Anda di halaman 1dari 37

UPDATE KEBIJAKAN

PROGRAM
JAMINAN KESEHATAN NASIONAL

Medan, 15 November 2018


dr. Kalsum Komaryani, MPPM
Kepala Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan

Kementerian Kesehatan RI
OUTLINE

1. Pendahuluan
2. Perpres 82 tahun 2018 tentang Jaminan
Kesehatan
3. Draft Revisi Permenkes 56/2015
1. Pendahuluan
Pendahuluan
• Program JKN/KIS merupakan salah satu program prioritas nasional
yang perlu dijaga kesinambungannya dengan kendali mutu dan
kendali biaya;
• Kondisi keuangan BPJS Kesehatan mengalami kondisi defisit,
dimana jumlah pendapatan iuran JKN masih lebih kecil dari jumlah
pengeluarannya;
• Perumusan kebijakan dalam upaya mengendalikan defisit telah
dituangkan Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2018 tentang
Jaminan Kesehatan yang akan diatur lebih teknis dalam beberapa
Peraturan Menteri Kesehatan, Peraturan Menteri Keuangan dan
Peraturan BPJS Kesehatan
PERINTAH Menjaga
1. Pasal 13 ayat (2), Pasal kesinambungan
21 ayat (4), Pasal 22 ayat
(3), Pasal 23 ayat (5), program Jaminan
Pasal 26, Pasal 27 ayat Kesehatan Nasional
(5), dan Pasal 28 ayat (2)
Undang-Undang No 40 Secara optimal
Tahun 2004 tentang
Sistem Jaminan Sosial khususnya untuk
Nasional, mendukung upaya
2. Pasal 15 ayat (3) dan pengendalian defisit
Pasal 19 ayat (5) huruf a
Undang-Undang No 24 dana jaminan sosial
Tahun 2011 tentang Kesehatan dan
Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial; penyempurnaan
penyelenggaraan JKN;

DICABUT

Perpres No 12 Perpres No 111 Perpres No 19 Perpres 28


Tahun 2013 Tahun 2013 Tahun 2016 Tahun 2016
BAURAN KEBIJAKAN DALAM
PENGENDALIAN DEFISIT PROGRAM JKN
No Kebijakan Tindak Lanjut
1. Cakupan PBI 92,4 Juta Jiwa, iuran PBI Rp.23.000 (tidak ada kenaikan) Telah ditindaklanjuti dengan
pembayaran dimuka
2. Pemotongan Dana Transfer Daerah atas Tunggakan Iuran Pemda sebagai Pemberi Telah diatur dalam Permenkeu no.
Kerja 183 tahun 2017
3. Pembatasan Dana Operasional BPJS Kesehatan dari Iuran sebesar maksimal 4,8% Telah diatur dalam Permenkeu no.
209 tahun 2017
4. Peningkatan Peran Pemda melalui penggunaan dana pajak rokok
(75% dari 50% earmarked)
5. Perbaikan manajemen klaim faskes(mitigasi fraud)
6. Perbaikan sistem rujukan dan rujuk balik
7. Cost sharing pada pelayanan yang berpotensi moral hazard

8. Strategic Purchasing
9. Sinergitas Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS Ketenagakerjaan, ASABRI, Jasa
Raharja, TASPEN)
BAURAN KEBIJAKAN AMANAT PERPRES NO 82 TAHUN 2018
No Kebijakan Pasal
1 Dukungan Pemerintah Daerah 99 -100
Administrasi Klaim 75, 76, 77, 78
2
Mitigasi Fraud 92, 93
3 Sistem Rujukan dan Rujuk Balik 55
4 Urun Biaya 80, 81
Standar Tarif 69
5 Pengembangan Metode Pembayaran 71-72
Kendali mutu dan kendali biaya 86, 87
Sinergitas BPJS Kesehatan dengan BPJS Ketenagakerjaan terkait Penyakit
6 53, 54
Akibat Kerja

7
2. Perpres 82 tahun 2018 tentang Jaminan
Kesehatan (12 Bab dan 108 Pasal)
I. KETENTUAN UMUM Pasal 1

1. Berisi defisini operasional


2. Ada 30 hal yang didefinisikan

9
II.PESERTA DAN KEPESERTAAN..(1)Pasal 2-27
1. Untuk PPU ditambahkan Kepala Desa dan Perangkat desa
2. Penegasan bahwa pada saat mendaftar atau didaftarkan pada BPJS Kesehatan calon Peserta berhak
menentukan FKTP yang diinginkannya
3. Peserta dapat mengganti FKTP tempat Peserta terdaftar setelah jangka waktu 3 (tiga) bulan,
kecuali Peserta pindah domisili atau dalam penugasan dinas/pelatihan dalam jangka waktu kurang
dari 3 (tiga) bulan
4. Dalam hal kondisi Peserta yang terdaftar di FKTP belum merata, BPJS Kesehatan dapat melakukan
pemindahan Peserta ke FKTP lain, dengan mempertimbangkan jumlah Peserta yang terdaftar,
ketersediaan dokter, tenaga kesehatan selain dokter, dan sarana prasarana di FKTP, serta
berkoordinasi dengan dinkes setempat/asosiasi faskes/TNI/Polri
5. Dalam hal peserta yang dipindahkan berkeberatan, Peserta dapat meminta untuk dipindahkan ke
FKTP yang diinginkan
6. Selain dikenakan sanksi administrasi, Pemberi Kerja yang belum mendaftarkan dan membayar Iuran
bagi Pekerjanya kepada BPJS Kesehatan, wajib bertanggung jawab pada saat pekerjanya
membutuhkan pelayanan kesehatan sesuai dengan Manfaat yang diberikan oleh BPJS Kesehatan
10
II.PESERTA DAN KEPESERTAAN..(2) Pasal 2-27
7. Pasangan suami istri yang masing-masing merupakan Pekerja, keduanya wajib didaftarkan
sebagai Peserta PPU oleh masing-masing Pemberi Kerja dan membayar Iuran, dengan
ketentuan Suami, istri, dan anaknya berhak memilih kelas perawatan tertinggi
8. Bayi baru lahir dari Peserta Jaminan Kesehatan wajib didaftarkan kepada BPJS Kesehatan paling
lama 28 (dua puluh delapan) hari sejak dilahirkan
9. Kewajiban melakukan pendaftaran sebagai Peserta Jaminan Kesehatan bagi PBPU dan
BP dilaksanakan paling lambat tanggal 1 Januari 2019
10. Dalam rangka pendaftaran Peserta, BPJS Kesehatan wajib mengembangkan sistem untuk
mempermudah akses pendaftaran
11. Status kepesertaan dapat berubah untuk menjamin keberlanjutan kepesertaan, Perubahan
status kepesertaan tidak menghapuskan kewajiban Peserta, Pemberi Kerja, atau Pemerintah
Daerah untuk melunasi tunggakan Iuran
12. Peserta PPU yang mengalami PHK tetap memperoleh hak Manfaat Jaminan Kesehatan paling
lama 6 (enam) bulan sejak di PHK, tanpa membayar Iuran, dengan kriteria: PHK yang sudah ada
putusan pengadilan hubungan industrial, PHK karena penggabungan perusahaan, PHK karena
perusahaan pailit atau mengalami kerugian, atau karena mengalami sakit yang berkepanjangan
dan tidak mampu bekerja 11
III. IURAN Pasal 28-45
1. Batas paling rendah Gaji atau Upah per bulan yang digunakan sebagai dasar perhitungan
besaran Iuran bagi Peserta PPU selain penyelenggara negara sebesar upah minimum
kabupaten/kota
2. Iuran bagi Peserta PPU untuk kepala desa dan perangkat desa dipungut dan dibayarkan oleh
Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota sebagai Pemberi Kerja langsung kepada BPJS Kesehatan
3. Dalam hal Peserta dan/atau Pemberi Kerja tidak membayar Iuran sampai dengan akhir bulan
berjalan maka penjaminan Peserta diberhentikan sementara sejak tanggal 1 bulan berikutnya
4. Pemberhentian sementara penjaminan berakhir dan status kepesertaan aktif kembali, apabila
Peserta: a. telah membayar Iuran bulan tertunggak, paling banyak untuk waktu 24 (dua puluh
empat) bulan; dan b. membayar Iuran pada bulan saat Peserta ingin mengakhiri pemberhentian
sementara jaminan. (Dikecualikan Untuk PBI, Peserta yang didaftarkan Pemda, dan peserta
tidak mampu)
5. BPJS Kesehatan wajib mencatat dan menagih tunggakan Iuran sebagai piutang BPJS Kesehatan
paling banyak untuk 24 (dua puluh empat) bulan. 12
IV. MANFAAT JAMINAN KESEHATAN Pasal 46-54
1. Manfaat jaminan kesehatan bagi bayi baru lahir dari Peserta diberikan tanpa
mempemasalahkan pendaftaran, paling lama 28 (dua puluh delapan) hari sejak dilahirkan
2. Secara umum manfaat yang dijamin dalam program JKN tidak mengalami perubahan. Namun
untuk manfaat yang tidak dijamin ada beberapa hal yang baru, meliputi:
a. pelayanan kesehatan yang diselenggarakan dalam rangka bakti sosial;
b. pelayanan kesehatan akibat tindak pidana penganiayaan, kekerasan seksual, korban
terorisme, dan tindak pidana perdagangan orang sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan; dan
c. pelayanan kesehatan tertentu yang berkaitan dengan Kementerian Pertahanan, Tentara
Nasional Indonesia, dan Kepolisian Negara Republik Indonesia
3. Koordinasi Manfaat antara BPJS Kesesehatan, BPJS ketenagakerjaan, Taspen, ASABRI, Jasa
raharja, dan penyelenggara jaminan lainnya : Dalam hal BPJS Kesehatan membayarkan terlebih
dahulu biaya pelayanan kesehatan yang seharusnya dijamin oleh penyelenggara jaminan
lainnya maka penyelenggara jaminan lainnya wajib membayar biaya pelayanan kesehatan
kepada BPJS Kesehatan
13
V. PENYELENGGARAAN YANKES..(1) Pasal 55-65
1. Pelayanan kesehatan bagi Peserta dilaksanakan secara berjenjang sesuai
kebutuhan medis dan kompetensi Fasilitas Kesehatan dimulai dari FKTP
Peserta terdaftar, kecuali bagi:
a. Peserta yang berada di luar wilayah FKTP tempat Peserta terdaftar (paling banyak 3
(tiga) kali kunjungan dalam waktu paling lama 1 (satu) bulan di FKTP yang sama);
b. Peserta yang dalam keadaan kegawatdaruratan medis
2. Pelayanan yang diberikan kepada Peserta yang dirujuk ke FKRTL dilakukan
paling lama 3 (tiga) bulan, kecuali kasus tertentu. FKRTL wajib melakukan
rujuk balik
3. BPJS Kesehatan dapat mengembangkan sistem pelayanan kesehatan, dengan
terlebih dahulu menyampaikan kepada Menteri, untuk ditetapkan oleh
Menteri (Pasal 58)
14
V. PENYELENGGARAAN YANKES..(2) Pasal 55-65
4. Pelayanan Obat, Alkes, dan BPHTP:
a. Pengadaan obat, alat kesehatan, dan/atau bahan medis habis pakai dilakukan melalui e-purchasing
berdasarkan katalog elektronik.
b. Dalam hal belum dapat dilakukan melalui e-purchasing, pengadaan dapat dilakukan secara manual
berdasarkan katalog elektronik.
c. Dalam hal tidak terdapat dalam katalog elektronik, pengadaan tetap mengacu pada formularium
nasional atau kompendium alat kesehatan.
d. Dalam hal tidak terdapat dalam formularium nasional dan kompendium alat kesehatan, Fasilitas
Kesehatan dapat mengadakan obat, alat kesehatan, dan/atau bahan medis habis pakai atas
persetujuan kepala atau direktur rumah sakit.
e. Dalam hal obat, alat kesehatan, dan/atau bahan medis habis pakai diklaim tersendiri oleh Fasilitas
Kesehatan kepada BPJS Kesehatan maka harga berpedoman pada katalog elektronik atau harga
yang ditetapkan oleh Menteri
f. Dalam hal terjadi kegagalan pengadaan obat dengan katalog elektronik sehingga terjadi kekosongan
obat maka Fasilitas Kesehatan dapat mengadakan obat dengan zat aktif yang sama sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan. 15
V. PENYELENGGARAAN YANKES..(3) Pasal 55-65
5. Pelayanan dalam keadaan darurat
a. kriteria gawat darurat yaitu:
1) mengancam nyawa, membahayakan diri dan orang lain/lingkungan;
2) adanya gangguan pada jalan nafas, pernafasan, dan sirkulasi; c.
adanya penurunan kesadaran;
3) adanya gangguan hemodinamik; dan/atau
4) memerlukan tindakan segera.
b. Menteri dapat menetapkan kriteria gawat darurat lainnya
c. Dokter Penanggung Jawab Pasien berwenang menetapkan
terpenuhinya kriteria gawat darurat
16
VI. FASILITAS KESEHATAN..(1) Pasal 66-81

Dalam hal ditemukan ketidaksesuaian


kelas rumah sakit berdasarkan ketentuan
peraturan perundang-undangan pada saat
REVIEW kredensial atau re-kredesial, maka BPJS
CLASS Kesehatan harus melaporkan kepada
Menteri untuk dilakukan reviu (hasil reviu
dijadikan dasar penyesuaian kontrak)

17
VI. FASILITAS KESEHATAN..(2) Pasal 66-81
a. Mendapatkan masukan dari BPJS digunakan oleh
Kesehatan bersama dengan asosiasi BPJS Kesehatan
Standar fasilitas kesehatan; dan.
b. Mempertimbangkan ketersediaan
sebagai besaran
pembayaran ke
Tarif Fasilitas Kesehatan, indeks harga
konsumen, dan indeks kemahalan Fasilitas
Daerah Kesehatan

Dalam hal FKTP di suatu daerah tidak memungkinkan pembayaran berdasarkan kapitasi,
BPJS Kesehatan dapat mengembangkan metode pembayaran lain

(diatur dengan Peraturan BPJS Kesehatan setelah mendapat persetujuan dari Menteri)
pasal 71
18
VI. FASILITAS KESEHATAN..(3) Pasal 66-81
Urun Biaya Besaran
1. Untuk pelayanan kesehatan tertentu yang a. nilai nominal tertentu
setiap kali melakukan
dapat menimbulkan penyalahgunaan kunjungan untuk rawat
pelayanan kesehatan, Peserta dikenakan jalan atau nilai nominal
Urun Biaya. (dikecualikan bagi PBI dan maksimal atas biaya
penduduk yang didaftarkan oleh pelayanan kesehatan
untuk kurun waktu
Pemerintah Daerah) tertentu; dan
2. Pelayanan yang dapat menimbulkan b. 10% (sepuluh persen)
penyalahgunaan pelayanan merupakan atau paling tinggi dengan
pelayanan yang dipengaruhi selera dan nominal tertentu untuk
rawat inap dari biaya
perilaku Peserta pelayanan,
19
VII. KENDALI MUTU DAN KENDALI BIAYA Pasal 82-88
1. Kemenkes:
- penilaian teknologi kesehatan
- pertimbangan klinis
- penghitungan standar tarif
- monitoring dan evaluasi penyelenggaraan pelayanan JKN

2. BPJS:
KMKB - Kredensialing faskes
- survey kepuasan peserta
- pemantauan dan pengawasan pemanfaatan

3. Fasilitas Kesehatan:
- menerapkan KMKB, mempertimbangkan keselamatan pasien dan mutu
pelayanan
- pemenuhan standar mutu faskes, proses pelayanan sesuai standar,
pemantauan terhadap luaran dan efisiensi biaya 20
VIII. PELAYANAN INFORMASI &
PENANGANAN PENGADUAN Pasal 89-90
1. Peserta berhak untuk mendapatkan informasi menyangkut hak dan
kewajiban Peserta/fasilitas kesehatan/BPJS Kesehatan, dan mekanisme
pelayanan dari Fasilitas Kesehatan dan BPJS Kesehatan.
2. Peserta berhak untuk mengadukan ketidakpuasan terhadap pelayanan
Jaminan Kesehatan yang diberikan oleh Fasilitas Kesehatan, dan terhadap
pelayanan BPJS Kesehatan kepada unit pengaduan baik yang terdapat di
Fasilitas Kesehatan, BPJS Kesehatan, Dinas Kesehatan, maupun Kementerian
Kesehatan.
3. Fasilitas Kesehatan dan BPJS Kesehatan wajib menyediakan Unit Pengaduan
yang dikelola secara bersama-sama atau sendiri-sendiri oleh Fasilitas
Kesehatan dan BPJS Kesehatan.
4. Fasilitas Kesehatan dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan wajib
menginformasikan ketersediaan ruang rawat inap kepada masyarakat. 21
IX. PENYELESAIAN SENGKETA Pasal 91

1. Penyelesaian sengketa dilakukan secara musyawarah melibatkan Kepala


Dinas Kesehatan Provinsi, Kepala Dinbas Kesehatan Kab/Kota, dan/atau
BPRS.

2. Dalam hal sengketa tidak dapat diselesaikan secara musyawarah, sengketa


diselesaiakan melalui Dewan Pertimbangan Klinis dengan cara mediasi atau
pengadilan

22
X. PENCEGAHAN DAN PENANGANAN KECURANGAN
(FRAUD) DALAM PELAKSANAAN PROGRAM JK Pasal 92-95

1. Sistem pencegahan kecurangan dilakukan secara sistematis, terstruktur dan


komprehensif.
2. Menteri Kesehatan, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi, Kepala Dinas
Kesehatan Kab/Kota dapat memberikan sanksi administratif (teguran lisan,
teguran tertulis, perintah pengembalian kerugian)
3. Untuk meningkatkan upaya pencegahan dan penanganan kecurangan
dibentuk tim tdd Kemenkes, K/L, BPJS Kesehatan dan KPK

23
XI. PENGAWASAN, MONITORING DAN EVALUASI Pasal 96-98

1. Menteri Kesehatan, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi, Kepala Dinas


Kesehatan Kabupaten/Kota melakukan pengawasan atas penyelenggaraan
Jaminan Kesehatan. Untuk melakukan pengawasan dilakukan bersama-sama
BPRS, Asosiasi Faskes, dll
2. Untuk kesinambungan program JK dilakukan monitoring dan Evaluasi.
3. Aspek pada monitoring dan evaluasi: kepesertaan, pelayanan kesehatan,
iuran, pembayaran ke faskes, keuangan, organisasi dan kelembagaan dan
regulasi
4. K/L yang melakukan monev: Kemenkes, Kemenkeu, Kemensos, Kemendagri,
Bappenas, BPK, BPKP, OJK, DJSN dan Pemda.

24
XII. PERAN PEMDA Pasal 99-102
• Dukungan Pemerintah Daerah dilakukan melalui: • Dukungan lainnya dilaksanakan
a. peningkatan pencapaian kepesertaan di wilayahnya; melalui kontribusi dari Pajak
b. kepatuhan pembayaran iuran; Rokok bagian hak masing-masing
daerah Provinsi/Kabupaten /Kota.
c. peningkatan pelayanan kesehatan; dan
d. dukungan lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan dalam rangka menjamin kesinambungan
program Jaminan Kesehatan.
Besaran kontribusi ditetapkan
• Dukungan lainnya dilaksanakan melalui kontribusi dari Pajak Rokok
bagian hak masing-masing daerah Provinsi/Kabupaten /Kota. 75% (tujuh puluh lima
• Kontribusi dari pajak rokok langsung dipotong untuk
persen) dari 50% (lima puluh
dipindahbukukan ke dalam rekening BPJS Kesehatan. persen) realisasi penerimaan
• Kontribusi daerah untuk mendanai program jaminan kesehatan Pajak Rokok bagian hak
nasional dianggarkan sebagai belanja bantuan sosial fungsi masing-masing daerah
kesehatan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah provinsi/kabupaten/kota.
Provinsi/Kabupaten/Kota.
PERMENKEU 25
PASAL 24 UU 40/2004 PERPRES 82/2018

26
PERATURAN PELAKSANAN PERPRES 82 TAHUN 2018

Perpres 82 Tahun 2018 mendelegasikan kepada 29 (dua puluh


sembilan) hal yang meliputi:
 12 (dua belas) hal dalam Peraturan/Keputusan Menteri
Kesehatan.
 11 (sebelas) hal dalam Peraturan BPJS
 2 (dua) hal dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri
 3 (tiga) hal dalam Peraturan Menteri Keuangan
 1 (satu) hal dalam Peraturan Kepala BKKBN

HARUS HARMONIS DAN SALING MENDUKUNG


27
DELEGASI DALAM PERMENKES/KEPMENKES
No Delegasi Permenkes Pasal
1 Jenis pelayanan penapisan atau skrining kesehatan tertentu 48
Gangguan kesehatan akibat sengaja menyakiti diri sendiri atau akibat melakukan hobi
2 yang membahayakan diri sendiri, pengobatan dan tindakan medis yang dikategorikan 52
sebagai percobaan atau eksperimen, dan kejadian tak diharapkan yang dapat dicegah

Pelayanan kesehatan tingkat pertama, pelayanan kesehatan rujukan tingkat lanjutan,


3 dan pelayanan rujuk balik pelayanan kesehatan 55

4 Kriteria gawat darurat 63


Pemberian kompensasi dalam hal di suatu daerah belum tersedia Fasilitas Kesehatan
5 yang memenuhi syarat guna memenuhi kebutuhan medis sejumlah Peserta 64

6 Persyaratan fasilitas kesehatan dapat menjalin kerja sama dengan BPJS Kesehatan 67
DELEGASI DALAM PERMENKES/KEPMENKES
No Delegasi PMK Pasal
7 Standar tariff pelayanan kesehatan di FKTP dan FKRTL 69
Penetapan pelayanan yang dapat menimbulkan penyalahgunaan pelayanan, besaran
8 dan tata cara pengenaan Urun Biaya 80

9 Penilaian teknologi kesehatan 85

10 Kendali mutu dan kendali biaya pelayanan Jaminan Kesehatan 88

11 Cara penyelesaian sengketa melalui Dewan Pertimbangan Klinis 91

Upaya pencegahan dan penanganan Kecurangan (fraud) dan pengenaan sanksi


12 administrasi 95
PERATURAN PELAKSANAAN
PMK Perubahan PMK Baru PMK Lain-lain

1. Permenkes No 28 Tahun 2014 1. Peraturan Menteri Kesehatan 1. Permenkes No 001 Tahun 2012
tentang Pedoman Pelaksanaan tantang Jenis Pelayanan Yang tentang Sistem Rujukan
Jaminan Kesehatan Nasional Dapat Menimbulkan Pelayanan Kesehatan
2. Permenkes No 71 Tahun 2013 Penyalahgunaan Pelayanan Yang Perorangan
tentang Pelayanan Kesehatan Dapat Dikenakan Iur Biaya 2. Permenkes No 5 Tahun 2016
pada Jaminan Kesehatan 2. Peraturan Menteri Kesehatan tentang Penyelenggaraan
Nasional tantang Pelayanan Kesehatan Pertimbangan Klinis (clinical
3. Permenkes No 52 Tahun 2016 terhadap Kegawatdaruratan advisory)
tentang Standar Tarif Pelayanan Dalam Penyelenggaraan Program 3. Permenkes No 56 Tahun 2014
Kesehatan dalam JKN tentang Izin dan Klasifikasi
Penyelenggaraan Program Rumah Sakit
Jaminan Kesehatan 4. Permenkes No 76 Tahun 2016
4. Permenkes No 36 Tahun 2014 tentang Pedoman INA CBG
tentang Pencegahan dalam Jaminan Kesehatan
Kecurangan dalam Pelaksanaan
Program jaminan Kesehatan
3. Draft Revisi Permenkes 56/2015
Perbaikan Permenkes tentang Perizinan dan
Klasifikasi RS

Klasifikasi Rumah
Sakit umum dan
Manggabungkan khusus,
perizinan dan berdasarkan
klasifikasi rumah pelayanan, SDM, Standar Kelas
sakit peralatan, Rumah Sakit
bangunan dan yang digunakan
prasarana pada lampiran
hanya
Rumah Sakit Khusus menggunakan
hanya dapat Penyelenggaraan batas minimal
menyelenggarakan pelayanan yang harus
pelayanan kesehatan di luar dipenuhi oleh
kesehatan sesuai bidang kekhususan setiap rumah
bidang hanya dapat sakit
kekhususannya dan dilakukan pada
bidang lain yang pelayanan gawat
menunjang darurat
kekhususan tersebut
Arah Kebijakan
Klasifikasi RS harus mempertimbangkan perkembangan
Klasifikasi RS kebijakan JKN dan kegiatan usaha penanaman modal,
serta didukung oleh kebijakan sistem rujukan dan
penyebaran tenaga kesehatan terutama dokter spesialis

Perizinan RS di sesuaikan dengan perizinan terintegrasi


Perizinan RS secara online (OSS)

Penyelenggaraan, Penyelenggaraan Rumah Sakit disesuaikan dengan


pengembangan pelayanan, kebutuhan pelayanan dan
Pembinaan dan kebijakan JKN
Pengawasan
RUMAH SAKIT UMUM DAN RUMAH SAKIT KHUSUS

Rumah Sakit umum a. RS umum kelas A;


memberikan pelayanan
b. RS umum kelas B;
kesehatan pada semua
bidang dan jenis penyakit c. RS umum kelas C;
d. RS umum kelas D • Rumah Sakit
khusus dapat
menyelenggarakan
pelayanan lain di
Rumah Sakit khusus a. RS khusus kelas A; luar
memberikan pelayanan b. RS khusus kelas B; kekhususannya
utama pada satu bidang c. RS khusus kelas C • Pelayanan rawat
atau satu jenis penyakit (hanya untuk RS inap di luar
tertentu berdasarkan khusus Ibu dan kekhususannya
disiplin ilmu, golongan Anak)
umur, organ, jenis penyakit, paling banyak 40%
atau kekhususan lainnya dari seluruh jumlah
tempat tidur
RUMAH SAKIT UMUM (1)

1) Rumah Sakit umum kelas A merupakan Rumah Sakit umum yang mempunyai fasilitas dan
kemampuan pelayanan medik paling sedikit 4 (empat) spesialis dasar, 5 (lima) penunjang
medik spesialis, 12 (dua belas) spesialis lain selain spesialis dasar, dan 13 (tiga belas)
subspesialis dan/atau spesialis dengan kompetensi tambahan.
2) Rumah Sakit umum kelas B merupakan Rumah Sakit umum yang mempunyai fasilitas dan
kemampuan pelayanan medik paling sedikit 4 (empat) spesialis dasar, 4 (empat)
penunjang medik spesialis, 8 (delapan) spesialis lain selain spesialis dasar, dan 2 (dua)
subspesialis dasar dan/atau spesialis dengan kompetensi tambahan.
3) Rumah Sakit umum kelas C merupakan Rumah Sakit umum yang mempunyai fasilitas dan
kemampuan pelayanan medik paling sedikit 4 (empat) spesialis dasar dan 4 (empat)
penunjang medik spesialis.
4) Rumah Sakit umum kelas D merupakan Rumah Sakit umum yang mempunyai fasilitas dan
kemampuan pelayanan medik paling sedikit 2 (dua) spesialis dasar.
RUMAH SAKIT UMUM (2)

1) Rumah Sakit umum kelas B yang akan meningkatkan fasilitas dan kemampuan pelayanan
mediknya, penambahan pelayanan paling banyak 2 (dua) pelayanan medik subspesialis
dasar dan 2 (dua) subspesialis lain selain subspesialis dasar,
2) Rumah Sakit umum kelas C yang akan meningkatkan fasilitas dan kemampuan pelayanan
mediknya, penambahan pelayanan paling banyak 2 (dua) pelayanan medik spesialis lain
selain spesialis dasar, dan 1 (satu) penunjang medik spesialis.
3) Rumah Sakit umum kelas D yang akan meningkatkan fasilitas dan kemampuan pelayanan
mediknya, penambahan pelayanan paling banyak 1 (satu) pelayanan medik spesialis
dasar dan 2 (dua) penunjang medik spesialis.
4) Apabila di satu wilayah administratif kabupaten/kota tidak terdapat Rumah Sakit umum
kelas B, Rumah Sakit umum kelas C dapat menambah pelayanan mediknya paling banyak
4 (empat) spesialis lain selain spesialis dasar.
5) Apabila di satu wilayah administratif kabupaten/kota tidak terdapat Rumah Sakit umum
kelas C, Rumah Sakit umum kelas D dapat menambah pelayanan mediknya paling
banyak 2 (dua) spesialis dasar dan 2 (dua) penunjang medik spesialis
TERIMA KASIH