Anda di halaman 1dari 10

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Penyakit malaria adalah penyakit menular yang disebabkan oleh parasit
plasmodium, antara lain malariae, vivax dan falciparum serta ovale yang hanya dapat
dilihat dengan mikroskop yang ditularkan oleh nyamuk malaria yang dpat menyerang
semua orang pada semua golongan umur dan pekerjaan. Penyakit malaria biadasnya
menyerang yang tinggal di daerah yang mempunyai banyak genangan air yang sesuai
untuk tempat perkembangbiakkan nyamuk malaria.
Menurut Depkes RI, 2003 malaria dalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh
beberapa parasit plasmodium yang hidup dan berkembang biak dalam sel darah
merah manusia dan penyakit ini secara alami ditularkan melalui nyamuk malaria dari
penderita malaria kepada orang lain
Dari uraian diatas jelaslah bahwa upaya penangulangan penyakit malaria perlu
terus ditingkatkan untuk mencapai tingkat penyembuhan penderita sehingga dapat
memutuskan rantai penularan . Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan
tehnologi, upaya penanggulangan penyakit malaria dapat semakin efektif dan efisien
dengan harapan dapat memberikan penyembuhan yang nyata bagi masyarakat
lainnya.

B. TUJUAN, SASARAN DAN RUANG LINGKUP


1. Tujuan
a. Terselenggaranya Pelayanan Penanggulangan penyakit malaria di Puskesmas
Tateli yang aman, bermanfaat, bermutu, berkesinambungan dan dapat
dipertanggung jawabkan
b. Tersedianya standar penyelenggaraan Pelayanan
c. Penanggulangan Penyakit Malaria di Puskesmas Tateli
d. Tersedianya standar untuk melaksanakan pembinaan, pengawasan
dan pengendalian penyelenggaraan Pelayanan
e. Penanggulangan Penyakit Malaria di Puskesmas Tateli
2. Sasaran
Standar ini disusun untuk digunakan bagi Tenaga Pelaksana Penanggulangan
Penyakit Malaria di Puskesmas Tateli.

3. Ruang lingkup
Standar ini meliputi:
a. Prosedur Penyelenggaraan Pelayanan Penanggulangan Penyakit Malaria
di Puskesmas Tateli
b. Pembinaan Administrasi Pelayanan Penanggulangan Penyakit Malaria
di Puskesmas Tateli
c. Pengawasan dan Pengendalian Pelayanan Penanggulangan Penyakit Malaria
di Puskesmas Tateli
C. DEFINISI OPERASIONAL
1. Standar pelayanan adalah prasyarat minimal yang harus dipenuhi untuk
mencapai pelayanan kesehatan yang bermutu. Penyakit malaria adalah
penyakit menular yang disebabkan oleh parasit plasmodium
antara lain plasmodium malariae, plasmodium vivax,
plasmodium falciparum, plasmodium ovale yang hanya
dapat dilihat dengan mikroskop yang ditularkan oleh
nyamuk malaia (anopheles)/, penyakit malaria dapat
menyerang semua orang baik laki-laki maupun perempuan,
pada semua golongan umur (dari bayi, anak-anak, sampai
dewasa).
2. Malaria adalah suatu penyakit yang ditandai oleh rasa dingin
dan badan menggigil, suhu badan meningkat dan denyut nadi
cepat (Nadesul, 1995).
3. Penyelenggaraan Malaria adalah serangkaian kegiatan perencanaan,
pelaksanaan, monitoring dan evaluasi kegiatan Malaria
4. Tipe Malaria yang sering ditemukan di wilayah Tateli
Infeksi campuran tiga jenis sekaligus jarang sekali terjadi.
Malaria yang disebabkan oleh Plasmadium Vivax dan
Plasmadium Malariae dapat kambuh jika tidak diobati dengan
baik. Malaria yang disebabkan oleh spesies selain
Plasmadium Falciparum jarang berakibat fatal, namun
menurunkan kondisi tubuh lemah, menggigil dan demam yang
biasanya berlangsung 10-14 hari. Seorang penderita dapat
dihinggapi oleh lebih dari satu jenis plasmodium. Infeksi demikian
disebut infeksi campuran (mixed infection). Biasanya campuran
Plasmodium falciparum dengan Plasmodium Vivax atau
Plasmodium Malariae
5. Rekam Medik adalah berkas yang berisi catatan dan dokumen tentang
identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain kepada
pasien di sarana kesehatan.
BAB II
STANDAR PENGORGANISASIAN DAN TATA LAKSANA

Standar ini digunakan sebagai pedoman untuk menetapkan pengorganisasian


berdasarkan tugas pokok dan fungsi, serta tata laksana pelayanan malaria di Puskesmas

A. Pengorganisasian dan Tatalaksana


1. Pembinaan, pengawasan dan pengendalian penyelenggaraan pelayanan
Malaria dilakukan oleh Dinas Kesehatan.
2. Struktur Organisasi Unit Malaria menjadi bagian dari Puskesmas.
3. Pengelola dan Penanggung Jawab kegiatan adalah Koordinator Malaria
4. Pelaksanaan kegiatan Malaria terintegrasi dengan upaya kesehatan lainnya
5. Koordinator malaria bertugas :
a. Menyusun rencana kerja dan penganggaran serta kebijakan teknis
pelayanan Malaria
b. Menentukan pola dan tata cara kerja
c. Memimpin pelaksanaan kegiatan pelayanan Malaria
d. Merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi kegiatan untuk mencapai
pelayanan malaria yang bermutu.

B. Dokumen Terkait
1. Keputusan Dinas Kesehatan tentang Penatalaksanaan Malaria
2. Struktur Organisasi Puskesmas
3. Standar Prosedur Operasional

BAB III
STANDAR PELAYANAN MALARIA

Standar ini digunakan sebagai pedoman untuk menetapkan batasan kewenangan


dan kompetensi melaksanakan upaya pelayanan malaria di Puskesmas.
A. Jenis Pelayanan
Berdasarkan sifat penyelenggaraannnya, pelayanan malaria disesuaikan dengan
jenis malaria sebagai berikut :
1. PENGOBATAN MALARIA TANPA KOMPLIKASI
a. Malaria falsiparum dan malaria vivaks
Pengobatan malaria falsiparum dan vivaks saat ini menggunakan ACT di
tambah primakuin.Dosis ACT untuk malaria falsiparum sama dengan
malaria vivaks 1 kali perhari selama 3 hari, Primakuin untuk malaria falsiparum
hanya diberikan pada hari pertama saj dengan dosis 0,75 mg/kgBB,dan
untuk malaria vivaks selama 14 hari dengan dosis 0,25 mg /kgBB.
Pengobatan malaria falsiparum dan malaria vivaks adalah seperti yang tertera
dibawah ini: Dihidroartemisinin-Piperakuin(DHP) atau Artesunat-
Amodiakuin + Primakuin.
b. Pengobatan malaria vivaks yang relaps
Pengobatan kasus malaria vivaks relaps (kambuh) diberikan dengan
regimen ACT yang sama tapi dosis Primakuin ditingkatkan menjadi 0,5
mg/kgBB/hari.
c. Pengobatan malria ovale
Pengobatan malaria ovale saat ini menggunakan ACT yaitu DHP atau
kombinasi Artesunat + Amodiakuin. Dosis pemberian obatnya sama dengan
untuk malaria vivaks yaitu 1 kali perhari selama 3 hari.
d. Pengobatan malaria malariae
Pengobatan P. Malariae yaitu diberikan ACT 1 kali perhari selama 3 hari,
dengan dosis sama dengan pengobatan malaria lainnya hanya tidak diberikan
primakuin.
e. Pengobatan infeksi campur P.falciparum + P.vivax/P.ovale
Pada penderita dengan infeksi campur diberikan ACT selama 3 hari serta
primakuin dengan dosis 0,25 mg/kgBB/hari selama 14 hari.

2. PENGOBATAN MALARIA PADA IBU HAMIL


Pada prinsipnya pengobatan malaria ibu hamil sama dengan pengobatan
pada orang dewasa lainnya, perbedaan adalah pada pemberian obat malaria
berdasarkan umur kehamilan. Pada ibu hamil tidak diberikan Primakuin.

3. PENGOBATAN MALARIA BERAT


Semua penderita malria berat harus ditangani di Rumah Sakit (RS) atau
puskesmas perawatan. Bila fasilitas maupun tenaga kurang memadai, misalnya
jika dibutuhkan fasilitas dialsis, maka penderita harus dirujuk ke RS denga fasilitas
yang lebih lengkap. Prognosis malria berat tergantung kecepatan dan ketepatan
diagnosis serta pengobatan.
a. Pengobatan malaria berat di puskesmas/Klinik non Perawatan
Jika puskesmas/klinik tidak memiliki fasilitas rawt inap, pasien malria
berat harus langsung dirujuk ke fasilitas yang lebih lengkap. Sebelum dirujuk
berikan artemeter intramuskular dosis awal (3,2mg/kgbb).
Pengobatan malaria berat di puskesmas/klink Perawatan atau Rumah Sakit.
Artesuant intravena merupakan pilihan utama. Jika tidak tersedia Dapat
diberikan artemeter intramuskular atau kina drip. Pengobatan malaria berat
pada ibu hamil
b. Pengobatan malaria berat untuk ibu hamil dilakukan dengan memberikan
kina HCI drip intravena pada trimester 1 dan Artesunat/artemeter injeksi
untuk trimester 2 dan 3.

B. Pemantauan Pengobatan
1. Rawat Jalan
Pada penderita rawat jalan evaluasi pengobatan dilakukan pada hari ke 4,
7, 14, 21 dan 28 dengan pemeriksanaan klinis dan sediaan darah mikroskopis.
Apabila terdapat perburukan gejala klinis selama masa pengobatan dan evaluasi,
penderita segera dianjurkan datang kembali tanpa menunggu jadwal tersebut
diatas.
2. Rawat Inap
Pada penderita rawat inap evaluasi pengobatan dilakukan setiap hari dengan
pemeriksaan klinis dan darah malaria hingga kliis membaik dan hasil mikroskopis
negatif. Evluasi pengobatan dilanjutkan pada hari ke 7,14,21 dan 28 dengan
pemeriksaan klinis dan sediaan darah secara mikroskopis.

C. Pencatatan dan Pelaporan


1. Pencatatan
a. Rekam Medik
Rekam Medik menjelaskan keterangan/informasi yang akurat dan lengkap
tentang: Identitas pasien, Tanggal & waktu, Hasil anamnesis: keluhan & riwayat
penyakit, Hasil pemeriksaan fisik & penunjang medic, Diagnosis, Rencana
penatalaksanaan, Pengobatan dan/atau tindakan, Pelayanan lain yang telah
diberikan kepada pasien, Rujukan bila diperlukan
b. Pencatatan kegiatan pelayanan malaria di luar gedung Puskesmas.
2. Pelaporan
a. Laporan Bulanan.
Setiap puskesmas harus membuat laporan malaria ke Kesehatan
Kab./Kota, bersamaan dengan laporan kegiatan Puskesmas lainnya
b. Laporan Tahunan
c. Pelaporan mengenai sumberdaya (sarana, prasarana, tenaga) kepada Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota bersamaan dengan laporan kegiatan Puskesmas
lainnya

D. Dokumen Terkait
1. Family Folder / rekam medic
2. Buku register
3. Formulir laporan Puskesmas
4. Formulir rujukan
5. Standar Prosedur Operasional
BAB IV
STANDAR SARANA DAN PRASARANA

Standar ini digunakan sebagai pedoman untuk menyiapkan sarana dan prasarana
dalam menyelenggarakan pelayanan imunisasi di Puskesmas.
A. Fasilitas.
1. Ukuran Ruangan 6 x 4 m2
2. Setiap ruangan mempunyai ventilasi, penerangan / pencahayaan yang cukup
3. Tersedia air mengalir, listrik (termasuk penyediaan genset), pengolahan limbah
dan sanitasi yang baik.

B. Peralatan/bahan
Kapas Alkohol, Blood lancet, Kaca deglas, Spuit 3cc, Mikroscope binoculler, Cat
giemsa, Aquadest, Metanol, Rak sediaan, Safety Box, Buku Register Malaria

C. Peralatan Non Medis


Kursi dan Meja, Bak cuci, Lap/handuk, Lemari Peralatan, Tempat sampah (medis &
non medis)

D. Dokumen Terkait
Inventarisasi alat dan Buku Register Pemeriksaan malaria
BAB V
PENILAIAN KINERJA

Standar ini digunakan sebagai pedoman untuk mengukur kinerja dalam kegiatan
pembinaan, pengawasan dan pengendalian penyelenggaraan pelayanan malaria di
Puskesmas agar sesuai dengan persyaratan yang berlaku.

A. Pengukuran Kinerja
1. Pengukuran dapat dilakukan secara internal oleh sarana kesehatan itu
sendiri maupun secara eksternal oleh intitusi terkait sesuai dengan
kewenangannya.
2. Cara pengukuran
a. Metode yang digunakan dapat dilakukan melalui Penilaian diri yaitu
mengukur tentang apa yang dilakukan telah memenuhi standar atau pedoman
yang ditetapkan dan survei kepuasan pasien ( Format Penilaian Kinerja
Puskesmas)
b. Instrumen yang digunakan adalah daftar tilik pelayanan malaria dan
survei kepuasan pelanggan.
c. Proses pengukuran dilaksanakan dalam konteks dimana penemuan-
penemuannya dapat digunakan sebagai cara yang positif untuk meningkatkan
kinerja.
d. Hasil pengukuran adalah jumlah kriteria yang terpenuhi dibagi jumlah kriteria
yang diamati (Standar yang ditetapkan) x 100 %.
e. Apabila ditemukan adanya ketidak sesuaian antara apa yang terjadi dengan
standar/pedoman yang telah ditetapkan, perlu dilakukan pengamatan secara
cermat apa penyebabnya.
f. Penilaian dapat dilakukan secara berkala sehingga peningkatan mutu yang
terjadi di sarana kesehatan tersebut dapat diketahui dengan cara
membandingkan dengan hasil sebelumnya.

B. Perbaikan Berkelanjutan
Peningkatkan mutu dilaksanakan sejalan dengan hasil yang ditemukan dari penilaian
diri. Bila dari hasil penilaian tersebut ditemukan adanya ketidak sesuaian antara apa
yang dilaksanakan oleh sarana kesehatan dan faktor penyebabnya dapat dikenali,
maka pelaksana penilai dapat memberikan intervensi yang ditujukan untuk
peningkatan tanggung jawab maupun pengetahuan dan keterampilan pelaksana.
1. Bentuk intervensi yang dapat dilakukan oleh sarana kesehatan itu
sendiri (internal) antara lain:
a. Perbaikan perencanaan dan pengorganisasian.
b. Pembangunan sarana dan pengadaan peralatan.
c. Penyediaan ketenagaan.
d. Peningkatan pengetahuan dan keterampilan pelaksana.
2. Bentuk intervensi ini dapat dilakukan oleh pihak luar (eksternal) adalah dalam
bentuk pembinaan oleh Institusi terkait sesuai dengan kewenangannya antara
lain :
a. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
1) Melakukan supervisi dan monev.
2) Melaksanakan diseminasi. informasi program dan kebijakan
Pemerintah.
3) Melaksanakan sistem informasi pelayanan. kesehatan yang
terintegrasi untuk pelayanan malaria.
b. Dinas Kesehatan Provinsi
1) Melakukan supervisi dan monev ke Tingkat Kab./Kota
2) Melaksanakan diseminasi. Informasi program dan kebijakan Pemerintah.
3) Melaksanakan sistem informasi pelayanan. kesehatan yang
terintegrasi untuk pelayanan malaria.
4) Menindaklanjuti laporan dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
c. Kementrian Kesehatan
1) Membuat standar dan pedoman pelayanan malaria.
2) Melakukan bimbingan teknis kepada daerah yang memerlukan.
3) Melaksanakan fungsi regulasi bersama dengan Dinas Kesehatan Provinsi

C. DOKUMEN TERKAIT
1. Format Penilaian Diri.
2. Format Penilaian Kinerja

BAB VI
STANDAR SUMBER DAYA MANUSIA

Standar ini digunakan sebagai acuan untuk menetapkan penyediaan sumber daya
manusia yang dibutuhkan untuk penyelenggaraan layanan malaria di Puskesmas.
A. Kompetensi
1. Dokter
a. Mempunyai Surat Tanda Registrasi dan Surat Ijin Praktek
b. Mampu mengidentifikasi,merencanakan, memecahkan masalah dan
mengevaluasi program kesehatan gigi dan mulut
c. Mampu mengkoordininasi dan mengelola program malaria di wilayah
kerjanya
d. Mampu melaksanakan pelayanan malaria
2. Perawat
a. Mempunyai Surat Izin Kerja Perawat (SIKP).
b. Mampu melaksanakan asuhan keperawatan tentang pelayanan malaria,
pelayanan promotif, preventif serta pencatatan dan pelaporan malaria
B. Jumlah Tenaga.
1. Dokter umum = minimal 1 orang
2. Bidan/ Pearwat = minimal 10 orang

C. Uraian Tugas
1. Dokter
a. Melaksanakan dan memberikan upaya pelayanan malaria dengan penuh
tanggung jawab sesuai kompetensi dan kewenangannya.
b. Melaksanakan pelayanan malaria sesuai standar prosedur operasional, tata
kerja dan kebijakan yang telah ditetapkan oleh pimpinan Puskesmas
c. Membuat rekam medik yang baik dan lengkap serta dapat
dipertanggung jawabkan.
d. Melaksanakan upaya pelayanan malaria sesuai standar profesi dan
mematuhi peraturan perundangan yang berlaku.
e. Melaksanakan dan meningkatkan mutu pelayanan malaria
2. Perawat
a. Menyusun rencana kerja malaria
b. Melaksanakan pelayanan malaria sesuai standart prosedur operasional, SPM,
tata kerja dan kebijakan yang telah ditetapkan oleh Kepala Puskesmas.
c. Membuat catatan pelaporan dan rekam medik secara baik, lengkap serta dapat
dipertanggungjawabkan
d. Melaksanakna evaluasi kegiatan malaria
e. Meningkatkan mutu pelayanan Puskesmas
f. Melaporkan pelaksanaan kegiatan malaria secara berkala kepada
penanggung jawab
g. Melaksanakan pelayanan malaria sesuai standar prosedur operasional, tata
kerja dan kebijakan yang telah ditetapkan oleh pimpinan Puskesmas

D. Pendidikan dan Pelatihan


Untuk peningkatan kualitas SDM maka pimpinan Puskesmas perlu memberikan
kesempatan untuk dapat mengikuti pendidikan dan pelatihan.

E. Dokumen Terkait
1. Surat Izin Praktik/Kerja pelaksana
2. Pelatihan yang pernah diikuti
BAB VIII PENUTUP

Demikian Pedoman pelayanan Malaria, segala kritik dan saran akan kami terima
sebagai upaya perbaikan