Anda di halaman 1dari 44

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

KECELAKAAN KERJA KARYAWAN DENGAN METODE STATISTIK


MULTIVARIAT PADA SEKTOR FABRIKASI DI BENGKEL
BHIMASENA RESEARCH & DEVELOPMENT

PROPOSAL PENELITIAN TUGAS AKHIR


Diajukan untuk Memenuhi dan Melengkapi Persyaratan Akademik Mata Kuliah
Tugas Akhir Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas
Widyatama

Disusun oleh:

Iqbal Fauzi (0516124024)

PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS WIDYATAMA
SK. Ketua Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT)
Nomor: 112/SK/BAN-PT/Akred/S/III/2015
BANDUNG
2018
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Penerapan teknologi akan memicu pembangunan ekonomi memasuki era
indrustrialisasi. Dipihak lain tidak ditanggapi secara berencana dan terpadu
ekonomi industri sehingga dapat menyebabkan kecelakan kerja, penyakit
akibat bekerja, bahkan peningkatan pegangguran. Faktor tersebut yang
menyebabkan perusahaan-perusahan harus menjaga kesejahteraan maupun
keselamatan karyawan dalam menjalakan aktifitas pekerjaan.
Kesejahteraan karyawan merupakan salah satu tujuan yang hendak
dicapai dalam dunia usaha baik itu pegusaha, pekerja itu sendiri maupun
instansi-instansi pemerintah, yang dalam tugasnya pekerja mengelola sumber-
sumber daya manusia, dan pihak-pihak lain dari kelembagaan swasta. Faktor
manusia merupakan salah satu faktor yang dominan dalam pencapaian
keberhasilan dari suatu usaha, sebab merekalah nantinya yang akan mengelola
faktor-faktor yang ada dalam perusahaan.
Hal ini sejalan dengan pemikiran-pemikiran dunia dewasa yang
menuntut perlunya kenyamanan dan keamanan manusia dalam bekerja.
Pemikiran-pemikiran tersebut ditandai dengan filosofi yang menjadikan
manusia sebagai titik sentral dalam pembagunan nasional untuk mencapai
tingkat kehidupan dan kesejahteraan. Semua itu merupakan sasaran pokok
yang tidak terlepas dari sistem dan teknologi apapun yang dipakai dalam proses
produksi. Sebagai salah satu aspek dari kesejahteraan kerja terutama dalam era
indudtrialisasi.
Tantangan dalam industrialisasi akan semakin meningkat dengan adanya
teknologi canggih dan resiko tinggi. Tantangan tersebut harus dijawab dengan
kesiapan tenaga kerja baik dari segi pendidikan, keterampilan, maupun alat-
alat pelindung kerja. Selain pimpinan perusahaan masalah keselamatan
maupun kecelakaan kerja juga harus diperhatikan oleh karyawan itu sendiri.
Oleh karena itu antisipasi kecelakaan kerja merupakan salah satu usaha agar
para karyawan selamat dalam pekerjaan, sehingga terhindar dari kecelakaan
kerja yang mungkin tejadi.
Keselamatan kerja dalam suatu proses produksi dan jasa merupakan
suatu syarat yang harus diperhatikan oleh perusahaan dan para karyawan.
Dengan mendapatkan petunjuk dan pengawasan teknik dari pemerintah seperti
yang tercantum dalam undang-undang No.1 tahun 1970, telah dijabarkan
tentang cara-cara pemerintah mencegah timbulnya kebakaran dan kecelakaan.
Masalah-masalah keselamatan dan kesehatan kerja tidak lepas dari
kegiatan dalam industri secara keseluruhan, maka pola-pola yang
harusdikembangkan di dalam penanganan bidang keselamatan dan kesehatan
kerja dan pengadaan pengendalian potensi bahaya harus mengikuti pendekatan
sistem yaitu dengan menerapkan Sistem Manajemen Keselamatan dan
Kesehatan Kerja (SMK3). Perbuatan tidak aman (unsafe act) maupun keadaan
yang tidak aman (unsafe condition) lebih sering terjadi daripada kecelakaan
yang terlihat atau teralami. Seandainya manajemen keselamatan dan kesehatan
kerja mengingatkan sedini mungkin mengenai faktor bahaya dan risiko
kecelakaan kerja serta mewajibkan penggunaan alat pelindung yang sesuai
dengan potensi bahaya yang ada di perusahaan maka para pekerja pun akan
waspada pada saat berada di lokasi berbahaya dan beresiko kecelakaan kerja
tersebut. Jadi, dapat disimpulkan bahwa kecelakaan kerja yang terjadi berasal
dari Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) yang tidak
dilakukan dan diterapkan dengan baik.
Bhimasena Research & Development merupakan perusahaan yang
berfokus dalam produksi dan pengembangan teknologi di bidang militer
terutama untuk TNI AD, AU, dan AL. Bhimasena Research & Development
memiliki jumlah karyawan 250 orang di berbagai bagian, adapun bagian
produksi mempekerjakan 80 orang karyawan yang di bagi di berbagai sektor.
Fasilitas kerja di bagian produksi berupa: Workshop, Warehouse, dan
Toolhouse. Untuk menunjang aktivitas perusahaan. Bhimasena Research &
Development juga berusaha untuk mencegah timbulnya kecelakan kerja dan
kebakaran baik bagi perusahaan maupun karyawan yang bekerja diperusahaan.
Penulis memfokuskan penelitian ini pada kecelakaan kerja karyawan
bagian produksi terutama pada sektor fabrikasi, karena kasus kecelakan kerja
yang paling sering terjadi hanya dialami oleh karyawan di sektor fabrikasi.
Tingkat kecelakaan kerja di Bhimasena Research & Development diperkirakan
sebesar 20% dari 80 orang karyawan/tahunnya (hasil dari wawancara dengan
bagian HSE/health safety environment artinya kesehatan keselamatan
lingkungan perusahaan tersebut pada tanggal 15 Desember 2016).
Dalam kegiatan operasionalnya Bhimasena Research & Development
juga memperhatikan kerja para karyawannya. Hal ini terlihat dalam usaha
untuk mengurangi kecelakaan kerja, maka perusahaan menyediakan alat-alat
pelindung diri seperti helm, kacamata, masker, sarung tangan, sabuk
pengaman, dan sepatu yang ditentukan oleh perusahaan. Setiap karyawan wajib
menggunakan alat-alat pelindung yang sudah disediakan oleh perusahaan.
Selain itu karyawan juga mempunyai kartu JAMSOSTEK (Jaminan Sosial
Tenaga Kerja).
Berdasarkan fenomana dan permasalahan diatas, penulis tertarik untuk
meneliti tetang faktor apa yang mempengaruhi kecelakaan kerja karyawan
pada Bengkel Bhimasena Research & Development ini dengan metode statistik
multivariate, sehingga penulis mengambil judul: “ANALISIS FAKTOR-
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KECELAKAAN KERJA
KARYAWAN DENGAN METODE STATISTIK MULTIVARIAT
PADA SEKTOR FABRIKASI DI BENGKEL BHIMASENA
RESEARCH & DEVELOPMENT.”

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan identifikasi masalah dan batasan masalah yang diungkapkan
di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu:
1. Selama periode 2017 Oktober s/d 2018 oktober, faktor-faktor apa saja yang
mempengaruhi kecelakaan kerja?
2. Faktor apa yang mendominasi kecelakaan kerja dapat terjadi?
3. Bagaimana cara meminimalisir faktor yang mendominasi kecelakaan kerja?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kecelakaan kerja pada
karyawan sector fabrikasi di Bengkel Bhimasena Research & Development.
2. Mengetahui faktor yang mendominasi kecelakaan kerja pada karyawan
sector fabrikasi di Bengkel Bhimasena Research & Development.
3. Mengetahui cara meminimalisir faktor yang mendominasi kecelakaan kerja
yang terjadi pada karyawan sector fabrikasi di Bengkel Bhimasnea
Research & Development.

1.4 Manfaat Penelitian


Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Dapat menerapkan ilmu pengetahuan yang diperoleh dibangku kuliah
dengan peraktek yang terjadi dilapangan.
2. Diharapkan pada akhirnya penelitian ini dapat memberikan masukan pada
perusahaan Bhimasena Research & Development mengenai permasalahan
tingkat kecelakaan kerja.
3. Diharapkan pada akhirnya penelitian ini dapat memberikan informasi atau
manfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan menangani masalah yang
sama untuk menciptakan keselamatan kerja karyawan.

1.5 Batasan Masalah


Dalam penelitian ini terdapat beberapa batasan-batasan adalah sebagai
berikut:

1. Penelitian dilakukan di Bengkel Bhimasena Research & Development.


2. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan
pendekatan kuantatif
3. Pengambilan data dalam penelitian ini dengan menggunakan teknik
wawancara observasi dan dokumentasi/memberikan kuisioner.
4. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis menggunakan metode statistik
multivariate (regresi linier berganda).
5. Penelitian mengenai penerapan sistem manajemen keselamatan dan
kesehatan kerja dilakukan dengan pengambilan data observasi di perusahan
terkait sesuai dengan peraturan-peraturan yang berlaku.
6. Peneletian hanya dilaksanakan pada sector fabrikasi.
7. Tidak membahas mengenai biaya

1.6 Sistematika Penulisan


Penulis terlebih dahulu menyusun sistematika Penulisan laporan agar
mempermudah Penulis dalam penyusunan laporan. Adapun sistematika
Penulisannya adalah sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN
Bab ini berisi penjelasan mengenai latar belakang masalah, perumusan masalah,
tujuan dan manfaat pemecahan masalah, pembatasan masalah dan asumsi,
lokasi, dan sistematika penulisan laporan.

BAB II LANDASAN TEORI


Bab ini berisi penjelasan mengenai teori yang relevan dengan metode yang
digunakan untuk pemecahan masalah. Metode yang digunakan dalam penelitian
ini adalah metode Statistik Multivariat.

BAB III METODE PENELITIAN


Bab ini berisi penjelasan tentang metode pemecahan masalah dan langkah-
langkahnya. Model pemecahan masalah adalah alat (tools) yang diambil dari
teori yang relevan atau ringkasan kerangka berfikir yang mengandung variabel
yang diteliti termasuk keterkaitan antara variabel yang dapat disajikan dalam
bentuk diagram, perumusan matematis atau bentuk lainnya. Langkah-langkah
pemecahan masalah berisikan langkah-langkah yang akan dilakukan untuk
memecahkan masalah dan diagram alir (flow chart) pemecahan masalah.

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA


Bab ini berisi penjelasan tentang pengumpulan dan pengolahan data yang
ditujukan untuk memecahkan masalah, serta berisi penjelasan tentang
pengumpulan data dan pengolahannya yang ditujukan untuk memecahkan
masalah seperti yang telah ditetapkan pada Bab III. Bab ini juga menjawab atas
permasalahan penelitian, membandingkan hasil temuan dengan teori-teori yang
telah ada serta hasil implementasi dari pemecahan masalah.

BAB V ANALISIS
Bab ini berisi analisis dan pembahasan terhadap hasil pengolahan data yang
didapat selama proses kegiatan penelitian berlangsung. Pada bagian ini
menjawab masalah penelitian atau menunjukkan tujuan penelitian yang akan
dicapai. Pada bagian analisis ini dilakukan penjabaran yang telah diuraikan pada
bagian sebelumnya untuk dituangkan dalam kesimpulan.

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN


Bab ini berisi tentang kesimpulan Penulis dari hasil penelitian dan merupakan
jawaban dari perumusan masalah dan tujuan penelitian, serta saran yang
diusulkan berdasarkan hasil dari solusi yamg diperoleh Penulis selama
melakukan penelitian.
BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Keselamatan dan Kesehatan Kerja


Keselamtan kerja pada hakekatnya merupakan tangung jawab dan
kepentingan bersama baik pihak perusahaan, tenaga kerja, maupun pemerintah.
Namun disadari bahwa selama ini kita masih mempunyai hambatan antara
lain disebabkan masih kurangnya kesadaran manyarakat, baik pengusaha
maupun tenaga kerja akan arti pentingnya keselamatan kerja.
Keselamatan kerja adalah pemikiran atau upaya untuk menjamin keadaan,
keutuhan atau kesempurnaan jasmani maupun rohani manusia serta hasil dan
budayanya tertuju pada kesejahteraan manusia pada umumnya dan tenaga kerja
khususnya (Khairulnas, 1999 : 2).
Seorang ahli dalam bidang keselamatan kerja Willie Hammer,
mengatakan bahwa program keselamatan kerja diadakan karena tiga alasan
yang penting, yakni berdasarkan prikemanusiaan, berdasarkan undang-undang
dan alasan economi. (Moekijat, 1999 : 142).
Tujuan dan syarat-syarat mengenai keselamatan kerja telah diatur dalam
undang-undang nomor 1 tahun 1970 yang berlaku tanggal 12 januari 1970
pasal 3 yaitu (Ariandja, 2002 : 313) :
1. Mencegah dan mengurangi kecelakaan.
2. Mencegah, mengurangi, dan memadamkan kebakaran.
3. Mencegah dan menguragi bahaya peledakan.
4. Memberi pertolongan pada kecelakaan.
5. Mencegah dan mengendalikan timbulnya penyakit akaibat kerja baik
fisik maupun fisikis, keracunan, infeksi, dan penularan.
6. Pengaman material, kontruksi, bangunan, alat-alat kecil, mesin-mesin
dan instalasi.
7. Peningkatan produksivitas kerja atas tingkat keamanan kerja yang
tinggi
8. Memperoleh fasilitas kerja yang memuaskan bagi
karyawan.
9. Mengamankan dan memelihara segala jenis bangunan.
10. Menyesuaikan dan menyempurnakan pengamalan pada pekerjaan
yang berbahaya sehingga kecelakaan menjadi tambah tinggi.
Pada dasarnya program keselamatan kerja dirangcang untuk
menciptakan lingkungan dan perilaku kerja yang menunjang keselamatan kerja
dan keamanan itu sendiri, dan membangun serta mempertahankan lingkungan
kerja fisik yang aman, yang dapat dirubah untuk mencegah terjadinya
kecelakaan. (Panggabean, 2002 : 112).

2.1.1 Kecelakaan Kerja


Kecelakaan kerja pada hakekatnya merupakan tanggung jawab dan
kepentingan bersaman baik pihak perusahaan, tenaga kerja maupun
pemerintah. Namun disadari bahwa pada saat ini kita masih mempunyai
hambatan, antara lain disebabkan masih kurangnya kesadaran masyarakat,
perusahaan baik pegusaha maupun tenaga kerja akan arti pentingnya
keselamatan kerja. Ada beberapa pengertian mengenai kecelakaan kerja,
antara lain:
1. Kecelakaan kerja adalah suatu kejadian yang tidak dikehendaki atau
tidak diduga semula yang dapat mengganggu aktifitas dan
menimbulkan kerugian baik manusia maupun harta benda
(Sastrohadiwirjo, 2002 : 89).
2. Kecelakan kerja merupakan suatu kejadian yang tidak terduga dan tidak
dikehendaki, yang mengacukan proses suatu aktivitas yang telah
teratur, dan terdapat empat faktor yang bergerak dalam satu kesatuan
yaitu: lingkungan kerja, bahan, peralatan, dan manusia (Gempur, 2004
: 7).
3. Flippo mengemukakan bahwa kecelakaan kerja adalah suatu peristiwa
yang tidak direncanakan dan harus dianalisis dari segi biaya dan sebab-
sebabnya (Panggabean, 2002 : 114).
4. Menurut Dale S. Beach dalam bukunya “Personal : The Management
Of People at Work”, “an accident is really an unexpected occurrence
that interrupts the regular progress of an activity”. Terjemahannya
kira- kira demikaian : Sesungguhnya suatu kecelakaan kerja adalah
suatu kejadian atau suatu peristiwa yang tidak diharapkan yang
merintagi atau mengganggu jelannya kegiatan biasa (Moekijat, 1999 :
146).

Dari defenisi diatas jelaslah bahwa kecelakaan kerja tidak hanya


sebatas pada insiden-insiden yang menyangkut luka-luka saja, tetapi juga
mengakibatkan kerugian fisik dan material. Kecelakaan akan selalu disertai
dengan kerugian material maupun penderitaan dari yang paling ringan
sampai yang paling berat dan bahkan meninggal. Oleh sebab itu sebelum
terjadi kecelakaan perlu dilakukan tindakan-tidakan dalam mengantisipasi
kecelakaan, karena dengan adanya antisipasi dapat meguragidan
memperkecil jumlah kecelakaan kerja karyawan dalam menjalankan tugas
operasionalnya.

2.1.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kecelakaan Kerja


Pada dasarnya kecelakaan kerja adalah apa saja yang tidak
direncanakan atau yang tidak diadakan untuk perubahan atau penyimpangan
dari apa yang diharapkan, tetapi ada sebab-sebabnya. Sebab-sebab itu perlu
diketahui dengan jelas agar usaha keselamatan dan pencegahan dapat diambil,
kecelakaan tidak terulang kembali dan kerugian akibat kecelakaan dapat
dihindari.
Sebab-sebab kecelakaan, dikelompokkan atas: (Husnan dan
Ranopandojo, 2000:250), pertama yaitu sebab teknis. Sebab teknis
menyangkut masalah kekurangan peralatan yang digunakan, mesin-mesin,
bahan-bahan serta buruknya lingkungan kerja, penerangan suara kebisingan
yang berlebihan dan maintenance, selanjutnya yang kedua yaitu sebab
manusia (human) yang biasanya disebabkan oleh devisiensies para individu
seperti: sikap yang ceroboh, tidak hati-hati, tidak mampu menjalankan tugas
dengan baik, mengantuk, pencandu obat bius, atau alkohol.
Selanjutnya dapat pula dikelompokkan faktor-faktor yang
mempengaruhi kecelakaan kerja, pertama yaitu faktor internal yang berasal
dari karyawan itu sendiri, seperti bertindak sembrono, terlalu
menggampangkan dan cenderung lalai dalam melakukan tugasnya dan
karyawan cenderung malas mengunakan peralatan kesehatan yang sudah
disediakan untuk karyawan dari perusahaan dan kedua yaitu faktor eksternal
yang berasal dari lingkungan, seperti tanah atau medan yang licin,
pemeliharan mesin yang tidak baik, kaca jendela tidak dilengkapi dengan
tirai, tata letak ruang yang kurang aman, dan adanya peralatan yang rusak
sangat berpengaruh dengan keselamatan kerja. (Panggabean, 2002 : 115).

Sugeng Budiono (2003 : 102) ada tiga alasan dasar terjadinya


kecelakaan kerja di tempat kerja yaitu: kejadian yang bersifat kebetulan,
kondisi yang tidak aman, dan tindakan-tindakan yang tidak aman yang
dilakukan oleh pihak karyawan. Dari uraian diatas, dapat disimpulkan
bahwa terjadinya kecelakaan kerja adalah karena kurangnya kontrol yang
menimbulkan penyebab dasar yang kemudian menjadi penyebab langsung
sehingga menyebabkan kecelakaan yang menimbulkan kerugian fisik
maupun materi. Berdasarkan dari uraian diatas, maka penulis mengambil
faktor- faktor yang mempengaruhi kecelakaan kerja yaitu faktor manusia,
faktor teknis, dan faktor lingkungan kerja.

1. Faktor Manusia
Manusia mempunya keterbatasan dalam mengoperasikan peralatan-
peralatan yang digunakan, seperti keterampilan dan keahlian,
pengalaman dan kedisiplinan, selain itu disebabkan oleh efisiensi para
individu seperti sikap ceroboh, tidah hati-hati dan tidak mampu
menjalankan tugas dengan baik. Berikut ini akan diuraikan faktor
manusia dan keterbatasannya yang terjadinya kecelakaan kerja antara
lain:
a. Keterampilan dan Keahlian
Keterampilan meliputi pengetahuan tentang cara kerja dan
prekteknya serta pengenalan aspek-aspek pekerja secara
terperinci sampai kepada hal-hal yang menyangkut keselamatan
kerja. Dengan demikin semakin tinggi tingkat keterampilan kerja
maka semakin tinggi pula tingkat keselamatan yang diharapkan
dan kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja akan mengecil.
Sedangkan keahlian merupakan sesuatu yang dimiliki pekerja
yang sesuai dengan pekerjaannya, semakin tinggi keahliannya
maka semakain rendah pula kesalaha-kesalahan yang dilakukan
dalam bekerja. Keterampilan adalah kemampuan mengerjakan
tugas fisik atau mental tertentu. Sedangkan pengetahuan adalah
informasi yang dimiliki orang dalam bidang spesifik (Wibowo,
2007 : 88). Keterampilan dan keahlian kerja adalah proses belajar
yang perlu dilakukan oleh seseorang karyawan.

b. Pengalaman
Segala kegiatan atau aktivitas kita sehari-hari merupakan suatu
hal yang akan menjadi suatu pengalaman, baik itu pengalam baik
maupun pengalaman buruk. Begitu jaga halnya pengalaman ini
terjadi pada setiap karyawan yang bekerja di suatu perusahaan
yaitu pengalaman yang mereka dapat dalam melakukan pekerjaan
dalam sebuh perusahaan.
Pengalaman merupakan bagian dari pengetahuan yang dimiliki
oleh seseorang karyawan untuk mendukung suatu hal. Maka perlu
adanya intelegensia yang baik (Mangkunegara, 2004 : 67).
Pengalaman dalam bekerja biasanya didapatkan dari lamanya
karyawan bekerja, baik dari perusahaan dimana karyawan bekerja
sekarang, maupun dari tempat karyawan bekerja sebelumnya.
Pengalaman ditujukan untuk kewaspadaan terhadap kecelakaan
kerja akan lebih baik bila dipandang dari lamanya karyawan
bekerja dalam perusahaan. Karena semakin lama karyawan
bekerja maka semakin banyak pengalam yang diperoleh.

c. Kedisiplinan
Kedisiplinan merupakan sesuatu yang terpenting bagi karyawan,
karena semakin baik disiplin karyawan, semakin rendah
kesalahan-kesalahan kerja yang dilakukannya. Tanpa disiplin,
sulit bagi organisasi perusahaan mencapai hasil yang optimis.
Disiplin yang baik mencerminkan rasa tanggung jawab seseorang
terhadap tugas-tugas diberikan kepadanya. Hal ini mendorong
gairah kerja, semangat kerja, dan terwujudnya tujuan yang
ditetapkan oleh perusahaan tersebut. Kedisiplinan kerja dapat
didefenisikan sebagai bentuk pengendalain diri pegawai dan
pelaksanaan yang teratur, yang menunjukan tingkat kesungguhan
tim tenaga kerja dalam organisasi (Simamora, 2000 : 213).
Sedangkan menurut Hasibuan (2001 : 193) Kedisiplinan adalah
kesadaran dan kesediaan seseorang menantikan semua peraturan
perusahaan dan norma-norma sosial yang berlaku.

Jadi, seorang akan bersedia mematuhi semua peraturan serta


melaksanakan tugas-tugasnya, baik secara sukarela maupun
karena terpaksa. Kedisiplinan diartikan jika karyawan selalu
datang dan pulang tepat pada waktunya, mengerjakan semua
pekerjaan dengan baik, mematuhi semua peraturan perusahaan,
dan norma- norma sosial yang berlaku.

2. Faktor Teknis

Faktor teknis yang kurang mendukung berpengaruh terhadap


kecelakaan kerja biasanya ditimbulkan oleh penyusunan mesin yang
tidak teratur, umur mesin, pemeliharaan, dan perawatan yang kurang
baik serta alat pengaman disekitar mesin yang berbahaya.

a. Mesin dan Peralatan Material Handling


Mesin dan peralatan material handling juga berpengaruh terhadap
kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja. Mesin dan peralatan
material handling mempunyai hubaungan yang sangat erat satu
sama lain. Mesin merupakan suata alat peralatan atau tenaga yang
digunakan untuk membantu manusia dalam mengerjakan produk
itu atau bagian-bagian dari produk tertentu dari produk itu,
sedangkan peralatan material handling adalah peralatan yang
membantu mesin untuk proses-proses produksi yaitu yang
berguna untuk mengangkat, mengankut, dan meletakkan bahan-
bahan yang diterima oleh perusahaan ada saat barang produk
yang akan dimasukkan atau dikeluarkan dari perusahaan. Kedua
alat ini baru bias ber operasi apabila ada manusia yang bertindak
sebagai operatornya.

b. Maintenance
Maintenance merupakan kegiatan untuk memelihara karyawan
atau menjaga fasilitas atau peralatan dan mengadakan perbaikan
atau penyesuaian penggantian yang diperlukan agar terdapat
suatu keadaan operasi produksi yang memuaskan sesuia apa yang
direncanakan. Tujuan pemeliharaan karyawan adalah sebagai
berikut (Hasibuan, 2001 : 179) :

1) Untuk meningkatkan produktivitas kerja karyawan.


2) Meningkatkan disiplin dan menurunkan absensi karyawan.
3) Meningkatkan loyalitas dan menurunkan tingkat turn over
karyawan.
4) Memberikan ketenangan, keamanan dan kesehatan
karyawan.
5) Meningkatkan kesejahteraan karyawan dan keluarganya.
6) Memperbaiki kondisi fisik, mental dan sikap karyawan.
7) Mengurangi konflik dan menciptakan suasana yang
harmonis.
8) Mengefektifkan pengadaan karyawan

Jika pemeliharan ini diabaikan bukan hanya kesan kotor yang


menjadi akibatnya tetapi keselamatan tenaga kerja akan
terganggu. Dapat dibayangkan jika mesin rusak, maka akan
terjadi kerugian yang besar bagi perusahaan maupun tenaga kerja.

3. Faktor Lingkungan Kerja

Lingkungan kerja dalam perusahaan jelas mempengaruhi pekerja


didalam perusahaan tersebut. Lingkungan kerja yang buruk akan
mempengaruhi pekerja, sehingga pekerja merasa terganggu dalam
pekerjaannya.
Lingkungan kerja merupakan suatu lingkungan dimana karyawan
tersebut bekerja. Lingkungan kerja secara tidak langsung akan
mempengaruhi keselamatan kerja karyawan yang bekerja dalam
perusahaan tersebut. Ada beberapa faktor (Ahyari, 1999 : 124):

a. Lay Out
Tata ruang (Lay Out) adalah tatanan secara fisik dari suatu
terminal kerja beserta peralatan dan perlengkapan yang mengacu
pada proses produksi. Dan merupakan pengaturan letak dari
sumber-sumber yang digunakan dalam proses produksi, yang
akan mengatur arus material, produktivitas dan hubungan antara
manusia (Sumayang, 2003 : 133). Peta letak ruang yang baik
adalah mempertimbangkan bagaimana memperoleh penggunaan
yang tinggi pada masing- masing ruangan. Oleh karena itu tidak
ada aturan adanya ruang yang tidak terpakai, karena akan
menimbulkan kesempitan pada perusahaan. Perancang tata letak
ruang termasuk keputusan mengenai bagaimana mengatur
ruangan dalam fasilitas fisik. Dalam perencanaan tata letak
mengenai proses dan peralatan diterjemahkan menjadi
pengaturan fisik suatu produksi (Heyzer dan Render, 2001 :
273).

b. Penerangan
Segala kegiatan atau pekerjaan yang dilakaukan dalam
perusahaan perlu adanya penerangan atau cahaya demi
kelancaran kegiatan perusahaan, yang mana penerangan
merupakan salah satu faktor yang mendukung tercapainya suatu
kegiatan dalam sebuah perusahaan. Penerangan dalam bekerja
adalah cukupnya sinarnya ada dalam kita kerja. Penerangan untuk
ruang kerja masing-masing kayawan didalam yang didirikan
perusahaan ini merupaka faktor yang cukup penting dalam
peningkatan produktivitas kerja dari perusahaan yang
bersangkutan.
c. Kebisingan
Dalam pelaksanan proses operasi suatu perusahaan, maka pada
umumnya akan terdapat suara bising dari mesin dan peralatan
yang pergunakan didalam perusahaan yang bersangkutan.
Sebenarnya suara bising yang terjadi dalam ruang tersubut tidak
dikehendaki oleh para karyawan tersebut, karena hal ini akan
mengganggu ketenangan kerja dan ketentraman kerja dari
karyawan yang bekerja dalam perusahaan tersebut. Pada
hakekatnya, tempat kerja yang bersih, tata letak ruang yang
teratur, penerangan yang cukupdan suara bising yang dapat
dikendalikan akan menyumbang pada peningkatan produktivitas
tenaga kerja. Selain tiu orang dapat terhindar dari kelesuan kerja
dan sekaligus mencegah terjadinya kecelakaan kerja dengan
berbagai alat. Namun terjadinya pencegahan kecelakaan dengan
mempertahankan kondisi fisik karyawan tetap diperlukan. Oleh
karena itu karyawan harus didorong dan dimungkinkan untuk
mempertahankan kondisi badaniah dalam aktivitasnya.

2.1.3 Pencegahan Kecelakaan Kerja


Suatu pencegahan kecelakaan yang efektif memerlukan pelaksanaan
pekerjaan dengan baik oleh setiap orang ditempat kerja. Semua pekerja harus
mengetahui bahaya dari bahan dan peralatan yang mereka tangani, semua
bahaya dari operasi perusahaan serta cara pengendaliannya. Untuk itu
diperlukan pelatihan untuk meningkatkan pengetahuan pekerja mengenai
keselamatan dan kesehatan kerja atau dijadikan satu paket dengan pelatihan
lain (Depnaker RI, 1996:48).

Pencegahan kecelakaan berdasarkan pengetahuan tentang sebab


kecelakaan. Sebab disuatu perusahaan diketahui dengan mengadakan analisa
kecelakaan. Pencegahan ditujukan kepada lingkungan, mesin, alat kerja,
perkakas kerja, dan manusia (Suma’mur PK., 1996:215).

Menurut Bennett NB. Silalahi (1995:107) ditinjau dari sudut dua sub
sistem perusahaan teknostruktural dan sosio proseksual, teknik pencegahan
kecelakaan harus didekati dari dua aspek, yakni aspek perangkat keras
(peralatan, perlengkapan, mesin, letak dan sebagainya) dan perangkat lunak
(manusia dan segala unsur yang berkaitan).

Menurut Julian B. Olishifski (1985) dalam Gempur Santoso (2004:8)


bahwa aktivitas pencegahan kecelakaan dalam keselamatan kerja
professional dapat dilakukan dengan memperkecil (menekan) kejadian yang
membahayakan, memberikan alat pengaman, memberikan pendidikan
(training), dan memberikan alat pelindung diri.

Menurut ILO dalam ILO (1989:20) berbagai cara yang umum


digunakan untuk meningkatkan keselamatan kerja bidang industri dewasa ini
diklasifikasikan sebagai berikut:

1. Peraturan
Peraturan merupakan ketentuan yang harus dipatuhi mengenai hal-hal
yang seperti kondisi kerja umum, perancangan, kontruksi, pemeliharaan,
pengawasan, pengujian dan pengoperasian peralatan industri, kewajiban
para pengusaha dan pekerja, pelatihan, pengawasan kesehatan,
pertolongan pertama, dan pemeriksaan kesehatan.
2. Standarisasi
Yaitu menetapkan standar resmi, setengah resmi, ataupun tidak resmi,
misalnya mengenai konstruksi yang aman dari jenis peralatan industri
tertentu, kebiasaan yang aman dan sehat, ataupun tentang alat pengaman
perorangan.
3. Pengawasan
Untuk meningkatkan keselamatan kerja perlu dilakukan pengawasan
yang berupa usaha penegakan peraturan yang harus dipatuhi. Hal ini
dilakukan supaya peraturan yang ada benar-benar dipatuhi atau tidak
dilanggar, sehingga apa yang menjadi sasaran maupun tujuan dari
peraturan keselamatan kerja dapat tercapai. Bagi yang melanggar
peraturan tersebut sebaiknya diberikan sanksi atau punishment.
4. Riset Teknis
Hal yang termasuk dalam riset teknis berupa penyelidikan peralatan dan
ciri-ciri dari bahan berbahaya, penelitian tentang perlindungan mesin,
pengujian masker pernafasan, dan sebagainya. Riset ini merupakan cara
paling efektif yang dapat menekan angka kejadian kecelakaan kerja
maupun penyakit akibat kerja.
5. Riset Medis
Termasuk penyelidikan dampak fisiologis dan patologis dari faktor
lingkungan dan teknologi, serta kondisi fisik yang amat merangsang
terjadinya kecelakaan. Setelah diketahui faktor yang berpengaruh
terhadap terjadinya kecelakaan, maka seseorang dapat menghindari dan
lebih berhati-hati dengan potensi bahaya yang ada.
6. Riset Psikologis
Sebagai contoh adalah penyelidikan pola psikologis yang dapat
menyebabkan kecelakaan. Psikologis seseorang sangat membawa
pengaruh besar dengan kecelakaan. Karena apa yang dirasakan/sedang
dialami cenderung terus menerus berada dalam pikiran, hal inilah yang
dapat mempengaruhi konsentrasi saat bekerja sehingga adanya bahaya
kadang terabaikan.
7. Riset Statistik
Digunakan untuk mengetahui jenis kecelakaan yang terjadi, berapa
banyak, kepada tipe orang yang bagaimana yang menjadi korban, dalam
kegiatan seperti apa, dan apa saja yang menjadi penyebabnya. Riset
seperti ini dapat dijadikan sebagai pelajaran atau acuan agar dapat
terhidar dari kecelakaan, kerena belajar dari pengalaman yang terdahulu.
8. Pendidikan
Hal ini meliputi pengajaran subyek keselamatan sebagai mata ajaran
dalam akademi teknik, sekolah dagang ataupun kursus magang.
Pemberian pendidikan mengenai keselamatan dan kesehatan kerja pada
usia sekolah diharapkan sebelum siswa terjun ke dunia kerja sudah
memiliki bekal terlebih dahulu tentang bagaimana cara dan sikap kerja
yang yang aman dan selamat, sehingga ketika terjun ke dunia kerja
mereka mampu menghindari potensi bahaya yang dapat menyebabkan
celaka.
9. Pelatihan
Salah satu contoh pelatihan yaitu berupa pemberian instruksi praktis bagi
para pekerja, khususnya bagi pekerja baru dalam hal keselamatan kerja.
Perlunya
pemberian pelatihan karena pekerja baru cenderung belum mengetahui
hal-hal yang ada di perusahaan yang baru ditempatinya. Karena setiap
tempat kerja mempunyai kebijakan dan peraturan yang tidak sama
dengan tempat kerja lain. Bahaya kerja yang ada juga sangat berbeda.
10. Persuasi
Penerapan berbagai metode publikasi dan imbauan untuk
mengembangkan ”kesadaran akan keselamatan” dapat dijadikan sebagai
contoh dari persuasi.
Persuasi dapat dilakukan anatar individu maupun melalui media seperti
poster, spanduk, dan media lainnya.
11. Asuransi
Dapat dilakukan dengan cara penyediaan dana untuk untuk
meningkatkan upaya pencegahan kecelakaan. Selain itu asuransi juga
dapat digunakan untuk membantu meringankan beban korban
kecelakaan karena sebagian dari biaya di tanggung asuransi.
12. Tindakan Pengamanan oleh Masing-masing Individu
Hal ini dilakukan dengan meningkatkan kesadaran tiap individu terhadap
kesehatan dan keselamatan kerja. Peningkatan kesadaran dimulai dari
diri sendiri kemudian menularkannya kepada orang lain.

2.2 Analisis Multivariat


Analisis statistik multivariat merupakan metode dalam melakukan
penelitian terhadap lebih dari dua variable secara bersamaan. Dengan
menggunakan teknik analisis ini maka kita dapat menganalisis pengaruh
beberapa variable terhadap variabel lainnya dalam waktu yang bersamaan.
Berdasarkan hubungan antar variabel, analisis multivariat dapat dibedakan
menjadi dependence techniques dan interdependence techniques. Dalam
dependence techniques, terdapat dua jenis variabel, yaitu variabel terikat
dan variabel bebas. Dependence techniques ini digunakan untuk
menyelesaikan permasalahan-permasalahan mengenai hubungan antara
dua kelompok variabel tersebut. Sedangkan dalam interdependence
techniques, kedudukan setiap variabel sama, tidak ada variabel terikat dan
variabel bebas. Biasanya interdependence techniques ini digunakan untuk
melihat saling keterkaitan hubungan antar semua variabel tanpa
memperhatikan bentuk variabel yang dilibatkan (Bilson Simamora,
2005).

Zikmund (1997: 634)

2.2.1 Teknik Dependence


Bila peneliti dalam analisis multivariat dapat mengenali variabel
dependen dan independen, maka teknik ini disebut teknik dependen.
Teknik dependen memiliki dua kelompok berdasarkan :
a. Jumlah variabel dependen dan,
b. Jenis pengukuran data baik variabel dependen maupun independen.
Berdasarkan jumlah variabel dependen, teknik dependen bisa
memiliki satu, dua atau beberapa variabel dependen. Setelah diketahui
jumlah variabel dependen, selanjutnya dikelompokan berdasarkan
jenis pengukuran data baik variabel dependen maupun independen.
Untuk memperjelas pembahasan ini, selanjutnya disajikan Table 2.2.
Jenis Teknik Dependen.
Tabel 2.1 Jenis Teknik Dependen.

2.2.2 Teknik Interdepedence


Dalam banyak kasus, peneliti sering mengalami kesulitan dalam
menentukan jenis variabel apakah dependen atau independen. Seringkali
ditemukan semua variabel adalah independen. Menurut Santoso (2006:6)
hubungan antar variabel yang bersifat interdependen ditandai dengan
tidak adanya variabel tergantung (dependent) dan bebas (independent).
Pada jenis ini, metode multivariate yang digunakan adalah analisis faktor,
analisis cluster, Multi Dimensional Scaling Analysis (MDS) dan analisis
categorical.
Tujuan utama analisis interdependen adalah menganalisis mengapa
dan bagaimana variabel yang ada saling berhubungan. Karena peneliti
kesulitan menentukan variabel dependen atau independen, maka metode
interdependen ditentukan berdasarkan jenis pengukuran variabel apakah
bersifat metric atau non metric. Jika data berskala non metrik hanya ada
satu analisis yaitu analisis koresponden (correspondence analysis). Tabel
2.3. Jenis Teknik Interdependen menyajikan pengujian metode
interdependen.
Table 2.2 Jenis Teknik Interdependen.

2.3 Regresi Linier Berganda


Analisis regresi merupakan salah satu teknik analisis data dalam
statistika yang seringkali digunakan untuk mengkaji hubungan antara
beberapa variabel dan meramal suatu variabel (Kutner, Nachtsheim dan
Neter, 2004).

Istilah “regresi” pertama kali dikemukakan oleh Sir Francis Galton


(1822 1911), seorang antropolog dan ahli meteorologi terkenal dari Inggris.
Dalam makalahnya yang berjudul “Regression towards mediocrity in
hereditary stature”, yang dimuat dalam Journal of the Anthropological
Institute, volume 15, hal. 246-263, tahun 1885. Galton menjelaskan bahwa
biji keturunan tidak cenderung menyerupai biji induknya dalam hal besarnya,
namun lebih medioker (lebih mendekati rata-rata) lebih kecil daripada
induknya kalau induknya besar dan lebih besar daripada induknya kalau
induknya sangat kecil (Draper dan Smith, 1992).

Dalam mengkaji hubungan antara beberapa variabel menggunakan


analisis regresi, terlebih dahulu peneliti menentukan satu variabel yang
disebut dengan variabel tidak bebas dan satu atau lebih variabel bebas. Jika
ingin dikaji hubungan atau pengaruh satu variabel bebas terhadap variabel
tidak bebas, maka model regresi yang digunakan adalah model regresi linier
sederhana. Kemudian Jika ingin dikaji hubungan atau pengaruh dua atau lebih
variabel bebas terhadap variabel tidak bebas, maka model regresi yang
digunakan adalah model regresi linier berganda (multiple linear regression
model). Kemudian untuk mendapatkan model regresi linier sederhana
maupun model regresi linier berganda dapat diperoleh dengan melakukan
estimasi terhadap parameter-parameternya menggunakan metode tertentu.
Adapun metode yang dapat digunakan untuk mengestimasi parameter model
regresi linier sederhana maupun model regresi linier berganda adalah dengan
metode kuadrat terkecil (ordinary least square/OLS) dan metode
kemungkinan maksimum (maximum likelihood estimation/MLE) (Kutner
et.al, 2004).

Bentuk umum model regresi linier berganda dengan p variabel bebas


adalah seperti pada persamaan (2.1) berikut (Kutner, Nachtsheim dan Neter,
2004).

dengan :

Yi = Variabel dependen
𝛽0 , 𝛽1 , 𝛽2 … . 𝛽𝑝 = Parameter
𝑋𝑖 1 , 𝑋𝑖 2 , … . 𝑋𝑖 𝑝 = Variabel bebas
𝜀𝑖 adalah sisa (error) untuk pengamatan ke-i yang diasumsikan
berdistribusi normal yang saling bebas dan identik dengan rata-rata 0 (nol)
dan variansi 𝜎 2 .

Dalam notasi matriks persamaan (2.1) dapat ditulis menjadi persamaan


(2.2) berikut.

dengan :
Y adalah vector variabel dependen berukuran n x 1
X adalah matriks variabel independen berukuran n x (p-1)
𝛽 adalah vector parameter berukuran p x 1
𝜀 adalah vector error berukuran n x 1

2.3.1 Asumsi-asumsi Regresi Linier Berganda


Menurut Gujarati (2003) asumsi-asumsi pada model regresi linier
berganda adalah sebagai berikut:
1. Model regresinya adalah linier dalam parameter.
2. Nilai rata-rata dari error adalah nol.
3. Variansi dari error adalah konstan (homoskedastik).
4. Tidak terjadi autokorelasi pada error.
5. Tidak terjadi multikolinieritas pada variabel bebas.
6. Error berdistribusi normal.

2.3.2 Uji Asumsi Klasik


1. Uji Heterokedastisitas
Heteroskedastisitas adalah varian residual yang tidak sama pada semua
pengamatan di dalam model regresi. Regresi yang baik seharusnya tidak
terjadi heteroskedastisitas (Bambang Suharjo, 2008). Kriterianya adalah
sebagai berikut:
a. Jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang ada membentuk suatu
pola tetentu yang teratur, maka terjadi heteroskedastisitas.
b. Jika tidak ada pola yang jelas, seperti titik-titik menyebar di atas dan
di bawah angka 0 pada sumbu Y , maka tidak terjadi
heteroskedastisitas.
2. Uji Multikolinearitas
Menunjukkan adanya lebih dari satu hubungan linier yang sempurna.
Koefisien-koefisien regresi biasanya diinterprentasikan sebagai ukuran
perubahan variabel terikat jika salah satu variabel bebasnya naik sebesar
satu unit dan seluruh variabel bebas lainnya dianggap tetap. Untuk
mendeteksi adanya multikolinieritas adalah dengan menggunakan nilai
Variance Inflation Factor (VIF). Jika VIF lebih kecil dari 10, maka dalam
model tidak terdapat multikolinieritas (Sumarno Zain, 1995).

Keterangan :
𝑅2
= koefisien determinasi (𝑅 2 ) berganda ketika 𝑋𝑘
𝑘

diregresikan dengan variabel-variabel X lainnya.


3. Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan guna melihat apakah variabel independen
maupun variabel dependen mempunyai distribusi normal ataukah tidak.
Model regresi yang baik adalah distribusi data normal atau mendekati
normal. Imam Ghozali (2002) mengemukakan bahwa uji normalitas
dapat dilakukan dengan dengan menggunakan grafik normal plot dimana
jika titik – titik menyebar disekitar dan mengikuti arah garis diagonal,
maka data terdistribusi normal.

2.3.3 Uji Koefisien Determinasi


Uji Koefisien Determinasi digunakan untuk melihat kelayakan
penelitian yang dilakukan dengan melihat pengaruh variable independent
terhadap variable dependent. Koefisien determinasi R² digunakan untuk
mengetahui berapa persen Variasi Variabel Dependent dapat dijelaskan oleh
variasi variabel independen. Nilai R² ini terletak antara 0 dan 1. Bila nilai R²
mendekati 0 berati sedikit sekali variasi variable depanden yang diterangkan
oleh variable independen. Jika nilai R² bergerak mendekati 1 berati semakin
besar variasi variable dependen yang dapat diterangkan oleh variable
Independen.jika ternyata dalam perhitungan nilai R² sama dengan 0 maka ini
menunjukan bahwa variable dependen tidak bisa dijelaskan oleh variable
independent. Nugroho (2005) menyatakan untuk regresi linear berganda
sebaiknya menggunakan R square yang sudah disesuaikan atau tertulis
Adjusted R square untuk melihat koefisien determinasi karena disesuaikan
dengan jumlah variabel independen yang digunakan dimana jika variabel
independent 1(satu) maka menggunakan R square dan jika telah melebihi
1(satu) menggunakan adjusted R square. Untuk memastikan tipe hubungan
antar variabel dengan berpedoman pada Tabel 2.3.
Table 2.3 Interpretasi Koefisien Korelasi r

sumber: Analisis Data (Syafrizal, 2010)


Berikut rumus untuk menghitung koefisien determinasi (Sujana, 2001)

Keterangan :
𝑅2 = koefisien determinasi
𝑆𝑦 = standar defiasi variabel terikat Y
𝑛 = banyal sampel

2.3.4 Pengujian Hipotesa


Agar dapat diketahui apakah diantara variabel ada yang
mempunyai pengaruh harus dilakukan pengujian Hipotesis.
1. Uji F atau Simultan
Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui secara serentak atau
bersama-sama variabel independen berpengaruh secara signifikan
atau tidak terhadap variabel dependen (Djarwanto PS dan Pangestu
S,1998:42). Dengan hipotesa :
𝐻0 : 𝛽1 = 𝛽2 = … = 𝛽𝑘 = 0 (model sesuai)
𝐻𝑎 : minimal ada satu 𝛽𝑘 ≠ 0 (model tidak sesuai)
Statistik uji yang digunakan dalam pengujian ini menggunakan
statistik F hitung. Perhitungan untuk mendapatan nilai F hitung yakni
:
dengan :
R = Koefisien korelasi berganda
K = Jumlah variabel bebas
n = Jumlah sampel
Dengan tingkat signifikansi (α) yang digunakan adalah 5%,
distribusi F dengan derajat kebebasan (α; K-1, n-K).

Kriteria Pengujian :
F hitung < F tabel = Ho diterima, artinya variabel independen secara
serentak atau bersamaan tidak mempengaruhi variabel dependen
secara signifikan.
F hitung > F tabel = Ho ditolak, artinya variabel independen secara
serentak atau bersama-sama mempengaruhi variabel dependen
secara signifikan.
2. Uji t atau Parsial
Pengujian secara individual (uji-t) yaitu pengujian koefisien regresi
secara parsial dengan menentukan formula statistik yang akan diuji,
dengan hipotesa:
𝐻𝑜 : b1 = 0, artinya tidak ada pengaruh antara variabel independen
terhadap variabel dependen .
𝐻𝑎 : b1 =0, artinya ada pengaruh antara variabel independen
terhadap variabel dependen.
Uji t sebagai uji masing-masing variabel dari suatu persamaan
regresi, dimana nilai t hitung diperoleh dari:

dengan :
bi = koefisien regresi
Sei = Standar error
(Djarwanto PS dan Pangestu S, 1998 )
Dengan tingkat signifikansi (α) 5% dari df=n-K-1 diperoleh nilai t tabel,
kemudian nilai t tabel dibandingkan dengan nilai thitung yang diperoleh.
Dengan membandingkan kedua nilai t tersebut, maka akan diketahui
pengaruhnya, yaitu dapat diterima atau ditolaknya hipotesis. Kriteria
pengujian:
t hitung > t tabel Ho ditolak dan Ha diterima, artinya variabel independen
mempengaruhi variabel dependen secara signifikan.
t hitung < t tabel Ho diterima dan Ha ditolak, artinya variabel independen
tidak mempengaruhi variabel dependen.

2.3 Penelitian Terdahulu


Berdasarkan permasalahan yang muncul maka dilakukan analisis
komprehensif terhadap penelitian-penelitian terdahulu yang relevan.
Analisis dilakukan berdasarkan metode penilitian yang digunakan, objek
penelitian, dan kesimpulan. Penjelasan lebih lanjut tentang analisis
penelitian sebelumnya ini terdapat pada tabel 2.3.
2.4 Analisis Penelitian Sebelumnya
Nama Metode Objek
No Kesimpulan
Peneliti Penelitian Penelitian
Ada hubungan pengetahuan,
disiplin kerja dan pemakaian
alat pelindung diri dengan
terjadinya kecelakaan kerja,
Tidak ada hubungan
Univariat, pengawasan dengan
Muhamad Bivariat dan terjadinya kecelakaan kerja,
Kecelakaan Variabel pengetahuan
1 Iqbal Fahlevi Multivariat
Kerja merupakan variabel yang
(2014) (Regresi Linier
Ganda) paling dominan
berhubungan dengan
terjadinya kecelakaan kerja.
Nama Metode Objek
No Kesimpulan
Peneliti Penelitian Penelitian

Dari tahun 2005, 2006,


2007, 2008 dan 2009
Kecelakaan kerja menurun
dan produktivitas
Dodi Mutivariat meningkat. Dari uji statistik
2 Hermanto (Regresi Linier Produktivitas dengan mengunakan SPSS
(2011) Ganda) frekuensi rate dan
produktivitas
maka dari itu frekuensi rate
terhadap produktivitas tidak
ada pengaruh.
Dari hasil perhitungan
koefesien kolerasi berganda
(R) sebesar 0.721
menunjukan adanya
hubungan linier positif
antara variabel bebas dengan
variabel terikat. Dari hasil
koefesien determinasi
sebesar 0.654 atau sebesar
65.4%. Hal ini menunjukan
bahwa ketiga variabel bebas
secara bersama-sama
mampu menjelaskan dan
memberikan sumbangan
terhadap variabel terikat
sebesar
65.4% sedangkan sisanya
Multivariat 34.6% dapat diterangkan
(Regresi Linier Kecelakaan dalam variabel yang tidak
3 Aswadi (2012)
Berganda dan Kerja diteliti dalam penelitian ini.
Korelasi) Dari nilai F hitung sebesar
20.306dengan nilai
signifikan 0.000 < 0.05
maka hipotesis diterima.
Maka model regresi
menunjukan bahwa dari
faktor manusia,faktor teknis,
danfaktor lingkungansecara
bersama-sama
berpengaruh signifikan
terhadap kecelakaan kerja
pada PT. Saripari
Pertiwi Abadi (SPA) di
Kecamatan Mandau
Kabupaten Bengkalis. Hasil
uji parsial (Uji t) hitung dari
ke tiga variabel bebas yaitu :
faktor manusia (12.146),
Nama Metode Objek
No Kesimpulan
Peneliti Penelitian Penelitian
faktor teknis (2.972), dan
faktor lingkungan (2.058).
Yang sangat dominana
adalah Faktor manusia
terlihat dari hasil uji t yaitu
12.146.

Nurbaiti Variabel yang memiliki


Fadhilah, Multivariat Kecelakaan hubungan yang signifikan
4 Suryanto, (Regresi Linier Kerja Proses dengan kecelakaan kerja
NurUlfah Ganda) Die Casting adalah shift kerja dan
(2013) penggunaan APD. a. =
0,022 ; OR = 5,042).
Faktor yang mempengaruhi
safety performance adalah
safety climate dan safety
leadership. Model
persamaan yang menyatakan
Kartika hubungan antara PC Y
PCR dan Safety
5 Rahayu Tri dengan PC X yang terbaik
NIPALAS Performance
Prasetyo Sari adalah sebagai berikut. PC
Y2 = 0,03525 + 0,006921
PC X1 - 0,00934 PC X2

Tabel 2.4 Menunjukan bahwa sebagian penelitian yang dianggap


relevan dengan menggunakan metode statistic multivariat.
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Flow Chart Penelitian


Bab ini merumuskan langkah-langkah yang saling terkait secara
sistematika dalam penelitian yang dilakukan. Langkah tersebut dilakukan
agar penulisan dapat terstruktur sehingga tidak terjadi penyimpangan.
Langkah-langkah yang dilakukan dapat dilihat pada flowchart Gambar 3.1:

Observasi Awal

Rumusan Masalah Studi Literatur

Tujuan Penelitian

Pengumpulan Data:
1. Dokumentasi
2. Kuesioner

Pengolahan Data:
1. Uji Validitas
2. Uji Realibilitas
3. Asumsi Klasik
4. Analisis Regresi Berganda
5. Uji ANOVA (F)
6. Uji Parsial (t)

Analisis

Kesimpulan dan Saran

Gambar 3.1 Flowchart kegiatan penelitian


3.2 Uraian Flowchart Penelitian
3.2.1 Observasi Awal

Tahap observasi awal ditujukan untuk mengetahui keadaan awal


yang ada pada perusahaan sebagai objek penelitian dalam hal ini
observasi dilakukan pada perusahaan Bhimasena Research &
Development. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus tahun
2018.

3.2.2 Rumusan Penelitian


Rumusan masalah dilakukan setelah dilakukan observasi awal
dilakukan, yaitu merumuskan masalah yang ingin diteliti untuk
dilakukan perubahan, dalam hal ini masalah yang ingin diteliti adalah
factor-factor apa saja yang mempengaruhi kecelakaan kerja yang paling
signifikan di Bhimasena Research & Development pada karyawan
bagian fabrikasi serta bagaimana cara meminimalisir faktor yang
mendominasi kecelakaan kerja tersebut.

3.2.3 Tujuan Penelitian


Tujuan penelitian ini ditetapkan sejalan dengan rumusan
masalah yaitu mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi
kecelakaan kerja pada karyawan sector fabrikasi di Bengkel Bhimasena
Research & Development, mengetahui faktor yang mendominasi
kecelakaan kerja pada karyawan sector fabrikasi di Bengkel Bhimasena
Research & Development dan untuk meminimalisir faktor yang
mendominasi kecelakaan kerja yang terjadi pada karyawan sector
fabrikasi di Bengkel Bhimasnea Research & Development.

3.2.4 Studi Literatur


Studi literatur dalam tugas akhir ini diambil dari beberapa buku dan
jurnal penelitian atau artikel terdahulu yang menggunakan metode serupa
yang berkaitan dengan permasalahan yang akan diteliti. Kegiatan studi
literatur dilakukan bersamaan semenjak observasi awal, rumusan masalah
dan tujuan penelitian, tujuan nya agar penelitian yang dilakukan memiliki
landasan dan langkah-langkah yang tepat sehingga penelitian yang diajukan
dalam penelitian dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Berikut
langkah-langkah yang dilakukan:
1. Jenis & Sumber Data
a. Jenis Penilitian
Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif dengan pendekatan
kuantitatif dan menggunakan teknik analisis regresi berganda
dibantu dengan program SPSS. Metode kuantitatif yaitu suatu
metode yang menggunakan sistem pengambilan sampel dari suatu
populasi dan menggunakan kuesioner terstruktur sebagai alat
pengumpulan data. Pendekatan kuantitatif digunakan untuk mencari
informasi faktual secara mendetail dan mengidentifikasi masalah-
masalah atau untuk mendapatkan justifikasi keadaan dan kegiatan-
kegiatan yang sedang berjalan. Pendekatan tersebut digunakan untuk
mengetahui pengaruh kesehatan dan keselamatan kerja terhadap
kinerja karyawan.
b. Sumber Data
1) Data Primer. Data primer adalah data yang diperoleh langsung
dari lapangan termasuk laboratorium. Data primer dalam
penelitian ini adalah data yang dikumpulkan secara langsung dari
objek penelitian. Yaitu data yang diperoleh dari responden
melalui hasil kuesioner yang diajukan oleh peneliti.
2) Data Sekunder. Data sekunder adalah data atau sumber yang
didapat dari bahan bacaan. Penelitian ini data sekunder diperoleh
dari perusahaan yang dapat dilihat dokumentasi perusahaan,
buku-buku referensi, dan informasi lain yang berhubungan
dengan penelitian.
2. Populasi & Sampel
a. Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari objek atau
subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu.
Berdasarkan definisi populasi maka yang menjadi populasi dari
penelitian ini adalah seluruh karyawan PT Bhimasena Research &
Development yang berjumlah 270 orang.
b. Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki
oleh populasi tersebut. Dan penentuan ukuran sampel pada
penelitian ini menggunakan rumus Slovin:

Keterangan :

n = Ukuran Sampel
N = Ukuran Populasi
e = Tolerir kesalahan sampel (10%)
3. Definisi Operasional Variabel
Untuk memberikan persamaan persepsi kepada para pembaca, maka
peneliti memberikan batasan-batasan terhadap variabel-variabel yang
diteliti.
1. Faktor manusia, manusia mempunya keterbatasan dalam
mengoperasikan peralatan-peralatan yang digunakan, seperti
keterampilan dan keahlian, pengalaman dan kedisiplinan, selain itu
disebabkan oleh efisiensi para individu seperti sikap ceroboh, tidah
hati-hati dan tidak mampu menjalankan tugas dengan baik.
2. Faktor teknis yang kurang mendukung berpengaruh terhadap
kecelakaan kerja biasanya ditimbulkan oleh penyusunan mesin yang
tidak teratur, umur mesin, pemeliharaan, dan perawatan yang kurang
baik serta alat pengaman disekitar mesin yang berbahaya.
3. Faktor lingkungan kerja yang buruk akan mempengaruhi pekerja,
sehingga pekerja merasa terganggu dalam pekerjaannya. Ada
beberapa faktor seperti layout, penerangan dan kebisingan.
4. Kecelakaan kerja merupakan dampak yang di akibatkan dari faktor
manusia, teknis dan lingkungan kerja.
3.2.5 Pengumpulan Data
Tahap Pengumpulan data pada penelitian dijelaskan dengan
beberapa hal, yaitu:
1. Dokumentasi, yaitu dengan melakukan pengumpulan dan
mempelajari dokumen-dokumen pendukung yang diperoleh secara
langsung dari PT Bhimasena Research & Development, seperti
sejarah singkat berdirinya perusahaan struktur organisasi perusahaan
dan dokumen-dokumen pendukung lainnya.
2. Kuesioner adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan
cara memberi seperangkat pertanyaan kepada responden untuk
dijawab agar memperoleh informasi yang dibutuhkan. Dalam
penelitian ini digunakan skala Likert. Skala Likert digunakan untuk
mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok
tentang kejadian atau gejala sosial. Penggunakan angket diharapkan
akan memudahkan bagi responden dalam memberikan jawaban
karena alternative jawaban telah tersedia, sehingga untuk
menjawabnya hanya perlu waktu singkat. Pada setiap item soal
disediakan 5 pilihan jawaban dengan skor nilai masing-masing
sebagai berikut:
1. Sangat Tidak Setuju (STS) :1
2. Tidak Setuju (TS) :2
3. Kurang Setuju (KS) :3
4. Setuju (S) :4
5. Sangat Setuju (SS) :5

3.2.6 Pengolahan Data


Tahap pengolahan data pada penelitian dijelaskan berikut ini:

1. Uji Validitas
Uji validasi untuk mengetahui kelayakan butir-butir dalam suatu
daftar (konstruk) pertanyaan dalam mendefinisikan suatu variabel.
Menilai masing-masing butir pertanyaan dapat dilihat dari nilai
corrected item-total correlation. Suatu butir pertanyaan dikatakan
valid jika nilai r-hitung yang merupakan nilai dari corrected item-
total correlation › dari r-tabel yang diperoleh melalui Df (Degree of
Freedom). Untuk menguji valid tidaknya pertanyaan dapat
dilakukan melalui program komputer Excel Statistic Analysis &
SPSS.
2. Uji Realibilitas
Reliabilitas merupakan ukuran suatu kestabilan dan konsistensi
responden dalam menjawab hal yang berkaitan dengan konstruk-
konstruk pertanyaan yang merupakan dimensi suatu variabel dan
disusun dalam suatu bentuk kuesioner. Alat ukur yang akan
digunakan adalah cronbach alpha melalui program komputer Excel
Statistic Analysis & SPSS. Reliabilitas suatu konstruk variabel
dikatakan baik jika memiliki nilai cronbach alpha › 0,60.
3. Asumsi Klasik
a. Uji Heteroskedastisitas
Uji Heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam
model regresi terjadi ketidaksamaan varian c dan residual suatu
pengamatan kepengamatan yang lain. Jika varian c dari residual
tetap maka disebut Homoskedastisitas dan jika berbeda
Heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah tidak
adanya Heteroskedastisitas. Adapun Uji Heteroskedastisitas
menggunakan rumus uji glejser yaitu :
|µ| = α + b1x1 + b2x2 + b3x3
Dimana |µ| : variabel residual mutlak.
Jika variabel bebas signifikan secara statistic mempengaruhi
variabel terkait maka model tersebut adanya
Heteroskedastisitas pada α = 10%.
b. Uji Multikolinearitas
Yaitu digunakan untuk menguji apakah pada model regresi
ditemui adanya korelasi antara variabel independent.Jika terjadi
korelasi, maka dinamakan terdapat problem
multikolinearitas.Uji multikolinearitas adalah VIF (Variances
Inflation Faktor).Pedoman suatu regrsi yang bebas multiko
adalah mempunyai nilai VIF lebih kecil dari 10.
c. Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan guna melihat apakah variabel independen
maupun variabel dependen mempunyai distribusi normal ataukah
tidak. Model regresi yang baik adalah distribusi data normal atau
mendekati normal. Imam Ghozali (2002) mengemukakan bahwa uji
normalitas dapat dilakukan dengan dengan menggunakan grafik
normal plot dimana jika titik – titik menyebar disekitar dan
mengikuti arah garis diagonal, maka data terdistribusi normal.

4. Analisis regresi Berganda


Analisis ini digunakan untuk mengetahui apakah ada pengaruh
yang positif dari variabel independen (𝑋1 dan 𝑋2) terhadap variabel
dependen (Y) dengan model regresi sebagai berikut :
Y = 𝜷𝒐 + 𝜷𝟏 𝑿𝟏 + 𝜷𝟐 𝑿𝟐 + 𝜷𝟑 𝑿𝟑 + 𝒆
Keterangan :
Y = Varibel Dependen (Kecelakaan Kerja)
𝛽𝑜 = Konstanta
𝛽1 , 𝛽2 , 𝛽3 = Koefisien regresi
𝑒 = Standart error
𝑋1 = Faktor Manusia
𝑋2 = Faktor Teknis
𝑋3 = Faktor Lingkungan
5. Uji Simultan (F)
Uji F digunakan untuk mengetahui pengaruh secara bersama-sama
variabel bebas secara signifikan terhadap variabel terikat. Jika F
hitung > F tabel maka dapat dikatakan bahwa variabel bebas dapat
menerangkan variabel terikatnya secara serentak. Sebaliknya
apabila F hitung < F tabel maka variabel bebas tidak memiliki
pengaruh terhadap variabel terikatnya. Untuk lebih mudahnya
dapat dengan melihat probalitasnya dan membandingkannya
dengan taraf kesalahan (𝑋1 , 𝑋2 dan 𝑋3 ) yang digunakan yaitu 10
% atau 0,10. Jika probalitasnya < taraf kesalahan, maka dapat
dikatakan bahwa variabel bebas dapat menerangkan variabel
terikatnya secara serentak, begitu pula sebaliknya.
6. Uji Parsial (t)
Uji t digunakan untuk mengetahui apakah masing-masing variabel
bebasnya secara sendiri-sendiri atau parsial berpengaruh secara
signifikan terhadap variabel terikatnya. Apabila t hitung > t tabel
maka dapat dikatakan signifikan, yaitu terdapat pengaruh antara
variabel bebas yang diteliti dengan variabel terikatnya. Sebaliknya
jika t hitung < t tabel maka dapat dikatakan tidak signifikan. Untuk
mempermudah perhitungan analisis data guna mendapatkan data
yang akurat dan meminimalkan kesalahan, pengolahan data
dilakukan dengan bantuan Software Statistical Program of Social
Science (SPSS)
7. Koefisien Determinasi
Koefisien Determinasi (𝑅 2 ) bertujuan untuk mengetahui seberapa
besar kemampuan variabel independen menjelaskan varabel
dependen. Nilai R square dikatakan baik jika diatas 0,5 karena nilai
R square berkisar antara 0 – 1.
3.2.7 Analisis
Analisis dilakukan untuk menilai solusi yang terbaik dari hasil
pengolahan data yang telah dilakukan. Data yang telah diolah
selanjutnya dilakukan analisis untuk mencapai tujuan awal dari
kecelakaan kerja yang terjadi di Bengkel Bhimasena Research &
Development.
3.2.8 Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan berisi tentang hasil yang didapatkan dalam pengolahan


data sebagai jawaban atas rumusan masalah dan tujuan penelitian,
sedangkan saran berisi tentang masukan terhadap pengembangan penelitian
selanjutnya.
BAB IV

PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

4.1 Pengumpulan Data


Pengumpulan data dalam penelitian ini terdiri dari latar belakang
Bhimasena Research & Development, kondisi lapangan, data waktu, data
karyawan dan data kuisioner.

4.1.1 Latar Belakang


Bhimasena Research & Development merupakan perusahaan yang
berfokus dalam produksi dan pengembangan teknologi di bidang militer
terutama untuk TNI AD, AU, dan AL. Secara garis besar konsumen utama
PT Bhimasena Research & Development ini yaitu TNI AD, AU dan AL
karena sesuai dengan visinya yaitu menjadikan Badan Usaha Milik Swasta
(BUMS) pertam yang mampu secara mandiri membuat alat peralatan
pertahan dan keamanan di dalam negeri serta misinya yaitu melakukan
inovasi dan pengembangan alat peralatan pertahanan dan keamanan baik
produk dalam negeri maupun produk luar negeri dengan melakukan usaha
terpadu mulai dari riset serta rekayasa industry dan manufaktur.
Bhimasena Research & Development di dirikan sejak tahun 2013
dan hingga sekarang memiliki jumlah karyawan 250 orang di berbagai
bagian, adapun bagian produksi mempekerjakan 80 orang karyawan yang di
bagi di berbagai sektor. Fasilitas kerja di bagian produksi berupa: Workshop,
Warehouse, dan Toolhouse. Untuk menunjang aktivitas perusahaan.
Bhimasena Research & Development juga berusaha untuk mencegah
timbulnya kecelakan kerja dan kebakaran baik bagi perusahaan maupun
karyawan yang bekerja diperusahaan.

4.1.2 Kondisi Lapangan

Telah dijelaskan bahwa Bhimasena Research & Development


merupakan BUMS yang bergerak dalam bidang produksi dan
pengembangan teknologi di bidang pertahanan dan keamanan dalam negeri.
Penelitian ini lebih mengamati pada proses produksi di Bengkel Bhimasena
Research & Development terutama pada sector fabrikasi. Aktifitas yang
dilakukan pada sector fabrikasi meliputi proses pengelasan, proses
penggerindaan, pemotongan plat, hollo dan part lainnya dengan
menggunakan gerinda tangan, gerinda potong dan mesin potong serta proses
bor dengan menngunakan bor tangan dan bor duduk.
Aktivitas fabrikasi yang dilakukan tidak menuntut kemungkinan di
perlukan perlatan keselamatan kerja. Berikut

4.1.3 Data Waktu

4.1.4 Data Karyawan

4.1.5 Data Kuisioner


DAFTAR PUSTAKA

Ahyari, A, 1999, Perencanaa Letak Fasilitas Produksi Perencanaan Lingkungan


Kerja Perencanaan Standar Produksi Buku 2 BPFE, Yogyakarta,
Ariandja, E. T. M, 2002, Manajemen Sumber Daya Manusia, Jakarta: Grasindo.
Bilson Simamora.(2005), Analisis Multivariat Pemasaran. PT Gramedia
Pustaka Umum
Gempur, S. (2004), Manajemen Keselamatan Dan Kesejahteraan Kerja, Jakarta:
Prestasi Pustaka.
Hasibuan, S. P. M,. (2001), Manajemen Sumber Daya Manusia, Edisi Revisi,
Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Heizer, Jay dan Render Barry. (2001), Prinsip-prinsip Manajemen Personalia,
Jakarta: Selemba Empat.
Husnan, dan Suad Ranupandoyo, H. (2000), Manajemen Personalia, Yogyakarta:
BPFE UGM.
Khairulnas. (1999), Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bidang Industry. Riau:
Fakultas Teknik Universitas Riau.
Mangkunegara. (2004), Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan,
Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.
Moekijat,. (1999), Manajemen Sumber Daya Manusia, Bandung: CV. Mandar
Maju.
Panggabean, M. S,. (2002), Manajemen Sumber Daya Manusia, Jakarta: Ghalia
Indonesia.
Sarwono, S.W. (2012). Pengantar Psikologi Umum. Jakarta: PT RajaGrafindo
Persada
Sastrohadiwirjo, S, 2002, Manajemen Tenaga Kerja Indonesia, Jakarta: PT. Bumi
Akasia.
Simamora, H, 2000, Manajemen Sumber Daya manusia Cetakan ketiga, Sekolah
Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN.
Sugiono, B, 2003, Program Keselamatan dan Kesehatan kerja, semarang: Undip.
Sumayang, L, 2003, Dasar-Dasar Manajemen Produksi Dan OperasI, Jakarta:
Grasindo.
Wibowo, 2007, Manajemen Kinerja, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

47
Bhuono Agung Nugroho, Strategi Jitu: Memilih Metode Statistik Penelitian
Dengan SPSS
(Yogyakarta: Andi Offset,2005), h.67-68
48
Bhuono Agung Nugroho, Strategi Jitu: Memilih Metode Statistik Penelitian
Dengan SPSS,
h.72.
Bhuono Agung Nugroho, Strategi Jitu: Memilih Metode Statistik Penelitian
Dengan SPSS,h. 72.
Riduwan, Belajar Mudah Penelitian Untuk Guru-Karyawan dan Peneliti
Pemula,dengan
kata pengantar oleh Buchari Alma (Bandung: Alfabeta, 2008), h. 87.

Nasutioan, Proses Penelitian Kuantitatif (Fakultas Ekonomi, Universitas


Indonesia, 2003),
h.143

Nasutioan, Proses Penelitian Kuantitatif, h. 143

Djarwanto, PS. dan Subagyo Pangestu., 1998. “Statistik Induktif”, BPFE, Jakarta.

Ghozali, Imam. 2002. Aplikasi Analisis Multivariate dengan ProgramSPSS (4th ed.).
Semarang: Badan Penerbit-Undip.
Sujana, 2001. Metode Statistik. Bandung : Tarsito.
RENCANA PELAKSANAAN PENELITIAN

Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Perusahaan Bhimasena Research & Development Jl.


Raya Ir. Soekarno No. 7-9, Jatinangor, 45363 Bandung, Jawa Barat, Indonesia.
Penelitian dilaksanakan mulai bulan Agustus hingga September tahun 2017.