Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Masalah penyalahgunaan narkotika, psikotropika dan zat adiktif

lainnya (Narkoba) dalam beberapa tahun terakhir ini menunjukkan

kecendrungan peningkatan yang sangat pesat, baik kualitas maupun

kuantitas. Menurut laporan data terakhir tahun 2004 United Nations Drugs

Control Programme (UNDPC), saat ini kurang lebih 200 juta orang

diseluruh dunia telah menggunakan jenis barang berbahaya ini, dari jumlah

tersebut 1% (+ 2 juta orang berada di Indonesia BNN, 2004).

Penyalahgunaan narkoba biasanya diawali dengan pemakaian pertama pada

usia SD atau SMP, karena tawaran, bujukan, dan tekanan seseorang atau

kawan sebaya. Didorong rasa ingin tahu atau ingin mencoba mereka mau

menerimanya.

Selanjutnya tidak sulit untuk menerima tawaran berikutnya. Dari

pemakaian sekali, kemudian beberapa kali, akhirnya menjadi

ketergantungan terhadap zat yang digunakan. Narkoba yang sering

disalahgunakan dan menyebabkan ketergantungan antara lain heroin

(putauw), sabu (metamfetamine), ekstasi, obat penenang dan obat tidur,

ganja dan kokain. Tembakau dan alkohol (minuman keras) yang sering

disalahgunakan, juga menimbulkan ketergantungan.


Penyalahgunaan narkoba telah menimbulkan banyak korban, terutama

kalangan muda yang termasuk klasifikasi usia produktif. Masalah ini bukan

hanya berdampak negatif terhadap diri korban/pengguna, tetapi lebih luas

lagi berdampak negatif terhadap kehidupan keluarga dan masyarakat,

perekonomian, kesehatan nasional (HIV dan Hepatitis), mengancam dan

membahayakan keamanan, ketertiban, bahkan lebih jauh lagi

mengakibatkan terjadinya biaya sosial yang tinggi (Social High Cost) dan

generasi yang hilang (Lost Generation). (Depsos RI, 2004).

Upaya pencegahan harus dilakukan sedini mungkin, yaitu pada masa anak

usia SD, SMP, dan SMA, sebagai upaya yang berkesinambungan.

Pencegahan yang dimaksud bukan semata-mata memberikan

informasi mengenai bahaya narkoba, tetapi lebih menekankan pemberian

keterampilan psikososial kepada anak untuk bersikap dan berprilaku positif

mengenai situasi penawaran/ajakan dan keterampilan menolak

tawaran/ajakan tersebut. Penyalahgunaan narkoba merupakan masalah

perilaku manusia, bukan semata-mata masalah zat atau narkoba itu sendiri.

Sebagai masalah perilaku, banyak variabel yang mempengaruhi, oleh karena

itu informasi mengenai bahaya narkoba kepada anak dan remaja, tanpa

usaha mengubah perilakunya dengan memberikan keterampilan yang

diperlukan akan kurang bermanfaat, bahkan dikhawatirkan terjadi efek

paradoksal (sebaliknya), yaitu meningkatnya keingintahuan atau keinginan

mencoba pada anak dan remaja. Untuk mencegah terjadinya

penyalahgunaan narkoba perlu dilakukan pencegahan secara komprehensif


di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat agar para remaja yang

merupakan generasi penerus yang akan melanjutkan pembangunan bangsa,

tidak terjerumus dalam penggunaan narkoba.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan apa yang dikemukakan dalam latar belakang maka penulis

menarik suatu rumusan masalah sebagai berikut :

1. Bagaimana pengertian narkotika, psikotropika, zat adiktif, dan narkoba?

2. Apa saja faktor penyebab terjadinya penyalahgunaan narkoba?

3. Sebutkan penggolongan narkoba?

4. Bagaimana pola pemakaian narkoba?

5. Jelaskan akibat penyalahgunaan narkoba?

1.3 Tujuan Penulisan

1. Tujuan umum

Dapat memperoleh gambaran umum tentang peran orang tua dan

guru dalam mencegah dan menanggulangi penyalahgunaan narkoba.

2. Tujuan khusus

a. Mengetahui tentang model-model pencegahan dan penanggulangan

penyalahgunaan narkoba.

b. Mengetahui tentang peran orang tua dalam mencegah dan

menanggulangi penyalahgunaan narkoba.


c. Mengetahui tentang peran guru dalam mencegah dan menanggulangi

penyalahgunaan narkoba.

d. Mengetahui tentang keterampilan dasar yang harus dimiliki orang tua

dan guru dalam mencegah dan menanggulangi penyalahgunaan

narkoba.

1.4 Metode Penulisan

Metoda yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah diskusi

dengan teman-teman, dengan metoda kepustakaan yaitu dengan cara

mempelajari buku-buku, literature-literatur, makalah-makalah, seminar dan

symposium yang ada kaitannya dengan skripsi ini.

1.5 Sistematika Penulisan

Penulisan skripsi ini disusun dalam IV BAB dengan sistematika sebagai

berikut :

BAB I : Pendahuluan yang menguraikan latar belakang masalah, tujuan

penulisan, metoda penulisan, dan sistematika penulisan.

BAB II : Tinjauan teori yang menguraikan tentang pengertian, faktor-faktor

penyebab penyalahgunaan narkoba, penggolongan narkoba, pola pemakaian

narkoba, dan akibat penyalahgunaan narkoba.

BAB III : Pembahasan yang menguraikan tentang model-model pencegahan

dan penanggulangan penyalahgunaan narkoba, peran orang tua dalam

mencegah dan menanggulangi penyalahgunaan narkoba, keterampilan dasar


yang harus dimiliki orang tua dalam mencegah dan menanggulangi

penyalahgunaan narkoba.

BAB IV : Penutup, yang menguraiakan kesimpulan dan saran.


BAB II

KAJIAN TEORI

2.1 Pengertian Narkotika, Psikotropika, Zat Adiktif, dan Narkoba

1. Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan

tanaman, baik sintesis maupun semi sintesis yang dapat menyebabkan

penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai

menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan

(Martono, 2000).

2. Psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintesis bukan

narkotika yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada

susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas

normal dan perilaku (Martono, 2000).

3. Zat adiktif adalah zat atau obat yang dapat menyebabkan

ketagihan/adiksi (Martono, 2000).

4. Narkoba atau nafza adalah bahan/obat/zat yang bukan tergolong

makanan, jika diminum, diisap, dihirup, ditelan atau disuntikkan

berpengaruh terutama pada kerja otak (susunan saraf pusat), dan sering

menyebabkan ketergantungan, akibatnya kerja otak berubah (meningkat

atau menurun) demikian pula fungsi vital organ tubuh lain seperti

jantung, peredaran darah, pernafasan dan lain-lain (Joewono, 2004).


5. Penyalahgunaan narkoba adalah penggunaan narkoba yang dilakukan

tidak untuk maksud pengobatan, tetapi ingin menikmati pengaruhnya,

dalam jumlah berlebih yang secara kurang teratur dan berlangsung cukup

lama, sehingga menyebabkan gangguan fisik, mental, dan kehidupan

sosialnya (Joewono, 2004).

2.2 Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Penyalahgunaan Narkoba

Faktor narkoba berbicara tentang zat, yaitu jenis, dosis dan cara pakai

dan pengaruhnya pada tubuh, serta ketersedian dan pengendalian

peredarannya. Dari sudut individu penyalahgunaan narkoba harus dipahami

dari masalah perilaku yang kompleks, yang juga dipengaruhi oleh faktor

lingkungan. Lingkungan berbicara tentang keluarga, kelompok sebaya,

kehidupan sekolah dan masyarakat luas.

2.3 Penggolongan Narkoba

Karena bahaya ketergantungan, penggunaan, dan peredaran narkoba

diatur dalam UU, yaitu UU Nomor 22 tahun 1997 tentang narkotika,

undang-undang Nomor 5 tahun 1997 tentang psikotropika. Penggolongan

jenis-jenis narkoba didasarkan pada peraturan perundang-undangan adalah

sebagai berikut :

1. Narkotika

Menurut UU Nomor 22 tahun 1997, narkotika dibagi menurut potensi

yang menyebabkan ketergantungannya adalah sebagai berikut :


a. Narkotika Golongan I : berpotensi sangat tinggi menyebabkan

ketergantungan, tidak digunakan untuk terapi (pengobatan). Contoh :

heroin, kokain dan ganja. Putauw adalah heroin tidak murni berupa

bubuk.

b. Narkotikan Golongan II : berpotensi tinggi menyebabkan

ketergantungan, digunakan pada terapi sebagai pilihan terakhir.

Contoh : morfin, petidin dan metadon.

c. Narkotika Golongan III : berpotensi ringan menyebabkan

ketergantungan dan banyak digunakan dalam terapi. Contoh : kodein.

2. Psikotropika

Menurut UU Nomor 5 tahun 1997 psikotropika dibagi menurut potensi

yang dapat menyebabkan ketergantungan antara lain :

a. Psikotropika Golongan I : amat kuat menyebabkan ketergantungan

dan tidak digunakan dalam terapi. Contoh : MDMA (ekstasi).

b. Psikotropika Golongan II : kuat menyababkan ketergantungan,

digunakan terbatas pada terapi. Contoh : amfetamin, metamfetamin

(sabu), fensiklidin, dan ritalin.

c. Psikotropika Golongan III : potensi sedang menyebabkan

ketergantungan, banyak digunakan dalam terapi.

Contoh : pentobarbital dan flunitrazepam.

d. Psikotropika Golongan IV : potensi ringan menyebabkan

ketergantungan dan sangat luas digunakan dalam terapi.


Contoh : diazepam, klobazam, fenobarbital, barbital, klorazepam,

klordiazepoxide, dan nitrazepam (nipam, pil KB/koplo).

3. Zat psiko-aktif lain

Tidak tercantum dalam peraturan perundang-undangan tentang narkotika

dan psikotropika. Yang sering disalah gunakan adalah :

a. Alkohol, yang terdapat pada berbagai jenis minuman keras.

b. Inhalasia/sovel, yaitu gas atau zat yang mudah menguap yang terdapat

pada berbagai keperluan pabrik, kantor dan rumah tangga.

c. Nikotin yang terdapat pada tembakau.

d. Kafein pada kopi, minuman penambah energi dan obat sakit kepala

tertentu.

Penggolongan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya menurut

WHO didasarkan atas pengaruhnya terhadap tubuh manusia antara lain :

a. Opioida : Mengurangi rasa nyeri dan menyebabkan mengantuk atau

turunnya kesadaran. Contoh : opium, morfin, heroin dan petidin.

b. Ganja : Menyebabkan perasaan riang, meningkatkan daya khayal, dan

perubahan perasaan waktu. Contoh : mariyuana, hasis.

c. Kokain dan daun koka, tergolong stimulansia (meningkatkan aktivitas

otak/fungsi organ tubuh lain).

d. Golongan amfetamin, tergolong stimulansia. Contoh : ekstasi, sabu.

e. Alkohol, yang terdapat pada minuman keras.


f. Halusinogen, memberikan halusinasi (khayal). Contoh : Lysergic Acid

(LSD) sering disebut acid, red dragon, blue heaven, sugar cuber, trips dan

tabs.

g. Sedativa dan Hipnotika (obat penenang/obat tidur, seperti pil BK, MG)

h. Solven dan inhalasi : gas atau uap yang dihirup. Contoh : tiner dan lem

i. Nikotin, terdapat pada tembakau (termasuk stimulansia).

j. Kafein, terdapat dalam kopi, berbagai jenis obat penghilang rasa sakit

atau nyeri, dan minuman kola (termasuk stimulansia).

Tabel 2.1 Persentase Kasus Narkotika, Psikotropika dan Bahan Adiktif

lainnya.

KASUS
BAHAN %NAIK/
NO TAHUN JML
NARKOTIKA PSIKOTROPIKA ADIKTIF TURUN
LAINNYA
1 2012 11.380 9.289 1.961 22.630
2 2013 10.008 9.573 9.573 29.364 29,76
3 2014 11.140 10.964 10.964 30.883 5,17
4 2015 17.897 7.599 7.599 26.677 -13,62
5 2016 19128 9.067 9.067 29.796 11,69
JML 69.553 30.633 39.164 139.350

Sumber : Badan Narkotika Nasional

2.4 Pola Pemakaian Narkoba

1. Pola coba-coba

Yaitu karena iseng atau ingin tahu. Pengaruh tekanan kelompok

sebaya sangat besar, yang menawarkan atau membujuk untuk memakai


narkoba. Ketidakmampuan berkata ”tidak” mendorong anak untuk

mencobanya, apabila ada rasa ingin tahu atau ingin mencoba.

2. Pola pemakaian sosial

Yaitu pemakaian narkoba untuk tujuan pergaulan agar

diakui/diterima kelompok.

3. Pola pemakaian situasional

Yaitu karena situasi tertentu, misalnya kesepian, stres dan lain-

lainnya. Disebut juga tahap instrumental, karena dari pengalaman

pemakaian sebelumnya disadari narkoba dapat menjadi alat untuk

mempengaruhi atau memanipulasi emosi dan suasana hatinya. Disini

pemakaian narkoba telah mempunyai tujuan yaitu sebagai cara mengatasi

masalah. Pada tahap ini pamakai berusaha memperoleh narkoba secara

aktif.

4. Pola habituasi (kebiasaan)

Ketika telah memakai narkoba secara teratur/sering, terjadi

perubahan pada faal tubuh dan gaya hidupnya. Teman lama berganti

dengan teman kalangan pecandu. Kebiasaan, pakaian, pembicaraan dan

sebagainya akan berubah. Menjadi sensitif, mudah tersinggung, pemarah,

sulit tidur dan berkonsentrasi, sebab naokoba mulai menjadi bagian

hidupnya. Minat dan cita-cita semua hilang, sering membolos dan

prestasi disekolah merosot, lebih suka menyendiri dari pada berkumpul

bersama keluarga. Meskipun masih dapat mengendalikan pemakaiannya,


tetapi telah terjadi gejala awal ketergantungan. Pola pemakaian narkoba

inilah yang secara klinis disebut penyalahgunaan.

5. Pola ketergantungan

Dengan gejala khas yaitu : timbulnya toleransi atau gejala putus

zat. Pemakai akan berusaha untuk selalu memperoleh narkoba dengan

berbagai cara seperti berbohong, menipu dan mencuri menjadi

kebiasaannya. Tidak dapat lagi mengendalikan diri dalam

penggunaannya, sebab narkoba telah menjadi pusat kehidupannya.

Hubungan dengan keluarga dan teman-teman menjadi rusak.

2.5 Akibat Penyalahgunaan Narkoba

1. Bagi diri sendiri

a. Terganggunya fungsi otak dan perkembangan normal remaja seperti :

1) Daya ingat sehingga mudah lupa.

2) Perhatian sehingga sulit berkonsentrasi.

3) Perasaan sehingga tidak dapat bertindak rasional dan impulsif.

4) Persepsi sehingga memberi perasaan semu/khayal.

5) Motivasi sehingga keinginan dan kemampuan belajar merosot,

persahabatan rusak, minat dan cita-cita semula padam.

b. Intoksikasi (keracunan)

Yaitu gejala yang timbul akibat pemakaian narkoba dalam

jumlah yang cukup berpengaruh pada tubuh dan perilakunya.

Gejalanya tergantung jenis, jumlah dan cara penggunaannya.


c. Over dosis

Dapat menyebabkan kematian karena terhentinya pernafasan

(heroin) atau perdarahan otak (amfetamin,sabu). Over dosis terjadi

karena toleransi maka perlu dosis yang lebih besar, atau karena sudah

lama berhenti pakai, lalu memakai lagi dengan dosis yang dahulu

digunakan.

d. Gejala putus zat

Yaitu gejala ketika dosis yang dipakai berkurang atau dihentikan

pemakiannya. Berat ringan gejala bergantung jenis zat, dosis dan lama

pemakaian.

e. Berulang kali kambuh

Yaitu ketergantungan yang menyebabkan craving (rasa rindu

pada narkoba), walau telah berhenti pakai. Narkoba dan perangkatnya

seperti kawan-kawan sesama pemakai, suasana dan tempat-tempat

penggunaannya dahulu mendorong untuk memakai narkoba kembali.

Itu sebabnya pecandu akan berulang kali kambuh.

f. Gangguan perilaku/mental-sosial

Sikap acuh tak acuh, sulit mengendalikan diri, mudah

tersinggung, menarik diri dari pergaulan, hubungan dengan keluarga

dan teman terganggu, terjadi perubahan mental diantaranya gangguan

pemusatan perhatian, motivasi belajar/bekerja lemah, ide paranoid,

gejala parkinson.
g. Gangguan kesehatan

Yaitu kerusakan atau gangguan fungsi organ tubuh seperti hati,

jantung, paru, ginjal, kelenjar endokrin, alat reproduksi, infeksi

hepatitis B/C, HIV/AIDS, penyakit kulit dan kelamin, kurang gizi dan

gigi berlubang.

h. Kendornya nilai-nilai

Mengendornya nilai-nilai kehidupan agama, sosial, budaya

seperti perilaku seks bebas dengan akibatnya (penyakit kelamin,

kehamilan yang tidak diinginkan), sopan santun hilang, menjadi

asosial, mementingkan diri sendiri dan tidak memperdulikan

kepentingan orang lain.

i. Keuangan dan hukum

Yaitu keuangan menjadi kacau karena harus memenuhi

kebutuhan akan narkoba. Itu sebabnya ia akan mencuri, menipu dan

menjual barang-barang milik sendiri atau orang lain. Jika masih

sekolah, uang sekolah digunakan untuk membeli narkoba sehingga

akan terancam putus sekolah. Dapat juga malakukan tindakan

kriminal sehingga bisa terkena sanksi hukum (ditahan, dipenjara atau

didenda).

2. Bagi keluarga

Suasana hidup nyaman dan tentram menjadi terganggu, membuat

keluarga resah karena barang-barang berharga di rumah hilang. Anak


berbohong, mencuri, menipu, bersikap kasar, acuh tak acuh dengan

urusan keluarga, tidak bertanggung jawab, hidup semaunya dan asosial.

Orang tua menjadi malu karena memiliki anak pecandu, merasa

bersalah, tetapi juga sedih dan marah. Perilakunya ikut berubah

sehingga fungsi keluarga terganggu. Orang tua menjadi putus asa

karena masa depan anak tidak jelas, stres meningkat dan membuat

kehidupan ekonomi morat-marit, pengeluaran uang meningkat karena

pemakaian narkoba atau karena harus berulang kali dirawat dan bahkan

mungkin mendekam di penjara.

3. Bagi sekolah

Narkoba merusak disiplin dan motivasi yang sangat penting bagi

proses belajar. Siswa penyalahguna narkoba mengganggu suasana

belajar-mengajar di kelas dan prestasi belajar turun drastis.

Penyalahgunaan narkoba juga berkaitan dengan kenakalan dan putus

sekolah, kemungkinan siswa penyalahguna narkoba membolos lebih

besar dari siswa lain.

Penyalahgunaan narkoba juga berhubungan dengan kejahatan dan

perilaku asosial lain yang mengganggu suasana tertib dan aman,

kerusakan barang-barang milik sekolah, meningkatnya perkelahian.

Mereka juga menciptakan iklim acuh tak acuh dan tidak menghormati

pihak lain. Banyak diantara mereka menjadi pengedar atau pencuri

barang milik teman atau karyawan sekolah.


4. Bagi masyarakat, bangsa dan negara

Mafia perdagangan gelap selalu berusaha memasok narkoba.

Terjalin hubungan antara pengedar/bandar dan korban sehingga tercipta

pasar gelap. Oleh karena itu, sekali pasar terbentuk akan sulit memutus

mata rantai peredarannya. Masyarakat yang rawan narkoba tidak

memiliki daya tahan, sehingga kesinambungan pembangunan terancam.

Negara menderita kerugian karena masyarakatnya tidak produktif dan

tingkat kejahatan meningkat, belum lagi sarana dan prasarana yang

harus disediakan.

Tabel 2.2 Jumlah Pengguna Narkoba menurut Jenis Kelamin

JENIS KELAMIN
NO TAHUN JUMLAH
LAKI-LAKI PEREMPUAN
1. 2007 33.134 3.035 36.169
2. 2008 41.345 3.366 44.711
3. 2009 35.286 3.119 38.405
4. 2010 30.635 2.862 33.497
5. 2011 33.030 3.702 36.732
JUMLAH 173.430 16.114 189.514
Sumber : Badan Narkotika Nasional
BAB III

PENYAJIAN DATA, ANALISIS DAN PEMECAHAN MASALAH

3.1 Model-Model Pencegahan dan Penanggulangan Penyalahgunaan

Narkoba.

Ada tiga model pencegahan dan penanggulangan penyalahgunaan narkoba ,

dimana setiap model mempunyai srategi atau cara pendekatan, sesuai

disiplin ilmu dari setiap model antara lain :

1. Model moral legal

Model ini juga disebut sebagai model tradisional/konvensional.

Penganut model ini adalah para penegak hukum, tokoh agama dan kaum

moralis. Disini narkoba dianggap sebagai penyebab masalah. Oleh

karena itu , pengedar/penjual dan penggunanya secara moral (sosial) dan

legal adalah pelaku kejahatan yang harus dihukum dan dijauhkan dari

lingkungan sosialnya.

Tujuan utama pencegahan dan penanggulangan model ini adalah

”bagaimana menjauhkan narkoba dari penggunaannya oleh masyarakat”.

Narkoba adalah unsur aktif, sedangkan masyarakat adalah korban yang

harus dilingdungi dengan pengaturan moral, sosial dan legal. Pencegahan

dilakukan dengan pengawasan ketat peredaran narkoba, meningkatkan

harga jual, ancaman hukuman berat dan peringatan keras akan

bahayanya. Diharapkan kepada masyarakat agar waspada terhadap

bahayanya.
Model ini dahulu menjadi bobot terbesar cara penanggulangan di

banyak negara. Saat ini pun berlaku pada negara yang penegakkan

hukumnya menjadi tolak ukur seperti Singapura dan Malaysia. Indonesia

mengikuti upaya ini, tetapi penegakkan hukumnya masih sangat lemah.

2. Model Medik dan Kesehatan Masyarakat

Penganut model ini adalah ahli kedoteran dan kesehatan, dimana

mereka menganggap penyalahgunaan narkoba merupakan penyakit

menular yang berbahaya sehingga penanggulangannya pun harus

mengikuti cara pemberantasan penyakit menular seperti malaria. Model

narkoba-individu-lingkungan tidak ubahnya model kesehatan masyarakat

dalam memberantas penyakit menular dengan model segitiga agent-host-

environment.

Sama halnya dengan model pertama, model ini masih

mengganggap narkoba sebagai penyebab masalah. Penanggulangan tidak

jauh berbeda dengan model pertama. Hanya disini, narkoba tidak dilihat

sebagai unsur berbahaya dan melanggar hukum, tetapi sebagai penyebab

suatu penyakit. Individu pun digolongkan sebagai rawan atau tidak

rawan.

Indonesia menganut model ini, misalnya penyalah guna ditolong

hanya secara medik dengan melakukan pengawasan terhadap

penggunaan dan peredaran narkoba serta informasi mengenai narkoba

sebagai penyebab ketergantungan. Upaya pencegahan ditujukan pada

sekelompok masyarakat dari bahaya ”ditularkan” oleh pecandu,


identifikasi dan pertolongan pada sekelompok yang berisiko tinggi, serta

penerangan. Informasi bahaya narkoba dilakukan seperti halnya

kampanye anti rokok.

3. Model Psikososial

Model psikososial menempatkan individu sebagai unsur aktif

dalam rumus narkoba individu lingkungan. Penanggulangannya

ditujukan pada faktor perilaku individu. Disebut model psikososial

karena perilaku seseorang bergantung pada dinamika dengan

lingkungannya, baik dari segi perkembangan dan pendidikannya maupun

dalam berinteraksi dengan lingkungannya (dinamika kelompok).

Penyalahgunaan narkoba pada model ini dilihat sebagai masalah

perilaku, tidak berbeda dengan masalah perilaku lain. Ada beberapa

prinsip yang perlu diketahui dalam penerapan model ini, diantaranya

sebagai berikut :

a. Pemakaian narkoba berbeda pada setiap individu, setiap individu

memakai narkoba yang berbeda dalam takaran yang berbeda, untuk

alasan yang berbeda, dalam konteks sosial yang berbeda dan dengan

hasil atau efek yang berbeda.

b. Sebagai fenomena psikososial, penyalahgunaan narkoba tidak selalu

mempunyai hubungan sebab akibat, sebab banyak faktor yang

mempengaruhinya yaitu keluarga, sekolah, agama, masyarakat dan

kelompok sebaya.
c. Pemberian informasi saja tidak akan mempengaruhi perilaku

seseorang. Informasi yang diberikan secara pasif yang tidak dikaitkan

dengan seluruh proses perubahan perilaku tidak akan banyak

bermanfaat.

Model psikososial tidak melihat penyalahgunaan narkoba

sebagai masalah narkoba, tetapi sebagai masalah manusia ”It is not a

problem of drugs, but it is a problem of people”, sehingga sumber

masalahnya adalah diri sendiri, bukan narkoba atau penggunanya.

Pencegahan pada model ini ditujukan pada perbaikan kondisi

pendidikan atau lingkungan psikososialnya seperti keluarga, sekolah

dan masyarakat. Pemberian informasi tentang narkoba dengan cara

menakut-nakuti (Horror tecnique atau scare tactic) sangat tidak

dianjurkan.

4. Model Sosial Budaya

Model ini menekankan pentingnya lingkungan dan konteks sosial

budaya. Contohnya merokok adalah perilaku normal yang dapat diterima

oleh sebagian besar orang dewasa. Pemakaian ganja pada beberapa

daerah atau negara dianggap wajar, namun penyalahgunaan narkoba jenis

lain dikatakan sebagai perilaku yang menyimpang atau tidak wajar.

Artinya menyimpang dari norma sosial-budaya yang berlaku yang

variabelnya ditentukan oleh kultur atau subkultur yang sangat kompleks.

Pandangan sosial budaya melihat perilaku penyimpang tersebut sebagai

produk yang kurang menguntungkan dari sistem sosial tertentu.


Sasaran penanggulangan pada model ini adalah perbaikan kondisi

sosial ekonomi dan lingkungan masyarakat. Industrialisasi, urbanisasi,

kurangnya kesempatan kerja dan sebagainya menjadi perhatian utama.

Oleh karena itu lembaga-lembaga terutama pendidikan perlu

dimodifikasi menjadi lebih manusiawi, pelayanan kesehatan dan sosial

ditujukan bagi kepentingan klien/konsumen, pengembangan potensi

masyarakat pada setiap kelompok umur dan perluasan kesempatan kerja

dan sebagainya.

3.2 Peran Orang Tua dalam Mencegah dan Menanggulangi

Penyalahgunaan Narkoba.

1. Orang tua dapat berperan dalam mencegah dan menanggulangi

penyalahgunaan narkoba dengan jalan melaksanakan tugas sebagai

berikut :

a. Mengajarkan standar perilaku benar/salah dan baik/buruk serta

menunjukkan keteladanan dalam standar perilaku tersebut dengan cara

: Menjadi contoh yang baik bagi anak dan tidak memakai narkoba,

b. Menjelaskan sedini mungkin kepada anak sampai remaja bahwa

penyalahgunaan narkoba tidak dapat dibenarkan dan berbahaya.

c. Mendisiplinkan anak dengan memberi tugas harian untuk melatih

tanggung jawab atas kegiatan dan perilakunya sehari-hari.

d. Mendorong anak agar berdiri teguh jika menghadapi tekanan

kelompok sebaya untuk memakai narkoba.


2. Membantu anak menolak tekanan kelompok sebaya untuk memakai

narkoba, mengawasi kegiatan, mengetahui teman-teman anak dan

berbicara dengan mereka mengenai minat dan permasalahannya dengan

cara :

a. Mengetahui kegiatan anak sehari-hari dan teman-temannya.

b. Meningkatkan komunikasi keluarga dan mendengarkan anak secara

aktif.

c. Membahas hal-hal yang berhubungan dengan penyalahgunaan

narkoba.

d. Bersikap selektif terhadap acara televisi dan film yang ditonton anak.

3. Memiliki pengetahuan tentang narkoba dan tanda-tanda

penyalahgunaannya, jika menemukan gejala segera mengambil langkah

yang diperlukan, dengan cara :

a. Mempelajari luasnya permasalahan penyalahgunaan narkoba di

lingkungannya dan di sekolah anaknya.

b. Terampil mengenal tanda-tanda penyalahgunaan narkoba.

c. Jika anak diduga menyalahgunakan narkoba membahas hal itu dengan

tenang bersama anak, tidak pada saat anak memakai narkoba,

membuat peraturan yang dapat menjauhkan anak dari lingkungan

yang memungkinkan terjadinya penyalahgunaan narkoba.

d. Bersama para orangtua membahas masalah penyalahgunaan narkoba

di sekolah, menciptakan mekanisme informasi mengenai

penyalahgunaan narkoba.
3.3 Keterampilan Dasar yang Perlu Dimiliki Orang Tua dalam Mencegah

dan Menanggulangi Penyalahgunaan Narkoba.

1. Cara berkomunikasi efektif

a. Tidak menebak perasaan anak, tetapi mendengarkannya dengan baik

agar dapat menentukan permasalahan anak.

b. Mewaspadai bahasa nonverbal ketika sedang bicara.

c. Tidak melipat tangan ketika sedang berbicara dengan anak (yang

menggambarkan sikap menutup diri).

d. Menyatakan perasaan atau keinginan dengan jujur, baik untuk hal-hal

yang positif maupun negatif.

e. Menggunakan kata-kata positif untuk menunjukkan penghargaan atau

pujian.

f. Tidak menggunakan kata-kata seperti seharusnya, selalu, tidak pernah.

Hal ini menimbulkan perasaan bahwa siswa hanya bilangan, bukan

seseorang.

g. Tidak mengancam, menyuruh anak melakukan sesuatu dan

mengancam dengan hukuman. Hal ini akan menyebabkan anak

berlaku curang atau memberontak.

h. Menghindari memberi nasehat. Nasehat lebih baik daripada

menggurui atau memberinya ceramah, dan mendorong anak belajar

mandiri dan berpikir kreatif.


2. Mendengarkan aktif

a. Mengulang komentar anak (mendengar refleksi) dengan tujuan

memastikan bahwa perkataan anak didengarkan, membuat anak

mendengar kembali apa yang dikatakan, memastikan bahwa anda

mengerti apa yang dikatakan.

b. Memperhatikan wajah dan bahasa tubuh. Jika keduanya berbeda,

percayai bahasa tubuh yang menyatakan perasaan sebenarnya.

c. Memberi dukungan baik secara verbal maupun non verbal (sentuhan,

menepuk bahu, kontak mata dan mengangguk).

d. Menggunakan nada yang sesuai dengan jawaban. Jangan sampai nada

suara menunjukkan hal-hal yang bertentangan dengan perkataan, yang

menunjukkan kesan tidak berminat atau seolah-olah mengetahui

semuanya.

e. Gunakan kata atau ungkapan pada waktu yang tepat, misalnya waktu

jeda untuk menunjukkan minat agar pembicaraan tetap berlanjut.

3. Keterampilan menolak tawaran narkoba

Anak perlu memiliki keberanian untuk berdiri teguh dalam sikap dan

kenyakinannya, terutama jika menghadapi teman yang memintanya

untuk menuruti apa yang dikehendakinya. Anak perlu menyadari bahwa

teman sejati adalah mereka yang menginginkan setiap orang menjadi

dirinya sendiri.

Tekanan untuk memakai narkoba dapat bersifat langsung dan tidak

langsung. Tekanan langsung adalah 1-2 teman mencoba menyuruh anak


memakai narkoba, tekanan tidak langsung misalnya pada suatu pesta

diedarkan ganja, tanpa ada orang yang menyuruh memakainya akan

tetapi anak merasa memperoleh tekanan untuk memakainya agar ia dapat

diterima oleh lingkungannya.

Cara menolak antara lain dengan berkata ”tidak”, tetap berkata ’tidak”

walau didesak, memberi alasan, mengalihkan pembicaraan dan pergi

meninggalkan tempat itu.

4. Membantu meningkatkan percaya diri

Untuk dapat mengatakan ”tidak” siswa/anak harus belajar cara

meningkatkan percaya diri. Guru atau orang tua membantu

mengembangkan percaya diri siswa/anak sehingga mereka lebih mudah

menolak tekanan kelompok sebaya dengan cara :

a. Memberi pujian atau ucapan selamat atas prestasi kecil yang

dilakukannya. Perlu dijelaskan kepadanya bahwa melakukan

pekerjaan sebaik mungkin adalah lebih baik daripada menang dalam

perlombaan.

b. Bantu siswa/anak menetapkan tujuan hidupnya secara realistis, jika

harapan anak terlalu tinggi lalu gagal, hal itu dapat mengganggu harga

diri anak.

c. Kritik perbuatannya atau tindakannya,bukan harga diri siswa/anak.

Jika melakukan perbuatan berbahaya, tidak baik atau melanggar

peraturan, siswa/anak harus ditegur. Jangan berkata : ”Tidak

seharusnya kamu lompati dinding itu, apa kamu tidak punya pikiran”,
namun katakan ”melompat dari atas tembok yang tinggi sangat

berbahaya, kamu dapat terluka jangan lagi lakukan hal itu!”.

d. Beri siswa/anak tanggung jawab dengan tugas tertentu. Ia akan

melihat, bahwa ia adalah bagian dari sebuah tim.

e. Perlihatkan kepada siswa bahwa anda peduli kepadanya, menepuk

bahu siswa/anak akan membuat siswa merasa aman.


BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

1. Narkoba atau nafza adalah bahan/obat/zat yang bukan tergolong

makanan yaang berpengaruh terutama pada kerja otak (susunan saraf

pusat), dan sering menyebabkan ketergantungan.

2. Ada tiga faktor penyebab penyalahgunaan narkoba yaitu narkoba,

individu dan lingkungan.

3. Penggolongan jenis-jenis narkoba didasarkan pada peraturan

perundang-undangan dan dibagi menurut potensi yang menyebabkan

ketergantungannya.

4. Narkoba berpengaruh pada bagian otak yang bertanggung jawab atas

kehidupan perasaan yang disebut sistem limbus.

5. Pengaruh berbagai jenis narkoba pada tubuh meliputi pengaruh jangka

pendek dan pengaruh jangka panjang.

6. Ada beberapa pola pemakaian narkoba antara lain : pola coba-coba,

pola pemakaian sosial, pola pemakaian situasional, pola habituasi

(kebiasaan) dan pola ketergantungan.

7. Akibat penyalahgunaan narkoba diantaranya pada diri sendiri, keluarga,

sekolah dan bagi masyarakat, bangsa dan negara.


8. Ada tiga model pencegahan dan penanggulangan penyalahgunaan

narkoba, dimana setiap model mempunyai srategi atau cara pendekatan,

sesuai disiplin ilmu dari setiap model.

9. Orangtua dapat berperan dalam mencegah dan menanggulangi

penyalahgunaan narkoba dengan mengajarkan standar perilaku,

membantu anak menolak tekanan kelompok sebaya untuk memakai

narkoba, memiliki pengetahuan tentang narkoba dan tanda-tanda

penyalahgunaannya, mendukung kebijakan sekolah bebas narkoba.

10. Keterampilan dasar yang perlu dimiliki orang tua dalam mencegah dan

menanggulangi penyalahgunaan narkoba antara lain cara berkomunikasi

efektif, mendengarkan aktif, keterampilan menolak tawaran narkoba,

membantu meningkatkan percaya diri

4.2 Saran

1. Penyalahgunaan narkoba merupakan masalah universal sehingga perlu

usaha bersama baik dari orang tua, guru, tenaga kesehatan dan instansi

terkait agar tidak bertambah banyak lagi generasi muda yang terjerumus

dalam penyalahgunaan narkoba.

2. Keluarga merupakan benteng utama untuk mengecah anak dari

penyalahgunaan narkoba sehingga para orangtua lebih meningkatkan

peran sertanya dalam mencegah dan menanggulangi penyalahgunaan

narkoba karena narkoba dapat mengintai anak setiap saat.