Anda di halaman 1dari 21

1

I. PENGENALAN ALAT, BEKERJA SECARA ASEPTIK, STERILISASI,


DAN PEMBUATAN MEDIA
A. Pendahuluan
1. Latar Belakang
Pengertian Mikrobiologi yaitu cabang biologi yang mempelajari
tentang mikroorganisme yang sangat kecil dan untuk melihatnya kita
harus menggunakan bantuan mikroskop. Mikroorganisme tersebut
yaitu virus, bakteri, ganggang, jamur dan protozoa. Keseluruhan
mikroorganisme tersebut berpengaruh penting pada petanian.
Mikrobiologi merupakan salah satu cabang ilmu biologi yang
terpenting untuk dipelajari. Tidak hanya sebagai ilmu biologi dasar
yang memberikan pengertian- pengertian tentang asas-asas kimia dan
fisika dalam proses kehidupan, tetapi juga sebagai ilmu terapan yang
penting.
Dunia mikroorganisme ini pertama kali dikenalkan oleh Antoni
Van Leeuwenhoek. Menggunakan mikroskop ciptaannya ia dapat
melihat bentu-bentuk makhluk-makhluk kecil (mikroorganisme) yang
sebelumnya tidak diduga sama sekali keadaannya dan keberadaannya.
Melalui Mikrobiologi para pelaku kepentingan di bidang pertanian
mampu mengetahui jasad–jasad mikrokopis yang bermanfaat maupun
yang merugikan. Perkembangan dunia pertanian juga tidak lepas dari
peranan mikrobiologi pertanian. Mikrobiologi tidak hanya pada
pertanian, tetapi mikrobiologi dewasa ini meliputi mikrobiologi
lingkungan dan terapan.
Pengenalan alat–alat laboratorium sangat perlu dilakukan agar
mengetahui dan memahami berbagai macam alat laboratorium dan
mengetahui fungsi dan kegunaan dari masing–masing alat. Dengan
tujuan untuk mengurangi resiko kecelakaan kerja di dalam
laboratorium. Alat–alat laboratorium merupakan semua jenis alat yang
digunakan dalam setiap kegiatan labiratorium yang masing–masing alat
tersebut memiliki fungsi yang berbeda-beda.

1
2

Bekerja secara aseptik adalah prinsip kerja yang


mengutamakan kebersihan dan kesterilan bahan maupun alat yang akan
digunakan agar terbebas dari kontaminasi mikroorganisme yang tidak
diinginkan. Sterilisasi adalah suatu proses untuk mematikan semua
organisme yang terdapat pada atau di dalam suatu benda. Kedua hal
tersebut sangat penting dalam proses pembuatan media tumbuh
mikrobia. Media atau medium adalah suatu bahan yang terdiri atas
campuran zat makanan (nutrient) yang berfungsi sebagai tempat
tumbuh mikrobia.selain untuk menumbuhkan mikrobia, media atau
medium dapat digunakan juga untuk isolasi, memperbanyak pengujian
sifat-sifat fisiologi, dan perhitungan jumlah mikrobia. Syarat-syarat
suatu medium harus memenuhi hal-hal sebagai berikut: mengandung
nutrisi yang diperlukan mikrobia, memiliki tekanan osmosis, pH,
tegangan permukaan yang sesuai, tidak mengandung zat penghambat
(inhibitor), dan steril.
Pembuatan media menjadi syarat awal setelah pengenalan alat,
bekerja secara aseptik, dan seterilisasi dalam kaitannya dengan
melakukan praktikum di laboratorium mikrobiologi. Hal ini karena
pembuatan media mempunyai banyak kegunaan yang penggunaannya
sangat penting dan sering kali dipakai di awal penelitian. Setiap
mikroorganisme mempunyai karakteristik dan perlakuan yang berbeda,
sehingga diperlukan media yang berbeda pula.. Pada praktikum
mikrobiologi acara 1, mahasiswa diharuskan untuk mengetahui alat –
alat yang berhubungan dengan proses praktikum mikrobiologi
pertanian, mampu bekerja secara aseptic, mengetahui sterilisasi alat –
alat, dan juga mampu membuat berbagai media dan fungsinya.
2. Tujuan
Praktikum acara pengenalan alat, bekerja aseptik, sterilisasi dan
pembuatan media bertujuan untuk :
a. Mengenal jenis–jenis peralatan yang digunakan pada laboratorium
mikrobiologi dan cara–cara penggunaanya.
3

b. Memiliki keterampilan dasar bekerja secara aseptik


c. Mengetahui cara–cara sterilisasi alat–alat
d. Mengetahui cara pembuatan media dan fungsi dari masing–
masing media.
4

B. Tinjauan Pustaka
1. Bekerja Aseptik
Secara umum ruang lingkup topik proyek mini-riset mencakup
empat bidang, yaitu mikrobiologi pertanian (tanah), mikrobiologi
lingkungan (air), mikrobiologi kesehatan, dan mikrobiologi pangan.
Hasil analisis kemunculan jenis keterampilan spesifik lab mikrobiologi
dari laporan, presentasi oral, dan poster, serta wawancara menunjukkan
bahwa sebagian besar kelompok menunjukkan persentase kemunculan
jenis keterampilan yang tinggi (100)%, yaitu pada keterampilan bekerja
aseptik, keterampilan mengisolasi mikroba, sterilisasi, dan
menggunakan mikroskop (Kusnadi et al, 2012).
Teknik aseptik bertujuan untuk mencegah organisme patogen,
dalam jumlah yang cukup untuk menyebabkan infeksi. Yang bertujuan
untuk melindungi pasien selama prosedur klinis invasif dengan
memanfaatkan langkah-langkah pencegahan infeksi yang
meminimalkan keberadaan mikro-organisme (Tim penyusun, 2016)
Teknik aseptik merupakan metode pertama yang dipelajari oleh
orang-orang yang berkecimpung dalam bidang Mikrobiologi.
Prinsipnya teknik aseptik adalah usaha menghindarkan setiap kontak
antara kultur murni (“pure culture”), medium steril dan semua wadah
steril serta permukaan meja kerja, dengan mikroorganismekontaminan/
kompetitor (mikroorganisme yang tidak diinginkan). Teknik aseptik
dibutuhkan misalnya, pada saat melakukan kultivasi mikroorganisme
dan pemindahan (transfer) kultur murni dari satu vessel (mis. tabung
reaksi) ke tabung reaksi yang lain (Rakhmawati, 2013).
2. Sterilisasi
Sterilisasi adalah suatu proses untuk membunuh semua jasad
renik yang ada, sehingga jika ditumbuhkan di dalam suatu medium tidak
ada lagi jasad renik yang dapat berkembang biak. Sterilisasi harus dapat
membunuh jasad renik yang paling tahan panas yaitu spora bakteri
(Siallagan, 2012)
5

Sterilisasi atau suci hama yaitu proses membunuh segala bentuk


kehidupan mikroorganisme yang ada dalam sampel/contoh, alat-alat
atau lingkungan tertentu Dalam bidang bakteriologi kata sterilisasi
sering dipakai untuk menggambarkan langkah yang diambil agar
mencapai tujuan meniadakan atau membunuh semua bentuk kehidupan
mikroorganisme (Fitri et al., 2014).
Proses sterilisasi termal menggunakan uap jenuh di bawah tekanan
berlangsung di suatu bejana yang disebut autoklaf, dan merupakan
proses sterilisasi yang paling banyak dilakukan. Suatu siklus autoklaf
yang ditetapkan dalam farmakope untuk media atau pereaksi adalah
selama 15 menit pada suhu 121oC kecuali dinyatakan lain. Autoklaf
yang sederhana menggunakan sumber uap dari pemanasan air yang
ditambahkan ke dalam autoklaf. Dengan autoklaf sederhana ini, tekanan
dan temperatur diatur dengan jumlah panas dari api
(Firdaus et al., 2015).
3. Pembuatan media
Medium yang digunakan dalam Mikrobiologi sangat beraneka
macam. Medium dapat dibuat secara alami maupun membeli sudah
dalam bentuk kemasan jadi. Pembuatan medium menggunakan bahan-
bahan alami selain lebih murah juga dapat untuk mengantisipasi jika
tidak ada stok dari pabrik. Gambar 1 menunjukkan berbagai medium
dalam kemasan dari pabrik (misalnya Oxoid, Difco, dll). Medium dapat
dibedakan berdasarkan komposisi kimia, konsistensi, dan fungsinya
(Rakhmawati, 2012).
Pada penelitian yang dilakukan, perlakuan menggunakan media
nutrient agar koloni yang terbentuk terlihat lebih besar dan nyata serta
mudah diamati. Hal ini dikarenakan media nutrient agar merupakan
media yang sudah teruji secara klinis baik untuk pertumbuhan bakteri,
sehingga proses metabolism bakteri berlangsung optimal, sedangkan
pada media dari umbi ganyong, umbi gembili, dan umbi garut masih
memiliki nutrisi yang lebih kompleks sehingga pertumbuhannya tidak
6

seoptimal pada media nutrient agar. Ganjar, et al (2006) menyatakan


bahwa kandungan yang kompleks dalam media dapat menyebabkan
pertumbuhan mikroorganisme membutuhkan waktu yang lebih lama
untuk menguraikan komponen-komponen sederhana yang dapat diserap
sel dan digunakan untuk sintesis sel dan energi (Anisah, 2015).
Media yang menunjukan pertumbuhan diameter koloni dengan
baik adalah media PCA, media ini merupakan media alami dimana tidak
terdapat modifikasi dari bahan kimia, yang terdiri dari ektrak kentang
20g, dan ekstrak wortel 20gr. Dalam lingkungan yang alami cendawan
mengadakan kontak langsung dengan lingkungan yang mengandung
nutrisi. Hifa akan menyerap langsung molekul – molekul sederhana
seperti gula sederhana dan asam amino. Polimer yang lebih kompleks
seperti selulosa, pati dan protein harus diproses lebih dahulu sebelum
digunakan. Sebagian besar cendawan menggunakan monosakarida,
tetapi tidak dapat menggunakan molekul yang lebih besar yang terdiri
atas subunit monosakarida yang sama, ini berkaitan dengan
ketidakmampuan dari cendawan dalam menghidrolisis disakarida
(Taurisia et al., 2015).
4. Media NA dan PDA
Salah satu media agar yang cocok dan mendukung pertumbuhan
jamur adalah PDA (Potato Dextrose Agar) yang merupakan media
terdiri atas dextrose, sari kentang dan agar. Media PDA mendukung
pertumbuhan jamur karena dapat menghindari kontaminasi bakteri
dengan keasaman pada media yang rendah (pH 4,5 sampai 5,6)
sehingga menghambat pertumbuhan bakteri yang membutuhkan
lingkungan yang netral dengan pH 7,0, dan suhu optimum untuk
pertumbuhan antara 25-30 °C (Aini, 2015).
Cendawan dapat dibiakan pada berbagai jenis media
biakan. Beberapa cendawan dapat tumbuh dengan baik pada
medium yang mengandung beberapa bahan organik, sedang
cendawan yang lain memerlukan zat-zat tambahan tertentu.
7

Secara umum media yang baik untuk pertumbuhan


mikroorganisme harus memenuhi persyaratan nutrisi dan mudah
dimanfaatkan oleh organisme, mempunyai tekanan osmosis,
tegangan permukaan dan derajat keasaman yang sesuai, serta tidak
mengandung zat-zat yang menghambat pertumbuhan
mikroorganisme tersebut. Kandungan dextrose dan karbohidrat
yang cukup tinggi pada media PDA (20g) sangat berperan penting
dalam proses metabolisme jamur. Pada lingkungan alaminya
cendawan Alternaria alternata menggunakan enzim hidrolitik
ekstraselluler mampu merombak karbohidrat yang tersusun dari
dua unit monosakarida yang dihubungkan oleh hubungan
glikosida. Dua disakarida terpenting yang ditemukan pada keadaan
bebas di alam adalah glukosa yangditemukan pada keadaan bebas
di jaringan tanaman (Taurisia et al., 2015).
Nutrien agar adalah medium yang diklasifikaikan sebagai
medium sintetik terstruktur karena tersusun oleh komponen yang pasti
jenis dan kuantitasnya. Medium Nutrient agar merupakan medium
umum yang dapat digunakan untuk mengkultivasi berbagai jenis
bakteri. Warna dari medium ini adalah kuning keemasan dan cenderung
jernih. Medium NA memiliki pH 7,20 hingga 7,60 dan konsistensi yang
cenderung padat. Fungsi utama dari medium NA adalah sebagai
medium kultivasi dan enumerasi bakteri. Namun, dengan tambahan
beberapabahan seperti amilum (pati), serum, dan darah, medium
nutrient agar juga dapat digunakan sebagai medium pengayaan dan
selektif bagi mikroorganisme tertentu serta bermanfaat dalam uji
serologi dan biokimia untuk mengidentifikasi bakteri (Panagan, 2011).
8

C. Metodologi Praktikum
1. Waktu dan Tempat
Praktikum Mikrobiologi acara I dilakukan pada Kamis, 19 April
2018 pukul 17.00 – 19.30 bertempat di Laboratorium Biologi Tanah
Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret.
a. Alat Pengenalan Alat:
1) Elektrik
a) LAF ( Laminator Air Flow)
b) Kulkas
c) Tanur
d) Oven
e) Incubator
f) Autoklaf
g) Timbangan analitik
h) Freezer
i) Vortex
j) Hotplate Stirrer
k) Shaker
l) Mikroskop stereo
m) Mikroskop biokuler
n) Centrifuge
o) Spektofotometer
2) Non Elektrik
1. Petridsh
2. Tabung reaksi
3. Rak tabung reaksi
4. Mikropipet
5. Chip
6. Kotak Chip
7. Bulp
8. Pengaduk
9

9. Hand colony counter


10. Spatula
11. Lup
12. Pinset
13. Jarum ose
14. Dry glassky
15. Preparat
16. De glass
17. Jarum N
18. Hemasitometer
19. Lampu Bunsen
20. Saringan 3 tingkat
21. Elen mayer
22. Beaker glass
23. Gelas ukur
24. Corong kaca
25. Corong plastic
26. Labu ukur
27. Penjepit kayu
28. tabung reaksi
29. Mortar dan Pastle
30. Penjepit besi tabung reaksi
31. Sprayer Pipet ukur Kulvet
3) Bekerja secara aseptik
a) Sprayer
b) Sarung tangan latex
c) Jas lab
d) Masker
e) Tisu towel
10

4) Sterilisasi
a) Sprayer
b) Lampu Bunsen
c) Korek api
d) Penjepit tabung reaksi
e) Tisu towel
5) Pembuatan media
a) Timbangan analitik
b) Stirrer/ pengaduk
c) Erlenmeyer
d) Beaker glass
e) Petridish
f) Kompor gas/ hotplate stirrer
2. Bahan
a. Bekerja secara aseptik
1) Alkohol
b. Sterilisasi
1) Alkohol
2) Spiritus
c. Pembuatan media
1) Nutrient Agar (NA) : beef extract 3,5 g, peptone 5 g, agar 15-20 g,
aquadest 1000 ml. (untuk kebutuhan 1 liter NA)
2) Potato Dextrose Agar (PDA) ; kentang 200-250 g, dextrose 10g, agar
15-20 g, aquadest 1000 ml. (untuk kebutuhan 1 liter PDA)
3. Cara Kerja
a. Bekerja secara aseptic
1) Pakai jas lab dan masker
2) Semprotkan alkohol pada tangan dan usap tangan di seluruh
permukaan tangan
3) Pakai sarung tangan latex
11

4) Setelah menggunakan sarung tangan latex lalu semprot dengan


alcohol dan usap di seluruh permukaan latex
5) Semprotkan alkohol pada jas lab
b. Sterilisasi
1) Semprot meja lalu dilap dengan tisu towel dengan searah
2) Taruh alat-alat di atas meja
3) Nyalakan lampu Bunsen dengan korek api
4) Alat di api-apikan di atas lampu Bunsen (alat jangan didiamkan,
tetapi digoyang-goyangkan di atas api)
c. Pembuatan media
1) Pembuatan Nutrient Agar (NA)
i. Timbang komponen medium dengan menggunakan timbangan
analitis
ii. Aquadest sebanyak 1000-1100 ml dibagi menjadi dua satu
bagian untuk melarutkan beef extract dan peptone dan
sebagian lagi untuk melarutkan agar
iii. Larutkan agar pada sebagian air tersebut dengan mengaduk
secara konstan dan diberi panas. Dapat menggunakan kompor
gas atau hot plate stirrer (jangan sampai overheat, karena akan
terbentuk busa dan memuai sehingga tumpah).
iv. Sementara itu sebagian aquadest digunakan untuk melarutkan
peptone dan beef extract, cukup dengan pengadukan.
v. Setelah keduanya larut, larutan dituangkan ke larutan agar dan
diaduk sampai homogeny.
vi. Setelah itu, media dimasukkan ke dalam labu Erlenmeyer, lalu
ditutup dengan kapas dan dibungkus dengan kertas dan
disterilisasi dengan autoklaf.
vii. Tuang media steril ke cawan petri steril secara aseptik
sebanyak 10 ml. jika diinginkan media tegak atau miring pada
point ke 5, media langsung dituang ke tabung kemudian
disterilisasi dengan autoklaf.
12

2) Pembuatan Potato Dextrose Agar (PDA)


i. Potong kentang menjadi kecil-kecil
ii. Timbang komponen media dengan menggunakan timbangan
analitis
iii. Rebus kentang dalam sebagian aquadest tadi selama 1-2 jam
sampai lunak, kemudian diambil ekstraknya dengan
menyaring menggunakan saringan lalu ditampung di beaker
glass baru.
iv. Agar dilarutkan dengan stirrer dalam 50 ml aquadest lalu
setelah larut dapat ditambah dekstrosa dan dihomogenkan lagi.
v. Setelah semua larut, ekstrak kentang dan agar-dekstrosa
dicampur dan dihomogenkan.
vi. Media dituangkan ke dalam Erlenmeyer atau ke tabung reaksi
kemudian siap untuk disterilisasi
25

2. Pembahasan

Laboratorium adalah tempat bagi praktikan maupun peneliti untuk


melakukan percobaan. Melakukan percobaan di laboratorium tidak lepas
dari penggunaan zat-zat yang beraneka ragam, baik yang berbahaya
maupun yang aman bagi tubuh manusia. Untuk itulah alat-alat
laboratorium diperlukan, selain mempermudah percobaan juga
mendukung keselamatan praktikan ketika melakukan percobaan.
Namun, tentu saja praktikan tidak dapat secara langsung menggunakan
alat-alat laboratorium tanpa mempunyai pengetahuan dan kemampuan
yang cukup untuk itu, karena masing-masing alat laboratorium
memiliki prosedur-prosedur tersendiri dalam penggunaannya
(Perwitasari dan Anwar, 2008).
Pengenalan alat dan bahan merupakan langkah pertama sebelum kita
melakukan percobaan atau penelitian. Selain mengenal nama-nama alat
dan bahan tersebut juga harus mengenal fungsi alat dan bahan tersebut.
Kebanyakan para praktikan belum mengetahui benar apa fungsi dari alat
dan bahan-alat dan bahan yang ada di laboratorium, walaupun telah
mengenal bentuk dan nama-nama alat dan bahan tersebut. Dengan
mengenal nama, bentuk dan fungsi alat dan bahan yang akan digunakan
maka akan lebih mudah dalam melakukan praktikum. Dalam pengunaan
alat dan bahan dan dalam membaca skala, jika terjadi kesalahan maka akan
mempengaruhi keberhasilan yang akan dilakukan dalam praktikum. Selain
itu juga dapat berpengaruh terhadap keselamatan praktikan. Oleh karena
itu perlu dilakukan pengenalan alat dan bahan terlebih dahulu kepada
praktikan agar mengetahui benar apa fungsi alat dan bahan-alat dan bahan
agar praktikum berjalan lancar (Setiawan et al., 2014).
Pentingnya dilakukan pengenalan alat dan bahan laboratorium
adalah agar mengetahui cara-cara penggunaan alat tersebut dengan baik
dan benar, sehingga kesalahan prosedur pemakaian alat dapat
diminimalisir sedikit mungkin. Hal ini penting agar saat melakukan
penelitian, data yang diperoleh akan benar pula. Data-data yang tepat akan
26

meningkatkan kualitas penelitian seseorang. Oleh karena itu, pengenalan


alat dan bahan ini penting dilaksanakan karena dapat mengetahui dan
memahami serta menguasai jenis-jenis alat dan bahan, nama masing-
masing alat dan bahan dan fungsi masing-masing alat dan bahan yang baik
dan benar (Hidayah, 2014).
Peralatan dalam praktikum acara I Mikrobiologi Pertanian dibagi
menjadi dua, yaitu alat elektrik dan alat non-elektrik. Alat elektrik terdiri
dari laminar air flow, kulkas, tanur, oven, incubator, autoklaf, timbangan
analitik, freezer, vortex, hot plate stirrer, shaker, centrifuge, mikroskop
stereo, mikroskop binokuler, dan spektofotometer. Alat non-elektrik
terdiri dari mortar, pestle, lup, jarum ose, gelas ukur, beaker glass,
Erlenmeyer, labu ukur, stirrer, spatula, corong, dry glasky¸pinset, tabung
reaksi, hemasitometer, sprayer, lampu Bunsen, petridish, kaca preparat, de
glass, saringan, hand colony counter, mikropipet, pipet tetes, penjepit
tabung reaksi, rak tabung reaksi, bulp, pipet ukur, chips, dan kotak chips.
Tabung reaksi dalam mikrobiologi digunakan untuk uji-uji
biokimiawi dan menumbuhkan mikroba. Tabung reaksi dapat diisi
mediapadat maupun cair. Tutup tabung reaksi dapat berupa kapas, tutup
metal,tutup plastik atau aluminium foil. Media padat yang dimasukkan
ketabung reaksi dapat diatur menjadi 2 bentuk menurut fungsinya,
yaitumedia agar tegak (deep tube agar) dan agar miring (slants agar).
Untukmembuat agar miring, perlu diperhatikan tentang kemiringan media
yaituluas permukaan yang kontak dengan udara tidak terlalu sempit atau
tidakterlalu lebar dan hindari jarak media yang terlalu dekat dengan
muluttabung karena memperbesar resiko kontaminasi. Untuk alasan
efisiensi,media yang ditambahkan berkisar 10-12 ml tiap tabung.
Erlenmeyer berfungsi untuk menampung larutan, bahan atau cairan.
Labu Erlenmeyer dapat digunakan untuk meracik dan menghomogenkan
bahan-bahan komposisi media, menampung akuades,kultivasi mikroba
dalam kultur cair. Terdapat beberapa pilihanberdasarkan volume cairan
27

yang dapat ditampungnya Erlenmeyermemiliki ukuran yaitu 25 ml, 50 ml,


100 ml, 250 ml, 300 ml, 500 ml,1000 ml (Holly, 2018).
Mikropipet adalah alat untuk memindahkan cairan yang
bervolumecukup kecil, biasanya kurang dari 1000 μl. Banyak pilihan
kapasitas dalam mikropipet, misalnya mikropipet yang dapat diatur
volumepengambilannya (adjustable volume pipette) antara 1μl sampai 20
μl,atau mikropipet yang tidak bisa diatur volumenya, hanya tersedia
satupilihan volume (fixed volume pipette) misalnya mikropipet 5 μl.
Dalampenggunaannya, mikropipet memerlukan tip. Tip yang sudah
disterilkandengan air panas tidak boleh disentuh tangan karena akan
menyebabkankontaminasi.
Petridish berfungsi sebagai wadah dan kertas saring yang berfungsi
sebagai alas gabah padi, gandum dan jagung di dalam wadah dan untuk
membiakkan (kultivasi) mikroorganisme.Medium dapat dituang ke cawan
bagian bawah dan cawan bagian atassebagai penutup. Cawan petri tersedia
dalam berbagai macam ukuran,diameter cawan yang biasa berdiameter 15
cm dapat menampung mediasebanyak 15-20 ml, sedangkan cawan
berdiameter 9 cm kira-kira cukupdiisi media sebanyak 10 ml
(Afriani et al., 2017).
Jarum inokulum (jarum ose) berfungsi untuk memindahkan
biakanuntuk ditanam/ditumbuhkan ke media baru. Jarum inokulum
biasanyaterbuat dari kawat nichrome atau platinum sehingga dapat
berpijar jikaterkena panas. Bentuk ujung jarum dapat berbentuk lingkaran
(loop) dandisebut ose atau inoculating loop/transfer loop, dan yang
berbentuk lurusdisebut inoculating needle/Transfer needle. Inoculating
loop cocok untukmelakukan streak di permukaan agar, sedangkan
inoculating needlecocok digunakan untuk inokulasi secara tusukan pada
agar tegak (stabinoculating).
Bunsen burner atau pembakar spirtus digunakan untuk sterilisasi
alatinokulasi dengan pembakaran seperti sterilisasi jarum inokulum
atauspreader. Untuk memastikan kesterilannya jarum inokulum
28

dibakarsampai membara dan spreader dapat dicelupkan alkohol lalu


dibakar. Bunsen burner berbahan bakar gas yang disalurkan melalui
pipasedangkan pembakar spirtus berbahan bakar spirtus (methanol).
Namun, pembakar spirtus lebih mudah ditemukan di banyak laboratorium
karenaefisien dan portable. Tersedia juga alat loop incinerator / electric
bunsenburner / electric incinerator untuk membakar jarum inokulum.
Autoklaf adalah alat untuk mensterilkan berbagai macam alat dan
bahan yang digunakan dalam mikrobiologi menggunakan uap air panas
bertekanan. Tekanan yang digunakan pada umumnya 15 Psi atau sekitar 2
atm dan dengan suhu 1210C (250F). Jadi, tekanan yang bekerja ke seluruh
permukaan benda adalah 15 pon tiap inchi2 (15 Psi = 15 pounds per square
inch). Lama sterilisasi yang dilakukan biasanya 15 menit untuk 1210C.
Inkubator adalah alat untuk menginkubasi mikroba pada
suhuyangterkontrol. Alat ini dilengkapi dengan pengatur suhu
danpengatur waktu. Oven juga merupakan salah satu alat yang akan
digunakan dalampraktikum mikrobiologi pertanian. Alat ini mempunyai
fungsi untuk mengeringkan bahan (misalnya tanah) yang akan digunakan
dalampraktikum (Fahril, 2017).
Alat lain yang penting diketahui adalah laminar air flow.
Rangkaianalat ini terletak khusus dalam satu ruang yang disebut ruang
steril. Penggunaan alat tersebut adalah untuk mensterilisasikan udara
ditempatkerja, sehingga kegiatan yang berkaitan dengan pemindahan
danpengambilan mikrobia dapat dilakukan di sekitar laminar air
flow.Fungsi lain adalah ketika melakukan pekerjaan laboratorium, alat-
alatyang digunakan sudah disterilisasikan, sehingga untuk mencegah
timbulnya kontaminasi tidak perlu menggunakan pemanasan dari
lampuspritus ataupun lampu hunsen.
Bekerja aseptic adalah suatu metode atau teknik di dalam
memindahkan atau mentransfer kultur bakteria dari satu tempat ke tempat
lain secara aseptis agar tidak terjadi kontaminasi oleh mikroba lain ke
dalam kultur. Kesterilan ruangan, pengguna, alat, dan bahan-bahan mutlak
29

dibutuhkan karena mikrobia tersebut berukuran sangat kecil, tidak kasat


mata, mudah tersebar, dapat hidup dimana saja sehingga dibutuhkan suatu
keadaan yang benar-benar steril.
Sterilisasi adalah proses atau kegiatan membebaskan suatu bahan
atau benda dari semua bentuk kehidupan. Sedangkan steril adalah keadaan
dimana tidak ada mikroorganisme atau bentuk kehidupan apapun dari
suatu bahan. Macam- macam sterilisasi yaitu:
a. Sterilisasi fisik, dapat berupa pemanasan dan radiasi. Sterilisasi panas
dilakukan dengan pemijaran, uap air panas, autoklaf dan panas kering.
Sterilisasi radiasi dilakukan dengan penggunaan sinar UV.
b. Sterilisasi mekanik, menggunakan suatu saringan dengan pori sangat
kecil (0,22 mikron atau 0,45 mikron) sehingga mikroba tertahan pada
saringan tersebut. Proses ini ditujukan untuk sterilisasi bahan yang
peka panas, misalnya larutan enzim dan antibiotik.
c. Sterilisasi kimiawi,menggunakan senyawa disinfektan seperti alkohol
(Fahril, 2017).
Pada praktikum kali ini dilakukan sterilisasi alat dengan bahan kimia
berupa alcohol 70%. Meja tempat kerja disemprot menggunakan alcohol.
Kemudian tangan disemprot dengan alcohol setelah menggunakan sarung
tangan latex. Setelah itu, peralatan yang sudah dibersihkan ditempatkan di
meja kerja lalu disemprot dengan alcohol. Setelah itu, tangan disemprot
kembali dengan alcohol. Selain sarung tangan latex, kita juga harus
menggunakan masker untuk mencegah kontaminasi.
Dalam hal ini dilakukan contoh pelaksanaan isolasi secara steril.
Adapun pelaksaannya sebelum mengambil okulan pada petridish, jarum
ose dan petridish dipanaskan terlebih dahulu di dekat bunsen. Setelah
jarum ose berpijar, diamkan sebentar, kemudian baru mengambil okulan
yang dipilih untuk dipindahkan ke media miring. Pemindahannya pun juga
tidak jauh-jauh dari Bunsen. Kapas pada tabung reaksi dilepas, baru
ditanamkan okulan ke media miring, setelah itu tabung reaksi ditutup
kembali.
30

Media pertumbuhan mikroorganisme adalah suatu bahan yang


terdiri dari campuran zat-zat makanan atau nutrisi yang diperlukan oleh
mikroorganisme untuk pertumbuhannya. Nutrisi yang dibutuhkan
mikroorganisme untuk pertumbuhannya meliputi karbon, nitrogen, unsur
non logam seperti sulfur dan fosfor, unsur logam seperti Ca, Zn, Na, K,
Cu, Mn, Mg, dan Fe, vitamin, air, dan energi.
Media berdasarkan susunan kimia dibedakan menjadi media sintetik
dan media kompleks.Media sintetik adalah media yang komposisi zat
kimianya diketahui jenis dan takarannya secara pasti, misalnya Glucose
Agar, Mac Conkey Agar sedangkan media kompleks adalah media yang
dibuat dengan komposisi yang tidak dapat diketahui secara pasti dan
biasanya langsung diekstrak dari bahan dasarnya, misalnya Tomato Juice
Agar, Brain Heart Infusion Agar, Pancreatic Extract. Media berdasarkan
konsistensi dibedakan menjadi media cair yaitu media yang berbentuk
cair, media semi padat yaitu media yang prosentase agarnya dikurangi, dan
metode padat yaitu media bentuk padat atau beku contohnya media wortel,
kentang, dan lain lain.
Persyaratan yang harus dipenuhi dalam penyiapan medium supaya
mikroorganisme dapat tumbuh baik adalah mengandung semua nutrisi
yang mudah digunakan oleh mikroba, mempunyai tekanan osmose,
tegangan permukaan, dan pH yang sesuai, tidak mengandung zat-zat
penghambat, dan steril
Ketepatan komposisi medium tergantung pada kebutuhan species
yang akan dikultivasi karena kebutuhan nutrisi sangat bervariasi.
Pengetahuan tentang habitat normal mikroorganisme sering berguna untuk
menentukan medium yang cocok karena kebutuhan tergantung lingkungan
alaminya. Meskipun persyaratan medium untuk menumbuhkan
mikroorganisme sangat beragam, namun sebagai organisme hidup
mempunyai kebutuhan dasar yang sama yaitu memerlukan sumber karbon,
energi, air, nitrogen, fosfat, dan mineral.
31

E. Kesimpulan dan Saran


1. Kesimpulan
Kesimpulan yang diperoleh dari acara I yaitu “Pengenalan Alat,
Bekerja Secara Aseptik, Sterilisasi, Dan Pembuatan Media”
a. Pengenalan alat-alat praktikum sangat penting karena akan menentukan
kualitas hasil praktikum dan guna menghindari kecelakaan dalam
penggunaan.
b. Alat yang akan digunakan harus disterilisasi agar terbebas dari
mikroorganisme kontaminan.
c. Bekerja secara aseptic sangat penting dalam penelitian mikrobia
d. Media merupakan salah satu bahan yang terdiri dari campuran nutrisi
makanan yang dipakai sebagai media tumbuh mikroba.
2. Saran
Sebelum praktikum di laksanakan perlu adanya perhatian yang lebih kepada
cara kerja aseptik cagar bahan yang akan digunakan untuk praktikum tidak
terkontaminasi. Dan memperhatikan dengan baik dalam praktikum agar
tidak terjadi kesalahan yang fatal.
32

DAFTAR PUSTAKA
Afriani T, Lendrawati dan Syaiful FL. 2017. Akurasi deteksi kebuntingan dini sapi
pesisir pada berbagai biji-biji tanaman terhadap metode uji punyakoti.
J of Scientech Research 2(2): 122-126
Aini N. 2015. Media alternatif untuk pertumbuhan jamur menggunakan sumber
karbohidrat yang berbeda. Skripsi. Surakarta: Universitas
Muhammadiyah Surakarta
Ana. 2012. Penyiapan media mikroorganisme. Universitas Negeri Yogyakarta.
Anisah. 2015. Media alternatif untuk pertumbuhan bakteri menggunakan
sumber karbohidrat yang berbeda. Skripsi thesis. Surakarta: Universitas
Muhammadiyah Surakarta
Fahril M. 2017. Analisa hasil fermentasi susu sapi dengan penambahan sari buah
belimbing (Averrhoa carambola L) menggunakan bakteri asam laktat
(Lactobacillus bulgaricus). Tugas Akhir. Semarang: Universitas
Diponegoro.
Firdaus FH, Fitriana A dkk. 2015. Analisis efisiensi termal kompor berbahan bakar
sekam dan limbah baglog pada sterilisasi jamur tiram. J Fisika 16(1):
64-70
Fitri A, Karina dkk. 2014. Peralatan, sterilisasi dan media pertumbuhan mikroba.
Jurnal Praktikum Mikrobiologi Dasar. Samarinda: Universitas
Mulawarman
Hidayah FF. 2014. Karakteristik panduan praktikum kimia fisika bervisi-sets untuk
meningkatkan keterampilan proses sains. J Pendidikan Sains 2(1): 20-
25
Holly D, Sahputra R dan Hadi L. 2018. Deskripsi keterampilan psikomotorik siswa
kelas xi ipa sman 8 pontianak pada praktikum titrasi asam basa. J
Pendidikan dan Pembelajaran 7(9): 34-44
Kusnadi, Rustaman NY, dkk. 2012. Analisis kemunculan keterampilan spesifik lab
mikrobiologi melalui pembelajaran mikrobiologi berbasis proyek
inkuiri “mini-riset” mahasiswa biologi. J Pengajaran MIPA 17(1): 53-
59
Nugroho, Endi Denik, dkk. 2016. Penuntun Praktikum Bioteknologi.Yogyakarta.
Deepublish
Panagan AT. 2011. Isolasi mikroba penghasil antibiotika dari tanah kampus unsri
indralaya menggunakan media ekstrak tanah. J Penelitian Sains 14(3):
37-45
Penyusun, Tim. 2016. Buku petunjuk praktikum mikrobiologi. Malang:
Universitas Islam Negeri (Uin) Maulana Malik Ibrahim
33

Perwitasari D dan Anwar A. 2008. Tingkat risiko pemakaian alat pelindung diri dan
higiene petugas di laboratorium klinik RSUPN Ciptomangunkusumo,
jakarta. J Ekologi Kesehatan 5(1): 380-384
Putranto, heri. 2016. Pengelolaan dan pengembangan sarana praktikum
laboratorium dasar instalasi listrik pada prodi pte universitas negeri
malan. J Tekno 25(4): 76-79
Setiawan A, Setiawan D dkk. 2014. Pelatihan pengunaan alat- alat laboratorium
untuk meningkatkan pemahaman praktikum ipa-biologi bagi guru smp
di kecamatan Indralaya. J Pengabdian Sriwijaya 2(1): 80-87
Rakhmawati, A. 2013. Praktik layanan kegiatan praktikum biologi. 23 November
2018. http://staffnew.uny.ac.id/upload/132296143/pengabdian/ppm-
2013-praktik-layanan-praktikum.pdf.
Rakhmawati, Anna. 2012. Penyiapan Media Mikroorganisme. Diambil dari
staffnew.uny.ac.id/upload/132296143/pengabdian/ppm-2012-bahan-
segar.pdf. Diakses pada Jumat 23 November 2018, pada pukul 05.20
WIB.
Siallagan, Juliana (2012). Optimasi teknik sterilisasi eksplan lapang nanas asal
sipahutar (Ananas comosus l.) secara in vitro. Skripsi. Medan:
Universitas Negeri Medan
Sumarno, Edy. 2014. Pengertian, Fungsi dan Bagian Bagian Mikroskop. Diambil
dari www.ilmudasar.com/2016/12/Pengertian-Fungsi-dan-Bagian
Mikro skop-adalah.html. Diakses pada Senin 23 November 2018, pukul
14.20 WIB.
Sunan Insan. 2010. Penentuan tingkatan jaminan sterilitas pada autoklaf dengan
indikator biologi spore strip. J Farmaka 14 (1): 59-64
Taurisia,P, Meitini, Irsan. 2015. Pengaruh media terhadap pertumbuhan dan
biomassa cendawan Alternaria alternata (Fries) Keissler. J Biologi. Vol.
19 (1): 30 - 33