Anda di halaman 1dari 5

Dosen Praktikum : drh. Min Rahminiwati, MS, Ph.

D
Hari, tanggal : Rabu, 14 November 2018
Kelompok :1

LAPORAN PRAKTIKUM TOKSIKOLOGI VETERINER


KERACUNAN STRIKNIN

Anggota Kelompok :

Nirmawati Mohamad B04130040

Fauzi Chandra B04149002

Bintang Nurul Iman B04150070

Ellana Diah Pravitaningsih B04150071

DIVISI FARMAKOLOGI DAN TOKSIKOLOGI


DEPARTEMEN ANATOMI FISIOLOGI DAN FARMAKOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2018
PENDAHULUAN

Latar belakang
Stimulansia adalah zat yang dapaet merangsang system saraf pusat (SSP). Efer dari
perangsangan SSP baik oleh obat yang berasal dari alam maupun sintetik dapaet
diperlihatkan pada manusia maupun hewan percobaan. Pada hewan percobaan, obat
stimulansia SSP dapat meningkatkan aktivitas motoric dan kesadaran. Daya kerja
stimulansia SSP dapat dibedakan berdasarkan lokasi dan titik tangkap kerjanya yang dapat
diuraikan, yaitu cortex cerebri, medulla oblongata dan medulla spinalis.
Stimulansia pada medulla spinalis dapat merangsang medulla spinalis dan bagian
saraf tepi. Obat yang dapat menstimulasi medulla spinalis adalah striknin. Striknon bekerja
dengan cara mengadakan antagonisme kompetitif terhadap transmitter penghambat yaitu
glisin di daerah penghambat pasca sinaps. Glisin juga bertindak sebagai transmitter
penghambat pasca sinaps yang terletak pada pusat yang lebih tinggi di SSP.
Striknin mudah untuk diserap pada saluran cerna atau pada lokasi penyuntikan.
Striknin akan segera dimetabolisme oleh enzim mikrosom sel hati dan dieksresi memalui
urin. Striknin juga dapat mempengaruhi reflex. Sifat konvulsannya adalah aspontan, simetris
dan tetanis. Terapi yang dapat diberikan pada keracunan striknin adalah terapi simtomatis.
Terapi simtomatis dilakukan dengan menghilangkan konvulsi yang terjadi, obat yang
diberikan adalah Nembutal serta pemberian tannin dengan tujuan penghambatan absorbs
obat.
Tujuan
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui gejala klinis dan penanggulangan pada
hewan coba yang keracunan striknin

TINJAUAN PUSTAKA

Striknin merupakan salah satu stimulansia SSP yang tepatnya bekerja pada medulla
spinalis. Striknin bekerja dengan cara mengadakan antagonisme kompetitif terhadap
transmitter penghambatan yaitu glisin di daerah penghambatan pascasinaps. Glisin juga
bertindak sebagai transmitter penghambat pascasinaps yang terletak pada pusat yang lebih
tinggi di SSP. Striknin merupakan obat konvulsan kuat dengan sifat kejang yang khas. Pada
hewan coba, konvulsi berupa ekstensif tonik dari badan dan semua anggota gerak.
Gambaran konvulsi oleh striknin ini berbeda dengan konvulsi oleh obat yang merangsang
langsung neuron pusat. Sifat khas lainnya dari kejang striknin adalah kontraksi ekstensor
yang simetris yang diperkuat oleh rangsangan sensorik yaitu pendengaran, penglihatan, dan
perabaan (Louisa dan Dewoto 2007)

Tannin adalah senyawa aktif metabolit sekunder yang mempunyai beberapa khasiat,
yaitu sebagai astringensia, antidiare, antibakteri, dan antioksidan. Tannin merupakan
komponen zat organik yang sangat kompleks, terdiri dari senyawa fenolik yang sulit
dipisahkan dan sulit mengkristal, mengendapkan protein dari larutannya dan bersenyawa
dengan protein tersebut (Desmiaty et al 2008). Tannin dibagi menjadi dua kelompok yaitu
tannin terhidrolisis dan tannin terkondensasi. Tannin memiliki peranan biologis yang
kompleks mulai dari pengendapan protein hingga pengkhelat logam. Tannin juga dapat
berfungsi sebagai antioksidan biologis (Hagerman 2002).

Penthotal atau sodium thiopenthal merupakan obat golongan barbiturate. Biasanya


penthotal digunakan untuk induksi anestesi pada cedera kepala, pengelolaan kejang, dan
terapi pada peningkatan tekanan intrakranial (Taha et al 2005). Penthotal menghasilkan efek
sedatif karena interaksinya dengan penghambat neurotransmitter Gamma Aminobutiryc Acid
(GABA) pada susunan sustem saraf pusat. Ketika reseptor GABA diaktivasi, hantaran
transmembran khlorid akan meningkat menghasilkan hiperpolarisasi membran sel post
sinaps dan menghambat fungsi neuron post sinaps. Penthotal secara selektif menekan
transmisi pada ganglia sistem saraf simpatis pada konsentrasi dimana tidak terdeteksi
efeknya pada konduksi saraf. Pada hubungan dengan neuromuscular, dosis tinggi penthotal
menurunkan sensitivitas membran post sinaps terhadap depolarisasi asetilkholin (Andel et al
2000).

METODE PRAKTIKUM
Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum ini berlangsung pada hari Rabu, 14 November 2018 pukul 8.30-11.00
WIB. Bertempat di Ruang Praktikum FIFARM Fakultas Kedokteran Hewan, Institut
Pertanian Bogor.
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah syringe. Bahan-bahan yang
digunakan adalah 1 ekor mencit, larutan striknin 1%, larutan tannin 20%, dan diazepam
Prosedur Percobaan
1. Mencit ditimbang beratnya, lalu diberi larutan tannin peroral
2. Setelah 30 menit, mencit disuntikkan larutan striknin dosis sublethal secara
subkutan
3. Amati perubahan fisiologis yang terjadi setiap 10 menit
4. Jika terjadi konvulsi, berikan diazepam secara intraperitoneal
5. Catat waktu kapan terjadi konvulsi.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tabel 1. Pemberin Striknin

Menit Posisi Reflex Rasa Tonus Frek. Nafas Frek. Konvulsi


tubuh Nyeri (x/menit) Jantung
(x/menit)
0 +++ +++ +++ +++ 88 100 Mencit 1
10 ++ ++ ++ ++ 76 92 Tidak ada
gejala
20 ++ ++ ++ ++ 104 128 Selama penga-
30 ++ ++ ++ ++ 80 100 Matan
Keterangan : +++ (Sangat aktif)
++ (Aktif)

Praktikum ini menggunakan tiga ekor mencit sehat secara fisik yang diberi tanin
secara peroral dan diinjeksikan dengan striknin. mencit 1 dan 2 diberi tanin dan ditunggu
selama 30 menit agar tanin yang diberikan diabsorbsi degan baik sedangkan mencit 3 diberi
NaCl peroral. setelah 30 menit pemberian tanin dan NaCl mencit diinjeksi striknin.
Pengamatan dilakukan setiap 10 menit. Awal pengamatan pada menit 0 (nol) mencit
memperlihatkan posisi tubuh, reflex, rasa nyeri dan tonus masih merespon sangat aktif
(+++), frekuensi nafas yaitu 88 x/menit dan frekuensi jantung 100 x/menit. Pengamatan
pada menit ke-10, 20 dan 30 memperlihatkan posisi tubuh, reflex, rasa nyeri dan tonus
masih merespon aktif (++) dan frekuensi nafas berturut-turut 76 x/menit, 104 x/menit, 80
x/menit dan frekuensi jantung berturut-turut 92 x/menit, 128 x/menit, 100 x/menit.
Sepanjang waktu pengamatan pemberian striknin tidak memperlihatkan tanda konvulsi,
relaksan dan kematiann pada mencit. Hal ini dikarenakan sifat tanin sebagai protektiva yang
dapat menghambat kerja dari skriknin (Stellman 1998).
Mencit yang diberi NaCl peroral dan diinjeksi strikin pada menit ke-8 cepat
memperlihatkan respon kejang bersifat aspontan, simetris dan tetanis, mencit urinasi, mata
melotot dan akhirnya mencit mengalami kematian. Hal ini dikarenakan striknin merupakan
bahan yang bersifat stimulansia yang bekerja pada susunan saraf pusat yang akan
mengakibatkan paralisis batang otak karena hipoksia akibat gangguan napas. Kombinasi dari
adanya gangguan napas dan kontraksi otot yang hebat dapat menimbulkan asidosis respirasi
maupun asidosis metabolik hebat sehingga terjadi kematian pada mencit (Tjay dan Kirana
2007)

SIMPULAN

Pemberian striknin mengakibatkan gejala konvulsi pada mencit dan berakhir pada
kematian, karena strikni bekerja sebagai stimulansia pada sistem saraf. Penanggulangan
keracunan striknin dapat dilakukan dengan pemberian tanin sebagai protektiva sebelum
berinteraksi dengan striknin.

DAFTAR PUSTAKA
Andel H, Klune G, Donner A. 2000. Propofol Without muscle relaxant for conventional or
fibreoptic Nasotracheal intubation. Anesth Analg. 91 : 458-471.

Desmiaty Y, Ratih H, Dewi MA, Agustin R. 2008. Penentuan Jumlaah Tannin Total pada
Daun Jari Belanda (Guazuma Ulmifolia Lamk) dan Daun Sambang Darah
(Excoecaria Bicolor Hassk) Secara Kalorimetri dengan Pereaksi Biru Prusia.
Ortocarpus. 8 : 106-109.

Hagerman AE. 2002. Tannin Handbook. Oxford (USA) : Department of Chamistry and
Biochemistry Miami University.

Lousia M, Dewoto HR. 2007. Perangsangan Susunan Saraf Pusat dalam Farmakologi dan
Terapi. Jakarta (ID) : Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.

Stellman JM. 1998. Encyclopedia of Occupation Health and Safety. Guides, indexes,
directory. United States of America (US) :International Labour Organization.

Taha S, Siddik S, Alameddine M. 2005. Propofol is superior to thiopental for intubation


without muscle relaxant: a technique using propofol and varying doses of
alFentanil. Can J Anesthesia. 47 : 427-432.

Tjay TH, Kirana. 2007. Obat-Obat Penting Khasiat, Penggunaan dan Efek-Efek
Sampingnya. Ed ke-6. Jakarta (ID): PT Elex Media Komputindo Gramedia.