Anda di halaman 1dari 17

PRAKTIK KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS STIKes HANG


TUAH PEKANBARU TAHUN AJARAN 2018/2019

FORMAT LAPORAN PENDAHULUAN

( Hidrosefalus )

A. Konsep Dasar
1. Pengertian

Hidrosefalus adalah akumulasi cairan serebro spinal dalam


ventrikel serebral, ruang subarachnoid atau ruang subdural (Suriadi
dan Yuliani, 2001).

Hidrosefalus merupakan keadaan patologis otak yang


mengakibatkan bertmbahnya cairan serebro spinalis tanpa atau pernah
dengan tekanan intracranial yang meninggi sehingga terdapat
pelebaran ruangan tempat mengalirnya cairan serebro spinal
(Ngastiyah,2007).

Hidrosefalus merupakan sindroma klinis yang dicirikan dengan


dilatasi yang progresif pada system ventrikuler cerebral dan kompresi
gabungan dari jaringan – jaringan serebral selama produksi CSF
berlangsung yang meningkatkan kecepatan absorbsi oleh vili
arachnoid. Akibat berlebihannya cairan serebrospinalis dan
meningkatnya tekanan intrakranial menyebabkan terjadinya peleburan
ruang – ruang tempat mengalirnya liquor (Mualim, 2010)

2. Etiologi

Hidrosefalus terjadi bila terdapat penyumbatan aliran CSS


pada salah satu tempat antara tempat pembentukan CSS dalam sistem
ventrikel dan tempat absorbsi dalam ruang subarackhnoid. akibat
penyumbatan, terjadi dilatasi ruangan CSS diatasnya. Penyumbatan
aliran CSS sering terdapat pada bayi dan anak ialah:

1. Kongenital : disebabkan gangguan perkembangan janin dalam


rahim,atau infeksi intrauterine meliputi :
a. Stenosis aquaductus sylvi
b. Spina bifida dan kranium bifida
c. Syndrom Dandy-Walker
d. Kista arakhnoid dan anomali pembuluh darah
2. Didapat : disebabkan oleh infeksi, neoplasma, atau perdarahan
a. Infeksi
Akibat infeksi dapat timbul perlekatan meningen. secara patologis
terlihat penebalan jaringan piameter dan arakhnoid sekitar sisterna
basalis dan daerah lain. penyebab lain infeksi adalah toksoplasmosis.
b. Neoplasma
Hidrosefalus oleh obstruksi mekanik yang dapat terjadi di setiap
tempat aliran CSS. pada anak yang terbanyak menyebabkan
penyumbatan ventrikel IV / akuaduktus sylvii bagian terakhir biasanya
suatu glioma yang berasal dari cerebelum, penyumbatan bagian depan
ventrikel III disebabkan kraniofaringioma.
c. Perdarahan
Perdarahan sebelum dan sesudah lahir dalam otak, dapat
menyebabkan fibrosis leptomeningfen terutama pada daerah basal
otak, selain penyumbatan yang terjakdi akibat organisasi dari darah itu
sendiri.
3. Gejala Benigna Prostat Hyperplasia
Manifestasi klinis Hidrosefalus dibagi menjadi 2 yaitu : anak
dibawah usia 2 tahun, dan anak diatas usia 2 tahun.
1. Hidrosefalus dibawah usia 2 tahun
a. Sebelum usia 2 tahun yang lebih menonjol adalah pembesaran
kepala.
b. Ubun-ubun besar melebar, terba tegang/menonjol dan tidak
berdenyut.
c. Dahi nampak melebar dan kulit kepala tipis, tegap mengkilap
dengan pelebaran vena-vena kulit kepala.
d. Tulang tengkorak tipis dengan sutura masih terbuka lebar cracked
pot sign yakni bunyi seperti pot kembang yang retak pada perkusi.
e. Perubahan pada mata.
1) Bola mata berotasi kebawah olek karena ada tekanan dan
penipisan tulang supra orbita. Sclera nampak diatas iris,
sehingga iris seakan-akan seperti matahari yang akan
terbenam
2) Strabismus divergens
3) Nystagmus
4) Refleks pupil lambat
5) Atropi N II oleh karena kompensi ventrikel pada chiasma
optikum
6) Papil edema jarang, mungkin oleh sutura yang masih
terbuka.
2. Hydrochepalus pada anak diatas usia 2 tahun.

Yang lebih menonjol disini ialah gejala-gejala peninggian


tekanan intra kranial oleh karena pada usia ini ubun-ubun sudah
tertutup
4. Klasifikasi Hidrosefalus
1. Waktu Pembentukan
a. Hidrosefalus Congenital, yaitu Hidrosefalus yang dialami sejak
dalamkandungan dan berlanjut setelah dilahirkan
b. Hidrosefalus Akuisita, yaitu Hidrosefalus yang terjadi setelah
bayidilahirkan atau terjadi karena faktor lain setelah bayi dilahirkan
(Harsono,2006).
2. Proses Terbentuknya Hidrosefalus
a. Hidrosefalus Akut, yaitu Hidrosefalus yang tejadi secara
mendadak yang diakibatkan oleh gangguan absorbsi CSS (Cairan
Serebrospinal.
b. Hidrosefalus Kronik, yaitu Hidrosefalus yang terjadi setelah cairanCSS
mengalami obstruksi beberapa minggu (Anonim,2007)
3. Sirkulasi Cairan Serebrospinal
a. Communicating, yaitu kondisi Hidrosefalus dimana CSS masih
biaskeluar dari ventrikel namun alirannya tersumbat setelah itu.
b. Non Communicating, yaitu kondis Hidrosefalus dimana
sumbatanaliran CSS yang terjadi disalah satu atau lebih jalur sempit
yangmenghubungkan ventrikel-ventrikel otak (Anonim, 2003).
4. Proses Penyakit
a. Acquired, yaitu Hidrosefalus yang disebabkan oleh infeksi
yangmengenai otak dan jaringan sekitarnya termasuk selaput
pembungkusotak (meninges).
b. Ex-Vacuo, yaitu kerusakan otak yang disebabkan oleh stroke atau
cederatraumatis yang mungkin menyebabkan penyempitan jaringan
otak atauathrophy (Anonim, 2003)
5.WOC

Infeksi,neoplasma, perdarahan,
Malformasi perkembangan otak janin

Gangguan absorpsi cairan obstruksi aliran


Serebrospinal di ruang subarachoid cairan serebrospinal
(communicating hydrocephalus) (noncomunicating hydrocephalus)

HIDROCEFALUS

Obstruksi aliran Gangguan Produksi CSS


CSS Kerusakan
absorpsi CSS berlebihan
intergitas kulit

Perlekatan Pelebaran
Dilatasi ruang CSS meningen pembuluh darah Penurunan
mobilitas fisik
Obstruksi ruang
TIK meningkat subarakhnoid Kepala membesar

Pemasangan
shunt
Perfusi jaringan
cerebral tidak efektif Perubahan status
Risiko infeksi kesehatan

Gagguan pusat
Kurang terpajan
Mengganggu sensori persepsi
Perubahan proses infomasi
nervus vagus
keluarga

Gangguan Kurang pengetahuan


Mual, muntah,
anoreksia persepsi sensori orang tua

Resiko defisit
volume cairan
6. Komplikasi
1. Peningkatan tekanan intrakranial
2. Kerusakan otak
3. Infeksi:septikemia,endokarditis,infeksiluka,nefritis,meningitis,ventr
ikulitis, abses otak.
4. Shunt tidak berfungsi dengan baik akibat obstruksi mekanik.
5. Hematomi subdural, peritonitis,adses abdomen, perporasi organ
dalam rongga abdomen,fistula,hernia, dan ileus.
6. Kematian
7. Penatalaksanaan
1. Pencegahan

Untuk mencegah timbulnya kelainan genetik perlu dilakukan


penyuluhan genetik, penerangan keluarga berencana serta
menghindari perkawinan antar keluarga dekat. Proses persalinan/
kelahiran diusahakan dalam batas-batas fisiologik untuk
menghindari trauma kepala bayi. Tindakan pembedahan Caesar
suatu saat lebih dipilih dari pada menanggung resiko cedera
kepala bayi sewaktu lahir.

2. Terapi Medikamentosa

Hidrosefalus dengan progresivitas rendah dan tanpa obstruksi


pada umumnya tidak memerlukan tindakan operasi. Dapat diberi
asetazolamid dengan dosis 25 – 50 mg/kg BB. Pada keadaan akut
dapat diberikan menitol. Diuretika dan kortikosteroid dapat
diberikan meskipun hasilnya kurang memuaskan. Pembarian
diamox atau furocemide juga dapat diberikan. Tanpa pengobatan
“pada kasus didapat” dapat sembuh spontan ± 40 – 50 % kasus.

3. Pembedahan :
Tujuannya untuk memperbaiki tempat produksi LCS dengan
tempat absorbsi. Misalnya Cysternostomy pada stenosis
aquadustus. Dengan pembedahan juga dapat mengeluarkan LCS
kedalam rongga cranial yang disebut :

a. Ventrikulo Peritorial Shunt


b. Ventrikulo Adrial Shunt

Untuk pemasangan shunt yang penting adalajh memberikan


pengertian pada keluarga mengenai penyakit dan alat-alat yang
harus disiapkan (misalnya : kateter “shunt” obat-obatan darah)
yang biasanya membutuhkan biaya besar.

Pemasangan pintasan dilakukan untuk mengalirkan cairan


serebrospinal dari ventrikel otak ke atrium kanan atau ke rongga
peritoneum yaitu pintasan ventrikuloatrial atau
ventrikuloperitonial.

Pintasan terbuat dari bahan bahansilikon khusus, yang tidak


menimbulkan raksi radang atau penolakan, sehingga dapat
ditinggalkan di dalam yubuh untuk selamanya. Penyulit terjadi
pada 40-50%, terutama berupa infeksi, obstruksi, atau dislokasi.

4. Terapi

Pada dasarnya ada 3 prinsip dalam pengobatan hidrosefalus,


yaitu :

a. Mengurangi produksi CSS


b. Mempengaruhi hubungan antara tempat produksi CSS dengan
tempat absorbsi
c. Pengeluaran likuor ( CSS ) kedalam organ ekstrakranial.

Penanganan hidrosefalus juga dapat dibagi menjadi :


a. Penanganan sementara
Terapi konservatif medikamentosa ditujukan untuk membatasi
evolusi hidrosefalus melalui upaya mengurangi sekresi cairan dari
pleksus khoroid atau upaya meningkatkan resorbsinya.
b. Penanganan alternatif ( selain shunting )
Misalnya : pengontrolan kasus yang mengalami intoksikasi
vitamin A, reseksi radikal lesi massa yang mengganggu aliran
likuor atau perbaikan suatu malformasi. saat ini cara terbaik untuk
malakukan perforasi dasar ventrikel dasar ventrikel III adalah
dengan teknik bedah endoskopik.
c. Operasi pemasangan “ pintas “ ( shunting )
Operasi pintas bertujuan mambuat saluran baru antara aliran
likuor dengan kavitas drainase. pada anak-anak lokasi drainase
yang terpilih adalah rongga peritoneum. baisanya cairan
ceebrospinalis didrainase dari ventrikel, namun kadang ada
hidrosefalus komunikans ada yang didrain rongga subarakhnoid
lumbar. Ada 2 hal yang perlu diperhatikan pada periode pasca
operasi, yaitu pemeliharaan luka kulit terhadap kontaminasi
infeksi dan pemantauan. kelancaran dan fungsi alat shunt yang
dipasang. infeksi pada shunt meningkatkan resiko akan kerusakan
intelektual, lokulasi ventrikel dan bahkan kematian.
8. Pemeriksaan Penunjang Penyakit
1. Pemeriksaan fisik:
a. Pengukuran lingkaran kepala secara berkala. Pengukuran ini
penting untuk melihat pembesaran kepala yang progresif atau
lebih dari normal
b. Transiluminasi
2. Pemeriksaan darah:
Tidak ada pemeriksaan darah khusus untuk hidrosefalus
3. Pemeriksaan cairan serebrospinal:
Analisa cairan serebrospinal pada hidrosefalus akibat perdarahan
atau meningitis untuk mengetahui kadar protein dan menyingkirkan
kemungkinan ada infeksi sisa
4. Pemeriksaan radiologi:
a. X-foto kepala: tampak kranium yang membesar atau sutura yang
melebar.
b. USG kepala: dilakukan bila ubun-ubun besar belum menutup.
c. CT Scan kepala: untuk mengetahui adanya pelebaran ventrikel
dan sekaligus mengevaluasi struktur-struktur intraserebral
lainnya
B. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
1. Anamnesa
a. Riwayat penyakit / keluhan utama
Muntah, gelisah nyeri kepala, lethargi, lelah apatis, penglihatan ganda,
perubahan pupil, kontriksi penglihatan perifer.
b. Riwayat Perkembangan
Kelahiran : prematur. Lahir dengan pertolongan, pada waktu lahir
menangis keras atau tidak.
Kekejangan : Mulut dan perubahan tingkah laku.
Apakah pernah terjatuh dengan kepala terbentur.
Keluhan sakit perut.
2. Pemeriksaan Fisik
a. Inspeksi :
1) Anak dapat melihat keatas atau tidak.
2) Pembesaran kepala.
3) Dahi menonjol dan mengkilat. Sertas pembuluh darah terlihat jelas.
b. Palpasi
1) Ukur lingkar kepala : Kepala semakin membesar.
2) Fontanela : Keterlamabatan penutupan fontanela anterior sehingga
fontanela tegang, keras dan sedikit tinggi dari permukaan
tengkorak.
c. Pemeriksaan Mata
1) Akomodasi
2) Gerakan bola mata
3) Luas lapang pandang
4) Konvergensi:
Didapatkan hasil : alis mata dan bulu mata keatas, tidak bisa
melihat keatas.
5) Strabismus, nystaqmus, atropi optic.
3. Observasi Tanda-Tanda Vital
Didapatkan data – data sebagai berikut :
a. Peningkatan sistole tekanan darah.
b. Penurunan nadi / Bradicardia.
c. Peningkatan frekuensi pernapasan.
4. Diagnosa Klinis
a. Transimulasi kepala bayi yang akan menunjukkan tahap dan lokalisasi
dari pengumpulan cairan banormal. ( Transsimulasi terang )
b. Perkusi tengkorak kepala bayi akan menghasilkan bunyi “ Crakedpot “
(Mercewen’s Sign)
c. Opthalmoscopy : Edema Pupil.
d. CT Scan Memperlihatkan (non – invasive) type hidrocephalus dengan
analisis komputer.
e. Radiologi : Ditemukan Pelebaran sutura, erosi tulang intra cranial.
2. Diagnosa Keperawatan
1. Perfusi jaringan tidak efektif: serebral b.d peningkatan tekanan
intrakranial, hipervolemia.
2. Gangguan persepsi sensori b.d gangguan pusat persepsi sensori.
3. Kerusakan intregritas kulit b.d penurunan mobilitas fisik, defisiensi
sirkulasi.
4. Resiko defisit volume cairan b.d mual, muntah, anoreksia.
5. Perubahan proses keluarga b.d perubahan status kesehatan anggota
keluarga
6. Kurang pengetahuan orang tua tentang penyakit, perawatan, komplikasi
b.d kurang informasi.

Pasca Operasi

1. Gangguan persepsi sensori b.d infeksi pemasangan shunt


2. Resiko infeksi b.d pemasangan shunt.
3. Kerusakan integritas kulit b.d prosedur pembedahan.
4. Kurang pengetahuan tentang perawatan di rumah b.d kurangnya informasi.
3. Intervensi Keperawatan

Rencana keperawatan
No Diagnosa keperawatan
Tujuan dan kriteria hasil (NOC) Intervensi (NIC)
1 Perfusi jaringan tidak Setelah dilakukan tindakan keperawatan: a. Kaji status neurologis yang berhubungan
efektif: serebral b.d a. Tekanan intrakranial 0-15 mmHg. dengan tanda-tanda peningkatan tekana
peningkatan tekanan b. Perfusi otak lebih dari 50 mmHg. intrakranial, terutama GCS.
intrakranial, c. Terpeliharanya status neurologis. b. Monitor tanda-tanda vital:TD, nadi, respirasi,
hipervolemia. d. Tanda vital stabil. suhu, minimal tiap 15 menit sampai keadaan
pasien stabil.
c. Monitor tingkat kesadaran, sikap reflek, fungsi
motorik, sensorik tiap 1-2 jam.
d. Naikkan kepala dengan sudut 15-450, tanpa
bantal (tidak hiperekstensi atau fleksi) dan
posisi netral (posisi kepala sampai lumbal ada
dalam garis lurus).
e. Anjurkan anak dan orang tua untuk mengurangi
aktivitas yang dapat menaikkan tekanan
intrakranial atau intraabdominal, misal:
mengejan saat BAB, menarik nafas,
membalikkan badan, batuk.
f. Monitor tanda kenaikan tekanan intrakranial,
misalnya: iritabilitas, tangis, sakit kepala, mual
muntah.
g. Monitor intake output cairan setiap hari.
2 Gangguan persepsi Setelah dilakukan tindakan keperawatan: a. Kaji tingkat kesadaran dan respon.
sensori b.d gangguan a. Tanda vital normal. b. Ukur vital sign, status neurologis.
pusat persepsi sensori. b. Orientasi baik. c. Monitor tanda-tanda kenaikan tekanan
c. GCS lebih dari 13. intrakranial seperti iritabilitas, tangis
d. Tekanan intrakranial <10 mmHg. melengking, sakit kepala, mual muntah.
e. Refleks fisiologis (+). d. Ukur lingkar kepala dengan meteran/ midline.
f. Refleks patologis (-).
e. Lakukan terapi auditori dan stimuli taktil.

3 Kerusakan intregritas Setelah dilakukan tindakan keperawatan: a. Monitor kondisi fontanella mayor tiap 4 jam.
kulit b.d penurunan a. Eritema (-). b. Ubah posisi tiap 2 jam, pertimbangkan
mobilitas fisik, defisiensi b. Kulit kepala turgor baik, utuh. perubahan posisi kepala tiap 1 jam.
sirkulasi. c. Luka (-). c. Gunakan lotion atau minyak dan lindungi posisi
daerah kepala dari penekanan.
d. Letakkan kepala pada bantal karet atau gunakan
water bed jika perlu.
e. Gunakan penggantian alat tenun dari bahan yang
lembut.
f. Stimuli daerah kepala setiap perubahan posisi.
g. Pertahankan nutrisi sesuai program terapi.

4 Resiko defisit volume Setelah dilakukan tindakan keperawatan: a. Monitor intake output makanan dan cairan.
cairan b.d mual, muntah, a. Hidrasi adekuat. b. Ukur dan observasi tanda vital.
anoreksia. b. Turgor kulit baik. c. Catat jumlah, frekuensi dan karakter muntah.
c. Membran mukosa lembab. d. Timbang BB tiap hari.
d. Tanda vital normal. e. Kaji tanda-tanda dehidrasi.
e. Urin output 0,5-1 cc/ kgBB/ jam.
5 Perubahan proses Setelah dilakukan tindakan keperawatan: a. Beri kesempatan pada keluarga atau orang tua
keluarga b.d perubahan a. Keluarga partisipasi dalam perawatan untuk mendiskusikan masalah.
status kesehatan anggota dan pengobatan. b. Beri dorongan sikap penerimaan terhadap anak
keluarga. b. Keluarga memberikan sentuhan, (misal dipeluk, berbicara dan menyenangkan
perasaan senang dan bicara pada anak).
anaknya. c. Bantu orang tua untuk ikut merawat anaknya,
c. Keluarga mampu mengidentifikasi libatkan orang tua sebanyak mungkin.
perilaku negatif dan cara d. Jelaskan setiap prosedur perawatan dan
mengatasinya. pengobatan.
e. Dorong sikap positif dari orang tua, beri
penjelasan tentang sifat negatif.
f. Diskusikan sikap yang mengindikasikan frustasi,
ajarkan cara menyelesaikan masalah dengan
strategi koping yang baru.
g. Hubungi konsultan jika perlu.

6 Kurang pengetahuan Setelah dilakukan tindakan keperawatan, a. Jelaskan semua prosedur dan pengobatan,
orang tua tentang keluarga mampu: kehadiran perawat diperlukan bila ada informasi
penyakit, perawatan, a. Ungkapkan pengertian rencana oleh team kesehatan lain untuk memperkuat
komplikasi b.d kurang perawatan. Menerima kenyataan penjelasan.
informasi. terhadap anaknyA b. Beri dorongan pada orang tua untuk
b. Demonstrasikan perawatan yang mengekspresikan perasaan dan harapan dan
diperlukan. partisipasi dalam perawatan anaknya dengan
c. Mengetahui tanda infeksi dan perasaan yang menyenangkan.
peningkatan tekanan intrakranial. c. Bantu orang tua untuk dapat menerima
d. Menjelaskan pengobatan yang kenyataan tentang perubahan dan perkembangan
diberikan, minum obat sesuai rencana anaknya.
dan mengerti efek samping. d. Yakinkan orang tua bahwa anak membutuhkan
kasih sayang dan keamanan.
e. Demonstrasikan perawatan yang diperlukan
(bagaimana mengecek fungsi shunt, posisi
anak), berikan kesempatan untuk mengulang.
f. Beri penjelasan tentang pengobatan.
g. Berikan dafatar nomor telepon team kesehatan
untuk dapat digunakan bila muncul masalah.

PASCA OPERASI
1. Gangguan persepsi Setelah dilakukan tindakan keperawatan: a. Kaji reaksi pupil dan kesimetrisan, vital sign,
sensori b.d infeksi Mengembalikan fungsi persepsi sensori tingkat kesadaran, kepekaan, kemampuan
pemasangan shunt. dan komplikasi dapat dicegah atau neuromuskuler.
seminimal mungkin tidak akan terjadi. b. Ukur lingkar kepala dan awasi ukuran
fontanella.
c. Atur posisi daerah kepala yang tidak dilakukan
operasi jangan pada posisi shunt.
d. Ukur tanda vital.
e. Atur anak tetap terlentang dengan posisi 15-450,
akan meningkatkan dan melancarkan aliran
balikdaerah vena kepala sehingga mengurangi
edema dan mencegah terjadinya kenaikan TIK.
f. Ukur suhu dan atur suhu lingkungan sesuai
indikasi, batasi pemakaian selimut, kompres bila
suhu tinggi.

2. Resiko infeksi b.d Setelah dilakukan tindakan keperawatan: a. Ukur vital sign tiap 4 jam.
pemasangan shunt. a. Status imun normal. b. Gunakan teknik aseptik dalam perawatan.
b. Kontrol status infeksi. c. Observasi luka operasi.
c. Kontrol faktor resiko. d. Lakukan perawatan luka bekas operasi sesuai
d. Penyembuhan luka, ILO (-) instruksi.
e. Abses otak, meningitis (-). e. Kolaborasi: antibiotik, pemeriksaan AL, kultur
dan sesnsitivitas tes.

3. Kerusakan integritas Setelah dilakukan tindakan keperawatan: a. Kaji lokasi incisi adanya robekan permukaan
kulit b.d prosedur a. Incisi sembuh tanpa ada eritema. kulit, pus, darah.
pembedahan. b. Luka kering dan bersih. b. Ukur vital sign tiap 4 jam.
c. Perhatikan teknik aseptik dan septik saat
penggantian balutan.
d. Observasi tanda-tanda peningkatan TIK karen
infeksi akibat pemasangan infus.
e. Jaga kebersihan kulit pasien tetap bersih dan
kering.

4. Kurang pengetahuan Setelah dilakukan tindakan keperawatan: a. Kaji tingkat pendidikan dan pengetahuan orang
tentang perawatan di a. Orang tua mampu ungkapkan tua pasien.
rumah b.d kurangnya pengertian rencana perawatan. b. Beri penjelasan tentang hidrosefalus dan
informasi. b. Orang tua dapat mendemonstrasikan prosedur pembedahannya pada orang tua.
kemampuan merawat di rumah. c. Libatkan orang tua pada perawatan pasca
c. Orang tua mengerti tentang cara operasi.
pewngobatab di rumah. d. Jelaskan pada orang tuatentang tanda dan gejala
infeksi CSF dan kegagalan shunt.
DAFTAR PUSTAKA

Price,Sylvia Anderson. 2005. Patofisiologi;Konsep klinis proses-proses


penyakit,Jakarta;EGC.
Mualim. 2010. Askep Hidrosefalus. Diakses pada tanggal 22 maret 2015
http://mualimrezki.blogspot.com/2010/12/askep-hydrocephalus.html
Nursalam. 2005. Asuhan Keperawatan Bayi dan Anak (untuk perawat dan bidan). Jakarta:
Salemba Medika.
Riyadi. 2009. Asuhan Keperawatan pada Anak. Yogyakarta: Graha Ilmu
Saharso. 2008. Hydrocephalus. Diakses pada tanggal 22 maret 2015
http://www.pediatrik.com/isi03.php?page=html&hkategori=pdt&direktori=pdt&filepd
f=0&pdf=&html=061214-sykj201.html
Vanneste JA. Diagnosis and management of normal-pressure hydrocephalus. J. Neurol, 2000
; 247 : 5-14.
Hasan, Rupseno, 1985, Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak II, Jakarta, Bagian Ilmu Kesehatan
Anak FK UI.
Lismidar, 1990, Proses Keperawatan, Jakarta, UI.
NANDA, 2000, Nursing Diagnosis Definition and Clasification, 2001-2002, Philadhelpia,
USA.
Price, S.A., 2002, Patofisiologi Konsep Klimik Prose-proses Penyakit, Bag. II Terjemahan
Adji Dharma, Jakarta : EGC.

Anda mungkin juga menyukai