Anda di halaman 1dari 15

Jangan Meremehkan Orang Lain

Nur Fitri Hadi, MA

October 25, 2018

Akhlak dan Muamalah

Khutbah Pertama:

ِ‫ َونَعُ ْوذُ ِباهلل‬، ‫ب ِإلَ ْي ِه‬ُ ‫ست َ ْغ ِف ُر ُه َونَت ُ ْو‬


ْ َ‫ست َ ِع ْينُهُ َون‬
ْ َ‫ِإ َّن ال َح ْم َد ِ ََّلِلِ نَ ْح َم ُد ُه َون‬
‫ َم ْن يَ ْه ِد ِه هللاُ فَ ََل ُم ِض َّل لَهُ َو َم ْن‬، ‫ت أ َ ْع َما ِلنَا‬ َ ‫سنَا َو‬
ِ ‫س ِيِّئَا‬ ِ ُ‫ِم ْن ش ُُر ْو ِر أ َ ْنف‬
، ُ‫ش َه ُد أ َ ْن ََل إِلَهَ إِ ََّل هللاُ َو ْح َدهُ ََل ش َِر ْي َك لَه‬ ْ َ ‫ َوأ‬، ُ‫ِي لَه‬ َ ‫ض ِل ْل فَ ََل َهاد‬ ْ ُ‫ي‬
‫علَى آ ِل ِه‬
َ ‫علَ ْي ِه َو‬
َ ‫سلَّ َم‬
َ ‫صلَّى هللاُ َو‬ َ ‫س ْولُهُ ؛‬ ُ ‫ع ْب ُد ُه َو َر‬َ ً ‫ش َه ُد أ َ َّن ُم َح َّمدا‬ ْ َ ‫َوأ‬
‫ص ْح ِب ِه أ َ ْج َم ِع ْي َن‬َ ‫َو‬

َ‫ اِتَّقُ ْوا هللاَ ؛ فَ ِإ َّن َم ِن اتَّقَى هللا‬: ِ‫ش َر ال ُم ْؤ ِم ِن ْي َن ِعبَا َد هللا‬ِ ‫أ َ َّما بَ ْع ُد َمعَا‬
َ ‫َوقَاهُ َوأ َ ْر‬
ُ‫ش َدهُ إِلَى َخ ْي ِر ِد ْينِ ِه َو ُد ْنيَاه‬
Kaum muslimin,

Khotib mewasiatkan kepada diri khotib pribadi dan jamaah sekalian agar
senantiasa bertakwa kepada Allah. Karena orang-orang bertakwalah yang akan
sukses di dunia dan di akhirat.

Ibadallah,

Sesungguhnya di antara penyakit hati yang sangat berbahaya dibanding


penyakit-penyakit hati yang lainnya. Penyakit hati yang tidak hanya diidap oleh
ibli, tidak hanya diderita oleh para pendosa, bahkan orang-orang Islam pun
ditimpa penyakit ini. Penyakit yang sangat buruk ini adalah penyakit
kesombongan. Dalam sebuah hadits dari sahabat Abdullah bin Mas’ud
radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‫ قَا َل َر ُج ٌل ِإ َّن‬.‫َان فِى قَ ْلبِ ِه ِمثْقَا ُل ذَ َّر ٍة ِم ْن ِك ْب ٍر‬ َ ‫قَا َل َلَ يَ ْد ُخ ُل ا ْل َجنَّةَ َم ْن ك‬
َّ ‫ ِإ َّن‬: ‫ قَا َل‬.ً‫سنَة‬
‫َّللاَ َج ِمي ٌل‬ َ ‫سنًا َونَ ْعلُهُ َح‬ َ ‫ُون ث َ ْوبُهُ َح‬ َ ‫ب أ َ ْن يَك‬ ُّ ‫الر ُج َل يُ ِح‬
َّ
‫اس‬ ِ َّ‫ط الن‬ ُ ‫غ ْم‬
َ ‫ق َو‬ ِ ِّ ‫ب ا ْل َج َما َل ا ْل ِك ْب ُر بَ َط ُر ا ْل َح‬ُّ ‫يُ ِح‬.
“Tidak akan masuk surga orang yang ada kesombongan seberat biji sawi di
dalam hatinya.” Seorang laki-laki bertanya, “Sesungguhnya semua orang senang
bajunya bagus, sandalnya bagus, (apakah itu kesombongan?”) Beliau
Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Sesungguhnya Allâh Maha Indah dan
menyintai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan
merendahkan orang lain”. [HR. Muslim].

Kaum muslimin yang dirahmati Allah,

Dalam hadits ini disebutkan bahwa kesombongan akan menghalangi seseorang


dari masuk surga. Walaupun kadarnya hanya sebesar dzarrah. Dzarrah dalam
bahasa Arab diartikan dalam beberapa makna. Di antara artinya adalah semut
kecil. Semut kecil kalau kita letakkan di timbangan, sangat ringan sekali,
bahkan beratnya hampir tak berarti bagi kita. Ada lagi yang menafsirkan bahwa
dzarrah adalah apabila seseorang menepukkan tangannya di tanah, kemudian dia
bersihkan, maka akan tersisa butiran-butiran debu di tangannya. Nah dzarrah
adalah sekadar satu butiran debu tersebut. Tafsiran yang lain menyatakan,
apabila seseorang membuka jendela rumahnya, ia akan melihat ada partikel-
partikel debu yang berterbangan. Itulah yang dimaksud dengan dzarrah. Yang
seandainya ditimbang harus menggunakan timbangan khusus. Dan beratnya pun
tidak berarti bagi kita.

Kalau kita renungkan, seseorang yang memiliki kesombongan dengan kadar


tersebut, kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dia tidak akan masuk surga.
Apalagi kalau kesombongan tersebut sebesar batu. Apalagi kalau sebesar
gunung. Apalagi kalau dadanya penuh dengan kesombongan.

Sewaktu Nabi ditanyakan tentang kesombongan, beliau menggambarkan


bagaiman ekspresi nyata dari kesombongan tersebut.

ُ ‫غ ْم‬
ِ َّ‫ط الن‬
‫اس‬ ِ ِّ ‫ا ْل ِك ْب ُر بَ َط ُر ا ْل َح‬
َ ‫ق َو‬
“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.”

Ibadallah,

Pada khotbah yang singkat ini, khotib hendak membahas tentang permasalahan
meremehkan orang lain. Apabila seseorang mendapati pada dirinya perasaan
meremehkan dan merendahkan orang lain. Hendaklah ia waspada. Karena ini
adalah indikator atau tanda yang kuat bahwa ia sedang terjangkiti penyakit
kesombongan.

Dalam sebuah hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


َ‫علَى أ َ َح ٍد َوَل‬
َ ‫ضعُوا َحتَّى َلَ يَ ْف َخ َر أ َ َح ٌد‬
َ ‫َّللاَ أ َ ْو َحى إِلَ َّى أ َ ْن ت َ َوا‬
َّ ‫َوإِ َّن‬
‫علَى أ َ َح ٍد‬
َ ‫يَ ْب ِغى أ َ َح ٌد‬
“Dan sesungguhnya Allah mewahyukan padaku untuk memiliki sifat tawadhu.
Janganlah seseorang menyombongkan diri (berbangga diri) dan menzalimi yang
lain.” [HR. Muslim].

Hadits ini adalah petunjuk yang jelas jangan sampai seseorang merasa sombong
dan lebih dibanding muslim yang lain. Dan hadits ini menuntunkan untuk
bersifat tawadhu (rendah hati) yang merupakan kebalikan dari sombong.

Dalam hadits yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‫ض ُك ْم‬ ُ ‫ضوا َو ََل تَدَابَ ُروا َو ََل يَ ِب ْع بَ ْع‬ َ ‫سدُوا َو ََل تَنَا َجشُوا َو ََل تَبَا‬
ُ ‫غ‬ َ ‫ََل ت َ َحا‬
‫ المسلم اخو المسلم ََل‬.‫َّللاِ إِ ْخ َوانًا‬ َّ ‫ض َوكُونُوا ِعبَا َد‬ ٍ ‫علَى بَ ْي ِع بَ ْع‬ َ
‫صد ِْر ِه‬ َ ‫ِير ِإلَى‬ ُ ‫ التقوى ها هنا – َويُش‬. ‫يَ ْظ ِل ُمهُ َو ََل يَ ْخذُلُهُ َو ََل يَ ْح ِق ُر ُه‬
ْ ‫ام ِر ٍئ ِم ْن الش ِ َِّّر أ َ ْن يَ ْح ِق َر أ َ َخاهُ ا ْل ُم‬
‫ ُك ُّل‬، ‫س ِل َم‬ ْ ‫ت – بحسب‬ ٍ ‫ث َم َّرا‬ َ ‫ث َ ََل‬
‫ضهُ ) رواه مسلم‬ ُ ‫س ِل ِم َح َرا ٌم َد ُمهُ َو َمالُهُ َو ِع ْر‬ْ ‫علَى ا ْل ُم‬ َ ‫س ِل ِم‬ ْ ‫ا ْل ُم‬
2564() .
“Jangan saling dengki, jangan saling menipu, jangan saling marah dan jangan
saling memutuskan hubungan. Jangan kalian menjual sesuatu yang telah dijual
kepada orang lain. Jadilah kamu semua hamba Allah yang bersaudara. Seorang
muslim itu saudara muslim lainnya, jangan menzalimi, mencela, dan
menghinanya. Takwa itu disini –seraya menunjuk ke dadanya tiga kali-
Cukuplah seorang muslim dikatakan buruk, jika dia menghina saudaranya
muslim. Setiap Muslim atas muslim lainnya itu diharamkan darah, harta dan
kehormatannya.” [HR. Muslim].

Ibadallah,

Perhatikan sabda Nabi, “Dan jangan menghinanya. Takwa itu disini –seraya
menunjuk ke dadanya tiga kali”. Ada dua penafsiran tentang lafadz ini. Pertama,
seakan-akan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan, mengapa engkau
meremehkan dan merendahkan orang lain? Padahal yang menjadi ukuran
kedudukan seseorang di sisi Allah adalah ketakwaan yang ada di hati. Tidak ada
seorang pun yang mengetahui isi hati orang lain, kecuali Allah Subhanahu wa
Ta’ala. Mengapa engkau merendahkannya, apakah engkau lebih bertakwa
daripada dia? Mungkin engkau melihat amalan zahirnya, tapi kau tak tahu
bagaimana isi hatinya.

Bisa jadi amalan zahir seseorang kurang di mata yang lainnya, tapi hatinya lebih
ikhlas, jauh dari berbangga dan ingin dipuji. Hatinya lebih takwa dan takut
kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Artinya seseorang tak bisa menyatakan
bahwa dia lebih baik dari yang lain.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahihnya
dari Sahl bin Saad, ia berkata,
‫لر ُج ٍل ِع ْن َد ُه‬ َ ‫سلَّ َم فَقَا َل‬
َ ‫علَ ْي ِه َو‬ َّ ‫صلَّى‬
َ ُ‫َّللا‬ َ ِ‫َّللا‬
َّ ‫سو ِل‬ ُ ‫علَى َر‬ َ ‫َم َّر َر ُج ٌل‬
‫ي‬ٌّ ‫َّللاِ َح ِر‬ َّ ‫اس َهذَا َو‬ ِ َّ‫اف الن‬ِ ‫َجا ِل ٍس َما َرأْيُ َك فِي َهذَا فَقَا َل َر ُج ٌل ِم ْن أَش َْر‬
‫صلَّى‬ َ ِ‫َّللا‬ َّ ‫سو ُل‬ ُ ‫سكَتَ َر‬ َ َ‫شفَّ َع قَا َل ف‬ َ ُ‫شفَ َع أ َ ْن ي‬َ ‫ب أ َ ْن يُ ْن َك َح َو ِإ ْن‬َ ‫ِإ ْن َخ َط‬
‫علَ ْي ِه‬ َ ُ‫َّللا‬َّ ‫صلَّى‬ َ ِ‫َّللا‬َّ ‫سو ُل‬ ُ ‫سلَّ َم ث ُ َّم َم َّر َر ُج ٌل آ َخ ُر فَقَا َل لَهُ َر‬َ ‫علَ ْي ِه َو‬َ ُ‫َّللا‬
َّ
ِ ‫َّللاِ َهذَا َر ُج ٌل ِم ْن فُقَ َر‬
‫اء‬ َّ ‫سو َل‬ ُ ‫سلَّ َم َما َرأْيُ َك فِي َهذَا فَقَا َل يَا َر‬ َ ‫َو‬
‫شفَّ َع َوإِ ْن‬ َ ُ‫شفَ َع أ َ ْن ََل ي‬ َ ‫ب أ َ ْن ََل يُ ْن َك َح َوإِ ْن‬ َ ‫ي إِ ْن َخ َط‬ ٌّ ‫ين َهذَا َح ِر‬ ْ ‫ا ْل ُم‬
َ ‫س ِل ِم‬
‫سلَّ َم َهذَا‬ َ ‫علَ ْي ِه َو‬ َّ ‫صلَّى‬
َ ُ‫َّللا‬ َ ِ‫َّللا‬ َّ ‫سو ُل‬ ُ ‫س َم َع ِلقَ ْو ِل ِه فَقَا َل َر‬ْ ُ‫قَا َل أ َ ْن ََل ي‬
‫ض ِمثْ َل َهذَا‬ ِ ‫َخ ْي ٌر ِم ْن ِم ْل ِء ْاْل َ ْر‬
Ada seorang laki-laki melewati Rasulullah ‫ﷺ‬, lalu beliau berkata kepada orang
yang duduk di dekat beliau, “Apa pendapat kalian dengan laki-laki ini”? Ia
menjawab, “Ia seorang yang terpandang di kalangan manusia. Ini, demi Allah,
sudah pantas bila melamar, pasti akan diterima, dan bila dimintai bantuan pasti
akan dibantu.” Nabi ‫ ﷺ‬diam. Beberapa saat kemudian, lewatlah seorang laki-
laki lain, lalu Rasulullah ‫ ﷺ‬bertanya kepadanya, “Apa pendapatmu dengan
orang ini”? Dia menjawab, “Wahai Rasulullah, menurutku, orang ini adalah
orang termiskin dari kalangan kaum muslimin. Apabila ia melamar sudah pantas
lamarannya untuk ditolak. Jika dimintai pertolongan dia tidak akan ditolong.
Dan apabila berkata, perkataannya tidak akan didengar.” Rasulullah ‫ ﷺ‬bersabda,
“Sungguh orang ini (orang yang terlihat miskin) lebih baik dari dunia dan
seisinya daripada orang yang ini (orang yang pertama).”

Ini tafsiran yang pertama.


Tafsiran yang kedua dari sabda Nabi “Dan jangan menghinanya. Takwa itu
disini –seraya menunjuk ke dadanya tiga kali” adalah kalau kamu suka
merendahkan orang lain. Suka mencela dan menghina orang lain. Ketauhilah
bahwa ketakwaanmu sedang bermasalah. Isi dadanya sedang dijangkiti
penyakit.

Tatkala seseorang senang menghina dan mencela orang lain, itu artinya
ketakwaannya sedang bermasalah. Ia sedang dihinggapi penyakit sombong dan
keangkuhan. Oleh karena itu, tatkala Allah berfirman dalam Surat Al-Humazah:

‫َو ْي ٌل ِلِّ ُك ِ ِّل ُه َم َز ٍة لُّ َم َز ٍة‬


“Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela.” [Quran Al-Humazah: 1].

Setelah itu, Allah sebutkan tentang sifat neraka.

‫علَى ْاْل َ ْفئِ َد ِة‬


َ ‫الَّتِي ت َ َّط ِل ُع‬
“yang (membakar) sampai ke hati.” [Quran Al-Humazah: 7].

Sebagian ulama menjelaskan, tidaklah seseorang suka mengumpat, mencibir,


dan mencela, kecuali hatinya bermasalah. Ada indikasi yang kuat bahwa di
hatinya ada kesombongan dan keangkuhan.

‫س ِل ِم ْي َن ِم ْن ُك ِ ِّل‬
ْ ‫سا ِئ ِر ال ُم‬ ْ َ ‫أَقُ ْو ُل َهذَا القَ ْو ِل َوأ‬
َ ‫ست َ ْغ ِف ُر هللاَ ِلي َولَ ُك ْم َو ِل‬
ْ ‫ب فَا‬
َ ‫ست َ ْغ ِف ُر ْوهُ يَ ْغ ِف ْر لَ ُك ْم إِنَّهُ ُه َو الغَفُ ْو ُر‬
‫الر ِح ْي ُم‬ ٍ ‫ذَ ْن‬.
‫‪Khutbah Kedua:‬‬

‫ان ‪َ ,‬وأ َ ْ‬
‫ش َه ُد‬ ‫ض ِل َوال ُج ْو ِد َوا َِل ْمتِنَ ِ‬ ‫س ِع الفَ ْ‬ ‫ان َوا ِ‬ ‫س ِ‬ ‫ا َ ْل َح ْم ُد ِ ََّلِلِ ع َِظ ْي ِم ِ‬
‫اإل ْح َ‬
‫ش َه ُد أ َ َّن محمدا ً َ‬
‫ع ْب ُد ُه‬ ‫أ َ ْن ََل ِإلَهَ ِإ ََّل هللاُ َو ْح َد ُه ََل ش َِر ْي َك لَهُ ‪َ ,‬وأ َ ْ‬
‫ص َحابِ ِه أ َ ْج َم ِع ْي َن َو َ‬
‫سلَّ َم‬ ‫علَى آ ِل ِه َوأ َ ْ‬ ‫علَ ْي ِه َو َ‬
‫سلَّ َم َ‬‫صلَّى هللاُ َو َ‬ ‫س ْولُهُ ؛ َ‬ ‫َو َر ُ‬
‫س ِل ْيما ً َكثِ ْي ًرا‬
‫‪ .‬تَ ْ‬

‫أ َ َّما بَ ْع ُد أَيُّ َها ال ُم ْؤ ِمنُ ْو َن ِعبَا َد هللاِ ‪ :‬اِتَّقُ ْوا هللاَ تَعَالَى َوا ْعلَ ُم ْوا أ َ َّن ت َ ْق َوى‬
‫ان هللاِ ‪َ ،‬وت َ ْق َوى هللاَ َج َّل‬ ‫ض َو ِ‬‫هللاَ َج َّل َوع َََل ِه َي َخ ْي ُر َزا ِد يُبَ ِلِّ ُغ ِإلَى ِر ْ‬
‫اب هللاِ ‪َ ،‬وأ َ ْن‬ ‫علَى نُ ْو ٍر ِم َن هللاِ ت َ ْر ُج ْو ث َ َو َ‬‫ع ِة هللاِ َ‬ ‫َوع َََل ‪ :‬أ َ ْن ت َ ْع َم َل بِ َطا َ‬
‫اف ِعقَ َ‬
‫اب هللاِ‬ ‫علَى نُ ْو ٍر ِم َن هللاِ ت َ َخ ُ‬ ‫‪ .‬تَتْ َر َك َم ْع ِصيَةَ هللاِ َ‬
‫‪Ibadallah,‬‬

‫‪Kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah Ta’ala. Ketauhilah bahwa sifat-sifat‬‬
‫‪suka mencela, mencibir, dan meremehkan amalan orang lain adalah sifatnya‬‬
‫‪orang-orang munafik. Allah Ta’ala berfirman,‬‬

‫ت َوالَّذ َ‬
‫ِين ََل‬ ‫ص َدقَا ِ‬ ‫ين فِي ال َّ‬ ‫ون ا ْل ُم َّط ِّ ِو ِع َ‬
‫ين ِم َن ا ْل ُم ْؤ ِمنِ َ‬ ‫ِين يَ ْل ِم ُز َ‬
‫الَّذ َ‬
‫عذَ ٌ‬
‫اب‬ ‫َّللاُ ِم ْن ُه ْم َولَ ُه ْم َ‬ ‫ون ِم ْن ُه ْم ۙ َ‬
‫س ِخ َر َّ‬ ‫ُون ِإ ََّل ُج ْه َد ُه ْم فَيَ ْ‬
‫س َخ ُر َ‬ ‫يَ ِجد َ‬
‫أ َ ِلي ٌم‬
‫‪“(Orang-orang munafik itu) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang‬‬
‫‪mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang‬‬
yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya,
maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas
penghinaan mereka itu, dan untuk mereka azab yang pedih.” [Quran At-Taubah:
79].

Ayat ini turun berkaitan dengan orang-orang munafik yang mencela para
sahabat yang bersedekah dengan sedekah yang banyak. Mereka berkata, “Itu
adalah sedekah yang riya’.” Kemudian sahabat yang bersedekah dengan
sedekah yang sedikit, mereka cela dengan mengatakan, “Itu sedekah yang tidak
dibutuhkan oleh Allah.” Yang mereka lakukan hanya mencela amalan orang
lain.

Karena itu, hendaknya kita berhati-hati jangan sampai kita termasuk orang-
orang yang suka meremehkan amalan orang lain dan merendahkannya. Kalau
ada orang yang hanya mampu beramal dengan amalan yang sedikit, kita hargai.
Kalau ada orang yang memberikan sumbangsih yang sedikit, kita hargai. Jangan
kita rendahkan. Bisa jadi tatkala seseorang berceramah, yang hadir banyak,
adalah lebih baik dari mereka yang tatkala ceramah yang hadir sedikit. Bisa jadi,
karena jumlah yang sedikit lebih mudah mengantarkannya kepada keikhlasan
dibanding mereka yang berceramah dihadiri orang banyak.

Seandainya ada orang yang sedekah dengan harta yang sedikit, sementara kita
sedekah dengan harta yang banyak, jangan sekali-kali kita remehkan dia. Bisa
jadi sedekahnya yang sedikit tersebut lebih ikhlas dari yang kita keluarkan.
Karena sedekah itulah memang kemampuan dia. Dalam sebuah hadits, Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ِ ‫َان ِل َر ُج ٍل د ِْر َه َم‬
‫ان‬ َ ‫ف قَا َل ك‬ ِ ‫ق د ِْر َه ٌم ِمائَةَ أ َ ْل‬
َ ‫ف د ِْر َه ٍم قَالُوا َو َك ْي‬ َ َ ‫سب‬َ
ِ ‫ض َما ِل ِه فَأ َ َخذَ ِم ْنهُ ِمائَةَ أ َ ْل‬
‫ف‬ ِ ‫ق َر ُج ٌل إِلَى ع ُْر‬ َ َ‫َّق ِبأ َ َح ِد ِه َما َوا ْن َطل‬
َ ‫صد‬ َ َ‫ت‬
‫َّق ِب َها‬
َ ‫صد‬ َ َ ‫د ِْر َه ٍم فَت‬
“Satu dirham dapat mengungguli seratus ribu dirham“. Lalu ada yang bertanya,
“Bagaimana itu bisa terjadi wahai Rasulullah?” Beliau jelaskan, “Ada seorang
yang memiliki dua dirham lalu mengambil satu dirham untuk disedekahkan.
Ada pula seseorang memiliki harta yang banyak sekali, lalu ia mengambil dari
kantongnya seratus ribu dirham untuk disedekahkan.” [HR. An Nasai dan
Ahmad].

Bisa jadi sedekah yang sedikit lebih utama dari sedekah yang banyak.

Ibadallah,

Kemudian yang perlu kita perhatikan juga adalah kesombongan itu bukan
terletak pada penampilan. Orang yang berpenampilan bagus dan baik tidak serta
merta kita vonis sebagai seorang yang sombong. Hal ini telah dijelaskan oleh
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang kita bahas ini.

: ‫ قَا َل‬.ً‫سنَة‬
َ ‫سنًا َونَ ْعلُهُ َح‬َ ‫ُون ث َ ْوبُهُ َح‬ َ ‫ب أ َ ْن يَك‬ َّ ‫قَا َل َر ُج ٌل إِ َّن‬
ُّ ‫الر ُج َل يُ ِح‬
‫اس‬ ُ ‫غ ْم‬
ِ َّ‫ط الن‬ َ ‫ق َو‬ِ ِّ ‫ب ا ْل َج َما َل ا ْل ِك ْب ُر بَ َط ُر ا ْل َح‬ َّ ‫إِ َّن‬.
ُّ ‫َّللاَ َج ِمي ٌل يُ ِح‬
“Sesungguhnya semua orang senang bajunya bagus, sandalnya bagus, (apakah
itu kesombongan?”) Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
“Sesungguhnya Allâh Maha Indah dan menyintai keindahan. Kesombongan
adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.” [HR. Muslim].

Kita bisa melihat, ada sebagian orang yang pakaiannya bagus dan mahal,
kendaraannya mewah, tapi dia tidak sombong. Ia senang menyapa. Ia dekat
dengan orang-orang miskin. Menjaga lisannya dari meremehkan dan
merendahkan orang lain. Dan kita juga melihat keadaan yang sebaliknya,
terkadang ada orang yang miskin, secara penampilan sederhana dan zuhud, tapi
hatinya penuh dengan kesombongan. Bahkan Nabi sendiri menyebutkan dalam
sabda beliau,

‫ظ ُر إِلَ ْي ِه ْم َولَ ُه ْم‬ ُ ‫ِّيه ْم َوَلَ يَ ْن‬ َّ ‫ث َ ََلثَةٌ ََل يُ َك ِلِّ ُم ُه ُم‬
ِ ‫َّللاُ يَ ْو َم ا ْل ِقيَا َم ِة َو ََل يُ َز ِك‬
‫ست َ ْك ِب ٌر‬
ْ ‫ َوعَائِ ٌل ُم‬, ‫اب‬ ٌ َّ‫ َو َم ِل ٌك َكذ‬, ‫ان‬ ٍ ‫خ َز‬ َ : ‫اب أ َ ِل ْي ٌم‬
ٌ ‫ش ْي‬ ٌ َ‫عذ‬ َ
“Ada tiga golongan orang yang Allah Azza wa Jalla tidak akan berbicara kepada
mereka, tidak menyucikan mereka, tidak melihat mereka dan mereka
mendapatkan adzab (siksa) yang sangat pedih yaitu orang tua yang berzina, raja
yang pendusta dan orang miskin yang sombong.” [HR. Muslim].

Ibadallah,

Marilah kita menjaga ketakwaan kepada Allah. Jangan sampai hati kita
terjangkiti penyakit kesombongan. Dan kesombongan itu tampak pada perasaan
dan ucapan yang meremehkan, merendahkan, dan menghina orang lain. Berhati-
hatilah! Karena kesombongan adalah sifat dari Ibrlis. Dan kesombongan
tempatnya di neraka yang merupakan seburuk-buruk tempat kembali.
َ ْ‫فَبِئ‬
َ ‫س َمثْ َوى ا ْل ُمت َ َكبِِّ ِر‬
‫ين‬
“Maka neraka Jahannam itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang
menyombongkan diri.” [Quran Az-Zumar: 72].

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa orang-orang yang


sombong akan dihinakan di hari kiamat. beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,

‫الر َجا ِل يَ ْغشَا ُه ْم‬


ِّ ِ ‫ص َو ِر‬ ُ ‫ون يَ ْو َم ا ْل ِقيَا َم ِة أ َ ْمثَا َل الذَّ ِ ِّر فِي‬
َ ‫يُ ْحش َُر ا ْل ُمت َ َك ِبِّ ُر‬
‫س ت َ ْعلُو ُه ْم‬َ َ‫س َّمى بُول‬ َ ُ‫س ْج ٍن فِي َج َهنَّ َم ي‬ ِ ‫ون ِإلَى‬ َ ُ‫ساق‬ َ ُ‫َان فَي‬
ٍ ‫الذُّ ُّل ِم ْن ُك ِ ِّل َمك‬
‫ار ِة أ َ ْه ِل النَّ ِار ِطينَةَ ا ْل َخبَا ِل‬
َ ‫ص‬ َ ‫ع‬ ُ ‫سقَ ْو َن ِم ْن‬ ْ ُ‫ار ْاْل َ ْنيَ ِار ي‬ ُ َ‫ن‬
“Pada hari kiamat orang-orang yang sombong akan digiring dan dikumpulkan
seperti semut kecil, di dalam bentuk manusia, kehinaan akan meliputi mereka
dari berbagai sisi. Mereka akan digiring menuju sebuah penjara di dalam
Jahannam yang namanya Bulas. Api neraka yang sangat panas akan membakar
mereka. Mereka akan diminumi nanah penduduk neraka, yaitu thinatul khabal
(lumpur kebinasaan).” [Riwayat Bukhari di dalam al-Adabul Mufrad].

Tatkala di dunia, orang-orang yang sombong merasa tinggi, merasa hebat, dan
berbangga-bangga dengan apa yang dia lakukan, di hari kiamat kelak mereka
dihinakan. Ia menjadi kecil bahkan hampir diinjak-injak oleh orang-orang yang
ada di sekelilingnya.
‫صلَّى‬
‫ث ك َََل ُم هللاِ‪َ ،‬و َخ ْي َر ال ُهدَى ُهدَى ُم َح َّم ٍد َ‬ ‫َق ال َح ِد ْي ِ‬ ‫صد َ‬‫َوا ْعلَ ُم ْوا أ َ َّن أ َ ْ‬
‫سلَّ َم‪َ ،‬وش ََّر اْل ُ ُم ْو ِر ُم ْح َدثَات ُ َها‪َ ،‬و ُك َّل ُم ْح َدث َ ٍة ِب ْدعُةٌ‪َ ،‬و ُك َّل‬ ‫علَ ْي ِه َو َ‬ ‫هللاُ َ‬
‫علَى ال َج َما َ‬
‫ع ِة‬ ‫ع ِة فَ ِإ َّن يَ َد هللاِ َ‬ ‫ض ََللَةٌ‪َ ،‬و َ‬
‫علَ ْي ُك ْم ِبا ْل َج َما َ‬ ‫ع ٍة َ‬ ‫‪ِ .‬ب ْد َ‬

‫ع ْب ِد هللاِ َك َما أ َ َم َر ُك ُم هللاُ‬


‫علَى ُم َح َّم ِد ْب ِن َ‬ ‫س ِلِّ ُم ْوا َرعَا ُك ُم هللاُ َ‬‫صلُّ ْوا َو َ‬
‫َو َ‬
‫علَى النَّ ِب ِِّي يَا أَيُّ َها‬‫ون َ‬ ‫صلُّ َ‬ ‫ِبذَ ِل َك ِفي ِكتَا ِب ِه فَقَا َل‪ِ ﴿ :‬إ َّن َّ‬
‫َّللاَ َو َم ََلئِ َكتَهُ يُ َ‬
‫س ِليما ً ﴾ [اْلحزاب‪َ ، ]٥٦:‬وقَا َل‬ ‫س ِلِّ ُموا ت َ ْ‬
‫علَ ْي ِه َو َ‬
‫صلُّوا َ‬
‫ِين آ َمنُوا َ‬ ‫الَّذ َ‬
‫علَ ْي ِه ِب َها‬
‫َّللاُ َ‬ ‫صلَّى َّ‬‫صَلةً َ‬ ‫علَ َّي َ‬‫صلَّى َ‬ ‫سلَّ َم‪َ (( :‬م ْن َ‬ ‫علَ ْي ِه َو َ‬
‫صلَّى هللاُ َ‬ ‫َ‬
‫عش ًْرا‬
‫‪َ )) .‬‬

‫علَى ِإ ْب َرا ِه ْي َم‬ ‫صلَّ ْيتَ َ‬ ‫علَى آ ِل ُم َح َّم ٍد َك َما َ‬ ‫علَى ُم َح َّم ٍد َو َ‬ ‫ص ِ ِّل َ‬‫اَللَّ ُه َّم َ‬
‫علَى آ ِل‬ ‫علَى ُم َح َّم ٍد َو َ‬ ‫علَى آ ِل ِإ ْب َرا ِه ْي َم ِإنَّ َك َح ِم ْي ٌد َم ِج ْيدٌ‪َ ،‬وبَ ِار ْك َ‬ ‫َو َ‬
‫علَى آ ِل إِ ْب َرا ِه ْي َم إِنَّ َك َح ِم ْي ٌد َم ِج ْيدٌ‪.‬‬ ‫علَى إِ ْب َرا ِه ْي َم َو َ‬ ‫ار ْكتَ َ‬ ‫ُم َح َّم ٍد َك َما بَ َ‬
‫ش ِد ْي َن ا َ ْْلَئِ َّمةَ ال َم ْه ِد ِي ْي َن؛ أَبِ ْي بَ ْك ِر‬
‫الرا ِ‬
‫اء َّ‬ ‫ض اللَّ ُه َّم ع َِن ال ُخلَفَ ِ‬ ‫ار َ‬ ‫َو ْ‬
‫سنَ ْي ِن‬ ‫ِي النُ ْو َر ْي ِن‪َ ،‬وأَبِ ْي ال َح َ‬ ‫ان ذ ْ‬ ‫عثْ َم َ‬ ‫ق‪َ ،‬و ُ‬ ‫ع َم َر الفَ ُ‬
‫ار ْو ِ‬ ‫ق‪َ ،‬و ُ‬ ‫الص ِ ِّد ْي ِ‬
‫ِ ِّ‬
‫ص َحابَ ِة أ َ ْج َم ِع ْي َن َوع َِن التَّابِ ِع ْي َن َو َم ْن ت َ ِبعَ ُه ْم‬ ‫ض اللَّ ُه َّم ع َِن ال َّ‬ ‫ار َ‬ ‫ع ِل ِّي ٍ‪َ ,‬و ْ‬ ‫َ‬
‫سانِ َك يَا أ َ ْك َر َم‬ ‫عنَّا َمعَ ُه ْم ِب َمنِِّ َك َوك ََر ِم َك َوإِ ْح َ‬ ‫ان إِلَى يَ ْو ِم ال ِ ِّد ْي َن‪َ ،‬و َ‬ ‫س ٍ‬ ‫ِب ِإ ْح َ‬
‫‪.‬اْل َ ْك َر ِم ْي َن‬

‫س ِل ِم ْي َن‪ ،‬اَللَّ ُه َّم‬


‫س ََل َم َوال ُم ْ‬ ‫س ِل ِم ْي َن‪ ،‬اَللَّ ُه َّم أ َ ِع َّز ِ‬
‫اإل ْ‬ ‫س ََل َم َوال ُم ْ‬ ‫اَللَّ ُه َّم أ َ ِع َّز ِ‬
‫اإل ْ‬
‫سنَّةَ‬
‫ص َر ِد ْينَ َك َو ِكتَابَ َك َو ُ‬ ‫ص ْر َم ْن نَ َ‬ ‫س ِل ِم ْي َن‪ ،‬اَللَّ ُه َّم ا ْن ُ‬
‫س ََل َم َوال ُم ْ‬ ‫أ َ ِع َّز ِ‬
‫اإل ْ‬
‫ص ْر إِ ْخ َوانَنَا ال ُم ْ‬
‫س ِل ِم ْي َن‬ ‫سلَّ َم‪ ،‬اَللَّ ُه َّم ا ْن ُ‬
‫علَ ْي ِه َو َ‬
‫صلَّى هللاُ َ‬
‫نَبِيِِّ َك ُم َح َّم ٍد َ‬
‫ض الش َِام َوفِي ُك ِ ِّل‬ ‫ص ْر ُه ْم فِي أ َ ْر ِ‬ ‫َان‪ ،‬اَللَّ ُه َّم ا ْن ُ‬
‫ضعَ ِف ْي َن فِي ُك ِ ِّل َمك ٍ‬ ‫ست َ ْ‬‫ال ُم ْ‬
‫َان‪ ،‬اَللَّ ُه َّم ك ُْن لَنَا َولَ ُه ْم َحافِظا ً َو ُم ِع ْينًا َو ُم َ‬
‫س ِدِّدا ً َو ُم َؤ ِيِّدًا‪،‬‬ ‫َمك ٍ‬
‫علَّنَهُ‪،‬‬ ‫س َّرهُ َو َ‬ ‫آخ َرهُ‪ِ ،‬‬ ‫اَللَّ ُه َّم َوا ْغ ِف ْر لَنَا ذُنُبَنَا ُكلَّهُ؛ ِدقَّهُ َو ِجلَّهُ‪ ،‬أ َ َّولَهُ َو ِ‬
‫ت َوال ُم ْؤ ِم ِن ْي َن‬ ‫س ِل َما ِ‬ ‫اَللَّ ُه َّم ا ْغ ِف ْر لَنَا َو ِل َوا ِل َد ْينَا َو ِل ْل ُم ْ‬
‫س ِل ِم ْي َن َوال ُم ْ‬
‫ب َم ْن‬‫سأَلُ َك ُحبَّ َك‪َ ،‬و ُح َّ‬ ‫اء ِم ْن ُه ْم َو ْاْل َ ْم َواتِ‪ .‬اَللَّ ُه َّم إِنَّا نَ ْ‬ ‫ت ا َ ْْل َ ْحيَ ِ‬ ‫َوال ُم ْؤ ِمنَا ِ‬
‫ان‬ ‫ِي يُقَ ِ ِّربُنَا إِلَى ُح ِبِّ َك‪ .‬اَللَّ ُه َّم َز ِيِّنَّا ِب ِز ْينَ ِة ِ‬
‫اإل ْي َم ِ‬ ‫ب العَ َم َل الَّذ ْ‬ ‫يُ ِحبُّ َك‪َ ،‬و ُح َّ‬
‫ف بَ ْي َن قُلُ ْو ِبنَا‪،‬‬ ‫ص ِلحْ ذَاتَ بَ ْينِنَا َوأ َ ِلِّ ْ‬ ‫اجعَ ْلنَا ُهدَاةَ ُم ْهت َ ِد ْي َن‪ .‬اَللَّ ُه َّم أ َ ْ‬ ‫َو ْ‬
‫ت‬‫ت ِإلَى النُّ ْو ِر‪ .‬اَللَّ ُه َّم آ ِ‬ ‫ظلُ َما ِ‬ ‫س ََل ِم‪َ ،‬وأ َ ْخ ِر ْجنَا ِم َن ال ُ‬ ‫سبُ َل ال َّ‬ ‫َوا ْه ِدنَا ُ‬
‫سنَا ت َ ْق َوا َها‪َ ،‬و َز ِ ِّك َها أ َ ْنتَ َخ ْي َر َم ْن َزكَّا َها‪ ،‬أ َ ْنتَ َو ِليُّ َها َو َم ْو ََل َها‪.‬‬ ‫نُفُ ْو َ‬
‫اب النَّ ِار‬ ‫عذَ َ‬ ‫سنَةً َوقِنَا َ‬ ‫سنَةً َوفِي ِ‬
‫اآلخ َر ِة َح َ‬ ‫‪.‬ربَّنَا آتِنَا فِي ال ُّد ْنيَا َح َ‬ ‫َ‬

‫اء ذِي ا ْلقُ ْربَى َويَ ْن َهى‬ ‫ان َوإِيت َ ِ‬ ‫س ِ‬ ‫اإل ْح َ‬ ‫َّللاَ يَأ ْ ُم ُر ِبا ْلعَ ْد ِل َو ِ‬
‫عباد هللا‪( ،‬إِ َّن َّ‬
‫ون* َوأ َ ْوفُوا بِعَ ْه ِد‬ ‫ظ ُك ْم لَعَلَّ ُك ْم تَذَك َُّر َ‬‫َاء َوا ْل ُمنك َِر َوا ْلبَ ْغي ِ يَ ِع ُ‬ ‫ع َْن ا ْلفَ ْحش ِ‬
‫َّللاَ‬ ‫ضوا اْل َ ْي َم َ‬
‫ان بَ ْع َد ت َ ْو ِكي ِد َها َوقَ ْد َجعَ ْلت ُ ْم َّ‬ ‫َّللاِ ِإذَا عَا َه ْدت ُ ْم َوَل تَنقُ ُ‬ ‫َّ‬
‫ون) [النحل‪ ،]91-90:‬فَا ْذك ُُر ْوا هللاَ‬ ‫َّللاَ يَ ْعلَ ُم َما ت َ ْفعَلُ َ‬
‫علَ ْي ُك ْم َك ِفيَلً إِ َّن َّ‬ ‫َ‬
‫علَى نِعَ ِم ِه يَ ِز ْد ُك ْم‪َ ،‬ولَ ِذ ْك ُر هللاِ أ َ ْكبَ ُر‪َ ،‬وهللاُ يَ ْعلَ ُم َما‬ ‫شك ُُر ْوهُ َ‬ ‫يَ ْذك ُْر ُك ْم‪َ ،‬وا ْ‬
‫صنَعُ ْو َن‬ ‫‪.‬ت َ ْ‬
‫‪Oleh tim KhotbahJumat.com‬‬