Anda di halaman 1dari 9

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Rumah sakit adalah bagian yang integral dari keseluruhan sistem pelayanan
kesehatan yang dihubungkan melalui rencana pembangunan kesehatan, sehingga
pengembangan rumah sakit pada saat ini tentu saja tidak dapat dilepaskan dari
kebijaksanaan pembangunan kesehatan yaitu harus sesuai dengan garis-garis besar
haluan negara, sistem kesehatan nasional, dan perundang-undangan lainnya.
Dewasa ini kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan semakin
meningkat, ini berarti permintaan pelayanan kesehatan akan bertambah banyak, tetapi
rumah sakit sebagai bagian dari sarana pelayanan kesehatan belum banyak
dimanfaatkan oleh masyarakat. Terbatasnya kemampuan membayar dari masyarakat
dan faktor sosiokultural mungkin menjadi penyebab utama. Selain itu faktor mutu dan
efisiensi pelayanan yang kurang memadai juga merupakan penyebab belum
dimanfaatkannya rumah sakit.
Beberapa syarat yang harus dipenuhi agar penyelenggaraan pelayanan
kesehatan dan dapat mencapai tujuan adalah tersedia (available), wajar (appropriate),
berkesinambungan (continue), dapat diterima (acceptable), dapat dicapai (accesible),
dapat dijangkau (affordable), efisien (efficient) serta bermutu (quality).
Berdasarkan keputusan Menteri Kesehatan No.34/Birhub/1972 tentang
perencanaan dan pemeliharaan disebutkan bahwa guna menunjang terselenggaranya
rencana induk yang baik, maka setiap rumah sakit diwajibkan mempunyai dan
merawat statistik yang up to date atau terkini dan terbaru dan membina medical
record atau rekam medis berdasarkan ketentuan-ketentuan yang
ditetapkan.Pengukuran kinerja rumah sakit dapat diketahui melalui beberapa
indikator, yaitu : BOR (Bed Occupation Rate), AVLOS (Averate Length Of Stay),
BTO (Bed Turn Over), TOI (Turn Over Internal), NDR (Net Death Rate), GDR
(Gross Death Rate),dan Rerata kunjungan klinik per hari.
Indikator-indikator yang digunakan dalam statistik rumah sakit seperti
BOR,LOS, TOI dan BTO berfungsi untuk memantau kegiatan yang ada di unit rawat
inap dengan cara menilai dan mengevaluasi kegiatan yang ada di unit rawat inap
untuk perencanaan maupun laporan pada instansi vertikal.
Indikator-indikator yang digunakan untuk menilai cakupan pelayanan unit
rawat inap adalah BOR dan BTO, sedangkan indikator yang digunakan untuk menilai
mutu pelayanan unit rawat inap adalah GDR dan NDR, dan indikator yang di gunakan

1
untuk menilai efisiensi pelayanan unit rekam medis adalah LOS dan TOI.(3) Untuk
melihat nilai keefisiensian, maka perlu di gambarkan dalam sebuah grafik yang
menghubungkan keempat parameter indikator Barber Johnson yang bertemu dalam
sebuah titik yang terletak dalam daerah efisiensi. Dengan batasan BOR = 60-85%,
TOI = 1-3 dan LOS = 1-3 hari
B. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Menganalisa kebutuhan tempat tidur pada RS. Tarumajaya Hospital Bekasi
berdasarkan perhitungan indikator Barber Johnson tahun 2013.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui kapasitas tempat tidur
b. Mengetahui hari perawatan
c. Mengetahui periode waktu
d. Mengetahui jumlah pasien keluar
e. Menghitung prediksi jumlah hari perawatan
f. Menghitung prediksi jumlah pasien keluar tahun 2018

2
BAB 2
PEMBAHASAN MATERI

A. Indikator pelayanan rumah sakit I


Indikator-indikator pelayanan rumah sakit dapat dipakai untuk mengetahui
tingkat pemanfaatan, mutu, dan efisiensi pelayanan rumah sakit. Indikator-indikator
berikut bersumber dari sensus harian rawat inap. Pada pelaksanaan MPKP kegiatan
pengendalian diterapkan dalam bentuk kegiatan pengukuran.
Indikator Mutu Umum BOR (Bed Occupancy Ratio = Angka penggunaan
tempat tidur) BOR menurut Huffman (1994) adalah the ratio of patient service days to
inpatient bed count days in a period under consideration‖. Menurut Depkes RI (2005),
BOR adalah prosentase pemakaian tempat tidur pada satuan waktu tertentu. Indikator
ini memberikan gambaran tinggi rendahnya tingkat pemanfaatan tempat tidur rumah
sakit.
1. BOR sering disebut juga :
 Percent of Occupancy
 Occupancy Percent
 Occupancy Ratio
Periode penghitungan BOR ditentukan berdasarkan kebijakan internal RS,
bisa bulanan, tribulan, semester, atau bahkan tahunan. Lingkup penghitungan BOR
juga ditentukan berdasarkan kebijakan internal rumah sakit, misalnya BOR per
bangsal atau BOR untuk lingkup rumah sakit (seluruh bangsal). Standar internasional
BOR dianggap baik adalah 80 – 90 % . Standar BOR yang ideal menurut Depkes RI
(2005) adalah antara 60-85%. Nilai ideal untuk BOR yang disarankan adalah 75% -
85%. Angka ini sebenarnya tidak bisa langsung digunakan begitu saja untuk semua
jenis Ruah Sakit, misalnya rumah sakit penyakit khusus tentu beda polanya dengan
Rumah sakit umum. Begitu pula Rumah sakit disuatu daerah tentu beda penilaian
tingkat kesuksesan BOR-nya dengan daerah lain. Hal ini bisa dimungkinkan karena
perbedaan sosial budaya dan ekonomi setempat. Sebagai catatan bahwa semakin
tinggi nilai BOR berarti semakin tinggi pula penggunaan tempat tidur yang ada untuk
perawatan pasien. Namun perlu diperhatikan bahwa semakin banyak pasien yang
dilayani berarti semakin sibuk dan semakin berat pula beban kerja petugas di unit
tersebut. Akibatnya, pasien bisa kurang mendapat perhatian yang dibutuhkan

3
(kepuasan pasien menurun) dan kemungkinan infeksi nosokomial juga meningkat.
Disisi lain, semakin rendah BOR berarti semakin sedikit tempat tidur yang digunakan
untuk merawat pasien dibandingkan dengan TT yang telah disediakan. Jumlah pasien
yang sedikit ini bisa menimbulkan kesulitan pendapatan ekonomi bagi pihak RS.
Dengan memperhatikan hal-hal tersebut diatas maka perlu adanya suatu nilai ideal
yang menyeimbangkan kualitas medis, kepuasan pasien, keselamatan pasien, dan
aspek pendapatan ekonomi bagi pihak Rumah Sakit.
Rumus
Jadi secara rumus baku adalah
Rumus : Jumlah hari perawatan X 100 %
Jumlah tempat tidur X jumlah hari persatuan waktu

Keterangan :
 Jumlah hari perawatan adalah jumlah total pasien dirawat dalam satu hari kali jumlah
hari dalam satu satuan waktu
 Jumlah hari persatuan waktu, jika diukur persatu bulan maka jumlahnya 28-31 hari,
tergantung jumlah hari dalam bulan tersebuts :

2. AVLOS (Average Length of Stay = Rata-rata lamanya pasien dirawat)


ALOS menurut Huffman (1994) adalah ―The average hospitalization stay of
inpatient discharged during the period under consideration‖. ALOS menurut Depkes
RI (2005) adalah ratarata lama rawat seorang pasien. Indikator ini disamping
memberikan gambaran tingkat efisiensi, juga dapat memberikan gambaran mutu
pelayanan, apabila diterapkan pada diagnosis tertentu dapat dijadikan hal yang perlu
pengamatan yang lebih lanjut. Secara umum nilai ALOS yang ideal antara 6-9 hari
(Depkes, 2005). Rumus penghitungan ALOS .

Rumus : Jumlah hari perawatan pasien keluar


Jumlah pasien keluar (hidup + mati)

Keterangan :
 Jumlah hari perawatan pasien keluar adalah jumlah hari perawatan pasien keluar
hidup atau mati dalam satu periode waktu

4
 Jumlah pasien keluar (hidup + mati) adalah jumlah pasien yang pulang atau
meninggal dalam satu periode tertentu
3. TOI (Turn Over Interval = Tenggang perputaran)
TOI menurut Depkes RI (2005) adalah rata-rata hari dimana tempat tidur tidak
ditempati dari telah diisi ke saat terisi berikutnya. Indikator ini memberikan gambaran
tingkat efisiensi penggunaan tempat tidur. Idealnya tempat tidur kosong tidak terisi
pada kisaran 1-3 hari. Rumus penghitungan TOI.

Rumus : (Jumlah TT x hari) – hari perawatan RS X 100 %


Jumlah pasien keluar (hidup + mati)

Keterangan :
 Jumlah TT : jumlah total kapasitas tempat tidur yang dimiliki - Hari perawatan
:jumlah total hari perawatan pasien yang keluar hidup dan mati
 Jumlah pasien keluar (hidup + mati) adalah jumlah pasien yang dimutasikan keluar
baik pulang, mati atau meninggal

5
BAB 3
PEMBAHASAHAN DI MASING-MASING INDIKATOR DI RUANG PERAWATAN

1. UGD RS. Tarumajaya Hospital


Nilai indikator BOR, AFLOS DAN TOI

a. BOR.(Bad Accupancy Ratio) atau angga penggunaan tempat tidur


Rumus = Jumlah hari perawatan X 100 %
Jumlah tempat tidur X jumlah hari persatuan waktu
= 110 X 100%
5 x 28
= 110 x 100%
140
= 78,5 %
Jadi untuk nilai BOR di UGD adalah 78,5% ini menunjukkan bahwa nilai BOR di
UGD ideal
b. AFLOS(Average Length of Stay = Rata-rata lamanya pasien dirawat)
Rumus = Jumlah hari perawatan pasien keluar
Jumlah pasien keluar (hidup + mati)
= 110
110
= 1 hari
Jadi nilai AFLOS pada UGD adalah 1 hari, ini menunjukkan bahwa aflos di
UGD ideal
c. TOI/Tenggang Perputaran Tempat Tidur

Rumus = (Jumlah TT x hari) – hari perawatan RS X 100 %


Jumlah pasien keluar (hidup + mati)
= (5 x 28) – 1 x 100 %
110
= 140 – 1 x 100%
110
= 1,2 hari
Nilai TOI pada UGD adalah 1,2 hari, ini menunjukkan bahwa TOI di UGD adeal

6
2. Perawatan lantai 2
a. BOR.(Bad Accupancy Ratio) atau angga penggunaan tempat tidur

Rumus = Jumlah hari perawatan X 100 %


Jumlah tempat tidur X jumlah hari persatuan waktu
= 119 x 100 %
13 x 28
= 119 x 100 %
364
= 32,7 %

Jadi nilai BOR pada ruang perawatan lantai 2 adalah 32.7%, ini menunjukkan
bahwa BOR di ruang perawatan lantai 2 tidak ideal dan anggka penggunaan
tempat tidur kurang maksimal.

b. AFLOS (Average Length of Stay = Rata-rata lamanya pasien dirawat)

Rumus = Jumlah hari perawatan pasien keluar


Jumlah pasien keluar (hidup + mati)
= 119
45
= 2,64 hari
Jadi nilai AFLOS pada ruang perawatan lantai 2 adalah 2,64 hari, ini
menunjukkan bahwa aflos di ruang perawatan lantai 2 ideal

c. TOI/Tenggang Perputaran Tempat Tidur


Rumus = (Jumlah TT x hari) – hari perawatan RS
Jumlah pasien keluar (hidup + mati)
= (13 x 28) – 119
119
= 5,4 hari
Jadi nilai TOI pada ruang perawatan lantai 2 adalah 5,4 hari, ini menunjukkan
bahwa TOI / tenggang perputaran tempat tidur di ruang perawatan lantai 2
belum ideal.

7
3. Perawatan Lantai 3
a. BOR.(Bad Accupancy Ratio) atau angga penggunaan tempat tidur

Rumus = Jumlah hari perawatan X 100 %


Jumlah tempat tidur X jumlah hari persatuan waktu
= 198 x 100%
28 x 28
= 25,25 %
Jadi nilai BOR pada ruang perawatan lantai 3 adalah 25,25%, ini menunjukkan
bahwa BOR di ruang perawatan lantai 3 tidak ideal dan anggka penggunaan
tempat tidur kurang maksimal

b. AFLOS (Average Length of Stay = Rata-rata lamanya pasien dirawat)

Rumus = Jumlah hari perawatan pasien keluar


Jumlah pasien keluar (hidup + mati)
= 198
97
= 2,1 hari
Jadi nilai AFLOS pada ruang perawatan lantai 3 adalah 2,1 hari, ini
menunjukkan bahwa aflos di ruang perawatan lantai 3 ideal.

c. TOI/Tenggang Perputaran Tempat Tidur


Rumus = (Jumlah TT x hari) – hari perawatan RS
Jumlah pasien keluar (hidup + mati)
= (28 x 28) – 198
97
= 6,1 hari

Jadi nilai TOI pada ruang perawatan lantai 3 adalah 6,1 hari, ini menunjukkan
bahwa TOI / tenggang perputaran tempat tidur di ruang perawatan lantai 3
belum ideal.

8
BAB 4
PENUTUP

Keseimpulan.
Dengan adanya indikator penilaian ini, diharapkan di masing-masing ruang perawatan di RS.
Tarumajaya Hospital bisa memperbaiki sistem manajemen di masing masing ruang
perawatan agar mendapatkan nilai yang ideal.