Anda di halaman 1dari 25

METODE SELEKSI TANAMAN MENYERBUK SENDIRI

1. Tujuan seleksi massa

Memurnikan varietas

Pengotoran dari percampuran, persilangan alami dan mutasi alami dalam produksi benih.

Memperbaiki sifat-sifat dalam varietas lokal

Diperoleh varietas unggul yang merupakan campuran genotipa dengan fenotip yang seragam.

-----------

Tujuan dari seleksi massa adalah untuk memperbaiki populasi secara umum dengan memilih dan
mencampur genotipe – genotipe superior. Adapun beberapa kelemahan dari seleksi massa yaitu:

Tanaman yang dipilih tidak homosigot dan akan segregrasi pada generasi yang berikutnya.

Hanya berguna untuk sifat-sifat dengan hertabilitas yang tinggi. Umumnya tidak efisien jika“ ALELE “ yang
akan dihilangkan memiliki frekuensi yang rendah.

Lebih efektif untuk sifat-sifat yang nampak sebelum pembuangan dari sifat-sifat yang nampak setelah
pembuangan.Contoh tanaman kedelai, gandum, tembakau telah berhasil dengan menggunakan seleksi
massa.

Jika seleksi massa digunakan sebagai metode seleksi untuk tanaman penyerbuk sendiri maka seleksi
masa pun mempunyai kelemahan yang antara lain :

Tidak meungkin dapat mengetahui apakah tanaman yang dikelompokkan homosigot atau heterosigot
untuk suatu karakter dominan tertentu, jadi seleksi fenotipe harus dilanjutkan untuk generasi berikut.

Lingkungan luar mempengaruhi penampilan tanaman sehingga sulit untuk mengetahui apakah tanaman
yang superior menurut fenotipenya dikarenakan faktor genetik atau lingkungan.

2.Dalam seleksi massa, maka tanaman individual yang diinginkan dipilih, dipanen dan bijinya disusun
tanpa uji-coba keturunan untuk membuat generasi berikutnya. Karena seleksi itu didasarkan hanya atas
induk betina, dan tidak ada pengawasan tentang penyerbukan, maka seleksi massa termasuk bentuk
perkawinan acak dengan seleksi. Maksud dari seleksi massa ialah menaikkan proporsi genotype yang
super dalam populasi. Efisiensi yang dipakai untuk mengerjakannya dalam system perkawinan acak
dengan seleksi pertama-tama tergantung dari jumlah gen dan daya waris.

Seleksi massa efektif dalam menaikkan frekuensi gen untuk sifat yang mudah dilihat atau diukur. Pada
kacang koro pedang misalnya, mungkin dengan seleksi massa membentuk varietas yang berbeda dalam
warna butir, tinggi tanaman, ukuran tongkol, tempat tongkol pada batang, tanggal kematangan, serta
persentase minyak dan protein. Jadi seleksi massa telah berguna dalam membentuk varietas untuk
tujuan khusus dan dalam mengubah adaptasi varietas supaya mereka cocok dengan area produksi yang
baru.

Sebaliknya, seleksi massa tidak efektif dalam memodifikasi sifat seperti produksi (hasil), yang dihimpun
oleh banyak gen dan tak dapat disaksikan dengan cermat atas dasar penampilan satu tumbuhan tunggal.
Karena itu, metode pemuliaan ini telah terbukti tidak berkekuatan dalam mempengaruhi panen varietas
yang diadaptasi paling tidak dalam proyek pemuliaan jangka pendek

3. Kelebihan dari metode seleksi massa adalah metode ini sederhana, tidak mahal menekan inbreeding
pada tingkat yang rendah dan bias dilakukan pada populasi yang besar. Metode ini relative cepat untuk
perbaikan karakter yang diinginkan.Pada karakter yang memiliki heritabilitas yang tinggi, perbaikan
karakter dapat dicapai dalam satu siklus. Kelemahannya adalah tidak adanya control terhadap gen-gen
jelek yang berasal dari gamet jantan (pollen). Seleksi massa juga efektif untuk perbaikan karakter-
karakter yang memiliki heritabilitas yang rendah seperti karakter hasil pada jagung.

Seleksi massa akan cepat memberikan hasil jika gen yang terlibat dalam pengontrolan karakter yang
diinginkan bersifat aditif. Karakter yang diperbaiki memiliki heritabilitas yang tinggi, sedangkan karakter
yang ingin dibuang bersifat resesif.Korelasi antar karakter yang dipertahankan serta karakter yang ingin
diperbaiki juga penting.Karakter-karakter tersebut mesti memiliki korelasi positif.

4.

5.

6. Ada di pdf

Seleksi Galur Murni

1. HPengertian Serta Kelebihan dan Kelemahan Seleksi Galur Murni pada Tanaman – Seleksi galur murni
bertujuan untuk memperoleh individu homosigot.

Bahan utama seleksi galur murni ialah suatu populasi yang memiliki tanaman homosigot sehingga
pekerjaan seleksi memilih individu yang homosigot tadi. Pemilihan dapat dilakukan berdasar fenotipe
tanaman.

Galur murni dapat terjadi jika perkawinan dalam suatu galur antara dua individu akan menghasilkan
keturunan dengan penampilan standar yang serupa dengan kedua tetuanya.
jus lagi

Galur murni ialah tahapan penting dalam program pengembangan varietas hibrida pada jagung.

Pengujian galur melalui analisis persilangan dialel adalah metode yang banyak digunakan untuk
mengetahui kemampuan bergabung suatu galur dengan galur-galur lainnya atau daya gabung umum.

Pemuliaan pada tanaman padi melibatkan proses menyilangkan dan menyeleksi yang dapat berlangsung
antara 8 sampai dengan 10 generasi untuk memproduksi galur murni dari suatu populasi yang
heterogen.

Proses pemuliaan untuk memperoleh galur-galur murni yang lama tersebut dapat lebih singkat hanya
satu sampai dua generasi saja melalui pemanfaatan sistem haploid.

Untuk menghasilkan tanaman dengan yang haploid ganda pada tanaman sereal, seperti padi, haruslah
lebih sering dilakukan melalui kultur antera dibandingkan dengan melalui kultur tepung sari.

Hal ini dikarenakan kanfrekuensi pembentukan tanaman hijau sangat rendah pada kultur tepung sari.

Adapun kekurangan dari penyerbukan sendiri dengan menggunakan metode Galur Murni yakni:

Seleksi lini murni dapat untuk menghasilkan varietas baru untuk tanaman SPC dan tidak CPC dikarenakan
: 1). Untuk tanaman CPC diperlukan banyak tenaga dalam pelaksanaan penyerbukan sendiri. 2).
Menghasilkan lini-lini murni yang bersifat inbred yakni bersifat lemah antara lain tanaman albino, kerdil,
produksi rendah.

Tak ada kemungkinan untuk memperbaharui sifat karakteristik yang baru secara genetis.
Varietas yang dihasilkan bersifat homosigot, dikrenakan kurang dapat beradaptasi diberbagai macam
kondisi atau sifat adaptasinya tidak luas.

Populasi campuran sebagai bahan utama seleksi berupa:

Varietas lokal atau land race: Varietas yang telah beradaptasi dengan baik pada suatu daerah dan
menjadi campuran berbagai galur.

Populasi tanaman bersegregasi: Keturunan dari persilangan yang melakukan penyerbukan sendiri di
beberapa generasi.

Adapun beberapa kekurangan penyerbuan sendiri dengan menggunakan metode Galur Murni ialah:

Adaptasi pada lingkungan yang beragam atau perubahan lingkungan yang cukup besar sehingga
produksinya menjadi lebih baik.

Produksinya stabil jika pada lingkungan yang berubah atau beragam.

Ketahanannya akan lebih baik terutama terhadap penyakit.

Kekurangan campuran berbagai galur antara lain :

Kurang menarik disebabkan pertumbuhan tanaman tak seragam.

Sulit untuk diidentifikasi benih dalam pembuatan sertifikasi benih.

Produksinya sangat rendah jika dibandingkan dengan produksi galur terbaik dari campuran tersebut.

Cara-cara seleksi galur murni ialah:

Tentukan karakter yang akan digunakan untuk seleksi

Amati seluruh individu dalam suatu populasi berdasar karakter yang telah dipilih

Lakukan kegiatan analisa dari data tersebut

Lakukan kegiatan seleksi pada populasi tersebut berdasarkan pada karakter yang telah dipilih

Beri tanda pada individu tersebut

Kumpulkan benih dari masing-masing individu terpilih secara terpisah atau satu individu satu kantong
Seleksi Pedigree :

1. Seleksi Pedigree:

Metode ini disebut pedigree atau silsilah karena dilakukan pencatatan pada setiap anggota populasi
bersegregasi dari hasil persilangan. Silsilah diperlukan untuk menyatukan galur tersebut serupa dengan
individu tanaman generasai sebelumnya. Individu akan menghasilkan seleksi yang terbaik, maka seleksi
dapat dimulai pada generasi F2. dari generasi F3 dan F4 banyak losi yang menjadi homosigot dan ciri
famili mulai tampil. Walaupun demikian heterozigositas tanaman masih kuat pada generasi-generasi ini
sehingga dalam famili antara tanaman yang satu dnegan tanaman yang lain mungkin secara geneti maih
berbeda. Maka pada generasi F5 atau F6 kebanyakan famili diharapkan menjadi homosigot pada banyak
losi, jadi seleksi antar famili sudah dapat dilakukan.

2.

Metode ini disebut pedigree karena pencatatan dilakukan setiap anggota populasi bersegregasi dari hasil
persilangan. Silsilah (pedigree) diperlukan untuk menyatakan bahwa dua galur tersebut serupa dengan
cara mengkaitkan terhadap individu tanaman generasi sebelumnya.

Prosedur pedigree dimulai dari persilangan sepasang tetua homozigot yang berbeda dan diperoleh
generasi F1 yang seragam. Dengan penyerbukan sendiri diperoleh generasi F2 yang bersegregasi. Mulai
generasi inilah seleksi dimulai kemudian dilanjutkan kepada generasi- generasi berikutnya.

Biji F1 dihasilkan dari persilangan dua tetua dengan tangan melalui emaskulasi. Jumlah tanaman F1
ditentukan oleh kemampuan untuk dapat menangani populasi generasi-generasi berikutnya dan
disarankan jangan terlalu banyak. Tanamn F1 sejumlah 6 atau 8 dapat menghasilkan 1000 biji. Biasanya
pada generasi F2 ditumbuhkan hanya 500 tanaman dan diseleksi hanya 10% atau 50 tanaman untuk
generasi F3. Pada padi dapat berjumlah 6000 tanaman F2 karena banyak gen yang mempengaruhi
produksi dan kualitas yang sering menjadi tujuan pemuliaan.
Biji F2 akan mempunyai embrio yang berbeda susunan genetiknya. Meiosis pada tanaman F1 cenderung
terjadinya segregasi, misalnya menjadi AA Aa aa. Tanaman F2 biasanya ditanam dengan jarak tanam
lebar dengan maksud untuk mempermudah pengamatan atau pemuliaan setiap tanaman. Seleksi
dilakukan dengan hanya meninggalkan tanaman yang dinilai terbaik, dengan alasan agar tidak terlalu
banyak ditangan ipada generasi berikutnya.

Perbandingan seleksi biasanya 10:1 untuk F2 ke F3 dapat pula lebih tinggi yakni 100:1, artinya dari 5000
tanaman ditinggalkan 50 tanaman atau galur pada F3. Perbandingan lebih tinggi apabila persilangan
dilakukan pada tetua yang banyk berbeda sifatnya, sehingga galur segregasi mempunyai keragaman
tinggi. Pencatatan individu tanaman dimulai pada generasi F2.

Pada penyeleksian tanaman F2 perlu diperhatikan pengaruh heterosigositasnya. Karena galur heterosigot
dapat menampakkan sifat lebih menonjol. Apabila yang dipilih tanaman ini tidak mempunyai arti, karena
tujuan seleksi ingin mendapatkan tanaman homosigot. Jadi sedapat mungkin dihindari peilihan galur
heterosigot dan hanya diarahkan galur yang cenderung homosigot.

Generasi F3 merupakan generasi penting. Pada generasi ini dapat diketahui terjadinya segregasi apabila
tanaman F2 yang dipilih ternyata heterosigot. Untuk mengetahui adanya segregasi diperlukan sejumlah
tanaman agar terlihat keragamannya, biasanya ditanam lebih 30 tanaman setiap baris. Seleksi tetap
dilakukan secara individu, tetapi dimungkinkan dalam satu barisan tidak dipilih sama sekali. Tanaman
yang dipilih adalah tanaman terbaik pada barisan yang tanamannya lebih seragam.

Generasi F4 ditangani seperti halnya generasi F3. Perbedaannya adalah seleksi tetap dilakukan pada
individu tanaman, berasal dari family terbaik. Keragaman di dalam suatu barisan atau family menjadi
berkekurangan karena tanaman lebih homosigot.seleksi diantara family menjadi lebih efisien, karena
dapat diketahui mana yang lebih seragam.biasanya dua atau lebih tanaman dipilih dari family yang
terbaik.
Pada generasi F5, F6 dan F7 biasa tanaman ditumbuhkan pada jarak tanam komersial dengan tiga baris
dalam satu petak. Seleksi tetap dilakukan pada individu tanaman dari family terbaik dan seragam.

Generasi F8 dilakukan pengujin pendahuluan di kebun seleksi yang sekaligus memperoleh benih untuk
pengujian multi lokasi (generasi F9). Dari pengujian ini dapat diperoleh galur-galur harapan untuk dilepas
menjadi varietas unggul baru.

Seleksi Bulk :

1. Pada metode bulk tidak dilakukan pemisahan atau seleksi pada generasi awal. Tanaman
segregasi dibiarkan tumbuh bercampur dalam populasi, sehingga memungkikan terjadi
persilangan diantara genotipa berbeda.

Metode ini memerlukan lebih sedikit pekerjaan dibanding metode pedigree. Setelah seleksi
dilakukan hanya generasi lanjut setelah tanaman banyak yang homosigot. Selama tumbuh
bercampur dalam suatu populasi, pertama akan terjadi selesi alam, sehingga tanaman yang
tidak tahan menghadapi cekaman lingkungan akan tertinggal pertumbuhannya atau mati. Kedua
terjadi peningkatan genetic akibat kemungkinan perubahan silang.

2.Dari segi waktu, dibutuhkan kurang lebih 3 sampai 4 tahun untuk dapat memperoleh galur-
galur harapan padi gogo yang memiliki sifat yang multitoleran.

Pada tahun pertama ialah tahap awal untuk mengevaluasi galur-galur tetua yang tadinya hanya
mempunyai satu sifat toleransi pada kondisi multi cekaman atau kekeringan, tanah masam dan
naunga, dan pada tahun ini juga dimungkinkan untuk dilakukan persilangan dari tetua-tetua
yang terpilih dari hasil evaluasi. Pada tahun kedua dapat dilakukan evaluasi terhadap F1 yang
merupakan hasil dari persilangan tetua.

Evaluasi ini lebih diarahkan untuk mencari karakter fisiologi yang dapat digunakan untuk seleksi
dari hasil-hasil persilangan selanjutnya.
Pada tahun ini juga dilakukan persilangan dialel dengan tujuan untuk menggabungkan karakter
yang diharapkan.

Pada tahun ketiga dilakukan pembentukan suatu populasi bulk dengan menggunakan suatu
metode yang bernama restrited bulk.

Salah satu kriteria yang digunakan untuk seleksi ialah hasil dari evaluasi fisiologi. Pembentukan
populasi akan dapat terus dilakukan sampai dengan generasi ke 5. Setelah itu calon galur yang
terpilih, akan diseleksi pada suatu kondisi yang multi cekaman untuk mendapatkan galur-galur
harapan.

Pada metode bulk tidak dilakukan pemisahan atau dilakukan seleksi pada generasi yang awal.

Tanaman segregasi akan dibiarkan tumbuh bercampur dalam suatu populasi, sehingga
memungkikan terjadi persilangan diantara genotipa yang berbeda.

Metode ini membutuhkan lebih sedikit pekerjaan dibandingkan dengan metode pedigree.
Setelah seleksi selesai dilakukan, hanya generasi lanjut setelah tanaman banyak yang berjenis
homosigot.

Selama proses tumbuh bercampur dalam suatu populasi, pertama akan terjadi suatu selesi
alam, sehingga tanaman yang tidak tahan menghadapi cekaman lingkungan yang akan
tertinggal pertumbuhannya atau akan mati. Kedua terjadi peningkatan genetik akibat
kemungkinan perubahan silang.

Tahapan Seleksi Curah (Bulk) tetua A x tetua B F1 F2- F4 menanam F1 dalam rumah Kaca.
Populasi Bulk ditanam di lapang, seleksi tanaman tunggal, seleksi pada baris atau famili terbaik
F5 F6 F7 Ditanam dalam jarak rapat F8. Uji daya hasil dari pendahuluan dengan varietas
pembanding yaitu F9 dan Uji Multilokasi Pelepasan varietas.

3. Metode pemuliaan dengan populasi bulk merupakan metode yang ekonomis dalam
menghasilkan galur-galur yang homozigot untuk kemudian diseleksi. Metode ini memberikan
keuntungan jika diterapkan dalam pemuliaan untuk sifat-sifat kuantitatif yang memerlukan
seleksi pada generasi lanjut (Poelhman, 1986). Metode populasi bulk juga memberikan seleksi
awal berupa tekanan seleksi bagi genotipe-genotipe yang kurang adaptif dan mempunyai nilai
agronomi yang buruk pada saat pembentukan bulk dimana genotipe akan ditanaman pada
kerapatan yang tinggi sehingga menimbulkan persaingan antar genotip sebagai tekanan seleksi
alam.

Dari segi waktu diperlukan kurang lebih 3 sampai 4 tahun untuk memperoleh galur-galur
harapan padi gogo yang memiliki sifat multi toleran. Pada tahun pertama merupakan tahap
awal untuk mengevaluasi galur-galur tetua (yang tadinya hanya memiliki satu sifat toleransi)
pada kondisi multi cekaman (kekeringan, tanah masam dan naungan) dan pada tahun ini juga
dimungkinkan untuk dilakukan persilangan dari tetua-tetua yang terpilih hasil evaluasi. Pada
tahun kedua dapat dilakukan evaluasi terhadap F1 hasil persilangan tetua. Evaluasi ini lebih
diarahkan mencari karakter fisiologi yang dapat digunakan untuk seleksi hasil-hasil persilangan
selanjutnya. Pada tahun ini juga dilakukan persilangan dialel dengan tujuan menggabungkan
karakter yang diinginkan. Pada tahun ketiga dilakukan pembentukan populasi bulk dengan
metode restrited bulk. Salah satu kriteria yang digunakan untuk seleksi adalah hasil evaluasi
fisiologi. Pembentukan popuilasi terus dilakukan sampai dengan generasi ke 5. Setelah itu
calon galur yang terpilih, diseleksi pada kondisi multi cekaman untuk mendapatkan galur-galur
harapan.

4.

Pada metode bulk tidak dilakukan pemisahan atau seleksi pada generasi awal. Tanaman
segregasi dibiarkan tumbuh bercampur dalam populasi, sehingga memungkikan terjadi
persilangan diantara genotipa berbeda.
Metode ini memerlukan lebih sedikit pekerjaan dibanding metode pedigree. Setelah seleksi
dilakukan hanya generasi lanjut setelah tanaman bnyak yang homosigot. Selama tumbuh
bercampur dalam suatu populasi, pertama akan terjadi selesi alam, sehingga tanaman yang
tidak tahan menghadapi cekaman lingkungan akan tertinggal pertumbuhannya atau mati. Kedua
terjadi peningkatan genetic akibat kemungkinan perubahan silang.

Prosedur metode bulk dapat dijelaskan sebagai akibat :

· Tanaman F2 ditumbuhkan pada petak relatif besar dengan jumlah tanaman ratusan
sampai ribuan. Dapat ditanam dengan jarak komersial (sempit). Biji tanaman terseleksi dipanen
dan dicampur diadikan benih untuk generasi berikutnya.

· Generasi F3 dipanen secara bulk dan bijinya dicampur. Sebagian bijinya dijadikan benih
untuk generasi berikutnya.

· Proses seperti generasi F3 diulangi sampai 6-8 tahun, yakni dengan maksud memperoleh
proporsi homosigot relatif besar pada populasi, setelah itu baru dilakukan sekeksi secara
individual.

· Biji tanaman terseleksi ditanam dalam barisan atau petakan. Setelah itu dilanjutkan
seleksi secara individual, sehingga diperoleh galur yang diharapkan.

· Galur harapan diuji beberapa lokasi dan musim untuk mengetahui daya adaptasinya.
Prosedur metode bulk dicantumkan pada gambar 2. Daya hidup genotipa
padapopulasicampuran dapat dijelaskan atas dasar teori. Contoh : pada suatu populasi ditanam
5 macam genotipa yang mempunyai perbedaan daya hidup. Genotipa yang daya hidupnya tinggi
akan berembang secara cepat. Seleksi yang daya hidupnya rendah akan cepat tersingkir. Pada
grafik dapat dilihat bahwa genotipa yang mampu bersaing (daya hidup tinggi) menunjukkan
kurva menanjak. Sedang genotipa yang tidak tahan kurvanya menurun, bahkan ada yang drastis.
Kemampuan bersaing ini, disamping karena sifat genotipa juga karena pengaruh lingkungan.

Harlan dan Martini (1935) mengadakan perobaan untuk mengetahui daya hidup genotipa pada
populasi campuran. Mereka menanam 10 varietas Barley secara bercampur dalam 1 petak.
Genotipa-genotipa ini telah diketahui identifikasinya. Percobaan dilakukan pada 10 lokasi dan
setelah 4 – 12 tahun diambil 500 tanaman dari setiap lokasi. Ternyata jumlah tanaman setiap
varietas tidak sama bahkan terjadi perbedaan yang cukup mencolok.

Dari table 1 ini disimpulkan :

a. Genotipa tertentu frekuensinya tinggi, sedang yang lainnya rendah.


b. Genotipa tidak selalu menonjol setiap lokasi. Yang menunjukkan bahwa faktor lingkungan
ikut berperan pada kemampuan bersaing bagi setiap genotipa.

c. Derajat penonjolan genotipa berbeda di setiap generasi. Beberapa menunjukkan


kemantapannya setelah 4 tahun.

Pada tabel juga terlihat bahwa varietas White Smyrna dan Coast & Trebi menyolok untuk banyak
lokasi. Khusus untuk White Smyrna, yang memang dikenal mempunyai adaptasi baik pada
banyak lokasi. Varietas seperti Defisiens dan Meloy ternyata tidak dapat tahan pada populasi
bercampur atau adaptasinya rendah pada lokasi tempat studi.

Tabel 1. Pengaruh seleksi alami dari populasi campuran varietas Barley yang ditumbuhkan pada
10 lokasi selam 4 – 12 tahun (Harlan dan Martini, 1938).
Varietas

Lokasi

10

Coast & Trebi

446

57

83

156

224

87

210

150

362

Gatami
13

15

20

58

10

Smoothawn

52

14

23

12

25

Lion

11

3
27

14

13

37

Melay

27

White Smyrna

17
294

241

157

276

489

65

Hannchen

34

305

152

13

19

90

30

34

Svanhals

11

50

80

26

8
18

23

Deciens

Manchuria

343

37

21

1
0

Dengan metode bulk diharapkan memperoleh genotipa yang daya hidupnya tinggi dalam
populasi campuran dan homosigot setelah beberapa generasi. Namun dapat terjadi bahwa
suatu genotipa yang tidak menonjol di populasi campuran karena kalah dalam persaingan tetapi
menunjukkan produksi tinggi apabila ditanam tanpa campuran. Hal ini merupakan salah satu
kelemahan metode bulk. Kelebihan metode ini adalah relatif lebih mudah penanganannya dan
tidak memerlukan tenaga banyak terutama pada pencatatan masing-masing individu tanaman.

Seleksi Single Seed Descent

1. Seleksi Single Seed Descent (SSD)

Seleksi Single Seed Descent, yaitu satu keturunan satu biji. Pada prinsipnya, individu tanaman
terpilih dari hasil suatu persilangan pada F2 dan selanjutnya ditanam cukup satu biji satu
keturunan. Cara ini dilakukan sampai generasi yang ke-5 atau ke-6 (F5 atau F6). Bila pada
generasi tersebut sudah diperoleh tingkat keseragaman yang diinginkan maka pada generasi
berikutnya pertanaman tidak dilakukan satu biji satu keturunan tetapi ditingkatkan menjadi satu
baris satu populasi keturunan, kemudian meningkat lagi menjadi satu plot satu populasi
keturunan.

Seleksi adalah suatu kegiatan pemilihan tanaman baik secara individu maupun populasi
berdasarkan karakter target yang diinginkan untuk diperbaiki. Single Seed Descent (SSD)
merupakan prosedur seleksi setelah hibridisasi, yaitu prosedur seleksi yang digunakan untuk
mengidentifikasikan genotip-genotip yang baik dari keturunan yang bersegregasi hasil hibridisasi
tanaman menyerbuk sendiri.

2.

Metode ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 1929 di Kanada. Metode ini dimulai dengan
suatu persilangan dua tetua berbeda. Pada satu biji secara acak dari setiap tanaman pada
beberapa genenaman pada beberapa generasi. Pengambilan biji dan penanamannya tidak
menggunakan seleksi. Pengambilan biji dan penanamannya dihentikan apabila dianggap telah
diperoleh banyak galur homosigot. Masing-masing lini kemudian diperbanyak sehingga dapat
ditumbuhkan dengan jarak tanam komersial pada beberapa lokasi guna pengujian terhadap
berbagai macam lingkungan. Bila mungkin pengujian sebaiknya diulang 2-3 tahun.

Dengan tidak diperlukan seleksi, maka tanaman dapat ditumbuhkan pada segala lingkungan,
tanpa harus menyesuaikan dengan kondisi di lapang. Metode ini sering dilaksanakan di rumah
kaca yang dapat mengendalikan lingkungan sehingg setiap tahun dapat diperoleh beberapa
generasi. Dengan teknik khusus yang dapat memindahkan biji sebelum masak, maka setiap
generasi dapat dipersingkat. Penanaman atau generasi dilanjutkan sampai galur-galur menjadi
homsigot, keudian diperlukan dua generasi untuk perbanyak benih dari masing-masing galur,
yakni ditanam pada kondisi normal di lapangan.

Prosedur metode ini dapat dilihat pada gambar 4 metode single seed descent mempunyai
beberapa keunggulan dibanding metode pedigree, antara lain :

a. Membutuhkan ruangan lebih sempit,


b. Waktu dan tenaga untuk memungut hasil lebih sedikit,

c. Pencatatan atau pengamatan jauh lebih sederhana,

d. Seleksi untuk sifat dengan heritabilitas tinggi seperti tinggi tanaman, kemasakan,
ketahanan terhadap penyakit, beberapa aspek dari mutu, lebih efektif dilaksanakan pada
masing-masing ndividu tanaman, dan

e. Dimungkinkan untuk menumbuhkan sejumlah generasi tiap tahun melelalui pengendalian


lingkungan.

Sedang kelemahan metode ini adalah :


a. Seleksi untuk sifat dengan heretabilitas rendah kurang efektif, dan

b. Identitas tanaman unggul dari generasi F2 tidak diketahui.

Seleksi Backcross

Metode ini pertama kali diusulkan oleh Harlan dan Pope tahun 1922. Biasanya digunakan
apabila:

a. Varietas unggul yang dipunyai kekurangan satu atau lebih sifat yang diharapkan.

b. Tersedia varietas donor dengan sifat yang diinginkan, biasanya sifat ketahanan.

c. Sifat yang akan dipindahkan mempunyai nilai heritabilitas tinggi.


Dengan metode ini diusahakan agar sifat baik yang ada pada suatu varietas dapat
dipertahankan sesudah disilangkan beberapa kali, kecuali untuk sifat atau gen yang perlu diganti
dari tetua donor. Varietas yang ingin ditmbahi disebut “recurrent” sedang varietas atau
genotipa pemberi sifat yang diinginkan disebut “non recurrent atau donor”.

Kedua genotipa atau varietas diatas dijadikan tetua dalam persilangan. Dimulai dari F1, hasil
persilangan secara berturut-turut disilangkan kembali dengan “recurrent parent”. Setelah
masing-masing silan balik baru dilakukan seleksi untuk sifat dari tetua donor. Dengan demikian
hanya ditinggalkan tanaman keturunan dengan sifat yang diinginkan. Bagan silang balik dapat
diihat pada gambar 3.

Banyak silang balik beragam dari satu sampai tergantung pada harapan pemulia untuk benar-
benar dapat menambhkan sifat yang diinginkan. Metode ini akan lebih mudah dilaksanakan
apabila sifat yang ditambahkan mudah diwariskan, dominan dan jelas dilihat pada tanaman
keturunan. Pada metode ini juga perlu dilakukan pengujian untuk mengetahui apabila tanaman
dengan tambahan sifat tadi tetap beradaptasi baik.

Pada kenyataan, apabila tetua donor tidak banyak berbeda secara penotipa dengan tetua
“recurrent” untuk sifat yang diinginkan, maka amat mungkin metode silang-balik dapat cepat
menghasilkan varietas yang diharapkan pada generasi-generasi awal.

Metode silang balik telah banyak digunakan untuk menciptakan varietas yang llebih tahan
terhadap hama, penyakit atau lingkungan fisik. Terdapat prosedur yang berbeda dari sifat yang
akan ditmbahkan dominan atau resesif (gambar 4). Demikian pula balik dengan adanya gen
linkage.

Apabila gen yang diharapkan dari tetua donor linkage dengan gen yang tidak diinginkan, maka
cara yang dapat dipergunakan adalah sebagai berikut :
Dalam hal ini apabila mnyeleksi untu gen A yang terikat pada gen b sulit untuk memperoleh
kombinasi yang diinginkan yakni AB. Namun dengan silang – balik diinginkan terjadinya
“crossing over”. Dengan crossing over maka tingkat peluang menyingkirkan gen yang tidak
diinginkan tergantung dari kekuatan linkage dan banyaknya silang balik. Peluang ini dapat
dinyatakan dengan rumus :

1 – (1 – p)m-1, dimana :

p = pemecahan kombinasi baru

m = jumlah silang balik

Allard (1960) menyajikan table sebagai berikut :


Tabel 2 Pengaruh linkage pada peluang menyingkirkan gen tidak diinginkan.

Pemecahan kombinasi baru

Peluang menggunakan gen tidak diinginkan

5 silang balik

5 penyebukan sendiri

0.50

0.98

0.50

0.20

0.74

0.20

0.10

0.47

0.10

0.02

0.11

0.02

0.01

0.06

0.001
Catatan: Seleksi dilaksanakan untuk gen A, tetapi tidak gen b

Telihat pada tabel bahwa :

a. Peluang untuk memperoleh kombinasi yang diinginkan lebih besar pada silang balik
dibanding penyerbukan sendiri.

b. Makin ketat linkage yang ditunjukkan dengan makin kecilnya pemecahan kombinasi baru,
ternyata makin kecil pula peluang untuk memperoleh kombinasi baru.