⎢ ⎥
⎢ 2 0 0 1 0 0 1 0 0 1⎥
⎢ ⎥
⎢ 2 0 0 1 0 0 1 0 0⎥
⎢ 2 0 0 1 0 0 1 0⎥
⎢ ⎥
ρVe ⎢ 2 0 0 1 0 0 1⎥
me = (2.52)
20 ⎢ 2 0 0 1 0 0⎥
⎢ ⎥
⎢ 2 0 0 1 0⎥
⎢ 2 0 0 1⎥
⎢ ⎥
⎢ 2 0 0⎥
⎢ ⎥
⎢ 2 0⎥
⎢⎣ 2⎥⎦

Pada saat P berpindah ke titik 2, η = 0, ketika P berpindah ke titik 3 maka η =

1. Bidang ξ = konstan didefinisikan pada Gbr. 2.17, bidang P-Q-R sejajar dengan

bidang 1-2-3. Pada saat P berpindah ke titik 4 maka ζ = 0 dan ketika P berpindah ke

titik 2 maka ζ = 1.

Gambar 2.17 Koordinat Natural, ξ = Konstan

Universitas Sumatera Utara


Gambar 2.18 Koordinat Natural, η = Konstan

Gambar 2.19 Koordinat Natural, ζ = Konstan

Bidang 1-2-3 pada elemen berada pada bidang x-y. Hubungan antara xyz dan ξ η ζ

dapat dinyatakan dengan langkah berikut ini.

Pada Gbr. 2.20, koordinat titik P diinterpolasi menggunakan koordinat x, y,

dan z di titik 2 dan 3:

xp = η(x3 – x2) + x2

yp = η(y3 – y2) + y2 (2.53)

zp = 0

Universitas Sumatera Utara


Koordinat titik B diinterpolasi menggunakan koordinat x, y, dan z di titik 1 dan P,

yaitu:

xB = ξ (xp – x1) + x1 = ξ η (x3 – x2) + ξ (x2 – x1) + x1

yB = ξ (yp – y1) + y1 = ξ η (y3 – y2) + ξ (y2 – y1) + y1 (2.54)

zB = 0

Gambar 2.20 Koordinat Cartesian xyz dari Titik O

Koordinat pada titik O diinterpolasi menggunakan koordinat x, y, dan z di titik 4 dan

B:

x = x4 – ζ (x4 – xB) = x4 – ζ (x4 – x1) + ξ ζ (x2 – x1) – ξ ζ (x2 – x3)

y = y4 – ζ (y4 – yB) = y4 – ζ (y4 – y1) + ξ ζ (y2 – y1) – ξ ζ (y2 – y3) (2.55)

z = (1 – ζ ) z4

Fungsi bentuk yang ditunjukkan oleh matriks pada Pers. 2.33 dapat ditulis dengan:

Universitas Sumatera Utara


N1 = (1 – ξ) ζ

N2 = ξ η ζ (2.56)

N3 = ξ ζ (1 – η)

N4 = (1 – ξ)

Matriks Jacobian antara xyz dan ξηζ yang dibutuhkan diberikan oleh:

⎡ ∂x ∂ξ ∂x ∂η ∂x ∂ζ ⎤
J = ⎢⎢∂y ∂ξ ∂y ∂η ∂y ∂ζ ⎥⎥ (2.57)
⎢⎣ ∂z ∂ξ ∂z ∂η ∂z ∂ζ ⎥⎦

Determinan matriks Jacobian dapat ditentukan melalui Pers. 2.54 dan 2.55, yaitu:

⎡ζ x 21 + η ζ x 31 ξ ζ x 31 − x 41 + ξ x 21 + ξ η x 31 ⎤
det[J ] = ⎢⎢ζ y 21 + η ζ y 31 ξ ζ y 31 − y 41 + ξ y 21 + ξ η y 31 ⎥⎥ (2.58)
⎢⎣ 0 z4 0 ⎥⎦

Matriks massa dapat diperoleh dengan:

1 1 1
m e = ∫ ρ N N dV = ∫ ∫ ∫ ρ N T N det[J ] dξ dη dζ
T
(2.59)
Ve 0 0 0

sehingga

⎡ N 11 N 12 N 13 N 14 ⎤
1 1 1⎢N
2 ⎢ 21
N 22 N 23 N 24 ⎥⎥
m e = −6Ve ρ ∫ ∫ ∫ ξζ (2.60)
0 0 0
⎢ N 31 N 32 N 33 N 34 ⎥
⎢ ⎥
⎣ N 41 N 42 N 43 N 44 ⎦

dimana Nij diberikan oleh Pers. 2.50 dan fungsi bentuknya didefinisikan oleh Pers.

2.56. Perhitungan integral pada Pers. 2.60 akan menghasilkan mastiks massa yang

sama dengan Pers. 2.52.

Universitas Sumatera Utara


Vektor gaya pada nodal untuk elemen solid 3D dapat ditentukan dengan Pers.

2.61. Jika beban terdistribusi (fs) pada garis 2-3 yang ditunjukkan pada Gbr. 2.15

maka gaya nodal dapat ditentukan dengan:

⎧ f sx ⎫
⎪ ⎪
f e = ∫ [N ] T
⎨ f sy ⎬dl (2.61)
l 3− 4 ⎪ f ⎪
⎩ sz ⎭

Jika beban terdistribusi merata, fsx, fsy, dan fsz konstan maka Pers. 2.61 menjadi:

⎧ {0}3×1 ⎫
⎪ {0} ⎪
⎪ 3×1 ⎪
⎪⎧ f sx ⎫⎪
⎪⎪ f ⎪⎪
⎪⎨ sy ⎬⎪
⎪⎪⎩ f sz ⎪⎭⎪
⎪⎧ f ⎫⎪
1 ⎪ sx ⎪
f e = l 3− 4 ⎨ ⎪ ⎪ ⎬ (2.62)
2 ⎪⎨ f sy ⎬⎪
⎪⎪⎩ f sz ⎪⎭⎪
⎪ {0} ⎪
⎪ 3×1 ⎪
⎪ {0}3×1 ⎪
⎪ ⎪
⎪ {0}3×1 ⎪
⎪⎩ {0}3×1 ⎪⎭

dimana l3-4 adalah panjang garis 3-4. Persamaan 2.61 mengimplikasikan bahwa gaya

yang terdistribusi dibagi pada dua node. Matriks kekakuan, ke, matriks massa, me, dan

vektor gaya nodal merupakan penyelesaian persamaan MEH.

2.7.3 Pemodelan dengan bidang simetri

Banyak struktur dan objek menunjukkan bentuk yang simetri seperti

diperlihatkan oleh Gbr. 2.21.

Universitas Sumatera Utara


(a). Simetri pencerminan
(b). Simetri aksial

(d). Simetri berulang

(c). Simetri bersiklus

Gambar 2.21 Perbedaan Jenis Simetri terhadap Struktur

Gambar 2.21 menunjukkan jenis-jenis model yang biasa ditemukan pada struktur

yang simetri. Sebuah objek seperti tabung dapat digolongkan simetri yang aksial.

Pemodelan menjadi sturktur yang lebih sederhana bermanfaat untuk mengurangi

derajat kebebasan dan waktu proses simulasi menggunakan komputer. Ketepatan

analisa dapat ditingkatkan sebagai sistem persamaan menjadi lebih kecil dan

kesalahan numerik dapat dikurangi.

Simetri pencerminan merupakan simetri bidang utama dan umumnya terdapat

pada struktur persegi dan balok. Sebagian struktur merupakan pencerminan dari

bagian struktur yang lain. Posisi pencerminan disebut dengan bidang simetri. Sebuah

Universitas Sumatera Utara


struktur dikatakan simetri pencerminan jika simetri dalam geometri, kondisi

pembebanan, dan sifat-sifat materialnya. Banyak struktur menunjukkan jenis yang

simetri, beberapa struktur juga memiliki bidang simetri yang berkelipatan. Sebagai

contoh model balok yang ditunjukkan pada Gbr. 2.22.

Bidang simetri Pemodelan balok

Gambar 2.22 Model Balok dengan Dua Bidang Simetri

Gambar 2.23 Struktur Solid 2D dengan Aksis Simetri x = c

Universitas Sumatera Utara


Struktur yang ditunjukkan pada Gbr. 2.22 tergolong simetri bidang tunggal

dan model sebagian, atau dapat juga dijadikan simetri dua bidang untuk mengurangi

model elemen hingga dari struktur yang sebenarnya. Gambar 2.23 menunjukkan

simetri bidang 2D solid. Simetri solid dengan simetri aksis di x = c. Bagian sebelah

kanan dari daerah domain dimodelkan dengan pembebanan mengikuti kondisi batas

simetri di titik aksis simetri, yaitu:

u1 = 0

u2 = 0 (2.61)

u3 = 0

dimana ui (i = 1, 2, 3) disebut perpindahan dalam arah x pada titik i. Persamaan 2.61

merupakan persamaan tumpuan satu titik karena setiap persamaan hanya terdapat satu

derajat kebebasan yang tidak diketahui.

Kondisi pembebanan terhadap struktur yang simetri penting diperhatikan.

Pembebanan dianggap simetri jika beban yang terjadi merupakan refleksi dari beban

pada bidang yang lain seperti ditunjukkan pada Gbr. 2.24. Sebuah persoalan menjadi

simetri karena kondisi struktur secara keseluruhan, kondisi pendukung seperti beban

adalah simetri pada x = 0. Sebuah persoalan dikatakan tidak simetri apabila pada

bidang simetri perpindahan arah y tidak nol sehingga beban menjadi tidak simetri,

kondisi ini diperlihatkan pada Gbr. 2.25. Pemodelan sebagian struktur merupakan

hasil menggunakan kondisi batas yang tidak simetri akan memberikan hasil yang

berbeda dengan simetri bidang. Contoh yang ditunjukkan pada Gbr. 2.25

Universitas Sumatera Utara


menunjukkan kondisi batas anti simetri dimana bidang deformasi terhadap bidang

simetri adalah nol. Perlu diketahui bahwa rotasi terhadap bidang simetri adalah nol.

Gambar 2.24 Struktur Balok yang Simetri dengan Beban yang Sederhana

Gambar 2.25 Struktur Balok yang Tidak Simetri dengan Beban yang Sederhana

Beberapa aturan umum yang harus diperhatikan untuk menentukan kondisi

batas pada bidang dengan beban yang simetri adalah:

Universitas Sumatera Utara


1. Tidak terdapat perpindahan terhadap bidang normal yang simetri

2. Tidak terdapat rotasi terhadap aksis yang sejajar dengan bidang simetri.

Untuk menentukan kondisi batas pada bidang dengan beban yang simetri adalah:

1. Tidak terdapat perpindahan terhadap bidang yang sejajar dengan bidang

simetri

2. Tidak terdapat rotasi terhadap aksis yang sejajar dengan bidang simetri.

Tabel 2.2 dan 2.3 menyatakan kondisi batas untuk bidang dengan beban yang

simetri dan tidak simetri.

Tabel 2.2 Kondisi Batas untuk Beban yang Simetri


Bidang
u v w θx θy θz
simetri

xy Bebas Bebas Ditumpu Ditumpu Ditumpu Bebas

yz Ditumpu Bebas Bebas Bebas Ditumpu Ditumpu

zx Bebas Ditumpu Bebas Ditumpu Bebas Ditumpu

Tabel 2.3 Kondisi Batas untuk Beban yang Tidak Simetri


Bidang
u v w θx θy θz
simetri

xy Ditumpu Ditumpu Bebas Bebas Bebas Ditumpu

yz Bebas Ditumpu Ditumpu Ditumpu Bebas Bebas

zx Ditumpu Bebas Ditumpu Bebas Ditumpu Bebas

Universitas Sumatera Utara


Struktur solid dikatakan simetri aksial apabila struktur dapat ditimbulkan oleh

bidang putar terhadap aksis. Bidang solid dapat dimodelkan secara sederhana

menggunakan elemen 2D atau 1D yang disebut elemen aksisimetri. Sebagai contoh,

tabung silinder dapat dimodelkan menggunakan elemen akismetris 1D seperti

ditunjukkan pada Gbr. 2.26 dan 2.27.

Gambar 2.26 Struktur Silinder Menggunakan Elemen Aksisimetri 1D

Gambar 2.27 Struktur 3D Menggunakan Elemen Aksisimetri 2D

2.8 Aplikasi Polymeric Foam Diperkuat Serat TKKS

Universitas Sumatera Utara


Selain digunakan sebagai produk kerucut lalu lintas, polymeric foam diperkuat

serat TKKS juga dapat dimanfaatkan sebagai produk bidang kedokteran dan sarana

kebersihan. Produk bidang kedokteran yang dapat dihasilkan dari polymeric foam

diperkuat serat TKKS adalah sebagai alat bantu ortopedi (kaki palsu) seperti

ditunjukkan pada Gbr. 2.28. Dari penelitian Rulyanto (2003) dikatakan bahwa beban

statik yang terjadi pada alat bantu tersebut adalah 800 N.

Gambar 2.28 Contoh Alat Bantu Ortopedi (Kaki Palsu)

Aplikasi lain dari polymeric foam diperkuat serat TKKS adalah sebagai tempat

penampungan sampah sementara seperti ditunjukkan pada Gbr. 2.29.

Universitas Sumatera Utara


Gambar 2.29 Contoh Tempat Penampungan Sampah Sementara

Kapasitas tempat penampungan sementara yang dapat digunakan adalah 25 kg.

Material yang digunakan sebagai produk tersebut terbuat dari low density olyethylene

(LDPE).

2.9 Kerangka Konsep

Hasil yang diperoleh dalam sebuah penelitian dipengaruhi oleh beberapa

variabel. Oleh karena itu, di dalam penelitian ini dibuat kerangka konsep yang

menghubungkan variabel dengan permasalahan dan hasil yang akan diperoleh.

Kerangka konsep pada penelitian ini ditunjukkan pada Gbr. 2.30.

Permasalahan:
Respon akibat beban tekan statik dan
dinamik, yaitu: tegangan maksimum,
regangan statik, mode retak/patah,
distribusi tegangan terhadap polymeric
foam yang diperkuat serat TKKS belum
diketahui.

Universitas Sumatera Utara


Variabel bebas:
- Prosedur pembebanan - Uji tekan statik aksial
tekan - Simulasi komputer sebagai analisa
- Jenis material untuk numerik respon akibat beban tekan
eksperimen tekan statik statik aksial, statik bending, dan
aksial impak SHPB menggunakan software
- Waktu impak ANSYS Rel. 5.4 dan MSC/NASTRAN
Rel. 4.5.

Hasil yang diperoleh:


Respon akibat beban tekan statik dan dinamik,
yaitu: tegangan maksimum, regangan statik,
mode retak/patah, distribusi tegangan terhadap
polymeric foam yang diperkuat serat TKKS
diketahui sehingga dapat direkomendasikan
untuk perencanaan produk kerucut lalu lintas.

Gambar 2.30 Kerangka Konsep Penelitian

Universitas Sumatera Utara