Anda di halaman 1dari 39

 PENGGOLONGAN OBAT DAN CONTOHNYA  Sediaan obat kumur yang mengandung Hexetidine (Ex : Hexadol)

c. P.No.3 Awas! Obat Keras, Hanya untuk bagian luar dari badan
1. Obat Bebas

Obat bebas adalah obat yang bebas/dapat diperoleh tanpa resep dari dokter, Contoh :
sehingga dapat dibeli langsung melalui Apotek, Toko Obat Berizin, Toko  Betadine
Modern maupun warung kelontong. Cara mengenali obat bebas adalah  Kalpanax
terdapat tanda logo lingkaran berwarna HIJAU dengan garis tepi berwarna  Albothyl
hitam pada kemasannya.  Sediaan salep/krim untuk penyakit kulit yang tidak mengandung
Contoh Obat Bebas : antibiotik
 Parasetamol (penurun demam dan pereda sakit kepala)  Sediaan tetes mata yang tidak mengandung antibiotik (Insto, Braito)
 Vitamin-Vitamin d. P.No.4 Awas! Obat Keras, Hanya untuk dibakar
 Ferrosulfat (penambah darah)
 Sediaan obat mengandung Calcium
 Antasid (untuk sakit maag) Ex : promag, mylanta
2. Obat Bebas Terbatas
Contoh :
 Sediaan untuk obat asma (berbentuk rokok) à sudah tidak ada
Obat bebas terbatas adalah obat yang dapat diperoleh tanpa resep dokter, e. P.No.5 Awas! Obat Keras, Tidak boleh ditelan
sehingga dapat dibeli langsung melalui Apotek maupun Toko Obat Berizin
namun memperolehnya dalam jumlah terbatas. Terdapat sediaan Obat Bebas
Terbatas adalah campuran obat bebas dan obat keras. Cara mengenali obat
bebas terbatas adalah terdapat tanda logo lingkaran berwarna BIRU dengan
garis tepi berwarna hitam pada kemasannya. Contoh :
Biasanya pada kemasan golongan obat ini terdapat peringatan-peringatan  Sediaan obat Sulfanilamid puyer 5 g steril à antibiotik untuk infeksi
berkaitan dengan pemakaian/penggunaannya yang ditulis dalam kotak, topikal/kulit termasuk untuk infeksi vagina
supaya pasien/masyarakat dapat menggunakan obat ini dengan benar. Ada 6  Sediaan ovula
macam tanda peringatan antara lain : f. P.No.6 Awas! Obat Keras, Obat wasir, jangan ditelan
a. P.No.1 Awas! Obat Keras, Bacalah Aturan Pemakaiannya

Contoh :
Contoh : Sediaan suppositoria untuk wasir/ambeien
 Sediaan Obat Pereda Flu / Pilek (Ex : Neozep, Ultraflu, Procold)
 Sediaan Obat Batuk (Ex : OBH, Woods, Komix, Actifed) 3. Obat Keras atau Daftar G (Gevaarlijk) atau berbahaya
b. P.No.2 Awas! Obat Keras, Hanya untuk kumur, jangan ditelan

Obat Keras adalah obat yang hanya dapat diperoleh dengan resep dokter,
Contoh : dan resep hanya dapat ditebus di Apotek atau diserahkan melalui Rumah
 Sediaan obat kumur mengandung Povidone Iodine (Ex : Betadine) Sakit, Puskesmas, maupun Klinik. Namun demikian ada beberapa macam
obat keras yang dapat diperoleh tanpa resep dokter yaitu obat-obat yang  Sediaan Obat Antiradang-antireumatik
masuk dalam Obat Wajib Apotek (OWA). Cara mengenali obat keras (Ex : Ibuprofen kaplet/tablet/sirup, Natrium diklofenak gel/krim dll)
adalah terdapat tanda logo lingkaran berwarna MERAH dengan garis tepi
berwarna hitam dan terdapat huruf K (warna hitam) berada ditengah 4. Obat Psikotropika
lingkaran dan menyentuh pada garis tepi pada kemasannya. Psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintesis bukan
Pada kemasan primer, sekuner, dan etiket biasanya mencantumkan narkotika yang berkhasita psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan
kalimat “ Harus dengan resep dokter” saraf pusat tyang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan
Contoh : perilaku. (UU RI No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika). Obat ini
 Sediaan Antibiotik merupakan obat yang digunakan untuk masalah gangguan kejiwaan/mental
(Ex : Amoxicillin, Ampicillin, Ciprofloxacin, Kloramfenicol, yang biasanya disebut dengan obat penenang dan antidepresan. Penggunaan
Tetracyclin, Sefadroksil, Metronidazol dll) obat ini dapat menyebabkan haliusinasi, depresi, stimulasi (tidak mengantuk,
 Sediaan Obat Analgesik (Pereda Nyeri) tidak lapar), dan gangguan fungsi motorik/otot (kepala bergerak naik
(Ex : Piroksikam, Meloksikam, Phenylbutazon dll) turun/geleng-geleng).
 Sediaan Obat Antihipertensi Psikotropika termasuk dalam Obat Keras Tertentu (OKT) yang logonya
(Ex : Captopril, Nifedipin, Amlodipin, Candesartan, HCT dll) sama dengan obat keras yaitu lingkaran berwarna MERAH dengan garis
 Sediaan Obat Antidiabet tepi berwarna hitam dan terdapat huruf K (warna hitam) berada ditengah
(Ex : Glibenklamid, Metformin dll) lingkaran dan menyentuh pada garis tepi pada kemasannya sehingga untuk
 Sediaan Obat Kortikosteroid mendapatkannya harus dengan resep dokter.
(Ex : Dexamethason, Metilprednison dll) Dikarenakan obat golongan ini dapat menimbulkan ketergantungan /
 Sediaan Obat Penyakit Gout/Asam Urat kecanduan, pemerintah melakukan pengawasan dengan ketat (regulasi dan
(Ex : Allopurinol) sanksi hukum) supaya tidak terjadi penyalahgunaan obat.
 Sediaan Obat Penurun Kolesterol Psikotropika digolongkan menjadi 4 (empat) golongan berdasarkan potensi
(Ex : Simvastatin, Atorvastatin, Gemfibrozil, dll) efek ketergantungan :
a. Psikotropika Golongan I
Sedangkan contoh beberapa obat yang masuk Obat Wajib Apotek (OWA) : Hanya digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan
 Sediaan Obat Kontrasepsi untuk terapi kesehatan/pengobatan karena dapat menyebabkan potensi
(Ex : Lyndiol tablet, Mycrogynon tablet, Endometril tablet, dll) sindrom ketergantungan yang sangat kuat.
 Sediaan Obat saluran Cerna Contoh : DMA, MDMA, Meskalin dll
(Ex : Decamag tab, Gastran tab, Dulcolax tab salut, Metoclopramide,
Papaverin HCl tab, dll) b. Psikotropika Golongan II
 Sediaan Obat Mulut dan Tenggorokan Digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan serta berkhasiat untuk
(Ex : Hexadol solution, Bactidol solutio, dll) pengobatan/terapi dan dapat menyebabkan potensi ketergantungan
 Sediaan Obat Saluran Nafas yang kuat.
(Ex : Salbutamol tablet/sirup, Terbutaline tablet/inhaler, Bromheksin Contoh : Amfetamin, Metakualon, Sekobarbital dll
tablet dll) c. Psikotropika Golongan III
 Sediaan Obat Analgetik, depresan Digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan serta berkhasiat untuk
(Ex : Asam mefenamat tablet, Aspirin+caffein tablet, Alvita kaplet pengobatan/terapi dan mempunyai potensisedang mengakibatkan
(Antalgin + Vitamin B1, B6, B12) dll) sindrom ketergantungan.
 Sediaan Obat Kulit Topikal Contoh : Amobarbital, Flunitrazepam, Pentobarbital dll
(Ex : Tetracycline salep, Kloramfenikol salep, Decoderm-3 krim, d. Psikotropika Golongan IV
bufacort-N krim, New-Kenacomb krim dll) Digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan serta berkhasiat untuk
 Sediaan Obat Antiparasit pengobatan/terapi dan mempunyai potensiringan mengakibatkan
(Ex : Albendazol tablet/suspensi (obat cacing) dll) sindrom ketergantungan.
Psikotropika golongan IV inilah yang banyak digunakan untuk Contoh : Tanaman Papaver Somniferum L, Opium mentah, Opium
terapi/pengobatan dikarenakan efek ketergantungan yang dihasilkan masak, tanaman koka (Erythroxylum coca), daun koka, kokain mentah,
ringan. kokain, tanaman ganja, Heroin, THC dll.
Contoh : Diazepam, Lorazepam, Nitrazepam, Alprazolam, b. Narkotika Golongan II
Klordiazepoksid, Triazolam dll. Berkhasiat untuk pengobatan tetapi digunakan sebagai pilihan terakhir
Penyerahan obat narkotika dapat dilakukan oleh Apotek, Rumah Sakit, dan dapat digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan pengembangan
Puskesmas, Klinik berdasarkan resep dokter kepada pasien/pengguna ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi mengakibatkan
langsung. ketergantungan.
Contoh : Morfin, Opium, Petidin, Ekgonin, Hidromorfinol dll.
5. Obat Narkotika c. Narkotika Golongan III
Berkhasiat untuk pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi
dan/atau untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta
mempunyai potensi ringan mengakibatkan ketergantungan.
Contoh : Kodein, Dihidrokodein, Etilmorfin, Doveri dll.
Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan Kodein dan Doveri biasa digunakan untuk obat batuk yang parah.
tanaman, baik sintesis maupun semisintesis, yang dapat menyebabkan Dari penggolongan obat diatas kita hanya dapat membeli obat dengan tujuan
penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai untuk pengobatan sendiri (self-medication) dari golongan obat bebas, obat
menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan, yang bebas terbatas serta obat wajib apotek (OWA). Untuk memperoleh obat-
dibedakan ke dalam golongan-golongan. (UU RI No.35 Tahun 2009 tentang obatan tersebut sebaiknya membeli di Toko Obat Berizin atau Apotek,
Narkotika). dikarenakan di sarana tersebut mutu obat lebih terjaga (karena penyimpanan
Cara mendapatkan Obat Narkotika harus dengan resep dokter dan obat dapat yang tepat, pemeriksaan masa kadaluarsa yang rutin) serta terhindar dari
diserahkan melalui Apotek, Rumah sakit, Puskesmas ataupun Klinik. obat-obat palsu yang beredar. Adanya Tenaga Teknis Kefarmasian di Toko
Logo obat narkotika adalah seperti tanda plus warna merah dalam lingkaran Obat atau Apoteker di Apotek dapat kita mintai saran dan informasi
warna putih dengan garis tepi warna merah. mengenai penggunaan dan keamanan obat yang akan kita digunakan. Namun
Obat narkotika sangat bermanfaat dan diperlukan di bidang ilmu perlu diingat bahwa masa pengobatan sendiri adalah 3 hari, jika selama 3 hari
pengetahuan maupun bidang kesehatan. Meskipun demikian, masih ada tidak sembuh maka harus berobat ke dokter.
yang menggunakan tidak sesuai dengan standar pengobatan maupun sengaja Jika kita tidak paham dengan obat yang diterima, kita wajib
disalahgunakan bahkan disertai peredaran narkotika secara gelap. mengetahui/bertanya kepada dokter / apoteker mengenai aturan pakai, dosis,
Penyalahgunaan Narkotika serta Psikotropika merupakan kejahatan krimial serta efek samping yang mungkin terjadi.
dikarenakan hal tersebut merupakan ancaman yang dapat melemahkan Note:
ketahanan nasional dikarenakan dapat merusak moral/mental masyarakat 1. Obat bebas dan obat bebas terbatas, termasuk obat daftar W (Warschuwing)
khususnya generasi muda penerus bangsa. Pemerintah melakukan atau OTC (over the counter).
pengawasan dan pengendalian peredaran obat narkotika dengan membuat 2. Pada obat bebas terbatas terdapat salah satu tanda peringatan nomor 1- 6.
Undang-undang Nomor 22 Tahun 1997 yang diperbarui menjadi UU Nomor 3. Obat keras nama lain yaitu obat daftar G (Gevarlijk), bisa diperoleh hanya
35 Tahun 2009 tentang Narkotika. dengan resep dokter.
Berdasarkan potensi yang dapat mengakibatkan ketergantungan, Narkotika 4. OWA (obat wajib apoteker) yaitu obat keras yang dapat diberikan oleh
digolongkan menjadi 3 (tiga) yaitu : apoteker pengelola apotek (APA), hanya bisa didapatkan di apotek.
a. Narkotika Golongan I
Hanya digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan 5. OWA
untuk terapi kesehatan/pengobatan karena dapat menyebabkan potensi Selain memproduksi obat generik, untuk memenuhi keterjangkauan pelayanan
sindrom ketergantungan yang sangat tinggi. kesehatan khususnya akses obat, pemerintah mengeluarkan kebijakan Obat Wajib
Apoteker (OWA). OWA merupakan obat keras yang dapat diberikan oleh Apoteker
Pengelola Apotek (APA) kepada pasien.
Disini terdapat daftar obat wajib apotek yang dikeluarkan berdasarkan keputusan 4. Penggunaannya diperlukan untuk penyakit yang prevalensinya tinggi di
Menteri Kesehatan. Sampai saat ini sudah ada 3 daftar obat yang diperbolehkan Indonesia.
diserahkan tanpa resep dokter. Peraturan mengenai Daftar Obat Wajib Apotek 5. Obat dimaksud memiliki rasio khasiat keamanan yang dapat
tercantum dalam : dipertanggungjawabkan untuk pengobatan sendiri.
1. Keputusan Menteri Kesehatan nomor 347/MenKes/SK/VII/1990 tentang Obat Tabel. Contoh OWA
Wajib Apotek, berisi Daftar Obat Wajib Apotek No. 1 Jumlah yang boleh
2. Keputusan Menteri Kesehatan nomor 924/Menkes/Per/X/1993 tentang Daftar Obat Indikasi diberikan
Obat Wajib Apotek No. 2
3. Keputusan Menteri Kesehatan nomor 1176/Menkes/SK/X/1999 tentang Daftar Antiinflamasi dan
Obat Wajib Apotek No. 3 Asam mefenamat anlagesik 10 tablet
Dalam peraturan ini disebutkanbahwa untuk meningkatkan kemampuan masyarakat
dalam menolong dirinya sendiri guna mengatasi masalah kesehatan, dirasa perlu Salep hidrokortison Antialergi topikal 1 tube
ditunjang dengan sarana yang dapat meningkatkan pengobatan sendiri secara tepat,
aman dan rasional. Peningkatan pengobatan sendiri secara tepat, aman dan rasional Obat KB antifertilitas 1 siklus (28 hari)
dapat dicapai melalui peningkatan penyediaan obat yang dibutuhkan disertai dengan
informasi yang tepat sehingga menjamin penggunaan yang tepat dari obat tersebut. bat Bebas
Oleh karena itu, peran apoteker di apotek dalam pelayanan KIE (Komunikasi,
Informasi dan Edukasi) serta pelayanan obat kepada masyarakat perlu ditingkatkan Obat bebas adalah obat yang tidak dinyatakan sebagai obat narkotika atau
dalam rangka peningkatan pengobatan sendiri. Walaupun APA boleh memberikan psikotropika atau obat bebas atau obat bebas terbatas yang dapat diberikan tanpa
obat keras, namun ada persayaratan yang harus dilakukan dalam penyerahan OWA. resep dokter. Dalam surat keputusan menteri kesehatan Republik Indonesia No.
1. Apoteker wajib melakukan pencatatan yang benar mengenai data pasien 2380/A/SK/VV/83 Pasal 3 menetapakan tanda khusus obat bebas yaitu lingkaran
(nama, alamat, umur) serta penyakit yang diderita. berwarna hijau dan garis tepi berwarna hitam.
2. Apoteker wajib memenuhi ketentuan jenis dan jumlah yang boleh diberikan
kepada pasien. Contohnya hanya jenis oksitetrasiklin salep saja yang No Nama Komposisi Indikasi
termasuk OWA, dan hanya boleh diberikan 1 tube.
3. Apoteker wajib memberikan informasi obat secara benar mencakup: indikasi, 1. Paracetamol Paracetamol Antipiretik, Analget
kontra-indikasi, cara pemakain, cara penyimpanan dan efek samping obat 2. OBH Glycerrhizae, puccus, chloretum, ammonium Antitusiv
yang mungkin timbul serta tindakan yang disarankan bila efek tidak 3. Mylanta Al hidroksida, Mg hidroksida, Simetikon Antasida dan Ulkus
dikehendaki tersebut timbul. 4. Bione Vit B, C, D Multivitamin
Jenis OWA 5. Sangobion Sorbitol, Vit C, B12, Folic Acid Anti Anemia
Tujuan OWA adalah memperluas keterjangkauan obat untuk masayrakat, maka 6. Elkana Kalsium Lactat, Vit B6, C, D3 Vitamin dan Minera
obat-obat yang digolongkan dalam OWA adalah obat ang diperlukan bagi 7. Neurodex Vit B1, B6, B12, Mononitrate Multivitamin
kebanyakan penyakit yang diderita pasien. Antara lain: obat antiinflamasi (asam 8. OBP Ammonium, Ammonia, Liquida, Chlorida Obat Batuk
mefenamat), obat alergi kulit (salep hidrokotison), infeksi kulit dan mata (salep 9. Aptor Acetosal Analgetik
oksitetrasiklin), antialergi sistemik (CTM), obat KB hormonal. 10. Viliron Multivitamin, Mineral Multivitamin
Sesuai permenkes No.919/MENKES/PER/X/1993, kriteria obat yang dapat
diserahkan:
1. Tidak dikontraindikasikan untuk penggunaan pada wanita hamil, anak di
bawah usia 2 tahun dan orang tua di atas 65 tahun. 2. Obat Bebas Terbatas
2. Pengobatan sendiri dengan obat dimaksud tidak memberikan risiko pada
kelanjutan penyakit. Obat bebas terbatas adalah obat keras yang dapat diserahkan kepada pasien
3. Penggunaannya tidak memerlukan cara atau alat khusus yang harus dilakukan tanpa resep dokter dalam jumlah terbatas pada surat keputusan Menkes Republik
oleh tenaga kesehatan. Indonesia No. 2380/A/SK/VV/83 Pasal 3 menetapkan tanda khusus untuk obat
bebas terbatas adalah lingkaran biru dengan garis tepi berwarna hitam.
No Nama Komposisi Indikasi OWA yang terlampir dan Kepmenkes No. 1176/Menkes/SK/X/1999 tang OWA No.
3.
1. Decolgen Paracetamol, Fenilpropalamine, CTM Antitusiv
2. Becefort Vit B1, B2, B6, B12 Multivitamin
No Nama Komposisi Indikasi
3. Camviochorton Hidrocortison asetat, kliokinol Antiradang Topikal
4. Hufamag Plus Al hidroksida, Mg hidroksida, simetichon Antasida 1. Na Diklofenak Na Diklofenak Reumatoid Artritis
5. Zetazal Miconazol Nitral Anti Fungi 2. Captopril Captopril Anti Hipertensi
6. Fludane PCT, CTM , Dextromethorphan Mukolitik 3. Furosemide Furosemide Diuretik
7. Tera F PCT, GG, CTM, Dextromethorphan Ekspektoran 4. Metronidazol Metronidazol Anti Bakteri, Amoebiasis
8. Combantrin Pirantel Pamoat 5.
Anti Anthelmintik Nifedipin Nifedipin Vasodilator Koroner
9. Bisolvon Bromhexin Ekspektoran 6. Ranitidine Ranitidine Tukak Duodenum Aktif
10. Antimo Dimenhidrinate Anti Emetik 7. Piracetam Piracetam Kardiovaskuler
8. Paracetamol Paracetamol Antipiretik, Analgetik
9. Cimetidine Cimetidine Tukak Lambung
10. Salbutamol Salbutamol Anti Asma

3. Obat Keras
Obat-obatan yang termasuk dalam golongan ini berkhasiat keras dan bila  TATA ATURAN PENYIMPANAN OBAT & METODE PENYIMPANAN
dipakai sembarangan bisa berbahaya bahkan meracuni tubuh, memperparah OBAT
penyakit, memicu munculnya penyakit lain sebagai efek negatifnya, hingga Indikator penyimpanan obat yaitu:
menyebabkan kerusakan organ-organ tubuh, bahkan dapat menyebabkan 1) Kecocokan antara barang dan kartu stok, indikator ini digunakan
kematian. Oleh karena itu, golongan obat ini hanya boleh diberikan atas resep untuk mengetahui ketelitian petugas gudang dan mempermudah dalam
dokter umum/spesialis, dokter gigi, dan dokter hewan. pengecekan obat, membantu dalam perencanaan dan pengadaan obat
No. Nama Komposisi Indikasi sehingga tidak menyebabkan terjadinya akumulasi obat dan kekosongan
1. Selespurin Allupurinol Antirematik obat,
2. Supertetra Tetracycline HCL Antibiotic 2) Turn Over Ratio, indikator ini digunakan untuk mengetahui kecepatan
3. Infalgin Antalgin Analgetik perputaran obat, yaitu seberapa cepat obat dibeli, didistribusi, sampai
4. Kalmex Tranexamic Acid Hemostatik dipesan kembali, dengan demikian nilai TOR akan berpengaruh pada
5. Interhistin Mebhydroline Anti Histamin ketersediaan obat. TOR yang tinggi berarti mempunyai pengendalian
6. Ambroxol Ambroxol HCL Mukolitik persediaan yang baik, demikian pula sebaliknya, sehingga biaya
7. Scandexon Dexamethasone Anti Histamin penyimpanan akan menjadi minimal,
8. Teosal Salbutamol, Theophyllin Anti Asma 3) Persentase obat yang sampai kadaluwarsa dan atau rusak, indikator ini
9. Mecoxon Dexamethasone Anti Histamin digunakan untuk menilai kerugian rumah sakit,
10. Faberdin Famotidine Ulkus Duodenum 4) Sistem penataan gudang, indikator ini digunakan untuk menilai sistem
penataan gudang standar adalah FIFO dan FEFO,
5) Persentase stok mati, stok mati merupakan istilah yang digunakan
4. OWA (Obat Wajib Apotek) untuk menunjukkan item persediaan obat di gudang yang tidak
mengalami transaksi dalam waktu minimal 3 bulan,
Obat wajib apotik adalah obat keras yang dapat diberikan oleh apoteker 6) Persentase nilai stok akhir, nilai stok akhir adalah nilai yang
kepada pasien di apotik tanpa resep dokter. Obat yang termasuk daftar OWA menunjukkan berapa besar persentase jumlah barang yang tersisa pada
ditetapkan dalam SK Menkes RI No. 374/Menkes/SK/VII/1990 tanggal 16 Juli 1990 periode tertentu, nilai persentese stok akhir berbanding terbalik dengan
tentang OWA No. 1 Permenkes No. 924/Menkes/SK/X/1993 tentang OWA No. 2 nilai TOR7.
yang merupakan tambahan lampiran Kepmenkes No. 347/Menkes/VII/1990 tentang
bat atau barang dagangan yang sudah dibeli tidak semuanya langsung
dijual, oleh karena itu harus disimpan dalam gudang terlebih dahulu  METODE PENATAAN OBAT
dengan tujuan antara lain : Pengaturan penyimpanan obat
1) Tidak dapat terkena sinar matahari langsung. a) Menurut bentuk sediaan dan Alfabetis
2) Cukup almari, kuat dan dapat dikunci dengan baik. b) Menerapkan sistem FIFO dan FEFO
3) Tersedia rak yang cukup baik. c) Menggunakan almari, rak dan pallet
4) Merupakan ruang tersendiri dalam komplek apotek. d) Menggunakan almari khusus untuk menyimpan narkotika dan
psikotropika
Obat yang disimpan dalam gudang tidak diletakkan begitu saja, tetapi e) Menggunakan almari khusus untuk perbekalan farmasi yang
disimpan menurut golongannya, yaitu : memerlukan penyimpanan pada suhu tertentu
1) Bahan baku disusun secara abjad dan dipisahkan antara serbuk, f) Dilengkapi kartu stock obat
setengah padat, bentuk cairan yang mudah menguap agar disendirikan.
2) Obat jadi disusun menurut abjad, menurut pabrik atau menurut Obat disusun menurut bentuk sediaan dan alfabetis, apabila tidak
persediaannya. memungkinkan obat yang sejenis dapat dikelompokkan menjadi satu.
3) Sera, vaksin dan obat-obatan uang mudah rusak atau mudah meleleh Untuk memudahkan pengendalian stok maka dilakukan langkah-langkah
disimpan di kamar atau disimpan di lemari es. sebagai berikut :
4) Obat-obat narkotika disimpan di lemari khusus sesuai dengan a) Gunakan prinsip FIFO dalam penyusunan obat yaitu obat yang
persyaratan pertama diterima harus pertama juga digunakan sebab umumnya obat yang
5) Obat-obat psikotropika (OKT) sebaiknya disimpan tersendiri. datang pertama biasanya juga diproduksi lebih awal dan akan kadaluwarsa
lebih awal pula.
Akhir-akhir ini sudah menjadi mode digunakannya lemari obat berbentuk b) Susun obat yang berjumlah besar di atas pallet atau diganjal
rumahlebah, dan berkotak-kotak. Selain menghemat ruang, tempat kerja dengan kayu secara rapi dan teratur.
pun menjadi rapih dan bersih. Rak-rak obat dapat terbuat dari kayu dan c) Gunakan lemari khusus untuk menyimpan narkotika dan obat-
besi. obatan yang berjumlah sedikit tetapi mahal harganya.
d) Susun obat yang dapat dipengaruhi oleh temperatur, udara, cahaya
Penyusunan obat dipakai sistem FIFO (First in First Out), artinya obat- dan kontaminasi bakteri pada tempat yang sesuai.
obatan yang masuk terlebih dahulu ke gudang, terlebih dahulu keluarnya. e) Susun obat dalam rak dan berikan nomor kode, pisahkan obat
Jadi yang terlebih dahulu masuk diletakkan di depan sedangkan yang dalam dengan obat-obatan untuk pemakaian luar.
terakhir masuk diletakkan dibelakang. Hal-hal yang perlu diperhatikan f) Cantumkan nama masing-masing obat pada rak dengan rapi
dalam penyimpanan obat yaitu : g) Apabila gudang tidak mempunyai rak maka dus-dus bekas dapat
1) Pencatatan tanggal kadaluarsa setiap macam obat terutama obat dimanfaatkan sebagai tempat penyimpanan.
antibiotika, sebaiknya dicatat dalam buku tersendiri h) Barang-barang yang memakan tempat seperti kapas dapat
2) Untuk persediaan obat yang telah menipis jumlahnya perlu dicatat disimpan dalam dus besar, sedangkan dus kecil dapat digunakan untuk
dalam bukudefecta, yang nantinya diberitahukan kepada bagian yang menyimpan obat-obatan dalam kaleng atau botol.
bertanggungjawab dalam hal pembelian. (Wijayanti.N,1990) i) Apabila persediaan obat cukup banyak, maka biarkan obat tetap
dalam box masing-masing, ambil seperlunya dan susun dalam satu dus
Penyimpanan narkotika dan psikotropika yakni pada gudang atau lemari bersama obat-obatan lainnya. Pada bagian luar dus dapat dibuat daftar obat
penyimpanan yang aman dan terkunci, gudang tidak boleh dimasuki orang yang disimpan dalam dus tersebut.
tanpa izin penanggung jawab. Penyimpanan produk rantai dingin; suhu area j) Obat-obatan yang mempunyai batas waktu pemakaian maka
terjaga (Penyimpanan < 25°C (sejuk) : disimpan dalam ruangan ber-AC, perlu dilakukan rotasi stok agar obat tersebut tidak selalu berada dibelakang
penyimpanan dingin disimpan dalam lemari pendingin (2-8°C) untuk yang dapat menyebabkan kadaluarsa obat
menyimpan vaksin dan serum, chiller dan freezer (Penyimpanan 0°C) khusus
untuk vaksin OPV8  SKRINING RESEP
- dituliskan nama pasien, tidak boleh m.i/mihi ipsi atau
2. Salinan resep memuat : u.p/usus propius (untuk pemakaian sendiri)
- Semua keterangan yang terdapat dalam resep asli - alamat pasien ditulis dengan jelas
- Nama dan alamat apotek - aturan pakai (signa) ditulis dengan jelas, tidak boleh ditulis s.u.c
- Nama dan nomor Surat izin pengelolaan apotek /signa usus cognitus (sudah tahu aturan pakai)
- Tanda tangan atau paraf APA ketentuan copy resep
- Tanda det atau detur untuk obat yang sudah diserahkan; tanda nedet atau Salinan resep harus ditandatangani oleh APA (bila tidak ada
nedetur untuk obat yang belum diserahkan dilakukan oleh apoteker pendamping, asisten apoteker kepala,
- Nomor resep dan tanggal peresepan apoteker supervisor atau apoteker pengganti dengan mencantumkan
nama terang dan status yang bersangkutan).
C. Ketentuan resep, copy resep, dan apoteker Resep/salinan resep harus dirahasiakan.
Ketentuan resep Resep/salinan resep hanya boleh diperlihatkan kepada dokter
Resep harus ditulis dengan jelas dan lengkap. penulis resep atau yang merawat penderita, penderita yang
Apabila resep tidak dapat dibaca dengan jelas atau tidak lengkap, bersangkutan, petugas kesehatan atau petugas lain yang berwenang
apoteker wajib menanyakan kepada penulis resep. menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Apabila apoteker menganggap bahwa dalam resep terdapat
kekeliruan atau penulisan resep yang tidak tepat, apoteker harus Menurut Keputusan Mentri Kesehatan No. 1027/MENKES/SK/IX/2004
memberitahukan kepada dokter penulis resep. tentang standard pelayanan kefarmasian di apotek, Apoteker dalam
Apabila dokter penulis resep tetap pada pendiriannya, tanggung melakukan skrining resep meliputi :
jawab sepenuhnya dipikul oleh dokter yang bersangkutan (dokter 1. Persyaratan adsministratif :
wajib menyatakannya secara tertulis atau membubuhkan tanda tangan -Nama, SIP, dan Alamat dokter.
yang lazim di atas resep). -Tanggal penulisan resep
Apabila apoteker menganggap pada resep terdapat kekeliruan -Tanda tangan / paraf dokter penulis resep.
yang berbahaya dan tidak dapat menghubungi dokter penulis resep, -Nama, alamat, umur, jenis kelamin, dan berat badan pasien
penyerahan obat dapat ditunda. -Nama obat, potensi, dosis, jumlah yang diminta
Resep dokter hewan hanya ditujukan untuk penggunaan pada -Cara pemakian yang jelas
hewan. -Informasi lainnya
Dokter gigi diberi izin untuk menulis segala macam obat dengan 2. Kesesuaian farmasetik : bentuk sediaan, dosis, potensi, stabilitas,
cara parenteral (injeksi) atau cara-cara pemakaian lain, khusus untuk inkompaktibilitas, cara dan
mengobati penyakit gigi dan mulut. lama pemberian.
Untuk penderita yang memerlukan pengobatan segera, dokter 3. Pertimbangan klinis : adanya alergi, efek samping, interaksi, kesesuaian
dapat memberikan tanda ” cito/statim/urgent (segera), P I (dosis, durasi, jumlah
M/periculum in mora (berbahaya bila ditunda)” pada bagian kanan obat dan lain-lain).
resep, dan harus didahulukan dalam pelayanannya.
Resep p.p /pro paupere (resep untuk orang miskin), dimaksud Keterangan :
agar apotek dapat meringankan harga obat atau bila dapat diberi gratis. 1. Persyaratan Adsministratif
Pada resep asli yang diberi tanda ”n.i”/ne iteratur (tidak boleh 1.1. Nama dan alamat dokter serta nomor surat izin praktek dan dapat pula
diulang), maka apotek tidak boleh mengulangi penyerahan obat atas nomor telp. jam dan hari praktek
resep yang sama 1.2. Nama kota serta tanggal resep itu ditulis dokter
Resep yang mengandung narkotika : 1.3. Tanda tangan / paraf dokter penulis resep. Merupakan tanda
- harus ditulis tersendiri tangan/paraf dokter/
- tidak boleh ada iterasi (ulangan) dokter gigi / dokter hewan yang menuliskan resep tersebut yang
menjadikan resep itu Aturan pakai obat oleh penderita umumnya ditulis dengan
otentik singkatan bahasa latin, aturan
1.4. Nama, alamat, umur, jenis kelamin dan berat badan pasien pakai ditandai dengan signatura (Zaman dan J, 1990)
Nama pasien ditulis dibelakang kata Pro : merupakan identifikasi 4. Pertimbangan Klinis
pasien dan sebaiknya Pertimbangan klinis berupa adanya alergi, efek samping, interaksi,
dilengkapi dengan alamat yang memudahkan penelusuran bila terjadi sesuatu kesesuaian (dosis, durasi,
dengan jumlah obat dll). Jika ada keraguan terhadap resep hendaknya
obat pada pasien dikonsultasikan kepada
1.5. Nama obat, potensi, dosis, jumlah yang diminta dokter penulis resep dengan memberikan pertimbangan dan alternatif
1.6. Cara pemakian yang jelas seperlunya bila perlu
1.7. Info lainnya menggunakan persetujuan setelah pemberitahuan
2. Kesesuaian Farmasetik
2.1. Bentuk sediaan. . Salinan Resep (Copy Resep)
2.2. Dosis Salinan resep adalah salinan yang dibuat oleh apotek, selain memuat
Dosis adalah jumlah atau takaran tertentu dari suatu obat yang semua keterangan yang terdapat dalam resep asli, copy resep juga harus
memberikan efek tertentu memuat :
terhadap suatu penyakit atau gejala sakit. Jika dosis terlalu rendah Nama dan alamat apotek.
(under dose) maka Nama dan nomor izin Apoteker Pengelola Apotek.
efek terapi tidak tercapai. Jika belebih (overdose) bisa menimbulkan Tanda tangan atau paraf Apoteker Pengelola Apotek.
efek toksik atau Tanda det (detur) untuk obat yang sudah diserahkan, pada resep
keracunan bahkan sampai dengan kematian. dengan tanda ITER ...x diberi tanda detur orig atau detur...x.
2.3. Potensi Istilah lain dari Salinan Resep adalah apograf, exemplum, afschrif.
Potensi obat adalah kekuatan obat atau potensi suatu obat
diberikan sesuai dengan umur  PENYIMPANAN RESEP DAN COPY RESEP
dan seberapa parah penyakit yang diderita pasien Resep yang memerlukan pelayanan segera :
2.4. Stabilitas Dokter dapat memberi tanda dibagian kanan atas resepnya dengan kata-kata :
Pemilihan obat tergantung juga pada kestabilan suatu sediaan. 1. Cito (segera)
Misalnya untuk obat-obat 2. Statim (Penting)
yang tidak stabil terhadap udara, maka pemberian obat oleh dokter 3. Urgent (Sangat Penting)
juga harus 4. PIM/Periculum In Mora (berbahaya jika ditunda)
diperhatikan
2.5. Inkompaktibilitas Urutan yang didahulukan PIM, Urgent, Statim, Cito
Inkompaktibilitas adalah ketidak campuran suatu obat. Ketidak
campuran ini termasuk Resep harus dirahasiakan dan disimpan di apotek menurut urutan tanggal dan nomor
interaksi farmasetis. Inkompaktibilitas ini terjadi di luar tubuh urut penerimaan resep. Penyimpanan untuk resep narkotika harus dipisah dari resep
( sebelum diberikan ) antara lainnya. Lama penyimpanan resep-resep ini dalam jangka waktu 3 tahun. Setelah 3
obat yang tidak dapat campur. Pencapuran obat demikian tahun, resep-resep tersebut dapat dimusnahkan oleh Apoteker Pengelola Apotek
menyebabkan terjadinya dengan disaksikan sekurang-kurangnya oleh seorang petugas apotek dan dibuatkan
interaksi langsung secara fisik atau kimiawi, perubahan warna, dll. berita acara pemusnahannya.
atau mungkin juga
tidak terlihat interaksi ini biasanya berakibat inaktivasi obat (Rosyidah, Ketentuan dalam Pengarsipan Resep
2009) 1. Resep disimpan berdasarkan nomor urut per hari
2.6. Cara Pemberian 2. Lalu di buat bundelan perbulan
3. Bundelan berdasarkan penggolongan obat yang ada dalam resep. obatan dan Perbenkes secara tertib baik obat-obatan yang diterima,
Ada 3 jenis bundelan resep : disimpan, didistribusikan maupun yang digunakan di unit pelayanan
a. Obat Narkotika, kesehatan lainnya.
b. Obat Psikotropika, B. Tujuan pencatatan dan Pelaporan
c. Obat Bebas + Bebas Terbatas + Obat Keras 1. Tersedianya data mengenai jenis dan jumlah penerimaan, persediaan,
pengeluaran/ penggunaan dan data mengenai waktu dari seluruh
Resep Narkotika rangkaian kegiatan mutasi obat.
Syarat dan penanganan resep narkotika yang dapat diterima oleh Apotek, yaitu : 2. Sebagian dari kegiatan pencatatan dan pelaporan obat ini telah
1. Resep harus diskrining terlebih dahulu dimana : diuraikan pada masing-masing aspek pengelolaan obat.
a. Harus resep asli (bukan copy resep) 3. Bukti bahwa suatu kegiatan telah dilakukan.
b. Ada nama penderita dan alamat lengkapnya yang jelas 4. Sumber data untuk melakukan pengaturan dan pengendalian.
c. Tidak boleh ada tulisan “ Iter ” yang artinya dapat diulang 5. Sumber data untuk pembuatan laporan.
d. Aturan pakai yang jelas, dan tidak boleh ada tulisan “UC” (Usus Laporan merupakan rangkaian kegiatan dalam pencatatan usaha obat-
Cognitus) yang artinya Cara pakai diketahui obatan secara tertib, baik obat yang diterima, disimpan maupun di
2. Obat narkotika di dalam resep diberi garis bawah tinta merah distribusikan untuk pelayanan jenis-jenis pelaporan di puskesmas dan di
3. Resep yang mengandung narkotika tidak boleh diulang, tetapi harus dibuat Apotek.
resep baru Untuk memudahkan dalam penulisan laporan yang akan dilaporkan
4. Resep yang mengandung narkotika harus disimpan terpisah dari resep lain. kepada Kantor Wilayah Departemen Kesehatan maka untuk obat narkotika
5. Jika pasien hanya meminta ½ obat narkotika yang diresepkan, maka di diadakan stock opname setiap sebulan sekali pada tanggal satu dan dibuat
perbolehkan untuk dibuatkan copy resep bagi pasien tersebut, tetapi copy laporannya sebanyak tiga rangkap yang ditunjukan ke Dinas Kesehatan
resep tersebut hanya dpt di tebus kembali di apotek tersebut yang Kota, serta tembusan ke Dinas Kesehatan Propinsi dan Badan POM
menyimpan resep aslinya, tidak bisa di apotek lain. sediaan lainnya diadakan stock opname setiap setahun sekali tiap akhir
6. Jika pasien sedang berada di luar kota, maka copy resep tetap tidak bisa tahun.Apoteker Pengelola Apotek (APA) menyusun resep yang telah
ditebus, melainkan harus dibuatkan resep baru dari dokter di daerah/ kota dikerjakan menurut urutan tanggal dan nomor urut penerimaan resep.
tersebut dengan menunjukkan copy resep yg dibawa, sehingga pasien tetap Resep harus disimpan setiap sekurang-kurangnya selama tiga tahun.
bisa memperoleh obatnya. Resep yang mengandung narkotika harus dipisahkan dari resep lain. Untuk
pelaporan resep harus dituliskan jumlah resep yang masuk dengan
Pemusnahan Resep mencantumkan harga dari masing-masing resep. Resep yang telah
1. Resep yang telah disimpan melebihi 3 tahun dapat dimusnahkan disimpian melebihi jangka waktu penyimpanan dapat dimusnahkan dan
2. Pemusnahan resep dilakukan dengan cara dibakar atau dengan cara lain dibuat berita acaranya. Semua hal ini tidak berlaku pada Toko Obat,
yang memadai, oleh APA bersama dangan sekurang-kurangnya petugas karena seperti yang kita tahu bahwasannya Toko Obat hanya menjual Obat
apotek bebas dan Obat bebas terbatas saja.
3. Pada pemusnahan resep harus dibuat berita acara pemusnahan sesuai dengan a. Format Laporan Narkotika
bentuk yang telah ditentukan dalam rangkap empat dan ditandatangani oleh Yaitu laporan yang dibuat oleh Apotek guna mencatat pengedaran dan
APA bersama dengan petugas apotek yang menyaksikan pemakaian obat narkotika yang berasal dan resep dokter dalam satu
bulannya.
 KELENGKAPAN SURAT PENYIMPANAN OBAT Laporan ditujukan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kota Bengkulu dengan
 KIE (di PDF) tembusan:
 PELAPORAN OBAT 1) Kepala Dinas Kesehatan Propinsi Bengkulu.
2) Kepala Balai POM Bengkulu.
Definisi Pencatatan dan Pelaporan 3) Arsip.
Pencatatan dan pelaporan data obat di Apotek dan Toko Obat Contoh: format laporan terlampir.
merupakan rangkaian kegiatan dalam rangka penatausahaan obat- b. Format Laporan Psikotropika
Adalah suatu laporan yang dibuat Apotek untuk mencatat pengeluaran Adalah buku yang berisikan atas suatu barang atau obat yang telah habis
obat Psikotropika berdasarkan pelayanan resep dokter setiap bulannya atau persediaan obat sudah sangat sedikit.
ditujukan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kota Bengkulu dengan 6. Buku pencatatan hutang/buku faktur
tembusan: Buku faktur adalah buku yang digunakan untuk mencatat hutang Apotek
1) Kepala Dinas Kesehatan Propinsi Bengkulu. sehingga dapat memperoleh mengetahui berapa besar hutang yang
2) Kepala Balai POM Bengkulu. ditanggung Apotek dicatat Iangsung pada buku faktur yang telah
3) Arsip. dipindahkan sesuai dengan PBF masing-masing.
Contoh: format laporan terlampir. 7. Buku Ekspedisi
c. Format Laporan Obat Generik Adalah buku yang telah digunakan untuk mencatat nomor-nomor surat
Yaitu suatu laporan yang dibuat oleh pihak Apotek yang mencatat nama penting yang akan dikirim, guna untuk dijadikan bukti bila terjadi
dan alamat dokter. Jumlah resep dan nama obat berasal dan dokter setiap kesalahan dalam mencatat pelaporan obat setiap bulannya. Buku ini
bulannya. Laporan obat generik ditujukan kepada Kepala Dinas Kesehatan digunakan untuk mencatat barang yang masuk dan diterima dan PBF,
Propinsi Bengkulu dengan tembusan: dapat juga digunakan untuk mengecek barang yang diterima.
a) Kepala Dinas Kesehatan Kota Bengkulu. 8. Blanko Salinan Resep
b) Kepala Badan POM. Adalah salinan resep yang digunakan berupa salinan resep tertulis dari
c) Arsip. suatu resep atau nama lainnya “Apograph”.
9. Blanko Kwitansi
E. Jenis Buku yang Digunakan dalam Pencatatan dan Pelaporan Adalah digunakan apabila pasien menginginkan bukti pembayaran atas
Pembukuan adalah salah satu rangkaian kegiatan pencatatan semua resep yang telah dibelinya.
transaksi keuangan dalam suatu badan instansi, fungsinya mengetahui dan 10. Buku Penjualan Bebas
memperoleh dalam mengontrol jalannya proses kegiatan agar sesuai Buku ini digunakan untuk mencatat barang, baik kosmetilc maupun alat
dengan tujuan dan rencana yang telah ditetapkan. Adapun buku-buku yang kesehatan yang telah dijual dan Apotek. Buku Penjualan Bebas, yang
digunakan dalam pencatatan dan pelaporan adalah : mencakup penjualan obat-obat bebas, bebas terbatas, obat wajib Apotek
1. Buku kas dan kosmetika.
Buku Kas adalah buku pencatatan semua transaksi uang tunai, baik itu 11. Buku Penjualan Obat-obat melalui resep dokter.
penerimaan maupun pengeluaran. Berfungsi untuk mencatat jumlah atau 12. Buku Pencatatan Resep Umum, Narkotika dan Psikotropika
besar kecilnya pendapatan tiap bulannya. Pencatatan dilakukan setiap 1) Buku Pencatatan Resep Umum
akhir bulan. Buku ini digunakan untuk mencatat pengeluaran obat melalui resep yang
2. Buku Pencatatan Barang dicatat setiap harinya.
Adalah buku yang digunakan untuk mencatat barang-barang yang dikirim 2) Buku Pencatatan Resep Narkotika dan Psikotropika Buku ini digunakan
berdasarkan faktur barang yang bersangkutan, yang mengisi buku ini ialah untuk mencatat penggunaan atau pengeluaran obat Narkotika dan
asisten apoteker (AA) yang telah di beri wewenang kemudian barang yang Psikotropika setiap han sesuai dengan resep dokter. Bukti ini ditutup setiap
diterima harus dicek terlebih dahulu agar tidak terjadi kesalahan. akhir bulan supaya diketahui jumlah pemakaian narkotika dan psikotropika
3. Buku Pencatatan resep setiap bulannya.
Adalah buku yang digunakan untuk mencatat resep yang masuk ke apotek 3) Blanko Pesanan Obat Surat Pesanan
yang harus ditulis oleh asisten apoteker (AA) setiap hari, buku ini juga Blanko ini ditulis berdasarkan buku permintaan barang kebutuhan obat
berguna apabila ada kesalahan dalam menerima resep. obatan atau perbekalan farmasi di Apotek yang ditanda tangani oleh
4. Buku Bank Apoteker Pengelola Apotek.
Buku bank adalah buku pencatatan segala transaksi yang dilakukan Surat Pesanan ini terdiri dan:
melalui bank. Berfungsi untuk mencatat pemasukan atau keperluan lain a. Wama putih (asli) dikirim ke PBF.
dan yang dibayarkan melalui cek yang didasarkan bila ada rekening b. Warna kuning (copy) sebagai arsip.
Apotek di Bank. Apotek NITA melakukan pemesanan obat ke PBF yang ada di Propinsi
5. Buku blanko surat pemesanan barang Bengkulu dan ada beberapa di luar Propinsi.
Macam-macam blanko pesanan obat: Adalah blanko yang dibuat untuk menyalin kembali resep sesuai dengan
1. Blanko pesanan obat bebas, bebas terbatas dan obat keras 1 (blanko) resep aslinya. Hal ini dilakukan apabila pasien hanya dilayani sebagian
Umumnya, Apotek NITA melakukan pemesanan obat melalui sales dan dan resep aslinya, atas permintaan pasien itu sendiri dan tidak
harus disertai dengan pemesanan. mengandung obat narkotika. Hal ini dilakukan guna menghindari penyalah
Contoh pesanan obat bebas terlampir. gunaan obat narkotika.
2. Blanko Pesanan Psikotropika contoh blanko salinan resep terlampir.
Blanko pemesanan ini terdiri dan 2 (dua) rangkap:
a) Warna putih (asli) dikirim ke PBF.  DRP DAN CONTOH KASUSNYA
b) Warna putih (copy) sebagai arsip Apotek.
Jika pemesanan ditujukan kepada PBF yang berdomisihi di dalam Drug Related Problems (DRP) atau Drug Therapy Problems (DTP) didefinisikan
wilayah Propinsi Bengkulu, maka Surat Pesanannya sama dengan surat sebagai kejadian tidak diinginkan yang menimpa pasien yang berhubungan dengan
pesanan obat keras dan surat pesanan tersebut tidak perlu dilegalisir oleh terapi obat, dansecara nyata maupun potensial berpengaruh terhadap perkembangan
Dinas Kesehatan Propinsi Bengkulu, tetapi jika pesanan obat pasien yang diinginkan.
psikotropikanya ditujukan ke PBF yang berdomisili di luar wilayah Suatu kejadian dapat disebut DRP bila memenuhi dua komponen berikut:
Propinsi Bengkulu, maka Surat Pesanan tersebut sebelum dikirimkan  Kejadian tidak diinginkan yang dialami pasien.
kepada PBF yang dituju harus dilegahisir terlebih dahulu ke Dinas  Kejadian ini dapat berupa keluhan medis, gejala, diagnosis, penyakit,
Kesehatan Propinsi Bengkulu. ketidakmampuan (disability), atau sindrom; dapat merupakan efek dari
Contoh blanko pemesanan obat Psikotropika terlampir. kondisi psikologis, fisiologis, sosiokultural, atau ekonomi.
4) Blanko Pesanan Narkotika  Ada hubungan antara kejadian tersebut dengan terapi obat.
Blanko ini ditujukan ke PBF Kimia Farma Bengkulu, karena PBF ini yang  Bentuknya hubungan ini dapat berupa konsekuensi dari terapi obat, maupun
diberi izin dan wewenang untuk mendistribusikan that narkotika tersebut kejadian yang memerlukan terapi obat sebagai solusi maupun preventif
Surat pesanan ini ditanda tangani oleh Apoteker Pengelola Apotek, apabila Sebagai pengemban tugas pelayanan kefarmasian, seorang farmasis memiliki
Apotek mehakukan pemesanan narkotika pada PBF yang berdomisili di tanggung jawab terhadap adanya DRP yaitu dalam hal:
luar wilayah Propinsi Bengkulu maka surat pesanannya harus dilegalisir 1. Mengidentifikasi masalah,
terlebih dahulu oleh Dinas Kesehatan Propinsi Bengkulu. Blanko 2. Menyelesaikan masalah, dan
pemesanan obat narkotika terdiri dan 4 rangkap: 3. Melakukan tindakan untuk mencegah terjadinya DRP
a) Warna putih (asli) dikirim ke PBF. 4. Untuk dapat melaksanakan tanggung jawab ini seorang farmasis memerlukan
b) Warna merah (copy) serahkan ke Dinkes Propinsi Bengkulu. keahlian, pengetahuan, suatu sistem kesehatan yang mendukung.
c) Warna kuning (copy) sebagai arsip Apotek. DRP dapat diklasifikasikan berdasarkan hubungannya dengan hal-hal yang
d) Warna biru (copy) untuk arsip Apotek menjadi pokok perhatian dan harapan pasien sebagai berikut:
Contoh blanko pemesanan obat narkotika terlampir. Indikasi
5) Blanko kartu stock dan blanko persiapan barang 1. Pasien memerlukan obat tambahan
Blanko kartu stock adalah blanko yang digunakan untuk mencatat keluar 2. Pasien menerima obat yang tidak diperlukan
masuknya obat-obatan dalam gudang di luar gudang selain itu juga untuk 3. Efektivitas
mengetahui kadaluarsa dan obat. 4. Pasien menerima obat yang salah
6) Blanko Kwitansi dan Nota Penjualan 5. Pasien menerima obat yang benar tetapi dosisnya terlalu rendah
Kwitansi adalah tanda bukti yang diberikan, apabila pasien meminta tanda 6. Keamanan
bukti atas pembelian, pembayaran. Sedangkan nota digunakan untuk 7. Pasien mengalami efek obat yang tidak diinginkan
mencatat pembelian obat, kosmetika maupun alat kesehatan yang akan 8. Pasien menerima dosis yang terlalu tinggi
dijual di Apotek. 9. Kepatuhan
Contoh blanko kwitansi terlampir. 10. Pasien tidak patuh terhadap regimen pengobatan
7) Blanko Salinan Resep 11. Pasien membutuhkan terapi tambahan
Keadaan yang jarang ditemukan pada DRP adalah suatu keadaan ketika pasien obat tunggal saja sudah cukup efektif, maka dapat dikatakan bahwa pasien ini
menderita penyakit sekunder yang mengakibatkan keadaan yang lebih buruk mengalami DRP.
daripada sebelumnya sehingga memerlukan terapi tambahan. Penyebab utama Seorang pasien menerima obat dengan sediaan yang tidak sesuai dengan
perlunya terapi tambahan antara lain ialah untuk mengatasi kondisi sakit pasien yang kondisinya. Misalnya pasien balita diberikan obat berupa tablet, padahal obat
tidak mendapatkan pengobatan, untuk menambahkan efek terapi yang sinergis, dan tersebut seharusnya diberikan dalam bentuk puyer.
terapi untuk tujuan preventif atau profilaktif. Jumlah obat yang dikonsumsi terlalu sedikit
Misalnya pada pasien kanker, diperlukan lebih dari satu jenis obat antikanker Pasien menerima obat dalam jumlah lebih kecil dibandingkan dosis terapinya.
agar terapinya lebih efektif untuk mematikan sel-sel kanker tersebut. Terapi untuk Hal ini dapat menjadi masalah karena menyebabkan tidak efektifnya terapi sehingga
tujuan preventif contohnya ialah pemberian tablet aspirin dosis kecil pada pasien pasien tidak sembuh, atau bahkan dapat memperburuk kondisi kesehatannya. Hal-
geriatri untuk mengurangi resiko terjadinya serangan jantung dan kematian. hal yang menyebabkan pasien menerima obat dalam jumlah yang terlalu sedikit
Pasien menerima terapi obat yang tidak diperlukan antara lain ialah kesalahan dosis pada peresepan obat, misalnya pemberian antibiotik
Pada kategori ini termasuk juga penyalahgunaan obat, narkotika, alkohol, amoksisilin sirup 40 mg pada pasien anak, sedangkan untuk indikasi yang sama
dan swamedikasi yang tidak benar. Merupakan tanggung jawab farmasis agar pasien seharusnya diberikan amoksisilin dosis 125 mg. Frekuensi dan durasi minum obat
tidak menggunakan obat yang tidak memiliki indikasi yang valid. DRP kategori ini yang tidak tepat dapat menyebabkan jumlah obat yang diterima lebih sedikit dari
dapat menimbulkan implikasi negatif pada pasien berupa toksisitas atau efek yang seharusnya, misalnya amoksisilin yang seharusnya diminum 3 kali sehari
samping, dan membengkaknya biaya yang dikeluarkan di luar yang seharusnya. ternyata hanya diminum 1 kali sehari; dan durasi pengobatan yang seharusnya 10
Penyebab DRP kategori ini antara lain tidak ada indikasi medis yang tepat, hari tetapi obatnya hanya diminum kurang dari itu. Penyimpanan juga berpengaruh
penggunaan obat yang sifatnya adiktif, dan duplikasi terapi yang tidak perlu. terhadap beberapa jenis sediaan obat. Amoksisilin untuk anak-anak biasanya
Contohnya ialah pasien yang menderita batuk dan flu mengkonsumsi obat batuk dan diberikan dalam bentuk sirup kering, sehingga sebelum digunakan harus dilarutkan
analgesik-antipiretik terpisah, padahal dalam obat batuknya sudah mengandung lebih dahulu dengan air. Sediaan harus disimpan dalam lemari es untuk menjaga
parasetamol. Ada keluhan-keluhan medis yang sebenarnya bisa diatasi tanpa obat kestabilan kadar obat dalam sediaan. Cara pemberian yang tidak benar, misalnya
melainkan dengan perbaikan pola makan atau gaya hidup. Contohnya ialah pasien menggunakan ukuran sendok yang salah untuk sediaan sirup, atau penggunaan obat
pria yang menerima ranitidine 150 mg oral 2 kali sehari untuk ulkus duodenum semprot untuk asma dengan cara yang tidak benar, dapat mengurangi jumlah obat
selama 6 minggu, kini telah sembuh tapi masih ada rasa tidak nyaman pada perutnya yang masuk ke dalam tubuh pasien. Adanya interaksi obat dengan makanan atau
karena konsumsi kopi dan nikotin. Sebenarnya keluhan ini dapat diatasi bila dia dengan obat lain dapat menyebabkan salah satu obat berkurang absorbsinya dalam
mengurangi konsumsi kopi dan tidak merokok lagi, tidak perlu minum obat. saluran cerna, atau mengalami peningkatan metabolisme sehingga jumlahnya dalam
Pasien menerima regimen terapi yang salah sirkulasi lebih kecil dari yang seharusnya.
Kadang-kadang suatu terapi obat yang diterima pasien bisa jadi tidak efektif, Ada beberapa faktor pendukung yang menyebabkan hal-hal tersebut di atas,
atau pasien menerima terapi obat di mana ada alternatif obat lain yang lebih efektif, antara lain ialah obat diresepkan dengan metode fixed-model (hanya merujuk pada
atau sama efektifnya tetapi lebih aman. Misalnya pada pasien anak yang menderita dosis lazim) tanpa mempertimbangkan lebih lanjut usia, berat badan, jenis kelamin,
otitis media diresepkan amoksisilin 125 mg 3 kali sehari selama 10 hari. Pada dan kondisi penyakit pasien sehingga terjadi kesalahan dosis pada peresepan.
kejadian sebelumnya bulan yang lalu, awalnya ia diobati dengan amoksisilin, tetapi Adanya asumsi dari tenaga kesehatan (dokter, perawat, farmasis) yang lebih
setelah 7 hari pengobatan tidak sembuh. Kemudian terapi diganti dengan menekankan keamanan obat dan meminimalisir efek toksik terkadang sampai
kotrimoksazol, yang akhirnya dapat menyembuhkan infeksinya. Melihat riwayat mengorbankan sisi efektivitas terapi. Ketidakpatuhan pasien yang menyebabkan
medikasinya, seharusnya anak ini diberikan kotrimoksazol karena sudah terbukti konsumsi obat tidak tepat jumlah, antara lain disebabkan karena faktor ekonomi –
untuk penyakit yang serupa penggunaan amoksisilin tidak efektif. Ada juga kasus di pasien tidak mampu menebus seluruh obat yang diresepkan, dan pasien tidak paham
mana pasien menerima suatu terapi obat padahal ia alergi terhadapnya, atau ada cara menggunakan obat dengan benar.
kontraindikasi lain, misalnya pada kasus wanita hamil dengan acne vulgaris Jumlah obat yang dikonsumsi terlalu banyak
diresepkan isotretinoin (Accutane) padahal obat ini dikontraindikasikan pada Pasien menerima obat dalam jumlah lebih banyak dibandingkan dosis
kehamilan. Penggunaan obat yang lebih mahal jika ada alternatif obat lain yang terapinya. Hal ini tentu berbahaya karena dapat terjadi peningkatan resiko efek
lebih murah tapi efikasinya sama juga dapat dikategorikan sebagai regimen terapi toksik dan bisa jadi membahayakan pasien. Hal-hal yang menyebabkan pasien
yang salah. Di sini nampak jelas pentingnya keterlibatan pasien dalam menentukan menerima obat dalam jumlah yang terlalu sedikit antara lain ialah kesalahan dosis
regimen terapi. Jika seorang pasien menerima terapi kombinasi padahal pemberian pada peresepan obat. Frekuensi dan durasi minum obat yang tidak tepat dapat
menyebabkan jumlah obat yang diterima lebih banyak dari yang seharusnya.  Frekuensi terjadinya sering tetapi jarang menimbulkan efek yang serius.
Adanya interaksi obat dengan makanan atau dengan obat lain dapat menyebabkan Contohnya pemakaian obat penghambat beta dapat menyebabkan bradikardia,
salah satu obat meningkatkan absorbsinya dalam saluran cerna, atau mengalami dan antidepresan trisiklik menyebabkan mulut kering.
penurunan metabolisme sehingga jumlahnya dalam sirkulasi lebih banyak dari yang  Tipe B
seharusnya. Reaksi ini tidak terkait dengan aksi farmakologis obat dan dosis yang digunakan.
Ada beberapa faktor pendukung yang menyebabkan hal-hal tersebut di atas, Ciri-ciri ADR tipe B adalah:
antara lain ialah obat diresepkan dengan metode fixed-model (hanya merujuk pada  Tidak dapat diramalkan (berdasarkan farmakologinya)
dosis lazim) tanpa mempertimbangkan lebih lanjut usia, berat badan, jenis kelamin,  Tidak tergantung dosis namun terkait metabolisme obat dan sistem imun
dan kondisi penyakit pasien sehingga terjadi kesalahan dosis pada peresepan. Pada penderita
kasus swamedikasi, ada pasien yang berasumsi bahwa semakin tinggi dosis efek  Dapat ditangani dengan penghentian pemberian obat
obat semakin baik. Meskipun tidak sepenuhnya salah namun banyak faktor yang  Frekuensi terjadinya jarang tetapi menimbulkan efek yang serius bahkan
harus dipertimbangkan dalam peningkatan dosis. Misalnya seorang pasien menderita mematikan. Contohnya ialah syok anafilaksis setelah injeksi antibiotika, atau
sakit kepala kemudian mengkonsumsi parasetamol. Pada kali lain sakit kepalanya terjadinya anemia aplastik pada penggunaan kloramfenikol.
terasa lebih berat ia mengkonsumsi parasetamol dalam jumlah yang lebih besar. Ketidakpatuhan pasien
Mungkin ia tidak menyadari bahwa konsumsi parasetamol dalam jumlah besar Ketidakpatuhan pasien dapat menimbulkan DRP. Ketidakpatuhan ini dapat
apalagi dalam jangka waktu lama dapat menimbulkan kerusakan hati. Pada kasus- disebabkan banyak hal, antara lain obat yang diresepkan tidak tersedia (di apotek
kasus swamedikasi ini perhatian dan pelayanan informasi obat oleh farmasis di terdekat) sehingga pasien kesulitan karena harus mencari obat tersebut di tempat lain.
apotek sangat diperlukan. Daya beli pasien yang rendah dan harga obat yang mahal menjadi pemicu utama
Pasien mengalami reaksi obat yang tidak diinginkan (adverse drug reaction, ADR) ketidakpatuhan pasien karena ia tidak mampu membeli semua obat yang diresepkan.
Dalam terapinya pasien mungkin menderita ADR yang dapat disebabkan Beberapa faktor penyebab ketidakpatuhan yang lain ialah pemberian sediaan yang
karena obat tidak sesuai untuk kondisi pasien, cara pemberian obat yang tidak benar tidak tepat sehingga pasien tidak mau atau tidak bisa mengkonsumsi obat tersebut,
baik dari sisi frekuensi pemberian maupun durasi terapi, adanya interaksi obat, dan misalnya pasien anak diresepkan sediaan tablet yang tidak bisa ditelannya, atau
perubahan dosis yang terlalu cepat pada pemberian obat-obat tertentu. diresepkan sediaan suspensi yang bau dan rasanya tidak enak, sehingga anak itu
Pemberian pseudoefedrin dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah tidak mau minum obat. Pasien kadang-kadang tidak mengerti instruksi pemberian
sehingga menyebabkan jantung berdebar dan meningkatkan tekanan darah sehingga obat, atau memiliki asumsi sendiri terhadap regimen pengobatan, misalnya
obat ini tidak boleh diberikan pada penderita hipertensi. Interaksi obat antara antibiotik yang diresepkan seharusnya diminum sampai habis tetapi ternyata pasien
digoksin dan amiodaron atau kuinidin, dapat meningkatkan jumlah digoksin dalam menghentikan minum obat setelah kondisi tubuhnya dirasa membaik padahal obat
darah sehingga dapat menyebabkan keracunan digoksin berupa gangguan irama belum dihabiskan. Pada kasus khusus pasien yang beraktivitas seharian sehingga
denyut dan konduksi jantung. Labetalol memiliki efek samping yang disebut lupa meminum obatnya, atau lupa membawa inhalernya, sehingga regimen
fenomena dosis pertama, yaitu terjadinya hipotensi orthostatik yang terjadi pada pengobatan menjadi tidak tepat.
pemberian dosis pertama, atau sewaktu ada peningkatan dosis. Untuk mencegah Secara umum perhatian farmasis terhadap adanya DRP sebaiknya
efek samping ini dosis awal harus kecil, dan peningkatan dosis dilakukan perlahan- diprioritaskan pada pasien geriatri, pasien pediatri, ibu hamil dan menyusui, serta
lahan. pasien yang mendapatkan obat yang indeks terapinya sempit. Pasien usia lanjut
ADR seringkali menjadi hambatan dalam pelaksanaan layanan kesehatan. memiliki kelemahan dalam hal fisik dan ingatan, sehingga sebaiknya tidak diberikan
ADR juga dapat meningkatkan biaya perawatan kesehatan. ADR merupakan respon pengobatan dengan regimen yang kompleks, dan sedapat mungkin farmasis
terhadap suatu obat yang berbahaya dan tidak diharapkan, serta terjadi pada melibatkan orang lain (keluarga atau perawat) untuk mendampingi pasien tersebut
pemberian dosis lazim. Terdapat dua macam ADR yaitu: menjalankan terapinya. Pasien pediatri harus diprioritaskan dalam penanganan DRP
 Tipe A karena kondisi fisiologisnya masih belum sempurna sehingga faktor2 metabolisme
Reaksi ini terkait dengan aksi farmakologis obat, dan tergantung pada dosis yang dan absorbsi obat tidak bisa disamakan begitu saja dengan pasien dewasa, dan
digunakan. Ciri-ciri ADR tipe A adalah: farmasis mutlak harus melibatkan orangtua dalam pelayanan dan penanganan
 Dapat diramalkan (berdasarkan farmakologinya) terhadap DRP yang diderita anaknya. Banyak obat yang dikontraindikasikan
 Tergantung pada dosis terhadap kehamilan dan keadaan menyusui karena perubahan-perubahan fisiologis
 Dapat ditangani dengan pengurangan dosis yang dialami selama kehamilan, dan ada obat yang dapat terdistribusi melalui
plasenta dan air susu ibu sehingga dikhawatirkan mempengaruhi pertumbuhan janin penyakit tidak ada maka obat untuk mengatasi gejala penyakit tersebut tidak lagi
maupun bayi yang mengkonsumsi air susu ibu. Pasien yang mendapatkan obat diperlukan.
dengan indeks terapi sempit, misalnya digitalis, harus dimonitor secara seksama 3. Adanya obat dengan dosis yang tidak tepat
penggunaan obatnya untuk mencegah efek toksik, sebab kesalahan penggunaan obat Permasalahan ini berhubungan erat dengan kadar obat yang anda terima dan
misalnya dosisnya lebih tinggi dari yang seharusnya diterima walaupun sedikit akan kemudian terdistribusi di dalam tubuh anda. Ada beberapa contoh permasalahan
mengakibatkan efek toksik terutama pada jantung dan dapat menyebabkan kematian berhubungan dengan kadar ini:
Drug Related Problems (DRP)  Dosis obat yang anda terima tidak mencukupi atau berlebih: Misalnya anda
Secara sederhana, DRP dapat kita defenisikan sebagai “permasalahan-permasalahan (*dari tadi yang sakit anda melulu…) sedang menderita hipertensi dan
yang berkaitan dengan obat”. Saya tegaskan lagi: semua-mua permasalahan- seharusnya meminum obat Kaptopril (obat penurun tekanan darah) dengan
permasalahan yang berhubungan dengan obat. Permasalahan ini merupakan salah kekuatan dosis 25 mg tiap tabletnya, tetapi dalam kenyataannya *karena
satu faktor utama yang dapat menghambat penyembuhan anda dari penyakit. Tidak beberapa kendala teknis* ternyata anda hanya diberikan obat yang sama
hanya memperlambat, DRP ini ternyata dapat juga memberikan penyakit tambahan, (Kaptopril) tetapi dalam kekuatan dosis yang hanya 12,5 mg. Atau contoh yang
atau akibat buruk lainnya yang tidak diinginkan. lain, misalnya anda diberikan antibiotik Amoksisilin sebanyak 9 tablet (@500
Ada beberapa jenis permasalahan yang berhubungan dengan obat. Pembahasan ini mg) untuk anda minum 3 kali sehari selama 3 hari. Namun karena sesuatu hal
sebenarnya farmasi banget, tapi saya coba sederhanakan supaya dapat dengan *misalnya karena lupa* ternyata anda hanya minum obat ini selama 2 hari. Ini
mudah dipahami :) adalah masalah… dan berpotensi mendatangkan masalah lainnya.
1. Adanya penyakit/gejala penyakit yang tidak terobati  Frekuensi meminum obat tidak tepat: Pada kasus di atas misalnya anda
Misalnya anda pada suatu waktu menderita beberapa gejala penyakit seperti batuk, seharusnya minum obat 3 kali sehari, tetapi ternyata anda hanya minum 2 kali
demam + sakit kepala, hipertensi, gasteritis *naudzubillah, sakitnya banyak amat*, saja. Jika demikian maka kadar obat di dalam tubuh anda tidak mencukupi untuk
dan ternyata obat yang diberikan petugas kesehatan hanya obat batuk, obat sakit memberikan efek terapi. Atau bisa juga kasus sebaliknya dimana obat yang
kepala/demam, dan obat hipertensi. Sedangkan anda juga menderita gasteritis (baca: seharusnya diminum 2 kali sehari saja kemudian anda minum 3 kali *mungkin
magh) tetapi anda tidak mendapatkan obat untuk mengatasi (gejala) penyakit dengan harapan supaya cepat sembuh :mrgreen: … Lho, gak bisa gitu donks…
tersebut. Artinya, obat yang anda terima tidak menjawab semua keluhan anda bisa-bisa anda keracunan
sehingga anda tetap tersiksa karena gejala penyakit anda tidak teratasi. 4. Penggunaan obat yang tidak tepat waktu
2. Adanya obat yang tidak mempunyai indikasi (obat yang tidak perlu) Beberapa obat tertentu harus diminum pada waktu-waktu khusus. Secara umum kita
Anda misalnya cuma sedang menderita flu (dengan gejala demam plus sakit kepala hanya mengenal meminum obat sebelum makan atau sesudah makan, padahal
*dikit), tetapi petugas kesehatan memberikan anda beberapa obat: parasetamol sebenarnya masih banyak waktu-waktu khusus untuk meminum obat. Misalnya ada
(sebagai obat sakit kepala + demam) dan amoksisilin (antibiotik untuk membunuh obat tertentu yang diminum di saat makan (bersamaan dengan makanan), ada obat
bakteri). Lho? Kok dikasih amoksisilin? Anda kan tidak sedang terinfeksi yang diminum di pagi hari, ada yang malam hari sebelum tidur, ada yang sebaiknya
mikroba/bakteri? Anda kan cuma terserang virus influenza? Padahal virus tidak bisa bersamaan dengan susu, dan lain sebagainya *rumit amat… :( Tapi hal ini sangat
diatasi dengan obat antibiotik. Jadi, anda sedang menerima obat yang tidak ada penting supaya obat yang anda minum efektif.
indikasinya (baca: tidak ada penyakit yang anda derita yang bisa disembuhkan oleh 5. Terjadinya ROM
obat tersebut). So, ngapain minum obat yang tidak kita butuhkan… Ntarefek ROM yang dimaksudkan di sini adalah Reaksi Obat yang Merugikan. Reaksi ini
samping lagi *belum lagi kalo obatnya lumayan mahal :( terdiri dari:
Anda tau parasetamol bukan…? Itu tuh, obat yang dipake untuk mengatasi demam  Efek samping obat. Hampir semua obat mempunyai efek samping, tetapi tidak
dan sakit kepala. Di dalam praktek kesehatan, sering sekali pasien diberikan semua efek samping tersebut mempunyai makna secara klinis dan sebagian
beberapa tablet parasetamol tanpa diberikan penjelasan tentang kapan dan besarnya dapat diabaikan dan tidak cukup mengganggu. Tetapi, untuk obat-obat
bagaimana penggunaan obat ini. tertentu anda (sebagai pasien) sebenarnya harus dikasih tau bahwa suatu obat A
Parasetamol diminum hanya ketika anda demam/sakit kepala. Jika demam atau nyeri efek sampingnya begini dan begitu, sehingga anda bisa mengambil langkah yang
sudah tidak anda rasakan lagi, maka parasetamol tidak perlu lagi anda minum, tepat ketika itu benar-benar terjadi.
karena anda tidak butuh.  Keracunan obat: Hal ini biasanya terjadi karena penggunaan obat yang melebihi
Contoh kasus parasetamol ini merupakan salah satu DRP yang termasuk ke dalam dosis, atau karena penggunaan obat yang meskipun tidak melebihi dosis, tetapi
kategori penggunaan obat yang tidak ada indikasi (lagi), karena setelah gejala digunakan dalam jangka waktu yang cukup lama atau bahkan terus-menerus.
 Reaksi alergi: Reaksi alergi merupakan reaksi yang khusus dan bersifat R/ Diazepam 2 XXX
individual dan tidak bisa diprediksi. Misalnya ada pasien yang ternyata alergi S 2 dd 1
terhadap Antalgin, maka ketika petugas kesehatan tidak tahu dan kemudian R/ Aspilet XV
memberikan obat tersebut kepada pasien, maka akan terjadi reaksi alergi. S 1 dd 1
 Terjadi interaksi obat yang menimbulkan efek yang merugikan. Hal ini terjadi R/ ISDN 5 XV
ketika anda meminum beberapa obat sekaligus sehingga sebagian obat tertentu S 1 dd 1 SL bila nyeri dada
berinteraksi dengan obat tertentu lainnya (tidak dengan sembarang obat). R/ Antasida Fl. I
S 4 dd IC
Analisa resep dalam tugas khusus ini bertujuan untuk menilai apakah suatu R/ Simvastatin XV
resep obat yang diberikan oleh dokter kepada pasien telah rasional, serta apakah S 0-0-1
berpotensi menimbulkan Drugs Related Problems (DRP) serta kemungkinan R/ Gemfibrozil 300 XV
terjadinya medication error (ME). S 0-0-1
Penggunaan obat yang rasional dapat dijabarkan sebagai penggunaan obat
yang tepat dengan memperhitungkan aspek manfaat dan kerugiannya. Penggunaan Pro : Tn. A (40 Th)
obat yang rasional akan memberikan manfaat yang lebih besar dibanding kerugian
yang diakibatkannya. a. Anamnesa
DRP umumnya berhubungan dengan dosis, seperti kurang/ lebih dosis atau Pasein menyatakan telah lama menderita penyakit kolesterol, sakit jantung, diabetes
mungkin salah dosis, adanya indikasi yag tak terobati, atau bahkan obat diberikan mellitus dan tekanan darah tinggi (140 mmHg).
tanpa indikasi. DRP yang lain mungkin disebabkan oleh adanya interaksi obat, b. Analisa Kasus
dengan obat lain, maupun dengan makanan yang dapat menyebabkan tidak Dalam kasus ini Tn. A yang berusia 40 tahun, mendapat 10 item obat dalam satu
tercapainya tujuan terapi. Resiko efek samping dan kemungkinan terjadinya reaksi kurun waktu pengobatan. Pasien mengalami diabetes mellitus dengan diagnosa
obat merugikan (ROM) juga merupakan faktor penyumbang terjadinya DRP. penyerta tekanan darah tinggi, hiperlipidemia, dan gangguan jantung. Obat-obat
Sedangkan medication error (ME) lebih berupa suatu kejadian yang yang diresepkan dokter adalah sebagai berikut:
merugikan pasien, selama pasien tersebut berada dalam penanganan tenaga - Furosemid, sebagai antihipertensi golongan diuretik loops diuretik
kesehatan. - KSR/ Kalium klorida 600 mg, sebagai suplemen kalium untuk mencegah
Instalasi farmasi Rumah Sakit sebagai satu-satunya bagian dalam Rumah hipokalemia akibat penggunaan diuretik
Sakit yang berwenang menyelenggarkan pelayanan kefarmasian, harus dapat - Metformin dan glibenklamid sebagai antidiabetes oral
menjamin bahwa pelayanan yang dilakukannya rasional dan sesuai dengan - Diazepam, sedative golongan benzodiazepin
ketentuan standar pelayanan kefarmasian yang telah ditetapkan. Pelayanan - Aspilet sebagai antiplatelet
kefarmasian ini harus dapat mengidentifikasi, mencegah, dan menyelesaikan - ISDN, sebagai antiangina
masalah-masalah kesehatan terutama yang berkaitan dengan obat. - Antasida, untuk menetralkan asam lambung
Dalam tugas khusus ini saya akan mencoba menganalisa beberapa resep - Simvastatin dan gemfibrozil sebagai antihiperlipidemia
pasien rawat jalan sebagai berikut : Furosemid digunakan sebagai agen antihipertensi tunggal, karena hipertensi
1. Resep 1 yang dialami pasien masih berada pada stage 1 (tekanan diastolik antara 140-159
25/7/2011 mmHg). Sehingga penggunaan agen tunggal umumnya cukup efektif. Penggunaan
R/ Furosemid XXV furosemid (loop diuretik) pada pasien yang memiliki diagnose penyerta berupa
S 1-1/2-0 diabetes mellitus dan gagal jantung seperti pada kasus ini, diperbolehkan. Sehingga
R/ KSR XV pemilihan furosemid dapat dianggap rasional.
S 1 dd 1 Dari segi dosis, umumnya furosemid diberikan sekali sehari (40 mg/hari), yaitu
R/ Metformin 500 XLV pada pagi hari. Namun dalam kasus ini, pasien menerima furosemid 40 mg pada
S 3 dd 1 pagi hari dan 20 mg pada siang hari (60 mg/hari). Dosis tersebut masih berada pada
R/ Glibenklamide 5 XV dosis yang dianjurkan, terlebih pasien juga menderita gagal jantung, sehingga dosis
S 1-0-0 yang lebih tinggi diperbolehkan. Waktu pemberian furosemid juga masih aman,
yaitu pada pagi dan siang hari, sehingga resiko terjadinya diuresis nokturnal masih Penggunaan simvastatin lebih dari 10 mg/hari harus disertai dengan
dapat dihindarkan. (Dipiro; 233-236) pemantauan klirens kreatininnya (harus >30 ml/menit). (BNF 57; 813)
Pemberian KSR/ kalium klorida, sebagai suplemen kalium, dapat dibenarkan, Penggunaan antasida kemungkinan sebagai penanganan efek samping obat
mengingat furosemid merupakan diuretik yang boros kalium, sehingga dapat yang dapat mengiritasi lambung, sehingga meningkatkan sekresi asam lambung.
memicu terjadinya hipokalemia. (Dipiro; 197). Aspilet dapat mengiritasi lambung, akibat adanya penghambatan pada pembentukan
Disamping kemungkinan terjadinya hipokalemia, pengguna furosemid juga prostaglandin. Diazepam dapat menyebabkan ketidaknyamanan lambung, begitu
berpeluang mengalami kekurangan kadar ion-ion lainnya, akibat peningkatan urinasi, pun dengan furosemid.
seperti natrium (hiponatremia), magnesium (hipomagnesemia), serta kemungkinan Interaksi obat yang mungkin terjadi pada kasus ini antara lain:
terjadinya gout. (BNF 57; 76) - Jus anggur dapat meningkatkan konsentrasi plasma dari simvastatin
Pasien dapat dipastikan menderita diabetes mellitus tipe 2, karena dokter hanya - Gemfibrozil dapat meningkatkan efek antidiabetik dari sulfonylurea (BNF 57;
meresepkan andiabetik oral, tanpa insulin. Pasien diberi kombinasi metformin 500 746)
mg tiga kali sehari, dan glibenklamide 5 mg satu kali sehari. c. Saran
Metformin merupakan antidiabetik golongan biguanide, yang bekerja dengan Berdasarkan ulasan pustaka diatas dapat disarankan :
cara meningkatkan sensitivitas insulin dan menurunkan resistensinya. Dan - Sebaiknya antihiperlipidemia yang digunakan merupakan agen tunggal, yaitu
metformin merupakan agen antidiabetik utama untuk terapi diabetes tipe 2, selama simvastatin atau gemfibrozil saja, bukan sebagai kombinasi keduanya. Dan
penggunaannya tidak dikontraindikasikan pada pasien tersebut. Metformin yang tampaknya penggunaan simvastatin lebih aman, dibandingkan dengan gemfibrozil.
dikombinasi dengan glibenklamide, sangat diperbolehkan. Dosis kombinasi kedua Karena gemfibrozil berinteraksi dengan sulfonylurea, dan mengakibatkan
obat tersebut juga masih dalam batas aman. Dimana dosis maksimum keduanya peningkatan efek hipoglikemia sulfonylurea.
adalah 20 mg/hari untuk glibenkalmid, dan 2000 mg/hari untuk metformin. (Dipiro; - Ingatkan pada pasien untuk tidak mengkomsumsi jus anggur selama pasien masih
1369, 1384, 1385). mengkonsumsi simvastatin
Baik metformin maupun glibenklamide dapat menyebabkan ketidaknyamanan - Sarankan pada pasien untuk melakukan diet karbohidrat dan lemak yang ketat,
pada saluran cerna berupa mual, muntah, dan diare. (BNF; 376). untuk menjaga suapaya kadar glukosa dan lipid dalam darah tetap berada pada
Penggunaan ISDN, Aspilet dan diazepam kemungkinan digunakan untuk terapi rentang yang aman
gangguan jantungnya. - Sarankan juga pada pasien untuk selalu menyediakan asuapan glukosa cepat
Diazepam kemungkinan diberikan untuk memberi efek antiansiolitik dan sedasi (permen, atau minuman manis) jika sewaktu-waktu terjadi hipoglikemia.
yang menenangkan sehingga, mengurangi beban kerja jantung. Kemungkinan juga - Pasien juga harus cukup istirahat, dan menghindari kelelahan, untuk menjaga
untuk mengatasi insomnia yang dapat disebabkan oleh gemfibrozil. (BNF 57; 693, kerja jantung tetap normal. Pasien juga harus menghindari rokok dan alkohol. Olah
146) raga ringan yang teratur masih diperbolehkan, sebatas tidak menimbulkan kelelahan.
Aspilet diberikan sebagai antiplatelet yang dapat mengencerkan dan
memperlancar peredaran darah. ISDN digunakan sewaktu-waktu saat terjadi 2. Resep 2
serangan sesak nafas, atau nyeri dada, atau serangan angina. ISDN diberikan secara 22/7/2011
sublingual, untuk mempercepat onset kerja ISDN, dan mencegah terjadinya R/ Captopril 25 XLV
metabolism lintas pertama dihati. S 3 dd 1
Kombinasi simvastatin 10 mg/hari dan gemfibrozil 300 mg/hari dalam dosis R/ HCT XV
tunggal pada malam hari ditujukan sebagai terapi antihiperlipidemia. Suatu studi S 1-0-0
menunjukkan bahwa pemberian simvastatin mampu mengurangi 42% resiko R/ Bisoprolol 5 XV
kejadian panyakit jantung koroner pada penderita diabetes mellitus yang memiliki S 1 dd 1
konsentrasi kolesterol LDL dalam darahnya tinggi. Diabetes mellitus merupakan R/ ISDN 5 XV
salah satu faktor resiko terjadinya penyakit jantung koroner. Dalam studi ini S 1 dd 1 SL bila nyeri dada
simvastatin digunakan sebagai agen tunggal. (Dipiro; 476-479, 1398) R/ B1 XLV
Penggunaan bersamaan simvastatin (golongan statin) dengan gemfibrozil S 3 dd 1
(golongan fibrat) meningkatkan resiko rhabdomyolisis, sehingga kombinasi tersebut R/ Meloxicam 15 XV
tidak boleh digunakan. (BNF 57; 140) S 2 dd 1
R/ Antasida Fl. I HCT satu kali sehari pada pagi hari, merupakan dosis yang lazim. Dalam hal ini
S 4 dd C perlu diingatkan pada pasien, agar jangan sampai mengkonsumsi HCT ini pada
waktu sore atau malam hari, karena dapat menimbulkan efek diuresis nokturnal,
Pro : Ny. N (61 Th) yang akan sangat mengganggu waktu istirahat pasien pada malam hari. Bisoprolol 5
mg satu kali sehari juga merupakan dosis aman. Namun pasien harus diingatkan
a. Ananmnesa untuk tidak menghentikan penggunaan obat ini secara mendadak, karena dapat
Pasien mengeluh nyeri dada, tekanan darah tinggi, sering tremor, dan pegal-pegal menyebabkan kambuhan hipertensi. (Dipiro; 221).
pada sekujur badan. Pemberian ISDN yang bersifat insidental, yaitu saat terjadi gejala sesak nafas
b. Analisa secara sublingual cukup tepat. Pemberian secara sublingual dapat memberikan efek
Dalam kasus ini pasien menerima 7 item obat dalam sekali waktu konsumsi. 7 item yang lebih cepat daripada secara oral. ISDN akan dengan cepat mengakhiri serangan
obat tersebut yaitu : angina akut yang ditandai gejala sesak nafas dan nyeri dada. Terapi captopril akan
- captopril yang merupakan antihipertensi golongan inhibitor enzim pengkonversi membantu mencegah serangan angina yang berulang. Pasien yang menjalani terapi
angiotensin (ACEI), ISDN juga harus diapantau konsentrasi kreatinin serumnya, terutama pada pasien-
- hidroklorotiazid (HCT) yang merupakan diuretik golongan tiazid, pasien yang terindikasi mengalami kerusakan ginjal.
- bisoprolol, suatu agen antihipertensi golongan pemblok β yang kardioselektif Peresepan vitamin B1, kemungkinan berhubungan dengan penanganan keluhan
- isosorbid dinitrat (ISDN), antiangina golongan nitrat tremor dan salah satu efek obat (bisoprolol).
- tiamin (vitamin B1), untuk terapi defisiensi vitamin B1 Meloksikam diberikan untuk mengobati rasa nyeri. Meloksikam merupakan
- meloksikam, obat antiinflamasi nonsteroid, yang memiliki sifat antinyeri salah satu anti inflamasi nonsteroid yang relative selektif pada COX-2. Sehingga
- antasida, untuk menetralkan asam lambung obat ini relative aman terhadap lambung. Namun harus diwaspadai efeknya terhadap
ginjal. (Dipiro; 688, 916)
Dengan memperhatikan keluhan yang disampaikan oleh pasien dan obat-obat Dosis meloksikam yang diresepkan tampaknya berlebih. Pada kasus nyeri
yang diresepkan oleh dokter dapat diduga pemberian captopril, HCT, bisoprolol, dan osteoarthritis meloksikam hanya digunakan untuk terapi jangka pendek, kecuali
ISDN berhubungan dengan hipertensi dan keluhan nyeri dada. Nyeri dada, sering pada penanganan rheumatoid arthritis dapat digunakan sebagai terapi jangka
menjadi indikasi adanya gangguan jantung. Meski tidak semua nyeri dada panjang. Dosis yang dianjurkan hanya 7,5 mg/hari, maksimum 15 mg/hari. Apalagi
diakibatkan oleh kelainan jantung. Meloksikam dan vitamin B1 ditujukan untuk dalam kasus ini pasien telah lanjut usia, dosis yang disarankan hanya 7,5 mg/hari.
mengatasi keluhan nyeri badan. Pasien tidak secara langsung mengeluhkan kondisi Sedangkan pada resep tersebut dokter menuliskan 2 kali sehari masing-masing 15
yang berhubungan dengan kelebihan asam lambung, namun dokter meresepkan mg, atau 30 mg/hari. BNF maupun Pharmacotherapy-Dipiro menyebutkan bahwa
antasida, hal ini mungkin ditujukan untuk mencegah kemungkinan terjadinya iritasi pemberian meloksikam hanya sekali sehari. (BNF 57; 552, 559)
lambung yang dapat memicu peningkatan asam lambung. Pemberian antasida tampaknya kurang signifikan. Pasien tidak mengeluhkan
Jika benar, keluhan nyeri dada pada kasus ini berhubungan dengan gangguan gejala yang menunjukan adanya kelebihan asam lambung sehingga perlu
system jantung seperti halnya angina, maka pemilihan kombinasi antihipertensi mengkonsumsi antasida. Meskipun antasida ini hanya bekerja secara local pada
berupa captopril (ACE inhibitor), HCT (diuretik tiazid), dan bisoprolol (β-bloker lambung, namun tetap perlu diwaspadai interaksinya. Interaksi mungkin terjadi
kardioselektif) relative merupakan pilihan yang tepat. Kombinasi tersebut dengan captopril, dimana absorpsi captopril dapat terhambat, yang mengakibatkan
sebagaimana disarankan oleh JNC7. Kecuali pasien tersebut memiliki riwayat infark bioavailabilitasnya rendah, dan konsentrasi efektif minimumnya dalam darah tak
myokardiak, penggunaan diuretik tidak disarankan. tercapai, sehingga terapi yang optimum juga tidak tercapai. Disamping itu,
Disamping diagnose penyerta dalam kasus hipertensi ini yang harus menjadi akumulasi kation Mg2+ dan Al3+ sangat mungkin berikatan dengan senyawa-
dasar pemilihan terapi, faktor usia juga harus dipertimbangkan. Dalam hal ini, senyawa phosphate, sehingga absorpsi phophat menurun dan mengakibatkan
pasien telah cukup lanjut usia, yaitu 61 tahun. Faktor usia lanjut sangat hipophosphatemia. Terlebih pasien juga mengkonsumsi diuretik, yang akan
memungkinkan terjadinya pengaruh hipertensi terhadap kerusakan berbagai organ meningkatkan aktivitas urinari, yang dapat semakin meningkatkan resiko
seperti jantung, hati, ginjal, dan otak. Sehingga pemilihan terapinya harus benar- hipophosphatemia. (Dipiro; 996).
benar diperhatikan. Penggunaan beberapa item obat secara bersamaan, sangat memungkinkan
Dosis captopril, pasien menerima captopril 75 mg/hr dalam dosis terbagi tiga, terjadinya interaksi. Interaksi yang mungkin terjadi :
maka dosis tersebut masih dapat diterima sebagai dosis aman. Begitu pun dengan
- Captopril dapat berinteraksi dengan antasida. Antasida dapat menurunkan absorpsi - Metformin, antidiabetes golongan biguanid
captopril, sehingga antasida dan captopril tidak boleh dikonsumsi bersamaan. Harus - Glibenklamide, antidiabetes golongan sulfonilurea
ada jarak waktu yang cukup antara saat konsumsi antasida dan captopril, sehingga - Captopril, antihipertensi golongan inhibitor enzim pengkonversi angiotensin
interaksi keduanya dapat dihindarkan. (ACEI)
- ISDN, meningkatkan efek hipotensif dari captopril, dan bisoprolol - Furosemid, antihipertensi golongan loop diuretik
- Efek hipotensif ISDN diantagonis oleh AINS (meloksikam) (BN7 57; Appendix). - BC/ vitamin B kompleks, suplemen kekurangan vitamin B
c. Saran - Amlodipin, antihipertensi golongan pemblok kanal kalsium (CCB)
Berdasarkan hasil penelusuran pustaka diatas, maka: - Na-diklofenak, antiinflamasi nonsteroid
- Dosis meloksikam sebaiknya dikurangi, yaitu hanya 7,5 mg/hari, mengingat pasien - Simvastatin, antihiperlipidemia golongan statin
telah lanjut usia, kemungkinan resiko reaksi obat merugikannya akan meningkat
yang berupa kerusakan atau penurunan fungsi ginjal. Begitu pun dengan lama Kombinsai metformin dan glibenklamid pada kasus pasien diagnose lain berupa
terapinya sebaiknya dibatasi. Sampaikan pada pasien untuk segera menghentikan hipertensi diperbolehkan. Seperti halnya pada kasus resep nomor 2. Dosis
konsumsi meloksikam ini bila gejala nyeri pada badan telah mereda. kombinasi kedua obat tersebut juga masih dalam batas aman. Dimana dosis
- Saat pasien merasa nyeri dada, dan menggunakan ISDN, hindari mengkonsumsi maksimum keduanya adalah 20 mg/hari untuk glibenkalmid, dan 2000 mg/hari
meloksikam juga, karena meloksikam dapat mengantagonis kerja ISDN untuk metformin. (Dipiro; 1369, 1384, 1385).
- Antasida sebaiknya tidak digunakan Penanganan hipertensi dalam kasus ini digunakan kombinasi 3 antihipertensi,
yaitu captopril (ACE inhibitor), furosemid (loop diuretik), dan amlodipin (Pemblok
3. Resep 3 kanal kalsium). Kombinasi tersebut diperbolehkan. Dosis furosemid merupakan
20-7-2011 dosis terendah yaitu 20 mg, dengan waktu pemberian yang tepat yaitu pada pagi hari.
R/ Metformin 500 XLV Sedangkan dosis captopril merupakan dosis maksimum yaitu 150 mg/hari, dalam
S 3 dd 1 dosis terbagi 3. Sedangkan amlodipin yang diberikan adalah dosis menengah, yaitu
R/ Glibenklamide 5 XV 5 mg/hari, lazimnya 2,5-10 mg/hari. Perlu diperhatikan pasien telah cukup lanjut
S 1 dd 1 usianya (66 tahun), captopril diberikan pada dosis maksimum dikombinasi dengan
R/ Captopril 50 XLV furosemid, dan amlodipin, akan berpotensi menimbulkan efek hipotensi. Dengan
S 3 dd 1 pemberian furosemid, pasien akan mengalami diuresis, yang berarti volume darah
R/ furosemid X menurun dan menurun pula tekanan darahnya, sedangkan pemberian ACE inhibitor
S ½-0-0 dapat menyebabkan penurunan tekanan darah melalui berbagai mekanisme yang
R/ BC XLV terlibat dalam pengaturan sistem rennin-angiotensin-aldosteron (RAAS), sehingga
S 3 dd 1 resiko hipotensinya semakin meningkat, terlebih pada pasien yang telah lanjut usia,
R/ Amlodipin 5 XV ditambah dengan kombinasi dengan amlodipin. Tekanan darah harus senantiasa
S 1 dd 1 dipantau. (Dipiro: 233-234)
R/ Na-diklofenak 50 XXX Meski ada kemungkinan lain, bahwa maksud penggunaan furosemid dalam
S 0-0-1 dosis rendah adalah untuk mengatasi resiko efek samping amlodipin, berupa udema
R/ Simvastatin 10 XV perifer. Amlodipin dapat menyebabkan terjadinya udema perifer, dengan pemberian
S 0-0-1 furosemid, maka aktivitas urinary meningkat, sehingga tidak terjadi udema perifer.
Natrium diklofenak digunakan untuk mengobati gejala nyeri akibat
Pro : Tn. SS (66 tahun) osteoarthritis. Diklofenak merupakan antiinflamasi nonsteroid (AINS) nonselektif.
Dosis yang diberikan adalah dosis tunggal pada malam hari sebesar 50 mg.
a. Anamnesa/ diagnose Sebagaimana AINS nonselektif lainnya, diklofenak dapat menginduksi
Pasien dinyatakan mengalami diabetes mellitus, hipertensi, hiperkolesterolemia, terjadinya ulkus peptikum, sedangkan dalam diagnosanya dokter telah menyatakan
ostheoartritis, dan sindrom dispepsia. bahwa pasien mengalami sindrom dispepsia. Meskipun efek buruk yang disebabkan
b. Analisa resep diklofenak pada saluran cerna tidak sekuat aspirin, namun pemilihan obat lain yang
Dalam kasus ini pasien menerima 8 item obat, sebagai berikut :
lebih aman, perlu dipertimbangkan, mengingat pasien telah dinyatakan mengalami S 0-0-1
sindrom dispepsia. (Dipiro; 1131) R/ Ranitidin XXX
Dalam kasus ini, pasien telah didiagnose sindrome dispepsia, dan mendapat S 2 dd 1
terapi AINS yang dapat memperparah sindrom tersebut, namun pasien tidak R/ Antasida Fl. I
mendapat obat untuk indikasi ini. Tak ada obat yang diberikan untuk mengobati S 4 dd C1 ac
sindrom dispepsianya. R/ Bicnat XLV
Simvastatin dosis tunggal pada malam hari 10 mg, untuk terapi S 3 dd 1
hiperlipidemia. Penggunaan simvastatin pada penderita diabetes diperbolehkan. R/ Ketocid XLV
Pemberian vitamin B kompleks, yang mengandung asam nikotinat, akan membentu S 3 dd 1
menghambat pembentukan kolesterol dan trigliserida, sehingga akan membantu R/ FA XLV
menekan kadar lipid dalam darah. (BNF 57; 539) S 3 dd 1
Interaksi yang mungkin terjadi : Pro : Tn. T (54 Th)
- Amlodipin (pemblok kanal kalsium) dan captopril (ACE inhibitor) yang digunakan a. Anamnesa
bersama-sama, cenderung berinteraksi menyebabkan efek hipotensif, ACE inhibitor Pasien mengeluh sering merasakan sesak nafas, nyeri dada, dan nyeri lambung.
juga akan bekerja pada sistem kanal kalsium, meski tidak secara langsung, begitu b. Analisa Resep
pun dengan furosemid. Efek farmakologi masing-masing obat dalam resep :
- Captopril berinteraksi dengan makanan, dan menyebabkan 1) Furosemide adalah salah satu loop diuretik.
absorpsi captopril menurun. (DIF) 2) Aspilet adalah sediaan branded dari asam asetil salisilat 80 mg/ tablet. Asam asetil
c. Saran salisilat pada dasarnya adalah jenis dari antiinflamasi nonsteroid yang juga sering
Dari uraian diatas dapat disarankan : digunakan sebagai antiplatelet.
- Kombinasi captopril, furosemid, dan amlodipin, perlu dipantau efeknya, ada 3) ISDN 5 atau isosorbid dinitrat 5 mg/tablet, merupakan senyawa nitrat kerja
baiknya dosis captopril dikurangi panjang yang sering digunakan pada penanganan kasus angina.
- Konsumsi captopril 1 jam sebelum makan, untuk menghindari interaksinya 4) Diazepam 2 mg/tablet. Diazepam merupakan hipnotikum golongan
dengan makanan benzodiazepine.
- Pasien perlu diberi obat untuk mengatasi sindrome dispepsianya, terlebih dalam 5) Ranitidine, antihistamin H-2
resep tersebut terdapat obat-obat yang menimbulkan efek-efek yang tidak 6) Antasida, antasida merupakan sediaan obat basa yang bekerja menetralkan asam
menyenangkan pada saluran cerna, berupa iritasi lambung (natrium-diklofenak), lambung. Umumnya natasida adalah sediaan tablet atau suspense yang mengandung
mual, muntah, diare (metformin dan glibenklamid).Ranitidine dan antiemetic seperti Al(OH)3 atau Mg(OH)2.
domperidon atau metoklopramid mungkin perlu diberikan. 7) Bicnat atau natrium bikarbonat merupakan garam, yang membawa sifat basa,
- Pasien juga harus diingatkan untuk senantiasa melakukan terapi non dapat digunakan pula sebagai antasida, alkalinisasi urin, dan untuk mengatasi
farmakologis, berupa diet makanan rendah karbohidrat, lemak, dan garam. ketidaknyamanan saluran urin pada penderita infeksi saluran urin.
- Pasien juga harus menghindari konsumsi rokok dan atau alcohol 8) Ketocid/ ketoprofen 200 mg/kapsul merupakan obat antiinflamasi nonsteroid.
- Olah raga ringan secara teratur sangat dianjurkan 9) FA/ folic acide atau asam folat merupakan suplemen makanan yang berperan
penting dalam pembentukan sel darah merah.
4. Resep 4 Furosemid merupakan merupakan golongan obat diuretik yang sering digunakan
27/7/2011 dalam penanganan kasus hipertensi, namun dalam kasus ini pasien menyatakan tidak
R/ Furosemid XV menderita hipertensi. Dan pada dosis yang lebih tinggi furosemide digunakan pada
S 1-0-0 pasien dengan penurunan laju glomerular atau pun pasien gagal hati.
R/ Aspilet XV Dalam kasus ini pasien Tn. T yang telah berusia 54 tahun menerima 9 item obat
S 1 dd 1 dalam rentang waktu satu kali pengobatan, hal ini sangat memungkinkan terjadinya
R/ ISDN 5 XV masalah penggunaan obat (DRP) dan interaksi serta terjadinya reaksi obat
S 1 dd 1 merugikan (ROM), antar obat-obat tersebut, maupun dengan makanan yang dapat
R/ Diazepam 2 XV menyebabkan tujuan terapi tidak tercapai secara optimum.
Berdasarkan keluhan yang disampaikan oleh pasien menyatakan sering sesak Obat diabsorbsi secara aktif hanya di usus halus saja (Fe, riboflavin di usus
nafas, nyeri dada dan nyeri ulu hati. Keluhan sesak nafas dan nyeri dada sering halus atas)
menjadi indikator adanya gangguan jantung. Adanya dugaan gangguan jantung ini Drug affected Interacting drugs Effect of
didukung oleh adanya obat ISDN dan furosemid dalam resep dokter tersebut. interaction
Disamping adanya gangguan lambung. Digoxin Metoclopramide Reduced absorbtion
Aspilet merupakan AINS, yang memiliki efek lain sebagai antiplatelet, dan Propantheline Increased
sebagai antiinflamasi nonselektif, aspilet dapat menginduksi terjadinya ulkus absorbtion (gut
peptikum, karena adanya penghambatan pembentukan prostaglandin yang berperan motility)
dalam melindungi dinding lambung. Begitu pun dengan ketoprofen. Dalam kasus ini Digoksin, Cholestyramie Reducedabsorbtion
pasien telah mengeluh nyeri lambung. Maka pemberian aspilet dalam kasus ini Thyroxine, (complexation)
kurang tepat, karena aspilet dapat memperparah kondisi lambungnya, terlebih Warfarin
dengan adanya efek antiplatelet obat tersebut, dapat memungkinkan terjadinya Ketoconazole Antacids Reduced absorption
pendarahan lambung, apalagi penggunaannya bersamaan dengan ketoprofen, yang H2 blockers (dissolution)
semakin meningkatkan resiko nyeri dan pendarahan lambung. Walaupun dokter Penicillin neomycin Malabsorption
telah memberikan kombinasi ranitidine dan antacid untuk mengatasi nyeri
lambungnya, namun mengganti obat yang dapat mengiritasi lambung dengan obat
Quinolon Antacids, milk, Zn, Fe Formation of
lain yang lebih aman bagi lambung tetap lebih baik.
antibiotics poorly absorbed
Diazepam diberikan untuk menghasilkan efek penenang, sehingga dapat
complexes
membantu mengurangi beban kerja jantung.
Tetracyclines Antacids, milk, Zn, Fe Reduced antibiotic
Interaksi obat dengan obat yang mungkin terjadi :
(Formation of
1) Furosemide dapat berinteraksi dengan diazepam (ansiolitik dan hipnotik), interaksi
poorly soluble
ini memungkinkan terjadinya efek hipotensif. Namun dalam kasus ini kemungkinan
chelates)
tersebut telah dapat dianulir, karena furosemid dikonsumsi pagi hari, sedangkan
diazepam malam hari menjelang tidur.
2) Aspilet, berpeluang interaksi dengan alkali urin dan antasida, dalam kasus ini DISTRIBUSI
pasien juga menerima terapi antasida dan natrium bikarbonat yang meruapakan Senyawa yg Senyawa yang HASIL INTRX
salah satu alkali. Antasida dan alkali lainnya akan mempercepat ekskresi aspilet mengusir diusir
3) Aspilet dan ketoprofen akan meningkatkan resiko pendarahan (meningkatkan efek
antikoagulan) (BNF) Fenilbutason fenprokouman Perdarahan
klofibrat
 INTERAKSI FARMAKOKINETIK
ABSORBSI Fenilbutason tolbutamid Hipoglikemia
1. Perubahan Waktu Pengosongan Lambung salisilat
Obat yg memperpendek waktu pengosongan lambung (metoklopramid) 
mempercepat absorbsi obat lain Salisilat Bilirubin Kernikterus bayi
Obat yg memperpanjang waktu pengosongan lambung (antikolinergik, sulfonamid baru lahir
antidepresi trisiklik, antihistamin, antasida, analgesik narkotik) 
memperlambat absorbsi obat lain METABOLISME
2. Waktu Transit Usus
Tdk mempengaruhi absorbsi kecuali : Drug Inducing agent (OBAT I) Effect of
Obat sukar larut (digoksin, kortiksteroid) affected interaction
Obat sukar diabsorbsi (dikumarol) (OBAT
II)
Anticoagu Aminoglutethimide,barbiturate Anticoagulant Interaksi obat-obat pada proses ekskresi berakibat :
lants s, carbamazepine, effects reduced Perubahan pH pada urin
dichloralphenazone,rifampicin Perubahan mekanisme ekskresi
Perubahan aliran darah ginjal
Ekskresi billier dan siklus enterohepatik
Contrace Barbiturates, Contraceptive
ptives carbamazepine,phenytoin,prim effects reduced INTERAKSI OBAT DENGAN OBAT
idone, rifampicin
Interaksi obat adalah kejadian di mana suatu zat mempengaruhi aktivitas obat.
Efek-efeknya bisa meningkatkan atau mengurangi aktivitas, atau menghasilkan
Phenitoin Rifampicin Phenitoin effects efek baru yang tidak dimiliki sebelumnya. Biasanya yang terpikir oleh kita
ketoconaz reduced adalah antara satu obat dengan obat lain. Tetapi, interaksi bisa saja terjadi
ole Seizure risk antara obat dengan makanan, obat dengan herbal, obat dengan mikronutrien,
increased dan obat injeksi dengan kandungan infus.
Ketoconazole Interaksi obat bisa ditimbulkan oleh berbagai proses, antara lain perubahan
serum reduced dalam farmakokinetika obat tersebut, seperti Absorpsi, Distribusi, Metabolisme,
corticoste Aminoglutethimide, corticosteroid dan Ekskresi (ADME) obat. Kemungkinan lain, interaksi obat merupakan hasil
roid Barbiturates, effects reduced dari sifat-sfat farmakodinamik obat tersebut, misal, pemberian bersamaan
carbamazepine,phenytoin,prim antara antagonis reseptor dan agonis untuk reseptor yang sama.
idone, rifampicin Interaksi obat yang paling umum melibatkan hati. Beberapa obat dapat
memperlambat atau mempercepat proses enzim hati. Ini dapat mengakibatkan
theophylli Barbiturates, rifampicin, Theophylline perubahan besar pada tingkat obat lain dalam aliran darah yang memakai enzim
ne tobacco effects reduced yang sama. Beberapa obat memperlambat proses ginjal. Ini meningkatkan
tingkat bahan kimia yang biasanya dikeluarkan oleh ginjal.

 Interaksi Obat Mempengaruhi ADME Obat


Drug affected Inhibiting agent Effect of interaction Di dalam tubuh obat mengalami berbagai macam proses hingga akhirnya obat
(OBAT II) (OBAT I) di keluarkan lagi dari tubuh. Proses-proses tersebut meliputi, absorpsi,
distribusi, metabolisme (biotransformasi), dan eliminasi. Dalam proses tersebut,
Diazepam Cimetidin Diazepam, warfarin effects bila berbagai macam obat diberikan secara bersamaan dapat menimbulkan
warfarin increased suatu interaksi. Selain itu, obat juga dapat berinteraksi dengan zat makanan
anticoagulant Metronidazole, Anticoagulant effects yang dikonsumsi bersamaan dengan obat.
phenylbutazone, increased, bleeding Interaksi yang terjadi di dalam tubuh dapat dibedakan menjadi dua, yaitu
sulphinpyrazone interaksi farmakodinamik dan interaksi farmakokinetik. Interaksi
farmakodinamik adalah interaksi antar obat (yang diberikan berasamaan) yang
corticosteroids Erythromycin, Corticosteroid effects bekerja pada reseptor yang sama sehingga menimbulkan efek sinergis atau
triacetyl- increased antagonis. Interaksi farmakokinetik adalah interaksi antar 2 atau lebih obat
oleandomycin yang diberikan bersamaan dan saling mempengaruhi dalam proses ADME
(absorpsi, distribusi, metabolisme, dan eliminasi) sehingga dapat meningkatkan
phenytoin Chloramfenicol, Phenytoin effects atau menurunkan salah satu kadar obat dalam darah. Selanjutnya akan dibahas
isoniazid increased lebih lanjut tentang interaksi farmakokinetik.

EKSKRESI
Interaksi Famakokinetik kadar estradiol menurun dan efektifitas kontrasepsi oral estradiol menurun.
1. Interaksi pada proses absorpsi 4. Interaksi pada proses eliminasi
Interaksi dala absorbs di saluran cerna dapat disebabkan karena a. Gangguan ekskresi ginjal akibat kerusakan ginjal oleh obat
a. Interaksi langsung yaitu terjadi reaksi/pembentukan senyawa kompleks antar jika suatu obat yang ekskresinya melalui ginjal diberikan bersamaan obat-obat
senyawa obat yang mengakibatkan salah satu atau semuanya dari macam obat yang dapat merusak ginjal, maka akan terjadi akumulasi obat tersebut yang
mengalami penurunan kecepatan absorpsi. dapat menimbulkan efek toksik.
Contoh: interaksi tetrasiklin dengan ion Ca2+, Mg2+, Al2+ dalam antasid yang Contoh: digoksin diberikan bersamaan dengan obat yang dapat merusak ginjal
menyebabkan jumlah absorpsi keduanya turun. (aminoglikosida, siklosporin) mengakibatkan kadar digoksin naik sehingga
timbul efek toksik.
b. Perubahan pH
Interaksi dapat terjadi akibat perubahan harga pH oleh obat pertama, sehingga b. Kompetisi untuk sekresi aktif di tubulus ginjal
menaikkan atau menurukan absorpsi obat kedua. Jika di tubulus ginjal terjadi kompetisi antara obat dan metabolit obat untuk
Contoh: pemberian antasid bersama penisilin G dapat meningkatkan jumlah sistem trasport aktif yangsama dapat menyebabkan hambatan sekresi.
absorpsi penisilin G Contoh: jika penisilin diberikan bersamaan probenesid maka akan
menyebabkan klirens penisilin turun, sehingga kerja penisilin lebih panjang.
c. Motilitas saluran cerna
Pemberian obat-obat yang dapat mempengaruhi motilitas saluan cerna dapat c. Perubahan pH urin
mempegaruhi absorpsi obat lain yang diminum bersamaan. Bila terjadi perubahan pH urin maka akan menyebabkan perubahan klirens
Contoh: antikolinergik yang diberikan bersamaan dengan parasetamol dapat ginjal. Jika harga pH urin naik akan meningkatkan eliminasi obat-obat yang
memperlambat parasetamol. bersifat asam lemah, sedangkan jika harga pH turun akan meningkatkan
2. Interaksi pada proses distribusi eliminasi obat-obat yang bersifat basa lemah.
Di dalam darah senyawa obat berinteraksi dengan protein plasma. Seyawa yang Contoh: pemberian pseudoefedrin (obat basa lemah) diberikan bersamaan
asam akan berikatan dengan albumin dan yang basa akan berikatan dengan α1- ammonium klorida maka akan meningkatkan ekskersi pseudoefedrin. Terjadi
glikoprotein. Jika 2 obat atau lebih diberikan maka dalam darah akan bersaing ammonium klorida akan mengasamkan urin sehingga terjadi peningkatan
untuk berikatan dengan protein plasma,sehingga proses distribusi terganggu ionisasi pseudorfedrin dan eliminasi dari pseudoefedrin juga meningkat.
(terjadi peingkatan salah satu distribusi obat kejaringan).
Contoh: pemberian klorpropamid dengan fenilbutazon, akan meningkatkan
distribusi klorpropamid.
3. Interaksi pada proses metabolisme  BEBERAPA CONTOH INTERAKSI OBAT DENGAN OBAT
a. Hambatan metabolisme
Pemberian suatu obat bersamaan dengan obat lain yang enzim • INTERAKSI OBAT PADA PENGOBATAN INFEKSI BEKTERI
pemetabolismenya sama dapat terjadi gangguan metabolisme yang dapat (INTERAKSI ANTIBIOTIKA)
menaikkan kadar salah satu obat dalam plasma, sehingga meningkatkan
efeknya atau toksisitasnya. o Aminoklikosida – Antibiotika sefalosporin
Cotoh: pemberian S-warfarin bersamaan dengan fenilbutazon dapat Efek samping merugikan dari masing-masing obat dapat meningkat.
menyebabkan mengkitnya kadar Swarfarin dan terjadi pendarahan. Akibatnya ; ginjal mungkin rusak. Gejala yang dilaporkan : pengeluaran air
kemih berkurang,ada darah dalam air kemih,rasa haus yang berkelebihan,hilang
b. Inductor enzim nefsu makan,pusing,mengantuk dan mual.
Pemberian suatu obat bersamaan dengan obat lain yang enzim
pemetabolismenya sama dapat terjadi gangguan metabolisme yang dapat o Aminoglikosida – Digoksin (Lanoxin)
menurunkan kadar obat dalam plasma, sehingga menurunkan efeknya atau Efek digoksin dapat berkurang .Digoksin digunakan untuk mengobati layu
toksisitasnya. jantung dan untuk menormalkan kembali denyut jantung yang tak teratur .
Contoh: pemberian estradiol bersamaan denagn rifampisin akan menyebabkan Akibatnya ; kelainan jantung mungkin tidak terkendali dengan baik.
Catatan ; Hanya aminoglikosida neomisin (Mycifradin,Neobiotic) yang pusat,amati terjadinya gejala akibat depresi berlebihan :
berinteraksi. mengantuk,pusing,nanar,dan hilang kewaspsadaan mental.

o Sefalosporin – Kloramfenikol (Chloromycetin, Mychel o Primidon (Mysoline) – Fenitoin (Dilantin)


Kombinasi ini dapat menekan sumsum tulang belakang secara berlebihan. Efek fenitoin dapat berkurang . Fenitoin juga meripakan antikonvulsan yang
Gejala yang dilaporkan ; sakit tenggorokan ,demam,kedinginan,tukak digunakan untuk mengendalikan kejang . Akibatnya ; serangan kejang tak dapat
mulut,perdarahan atau memar di seluruh tubuh ,tinja hitam pekat dan dikendalikan sesuai dengan yang dikehendaki. Interaksi ini
kehilangan tenaga yang tidak lazim. Kloramfenikol diberikan untuk infeksi beragam,bergantung pada perorangan. Pada beberapa pasien efek fenitoin dapat
yang berbahaya,yang tidak cocok bila diobati dengan antibiotika lain yang bertambah jika dosis primidon meningkat; pada pasien lain efek primidon yang
kurang begitu efektif. meningkat.

o Fenitoin (Dilantin) – Metilfenidat (Ritalin)


• INTERAKSI OBAT PADA PENANGANAN KELAINAN JANTUNG Efek fenitoin dapat meningkat. Akibatnya ; efek samping yang merugikan
mungkin terjadi akibat terlalu banyak fenitoin. Gejala yang dilaporkan antara
o Obat angina /antiaritmika – Diuretika lain gangguan penglihan,nanar. Metilfenidat digunakan untuk menanggulangi
Kombinasi ini dapat menyebabkan tekanan darah turun terlalu rendah. perilaku hiperkinetik serta gangguan belajar pada anak-anak ,narkolepsi,depresi
Akibatnya ; Hipotensi postural dengan gejala yang menyertainya: ringan ,acuh tak acuh atau pikun.
pusing,lemah,pingsan,penurunan tekanan darah yang hebat dapat menyebabkan
kejang dan syok. Diuretika menghilangkan kelebihan cairan dari tubuh dan
digunakan untuk mengobati tekanan darah tinggi dan layu jantung.  EFEK SAMPING OBAT

o Disopiramida (Norpace) – Biperiden (Akineton) Berikut ini adalah contoh dari efek samping obat yang biasanya terjadi:
Kombinasi ini dapat menimbulkan efek antikolinergik yang berlebihan. 1. Aborsi atau keguguran, akibat Misoprostol, obat yang digunakan untuk
Akibatnya ; Mulut kering,penglihatan kabur,pusing,nanar,rasa tak enak pada pencegahan (gastric ulcer) borok lambung yang disebabkan oleh obat anti inflamasi
lambung,sembelit,kencing sulit,mungkin timbul psikosis toksik non steroid.
(disorientasi,agitasi,meracau) sikrimin digunakan untuk mengendalikan tremor 2. Ketagihan, akibat obat-obatan penenang dan analgesik seperti diazepam serta
akibat penyakit perkinson atau akibat pengobatan dengan antipsikotika. morfin.
3. Kerusakan janin, akibat Thalidomide dan Accutane.
4. Pendarahan usus, akibat Aspirin.
o Disopiramida (Norpace) – Fenitoin (Dilantin) 5. Penyakit kardiovaskular, akibat obat penghambat COX-2.
Efek disopiramida dapat berkurang . Akibatnya ; denyut jantung yang tak 6. Tuli dan gagal ginjal, akibat antibiotik Gentamisin.
teratur dapat dikendalikan dengan baik. Fenitoin digunakan untuk 7. Kematian, akibat Propofol.
mengendalikan kejang pada kelainan seperti ayan. Obat lain yang mirip fenitoin 8. Depresi dan luka pada hati, akibat Interferon.
juga berinteraksi ,misalnya mesantoin (mefinitoin) dan peganone (etotoin). 9. Diabetes, yang disebabkan oleh obat-obatan psikiatrik neuroleptik.
10. Diare, akibat penggunaan Orlistat.
11. Disfungsi ereksi, akibat antidepresan.
• INTERAKSI PADA PENANGANAN AYAN DAN KEJANG 12. Demam, akibat vaksinasi.
13. Glaukoma, akibat tetes mata kortikosteroid.
o Fenitoin (Dilantin) – Trimetadion (Tridione) 14. Rambut rontok dan anemia, karena kemoterapi melawan kanker atau leukemia.
Efek trimetadion dapat berkurang. Trimetadion juga merupakan antikonvulsan 15. Hipertensi, akibat penggunaan Efedrin. Hal ini membuat FDA mencabut status
yang digunakan untuk mengendalikan serangan jantung. ekstrak tanaman efedra (sumber efedrin) sebagai suplemen makanan.
Akibatnya ; Kemampuan mengendalikan serangan kejang dapat hilang kecuali 16. Kerusakan hati akibat Parasetamol.
jika dosis disesuaikan .Karena kedua obat merupakan depresan system saraf 17. Mengantuk dan meningkatnya nafsu makan akibat penggunaan antihistamin.
18. Bunuh diri akibat penggunaan Fluoxetine, suatu antidepresan.

Hamil
Untuk mengetahui obat-obatan yang aman untuk janin ketika di konsumsi oleh ibu
hamil, Food and Drug Administration (FDA) di Amerika Serikat membuat kategori
obat-obatan berdasarkan tingkat keamanannya terhadap janin:
 Kategori A: penelitian pada manusia di trimester 1 tidak menunjukan kelainan
terhadap janin (belum ada bukti pada trimester 2 dan 3)
 Kategori B: penelitian pada hewan percobaan tidak menunjukan efek terhadap
janin dan penelitian terhadap manusia masih belum menunjukan bukti yang
jelas. Atau pada hewan percobaan menunjukan kelainan janin, sedangkan pada
manusia tidak menunjukan kelainan janin sama sekali di semua trimester.
 Kategori C: penelitian pada hewan percobaan menunjukan kelainan janin, tetapi
pada manusia belum menunjukan bukti yang jelas. Tetapi manfaat obat lebih
tinggi dibandingkan potensial resiko yang terjadi.
 Kategori D: penelitian pada manusia menunjukan bukti kelainan yang jelas
pada janin. Tetapi manfaat obat lebih tinggi dibandingkan potensi resiko yang
terjadi.
 Kategori X: penelitian pada manusia menunjukan kelainan pada janin. Dan
tingkat bahayanya lebih besar daripada manfaatnya.

Secara singkatnya adalah:


 Kategori A = Aman untuk janin
 Kategori B = Cukup aman untuk janin
 Kategori C = Digunakan jika perlu, kemungkinan bisa ada efek samping pada
janin
 Kategori D = Digunakan jika darurat, bisa terjadi efek samping pada janin
 Kategori X = Tidak pernah digunakan dan sangat berbahaya bagi janin
wanita hamil. Tertera dalam subjudul “Kontraindikasi”.
Obat apa yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi ibu hamil?
Berikut beberapa penyakit yang mungkin terjadi pada ibu hamil :
 Boleh1,2 1. Flu. Flu umumnya tidak berdampak negatif pada janin. Flu yang ringandapat
 Obat-obatan yang termasuk dalam kategori A dan B aman untuk dikonsumsi ditangani tanpa obat-obatan, seperti : menambah jam istirahat ibu hamil atau
ibu hamil. bila hidung tersumbat, ibu bisa mengoleskan minyak penghangat di dada,
 Jika anda sedang berobat ke tenaga kesehatan, baik itu bidan, mantri perut, punggung, atau hidung.
(perawat), dokter umum, ataupun dokter spesialis, selalu beritahukan jika Flu yang disertai demam, penurunan nafsu makan, serta keringat di malam
anda sedang hamil agar obat-obatan diganti dengan yang aman terhadap hari, migrain hebat, perlu segera dikonsultasikan pada dokter. Sekali lagi
janin. hindari minum obat bebas. Tidak semua kandungan dalam obat flu aman
 Jika terpaksa membeli obat sendiri, selalu lihat kategori kehamilan dari untuk ibu hamil dan janin. Beberapa di antaranya dapat meningkatkan risiko
kandungan obat tersebut. keguguran, gangguan pertumbuhan janin, cacat bawaan pada janin, dan cacat
 Tidak Boleh1,2 pada bayi.
 Obat-obatan yang termasuk dalam kategori C dan D bisa berbahaya bagi 2. Cacar. Tidak perlu menunggu beberapa hari, segera konsultasikan kondisi ini
janin dan hanya digunakan dalam kondisi darurat dan pada kondisi yang pada dokter. Cacar dikhawatirkan memiliki dampak pada janin dan dapat
bisa mengancam nyawa ibu. menimbulkan komplikasi kehamilan bergantung pada usia kehamilan saat itu.
 Obat-obatan yang termasuk dalam kategori X sangat berbahaya bagi Contohnya :
janin dan tidak pernah digunakan pada ibu hamil. Pada usia kehamilan di bawah 20 minggu dapat terjadi komplikasi berupa :
ancaman keguguran janin; bayi lahir cacat (Congenital Varicella Syndrome);
Vitamin C dan asam folat (untuk perkembangan saraf janin), misal, masuk kategori terjadi kelainan pada jari, tulang, alat-alat persendian, dan buta; ukuran kepala
A. Namun bila dosis vitamin C melebihi US RDA dan asam folat melebihi 0,8 mg yang lebih kecil dari ukuran normal; timbul bercak-bercak putih pada kulit
per hari, akan masuk kategori C. Begitu pun dengan vitamin E dan Nystatin Vaginal atau jaringan parut.
Suppository (obat untuk keputihan karena jamur) yang juga kategori A, dapat masuk Pada usia kehamilan setelah 20 minggu dapat terjadi komplikasi berupa
kategori C bila dosis-nya berlebihan. Hal sama akan terjadi pula pada obat kategori gangguan pertumbuhan janin dan keterlambatan perkembangan mental.
B, seperti Amoxylin (antibiotik) dan parasetamol (penurun demam). Pada usia kehamilan trimester 3, komplikasi yang dapat terjadi ialah jika bayi
lahir 2-4 hari setelah ibu terpapar cacar air, bayi bisa mengalami cacar air
Penggunaan obat pada kategori C masih dapat dibenarkan bila manfaatnya hebat yang dapat mengancam jiwanya. Dalam keadaan demikian, si bayi
dipertimbangkan melebihi risiko terhadap janin. Umpama, untuk mengatasi kondisi harus segera diimunisasi Varicella Zoster Immune Globulin (VZIG).
yang membahayakan jiwa atau untuk mengobati penyakit berat karena tidak ada 3. Campak. Merupakan jenis penyakit sangat menular yang penyebarannya
pilihan obat lain yang lebih aman. Obat-obatan kategori C, antara lain : melalui udara dari kontak dengan orang terinfeksi. Campak pada ibu hamil
Ciprofloxacin (golongan antibiotika); Furosemide (obat diuresis); dan Captopril yang tidak diobati dapat menyebabkan keguguran, bayi lahir mati atau
(obat anti hipertensi). prematur. Jadi diwajibkan untuk segera berkonsultasi dengan dokter bila
menemukan gejala-gejala campak seperti : demam, pilek, batuk, dan ruam
Sementara obat kategori D sudah terbukti dapat menimbulkan dampak negatif pada (ditandai dengan bintik-bintik merah pada kulit), atau baru saja melakukan
janin bila diberikan kepada wanita hamil. Namun obat dalam kategori ini masih kontak dengan orang yang terinfeksi dan tidak yakin jika ibu telah divaksinasi.
dapat diberikan bila manfaatnya lebih besar daripada risiko potensialnya. Dalam 4. Tifus. Demam tifoid pun sama, penyakit endemik Indonesia ini mempunyai
brosur produk obat, risiko ini umumnya dicantumkan dalam subjudul “Peringatan risiko terjadinya abortus, lahir prematur, atau bayi lahir kecil.
dan Perhatian”. Contoh obat-obatan kategori D, yaitu Diazepam (obat penenang), 5. TB. Hal yang sama dengan penyakit TB, selain mengurangi produktivitas pada
Tetracyclin dan Doxycyclin (golongan antibiotik). diri ibu hamil, juga berdampak pada lingkungannya. TB pada umumnya tidak
akan memperburuk kondisi janin, namun infeksi terjadi setelah bayi lahir.
Kategori terakhir, yaitu X, bila diberikan pada ibu hamil akan menimbulkan dampak Oleh karena itu, segera berkonsultasi dengan dokter untuk pengobatan TB
negatif pada calon bayi dan risiko penggunaannya pada perempuan hamil jelas pada ibu hamil, karena pengobatan TB memakan waktu untuk sembuh
melebihi manfaat potensialnya. Obat dalam kategori ini dikontraindikasikan bagi
sempurna. Setelah melahirkan, ibu dengan TB aktif sebaiknya diisolasi dari kurang baik kepada bayi.
bayinya untuk mencegah kontak.
6. Penyakit Mata. Penyakit mata tidak memiliki efek membahayakan pada
kehamilan, namun kondisi ini tetap perlu di konsultasikan pada dokter, 1. Obat yang dikontraindikasi untuk diberikan kepada ibu yang menyusui
terutama mengenai obat yang aman untuk dikonsumsi. Terkadang, gangguan Nama obat Alasan
pada mata juga bisa berhubungan dengan preklamsia (hipertensi dalam Bromocriptine Menekan laktasi, dapat berbahaya bagi ibu
kehamilan). Cocaine Intoksikasi
7. Hipertensi. Ingat, kadar gula darah yang melebihi ambang batas normal (>200 Heroin Tremor, gelisah, muntah, kesulitan minum
mg/dl) dan tekanan darah yang lebih dari 140/90 mmHg dapat berakibat tidak Nicotine (merokok) Muntah, diare, gelisah, menekan produksi ASI
baik pada bayi dan ibu bila tidak ditangani sejak awal kehamilan. Untuk itu, Amphetamine Gelisah, sukar tidur
segeralah berkonsultasi dengan dokter bila memiliki riwayat keluarga atau Cyclophosphamide Neutropenia, menekan daya tahan
potensi mendapatkan penyakit tersebut sejak prakehamilan. Jangan mengobati Cyclosporine Menekan daya tahan
sendiri, karena ada golongan obat anti hipertensi yang tidak boleh / tidak Methotrexate Menekan daya tahan
aman dikonsumsi oleh ibu hamil. Ergotamine Muntah, diare, kejang
8. Hipotensi. Hipotensi (darah rendah) dapat dikatakan normal terjadi pada ibu Phenindione Meningkatkan masa protrombin
hamil jika dalam batas yang memang lazim, yaitu sekitar 10 mmHg pada awal
Phencyclidine Halusinasi
kehamilan. Seiring dengan meningkatnya usia kehamilan, tekanan darah akan
Lithium Kadar tinggi di dalam ASI
kembali lagi ke kisaran normal.
Tapi perlu diketahui, apabila tekanan darah tidak kunjung meningkat dapat
2. Zat radioaktif yang memerlukan penghentian pemberian ASI untuk
mengakibatkan dampak yang kurang baik pada janin. Disini menjadi alasan
sementara
pentingnya pengontrolan tekanan darah dalam pemeriksaan kehamilan
(antenatal care) untuk mendeteksi dini segala kelainan yang mungkin timbul Nama zat Waktu penghentian pemberian ASI yang
pada saat kehamilan. dianjurkan
Jika ibu hamil mengalami Hipotensi, bisa mengikuti tips berikut ini : istirahat Cuprum Radioaktivitas masih terdapat di dalam ASI setelah
yang cukup; berbaring telentang dengan kaki yang diganjal oleh bantal; 50 jam
mengkonsumsi zat besi bila mengalami anemia; dan bila berlanjut, segera Gallium Radioaktivitas masih terdapat di dalam ASI setelah 2
komunikasikan dengan dokter. minggu
Daftar Obat Tidak Aman Dikonsumsi Ibu Menyusui Indium Pada 20 jam terdapat sangat sedikit di dalam ASI
Obat-obatan yang tidak aman dikonsumsi ibu menyusui, antara lain: Iodine Radioaktivitas masih terdapat di dalam ASI sampai
36 jam
1. Obat antikanker dan bahan radioaktif. Iodine Radioaktivitasnya terdapat di dalam ASI selama 12
2. Bromokriptin hari
3. Ergotamin (obat migren) Iodine Radioaktivitasnya terdapat dalam ASI selama 14
4. Litium (antidepresi) hari
5. Antibiotik: kloramfenikol
Apabila ibu memerlukan pemeriksaan menggunakan zat radioaktif, maka ASI
Obat-obatan yang dikonsumsi ibu yang menyusui digolongkan pada: sementara tidak diberikan kepada bayi, walaupun tetap harus dikeluarkan (dibuang)
agar produksi ASI jangan terhenti.
* Yang terkontraindikasi. Jadi bila ibu memerlukan obat tersebut dan tidak ada
alternatif lain maka ibu harus menghentikan menyusui Lama penghentian menyusui tergantung dari masa paruh obat. Dianjurkan untuk
* Obat yang perlu dihentikan selama pemberian obat. Selama obat itu masih menghentikan penyusuan selama 5 kali masa paruh.
berpengaruh. Misalnya zat radioaktif
* Obat yang dianjurkan untuk tidak diberikan kepada ibu karena mungkin berakibat
3. Obat-obatan yang pemberiannya perlu berhati-hati karena mungkin Aspirin juga perlu dihindari, karena dapat menyebabkan gangguan pembekuan
mempunyai efek terhadap bayi darah, fungsi trombosit terganggu dan kadar salah satu faktor pembekuan darah
Nama Obat Alasan yang disebut prothrombin bisa berkurang.
Chlorpromazine Letargi dan rasa kantuk
Chloramphenicol Supresi sumsum tulang Semua obat hormon jangan diminum selama menyusui, khususnya hormon
Metronidazole In vitro adalah mutagen; bila ibu memerlukan androgen, karena dapat menyebabkan maskulinisasi bayi wanita atau pubertas dini
hanya dosis tunggal, pemberian ASI dapat pada bayi laki-laki dan mengurangi jumlah ASI. Danasol dan estrogen (termasuk pil
dilanjutkan setelah 24 jam KB) juga perlu dihindari.
Salicylate Asidosis metabolic
Phenobarbital Sedasi, methemoglobinemia Antibiotik, juga sedapat mungkin tidak diminum, kecuali untuk yang amat mutlak
Primidone Sedasi, masalah minum diperlukan. Beberapa antibiotik yang perlu dihindari antara
Caffeine (bila berlebihan) Iritabel, sulit tidur lain: tetrasiklin (menghambat pertumbuhan tulang, mewarnai
Pil kontrasepsi yang Mengurangi jumlah ASI dan kandungan gigi), kloramfenikol (menekan sumsum tulang bayi), klindamisin, metronidasol,
mengandung estrogen proteinnya sulfonamid, dan kotrimoksasol (anemia hemolitik, mata kuning). Beberapa
Dexbrompheniramine Banyak menangis, iritabel, kurang tidur vitamin dalam dosis yang tinggi seperti vitamin A, D, dan B6 juga sebaiknya
maleate dihindari.
Indomethacin Kejang Beberapa jenis obat yang sering kita pakai yang perlu dihindari selama
menyusui adalah :
Yodium Mengganggu keaktifan kelenjar tiroid
- Obat anti-alegi atau antihistamin, misalnya promethasin, difenhidramin, dan
Povidon iodine Bau yodium pada kulit bayi
dexklorfeniramin.
Nalidixic acid Hemolisis pada bayi dengan defisiensi enzim G-6-
Obat2 ini bisa menyebabkan bayi yang sedang disusui menjadi gelisah.
PD
- Obat migren , semacam ergot.
Nitrofurantoin Hemolisis pada bayi dengan defisiensi enzim G-6- Obat ini kecuali mempunyai effek pada bayi, juga mengurangi jumlah ASI.
PD -Obat tidur dan obat penenang,
Phenytoin Methemoglobinemia Yang harus dihindari adalah semacam barbiturate (luminal), bensodiazepin
Golongan Sulfa Adalah “bilirubin displacer”  Ikterus (valium), dan meprobamate.
Tolbutamide Ikterus - Obat anti muntah : ondansetron
ibu menyusui sedapat mungkin hanya mengonsumsi obat yang esensial, obat yang -Obat gout (sakit persendian) : kolkisin.
menurut dokter benar-benar diperlukan untuk menyembuhkan penyakit yang serius. Aspirin juga perlu dihindari karena dapat menyebabkan gangguan pembekuan darah,
Artinya, hindari minum obat untuk penyakit yang ringan, misalnya pegel linu, batuk mengganggu fungsi trombosit dan mengurangi prothrombin (salah satu
bersin, diare yang hanya 2-3 kali sehari dan sebagainya. Jamu dan vitamin yang faktor pembekuan darah).
tidak amat diperlukan juga dihindari. Sebaliknya, kalau sakitnya dapat -Hormon
membahayakan, harus minum obat yang diresepkan dokter, misalnya bila terbukti Semua jenis hormon jangan diminum selama menyusui, terutama hormon
sakit demam typhoid. androgen, karena dapat menyebabkan maskulinisasi pada bayi wanita dan
pubertas dini pada bayi laki-laki, dan juga mengurangi jumlah ASI. Danasol dan
Beberapa obat yang sering kita pakai yang perlu dihindari pemakaiannya selama estrogen (termasuk pil KB) juga perlu dihindari.
menyusui antara lain obat antihistamin atau obat anti alergi misalnya prometasin, -Antibiotik .
difenhidramin, dan dexklorfeniramin. Obat-obat ini bisa menyebabkan bayi yang Beberapa jenis antibiotik juga perlu dihindari , antara lain tetrasiklin (menghambat
disusui menjadi gelisah. Obat migren semacam ergot juga tidak boleh diminum. pertumbuhan tulang dan mewarnai gigi), kloramfenicol (menekan sumsum tulang
Obat ini selain mempunyai efek samping untuk bayi, juga mengurangi jumlah ASI. bayi), klindamisin, metronidazol, sulfonamide dan kotrimoksasol (menyebabkan
anaemia hemolitik dan mata jadi kuning).
Kelompok obat tidur dan obat penenang yang harus dihindari antara Beberapa jenis vitamin dalam dosis terlalu tinggi juga sebaiknya dihindari
lain barbiturat (luminal), bensodiasepin, dan meprobamat. Demikian pula obat
antimuntah ondansetron dan obat untuk penyakit gout yakni kolkisin.
Sebenarnya bukan saja obat2an, tapi apa saja yang dimakan ibu menyusui akan Obat tersebut dianggap aman dikonsumsi selama kehamilan. Hal ini
masuk melalui ASI ketubuh bayi, jadi hati2lah dengan apa yang dimakan. tidak selalu benar, mengingat selama kehamilan tubuh ibu akan membantu bayi
Hindari mengkonsumsi makanan dari laut (sea-food) oleh karena sudah sangat mengeluarkan obat. Oleh karena itu secara teori, akumulasi obat yang
terkontaminasi dengan merkuri dan logam berat lainnya. mengkhawatirkan dapat terjadi saat menyusui dan tidak terjadi selama kehamilan
(meskipun hal ini jarang terjadi). Namun, jika kekhawatirannya adalah bayi akan
Dapat disimpulkan, sebaiknya tidak minum obat atau jamu atau vitamin bila tidak terpapar obat, misalnya antidepresan, maka bayi lebih banyak terpapar obat pada
amat memerlukan. Minum obat hanya dari resep dokter. Upayakan gaya hidup yang saat yang lebih sensitif saat kehamilan dibandingkan saat menyusui. Penelitian
sehat, yaitu selalu mengonsumsi sayur dan buah, masing-masing tiga kali sehari, terbaru tentang withdrawal symptoms (gelaja pengeluaran) pada bayi baru lahir yang
olahraga teratur atau berjalan cepat 30 menit setiap hari, tidur yang cukup terpapar obat-obatan anti depresan SSRI (misalnya Paxil) selama periode kehamilan,
entah bagaimana berhasil mengkaitkan menyusui seakan-akan ini adalah jenis
Menyusui dan Pengobatan pada Ibu masalah yang mengharuskan ibu untuk tidak menyusui. (Contoh yang bagus tentang
Obat-obatan umumnya terserap di dalam ASI, namun dalam jumlah yang sangat bagaimana menyusui selalu disalahkan untuk segalanya). Kenyataannya, Anda tidak
sedikit. Walaupun ada sebagian obat yang dapat menimbulkan efek samping bagi dapat mencegah withdrawal symptoms ini pada bayi dengan menyusu, karena bayi
bayi meskipun dalam dosis yang sangat rendah, Namun kasus seperti ini sangat mendapat sedikit sekali melalui ASI.
jarang. Ibu menyusui yang diberitahu untuk berhenti menyusui karena obat- Obat tersebut tidak diserap dalam perut atau pencernaan. Ini termasuk banyak,
obatan tertentu sebaiknya bertanya pada dokter untuk memastikan hal ini tapi tidak semua, obat yang diberikan melalu suntikan. Contohnya adalah
dengan mengecek pada sumber yang handal. Catat bahwa CPS (Kanada) dan gentamicin (dan obat lain dalam golongan antibiotik ini), heparin, interferon,
PDR (Amerika Serikat) bukan sumber informasi yang handal tentang obat dan anastesi lokal, omeprazole. Omeprazole (Losec, prilosec) cukup menarik karena
menyusui. “Sumber-sumber” ini hanya kompilasi informasi yang disediakan oleh obat ini hancur dengan sangat cepat di dalam perut. Selama proses pembuatannya,
produsen obat yang lebih tertarik dengan kewajiban hukum medisnya dibandingkan sebuah lapisan pelindung ditambahkan untuk mencegah rusaknya obat, sehingga
lepada kepentingan ibu dan bayi. Kebijakan mereka pada dasarnya “Kami tidak bisa diserap dalam tubuh ibu. Jadi, obat ini dibungkus oleh lapisan pelindung yang
bertanggungjawab jika ibu berhenti menyusui.” Atau ibu sebaiknya meminta mencegah kerusakan obat dalam perut. Namun, jika bayi menerima obat ini (dalam
dokter untuk meresepkan obat alternatif yang aman selama menyusui. Saat ini jumlah yang sangat sedikit secara tidak sengaja), tidak ada lapisan pelindung dari
mencari alternatif obat yang aman seharusnya sudah tidak menjadi masalah. Jika obat, sehingga obat ini akan segera hancur di perut bayi.
dokter yang menanganinya tidak fleksibel, maka ibu sebaiknya mencari pendapat Obat tersebut tidak dikeluarkan melalui ASI. Sebagian obat terlalu besar untuk
lain, tapi jangan berhenti menyusui. bisa masuk ke dalam ASI. Contohnya, heparin, interferon, insulin, infliximab
Mengapa sebagian besar obat hanya terserap/terbawa dalam kadar yang sangat (Remicade), etanercept (Enbrel).
rendah dalam ASI? Karena apa yang masuk/terserap di dalam ASI sangat tergantung Berikut Ini adalah Beberapa Obat-Obatan yang Dinyatakan Aman untuk
pada kadar yang terbawa di dalam darah ibu, dan hal ini biasanya terukur dalam Dikonsumsi Selama Menyusui:
mikro- atau bahkan nano-gram per mililiter (sepersejuta atau sepersemilyar dari satu Acetaminophen (Tylenol, Tempra), alkohol (dalam jumlah yang wajar), aspirin
gram), jika ibu mengkonsumsi obat dalam dosis miligram (seperseribu dari gram) (dalam dosis wajar, untuk jangka waktu pendek). Sebagian besar obat-obatan
atau bahkan gram. Lebih jauh lagi, tidak seluruh obat yang ada di dalam darah ibu antiepilepsi, obat-obatan antihipertensi, tetracycline, kodein, obat-obatan
akan masuk/terserap di dalam ASI. Hanya obat-obatan yang tidak terikat dengan antiinflamasi nonsteroid (misalnya ibuprofen),prednisone,
protein dalam darah ibu yang dapat terserap oleh ASI. Banyak obat yang hampir thyroxin, propylthiourocil (PTU), warfarin, antidepresan trcyclic, sentraline
seluruhnya terikat dengan protein dalam darah ibu. Dengan demikian, (Zoloft), paroxetine (Paxil), antidepresan lainnya, metronidazole (Flagyl),
bayi tidak mendapat jumlah obat yang sama dengan yang dikonsumsi ibu, tapi omperazole (Losec), Nix, Kwellada.
hampir selalu, jauh lebih sedikit dalam basis berat. Contohnya, dalam sebuah studi Catatan: Walaupun secara umum aman, fluoxetine (Prozac) memiliki daya tahan
dengan antidepresan paroxetin (Paxil), ibu mengkonsumsi lebih dari 300 mikrogram yang sangat panjang (tinggal di dalam tubuh dalam jangka waktu yang lama). Oleh
per kg per hari, sedangkan bayi mendapat sekitar 1 mikrogram per kg per hari. karena itu, bayi yang dilahirkan dari ibu yang mengonsumsi obat ini selama
Kebanyakan Obat Aman Jika: kehamilan, akan memiliki sejumlah besar obat ini dalam tubuhnya, dan jumlah yang
Obat tersebut lazim diresepkan bagi bayi. Jumlah yang akan diterima bayi sedikit sekalipun yang ditambahkan saat menyusu akan mengakibatkan akumulasi
melalui ASI jauh lebih sedikit dibandingkan yang akan dia dapatkan jika diberikan yang signifikan dan efek samping. Hal ini jarang, namun pernah terjadi. Ada dua
secara langsung. pilihan yang dapat Anda pertimbangkan:
 Menghentikan konsumsi fluoxetine (Prozac) pada 4-8 minggu terakhir mencari alternatif obat yang aman seharusnya sudah tidak menjadi masalah. Jika
kehamilan. Dengan cara ini Anda akan menghilangkan obat dari tubuh Anda, dokter yang menanganinya tidak fleksibel, maka ibu sebaiknya mencari pendapat
juga dari tubuh bayi. Ketika bayi lahir, ia akan bebas dari obat tersebut dan lain, tapi jangan berhenti menyusui.
sejumlah kecil yang terbawa di dalam ASI biasanya tidak akan Mengapa sebagian besar obat hanya terserap/terbawa dalam kadar yang sangat
menimbulkan masalah dan Anda dapat memulai konsumsi fluoxetine rendah dalam ASI? Karena apa yang masuk/terserap di dalam ASI sangat tergantung
(Prozac). pada kadar yang terbawa di dalam darah ibu, dan hal ini biasanya terukur dalam
 Jika tidak memungkinkan untuk menghentikan fluoxetine (Prozac) selama mikro- atau bahkan nano-gram per mililiter (sepersejuta atau sepersemilyar dari satu
kehamilan, pertimbangkan untuk mengganti dengan obat lain yang tidak gram), jika ibu mengkonsumsi obat dalam dosis miligram (seperseribu dari gram)
secara signifikan terserap di dalam ASI setelah bayi lahir. Dua pilihan yang atau bahkan gram. Lebih jauh lagi, tidak seluruh obat yang ada di dalam darah ibu
baik adalah setraline (Zoloft) dan paroxetine (Paxil). akan masuk/terserap di dalam ASI. Hanya obat-obatan yang tidak terikat dengan
Obat-obatan yang digunakan pada kulit, dihirup (misalnya obat asma) atau protein dalam darah ibu yang dapat terserap oleh ASI. Banyak obat yang hampir
dioleskan pada mata atau hidung, hampir selalu aman untuk menyusui. seluruhnya terikat dengan protein dalam darah ibu. Dengan demikian,
Obat untuk anestesi lokal atau regional tidak akan terserap pencernaan bayi dan bayi tidak mendapat jumlah obat yang sama dengan yang dikonsumsi ibu, tapi
aman. Obat untuk anestesi umum akan terserap di dalam ASI dalam jumlah hampir selalu, jauh lebih sedikit dalam basis berat. Contohnya, dalam sebuah studi
yang sangat sedikit (seperti semua obat) dan sangat tidak mungkin menimbulkan dengan antidepresan paroxetin (Paxil), ibu mengkonsumsi lebih dari 300 mikrogram
efek samping pada bayi Anda. Obat ini umumnya memiliki masa tinggal yang per kg per hari, sedangkan bayi mendapat sekitar 1 mikrogram per kg per hari.
sangat pendek dalam tubuh dan hilang dengan sangat cepat dari tubuh. Anda dapat Kebanyakan Obat Aman Jika:
kembali menyusui segera setelah sadar dan nyaman untuk menyusui. Obat tersebut lazim diresepkan bagi bayi. Jumlah yang akan diterima bayi
Imunisasi yang diberikan kepada ibu tidak membuatnya harus berhenti menyusui. melalui ASI jauh lebih sedikit dibandingkan yang akan dia dapatkan jika diberikan
Sebaliknya, imunisasi akan membantu bayi mengembangkan imunitas dari secara langsung.
imunisasi tersebut, jika ada yang masuk ke dalam ASI. Kenyataannya, umumnya Obat tersebut dianggap aman dikonsumsi selama kehamilan. Hal ini
tidak ada yang masuk ke dalam ASI, kecuali, mungkin sebagian virus hidup tidak selalu benar, mengingat selama kehamilan tubuh ibu akan membantu bayi
imunisasi, seperti campak Jerman. Dan hal ini adalah baik, tidak buruk. mengeluarkan obat. Oleh karena itu secara teori, akumulasi obat yang
Rontgen dan Pemindaian (scan). Rontgen yang biasa tidak harus mengganggu mengkhawatirkan dapat terjadi saat menyusui dan tidak terjadi selama kehamilan
proses menyusui bahkan jika digunakan dengan bahan yang kontras (misalnya, (meskipun hal ini jarang terjadi). Namun, jika kekhawatirannya adalah bayi akan
intravenous pyelogram). Alasannya adalah material tersebut tidak akan terserap di terpapar obat, misalnya antidepresan, maka bayi lebih banyak terpapar obat pada
dalam ASI, dan meskipun terserap tidak akan mungkin terserap oleh tubuh bayi. Hal saat yang lebih sensitif saat kehamilan dibandingkan saat menyusui. Penelitian
ini berlaku juga untuk CT scan dan MRI scan. Anda tidak perlu berhenti menyusi terbaru tentang withdrawal symptoms (gelaja pengeluaran) pada bayi baru lahir yang
sedetikp terpapar obat-obatan anti depresan SSRI (misalnya Paxil) selama periode kehamilan,
entah bagaimana berhasil mengkaitkan menyusui seakan-akan ini adalah jenis
Menyusui masalah yang mengharuskan ibu untuk tidak menyusui. (Contoh yang bagus tentang
Obat-obatan umumnya terserap di dalam ASI, namun dalam jumlah yang sangat bagaimana menyusui selalu disalahkan untuk segalanya). Kenyataannya, Anda tidak
sedikit. Walaupun ada sebagian obat yang dapat menimbulkan efek samping bagi dapat mencegah withdrawal symptoms ini pada bayi dengan menyusu, karena bayi
bayi meskipun dalam dosis yang sangat rendah, Namun kasus seperti ini sangat mendapat sedikit sekali melalui ASI.
jarang. Ibu menyusui yang diberitahu untuk berhenti menyusui karena obat- Obat tersebut tidak diserap dalam perut atau pencernaan. Ini termasuk banyak,
obatan tertentu sebaiknya bertanya pada dokter untuk memastikan hal ini tapi tidak semua, obat yang diberikan melalu suntikan. Contohnya adalah
dengan mengecek pada sumber yang handal. Catat bahwa CPS (Kanada) dan gentamicin (dan obat lain dalam golongan antibiotik ini), heparin, interferon,
PDR (Amerika Serikat) bukan sumber informasi yang handal tentang obat dan anastesi lokal, omeprazole. Omeprazole (Losec, prilosec) cukup menarik karena
menyusui. “Sumber-sumber” ini hanya kompilasi informasi yang disediakan oleh obat ini hancur dengan sangat cepat di dalam perut. Selama proses pembuatannya,
produsen obat yang lebih tertarik dengan kewajiban hukum medisnya dibandingkan sebuah lapisan pelindung ditambahkan untuk mencegah rusaknya obat, sehingga
lepada kepentingan ibu dan bayi. Kebijakan mereka pada dasarnya “Kami tidak bisa diserap dalam tubuh ibu. Jadi, obat ini dibungkus oleh lapisan pelindung yang
bertanggungjawab jika ibu berhenti menyusui.” Atau ibu sebaiknya meminta mencegah kerusakan obat dalam perut. Namun, jika bayi menerima obat ini (dalam
dokter untuk meresepkan obat alternatif yang aman selama menyusui. Saat ini
jumlah yang sangat sedikit secara tidak sengaja), tidak ada lapisan pelindung dari tidak ada yang masuk ke dalam ASI, kecuali, mungkin sebagian virus hidup
obat, sehingga obat ini akan segera hancur di perut bayi. imunisasi, seperti campak Jerman. Dan hal ini adalah baik, tidak buruk.
Obat tersebut tidak dikeluarkan melalui ASI. Sebagian obat terlalu besar untuk Rontgen dan Pemindaian (scan). Rontgen yang biasa tidak harus mengganggu
bisa masuk ke dalam ASI. Contohnya, heparin, interferon, insulin, infliximab proses menyusui bahkan jika digunakan dengan bahan yang kontras (misalnya,
(Remicade), etanercept (Enbrel). intravenous pyelogram). Alasannya adalah material tersebut tidak akan terserap di
Berikut Ini adalah Beberapa Obat-Obatan yang Dinyatakan Aman untuk dalam ASI, dan meskipun terserap tidak akan mungkin terserap oleh tubuh bayi. Hal
Dikonsumsi Selama Menyusui: ini berlaku juga untuk CT scan dan MRI scan. Anda tidak perlu berhenti menyusi
Acetaminophen (Tylenol, Tempra), alkohol (dalam jumlah yang wajar), aspirin sedetikpun.
(dalam dosis wajar, untuk jangka waktu pendek). Sebagian besar obat-obatan
antiepilepsi, obat-obatan antihipertensi, tetracycline, kodein, obat-obatan Pediatrik
antiinflamasi nonsteroid (misalnya ibuprofen),prednisone, Berikut ini adalah beberapa obat yang harus diperhatikan anjuran penggunaannya
thyroxin, propylthiourocil (PTU), warfarin, antidepresan trcyclic, sentraline dan usia sang bayi seperti dikutip dari Babycenter, Senin (31/8/2009):
(Zoloft), paroxetine (Paxil), antidepresan lainnya, metronidazole (Flagyl),
omperazole (Losec), Nix, Kwellada.
Catatan: Walaupun secara umum aman, fluoxetine (Prozac) memiliki daya tahan 1. Paracetamol. Obat ini tidak dianjurkan untuk bayi berusia di bawah 3 bulan,
yang sangat panjang (tinggal di dalam tubuh dalam jangka waktu yang lama). Oleh penggunaan obat ini sebaiknya berdasarkan resep dan setelah berdiskusi
karena itu, bayi yang dilahirkan dari ibu yang mengonsumsi obat ini selama dengan dokter atau setelah bayi mendapatkan vaksinasi pertama kali.
kehamilan, akan memiliki sejumlah besar obat ini dalam tubuhnya, dan jumlah yang Parasetamol bisa menghambat beberapa enzim yang berbeda di dalam otak
sedikit sekalipun yang ditambahkan saat menyusu akan mengakibatkan akumulasi dan ikatan tulang belakang yang terlibat dalam perpindahan rasa sakit.
yang signifikan dan efek samping. Hal ini jarang, namun pernah terjadi. Ada dua Penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa penggunaan parasetamol pada
pilihan yang dapat Anda pertimbangkan: bayi bisa meningkatkan risiko asma 5 tahun mendatang sebesar 46 persen.
 Menghentikan konsumsi fluoxetine (Prozac) pada 4-8 minggu terakhir 2. Ibuprofen. Obat ini sebaiknya digunakan untuk bayi berusia 6 bulan ke
kehamilan. Dengan cara ini Anda akan menghilangkan obat dari tubuh Anda, atas, karena obat ini bisa menghambat produksi beberapa zat kimia di
juga dari tubuh bayi. Ketika bayi lahir, ia akan bebas dari obat tersebut dan dalam tubuh yang bisa meningkatkan respons cedera, sakit atau
sejumlah kecil yang terbawa di dalam ASI biasanya tidak akan menyebabkan peradangan. Penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa
menimbulkan masalah dan Anda dapat memulai konsumsi fluoxetine ibuprofen memang lebih bagus untuk mengatasi demam atau menurunkan
(Prozac). suhu tinggi pada anak-anak di atas usia 6 bulan. Obat ini tidak bisa
 Jika tidak memungkinkan untuk menghentikan fluoxetine (Prozac) selama digunakan untuk bayi yang menderita asma sejak lahir atau turunan.
kehamilan, pertimbangkan untuk mengganti dengan obat lain yang tidak 3. Aspirin. Jangan pernah memberikan anak obat yang mengandung aspirin,
secara signifikan terserap di dalam ASI setelah bayi lahir. Dua pilihan yang karena bisa menyebakan Reye's syndrome (sindrom yang bisa mengubah
baik adalah setraline (Zoloft) dan paroxetine (Paxil). zat-zat kimia dalam darah sehingga merusak fungsi beberapa organ
Obat-obatan yang digunakan pada kulit, dihirup (misalnya obat asma) atau terutama hati dan otak) yang pada kasus tertentu bisa mengakibatkan
dioleskan pada mata atau hidung, hampir selalu aman untuk menyusui. kematian. Aspirin kadang ditulis sebagai salisilat atau asam asetilsalisilat.
Obat untuk anestesi lokal atau regional tidak akan terserap pencernaan bayi dan 4. Obat anti-mual. Jangan memberikan obat ini tanpa rekomendasi dari
aman. Obat untuk anestesi umum akan terserap di dalam ASI dalam jumlah dokter, karena obat ini memiliki risiko komplikasi. Rata-rata anak-anak
yang sangat sedikit (seperti semua obat) dan sangat tidak mungkin menimbulkan bisa mengatasi rasa mual tanpa harus mengonsumsi obat-obatan. Jika
efek samping pada bayi Anda. Obat ini umumnya memiliki masa tinggal yang sudah mengalami dehidrasi, segera hubungi dokter.
sangat pendek dalam tubuh dan hilang dengan sangat cepat dari tubuh. Anda dapat 5. Obat batuk dan flu yang dijual bebas. American Academy of
kembali menyusui segera setelah sadar dan nyaman untuk menyusui. Pediatrics (AAP) melarang penggunaan obat batuk dan flu yang dijual
Imunisasi yang diberikan kepada ibu tidak membuatnya harus berhenti menyusui. bebas untuk anak usia sebelum sekolah, karena bisa berbahaya. Efek yang
Sebaliknya, imunisasi akan membantu bayi mengembangkan imunitas dari ditimbulkan adalah tidak bisa tidur, sakit perut bagian atas dan jantung
imunisasi tersebut, jika ada yang masuk ke dalam ASI. Kenyataannya, umumnya yang berdebar-debar. Setiap tahun 7.000 anak-anak di bawah usia 11
tahun masuk rumah sakit karena mengonsumsi obat batuk dan flu yang sakit akibat pemberian obat batuk dan flu di rumah.
berlebihan. 3. Obat antimual
6. Obat orang dewasa. Memberikan anak-anak obat orang dewasa dengan Jangan memberikan obat antimual pada bayi kecuali dokter secara spesifik
dosis yang dikurangi sangat berbahaya. Jika obat tersebut memberi tanda meresepkannya. Gejala mual yang dialami bayi dan balita biasanya berlangsung
tidak untuk anak-anak, maka jangan pernah mencoba untuk diberikan ke sementara dan tubuh mereka mampu mengatasinya tanpa obat-obatan. Di lain pihak,
anak-anak. obat antimual bisa menyebabkan komplikasi. Bila bayi mengalami muntah berikan
7. Asetaminofen yang berlebihan. Beberapa obat mengandung cukup cairan untuk mencegah dehidrasi.
asetaminofen untuk mengurangi demam dan sakit, tapi berhati-hati dalam 4. Obat dewasa
penggunaannya. Harus sesuai dengan resep dokter atau apoteker setempat. Sangat tidak dianjurkan untuk memberi balita obat orang dewasa dalam dosis kecil.
8. Obat herbal yang mengandung ephedra atau ephendrine. Jangan Selain itu obat untuk bayi umumnya lebih pekat dibanding obat untuk anak lebih
pernah memberikan anak-anak obat ini, karena berhubungan dengan besar, sehingga Anda perlu berhati-hati dalam pemberian kepada bayi.
tekanan darah tinggi, detak jantung yang tidak teratur, serangan jantung 5. Obat yang diresepkan untuk anak lain
dan stroke. Berikanlah pengobatan alternatif lain yang lebih aman dan Obat yang diresepkan untuk anak lain, termasuk saudaranya, belum tentu efektif,
alami. bahkan bisa berbahaya untuk bayi Anda. Berikan bayi obat yang memang hanya
9. Tablet kunyah. Jangan memberikan anak berusia di bawah 2 tahun obat diresepkan untuknya.
ini, umumnya anak berusia 2 sampai 4 tahun yang sudah mengerti cara 6. Obat kedaluarsa
minum obat ini. Jika orang tua berpikir anaknya belum terlalu mengerti, Segera singkirkan obat-obatan dari kotak obat begitu masuk masa kedaluarsa. Buang
maka hancurkan obat dan letakkan di sendok yang diberi sedikit air. juga obat yang sudah berubah warna. Setelah kedaluarsa obat sudah tidak efektif dan
Dosis yang diberikan harus sesuai. bisa berbahaya.
KOMPAS.com - Daya tahan tubuh yang masih lemah memang membuat bayi lebih 7. Ekstra asetaminofen
rentan terhadap berbagai kuman penyebab penyakit. Meski begitu, sebaiknya para Beberapa jenis obat mengandung asetaminofen untuk mengurangi demam dan nyeri,
orangtua berhati-hati dalam memberikan obat-obatan kepada mereka, bahkan obat sehingga berhati-hatilah sebelum memberikan obat pada bayi yang terpisah dari obat
yang tergolong alami atau herbal sekalipun. demamnya. Jika Anda tidak yakin, tanyakan pada dokter atau apoteker kandungan
obat yang diberikan.
Konsultasikanlah kepada dokter sebelum memberikan obat kepada bayi dan balita. 8. Obat kunyah
Berikut adalah 8 jenis pengobatan yang sebaiknya dihindari pemberiannya kepada Obat kunyah atau tablet untuk anak-anak dapat menimbulkan risiko tersedak pada
bayi. bayi. Bila bayi Anda sudah mendapatkan makanan padat dan Anda ingin
1. Aspirin memberikan tablet, tanyakan pada dokter atau apoteker apakah boleh digerus atau
Hindari memberikan obat aspirin atau obat mengandung aspirin pada anak, kecuali dicampur makanan lembut.
atas petunjuk dokter. Aspirin bisa menyebabkan sindrom Reye yang bisa merusak
organ ginjal dan otaknya. Obat swamedikasi
Jangan berasumsi obat yang dijual bebas tidak memiliki kandungan aspirin, karena
itu sebaiknya baca label obat dengan cerma. Aspirin terkadang ditulis dengan Batuk
salisilat atau asam asetilsalisilat. Untuk demam, sebaiknya berikan obat penurun Terapi Non Farmakologi
demam yang mengandung parasetamol atau ibuprofen untuk anak berusia di atas 6 Penderita-penderita dengan batuk tanpa gangguan yang disebabkan oleh penyakit
bulan. akut dan sembuh sendiri biasanya tidak perlu obat (Yunus, 1993).Pada umumnya
2. Obat batuk dan flu yang dijual bebas batuk berdahak/produktif maupun tidak berdahak/non produktif dapat dikurangi
Para dokter anak yang tergabung dalam American Academy of Pediatric tidak dengan cara sering minum air putih, untuk membantu mengencerkan dahak,
merekomendasikan pemberian obat flu dan batuk kepada bayi. Hasil penelitian mengurang iiritasi atau rasa gatal serta menghindari paparan debu, minuman atau
menunjukkan obat-obatan tersebut sering tidak menyembuhkan bahkan kerap makanan yang merangsang tenggorokan dan udara malam yang dingin (BPOM RI,
berbahaya karena diberikan melebihi dosis. 2002). Menghirup uap mentol atau minyak atsiri juga dapat meringankan batuk
Efek samping lain yang perlu diwaspadai adalah mengantuk, sakit perut, ruam, produktif, tatpi cara pengobatan ini tidak boleh diberikan kepada anak-anak di
hingga peningkatan detak jantung. Setiap tahunnya, ribuan bayi dilarikan ke rumah
bawah usia 2 tahun karaena dapat myebabkan kejang larynx (Tjay dan Rahardja, Usaha yang terbaik adalah dengan menekan susunan saraf pusat yang menjadi
2002). pusat batuk, yaitu dengan obat penekan batuk. Obat-obat yang berdaya
Terapi Farmakologi menekan rangsangan batuk:
a. Pengobatan spesifik zat-zat pereda : kodein, noskapin, dekstrometorfan.
Apabila penyebab batuk diketahui maka pengobatan harus ditujukan terhadap Antihistaminika : prometazin, difenhidramin, dan d-klorfeniramin. Obat-obat
penyebab tersebut. Dengan evaluasi diagnostik yang terpadu, pada hampir ini sering kali efektif pula berdasarkan efek sedatifnya dan terhadap perasaan
semua penderita dapat diketahui penyebab batuk kroniknya. Pengobatan menggelitik pada tenggorokan.
spesifik batuk tergantung dari etiologi atau mekanismenya : Anestetika lokal : pentoksiverin. Obat ini menghambat penerusan rangsangan
Asma diobati dengan bronkodilator atau dengan kortikosteroid.Postnasal batuk ke otak (Tjay dan Rahardja, 2002).
drip karena sinusitis diobati dengan antibiotik, obat semprot hidung dan FLU
kombinasi antihistamin - dekongestan; Pengobatan flu yang utama adalah istirahat dan berbaring di tempat tidur, minum
postnasal drip karena alergi atau rinitis nonalergi ditanggulangi dengan banyak cairan dan menghindari kelelahan. Tirah baring sebaiknya dilakukan segera
menghindari lingkungan yang mempunyai faktor pencetus dan kombinasi setelah gejala timbul sampai 24-48 setelah suhu tubuh kembali normal. Untuk
antihistamin - dekongestan. penyakit yang berat tetapi tanpa komplikasi, bisa diberikan asetaminofenn, aspirin,
Refluks gastroesophageal diatasi dengan meninggikan kepala, modifikasi diet, ibuprofen atau naproksen. Obat lainnya yang biasa diberikan adalah dekongestan
antasid dan simetidin. hidung dan penghirupan uap.
Batuk pada bronkitis kronik diobati dengan menghentikan merokok. Terapi Non Farmakologi
Antibiotik diberikan pada pneumonia, sarkoidosis diobati dengan Influenza umumnya dapat sembuh sendiri oleh daya tahan tubuh. Beberapa tindakan
kortikosteroid dan batuk pada gagal jantung kongestif dengan digoksin dan yang dianjurkan untuk meringankan gejala influenza antara lain:
furosemid. a. Beristirahat antara 2-3 hari, mengurangi kegiatan fisik
Pengobatan spesifik juga dapat berupa tindakan bedah seperti reseksi paru berlebihan.
pada kanker paru, polipektomi, menghilangkan rambut dari saluran telinga b. Meningkatkan gizi makanan. Makanan dengan kalori dan
luar (Yunus, 1993). protein yang tinggi akan menambah daya tahan tubuh. Makan buah-
b. Pengobatan simptomatik buahan segar yang banyak mengandung vitamin.
Diberikan baik kepada penderita yang tidak dapat ditentukan penyebab c. Banyak minum air, teh, sari buah akan mengurangi rasa
batuknya maupun kepada penderita yang batuknya merupakan gangguan, kering ditenggorokan mengencerkan dahak dan membantu
tidak berfungsi baik dan potensial dapat menimbulkan komplikasi. menurunkan demam.
Batuk produktif d. Tidak dianjurkan mengenakan pakaian atau selimut yang
Emolliensia terlalu tebal dan rapat, lebih-lebih pada anak dengan demam.
Memperlunak rangsangan batuk, memperlicin tenggorokan agar tidak kering, e. Jika pilek, bersihkan hidung yang berguna untuk
dan melunakan selaput lendir yang teriritasi untuk tujuan ini banyak mempercepat kesembuhan dan menghindari komplikasi yang lebih
digunakan sirup, zat-zat lendir, dan gula-gula, seperti, drop, permen, pastilles parah.
isap. f. Hidung tersumbat dapat diatasi dengan menghirup uap
Ekspektoransia hangat yang dihasilkan dari air hangat di wadah bermulut lebar
Memperbanyak produksi dahak (yang encer) dan demikian mengurangi (panci), ditetesi dengan beberapa tetes minyak atsiri. Minyak atsiri
kekentalannya, sehingga mempermudah pengeluarannya dengan batuk, yang ditambahkan bisa berupa minyak mint (berasal dari
misalnya guaiakol, radix Ipeca, dan ammonium klorida dalam obat batuk daun menta piperita), minyak kayu putih, minyak adas, atau tea tree
hitam yang terkenal. oil (berasal dari penyulingan daun eucalyptus)
Mukolitika g. Minum minuman pelega tenggorokan/pengencer dahak dan
Obat ini memecah rantai molekul mukoprotein sehinggamenurunkan pelancar aliran darah seperti jahe, lemongrass/sereh, kayu
viskositas mukus. Asetilsistein, karbosistein, mesna, bromheksin, dan manis, mint, chamomil (Depkes RI, 1997, Rasmaliah, 2004,
ambroksol. Puspitasari, 2007).
Batuk non produkttif Terapi Farmakologi
a. Antipiretik untuk mengatasi panas/demam Ekskresinya berlangsung cepat dan lengkap. Kira-kira 90% dosis yang diabsorpsi
Parasetamol / Asetaminofen akan diekskresi melalui urin sebagai metabolit atau konjugasinya. Metabolit utama
Parasetamol mempunyai khasiat analgetik dan antipiretik, tetapi tidak antiinflamasi. merupakan hasil hidroksilasi dan karboksilasi.
Seperti aspirin, parasetamol berefek menghambat sitesa prostaglandin di otak tetapi Dosis
sedikit aktivitasnya sebagai inhibitor prostaglandin perifer. Nyeri (haid), demam, rema, permulaan 400 mg p.c/d.c, lalu 3-4 dd 200-400 mg,
Farmakokinetik demam pada anak-anak 6-12 bulan 3 dd 50 mg, 1-3 tahun 3-4 dd 50 mg, 4-8 tahun
Level serum. 3-4 dd 100 mg, 9-12 tahun 3-4 dd 200 mg (Wilmana, 2004; Tjay dan Rahardja, 2002;
10-20 mg/L (66-132 µmol/L) kerusakan hati dapat terjadi setelah penggunaan over Chairun, 2006) .
dosis akut dengan konsentrasi serum > 300 mg/L (2 mmol/L) setelah 4 jam atau 45
mg/L (300 µmol/L) setelah 12 jam setelah over dosis akut dengan kerusakan hati, b. Dekongestan nasal / pelega hidung
sedangkan keracunan kemungkinan tidak akan terjadi bila level < 120 mg/L (800 Dekongestan nasal dipasarkan dalam bentuk obat oral dan bentuk spray hidung.
µmol/L) setelah 4 jam atau 30 mg/L (200 µmol/L) setelah 12 jam. Beberapa jenis obat dekongestan nasal:
Absorpsi dan Distribusi. Fenilpropanilamin (PPA)
Absorpsi cepat dari trakstus GI, konsentrasi plasma puncak tercapai pada 0.5-2 jam. Fenilpropanolamin adalah derivat tanpa gugus –CH pada atom N dengan khasiat
Pada dosis terapi, obat dalam bentuk tak terikat plasma protein; pada over dosis 20- yang menyerupai efedrin. Kerjanya lebih panjang; efek sentral dan efek jantung
50% terikat protein. lebih ringan. Dosis oral 3-4 dd 15-25 mg.
Metabolisme dan Ekskresi. Efedrin
Dalam hati, parasetamol diuraikan menjadi metabolit-metabolit toksis yang Efedrin adalah alkaloid dari tumbuhan Ephedra vulgaris. Penggunaan utamanya
diekskresi denngan kemih sebagai konjugat glukuronida dan sulfat. adalah pada asam berkat efek bronchodilatasi kuat (β2), sebagai decongestivum dan
Efek samping midriatikum yang kurang merangsang dibandingkan dengan adrenalin. Resorpsinya
Efek samping antara lain reaksi hipersensitivitas dan kelainan darah. Pada dari usus baik, bronchodilatasi sudah nampak dalam 15-60 menit dan bertahan 2-5
penggunaan kronik dari 3-4 g sehari dapat terjadi kerusakan hati, pada dosis diatas 6 jam. Plasma t ½ nya 3-6 jam tergantung dari pH. Dalam hati sebagian zat dirombak;
g mengakibatkan necrose hati yang tidak reversibel. ekskresinya berlangsung lewat urin khusus secara utuh. Dosis pada asma 3-4 dd 25-
Dosis 50 mg (-HCl), anak-anak 2-3 mg/kg sehari dalam 4-6 dosis. Tetes hidung larutan-
Untuk nyeri dan demam oral 2-3 dd 0,5- 1 g, maksimum 4 g/hari, pada penggunaan sulfat 0,5-2%, dalam tetes mata 3-4%.
kronis maksimum 2,5 g/hari. Anak-anak 4-6 dd 10 mg/kg, yakni rata-rata usia 3-12 Pseudoefedrin
bulan 60 mg, 1-4 tahun 120-180 mg, 4-6 tahun 180 mg, 7-14 tahun 240-360 mg, 4-6 Pseudoefedrin adalah isomer-dekstro dengan khasiat yang sama. Daya
x sehari. Rektal 20 mg/kg setiap kali, dewasa 4 dd 0,5-1 g, anak-anak usia 3-12 bronchodilatasi lebih lemah, efek samping terhadap SSP dan jantung juga lebih
bulan 2-3 dd 120mg, 1-4 tahun 2-3 dd 240 mg, 4-6 tahun 4 dd 240 mg, dan 7-12 ringan. Plasma t ½ nya 7 jam.
tahun 2-3 dd 0,5 g (Tjay dan Rahardja, 2002; Chairun, 2006). Oksimetazolin
Ibuprofen Derivat imidazolin ini bekerja langsung terhadap reseptor alfa tanpa efek atas
Ibuprofen adalah NSAID yang memiliki aktivitas analgetik dan antipiretik. reseptor beta. Setelah diteteskan di hidung, adalm waktu 5-10 menit terjadi
Ibuprofen merupakan inhibitor non-selektif cyclo-oxygenase-1 (COX-1) dan COX-2. vasokontriksi mukosa yang bengkak dan kemampatan hilang. Efeknya bertahan 5
Farmakokinetik jam. Efek sampingnya dapat berupa rasa terbakar dan teriritasi dari selaput lendir
Level serum. hidung dengan menimbulkan bersin. Dosis anak-anak daiats 12 tahun dan dewasa 1-
10 mg/L untuk efek antipiretik. Konsentrasi serum diatas 200 mg/L satu jam setelah 3 dd 2-3 tetes larutan 0,05% (HCl) disetiap lubang hidung, anak-anak 2-10 tahun
over dosis akut kemungkinan karena keracunan hebat. larutan 0,025%.
Absorpsi Xilometazolin
Secara cepat diabsoprsi dari traktus GI dengan bioavailabilitas diatas 80%. Kadar Derivat imidazolin dengan daya kerja dan penggunaan sama. Derivat imidazolin
maksimum dalam plasma dicapai setelah 1-2 jam. Terikat kuat, lebih dari 99% khususnya digunakan sebagai dekongestivum pada selaput lendir bengkak di hidung
dengan plasma protein. dan mata, pilek, selesma,hay fever, sinusitis. Dosis nasal 1-3 dd 2-3 tetes larutan
Metabolisme dan Ekskresi. 0,1% (HCl), maks 6 x sehari. Anak-anak 2-6 tahun larutan 0,05%.
Namun, ditemukan juga bentuk pelega hidung berbentuk inhaler yang berisi mentol, c. Air matang 2 sendok makan
camphor, metil salisilat ditambah dengan minyak atsiri seperti minyak pumilio pine. Campur ketiga komponen tersebut ke dalam cangkir, kukus, setelah dingin minum
1-2 sendok teh untuk anak dan 1-2 sendok makan untuk dewasa, Berikan 5 kali
c. Virustatika sehari.
Virustatika digunakan sebagai prevensi atau meringankan gejala penyakit, bila 2. Jahe
terjadi infeksi. Jahe seibu jari dicuci dan dimemarkan, rebus dengan dua gelas air hingga airnya
Amantadin dapat digunakan selama 10 hari bersama suntikan vaksin influenza guna tinggal setengah. Setelah menjadi hangat, tambahkan madu, kemudian minum air
melindungi terhadap virus-A2 selama masa vaksin belum aktif (masa inkubasi 10 rebusan tersebut sekaligus.
hari), terutama pada orang-orang dengan daya tangkis lemah.
Zanamivir termasuk kelompok zat baru neuramidase-inhibitor yang ternyata efektif Obat Batuk/ Flu Bebas Hanya Untuk 4 Tahun Ke Atas
untuk mencegah dan menangani influenza. Obat ini menghambat enzim Semakin muda usia anak, makin rentan anak tersebut terhadap efek samping
neuramidase pada permukaan virus. Dengan demikian, pelepasan partikel virus dan bahaya penggunaan obat bebas ini. Karena itu biasanya brosur/ label yang
keluar sel tuan rumah dihindarkan, sehingga sel-sel berdekatan dalam saluran nafas terdapat pada obat bebas tersebut tidak menganjurkan penggunaan obat pada bayi/
tidak ditulari. Digunakan sebagai inhalasi 1-2 dd 10 mg. anak bila usianya masih di bawah 2 tahun. Jika usia kurang dari 2 tahun dianjurkan
Oseltamivir 2 x 75 mg sehari selama 5 hari akan memperpendek masa sakit. mengikuti petunjuk dokter.
d. Antibiotika Kini batas minimal umur yang aman untuk penggunaan obat bebas tersebut
Hanya digunakan pada orang yang beresiko tinggi dengan daya tangkis lemah, akan dinaikkan lagi. Pabrik Farmasi di Amerika Serikat kini bersepakat bahwa obat
seperti penderita bronkhitis kronis, jantung atau ginjal. Mereka mudah dihinggapi bebas (OTC) untuk batuk dan flu yang mereka produksi hanya diperuntukkan untuk
infeksi sekunder dengan bakteri, khususnya radang paru (pneumonia), yang tak anak usia 4 tahun ke atas, tidak lagi untuk 2 tahun ke atas seperti yang berlaku saat
jarang berakhir fatal. Oleh karena itu, di Eropa orang yang berisiko tinggi dianjurkan ini. Karena itu, tulisan "untuk anak usia 2 tahun ke atas" seperti yang tertera pada
untuk setiap tahun pada permulaan musim dingin melindungi diri dengan injeksi banyak obat batuk dan flu berbentuk sirup yang dijual bebas akan berganti menjadi
virus influenza. "untuk 4 tahun ke atas".
e. Vitamin C FDA melarang anak di bawah 6 tahun menggunakan obat batuk dan obat flu
Vitamin C denagn dosis tinggi (3-4 dd 1000 mg) berkhasiat meringankan gejala dan bebas ketika mereka sakit. Ada beberapa alasan mengapa obat bebas tersebut
mempersingkat lamanya infeksi, berdasarkan stimulasi perbanyakan serta aktivitas dinaikkan batasan umur penggunaannya. Pertama, belum ada bukti ilmiah obat
limfo-T dan makrofag pada dosis di atas 2,5 g sehari. bebas tersebut memang sudah bermanfaat buat anak-anak usia 6 tahun ke bawah. Ke
f. Seng-glukonat dua, sudah banyak kejadian efek samping/ kecelakaan yang membahayakan nyawa
Seng-glukonat dalam bentuk tablet hisap dengan 13,3 mg Zn yang digunakan sedini anak-anak karena penggunaan sembarangan obat bebas tersebut. Hal ini diduga
mungkin pada permulaan infeksi 5-6 x sehari dapat mempersingkat lamanya masa karena dosis anjuran pada label obat bebas tersebut menggunakan umur sebagai
sakit. Mekanisme kerjanya diperkirakan berdasarkan blokade dari tempat-tempat di patokan, bukan berat badan.
permukaan virus yang dapat mengikat pada sel-sel tubuh atau juga atas dasar daya Sebenarnya flu bisa sembuh sendiri (self-limiting). Dalam 4-7 hari penyakit
ion Zn untuk mneghambat pembelahan polipeptida virus serta aktivasi limfosit (Tjay akan sembuh sendiri tergantung dari daya tahan tubuh dan pola hidup seseorang,
dan Rahardja, 2002). serta tidak adanya komplikasi. Sangat dianjurkan untuk meringankan gejala flu
tanpa pengobatan, yaitu dengan beristirahat 2-3 hari, banyak minum air dan
Pengobatan Batuk Flu yang Aman memberi asupan makanan yang tinggi kalori dan protein. Buah dan sayuran segar
Pengobatan Herbal yang mengandung banyak vitamin, terutama vitamin C juga disarankan untuk
1. Madu meningkatkan daya tahan tubuh. Berkumur dengan air garam atau minum air
Minum Madu akan meningkatkan kekebalan tubuh, karena penyakit batuk dan flu perasan kencur akan mengurangi rasa sakit pada tenggorokan.
disebabkan oleh virus, dengan meningkatkan kekebalan tubuh maka virus akan Obat flu hanya meringankan gejala saja, tidak boleh digunakan secara terus
diusir oleh system pertahanan tubuh alami. menerus dalam jangka waktu yang lama. Segera konsultasikan ke dokter apabila
Caranya sediakan bahan sebagai berikut : dalam 3 (tiga) hari tidak sembuh atau ada gejala lain yang menyertainya. Obat ini
a. Madu 2 sendok makan pada umumnya dapat diperoleh tanpa resep dokter, baik yang dijual secara bebas
b. Air jeruk nipis 1 sendok makan (bertanda lingkaran hijau) atau terbatas di apotek dan toko obat berijin (bertanda
lingkaran biru). Komposisinya sebagian besar terdiri dari kombinasi beberapa akan mengurangi beban pusat-pusat pelayanan kesehatan, biaya yang dikeluarkan
macam obat, yaitu : relatif lebih murah, serta memb
Pelega hidung tersumbat (dekongestan) : fenilpropanolamin, fenilefrin,
pseudoefedrin dan efedrin Swamedikasi Diare
Penghilang sakit/penurun panas (analgesik/antipiretik) : parasetamol Dalam presentasinya beliau mengatakan kunci utama terapi diare adalah rehidrasi
Pada beberapa merek, diberi tambahan : pasien setelahnya baru mengatasi gangguan penyerta seperti demam dan badan
Obat batuk berdahak (ekspektoran): ammonium klorida, bromheksin, gliseril lemas. Obat-obatan yang bisa digunakan sebagai swamedikasi diare yaitu Attapulgit,
guaiakola ekstrak Psidii Folium yang terdapat pada produk fitofarmaka indonesia “Nodiar” ada
Obat batuk kering (antitusif) : difenhidramin HCl, dekstrometorfan HBr juga produk Obat Herbal Terstandar “Diapet” dengan kandungan Ekstrak Psidii
Antialergi (antihistamin) : klorfeniramin maleat, deksklorfeniramin maleat Folium, Ekstrak Curcumae, Domesticate Rhizome, dll. Masih ingat
istilahFitofarmaka dan Obat HerbalTerstandar kan.. Suplemen Zinc juga
Sebelum minum obat flu, perhatikan komposisinya dan disesuaikan dengan direkomendasikan oleh WHO untuk mengatasi diare pada anak. Pemberian obat-
gejala yang dirasakan. Minumlah sesuai aturan pakainya. Beberapa pilihan bentuk obatan yang lebih lengkap lagi diperlukan, jika diare lebih dari 10 kali/hari disertai
sediaan sudah ada di pasaran, baik yang berbentuk tablet, kapsul maupun sirup demam. Obat-obatan tersebut adalah :
sehingga memudahkan bila diminum anak kecil. Minum lebih dari satu merek obat 1. Antimotilitas (mengurangi gerak peristaltik usus) : Enkefalis, Loperamid,
flu sangat tidak diperbolehkan, karena komposisinya yang hampir sama dapat Difenoksilat, Difenoksin
meningkatkan efek samping obat. Jangan lupa, bacalah klaim peringatan pada box 2. Absorben (mengabsorpsi nutrisi, racun, bakteri dan cairan pada saluran
warning di setiap kemasan obat, karena obat flu juga mempunyai efek yang tidak pencernaan) : pektin, kaolin, Polikarbofil, Attapulgit
diinginkan, misalnya : 3. Antisekresi : Bismuth subsalisilate, Ocreotide
antihistamin menyebabkan kantuk sehingga tidak dianjurkan mengendarai 4. Antibiotik : Metronidazole
kendaraan bermotor atau menjalankan mesin Masyarakat diharapkan dapat lebih bijak dalam menyikapi swamedikasi karena
Tidak dianjurkan penggunaannya pada anak usia di bawah 6 tahun, ibu hamil dan masih banyak kasus ditemukan bahwa masyarakat keliru memahami swamedikasi.
menyusui, kecuali atas petunjuk dokter Contoh kecil adalah pasien datang ke apotek dan meminta Antibiotik Amoxicillin,
Penyakit flu sebagian besar disebabkan oleh virus. Pemahaman yang keliru bila saat ditanyakan oleh Apoteker penyakitnya apa si pasien menjawab sakit gigi. Dari
masyarakat memadukan obat flu dengan antibiotik. Penggunaan antibiotik informasi ini Apoteker menggali lebih dalam lagi mengapa si pasien meminta
diindikasikan untuk infeksi karena kuman, bila digunakan secara tidak tepat akan Amoxicillin. Ternyata informasi tersebut didapatkan dari teman dan tetangga
meningkatkan resistensi terhadap kuman dan dapat terjadi efek samping yang tidak yangtidak memiliki keilmuan Apoteker/dokter dan hanya berdasarkan perasaan saja
diinginkan. Selain itu juga akan meningkatkan biaya pengobatan. Konsultasikan setelah minum obat tersebut sakit giginya sembuh. Kasus seperti ini yang sangat
dengan dokter terlebih dahulu sebelum menggunakan antibiotik. memprihatinkan dan membuat kecepatan resistensi bakteri semakin cepat. Memang
Beberapa tips yang dapat dilakukan untuk mengurangi rasa tidak nyaman, dampaknya tidak langsung tetapi kecepatan penemuan Antibiotik baru dengan
antara lain : kecepatan resistensi bakteri tidak sebanding, Alias lebih cepat bakteri mengalami
pada posisi berbaring atau tidur agar diletakkan yang nyaman, bila perlu resistensi.
kepala ditinggikan untuk menghindari batuk karena berkumpulnya lendir di Jika gejala penyakit dirasakan berat oleh pasien sebaiknya konsultasikan dahulu
tenggorokan. Namun, sebaiknya batuk jangan ditahan, karena merupakan dengan Apoteker dan/atau dokter agar terhindar dari kesalahan swamedikasi seperti
upaya pengeluaran lendir agar tidak masuk ke paru-paru kasus diatas. Hal ini menjadikan peran Apoteker sangatlah penting dalam
segera beri obat penurun demam jika disertai demam dan jangan memakai prosesKonsultasi Apoteker terkait obat untuk masyarakat dan para pekerja
pakaian tebal serta tidak perlu diolesi dengan obat gosok kesehatan yang memerlukan informasi obat.
perbanyak minum air putih EMPAT LANGKAH PENGOBATAN DIARE
Upaya pengobatan sendiri pada penyakit flu harus dilakukan secata tepat dan 1.Cegahi dehidrasi dengan memberikan Oralit/LGG
rasional sehingga dapat meminimalkan biaya pengobatan, dan yang terpenting
memperkecil risiko terjadinya komplikasi penyakit. * Berikan Oralit; bila tidak tersedia oralit, berikan cairan Larutan Gula Garam
Pengobatan sendiri mempunyai beberapa dampak positif diantaranya (LGG). LGG dapat dibuat dengan cara mencampur 1 sendok teh munjung gula dan
masyarakat dapat mengatasi masalah kesehatannya secara dini, keberhasilannya 1/4 sendok teh garam ke dalam satu gelas air masak. Untuk anak di bawah usia dua
tahun, berikan 1/4 hingga 1/2 gelas besar * Bila anak sudah memperoleh makanan tambahan, lanjutkan beri makan seperti
cairan/air segera setelah terjadi diare. Untuk anak diatas dua tahun berikan 1/2 biasanya.
hingga 1 gelas besar.
* Beri semangat anak agar dia mau makan sebanyak yang dia mau. Bila perlu,
* Anak yang sudah besar dan dewasa harus diberi minum sebanyak-banyaknya. tawarkan makanan setiap 3-4 jam sekali. Pemberian makanan yang sering walau
dalam jumlah yang sedikit akan lebih baik.
* Oralit atau cairan/air harus diberikan hingga diare berhenti (dapat memakan waktu
beberapa hari) * Untuk memulihkan kesehatannya, setelah sembuh dari diare, beri makanan lebih
banyak (paling kurang selama dua minggu)
2. Berikan Tablet Zinc
* Untuk bayi usia 2-5 bulan, berikan setelah tablet zinc (10mg) sekali sehari selama
sepuluh hari berturut-turut. OBAT DIARE
Obat diare dibagi menjadi kemoterapeutika yang memberantas penyebab
* Untuk anak usia 6 bulan-12 tahun, berikan satu tablet zinc (20 mg) sekali sehari diare .seperti bakteri atau parasit, obstipansia untuk menghilangkan gejala diare dan
selama sepuluh hari berturut-turut. spasmolitik yang membantu menghilangkan kejang perut yang tidak menyenangkan.
Sebaiknya jangan mengkonsumsi golongan kemoterapeutika tanpa resep dokter.
* Larutkan tablet tersebut dengan sedikit (beberapa tetes)air matang atau ASI dalam Dokter akan menentukan obat yang disesuaikan dengan penyebab diarenya misal
sendok teh. bakteri, parasit. Pemberian kemoterapeutika memiliki efek samping dan sebaiknya
diminum sesuai petunjuk dokter
* Jangan mencampur tablet zinc dengan oralit/LGG Sebenarnya usus besar tidak hanya mengeluarkan air secara berlebihan tapi juga
elektrolit. Kehilangan cairan dan elektrolit melalui diare ini kemudian dapat
* Tablet harus diberikan selama sepuluh hari penuh (walaupun diare telah berhenti menimbulkan dehidrasi. Dehidrasi inilah yang mengancam jiwa penderita diare.
sebelum 10 hari) Penggolongan Obat Diare
1. Kemoterapeutika untuk terapi kausal yaitu memberantas bakteri penyebab
* Apabila anak muntah sekitar setelah jam setelah pemberian tablet zinc, berikan diare seperti antibiotika, sulfonamide, kinolon dan furazolidon.
lagi tablet zinc dengan cara memberikan potongan lebih kecil dan berikan beberapa A. Racecordil
kali hingga satu dosis penuh. Anti diare yang ideal harus bekerja cepat, tidak menyebabkan konstipasi,
mempunyai indeks terapeutik yang tinggi, tidak mempunyai efek buruk
* Bila anak menderita dehidrasi berat dan memerlukan cairan infus,tetap berikan terhadap sistem saraf pusat, dan yang tak kalah penting, tidak
tablet zinc segera setelah anak dapat minum atau makan. menyebabkan ketergantungan. Racecordil yang pertama kali dipasarkan
di Perancis pada 1993 memenuhi semua syarat ideal tersebut.
3. Pastikan Anak untuk terus mendapatkan makanan B. Loperamide
* Bila anak masih menyusui, ASI harus tetap diberikan. Loperamide merupakan golongan opioid yang bekerja dengan cara
memperlambat motilitas saluran cerna dengan mempengaruhi otot
* Lebih sering anak diberi ASI lebih baik sirkuler dan longitudinal usus. Obat diare ini berikatan dengan reseptor
opioid sehingga diduga efek konstipasinya diakibatkan oleh ikatan
* Saat anak diare sebaiknya makanannya dibuat lembek (makanan dapat berupa loperamid dengan reseptor tersebut. Efek samping yang sering dijumpai
makanan yang dihaluskan) adalah kolik abdomen (luka di bagian perut), sedangkan toleransi
terhadap efek konstipasi jarang sekali terjadi.
* Makanan sebaiknya makanan yang baru dimasak. Bila ibu akan memberikan C. Nifuroxazide
makanan yang sudah cukup lama dimasak, panaskan makanan tersebut sebelum Nifuroxazide adalah senyawa nitrofuran memiliki efek bakterisidal
diberikan ke anak. terhadap Escherichia coli, Shigella dysenteriae, Streptococcus,
Staphylococcus dan Pseudomonas aeruginosa. Nifuroxazide bekerja lokal
pada saluran pencernaan.  PENGGUNAAN OBAT KERAS PADA
Obat diare ini diindikasikan untuk dire akut, diare yang disebabkan oleh
E. coli & Staphylococcus, kolopatis spesifik dan non spesifik, baik Loratadine, Pseudoefedrin, Bromhexin HCL, Alprazolam, Clobazam,
digunakan untuk anak-anak maupun dewasa. Chlordiazepokside, Amitriptyline, Lorazepam, Nitrazepam, Midazolam,
D. Dioctahedral smectite Estrazolam, Fluoxetine, Sertraline HCL, Carbamazepin, Haloperidol, phenytoin,
Dioctahedral smectite (DS), suatu aluminosilikat nonsistemik berstruktur Levodopa, Benzeraside, Ibuprofen, Ketoprofen dll.
filitik, secara in vitro telah terbukti dapat melindungi barrier mukosa usus
dan menyerap toksin, bakteri, serta rotavirus. Smectite mengubah sifat - PENYAKIT KULIT
fisik mukus lambung dan melawan mukolisis yang diakibatkan oleh
bakteri. Zat ini juga dapat memulihkan integritas mukosa usus seperti
yang terlihat dari normalisasi rasio laktulose-manitol urin
2. Obstipansia untuk terapi simtomatis (menghilangkan gejala) yang dapat
menghentikan diare dengan beberapa cara:
A. Zat penekan peristaltik, sehingga memberikan lebih banyak waktu untuk
resorpsi air dan elektrolit oleh mukosa usus seperti derivat petidin
(difenoksilatdan loperamida), antokolinergik (atropine, ekstrak
belladonna)
B. Adstringensia yang menciutkan selaput lendir usus, misalnya asam samak
(tannin) dan tannalbumin, garam-garam bismuth dan alumunium.
C. Adsorbensia, misalnya karbo adsorben yanga pada permukaannya dapat
menyerap (adsorpsi) zat-zat beracun (toksin) yang dihasilkan oleh bakteri
atau yang adakalanya berasal dari makanan (udang, ikan). Termasuk di
sini adalah juga musilago zat-zat lendir yang menutupi selaput lendir usus
dan luka-lukanya dengan suatu lapisan pelindung seperti kaolin, pektin
(suatu karbohidrat yang terdapat antara lain sdalam buah apel) dan
garam-garam bismuth serta alumunium.
3. Spasmolitik, yakni zat-zat yang dapat melepaskan kejang-kejang otot yang
seringkali mengakibatkan nyeri perut pada diare antara lain papaverin dan
oksifenonium.
4. Probiotik: Terbukti tidak membantu meskipun digunakan pada awal
pengobatan.
5. Obat anti diare: Pilihan utamanya adalah loperamide 2 mg (dosis fleksibel,
tergantung dari seberapa sering BAB cair yang terjadi). Anti diare lain tidak
direkomendasikan karena efektivitasnya belum pasti, mula kerja yang lambat,
dan potensi efek samping yang ditimbulkan. Tidak ada bukti bahwa
menghambat keluarnya BAB cair akan memperpanjang penyakit. Justru telah
terbukti penggunaan antidiare akan mengurangi diare dan mmperpendek durasi
diare.
6. Antimikroba: Dianjurkan untuk diberikan pada turis yang bepergian dalam
travel kit beserta loperamide. Quinolone direkomendasikan sebagai pilihan
utama, dan pilihan berikutnya adalah cotrimoxazole.
(Ex : Tetracycline salep, Kloramfenikol salep, Decoderm-3 krim, dada). Sebagai obat darah tinggi Norvasc juga dapat membantu
bufacort-N krim, New-Kenacomb krim dll) mencegah stroke, serangan jantung dan masalah ginjal
- HIPERTENSI Zebeta
(Ex : Captopril, Nifedipin, Amlodipin, Candesartan, HCT dll) Zebeta (Bisoprolol) digunakan untuk mengobati tekanan darah tinggi.
Accupril Obat darah tinggi ini juga dapat digunakan sendiri atau dengan obat-
Accupril berada dalam kelompok obat yang disebut inhibitor ACE. ACE obatan lainnya
singkatan angiotensin converting enzyme. Accupril sebagai obat darah - DM
tinggi digunakan untuk mengobati tekanan darah tinggi (hipertensi) dan - Penggolongan Obat Hipoglikemik Oral
gagal jantung. Accupril juga dapat digunakan untuk tujuan selain yang Berdasarkan mekanisme kerjanya, obat-obat hipoglilkemik oral dapat
tercantum dalam panduan pengobatan dibagi menjadi 3 golongan, yaitu :
Aceon 2.1.1. Obat-obat yang meningkatkan sekresi insulin, meliputi obat
Aceon (perindopril) berada dalam kelompok obat yang disebut inhibitor hipoglikemik oral golongan sulfonilurea dan glinida(meglitinidan dan
ACE. ACE singkatan angiotensin converting enzyme. Aceon digunakan turunan fenilalanin)
untuk mengobati tekanan darah tinggi (hipertensi) dan untuk mencegah 2.1.2. Sensitiser Insulin (obat-obat yang dapat meningkatkan sensitifitas sel
serangan jantung pada orang dengan penyakit arteri koroner. terhadap insulin), meliputi obat-obat hipoglikemik golongan biguanida dan
Aceon juga dapat digunakan untuk selain obat darah tinggi, yang tiazolidindion, yang dapat membantu tubuh untuk memanfaatkan inslin
tercantum dalam panduan pengobatan secara lebih efektif.
Capoten 2.1.3. Inhibitor katabolisme karbohidrat, antara lain inhibitor alfa-
Capoten (Captopril) digunakan untuk mengobati tekanan darah tinggi. glukosidase yang bekerja menghambat absorbsi gula dan umum digunakan
Selain sebagai obat darah tinggi capoten juga dapat mengobati gagal untuk mengendalikan post-prandial (post-meal hyperglycemia). Disebut
jantung, atau masalah ginjal diabetes tertentu. Hal ini digunakan untuk juga "starch-blocker".
meningkatkan kelangsungan hidup dan kegagalan penurunan jantung
pada pasien tertentu setelah serangan jantung. Ini dapat digunakan
sendiri atau dalam kombinasi dengan obat-obatan lainnya. Hal ini juga
dapat digunakan untuk kondisi lain yang ditentukan oleh dokter Anda.
Hyzaar
Hyzaar (losartan) digunakan sebagai obat darah tinggi. Obat darah tinggi
ini juga dapat digunakan untuk mengurangi risiko stroke pada pasien
tertentu dengan tekanan darah tinggi. Obat darah tinggi hyzaar juga dapat
digunakan untuk kondisi lain yang ditentukan oleh dokter Anda
Lisinopril
Lisinopril (PRINIVIL + Zestril) adalah (menurunkan tekanan darah agen)
antihipertensi dikenal sebagai ACE inhibitor. Lisinopril, sebagai obat
darah tinggi bekerja dengan cara mengontrol tekanan darah tinggi
(hipertensi) dengan relaksasi pembuluh darah, itu bukan menyembuhkan.
tingkat tekanan darah tinggi dapat merusak ginjal Anda, dan dapat
menyebabkan stroke atau gagal jantung. Lisinopril juga membantu untuk
mengobati pasien dengan gagal jantung (jantung tidak memompa cukup
kuat). lisinopril tablet generik yang tersedia
Norvasc
Generic Norvasc (Amlodipine) adalah calcium channel blocker
digunakan untuk mengontrol tekanan darah tinggi atau angina (nyeri
Tabel 3. Penggolongan obat hipoglikemik oral c. Etiket dirapikan dengan cara digunting tepi-tepi sisa potongan yang
- Golongan Sulfonilurea
kurang rapi.
Merupakan obat hipoglikemik oral yang paling dahulu ditemukan.
Sampai beberapa tahun lalu, dapat dikatakan hampir semua obat 3. Signa
hipoglikemik oral merupakan golongan sulfonilurea. Obat hipoglikemik oral
golongan sulfonilurea merupakan obat pilihan (drug of choice) untuk
a. Signa dituliskan rapi, nama ditengah dengan penulisan cara pakai
penderita diabetes dewasa baru dengan berat badan normal dan kurang serta yang rapi, jelas dan mudah dibaca oleh pasien ( karena bisa berakibat
tidak pernah mengalami ketoasidosis sebelumnya. Senyawa-senyawa
sulfonilurea sebaiknya tidak diberikan pada penderita gangguan hati, ginjal fatal hanya karena salah penulisan signa atau salah persepsi tentang
dan tiroid cara pakai/aturan pakai hanya karena tulisan yang tidak jelas).
(Ex : Glibenklamid, Metformin dll)
b. Membubuhkan paraf kecil pada sisi sebelah kiri sebagai identitas
- ASMA pembuat resep.
Pereda: Terbutalin, salbutamol, orsiprenalin, fenoterol, teofilin,
Control : kromoglikat, budesonid, flutikason, beklometason, salmeterol, 4. Label
terbutalin, salbutamol, budesonid-formoterol, flukason-salmeterol 1. Dibawah etiket kalau perlu ditambahkan label “ Kocok Dahulu”
untuk sediaan-sediaan yang membutuhkan label kocok dahulu seperti
Etiket sediaan syrup, emulsi, suspensi, infusa, sediaan cair yang mengandung
Pada etiket tertulis : minyak atsiri, potio yang mengandung bahan tidak larut, liquor/
1. Pada sebelah atas : nama Apotek, alamat apotek, nama apoteker, Nomor mixtura/ lotio yang mengandung bahan tidak larut.
SIK Apoteker, atau Nomor SIA. 2. Selain label kocok dahulu kalau perlu ditambahkan label “ Tidak
2. Sebelah kiri atas : nomor resep Boleh Diulang Tanpa Resep Dokter” untuk obat- obat golongan keras
3. Sebelah kanan atas : tempat dan tanggal pembuatan resep dan narkotika
4. Ditengah simetris : nama pasien
5. Dibawah nama pasien : cara pemakaian
6. Pada obat luar ( etiket biru ) perlu ditulis pada bagian bawah : “ Obat
Luar”
2. Cara memberi etiket
a. Diambil etiket sesuai dengan penggunaan sediaan, warna biru untuk
sediaan untuk pemakaian luar, etiket putih untuk sediaan yang
digunakan secara oral.
b. Etiket diambil disesuaikan dengan kemasan sediaan yang digunakan.