Anda di halaman 1dari 14

NAMA RIA YOLANDA ARUNDINA

NIM 175100600111008
KELAS H
KELOMPOK H1

BAB II
IDENTIFIKASI GUGUS FUNGSI ALDEHID DAN KETON

TUJUAN :
 Membedakan senyawa aldehid dan keton dengan menggunakan uji Tollens dan
Fehling
 Memahami reaksi yang terjadi selama uji Tollens dan Fehling

1. Pre-lab
1. Jelaskan perbedaan mendasar antara aldehid dan keton!
Aldehid berbeda dengan keton karena memiliki sebuah atom hidrogen yang terikat pada gugus
karbonilnya. Ini menyebabkan aldehid sangat mudah teroksidasi. Sebagai contoh, etanal,
CH3CHO, sangat mudah dioksiasi baik menjadi asam etanoat, CH3COOH, atau ion etanoat,
CH3COO-. Keton tidak memiliki atom hidrogen tersebut sehingga tidak mudah dioksidasi. Keton
hanya bisa dioksidasi dengan menggunakan agen pengoksidasi kuat yang memiliki kemampuan
untuk memutus ikatan karbon-karbon (Sumardjo, 2009).
2. Jelaskan prinsip uji Tollens !
Prinsip uji tollens yaitu membedakan senyawa aldehid dan keton dengan cara menambahkan
reagen tollens, yaitu AgNO3. Pada uji tollens akan terjadi reaksi oksidasi dan reduksi.Aldehid
dioksidasi menjadi anion karboksilat.Ion Ag+ yang terdapat pada reagen tollens direduksi
menjadi logam Ag. Sehingga uji positif dari uji tollens ditandai dengan terbentuknya cermin
perak pada dinding dalam tabung reaksi (Mayo, et al., 2011).
3. Apa fungsi pereaksi fehling pada uji fehling?
Pereaksi fehling adalah pereaksi yang mengandung ion Cu2+ (berwarna biru transparan) berfungsi
untuk menunjukkan adanya gugus aldehid (-CHO) yang ditandai dengan timbulnya endapan
Cu2O berwarna merah bata. Pada reaksi ini gugus aldehid mereduksi ion Cu2+ menjadi ion Cu+.
Aldehid bereaksi dengan pereaksi fehling mnghasilkan endapan merah bata. Adapun keton tidak
bereaksi baik dengan pereaksi fehling (Mayo, et al., 2011).
4. Sebut dan jelaskan reaksi apa saja yang menerapkan aldehid ataupun keton!
Aldehid :
1. Oksidasi : aldehida adalah reduktor kuat sehingga dapat mereduksi oksidator-oksidator
lemah. Perekasi Tollens dan pereaksi Fehling adalah dua contoh oksidator lemah yang
merupakan pereaksi khusus untuk mengenali aldehida. Oksidasi aldehida menghasilkan asam
karboksilat (Siswoyo, 2009). Reaksi aldehida dengan pereaksi Tollens dapat ditulis sebagai
berikut :

(Siswoyo, 2009)
Reaksi Aldehida dengan pereaksi Fehling menghasilkan endapan merah bata dari
NAMA RIA YOLANDA ARUNDINA
NIM 175100600111008
KELAS H
KELOMPOK H1

Cu2O(Siswoyo, 2009).

(Siswoyo, 2009).

2. Adisi Hidrogen (Reduksi) : ikatan rangkap –C=O dari gugus fungsi aldehida dapat diadisi
oleh gas hidrogen membentuk suatu alkohol primer. Adisi hidrogen menyebabkan penurunan
bilangan oksidasi atom karbon gugus fungsi. Oleh karena itu, adisi hidrogen tergolong
reduksi(Siswoyo, 2009).

(Siswoyo, 2009)

Keton
1. Reduksi keton oleh hidrogen akan menghasilkan alkohol sekunder (Alfian, 2009).

(Siswoyo, 2009).
2. Oksidasi : keton merupakan reduktor yang lebih lemah daripada aldehid. Zat-zat pengoksidasi
lemah seperti pereaksi tollens dan pereaksi Fehling tidak dapat mengoksidasi keton. Oleh
karena itu, aldehid dan keton dapat dibedakan dengan menggunakan pereaksi-pereaksi
tersebut (McMurry, 2011).
Aldehid + pereaksi Tollens  cermin perak
Keton + pereaksi Tollens  tidak ada reaksi
Aldehid + pereaksi Fehling  endapan merah bata
Keton + pereaksi Fehling  tidak ada reaksi (Siswoyo, 2009).
NAMA RIA YOLANDA ARUNDINA
NIM 175100600111008
KELAS H
KELOMPOK H1

2. Tinjauan Pustaka
1. Pengertian Aldehid
Aldehid adalah suatu senyawa yang mengandung sebuah gugus karbonil yang terikat
pada sebuah atau dua buah atom hidrogen. Aldehid memiliki sifat lebih reaktif daripada
alkohol dan dapat mengalami reaksi adisi dan oksidasi. Aldehid dapat dioksidasi menjadi
asam dan dapat mengalami reaksi polimerisasi. Aldehid memiliki struktur dan unsur karbon
(C), hidrogen (H) dan oksigen (O). Struktur rumus senyawa ini adalah R-CHO, dimana -R
adalah alkil dan –CHO adalah gugus fungsi aldehida (Siswoyo, 2009).
2. Pengertian Keton
Keton adalah suatu senyawa organik yang memiliki sebuah gugus karbonil yang
terikat pada dua gugus alkil. Keton bersifat polar karena gugus karbonilnya polar dan keton
lebih mudah menguap (volatile) daripada alkohol dan asam karboksilat. Struktur dari keton
sama seperti aldehid, yang terdiri atas atom-atom karbon (C), hidrogen (H) dan oksigen (O)
dengan rumus struktur R-CO-R’, dengan R adalah alkil dan –CO- adalah gugus fungsi keton
(Siswoyo, 2009).
3. Tinjauan Bahan :
a. Aseton
Aseton merupakan keton yang paling penting. Senyawa ini adalah cairan volatile (titik
didih 56°C) dan sangat mudah terbakar. Aseton merupakan pelarut yang baik untuk berbagai
senyawa organic dan digunakan secara luas sebagai pelarut vernis, lak dan plastic. Aseton
dapat bercsampur dengan air dalam segala proporsi (Sumardjo, 2009).
b. Glukosa
Glukosa adalah monosakarida (gula terkecil / sederhana) yang berkarbon 6 (heksosa)
dan digunakan sebagai sumber dasar energy oleh kebanyakan sel heterotrof. Gugus hidroksil
terikat pada setiap karbon kecuali satu, yang berikatan ganda dengan oksigen untuk
membentuk gugus karbonil. Glukosa tergolong aldoheksosa. Aldoheksosa merupakan suatu
heksosa yang memiliki gugus fungsi aldehid -CHO yang terikat pada atom C nomor satu
(Alfian, 2009).
c. Fruktosa
Fruktosa merupakan heksosa reduktif C6H12O6, merupakan ketosa dalam bentuk furan
maupun piran yang umumnya terdapat dalam buah dan madu. Memiliki rasa manis yang kuat.
Didalam usus manusia fruktosa kurang dapat diserap dibandingkan gula sederhana lainnya.
Fruktosa diubah menjadi glukosa terlebih dahulu sebelum dapat diserap (Alfian, 2009).
d. Formalin
Formalin (H2CO) adalah larutan yang tersusun dari formaldehid dalam air dengan
kadar antara 10%-40%. Formalin berbentuk cairan tidak bewarna, uapnya dapat membuat
mata, berbau sangat menusuk dan beracun. Formaldehida dapat digunakan sebagai
disinfektan, pembersih lantai, dan juga sebagai bahan pengawet mayat (Siswoyo, 2009).
e. Tollens (AgNO3)
Tollens adalah pereaksi yang mengandung perak sebagai ion kompleks yaitu
[Ag(NH3)2]+. Umumnya dalam persamaan reaksi pereaksi tollens ditulis sebagai Ag2O.
Pereaksi tollens dibuat dengan menambahkan NaOH ke dalam perak nitrat yang membentuk
NAMA RIA YOLANDA ARUNDINA
NIM 175100600111008
KELAS H
KELOMPOK H1

endapan coklat Ag2O. Kemudian endapan dilarutkan dalam larutan ammonia (Siswoyo,
2009).
Bila reaksi dilangsungkan dalam bejana kaca, maka endapan perak yang terbentuk akan
melapisi cermin. Oleh sebab itu reaksi ini dikatakan cermin perak. Reaksi aldehida dengan
pereaksi tollen sebagai berikut: R-CHO + Ag2O --> R-COOH + 2Ag(s) (Siswoyo, 2009).
f. NH4OH
Amonium Hidroksida adalah larutan yang dihasilkan dari amonia yang dilarutkan
dalam air. Amonium hidroksida berupa larutan yang tidak berwarna dan memiliki bau yang
menyengat. NH4OH digunakan dalam pembersih peralatan rumah tangga. Larutan amonia
dapat melarutkan residu oksida perak, seperti yang terbentuk dari reagen Tollens Ammonia
merupakan larutan yang digunakan untuk membuat pereaksi tollens (McMurry, 2011).
g. NaOH
Natrium hidroksida merupakan suatu basa kuat yang sangat mudah larut dalam air.
Senyawa ini biasa disebut sebagai soda kaustik, atau soda api karena sifatnya yang terasa
panas dan licin jika terkena kulit. NaOH juga merupakan senyawa ionic yang memiliki titil
lebur 318°C dan titik didih 1390°C. NaOH sangat mudah larut dalam air dan kelarutannya
bersifat eksotermis. NaOH banyak digunakan didalam laboratorium kimia adalah untuk
reagen sumber ion hidroksida, OH-. Hal ini berdasarkan pertimbangan bahwa basa NaOH
sangat mudah larut (Alfian, 2009).
h. Fehling A
Fehling A adalah larutan yang dibuat dari CuSO4 , H2SO4, dan aquades. Fehling A
berupa cairan bewarna biru, tidak berbau dan mudah larut dalam air. Digunakan sebagai
oksidator untuk mengidentifikasi adanya gula pereduksi serta adanya senyawa aldehid pada
makanan (McMurry, 2011).
i. Fehling B
Fehling B adalah campuran larutan NaOH dan kalium natrium tartrat. Fehling B
berupa cairan tidak bewarna dan tidak berbau serta mudah larut dalam air. Digunakan sebagai
oksidator untuk mengidentifikasi adanya gula pereduksi serta adanya senyawa aldehid pada
makanan (McMurry, 2011).
j. Aquades
Aquades denagn nama IUPAC Dihydrogen monoxide dan rumus molekul H2O adalah
air hasil destilasi atau penyulingan, sama dengan air murni dan tidak ada mineral-mineral lain
dan tidak berwarna. Berat molekunya sekitar 18,20 gr/mol. Titik lelehnya 0°C dan titik
didihnya 100°C.Karakteristik aquades yaitu cairan jernih tidak berwarna, tidak berbau, dan
tidak mempunyai rasa. Dalam penyimpaan sebaiknya di tempat tertutup.Aquades merupakan
cairan atau air yang biasanya digunakan di dalam laboratorium sebagai pelarut (Alfian, 2009).
NAMA RIA YOLANDA ARUNDINA
NIM 175100600111008
KELAS H
KELOMPOK H1

3. DIAGRAM ALIR
1. Uji Tollens

1 ml larutan AgNO3 5%

Dimasukkan kedalam tabung reaksi

NH4OH 6M 5-10 tetes


Ditambahkan sampai endapan menghilang
1 ml sampel
Ditambahkan pada tabung reaksi

Dipanaskan sekitar 2 menit

Diamati perubahan yang terjadi

Hasil

2. Uji Fehling
5 tetes Fehling A

Dimasukkan kedalam tabung reaksi


5 tetes NaOH
Ditambahkan ke dalam tabung reaksi
10 tetes Fehling B
Ditambahkan ke dalam tabung reaksi
1 ml sampel
Dipanaskan + 2 menit dalam air mendidih

Diamati perubahan yang terjadi

Hasil
NAMA RIA YOLANDA ARUNDINA
NIM 175100600111008
KELAS H
KELOMPOK H1

DAFTAR PUSTAKA

Alfian, Z. 2009. Kimia Dasar. Medan: USU Press


Mayo, D., M. R. Pike, Forbes C. D. 2011. Microscale Organic Laboratory: with Multistep
and Multiscale Syntesis, 5th edition. New York City: John Willey & Sons
McMurry, J. 2011. Study guide and solutions manual, Fundamentals of organic chemistry,
seventh edition. California: Brooks/Cole
Siswoyo, R.. 2009. Kimia Organik. Jakarta: Penerbit Erlangga
Sumardjo, D. 2009. Pengantar Kimia Buku Panduan Kuliah Mahasiswa Kedokteran. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC
NAMA RIA YOLANDA ARUNDINA
NIM 175100600111008
KELAS H
KELOMPOK H1

4. Hasil Percobaan Dan Pengamatan :


1. Uji Tollens
No. Nama Reagen Sampel + Reagen Sampel + Reagen Hasil
Sampel Tollens + Tollens (tanpa Tollens (setelah uji
NH4OH pemanasan) pemanasan) (+)/(-)

Endapan perak
1. Formaldehid Bening Endapan perak +
kehitaman

2. Sukrosa Bening Bening Bening -

3. Fruktosa Bening Bening Endapan perak +

4. Glukosa Bening Bening Endapan perak +

Cairan keruh
kehitaman
5. Aseton Bening Bening Sedikit endapan -
perak, cairan keruh
kehitaman

2. Uji Fehling
No. Nama Reagen Sampel + Reagen Sampel + Reagen Hasil
Sampel Fehling + Fehling (tanpa Fehling (setelah uji
NaOH pemanasan) pemanasan) (+)/(-)

Biru tua
1. Formaldehid Biru tua Pink perak +
Biru muda

Biru kehijauan
2. Sukrosa Biru tua Biru tua pekat -
Biru tua

Oranye-kecoklatan
3. Fruktosa Biru tua Hijau lumut +
Hijau tua kecoklatan

Endapan biru tua Endapan biru tua


4. Aseton Biru tua dibawah, kuning dibawah, kuning -
diatas diatas
Glukosa
5. Biru tua Biru tua Merah bata +
NAMA RIA YOLANDA ARUNDINA
NIM 175100600111008
KELAS H
KELOMPOK H1

5. Pembahasan
5.1 Bahas dan bandingkan data-data Uji Tolens dari beberapa sampel dalam percobaan ini
a. Prinsip Uji Tolens
Prinsip Uji Tolens adalah membedakan gugus aldehid dan keton dalam suatu
sampel dengan menambahkan reagen Tolens dengan yaitu AgNO3 dan terjadi reaksi
redoks ion Ag+ pada Ag2O akan direduksi menjadi Ag dan terbentuk cermin perak
pada dinding tabung, uji positif terjadi pada Aldehid. Reaksi yang terjadi adalah :
RCOH + Ag2O RCOOH + Ag
Dimana RCOH mengalami oksidasi sedangkan Ag2O mengalami reduksi (Hart, 2012).
b. Analisa Prosedur
Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan, selanjutnya dimasukkan
masing-masing 1 ml larutan AgNO3 kedalam 5 tabung reaksi. Ditambahkan beberapa
tetes NH4OH pada masing-masing tabung reaksi sampai endapan hilang. Ditambahkan
1 ml sampel (aseton, glukosa, fruktosa, sukrosa, dan formaldehid) dan diberi label
sesuai dengan masing-masing sampel yang ditambahkan pada tabung reaksi tersebut.
Diamati perubahan yang terjadi dicatat hasilnya, lalu dipanaskan kurang lebih selama
2 menit, selanjutnya diamati perubahan yang terjadi dan dicatat data hasil pengamatan
pada lembar DHP. Untuk mencegah kesalahan dalam praktikum dan kesalahan data
maka dilakukan duplo.
c. Analisa Hasil
Setelah melakukan percobaan, didapatkan hasil percobaan sebagai berikut.
Pada sampel 1 ml formaldehida dengan reagen tollens + NH4OH langsung terbentuk
cermin perak pada dinding tabung reaksi tanpa harus dipanaskan terlebih dahulu dan
setelah dipanaskan endapan perak tetap ada. Hal ini dikarenakan formaldehida
merupakan bentuk pertama aldehid atau yang disebut juga metanal sehingga dapat
dengan mudah dan cepat untuk dioksidasi oleh AgNO3 untuk membentuk cermin
perak, pada saat formaldehid direaksikan dengan pereaksi Tollens menghasilkan
larutan bening, dan setelah didiamkan pada dinding tabung terbentuk cermin perak
(endapan). Hal ini terjadi karena aldehid dapat mereduksi larutan perak amoniak
(larutan AgNO3 dalam larutan NH3 berlebih)., pereaksi perak amoniak ini yang
disebut pereaksi Tollens. Formaldehid tanpa gugus alkil adalah paling reaktif diantara
aldehid dan keton. Formaldehid mempunyai 2 atom H yang terikat langsung pada
atom C karbonil, sehingga mampu mereduksi pereaksi Tollen (Stoker, 2012).
Pada sampel 1 ml sukrosa dengan menggunakan reagen tollens + NH4OH tidak
terbentuk cermin perak pada dinding tabung reaksi meskipun sudah melalui proses
pemanasan tetap saja tidak terbentuk cermin perak, larutan tetap bewarna bening.
Sukrosa tidak mempunyai gugus –OH bebas yang reaktif, hal ini dikarenakan gugus
pereduksi pada sukrosa telah digunakan untuk berikatan oleh glukosa dan fruktosa
sehingga sukrosa tidak dapat dioksidasi dan mereduksikan AgNO3 karena gugus
pereduksi digunakan untuk berikatan antara glukosa dengan fruktosa (Winarno, 2008).
Pada sampel 1 ml fruktosa, tidak terjadi pembentukan cermin perak setelah
ditetesi reagen tollens + NH4OH warna tetap bening dan setelah dipanaskan terbentuk
NAMA RIA YOLANDA ARUNDINA
NIM 175100600111008
KELAS H
KELOMPOK H1

cermin perak di dinding tabung reaksi, pemanasan dilakukan untuk mempercepat


reaksi. Meskipun fruktosa termasuk kedalam golongan keton, namun pada fruktosa
terdapat gugus pereduksi yaitu gugus OH yang terikat pada atom C sehingga fruktosa
dapat berekasi dengan tollens untuk membentuk cermin perak. Fruktosa dapat
dioksidasi oleh tollens karena fruktosa mudah teroksidasi dan dalam larutan basa
berada dalam kesetimbangan (Winarno, 2008).
Pada sampel 1 ml aseton, tidak terjadi pembentukan cermin perak setelah
ditetesi reagen tollens + NH4OH, namun setelah dipanaskan larutan berubah menjadi
keruh kehitaman yang menandakan bahwa tidak ada reaksi redoks yang terjadi antara
AgNO3 dengan Aseton karena pada dasarnya senyawa keton tidak akan bereaksi
dengan tollens dan fehling karena keton tidak memiliki gugus H yang terikat langsung
pada atom C utama sehingga sulit untuk dioksidasi, Aseton tidak reaktif dengan
pereaksi Tollens karena pada aseton tidak memiliki atom H yang terikat langsung pada
atom karbon karbonilnya (Cady, 2012).
Pada sampel 1 ml glukosa terdapat endapan cermin perak kehitaman setelah
ditetesi reagen tollens + NH4OH, dan setelah dipanaskan terbentuk cermin perak di
dinding tabung reaksi yang menandakan adanya reaksi antara AgNO3 dengan Glukosa,
karena glukosa termasuk kedalam golongan Aldosa atau aldehid sehingga mempunya
gugus H yang mudah untuk dioksidasi dan juga mempunya gugus pereduksi OH di
atom C nomer satu-nya. Fungsi pemanasan adalah untuk mempercepat reaksi
(Winarno, 2008).
Reaksi pembentukan cermin perak secara umum pada aldehid :
O O
|| ||
R – C – H + 2 Ag(NH3)2+ -OH   R – C – O +NH4 + 2 Ag + 3 NH3 + H2O
(Sugandi, 2010).
d. Reaksi Setiap Sampel
Reaksi yang terjadi antar formaldehida dengan AgNO3
O O

H C H + 2Ag(NH3)2+ -OH H C O+ -NH4 + 2Ag + 3NH3 + H2O


formaldehid Tollen's
(Sugandi, 2010).
Reaksi yang terjadi antar sukrosa dengan AgNO3

(Sugandi, 2010).
NAMA RIA YOLANDA ARUNDINA
NIM 175100600111008
KELAS H
KELOMPOK H1

Reaksi yang terjadi antar fruktosa dengan AgNO3

(Sugandi, 2010).
Reaksi yang terjadi antar aseton dengan AgNO3
O
+ 2Ag(NH3)2+ -OH
C
H3C CH3
aseton (Sugandi, 2010).
Reaksi yang terjadi antar glukosa dengan AgNO3

(Sugandi, 2010).
5.2 Bahas dan bandingkan data-data Uji Fehling dari beberapa sampel dalam percobaan ini
a. Prinsip Uji Fehling
Prinsip Uji Fehling membedakan gugus aldehid dan keton dalam suatu sampel
dengan penambahan reagen Fehling A dan Fehling B. Fehling A merupakan CuSO4
dan Fehling B merupakan campuran dari NaOH dan Natrium Kalium Tatrat. Ion Cu2+
akan menjadi CU+ dan terjadi endapan merah bata atau kecoklatan pada tabung reaksi.
Uji positif terjadi pada aldehid. Reaksi yang terjadi :
RCOH + 2CuO RCOOH + CU2O (Hart, 2012) (Sugandi, 2010).
b. Analisa Prosedur
Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan, selanjutnya dimasukkan 5 tetes
Fehling A kedalam pada setiap tabung reaksi, lalu ditambahkan 10 tetes Fehling B.
ditambahkan 1 ml sampel (aseton, fruktosa, glukosa, sukrosa, dan formaldehid) pada
setiap tabung reaksi dan diberi label sesuai dengan sampel yang ditambahkan. Diamati
perubahan yang terjadi lalu dicatat hasil pengamanatan. Selanjutnya setiap sampel
dipanaskan selama kurang lebih 2 menit, setelah dipanaskan diamati perubahan yang
terjadi dan dicatat hasil pengamatan pada lembar data hasil praktikum. Untuk
mendapatkan hasil yang akurat maka dilakukan duplo.
c. Analisa Hasil
Pereaksi fehling direaksikan dengan sampel (glukosa, sukrosa, fruktosa,
aseton, formaldehid) yang dibantu dengan pemanasan untuk mempercepat apabila
larutan terbentuk endapan merah bata atau kecoklatan di tabung reaksi, maka larutan
tersebut termasuk aldehid sedangkan apabila tidak maka sampel termasuk keton.
Gugus aldehid mampu mereduksi larutan fehling (CuO) menghasilkan endapan merah
NAMA RIA YOLANDA ARUNDINA
NIM 175100600111008
KELAS H
KELOMPOK H1

bata dari CU2O. Sampel pertama yang digunakan adalah formaldehid. Berdasarakan
hasil percobaan formaldehid sebelum dipanaskan berwarna biru muda dan setelah
dilakukan duplo bewarna biru tua dan setelah pemanasan terbentuk endapan merah
muda perak, Pengujian formaldehid menunjukkan uji positif terhadap aldehid.
Formaldehid adalah bentuk paling sederhana pada gugus aldehid. Aldehid lebih
mudah dioksidasi dibanding keton. Oksidasi aldehid menghasilkan asam dengan
jumlah atom karbon yang sama. Formaldehid dalam pereaksi fehling akan mereduksi
tembaga, sehingga terbentuk endapan Cu2O yang berwarna merah bata. Menandakan
formaldehid jelas tergolong gugus aldehid (Cady, 2012).
Sampel kedua adalah sukrosa. Sukrosa merupakan salah satu disakarida yang
tidak bersifat mereduksi. Hasil pengujian pada sukrosa sebelum pemanasan adalah
berwarna biru tua pekat sedangkan setelah pemanasan warna berubah menjadi biru
kehijauan dan hasil diplonya bewarna. Pengujian sukrosa menghasilkan hasil negatif.
Sukrosa tidak dapat mereduksi larutan fehling sebab gugus aldehidnya sudah terikat
pada fruktosa dan glukosa (Winarno, 2008).
Sampel ketiga adalah fruktosa atau gula buah. Pengujian yang dihasilkan pada
fruktosa sebelum pemanasan berwarna hijau lumut sedangkan setelah pemanasan
berwarna oranye kecoklatan dan hasil diplonya bewarna hijau tua kecoklatan. Fruktosa
sebenarnya memiliki gugus keton namun fruktosa juga memiliki gugus –OH yang
reaktif terhadap pereaksi fehling sehingga pengujian yang dihasilkan positif (Winarno,
2008).
Sampel keempat adalah aseton. Aseton memiliki gugus keton. Hasil pengujian
pada aseton tidak terjadi reaksi karena pereaksi fehling tidak dapat mengoksidasi
gugus keton pada aseton. Warna sampel sebelum dan setelah pemanasan tidak berubah
yaitu 2 lapisan yang diatasnya merupakan endapan biru tua sedangkan dibawahnya
bewarna kuning. Hal ini karena aseton tidak mempunyai atom H yang terikat langsung
pada atom C karbonilnya sehingga tidak mengalami oksidasi. Aseton dalam pereaksi
fehling tidak dapat mereduksi ion tembaga, sehingga tidak terbentuk endapan (Stoker,
2012).
Sampel kelima adalah glukosa. Hasil pengujian pada glukosa sebelum
pemanasan berwarna biru tua kemudian setelah dilakukan pemanasan sampel
berwarna merah bata. Menandakan glukosa memiliki gugus fungsi aldehid. Pada
gugus keton tidak akan bereaksi. Warna masih bening di permukaan dan biru yang
mengendap (Winarno, 2008).
d. Reaksi Setiap Sampel
Reaksi yang terjadi antar aseton dengan Fehling
O

C + 2Cu2+ + OH-
H3 C CH3
(Sugandi, 2010).
NAMA RIA YOLANDA ARUNDINA
NIM 175100600111008
KELAS H
KELOMPOK H1

Reaksi yang terjadi antar fruktosa dengan Fehling

(Sugandi, 2010).
Reaksi yang terjadi antar glukosa dengan Fehling

(Sugandi, 2010).
Reaksi yang terjadi antar sukrosa dengan Fehling

(Sugandi, 2010).
Reaksi yang terjadi antar formaldehida dengan Fehling
O O

+ 2 C u 2+ + OH- + C u 2O + H 2O
C C
H H H O-

F o r m a l d eh i d
(Sugandi, 2010).
6. Pertanyaan
1. Apa fungsi penambahan larutan AgNO3 5% dalam percobaan uji Tollens?
Sebagai reagen dalam uji Tollens yang akan mengoksidasi sampel dan
membentuk cermin perak akibat ion Ag+ yang tereduksi menjadi perak sebagai tanda
bahwa suatu sampel memiliki gugus aldehid. Uji positif ditandai dengan terbentuknya
cermin perak (Sugandi, 2010).
2. Apa fungsi penambahan larutan NH4OH 6M dalam percobaan uji Tollens?
Untuk mencegah endapan ion perak sebagai oksidasi AgNO3 pada suhu tinggi
(untuk mencegah terbentuknya endapan awal dan melepas Ag) dan untuk membuat
sampel menjadi basa agar tidak mudah cepat teroksidasi (Sugandi, 2010).
NAMA RIA YOLANDA ARUNDINA
NIM 175100600111008
KELAS H
KELOMPOK H1

KESIMPULAN
Tujuan dari dilakukannya percobaan ini agar mampu membedakan senyawa aldehid
dan keton dengan menggunakan uji Tollens dan Fehling serta dapat memahami reaksi yang
terjadi selama uji Tollens dan Fehling. Aldehid adalah suatu senyawa yang mengandung
gugus karbonil yang setidaknya memiliki satu atom H yang terikat pada atom C karbonilnya.
Keton adalah suatu senyawa organik yang mempunyai sebuah gugus karbonil yang terikat
pada dua gugus alkil atau dua gugus aril.
Prinsip dari uji tollens adalah membedakan gugus aldehid dan keton dalam suatu
sampel dengan penambahan AgNO3 sebagai reagen tollens sehingga akan terjadi reaksi
redoks. Uji positif ditandai dengan terbentuknya cermin perak pada dinding tabung. Prinsip
dari uji fehling adalah membedakan gugus aldehid dan keton dalam suatu sampel dengan
penambahan reagen fehling a dan fehling b. Uji positifnya terdapat endapan merah bata atau
kecoklatan pada tabung reaksi.
Berdasarkan percobaan pertama yaitu uji tollens, yang terbentuk cermin perak pada
dinding tabung adalah fruktosa, glukosa dan formaldehid. Berdasarkan literatur cermin perak
tidak akan terbentuk pada sukrosa, karena sukrosa bukan tergolong gula pereduksi. Gugus
(Winarno, 2008)pereduksinya telah berikatan antara α-D-Glukosa dengan α-D-Fruktosa
sehingga tidak ada lagi yang dioksidasi. Glukosa termasuk ke dalam golongan gula aldosa
atau aldehid sehingga dapat bereaksi dengan tollens membentuk cermin perak, formaldehid
merupakan bentuk pertama dari aldehid atau disebut juga metanal. Fruktosa termasuk pada
golongan gula ketosa, namun masih adanya gugus pereduksi atau gugus OH menyebabkan
fruktosa dapat dioksidasi sehingga bereaksi membentuk cermin perak saat di uji dengan
reagen tollens. Pada aseton, sampel tidak bereaksi karena tidak terbentuknya cermin perak
pada dinding tabung reaksi, karena aseton termasuk pada gugus fungsi keton. Percobaan
kedua yaitu uji Fehling, hasil positif ditemukan pada fruktosa, glukosa, dan formaldehid.
Hasil negatif ditemukan pada aseton dan sukrosa. Sama seperti pada percobaan pertama. Hal
ini dipengaruhi oleh Faktor gugus H sebagai gugus yang mudah untuk dioksidasi dan gugus
OH sebagai gugus pereduksi. Senyawa aldehid dalam percobaan ini adalah glukosa dan
formaldehid, sementara senyawa keton dalam percobaan ini adalah fruktosa dan aseton,
sukrosa termasuk kedalam senyawa disakarida.
NAMA RIA YOLANDA ARUNDINA
NIM 175100600111008
KELAS H
KELOMPOK H1

DAFTAR PUSTAKA TAMBAHAN

Cady, S. S., 2012. Qualitative Analysis of Alcohols, Aldehydes, and Ketones. Pennsylvania:
East Stroudsburg University
Hart, H., 2012. Organic Chemistry. Belmont: Cengage Learning.
Puspita, F., 2013. Uji Tollens untuk Aldehid dan Keton. Purwokerto: Universitas Jenderal
Soedirman
Stoker, H. S., 2012. General, Organic, and Biological Chemistry. Boston: Cengage Learning
Sugandi, G., 2010. Percobaan Reaksi Aldehid dan Keton. Banjarmasin: UNLAM
Winarno, F. G., 2008. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: M-Brio Press