Anda di halaman 1dari 112

 

HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU TENTANG IMUNISASI


DASAR TERHADAP KELENGKAPAN IMUNISASI DASAR DI
WILAYAH KERJA PUSKESMAS PISANGAN KOTA
TANGERANG SELATAN TAHUN 2016

HALAMAN JUDUL
Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana


Keperawatan (S.Kep)

OLEH :
NURHIDAYATI
NIM: 1112104000022

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
1437 H/2016 M

 
 
 

LEMBAR PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa:

1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi

salah satu persyaratan memperoleh gelar Strata 1 Keperawatan di Fakultas

Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif

Hidayatullah Jakarta.

2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya

cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Fakultas Kedokteran

dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Jakarta.

3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya

atau merupakan jiplakan dari hasil karya orang lain, maka saya bersedia

menerima sanksi yang berlaku di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, 2016

Nurhidayati

ii
 
 
 

PERNYATAAN PERSETUJUAN

Skripsi dengan judul

HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU TENTANG IMUNISASI DASAR


TERHADAP KELENGKAPAN IMUNISASI DASAR DI WILAYAH KERJA
PUSKESMAS PISANGAN KOTA TANGERANG SELATAN TAHUN 2016

Telah disetujui dan diperiksa oleh pembimbing


Program Studi Ilmu Keperawatan
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Disusun Oleh:

Nurhidayati

Pembimbing I Pembimbing II

Ns. Uswatun Khasanah, S.Kep.,MNS Jamaludin, S.Kp.,M.Kep


NIP. 19770401 200912 2003 NIP. 19680522 200801 1007

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

1437 H/2016 M

iii
 
 

LEMBAR PENGESAHAN

Skripsi dengan judul


HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU TENTANG IMUNISASI DASAR
TERHADAP KELENGKAPAN IMUNISASI DASAR DI WILAYAH KERJA
PUSKESMAS PISANGAN KOTA TANGERANG SELATAN TAHUN 2016

Telah disusun dan dipertahankan dihadapan penguji oleh:

Nurhidayati
NIM: 1112104000022

Pembimbing I Pembimbing II

Ns. Uswatun Khasanah, S.Kep.,MNS Jamaludin, S.Kp.,M.Kep


NIP. 19770401 200912 2 003 NIP. 19680522 200801 1 007

Penguji I Penguji II

Ita Yuanita, S.Kp.,M.Kep Ratna Pelawati, S.Kp.,M.Biomed


NIP. 19700122 200801 2 005 NIP. 19780215 200901 2 005

Penguji III Penguji IV

Jamaludin, S.Kp.,M.Kep Ns. Uswatun Khasanah, S.Kep.,MNS


NIP. 19680522 200801 1007 NIP. 19770401 200912 2003

iv
 
 

LEMBAR PENGESAHAN
Skripsi dengan judul

HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU TENTANG IMUNISASI DASAR


TERHADAP KELENGKAPAN IMUNISASI DASAR DI WILAYAH KERJA
PUSKESMAS PISANGAN KOTA TANGERANG SELATAN TAHUN 2016

Disusun oleh:

Nurhidayati
NIM: 1112104000022

Mengetahui,
Ketua Program Studi Ilmu Keperawatan
Universitas Negeri Islam Syarif Hidayatullah Jakarta

Maulina Handayani, S.Kp.,M.Sc


NIP. 19790210 200501 2 002

Dekan Fakultas Kedokteran dan Imu Kesehatan


Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Prof. DR. H. Arif Sumantri, S.KM.,M.Kes


NIP. 19650808 198803 1 002
 

FACULTY OF MEDICINE AND HEALTH SCIENCES

v
 
 

SCHOOL OF NURSING
SYARIF HIDAYATULLAH ISLAMIC STATE UNIVERSITY OF
JAKARTA

Undergraduate Thesis, June 2016

Nurhidayati, NIM : 1112104000022

Correlation between Mother’s Knowledge of Basic Immunization towards


Completeness of Basic Immunization in District Work of Puskesmas
Pisangan Kota Tangerang Selatan

xvii + 67 pages + 10 table + 2 schemes + 6 appendix

ABSTRACT
Background: Immunization is an effective primary prevention effort to prevent
the outbreak of infectious diseases that can be prevented by immunization.
Immunization coverage of children in the member countries of WHO (World
Health Organization) had reached 90%, estimated 85% of infants worldwide had
been immunized and there were 19.3% million infants and children had not been
fully vaccinated and remain at risk of disease. Knowledge affected a person to do
health behaviors. Mother has an important role in caring for children especially in
child immunization completeness. However, the main challenge in the
implementation of immunization completeness was the level of knowledge of
mothers on immunization completeness. This was because the fundamental
domain knowledge in practice changes. Purpose: The purpose of this study was
to determine the correlation between mother’s knowledge of basic immunization
towards completeness of basic immunization in district work of Puskesmas
Pisangan Kota Tangerang Selatan. Method: This study was a descriptive cross
sectional design correlation with α = 0.05. Data was collected in 73 respondents in
Puskesmas Pisangan in March 2016 using questionnaires and analyzed using chi
square. Results: The analysis showed that there was a correlation between the
completeness of the knowledge of basic immunization (p = 0.042) with sufficient
knowledge of mothers around 52.1% and completeness of immunization around
74%. Suggestions: The result of this study are expected to be consideration for
the health institution in order to conduct training to improve knowledge and
awareness as well as the responsibility of staff and cadres in dealing with the
problem of knowledge.

Keywords: Knowledge, Basic Immunization Complete, Completed Basic


Immunization

Reference: 49 (tahun 2000-2015)

vi
 
 

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

Skripsi, Juni 2013

Nurhidayati, NIM: 1112104000022

Hubungan Pengetahuan Ibu Tentang Imunisasi Dasar Terhadap


Kelengkapan Imunisasi Dasar di Wilayah Kerja Puskesmas Pisangan Kota
Tangerang Selatan

xvii + 67 halaman + 10 tabel +2 skema + 6 lampiran

ABSTRAK

Latar Belakang: Imunisasi adalah upaya pencegahan primer yang efektif untuk
mencegah terjangkitnya penyakit infeksi yang dapat dicegah dengan imunisasi.
Cakupan imunisasi anak di negara-negara anggota WHO (World Health
Organization) telah mencapai 90%, diperkirakan 85% dari bayi diseluruh dunia
telah mendapat imunisasi dan masih terdapat 19,3% juta bayi dan anak-anak
belum sepenuhnya mendapatkan vaksinasi dan tetap beresiko terkena penyakit.
Pengetahuan mempengaruhi seseorang untuk melakukan perilaku kesehatan. Ibu
memiliki peran penting dalam merawat anak terutama dalam kelengkapan
imunisasi anak. Namun, tantangan utama dalam pelaksanaan kelengkapan
imunisasi adalah tingkat pengetahuan ibu terhadap kelengkapan imunisasi. Hal ini
karena pengetahuan domain mendasar dalam perubahan praktik. Tujuan: Tujuan
dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu tentang
imunisasi dasar terhadap kelengkapan imunisasi dasar di wilayah kerja Puskesmas
Pisangan Kota Tangerang Selatan. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian
deskriptif korelasi desain cross sectional dengan α = 0,05. Pengambilan data
dilakukan pada 73 responden di Wilayah Kerja Puskesmas Pisangan pada bulan
Maret 2016 dengan menggunakan kuisioner dan analisis data menggunakan chi
square. Hasil: Hasil analisis didapatkan bahwa ada hubungan antara pengetahuan
dengan kelengkapan imnisasi dasar (p = 0,042) dengan pengetahuan ibu yang
cukup sebesar 52,1% dan kelengkapan imunisasi sebesar 74%. Saran: Hasil
penelitian ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan bagi instansi kesehatan agar
dapat melakukan pembinaan guna meningkatkan pengetahuan serta kesadaran dan
tanggung jawab staf dan juga kader dalam menangani masalah pengetahuan.

Keywords: Pengetahuan, Imunisasi Dasar Lengkap, Kelengkapan Imunisasi


Dasar

Referensi: 49 (tahun 2000-2015)

vii
 
 

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Nurhidayati
Tempat, tanggal lahir : Bandar Lampung, 23 Agustus 1994
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Status : Belum menikah
Alamat : Jl. Sultan Agung Gg.Raden Saleh No.34A, RT 15/RW-
Bandar Lampung, Kedaton, Lampung
HP : 085789917878
Email : idaaidda@gmail.com
Fakultas/Jurusan : Fakultas Kedokteran dam Ilmu Kesehatan/
Program Studi Ilmu Keperawatan

Riwayat Pendidikan
1. TK Al- Azhar 2 Way Halim 1999-2000
2. SD Negeri 1 Labuhan Ratu 2000-2006
3. SMP Negeri 29 Bandar Lampung 2006-2009
4. SMA Negeri 9 Bandar Lampung 2009-2012
5. S1 Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta 2012-sekarang

Pengalaman Organisasi
1. Anggota PMR SMP Negeri 29 Bandar Lampung 2006-2007
2. Anggota Karya Ilmiah Remaja SMAN 9 Bandar Lampung 2009-2011
3. Anggota Rohis SMAN 9 Bandar Lampung 2009-2012
4. Pengurus Himpunan Mahasiswa Program Studi 2014-1015
Ilmu Keperawatan (HMPSIK)

viii
 
 
 

KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan


rahmat dan karunia-Nya serta shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad
SAW, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul
“Hubungan Pengetahuan Ibu Tentang Imunisasi Dasar Terhadap
Kelengkapan Imunisasi Dasar di Wilayah Kerja Puskesmas Pisangan
Kota Tangerang Selatan”.
Skripsi ini disusun sebagaimana untuk memenuhi salah satu syarat
guna mencapai gelar Sarjana Keperawatan (S.Kep) UIN Jakarta serta
menerapkan dan mengembangkan teori-teori yang penulis peroleh selama
kuliah.
Penulis telah berusaha untuk menyajikan suatu tulisan ilmiah yang
rapi dan sistematik sehingga mudah dipahami oleh pembaca.Penulis menyadari
bahwa penyajian skripsi ini jauh dari sempurna. Hal ini disebabkan masih
terbatasnya pengetahuan, pengalaman, dan kemampuan penulis dalam melihat
fakta, memecahkan masalah yang ada, serta mengeluarkan gagasan ataupun
saran-saran. Oleh karena itu, segala kritik dan saran yang berguna untuk
menyempurnakan skripsi ini akan penulis terima dengan hati terbuka dan rasa
terima kasih.
Sesungguhnya banyak pihak yang telah memberikan dorongan dan
bantuan yang tak terhingga nilainya hingga skripsi ini dapat penulis selesaikan
tepat pada waktunya. Penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:

1. Prof. Dr.Arif Sumantri, M.Kes , selaku dekan Fakultas Kedokteran dan


Ilmu Kesehatan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta.
2. Ibu Maulina Handayani, S.Kp, M.Sc, selaku Ketua Program Stidi Ilmu
Keperawatan dan Ibu Ernawati, S.Kp, M.Kep, Sp.KMB, selaku
sekretaris Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran dan
Ilmu Kesehatan.
3. Ibu Ns. Uswatun Khasanah, MNS dan Bapak Jamaludin, S.Kp, M.Kep,
selaku dosen pembimbing, terima kasih sebesar-besarnya untuk beliau
yang telah meluangkan waktu serta memberi arahan dan bimbingan
dengan sabar kepada penulis selama proses pembuatan skripsi ini.
4. Ibu Ns. Kustati Budi Lestari, M.Kep, Sp.Kep.An, selaku dosen
pembimbing akademik, terima kasih sebesar-besarnya untuk beliau
yang telah membimbing, menjadi tempat curhat, dan memberi motivasi
selama 4 tahun duduk di bangku kuliah.
5. Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan dan Kepala UPT
Puskesmas Pisangan Kota Tangerang Selatan Bapak drg. Mulyadi, yang

ix
 
 

telah memberikan izin dan membimbing untuk melakukan penelitian di


wilayah Puskesmas Pisangan Kota Tangerang Selatan.
6. Orang tuaku, Bapak Drs. Juhadi dan Ibu Zarmawati,S.Pd yang telah
mendidik, mencurahkan semua kasih sayang, mendoakan keberhasilan
penulis, serta memberikan bantuan baik moril maupun materiil kepada
penulis selama proses menyelesaikan skripsi ini. Tak lupa, Ayukku,
Syelvi Susanti, AMD.Keb dan semua keluargaku yang selalu
memberikan semangat tanpa pamrih.
7. Teman-teman PSIK 2012, teman-teman (Veby, Vina, Septi, Ria,
Fatimah, Indah, Clara, Lulu, Anis, Tantri, Ukhty, Aninda yang berjuang
bersama, memberi inspirasi, menghibur, memberi masukan, selama
menyelesaikan skripsi ini, serta kakak tingkat (Kak Ratna, Kak Adel,
Kak Rosi, Kak Hany, Kak Nina, Kak Ifan), yang telah memberikan
motivasi dan masukan, serta semua pihak yang telah mendoakan selama
proses pembuatan skripsi ini.

Pada akhirnya penulis menyadari sepenuhnya bahwa tulisan


ini masih jauh dari sempurna, namun penulis harapkan semoga tulisan
ini dapat bermanfaat bagi yang memerlukannya.

Ciputat, Januari 2016

Nurhidayati

x
 
 

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .............................................................................................. i 


LEMBAR PERNYATAAN .................................................................................. ii 
PERNYATAAN PERSETUJUAN ...................................................................... iii 
LEMBAR PENGESAHAN ................................................................................. iv 
LEMBAR PENGESAHAN .................................................................................. v 
ABSTRACT .......................................................................................................... vi 
ABSTRAK ........................................................................................................... vii 
DAFTAR RIWAYAT HIDUP .......................................................................... viii 
KATA PENGANTAR .......................................................................................... ix 
DAFTAR ISI ......................................................................................................... xi 
DAFTAR SINGKATAN .................................................................................... xiv 
DAFTAR TABEL ............................................................................................... xv 
DAFTAR BAGAN.............................................................................................. xvi 
DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................... xvii
 

BAB I PENDAHULUAN 
A. Latar Belakang ........................................................................................................... 1 
B. Rumusan Masalah ...................................................................................................... 5 
C. Pertanyaan Penelitian ................................................................................................. 6 
D. Tujuan Penelitian ....................................................................................................... 6 
E. Manfaat Penelitian ..................................................................................................... 7 
F.  Ruang Lingkup Penelitian .......................................................................................... 7 

BAB II LANDASAN TEORI 


A. Pengetahuan ............................................................................................................. 8 
1.Definisi Pengetahuan ............................................................................................... 8 
2. Tingkatan Pengetahuan ........................................................................................... 9 
3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan ................................................. 12 
B.    Imunisasi ................................................................................................................ 14 
1. Definisi Imunisasi ................................................................................................. 14 

xi
 
 

2. Tujuan Imunisasi .................................................................................................. 14 
3. Prinsip Dasar Pemberian Imunisasi ..................................................................... 14 
4. Macam-macam Imunisasi .................................................................................... 15 
5. Imunisasi Dasar Pada Bayi .................................................................................. 16 
6. Definisi Kelengkapan Imunisasi Dasar ................................................................ 23 
7. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kelengkapan Imunisasi .............................. 24 
C. Penelitian Terkait .................................................................................................... 25 
D. Kerangka Teori ....................................................................................................... 27 

BAB III  KERANGKA KONSEP, DEFINISI OPERASIONAL, DAN


HIPOTESIS 
A. Kerangka Konsep .................................................................................................... 28 
B. Definisi Operasional ................................................................................................ 29 
C. Hipotesis .................................................................................................................. 31 

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 


A. Desain Penelitian ..................................................................................................... 32 
B. Lokasi dan Waktu Penelitian ................................................................................... 32 
C. Populasi dan Sampel Penelitian .............................................................................. 33 
D. Instrumen Penelitian ............................................................................................... 36 
E. Uji Validitas dan Uji Reliabilitas ............................................................................. 37 
F. Langkah-Langkah Pengumpulan Data ..................................................................... 40 
G. Etika Penelitian ....................................................................................................... 41 
H. Pengolahan Data ..................................................................................................... 42 
I. Teknik Analisa Data ................................................................................................ 43 

BAB V HASIL PENELITIAN ........................................................................... 45 


A. Profil Puskesmas Pisangan Tangerang Selatan ........................................................ 45 
B. Hasil Analisis Univariat ........................................................................................... 48 
C. Hasil Analisis Bivariat ............................................................................................. 52 

xii
 
 

BAB VI PEMBAHASAN ................................................................................... 53 


A. Analisis Univariat .................................................................................................... 53 
B. Analisis Bivariat ....................................................................................................... 61 
C. Keterbatasan Penelitian ............................................................................................ 63 

BAB VII PENUTUP 
A. Kesimpulan .............................................................................................................. 65 
B. Saran ......................................................................................................................... 66 

Daftar Pustaka

Lampiran

xiii
 
 

DAFTAR SINGKATAN

BCG : Bacille Calmette-Guerin

DPT : Difteri, Pertusis, Tetanus

DTaP : Pertussis acellular form

DTwP : Difteri Tetanus whole cell Pertusis

HBIg : Hepatitis B Imunne Globulin

HbsAg : Hepatitis B Surface Antigen

HepB : Hepatitis B

Hib : Haemophilus Influenza type B

HIV : Human Immunodeficiency Syndrom

IDAI ; Ikatan Dokter Anak Indonesia

IPV : Inactivated Polio Vaccine

OPV : Oral Polio Vaccine

SSPE : Subacute Sclerosing Panencephalitis

UCI : Universal Child Immunization

UIN : Universitas Islam Negeri

UPT : Unit Pelayanan Terpadu

WHO : World Health Organization

xiv
 
 

DAFTAR TABEL

Halaman

2.1 Tabel Jadwal Imunisasi Kombinasi DPT ------------------------------- 19

3.1 Definisi Operasional--------------------------------------------------------- 29

4.1 Tabel Pertanyaan Kuisioner ----------------------------------------------- 36

5.1 Tabel Frekuensi Distribusi kategori usia ibu ----------------------------- 48

5.2 Tabel Frekuensi Distribusi kategori jumlah anak------------------------ 49

5.3 Tabel Frekuensi Distribusi kategori pendidikan ibu -------------------- 49

5.4 Tabel Frekuensi Distribusi kategori pekerjaan ibu ---------------------- 50

5.5 Tabel Frekuensi Distribusi kategori pengetahuan ibu------------------- 50

5.6 Tabel Frekuensi Distribusi kategori kelengkapan imunisasi ----------- 51

5.7 Tabel analisis bivariat ------------------------------------------------------- 53

xv
 
 

DAFTAR BAGAN

Halaman
2.1 Kerangka Teori -------------------------------------------------------------- 27
2.2 Kerangka Konsep ----------------------------------------------------------- 28

xvi
 
 

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Dokumen Perizinan

Lampiran 2 Informed Consent

Lampiran 3 Kuisioner

Lampiran 4 Hasil Olahan SPSS Uji Validitas dan Uji Reliabilitas

Lampiran 5 Hasil Olahan SPSS Univariat dan Bivariat

Lampiran 6 Hasil Rekapitulasi Jawaban Responden

xvii
 
 
 

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Imunisasi merupakan pemberian kekebalan pada bayi dan anak

terhadap berbagai penyakit, sehingga bayi dan anak tumbuh dalam keadaan

sehat (Hidayat, 2008). Pemberian imunisasi merupakan tindakan pencegahan

agar tubuh tidak terjangkit penyakit infeksi tertentu seperti tetanus, batuk rejan

(pertusis), campak (measles), polio dan tuberkulosis atau seandainya

terkenapun, tidak memberikan akibat yang fatal bagi tubuh (Rukiyah &

Yulianti, 2010). Penyakit infeksi atau menular dapat dicegah dengan imunisasi

(Achmadi, 2006).

Cakupan imunisasi di wilayah Asia Tenggara baru mencapai 52%.

Cakupan imunisasi anak di negara-negara anggota WHO (World Health

Organization) telah mencapai 90%, diperkirakan 85% dari bayi diseluruh dunia

telah mendapat imunisasi dan masih terdapat 19,3% juta bayi dan anak-anak

belum sepenuhnya mendapatkan vaksinasi dan tetap beresiko terkena penyakit

(WHO Global Immunization Data, 2011). Cakupan imunisasi dasar pada tahun

2009 menunjukkan bahwa dari jumlah sasaran 4.461.341 bayi, cakupan

imunisasi BCG 93,8%, DPT 1 69,6%, Polio 1 76,6%, Polio 4 92,4%, campak

91%. Dengan angka Drop Out sebesar 43,5%, angka Drop Out ini

menggambarkan terdapat sekitar lebih satu juta bayi di Indonesia yang tidak

mendapatkan imunisasi lengkap setiap tahunnya, sehingga berdampak pada

cakupan Universal Child Immunization (UCI) KepMenkes RI (2010). Hal ini

dapat dilihat dari persentasi UCI di Indonesia tahun 2008 sebesar 68, 2%

1
 
2
 

mengalami penurunan menjadi 68% pada tahun 2009 (Profil Kesehatan

Indonesia, DepKes RI, 2010). Status kelengkapan imunisasi dasar lengkap

pada anak di provinsi Banten pada tahun 2013 sebanyak 45,8%, dengan jenis

imunisasi 76,9% HB-0, 83,6% BCG, 63,3% DPT-HB3, 64,0% Polio 4, dan

66,7% campak. Dengan nilai rata-rata kelengkapan imunisasi di Indonesia

adalah 59,2% (Riskesdas, 2013).

Imunisasi sangat dibutuhkan dalam upaya pencegahan penyakit.

Hal ini sesuai dengan peraturan menteri kesehatan Republik Indonesia nomor

42 tahun 2013. Peraturan tersebut menyatakan tentang penyelenggaraan

imunisasi bahwa untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan

mempertahankan status kesehatan seluruh rakyat diperlukan tindakan imunisasi

sebagai tindakan preventif (Kemenkes/Depkes, 2013).

Cakupan imunisasi yang rendah di Asia Tenggara dapat

disebabkan oleh banyak faktor. Kemungkinan faktor yang berhubungan dengan

rendahnya cakupan imunisasi disebabkan oleh faktor usia, pendidikan,

penghasilan, ketersediaan waktu ibu (Reza, 2006) , sedangkan menurut Ranuh

(2008) faktor yang mempengaruhi rendahnya cakupan imunisasi adalah

pengetahuan dan kesadaran ibu. Menurut Ningrum (2008) rendahnya cakupan

imunisasi disebabkan oleh faktor pengambilan keputusan. Ibu yang berusia ≥

30 tahun cenderung untuk tidak melakukan imunisasi lengkap dibanding ibu

yang berusia < 30 tahun, pendidikan tinggi berkaitan erat dengan pemberian

imunisasi anak. Penghasilan orang tua sangat erat juga kaitannya dengan

kesejahteraan anak dan memungkinkan anak untuk hidup lebih sehat sehingga

 
 
3
 

mempengaruhi status imunisasi anak, semakin sejahtera ekonomi orang tua

maka semakin baik pula status kesehatan anak.

Faktor ketersediaan waktu ibu membawa anaknya ke pelayanan

kesehatan menjadi salah satu faktor. Semakin banyak jumlah anak terutama ibu

yang masih mempunyai bayi yang merupakan anak ketiga atau lebih akan

membutuhkan banyak waktu untuk mengurus anak-anaknya tersebut sehingga

semakin sedikit ketersediaan waktu bagi ibu untuk mendatangi tempat

pelayanan imunisasi (Reza, 2006). Pengetahuan ibu yang kurang tentang

imunisasi dan rendahnya kesadaran ibu membawa anaknya ke Posyandu atau

Puskesmas juga menyebabkan rendahnya cakupan imunisasi. Untuk

mendapatkan imunisasi yang lengkap karena takut anaknya sakit, dan ada pula

yang merasa bahwa imunisasi tidak diperlukan untuk bayinya, kurang

informasi atau penjelasan dari petugas kesehatan tentang manfaat imunisasi,

serta hambatan lainnya (Ranuh dkk, 2008).

Ibu adalah orang yang berperan besar dalam merawat anak dan

dalam pengambilan keputusan di rumah tangga untuk kelengkapan imunisasi

anak. Hal ini didapatkan dari hasil penelitian Ningrum (2008) bahwa survey

menunjukkan sebanyak 71,2% dari 1320 anak usia 12-23 bulan dengan ibu

yang terlibat aktif dalam pengambilan keputusan di rumah tangga telah

mendapat imunisasi lengkap (Hepatitis, BCG, Campak, DPT, dan Polio) lebih

banyak dibanding pada anak yang ibunya tidak terlibat dalam pengambilan

keputusan rumah tangga yaitu 64,8%. Hal ini menunjukkan bahwa pada wanita

yang mempunyai motivasi dan kepercayaan diri dapat berperan dalam

pengambilan keputusan berkaitan dengan pengelolaan sumber daya dirumah

 
 
4
 

tangga. Ibu yang punya motivasi agar anak hidup sehat, meningkatkan akses

dalam perawatan dan kesehatan anak-anaknya, khususnya pelayanan imunisasi.

Berdasarkan hasil studi pendahuluan saya di wilayah kerja

Puskesmas Pisangan, bahwa terdapat pertentangan antara teori pengetahuan

dengan hasil penelitian. Berdasarkan teori pengetahuan bahwa suatu perilaku

yang didasarkan oleh pengetahuan akan lebih lama daripada perilaku yang

tidak didasarkan pada pengetahuan. terdapat 7 dari 15 ibu yang memiliki

pengetahuan rendah, 5 ibu yang memiliki pengetahuan cukup, dan 3 ibu

lainnya memiliki pengetahuan baik. Untuk kelengkapan imunisasinya, terdapat

8 ibu yang mengimunisasikan anaknya secara lengkap, 4 ibu yang

mengimunisasikan anaknya secara lengkap namun terlambat, dan ada 3 ibu

yang belum menimunisasikan anaknya dengan lengkap. Dari 8 ibu yang

mengimunisasikan anakanya secara lengkap, yang memilki pengetahuan baik

terdapat 2 ibu, 2 ibu berpengetahuan sedang, dan 4 ibu memiliki pengetahuan

rendah. Fenomena yang ditemukan saat studi pendahuluan bahwa kebanyakan

ibu mengimunisasikan anaknya secara lengkap namun tidak mengetahui

manfaat dari masing-masing imunisasi dasar tersebut, adapun yang

imunisasinya lengkap namun mengetahui pentingnya imunisasi. Terdapat pula

fenomena bahwa ibu yang tidak melengkapi kelengkapan imunisasi anaknya

tetapi mengetahui pentingnya imunisasi dan juga ibu yang tidak melengkapi

imunisasi anaknya karena tidak mengetahui pentingnya kelengkapan imunisasi

tersebut.

Pada penelitian Prayogo (2009), dkk menyimpulkan bahwa tidak

mempunyai hubungan bermakna antara pengetahuan terhadap kelengkapan

 
 
5
 

imunisasi sedangkan penelitian dengan hasil yang berbeda dari penelitian yang

dilakukan Hijani, dkk didapatkan hasil ada hubungan yang bermakna antara

pengetahuan ibu tentang imunisasi terhadap kelengkapan imunisasi. Dari data

tersebut, terdapat pertentangan dari kedua penelitian dan fenomenanya

sehingga peneliti perlu melakukan penelitian kembali untuk melihat apakah

ada hubungan pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar terhadap kelengkapan

imuniasi dasar di wilayah kerja Puskesmas Pisangan Kota Tangerang Selatan.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan dari latar belakang di atas bahwa suatu pengetahuan akan

mempengaruhi perilaku seseorang untuk berperilaku sehat. Menurut Green, ada 3

faktor yang mempengaruhi perilaku yaitu faktor predisposisi, faktor penguat, dan

faktor pemungkin. Pengetahuan termasuk kedalam faktor predisposisi. Hasil

penelitian dari Hijani menyimpulkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara

pengetahuan ibu tentang imunisasi terhadap kelengkapan imunisasi. Sedangkan

berbeda hasil penelitian dari Febriana yang menyimpulkan bahwa tidak

mempunyai hubungan bermakna antara pengetahuan terhadap kelengkapan

imunisasi. Hasil studi pendahuluan saya juga ada beberapa ibu yang

mengimunisasikan anaknya secara lengkap namun pengetahuannya rendah. Oleh

karena itu, karena adanya pertentangan teori dan juga hasil penelitian sebelumnya

serta fenomena yang ada di wilayah kerja Puskesmas Pisangan Kota Tangerang

Selatan peneliti tertarik untuk meneliti kembali penelitian dengan judul hubungan

pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar terhadap kelengkapan imunisasi dasar.

 
 
6
 

C. Pertanyaan Penelitian

1. Bagaimana karakteristik ibu (usia ibu, jumlah anak, pendidikan, pekerjaan)?

2. Bagaimana tingkat pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar pada bayi?

3. Bagaimana kelengkapan imunisasi dasar pada bayi ?

4. Bagaimana hubungan pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar terhadap

kelengkapam imunisasi dasar pada bayi di wilayah kerja Puskesmas Pisangan

Tangerang Selatan?

D. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui bagaimana hubungan pengetahuan ibu tentang imunisasi

dasar terhadap kelengkapan imunisasi dasar di wilayah kerja Puskesmas

Pisangan

2. Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui data demografi ibu (usia ibu, jumlah anak, pendidikan,

pekerjaan).

b. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar pada

bayi di wilayah kerja Puskesmas Pisangan.

c. Untuk mengetahui kelengkapan imunisasi dasar pada bayi usia ≥ 10 – 15

bulan di wilayah kerja Puskesmas Pisangan.

d. Untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar

terhadap kelengkapan imunisasi dasar di wilayah kerja Puskesmas Pisangan

Tangerang Selatan.

 
 
7
 

E. Manfaat Penelitian

a. Bagi Peneliti

Untuk mengetahui dan mendapatkan pengalaman yang nyata dalam

melakukan penelitian dibidang keperawatan anak khususnya yang

berhubungan dengan imunisasi.

b. Bagi Instansi

Bagi instansi terkait disini adalah Puskesmas Pisangan Tangerang Selatan

untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan ibu dalam pemberian

kelengkapan imunisasi dasar pada anak sehingga dapat termotivasi untuk

memberikan pelayanan yang optimal serta sebagai informasi dasar sebagai

program promosi kesehatan dan juga sebagai data dasar dalam pengembangan

program imunisasi Puskesmas Pisangan Tangerang Selatan.

F. Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini dilakukan oleh mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan

Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang

bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar

terhadap kelengkapan imunisasi dasar di wilayah kerja Puskesmas Pisangan

Tangerang Selatan. Jenis penelitian ini adalah deskriptif korelasi dengan desain

studi cross-sectional. Metode pengambilan data dengan menyebarkan kuesioner

yang terdiri dari data demografi, kuisioner pengetahuan, dan kuisioner

kelengkapan imunisasi. Subjek yang diteliti adalah ibu yang ada di wilayah kerja

Puskesmas Pisangan Tangerang Selatan yang memiliki anak usia ≥10 bulan.

Waktu penelitian berkisar dari bulan Maret- April 2016.

 
 
 
 

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Pengetahuan

1. Definisi Pengetahuan

Pengetahuan adalah hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang

melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan ini

terjadi melalui panca indera manusia yaitu indera penglihatan, pendengaran,

penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh

melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang

sangat penting untuk terbentuknya perilaku seseorang (Notoatmodjo, 2003).

Pengetahuan adalah suatu bidang yang sangat penting akan terbentuknya

tindakan seseorang. Perilaku yang didasari pengetahuan akan lebih langgeng

dari pada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan hal itu berdasarkan

pengelaman dan penelitian (Notoadmodjo, 2003).

Pengetahuan bukanlah fakta dari suatu kenyataan yang sedang

dipelajari, melainkan sebagai kontruksi kognitif seorang terhadap objek,

pengalaman, maupun lingkungannya, hal ini menurut pendekatan

kontruktivitis. Pengetahuan bukanlah sesuatu yang sudah ada dan tersedia dan

sementara orang lain tinggal menerimanya. Pengetahuan adalah sebagai suatu

pembentukan yang terus menerus oleh seseorang yang setiap saat mengalami

reorganisasi kareana adanya pemahaman-pemahaman baru.

8
 
9
 

2. Tingkatan Pengetahuan

Menurut Notoadmodjo (2007), terdapat 6 tingkatan pengetahuan

yang dicakup dalam domain kognitif yaitu :

1. Tahu (know)

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari

sebelumnya.Yang termasuk dlam pengetahuan tingkat ini adalah

mengingat kembali (recall) terhadap sesuatu yang spsifik dari seluruh

bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh karena

itu, tahu merupakan tingkat pengatahuan yang paling rendah. Kata kerja

untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain

menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan, dan sebagainya.

Contoh: dapat menyebutkan tanda-tanda kekurangan kalori dan protein

pada anak balita.

2. Memahami (comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara

benar tentang objek yang diketahui. Dan dapat menginterpretasikan materi

tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi

harus dapat menjelaskan, menyebutkan. Contoh: menyimpulkan,

meramalkan, dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari. Misalnya

dapat menjelaskan mengapa harus makan makan bergizi.

3. Aplikasi (application)

Aplikasi dapat diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menggunakan

materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi yang sebenarnya.

Aplikasi ini dapat diartikan sebagai aplikasiatau penggunaan hokum-

 
 
10
 

hukum, rumus, metode, prinsip, dan sebagainya dalam konteks atau situasi

yang lain. Misalnya dapat menggunakan rumus statistik dalam

perhitungan-perhitungan hasil penelitian, dapat menggunakan prinsip-

prinsip siklus pemecahan masalah di dalam pemecahan masalah kesehatan

dari kasus yang diberikan.

4. Analisis (analysis)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu

objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam suatu struktur

oragnisasi tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan

analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja, seperti dapat

menggambarkan(membuat bagan), membedakan, memisahkan,

mengelompokan, dan sebagainya.

5. Sintesis (synthesis)

Sintesis merujuk kepada suatu kemampuan unruk meletakkan atau

menggabungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang

baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun

formulasi baru dari formulasi-formulasi yang sudah ada.misalnay dapat

menyusun, dapat merencanakan, daapat meringakskan, dapat

menyesuaikan, dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan yang

telah ada.

6. Evaluasi (evaluation)

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi

atau penilaian terhadap suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau

menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada. Misalnya dapat

 
 
11
 

membandingkan antara anak yang cukup gizi dengan anak yang

kekurangan gizi, dapat menanggapi terjadinya diare di suatu tempat, dapat

menafsirkan sebab-sebab mengapa ibu-ibu tidak mau ikut KB.

Pengukuran-pengukuran dapat dilakukan dengan wawancara atau angket

menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian

atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita

ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkat-tingkat tersebut di atas

(Notoatmodjo, 2007).

Rogers (1974, dalam Notoatmodjo, 2007) mengungkapkan

bahwa sebelum seseorang mengadopsi perilaku baru, di dalam diri orang

tersebut sudah terjadi proses berurutan, yaitu:

a. Awareness (kesadaran), di mana orang tersebut menyadari dalam arti

mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus (objek) .

b. Interest (merasa tertarik) terhadap stimulus atau objek tersebut. Pada

proses ini, sikap subjek sudah mulai timbul.

c. Evaluation (menimbang-nimbang) terhadap baik dan tidaknya stimulus

tersebut bagi dirinya.

d. Trial (mencoba), di mana subjek mulai mencoba untuk melakukan

sesuatu sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh stimulus.

e. Adoption, di mana subjek telah berperilaku baru sesuai dengan

pengetahuan, kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus.

Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau

angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek

penelitian atau responden.Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui

 
 
12
 

atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkatan-tingkatan di atas

(Notoatmodjo, 2007).

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan

Menurut Notoatmodjo (2007), ada tujuh faktor-faktor yang

mempengaruhi pengetahuan seseorang yaitu:

a. Pendidikan

Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan seseorang kepada orang lain

terhadap suatu hal agar mereka dapat memahami. Tidak dapat dipungkiri

bahwa makin tinggi pendidikan seseorang semakin mudah pula mereka

menerima informasi, dan pada akhirnya makin banyak pula pengetahuan

yang dimilikinya. Sebaliknya, jika seseorang tingkat pendidikannya

rendah, akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap

penerimaan informasi dan nilai-nilai baru diperkenalkan.

b. Pekerjaan

Lingkungan pekerjaan dapat menjadikan seseorang memperoleh

pengalaman dan pengetahuan baik secara langsung maupun tidak

langsung.

c. Usia

Dengan bertambahnya umur seseorang akan terjadi perubahan pada aspek

psikis dan psikologis (mental). Pertumbuhan fisik secara garis besar ada

empat kategori perubahan, yaitu perubahan ukuran, perubahan proporsi,

hilangnya ciri-ciri lama dan timbulnya ciri-ciri baru.Ini terjadi akibat

pematangan fungsi organ. Pada aspek psikologis dan mental taraf berfikir

seseorang semakin matang dan dewasa.

 
 
13
 

d. Pengalaman

Pengalaman adalah suatu kejadian yang pernah dialami seseorang dalam

berinteraksi dengan lingkungannya. Ada kecenderungan pengalaman yang

baik seseorang akan berusaha untuk melupakan, namun jika pengalaman

terhadap objek tersebut menyenangkan maka secara psikologis akan

timbul kesan yang membekas dalam emosi sehingga menimbulkan sikap

positif.

e. Keyakinan

Biasanya keyakinan diperoleh secara turun temurun dan tanpa adanay

pembuktian terlebih dahulu. Keyakinan ini dapat mempengaruhi

pengetahuan seseorang, baik keyakinan itu bersifat positif maupun negatif.

f. Fasilitas

Fasilitas-fasilitas sebagai sumber informasi yang dapat mempengaruhi

pengetahuan seseorang, misalnya radio, televisi, majalah, Koran, dan

buku.

g. Penghasilan

Penghasilan tidak berpengaruh langsung terhadap pengetahuan individu.

Apabila penghasilan individu cukup besar maka individu tersebut akan

mampu menyediakan atau memCbeli fasilitas-fasilitas sumber informasi.

h. Sosial Budaya

Kebudayaan setempat dan kebiasaan dalam keluarga dapat mempengaruhi

pengetahuan, persepsi, dan sikap seseorang terhadap sesuatu.

 
 
14
 

B. Imunisasi

1. Definisi Imunisasi

Imunisasi merupakan usaha memberikan kekebalan pada bayi dan

anak dengan memasukkan vaksin ke dalam tubuh agar tubuh membuat zat anti

untuk mencegah terhadap penyakit tertentu. Sedangkan yang dimaksud dengan

vaksin adalah bahan yang dipakai untuk merangsang pembentukan zat anti

yang dimasukkan ke dalam tubuh melalui suntikan seperti vaksin BCG, DPT,

Campak, dan melalui mulut seperti vaksin Polio (Hidayat, 2005).

2. Tujuan Imunisasi

Pemberian imuniasi pada anak yang mempunyai tujuan agar tubuh

kebal terhadap penyakit tertentu, sehingga dapat menurunkan angka mordibitas

serta dapat mengurangi kecacatan akibat penyakit yang dapat dicegah dengan

imunisasi, kekebalan tubuh juga dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor

diantaranya terdapat tingginya kadar antibodi pada saat di lakukan imunisasi,

potensi antigen yang disuntikkan, waktu antara pemberian imunisasi,

mengingat efektif dan tidaknya imunisasi tersebut akan tergantung pada faktor

yang mempengaruhinya sehingga kekebalan tubuh dapat diharapkan pada diri

anak (Hidayat, 2005).

3. Prinsip Dasar Pemberian Imunisasi

Prinsip dasar pemberian imunisasi adalah:

a. Bila ada antigen (kuman, bakteri, virus, parasit, racun kuman memasuki

tubuh maka tubuh akan berusaha menolaknya, tubuh membuat zat anti

berupa antibodi atau anti toxin.

 
 
15
 

b. Reaksi tubuh pertama kali terhadap antigen berlangsung secara lambat dan

lemah, sehingga tak cukup banyak antibodi yang terbentuk.

c. Pada reaksi atau respon yang kedua, ketiga, dan seterusnya tubuh sudah

mulai lebih mengenal jenis antigen tersebut.

d. Setelah beberapa waktu, jumlah zat anti dalam tubuh akan berkurang. Untuk

mempertahankan agar tetap kebal, perlu diberikan antigen /suntikan/

imunisasi ulang.

e. Kadar antibodi yang tinggi dalam tubuh menjamin anak akan sulit untuk

terserang penyakit. (Riyadi dkk, 2009)

4. Macam-macam Imunisasi

Berdasarkan proses atau mekanisme pertahanan tubuh, imunisasi dibagi

menjadi dua yaitu:

a. Imunisasi aktif

Imunisasi aktif merupakan pemberian zat sebagai antigen yang diharapkan

akan terjadi suatu proses infeksi buatan, sehingga tubuh mengalami reaksi

imunologik spesifik yang akan menghasilkan respons seluler dan humoral

serta dihasilkannya cell memory. Jika benar-benar terjadi infeksi maka tubuh

secara cepat dapat merespons. Dalam imunisasi aktif terdapat empat macam

kandungan dalam setiap vaksinnya, yang dijelaskan sebagai berikut:

1) Antigen merupakan bagian dari vaksin yang berfungsi sebagai zat atau

mikroba guna terjadinya semacam infeksi buatan (berupa polisakarida,

toksoid, virus yang dilemahkan, atau bakteri yang dimatikan).

2) Pelarut dapat berupa air steril atau berupa cairan kultur jaringan.

 
 
16
 

3) Preservatif, stabilizer, dan antibiotik yang berguna untuk mencegah

tumbuhnya mikroba sekaligus untuk stabilisasi antigen.

4) Adjuvans yang terdiri dari atas garam alumunium yang berfungsi untuk

meningkatkan imunogenitas antigen.

b. Imunisasi Pasif

Imunisasi pasif merupakan pemberian zat (imunoglobulin) yaitu suatu zat

yang dihasilkan melalui suatu proses infeksi yang dapat bersal dari plasma

manusia atau binatang yang digunakan untuk mengatasi mikroba yang

diduga sudah masuk ke dalam tubuh yang sudah terinfeksi (Hidayat, 2005).

5. Imunisasi Dasar Pada Bayi

Antibodi untuk menangkal penyakit yang diwariskan ibu kepada

bayi tidak mampu bertahan lama. Imunisasi adalah cara yang efektif, mudah

dan relatif murah untuk meningkatkan daya tahan tubuh anak. Anak sangat

rentan terkena infeksi. Program imunisasi yang telah dijalankan selama ini,

menurut Departemen Kesehatan (Depkes) telah berhasil menurunkan angka

kesakitan dan angka kematian penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi

(Irianto, 2014). Vaksinasi rutin pada anak adalah salah satu kemajuan medis

yang paling penting. Masalah penting tentang vaksinasi mencakup usia anak

dan kondisi medis yang mendasari, beban penyakit, efektivitas vaksin, reaksi

merugikan, dan anjuran resmi. Berikut jenis-jenis imunisasi dasar lengkap:

a. BCG (Bacille Calmette-Guerin)

Imunisasi BCG (Bacille Calmette-Guerin) merupakan imunisasi

yang dugunakan untuk mencegah terjadinya penyakit TBC yang berat

sebab terjadinya penyakit TBC yang berat seperti TBC pada selaput otak

 
 
17
 

(Hidayat,2008). TBC milier (pada seluruh lapang paru) atau TBC tulang.

Pemberian diberikan satu kali, rentang waktu dari 0 bulan- 2 bulan (IDAI,

2014). Dosis 0,05 ml untuk bayi kurang dari 1 tahun dan 0,1 ml untuk

anak > 1 tahun. Vaksinasi BCG diberikan secara intrakutan di daerah

lengan kanan atas pada insersio M.deltoideus sesuai anjuran WHO, tidak

di tempat lain (bokong atau paha).

Imunisasi BCG ulangan tidak dianjurkan.Vaksin BCG tidak dapat

mencegah infeksi tuberkulosis, namun dapat mencegah komplikasinya.

Vaksin BCG merupakan vaksin hidup, maka tidak diberikan pada pasien

imunokompromais (leukemia, anak yang sedang mendapat pengobatan

streroid jangka panjang, atau menderita infeksi HIV). Apabila BCG

diberikan pada umur lebih dari 3 bulan, sebaiknya dilakukan uji tuberkulin

terlebih dahulu.Vaksin BCG diberikan apabila uju tuberculin negatif. Efek

samping terjadinya ulkus pada daerah suntikan, limfadenitis regionalis,

dan reaksi panas (Hidayat, 2009). Efek samping lainnya adalah setelah 3-6

minggu akan terdapat eritema, indurasi, dan kadang ulserasi. Kelenjar

getah bening aksilaris mungkin membesar dan terasa nyeri.Tanda-tanda

local menghilang dalam 2-6 bulan (Meadow & Siwon, 2005).

b. Hepatitis B

Imunisasi hepatitis B diberikan untuk melindungi bayi dari

penyakit hepatitis B, yaitu penyakit infeksi virus berpotensi fatal yang

dapat menyebabkan sirosis atau kanker hati (Betz, 2009). Pemberian

diberikan tiga kali, saat usia baru lahir, 1 bulan, dan 6 bulan. Jumlah dosis

vaksin yang diberikan, interval di antara dosis, genetika, prematuritas, dan

 
 
18
 

kondisi medis yang mendasari memengaruhi imunogenisitas. Setelah dosis

ketiga vaksin hepatitis B, lebih dari 95% anak serokonversi. Titer

membaik dengan interval lebih panjang di antara dosis kedua dan ketiga

sehingga rangkaian vaksin tidak perlu diulang tanpa memandang

keterlambatan dosis. Imunisasi hepatitis B yang ke-1 diberikan sedini

mungkin (dalam waktu 12 jam) setelah lahir, memngingat paling tidak 3,9

% ibu hamil mengidap hepatitis B aktif dengan resiko penularan kepada

bayinya sebesar 45%.

Imunisasi hepatitis B yang ke-2 diberikan setelah 1 bulan (4

minggu) dari imunisai hepatits B yang ke-1 yaitu saat bayi berumur 1

bulan.Untuk mendapatkan respon imun optimal, interval imunisasi

hepatitis B yang ke-2 dengan imunissi hepatitis B yang ke-3 minimal 2

bulan, terbaik 5 bulan. Maka imunisasi hepatitis B yang ke-3 diberikan

pada umur 3-6 bulan. Bayi lahir dari ibu dengan status HbsAg yang tidak

diketahui. Hepatitis B ke -1 harus diberikan dalam waktu 12 jam setelah

lahir, dan dilanjutkan pada umur 1 bulan dan 3-6 bulan dan 3-6 bulan.

Apabila semula status HbsAg ibu tidak diketahui dan ternyata dalam

perjalanan selanjutnya diketahui bahwa ibu HbsAg positif maka

ditambahkan hepatitis B immunoglobulin (HBIg) 0,5 ml sebelum bayi

berumur 7 hari. Bayi lahir dari ibu dengan status HBsAg-B positif:

diberikan vaksin hepatitis B ke-1 dan HBIg 0,5 ml secara bersamaan

dalam waktu 12 jam setelah lahir.

Apabila sampai dengan usia 5 tahun anak belum pernah

memperoleh imunisasi hepatitis B, maka secepatnya diberikan imunisasi

 
 
19
 

Hepatitis B dengan jadwal 3 kali pemberian (catch- up vaccination).

Ulangan imunisasi hepatitis B (HepB-4) dapat dipertimbangkan pada umur

10-12 tahun, apabila kadar pencegahan belum tercapai (anti HBs < 10

µg/ml). Cakupan imunisasi hepatitis B ketiga di Indonesia sangat rendah

apabila dibandingkan dengan DTP-3.Untuk mengatasi hal tersebut, sejak

tahun 2006 imunisasi hep-B pada jadwal Departemen Ksehatan

dikombinasikan dengan DTwP.

Bagan 2.1 Jadwal pemberian imunisasi Hepatitis B

Umur Imunisasi Kemasan

Saat lahir HepB-0 Uniject (hepB-monovalen)

2 bulan DTwP dan hepB-1 Kombinasi DTwP/HEPb-1

3 bulan DTwP dan hepB-2 Kombinasi DTwP/HEPb-2

4 bulan DTwP dan hepB-3 Kombinasi DTwP/HEPb-3

Penularan HBV terjadi terutama oleh pertukaran darah atau kontak

seksual dengan orang yang terinfeksi secara akut atau kronik. Meskipun

kadar antibodi anti HBV hilang setelah vaksinasi, sebagian besar orang

tetap terlindungi melalui memori imunologik dan masa inkubasi yang

panjang pada infeksi HBV memungkinkan sebagian besar orang yang

diimunisasi dengan titer rendah untuk meningkatkan respons imun

anamnestik protektif. Keefektifan untuk vaksin Hepatitis B harus ditunda

pada bayi preterm yang beratnya kurang dari 2 kg- usia 1 bulan atau

dipulangkan dari rumah sakit, yang mana terlebih dahulu, kecuali ibu

 
 
20
 

HBsAg positif atau tidak diketahui status HBsAg, dalam kasus ini vaksin

harus diberikan dalam 12 jam kelahiran.

Efek samping setelah pemberian vaksin Hepatitis B, 3%-9% anak

mengalami nyeri pada tempat suntikan; 18 % mengalami kejadian

merugikan sistemik sementara seperti kelelahan dan sakit kepala dan 1%-

6% mengalami suhu lebih dari 37,7˚C.

c. DTP ( Difteri, Tetanus, Pertusis).

Imunisasi DTP adalah vaksinasi yang diberikan untuk mencegah

terjadinya penyakit difteri, pertusis, dan tetanus. Upaya pencegahan

penyakit difteri, pertusis, dan tetanus perlu dilakukan sejak dini melalui

imunisasi karena penyakit tersebut sangat cepat serta dapat meningkatkan

kematian bayi dan balita. Efek samping yang diberikan pada imunisasi

DPT dapat berefek ringan maupun berat. Efek sampingnya berupa terjadi

pembengkakan, nyeri pada tempat penyuntikan, dan demam. Sedangkan

efek samping berat terjadi kesakitan kurang lebih emapt jam, menangis

hebat, kejang, kesadaran menurun, ensefalopati, dan syok (Hidayat, 2009).

Rekasi merugikan minor yang terkait dengan vaksinasi DPTa

adalah edema setempat di tempat suntikan, demem, dan rewel. Reaksi

merugikan yang jarang setelah vaksinasi DPTa adalah menangsi persisten

selama 3 jam atau lebih, menangis nada tinggi yang tidak biasanya, kejang

biasanya kejang demam tanpa sekuele permanen), dan episode hipotonik

hiporesponsif. Pada kejadian jarang, anak dapat menderita reaksi

anafilaktik terhadap DPTa, menjadi kontraindikasi dosis DPTa

 
 
21
 

selanjutnya. Pembengkakan sementara keseluruhan ekstremitas yang

jarang juga terjadi setelah dosis DPTa keempat atau kelima.

Pemberian diiberikan tiga kali saat usia 2,4,6 bulan (DTP tidak

boleh diberikan sebelum umur 6 minggu) dengan interval 4-8 minggu.

Interval terbaik diberikan 8 minggu, jadi DTP-1 diberikan pada umur 2

bulan, DTP-2 pada umur 4 bulan dan DTP-3 pada umur 6 bulan. Ulangan

booster DTP selanjutnya diberikan satu tahun setelah DTP-3 yaitu pada

umur 18-24 bulan dan DTP-5 pada saat masuk sekolah umur 5 tahun.

DTwP atau DTaP atau DT adalah 0,5 ml, intramuscular, baik untuk

imunisasi dasar maupun ulangan. Vaksin DTP dapat diberikan secara

kombinasi dengan vaksin lain yaitu DTwP/HepB, DTaP/Hib, DTwP/ Hib,

DTaP/ IPV, DTaP/Hib/ IPV sesuai jadwal.

Diulang satu kali, antara usia 1,5-2 tahun. Diulang sekali lagi,

antara usia 10-12 tahun, diulang sekali, tapi hanya DT.Pertusis:

berkurangnya imunitas setelah vaksinasi pertusis masa anak adalah alasan

nyata untuk terus berlangsungnya penyakit ini. Mayoritas perawatan

terkait pertusis dan komplikasi serius terjadi pada bayi. Seperlima kasus

yang dilaporkan terjadi pada bayi yang berusia CC kurang dari 6 bulan,

terlalu muda untuk divaksinasi penuh. Sebagian besar kasus pertusis yang

dilaporkan pada bayi yang kurang dari 12 bulan, yang menderita angka

kematian kasus 0,6% harus dirawat di rumah sakit.

Komplikasi pertusis adalah pneumonia, penyebab utama kematian

dan kejang. Ensefalopati, akibat hipoksia atau perdarahan serebral kecil

terjadi pada kira-kira 1% kasus, bersifat fatal pada sekitar sepertiga dari

 
 
22
 

yang terkena, dan menyebabkan kerusakan otak permanen pada sepertiga

lainnya. Pertusis sangat menular : 70%-100% kontak rumah tangga yang

rentan dan 50%-80% kontak sekolah yang rentan menjadi terinfeksi

setelah terpajan. Masa inkubasi biasanya 7-10 hari. Masa penularan

berlangsung sejak 1 minggu setelah pajanan sampai 3 minggu setelah

awitan gejala. Penularan oleh droplet pernapasan atau kadang-kadang

melalui kontak dengan benda yang baru tercemar. Dewasa dan remaja

adalah sumber utama infeksi pertusis untuk bayi muda.

d. Polio

Imunisasi polio merupakan imunisasi yang digunakan untuk

mencegah terjadinya penyakit poliomyelitis yang dapat menyebabkan

kelumpuhan pada anak (Hidayat, 2008). Efek samping dari vaksinasi ini

sebagian kecil resipien dapat mengalami gejala pusing, diare ringan, dan

nyeri otot (IDAI, 2008). Vaksin polio pemberian diberikan empat kali, saat

usia 0,2,4,6 bulan. Untuk imunisasi dasar (polio-2,3,4) diberikan pada

umur 2,4, dan 6 bulan, interval antara dua imunisasi tidak kurang dari 4

minggu. Diulang sekali, antara usia 1,5-2 tahun. Diulang sekali lagi saat

usia 5 tahun. OPV diberikan 2 tetes per-oral. IPV dalam kemasan 0,5 ml,

intramuscular. Vaksin IPV dapat diberikan tersendiri atau dalam kemasan

kombinasi (DTaP/IPV, DTaP/Hib/IPV).

e. Campak

Imunisasi yang diberikan untuk menimbulkan kekebalan aktif

terhadap penyakit campak karena penyakit ini sangat menular. Campak

dapat menyebabkan morbiditas berat, akut mematikan, atau menyebabakan

 
 
23
 

ensefalopati fatal lambat (panensefalitis sklerosing subakut) pada remaja.

Pemberian vaksin campak diberikan satu kali, saat usia 9 bulan. Di

samping imunisasi 9 bulan, diberikan juga imunisasi kesempatan kedua

(second opportunity pada crash program campak) pada umur 6-59 bulan

dan SD kelas 1-6. Crash program campak ini telah dilakukan secara

bertahap (5 tahap) di semua provinsi pada tahun 2006 dan 2007.

Efek samping dari vaksin ini berupa nyeri, iritasi, dan kemerahan

pada tempat suntikan sering terjadi tetapi ringan. Reaksi terhadap vaksin

campak adalah demam (biasanya < 38,8% ˚C ) di antara hari ke-7 dan 12,

ruam sementara di antara hari ke-5 dan 20, atau trombositopenia sementara

(1 dalam 25.000-2 juta dosis) (Jeannette, 2015). Efek samping yang lebih

berat, seperti ensefalitis, sangat jarang terjadi, kurang dari 1 setiap 1-3 juta

dosis yang diberikan. SSPE (Subacute sclerosing panencephalitis) tidak

pernah ditemukan lagi di negara-negara yang telah melaksanakan program

imunisasi campak dengan efektif sehingga kecil sekali kemungkinan

vaksin mengakibatkan SSPE (Gold,2000).

6. Definisi Kelengkapan Imunisasi Dasar

Pengertian Kelengkapan imunisasi dasar adalah kelengkapan

dalam arti kamus besar bahasa Indonesia merupakan segala yang sudah

dilengkapkan, sedangkan imunisasi dasar adalah usaha memberikan kekebalan

pada bayi dan anak dengan memasukkan vaksin BCG, Hepatitis, Polio, DPT,

dan campak ke dalam tubuh agar tubuh membuat zat anti untuk mencegah

terhadap penyakit tertentu(Hidayat, 2005). Imunisasi dasar lengkap adalah

 
 
24
 

pemberian imunisasi BCG 1x, Hepatits B 3x, DPT 3X, Polio 4x, campak 1x

sebelum bayi berusia 1 tahun (Ranuh, 2008).

7. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kelengkapan Imunisasi

Beberapa teori yang mengungkap determinan perilaku dari analisis

faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku, khususnya perilaku yang

berhubungan dengan perilaku kesehatan, antara lain:

a. Teori Lawrence Green (1980), yang menyatakan bahwa perilaku seseorang

ditentukan oleh tiga faktor, yaitu:

1) Faktor Predisposisi (Presdiposing Factors)

Faktor-faktor ini yang mempermudah atau mempredisposisi terjadinya

perilaku seseorang, antara lain pengetahuan, sikap, keyakinan,

kepercayaan, nilai-nilai, tradisi, dan sebagainya .

2) Faktor Pemungkin (Enabling Factors)

Faktor pemungkin atau pendukung (enabling) adalah faktor-faktor yang

memungkinkan atau yang memfasilitasi perilaku atau tindakan. Faktor

pemungkin adalah sarana dan prasarana atas fasilitas untuk terjadinya

perilaku kesehatan, misalnya Puskesmas, Posyandu, rumah sakit,

kelengkapan alatimunisasi dan sebagainya (Notoatmodjo, 2005).

3) Faktor Pendorong (Reinforcing Factors)

Faktor ini meliputi faktor-faktor yang mendorong atau memperkuat

terjadinya perilaku. Kadang-kadang meskipun seseorang tahu dan

mampu untuk berperilaku sehat, tetapi tidak melakukannya. sikap dan

perilaku para petugas termasukpetugas kesehatan (Notoatmodjo, 2005).

Menurut Lawrence W. Green, ketersediaan dan keterjangkauan

 
 
25
 

sumberdaya kesehatan termasuk tenaga kesehatan yang ada dan mudah

dijangkau merupakan salah satu faktor yang memberi kontribusi terhadap

perilaku sehatdalam mendapatkan pelayanan kesehatan.

Secara sistematis, perilaku menurut Green ini dapat digambarkan

sebagai berikat:

B = F (Pf , EG er, Rf)

B = Behavior

F = Fungsi

Pf = Predisposisi factor

Ef = Enabling factors

Rf:= Reinforcing

C. Penelitian Terkait

1. Penelitian terkait yang dilakukan oleh Alberthina,dkk pada tahun 2008

dengan judul Kelengkapan Imunisasi Dasar Anak Balita dan Faktor-Faktor

yang Berhubungan di Poliklinik Anak Beberapa Rumah Sakit di Jakarta dan

Sekitarnya pada Bulan Maret 2008. Penelitian ini menggunakan potong

lintang. Sample dalam penelitian ini adalah orangtua dari anak usia 1-5 tahun

yang berkunjung ke poliklinik anak RS. Dr. Cipto Mangunkusumo, RS.

Fatmawati, RS. Tarakan, dan RS. Mary Cileungsi Hijau Bogor. Sample

dihitung berdasarkan rumus survey variabel tunggal. Teknik pengambilan

sample dengan cara consecutive sampling. Didapatkan kelengkapan

imunisasi dasar 61%. Ketidaklengkapan imunisasi umumnya disebabkan

orangtua tidak tahu jadwal imunisasi (34,8%) dan anak sakit (28,43%).

 
 
26
 

Terdapat hubungan antara pengetahuan orangtua dengan kelengkapan

imunisasi. Tidak terdapat hubungan antara pendidikan orangtua, pendapatan

keluarga, serta sikap orangtua dengan kelengkapan imunisasi.

2. Penelitian terkait yang dilakukan oleh Endah Prasetya Ningrum dan Sulastri

yang berjudul Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kelengkapan Imunisasi

Dasar pada Bayi di Puskesmas Banyudono Kabupaten Boyolali. penelitian ini

menggunakan. Penelitian ini termasuk jenis penelitian metode observasi

analitik dengan transversal potong pendekatan studi atau Cross Sectional.

Populasi dari penelitian ini adalah ibu yang memiliki anak berusia 1 tahun

dan bertempat tinggal di wilayah Puskesmas Banyudono dari Kabupaten

Boyolali 2005 dihitung 491 bayi. Teknik sampel yang diambil adalah Teknik

pengambilan sampel dengan cluster random. Teknik analisis yang digunakan

dengan double linear regresi. Pada penelitian ini didapatkan bahwa

pengetahuan ibu mempunyai pengaruh positif terhadap kelengkapan

imunisasi dasar dengan nilai 0,002. Hasil penelitian tersebut menunjukkan

bahwa tingkat pendidikan ibu berpengaruh secara bermakna dengan

pengetahuan ibu mengenai imunisasi bayi, sehingga semakin tinggi tingkat

pendidikan ibu, semakin baik pengetahuannya tentang imunisasi. Tingkat

pendidikan ibu mempunyai pengaruh positif terhadap kelengkapan imunisasi

dasar.

 
 
27 
 

Faktor-faktor yang
D. Kerangka Teori mempengaruhi
pengetahuan:
1. Pendidikan
Predisposing Factors : 2. Pekerjaan
3. Usia
- Pengetahuan 4. Penghasilan
- Sikap 5. Sosial Budaya
6. Fasilitas 
- Keyakinan /nilai-nilai 7. Pengalaman

Enabling Factors: 
Perilaku Sehat
- Fasilitas Kesehatan 

Reinforcing Factors:
- Petugas Kesehatan

Kelengkapan Imunisasi Dasar

- Hepatits B
- BCG
- DPT
- Polio
- Campak

Sumber: Notoatmodjo, 2007 , Teori Lawrence Green, 2000, Ranuh,2008 


 
 
 
 
 

BAB III

KERANGKA KONSEP, DEFINISI OPERASIONAL, DAN HIPOTESIS

A. Kerangka Konsep

Dalam penelitian ini, variabel bebas (independen) yang ingin diketahui

yakni pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar, sedangkan variabel terikat

(dependen) yang akan diteliti yaitu kelengkapan imunisasi dasar.

Variabel pengetahuan merupakan variabel yang sangat mempengaruhi

kelengkapan imunisasi yang dilakukan oleh ibu. Pengetahuan merupakan domain

dari perilaku (Notoadmodjo, 2007). Hal ini perlu diketahui dan diteliti dengan

baik sehingga ibu dapat melakukan imunisasi dasar secara lengkap. Faktor

fasilitas kesehatan dan faktor petugas kesehatan merupakan faktor yang dapat

disamakan karena responden berada di wilayah kerja Puskesmas yang sama yaitu

Puskesmas Pisangan. Adapun faktor-faktor yang sulit dikendalikan dalam

kelengkapan imunisasi dasar yaitu sikap dan keyakinan atau nilai- nilai. Di bawah

ini dijelaskan mengenai kerangka konsep yang akan dilakukan peneliti di Wilayah

Kerja Puskesmas Pisangan Tangerang Selatan.

Bagian 3.1. Kerangka konsep penelitian tentang hubungan pengetahuan

ibu tentang imunisasi dasar terhadap kelengkapan imunisasi dasar di wilayah kerja

Puskesmas Pisangan

Pengetahuan ibu tentang imunisasi Kelengkapan


dasar: imunisaasi dasar
- Hepatitis B
Pengertian imunisasi - BCG
Manfaat imunisasi - Polio
Jenis-Jenis Imunisasi - DTP
Waktu Pemberian - Campak
Cara pemberian
Efek samping

28
 
29
 

B. Definisi Operasional

Tabel 3. 1 Definisi Operasional

No. Variabel Definisi Operasional Cara ukur Alat ukur Hasil ukur Skala ukur
1. Usia Ibu Umur individu yang Ceklist Kuisioner a. Masa akhir remaja (17-25 tahun) Nominal
terhitung mulai saat b. Masa dewasa awal (26-35 tahun)
dilahirkan c. Masa dewasa akhir (36-45 tahun)

(Depkes RI,2009)
2. Jumlah Anak Banyaknya hitungan anak Kuisioner Kuisioner a. 0 = > 2 anak Nominal
yang dimiliki b. 1 = ≤ 2 anak

3. Pendidikan Tahap dalam pendidikan Kuisioner Kuisioner a. Tamat SD Ordinal


yang dicantumkan di b. Tamat SMP
dalam kurikulum c. Tamat SMA
(KBBI) d. Tamat Perguruan Tinggi
4. Pekerjaan Kebutuhan yang harus Kuisioner Kuisioner a. PNS (Pegawai Negeri Sipil) Ordinal
dilakukan untuk b. Pegawai Swasta
menunjang kehidupan c. Wiraswasta
d. Ibu Rumah Tangga (IRT)
(Wawan dan Dewi, 2010)

 
30
 

5. Pengetahuan Pengetahuan ibu tentang Kuisioner Kuisioner ini a. Baik= jika presentase jawaban benar 76%- Ordinal
ibu tentang imunisasi dasar adalah terdiri dari 20 100%
imunisasi dasar kemampuan ibu dalam item
memahami imunisasi pernyataan b. Cukup = jika prosentase jawaban benar
dasar meliputi pengertian 51%-75%
imunisasi, manfaat Pemberian
imunisasi, jenis-jenis skor c. Kurang = Jika presentase jawaban benar ≤
imunisasi, waktu menggunakan 50%
pemberian, cara skala
pemberian, efek samping Guttman : (Nursalam,2008)
Jawaban
benar=1
Jawaban
salah=0

(Siregar ,
2013)

6. Kelengkapan Kelengkapan imunisasi Kuesioner, Kuesioner a. Lengkap : jika imunisasi bayi telah Ordinal
imunisasi dasar dasar adalah pemberian wawancara dan buku lengkap saat usia 10 bulan (imunisasi
imunisasi BCG 1x, (observasi) KIA (Kartu campak terakhir)
Hepatits B 3x, DPT 3X, Ibu dan b. Tidak lengkap : jika salah satu imunisasi
Polio 4x, campak 1x Anak) tidak diberikan setelah usia 10 bulan.
sebelum bayi berusia 1
tahun.

(Ranuh dkk, 2008)

 
31 
 

C. Hipotesis

Berdasarkan kerangka konsep yang telah dibuat, maka hipotesis penelitian yang

muncul adalah:

H1 : Ada hubungan antara pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar

terhadap kelengkapan imunisasi dasar di wilayah kerja Puskesmas

Pisangan Kota Tangerang Selatan Tahun 2016.

H0 : Tidak ada hubungan antara pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar

terhadap kelengkapan imunisasi dasar di wilayah kerja Puskesmas

Pisangan Kota Tangerang Selatan Tahun 2016.

 
 
 
 

BAB IV

METODOLOGI PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif korelasi dengan

pendekatan cross sectional, jenis penelitian ini tujuannya untuk menemukan ada

atau tidak adanya hubungan. Penelitian cross-sectional adalah jenis penelitian

yang menekankan waktu pengukuran/observasi data variabel independen dan

dependen dinilai secara simultan pada suatu saat, jadi tidak ada tindak lanjut.

Tidak semua subjek penelitian harus diobservasi pada hari atau pada waktu yang

sama, akan tetapi baik variabel independen maupun variabel dependen dinilai

hanya satu kali saja. Dengan studi ini, akan diperoleh prevalensi atau efek suatu

fenomena (variabel dependen) dihubungkan dengan penyebab/variabel dependen

(Nursalam, 2008).

Rancangan penelitian ini untuk mengidentifikasi hubungan pengetahuan

ibu tentang kelengkapan imunisasi dasar pada bayi di wilayah kerja Puskesmas

Pisangan Tangerang Selatan. Penelitian ini dilakukan hanya pada satu periode

tertentu dan pengambilan sampel dilakukan dalam sekali waktu saja, tidak ada

pengulangan dalam pengambilan data, dimana responden hanya mendapat satu

kali kesempatan untuk menjadi responden.

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret- April 2016 di wilayah kerja

Puskesmas Pisangan Tangerang Selatan, tepatnya di kelurahan pisangan. Alasan

peneliti memilih wilayah kerja Puskesmas Pisangan tersebut sebagai lokasi

32
 
33
 

penelitian, karena letaknya terjangkau, kemudahan dalam hal birokrasi, dan belum

pernah dilakukan penelitian mengenai hubungan pengetahuan ibu balita tentang

imunisasi dasar terhadap kelengkapan imunisasi dasar di wilayah kerja Puskesmas

Pisangan Kota Tangerang Selatan.

C. Populasi dan Sampel Penelitian

1. Populasi

Populasi adalah subjek yang memenuhi kriteria yang telah

ditetapkan. Populasi dibagi menjadi dua yaitu populasi target dan populasi

terjangkau. Populasi target adalah populasi yang memenuhi kriteria sampling

dan menjadi sasaran akhir penelitian. Sedangkan populasi terjangkau adalah

populasi yang memenuhi criteria penelitian dan biasanya dapat dijangkau

oleh peneliti dari kelompoknya (Nursalam, 2008). Populasi dalam penelitian

ini adalah ibu yang mempunyai anak atau bayi usia ≥ 10 bulan- 15 bulan.

2. Sampel

Sample atau contoh adalah subunit populsi survey atau populasi

survey itu sendiri, yang oleh peneliti dipandang mewakili populasi

target.Sample adalah elemen-elemen populasi yang dipilih atau dasar

kemampuan mewakilinya. (Danim, 2003) sample terdiri dari bagian populasi

terjangkau yang dapat dipergunakan sebagai subjek penelitian melalui

sampling. Sedangkan sampling adalah proses menyeleksi porsi dari populasi

yang dapat mewakili populasi yang ada. Pengambilan sampel dalam

penelitian ini adalah dengan teknik purposive sampling yaitu pemilihan

sampel dengan pertimbangan tertentu yang dibuat oleh peneliti sendiri,

berdasarkan ciri atau sifat-sifat populasi yang sudah diketahui sebelumnya.

 
34
 

Besar sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sesuai dengan

ketentuan rumus besar sampel yang sesuai dengan rancangan penelitian yaitu

rumus sampel uji beda dua proporsi.

Keterangan :

N = jumlah sampel

Z 1-α/2 = 1,96 (derajat kemaknaan 95% CI/ Condidence Interval dengan α

sebesar 5%)

Z 1-β = 1,64 ( kekuatan uji pada 1-β=95%)

P1 = 0,5 (Proporsi pengetahuan ibu yang tinggi, (Yusnindar, 2012))

P2 = 0,111 (proporsi kelengkapan imunisasi anak yang tinggi

(Yusnindar, 2012))

P = (P1+P2)/2 = (0,5+0,111)/2 = 0,3055

1-P = 1-0,3055 = 0,6945

Maka besar sampel yang dihasilkan adalah:

 
35
 

Karena menggunakan rumus uji beda dua proporsi, maka hasil

dikali dua: 33 x 2 = 66 orang . Untuk menghindari terjadinya sampel yang

drop out dan sebagai cadangan maka peneliti menambahkan 10% dari jumlah

sampel minimal: 10% x 66 = 6,6, dibulatkan menjadi 7 orang. Jadi, total

sampel dalam penelitian ini adalah: 66+7= 73 responden.

Pada penelitian ini, semua anggota populasi yang masuk ke dalam

kriteria inklusi diberi kode berupa angka (kecuali yang sudah menjadi

responden uji validitas dan reliabilitas), kemudian peneliti melakukan

pengundian terhadap calon responden yang akan diteliti. Adapun angka yang

muncul sebagai responden adalah. Selanjutnya, peneliti melanjutkan dengan

informed consent dan pengambilan data dengan kuisioner. Waktu pengisian

kuisioner selama kurang lebih 10 menit untuk masing-masing responden,

sedangkan proses pengambilan data dilakukan selama 1 bulan, disesuaikan

dengan kondisi puskesmas dan posyandu.

Jadi, jumlah sampel keseluruhan yang diambil untuk keperluan

penelitian ini yaitu 73 responden ibu yang memiliki anak ≥ 10 bulan- 15

bulan. Pengambilan sampel menggunakan kriteria inklusi dan ekslusi sebagai

berikut:

a. Kriteria inklusi adalah kriteria atau ciri-ciri yang perlu dipenuhi oleh setiap

anggota populasi yang dapat diambil sampel. Kriteria inklusi dalam

penelitian ini yaitu:

1) Ibu yang mampu berkomunikasi dengan baik.

2) Ibu yang memiliki anak umur ≥ 10 bulan- 15 bulan.

3) Ibu yang memiliki KIA.

 
36
 

4) Ibu yang berkebangsaan Indonesia

5) Menerima fasilitas pelayanan kesehatan yang sama

6) Ibu yang memiliki pengalaman mengimunisasikan anaknya

b. Kriteria ekslusi adalah ciri-ciri anggota populasi yang tidak dapat diambil

sebagai sampel. Kriteria ekslusi dalam penelitian ini adalah ibu yang

mengalami gangguan jiwa.

D. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu

menggunakan kuisioner tentang data demografi dan kuisioner pengetahuan

menggunakan pernyataan positif dengan jawaban Benar dan pernyataan negatif

dengan jawaban Salah yang dibuat sendiri oleh peneliti berdasarkan literatur yang

ada dan dikonsultasikan kepada pembimbing.

Tabel 4.1 Pertanyaan Kuisioner

No. Pertanyaan
Bagian 1 Karakteristik responden/data demografi,
meliputi
1. Nama ibu/inisial ibu,
2. Umur ibu
3. Jumlah anak,
4. Pendidikan,
5. Pekerjaan,
Bagian 2 Pertanyaan pengetahuan
Nomor 1 Pengertian imunisasi dasar
Nomor 2 Jenis imunisasi dasar lengkap
Nomor 3 Waktu pemberian imunisasi dasar
Nomor 4 Waktu pemberian imunisasi dasar
Nomor 5 Manfaat imunisasi dasar
Nomor 6,7,8,9,10,11 Imunisasi Hepatitis B
Nomor 12,13,14,15,16,17 Imunisasi BCG
Nomor 18,19,20,21,22,23 Imunisasi DTP
Nomor 24,25,26,27,28,29 Imunisasi polio
Nomor 30,31,32,33,34,35 Imunisasi campak

Bagian 3 Tabel Kelengkapan Imunisasi

 
37
 

Skala pengukuran pengetahuan tentang imunisasi dasar lengkap bayi usia

0-12 bulan menggunakan Skala Guttman, skala yang bersifat tegas dan konsisten

dengan memberikan jawaban yang tegas. Skala Guttman dapat dibuat dalam

bentuk pilihan ganda atau dalam bentuk check list. Pada pertanyaan kuisioner

disini dibuat dalam bentuk pilihan ganda. Skor penilaiannya jika jawaban

pertanyaan benar maka nilainya 1, sedangkan jika jawaban salah maka nilainya

0. Bagian ketiga adalah bukti kelengkapan imunisasi yaitu dengan menggunakan

Kartu Ibu dan Anak (KIA) yang dimiliki bayi.

Penilaian bagi pengetahuan dilakukan dengan cara membandingkan

jumlah skor jawaban dengan skor yang diharapkan (tertinggi) kemudian dikalikan

100% dan hasilnya berupa presentase. Selanjutnya presentase jawaban

diinterpretasikan dalam kalimat kualitatif dengan acuan sebagai berikut:

a. Baik, jika nilai responden 76-100% dari jawaban yang benar

b. Cukup, jika nilai responden 51-75% dari jawaban yang benar

c. Kurang, jikia nilai responden ≤ 50% dari jawaban yang benar

E. Uji Validitas dan Uji Reliabilitas

1. Uji Validitas

Validitas adalah suatu indeks yang menunjukkan alat ukur itu

benar-benar mengukur apa yang diukur. Suatu kuisioner dikatakan valid jika

pertanyaan pada kuisioner tersebut. Dalam hal ini digunakan beberapa item

pertanyaan yang dapat secara tepat mengungkapkan variabel yang diukur

tersebut. Uji ini dilakukan dengan menghitung korelasi antara masing-masing

skor item pertanyaan dari setiap variabel dengan total skor variabel tersebut.

 
38
 

Uji validitas menggunakan korelasi dari Product Moment Pearson. Suatu

instrument dikatakan valid atau sahih apabila korelasi tiap butiran memiliki

nilai positif dan nilai t hitung > t tabel (Hidayat, 2008).

Keterangan :

r = koefisien korelasi

n = jumlah responden

X = skor tiap item pertanyaan

Y = skor total

Pengambilan keputusan dilakukan dengan melihat hasil

perhitungan r hitung. Apabila r > r tabel, maka pertanyaan tersebut valid,

sedangkan apabila r < r tabel, maka pertanyaan tidak valid. Uji validitas ini

juga bisa dilakukan dengan pengujian validitas konstruksi dengan analisis

faktor, yaitu dengan mengkorelasikan skor item instrumen dalam suatu faktor,

dan mengkorelasikan skor faktor dengan skor total. Bila korelasi tiap faktor

tersebut positif dan besarnya 0,3 ke atas maka faktor tersebut merupakan

konstruksi yang kuat (Sugiyono, 2010).

Pada penelitian ini, uji coba instrument dilakukan pada tanggal 17-

20 Februari 2016. Uji coba dilakukan terhadap 30 orang ibu yang berada di

wilayah kerja puskesmas pisangan. Lokasi tesebut sama dengan lokasi

penelitian, sehingga responden yang telah diteliti dalam uji coba instrument

tidak termasuk responden dalam penelitian. Saat pertama kali diuji, hasil

 
39
 

korelasi tiap-tiap item pertanyaan pada dimensi pengetahuan berkisar antara

0,109 sampai 0,778. Nilai ini kemudian dibandingkan dengan r tabel pada

signifikan 5% dengan uji 2 sisi dan n = 30, yaitu sebesar 0,361. Dari uji ini,

item 15, 17, dan 24 dinyatakan tidak valid karena nilai korelasi kurang dari

0,361 sehingga item-item ini tidak bisa digunakan. Jadi, kesimpulannya item

15,17, dan 24 pada dimensi pengetahuan dikeluarkan oleh kuisioner karena

dianggap tidak valid sehingga total keseluruhan item pernyataan yang

digunakan dalam penelitian ini ada 32 pada dimensi pengetahuan.

2. Uji Reliabilitas

Setelah mengukur validitas, maka perlu mengukur reliabilitas data,

apakah alat ukur dapat digunakan atau tidak. Reliabilitas merupakan indeks

yang menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur dapat dipercaya atau

dapat diandalkan. Hal ini berarti menunjukkan sejauh mana hasil pengukuran

itu tetap konsisten bila dilakukan pengukuran dua kali atau lebih terhadap

gejala yang sama, dengan menggunakan alat ukur yang sama. Pengukuran

reliabilitas menggunakan bantuan software computer dengan rumus Alpha

Cronbach. Suatu variabel dikatakan reliable jika memberikan nilai Alpha

Cronbach > 0,60 (Hidayat, 2008).

Pada penelitian ini, reliabilitas pada dimensi pengetahuan saat

pertama kali diuji menghasilkan nilai α = 0,911 (jika sama score 0,734).

Selanjutnya, dilakukan uji reliabilitas yang kedua pada dimensi pengetahuan

tanpa menggunakan item 15, 17, dan 24 menghasilkan nilai α = 0,918 (jika

pakai score 0,726). Karena nilai Alpha Cronbach > 0,60, maka instrumen ini

dianggap reliabel, dapat dipercaya, dan dapat diandalkan.

 
40
 

F. Langkah-Langkah Pengumpulan Data

1. Setelah proposal penelitian disetujui oleh penguji, peneliti mengajukan surat

permohonan izin penelitian ke Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN

Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Peneliti menyerahkan surat permohonan izin penelitian kepada Kepala Dinas

Kesehatan Kota Tangerang Selatan dan kepala Kepala UPT Puskesmas

Pisangan.

3. Setelah surat permohonan izin penelitian disetujui oleh Kepala UPT Puskesmas

Pisangan Kota Tangerang Selatan, peneliti mengajukan permohonan izin

penelitian ke Posyandu atau lingkungan di wilayah kerja Puskesmas Pisangan

Kota Tangerang Selatan.

4. Setelah izin penelitian disetujui oleh Ibu kader atau Kepala Lingkungan,

peneliti terlebih dahulu melakukan uji validitas dan reliabilitas instrument pada

30 ibu yang berada di wilayah kerja Puskesmas Pisangan.

5. Setelah instrumen dinyatakan valid dan reliabel, peneliti menyeleksi

pertanyaan yang cocok untuk dijadikan kuisioner.

6. Dengan menggunakan teknik purposive sampling, peneliti menentukan calon

responden sesuai dengan kriteria yang diinginkan sebanyak 73 responden.

7. Setelah mendapatkan calon responden sesuai kriteria yang telah ditentukan,

peneliti melakukan informed consent terhadap calon responden. Jika calon

responden bersedia menjadi responden, mereka dapat membaca lembar

persetujuan kemudian menandatanginya.

 
41
 

8. Setelah responden menandatangani lembar persetujuan, responden selanjutnya

diberikan penjelasan mengenai cara pengisian kuisioner dan responden

dianjurkan bertanya apabila ada pertanyaan ataupun pernyataan yang kurang

jelas.

9. Waktu pengisian kuisioner selama kurang lebih 15 menit untuk masing-masing

responden, sedangkan proses pengambilan data dilakukan selama 3 minggu

disesuaikan dengana jadwal posyandu.

10. Responden diharapkan menjawab seluruh pertanyaan di dalam kuisioner,

setelah selesai lembar kuisioner dikembalikan kepada peneliti.

11. Kuisioner yang telah diisi selanjutnya diolah dan dianalisa oleh peneliti.

G. Etika Penelitian

Masalah etika dalam penelitian keperawatan merupakan masalah yang

sangat penting dalam penelitian mengingat peneliti keperawatan akan berhubungan

langsung dengan manusia, maka segi etika peneliti harus diperhatikan karena

manusia mempunyai hak asasi dalam kegiatan penelitian (Hidayat, 2008). Dalam

melakukan penelitian menekankan masalah etika penelitian yabng meliputi:

1. Lembar persetujuan (informed consent)

Lembar persetujuan ini diberikan dan dijelasakan kepada responden yang akan

diteliti yang memenuhi kriteria sampel dan disertai judul penelitian serta

manfaat penelitian dengan tujuan responden dapat mengerti maksdud dan

tujuan penelitian.

 
42
 

2. Tanpa nama (anonymity)

Untuk menjaga kerahasian identitas responden, peneliti tidak akan

mencantumkan nama responden pada lembar pengumpulan data yang diisi

responden, tetapi lembar tersebut hanya diberi kode tertentu.

3. Kerahasiaan (confidentially)

Kerahasiaan informasi responden dijamin peneliti, hanya kelompok data

tertentu yang akan dilaporkan sebagai hasil penelitian.

H. Pengolahan Data

Pengolahan data merupakan proses yang sangat penting dalam penelitian.

Oleh kareana itu, harus dilakukan dengan baik dan benar. Proses pengolah data

terisiri dari:

1. Editing

Editing adalah memerikasa data yang telah dikumpulkan baik berupa daftar

pertanyaan, kartu, atau buku register. Yang dilakukan pada kegiatan ini adalah

melakukan pemeriksaan data atau pengecekan kuisioner apakah sudah lengkap

atau belum

2. Coding

Coding adalah pemberian kode pada data dimaksudkan untuk menerjemahkan

data ke dalam kode-kode yang biasanya dalam bentuk angka. Pemberian kode

(sandi pada variabel dan data yang telah terkumpul melalui lembar instrument.

Setelah data lengkap, peneliti memberikan kode pada jawaban, untuk jawaban

pengetahuan jika benar diberikan kode 1 jika salah diberikan kode 0,

sedangkan untuk kelengkapan imunisasi kode 1 diberikan pada responden yang

 
43
 

imunisasi dasarnya lengkap, kode 0 untuk yang belum melengkapi

kelengkapan imunisasi dasar anaknya.

3. Entry

Entry adalah proses pengisian kolom-kolom atau kotak-kotak lembar kode atau

kartu sesuai dengan jawaban masing-masing pertanyaan. Salah satu paket

program yang paling sering digunakan untuk “entri data’ penelitian adalah

paket program SPSS for Windows. Peneliti memasukkan data yang telah

dikoding ke dalam software SPSS.

4. Cleaning data

Cleaning yaitu proses pengecekkan kembali data – data yang telah dimasukkan

untuk melihat ada tidaknya kesalahan, terutama kesesuaian pengkodean yang

dilakukan. Apabila terjadi kesalahan, maka data tersebut akan segera diperbaiki

sehingga sesuai dengan hasil pengumpulan data yang dilakukan

(Hidayat,2008). Cleaning merupakan proses terakhir dalam pengolahan data.

Pada proses ini peneliti melakukan pengecekan kembali data yang sudah entry

apakah terdapat kesalahan atau tidak.

I. Teknik Analisa Data

1. Analisis Univariat

Analisis ini digunakan untuk mendapatkan distribusi frekuensi dari

variabel dependen (kelengkapan imunisasi dasar) dan variabel independen

(tingkat pengetahuan ibu ) yang disajikan dalam bentuk tabel dan dilengkapi

tekstular. Analisis univariat pada penelitian ini dilakukan pada variabel

penelitian yang meliputi: 1) Karakteristik perawat yang terdiri dari usia ibu,

 
44
 

jumlah anak, pendidikan, pekerjaan, penghasilan, jarak pelayanan kesehatan; 2)

Pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar; 3) Kelengkapan imunisasi dasar.

2. Analisis Bivariat

Analisis bivariat yaitu analisis yang dilakukan terhadap dua

variabel yang diduga berhubungan atau berkorelasi (Notoatmodjo, 2005).

Dengan tujuan untuk melihat hubungan antara variabel independen dengan

dependen, yaitu hubungan pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar terhadap

kelengkapan imunisasi dasar pada anak ≥ 10 bulan – 15 bulan di wilayah

kerja kerja Puskesmas Pisangan.

Untuk membuktikan adanya hubungan antara dua variabel tersebut

digunakan uji chi square. Hasil perhitungan di atas kemudian disignifikan

dengan nilai alpha 0,05. Jika nilai p ≤ α (0,05) maka disimpulkan ada

hubungan antara pengetahuan terhadap kelengkapan imunisasi dasar anak >

10 bulan. Jika p > α (0,05) maka tidak ada hubungan antara pengetahuan

terhadap kelengkapan imunisasi dasar pada anak ≥ 10 bulan- 15 bulan

(Hastono, 2008)

 
 
 

BAB V

HASIL PENELITIAN

A. Profil Puskesmas Pisangan Tangerang Selatan

1. Latar Belakang Puskesmas Pisangan Tangerang Selatan

Puskesmas sebagai unit pelayanan kesehatan tingkat pertama dan

terdepan dalam sistem pelayanan, harus melakukan upaya kesehatan wajib

(basic six) dan beberapa upaya kesehatan pilihan yang disesuaikan dengan

kondisi, kebutuhan, tuntutan, kemampuan dan inovasi serta kebijakan

pemerintahan daerah setempat. Puskesmas dalam menyelenggarakan upaya

kesehatan yang bersifat menyeluruh dan terpadu dilaksanakan melalui upaya

peningkatan, pencegahan, penyembuhan, dan pemulihan disertai dengan

upaya penunjang yang diperlukan. Ketersediaan sumber daya baik dari segi

kualitas maupun kuantitas, sangat mempengaruhi pelayanan kesehatan

(Profil kesehatan Indonesia, 2009).

Pada saat ini di Kota Tangerang Selatan pada 2013 telah didirikan

25 Puskesmas dengan rincian jumlah Puskesmas Perawatan 21 Unit dan

Puskesmas Non Perawatan 4 Unit. Untuk menjangkau seluruh wilayah Kota

Tangerang Selatan pada tahun 2013 Ibu Walikota Hj. Airin Rachmi Diany,

SH. MH mencanangkan untuk menambahkan 2 Puskesmas baru yang

bertujuan agar seluruh warga Tangerang Selatan terlayani dalam kesehatan.

Berbagai upaya telah dilakukan dalam rangka meningkatkan

pembangunan kesehatan secara lebih berhasil dan berdaya guna dengan

pemban gunan pada seluruh program kesehatan yang dilaksanakan secara

45
 
46
 

intensif, berkesinambungan dan keterpaduan baik lintas program maupun

lintas sektoral, serta harus ditunjang oleh informasi kesehatan yang makin

mantap, oleh karena itu Walikota Tangerang Selatan membuat berbagai

kebijakan salah satunya dengan cara menggratiskan retribusi ke seluruh

puskesmas di wilayah kota Tangerang Selatan sejak tanggal 01 September

2012 dengan hanya menunjukan KTP Tangerang Selatan dan kebijakan

tersebut didukung penuh oleh kepala Dinas Kesehatan Tangerang Selatan,

H. Dadang, M. Epid.

Pada saat ini kebutuhan data dan informasi kesehatan dari hari ke

hari semakin meningkat. Masyarakat semakin peduli dengan situasi

kesehatan dan hasil pembangunan kesehatan yang telah dilakukan oleh

pemerintah terutama terhadap masalah-masalah kesehatan, sebab kesehatan

menyangkut hajat hidup masyarakat luas dan semua orang butuh untuk

sehat. Kepedulian masyarakat akan informasi kesehatan ini memberikan

nilai positif bagi pembangunan kesehatan ini sendiri. Untuk itu pihak

pengelola program harus bisa menyediakan dan memberikan data dan

informasi yang dibutuhkan masyarakat yang dikemas secara baik,

sederhana, dan informatif dan tepat waktu.

2. Gambaran Umum Puskesmas Pisangan Kota Tangerang Selatan

Puskesmas Pisangan adalah puskesmas yang ada di Kecamatan

Ciputat Timur, yang terletak di sebelah Tenggara Tangerang, dengan luas

wilayah: 1.685 Ha, dengan sebagian besar tanah darat dan sisanya rawa.

Adapun letak Puskesmas Pisangan berada dengan batas-batas sebagai

berikut sebelah barat terdapat wilayah kerja PKM Ciputat (kecamatan

 
47
 

Ciputat), sebelah timur terdapat DKI Jakarta, sebelah utara terdapat wilayah

kerja Puskesmas Jurangmangu Timur (Kec. Pondok Aren), sebelah selatan

terdapat wilayah kerja PKM Pamulang (kel. Pd Cabe Ilir). Puskesmas

Pisangan Tangerang Selatan terdiri dari Kelurahan Pisangan dan Kelurahan

Cireundeu.

3. Visi, Misi, dan Motto Puskesmas Pisangan Tangerang Selatan

a. Visi

Dengan iman dan taqwa mewujudkan masyarakat pisangan seetia,

amanah, siaga, mandiri, hidup sehat, melalui akselerasi, upaya kesehatan

guna mewujudkan Tangerang Selatan sehat 2016.

b. Misi

1) Menggerakkan serta membudayakan peran serta dan potensi di

masyarakat dalam bidang kesehatan.

2) Mengupayakan pelayanan kesehatan dasar yang bermutu, merata, dan

terjangkau.

3) Menjalin kemitraan dengan lintas program, lintas sektoral dan swasta

untuk mendukung pembangunan berwawasan kesehatan.

c. Motto

Puskesmas Pisangan Tangerang Selatan memiliki singkatan SETIA yang

berarti S adalah senyum, sapa, salam, sopan, dan santun yang menjadi

budaya, E merupakan empati kepada masyarakat. Selanjutnya, T adalah

tanggap terhadap setiap permasalahan. I adalah inovatif dalam berkarya.

A adalah aman dan nyaman dalam memberikan pelayanan kepada

masyarakat.

 
48
 

B. Hasil Analisis Univariat

Analisis univariat dilakukan untuk menganalisis variabel-variabel

karakteristik individu yang ada secara deskriptif dengan menggunakan

distribusi frekuensi dan proporsi. Analisis univariat pada penelitian ini

dilakukan pada variabel penelitian yang meliputi: karakteristik ibu yang

terdiri dari usia ibu, jumlah anak, pendidikan, pekerjaan, penghasilan, jarak

pelayanan kesehatan; pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar; dan

kelengkapan imunisasi dasar pada anak.

1. Karakteristik Ibu di Wilayah Kerja Puskesmas Pisangan Kota

Tangerang Selatan

Pada penelitian ini, karakteristik ibu yang dianalisis adalah sebagai

berikut:

a. Usia Ibu

Pengelompokkan responden berdasarkan kategori usia ibu digambarkan

pada tabel 5.1 berikut:

Tabel 5.1
Distribusi Frekuensi Responden Menurut Usia Ibu di Wilayah Kerja
Puskesmas Pisangan Kota Tangerang Selatan Maret 2016
(n=73)

Usia Ibu Frekuensi Persentase


Remaja Akhir (17-25 tahun) 9 12,3%
Dewasa Awal (26-35 tahun) 47 64,4%
Dewasa Akhir (36-45 tahun) 17 23,3%
Total 73 100,0%

Berdasarkan tabel di atas menunjukan bahwa umur responden

terbanyak pada usia dewasa awal yaitu sebanyak 47 responden

 
49
 

(64,4%) dan yang terkecil yaitu pada ibu usia remaja akhir

sebanyak 9 responden (12,3%).

b. Jumlah Anak

Tebel 5.2

Distribusi Frekuensi Responden Menurut Jumlah Anak Di Wilayah


Kerja Puskesmas Pisangan Kota Tangerang Selatan Maret 2016
(n=73)

Jumlah anak Frekuensi Persentase


≤2 54 73,9%
>2 19 26,1%
TOTAL 73 100,0%

Berdasarkan hasil dari tabel di atas, menunjukan bahwa

responden terbanyak adalah ibu yang memiliki anak ≤ 2 anak

sebanyak 54 responden (73,9%) dan yang terkecil ibu yang

memiliki anak > 2 anak sebanyak 19 responden (26,1%).

c. Pendidikan

Tebel 5.3
Distribusi Frekuensi Responden Menurut Pendidikan Di Wilayah
Kerja Puskesmas Pisangan Kota Tangerang Selatan Maret 2016
(n=73)

Pendidikan Frekuensi Persentase


SD 10 13,7%
SMP 8 11,0%
SMA 42 57,5%
Perguruan Tinggi 13 17,8%
Total 73 100,0%

Berdasarkan hasil penelitian ini, menunjukan bahwa

pendidikan responden yang terbanyak pada responden lulusan

 
50
 

SMA sebanyak 42 responden (57,5%) dan yang terkecil lulusan

SMP sebanyak 8 responden (11,0%).

d. Pekerjaan

Tebel 5.4
Distribusi Frekuensi Responden Menurut Pekerjaan Di Wilayah
Kerja Puskesmas Pisangan Kota Tangerang Selatan Maret 2016
(n=73)

Pekerjaan Frekuensi Persentase


PNS 1 1,4%
Karyawan Swasta 8 11,0%
Wiraswasta 1 1,4%
Ibu Rumah Tangga 63 86,3%
Total 73 100,0%

Berdasarkan dari hasil penelitian ini, menunjukan bahwa

pekerjaan responden terbanyak adalah ibu rumah tangga sebanyak

63 responden (86,3%) dan yang terkecil dengan pekerjaan

responden PNS dan wiraswasta sebanyak 1 (1,4%).

2. Pengetahuan Ibu tentang Imunisasi Dasar di Wilayah Kerja

Puskesmas Pisangan Kota Tangerang Selatan

Pengelompokan responden berdasarkan kategori pengetahuan bisa

dilihat pada tabel 5.5 berikut ini:

Tabel 5.5
Distribusi Frekuensi Responden Menurut Pengetahuan di Wilayah
Kerja Puskesmas Pisangan Kota Tangerang Selatan Maret 2016
(n=73)
Pengetahuan Frekuensi Persentase
Baik 21 28,8%
Cukup 38 52,1% ini, 14 di antaranya berpen
Dari seluruh ibu yang menjadi responden dalam penelitian
Kurang 14 19,2%
Total 73 100,0%

 
51
 

Dari seluruh ibu yang menjadi responden dalam penelitian

ini, 14 di antaranya berpengetahuan baik (28,8%), 38

berpengetahuan cukup (52,1%), dan 14 dinyatakan berpengetahuan

buruk (19,2%). Tabel di atas dapat disimpulkan bahwa sebagian

besar responden memiliki pengetahuan cukup tentang imunisasi

dasar lengkap, yaitu 52,1%.

3. Kelengkapan Imunisasi Dasar di Wilayah Kerja Puskesmas Pisangan

Kota Tangerang Selatan Tahun 2016.

Kelengkapan imunisasi dasar dikategorikan menjadi 2, yaitu

lengkap dan tidak lengkap. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa

sebagian besar responden masuk dalam kategori lengkap dalam melakukan

kelengkapan imunisasi dasar, yakni sebesar 52 responden (71,2%),

sedangkan yang masuk dalam kategori tidak lengkap sebesar 21 responden

(28,8%). Hal ini bisa dilihat pada tabel 5.6 berikut ini:

Tabel 5.6
Distribusi Frekuensi Responden Menurut Kelengkapan Imunisasi
Dasar di Wilayah Kerja Puskesmas Pisangan Kota Tangerang
Selatan Maret 2016
(n=73)

Kelengkapan Imunisasi Frekuensi Persentase


Lengkap 54 74%
Tidak Lengkap 19 26%
Total 73 100,0%

 
52
 

C. Hasil Analisis Bivariat

Analisis bivariat dilakukan untuk menganalisis data dari dua

variabel yang berbeda. Analisis bivariat pada penelitian ini bertujuan untuk

mengetahui hubungan antara pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar di

wilayah Puskesmas Pisangan Kota Tangerang Selatan. Teknik analisis

dilakukan dengan uji korelasi chi square.

1. Hubungan antara Pengetahuan Ibu tentang Imunisasi Dasar dan

Kelengkapan Imunisasi Dasar di Wilayah Kerja Puskesmas Pisangan

Kota Tangerang Selatan

Tabel 5.7
Korelasi Berdasarkan Tingkat Pengetahuan Terhadap Kelengkapan
Imunusasi Dasar di Wilayah Kerja Puskesmas Pisangan Kota
Tangerang Selatan Maret 2016
(n=73)

Kelengkapan Imunisasi Dasar Total Pvalue


Pengetahuan Lengkap Tidak lengkap
N % N % N %
Baik 15 71,4 6 28,6 21 100,0 0,042
Cukup 32 84,2 6 15,8 38 100,0
Kurang 7 50 7 50 14 100,0

Total 54 19 73 100,0%

Dari tabel 5.7 di atsa, hasil uji statistik didapatkan nilai p value
= 0,042. Hal tersebut menunjukan ada hubungan antara variabel
pengetahuan dengan variabel kelengkapan imunisasi dasar (p < 0,05).

 
 
 

BAB VI

PEMBAHASAN

Pembahasan pada penelitian ini difokuskan pada pembahasan tentang

karakteristik ibu, pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar, kelengkapan imunisasi

dasar, serta hubungan antara pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar terhadap

kelengkapan imunissasi dasar di wilayah kerja Puskesmas Pisangan Kota

Tangerang Selatan. Pada akhir pembahasan ini, peneliti juga menyertakan

keterbatasan dari penelitian ini.

A. Analisis Univariat

1. Gambaran Karakteristik Ibu di wilayah kerja Puskesmas Pisangan

Kota Tangerang Selatan

a. Usia ibu

Usia merupakan salah satu faktor yang cukup dominan

terhadap pengetahuan. Begitu juga halnya dengan yang dikatakan

Siagian (2002) bahwa semakin meningkatnya usia seseorang maka

kedewasaan teknis dan psikologisnya semakin meningkat. Ia akan

semakin mampu mengambil keputusan, semakin bijaksana, semakin

mampu berpikir secara rasional, mengendalikan emosi, dan toleran

terhadap pendapat orang lain.

Hasil statistik pada penelitian ini menunjukan bahwa usia

responden terbanyak adalah pada usia dewasa awal (26-35 tahun)

yaitu sebanyak 47 responden (64,4%). Usia dewasa merupakan masa

53
 
54
 

dimana seseorang dianggap telah matur, baik secara fisiologis,

psikologis, dan kognitif (Perry & Potter, 2005).

Secara kognitif, kebiasaan berpikir rasional meningkat pada

usia dewasa awal dan tengah (Potter & Perry, 2005). Notoadmodjo

(2005) menyatakan bahwa usia akan mempengaruhi terhadap daya

tangkap dan pola pikir seseorang, semakin bertambah usia akan

semakin berkembang pula daya tangkap dan pola pikirnya sehingga

pengetahuan yang diperolehnya semakin membaik. Hurlock (2007)

juga menyatakan bahwa umur seseorang dapat mempengaruhi

pengetahuan, semakin lanjut umur seseorang maka kemungkinan

semakin meningkat pengetahuan dan pengalaman yang dimilikinya.

b. Jumlah anak

Jumlah anak sebagai salah satu aspek demografi yang akan

berpengaruh pada partisipasi masyarakat. Hal ini dapat terjadi karena

seorang ibu mempunyai anak lebih dari satu biasanya ibu semakin

berpengalaman dan sering memperoleh informasi tentang imunisasi,

sehingga anaknya akan diimunisasi (Handayani, 2008).

Berdasarkan hasil penelitian ini, menunjukan bahwa

responden terbanyak adalah ibu yang memiliki anak ≤ 2 anak

sebanyak 54 responden (73,9%) dan yang terkecil ibu yang memiliki

anak > 2 anak sebanyak 19 responden (26,1%). Rata- rata ibu yang

memiliki anak lebih dari satu (multipara) sudah memiliki pengalaman

yang lebih dari pada ibu yang baru memiliki anak satu (primipara).

Hal ini dikarenakan pengalaman yang diperoleh dari imunisasi anak

 
55
 

ysng sebelumnya sehingga ibu lebih mengetahui pentingnya

kelengkapan imunisasi.

c. Pendidikan

Pendidikan adalah proses seseorang mengembangkan

kemampuan, sikap, dan bentuk-bentuk tingkah laku manusia di dalam

masyarakat tempat ia hidup, proses sosial, yakni orang dihadapkan

pada pengaruh lingkungan yang terpilih dan terkontrol (khususnya

yang datang dari sekolah), sehingga dia dapat memperoleh atau

mengalami perkembangan kemampuan sosial, dan kemampuan

individu yang optimal (Munib dkk, 2006).

Hasil penelitian ini menunjukan bahwa terdapat 42

responden yang berlatar belakang SMA sebanyak 57,2%. Namun,

ilmu pengetahuan tidak hanya diperoleh dari pendidikan formal.

Adanya kemudahan dalam mendapatkan informasi dari berbagai

sumber melalui media promosi kesehatan baik dari media massa

cetak, media elektronik, dan juga petugas kesehatan. Majunya

teknologi akan tersedia bermacam-macam media massa yang dapat

mempengaruhi pengetahuan masyarakat tentang inovasi baru. Sebagai

sarana komunikasi berbagai bentuk media massa seperti radio,

televisi, surat kabar, majalah yang mempunyai pengaruh besar

terhadap pembentukan opini dan kepercayaan semua orang. Dalam

penyampaian informasi sebagai tugas pokoknya, media massa

membawa pula pesan-pesan yang berisi sugesti yang dapat

mengarahkan opini seseorang. (Erfandi, 2009)

 
56
 

d. Pekerjaan

Pekerjaan merupakan suatu kegiatan atau aktivitas

seseorang untuk memperoleh penghasilan guna memenuhi kebutuhan

hidupnya sehari-hari. Pekerjaan merupakan faktor yang

mempengaruhi pengetahuan. Ditinjau dari jenis pekerjaan yang sering

berinteraksi dengan orang lain lebih banyak pengetahuannya bila

dibandingkan dengan orang tanpa ada interaksi dengan orang lain.

Hasil pada penelitian ini menunjukan bahwa terdapat 63

responden yang pekerjaannya sebagai ibu rumah tangga yaitu

sebanyak 86,3%. Suatu pekerjaan tidak mempengaruhi pengetahuan

dari ibu. Hal ini dapat dilihat dari hasil penelitian ini yang

menunjukkan justru sebagian ibu yang berprofesi sebagai ibu rumah

tangga memiliki pengetahuan yang baik dibandingkan ibu yang

bekerja. Hal ini dikarenakan banyak ibu yang di rumah dilakukan

pemantauan oleh petugas kesehatan saat adanya imunisasi.

2. Gambaran pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar di wilayah kerja

Puskesmas Pisangan Kota Tangerang Selatan

Pengetahuan adalah hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang

melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Perilaku yang

didasari pengetahuan akan lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak

didasari oleh pengetahuan hal itu berdasarkan pengalaman dan penelitian

(Notoatmodjo, 2003). Pengetahuan responden yang baik ditunjukkan

dengan kemampuan responden menjawab dengan benar pertanyaan yang

 
57
 

berkaitan dengan pengetahuan imunisasi dasar. Pengetahuan ibu dijadikan

dasar untuk berperilaku yaitu dalam memberikan imunisasi kepada

bayinya.

Pengetahuan ibu diperoleh dari pendidikan, pengamatan ataupun

informasi yang didapat seseorang, dengan adanya pengetahuan seseorang

dapat melakukan perubahan-perubahan sehingga tingkah laku dari

seseorang dapat berkembang (Rini, 2009 dalam Adzaniyah 2014). Dari

hasil penelitian ini didapatkan bahwa sebagian besar ibu memiliki

pengetahuan cukup yaitu sebanyak 38 responden (52,1%), ibu yang

memiliki pengetahuan baik sebanyak 21 (28,8%), dan ibu yang memiliki

pengetahuan kurang baik/buruk sebanyak 14 responden (19,2%).

Ibu yang tinggal di wilayah kerja Puskesmas Pisangan Kota

Tangerang Selatan masih ada yang yang memiliki tingkat pengetahuan

kurang baik/buruk mengenai imunisasi karena peneliti menganalisis bahwa

tingkat pengetahuan ibu yang memiliki bayi usia 10-15 bulan di

Puskesmas Pisangan Kota Tangerang Selatan dipengaruhi oleh kurangnya

sumber informasi di lingkungan masyarakat dan partisipasi dari petugas

kesehatan atau kader posyandu harus lebih banyak melakukan pemantauan

sehingga warga ingin melakukan imunisasi terhadap anaknya. Dari segi

pendidikan terakhir ibu, sebagian yang merupakan lulusan SMA yaitu

lulusan sekolah menengah atas. Pengalaman juga merupakan suatu

kejadian yang pernah dialami oleh individu baik dari dalam dirinya

maupun dari lingkungannya. Pengalaman yang nantinya akan melekat

menjadi pengetahuan pada individu secara subjektif sehingga semakin

 
58
 

banyak pengalaman tentunya pengetahuan yang didapat juga semakin

banyak. Dari segi informasi, kemudahan dalam mendapatkan informasi

dari berbagai sumber melalui media promosi kesehatan atau internet juga

dapat meningkatkan pengetahuan.

3. Gambaran kelengkapan imunisasi pada bayi usia 10-15 bulan di

wilayah kerja Puskesmas Pisangan Kota Tangerang Selatan

Tahun 2016

Imunisasi merupakan usaha memberikan kekebalan pada bayi dan

anak dengan memasukkan vaksin ke dalam tubuh agar tubuh membuat zat

anti untuk mencegah terhadap penyakit tertentu (Hidayat,2009). Tujuan

dari imunisasi ini adalah untuk zat kekebalan tubuh balita terbentuk

sehingga resiko untuk mengalami penyakit yang bersangkutan lebih kecil

dan diharapkan anak menjadi kebal terhadap penyakit sehingga dapat

menurunkan angka mordibitas dan mortalitas serta dapat mengurangi

kecacatan akibat penyakit tertentu (Hidayat,2008). Di Indonesia, Imunisasi

Dasar Lengkap (IDL) mencapai 86,8%,dan perlu ditingkatkan hingga

mencapai target 93% di tahun 2019. Universal Child Immunization (UCI)

desa yang kini mencapai 82,9% perlu ditingkatkan hingga mencapai 92%

di tahun 2019 (Depkes,2015).

Macam-macam imunisasi itu ada dua macam, diantaranya adalah

imunisasi aktif dan pasif. Menurut Yusrianto (2010), imunisasi aktif

adalah pemberian kuman atau racun kuman yang sudah dilemahkan atau

dimatikan dengan tujuan untuk merangsang tubuh memproduksi antibodi

 
59
 

sendiri. Contohnya adalah imunisasi polio dan campak. Sedangkan

imunisasi pasif adlah penyuntikan sejumlah antibodi sehingga kadar

antibodi dalam tubuh meningkat. Contohnya pada penyuntikan ATS (Anti

Tetanus Serum) pada orang yang mengalami luka kecelakaan. Contoh lain

adalah yang terdapat pada bayi yang baru lahir di mana bayi tersebut

menerima berbagai jenis antibody dari ibunya melalui darah plasenta

selama masa kehamilan, misalnya antibodi terhadap campak.

Dalam arti kamus besar bahasa Indonesia (2015), kelengkapan

merupakan sesuatu yang sudah lengkap, sedangkan imunisasi dasar adalah

usaha memberikan kekebalan pada bayi dan anak dengan memasukkan

vaksin BCG, Hepatitis, Polio, DPT, dan campak ke dalam tubuh agar

tubuh membuat zat anti untuk mencegah terhadap penyakit tertentu

(Hidayat, 2005). Imunisasi dasar lengkap adalah pemberian imunisasi

BCG 1x, Hepatits B 3x, DPT 3X, Polio 4x, campak 1x sebelum bayi

berusia 1 tahun (Ranuh, 2008).

Perilaku yang diteliti dalam penelitian ini adalah, perilaku ibu

yang mengimunisasikan anaknya ke pelayanan kesehatan yang berada di

wilayah kerja Puskesmas Pisangan. Peneliti hanya mengobservasi

kelengkapan imunisasi dasar anak melalui buku KIA (Kartu Ibu dan Anak)

yang dimiliki responden.

Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa sebagian besar

responden mengimunisasikan anaknya secara lengkap, yaitu sebesar 54

responden (74%) untuk imunisasi dasar yang lengkap dan 19 responden

(26%) yang imunisasi anaknya tidak lengkap.

 
60
 

Sebagian besar responden dalam penelitian ini melakukan

imunisasi anaknya secara lengkap dengan cukup baik. Hal ini dapat

disebabkan adanya pengetahuan yang cukup tentang imunisasi dasar serta

keaktifan kader dalam mempromosikan kesehatan kepada lingkungannya,

sehingga ada kemampuan untuk mengimunisasi dasar anaknya secara

lengkap. Kelengkapan imunisasi juga dipengaruhi oleh pencatatan di buku

KIA oleh petugas kesehatan untuk menandakan bahwa anak tersebut sudah

melakukan imunisasi secara lengkap (Prayogo, 2009). Kelengkapan

imunisasi dalam pembentukannya merupakan suatu perilaku yang

mempunyai nilai sangat penting karena pengetahuan yang tinggi tidak

akan berarti jika tidak diimbangi dengan pelaksanaan yang baik.

Penelitian yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Pisangan

Tangerang Selatan menunjukan bahwa masih ada 26% responden yang

masuk dalam ketegori tidak lengkap imunisasinya. Sebagian responden

tidak mengimunisasikan anaknya pada imunisasi campak, adapun faktor-

faktor yang menyebabkan ibu tidak melengkapi kelengkapan imunisasi

anaknya, di antaranya: kurangnya pengetahuan ibu tentang imunisasi

dasar, keyakinan yang dimiliki ibu untuk melaksanakan imunisasi dasar

lengkap pada anak, sosial budaya dari masyarakatnya, dan lingkungan

yang tidak mendukung agar terciptanya lingkungan yang sadar akan

kesehatan.

Selain itu berdasarkan target dari kelengkapan imunisasi dasar di

Puskesmas Pisangan Kota Tangerang Selatan pada tahun 2015 sebesar,

HB0-7 hari (90,1%) dengan pencapaian 90%, BCG (95,3%) dengan

 
61
 

pencapaian 95%, DPT-HB 1 (96,8%) dengan pencapaian 95%, DPT-HB 2

(95,1%) dengan pencapaian 95%, DPT-HB 3 (93,0%) dengan pencapaian

93%, POLIO 1 (95,3%) dengan pencapaian 95%, POLIO 2 (96,8%)

dengan pencapaian 95%, POLIO 3 (95,1%) dengan pencapaian 93%,

POLIO 4 (93,0%) dengan pencapaian 93%, campak (93,4%) dengan

pencapaian 93%.

B. Analisis Bivariat

1. Hubungan antara Pengetahuan Ibu tentang Imunisasi Dasar

Terhadap Kelengkapan Imunisasi Dasar di Wilayah Kerja Puskesmas

Pisangan Kota Tangerang Selatan

Hasil analisis hubungan antara tingkat pengetahuan dengan

kelengkapan imunisasi dasar pada bayi usia 10 bulan -15 bulan dapat

dijelaskan bahwa dari 14 ibu yang memiliki pengetahaun kurang

baik/buruk yang tidak memberikan imunisasi dasar secara lengkap

sebanyak 7 orang ibu (50%) dan sebanyak 7 orang ibu (50%) juga yang

mengimunisasikan anaknya secara lengkap. Hasil uji statistik diperoleh (p

value = 0,042) dengan tingkat keperacayaan 95% maka dapat

disimpulkan ada hubungan antara tingkat pengetahuan terhadap

kelengkapan imunisasi dasar.

Hasil ini sesuai dengan hasil penelitian dari Albertina (2009)

dengan judul kelengkapan imunisasi dasar anak balita dan faktor-faktor

yang berhubungan di Poliklinik anak beberapa rumah sakit di Jakarta dan

sekitarnya yang menunjukkan bahwa pengetahuan orang tua 86% dan

 
62
 

kelengkapan 61%, selanjutnya hasil penelitian yang sesuai dengan hasil

peneliti adalah penelitian dari Paridawati (2012) dengan judul faktor yang

berhubungan dengan tindakan ibu dalam pemberian imunisasi dasar pada

bayi di wilayah kerja puskesmas bajeng kecamatan bajeng kabupaten

gowa yang menunjukkan bahwa responden yang memiliki pengetahuan

cukup dan melakukan tindakan pemberian imunisasi dasar (83,6%),

sedangkan yang pengetahuannya kurang (60.0%) yang melakukan

tindakan pemberian imunisasi dasar. Penelitian lain juga dari Hijani

(2014), Afrikayanti (2012), Prasetya (2008) yang menunjukan bahwa ada

hubungan pengetahuan ibu terhadap kelengkapan imunisasi dasar. Hasil

penelitian ini berbeda dengan hasil penelitian Prayogo (2009), Astrianzah

(2011) yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara pengetahuan

terhadap kelengkapan imunisasi dasar.

Kelengkapan imunisasi dasar akan timbul dengan adanya

kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu yaitu pengetahuan tentang

imunisasi dasar. Menurut Rogers dalam Notoadmodjo (2003), suatu

perilaku yang didasarkan oleh pengetahuan akan lebih lama daripada

perilaku yang tidak didasarkan pada pengetahuan. Menurut Bloom, bahwa

terbentuknya suatu perilaku baru, dimulai pada domain kognitif, dalam arti

subjek tahu terlebih dahulu terhadap stimulus yang berupa materi atau

objek, sehingga menimbulkan pengetahuan baru pada subjek tersebut dan

selanjutnya menimbulkan respons batin dalam bentuk sikap subjek

terhadap objek yang diketahui dan disadari sepenuhnya tersebut akan

 
63
 

menimbulkan respon lebih jauh lagi yaitu berupa tindakan (action)

sehubungan dengan stimulus yang telah diketahui.

Peneliti menganalisis bahwa pengetahuan tidak selalu didapat dari

tingginya tingkat pendidikan, karena pengetahuan juga dapat diperoleh

dari media massa, pengalaman pribadi maupun pengalaman orang lain,

dan juga partipsipasi dari petugas kesehatan (pelayanan kesehatan dan

kader posyandu).

Untuk itu peneliti menyarankan Puskesmas Pisangan lebih

meningkatkan lagi upaya peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai

imunisasi dengan cara meningkatan penyuluhan-penyuluhan berupa

pendidikan kesehatan tentang pentingnya kelengkapan imunisasi dalam

kegiatan puskesmas dan posyandu yang berada di wilayah kerja

Puskesmas Pisangan.

C. Keterbatasan Penelitian

Peneliti menyadari adanya keterbatasan dalam pelaksanaan

penelitian ini. Keterbatasan penelitian tersebut antara lain adalah sebagai

berikut:

1. Penelitian ini menggunakan cross-sectional sehingga tidak bisa bisa

memberikan penjelasan hubungan sebab akibat, tetapi hubungan yang

didapatkan dari penelitian ini hanya menunjukan adanya keterkaitan saja,

dan hanya mengkaji variabel independen dan variabel dependen secara

bersama pada saat berlangsungnya penelitian.

 
64
 

2. Instrument yang digunakan kuisioner dengan bentuk tertutup, yaitu

kuisioner yang sudah disediakan alternatif jawabannya sehingga

responden dapat memilih jawaban dengan bebas. Sedangkan kualitas

jawaban kuisioner tergantung dari kejujuran responden dalam menjawab

setiap pertanyaan dan pernyataan sehingga bisa saja terdapat bias karena

responden menjawab sesuia dengan keinginan responden tersebut.

3. Waktu dalam pengisian kuisioner juga tidak efisiensi dikarenakan

responden terkadang sibuk dengan aktivitasnya sehingga menjawab

pertanyaannya menjadi lebih cepat sehingga kemungkinan terdapat bias

dalam pengisian kuisioner.

4. Adanya kemungkinan bias pada hasil penelitian ini bahwa kelengkapan

imunisasi bisa jadi bukan hanya dipengaruhi oleh pengetahuan ibu

tentang imunisasi dasar, melainkan bisa juga dipengaruhi oleh faktor-

faktor lain, contohnya keyakinan dan nilai-nilai.

 
 
 

BAB VII

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dijelaskan

pada bab-bab sebelumnya, kesimpulan yang dapat ditarik dari penelitian ini

adalah sebagai berikut:

1. Gambaran karakteristik ibu di wilayah kerja Puskesmas Pisangan Kota

Tangerang Selatan yang menjadi responden dalam penelitian ini, yaitu:

persentase pendidikan antara SD sampai perguruan tinggi masing-masing

sebesar 13,7%, 11,0%, 57,5%, 17,8%, persentase pekerjaan ibu seperti IRT,

karyawan swasta, PNS, dan wiraswasta sebesar 86,3%, 11,0%, 1,4%, dan

1,4% dengan usia ibu berkisar 20-45 tahun yaitu remaja akhir, dewasa awal,

dan dewasa akhir dengan presentase 12,3%, 64,4%, 23,3%. Ibu yang

memiliki jumlah anak < 2 dengan presentase sebesar 73,9% dan > 2 dengan

presentase 26,1%.

2. Sebagian besar responden (28,8%) memiliki pengetahuan baik yaitu

sebanyak 21 responden, 38 responden memiliki pengetahuan cukup sebesar

52,1%, 14 responden memiliki pengetahuan kurang sebesar 19,2%. Tingkat

pengetahuan responden tersebut dapat dijadikan dasar dalam pelaksanaan

perilaku sehat untuk kelengkapan imunisasi itu sendiri. Hal ini terjadi

karena pengetahuan merupakan bekal yang paling esensial dalam

pembentukan perilaku seseorang.

65
 
66
 

3. Sebagian besar responden sebesar (74%), melakukan imunisasi anaknya

secara lengkap. Hal ini dapat disebabkan adanya pengetahuan yang cukup

tentang imunisasi dasar di kalangan responden yang diteliti sehingga ada

kemampuan untuk melengkapi imunisasi dasar anaknya. Perilaku ini

mempunyai nilai yang sangat penting, karena pengetahuan yang tinggi tidak

akan berarti jika tidak diimbangi dengan pelakssanaan yang baik.

4. Hasil uji statistik merupakan ada hubungan antara variabel pengetahuan ibu

tentang imunisasi dasar dan variabel kelengkapan imunisasi (p = 0,042).

Koefisien yang bernilai positif berarti hubungan antara kedua variabel

merupakan hubungan yang sebanding, di mana pengetahuan yang baik

disertai dengan perilaku yang baik, pengetahuan yang cukup disertai dengan

perilaku cukup yaitu melengkapi. Pada perilaku imunisasi dasar anak akan

timbul dengan adanya kesempatan reaksi terhadap stimulasi era tunggu

penangkatan ibu. Dengan perilaku melengkapi kelengkapan imunisasinya

akan timbul dengan adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu

stimulus tertentu yaitu pengetahuan tentang imunisasi dasar.

B. Saran

1. Bagi Perawat

Pengetahuan tentang imunisasi dasar merupakan salah satu faktor

yang mempengaruhi kelengkapan imunisasi. Oleh karena itu, para perawat

diharapkan untuk teteap terus meningkat motivasi, kemampuan, serta

pengetahuan terkait imunisasi dasar lengkap. Selain itu, perawat juga

mampu meningkatkan edukasi tentang imunisasi dasar lengkpa serta

 
67
 

pentingnya kelengkapan imunisasi dasar kepada ibu kader posyandu,

pasien, dan keluarga.

2. Bagi Puskesmas

Pihak puskesmas perlu melakukan kegiatan-kegiatan

pembinaan/pelatihan guna meningkatkan pengetahuan tentang imunisasi

dasar lengkap ke rumah-rumah yang jauh dari Puskesmas.

3. Bagi Peneliti Selanjutnya

Peneliti selanjutnya diharapkan dapat melakukan penelitian lebih

lanjut dan mendalam mengenai faktor-faktor-faktor lain yang berhubungan

dengan kelengkapan imunisasi dasar seperti peran kader posyandu,

kepercayaan sehingga hasil penelitian yang didapatkan menjadi lebih baik.

 
 
 

DAFTAR PUSTAKA

Achmadi UF. (2006). Imunisasi: mengapa perlu?. Jakarta: Penerbit buku


Kompas

Albertina,dkk . (2008). Kelengkapan Imunisasi Dasar Anak Balita dan


Faktor-Faktor yang Berhubungan di Poliklinik Anak Beberapa Rumah
Sakit di Jakarta dan Sekitarnya pada Bulan Maret 2008. Sari Pediatri, Vol
11, No.1 Juni 2009. http://saripediatri.idai.or.id/pdfile/11-1-1.pdf accessed
1 November 2015 pukul 20:00]

Arikunto, S. (2006). Prosedur Penelitian. Suatu Pendekatan Praktek (edisi


revisi).Jakarta: PT Rineka Cipta.

Astrianzah, Delan. (2011). Hubungan Antara TingkatPengetahuan Ibu


Tingkat Sosial Ekonomi Dengan Status Imunisasi Dasar Lengkap Pada
Balita (http://eprints.undip.ac.id/32936/1/Delan.pdf)(Sitasi 19 Mei 2016).

Betz, Cecily Lynn & Sowden, Linda A. (2009). Buku Saku Keperawatan
Pediatri Edisi 5. Jakarta: EGC.

Bloom, Benjamin Samuel, et al. (2001). A Taxonomy For Learning ,


Teaching, and Assessing: a revision of Bloom’s Taxonomy of Education
Objectives.Pennsylvania State University: Longman

Dahlan, Sopiyudin M. (2011). Statistik Untuk Kedokteran dan Kesehatan.


Jakarta Salemba Medika.

Dharma, Kusuma K. (2011). Metodologi Penelitian Keperawatan. Jakarta:


Trans Info Media.

Danim, Sudarwan. (2003). Riset Keperawatan: Sejarah dan Metodologi.


Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Efendi, Fery dan Makhfudli (2009). Keperawatan kesehatan komunitas Teori


dan Praktik dalam Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika

Erfandi. (2009). Pengetahuan dan faktor-faktor yang mempengaruhi. Diakses


pada http:www.forbetterhealth.wordpress.com

Green, Lawrence. (2000). Health Promotion Planning. London: Mayfield


Publishing Company.

Fitriani, Sinta. (2011). Promosi Kesehatan. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Hartono, Gunardi. (2014). Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI RSCM

 
 
 
 

Http://idai.or.id/wp-content/uploads/2014/04/Jadwal-Imunisasi-2014-
lanscape- Final.pdf [Accessed 5 Januari 2016 pukul 14:00 WIB].

Hidayat A. A. A. (2008). Pengantar Ilmu Kesehatan Anak, Jakarta: Salemba


Medika.

Hidayat. (2007). Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisa Data.


Jakarta: Salemba Medika.

Http://www.pusdatin.kemkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin/inf
o datin-imunisasi.pdf.[ Accessed 24 Januari 2016 pukul 15:00 WIB] K
ementerian Kesehatan RI

Imron, Moch dkk. (2010). Metodologi Penelitian Bidang Kesehatan. Jakarta:


Sagung Seto.

Irianto, Koes. (2014). Ilmu Kesehatan Anak. Bandung: Penerbit Alfabeta.

Isfan, Reza. (2006). Faktor-faktor yang berhubungan dengan status imunisasi


dasar pada anak di Puskesmas Pauh Kota Padang Tahun 2006 [Tesis].
Program Pascasarjana Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas
Indonesia, Depok

Isyani, Adzaniyah, dkk (2014). Faktor yang Mempengaruhi Kelengkapan


Imunisasi Dasar di Kelurahan Krembangan Utara. Jurnal Berkala
Epidemiologi, Volume 2 Nomor 1, Januari 2014, hlm. 59-70

Jeannette, et al. (2015). Kedokteran Keluarga: Diagnosis dan Terapi Terkini,


Ed 3. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 482/Menkes/Sk/IV


(2010). Gerakan Akselerasi Imunisasi Nasional, Universal Child
Immunization 2010-2014 (GAIN UCI 2010-2014), Jakarta: tidak di
publikasikan.

Meadow, Sir Roy dan Simon J. (2005). Newell.Lecture Notes Pediatrika.


Edisi ke tujuh. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Ningrum, E.P. (2008). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kelengkapan


Imunisasi Dasar Pada Bayi Di Puskesmas Banyudono Kabupaten
Boyolali. Berita Ilmu Keperawatan ISSN 1979-2697, Vol . 1 No.1, 8 Maret
2008 : 7-12.
Publikasiilmiah.ums.ac.id;8080/xmlui/handle/…/46…Diakses tanggal: 10
desember 2015, pukul : 20.24.

Notoatmodjo, Soekidjo.. (2007). Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku.


Jakarta:Rineka Cipta.

 
 
 

. (2005). Metodologi Penelitian Kesehatan Jakarta:


Rineka Cipta.

.(2012). Promosi Kesehatan dan Perilaku


Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.

. (2005). Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasi.


Jakarta:Rineka Cipta

Nursalam.. (2008). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu


Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.

Proyoga, A. (2009). Kelengkapan Imunisasi Dasar pada Anak Usia 1-5 tahun.
Sari Pediatri Vol.11, No.1 Juni 2009. http://saripediatri.idai.or.id/pdfile/11
1-3.pdf. diakses pada tanggal 17 Mei 2016, pukul 10:00 WIB

Ranuh dkk. (2008). Pedoman Imunisasi di Indonesia, Jakarta: Satgas


Imunisasi-IDAI .

Riskesdas 2013

Riyadi, Sujono & Sukarmin. (2009). Asuhan Keperawatan pada Anak.


Yogyakarta: Graha Ilmu.

Riyanto, Agus. (2011). Aplikasi Metodologi Penelitian Kesehatan.


Yogyakarta. Nuha Medika.

Rukiyah dan Yulianti Lia. (2010). Asuhan Kebidanan 4 Patologi Kebidanan.


Jakarta: Trans Info Media.

Sandjaja & Heriyanto, Albertus. (2006). Panduan Penelitian. Jakarta. Prestasi


pustaka.

Sherwood, Lauralee. (2012.). Fisiologi Manusia. Jakarta: EGC

Siregar, Syofian. (2013). Statistik Parametrik Untuk Penelitian Kuantitatif.


Jakarta: Bumi Aksara.

Sugiyono. (2011). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D.


Bandung Alfabeta.

Sulkind, Neil. J. (2010). Encyclopedia Of Research Design. California.


SAGE Publication.

Supartini. Buku (2004). Ajar Konsep Dasar Keperawatan Anak. Jakarta:


EGC.

 
 
 

Potter, Patricia A & Perry, Anne G. (2005)Buku Ajar Fundamental


Keperawatan (4th ed). Jakarta: EGC

Prasetya, Endah dkk. (2008). Faktor-Faktor yang Mempengaruhi


Kelengkapan Imunisasi Dasar Pada Bayi di Puskesmas Banyudono
Kabupaten Boyolali. Berita Ilmu Keperawatan ISSN 1979-2697, Vol . 1
No.1, 8 Maret 2008 : 7-12

Prayogo, Ari, dkk. (2009). Kelengkapan Imunisasi Dasar Anak Usia 1-5
Tahun. Sari Pediatri Vol 11, No.1 Juni 2009. Depatemen Ilmu Kesehatan
Anak FKUI-RSCM.

Pppl.depkes.go.id. PMK No. 42 tentang Penyelenggaraan Imunisasi- Ditjen


PP & PL [ accessed 2 januari 2016 pukul 08:00]

Wadud, Mursyida A. (2013). Hubungan antara pengetahuan dan pekerjaaan


ibu dengan status imunisasi dasar pada bayi di Desa Muara Medak
wilayah kerja Puskesmas Bayung Lencir. Diperoleh tanggal 28 Januari
2014dari.http://poltekkespalembang.ac.id/userfiles/files/hubungan_antara_
pengetahuan_dan_pekerjaan_ibu_dengan_status_imunisasi_dasar_pada_ba
yi_di_desa_muara_medak_wilayah_kerja_puskesmas_bayung_lencir_201
3.pdf

Wahab, Samik ,& Julia, Madarina. (2002). Sistem imun, imunisasi, dan
Penyakit imun. Perpustakaan nasional: Katalog dalam terbitan (KDT).

Wawan& Dewi.(2011). Teori & Pengukuran Pengetahuan, Sikap, dan


Perilaku Manusia. Yogyakarta. Nuha Medika.

WHO, UNICEF, World Bank. (2009). State of the world’s vaccines and
immunization. 3rd edition. Geneva: World Health Organization.

Yusnidar. (2013). Hubungan pengetahuan Ibu tentang imunisasi da dengan


kelengkapan imunisasi dasar pada bayi Usia 0-12 bulan di lingkungan IX
kelurahan Sidorome Barat II Medan Perjuangan Tahun
2012.Diakses20Desember2015.http://repository.usu.ac.id/handle/1234567
89/37200

Yusrianto. (2010). Tanya Jawab Kesehatan Harian Untuk Balita. Yogyakarta


Power Books

 
 
 

PEDOMAN SKORING

A. PENGETAHUAN IBU TENTANG IMUNISASI DASAR

Berilah tanda silang (√) pada jawaban yang menurut anda benar.

No. Pernyataan Benar Salah


1. Suatu upaya untuk memberikan 1 0
kekebalan terhadap suatu penyakit 68(93,15%) 5(6,85%)
merupakan pengertian dari
imunisasi.

2. Campak, DPT, MMR, hepatitis B, 0 1


dan polio merupakan imunisasi dasar 58(79,45%) 15(20,55%)
lengkap
3. Imunisasi polio,campak, influenza, 0 1
hepatits B diberikan sebelum usia 64(87,67%) 9(12,33%)
bayi 9 bulan
4. Imunisasi diberikan sejak lahir 1 0
71(97,26%) 2(2,74%)
5. Manfaat imunisasi untuk menambah 0 1
nafsu makan anak 17(23,29%) 56(76,71%)
6. Vaksin BCG tidak dapat mencegah 1 0
infeksi TBC (Tuberculosis), namun 56(76,71%) 17(23,29%)
dapat mencegah komplikasinya.
7. Imunisasi BCG diberikan 1 kali 1 0
66(90,41%) 7(9,59%)
8. Tempat pemberian vaksin BCG di 1 0
lengan kanan atas 68(93,15%) 5(6,85%)
9. Apabila imunisasi BCG diberikan 1 0
pada usia lebih dari 3 bulan, 46(63,01%) 27(36.99%)
sebaiknya dilakukan uji tuberculin

 
 
 

(uji untuk tes TBC).


10. Imunisasi BCG diberikan pada umur 1 0
sebelum 3 bulan 64(87,67%) 9(12,33%)

11. Kejang merupakan efek samping 0 1


dari pemberian imunisasi BCG 17(23,29%) 56(76,71%)
12. Hepatitis B merupakan imunisasi 1 0
yang diberikan sejak lahir 64(87,67%) 9(12,33%)
13. Bayi baru lahir dengan HBsAg 0 1
(Hepatitis) ibu tidak diketahui: 50(68,49%) 23(35,51%)
Hepatitis B-1 harus diberikan dalam
waktu 1 jam setelah lahir
14. Pemberian imunisasi Hepatitis B 0 1
dengan cara ditetes 36(49,32%) 37(50,68%)

16. Selama usia bayi kurang dari 9 0 1


bulan, imunisasi hepatitis B 43(58,90%) 30(41,10%)
diberikan sebanyak 3x
18. Imunisasi DPT diberikan sebanyak 0 1
1 kali sebelum 9 bulan 36(49,32%) 37(50,68%)
19. Imunisasi DPTw (combo) adalah 1 0
imunisasi yang diberikan bersamaan 59(80,82%) 14(19,18%)
dengan vaksin hepatitis B
20. Imunisasi DPT primer diberikan 1 0
sejak usia 2 bulan 61(83,56%) 12(16,44%)

21. Imunisasi DPT diberikan untuk 0 1


mencegah penyakit difteri, pertusis, 53(72,60%) 20(27,40%)
dan TBC.
22. Vaksin DPT dapat diberikan secara 0 1
kombinasi dengan vaskin lain yaitu 44(60,27%) 29(39,73%)
DTwP/campak (combo campak).

 
 
 

23. Salah satu efek samping berat yang 1 0


ditimbulkan pada saat pasca 32(43,84%) 41(56,16%)
imunisasi DPT adalah kejang
25. Imunisasi polio diberikan 2 tetes 1 0
untuk via oral(lewat mulut) 63(86,30%) 10(13,70%)
26. Imunisasi polio diberikan sebanyak 1 0
4 kali sebelum usia 9 bulan 51(69,86%) 22(30,14%)
27. Imunisasi polio diberikan pertama 0 1
kali pada usia 2 bulan 65(89,04%) 8(10,96%)
28. Imunisasi polio untuk mencegah 1 0
penyakit yang menyebabkan 65(89,04%) 8(10,96%)
kelumpuhan
29. Hampir tidak ada efek samping 1 0
setelah pemberian imunisasi polio. 54(73,97%) 19(26,03%)
30. Di samping imunisasi umur 9 bulan, 1 0
diberikan juga imunisasi campak 61(83,56%) 12(16,44%)
kesempatan kedua pada umur 6-59
bulan dan SD kelas 1-6.
31. Imunisasi dasar yang diberikan 1 0
terakhir kali adalah imunisasi 58(79,45%) 15(20,55%)
campak
32. Imunisasi campak diberikan dengan 1 0
cara disuntik 63(86,30%) 10(13,70%)
33 Pada saat bayi usia 7 bulan, bayi 0 1
diberikan imunisasi campak 24(32,88%) 49(67,12%)
34 Imunisasi campak diberikan 1x pada 1 0
bayi yang berusia kurang dari 1 64(87,67%) 9(12,33%)
tahun
35. Pasca imunisasi campak, efek 0 1
samping yang ditimbulkan adalah 17(23,29%) 56(76,71%)
diare

 
 
 

B. PEDOMAN SKORING KELENGKAPAN IMUNISASI

Jenis Imunisasi Lengkap Tidak lengkap

HB 0 98,63% 1,37%

BCG 98,63% 1,37%

Polio 1 98,63% 1,37%

DPT/HB 1 98,63% 1,37%

Polio 2 98,63% 1,37%

DPT/HB 2 98,63% 1,37%

Polio 3 98,63% 1,37%

DPT/ HB 3 98,63% 1,37%

Polio 4 98,63% 1,37%

Campak 73,97% 26,03%

 
 
 

Rekapitulasi Jawaban Responden


SKO
NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 R
1 1 0 0 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 0 0 1 1 1 0 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 23
2 1 1 0 1 1 1 0 0 0 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 25
3 1 0 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 0 0 1 1 1 1 1 0 1 0 0 1 0 1 1 1 1 1 1 22
4 1 0 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 0 0 1 1 0 1 0 1 1 0 1 0 1 1 1 1 1 1 22
5 1 0 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 0 1 1 1 0 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 24
6 1 0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 0 0 1 0 1 1 1 0 0 0 1 0 0 0 1 12
7 1 0 0 1 0 1 1 1 1 1 0 1 0 1 0 0 1 1 0 0 1 1 0 0 1 0 0 0 1 0 1 0 16
8 1 0 0 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 0 0 1 1 0 0 1 1 1 0 1 0 1 1 1 1 1 0 21
9 1 0 0 1 0 1 1 0 0 0 1 1 0 1 0 0 1 1 0 0 1 0 0 0 1 1 1 0 1 0 0 0 14
10 1 0 0 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 0 0 0 1 1 0 0 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 14
11 1 0 0 1 1 0 1 1 0 1 0 1 1 0 0 0 1 1 0 1 0 1 1 0 1 0 0 0 0 0 0 1 15
12 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 25
13 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 27
14 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 0 1 1 0 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 25
15 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 29
16 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 0 1 1 1 1 0 0 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 24
17 1 0 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 0 1 0 0 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 22
18 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 1 1 0 0 0 0 1 1 0 1 0 0 0 0 1 1 1 1 1 0 1 1 15
19 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 26
20 1 0 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 0 0 1 1 1 0 1 1 1 0 1 0 1 1 22
21 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 0 0 0 1 0 0 0 1 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 15
22 1 0 0 1 0 1 1 1 1 1 0 1 0 0 0 0 1 1 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 1 14
23 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 0 0 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 25

 
 
 
 

24 1 1 0 1 0 1 1 1 1 0 0 1 0 0 0 1 1 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 14
25 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 0 0 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 24
26 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 0 0 0 1 1 0 0 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 22
27 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 0 0 0 1 1 0 0 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 14
28 1 0 0 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 0 1 1 0 0 0 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 21
29 1 0 1 1 1 0 0 1 0 1 1 1 0 0 1 0 1 1 1 0 0 1 1 0 1 1 1 1 1 0 0 1 20
30 1 0 0 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 24
31 1 0 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 1 1 1 27
32 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 28
33 1 0 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 0 0 1 1 1 0 0 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 22
34 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 27
35 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 25
36 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 1 1 0 0 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 22
37 1 0 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 26
38 1 0 0 1 1 1 0 1 0 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 0 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 23
39 1 0 0 1 1 1 1 1 0 0 1 1 0 0 0 0 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 22
40 1 0 0 1 0 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 0 1 0 0 0 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 14
41 1 0 0 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 22
42 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 26
43 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 0 1 0 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 23
44 0 1 0 1 0 1 1 1 1 1 1 0 0 1 0 0 1 1 0 0 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 21
45 1 0 0 1 1 0 1 1 0 1 1 1 0 1 0 1 1 1 1 0 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 23
46 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 0 1 1 0 0 0 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 22
47 1 0 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 1 1 0 0 0 1 1 0 1 0 1 1 1 1 1 1 20
48 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 1 0 1 1 0 0 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 25

 
 
 

49 1 0 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 0 0 0 0 1 1 0 0 0 1 0 0 1 1 1 1 1 0 0 0 17
50 1 0 0 1 0 0 1 1 0 1 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 1 1 1 0 1 0 1 1 1 0 1 1 16
51 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 0 0 1 1 1 0 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 24
52 1 0 0 1 0 1 1 1 0 1 1 1 0 0 0 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 23
53 1 0 0 1 1 0 1 1 0 1 1 1 0 0 1 1 0 0 0 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 21
54 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 0 26
55 1 0 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 25
56 1 0 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 25
57 1 1 0 1 0 1 1 1 1 0 0 1 0 0 0 1 1 0 1 0 0 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 20
58 1 0 0 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 0 0 0 1 1 0 0 1 1 0 0 1 1 1 1 1 0 1 0 19
59 1 0 0 1 0 0 1 1 1 1 1 1 0 0 0 1 0 1 0 0 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 20
60 1 0 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 0 0 1 0 1 0 0 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 21
61 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 0 1 1 1 0 1 0 1 1 26
62 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 1 0 1 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1 1 1 0 17
63 0 1 0 0 1 1 1 1 0 0 1 0 1 1 1 0 1 1 0 0 1 1 0 0 1 0 1 1 1 0 1 0 18
64 1 0 0 1 1 0 1 1 0 0 0 1 1 1 0 0 1 0 0 0 1 0 1 0 1 1 0 0 0 0 1 0 14
65 1 0 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 0 0 0 0 0 1 0 1 0 1 0 0 1 0 1 1 1 1 1 1 19
66 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 25
67 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 0 1 0 1 1 25
68 1 0 0 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 19
69 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 0 0 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 23
70 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 27
71 1 0 0 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 13
72 1 0 0 1 1 1 1 1 0 1 0 0 1 0 1 0 1 1 0 0 1 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 20
73 1 0 0 1 0 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 22

 
 
 

Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas

Item-Total Statistics

Scale Cronbach's
Scale Mean Variance if Corrected Squared Alpha if
if Item Item Item-Total Multiple Item
Deleted Deleted Correlation Correlation Deleted
Q1X 50.37 160.930 .482 . .731
Q2X 51.00 157.241 .476 . .725
Q3X 50.47 157.982 .586 . .726
Q4X 50.37 160.930 .482 . .731
Q5X 50.50 157.776 .554 . .726
Q6X 50.37 160.930 .482 . .731
Q7X 51.20 158.993 .468 . .728
Q8X 50.83 153.316 .764 . .718
Q9X 50.67 154.920 .674 . .721
Q10X 50.40 160.386 .427 . .730
Q11X 50.43 159.220 .504 . .728
Q12X 50.37 160.930 .482 . .731
Q13X 50.80 158.510 .347 . .728
Q14X 50.37 160.930 .482 . .731
Q15X 50.40 162.524 .094 . .734
Q16X 51.00 157.241 .476 . .725
Q17X 50.77 159.702 .254 . .730
Q18X 50.83 153.316 .764 . .718
Q19X 50.37 160.930 .482 . .731
Q20X 50.40 160.386 .427 . .730
Q21X 50.67 154.920 .674 . .721
Q22X 50.37 160.930 .482 . .731
Q23X 50.43 159.220 .504 . .728
Q24X 50.73 160.064 .229 . .731
Q25X 51.00 157.241 .476 . .725
Q26X 50.83 153.316 .764 . .718
Q27X 51.20 158.993 .468 . .728
Q28X 50.37 160.930 .482 . .731
Q29X 50.37 160.930 .482 . .731
Q30X 50.37 160.930 .482 . .731
Q31X 50.67 154.920 .674 . .721
Q32X 50.50 157.776 .554 . .726
Q33X 50.43 159.220 .504 . .728
Q34X 51.20 158.993 .468 . .728
Q35X 50.40 160.386 .427 . .730
SCOR
25.23 39.495 .999 . .911
E

 
 
 
 

Hasil Olahan SPSS Univariat dan Bivariat


Statistics

umurIbu
N Valid 73
Missing 0

umurIbu

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 17-25 9 12.3 12.3 12.3
26-35 47 64.4 64.4 76.7
36-45 17 23.3 23.3 100.0
Total 73 100.0 100.0

jumlahanak

Frequenc Valid Cumulative


y Percent Percent Percent
Valid 1 25 34.2 34.2 34.2
2 29 39.7 39.7 74.0
3 14 19.2 19.2 93.2
4 4 5.5 5.5 98.6
5 1 1.4 1.4 100.0
Total 73 100.0 100.0

Pendidikan

Frequenc Valid Cumulative


y Percent Percent Percent
Valid
SD 10 13.7 13.7 13.7
SMP 8 11.0 11.0 24.7
SMA 42 57.5 57.5 82.2
PERGURUAN
13 17.8 17.8 100.0
TINGGI
Total 73 100.0 100.0

 
 
 

pekerjaan

Frequenc Valid Cumulative


y Percent Percent Percent
Valid IRT 63 86.3 86.3 86.3
KARYAWAN
8 11.0 11.0 97.3
SWASTA
PNS 1 1.4 1.4 98.6
WIRASWASTA 1 1.4 1.4 100.0
Total 73 100.0 100.0

Statistics

PENGETAHUAN_BARU
N Valid 73
Missin
0
g

PENGETAHUAN_BARU

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid KURANG 14 19.2 19.2 19.2
CUKUP 38 52.1 52.1 71.2
BAIK 21 28.8 28.8 100.0
Total 73 100.0 100.0

Statistics

KELENGKAPAN_IMUNISASI
N Valid 73
Missin
0
g

 
 
 

KELENGKAPAN_IMUNISASI

Frequenc Valid Cumulative


y Percent Percent Percent
Valid TIDAK
19 26.0 26.0 26.0
LENGKAP
LENGKAP 54 74.0 74.0 100.0
Total 73 100.0 100.0

Case Processing Summary

Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
PENGETAHUAN_B
ARU *
73 100.0% 0 .0% 73 100.0%
KELENGKAPAN_IM
UNISASI

 
 
 

PENGETAHUAN_BARU * KELENGKAPAN_IMUNISASI Crosstabulation

KELENGKAPAN_IM
UNISASI Total
TIDAK TIDAK
LENGKA LENGKA LENGKA
P P P
PENGETAHUAN_BA KURA Count 7 7 14
RU NG % within
PENGETAHUAN_BA 50.0% 50.0% 100.0%
RU
CUKUP Count 6 32 38
% within
PENGETAHUAN_BA 15.8% 84.2% 100.0%
RU
BAIK Count 6 15 21
% within
PENGETAHUAN_BA 28.6% 71.4% 100.0%
RU
Total Count 19 54 73
% within
PENGETAHUAN_BA 26.0% 74.0% 100.0%
RU

Chi-Square Tests

Asymp.
Sig. (2-
Value df sided)
Pearson Chi-
6.318(a) 2 .042
Square
Likelihood Ratio 6.024 2 .049
Linear-by-Linear
1.188 1 .276
Association
N of Valid Cases 73
a 1 cells (16.7%) have expected count less than 5. The minimum expected count
is 3.64.

 
 
 

Risk Estimate

Value
Odds Ratio for
PENGETAHUAN_B
(a)
ARU (BURUK /
CUKUP)
a Risk Estimate statistics cannot be computed. They are only computed for a 2*2
table without empty cells.

 
 
 

INFORMED CONSENT

HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU TENTANG IMUNISASI DASAR


TERHADAP KELENGKAPAN IMUNISASI DASAR DI WILAYAH KERJA
PUSKESMAS PISANGAN KOTA TANGERANG SELATAN

Assalamu’alaikum wr.wb.
Salam sejahtera,

Nama: Nurhidayati
NIM : 111204000022

Saya mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Fakultas


Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Program Studi Ilmu Keperawatan sedang
melaksanakan penelitian untuk penulisan skripsi sebagai tugas akhir untuk
menyelesaikan pendidikan sebagai Sarjana Keperawatan (S.Kep).
Dalam lampiran ini terdapat beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan
penelitian. Untuk itu saya harap dengan segala kerendahan harti agar kiranya Ibu
bersedia meluangkan waktunya untuk mengisi kuisioner yang telah disediakan.
Kerahasiaan jawaban Ibu akan dijaga dan hanya diketahui oleh peneliti.
Kuisioner ini mohon diisi dengan sejujur-jujurnya sesuai dengan apa yang
dipertanyakan sehingga hasilnya dapat memberikan gambaran yang baik untuk
penelitian ini.
Saya ucapkan terima kasih atas bantuan dan partisipasi Ibu dalam pengisian
kuisioner ini.
Apakah Ibu bersedia menjadi responden?
YA/TIDAK

Tertanda

Responden

 
 
 

KUISIONER PENELITIAN

Hubungan Pengetahuan Ibu Tentang Imunisasi Dasar Terhadap Kelengkapan


Imunisasi Dasar di Wilayah Kerja Puskesmas Pisangan Kota Tangerang Selatan

Petunjuk Pengisian :
1. Bacalah dengan cermat dan teliti pada setiap pertanyaan
2. Pertanyaan di bawah ini mohon diisi semuanya
3. Pilihlah salah satu jawaban yang menurut Ibu paling sesuai dengan
kondisi yang dialami dengan memberikan tanda list (√)
4. Isilah titik yang tersedia dengan jawaban yang benar

A. Karakteristik Responden
1. Inisial Ibu : ………….

Umur Ibu :…………..

2. Jumlah anak : …………..

Umur Anak :…………..

3. Tingkat pendidikan terakhir ibu :

1. Tamat SD

2. Tamat SMP

3. Tamat SMA

4. Perguruan Tinggi

4. Status pekerjaan ibu :

1. Ibu Rumah Tangga

2. Karyawan Swasta

3. PNS

4. Lain-lain :……..

 
 
 

5. Dimana Ibu mengimunisasikan anaknya …..

6. Berapa jarak rumah ibu ke tempat imunisasi:…….

7. Berapa penghasilan keluarga dalam satu bulan : …..

B. PENGETAHUAN

Berilah tanda silang (√) pada jawaban yang menurut anda benar.

No. Pernyataan Benar Salah


1. Suatu upaya untuk memberikan kekebalan terhadap suatu
penyakit merupakan pengertian dari imunisasi.
2. Campak, DPT, MMR, hepatitis B, dan polio merupakan
imunisasi dasar lengkap
3. Imunisasi polio,campak, influenza, hepatits B diberikan
sebelum usia bayi 9 bulan
4. Imunisasi diberikan sejak lahir
5. Manfaat imunisasi untuk menambah nafsu makan anak
6. Vaksin BCG tidak dapat mencegah infeksi TBC
(Tuberculosis), namun dapat mencegah komplikasinya.
7. Imunisasi BCG diberikan 1 kali
8. Tempat pemberian vaksin BCG di lengan kanan atas
9. Apabila imunisasi BCG diberikan pada usia lebih dari 3
bulan, sebaiknya dilakukan uji tuberculin (uji untuk tes
TBC).
10. Imunisasi BCG diberikan pada umur sebelum 3 bulan
11. Kejang merupakan efek samping dari pemberian
imunisasi BCG
12. Hepatitis B merupakan imunisasi yang diberikan sejak
lahir
13. Bayi baru lahir dengan HBsAg (Hepatitis) ibu tidak
diketahui: Hepatitis B-1 harus diberikan dalam waktu 1

 
 
 

jam setelah lahir


14. Pemberian imunisasi Hepatitis B dengan cara ditetes
15. Selama usia bayi kurang dari 9 bulan, imunisasi hepatitis
B diberikan sebanyak 3x
16. Imunisasi DPT diberikan sebanyak 1 kali sebelum 9 bulan
17. Imunisasi DTwP (combo) adalah imunisasi yang
diberikan bersamaan dengan vaksin hepatitis B
18. Imunisasi DPT primer diberikan sejak usia 2 bulan
19. Imunisasi DPT diberikan untuk mencegah penyakit
difteri, pertusis, dan TBC.
20. Vaksin DPT dapat diberikan secara kombinasi dengan
vaskin lain yaitu DTwP/campak (combo campak).
21. Salah satu efek samping berat yang ditimbulkan pada saat
pasca imunisasi DTP adalah kejang
22. Imunisasi polio diberikan 2 tetes untuk via oral(lewat
mulut)
23. Imunisasi polio diberikan sebanyak 4 kali sebelum usia 9
bulan
24. Imunisasi polio diberikan pertama kali pada usia 2 bulan
25. Imunisasi polio untuk mencegah penyakit yang
menyebabkan kelumpuhan
26. Hampir tidak ada efek samping setelah pemberian
imunisasi polio.
27. Di samping imunisasi umur 9 bulan, diberikan juga
imunisasi campak kesempatan kedua pada umur 6-59
bulan dan SD kelas 1-6.
28. Imunisasi dasar yang diberikan terakhir kali adalah
imunisasi campak
29. Imunisasi campak diberikan dengan cara disuntik
30 Pada saat bayi usia 7 bulan, bayi diberikan imunisasi
campak

 
 
 

31 Imunisasi campak diberikan 1x pada bayi yang berusia


kurang dari 1 tahun
32. Pasca imunisasi campak, efek samping yang ditimbulkan
adalah diare

 
 
 
C. KELENGKAPAN IMUNISASI

Berilah tanda chek list (√) dan beri keterangan berupa tanggal imunisasi di kolom yang sudah disediakan, bila ibu sudah
melakukan imunisasi terhadap anaknya.

Umur (bulan) 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 **12+


Vaksin Tanggal Pemberian Imunisasi
HB 0 (0-7 hari)
BCG
*Polio 1
*DPT/HB 1
*Polio 2
*DPT/HB 2
*Polio 3
*DPT/HB 3
*Polio 4
Campak

Diisi oleh peneliti:

LENGKAP TIDAK LENGKAP 


   

 
 
 

 
 
 

 
 
 

 
 
 

 
 
 

Anda mungkin juga menyukai