Anda di halaman 1dari 5

Muhammad Ichsan (186020300111033)

Etika Profesi dan Tata Kelola Perusahaan

Corporate governance, top executive compensation


and firm performance in Japan
(Sudipta Basu, Lee-Seok Hwang,Toshiaki Mitsudom, Joseph Weintrop)

RESUME ARTIKEL
Artikel ini mencoba melihat asosiasi antara kompensasi top excecutive dan efektivitas
mekanisme tata kelola (CG) pada perusahaan di Jepang. Penelitian Core et al. (1999) di
Amerika Serikat (AS) yang menginvestigasi peran mekanisme tata kelola dalam
mengendalikan bayaran CEO, ditemukan bahwa pada perusahaan yang memiliki mekanisme
tata kelola yang lemah memiliki masalah agensi yang lebih besar, seperti terlihat pada bayaran
ke CEO yang lebih tinggi dibandingkan seharusnya (berdasarkan kinerja perusahaan). Basu
dkk kemudian mencoba mengidentifikasi fenomena serupa pada perusahaan Jepang dengan
alasan Jepang cukup berbeda dari AS baik secara ekonomi maupun budaya, sehingga analisis
ini perlu untuk dilakukan kembali.

Mekanisme tata kelola Jepang

1. Bank utama (main bank)

Peran pengawasan utama di perusahaan Jepang umumnya terletak pada satu bank, disebut
“bank utama” yang biasanya merupakan pemberi pinjaman dan pemegang saham terbesar
perusahaan. Aoki (1994) berpendapat bahwa pengawasan bank utama ini bersifat pasif
pada saat kondisi “normal”, kemudian aktif dan dapat mengintervensi ketika perusahaan
menghadapi kesulitan finansial. Hal ini pada satu sisi dapat dipandang sebagai suatu
mekanisme tata kelola market-based yang efektif. Namun pada sisi lain bank utama
dianggap membatasi perusahaan dalam pengambilan resiko yang berpotensi high-return
(Hiraki et al., 2003)

2. Keiretsu

Kebanyakan perusahaan Jepang dimiliki oleh grup-grup korporasi yang disebut keiretsu.
Keiretsu adalah grup industri, yang perusahaan anggotanya saling terikat melalui intra-
pemegang saham, keterikatan bisnis jangka panjang dan finansial satu sama lain. Terdapat

1
tujuh belas keiratsu utama di Jepang, tujuh diantaranya beroperasi dalam pengawasan satu
bank komersial besar, yang disebut “keiratsu finansial”. Tujuh keiratsu finansial
(horizontal) ini adalah Mitsubishi, Mitsui, Sumitomo, Daaichi Kangyo Bank (DKB),
Sanwa, Tokai, dan Industrial Bank of Japan (IBJ). Bank utama dalam keirutsu finansial ini
berperan sebagai organ sentral grup dan memiliki peran utama atas aktivitas finansial dalam
grup. Jenis lain adalah keirutsu vertikal, yaitu grup subkontraktor yang di bawah kendali
satu perusahaan manufaktur besar.

Hubungan bank utama lebih kuat pada keiratsu finansial daripada pada keiratsu vertikal,
sehingga istilah keiratsu dalam penelitian ini selalu merujuk pada keiratsu finansial, kecuali
dinyatakan sebaliknya.

3. Dewan direksi

Dewan direksi Jepang ditunjuk secara legal oleh pemegang saham untuk mengambil
keputusan strategis dan meng-supervisi urusan direktur, atas nama pemegang saham.
Anggota dewan didominasi oleh insider, biasanya ofisial senior perusahaan. Presiden
dewan biasanya merupakan anggota dewan yang paling kuat. Pada kasus lain, walaupun
jarang, chairman, yang biasanya merupakan mantan presiden, memiliki otoritas yang lebih
tinggi dari presiden.

Kenggotaan insider dalam dewan menyebabkan promosi direktur dan juga keamanan
posisinya sangat bergantung pada hubungan dia dengan manajemen level atas. Perusahaan
Jepang juga kadang memiliki direktur outsider baik yang ditunjuk oleh bank utama maupun
oleh perusahaan sendiri. Fungsi direktur outsider ini adalah untuk memperkuat pengawasan
manajemen perusahaan.

Kompensasi manajemen level atas Jepang


Di Jepang, kompensasi manajemen top level biasanya terdiri atas gaji dan bonus.
Kompensasi berupa saham tidak pernah digunakan hingga akhir-akhir ini karena batasan
hukum saham buyback dan perlakuan pajak bagi penerima yang tidak menguntungkan. Hukum
komersial di Jepang mengharuskan jumlah gaji eksekutif dinyatakan dalam Artikel Korporasi
dan/atau pada rapat umum pemegang saham. Dalam prakteknya, kebanyakan perusahaan
menyatakan gaji tahunan dalam total jumlah maksimum yang mereka bayarkan ke seluruh
direktur dan meminta persetujuan pemegang saham atas jumlah tersebut. Revisi angka
dilakukan empat atau lima tahun sekali atas pertimbangan inflasi, kondisi ekonomi makro, dan
jumlah anggota dewan.

2
Gaji eksekutif secara individu pada umumnya dinyatakan dalam berapa kali gaji
manajer non-direktur. Bonus eksekutif didasarkan pada laba ditahan perusahaan, dimana
jumlah bonus ini juga harus melalui persetujuan pemegang saham. Hukum komersial
mengharuskan bahwa total bonus harus disetujui terlebih dahulu sebelum bonus individu
ditentukan.

Variabel tata kelola dan hipotesis terhadap kompensasi manajemen top level

1. Bank utama
Bayaran manajemen top level lebih kecil seiring hubungan perusahaan dengan bank
utama semakin kuat. Dinyatakan lain, hubungan antar perusahaan dan bank utama
berhubungan negatif terhadap bayaran manajemen top level.
2. Keiretsu membership
Perusahaan keiretsu lebih sedikit membayar manajemen top level dibandingkan pada
perusahaan independen. Dinyatakan lain, keanggotaan keiretsu berhubungan negatif
dengan bayaran manajemen top level.
3. Direktur outsider dan ukuran dewan
Penelitian Weisbach (1998) menujukkan bukti bahwa semakin besar jumlah direktur
outsider maka akan semakin kuat tata kelola perusahaan. Sehingga bayaran manajemen
top level diperkirakan akan semakin kecil jika perusahaan memiliki direktur outsider.
Kemudian sebagaimana pendapat Kaplan & Minton (1994) yang menyatakan bahwa
penunjukkan direktur outsider cenderung terjadi pada perusahaan yang berkinerja
buruk. Efek ukuran dewan diperkirakan negatif terhadap bayaran manajemen top level,
sebab ukuran dewan yang besar cenderung tidak memfasilitasi pengawasan manajemen
top perusahaan yang efektif.
4. Pengaruh keluarga
Anderson dan Reeb (2003) menemukan bahwa perusahaan yang dikendalikan dan
dioperasikan oleh pendiri-pemiliknya berkinerja lebih baik daripada perusahaan non-
keluarga, dilihat dari ukuran ROA dan Tobin’s q. Pendapat lain menyatakan bahwa
pemegang saham yang terkonsentrasi, seperti anggota keluarga pendiri perusahaan,
dapat mengambil kendali yang signifikan atas perusahaan dan mengurangi manfaat
privat dari perusahaan (Fama & Jensen, 1983; Demsetz, 1983; Shleifer dan Vishny,
1997). Penelitian sekarang menguji dua hipotesis kepemilikan keluarga yang saling
bertentangan ini dengan data di Jepang.

3
Sample
Sample perusahaan diambil dari database Compustat’s Global Vantage meliputi harga
saham akhir tahun, laba bersih tahunan konsolidasi, penjualan dan aset selama dua tahun
berturut-turut.
Data manajemen top diambil dari edisi Yakuin Shikiho yang diterbitkan oleh Toyo
Keizai Inc. Direktori ini memuat data personal seperti nama, alamat rumah, jabatan, tanggal
lahir, waktu menjabat posisinya, dan hobi. Kemudian data pajak penghasilan manajemen top
diperoleh dari Daftar Pembayar Pajak Penghasilan Tertinggi di Jepang. Daftar ini
menyediakan data pajak aktual yang dibayarkan tiap individu, jika jumlahnya melebihi 10 juta
Yen, setara dengan $100,000. Dari data pajak penghasilan itu lalu, dengan menggunakan
algoritma, peneliti menghitung kompensasi yang diterima setiap manajemen top level .
Data direktur outsider dan persentase kepemilikan saham oleh dewan direksi diperoleh
dari Yakuin Shikiho, dan data persentase kepemilikan asing diperoleh dari Kaisha Shikiho.
Untuk menentukan apakah perusahaan dikendalikan oleh keluarga, peneliti merujuk pada kode
yang dikeluarkan Kigyo Keireysu Soran. Perusahaan yang dikendalikan oleh keluarga
memiliki kode/label “dozokushoku”, “ichizoku-shoku”, atau “ichizoku-kei”.

Hasil dan kesimpulan penelitian


Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata bayaran manajemen top level lebih
rendah pada perusahaan keiretsu. Hal ini membuktikan bahwa perusahaan keiretsu mengawasi
manajemennya lebih efektif. Selain itu juga membuktikan bahwa manajer di perusahaan non-
keiretsu lebih mudah saling berkubu dan berlaku oportunistik, sebagai hasilnya manajer
mendapatkan kompensasi yang berlebihan.
Penelitian ini tidak menemukan bukti yang cukup bahwa bank utama memiliki peran
dalam pengawasan pembayaran yang berlebihan pada perusahaan keiretsu. Kemudian hasil
penelitian juga menunjukkan adanya asosiasi antara ukuran dewan yang lebih kecil dan
kehadiran direktur outsider terhadap bayaran manajemen level top yang lebih rendah. Hasil ini
konsisten dengan argumen pengawasan pada bukti penelitian lain di AS.
Penelitian ini membuktikan bahwa kepemilikan saham para dewan yang besar
berasasosiasi dengan penghasilan manajemen top level yang lebih besar. Demikian pula
dengan pengaruh keluarga yang dominan, memiliki asosisasi yang positif terhadap penghasilan
manajemen top level. Hasil ini konsisten dengan koalisi manajerial, meskipun ada
kemungkinan bahwa hasil tersebut hanya mencerminkan penghasilan deviden yang lebih besar
dari pada bayaran yang berlebihan.

4
Secara umum, penelitian ini membuktikan bahwa kompensasi manajemen top level
semakin turun seiring dengan struktur tata kelola perusahaan yang semakin kuat.