Anda di halaman 1dari 9

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian

Secara umum istilah biomonitoring dipakai sebagai alat/cara yang penting


dan merupakan metode baru untuk menilai suatu dampak pencemaran lingkungan.

Istilah yang lebih spesifik adalah monitoring biologi (Biological Monitoring). Di


dalam praktek penggunaan monitoring biologi (MB) adalah untuk memonitor
populasi yang terpapar oleh bahan polutan di tempat kerja maupun di lingkungan.

2.2 Jenis Monitoring

Kegiatan monitoring dapat dipakai untuk mengevaluasi risiko kesehatan yang


berhubungan dengan bahan polutan. Dikenal ada 3 jenis monitoring yaitu:

1. Monitoring ambien untuk menilai risiko kesehatan Monitoring ambien


tersebut digunakan untuk memonitor paparan eksternal dari bahan kimia
untuk mengetahui berapa kadar bahan kimia di dalam air, makanan, dan
udara. Risiko kesehatan dapat diperkirakan (diprediksi) berdasarkan batas
paparan lingkungan, misalnya Treshold Limit Value (TLV) dan Time
Weighted Average (TWA) dari suatu paparan.

2. Monitoring biologi dari paparan (MB paparan) Monitoring biologi suatu


paparan adalah pemantauan suatu bahan yang mengadakan penetrasi ke
dalam tubuh dengan efek sistemik yang membahayakan. Monitoring biologi
dari suatu paparan dapat dipakai untuk mengevaluasi risiko kesehatan.
Monitoring biologi tersebut dilaksanakan dengan memonitor dosis internal
dari bahan kimia, misalnya jumlah dosis efektif yang diserap oleh organisme.
Risiko terhadap kesehatan diprediksi dengan membandingkan nilai observasi
dari parameter biologi dengan Biological Limit Value (BLV) dan/atau
Biological Exposure Index (BEI).

3. Monitoring biologi dari efek toksikan (health surveillance) Tujuan


monitoring biologi dari efek toksikan adalah memprediksi dosis internal
untuk menilai hubungannya dengan risiko kesehatan, mengevaluasi status
kesehatan dari individu yang terpapar dan mengidentifikasi tanda efek negatif
akibat suatu paparan, misalnya kelainan fungsi paru.

2.3 MACAM BIOMONITORING

1. Biomonitoring Logam

Biomonitoring logam dapat dilakukan dengan pemeriksaan suatu media untuk


menentukan bahan logam. Media yang dipakai antara darah/urine, jaringan tubuh,
ikan, binatang invertebrata, dan tanaman perairan.

a. Logam yang dapat ditemukan pada darah/urine: Cadmium, Zat besi,


Manganese, Tembaga, Merkuri, Zink

b. Logam berat di atmosfer yang ditemukan pada jaringan burung: partikel timbal,
Cadmium, Arsen, Merkuri. Logam berat tersebut berasal dari pabrik pengelasan
logam dan secara tidak langsung burung memakan serangga dengan yang
terkontaminasi oleh logam berat. Tempat akumulasi logam berat di dalam tubuh
burung terletak pada jaringan dan bulu burung.

c. Logam berat di perairan yang ditemukan pada ikan: Chromium, Tembaga,


Timbal, Zink. Logam tersebut akan meningkat kadarnya, apabila ada peningkatan
BOD di perairan.

d. Logam berat di perairan yang ditemukan pada binatang invertebrata:


Chromium, Cadmium, tembaga, timbal, cobalt, nikel. Adanya logam berat
tersebut pada tubuh invertebrata merupakan indikator tercemarnya lingkungan.

e. Tanaman perairan dan tanaman darat dapat dipakai sebagai bio indikator
lingkungan yang terkontaminasi oleh logam berat. Pabrik pengecoran besi yang
mengeluarkan bahan pencemar udara logam berat dapat dideteksi pada tanaman
dengan analisis Neutron Activation Analysis.

2. Biomonitoring Zat Organik


Akumulasi zat organik pada beberapa spesies mamalia merupakan bio indikator
yang potensial untuk mendeteksi pencemaran lingkungan. Beberapa zat organik
yang dipakai indikator antara lain:

a. perubahan non protein sulfhidril pada sel liver dari tikus sebagai indikator
terpapar oleh pestisida.

b. Meningkatnya bilirubin pada tikus, menunjukkan adanya paparan oleh Tri Nitro
Toluen (TNT).

c. Terdapatnya hubungan antara pencemaran lingkungan dengan Poly Chlorinated


Bifenil (PCB), dioxin, dan furan pada manusia.

d. Terdapatnya dioxin, furan, PCB, DDE, dan lindane pada telur burung sebagai
indikator tercemarnya lingkungan oleh zat organik

e. Terakumulasinya PCB, pestisida, dan bahan antropogenik pada tubuh ikan


sebagai indikator tercemarnya ekosistem perairan

f. Meningkatnya aktifitas Mixed Function Oxidase (MFO) pada ikan di sungai


yang tercemar oleh bahan organik, PAH, Dioxin, dan PCB.

g. Aktivitas Xenobiotik – DNA adduct, Cytochrome P 450 induksi dan oryl


hidrokarbon hidroksilase pada ikan dipakai sebagai biomarker pencemaran pantai
oleh PCB dan DDT.

h. Mengurangnya komunitas phytoplankton dapat dipakai sebagai biomonitoring


pencemaran pestisida dalam perairan.

3. Biomonitoring Limbah Cair

Ada beberapa studi toksisitas yang dipakai untuk menilai buangan limbah cair
antara lain pemakaian bakteri dan pemakaian invertebrata. Limbah pabrik kertas
yang mengandung bahan kimia pemutih dilakukan studi memakai biota air
misalnya ikan.
Cara baru untuk menilai kualitas air laut yang terkontaminasi oleh bahan kimia
pemutih adalah dengan cara bio assay antara lain: uji inhibisi pertumbuhan algae
dan uji larva biota air.

4. Biomonitoring Pencemar Udara

Perubahan ambien atmosfer oleh adanya bahan pencemar udara akan dapat
mempengaruhi kehidupan tanaman. Daun pinus jarum dapat dipakai sebagai
indikator pencemaran alifatik hidrokarbon. Dengan pemeriksaan gas kromatografi
ditemukan bahwa kadar hidrokarbon lebih tinggi pada daun pohon pinus yang
berumur tua. Tanaman tingkat rendah antara lain lichen parmalia sulcata dapat
sebagai indikator pencemaran udara. Dengan demikian maka lichen dapat dipakai
sebagai biomonitor untuk pencemar udara.

5. Biomonitoring Asidifikasi

Perairan yang mempunyai pH rendah akan bersifat asam. Keasaman perairan


dapat dideteksi dengan memakai biomarker biota yang hidup dalam perairan
tersebut. Dalam keadaan pH rendah (pH=3), maka logam besi dan manganese
akan terdeteksi dalam perairan. Efek perairan dengan pH rendah, logam yang
toksis dan Dissolve Organic Carbon (DOC) terhadap hewan amfibi akan
menyebabkan terlambatnya metamorfosa, menurunnya daya tahan dan
menurunnya berat badan hewan amfibi.

6. Biomonitoring Kesehatan Manusia

Biomonitoring Pb dan Cd pada wanita yang melahirkan, dilakukan dengan


pemeriksaan ASI dan darah. Karyawan industri petrokimia yang terpapar dengan
PAH pada pemeriksaan urine ditemukan biomarker hidroksipyrene.

2.4 INDIKATOR KESEHATAN LINGKUNGAN

1. Sanitasi Sumber Air

Air merupakan zat yang paling penting dalam kehidupan setelah udara. Sekitar
tiga per empat tubuh kita terdiri dari air dan tidak seorangpun dapat bertahan
hidup lebih dari 4-5 hari tanpa meminum air. Selain itu air juga digunakan untuk
memasak, mencuci, mandi, dan membersihkan kotoran. Air juga digunakan intuk
keperluan industri, pertanian, pemadam kebakaran, tempat rekreasi, transportasi,
dan lai-lain. Penyakit-penyakit yang menyerang manusia dapat juga ditularkan
dan disebarkan melalui air.kondisi tersebut tentunya dapat menimbulkan wabah
penyakitdimana-mana.

Ditinjau dari sudut ilmu kesehatan masyarakat, penyediaan sumber air bersih
harus dapat memenuhi kebutuhan masyarakat karena penyediaan air bersih yang
terbatas memudahkan timbulnya penyakit di masyarakat. Volume rata-rata
kebutuhan air setiap individu per hari berkisar antara 150-200 liter atau 35-40
galon. Kebutuhan air tersebut bervariasi bergantung pada keadaan iklim, standar
kehidupan, dan kebiasaan masyarakat.

2. Makanan dan Minuman

Makanan adalah semua substansi yang dibutuhkan oleh tubuh tidak termasuk air,
obat-obatan, dan substansi-substansi lain yang digunakan untuk pengobatan.
Makanan merupakan salah satu bagian yang penting untuk kesehatan manusia
mengingat setiap saat dapat saja terjadi penyakit-penyakit yang diskibatkan oleh
makanan.

Kasus penyakit bawaan makanan (foodborne disease) dapat dipengaruhi berbagai


faktor. Faktor-faktor tersebut antara lain, kebiasaan mengolah makanan secara
tradisional, penyimpanan dan penyajian yang tidak bersih, dan tidak memenuhi
persyaratan sanitasi.

Sanitasi makanan adalah upaya-upaya yang ditujukan untuk kebersihan dan


keamanan makanan agar tidak menimbulkan bahaya keracunan dan penyakit pada
pada manusia. Dengan demikian, tujuan sebanarnya dari upaya sanitasi makanan
antara lain:
1. Menjamin keamanan dan kebersihan makanan.

2. Mencegah penularan wabah penyakit

3. Mencegah beredarnya produk makanan yang merugikan masyarakat.

4. Mengurangi tingkat kerusakan atau pembusukan pada makanan.

3. Sampah Padat

Berbagai aktivitas manusia yang dilakukan untuk memenuhi kesejahteraan


hidupnya dengan memproduksi makanan minuman dan barang lain dari sumber
daya alam. Selain menghasilkan barang yang doikonsumsi, iktivitas tersebut juga
menghasilkan bahan buangan yang sudah tidak dibutuhkan oleh manusia. Bahan
buangan makin hari makin banyak. Hal ini erat hubungannya dengan makin
bertambahnya jumkah penduduk disatu pihak, dan dipihak lain dengan
ketersediaan ruang hidup manusia yang relatif tetap.

Sampah merupakan sesuatu yang tidak digunakan, tidak dipakai, tidak disenangi
atau sesuatu yang dibuang yang berasal ari kegiatan manusia dan tidak terjadi
dengan sendirinya.

a. Pengelompokkan Sampah

Sampah dapat dikelompokkan menjadi beberapa jenis berdasarkan sifat dan


sumbernya, diantaranya:

1) Berdasarkan zat kimia yang terkandung di dalamnya.

a. Organik, misalnya, makanan, daun, sayur, dan buah.

b. Anorganik, misalnya, logam, pecah-belah, abu, dan lain-lain.

2) Berdasarkan dapat atau tidaknya dibakar.

a. Mudah terbakar, misalnya, kertas, plastic, daun, kayu.

b. Tidak mudah terbakar, misalnya, kaleng, besi, gelas, dan lain-lain.


3) Berdasarkan dapat atau tidaknya membusuk.

a. Mudah membusuk, misalnya, sisa makanan, potongan daging, dan sebagainya.

b. Sulit membusuk, misalnya, plastik, karet, kaleng, dan sebagainya.

4) Berdasarkan cirri atau karakteristik sampah

a. Garbage, terdiri atas zat-zat yang mudah membusuk dan dapat terurai dengan
cepat, khususnya jika cuaca panas. Proses pembusukan seringkali menimbulkan
bau busuk. Sampah jenis ini dapat ditemukan di tempat pemukinan, rumah makan,
rumah sakit, pasar, dan sebagainya.

b. Rubbish, terdiri atas rubbish yang mudah terbakar misalnya, kertas, kayu, karet,
dan daun kering. Dan rubbish yang tidak mudah terbakar, misalnya, besi, kaleng,
dan lain-lain.

c. Ashes, semua sisa pembakaran dari industry.

d. Street sweeping, sampah dari jalan atau trotoar akibat aktivitas mesin atau
manusia.

e. Dead animal, bangkai binatang besar (anjing, kucing, dsb) yang mati akibat
kecelakaan atau secara alami

f. House hold resufe, atau sampah campuran, yang berasal dari perumahan.

g. Abandoned vehicle, berasal dari bangkai kendaraan.

h. Demolision waste, berasal dari sisa-sisa pembangunan gedung. Contructions


waste, berasal dari sisa-sisa pembangunan gedung, misalnya, tanah, batu dan
kayu.

i. Sampah industri, berasal dari pertaanian, perkebunan dan industri.

j. Santage solid, terdiri atas benda-benda solid atau kasar yang biasanya berupa zat
organik, pada pintumasuk pengolahan limbah cair.
k. Sampah khusus, atau sampah yang memerlukan penanganan khusus seperti
kaleng, dan zat radioaktif.

4. Limbah Cair

Limbah cair merupakan salah satu jenis sampah. Adapun jenis sampah (waste)
adalah zat-zat ayau benda yang berasal dari rumah maupun sisa-sisa proses
industry. Secara umum limbah cair dibagi menjadi:

1. Human excreta (feses dan urine)

2. Sewage (air limbah)

3. Industrial waste (bahan buangan dari sisa proses industri)

5. Kondisi Perumahan

Rumah yang baik terdiri dari rumah yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas
pendukungnya, seperti srana jalan, saluran air kotor, tempat sampah, sumber air
bersih, lampu jalan, tempat bermain anak-anak, sekolah, tempat ibadah, balai
pertemuan dan pusat kesehatan masyarakat, serta harus bebas banjir. Standar
arsitektur terutama untuk perumahan umum (public hosting) pada dasarnya
ditunjukkan untuk menyediakan rumah tinggal yang cukup baik dalam bentuk
disain, letak dan luas ruangan, serta fasilitas lainnya untuk agar dapat memenuhi
kebutuhan keluarga atau dapat memenuhi persyaratan rumah tinggal yang sehat
dan menyenangkan.(Budiman chandra,2007)

a. Kriteria Rumah Sehat

Adapun kriteria rumah sehat yang tercantum dalam Residantal Environment dari
WHO (1974), yaitu:

1) Harus dapat melindungi dari hujan, panas, dingin, dan dapat berfungsi sebagai
tempat istirahat.
2) Mempunyai tempat-tempat untuk tidur, memasak, mandi, mencuci, kakus, dan
kamar mandi.

3) Dapat melindungi dari bahaya kebisingan dan bebas dari pencemaran.

4) Terbuat dari bahan bangunan yang kokoh dan dapat melindungi penghuninya
dari gempa, keruntuhan dan penyakit menular.

5) Bebas dari bahan bangunan yang berbahaya.

6) Memberikan rasa aman dan lingkungan tetangga yang asri.