Anda di halaman 1dari 9

1.

PENYEBARAN ORGANISASI MODERN

Koperasi sebagai organisasi ekonomi yang berwatak sosial dapat dijumpai hampir
disemua negara, baik negara maju maupun negara yang sedang berkembang. Pada
mulanyaorganisasi tersebut tumbuh di negara-negara industri di Eropa Barat namun
kemudian setelahadanya kolonialisme dibeberapa Negara di Asia, Afrika dan Amerika
Selatan, koperasi juga tumbuh di Negara-negara jajahan. Setelah Negara jajahan merdeka,
memanfaatkan koperasi sebagai salah satu alat untuk meningkatkan kesejahteraan dan bahkan
dijadikan sebagai salahsatu alat pemerintahan dalam melaksanakan pembangunan untuk
meningkatkan kesejahteraanmasyarakatnya.
Dinegara-negara jajahan penyebaran organisasi modern telah dilakukan terutama
karena nilai-nilai koperasi sesuai dengan kebutuhan saat itu untuk meningkatkan
kesejahteraan rakyat atau untuk di jadikan alat penguasa kolonial dalam mengumpulkan hasil
kekayaan pribumi. Berbagai prakarsa untuk mengembangkan organisasi koperasi khususnya
koperasi pertanian telah dilakukan beberapa negara jajahan di Asia, Afrika, dan Amerika
Selatan. Pemerintah kolonial seringkali menghindari perkembangan-perkembangan
organisasi koperasi modern yang di prakarsai oleh penduduk setempat, kecuali di daerah-
daerah dimana tinggal para petani eropa, yang membentuk koperasi di kalangan tersendiri
dan juga di daerah-daerah dimana terdapat hubungan antara koperasi dan pergerakan
kemerdekaan (misalnya di Indonesia dan di Kenya) . Ini dilakukan terutama karena para
penjajah khawatir koperasi dijadikan ajang politik penduduk pribumi untuk menentang
kolonialisme.

2. KOPERASI MODERN AKHIR ABAD KE 18

Koperasi modern didirikan pada akhir abad ke-18 terutama sebagai jawaban
atasmasalah-masalah sosial yang timbul selama tahap awal Revolusi Industri. Pelopor-
pelopororganisasi koperasi dari Rochdale misalnya, telah memberikan andil yang cukup
besar dalamperkembangan koperasi. Aturan-aturan yang mulanya disusun hanya sekedar
petunjuktentang bagaimana seharusnya suatu pokok koperasi konsumen yang baik
diorganisasi dandijalankan oleh para anggotanya sendiri kemudian menjadi Prinsip-prinsip
KoperasiRochdale yang kemudian dijadikan dasar kegiatan oleh berbagai koperasi didunia.
Prinsip-prinsip tersebut adalah :

a Keanggotaan yang bersifat terbuka (Open membershipsand voluntary)


b Pengawasan secara demokratis (Democratic control)
c Bunga yang terbatas atas modal (Limited interest of capital)
d Pembagian SHU yang sesuai dengan jasa anggota (Proportional distribution of
surplus)
e Penjualan dilakukan sesuai dengan harga pasar yang berlaku secara tunai (Trading in
cash)
f Tidak ada diskriminasi berdasarkan ras,suku,agama dan politik (Poilitical , racial ,
religius netrality)
g Barang-barang yang dijual harus merupakan barang-barang yang asli tidak rusak atau
palsu (Adulted goods forbiden to sell )
h Pendidikan terhadap anggota secar berkesinambungan (Promotion of education)

Prinsip-prinsip tersebut ternyata menjadi petunjuk yang berguna bagi pembentukan


koperasi konsumen yang hidup dalam keadaan serupa. Namun dalam perkembangan
berikutnya prinsip-prinsip koperasi yang dipelopori oleh Rochdale berkembang sesuai
dengan situasi dan kondisi dimana koperasi tersebut berkembang. Dewasa ini bahkan banyak
normaatau nilai-nilai suatu bangsa dijadikan salah satu prinsip koperasi yang harus
dilaksanakan .

3. SEJARAH KOPERASI DI INDONESIA

Dalam awal perkembangannya koperasi sering kali dipandang dengan sebelahmata


tetapi seiring berjalannya waktu koperasi mampu menjadi alternatif nomor satu di dalam
membantu mengembangkan perekonomian nasional. Pertumbuhan koperasi di manca negara
juga berkembang sangat pesat. Bahkan banyak negara-negara yang berlomba untuk
memajukan koperasi di negaranya. Sejarah koperasi di Indonesia dapat dibagi menjadi 3
periode yakni :

 Koperasi Zaman Kolonial Belanda

Di zaman ini pembentukan koperasi diawali dari hasrat Raden Aria


Wiriaatmaja,Patih Purwokerto (1896) untuk mendirikan Hulp Spaarbank yang berarti
banksimpanan. Pendirian ini tidak terlepas dari peran dari salah satu pejabat tinggiBelanda
yang bernama E. Sieburgh. Namun pada awal pendiriannya, bank ituhanya ditujukan untuk
kaum Priyayi. Setelah sistem ini dibentuk dan membuahkan hasil pada akhirnyatujuan
pendirian bank simpanan ini semakin diperlebar agar bisa menyentuhkehidupan rakyat
pribumi yang memang tidak memiliki kekuatan di bidang ekonomi. Perkembangan koperasi
berikutnya yang perlu dicatat adalah tatkala usaha Budi Utomo (Organisasi kebangsaan yang
sangat disegani di masanya) denganmendirikan Koperasi Rumah Tangga pada tahun 1908.
Namun koperasi ini tidak bertahanlama. Usaha serupa juga dilakukan oleh Organisasi Serikat
Islam meski konsepToko Koperasinya juga harus bernasib sama dengan milik Organisai Budi
Utomo.Mesikapi atas keadaan banyaknya pembentukan koperasi yang tidah bertahanlama.
Maka pada tahun 1920 dibentuklah Cooperative Commissie (KomisiKoperasi) yang diketuai
oleh Prof. Dr. J. H. Boeke, yang bertujuan untukmempermasyarakatkan program koperasi.
Lima tahun sejak peluncuran komisi ini jumlah koperasi mengalami peningkatan
dan berkembang secara pesat.

 Koperasi Zaman Kolonial Jepang

Perkembangan koperasi di zamanJepang memang jauh dari kata maksimal. Legalitas


pendirian koperasi di masa ituharus datang dari pemerintahan yang diwakili oleh seorang
pejabat dengan pangkatserendah-rendahnya seorang Suchokan atau Residen dan itu membuat
koperasi sedikit tidak bisa berkembang karena Jepang menghapus seluruh peraturanyang
selama ini sudah diberlakukan oleh pemerintah Belanda untuk kehidupankoperasi.Sebagai
alternatif maka Jepang mendirikan Kumiai atau koperasi ala Jepang.Rangsangan ini
tersambut baik hingga ke desa sebab tugas Kumiai adalah sebagai alat penyalur kebutuhan
rakyat, namun kenyataannya malah sebaliknya malahmenjadikan Kumiai sebagai penyedot
potensi rakyat. Ini membuat atensi koperasidikalangan rakyat menurun. Di zaman Jepang
juga muncul istilah-istilah lain, yaitu :

a Shomin Kumiai Chuo Jimusho (Kantor Pusat Jawatan Koperasi)


b Shomin Kumiai Syodansyo (Kantor Daerah Jawatan Koperasi)
c Jumin Keizikyoku (Kantor Perekonomian Rakyat)Semua itu adalah alat untuk Jepang
dalam membentengi koperasi. Bukan sebagaiwahana untuk menghidupkan koperasi

 Koperasi Zaman Kolonial Jepang

Perjuangan Kemerdekaan yang dilakukan oleh bangsa Indonesia berujung padasaat di


proklamasikannya Kemerdekaan Indonesia, tanggal 17 Agustus 1945.Kemerdekaan secara
politis ini membawa dampak positif di segala bidangkehidupan bangsa Indonesia, termasuk
kehidupan perkoperasiaan.
Sejakdiberlakukannya Undang-Undang Dasar Negara yang dikenal dengan nama
UUD1945 pada tanggal 18 Agustus 1945, maka peranan perkoperasian di Indonesiasangatlah
diutamakan. Mengenai peranan koperasi ini di tuangkan secara jelas didalam pasal 33UUD
1945. Oleh karena itu, pada bulan Desember 1946 PemerintahRepublik Indonesia melakukan
reorganisasi terhadap Jawatan Koperasi dan Perdagangan.
Kongres Koperasi pertama, terlaksana pada tanggal 11-14 Juli 1947 diTasikmalaya, Jawa
Barat. Dan menghasilkan beberapa keputusan antara lain:
a Terwujudnya kesepakatan untuk mendirikan SOKRI (Sentral OrganisasiKoperasi
Rakyat Indonesia)
b Ditetapkannya asas koperasi, yaitu: berdasarkan atas kekeluargaan dangotong
royong
c Ditetapkannya tanggal 12 Juli sebagai “Hari Koperasi Indonesia”
d Diperluasnya pengertian dan pendidikan tentang perkoperasianm an setelah
berlangsungnya kongres koperasi pertama, perkembangan koperasi diIndonesia
berkembang dengan sangat pesat sampai sekarang. Bahkan koperasidijadikan
sebagai alat untuk membantu dalam perkembangan Perekonomian di Indonesia.

4. SEJARAH KOPERASI SETELAH INDONESIA MERDEKA


Setelah negra Indonesia merdeka, koperasi kembali berkembang pesat. Koperasi
tidaklagi menjadi reaksi atas penderitaan akibat penjajahan, melainkan menjadi usaha berama
untuk meningkatkan taraf hidup yang berasaskan kekeluargaan.
Pada awal kemerdekaan koperasi berfungsi untuk menyalurkan kebutuhan rakyat
seharo-hari dibawah jawatan koperasi dan kementrian kemakmuran. Namun, dikarenakan
sistem pemerintahan yang berubah-ubah maka terjadi titik kehancuran koperasi menjelang
pemberontakan G30S/PKI. Pada saat itu koperasi banyak dimanfaatkan untuk kepentingan
partai, ada juga yang memeras rakyat untuk memperkaya diri sendiri. Hal tersebut sangat
merugikan bagi koperasi karna membuat rakyat kehilangan kepercayaan untuk menjadi
anggota koperasi.
Setelah pemberontakan G30S/PKI berakhir, pada tahun 1947 dilangsungkan Kongres
Koperasi I di Tasikmalaya, Jawa Barat yang menghasilkan beberapa keputusan penting,
yaitu:
 Mendirikan Sentral Organisasi Koperasi Rakyat Indonesia (SOKRI)
 Menetapkan gotong royong sebagai asas koperasi
 Menetapkan tanggal 12 Juli sebagai hari koperasi
Setelah Kongres Koperasi I dilaksanakan, terjadi agresi militer oleh Belanda yang membuat
keputusan Kongres Koperasi I belum dapat terlaksana. Untuk itu kembali dilaksanakan
Kongres Koperasi II pada tanggal 12 Juli 1953, yang menghasilkan keputusan sebagai
berikut;
 Membentuk Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) sebagai pengganti SOKRI
 Menetapkan pendidikan koperasi sebagai salah satu mata pelajaran di sekolah
 Mengangkat Moh. Hatta sebagai Bapak Koperasi Indonesia
 Akan segera dibuat Undang-undang Koperasi yang baru

Hal-hal yang menyebabkan terhambatnya pertumbuhan koperasi :


 Kesadaran masyarakat akan pentingnya koperasi masih sangat rendah
 Pengalaman masa lampau membuat rakyat tetap curiga terhadap koperasi
 Pengetahuan masyarakat tentang koperasi masih sangat rendah

Kebijakan pemerintah untuk melaksanakan program pekoperasian :


 Menggiatkan pembangunan organisasi perekonomian rakyat terutama koperasi
 Memperluas pendidikan dan penerangan koperasi
 Memberikan kredit kepada produsen, baik dalam perindustrian maupun pertanian
yang bermodal kecil

5. SEJARAH PERKEMBANGAN KOPERASI SYARIAH DI INDONESIA

Geliat gerakan ekonomi Islam sebenarnya telah ada sejak tahun 1905 dengan
berdirinya Syarikat Dagang Islam. Karena pengaruh beberapa faktor, gerakan ini tidak dapat
diwariskan sehingga terjadi kevakuman ekonomi Islam yang cukup lama di Indonesia.

Gerakan ini kemudian muncul kembali pada tahun 1980-an, ditandai dengan
berdirinya Baitutamwil Teknosa di Bandung, kemudian disusul dengan berdirinya
Baituttamwil Ridho Gusti di Jakarta. Namun, seperti para pendahulunya, gerakan ini tidak
dapat bertahan lama kemudian tidak terdengar gaungnya kembali.

Pada tahun 1992, dengan kemunculan BMT (Baitul Maal Tamwil) Bina Insan Kamil
di Jakarta, perbincangan mengenai koperasi syariah mulai marak. Hal ini dikarenakan
suksesnya BMT Bina Insan Kamil memberikan warna baru bagi perekonomian, utamanya
bagi para pengusaha mikro. Sejak saat itu, wacana mengenai koperasi syariah mulai
mendapatkan perhatian yang cukup besar di dalam masyarakat.
Pada awal berdirinya, BMT ini hanya berbentuk KSM Syariah (Kelompok Swadaya
Masyarakat Berlandaskan Syariah) namun memiliki kinerja layaknya sebuah bank.
Diklasifikasikannya BMT ke dalam KSM Syariah saat itu semata-mata hanya untuk
menghindari jeratan hukum sebagai bank gelap. Hal ini terkait dengan peraturan Bank
Indonesia yang memiliki program PHBK Bank Indonesia (Pola Hubungan kerja sama antara
Bank dengan Kelompok Swadaya Masyarakat).

Seiring dengan adanya Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, yang
menyebutkan bahwa segala kegiatan dalam bentuk penghimpunan dana masyarakat dalam
bentuk tabungan dan menyalurkan dalam bentuk kredit harus berbentuk bank, maka
muncullah beberapa LPSM (Lembaga Pengembangan Swadaya Masyarakat) yang mencoba
memayungi KSM BMT. LPSM tersebut pada awalnya dimotori oleh P3UK, PINBUK oleh
ICMI dan FES Dompet Dhuafa oleh Republika. LPSM ini berusaha memfasilitasi KSM BMT
untuk mendapatkan bantuan dana dari BMI (Bank Muamalat Indonesia), yang merupakan
satu-satunya Bank Umum Syariah pada waktu itu, untuk pengembangan usahanya. Selain itu,
LPSM ini juga menjadi fasilitator bagi pengembangan SDM KSM BMT.

Perkembangan ini dibarengi dengan kesadaran pemerintah akan makna Pasal 33 Ayat
1 Undang-Undang Dasar 1945 yang menyatakan bahwa perekonomian Indonesia dibangun
atas dasar asas kekeluargaan, sehingga asas kemakmuran masyarakat merupakan poin utama.
Dari asas inilah, kemudian dipahami bahwa bentuk usaha yang tepat dan sesuai dengan
semangat pasal ini adalah Koperasi. Dari kesadaran ini, pemerintah mensahkan Undang-
Undang Republik Indonesia No. 25 Tahun 1992 pada tanggal 12 Oktober 1992 Tentang
Perkoperasian.

Lembaga BMT yang memiliki basis kegiatan ekonomi rakyat yang berpegang teguh
pada asas dari anggota, oleh anggota dan untuk anggota, sesuai dengan Undang-Undang
tersebut, berhak menggunakan badan hukum koperasi. Letak perbedaan BMT dengan
koperasi konvensional yang lainnya hanyalah pada sisi operasional. BMT sebagai Koperasi
Syariah mengharamkan bunga dan mengusung etika moral dengan melihat kaidah haram dan
halal dalam proses melakukan usahanya. Sejak saat itu, Koperasi Syariah terus berkembang
pesat hingga saat ini.

6. SEJARAH DEPARTEMEN KOPERASI DAN UMKM INDONESIA

Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia adalah
kementerian dalam Pemerintah Indonesia yang membidangi urusan koperasi dan usaha kecil
dan menengah. Sejarah Departemen Koperasi dan UMKM di Indonesia, antara lain:

Tahun 1945 Koperasi masuk dalam tugas Jawatan Koperasi serta Perdagangan Dalam Negeri
dibawah Kementerian Kemakmuran.
Tahun 1946 Urusan Perdagangan Dalam Negeri dimasukkan pada Jawatan Perdagangan,
sedangkan Jawatan Koperasi berdiri sendiri mengurus soal koperasi.

Tahun 1947 – 1948 Jawatan Koperasi dibawah pimpinan R. Suria Atmadja, pada masa ini
ada suatu peristiwa yang cukup penting yaitu tanggal 12 Juli 1947, Gerakan Koperasi
mengadakan Kongres di Tasikmalaya dan hasil Kongres menetapkan bahwa tanggal 12 Juli
dinyatakan sebagai Hari Koperasi.

Tahun 1949 Pusat Jawatan Koperasi RIS berada di Yogyakarta, tugasnya adalah mengadakan
kontak dengan jawatan koperasi di beberapa daerah lainnya. Tugas pokok yang dihasilkan
telah melebur Bank dan Lumbung Desa dialihkan kepada Koperasi. Pada tahun yang sama
yang diundangkan dengan Regeling Cooperatieve 1949 Ordinasi 7 Juli 1949 (SBT. No. 179).

Tahun 1950 Jawatan Koperasi RI yang berkedudukan di Yogyakarta digabungkan dengan


Jawatan Koperasi RIS, bekedudukan di Jakarta.

Tahun 1954 Pembina Koperasi masih tetap diperlukan oleh Jawatan Koperasi dibawah
pimpinan oleh Rusli Rahim.

Tahun 1958 Jawatan Koperasi menjadi bagian dari Kementerian Kemakmuran.

Tahun 1960 Perkoperasian dikelola oleh Menteri Transmigrasi Koperasi dan Pembangunan
Masyarakat Desa (TRANSKOPEMADA), dibawah pimpinan seorang Menteri yang dijabat
oleh Achmadi.

Tahun 1963 Transkopemada diubah menjadi Departemen Koperasi dan tetap dibawah
pimpinan Menteri Achmadi.

Tahun 1964 Departemen Koperasi diubah menjadi Departemen Transmigrasi dan Koperasi
dibawah pimpinan Menteri ACHMADI kemudian diganti oleh Drs. Achadi, dan Direktur
Koperasi dibawah pimpinan seorang Direktur Jenderal yang bernama Chodewi Amin.

PERIODE TAHUN 1966 - 2004

Tahun 1966 Dalam tahun 1966 Departemen Koperasi kembali berdiri sendiri, dan dipimpin
oleh Pang Suparto. Pada tahun yang sama, Departemen Koperasi dirubah menjadi
Kementerian Perdagangan dan Koperasi dibawah pimpinan Prof. Dr. Sumitro
Djojohadikusumo, sedangkan Direktur Jenderal Koperasi dijabat oleh Ir. Ibnoe Soedjono
(dari tahun 1960 s/d 1966).
Tahun 1967 Pada tahun 1967 diberlakukan Undang-undang Nomor 12 Tahun 1967 tentang
Pokok-pokok Perkoperasian tanggal 18 Desember 1967. Koperasi masuk dalam jajaran
Departemen Dalam Negeri dengan status Direktorat Jenderal. Mendagri dijabat oleh Basuki
Rachmad, dan menjabat sebagai Dirjen Koperasi adalah Ir. Ibnoe Soedjono.

Tahun 1968 Kedudukan Direktorat Jenderal Koperasi dilepas dari Departemen Dalam
Negeri, digabungkan kedalam jajaran Departemen Transmigrasi dan Koperasi.

Tahun 1974 Direktorat Jenderal Koperasi kembali mengalami perubahan yaitu digabung
kedalam jajaran Departemen Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Koperasi.

Tahun 1978 Direktorat Jenderal Koperasi masuk dalam Departemen Perdagangan dan
Koperasi, dengan Drs. Radius Prawiro sebagai Menterinya. Untuk memperkuat kedudukan
koperasi dibentuk puia Menteri Muda Urusan Koperasi, yang dipimpin oleh Bustanil Arifin,
SH. Sedangkan Dirjen Koperasi dijabat oleh Prof. DR. Ir. Soedjanadi Ronodiwiryo.

Tahun 1983 Dengan berkembangnya usaha koperasi dan kompleksnya masalah yang
dihadapi dan ditanggulangi, koperasi melangkah maju di berbagai bidang dengan
memperkuat kedudukan dalam pembangunan, maka pada Kabinet Pembangunan IV
Direktorat Jenderal Koperasi ditetapkan menjadi Departemen Koperasi, melalui Keputusan
Presiden Nomor 20 Tahun 1983, tanggal 23 April 1983.

Tahun 1991 Melalui Keputusan Presiden Nomor 42 Tahun 1991, tanggal 10 September 1991
terjadi perubahan susunan organisasi Departemen Koperasi yang disesuaikan keadaan dan
kebutuhan.

Tahun 1992 Diberlakukan Undang-undang Nomor : 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian,


selanjutnya mancabut dan tidak berlakunya lagi Undang-undang Nomor: 12 Tahun 1967
tentang Pokok-pokok Perkoperasian.

Tahun 1993 Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor : 96 Tahun 1993, tentang Kabinet
Pembangunan VI dan Keppres Nomor 58 Tahun 1993, telah terjadi perubahan nama
Departemen Koperasi menjadi Departemen Koperasi dan Pembinaan Pengusaha Kecil. Tugas
Departemen Koperasi menjadi bertambah dengan membina Pengusaha Kecil. Hal ini
merupakan perubahan yang strategis dan mendasar, karena secara fundamental golongan
ekonomi kecil sebagai suatu kesatuan dan keseluruhan dan harus ditangani secara mendasar
mengingat yang perekonomian tidak terbatas hanya pada pembinaan perkoperasian saja.

Tahun 1996 Dengan adanya perkembangan dan tuntutan di lapangan, maka diadakan
peninjauan kembali susunan organisasi Departemen Koperasi dan Pembinaan Pengusaha
Kecil, khususnya pada unit operasional, yaitu Ditjen Pembinaan Koperasi Perkotaan, Ditjen
Pembinaan Koperasi Pedesaan, Ditjen Pembinaan Pengusaha Kecil. Untuk mengantisipasi
hal tersebut telah diadakan perubahan dan penyempurnaan susunan organisasi serta
menomenklaturkannya, agar secara optimal dapat menampung seluruh kegiatan dan tugas
yang belum tertampung.

Tahun 1998 Dengan terbentuknya Kabinet Pembangunan VII berdasarkan Keputusan


Presiden Republik Indonesia Nomor : 62 Tahun 1998, tanggal 14 Maret 1998, dan Keppres
Nomor 102 Thun 1998 telah terjadi penyempurnaan nama Departemen Koperasi dan
Pembinaan Pengusaha Kecil menjadi Departemen Koperasi dan Pengusaha Kecil, hal ini
merupakan penyempurnaan yang kritis dan strategis karena kesiapan untuk melaksanakan
reformasi ekonomi dan keuangan dalam mengatasi masa krisis saat itu serta menyiapkan
landasan yang kokoh, kuat bagi Koperasi dan Pengusaha Kecil dalam memasuki persaingan
bebas/era globalisasi yang penuh tantangan.

Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah mempunyai tugas menyelenggarakan
urusan pemerintahan di bidang koperasi dan usaha kecil dan menengah untuk membantu
Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan negara. Dalam melaksakanakan tugas
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan
Menengah menyelenggarakan fungsi :

a. perumusan dan penetapan kebijakan di bidang peningkatan kapasitas kelembagaan


koperasi dan usaha mikro, usaha kecil dan usaha menengah, pemberdayaan pembiayaan
koperasi dan usaha mikro,usaha kecil dan usaha menengah, pemberdayaan produksi dan
pemasaran koperasi dan usaha mikro, usaha kecil dan usaha menengah, restrukturisasi usaha
koperasi dan usaha mikro, usaha kecil dan usaha menengah, pengembangan sumber daya
manusia koperasi dan usaha mikro, usaha kecil dan usaha menengah, dan pemeriksaan dan
pengawasan koperasi;

b. koordinasi dan sinkronisasi pelaksanaan kebijakan di bidang peningkatan kapasitas


kelembagaan koperasi dan usaha mikro, usaha kecil dan usaha menengah, pemberdayaan
pembiayaan koperasi dan usaha mikro, usaha kecil dan usaha menengah, pemberdayaan
produksi dan pemasaran koperasi dan usaha mikro, usaha kecil dan usaha menengah,
restrukturisasi usaha koperasi dan usaha mikro, usaha kecil dan usaha menengah,
pengembangan sumber daya manusia koperasi dan usaha mikro, usaha kecil dan usaha
menengah, dan pemeriksaan dan pengawasan koperasi;

c. koordinasi pelaksanaan tugas, pembinaan dan pemberian dukungan administrasi di


lingkungan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah;

d. pengelolaan barang milik negara yang menjadi tanggung jawab Kementerian Koperasi dan
Usaha Kecil dan Menengah; dan
e. pengawasan atas pelaksanaan tugas di lingkungan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil
dan Menengah.

SUMBER:

wikipedia.org

ikosindo.or.id

Indonesia.go.id