Anda di halaman 1dari 10

Pengembangan Edukasi Kesehatan Reproduksi

dan Seksualitas Remaja


dengan Metode Game Kognitif Proaktif

Taukhit

ABSTRAK
Tulisan ini berupaya untuk mengelaborasi metode edukasi game kognitif-proaktif
merupakan salah satu cara pendekatan edukasi kesehatan reproduksi dan seksualitas
pada pemuda. Edukasi ini dilakukan dengan permainan partisipasi diskusi satu kasus
tentang permasalahan reproduksi atau penyimpangan dengan prinsip koginif-proaktif.
Prinsip kognitif-proaktif adalah dilakuakan dengan mengajak pemuda berpartisipasi
menyebutkan hal postif dan negatif terhadap suatu masalah kesehatan reproduksi dan
seksualitas pada pemuda secara proaktif, sampai bisa menyimpulkan sendiri masalah
tersebut itu baik atau tidak jika dilakukan oleh pemuda. Metode ini sendiri merupakan
sebuah respon dari persoalan kesehatan reproduksi di kalangan remaja yang membutuhkan
pendekatan berbasis pendidikan yang utuh. Data dari Kemenkes tahun 2010 menunjukkan
bahwa hampir separuh (47,8%), tiga kasus AIDS berdasarkan usia juga diduduki oleh
kelompok usia muda (20-29 tahun). Hal ini menunjukkan bahwa perilaku seks berisiko
terjadi pada usia remaja. Data dari Perhimpunan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI)
menyebutkan bahwa 15% remaja Indonesia yang berusia 10-24 tahun telah melakukan
hubungan sexual diluar nikah. Delapan puluh lima persen diantaranya melakukannya
di rumah dengan pacarnya. United Nation Population Fund (UNPFA) dan Badan
Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mensinyalir jumlah kasus aborsi di
Indonesia mencapai 2,3 juta pertahunnya dengan 20% diantaranya dilakukan oleh para
remaja. Oleh karena itu, metode Pendidikan kesehatan reproduksi dan dan seksualitas
pada pemuda harus disesuaikan dengan tahap tumbuh kembang remaja. Pada usia remaja
dalam pembelajaran cenderung ingin tahu terhadap suatu hal. Metode pembelajaran yang
lebih sesuai adalah dengan metode diskusi untuk menerima suatu kesimpulan dan tidak
kaku secara penyampaian materi. Metode pembelajaran tersebut bertujuan supaya pesan
edukasi dapat diterima dan sesuai dengan tugas perkembangannya
Kata kunci: pendidikan, pemuda, kognitif proaktif

AB S T RACT
Reproductive health and sexuality education on youth is important. It is a necessary
part of the task of achieving growth and development in adolescents. Data issues
on reproductive health and sexuality deviation child shows increasing. Population
Census (2010) showed that adolescents aged 10-19 years amounted to 43.5 million
or 18% of the problems posed adolescent reproductive and sexual health. Data from
Ministry of Health in 2010 showed that almost half (47.8%), 3 cases of AIDS by age
was also occupied by the younger age group (20-29 years). This suggests that risky

123
JURNAL STUDI PEMUDA • Vol. 3, No. 2, September 2014
Taukhit, Pengembangan Edukasi Kesehatan Reproduksi dan Seksualitas Remaja ...

sexual behavior occurs in adolescence. Data from the Indonesian Planned Parenthood
Association (IPPA) states that 15% of Indonesian adolescents aged 10-24 years having a
sexual relationship outside marriage. Eighty-five percent of them do it at home with her
boyfriend. United Nations Population Fund (UNFP) and the National Family Planning
Coordinating Board (BKKBN) indicated the number of cases of abortion in Indonesia
reached 2.3 million annually with 20% of them by adults.
Education methods and reproductive health and sexuality in youth should be tailored
to the developmental stage of adolescence. During his youth in learning tend to want
to know about something. The learning method is more appropriate to the discussion
method to accept a conclusion and not rigid in the delivery of material. The learning
method aims to educational messages can be received and in accordance with the
development tasks.
Methods of cognitive-educational games is one of the proactive approach to repro-
ductive health and sexual education on youth. This educational game is done with the
participation of the discussion of the case of reproductive problems or irregularities
with the principle koginif-proactive. -Cognitive principle is proactive dilakuakan to
invite youth to participate mention positive and negative towards a reproductive health
and sexuality issues in youth proactively, to conclude the problem yourself if it’s good or
not done by the youth. The hope with this method is more pervasive and internalized for
youth education because according to the stage of development of the youth.
Keywords: education, youth, proactive cognitive

LATAR BELAKANG mencapai angka 28,4% dari kasus aborsi


Masa remaja merupakan masa transisi dari yang ada (BKKBN, 2008).
masa kanak-kanak menuju masa dewasa Sensus Penduduk 2010 memperlihatkan
yang ditandai dengan berbagai perubahan bahwa remaja yang berusia 10-19 tahun
baik fisik, psikis, maupun sosial. Berbagai berjumlah 43.5 juta atau 18% dari jumlah
perubahan tersebut dapat menimbulkan penduduk. Isu kesehatan reproduksi
persoalan-persoalan yang kemungkinan dan seksual remaja menjadi penting
dapat mengganggu perkembangan remaja bagi pembangunan nasional mengingat
selanjutnya. Diantara persoalan tersebut besarnya populasi penduduk remaja
yang dihadapi remaja adalah masalah tersebut dan dampak jangka panjang
kesehatan reproduksi. Menurut beberapa yang dapat ditimbulkan dari persoalan
penelitian yang dihimpun Badan Koordinasi kesehatan reproduksi dan seksual remaja.
Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Sementara, penduduk remaja kita saat ini
dari waktu ke waktu ternyata permasalahan masih rentan terhadap masalah kesehatan
kesehatan reproduksi yang dihadapi remaja reproduksi dan seksual, seperti perkawinan
semakin meningkat baik secara kuantitatif remaja, pengetahuan kesehatan reproduksi
maupun kualitatif. Berbagai jenis Penyakit dan seksual yang rendah, kehamilan di
Menular Seksual (PMS) makin banyak usia muda, kehamilan tidak diinginkan,
terjadi pada remaja. Bahkan perilaku seksual penyakit menular seksual seperti HIV dan
berisiko pun makin sering dilakukan oleh AIDS, aborsi yang tidak aman, maupun ke-
para remaja dan sangat disayangkan tidak kerasan berbasis gender. Berdasarkan Riset
sedikit remaja yang melakukan tindakan Kesehatan Dasar tahun 2010, sebanyak
aborsi atau pengguguran kandungan yang 41,9% usia perkawinan pertama berada

124
JURNAL STUDI PEMUDA • Vol. 3, No. 2, September 2014
Taukhit, Pengembangan Edukasi Kesehatan Reproduksi dan Seksualitas Remaja ...

pada kelompok usia 15-19 tahun, 33,6% perempuan dan 8% remaja laki-laki menye-
berada pada kelompok usia 20-24 tahun butkan membatasi jumlah pasangan (jangan
(Kemenkes, 2010). berganti-ganti pasangan seksual) sebagai
Data dari Kemenkes tahun 2010 me- cara menghindari HIV dan AIDS (BKKBN,
nunjukkan bahwa hampir separuh (47,8%), 2012). Sementara, data dari Kemenkes ta-
tiga kasus AIDS berdasarkan usia juga hun 2010 menunjukkan bahwa hampir se-
diduduki oleh kelompok usia muda (20- paruh (47,8%), (Kemenkes, 2010) kasus
29 tahun). Hal ini menunjukkan bahwa AIDS berdasarkan usia juga diduduki
perilaku seks berisiko terjadi pada usia oleh kelompok usia muda (20-29 tahun).
remaja. Data dari Perhimpunan Keluarga Hal ini menunjukkan bahwa perilaku seks
Berencana Indonesia (PKBI) menyebutkan berisiko terjadi pada usia remaja. Oleh ka-
bahwa 15% remaja Indonesia yang berusia rena itu, rendahnya pengetahuan tersebut
10-24 tahun telah melakukan hubungan menjadikan pendidikan kesehatan repro-
seksual diluar nikah. Delapan puluh lima duksi dan seksual penting untuk diberikan
persen diantaranya melakukannya di (Pakasi & Reni, 2013).
rumah dengan pacarnya. United Nation Pendidikan kesehatan reproduksi dan
Population Fund (UNPFA) dan Badan seksualitas pada pemuda merupakan hal
Koordinasi Keluarga Berencana Nasional yang penting. Hal tersebut merupakan ba-
(BKKBN) mensinyalir jumlah kasus aborsi gian yang diperlukan dalam pencapaian
di Indonesia mencapai 2,3 juta pertahunnya tugas tumbuh kembang pada remaja. Me-
dengan 20% diantaranya dilakukan oleh nurut Donovan (1998), pendidikan sek-
para remaja. Menurut beberapa penelitian sualitas memiliki tujuan utama untuk mem-
yang dihimpun Badan Koordinasi Keluarga berikan informasi kepada remaja untuk
Berencana Nasional (BKKBN), dari waktu memberdayakan mereka dalam membangun
ke waktu ternyata permasalahan kesehatan nilai dan keterampilan berelasi yang me-
reproduksi yang di hadapi remaja semakin mampukan mereka membuat keputusan
meningkat baik secara kuantitatif maupun yang bertanggung jawab untuk menjadi
kualitatif. Berbagai jenis Penyakit Menular orang dewasa yang sehat secara seksual.
Seksual (PMS) makin banyak terjadi pada Fine dan McClelland (2006 cit Pakasi &
remaja. (BKKBN, 2008: 1) Reni, 2013) menyatakan bahwa dalam pen-
Pengetahuan remaja tentang kesehatan didikan seksualitas perlu mendiskusikan
reproduksi remaja relatif masih rendah hasrat seksual agar siswa dapat membangun
sebagaimana ditunjukkan oleh hasil Survei subjektivitasnya dan tanggung jawabnya
Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia sebagai makhluk seksual. Hal ini berarti
tahun 2007. Sebanyak 13% remaja per- perlunya melihat remaja sebagai makhluk
empuan tidak tahu tentang perubahan seksual daripada menegasikan seksualitas
fisiknya dan hampir separuhnya (47,9%) mereka dalam memberikan pendidikan
tidak mengetahui kapan masa subur se- seksualitas. IPPF (2010 cit Pakasi & Reni,
orang perempuan (Kemenkes, 2010). Hal 2013) menawarkan konsep pendidikan sek-
yang memprihatinkan, pengetahuan re- sualitas yang komprehensif berbasiskan
maja tentang cara paling penting untuk hak yang ditujukan agar remaja memiliki
menghindari infeksi HIV masih terbatas. pengetahuan, keterampilan, sikap, dan
Hanya 14% remaja perempuan dan 95% nilai-nilai yang mereka butuhkan untuk
remaja laki-laki menyebutkan pantang menentukan dan menikmati seksualitas
berhubungan seks, 18% remaja perempuan mereka baik secara fisik maupun psikis,
dan 25% remaja laki-laki menyebutkan secara individual maupun dalam berelasi.
menggunakan kondom serta 11% remaja Dalam kerangka pendidikan IPPF tersebut,

125
JURNAL STUDI PEMUDA • Vol. 3, No. 2, September 2014
Taukhit, Pengembangan Edukasi Kesehatan Reproduksi dan Seksualitas Remaja ...

pemberian informasi saja tidaklah cukup, nyakit menular seksual dan jenis-jenisnya,
remaja perlu diberikan kesempatan agar cara mengatasi gejolak seksual remaja,
dapat mengembangkan keterampilan untuk pengertian dan makna seksualitas, serta ni-
membangun sikap dan nilai yang positif lai-nilai seksual pria dan wanita.
terhadap seksualitas mereka. Menurut Purnama, ada dua faktor me-
Berdasarkan hal tersebut diatas maka ngapa pendidikan seks sangat penting bagi
sangat diperlukan adanya pendidikan seks remaja. Faktor pertama adalah di mana
yang benar bagi remaja. Pendidikan seks anak-anak tumbuh menjadi remaja, mereka
yang tentu saja bertujuan untuk mem- belum paham dengan pendidikan seks,
bimbing dan menjelaskan tentang per- sebab orang tua masih menganggap bahwa
ubahan fungsi organ seksual sebagai tahap- membicarakan mengenai seks adahal hal
an yang harus dilalui dalam kehidupan ma- yang tabu. Sehingga dari ketidakpahaman
nusia disertai dengan penanaman nilai-nilai tersebut para remaja merasa tidak ber-
seksualitas itu sendiri (Yuniarti, 2007). tanggung jawab dengan seks atau kesehatan
anatomi reproduksinya.
Faktor kedua, dari ketidakpahaman re-
TINJUAN PUSTAKA maja tentang seks dan kesehatan anatomi
Proses pendidikan yaitu proses dimana reproduksi mereka, di lingkungan sosial
pendidik dengan sengaja dan penuh tang- masyarakat, hal ini ditawarkan hanya
gung jawab memberikan pengaruh kepada sebatas komoditas, seperti media-media
anak didik, demi kebahagiaan anak didik. yang menyajikan hal-hal yang bersifat
Proses ini terjadi dalam suatu situasi yang pornografi, antara lain, VCD, majalah,
menyangkut banyak sekali hal, seperti internet, bahkan tayangan televisi pun saat
pergaulan antara pendidik dan anak didik, ini sudah mengarah kepada hal yang seperti
tujuan yang akan dicapai, materi yang di- itu. Dampak dari ketidakpahaman remaja
berikan dalam proses itu, sarana yang di- tentang pendidikan seks ini, banyak hal
pakai, lingkungan yang menjadi ajang pro- negatif terjadi, seperti tingginya hubungan
ses itu, dan sebagainya (Suryabrata, 2008). seks di luar nikah, kehamilan yang tidak
Pendidikan seks adalah proses dimana diinginkan, penyakit menular seksual dan
fasilitator dengan sengaja dan penuh tang- sebagainya.
gung jawab memberikan pengaruh yang
positif kepada peserta pendidikan seks,
dengan tujuan agar peserta pendidikan seks PEMBAHASAN
dapat mengerti dan memahami materi-ma-
teri yang diberikan dalam pendidikan seks. 1. Gagasan Metode Game Kognitif
Ini mencakup tentang perubahan-perubahan Proaktif
yang terjadi ketika memasuki masa remaja Keadaan tersebut menunjukkan bahwa
(perubahan fisik, psikologis, dan sosial), betapa remaja membutuhkan bantuan guna
latar belakang diperlukannya pendidikan menyelesaikan permasalahan-permasalahan
seks bagi remaja, tantangan menuju ke- kesehatan reproduksi yang dihadapinya
sejahteraan seksual remaja, organ-organ melalui pengambilan keputusan yang tepat
seksual pria dan wanita, fertilisasi (pem- sehingga tidak merugikan dirinya maupun
buahan), perkembangan janin, bentuk- masa depannya. Salah satu upaya yang da-
bentuk perilaku seksual remaja, akibat-aki- pat dilakukan untuk membantu remaja me-
bat yang dapat ditimbulkan dengan me- nyelesaikan masalah-masalah kesehatan
lakukan perilaku seks bebas, penyakit-pe- reproduksi yang dihadapinya adalah me-

126
JURNAL STUDI PEMUDA • Vol. 3, No. 2, September 2014
Taukhit, Pengembangan Edukasi Kesehatan Reproduksi dan Seksualitas Remaja ...

lalui pendidikan kesehatan reproduksi yang metode ini lebih mengena dan diinternalisasi
biasanya disebut konseling. (dimaknai) bagi pendidikan remaja karena
Dalam upaya membantu remaja me- sesuai dengan tahapan tumbuh kembang
miliki pengetahuan, sikap dan perilaku yang pemuda.
bertanggung jawab terhadap kesehatan Pendidikan kesehatan reproduksi yang
reproduksinya, maka kegiatan konseling dilakukan dengan metode kognitif dan
sebagai bagian dari operasional program proaktif lebih menekankan bagaimana da-
kesehatan reproduksi remaja merupakan lam kegiatan pembelajaran remaja diajak
kegiatan yang sangat strategis. Seperti di- untuk berpartisipasi atau terlibat aktif (ra-
ketahui bahwa remaja merupakan masa labil nah proaktif) mengutarakan pendapatnya
yang akan mengalami perubahan psikologis, tentang suatu topik (ranah kognitif), sampai
dari menghadapi masalah-masalah ringan remaja tersebut dapat menyimpulkan sen-
saat masih kanak-kanak beralih ke masalah- diri apakah permasalahan tersebut baik
masalah yang lebih rumit ketika menginjak atau tidak bagi seorang remaja. Metode
masa remaja. Oleh karena itu remaja ini dirasakan lebih efektif dibandingkan
harus mendapatkan pelayanan konseling pendidikan kesehatan reproduksi melalui
kesehatan reproduksi remaja, khususnya metode ceramah di kelas yang hanya
dalam menghadapi keadaan psikologisnya berjalan satu arah. Pendidikan kesehatan
yang labil (Dianawati, 2006). reproduksi metode kognitif-proaktif dapat
Metode pendidikan kesehatan repro- dilakukan antar teman sebaya atau pun
duksi dan seksualitas pada pemuda harus dengan seorang fasilitator. Berikut ini
disesuaikan dengan tahap tumbuh kem- penjelasan dari pendidikan kesehatan repro-
bang remaja. Pada usia remaja dalam pem- duksi dengan metode kognitif-proaktif:
belajaran cenderung ingin tahu terhadap 1. Lingkup edukasi: pendidikan kesehatan
suatu hal. Metode pembelajaran yang lebih reproduksi dengan metode kognitif-
sesuai adalah dengan metode diskusi untuk proaktif dapat dilakukan secara ter-
menerima suatu kesimpulan dan tidak struktur di pendidikan formal ataupun
kaku secara penyampaian materi. Metode di kegiatan pendidikan non formal misal
pembelajaran tersebut bertujuan supaya karang taruna dan kegiatan pemuda
pesan edukasi dapat diterima dan sesuai lainnya.
dengan tugas perkembangannya. 2. Fasilitator: pendidikan kesehatan re-
Metode edukasi game kognitif-proaktif produksi dengan metode kognitif-pro-
merupakan salah satu cara pendekatan edu- aktif sebagai fasilitatornya dapat dari
kasi kesehatan reproduksi dan seksualitas teman sebaya (peer group), guru, pen-
pada remaja. Edukasi ini dilakukan dengan didik ataupun profesional konseling
permainan partisipasi diskusi satu kasus kesehatan reproduksi.
tentang permasalahan reproduksi atau pe- 3. Sasaran: pendidikan kesehatan repro-
nyimpangan seksual dengan prinsip kog- duksi dengan metode kognitif-proaktif
nitif-proaktif. Prinsip kognitif-proaktif sebagai sasarannya dapat dilakukan
dilakukan dengan mengajak remaja ber- pada individu ataupun kelompok
partisipasi menyebutkan hal postif dan ne- (group).
gatif terhadap suatu masalah kesehatan re- 4. Metode: pendidikan kesehatan repro-
produksi dan seksualitas pada remaja se- duksi dengan metode kognitif-proaktif
cara proaktif, sampai bisa menyimpulkan dilakukan dengan cara game edukasi
sendiri masalah tersebut itu baik atau tidak partisipasi melibatkan sasaran dengan
jika dilakukan oleh pemuda. Harapannya, fasilitator dalam pembahasan suatau

127
JURNAL STUDI PEMUDA • Vol. 3, No. 2, September 2014
Taukhit, Pengembangan Edukasi Kesehatan Reproduksi dan Seksualitas Remaja ...

permasalahan kesehatan reproduksi e. Fasilitator meminta sasaran untuk


(sharing dua arah). menyebutkan hal positif dan negatif
5. Tahapan pelaksanaan: pendidikan ke- dari topik permasalahan tersebut jika
sehatan reproduksi dengan metode dilakukan oleh seorang pemuda.
kognitif-proaktif dalam pelaksanaanya f. Sasaran menggali terus menerus
tahapan-tahapannya sebagai berikut: konsekuensi dari masing-masing
a. Fasilitator dan sasaran menyiapkan cabang hal postif dan negatif tersebut
diri untuk melakukan permainan sampai tidak dapat diuraikan lagi.
edukasi. g. Fasilitator meminta sasaran untuk
b. Fasilitator menyiapkan media tulis menyimpulkan dan memaknai apa-
(kertas/papan tulis dan alat tulis). kah topik yang dibahas tadi tepat
c. Fasilitator menjelasakan tentang dilakukan oleh pemuda atau tidak.
game pendidikan kesehatan repro- h. Fasilitator memberikan pemaknaan.
duksi dengan metode kognitif-pro-
aktif kepada sasaran. Simulasi dari pendidikan kesehatan re-
d. Fasilitator melontarkan satu topik produksi dengan metode kognitif-proaktif
permasalahan reproduksi pada re- tampak pada Gambar 1.
maja.

Gambar 1

128
JURNAL STUDI PEMUDA • Vol. 3, No. 2, September 2014
Taukhit, Pengembangan Edukasi Kesehatan Reproduksi dan Seksualitas Remaja ...

2. Pendidikan Reproduksi dalam mampuan individu menyerap informasi


Kerangka Tumbuh Kembang melalui indera pendengaran sangat terbatas.
Masa remaja adalah periode transisi Menurut Mevsin (2009) dalam Maolinda,
antara masa anak dan masa dewasa (Potter peer educator adalah suatu alat pendidikan
& Perry). Menurut teori Erikson, remaja yang paling efektif untuk remaja. Hasil
berada pada krisis identitas diri, dimana re- penelitian parwej (2005) dalam Maolinda
maja mulai memiliki keinginan untuk me- menyatakan bahwa peer educator adalah
nonjolkan identitas dirinya. Remaja ber- strategi konvensional yang efektif dalam
usaha melepaskan diri dari otoritas orang peningkatan pengetahuan kesehatan
tua dengan menemukan jati diri. Kondisi reproduksi remaja. Peer educator
tersebut membuat remaja sangat rentan ter- bermanfaat untuk mengurangi rasa malu
hadap pengaruh teman dalam minat, sikap, dan segan yang ada dalam diri remaja
penampilan dan perilaku. dan mampu mengubah sikap remaja yang
rendah terhadap hal-hal yang berhubungan
Pada proses pencarian jati diri, remaja
dengan seksualitas, HIV/AIDS, dan napza
sering memanifestasikan perilaku yang
(Suzuki, et. all. dalam Maolinda dkk.)
mengandung risiko dan berdampak negatif
Menginjak masa puber, seorang remaja
bagi dirinya. Selain dari itu, remaja beri-
akan mengalami perkembangan kognitif
siko tinggi terhadap terjadinya kasus yang
atau kemampuan berpikir. Perkembangan
berhubungan dengan penyimpangan peri-
kognitif remaja, dalam pandangan Jean
laku seksual. Kematangan organ reproduksi
Piaget (seorang ahli perkembangan kog-
dan perkembangan psikologis remaja yang
nitif) merupakan periode terakhir dan ter-
mulai menyukai lawan jenisnya serta arus
tinggi dalam tahap pertumbuhan operasi
media informasi baik elektronik maupun
formal (period of formal operations).
non elektronik sangat berpengaruh terhadap
Idealnya, seorang remaja sudah mempunyai
perilaku seksual remaja (Maolinda). Pen-
pola pikir sendiri. Di antaranya yang bisa
didikan kesehatan adalah behavioral
digambarkan yaitu:
investment jangka panjang sebagai suatu pro-
ses perubahan perilaku pada diri sesorang. a. Mulai bisa berpikir logis tentang
Dalam waktu yang pendek (immediate suatu gagasan yang abstrak
impact) pendidikan kesehatan hanya meng- b. Mulai bisa membuat rencana, stra-
hasilkan perubahan atau peningkatan pe- tegi, membuat keputusan, meme-
ngetahuan (Notoadmodjo, 2010). Penge- cahkan masalah serta mulai me-
tahuan merupakan faktor kekuatan terjadi- mikirkan masa depan.
nya perubahan sikap. Pengetahuan dan c. Muncul kemampuan nalar secara
sikap akan menjadi landasan terhadap ilmiah dan belajar menguji hipotesis
pembentukan moral remaja sehingga dalam atau permasalahan.
diri seseorang idealnya ada keselarasan d. Belajar berinstropeksi diri.
yang terjadi antara pengetahuan dan sikap, e. Wawasan berpikirnya semakin luas,
dimana sikap terbentuk setelah terjadi bisa meliputi agama, keadilan, mo-
proses tahu terlebih dahulu (Suryani, 2006). ralitas, jati diri atau identitas.
Menurut Tarigan (2010), metode diskusi Para remaja tidak lagi menerima in-
kelompok lebih efektif dalam meningkatkan formasi apa adanya, tapi juga akan meng-
pengetahuan tentang kesehatan reproduksi adaptasi informasi tersebut dengan pemi-
pada remaja dibandingkan dnegan metode kirannya sendiri (Mayangsari, 2012). Pen-
ceramah. Porter dan Kemacki dalam Sur- didikan kesehatan reproduksi pada remaja
yani (2006) juga menyatakan bahwa ke- dengan metode kognitif proaktif dirasa

129
JURNAL STUDI PEMUDA • Vol. 3, No. 2, September 2014
Taukhit, Pengembangan Edukasi Kesehatan Reproduksi dan Seksualitas Remaja ...

menjadi salah satu pendekatan yang mudah teman sebaya memiliki pengetahuan kese-
untuk meningkatkan pengetahuan tentang hatan reproduksi yang memadai, me-
kesehatan reproduksi. Dalam metode ter- reka akan memberikan pengetahuan ini
sebut, remaja tidak hanya menerima infor- kepadanya temannya Dianawati, 2006).
masi satu arah saja akan tetapi secara pro- Transfer pengetahuan ini mempunyai ha-
aktif dilibatkan untuk merumuskan suatu rapan agar mereka dapat mempengaruhi
permasalahan yang ada, sehingga akan lebih temannya untuk mengambil keputusan yang
mudah untuk dipahami dan dimengerti. Hal sehat dan bertanggung jawab serta mampu
tersebut disebabkan karena remaja ikut melakukan kontrol. Sebaliknya, apabila
terlibat dalam membangunn suasana pem- pengetahuan remaja tentang kesehatan
belajaran. Selain itu pendidikan kesehatan reproduksi rendah, yang beredar di kalangan
reproduksi pada remaja dengan metode remaja adalah informasi yang tidak dapat
kognitif proaktif dapat dioptimalkan me- dipertanggungjawabkan, termasuk mitos-
lalui kegiatan peer group. mitos yang berkaitan dengan kesehatan
Dalam konteks peer groups, pendidikan reproduksi yang cenderung menyesatkan.
kesehatan dilakukan melalui pendidik teman Dalam konteks kehidupan remaja, peer
sebaya (peer educator). Pendidik sebaya group merupakan institusi sosial kedua
adalah orang yang menjadi narasumber setelah keluarga yang mempunyai peranan
bagi kelompok sebayanya. Mereka adalah sangat penting bagi kehidupan remaja.
orang yang aktif dalam kegiatan sosial di Didalam peer group, terjadi proses be-
lingkungannya, misalnya di karang taruna, lajar sosial, yaitu individu mengadopsi ke-
Pramuka, OSIS, pengajian, PKK, dan se- biasaan, sikap, ide, keyakinan, nilai-nilai
bagainya, yang mampu menjalankan peran- dan pola tingkah laku dalam masyarakat,
nya sebagai komunikator bagi kelompok serta mengembangkannya menjadi kesatuan
sebayanya (BKKBN ,2002). Pendidikan sistem dalam dirinya. Selain itu, mereka juga
kesehatan reproduksi remaja oleh peer bebas mengekspresikan sikap, penilaian,
educator diyakini memiliki nilai efektifitas serta sikap kritisnya dan belajar mendalami
yang tinggi karena mereka menggunakan hubungan yang sifatnya personal.
bahasa yang kurang lebih sama sehingga
informasi mudah dipahami oleh teman
sebayanya (Imron, 2012). Teman sebaya PENUTUP
juga mudah untuk mengemukakan pikiran Pendidikan reproduksi pada remaja me-
dan perasaannya di hadapan peer educator. rupakan hal yang penting untuk diberikan.
Melalui peer educator, pesan-pesan sen- Apalagi dengan semakin meningkatnya
sitif dapat disampaikan secara lebih ter- penyimpangan dan masalah seksual dan
buka dan santai sehingga pengetahuan re- reproduksi pada remaja, seperti seks bebas,
maja, terutama masalah seksualitas dan abortus, dan penyakit menular seksual
kesehatan reproduksi, banyak diperoleh (PMS). Pendidikan reproduksi pada remaja
di kalangan remaja dan harapannya dapat perlu disesuaikan dengan perkembangan
mempengaruhi sikap dan perilaku seksual pada remaja. Pada usia remaja dalam
remaja yang terkontrol dan bertanggung pembelajaran cenderung ingin tahu
jawab serta tidak melanggar norma yang terhadap suatu hal. Metode pembelajaran
berlaku di masyarakat, baik norma agama, yang lebih sesuai adalah dengan metode
norma kesusilaan maupun norma hukum diskusi untuk menerima suatu kesimpulan
(Imron, 2012). dan tidak kaku secara penyampaian materi.
Pengetahuan reproduksi pada remaja Metode pembelajaran tersebut bertujuan
sangat efektif dalam mempengaruhi dan supaya pesan edukasi dapat diterima dan
dipengaruhi oleh teman sebaya. Apabila sesuai dengan tugas perkembangannya.

130
JURNAL STUDI PEMUDA • Vol. 3, No. 2, September 2014
Taukhit, Pengembangan Edukasi Kesehatan Reproduksi dan Seksualitas Remaja ...

Pendidikan kesehatan reproduksi dengan Suryabrata, S. 1998. Psikologi Pendidikan. Ja-


metode kognitif dan proaktif lebih me- karta: PT Raja Grafindo Persada.
nekankan bagaimana dalam kegiatan pem- Suryani, N., Rahayuwati, L., Ida Kosasih,
belajaran remaja diajak untuk berpartisipasi C. 2006. “Hubungan antara penge-
atau terlibat aktif (ranah proaktif) meng- tahuan tentang Pencegahan HIV/
utarakan pendapatnya tentang suatu topik AIDS dengan sikap remaja terhadap
(ranah kognitif), dilihat dari aspek po- pencegahan HIV/AIDS di SMU Pa-
sitif dan negatifnya akibat yang akan di- sundan Bandung”. Jurnal Kepe-
timbulkan sampai remaja tersebut dapat rawatan UNPAD. Vol 8 No.XIV.
menyimpulkan sendiri apakah perma- Tarigan, A. 2010. Efektivitas Metode Ceramah
salahan tersebut baik atau tidak bagi se- dan Diskusi Kelompok terhadap Pe-
orang remaja. Metode ini dirasakan lebih ngetahuan dan Sikap tentang Ke-
efektif dibandingkan pendidikan kesehatan sehatan Reproduksi pada Remaja di
reproduksi yang hanya melalui metode Yayasan Pendidikan Harapan Mekar
ceramah di kelas yang hanya berkalan satu Medan. Respiratory Disertasi Uni-
arah. Pendidikan kesehatan reproduksi me- versitas Sumatera Utara. Medan.
tode kognitif-proaktif dapat dilakukan antar Yuniarti, Debi. 2007. Pengaruh Pendidikan Seks
teman sebaya, peer group, ataupun dengan Terhadap Sikap Mengenai Seks Pra-
seorang fasilitator. nikah Pada Remaja. Jakarta: Fakultas
Psikologi, Universitas Gunadarma.

Laman
DAFTAR PUSTAKA Badan Penelitian dan Pengembangan Kese-
Dianawati, Ajen. 2006. Pendidikan Seks Untuk hatan Kementerian Kesehatan RI
Remaja. Jakarta: PT. Kawan Pustaka. Tahun 2010. 2010. Riset Kesehatan
Ditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Dasar (RISKESDAS). (online) <http://
Lingkungan, Kemenkes RI, 2010. www.riskesdas.litbang.depkes.go.id/
download/TabelRiskesdas2010.pdf>
Donovan P. School-based sexuality education:
diakses pada 27 September 2014
the issues and challenges. Family
Planning Perspectives 1998; 30, 4: Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana
188-193 Nasional (BKKBN). 2012. Genre
Goes To School: Yang Muda Harus
Maolinda, Nisa; Aat, S., Ida.,M. Hubungan
Berencana. (online). <http://www.
Pengetahuan dengan Sikap Siswa ter-
bkkbn.go.id/_layouts/mobile/
hadap Pendidikan Kesehatan Repro-
dispform.aspx?List=f933abed-
duksi Remaja Di SMAN 1 Margahayu.
2814-4155-9570ed3d2276b169&
Fakultas Ilmu Keperawatan Univer-
View=752bdf84-8082-49ce-8654-
sitas Padjajaran. Bandung
7d312f11c5db&ID=7 > diakses pada
Notoadmodjo, S. 2010. Promosi Kesehatan Teori 27 September 2014.
dan Aplikasi. Jakarta: Rineka Cipta.
__________. 2006. Pendidikan Seks dan
Pakasi, Diana T & Reni.K. 2013. Antara Kebu-
Orang Tua. BKKKBN.go.id.
tuhan dan Tabu: Pendidikan Sek-
sualitas dan Kesehatan Reproduksi Mayangsari, 2012. Perkembangan kog-
bagi Remaja di SMA. Makara Seri nitif pada remaja. (online).
Kesehatan, 2013, 17(2): 79-87. <http://mayangsari33.blogspot.
Potter dan Perry. 2009. Fundamental of Nursing com/2012/12/perkembangan-
Buku I Edisi 7. Jakarta: Salemba Medika. kognitif-pada-remaja.html>,
Survei Kesehatan Reproduksi Remaja, Ke- diakses pada 27 September 2014.
menkes RI, 2007.

131
JURNAL STUDI PEMUDA • Vol. 3, No. 2, September 2014