Anda di halaman 1dari 12

UJPH 5 (3) (2016)

Unnes Journal of Public Health


http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/ujph

GAMBARAN PERILAKU PENCEGAHAN HIV DAN AIDS PADA LELAKI


SUKA LELAKI (LSL) DI KOTA KUPANG TAHUN 2014

Indah M.P. Kana, Christina R. Nayoan, dan Ribka Limbu

Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Nusa Cendana, Indonesia

Info Artikel Abstrak


________________ ___________________________________________________________________
Sejarah Artikel: Prevalensi HIV pada kelompok Lelaki Suka Lelaki (LSL) di Indonesia meningkat 7% pada tahun
Diterima 17 Juni 2016 2009 menjadi 12,8% pada 2013. Tingginya prevalensi LSL berhubungan dengan rendahnya
Disetujui 24 Juni 2016 perilaku pencegahan, kurangnya informasi, dan rendahnya penggunaan kondom. Tujuan dari
Dipublikasikan Juli 2016 penelitian ini untuk mendapatkan informasi tentang perilaku pencegahan HIV dan AIDS pada
________________ LSL terkait niat, dukungan sosial, akses informasi, kebebasan pribadi, dan tindakan. Desain
Keywords: penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif. 5 informan dipilih menggunakan
HIV and AIDS teknik purposive sampling dari Komunitas IMOF Kupang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
Prevention; MSM sikap informan, norma subjektif, dan kontrol perilaku mempengaruhi niat informan untuk
____________________ melakukan pencegahan HIV dan AIDS. LSL mendapatkan dukungan sosial dari Komunitas LSL
dan KPA, dukungan berupa dukungan emosional dan informasi. Informan mendapatkan
informasi menganai HIV dan AIDS dari penyuluhan dan media masa (internet). Dari penelitian
ini dapat disimpulkan bahwa informan memiliki niat yang baik, dukungan sosial, tersedianya
akses informasi, dan kebebasan pribadi untuk pencegahan HIV dan AIDS.

Abstract
___________________________________________________________________
HIV prevalence among men who have sex with men (MSM) in Indonesia increasing time to time, 7% in 2009
to 12,8% in 2013. The high prevalence of HIV in this population is associated with the low level of prevention,
because as lack of information and low condom use. The purpose of this study was to obtained in-depth
information about the behavior of HIV and AIDS prevention in MSM assessed the intention, social support,
access to information, personal autonomy, and action situation. Design of this study is descriptive used
qualitative approach. Five informants were selected by purposive sampling from IMOF Kupang Community
for indepth interview. The results showed that informants were attitude, subjective norm, and behavior control
the influencing their intention to HIV and AIDS prevention. MSM obtained social support from the MSM
community friends and KPA, the support are emotional support and information. Informants get the
information about HIV and AIDS from socialiszations and mass media (internet). From this research it can be
concluded that informants have a good intention, social support, the availability of information acces, personal
autonomy and action situation to prevent HIV and AIDS.

© 2016 Universitas Negeri Semarang


Alamat korespondensi: ISSN 2252-6781
Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Nusa Cendana, JL. Adisucipto Penfui
Kupang
E-mail: chritina_rony@yahoo.com

252
Kana, Nayoan, & Limbu / Unnes Journal of Public Health 5 (3) (2016)

PENDAHULUAN

Kesehatan merupakan salah satu pada Maret 2014. Selain itu jumlah HIV
indikator untuk mengukur tingkat dan AIDS yang tercatat di kalangan homo-
kesejahteraan suatu masyarakat atau biseksual juga meningkat yaitu 609 kasus
bangsa. Paradigma sehat dewasa ini yang pada tahun 2008 menjadi 1.291 pada Maret
dipromosikan menghendaki terjadinya 2014 (Ditjen PP & PL Kemenkes RI, 2014).
perubahan pola pikir masyarakat dari Berdasarkan data Komisi
mengobati penyakit menjadi memelihara Penanggulangan AIDS Kota Kupang tahun
atau menjaga kesehatan agar tidak sakit, 2014, Nusa Tenggara Timur termasuk
oleh sebab itu pemahaman mengenai provinsi dengan penularan HIV dan AIDS
penyakit dan cara mencegahnya perlu cukup tinggi. Pada Maret 2014, menempati
disebarluaskan pada masyarakat. peringkat ke 16 secara nasional dengan
Salah satu aspek kesehatan pada 1.590 kasus HIV dan 496 kasus AIDS. Dari
akhir abad ke-20 yang merupakan bencana 21 Kabupaten/Kota di Nusa Tenggara
bagi manusia adalah munculnya infeksi Timur, jumlah penderita di Kota Kupang
yang disebabkan oleh suatu virus yaitu HIV dari tahun 2000 hingga Maret 2014
(Human Immunodeficiency Virus) yang dapat mencapai 589 kasus (437 kasus HIV dan
menyebabkan AIDS (Acquired 152 kasus AIDS) dan merupakan tertinggi
Immunodeficiency Syndrome) (Hardisman kedua setelah Kabupaten (KPAKK, 2014).
2009). WHO pada tahun 2003 Berdasarkan data Komisi
mengestimasikan 37,8 juta orang terinfeksi Penanggulangan AIDS Nasional tahun
HIV dan AIDS. Pada akhir tahun 2005, 2013, sekitar 77% penularan HIV dan AIDS
estimasi menjadi 53,6 juta, dan pada tahun terjadi melalui hubungan seks. Hubungan
2007 dengan jumlah 33 juta orang seksual, baik heteroseksual maupun
terinfeksi, tetapi yang sudah meninggal 23 homoseksual adalah model utama
juta (UNAIDS, 2010). penularan HIV (Widiyastuti, 2009). Tidak
Kasus di Indonesia senantiasa dapat dipungkiri perilaku seksual di
meningkat dari tahun ke tahun, bahkan kelompok risiko tinggi, komunitas
Indonesia merupakan negara dengan homoseksual memberikan kontribusi
penyebaran HIV dan AIDS tercepat di Asia penularan HIV dan AIDS yang signifikan.
(Yunanto dalam Ridwan, 2008). Menurut Penularan HIV melalui seks anal
data Ditjen Pengendalian Penyakit dan dilaporkan memiliki risiko 10 kali lebih
Pengendalian Lingkungan Departemen tinggi dari seks vaginal. Menurut Yayasan
Kesehatan (PP & PL Depkes) selama Riset AIDS Amerika, AMFAR
sepuluh tahun terakhir, jumlah penderita menyimpulkan, kelompok homoseksual
AIDS terus meningkat. Secara kumulatif ternyata berisiko 19 kali lebih besar tertular
pengidap infeksi HIV dan kasus AIDS sejak penyakit HIV dibanding masyarakat umum
tahun 1987 hingga Maret 2014, terdiri dari (Rabudiarti, 2007 dalam Ridwan, 2010).
134.042 pengidap infeksi HIV dan 54.231 Di tingkat global, sejauh ini tidak
kasus AIDS dengan jumlah kematian 9.615. ada data resmi tentang jumlah LSL di
Peningkatan jumlah ini sangat menonjol dunia. Namun diperkirakan rata-rata 1-3%
pada kelompok umur 20-29 tahun dari dari populasi dewasa usia 15-59 tahun
8.187 pada tahun 2008 menjadi 17.941 mempraktekkan hubungan seks sesama

253
Kana, Nayoan, & Limbu / Unnes Journal of Public Health 5 (3) (2016)

lelaki. Di tingkat regional, prevalensi HIV Kaum homoseksual tersebar di


pada LSL juga beragam. Di Afrika, seluruh wilayah Indonesia termasuk Nusa
kisarannya antara 15-42%. Di Amerika Tenggara Timur. Di Kota Kupang sendiri
Serikat prevalensi HIV di antara LSL pada telah terbentuk satu komunitas
2008 mencapai 19%. Di Asia, tingkat homoseksual bernama IMOF (Independent
prevalensi HIV diantara laki-laki yang Men of Flobamor) dengan jumlah anggota
berhubungan seks dengan laki-laki telah yang terdaftar 48 orang dan yang telah
mencapai 18% (UNAIDS, 2010). terdeteksi positif HIV melalui Voluntary
Berdasarkan data Komisi Conseling and Testing (VCT) sebanyak
Penanggulangan AIDS Nasional tahun sembilan orang. Lelaki Suka Lelaki (LSL)
2010, di Indonesia diestimasikan terdapat merupakan individu yang memiliki perilaku
766.390 LSL. Cakupan upaya pencegahan berisiko terhadap peningkatan jumlah kasus
pada populasi ini dilaporkan masih rendah, HIV dan AIDS, khusus untuk wilayah Kota
yaitu sekitar 10%. Prevalensi HIV pada LSL Kupang. Oleh karena itu, peneliti tertarik
dari waktu ke waktu terus meningkat. untuk menganalisis lebih lanjut tentang
Menurut laporan Survei Terpadu Biologis perilaku pencegahan HIV dan AIDS pada
dan Perilaku (STBP) tahun 2009 dan 2013 Lelaki Suka Lelaki (LSL) di Kota Kupang,
menunjukkan ada peningkatan prevalensi Tahun 2014.
HIV pada populasi kunci. Peningkatan Tujuan penelitian ini untuk mengetahui
mengkhawatirkan terutama pada kalangan tentang gambaran perilaku pencegahan
LSL yaitu dengan prevalensi sebesar 7% HIV dan AIDS pada Lelaki Suka Lelaki
pada 2009 menjadi 12,8% pada 2013. (LSL) di Kota Kupang, Tahun 2014.
Peningkatan jumlah kasus HIV dan
AIDS ini dihubungkan dengan minimnya METODE
tingkat pencegahan dari para pelaku seks,
misalnya keterbatasan informasi yang Jenis penelitian yang digunakan
didapat seputar tindakan pencegahan HIV adalah penelitian deskriptif dengan
dan AIDS (khususnya bagi LSL mengingat pendekatan kualitatif. Penelitian ini
stigma yang melekat pada mereka sebagai dilakukan di Kota Kupang pada Komunitas
kelompok yang agak berbeda dari IMOF (Independent Men Of Flobamor).
masyarakat pada umumnya) dan rendahnya Penelitian ini dilaksanakan pada bulan
penggunaan kondom (Muntaen, 2015). Januari-Juni 2014. Informan dalam
Sekitar tahun 1989, yakni pada saat penelitian ini adalah para LSL yang
penyebaran virus HIV dan AIDS mulai bergabung dalam komunitas IMOF
merajalela tanpa ada yang bisa Kupang. Cara penentuan informan tidak
membendung, Thailand memberikan satu diarahkan pada jumlah tetapi berdasarkan
solusi dengan mensosialisasikan pada asas kesesuaian dan kecukupan
penggunaan kondom yang kemudian sampai mencapai saturasi data (titik jenuh).
diimplementasikan di beberapa negara Informan dipilih dengan cara purposive
Asia, seperti Kamboja, Vietnam, China, sampling di mana pengambilan sampel
Myanmar, Philipina, Mongolia dan dilakukan dengan pertimbangan tertentu
Republik Laos. Program ini dinilai cukup dengan tujuan untuk mendapatkan
berhasil untuk menekan jumlah kasus HIV informasi sesuai dengan yang
dan AIDS (Laksana, 2010). dibutuhkan/diinginkan (Satori dan

254
Kana, Nayoan, & Limbu / Unnes Journal of Public Health 5 (3) (2016)

Komariah, 2010). Pertimbangannya yaitu identitas pribadinya yang dirasa berbeda


bersedia menjadi informan kunci atau dari orang lain.
bersedia diwawancarai dan telah bergabung Selain menyadari identitas
di IMOF lebih dari 6 bulan. Dari 48 pribadinya sejak kecil, pengalaman
anggota aktif IMOF yang bersedia menjadi traumatis juga mendorong informan untuk
informan kunci sebanyak lima orang. Data disorientasi seksual (Amaliasari, 2008).
yang digunakan dalam penelitian ini adalah Perilaku homoseksual dapat
data primer yang didapat dari wawancara berawal pada masa kanak-kanak karena
mendalam pada informan. gangguan perkembangan seksual seseorang
(psikoseksual pada masa anak-anak/kerap
HASIL DAN PEMBAHASAN disodomi) ditambah pengaruh orang tua
yang tidak baik. Selain itu, dalam
Penelitian ini dilakukan pada perkembangannya homoseksual bukan lagi
komunitas IMOF yang bertempat di Kota dianggap sebagai gangguan kejiwaan yang
Kupang. Tempat ini merupakan rumah timbul dari pola asuh orang tua dalam
tinggal salah satu anggota IMOF yang keluarga, namun lebih kepada faktor
sekaligus digunakan sebagai sekretariat lingkungan yang mendorong seseorang
IMOF. Namun saat penelitian, beberapa untuk berperilaku homoseksual. Lima
informan meminta untuk dilakukan tahun belakangan ini faktor lingkungan
wawancara bukan di sekretariat IMOF. sosial lebih mempengaruhi perilaku
Informan yang terlibat dalam homoseksual mulai dari karir/pekerjaan,
penelitian ini sebanyak lima orang yaitu komunitas orang yang bergabung dalam
anggota aktif IMOF yang masuk dalam klub-klub tertentu serta dengan diikuti
kepengurusan IMOF dan telah bergabung kejadian-kejadian yang membuat seseorang
di IMOF selama 2-3 tahun. Usia rata-rata trauma (Paryati dan Raksanagara, 2010).
informan adalah 21-30 tahun. Tingkat Selanjutnya peneliti memulai
pendidikan mereka bervariasi, ada yang D3, penelusuran terkait pengetahuan dengan
S1, dan sementara menyelesaikan mengumpulkan data terkait makna dasar
pendidikan S1. Dengan tingkat pendidikan HIV dan AIDS menurut informan. Para
yang baik, para informan mampu informan sudah dapat menjelaskan dengan
menjawab dan menjelaskan pertanyaan- baik tentang pengertian dari HIV dan AIDS
pertanyaan dalam penelitian ini. serta memberikan sedikit penjelasan
Peneliti memulai penelusuran tentang perbedaannya.
tentang awal mula informan menyadari Terkait dengan cara penularan HIV,
preferensi seksualnya ke sesama jenis dan para informan mengatakan bahwa
mulai bergabung ke komunitas IMOF. penularan HIV dapat terjadi karena: 1)
Jawaban yang diberikan para informan hubungan seks tidak aman; 2) penggunaan
hampir sama yaitu mereka mulai jarum suntik tidak steril secara bergantian;
menyadari dirinya memiliki orientasi seks 3) dari ibu ke bayi melalui ASI.
ke sesama jenis sejak kecil. Namun, mereka Pada pengetahuan tentang cara
tidak pernah membicarakan hal ini pada pencegahan, informasi yang paling banyak
orang-orang terdekat (misalnya keluarga) dilontarkan informan adalah 1) 100%
mereka karena berbagai alasan. Hal ini menggunakan kondom; 2) setia dengan
mengacu pada pandangan individu tentang pasangan. Terkait 100% menggunakan

255
Kana, Nayoan, & Limbu / Unnes Journal of Public Health 5 (3) (2016)

kondom, informan mengatakan setiap Sikap yang ditunjukkan informan


berhubungan seks harus selalu pakai yaitu ketakutan tertular HIV. Hal ini
kondom dan karena itu mereka harus selalu diungkapkan dengan fakta bahwa HIV
menyiapkan kondom sendiri setiap kali tidak bisa disembuhkan dan seumur hidup
bepergian atau hendak melakukan harus mengkonsumsi obat ARV. Juga
hubungan seks. sudah pernah lihat orang dengan HIV dan
Berdasarkan hasil wawancara AIDS itu bagaimana kehidupannya ketika
dengan kelima informan, dilakukan content tidak mendapatkan penanganan serius.
analysis secara keseluruhan yang mengacu Semakin merasa takut, semakin kuat niat
pada tujuan penelitian dan menghasilkan informan untuk melakukan tindakan
lima tema utama yang didasarkan pada pencegahan HIV dan AIDS (menggunakan
teori Snehandu B. Kar. Menurut Snehandu kondom).
B. Kar dalam Notoatmodjo (2010) perilaku HIV tidak bisa disembuhkan
itu merupakan fungsi dari niat seseorang dikaitkan dengan apa yang diketahui oleh
untuk bertindak sehubungan dengan informan selama ini bahwa jika seseorang
kesehatannya (behavior intention), adanya sudah menderita HIV maka seumur hidup
dukungan sosial dari masyarakat sekitarnya akan membawa virus tersebut. Dan fakta
(social support), ada atau tidaknya informasi lainnya belum ditemukan obat yang bisa
tentang kesehatan atau fasilitas kesehatan menyembuhkan HIV dan AIDS secara total
(accessibility information), adanya otonomi melainkan hanya ada obat untuk menekan
atau kebebasan pribadi untuk mengambil laju pertumbuhan virus HIV dalam tubuh.
keputusan (personal autonomy), dan adanya Hal ini menjadi ketakutan informan yang
kondisi dan situasi yang memungkinkan menguatkannya untuk pakai kondom
untuk bertindak atau tidak bertindak (action karena tidak ingin tertular virus HIV.
situation). Selain itu, pengalaman karena
Kelima tema utama tersebut melihat kehidupan OHIDA (orang dengan
merupakan hasil identifikasi dari jawaban HIV dan AIDS) juga mendorong dan
atas beberapa item pertanyaan yang menguatkan informan untuk melakukan
menggambarkan keseluruhan esensi tindakan pencegahan HIV dan AIDS.
fenomena yang diteliti. Tema-tema utama Tentu saja orang dengan HIV dan AIDS
yang teridentifikasi dari hasil wawancara memiliki kehidupan yang kurang produktif.
mendalam adalah sebagai berikut. Sebut saja, mereka akan kesulitan secara
Niat ini menjadi penting karena merupakan sosial dan ekonomi; Kehilangan pekerjaan,
refleksi dari sikap, norma subjektif dan mendapat diskriminasi dari lingkungan
kontrol perilaku pada diri seseorang. Untuk sekitar, seumur hidup harus hidup dengan
melihat langsung keberadaan niat informan, obat-obatan, dan cepat atau lambat akan
secara spesifik peneliti menanyakan hal segera meninggal (Khalid, 2011).
yang menguatkan dan rencana informan ke Selain itu, kepercayaan atau
depan untuk selalu melakukan tindakan keyakinan tentang salah satu pencegahan
pencegahan HIV dan AIDS. Jawaban yang mungkin diambil oleh informan untuk
informan kemudian dikelompokkan pencegahan HIV dan AIDS yaitu dengan
menjadi jawaban-jawaban yang terkait menggunakan kondom. Kondom adalah
sikap, norma subjektif, dan persepsi kontrol. alat kontrasepsi atau alat untuk mencegah

256
Kana, Nayoan, & Limbu / Unnes Journal of Public Health 5 (3) (2016)

kehamilan atau penularan penyakit kelamin umum oleh semua anggota komunitas,
pada saat bersenggama . maka niat tersebut akan semakin kuat.
Efektivitas kondom sebagai alat Kontrol perilaku yang dipersepsikan
pencegah HIV menurut beberapa studi dalam penelitian ini adalah situasi
mencapai 98,7%. Namun cara hubungan seks, apakah anal, oral, atau
penyimpanan yang tidak tepat, kegagalan masturbasi. Informan memberikan
negosiasi dengan partner seks dan cara perhatian lebih pada anal seks sebagai salah
penggunaan yang tidak benar dapat satu perilaku seks yang perlu menggunakan
mengurangi efektivitas kondom sebagai alat kondom. Sementara pada perilaku seks
pencegah penularan HIV. Informan lainnya (misalnya seks oral), dianggap tidak
mengatakan bahwa kondom merupakan perlu. Dan juga ketersediaan kondom saat
alternatif termurah dan terpercaya serta hendak melakukan hubungan seks.
mudah didapat untuk pencegahan HIV dan Ketersediaan kondom juga
AIDS. mempengaruhi informan untuk memakai
Dalam penelitian ini, norma kondom atau tidak saat melakukan
subjektif adalah pengaruh teman. Teman hubungan seks. Dari hasil wawancara,
satu komunitas dianggap informan informan biasanya mendapatkan kondom
mempengaruhi niat karena dengan melihat dari KPA Kota Kupang dan kadang didapat
status informan yang belum terbuka dengan juga dari Ketua IMOF. Kesadaran pribadi
orang lain bahkan keluarga sendiri maka untuk menggunakan kondom saat
teman satu komunitas dianggap sebagai berhubungan seks akan mempengaruhi
orang terdekat. Rasa kepedulian antar informan untuk menyediakan kondom atau
teman juga menjadi pendorong dan penguat tidak apalagi ada campur tangan pihak yang
bagi informan untuk terus melakukan dianggap senior dalam hal penyediaan
upaya pencegahan HIV dan AIDS. Apalagi kondom. Seperti yang diutarakan salah satu
pengaruh terbesarnya datang dari orang informan bahwa ia selalu menyiapkan
yang dianggap penting dalam komunitas, kondom dalam tas apabila bepergian keluar
yaitu ketua komunitas. walaupun tidak ada rencana untuk
Seperti diungkapkan oleh informan berhubungan seks.
bahwa selain teman-teman dekat mereka Terkait situasi saat berhubungan
dalam komunitas IMOF, ketua komunitas seks (aktivitas seks yang dipilih) terlihat
juga berperan besar dalam upaya bahwa informan belum konsisten dalam
pencegahan HIV dan AIDS, di mana beliau penggunaan kondom. Informan mengaku
selalu mengingatkan teman-teman LSL hanya menggunakan kondom bila
yang lain untuk selalu menggunakan melakukan aktivitas seks anal sedangkan
kondom tiap kali berhubungan seks dan untuk aktivitas seks oral tidak
beliau sendiri juga menyiapkan kondom menggunakan kondom. Alasan informan
bagi teman-teman LSL (kondom ini didapat untuk tidak menggunakan kondom saat
langsung dari KPA Kota Kupang). aktivitas seks oral karena dianggap tidak
Adanya komitmen untuk saling terlalu berbahaya seperti halnya anal seks
mengingatkan dan menasihati antar teman sehingga tidak perlu menggunakan
sesama komunitas akan menguatkan niat kondom. Hal ini terlihat karena informan
untuk melakukan pencegahan HIV dan menganggap bila melakukan anal seks
AIDS, apalagi bila dipraktekkan secara kemungkinan besar akan ada luka lecet

257
Kana, Nayoan, & Limbu / Unnes Journal of Public Health 5 (3) (2016)

yang akan mempermudah penularan masyarakat sekitar tentang status mereka,


infeksi, sedangkan kalau oral seks tidak tapi dengan adanya komunitas IMOF
demikian. mereka bisa saling berbagi dan mendukung.
Dukungan dari lingkungan sekitar Melihat pada tujuan awal pembentukan
juga mempengaruhi seseorang untuk IMOF yaitu agar teman-teman LSL
melakukan tindakan pencegahan HIV dan memiliki tempat atau wadah untuk saling
AIDS. Dukungan sosial adalah pemberian berbagi dan bertukar pikiran serta tidak
bantuan dalam berbagai bentuk baik verbal menutup kemungkinan untuk juga
maupun non verbal seperti perhatian, kasih mendukung dalam pencegahan HIV dan
sayang, penilaian dan nasihat yang AIDS dalam komunitas mereka sendiri.
berdampak positif bagi individu. Dukungan Komunitas IMOF sendiri sering
sosial didapatkan individu dari hubungan melakukan kegiatan-kegiatan dengan tujuan
dengan orang lain dalam suatu jaringan mendukung program pencegahan HIV dan
sosial yang dapat diandalkannya (Khalid, AIDS. Kerja sama dengan pemerintah
2011). (dalam hal ini KPA Kota Kupang dan KPA
Bentuk dukungan sosial yang dapat Provinsi NTT) juga dilakukan untuk
diberikan seperti dukungan emosi, menguatkan teman-teman LSL dalam
dukungan instrumental, dukungan upaya pencegahan HIV dan AIDS. Berikut
persahabatan, dan dukungan informasi. kutipan hasil wawancara dengan informan.
Dukungan-dukungan ini bertujuan untuk Selain dari komunitas IMOF
menumbuhkan kenyamanan dan rasa sendiri, pemerintah melalui Komisi
percaya pada diri individu bahwa ia Penanggulangan AIDS Kota Kupang dan
dihormati, dicintai dan merasa aman (Smet provinsi juga memberikan perhatian lebih
dalam Khalid, 2011). pada komunitas ini. KPA Kota Kupang
Diungkapkan semua informan selalu mengadakan kegiatan pemberian
mereka tidak mendapat dukungan dari informasi tentang Infeksi Menular Seksual
keluarga dan masyarakat karena mereka serta HIV dan AIDS dan melatih teman-
sendiri belum membuka diri tentang status teman LSL menjadi pendidik sebaya yang
mereka sehingga keluarga dan masyarakat bisa menyebarkan informasi tentang IMS,
belum mengetahui keadaan mereka. HIV dan AIDS pada teman-teman LSL
Alasannya yaitu belum siap, takut yang lain. Dukungan lain yang diberikan
mengecewakan keluarga, akan yaitu penyediaan kondom bagi teman-
didiskriminasi apabila statusnya diketahui teman LSL.
dan lain-lain. Seperti pengalaman seorang Informasi merupakan kekuatan
informan yang sudah dicurigai oleh seseorang untuk melakukan sesuatu. Tanpa
keluarga tentang statusnya sehingga ia informasi, seseorang akan kebingungan
dianggap ‘aneh’. Hal-hal seperti ini yang menentukan apa yang sebaiknya dilakukan
membuat para informan belum bisa dalam menghadapi sesuatu. Begitu pula
membuka pilihan orientasi seksualnya pada dengan informasi tentang HIV dan AIDS
orang lain karena akan ada pandangan bagi teman-teman LSL (Ridwan, 2010).
negatif dari keluarga dan masyarakat Informasi tentang HIV dan AIDS
sekitar. diperoleh para informan melalui sosialisasi-
Menurut para informan walaupun sosialisasi dari KPA Kota Kupang.
mereka belum terbuka kepada keluarga dan Sosialisasi-sosialisasi tentang Infeksi

258
Kana, Nayoan, & Limbu / Unnes Journal of Public Health 5 (3) (2016)

Menular Seksual, HIV dan AIDS dari KPA tentang dunia yang sedang didalaminya.
Kota Kupang diungkapkan informan Berikut kutipan hasil wawancara.
merupakan informasi yang dapat Menurut para informan, informasi yang
menambah pengetahuan dan pemahaman mereka peroleh tentang HIV dan AIDS
mereka untuk melakukan pencegahan HIV cukup membantu mereka terhindar dari
dan AIDS. Sosialisasi ini bukan hanya HIV dan AIDS. Alasannya karena mereka
dilakukan satu kali saja oleh KPA tetapi sudah tahu bahaya HIV dan AIDS maka
berulang-ulang sehingga pemahaman mereka berusaha untuk terhindar darinya.
tentang HIV dan AIDS dari informan Dan akan sia-sia bila sudah punya ilmunya
cukup baik. Selain sosialisasi, KPA juga tetapi tidak diterapkan dalam kehidupan
memberikan leaflet dan poster yang dapat nyata. Berikut kutipan hasil wawancara.
digunakan informan sebagai bahan Kehendak bebas atau otonomi
tambahan informasi tentang HIV dan pribadi yaitu kemampuan yang dimiliki
AIDS. Berdasarkan penuturan salah satu setiap individu untuk bertindak sesuai
informan karena latar belakang dengan keinginannya tanpa ada paksaan.
pendidikannya adalah kesehatan maka Kemampuan ini bisa bersifat positif dan
informasi-informasi tentang HIV dan AIDS dengannya manusia dapat berkembang ke
sudah sering didapat, namun ketika arah yang lebih baik.
bergabung di IMOF dan aktif dalam Kebebasan seseorang dalam
kegiatan yang diadakan KPA, mengambil keputusan mempengaruhi
pengetahuannya tentang HIV dan AIDS ini tindakannya ke depan. Seperti halnya
semakin bertambah. dalam melakukan tindakan pencegahan
Selain sebagai penerima informasi, HIV dan AIDS pada teman-teman LSL,
informan juga mengaku sudah kebebasan pribadi mereka mempengaruhi
menyebarkan informasi yang mereka dapat tindakan yang dilakukan (Padang, 2012).
kepada teman-teman satu komunitas yang Dapat terlihat bahwa para informan
tidak berkesempatan mengikuti kegiatan yang memutuskan sendiri untuk melakukan
dari KPA, mereka disebut sebagai pendidik tindakan pencegahan HIV dan AIDS
sebaya. Para informan dilatih menjadi (dalam hal ini lebih ditekankan pada
pendidik sebaya dengan tujuan membagi penggunaan kondom). Beberapa alasan
pengetahuan yang mereka dapat ke teman- yang mempengaruhi para informan untuk
teman yang lain sehingga informasi ini memutuskan sendiri melakukan tindakan
tidak hanya diketahui oleh beberapa dari pencegahan antara lain 1) berbekal
mereka tetapi semua memperoleh informasi pengetahuan yang dimiliki dan
yang sama. menganggap partner seks kurang punya
Dengan kemajuan teknologi pengetahuan tentang HIV dan AIDS,
ternyata informasi bisa diakses oleh siapa informan mengambil keputusan sendiri
saja. Karena itu tidak ada kesulitan dalam untuk pakai kondom saat berhubungan; 2)
mengakses informasi bagi teman-teman orang yang menjadi partner seks menjadi
LSL. Seperti yang diungkapkan informan pertimbangan untuk pengambilan
sebelum bergabung di IMOF, ia telah keputusan apakah pakai kondom atau
banyak membaca berita seputar gay, Infeksi tidak; 3) kondisi diri saat hendak
Menular Seksual, HIV dan AIDS di internet melakukan hubungan seks juga
untuk menambah pemahamannya

259
Kana, Nayoan, & Limbu / Unnes Journal of Public Health 5 (3) (2016)

mempengaruhi keputusan untuk pakai masyarakat umumnya sehingga akan sulit


kondom atau tidak. bagi mereka bila memeriksakan kesehatan
Tindakan pencegahan HIV dan pada pelayanan kesehatan yang belum
AIDS pada LSL juga dipengaruhi oleh mengetahui status mereka. Karena itu
kondisi atau situasi yang memungkinkan. mereka hanya memilih beberapa pelayanan
Penelusuran terkait kondisi/situasi yang kesehatan yang ada yang sudah
memungkinkan, peneliti menanyakan berkomitmen bersama untuk menjaga
beberapa hal terkait pelayanan kesehatan kerahasiaan mereka. Dan menurut
dan petugas kesehatan. penuturan salah satu informan, IMOF
Pelayanan kesehatan dan petugas pernah mengadakan workshop untuk
kesehatan dalam menentukan mengadvokasi petugas-petugas kesehatan
kondisi/situasi yang memungkinkan yang dipilih untuk mengetahui status
dikaitkan dengan upaya pencegahan teman-teman IMOF dan berkomitmen
sekunder yaitu diagnosis dini dan menjaga kerahasiaan itu sehingga
pengobatan segera. Untuk teman-teman Ada banyak tempat pelayanan
IMOF, sudah memiliki pelayanan kesehatan yang bisa diakses siapa saja.
kesehatannya sendiri yaitu Pustu Maulafa Untuk IMOF sendiri sudah bekerja sama
dan RS Bhayangkara sehingga tidak ada dengan Pustu Maulafa dan RS
masalah dalam pemilihan pelayanan Bhayangkara untuk melayani teman-teman
kesehatan. Dan juga petugas kesehatan IMOF yang hendak melakukan
yang biasa melayani teman-teman IMOF di pemeriksaan kesehatan. Hal ini karena
dua tempat layanan kesehatan tersebut jarak fasilitas kesehatan ini mudah diakses
adalah orang-orang yang sudah mengetahui oleh semua teman-teman IMOF apalagi
status teman-teman IMOF. Pustu Maulafa yang memang berdekatan
Berdasarkan penuturan informan dengan sekretariat IMOF sehingga sudah
diketahui beberapa alasan terkait ada kedekatan antara petugas kesehatan
kondisi/situasi yang memungkinkan dan teman-teman IMOF.
mereka melakukan tindakan pencegahan Menurut penelitian terhadap minat
HIV dan AIDS, yaitu 1) pelayanan LSL untuk memeriksakan kesehatan adalah
kesehatan dipilih karena adanya seseorang akan memeriksakan
kepercayaan pada petugas kesehatan yang kesehatannya bila ia sedang membutuhkan
sudah mengetahui status informan; 2) pelayanan kesehatannya tersebut. Faktor
adanya kerja sama antara komunitas IMOF lainnya adalah jarak antara pelayanan
dengan pelayanan kesehatan; 3) jarak kesehatan dengan rumah pasien, pasien
pelayanan kesehatan yang mudah diakses; lebih cenderung mencari pelayanan
4) ada kedekatan antara informan dengan kesehatan yang dekat dan dianggap bisa
petugas kesehatan; 5) pilihan tempat memberikan pelayanan yang terbaik.
layanan kesehatan yang ada sudah cukup Adanya kedekatan hubungan antara
banyak. pasien dan petugas kesehatan juga menjadi
Terkait pelayanan kesehatan yang pilihan bagi pasien untuk mengakses
dipilih karena adanya kepercayaan pada pelayanan kesehatan. Seperti yang
petugas kesehatan yang sudah mengetahui diungkapkan salah satu informan ini, ia
status informan adalah karena melihat memilih pelayanan kesehatan di tiga tempat
status informan yang cukup berbeda dari yang ada di Kota Kupang karena ia sudah

260
Kana, Nayoan, & Limbu / Unnes Journal of Public Health 5 (3) (2016)

memiliki kedekatan dengan petugas dengan hati siapapun pasiennya; 2) lebih


kesehatan yang ada sejak lama sehingga mengutamakan pasien dibandingkan
sudah mengetahui ciri khas dan sikap dari materi; 3) bisa menjaga kode etik
para petugas kesehatan di tempat pelayanan kerahasiaan pasien agar dapat dipercaya.
kesehatan tersebut. Namun di antara para Terkait harapan dari teman-teman
petugas kesehatan tersebut ada juga yang LSL terhadap petugas kesehatan ini
belum mengetahui statusnya dan si diungkapkan sebagai petugas kesehatan
informan memang tidak berniat membuka sudah menjadi tugas dan kewajiban mereka
statusnya karena berbagai pertimbangan. untuk melayani pasien dengan baik tanpa
Ketika ditanyakan tentang membeda-bedakan status sosial dan
pelayanan kesehatan, informan langsung ekonomi pasien yang datang berobat.
mengaitkannya dengan layanan VCT. Ini Karena bila petugas kesehatan masih
menunjukkan bahwa informan lebih membeda-bedakan pasien maka hanya
memfokuskan pemeriksaan kesehatan pada orang yang memiliki uang yang bisa
layanan VCT walaupun kadang juga mendapatkan kesehatan sedangkan orang
memeriksakan kesehatan diri yang lain. yang tidak memiliki uang akan mati tanpa
Informan juga mengaku bahwa untuk berobat.
pemeriksaan kesehatan lain (selain VCT), Petugas kesehatan juga diharapkan
mereka tidak mendapat perlakuan yang bisa menjaga kerahasiaan pasien-pasien
berbeda sehingga mereka tidak ragu-ragu yang datang berobat, apalagi untuk pasien
untuk memeriksakan diri. dengan status seperti informan atau yang
Selain itu, ketika ditanyakan seandainya HIV. Hal ini tentu menjadi ketakutan
melakukan pemeriksaan kesehatan pada pasien bila statusnya sampai diketahui
layanan kesehatan/petugas kesehatan yang orang lain. Karena itu besar harapan bagi
belum mengetahui status teman-teman petugas kesehatan untuk benar-benar
LSL, peneliti menemukan jawaban yang menjaga kode etik profesinya sehingga
berbeda. Ada yang mengatakan mereka pasien yang datang berkunjung merasa
tidak didiskriminasi karena statusnya belum aman, nyaman dan percaya terhadap
diketahui, tetapi berdasarkan pengalaman pelayanan kesehatan yang mereka
teman-teman mereka ada yang pernah kunjungi.
mendapat perlakuan yang
berbeda/didiskriminasi. Namun ada SIMPULAN
kecenderungan informan mengatakan akan
didiskriminasi bila statusnya diketahui. Berdasarkan hasil penelitian dapat
Berdasarkan pernyataan di atas disimpulkan bahwa para informan mulai
terlihat bahwa ada ketakutan dari informan menyadari preferensi seksualnya ke sesama
apabila petugas kesehatan tahu tentang jenis sejak kecil. Para informan juga dapat
status mereka, apalagi bila itu orang menjelaskan dengan baik tentang
terdekat. Namun, sampai saat ini karena pengertian HIV dan AIDS, cara penularan
teman-teman LSL masih tertutup dengan dan cara pencegahan HIV dan AIDS.
statusnya, mereka belum mengalami Adanya sikap, norma subjektif, dan persepsi
diskriminasi dari petugas kesehatan. Ada kontrol yang mempengaruhi niat sehingga
harapan dari teman-teman LSL bagi informan memiliki niat yang kuat untuk
petugas kesehatan yaitu 1) melayani harus melakukan tindakan pencegahan

261
Kana, Nayoan, & Limbu / Unnes Journal of Public Health 5 (3) (2016)

HIV dan AIDS. Bentuk dukungan sosial Hardisman (2009). HIV/AIDS di Indonesia:
Fenomena Gunung Es dan Peranan
yang didapat informan dari komunitas dan
Pelayanan Kesehatan Primer. Jurnal
pemerintah berupa dukungan emosi dan Kesehatan Masyarakat Nasional, 3 (5): 236-
informasi. Hal ini cukup menguatkan 240
informan untuk melakukan tindakan
pencegahan HIV dan AIDS. Informasi yang Khalid, Idham. 2011. Pengaruh Self Esteem dan
Dukungan Sosial Terhadap Optimisme Hidup
diperoleh para informan seputar HIV dan
Penderita HIV/AIDS.
AIDS berasal dari komunitas IMOF sendiri http://repository.uinjkt.ac.id (15 Agustus
dan sosialisasi dari KPA Kota cukup 2014, pukul 19.00)
membantu informan dalam melakukan
tindakan pencegahan HIV dan AIDS. Laksana, Agung. 2010. Faktor-Faktor Risiko
Penularan HIV/AIDS pada Laki-laki dengan
Selain itu, informan juga secara mandiri Orientasi Seks Heteroseksual dan
memanfaatkan teknologi untuk mencari Homoseksual di Purwokerto. Jurnal Mandala
informasi. Para informan juga diberdayakan of Health. Vol. 4, No. 2, hal 113. Purwokerto:
menjadi pendidik sebaya dalam Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu
Kesehatan, Universitas Jenderal Soedirman
penyampaian informasi kepada teman-
Purwokerto
teman komunitas. Keputusan untuk
melakukan tindakan pencegahan (dalam hal Muntaen, N. et al. (2015). Addressing the Sexual and
ini penggunaan kondom) diputuskan sendiri Reproductive Health Needs People in
oleh para informan. Walaupun ada Ethiopia: An Analysis of the Current
Situation. African Journal of Reproductive
beberapa situasi yang mempengaruhi Health, 19 (3): 87-99
informan dalam mengambil keputusan
memakai kondom saat berhubungan seks. Padang, John Toding. 2012. Persepsi Kaum
Kondisi/situasi yang memungkinkan dalam Homoseksual Terhadap Aktivitas Seksual
Yang Berisiko Terjadi HIV-AIDS.
hal ini pelayanan kesehatan dan petugas
http://repository.uinjkt.ac.id (14 Juni 2014,
kesehatan. Para informan menganggap pukul 18.00)
pelayanan kesehatan yang nyaman
dikunjungi bila petugas kesehatannya bisa Paryati, Tri dan Ardini S. Raksanagara. 2010.
dipercaya, memiliki fasilitas kesehatan yang Gambaran Gaya Hidup (Life Style) Berisiko
di Kalangan Kaum Homoseksual (Gay) di
memadai dan jarak pelayanan
Kota Medan. Jurnal Kesehatan Masyarakat
kesehatannya mudah dijangkau. Vol.01, No.02 hal 111. Medan: Bagian Ilmu
Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan
DAFTAR PUSTAKA Masyarakat USU

Ridwan, Eka Sari. 2010. Perilaku Waria dalam


Amaliyasari, Y. A. N. P. (2008). Perilaku Seksual
Upaya Pencegahan HIV/AIDS di Kabupaten
Anak Usia Pra Remaja di Sekitar Lokalisasi
Bulukumba.
dan Faktor yang Mempengaruhi. Jurnal
http://id.proposalkualitatifhivaids/index.htm
Penelitian Dinas Sosial, 56-60
l (22 Desember 2013, pukul 19.00)

Ditjen PP & PL Kemenkes RI. 2014. Statistik Kasus KPAKK. 2014. Laporan Tahunan KPA Kota
HIV/AIDS di Indonesia Dilaporkan s/d
Kupang. Kupang: KPAKK
Maret 2014.
http://www.depkes.org/laporankasushivaids
/ (13 Agustus 2014, pukul 18.30) UNAIDS. 2010. Deklarasi Komitmen Sidang Umum
PBB tentang HIV dan AIDS 25-27 Juni 2010

262
Kana, Nayoan, & Limbu / Unnes Journal of Public Health 5 (3) (2016)

Widyastuti, E. S. (2009). Personal dan Sosial yang


Mempengaruhi Sikap Remaja terhadap
Hubungan Seks Pranikah. Jurnal Promosi
Kesehatan Indonesia, 75-85.

263